Sambut New Normal, Bandara Changi Kerahkan Robot Pembersih dan Toilet Tanpa Kontak

Bandara Changi, Singapura belum lama ini tengah sibuk mengujicoba langkah-langkah terbaru menghadapi pembukaan kembali penerbangan secara bertahap. Saat ini, Singapura memang masih menerapkan pembatasan perjalanan, utamanya internasional, untuk mencegah kasus impor corona.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines

Dilansir Bloomberg, langkah-langkah yang dimaksud terkait banyak hal, mulai dari check-in kiosks berlapis cairan disinfektan anti-mikroba, sekat akrilik di check-in counter, robot pembersih yang menyemprotkan disinfektan secara otomatis, hingga toilet tanpa sentuhan. Disebutkan, semua itu hanyalah beberapa langkah terbaru otoritas bandara dalam menghadapi new normal selama pandemic Covid-19.

Selain mempersiapkan diri menghadapi pembukaan kembali perjalanan udara dalam dan luar negeri seperti sediakala, Bandara Changi Singapura beberapa waktu lalu juga dikabarkan telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan enam kota dan provinsi di Cina. Utamanya, kerjasama tersebut terkait dengan perjalanan bisnis.

Tak hanya Cina, Bandara Changi Singapura juga bergerak cepat dengan menggandeng beberapa negara, seperti Malaysia, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Posisi tawar, nama besar, dan status Singapura sebagai hub penerbangan internasional di Asia Tenggara menjadikan mudah bagi bandara tersebut untuk menjajaki kerjasama perjalanan bisnis oleh berbagai negara.

Senada dengan Bandara Changi, flag carrier negara itu, Singapore Airlines (SIA) juga telah mempersiapkan diri selama fase pembukaan penerbangan secara bertahap. SIA belum lama merilis fitur companion app pertama di dunia.

Dengan companion app pertama di dunia itu, nantinya pelanggan tak perlu lagi mengakses atau mengendalikan KrisWorld, sistem hiburan dalam penerbangan (IFE) SIA, dengan berbagai sentuhan dilayar IFE secara langsung, melainkan dapat dengan mudah mengaturnya melalui perangkat seluler pribadi. Jadi, mengurangi sentuhan di berbagai benda di pesawat selama penerbangan.

Sejak Singapura mulai kembali membuka diri pada 2 Juni lalu, perlahan sederet aturan new normal memang telah menerapkan sederet peraturan ketat. Dari banyak negara yang telah mengeluarkan berbagai kebijakan new normal, sejauh ini, Singapura menjadi negara pertama yang membedakan pemakaian face shield dan masker.

Di Singapura, face shield umumnya hanya digunakan oleh anak-anak berusia balita atau maksimal 12 tahun, pengidap gangguan pernapasan, penyakit kulit di sekitar wajar atau alergi, guru di sekolah, hingga penyandang disabilitas yang mengandalkan mimik wajah untuk berkomunikasi. Selebihnya, mereka tetap harus menggunakan masker tanpa terkecuali.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Guna menertibkan aturan tersebut, otoritas Singapura juga telah mengerahkan robot anjing. Robot-robot umumnya disiagakan di pusat-pusat keramaian, salah satunya seperti taman.

Robot anjing Singapura ini dibekali dengan teknologi AI dan kamera canggih untuk mendeteksi kerumunan masyarakat dan mengingatkannya bila mereka tidak menerapkan physical distancing; termasuk di dalamnya mendeteksi atau mengingatkan bila warga kedapatan tidak menggunakan masker atau face shield.

Pengamat Penerbangan: Petugas ATC dan Kondisi Pesawat Ikut Andil dalam Kecelakaan Airbus A320 PIA

Pengamat penerbangan, Capt. Shadrach Nababan menyebut kecelakaan pesawat Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 bukan hanya disumbang oleh pilot dan kopilot yang diberitakan karena ngobrol, melainkan juga disumbang oleh petugas ATC (Air Traffic Control) dan pesawat itu sendiri.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Dalam penelusurannya, pesawat diketahui telah lama tidak terbang. Pesawat Airbus A320 milik PIA tercatat telah mempunyai 47.100 jam terbang dan telah lulus uji kelaikan pada 2019. Airbus sendiri menerangkan, pesawat mereka itu mulai beroperasi pada 2004, sebelum dibeli PIA di 2014.

