Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

Rapid test atau pengujian cepat untuk mengetahui reaktif atau non reaktif Covid-19 menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam penerbangan di masa pandemi ini. Sehingga kemudian Bandara Frankfurt membuka walk-in testing center Covid-19 pada hari Senin (29/6/2020) kemarin.

Baca juga: Tiba di Bandara Sorong dengan Menumpang Pesawat Garuda Indonesia, Siswa ini Ternyata Positif Covid-19

Pusat pengujian Covid-19 ini bekerja sama dengan operator bandara Fraport, maskapai Lufthansa dan perusahaan bioteknologi Centogene. KabarPenumpang.com melansir laman dw.com (29/6/2020), kerja sama ini diharapkan akan berfungsi sebagai cetak biru untuk membuka perbatasan internasional dan skema tersebut diperkirakan akan terus dilakukan hingga 31 Juli tahun depan.

“Penumpang yang terbang ke atau dari Bandara Frankfurt dengan Lufthansa dapat melakukan tes Covid-19 di pusat pengambilan sampel yang terletak di dekat terminal utama,” kata pernyataan Centogene.

Tes ini bisa dilakukan dan hasilnya bisa langsung didapatkan satu hari sebelum bepergian. Di mana hasil tesnya akan dikirim ke penumpang melalui platform digital yang aman dan terhubung ke tiket mereka, sehingga penumpang bisa mendapatkan izin aman untuk terbang ke negara-negara dengan pembatasan. Bandara Frankfurt sendiri memiliki kapasitas untuk melakukan tes dalam sehari sebanyak 5000 kali.

“Melalui kemitraan kami dengan Lufthansa dan mitra medis Dr. Bauer Laboratoriums GmbH, kami dapat memastikan solusi end to end yang cepat, akurat, dan aman bagi penumpang,” kata Volkmar Weckesser, Kepala Informasi Centogene.

“Dengan membuka pusat pengujian, kami menawarkan tamu kami kesempatan yang nyaman untuk menguji diri mereka sendiri untuk penerbangan ke luar negeri atau tinggal di Jerman untuk menghindari karantina,” kata Dr. Björn Becker, Direktur Senior Layanan Ground & Digital Services Management di Lufthansa Group.

Bisa dikatakan, Bandara Frankfurt menjadi yang pertama di Jerman dengan menghadirkan hal seperti ini. Untuk tesnya penumpang akan merogoh kocek €59 atau Rp951 ribu untuk hasil dalam waktu enam hingga delapan jam.

Serupa tapi tidak sama, dari Indonesia, Lion Air Group juga menghadirkan layanan uji rapid test Covid-19 khusus kepada penumpangnya. Biayanya hanya Rp95 ribu dan sudah termasuk surat keterangan sesuai hasil yang berlaku selama 14 hari.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pelaksanaan rapid test ini sendiri mereka bekerja sama dengan Klinik Lion Air Medika. Layanan ini dimulai sejak 29 Juni 2020 dan pada tahap awal akan tersedia di empat lokasi yakni kantor pusat Lion Air Tower, kantor Lion Air Group, kantor pusat Lion Parcel dan kantor Lion Operator Center (LOC).

Baca juga: Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi

“Pada tahap selanjutanya akan dikembangkan dan dilaksanakan di kota-kota lain, baik di kantor penjualan atau bandara-bandara di wilayah Indonesia. Kehadiran layanan ini memberikan nilai lebih yakni praktis dan memudahkan penumpang dalam merencanakan perjalanan,” kata Danang yang dikutip dari siaran pers.

Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Setelah berhasil melakukan uji penerbangan lepas landas otomatis pertengahan Desember lalu, Airbus kembali membuat ‘resah’ pilot. Belum lama ini, raksasa produsen pesawat asal Eropa itu berhasil melakukan langkah strategis lainnya dalam upaya mengurangi peran pilot (bahkan meniadakannya di masa mendatang); landing dan taxi secara otomatis.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Chief Technology Officer Airbus, Grazia Vittadini, kepastian itu didapat pasca keberhasilan pesawat A350-1000 lepas landas, landing, dan taxi otomatis dalam proyek kemanusiaan, mengangkut peratalan medis dari Beijing ke berbagai rumah sakit di Eropa.

