Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Penyebab pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 yang jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah akhirnya terungkap.

Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!

Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan membeberkan, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol mengenai Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari CNN International dan The Telegraph, sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

Catatan The Telegraph, aturan sterile cockpit rule mulai digaungkan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai respon atas jatuhnya pesawat Eastern Airlines 212 pada tahun 1974. Pesawat tersebut jatuh di runway Bandara International Charlotte Douglas di tengah terjangan kabut tebal yang membatasi visibilitas. 72 nyawa dilaporkan tewas karenanya.

Meskipun visibilitas buruk akibat kabut tebal, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS menyimpulkan kecelakaan terjadi akibat pilot lack of altitude awareness atau pilot kurang peka terhadap ketinggian pesawat di fase kritis -seperti menjelang pendaratan atau lepas landas- saat melakukan approach karena pilot ngobrol.

Pilot diketahui ngobrol berbagai hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan operasional penerbangan yang sedang mereka jalani dan pada akhirnya membuat fokus mereka terpecah sehingga berujung kecelakaan fatal. Setelah menjalani proses panjang, tujuh tahun kemudian barulah aturan sterile cockpit rule mulai diberlakukan.

Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, regulator penerbangan sipil AS (FAA) menyebut pemahaman sterile cockpit rule yang kurang menyeluruh pada akhirnya hanya mengakibatkan kebingungan oleh awak kabin. Hal ini justru lebih membahayakan dibanding pelanggaran terkait sterile cockpit rule itu sendiri. Di beberapa kasus, awak kabin dilaporkan tak berani berkomunikasi dengan awak kokpit akibat dibayang-bayangi aturan ini.

Oleh karenanya, berbagai maskapai pun menspesifikasi turunan dari aturan sterile cockpit rule. Japan Airlines, misalnya, mengatur bahwa awak kabin boleh melanggar aturan tersebut (menghubungi pilot dan kopilot) saat terjadi kebakaran, asap di kabin, abnormality atau hal-hal tidak biasa pada pesawat selama lepas landas ataupun mendarat, adanya kebisingan dan getarangan tidak normal, serta terjadinya kebocoran bahan bakar atau kebocoran lainnya.

4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Airbus dan Boeing sudah lama menjadi duopoli produsen pesawat komersial di dunia. Boeing mungkin jauh lebih berpengalaman dibanding Airbus. Namun, berkat kombinasi pengetahuan Aerospatiale (Perancis), Deutsche Aerospace (Jerman), dan CASA (Spanyol) pada tahun 1971, Airbus dianggap mampu merusak hegemoni Boeing kala itu.

Baca juga: Kendati Ditimpa Sejumlah Masalah, Mengapa Boeing dan Airbus Tak Kunjung Lengser?

Meskipun Airbus sudah berusaha menyaingi Boeing sejak pesawat pertama, A300, diproduksi pada 1972, namun, genderang perang duopoli Airbus dan Boeing baru dimulai sejak 1997, saat McDonnell Douglas dicaplok Boeing. Dengan kekuatan politik, investasi, dan pengetahuan yang dimiliki, praktis tak ada perusahaan dirgantara manapun yang mampu menyaingi keduanya hingga hari ini.

Kekuatan Airbus dan Boeing, saat ini, mungkin sekilas terlihat sama. Sama-sama memiliki modal besar, dukungan politik, dan pengembangan luar biasa. Tetapi, bila dikerucutkan menjadi empat hal, salah satu dari kedua itu mungkin bisa dibilang sedikit lebih baik. Dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying, berikut rangkuman empat head to head Boeing vs Airbus.

1. Pasar Narrowbody

Pangsa pasar narrowbody, Boeing jelas disebut merajai sektor ini, baik dari segi penjualan maupun hegemoni di pasar. Hal itu mungkin bisa disebut wajar, mengingat, Boeing 737 -lambang kesuksesan narrowbody Boeing- sudah menjalani first flight pada 1967 atau 20 tahun sebelum A320 menjalani first flight. Jadi, pada pertempuran Boeing 737 vs A320 dimenangi Boeing.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan kemampuan produsen dalam melihat peluang ke depan serta arah keinginan maskapai –termasuk di dalamnya kecenderungan penumpang untuk bepergian- membuat peta persaingan di pangsa pasar narrowbody menjadi lebih seru.

Airbus bisa dibilang lebih unggul di masa mendatang. Lihat saja, setelah lebih dari satu tahun digrounded, sampai saat ini, Boeing 737 MAX masih belum juga menemukan titik terang. Selalu saja ada masalah dalam proses comeback-nya. Bahkan, dengan kehadiran A321XLR, pengembangan dari A32 neo dan LR, serta di saat yang bersamaan 737 MAX masih tak kunjung terbang, tak berlebihan bila memprediksi Airbus akan memimpin pasar ini di masa mendatang. Terbukti, dari segi penjualan, tahun lalu, Airbus berhasil melampaui Boeing.