Selain itu, dari hasil investigasi awal, pesawat diketahui mengalami beberapa masalah, mulai dari malfungsi landing gear, disfungsi sistem alarm di dalam kokpit, hingga kerusakan pada kedua mesin pesawat.

Kondisi pesawat yang kurang prima pun juga didukung dengan perilaku in-action pilot. Sebelum jatuh, pilot tercatat melakukan beberapa hal aneh, seperti tidak melaporkan emergency, malfungsi landing gear, kegagalan mesin, tidak mengikuti anjuran petugas ATC, tidak melakukan prosedur pendaratan dengan baik, serta melanggar aturan sterile cockpit rule.

Celakanya, dalam kondisi tersebut, petugas ATC tidak mengecek kondisi pesawat yang sebetulnya sudah berada pada jarak pantau menara pengawas. Prosedur standar, seharusnya petugas ATC menggunakan binocular yang tergantung di atas meja untuk memantau langsung kondisi pesawat.

Di situlah letak kontribusi ATC dalam terjadinya kecelakaan pesawat PIA. Di saat yang bersamaan, pilot juga tidak menyadari kerusakan itu karena sistem peringatan dini di dalam kokpit tidak berfungsi sehingga pendaratan belly landing atau pendaratan tanpa roda terjadi tanpa diketahui oleh ATC dan pilot. Andai saja petugas ATC menggunakan binocular dan memberitahu pilot bahwa landing gear tak muncul, pesawat bisa saja tak jadi mendarat. Jika demikian, tentu di akhir ceritanya akan lain.

Dari catatan jam terbang pilot, mantan pilot senior Garuda Indonesia itu menilai Kapten Sajjad Gull tidak seharusnya melakukan hal itu, mengingat ia sangat berpengalaman. Namun, sepak terjang kapten pilot Sajjad tak diikuti dengan co-pilotnya yang masih notabene masih tergolong junior dengan minim jam terbang.

“Kontribusi kecelakaan datang dari ATC dan kru kokpit,” katanya dalam sebuah webinar yang diinisiasi Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Rabu (1/7).

Guna mengungkap berbagai misteri yang masih menggelayut dibalik kecelakaan tersebut, Capt. Nababan menyoroti berbagai hal terkait kemampuan pilot khususnya perilaku anehnya, sebagaimana yang telah dibeberkan di atas. Ia menyarankan agar investigator mengotopsi jenazah pilot dan co-pilot untuk mengetahui kondisi mereka yang sebenarnya saat kecelakaan terjadi.

Sebelumnya, diketahui pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) dengan nomor penerabangan PK8303 jatuh di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah. Kecelakaan itu sedikitnya menewaskan 97 jiwa dari 91 penumpang dan delapan awak itu.

Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

Di antara hasil investigasi atas kecelakaan tersebut, yang paling mengejutkan adalah temuan dari otoritas Pakistan soal adanya lisensi palsu pilot. Diketahui, dari 860 pilot aktif yang bekerja di maskapai domestik dan maskapai asing, 262 di antaranya memiliki lisensi palsu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan jasa joki untuk melewati ujian.

Atas temuan tersebut, Pakistan pun harus membayar mahal dengan penangguhan penerbangan ke beberapa negara, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Uni Eropa. Seiring berjalannya waktu, bukan tak mungkin negara-negara lain juga akan melakukan hal serupa.

Mulai Juli, Air Canada Kembali Hadirkan Layanan Makanan di Kabin

Air Canada akan kembali melayani makanan inflightnya pada penerbangan akhir Juli 2020. Maskapai asal Amerika Utara ini juga mengatakan katering mereka akan dirancang oleh koki terkenal untuk kelas bisnis dan kelas ekonomi penerbangan internasional akan mendapatkan makanan yang ditingkatkan.

Baca juga: Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’

KabarPenumpang.com merangkum laman simpleflying.com (30/6/2020), pada penerbangan internasional jarak jauh yang berangkat dari Kanada, maskapai menawarkan kotak makanan pra paket. Kotak makanan ini akan berisi hidangan utama, salad, hidangan penutup dan roti kemasan.

Dalam penerbangan ke Eropa dan Israel makanan dalam kotak dibuat oleh David Hawksworth sedangkan Chef Antonio Park akan membuat makanan pada penerbangan ke Asia dan Chef Vikram Vij akan melakukan hal yang sama pada penerbangan ke India. Sedangkan sandwich dan makanan ringan pada Midflight akan didistribusikan dalam kemasan sekali pakai pada penerbangan ke Asia, Tel Aviv ke Toronto, Athena ke Toronto dan Athena ke Montreal.

