Arrival Hadirkan Konsep Bus Listrik Publik dengan Beragam Fitur Khas Pandemi Covid-19

Bus listrik yang digunakan untuk angkutan umum dapat membantu menggerakkan massa kota yang terdistribusi secara padat tanpa asap knalpot yang memicu polusi udara. Namun saat pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, semua angkutan umum massal seperti musuh untuk manusia saat ini.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Namun Arrival yang merupakan kendaraan listrik telah menghadirkan bus nol emisi yang bertujuan menjadikan transportasi umum layak di masa pandemi ini. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (17/6/2020), bus ini memiliki sejumlah fitur yang memastikan perjalanan penumpang yang aman termasuk bel tanpa sentuhan dan kursi yang dapat dilepas untuk memfasilitasi jarak sosial.

Dengan tempat duduk katliver dan permukaan interior yang halus tanpa lapisan antara dinding dan lantai membuat kendaraan mudah di bersihkan. Juru bicara Arrival Victoria Tomlinson mengatakan, kursi yang dapat dikonfigurasi berarti bahwa operator dapat mengubah konfigurasi di depo untuk menambah atau mengurangi jumlah memenuhi permintaan atau arahan pemerintah pada tingkat kapasitas.

Dia mengatakan, seperti selama masa pandemi saat ini. Arrival Bus menghasilkan atap panorama dan jendela besar untuk meningkatkan cahaya alami. Adapula layar informasi di bagian dalam dan luar bus untuk memberikan informasi tentang seberapa sibuk rute dan kursi yang tersedia.

Penumpang dapat mengakses informasi ini dari jarak jauh dan meminta bus untuk berhenti melalui smartphone mereka sebelum mereka meninggalkan rumah. Kendaraan listrik, yang siap untuk diproduksi, mengikuti van listrik merek yang berbasis di London, yang diresmikan awal tahun ini dan merupakan salah satu dari sejumlah kendaraan yang ingin diluncurkan oleh startup dalam beberapa bulan mendatang.

Kendaraan penumpang yang baru menggunakan platform “skateboard” yang sama dengan van, yang memiliki sasis aluminium linier yang memiliki komponen modular termasuk baterai, motor dan drivetrain. Semua bagian mekanis yang terdapat dalam sasis, kendaraan ini memiliki ruang yang lebih bermanfaat daripada bus tradisional.

Adanya konstruksi modular memungkinkan sasis diperpanjang dengan peningkatan 1,5 meter, dengan model terkecil berukuran 10,5 meter dan terpanjang berukuran 15 meter dan memiliki kapasitas maksimum 125 penumpang. Alih-alih mengandalkan rantai pasokan kendaraan tradisional yang terdiri dari puluhan subkontraktor yang berlokasi di berbagai belahan dunia, Arrival mengembangkan serangkaian “pabrik mikro” lokal di mana komponen-komponen dirakit untuk membuat kendaraan yang dekat dengan tempat mereka akan dibutuhkan.

Chassis dan bodywork terbuat dari komponen ringan yang tidak memerlukan perkakas mahal, yang mengarah pada penghematan yang diklaim Arrival memungkinkannya untuk menjual kendaraan dengan harga yang sama dengan model yang menggunakan mesin pembakaran internal. Seperti kendaraan lain dalam keluarga Arrival, bus-bus itu dimaksudkan untuk dibangun di pabrik mikro setempat di mana mereka akan dikerahkan.

Arrival berencana untuk membangun seribu pabrik mikro ini di seluruh dunia pada tahun 2026 dan mengatakan telah mengembangkan teknologi manufaktur yang unik untuk mendukung mereka. Pabrik-pabrik akan menyuntikkan pekerjaan, rantai pasokan dan pendapatan pajak ke dalam ekonomi lokal, daripada hanya membawa kendaraan yang dibangun di tempat lain.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Arrival mengatakan bus akan dikenakan biaya yang sama kepada pelanggan sebagai bahan bakar fosil yang setara, menghemat uang dalam jangka panjang berdasarkan pada penurunan biaya operasi. Semua itu mungkin terdengar seperti kue kecil di langit untuk saat ini, tetapi Arrival telah bekerja dengan beberapa perusahaan yang sangat terkenal. Pada bulan Januari, perusahaan itu menerima investasi €100 juta dari Hyundai dan Kia sambil juga menandatangani kesepakatan untuk mengirimkan 10 ribu van listrik ke UPS.