2. Pasar Widebody

Pasar widebody mungkin lebih ketat dibanding narrowbody. Sebab, di sini salip-salipan teknologi terbaru membuat pesawat dari keduanya saling mengalahkan. Head to head di pasar ini setidaknya ada tiga, Boeing 787 vs Airbus A330, Boeing 777 vs Airbus A350, dan Boeing 747 vs Airbus A380.

A330 mungkin lebih kuno dibanding 787. Namun, ketika A330neo diproduksi –harga lebih murah dan performa lebih oke- Airbus sempat diunggulkan. Tetapi, fakta penjualan berkata lain, A330neo belum bisa menyalip 787 Dreamliner.

Pertempuran Boeing 777 vs Airbus A350 mungkin kebalikan dari Boeing 787 vs Airbus A330. Dihadapan A350, Boeing 777 sepertinya ketinggalan jauh dari segi teknologi dan daya tarik ke maskapai.

Namun, dengan kehadiran 777X, A350 XWB sekalipun diprediksi akan sedikit tertinggal. Begitu juga pada pertempuran kelas jumbo Boeing 747 vs Airbus A380. Berbicara fakta saat ini, dimana A380 tidak lagi diproduksi mulai tahun depan dan sebaliknya Boeing 747 masih terus diproduksi untuk penerbangan kargo, semua pasti setuju 747 lebih unggul dibanding A380.

Akan tetapi, A380, seperti kata banyak pecinta aviasi, adalah pesawat fenomenal yang diproduksi pada waktu yang kurang tepat. Bayangkan, bila A380 diproduksi bersamaan dengan 747, mungkin hasil akhirnya akan berbeda.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

3. Angkutan Kargo

Angkutan kargo mungkin bisa dibilang dikuasai Boeing, dengan sedikit tempat untuk Airbus. Boeing memproduksi beberapa varian pesawat kargo, seperti Boeing 767, 747-8F, dan 777F. Sedangkan Airbus hanya memproduksi A330F. Dari segi penjualan, Airbus jauh berada di belakang Boeing dan perlu waktu lama untuk mengejar ketertinggalan.

4. Penjualan dan Pengiriman

Di tahun 2019, Boeing mencatat pengiriman pesawat sebanyak 19.913 unit. Sedangkan Airbus hanya 12.626 unit. Jauh tertinggal, bukan? Namun, dari segi pesanan atau backlog, Airbus masih memiliki backlog sebanyak 7.621 pesawat dan hanya 4.744. Bila sudah begini, kami menyimpulkan, tak ada pemenang di antara keduanya. Yang ada ialah pesawat terbaru dari keduanya saling mengalahkan. Begitu Airbus mengeluarkan pesawat generasi terbaru, baik di narrowbody atau widebody, praktis pesawat sejenis dari Boeing akan tertinggal. Demikian pula sebaliknya.

Hasilkan Banyak Keuntungan, Namun GoJek dan Grab Justru PHK Karyawan

Masa pandemi Covid-19 membuat pemerintah DKI Jakarta dan beberapa kota lainnya mengambil sikap untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal ini membuat para pengemudi ojek online (ojol) dari dua perusahaan ride hailing GoJek dan Grab tak lagi mengangkut penumpang selama hampir tiga bulan.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Meski begitu dua perusahaan besar ride hailing ini menghasilkan untung dari beberapa fiturnya seperti makanan dan pengantaran barang. Namun ternyata dua perusahaan decacorn ini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ratusan karyawan mereka. CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan melalui pesan kepada karyawannya, mengatakan langkah ini terpaksa diambil sebagai langkah menavigasi bisnis Grab dalam menghadapi krisis kesehatan global.

“Kami mengerti berita ini akan menimbulkan kecemasan pada diri Anda tetapi perlu diketahui bahwa keputusan ini bukan merupakan keputusan yang mudah. Kami telah mencoba segala kemungkinan untuk menghindari hal ini terjadi tetapi kami harus menerima kenyataan bahwa keputusan hari ini kami ambil demi jutaan mata pencaharian orang yang bergantung pada kita di masa ‘new normal’,” tulis Anthony dalam pesannya, Selasa (16/06/2020) yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com.

Kemudian GoJek mengikuti jejak Grab yang melakukan PHK pada 430 karyawan atau sembilan persen dari total karyawannya. Para pekerja yang di PHK sebagian besar merupakan karyawan di divisi GoLife dan GoFood Festival.

Karena dua layanan tersebut distop lantaran dinilai tak relevan dengan kebiasaan baru masyarakat. Aplikasi GoLife sendiri akan mulai berhenti beroperasi pada 27 Juli dan GoFood Festival belum jelas kapan akan dihentikan.

“Perjalanan menjadi semakin sulit karena kami harus berpisah dengan 430 karyawan. Lalu juga adanya penutupan GoLife dan GoFood Festival, bisnis yang memiliki peran penting dalam sejarah GoJek,” kata Co-CEO Gojek Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi dalam pernyataan resminya.