Dalam layanan penerbangan ini, penumpang akan bisa mengakses layanan bar yang mencakup air kemasan, kopi, Lavazza, teh hitam, minuman ringan, bir dan wine merah atau putih serta Bottega untuk perorangan. Bahkan sebelum mendarat penumpang akan mendapatkan makanan ringan pra paket untuk mereka yang di kelas ekonomi premium.

Selain itu pada semua kelas penerebangan, penumpang akan mendapatkan fasilitas kit layanan pelanggan, batal dan selimut di setiap kursi. Sedangkan penerbangan untuk sekitaran Amerika Utara, makanan yang dibuat oleh Chef Antonio Park akan didistribusikan pada penumpang dalam penerbangan selama dua jam.

Bahkan mereka juga akan diberikan pilihan makanan ringan sebelum mendarat. Sedangkan untuk penerbangan lebih dari dua jam, penumpang akan menerima kotak makanan yang berisi makanan utama dan ringan dan menu tersebut bisa dipesan secara online di situs web maskapai melalui aplikasi seluler.

Pada penerbangan ini, layanan bar juga ada sama seperti di kelas bisnis penerbangan internasional. Sedangkan untuk penerbangan dibawah dua jam hanya akan mendapat layanan botol air minum. Para penumpang Air Canada tujuan kota-kota di Amerika Utara akan disediakan juga kit layanan pelanggan yang berisi masker, tisu antiseptik, pembersih tangan, sarung tangan, botol air, headset dan camilan.

Layanan ini kembali setelah pada Maret Air Canada mengurangi penerbangan mereka karena pandemi Covid-19. Dengan kembalinya layanan makanan, menjadi langkah maju yang positif. Selain itu, dengan berakhirnya langkah-langkah jarak sosial, Air Canada akan mulai memberi tahu penumpang melalui email dan di pintu gerbang tentang penerbangan yang mendekati kapasitas penuh di kelas ekonomi.

Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan

Air Canada akan memungkinkan Anda untuk memilih penerbangan lain dalam waktu tiga hari dari jadwal asli tanpa biaya, atau Anda dapat memilih penerbangan berikutnya yang tersedia jika tidak ada yang tersedia saat itu.

Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Pengamat penerbangan, Capt. Jhon Brata, mengkritisi kebijakan physical distancing di pesawat. Menurutnya, saat ini, prosedur penumpang untuk bisa terbang menggunakan pesawat cukup ketat, mulai dari memakai masker, hand sanitizer, rapid test, bahkan PCR.

Baca juga: Tujuh Maskapai Amerika Deklarasi Tiga Aturan Kesehatan Baru, Apa Saja?

Di samping itu, dari berbagai literatur, umumnya cara penularan Covid-19 ialah droplet. Atas dasar itu, kemudian semua orang diwajibkan memakai masker. Bila semua orang sudah memakai masker, ia pun bertanya-tanya fungsi physical distancing dalam menekan penyebaran corona.

“Covid-19 itu kan penularannya droplet. Jadi airlines harus punya standar juga. Jadi kalau kita sudah pakai masker semua, buat apa jaga jarak? Kalau sudah pakai face shield kan tidak ada droplet,” tegasnya dalam sebuah webinar yang diinisiasi Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Rabu (1/7).

Airlines, lanjut pengamat yang juga mantan pilot senior itu, seharusnya bisa duduk bersama dengan regulator guna mencari jalan keluar terbaik mengenai physical distancing. Hasil dari itu diharapkan mereka bisa sama-sama menemukan formula yang tepat terkait protokol kesehatan baru di industri penerbangan tanpa merugikan pihak lain.

Dengan demikian, airlines diharapkan bisa terbang paling tidak sesuai break-even point (BEP) atau break-even load factor di setiap penerbangan jika tidak ingin dilepas begitu saja (tanpa physical distancing).

Bila tidak demikian, ia mengaku khawatir soal keberlangsungan masa depan airlines, terlebih dalam pengamatannya, maskapai-maskapai dalam negeri sudah sekitar tiga bulan tidak terbang, minus revenue, dan kesulitan keuangan untuk operasional serta membayar gaji karyawan.