Mengenal Wright Flyer, Pesawat Lebih Berat dari Udara Pertama yang Bisa Terbang

Dunia dirgantara memang sangat mengenal Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright bersaudara karena berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil, dekat Kitty Hawk, North Carolina. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Baca juga: Hari Ini! 111 Tahun Lalu Penerbangan Perdana Pesawat Penumpang Rakitan Wright Bersaudara

Akan tetapi, seringkali sebagian kalangan melupakan hal penting lainnya yang juga menjadi bagian kesuksesan Wright bersaudara; Wright Flyer atau biasa juga disebut Flyer 1, sebuah pesawat berbobot lebih berat dibanding udara pertama di dunia yang bisa terbang.

Dilansir Simple Flying, pertemuan Wright bersaudara dengan mesin terbang pertama kali pada tahun 1878. Ketika itu, ia bersama ayahnya Milton Wright dan ibunya Susan Catherine Koerner tengah tinggal di Cedar Rapids, Lowa, Amerika Serikat (AS).

Suatu hari, sang ayah pulang dengan membawa sebuah helikopter besutan perintis penerbangan asal Perancis, Alphonse Pénaud. Helikopter tersebut dibuat dari bambu, kertas, gabus, dan karet gelang untuk memberi daya pada rotor. Wright bersaudara kemudian memainkan helikopter itu sampai akhirnya rusak dan coba membuat helikopter serupa versi Wright bersaudara.

Senang helikopter buatannya digemari orang lain (Wright bersaudara) Alphonse Pénaud pun tak segan melanjutkan mimpinya membuat pesawat yang cukup besar bagi seorang pria untuk terbang di udara. Sayangnya, akibat tak mendapat banyak dukungan, ia pun memilih untuk mengakhiri hidup.

Sebelum mulai membuat pesawat, Wright bersaudara banyak belajar pada makalah-makalah ilmuan ternama Italia, Leonardo da Vinci. Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari Leonardo da Vinci, Wright bersaudara pun memutuskan mulai melakukan penerbangan glider, di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina.

Orville Wright tengah melakukan penerbangan glider di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina. Foto: Library of Congress via Wikimedia

Pantai dipilih karena dinilai memiliki angin yang cukup untuk membantu gaya lift pada pesawat buatannya. Maklum, pada tahun 1902, Wright bersaudara belum mendapat sokongan mesin dari pabrikan besar di dunia untuk menerbangankan pesawat. Jadi, masih mengandalkan angin untuk terbang. Terbukti, angin di pantai Kitty Hawk mampu membawa Wright bersaudara melakukan penerbangan glider sebayak 700 kali.

Tak juga kunjung mendapat dukungan mesin dari pabrikan otomotif dunia, Wright bersaudara pun memberanikan diri untuk membuat mesin sendiri. Dengan dibantu Charlie Taylor, keduanya mampu membuat mesin berpendingin air empat silinder segaris yang mampu menghasilkan 12 tenaga kuda. Menariknya, dudukan mesin tersebut terbuat dari alumunium untuk mengurangi beban yang membuatnya sebagai yang pertama kali dalam sejarah.

Mesin sudah, Wright bersaudara pun mulai menyempurnakan pesawat yang kemudian diberi nama Wright Flyer. Pesawat tersebut dibuat dengan menggunakan konstruksi desain sayap canard biplane. Canard adalah istilah aeronautika -berasal dari bahasa Perancis- yang menggambarkan sayap depan kecil yang ditempatkan di depan sayap utama pada pesawat sayap tetap. Nama canard berasal dari pesawat Santos-Dumont 14-bis yang konon mirip bebek terbang.

Dua stabilisator kecil di bagian depan pesawat mengendalikan pitch di Wright Flyer. Pengaturan ini digunakan daripada di ekor seperti yang digunakan oleh pesawat saat ini. Kemudi berada di bagian belakang pesawat seperti halnya di pesawat modern.

Guna menciptakan daya dorong, Wright bersaudara membuat dua baling-baling kayu. Baling-baling dihubungkan dengan mesin menggunakan sproket dan sistem rantai yang mirip dengan sepeda. Setelah memasang mesin bensin gravitasi ke kanan cradle pilot, mereka harus memperluas sayap dengan empat inci, membuatnya menjadi 40 kaki, panjang 4 inci. Bingkai Wright Flyers terbuat dari ash dan spruce, dua jenis kayu yang ringan namun tahan lama. Penutup aerodinamis untuk sayap adalah kain muslin murni yang tidak dirawat.