Selain karyawan GoJek, yang terdampak keputusan ini adalah para mitra GoLife, yang mencakup mitra GoMassage dan GoClean. Para mitra merchant di GoFood Festival juga akan terdampak langsung keputusan ini.

Sementara mitra driver ojek online (ojol) Gojek tidak terdampak secara langsung akibat keputusan ini. Sebab, GojJk masih akan fokus pada tiga bisnis inti, yakni transportasi (GoRide), layanan pesan antar makanan (GoFood), dan uang elektronik (GoPay).

“Di samping juga layanan yang menunjukkan hasil pertumbuhan yang menjanjikan di tengah pandemi seperti bisnis logistik, yang tumbuh 80 persen sejak awal pandemi atau layanan belanja kebutuhan sehari-hari (grocery) yang telah naik dua kali lipat,” kata pihak Gojek.

Bagi mitra GoClean dan GoMassage yang terdampak langsung keputusan ini, GoJek telah menyiapkan program khusus, yakni Program Solidaritas Mitra Covid-19. Program tersebut adalah peningkatan ketrampilan melalui pelatihan online dengan tujuan bisa menjadi bekal para mitra terdampak.

Sementara bagi karyawan GoJek yang di-PHK, Gojek menyiapkan beberapa benefit, mulai dari pesangon yang disebut di atas standar yang ditetapkan pemerintah dan perpanjangan asuransi kesehatan hingga 31 Desember 2020. Karyawan juga diperkenankan memiliki laptop yang diberikan perusahaan saat masuk bekerja untuk mencari peluang baru.

“Kami tahu bahwa apa pun yang kami lakukan mungkin tidak cukup untuk mengurangi kekecewaan kalian, namun kami berupaya yang terbaik untuk dapat mendukung kalian,” kata Andre.

Baca juga: Meski Jauh dari Kesepakatan, GoJek dan Grab Diskusikan Potensi Merger

Hal senada juga diucapkan Kevin kepada karyawan dan mitra yang terdampak keputusan ini.

“Secara pribadi, saya ingin meminta maaf untuk keputusan yang harus kita ambil. Kami sangat berterima kasih bahwa kalian telah memberikan kontribusi berarti bagi kesuksesan GoJek selama bertahun-tahun,” ucapnya.

Pernah Dengar “Evacuation Slide” di Pesawat? Jika Belum Simak Penjelasan Berikut

Bagi mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, sudah barang tentu mereka akrab dengan boarding pass, handling luggage, overhead baggage, safety induction, garbarata, hingga emergency exit door.

Baca juga: Pernah Baca “Remove Before Flight” Sebagai Standar Keamanan Penerbangan? Jika Belum, Simak di Sini

Sebaliknya, sekalipun mereka sering bepergian naik pesawat, belum tentu Anda pernah mendengar salah satu fitur ‘terlarang’ di pesawat; evacuation slide. Dibilang terlarang, biasanya evacuation slide bekerja hanya untuk keadaan darurat atau emergency. Maka dari itu, sudah pasti, tak banyak penumpang yang sempat merasakannya.

Dikutip KabarPenumpang.com dari airspacemag.com, cara kerja fitur ini bisa dibilang mudah, begitu juga saat mengaktifkan dan menggunakannya. Hal itu –mudah mengoperasikan- sepertinya sudah menjadi sebuah kewajiban mengingat fitur tersebut dipersiapkan memang untuk keadaan darurat.

Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) sendiri, sudah sejak 1960-an mengatur agar evacuation slide siap digunakan setelah 25 detik dalam keadaan normal. Seiring perkembangan teknologi, saat ini, rekomendasi dari berbagai regulator penerbangan sipil dunia, evacuation slide sudah harus siap digunakan dalam hitungan enam detik.

Mula-mula, saat terjadi keadaan darurat, awak kabin akan memutar tuas slide posisi armed. Letaknya ada di pintu pesawat. Setelah itu pintu dibuka dan evacuation slide siap digunakan. Biasanya –sebagaimana rekomendasi FAA- evacuation slide akan siap digunakan setelah enam detik. Penumpang cukup menjatuhkan diri ke evacuation slide dengan posisi berbaring menghadap ke langit untuk membantunya meluncur ke permukaan.

Evacuation slide dapat mengembang berkat boosting dari tabung karbon dioksida dan nitrogen terkompresi. Kedua tabung tersebut hanya menyediakan sekitar sepertiga volume yang dibutuhkan untuk mengembang evacuation slide adapun sisanya disuplai oleh udara di sekitar yang disalurkan ke slide melalui aspirator.

Prosedur evakuasinya pun juga tak kalah cepat dengan prosuder mengaktifkan fitur tersebut. Peraturan penerbangan mewajibkan, setidaknya pesawat dengan kategori kapasitas di atas 44 kursi harus mampu mengeluarkan seluruh penumpang dan awak pesawat dalam tempo 90 detik. Tak terkecuali pesawat superjumbo seperti A380 sekalipun, yang notabene pada konfigurasi full kelas ekonomi bisa mengangkut hingga 800 penumpang. Semuanya harus bisa dievakuasi dalam tempo 90 detik.