Senada dengan Capt. Jhon, mantan pilot senior, Capt. Noor Wahjudie, juga beranggapan bahwa kebijakan physical distancing terbuang percuma. Sebab, dengan berbagai aturan sebelum terbang, besar kemungkinan hanya orang sehat yang bisa ikut dalam penerbangan. “Kalau semua yang ikut penerbangan sehat, buat apa jaga jarak? Jadi, apa yang dijagain?” jelasnya masih di webinar PSAPI.

Sebagai informasi, saat ini, berdasarkan Permenhub Nomor 41 Tahun 2020, kapasitas penumpang pesawat sudah diizinkan maksimal 70 persen dari total jumlah kursi untuk jenis pesawat tertentu (widebody). Namun, di luar itu, aturannya masih maksimal 50 persen. Break-even point (BEP) atau break-even load factor sendiri berbeda-beda, tergantung pesawat, rute, dan lain sebagainya.

Pendapat dari dua pengamat tersebut sebetulnya bukan usulan semu. Belum lama ini, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) juga menyarankan hal serupa. IATA mengusulkan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

“Menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang tiba membuat sektor perjalanan dan pariwisata negara-negara di dunia anjlok. Untungnya, ada alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko kasus Covid-19 impor sambil tetap memungkinkan dimulainya kembali perjalanan dan pariwisata yang berkontribusi untuk memulai kembali perekonomian nasional,” tegasnya.

Buntut Lisensi Palsu Pilot, Pakistan International Airlines Ditolak Masuk Uni Eropa Enam Bulan

Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) belum lama ini memutuskan untuk melarang maskapai Pakistan International Airlines (PIA) selama enam bulan ke depan. Hal itu merupakan buntut temuan 150 pilot PIA berlisensi palsu.

Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

EASA beralasan, sekalipun PIA mengaku sudah menonaktifkan seluruh pilot bermasalah itu, namun tetap saja tak menutup kemungkinan pilot yang lain aman. Sebab, nyaris sebagian besar pilot di Pakistan diduga memiliki lisensi palsu.

“Karena itu EASA tidak lagi memiliki keyakinan bahwa Pakistan, sebagai negara asal maskapai, dapat secara efektif memastikan bahwa pilot yang disertifikasi di Pakistan mematuhi segala peraturan setiap saat dengan segala persyaratan yang berlaku seperti kesepakatan saat proses perekrutan,” tulis EASA dalam surat keterangan resmi, seperti dikutip dari telanganatoday.com.

Tak hanya lisensi palsu 150 pilot PIA, dalam daftar alasan penangguhan tersebut, EASA juga mempermasalahkan PIA terkait kepastain manajemen data keselamatan, risk assessment, analisis statistik, serta kemampuan mengidentifikasi bahaya berulang atau serupa dengan kejadian sebelumnya. EASA menemukan, sejak Desember 2019 lalu, PIA belum memproses laporan keamanannya dan juga terbukti bahwa mereka bisa dibilang tidak memadai dalam mengimplementasikan langkah-langkah keselamatan dan keamanan penerbangan.

Lebih lanjut, EASA juga menilai PIA telah gagal mengembangkan pedoman tambahan untuk memfasilitasi pemahaman dan penerapan manajemen perubahan dan pelatihan untuk seluruh staf yang terlibat. Dalam surat sebuah dokumen yang pernah diserahkan PIA, EASA justru menemukan sebuah kejanggalan terkait Indikator Kinerja Keselamatan (SPI).

Dalam dokumen yang dimaksud, mereka menemukan bahwa beberapa SPI justru dioperasikan oleh departemen yang berbeda.

Selain itu, dokumen keluaran tahun 2018 tersebut juga menunjukkan inkonsistensi PIA terkait SPI. Sebagai contoh, input perhitungan Indikator Kinerja Keselamatan oleh PIA variabelnya berbasis jam penerbangan, tetapi formula penghitungannya justru berbasis jumlah pendaratan. Hal itu jelas membuktikan bahwa SPI PIA tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga berpotensi mengancam keselamatan penerbangan.

Baca juga: Uni Emirat Arab Tangguhkan Penerbangan dari Pakistan, Buntut 262 Pilot Berlisensi Palsu?

“Menyusul peristiwa tragis yang menimpa PIA, termasuk penerbangan PK8303 pada 22 Mei 2020 dan temuan-temuan awal yang tercantum dalam laporan kecelakaan awal yang menunjukkan pelanggaran berturut-turut dari beberapa back-up safety defenses dalam sistem manajemen keselamatan, EASA prihatin bahwa keselamatan sistem manajemen tidak mencapai tujuan utamanya,” tambah EASA dalam surat resminya.