“Kami baru-baru ini mencapai tonggak baru, setelah landing based vision takeoff otomatis pertama di dunia, kami baru saja berhasil melakukan taxi dan vision-based taxi and landing otomatis pertama di dunia,” katanya dalam sebuah acara oleh American Institute of Aeronautics and Astronautics, sebagaimana dilansir aviationtoday.com.

“Ini adalah pertama kalinya sebuah pesawat mampu lepas landas dan mendarat sepenuhnya otomatis. Kesulitan terbesar dalam hal ini adalah meyakinkan para pilot untuk tidak melakukan apa pun dan menjauhkan tangan mereka dari throttle,” tambahnya.

Sejak proyek Autonomous Taxi, Take-Off and Landing (ATTOL) pertama kali dimulai pada Juni 2018, Airbus setidaknya telah melakukan total 500 uji terbang. Dari jumlah tersebut, umumnya agenda pengujian masih berupa mengumpulkan data berupa video dan mendukung penyempurnaan algoritma, dengan melibatkan banyak tim teknik dan teknologi Airbus, seperti Airbus Defense and Space, Airbus A³, dan berbagai divisi lainnya.

Selain itu, dari 500 uji terbang, lima di antaranya juga telah dilakukan take off and landing per run untuk mengevaluasi kemampuan modifikasi A350-1000 dalam melakukan take off dan landing otomatis.

Terkait modifikasi A350-1000, Airbus setidaknya telah menyematkan beberapa fitur baru untuk mendukung tes ATTOL, upgrade flight control computer, memasang kamera di segala sudut dan perangkat elektronik pendukung yang terhubung dengan kamera tersebut. Tak lupa, modifikasi A350-1000 juga mencakup algoritma.

“Pembelajaran dari program khusus itu (algoritma) akan mempengaruhi seluruh proyek Airbus lainnya. Sebab, algoritma yang sama pada ATTOL memungkinkan kami untuk mengeksekusi taxi, take off, dan landing otomatis,” kata Sebastien Giuliano, pimpinan proyek ATTOL.

“Banyak yang kami lakukan sudah didorong oleh otomatisasi. Lihat saja berbagai fitur-fitur yang ada di produk-produk kami, auto pilot, fly by wire, autopilot, autoland, termasuk juga satelit yang kami gunakan selama 15 tahun. Jadi kami tidak ingin menjadikan otomatisasi sebagai tujuan, melainkan alat untuk mengeksplorasi seluruh teknologi terkait,” tutupnya.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Akan tetapi, sebagian kalangan menilai, keberhasilan Airbus melakukan taxi, take off, dan landing otomatis di masa mendatang mungkin akan menjadi momok bagi pilot. Capt. Shadrach Nababan, mantan pilot senior Garuda Indonesia, pernah mengatakan kepada KabarPenumpang.com bahwa sejauh ini sekedar hanya taxi, take off, dan landing bisa dibilang tak terlalu berdampak pada profesi pilot.

Tetapi, di antara berbagai syarat untuk memungkinkan pesawat mengudara tanpa adanya pilot di kokpit, salah satu yang terpenting adalah insting atau naluri. Bila teknologi sudah mampu membuat pesawat mempunyai naluri atau insting, maka besar kemungkinan pesawat dapat melenggang sendirian tanpa adanya pilot.

Tujuh Maskapai Amerika Deklarasi Tiga Aturan Kesehatan Baru, Apa Saja?

Wabah Covid-19 masih melanda dunia. Berbagai maskapai penerbangan ramai-ramai menerapkan standar kenormalan baru atau new normal untuk membuat penerbangan tetap aman; tak terkecuali dengan Airlines for America (A4A).

Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya

Belum lama ini, Asosiasi Maskapai Penerbangan Amerika Serikat (AS) ini memperkenalkan tiga aturan baru guna menekan penyebaran virus corona sekaligus membuat penerbangan tetap aman. Bila diperhatikan dengan detail, sebetulnya, tiga aturan tersebut bisa dibilang tak ada yang baru dibanding negara lain semisal Dubai (UAE), Hong Kong, Singapura, bahkan Indonesia sekalipun.

Simple Flying mencatat, aturan tersebut, pertama, A4A meminta kepada seluruh penumpang untuk membawa masker dan senantiasa memakainya, baik saat di bandara, garbarata, dan saat dalam penerbangan. Kedua, maskapai-maskapai di bawah naungan A4A akan mewajibkan kepada seluruh penumpang untuk mengisi surat keterangan sehat (form deklarasi yang berisi pernyataan).