Hanya saja, karena jumlah penumpangnya lebih banyak dibanding pesawat lainnya, tentu cara kerja evacuation slide mengembang dan siap digunakan berbeda. Salah satu produsen evacuation slide dari Amerika Serikat (AS), Goodrich, punya teknologi khusus untuk itu.

Di pabrik Phoenix, Arizona, Goodrich memproduksi evacuation slide khusus untuk A380. Di setiap pesawat, setidaknya ada 16 evacuation slide yang siap melayani 800 orang lebih, terdiri dari penumpang dan awak pesawat. Masing-masing evacuation slide didesain untuk mampu melayani 70 penumpang dengan berbagai varian berat badan dalam satu menit.

Bila A380 menyediakan 12 slide, berarti dalam satu menit, slide mampu melayani 1120 penumpang. Dalam tempo 90 detik, 16 evacuation slide harusnya sudah lebih dari cukup untuk mengeluarkan mereka. Jadi, kemampuan evacuation slide jauh di atas jumlah penumpang itu sendiri.

Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Guna membuat evacuation slide A380 bisa difungsikan setelah enam detik, Goodrich mengembangkan inflator menggunakan generator gas seukuran kaleng soda. Meskipun ukurannya kecil, volume gas yang dihasilkan ke evacuation slide justru lebih banyak dibanding generator biasa. Sudah begitu, generator khusus tersebut juga ringan.

Dari segi bahan, evacuation slide bisa pada umumnya didesain untuk tahan api, sekalipun hanya bertahan selama 90 detik. Itu sebabnyak proses evakuasi harus selesai dalam tempo 90 detik, mengingat ketahanan evacuation slide terhadap api hanya bisa bertahan selama itu. Sebetulnya, bahan evacuation slide itu sendiri terbuat dari nilon berlapis urethane. Namun, cat khusus yang disemprotkan membuatnya tahan api. Selain itu evacuation slide juga dirancang tahan sobek.

Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

SpaceX, Virgin Galactic, dan Blue Origin serta tentu saja, NASA pasti sudah lumrah dikenal sebagai perusahaan dan lembaga antariksa yang bisa mengantarkan siapapun yang berminat dan berduit untuk pergi berwisata ke luar angkasa.

Baca juga: Pratiwi Pujilestari Sudarmono – Calon Astronot Pertama Indonesia yang Terpaksa Mengubur Asanya Ke Luar Angkasa

Wisata ke luar angkasa atau wisata antariksa sejak 2011 lalu memang mulai banyak digandrungi masyarakat dunia. Kala itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika atau biasa dikenal dengan sebutan NASA sering mengirimkan orang sipil ke luar angkasa dalam rangka penelitian.

Hal itu pun kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha untuk menjadikannya sebagai bisnis. Namun, sayang beribu sayang, biayanya bukan main. NASA misalnya, mematok harga mencapai Rp711 miliar untuk mengakomodir wisata antariksa.

Tetapi, belum lama ini, sebuar startup asal Amerika Serikat (AS), Space Perspective menawarkan alternatif lain bagi Anda yang ingin menjajal wisata antariksa tanpa merogoh kocek sebanyak Rp711 miliar, sebagaimana tarif yang dipatok NASA. Lewat sebuah ‘balon udara’ bernama Spaceship Neptune, wisata antariksa ala Space Perspective hanya dipatok sebesar US$125 ribu atau setara dengan Rp1,7 miliar (kurs USD 1 = Rp14.247). Jauh lebih murah, bukan?

Pertanyaan yang mungkin terbesit ketika pertama kali mendengar wisata antariksa dengan balon udara, mungkin, apakah balon udara tersebut benar-benar bisa mengantarkan penumpang ke luar angkasa?

Dari segi keamanan, pesawat ruang angkasa atau ‘balon udara’ Neptune dikembangkan secara detail dari ujung bawah ke ujung atas dengan tujuan keselamatan, aksesibilitas, mendekati nol emisi, dan operasional rutin di seluruh dunia. Balon udara itu tentu saja juga bertekanan, nyaman, dan luas. Selain itu, perusahaan ini juga telah menyelesaikan riset pasar internasional yang luas dan desain baru yang dibuat berdasarkan ramuan 50 tahun teknologi terkait luar angkasa.

Akan tetapi, untuk benar-benar membawa penumpang sampai ke luar angkasa, Spaceship Neptune belum teruji ketangguhan dan keamanannya. Rencananya, Space Perspective baru akan meluncurkan Neptune dari falisitas peluncuran di Kennedy Space Center (KSC), NASA di Florida. Percobaan penerbangan tanpa awak direncanakan akan dilakukan pada awal 2021 yang akan mencakup serangkaian muatan penelitian. Dari situlah kemudian bisa ketahui, apakah ‘balon udara’ Spaceship Neptune bisa benar-benar mengantarkan penumpang atau tidak.