Atas penangguhan penerbangan tersebut, dari aspek yuridis, PIA masih mempunyai waktu dua bulan untuk melakukan banding. Pun sebaliknya, EASA juga mempunyai hak untuk mengajukan perpanjangan penangguhan penerbangan PIA ke Eropa selama tiga bulan bila masa penangguhan enam bulan sudah berakhir dan mereka tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari PIA.

Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

Kereta api berkecepatan tinggi dari Beijing menuju Shanghai pada 30 Juni kemarin merayakan ulang tahunnya yang kesembilan. Kereta ini bisa dikatakan sudah berjasa di salah satu jalur kereta berkecepatan tinggi tersibuk di Cina.

Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator

Di perayaan ulang tahunnya yang kesembilan, kereta ini sudah beroperasi sekitar 1,11 juta kali di jalur tersebut dengan catatan keamanan sangat baik. Dilansir KabarPenumpang.com dari shine.cn (30/6/2020), kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan zona ekonomi utama di Negeri Tirai Bambu ini memiliki nama dalam bahasa mandarin kereta api berkecepatan tinggi Jinghu.

Sebelum melintas di zona ekonomi utama Cina, pembangunan jaringan kereta api dimulai pada 18 April 2008 lalu dan dibuka untuk umum pada 30 Juni 2011. Jalur kereta ini memiliki total panjang 1.318 km atau sekitar 819 mil.

Ternyata jalur kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan Beijing – Shanghai merupakan yang terpanjang di dunia yang pernah dibangun hanya dalam satu fase. Berada di jalur tersibuk di dunia, kereta berkecepatan tinggi ini pernah mengangkut lebih dari 180 juta penumpang pada tahun 2017.

Bahkan bisa dikatakan jumlah penumpang tahunannya paling banyak di seluruh jaringan TGV atau Intercity-Express. Selain itu, menjadi jalur kereta berkecepatan tinggi yang paling menguntungkan di Cina karena laporan laba operasional bersih 6,6 miliar yuan pada 2015.

Jalur Beijing – Shanghai merupakan yang pertama dirancang untuk kecepatan maksimum 380 km per jam dalam operasi komersial. Dalam operasionalnya, kereta ini menempuh waktu tiga jam 58 menit dan menjadikannya tercepat di dunia bila dibandingkan dengan kereta api biasa yang menempuh waktu sembilan jam 49 menit

Waktu awal beroperasi kecepatan kereta pertama ini terbatas yakni hanya 300 km per jam dan menghabiskan waktu tempuh empat jam 48 menit dari Beijing Selatan ke Shanghai Hongqiao dengan satu pemberhentian tambahan di Nanjing Selatan. Untuk diketahui, proyek ini sendiri diperkirakan menelan biaya 220 miliar yuan atau sekitar $32 miliar.

Baca juga: Kereta Cepat ‘Pintar’ Pertama di Dunia untuk Olimpiade Beijing 2022 Telah Mengular

Rolling stock yang digunakan di jalur tersebut terdiri dari kereta CRH380 dengan sistem kontrol kereta berbasis CTCS-3 yang digunakan pada saluran yang memungkinkan melaju di kecepatan 380 km per jam berjalan dan interval kereta minimum tiga menit. Kereta berkecepatan tinggi ini mengkonsumsi daya 20 MW dan kapasitas sekitar 1.050 penumpang, konsumsi energi per penumpang dari Beijing ke Shanghai harus kurang dari 80kWh.

Airbus PHK 15 Ribu Karyawan, Perancis Layangkan Protes!

Pertama dan terbesar sepanjang sejarah perusahaan, Airbus mengumumkan akan mem-PHK sebanyak 10 persen atau 15 ribu karyawan di seluruh dunia. Hal itu dilakukan guna mendukung kelangsungan bisnis perusahaan ke depang, mengingat dalam pandangan mereka, kondisi industri penerbangan global masih akan anjlok sampai setidaknya di tahun 2025 mendatang.

Baca juga: Perancis Kucurkan Rp239 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Industri Penerbangan Batal PHK

Laporan The New York Times menyebut, saat ini Airbus telah kehilangan 40 persen pendapatan di sektor pesawat komersial. Tak ayal bila CEO Airbus, Guillaume Faury, belum lama ini telah mengingatkan karyawan dalam serangkaian memo untuk menghadapi kenyataan terburuk selama beberapa tahun mendatang.