Baca juga: Haerul Montir Pembuat Pesawat dari Pinrang, Kisahnya Bikin Geleng-geleng Kepala

Persyaratan penerbangan pertama pada 17 Desember 1903 hampir sempurna dengan hembusan angin hingga 27 mil per jam. Sekitar pukul 10.30 pagi itu, Orville Wright berbaring di sayap pesawat dan menghidupkan mesinnya. Menggunakan sistem rel yang membentang sejauh 60 kaki, pesawat lepas landas dan terbang selama 12 detik di ketinggian delapan kaki dengan kecepatan 6,8 mph. Uji coba penerbangan kedua malah lebih jauh, mencapai jarak 200 kaki. Tanpa roda pendaratan, Wright Flyer dirancang untuk mendarat di pasir lembut Outer Banks.

Sayangnya, Wright Flyer yang berbobot sekitar 274 kg harus rusak karena hembusan angin kencang yang membuatnya terpontang-panting. Pesawat rusak dan harus direparasi terlebih dahulu hingga pada akhirnya saat ini pesawat diabadikan di Museum Smithsonian di Washington DC, AS.

Dengan Dalih Risiko Tertular Covid-19! Qatar Airways Hapuskan Hak Layover Pramugari di Penerbangan Jarak Jauh

Sebagian kecil pramugari Qatar Airways dilaporkan mulai menjalani penerbangan jarak jauh tanpa layover atau singgah di suatu negara beberapa waktu (untuk memulihkan stamina). Selain tanpa istirahat, pramugari Qatar Airways belakangan juga dipaksa untuk menjalani penerbangan jarak jauh tanpa pergantian kru kabin. Singkatnya, mereka bekerja untuk penerbangan pergi pulang (pp). .

Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang

Normalnya, pada penerbangan jarak jauh, maskapai memang diwajibkan menjalani aturan ‘Flight Time Limitations’ (FTL) atau memberi pramugari waktu untuk rehat sejenak di negara tujuan. Adapun penerbangan dari negara tujuan kembali ke negara asal, awak kabin lainnya yang akan menghandle.

Begitu maskapai melakukan penerbangan kembali ke negara yang dimaksud, dimana pramugari telah rehat selama beberapa hari, pramugari yang baru tiba akan menjalani layover dan penerbangan balik akan di-handle oleh pramugari lain. Jadi, selalu ada pergantian di setiap penerbangan jarak jauh; termasuk di dalamnya awak kokpit.

Akan tetapi, di era New Normal akibat wabah Covid-19 ini, Qatar Airways telah diizinkan untuk tak menaati peraturan FTL oleh otoritas penerbangan sipil Qatar. Dalihnya adalah, maskapai mengaku tak nyaman meninggalkan pramugari di negara tujuan, khawatir mereka terpapar virus corona.

Dikutip dari paddleyourownkanoo.com, menurut sebuah sumber, pramugari Qatar Airways mulai menjalani penerbangan tanpa layover dan tanpa pergantian kru alias melakukan penerbangan PP non-stop pada penerbangan 18 jam dari Doha-Manila-Doha.

Beruntung, otoritas Qatar masih mengizinkan pramugari untuk mendapatkan haknya berupa periode ‘horisontal’ dimana mereka diperbolehkan istirahat di pesawat lengkap dengan kasur dan selimut –biasanya hanya ada di pesawat widebody seperti Boeing 777, A350, A380, B747- sekitar lima jam. Dengan begitu, pramugari diharapkan tetap bisa mencapai kondisi prima sekalipun hanya istirahat selama lima jam di dalam pesawat. Bila ditotal, dalam kasus tersebut, pramugari bekerja selama 23 jam.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Kebijakan FTL yang diberlakukan oleh negara-negara teluk seperti Qatar bisa dibilang cenderung berbeda dengan negara-negara Eropa. Pada umumnya, mereka (negara-negara Eropa) lebih memilih menerbangkan ‘paket’ lengkap berupa pilot dan awak kabin untuk bertugas pada penerbangan kembali ke negara asal ketimbang menjalani kebijakan FTL ala Qatar.