Neptune diterbangkan oleh seorang pilot dan dapat membawa hingga delapan penumpang dalam perjalanan enam jam ke tepi ruang angkasa. Balon udara Neptune akan mengantarkan mereka mencapai level 99 persen atmosfer bumi yakni hingga 100 ribu kaki atau sekitar 30 kilometer, batas antara stratosfer dengan mesosfer.

Jadi, hanya mencapai tepi luar angkasa, tak benar-benar sampai pada level orbit, yakni mulai di ketinggian 122 km. Itu juga sebabnya, wisata luar angkasa ala NASA bisa jauh lebih mahal karena bisa mengantarkan penumpang mencapai ketinggian 408 km.

Baca juga: Sebuah Perusahaan Teknologi Tengah Kembangkan Hotel di Luar Angkasa!

Neptune akan melakukan penjelajahan selama dua jam yang memungkinkan penumpang untuk berbagi pengalaman melalui media sosial. Neptune kemudian turun kembali ke bumi juga dalam waktu dua jam dan mendarat di lautan. Setelah itu, perusahaan akan mengerahkan sebuah kapal untuk menjemput penumpang dan ‘balon udara’.

“Kami berkomitmen untuk secara mendasar mengubah cara orang memiliki akses ke luar angkasa, baik untuk melakukan penelitian yang dibutuhkan untuk memberi manfaat bagi kehidupan di Bumi dan untuk mempengaruhi cara memandang dan terhubung dengan planet kini,” ujar Pendiri dan Co-CEO Space Perspective, Jane Poynter dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari New Atlas, Rabu (24/6).

Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

Maskapai penerbangan kini mulai kembali menerbangkan armadanya untuk mengangkut penumpang. Namun bagaimana agar penumpang yang satu dan lainnya tidak berdesakan ketika akan masuk ke kabin dan duduk di kursi mereka?

Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bbc.com (15/6/2020), banyak solusi yang sudah dilakukan agar penumpang tidak berhimpitan ketika akan masuk ke kabin menuju kursi mereka. Bila dalam keadaan normal penumpang akan masuk sesuai kelas mereka dari yang paling mahal seperti kelas satu, kemudian bisnis dan terakhir kelas ekonomi yang paling sering berdesakan.

Dengan adanya Covid-19 saat ini, nantinya lalu lintas penumpang masuk ke kabin dan kursi mereka tidak akan lagi seperti itu. Penumpang menggunakan masker dan berdiri diberi jarak. Seorang insinyur di Institut Logistik dan Penerbangan Universitas Dresden Jerman, Michael Schultz mengerjakan sebuah makalah terkait hal ini dengan memperkenalkan langkah-langkah jarak sosial penumpang yang satu dengan lainnya sekitar lima kaki.

Ini akan mengurangi jumlah penumpang yang berdekatan satu hingga dua orang meski masih terlalu banyak. Kemudian mengubah prosedur naik ke pesawat dengan duduk di kursi jendela bagian belakang menjadi penumpang yang pertama kali naik dan ini mengurangi jumlah kontak kritis lebih jauh.

Selain itu juga dengan cara membuka pintu depan dan belakang yang akan memisahkan aliran masuk penumpang menjadi dua. Schultz mengatakan, jika ada yang memiliki risiko infeksi, setidaknya satu setengah bagian depan atau belakang tidak akan pernah melakukan kontak dengan orang itu.

Selain itu ada juga metode Steffen yang ditemukan oleh Jason Steffen seorang ahli astrofisika di Universitas Nevada, Las Vegas. Di mana penumpang yang duduk dekat kursi jendela satu sisi pesawat seperti 30A, 28A, 26A dan seterusnya untuk naik pertama.

Kemudian baris berikutnya di sisi lain 30F, 28F, 26F dan selanjutnya diikuti dengan kursi tengah bernomor ganjil kemudian genap yang akhirnya kursi lorong. Dengan solusi ini, Steffen mengatakan akan menggerakkan penumpang melalui sistem dengan sangat cepat.

“Ketika penumpang berhenti, mereka tidak berhenti di sebelah seseorang dan garis di dalam jetway akan lebih cepat hilang,” kata Steffen.

Meski dalam tes lapangan metode Steffen terbukti hampir dua kali lebih cepat dari boarding biasa, tetapi dengan cara ini masih merupakan tantangan. Seperti maskapai bertarif murah Amerika Serikat yakni Southwest telah berhasil memilah penumpang menjadi beberapa kelompok di gerbang, tetapi tentu membutuhkan kerja sama dari penumpang.

“Anda perlu banyak persiapan untuk proses itu. Karena semua orang harus berbaris dan Anda tidak naik dengan orang yang duduk di sebelahmu, jika sebuah keluarga bepergian bersama, itu agak sulit,” kata Michael Schmidt, seorang insinyur yang bekerja di Bandara Munich. “Ini menantang karena kami tidak benar-benar memiliki data, karena jumlah penumpang sangat terbatas,” katanya.