“Airbus menghadapi krisis paling parah yang pernah dialami industri ini. Kita harus memastikan bahwa kita dapat mempertahankan perusahaan kita dan keluar dari krisis sebagai pemimpin kedirgantaraan global yang sehat, menyesuaikan diri dengan tantangan luar biasa dari para pelanggan kita,” jelas Faury.

Jerman menjadi negara dengan jumlah PHK karyawan Airbus terbanyak mencapai 5.100 dari 45.500 karyawan, diikuti Perancis 5.000 dari 49.000 karyawan, Inggris 1.700 dari 11.000, Spanyol 900 dari 12.500, dan 2.100 lainnya di seluruh dunia.

Airbus sendiri mengaku sudah membuka komunikasi dengan serikat pekerja terkait hal ini. Diharapkan, proses tersebut akan selesai paling lambat musim panas mendatang. Adapun skema PHK cukup beragam, mulai dari mendorong karyawan untuk mengundurkan diri, pensiun dini, hingga merumahkan karyawan atau cuti tanpa dibayar hingga waktu yang tak ditentukan.

Merasa sudah mengucurkan dana segar sebesar €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725) untuk mempertahankan industri penerbangan dalam negeri, Perancsi pun protes. Juru bicara Menteri Keuangan menyebut keputusan Airbus mem-PHK sebanyak 15 ribu itu berlebihan dan tidak seharusnya dilakukan setelah pemerintah mengucurkan dana besar.

Paket stimulus itu memang tidak diberikan langsung untuk Airbus, namun, rencana Air France untuk membeli pesawat Airbus –dengan menggunakan uang dari paket stimulus tersebut- dalam waktu dekat tentu saja akan memberikan angin segar ke Airbus.

Protes dari pemerintah pun ditanggapi dingin oleh Airbus. Secara terpisah, mereka sangat mengapresiasi dukungan tersebut. Hanya saja, paket stimulus itu tak mungkin bisa bertahan selama beberapa tahun ke depan dan tak bisa menghindari Airbus dari PHK karyawan, melainkan hanya memperlambat saja. Terlebih jika kondisi seperti ini tak cepat berlalu.

“Airbus berterima kasih atas dukungan pemerintah yang memungkinkan perusahaan untuk membatasi langkah-langkah adaptasi yang diperlukan ini,” kata juru bicara Airbus.

Baca juga: Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan

“Namun, dengan lalu lintas udara yang masih terus anjlok seperti sekarang ini dan diperkirakan akan terus berlangsung sampai benar-benar pulih hingga 2025 mendatang, Airbus perlu mengambil langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan prospek bisnis pasca wabah Covid-19 berakhir,” tambahnya.

Airbus tidak sendiri. Kompetitor abadi dari AS, Boeing, juga telah melakukan hal serupa. Bahkan, secara jumlah, Boeing telah mem-PHK lebih banyak karyawan. Dari segi waktu, Boeing juga lebih cepat mem-PHK karyawan dibanding Airbus. Hingga akhir April lalu, Boeing setidaknya telah mem-PHK sebanyak 16 ribu karyawan. Angka tersebut masih sangat mungkin bertambah mengingat prospek bisnis divisi pesawat komersial mereka bisa dibilang selangkah di belakang Airbus.

Pernah Dengar “Rain Gutter” di Pesawat? Jika Belum Simak di Sini

Sebagian orang mungkin mengenal pesawat komersial berkat berbagai teknologi canggih, seperti autopilot, fly by wire, sistem hiburan dalam kabin, filter udara HEPA, teknologi pencegah turbulensi, teknologi radar, efisiensi bahan bakar, teknologi pengganti bahan bakar fosil, mesin, evacuation slide, dan berbagai teknologi lainnya.

Baca juga: Pernah Dengar “Evacuation Slide” di Pesawat? Jika Belum Simak Penjelasan Berikut

Namun, di balik semua itu, pesawat rupanya mempunyai fitur-fitur lain yang juga cukup bermanfaat melindungi penumpang, sekalipun fungsinya tak se-vital berbagai fitur yang disebutkan di atas. Di antaranya ialah rain gutter.