Terlepas dari penyesuaian kebijakan FTL yang dinilai kontroversial, Qatar, dibandingkan maskapai lain di dunia, memang dikenal menerapkan kebijakan ketat untuk menangkal paparan corona di pesawat. Sejak akhir Mei lalu, Qatar Airways diketahui mulai mengikuti jejak maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Malaysia, AirAsia, yang mana semua awak kabinnya menggunakan hazmat untuk melindungi awak kabin dan penumpang. Selain hazmat, awak kabin juga dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) lainnya seperti kacamata, sarung tangan, dan masker.

26 Menit Mengudara, Airbus A380 Tanpa Penumpang dan Kargo Milik ANA Balik Kandang

Setelah anjlok akibat wabah Covid-19 sejak Februari lalu, industri penerbangan global mulai bergairah. Pantauan KabarPenumpang.com dari Flight Radar AirNav, lalu lintas udara di dunia –kecuali Afrika dan Amerika Latin- memang sudah tampak ramai, meskipun sekilas masih didominasi penerbangan kargo tanpa penumpang.

Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Di artikel sebelumnya, redaksi juga telah membahas mengenai strategi maskapai dalam memanfaatkan momentum memuat kargo di kabin penumpang dalam penerbangan khusus kargo, khususnya bagi maskapai pemilik pesawat komersial terbesar di sejagat.

Logika yang dibangun adalah, dengan dimensi besarnya, bila pesawat dimaksimalkan dalam penerbangan khusus kargo besar kemungkinan akan sangat menguntungkan. Namun, nyatanya tidak demikian.

Memuat kargo di kabin penumpang yang kosong melompong ditinggal pelanggan bukanlah opsi terbaik untuk memaksimalkan A380 sebagai armada khusus kargo. Dengan begitu, otomatis tak ada pilihan lain bagi maskapai terhadap koleksi A380nya kecuali terus digrounded.

Akan tetapi, bagi pecinta A380, belakangan memang telah beredar kabar bahwa pesawat komersial terbesar milik maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA) sempat kembali mengudara. Situs FlightRadar24.com membuktikannya.

Simple Flying melaporkan, pesawat dengan nomor registrasi JA382A itu tertangkap radar sempat kembali mengudara dengan membentuk persegi panjang tak sempurna dari rute yang dilalui. Pesawat diketahui lepas landas dari Bandara Internasional Tokyo Narita pukul 13:40 waktu setempat tanpa penumpang serta kargo dan mendarat 26 menit kemudian.

Sayangnya, pesawat yang terakhir kali terbang 89 hari yang lalu itu terbang bukan untuk menjalani misi komersial dari maskapai, melainkan menjalani misi pemeliharaan. Meskipun tidak terbang, pesawat memang tetap harus melakukan penerbangan tanpa penumpang dan kargo untuk menjaga performa beberapa komponen pesawat, seperti landing gear, mesin, panel kokpit, dan lain sebagainya.

Sebetulnya, tanpa harus terbang sekalipun maskapai bisa menguji beberapa komponen pesawat semacam landing gear dan mesin tanpa harus terbang, seperti yang dilakukan oleh Qantas terhadap beberapa armadanya. Namun, fasilitas yang belum mumpuni membuat ANA terpaksa menerbangkan A380nya untuk pemeliharaan.

Baca juga: Mei 2019, ANA Hadirkan Airbus A380 dengan Motif Unik Kura-Kura

Sejauh ini, ANA diketahui memiliki tiga pesawat A380. Seharusnya, armada A380 keempat sudah mulai bergabung tahun ini. Namun, wabah virus corona membuatnya tertunda setidaknya hingga beberapa tahun ke depan. Jangankan menambah armada pesawat terbesar itu, pesawat (A380) yang ada saja sudah sejak 25 Maret lalu digrounded tanpa kejelasan waktu kapan akan kembali melayani penerbangan komersial.

Di antara maskapai yang mengoperasikan A380, seperti Emirates, Qatar, British Airways, dan Lufthansa, ANA merupakan satu-satunya maskapai komersial berjadwal yang ‘memoles’ pesawat dengan livery yang indah berupa kura-kura berwarna hijau, oranye, dan biru. Sebetulnya Hi Fly juga melakukan hal serupa. Perusahaan penerbangan asal Portugal itu menyuguhkan livery A380 berupa terumbu karang, lengkap dengan ornamen lainnya. Namun, mereka adalah maskapai penerbangan carter, bukan maskapai penerbangan berjadwal seperti ANA.