Dari sudut pandang bandara, ada beberapa solusi yang tidak memerlukan perombakan keseluruhan sistem, tidak efisien seperti apa adanya. Lufthansa saat ini sedang menguji boarding biometrik, di mana pemindai “mencocokkan identitas Anda dengan wajah Anda”.

Sementara saran Schultz memungkinkan penumpang untuk memiliki jumlah tas bawaan yang normal, memberi insentif kepada penumpang untuk pergi tanpa dapat mengakibatkan lebih sedikit check in di pintu gerbang, lebih sedikit pertengkaran mengenai ruang loker kabin atas dan proses yang lebih cepat secara keseluruhan.

Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

Schmidt mengatakan, beberapa bandara Jerman termasuk Munich dan Frankfurt telah mengambil langkah untuk mendorong penumpang untuk berhemat. Sementara itu, pemerintah India dilaporkan mempertimbangkan untuk melarang sama sekali masuknya koper ke dalam kabin.

Walkcar, Skateboard Listrik yang Bisa Dijinjing dan Masuk ke Tas

Skuter listrik atau sepeda listrik saat ini sudah beredar di hampir semua negara dunia dan mungkin Anda juga sudah menggunakannya. Namun bagaimana kalau ada skateboard listrik dan bisa dijinjing serta masuk ke dalam tas?

Baca juga: Kiwano 01, Moda Beroda Tunggal yang Dilengkapi Teknologi Self-Balancing

Ya, sebuah Walkcar listrik yang bentuknya mirip skateboard dengan ukuran sebesar laptop 13 inci ini dibuat oleh Cocoa Motors. Perusahaan tersebut sudah lima tahun membuat Walkcar ini dan mereka akhirnya siap untuk pra penjualan di Jepang.

KabarPenumpang.com melansir dari newatlas.com (12/6/2020), tampilan Walkcar ini sendiri keseluruhannya tidak banyak berubah sejak 2015 lalu dan perubahan yang terjadi adalah untuk pengembangan dan mengubah motor penggeraknya. Sebab Walkcar listrik terbaru ini ada dua mode penggerak yakni sport yang memiliki kecepatan tertinggi 16 km per jam untuk kisaran jarak lima kilometer.

Sedangkan mode normal akan mampu bergerak dalam kecepatan sepuluh kilometer perjam untuk jarak tujuh kilometer dan juga bisa melaju di kemiringan sepuluh derajat. Walkcar ini sendiri terbuat dari serat karbon dan aluminium tingkat pesawat dengan panjang 8,5 inci dan lebar 13,6 inci, bahkan dikatakan memiliki lapisan cat yang bisa kembali normal ketika ada goresan.

Walkcar ini memiliki berat sekitar 2,9 kg dan bisa masuk ke dalam tas untuk dibawa-bawa. Walkcar tersebut dilengkapi dengan dua roda depan terkunci dan digerakkan oleh motor listrik. Dua roda lainnya bisa bergerak berada di bagian belakang yang memungkinkan untuk berputar.

Uniknya lagi skateboard listrik ini memiliki empat sensor yang tertanam di bagian atas platform sehingga pengendara bisa mengontrolnya dengan menggerakkan tubuh. Seperti dengan mencondongkan badan ke depan maka akan mempercepat laju Walkcar dan jika tubuh kembali ke posisi semula maka gerakan akan diperlambat.

Untuk merubah gerakan, Anda bisa menggerakkan badan ke samping. Meski begitu Walkcar juga bisa berhenti otomatis ketika sensor pada platform mendeteksi pengendara turun. Walkcar terlihat lebih mudah dikuasai daripada Solowheel, dan tidak rumit untuk dibawa sebagai kickscooter listrik.

Baca juga: Poimo, Skuter Listrik Tiup dari Jepang

Tak hanya itu, Walkcar terbukti lebih baik dalam mengatasi batu kecil atau ranting daripada rollerskates. Ini untuk pra-penjualan sekarang seharga ¥198 ribu atau sekitar US$1.840. Sayangnya Walkcar sendiri saat ini hanya tersedia di Jepang.

Tak Satupun Terbang, Airbus A380 Keok dari “Queen Of The Skies” Boeing 747

Persaingan Airbus dan Boeing seperti tak pernah berakhir. Airbus mungkin bisa saja patut berbangga di pangsa narrowbody dengan grounded berkepanjangan Boeing 737 MAX dan membuatnya di atas angin. Namun, di pangsa pesawat widebody, kondisinya bisa dibilang berbalik 180 derajat.

Baca juga: 26 Menit Mengudara, Airbus A380 Tanpa Penumpang dan Kargo Milik ANA Balik Kandang

Juru bicara Airbus menyebut, saat ini, tak ada satupun pesawat superjumbo mereka yang terbang, baik sebagai pesawat penumpang maupun kargo. Hal itupun diperkuat dengan informasi di situs IflyA380.com, dimana tak satupun A380 tercatat aktif beroperasi.