Lengkapnya, form tersebut berisi kepastian setiap penumpang tidak sedang mengidap demam di atas suhu 38C, batuk, sesak napas, kesulitan bernapas, kehilangan daya penciuman (pilek atau hidung mampet), kedinginan, pegal-pegal, dan atau sakit tenggorokan.

Adapun yang terakhir, sebelum ikut dalam penerbangan, seluruh penumpang akan ditanyai tentang risiko terpapar Covid-19. Intinya, mereka akan diwawancara soal kegiatan selama 14 hari terakhir dan diminta untuk berikrar bahwa mereka tidak pernah melakukan kontak dengan pasien positif corona ataupun pasien dengan gejala mirip corona.

Ketiga aturan tersebut akan diterapkan oleh tujuh maskapai terbesar di AS, Alaska Airlines, American Airlines, Delta Air Lines, Hawaiian Airlines, JetBlue Airways, Southwest Airlines, dan United Airlines. Mereka akan terus memberlakukan aturan ini sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan; melengkapi berbagai aturan lainnya, seperti physical distancing dan mengecek suhu tubuh sebelum mulai terbang.

Dilihat dari cara kerja aturan tersebut, yang notabene mengandalkan kejujuran setiap penumpang, sebagian kalangan menilai hal itu tak akan berhasil. Sudah banyak kasus penumpang mengaku menjawab ala kadarnya semata agar bisa tetap ikut dalam penerbangan. Celakanya, petugas juga tak melakukan upaya lain untuk mencari tahu apakah setiap penumpang mengisi form dan menjawab pertanyaan dengan jujur atau tidak.

Baca juga: Virus Corona Bikin Penerbangan Jadi Mahal?

Padahal, dilihat KabarPenumpang.com dari FlightRadar24, lalu lintas udara di AS bisa dikatakan tengah bangkit dan mulai ramai. Bahkan, kesibukan lalu lintas udara di sana bisa dikatakan yang terbesar sekalipun pandemi Covid-19 masih terus menghantui. Begitu juga dengan Cina yang telah terlihat merangkak pulih. Namun, berbeda dengan AS yang masih terus mengalami lonjakan kasus, di Cina corona bisa dibilang sudah terkendali sehingga wajar saja bila lalu lintas udara sibuk kembali.

Jika sudah begini, patut ditunggu, apakah penerbangan akan menjadi klaster baru penyebaran corona di AS?

Tokyo, Beijing dan Singapura Mendapat Peringkat Tertinggi di Dunia Menjadi Kota Ramah Penumpang

Ketika mengunjungi suatu tempat dan melihatnya bersih, cukup menyenangkan hati dan membuat nyaman ketika bepergian menggunakan transportasi umumnya. Ternyata di dunia ini ada tiga kota metropolitan ramah lingkungan dan menjadi yang terhijau di dunia dan ketiganya ada di Asia.

Baca juga: Berdasarkan Indeks Keamanan, Inilah 10 Negara Teraman Untuk Dikunjungi

Ketiga kota itu yakni Benua Asia yakni Tokyo, Beijing dan Singapura mendapatkan peringkat sebagai kota komuter paling ramah lingkungan dalam sebuah studi baru oleh perusahaan data insight, Kantar. Ketiganya mendapat peringkat sangat tinggi karena populasi masyarakat mereka yang sebagian besar berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum untuk bekerja. Selain itu juga penggunaan kendaraan pribadi relatif sangat sedikit.

“Setiap detik orang menggunakan transportasi umum untuk bekerja,” Rolf Kullen, Direktur Senior Mobilitas di Kantar.

KabarPenumpang.com melansir dari laman cnbc.com (16/10/2019), studi ini dilakukan dengan bertanya pada 20 ribu penumpang di 31 kota di seluruh dunia tentang kebiasaan perjalanan mereka. Sedangkan Seoul berada di peringkat ketujuh dan menjadi kota di Asia keempat yang masuk sepuluh besar.

Sedangkan empat posisi lainnya yang masuk dalam sepuluh besar ada di Eropa yakni London, Kopenhagen, Amsterdam dan Moskow. Mereka masuk bersama Nairobi dan Sao Paulo. Sedangkan kota di Amerika Serikat tidak ada yang berhasil mencapai peringkat teratas.