Rain gutter atau talang air pada pesawat sebetulnya memiliki fungsi yang sama dengan rain gutter di mobil dan kendaraan lain; sama-sama mencegah air agar tak masuk ke dalam kabin. Hanya saja, mungkin perbedaanya terletak pada bentuk dari rain gutter itu sendiri selain rain gutter di mobil masih berpotensi menjatuhkan sisa-sisa air yang bergelayut hingga mengenai seseorang.

Bila talang air di mobil bentuknya cukup kentara dan berbeda dengan komponen lain di sekitarnya, maka tidak demikian dengan pesawat. Rain gutter di pesawat bisa dibilang cukup samar. Bahkan, bila tak cukup teliti, bisa jadi seseorang akan mengira bahwa rain gutter tak lebih dari sekedar list atau stripping di mobil yang berfungsi di tataran art atau seni.

Dilansir dari airliners.net, talang air pesawat terletak di atas pintu, berbentuk garis lurus dengan kemiringan sekitar lima derajat. Selain memiliki fungsi mencegah air masuk langsung ke dalam kabin, mengingat pintu sedikit lebih ke dalam dibanding permukaan badan pesawat, rain gutter juga berfungsi untuk mencegah sisa air hujan yang masih tertinggal di badan pesawat agar tak jatuh langsung ke arah pintu dan mengenai penumpang.

Dengan adanya rain gutter, penumpang dapat terhindar dari tetesan air yang meluncur dari atas punggung pesawat. Sebab, air yang meluncur dari punggung pesawat akan tertahan dan mengalir ke bagian terendah rain gutter sebelum jatuh ke daratan. Itu juga alasan mengapa rain gutter dibuat miring lima derajat, agar air tak menggenang di sana sekaligus langsung disalurkan ke bawah.

Namun demikian, meskipun rain gutter bisa mencegah agar penumpang tak kebasahan sekalipun setetes air serta melindungi kabin dari hujan, di beberapa kasus, semua itu rasanya terbuang percuma. Di bandara-bandara kecil, misalnya, rain gutter seolah tak berfungsi ketika garbarata tidak tersedia.

Baca juga: Pernah Dengar PBE? Inilah Andalan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Pesawat

Jadi, ketika pesawat sampai di bandara dan di saat yang bersamaan terjadi hujan, maka, mau tak mau pintu pesawat dibuka dan penumpang kebasahan. Begitupun juga dengan area di sekitar pintu, mau tak mau hujan akan merangsek masuk ke dalam kabin dan bukan tak mungkin kabin akan becek dibuatnya.

Atas dasar itu, maka tak heran bila beberapa kalangan menilai rain gutter hampir tak berfungsi apapun kecuali sedikit saja. Namun, sejauh fungsi tak lebih besar dari keburukan atau dampak buruk yang ditimbulkan, maka, tak ada salahnya bila adanya rain gutter tetap patut diapresiasi sebagai salah satu karya sebagai satu kesatuan utuh dari para ahli aeronautika dunia.

Lounge Kembali Buka, Qantas Hilangkan Prasmanan, Pemanggang Roti dan Pembuat Pancake

Bandara Australia yang mulai kembali beroperasi akan membuka sebelas lounge baik milik bandara maupun maskapai pada 1 Juli 2020. Nantinya lounge milik Qantas tidak akan menyediakan makanan secara prasmanan, pemanggang roti ataupun pembuat pancake.

Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Solusi inovatif ini dilakukan agar penumpang yang menggunakan lounge aman dari penyebaran Covid-19. Meski begitu booth cemilan akan ada sepanjang hari menggantikan prasmanan tradisional seperti kue tar kale dan keju, jamur panggang dengan wortel serta kue pecan yang bisa dipilih oleh para pelanggan.

Meski makanan prasmanan hilang, pelanggan akan bisa mendapatkan baki berisi makanan mereka dengan memesan terlebih dahulu. Selain itu juga mereka bisa memesan kopi, jus segar, bir dan wine dari petugas bar atau barista di lounge.

Qantas sendiri pertama kali menutup lounge domestik dan internasionalnya pada 23 Maret lalu karena penguncian dan pembatasan yang diberlakukan secara nasional. KabarPenumpang.com merangkum laman australianaviation.com.au (30/6/2020), semua lounge yang dibuka pada 1 Juli termasuk lounge Alice Spring yang baru di perbaharui dan memiliki perabot serta wallpaper segar yang dirancang oleh seniman Jimmy Pike akan dibatasi jumlah tamu yang bisa masuk.