Emirates misalnya, maskapai dengan kepemilikan A380 terbesar di dunia –nyaris setengah dari populasi- bahkan sudah empat bulan lamanya terpaksa menggrounded pesawat. Meskipun demikian, maskapai masih memiliki rencana jangka panjang dengan pesawat yang terbang perdana pada 27 April 2005 ini.

Begitu juga dengan Qatar Airways. Maskapai yang diketahui mengoperasikan 10 pesawat komersial terbesar itu juga telah lama menggrounded A380. Tak hanya itu, maskapai yang berbasis di Doha ini malah dikabarkan ingin menyegerakan pesawat tersebut pensiun dan menggantinya dengan Boeing 777 serta Boeing 787 untuk penerbangan long haul.

Belum lama ini, maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA) memang kedapatan menerbangkan Airbus A380. Namun, alih-alih mengoperasikan pesawat sebagai penerbangan penumpang atau kargo, maskapai ANA dilaporkan hanya menerbangkannya untuk tujuan pemeliharaan saja, tidak lebih.

Tak heran, maskapai tersebut hanya menerbangkan pesawat selama kurang lebih 26 menit saja. Proyeksi ke depan juga bisa dibilang suram. Nyaris seluruh maskapai yang mengoperasikan A380 bisa dibilang pesimis mengoperasikannya dalam beberapa bulan mendatang.

Bandingkan dengan Boeing 747 ‘Queen Of The Skies’ yang belakangan –sekalipun di masa pandemi corona seperti sekarang ini- banyak diandalkan, baik sebagai penerbangan penumpang maupun kargo.

Dikutip dari Forbes, sebagai pesawat penumpang, saat ini setidaknya Boeing 747 dioperasikan oleh delapan maskapai, mulai dari Korean Airlines, Air Atlanta Icelandic, Air China, Air India, British Airways, Lufthansa, Rossiya Airlines (St. Petersberg, Rusia), dan Wamos Air (Madrid, Spanyol).

Di luar itu, belakangan, dua maskapai kenamaan dunia, Lufthansa dan Virgin Atlantic juga telah menerbangkan Boeing 747. Lufthansa kedapatan menerbangkan pesawat jumbo ikonik itu pada penerbangan dari Frankfurt-Mexico City, Frankurt-Chicago, dan Frankurt-São Paulo.

Adapun Virgin Atlantic, maskapai milik Sir Richard Branson ini sebelumnya sudah berencana untuk mempensiunkan armada 747nya pada 2021, namun, entah apa yang merasukinya, tiba-tiba memasukkannya kembali ke dalam layanan mulai 5 Mei lalu.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Sebagai penerbangan kargo, Boeing 747 memang sudah hampir setengah abad mengudara itu menjadi andalan angkutan kargo bagi berbagai raksasa jasa kargo udara dunia. Seperti AirBridge Cargo, UPS, Atlas Air, Silk Way Airlines, Cargolux, Nippon Cargo Airlines, dan berbagai perusahaan lainnya.

Dengan berbagai fakta di atas, dimana tak ada satupun Airbus A380 yang beroperasi dan sebaliknya, Boeing 747 ‘Queen Of The Skies’ justru diandalkan banyak pihak, baik sebagai penerbangan penumpang maupun penerbangan kargo, maka, tak berlebihan bila untuk liburan musim panas ini, Airbus A380 keok dari Boeing 747.

Adidas Hadirkan Masker dari Bahan Daur Ulang

Setiap orang saat ini harus menggunakan masker kemana pun mereka pergi untuk meminimalisir penularan Covid-19. Baik hanya untuk keluar sebentar ataupun bepergian menggunakan transportasi umum. Karena hal ini kemudian berbagai masker pun banyak beredar dengan gambar dan motif yang beragam untuk berbahan kain.

Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker

Salah satu yang juga akhirnya ikut mengeluarkan masker berbahan kain yang nyaman adalah merek ternama Adidas. Perusahaan pakaian olahraga ini telah merilis Face Cover atau masker wajah yang bisa digunakan berulang. Uniknya bahan pembuatannya adalah dari bahan daur ulang.

KabarPenumpang.com melansir laman dezeen.com (25/5/2020), Adidas mengatakan, saat ini penguncian mulai diangkat dan orang-orang perlahan mulai kembali ke aktivitas baik untuk bekerja atau terhubung dengan orang lainnya.

“Kami ingin membantu ketika mereka berhubungan kembali dengan dunia luar. Meski tidak dinilai secara medis, masker kami dirancang untuk mencegah penyebaran virus dan kuman yang dapat menular sehingga membantu melindungi orang-orang disekitar Anda,” kata Adidas.

Adidas menyebutkan, saat ini masker buatan mereka sudah ada di Eropa, Amerika Utara dan Cina. Tak hanya itu, hasil penjualannya pun sebagian akan disumbangkan ke Save The Children’s Global Coronavirus Respons Fund.