Sebab pada studi terpisah pada 2017 lalu, ditemukan bahwa rata-rata orang Amerika mengabiskan total 52 menit per hari dalam perjalannnya dengan sekitar 85 persen menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan lima persen menggunakan transportasi umum, 2,8 persen berjalan kaki dan 0,6 persen sisanya menggunakan sepeda.

Temuan Kantar ini berbicara tentang perkembangan infrastruktur baru-baru ini di beberapa kota besar Asia. Di mana mereka menjadikan transportasi umum menjadi sarana transportasi yang layak dan lebih disukai para penumpang karena menghindari mengemudi di jalanan yang macet. Tetapi mereka juga menyoroti pekerjaan yang masih harus dilakukan di kota-kota yang secara tradisional dirancang untuk mobil jika ada kemajuan dalam mengurangi polusi udara dan memperbaiki lingkungan.

“Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kota-kota global saat ini adalah memindahkan penumpang dari kenyamanan dan kenyamanan mobil mereka ke pilihan transportasi yang lebih berkelanjutan,” kata Guillaume Saint, pemimpin otomotif & mobilitas global di Kantar.

Baca juga: Gegara Corona, 21 Wilayah di Rusia Meminta Izin Akses Travell Pass Digital ala Moskow

Menurut PBB, polusi udara menyebabkan tujuh juta kematian prematur per tahun. Sementara itu, pada 29 persen dari seluruh emisi global, transportasi dipandang sebagai salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca global.

Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah?

Belum lama ini beredar video berdurasi dua menit yang disebut sebagai perpisahan berbagai staf British Airways (BA). Beredarnya video tersebut sempat membuat geger karena maskapai asal Britania Raya itu memang sempat ingin mem-PHK puluhan ribu karyawan.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Dilansir dari indiatoday.in, pada tanggal 2 April, BA dilaporkan sempat memberlakukan kebijakan cuti tanpa dibayar ke 30.000 dari 42.000. Jelang sebulan kemudian, British Airways diketahui mengirimkan sepucuk surat ke karyawan berisi sekitar adanya sesuatu hal yang tak mengenakkan menimpa sebanyak 12 ribu karyawan.

Keputusan tersebut pun mendapat kecaman luas dari berbagai kalangan, baik publik maupun pihak terkait. Bahkan, anggota parlemen Inggris pun sampai harus turun tangan dan menyarankan agar BA meninjau ulang keputusan tersebut.

Video yang diunggah pertama kali oleh akun “Unite the Union Yout” yang notabene menyerupai nama serikat pekerja Inggris, Unite the Union, tersebut belakangan ini sudah diblock oleh developer karena dinilai mengandung unsur hoax.

https://www.facebook.com/100004410547561/videos/1537323789757958/

Akan tetapi, unggahan serupa juga telah beredar luas di Facebook dan masih bisa dilihat hingga saat ini. Dalam video berdurasi dua menit dengan caption “terima kasih dan selamat tinggal dari karyawan British Airways” itu menunjukkan pelepasan berbagai atribut BA oleh karyawan, baik berupa rompi, pin, seragam, dan lain sebagainya. Tentu saja video tersebut memberikan kesan negatif terkait bisnis BA itu sendiri di tengah terpaan isu PHK massal.

Padahal, dalam keterangan resminya, sampai saat ini, mereka sama sekali belum mem-PHK karyawan. Adapun yang dilakukan BA untuk menekan laju finansial di tengah anjloknya industri penerbangan akibat wabah Covid-19, mereka telah melakukan merumahkan sebanyak 80 persen karyawan, mulai dari pramugari, pilot, staf darat, insinyur, dan staf di kantor pusat.

Lagi pula, sebelum mulai melakukan kebijakan tersebut, manajemen BA terlebih dahulu berkonsultasi dengan serikat pekerja BA (Unite the Union) dan berhasil mencapai kesepakatan bersama.

Sebaliknya, alih-alih mem-PHK karyawan, British Airways malah ingin memulai kembali layanan penerbangan penumpang pada 20 Juni lalu. Jika demikian, pastinya mereka akan sangat membutuhkan tenaga kerja, bukan malah sebaliknya, mem-PHK karyawan. Jadi, bisa dapat dipastikan bahwa kabar mengenai PHK massal karyawan British Airways adalah tidak benar. BBC News mengkonfirmasi, British Airways hanya mengajukan PHK massal ke sekitar 12 ribu karyawan.