Ini dilakukan untuk mematuhi batasan berdasarakan negara dan bahkan lounge menyediakan cangkir dan station sabun sekali pakai. Chief customer officer Qantas Stephanie Tully mengatakan, beberapa inisiatif akan menjadi norma, sedangkan yang lain seperti pembatasan kapasitas akan berkurang seiring berjalannya waktu.

“Kami tidak mengesampingkan kembalinya prasmanan, roti panggang, dan pembuat pancake di masa depan atau pengenalan kembali stasiun minuman swalayan ketika pembatasan mereda, sementara itu, kami berharap pelanggan Qantas akan menikmati penawaran ekstra yang dipersonalisasi,” kata Tully.

Untuk diketahui beberapa lounge yang akan dibuka pada 1 Juli ada dua bagian yakni Capital city lounges dan Regional lounges. Capital city lounges yakni Sydney Domestic Business Lounge, Perth Domestic Business Lounge, Adelaide Qantas Club dan Canberra Business Lounge.

Sedangkan Regional lounge yakni Alice Springs Regional Lounge, Kalgoorlie Regional Lounge, Tamworth Regional Lounge, Coffs Harbour Regional Lounge, Broome Regional Lounge, Karratha Regional Lounge dan Launceston Regional Lounge. Qantas menambahkan untuk lounge yang ada di Quensland dan Victoria dijadwalkan dibuka kembali secara progresif padaa 10 Juli mendatang. Meski begitu beberapa lounge Qantas di Australia dan luar negeri sampai saat ini tetap ditutup.

Baca juga: Qantas Akan Hadirkan Lounge Kelas Satu di Bandara Changi

Qantas secara otomatis memperpanjang keanggotaan Qantas Club selama enam bulan untuk anggota Qantas Club berbayar yang memenuhi syarat dengan ulang tahun keanggotaan antara 23 Maret 2020 dan Februari 2024. Qantas Frequent Flyer juga memperpanjang status tingkat anggota selama 12 bulan.

PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19

Sampai saat ini masih banyak yang takut bepergian dengan menggunakan transportasi umum meskipun sudah ada jarak antar penumpang yang satu dengan yang lainnya. Karena hal ini, banyak sekali operator yang mencari cara agar para penumpang bisa merasa aman, nyaman serta tidak cemas terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Arrival Hadirkan Konsep Bus Listrik Publik dengan Beragam Fitur Khas Pandemi Covid-19

Seperti operator bus di Myanmar yang kemudian mengambil inisiatif untuk memodifikasi bus mereka agar bisa digunakan penumpang dan juga mencegah penyebaran Covid-19. JJ Express memberikan sekat plastik sehingga setiap kursi menjadi seperti bilik yang muat untuk satu orang.

Dalam hal modifikasi ini JJ Express sudah mengubah selusin armada mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari reuters.com (19/6/2020), JJ Express membangun kabin mini dengan panel aluminium dan pintu di sekitar kursi tunggal dan satu kabin di dekat jendela pada kursi dua. Selain itu, mereka juga merombak sistem pendingin udara dan memasang filter desinfeksi.

“Kami menyadari bahwa perubahan norma perjalanan tidak bisa dihindari. Sebagai hasilnya, kami percaya bahwa kami akan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan dan kami akan dapat mempertahankannya dengan baik di masa depan,” kata manajer perusahaan Kyawt Kyawt Thet.

Thet mengatakan mereka telah memasang modifikasi tersebut di 12 bus dari 50 bus yang dimiliki di negara bagiannya. Setelah dimodifikasi penumpang akan membayar $20 atau sekitar Rp287 ribu dan naik sekitar 20 persen dari harga standar biasanya.

“Kami tidak berani bepergian selama Covid-19. Kami tidak merasa aman ketika dua orang duduk berdekatan satu sama lain di kursi kembar,” kata seorang penumpang bernama Ko Kai.

Dia diketahui bepergian secara teratur dalam perjalanan yang menghabiskan waktu selama sepuluh jam dengan jarak 650 km antara Yangon dan Negara Bagian Shan.

Baca juga: Imbas Covid-19, PO Bus Sepi Penumpang dan Tengah Cari Solusi

“Sekarang, kita merasa lebih aman duduk di kamar pribadi ini, jauh lebih nyaman,” tambahnya.

Myanmar telah mengkonfirmasi 286 kasus virus corona dan enam kematian. Pada hari Jumat melaporkan 23 infeksi baru, semua ditemukan di karantina di antara orang yang dideportasi dari Thailand.