“Bulan lalu kami mulai merealokasi sumber daya desain dan rantai pasokan untuk membuat Face Cover yang dapat digunakan kembali. Kami menambahkannya ke jangkauan kami mulai minggu ini dan di Inggris, £2 dari setiap paket yang dibeli disumbangkan untuk Save The Children’s Global Coronavirus Dana Respons,” kata Adidas.

Setiap Penutup Wajah terbuat dari bahan Primegreen Adidas, yang digambarkan sebagai kain daur ulang berperforma tinggi yang bebas dari plastik perawan. Dengan desain sederhana memiliki loop derek untuk menghubungkan telinga pemakai. Mereka dirancang untuk digunakan kembali dan memiliki tulisan “Cuci. Kering. Gunakan kembali” dicetak pada masker wajah ini.

Masker wajah merupakan bagian dari respons Adidas terhadap Covid-19, yang diberi merek #hometeam. Inisiatif yang termasuk dalam respons adalah membuat pelindung wajah untuk petugas kesehatan Amerika Serikat dan tantangan #hometeamheroes-nya, yang menyumbangkan $1 untuk setiap mil yang dihitung menggunakan pelatihan Adidas dan menjalankan aplikasi.

Baca juga: Ketimbang Lepas Masker, Pramugari Garuda Kenapa Tak Pakai Masker Transparan Saja?

Mengenakan masker wajah dianggap sebagai cara penting bagi orang untuk membatasi penyebaran virus corona. Di Inggris, selebritas termasuk Stephen Fry dan Elizabeth Hurley menjadi model masker wajah yang dirancang oleh Ron Arad yang sedang dijual untuk mengumpulkan uang untuk Layanan Kesehatan Nasional Inggris, sementara Standard Issue telah menciptakan desain open-source untuk masker wajah yang bisa berupa CNC.

Patch Sanitasi Tak Hanya Lindung Ponsel dari Virus Tapi Juga Penggunanya

Melindungi diri dari virus yang saat ini tengah menjadi pandemi rasanya sah-sah saja dengan membawa perlengkapan kebersihan diri pribadi dan tetap menggunakan masker plus face shield. Bahkan beberapa orang ada juga yang menggunakan kalung yang mampu mencegah virus dan sudah banyak dijual.

Baca juga: Cegah Covid-19, Bandara Internasional Saipan Larang Pengantar Penumpang Masuk ke Terminal

Karena pandemi Covid-19 ini juga membuat beberapa perusahaan meluncurkan serangkaian produk sanitasi yang bisa melindungi dari virus. Seperti Aeroexecutives.com yang menghadirkan pembersih tangan mewah, masker wajah bermerek dan beberapa barang baru yang inovatif untuk perlindungan diri.

Selain itu juga mereka menghadirkan sebuah patch sanitasi yang menciptakan zona aman untuk penumpang dan kru mereka yang memakainya. Patch sanitasi ini dapat di letakkan di ponsel pintar, di kalungkan dengan tali di leher dan di jepit pada tas atau pakaian.

Karena ponsel dikenal sebagai tempat paling banyak kuman, bakteri dan virus hinggap, maka patch sanitasi tersebut memastikan ponsel Anda bersih dan bebas kuman. KabarPenumpang.com melansir dari laman airlineratings.com (18/6/2020), selain itu, penggunanya baik penumpang atau kru pesawat juga dapat terlindungi.

Aeroexecutive.com mengatakan, patch ini terkontrol Caolion EcoBio yang dikatakan benar-benar aman dan disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), FDA, EPA, UE, NASA, dan Kementerian Lingkungan Hidup Korea. Ketikapatch diaktifkan untuk menghilangkan virus, jamur dan bakteri maka akan efektif atau bekerja hingga 28 hari bahkan lebih lama.

Sedangkan bila tidak diaktifkan, akan memiliki masa simpan hingga 12 bulan lamanya. Patch dapat menawarkan perlindungan bagi pemakainya dalam radius hingga satu meter. Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan, bahwa pembersihan tangan adalah salah satu bentuk perlindungan paling efektif terhadap Covid-19.

“Hampir tidak mungkin untuk menjaga jarak sosial dengan batas-batas bandara dan kabin pesawat terbang, terutama selama naik dan turun. Patch sanitasi menawarkan tingkat perlindungan yang meningkat dan meningkatkan keselamatan penumpang dalam format yang mudah dan nyaman. Rangkaian pembersih tangan dan masker mewah ini dapat membantu meningkatkan tingkat perlindungan ke standar tertinggi,” kata Peter Bradfield dari Aeroexecutives.com.

Baca juga: Ditjen Penerbangan Sipil Minta Maskapai Kosongkan Kursi Tengah Kabin

Aeroexecutives.com telah diciptakan untuk menawarkan portofolio produk untuk melindungi orang dari virus dan bakteri berbahaya. Dari pembersih tangan, masker, desinfektan, dan tambalan sanitasi produk ini bisa menjadi senjata yang efektif dalam memerangi virus dan mengurangi penyebaran kuman.