Namun, sama sekali belum ada implementasi terkait hal itu dan disebut sebagai “aib nasional” oleh beberapa anggota parlemen, mengingat BA menjadi salah satu maskapai dengan karyawan terbesar di dunia dan banyak menyerap tenaga kerja asal Inggris.

Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

Industri penerbangan di Inggris memang tengah dilanda cobaan hebat akibat pandemi Covid-19. Meskipun maskapai di berbagai dunia juga mengalami kondisi serupa, namun, minimnya keterlibatan pemerintah dalam melindungi industri penerbangan telah membuat satu per satu maskapai asal Britania Raya tumbang.

Awal Maret lalu, maskapai terbesar di Inggris yang mengoperasikan hampir 40 persen dari penerbangan domestik, FlyBe, dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan total modal sebesar Rp3,6 triliun serta memiliki utang sebesar Rp320 miliar. Enam bulan sebelumnya atau pada bulan September lalu, maskapai asal Inggris lainnya, Thomas Cook telah lebih dahulu dinyatakan bangkrut.

Tiga Maskapai Terbesar Cina Terima Pesawat ARJ21 Besutan Pesaing Terberat Boeing dan Airbus

Tiga maskapai penerbangan terbesar di Cina, Air China, China Eastern, dan China Southern dikabarkan telah menerima pesawat ARJ21-700 Minggu lalu. Pesawat besutan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) ini nantinya akan menjadi andalan baru maskapai tersebut dalam melayani penerbangan regional point-to-point, khususnya di Cina daratan.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Dikutip dari Reuters, ketiga maskapai tersebut masing-masing juga akan mendapat tambahan satu pesawat lagi dari di akhir tahun. Pengiriman dijawalkan akan terus berlangsung hingga 2024 mendatang dengan total target pengiriman sebanyak 35 pesawat. Namun, tak dijelaskan lebih rinci distribusi pesawat berkapasitas 90 kursi ini ke ketiga maskapai tersebut.

Di akhir Mei lalu, menurut laporan Global Times, COMAC juga telah mengirimkan 25 jet regional ARJ21-700 ke tiga maskapai Cina, yaitu dari Chengdu Airlines, Tianjiao Airlines, dan Jiangxi Airlines. Ketiga maskapai itu bahkan telah membuka 50 rute ke 50 kota dan menyelesaikan lebih dari 830.000 penerbangan penumpang.

ARJ21-700 sendiri merupakan pesawat pertama buatan COMAC. Teknologinya memang disebut banyak menyadur pesawat-pesawat yang sudah ada. Meski demikian, pesawat yang sudah empat tahun mengudara ini tetap laris di Cina.

Selain membuat ARJ21-700, COMAC juga membuat narrowbody dan widebody. Bahkan narrowbody COMAC sudah berhasil mendapat pesanan nyaris 1.000 pesawat. Hingga awal Juni lalu, pesawat berkapasitas 160 kursi itu sudah mendapat pesanan dari 28 maskapai, dalam dan luar negeri. Tahun lalu, total enam pesawat C919 sudah memasuki fase uji terbang dan sertifikasi kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil Cina di tahun lalu.

Hasilnya, proses uji coba yang dilakukan di Shanghai, Xi’an, Dongying, dan Nanchang berjalan dengan baik. Bila proses sertifikasi yang sempat tertunda beberapa tahun ini selesai, bukan tak mungkin, jumlah pesanan pesawat akan semakin meningkat dari sekedar 1.000 pesanan serta benar-benar akan menjadi penantang serius duopoli Boeing dan Airbus.

Dengan fakta tersebut, tak ayal bila COMAC digadang-gadang bakal menjadi penantang serius Boeing dan Airbus di pangsa pasar narrowbody. Menyadari hal itu (penantang serius Boeing dan Airbus) telah di depan mata, Menteri Keuangan Perancis, Le Maire belum lama ini mengatakan, Perancis sampai harus melakukan langkah preventif.

Bahkan, salah satu alasan dikucurkannya dana senilai €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725) awal Juni lalu ke Air France –yang pada akhirnya berdampak langsung ke Airbus- untuk melindungi persaingan produsen pesawat global ke arah duopoli antara Boeing dan Comac dari Cina. Padahal, di saat yang bersamaan, Cina justru memandang duopoli itu terjadi antara Airbus dan Boeing.

Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Adapun pesawat widebody COMAC prosesnya dianggap masih cukup lama. Wu Guanghui, wakil Kongres Rakyat Nasional (NPC) mengungkap, pesawat CR929 sedang dalam tahap desain awal. Selain itu, widebody yang dikembangkan bersama oleh COMAC dan United Aircraft Corporation milik Rusia ini juga masih dalam tahap pemilihan pemasok dan peralatan.

Pesawat tersebut diklaim akan memiliki jangkauan terbang sejauh 12.000 kilometer, dengan tiga lorong, dan 280 kursi. Namun, keunggulan utamanya adalah harga CR929 disebut akan berada jauh di bawah Airbus dan Boeing.

Viral! Dua Ekor Ayam Ikut Rasakan Fasilitas MRT Setelah Pembatasan Covid-19

Selama masa pandemi Covid-19 yang menginfeksi seluruh dunia, banyak negara yang melakukan lockdown dan transportasi umum seperti kereta api ditutup atau dibatasi sementara untuk mencegah penyebaran virus corona. Hal ini kemudian membuat binatang memasuki beberapa stasiun hanya untuk mencari makan atau ‘melihat-lihat’ stasiun.

Baca juga: Lockdown di Turki, Bikin Beruang Cokelat Cari Makan di Stasiun

Seperti yang baru-baru ini terjadi di stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Singapura di mana ada dua ekor ayam dengan satu jantan dan satu betina masuk melintasi gate. Dua ekor ayam ini diabadikan dalam sebuah foto dan diunggah ke akun Facebook milik Jerry Atan.

Bahkan foto dua ekor ayam ini memicu rasa humor para warganet dan membuat mereka tertawa melihat foto tersebut. Dalam foto tersebut Jerry menuliskan caption pada foto yang diunggahnya sejak 19 Juni lalu, “Saya ingin mengeluhkan ayam ini”.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theindependent.sg (22/6/2020), terlihat dari foto, dua ekor ayam ini tengah digiring petugas MRT keluar dari gate Stasiun Outram Park. Dua ekor ayam itu bahkan tak memiliki arah yang sama ketika digiring untuk keluar.

Foto yang di unggah oleh Jerry ini sudah disukai oleh sekitar 670 warganet dan foto tersebut membuat warganet berbagi permainan kata-kata dan penjelasan atas kejadian tersebut. Komentar warganet juga banyak yang setuju dengan dibukanya kembali stasiun MRT membuat dua pasang ayam ini keluar karena sudah terkurung terlalu lama.

Seorang warganet berkomentar bahwa dua ekor ayam ini seperti mengerti bahwa bisnis dan beberapa kegiatan telah di buka kembali dan mereka ingin bergabung. “Ayam juga ikut di chiong fase 2,” tulis Red Pool.

Bahkan warganet lainnya menyarankan agar sepasang ayam tersebut pergi berbelanja. “Mengapa ayam-ayam itu menyeberang jalan?” tanya Winston Seah. “Untuk mengambil MRT,” tentu saja. Seorang warganet bertanya mengapa mereka harus naik kereta? Seseorang menjawab itu sesuai dengan Fase 2.

Rayne Lee Rui menyarankan akronim baru untu Mass Rapid Transit menjadi Mass Rooster Transit. Ayam-ayam tidak memiliki GPS dan masih berhasil menemukan stasiun, kata Pauline Lee Mei Ling sementara De Leted kecewa mereka tidak memakai masker wajah.

Baca juga: Mother Goose, Angsa Unik Penghuni Stasiun York

Sementara itu, Muhammad Muzammil berkomentar bahwa petugas MRT mengejar ayam karena mereka tidak memiliki tiket kereta api. Foto itu menyenangkan warganet yang senang bisa menemukan posting. “Mereka membuat hari saya,” kata Suria Saad Suria.

Cegah Penularan Covid-19, Kapal Ferry di Teluk Bothnia Dilengkapi Aplikasi Khusus untuk Penumpang

Berada di nun jauh di utara bumi, tepatnya di kawasan Skandinavia, pun tak terbebas dari penyebaran Covid-19. Alih-alih, dalam iklim dingin, virus corona justru lebih mudah menyebar. Untuk itu, langkah antisipasi penyebaran Covid-19 mutlak dilakukan oleh penyedia layanan transportasi. Setelah ramai penerapan antisipasi di angkutan darat dan udara, kini kapal ferry di Laut Baltik mendapat sentuhan teknologi khusus untuk menghadang penyebaran Covid-19.

Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

Apalagi kapal ferry mengangkut penumpang bukan dalam jumlah yang sedikit. Kemudian, pemilik ferry Wasaline baru-baru ini mengadopsi teknologi digital untuk merampingkan pengalaman perjalanan para penumpang. Bahkan mereka melakukan pengurangan biaya tiket dan jumlah penumpang dalam kapal untuk meminimalisir kontak fisik setiap penumpang.

Dilansir KabarPenumpang.com melansir dari laman rivieramm.com (25/6/2020), tak hanya itu, Wasaline juga memperkenalkan kunci digital ke ponsel penumpang dibandingkan menawarkan kartu kunci fisik. Wasaline sendiri menghadirkan kunci digital ini bekerja sama dengan Carus yang menggunakan aplikasi seluler operator ferry itu sendiri.

Pada kapal barunya, Aurora Bothnia, menjadi kapal ferry pertama di dunia yang memasang kunci digital ASSA Abloy untuk semua kabinnya. Kepala eksekutif Wasaline Peter Ståhlberg mengatakan aplikasi mobile ini cukup aman untuk berbagi kunci dengan keluarga dan teman. Ini adalah bagian dari dorongan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi bagi para penumpang.

“Tujuan kami di Wasaline adalah menjadi operator ferry paling modern, inovatif, aman dan ramah lingkungan di dunia. Kami mencari solusi yang paling hemat biaya dan ini adalah satu bagian penting dari strategi kami,” kata Mr Ståhlberg.

Pada versi yang dikembangkan Carus mereka memberikan label putih dari aplikasi kunci digital tersebut dan Wasaline memberi merek sendiri pada apalikasi tersebut untuk platform layanan penumpangnya. Kepala eksekutif Carus Anders Rundberg mengatakan aplikasi ini nantinya akan tersedia untuk operator lain di seluruh dunia.

“Ini adalah langkah alami dalam evolusi industri ferry. Dengan sistem ini kami dapat membantu operator memangkas biaya dan mengurangi jejak lingkungan mereka,” kata Rundberg.

Ini adalah teknologi tanpa kontak yang dapat mencegah risiko infeksi dari kunci kabin fisik dan interaksi antara awak dan penumpang.

Baca juga: Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan

“Dengan pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, inilah yang dibutuhkan industri,” kata Rundberg.

Wasaline mengoperasikan ferry melintasi Selat Kvarken di Teluk Bothnia, yaitu di perbatasan antara Finlandia dan Swedia . Ini menghubungkan orang-orang di sepanjang pantai Västerbotten di Swedia dan pantai Ostrobothnian di Finlandia yang juga dimiliki oleh kota Vasa dan kotamadya Umeå.

Setelah Lebih dari Setahun Grounded, Boeing 737 MAX ‘Akhirnya’ Kembali Terbang

Boeing 737 MAX dilaporkan akan kembali terbang. Pesawat yang sudah di-grounded sejak setahun lebih itu kembali ke udara paling cepat Senin ini untuk menjalani sertifikasi ulang oleh Federal Aviation Administration (FAA).

Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

Reuters mengabarkan, pihak perwakilan dari Kongres Amerika Serikat juga sudah menyetujui uji sertifikasi ulang Boeing 737 MAX setelah mengecek form penilaian sistem keselamatan MAX. “(kongres AS) telah pengizinkan uji sertifikasi ulang. Penerbangan dengan pilot uji FAA dapat dimulai paling cepat besok (Senin), dengan agenda utama mengevaluasi fitur automated flight control system pada 737 MAX,” tulis Reuters.

Teknis pengujian disebut akan menggunakan sebuah unit B737 MAX 7, yang di dalamnya telah dipasangi peralatan pengujian. Selama tiga hari, pesawat akan menjalani pengujian di Boeing Field di Seattle, AS.

Selain menguji fitur automated flight control system yang baru disematkan ke Boeing 737 MAX, beberapa poin lainnya yang juga diuji antara lain, steep-banking turn dan manuver-manuver ekstrem di atas langit Washington. Pesawat juga akan melakukan touch-and-go landings di bandara di wilayah Moses Lake, timur Washington, lalu melanjutkan rute penerbangan ke pesisir Samudera Pasifik.

Tak hanya itu, nantinya pilot uji juga akan melakukan pengujian terhadap software pencegah stall, atau yang selama ini dikenal dengan fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), sumber utama kecelakaan dua pesawat B737 MAX Lion Air dan Ethiopian, yang total menewaskan 346 penumpang dan awak.

Meski nantinya jadi menjalani uji sertifikasi ulang hari ini, Boeing 737 MAX dipastikan tetap tak akan kembali melayani penumpang hingga Septermber mendatang. Pasca menjalani uji sertifikasi, data-data terlebih dahulu akan mulai dikaji oleh tim FAA di Washington dan Seattle untuk menilai tingkat kelaikan udara.

Beberapa pekan setelah itu, Boeing 737 MAX masih harus menjalani uji terbang langsung oleh Administrator FAA, Steve Dickson. Mantan pilot pesawat tempur F-15 ini nantinya akan menerbangkan langsung Boeing 737 MAX serta mengujinya, persis sesuai dengan agenda uji sertifikasi seperti yang sudah dijalani.

Bila proses ini berhasil, MAX tak lantas dapat sekonyong-konyong kembali terbang sebelum semua pilot maskapai di berbagai dunia yang akan menerbangkan 737 MAX mengikuti training pilot. Diperkirakan seluruh rangkaian proses tersebut setidaknya akan memakan waktu hingga akhir tahun.

Sebelumnya, sejak awal April lalu, meskipun dihantui wabah corona, Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA). Kala itu, Boeing mengklaim 737 MAX mengalami peningkatan cepat dalam upaya kembali ke udara.

Baca juga: Boeing Akui Kembali Temukan Masalah Baru Pada Software 737 MAX

“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.

“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tutupnya.

Tiba di Bandara Sorong dengan Menumpang Pesawat Garuda Indonesia, Siswa ini Ternyata Positif Covid-19

Bayangkan bila Anda naik ke pesawat yang sama dengan seorang penumpang lain yang dinyatakan positif Covid-19 dan tiba di tujuan baru ketahuan? Mungkin hal pertama Anda akan panik, ketakutan dan pastinya menjadi Orang Dalam Pantauan (ODP) karena berada satu pesawat dengan penumpang yang positif terinfeksi Covid-19.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Seperti baru-baru ini, di mana seorang penumpang terinfeksi Covid-19 diizinkan naik ke pesawat Garuda Indonesia dengan tujuan penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju ke Sorong di Papua. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (28/6/2020), penumpang berusia 20 tahun yang dinyatakan positif Covid-19 ini ditemukan oleh koordinator Dinas Kesehatan Bandara Sorong Farida Tariq.

Farida menyebutkan bahwa mereka mendapatkan bukti penumpang yang merupakan seorang siswa tersebut positif Covid-19 dari dokumen kesehatan yang dibawa dan dicek setelah mereka tiba di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong pada Sabtu (27/6/2020). Padahal menurut peraturan pemerintah terbaru tentang perjalanan udara, di mana semua calon penumpang harus memberikan dokumen yang menunjukkan reaksi berantai Covid-19 polimerase negatif (PCR) atau hasil tes cepat (Rapid Test) sebelum diizinkan untuk terbang.

Farida mengatakan, pelajar tersebut merupakan warga kabupaten Sorong Selatan yang tengah melakukan perjalanan ke Sorong bersama dengan 42 siswa lainnya.

“Kami melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa ke 43 siswa memiliki dokumen yang diperlukan dan salah satu dari mereka memiliki dokumen yang menunjukkan hasil tes PCR dan positif,” kata Farida.

Dia menyebutkan bahwa dokumen tersebut dikeluarkan oleh laboratorium Dinas Kesehatan Jawa Barat pada 21 Juni kemarin. Namun dia tidak yakin bagaimana siswa tersebut bisa diizinkan naik ke pesawat. Sehingga Farida berspekulasi bahwa para petugas kesehatan Bandara Soetta mungkin kewalahan oleh banyaknya penumpang pada hari itu.

Farida mengatakan pada penerbangan tersebut ada 90 orang yang berangkat dari Jakarta menuju Sorong. Dia menambahkan, semua penumpang sudah diinstruksikan untuk menjalani karantina mandiri selama dua minggu ke depan.

Baca juga: 10 Meninggal dan 500 Karyawan Delta Airlines Terinfeksi Covid-19

“Sementara itu, 43 siswa akan menjalani tes swab di Rumah Sakit Sorong Pertamina,” katanya.

Dari data hingga 28 Juni 2020, jumlah pasien positif Covid-19 sebanyak 1696 orang dan tujuh orang meninggal.