Agar Bermanfaat dan Tak Membahayakan, Begini Syarat Jadi Pilot Drone

Teknologi merubah segalanya. Tak terkecuali dengan Kendaraan Udara Tak Berawak (UAV) atau Remotely Piloted Aerial Systems (RPAs) atau biasa juga disebut drone. Bila semua videografer dan fotografer hanya membuat video dan foto via kamera DSLR, Go Pro, mirrorless, kini mereka juga dituntut untuk dapat melakukannya dengan drone sebagai keahlian tambahan.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

Selain itu, dari sisi bisnis, drone juga mulai digunakan di berbagai sektor, mulai dari memetakan jalan, mengantar paket dan manusia, membuat seni UAV atau hiasan di langit, mencari orang hilang di lokasi terpencil atau lokasi bencana, dan segudang kegunaan lainnya.

Namun, sebelum sampai pada level itu, seseorang terlebih dahulu harus mengetahui syarat dan cara menerbangkan drone agar lebih aman dan bermanfaat. Menerbangkan drone mungkin jadi suatu hal mudah tetapi menerbangkannya dengan aman tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Dilansir dari digit.in, untuk menjadi pilot drone, setidaknya butuh keterampilan, kualifikasi, dan pendidikan (dasar) demi tercapainya tujuan keamanan. Syarat menjadi pilot drone sendiri berbeda-beda di setiap negara.

Di Indonesia, menurut Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan setidaknya ada lima syarat menjadi pilot drone, mulai dari berusia minimal 17 tahun, WNI, mampu membaca, menulis, berbicara serta memahami Bahasa Inggris, sehat jasmani dan rohani, serta menguasai teori menerbangkan drone pilot. Setidaknya, lima itulah syarat awal untuk mengikuti sertifikasi kementerian perhubungan.

Di luar itu, syarat tak resmi menjadi pilot drone ada beberapa tambahan lainnya, seperti mampu mengoperasikan drone dengan baik sesuai SOP, menguasai cara menggunakan aplikasi software untuk pengoperasian drone, memiliki minimal tujuh jam terbang menerbangkan drone, memiliki Sertifikat Drone, serta mengetahui peraturan pemerintah dalam menerbangkan drone.

Di beberapa negara, bahkan, standarisasi untuk menjadi pilot drone cukup ketat, seperti harus mampu menilai kondisi cuaca, kecepatan angin, dan hal-hal berbau mekanik lainnya. Tak hanya itu, pengetahuan tentang aerodinamika, kecakapan berkomunikasi dengan standar basic radio telephony serta manajemen perencanaan penerbangan bahkan juga harus dipahami sebagai syarat tak resmi menjadi pilot drone.

Terkait syarat tak resmi menjadi pilot drone, khususnya pada poin mengetahui peraturan pemerintah dalam menerbangkan drone, Kementerian Perhubungan memang telah mengaturnya. Izin menerbangkan drone sudah tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak.

Dalam UU No 1 Tahun 2009 terdapat larangan dan sanksi pidana yang melarang orang melakukan aktivitas lain yang mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan. Salah satu aktivitasnya adalah menerbangkan drone yang bisa terkena sanksi pidana penjara maksimal tiga tahun dan atau denda maksimal satu miliar.

Baca juga: Tiga Manfaat Drone di Bandara, Nomor Dua Taruhannya Nyawa

Di beberapa negara, bahkan, pasca mendapatkan sertifikat menjadi pilot drone, hal itu tak lantas membuat seseorang dapat menerbangkan drone. Drone terlebih dahulu harus didaftarkan menurut klasifikasi yang telah ditentukan, seperti drone nano (hingga 250 gram), drone mikro (250 gram – 2 kg), drone kecil (2 kg – 25 kg), drone menengah (25 kg – 150 kg) dan terakhir, drone besar (lebih dari 150 kg). Jadi, tak serta-merta membeli drone, ikut sertifikasi, dan menerbangkannya.

Agar mempermudah pemilik drone mengetahui tempat yang aman, pemerintah sudah membuat aplikasi OK Drone sebuah aplikasi pemetaan ruang udara untuk drone atau pesawat udara tanpa awak. Lewat aplikasi ini nantinya kita bisa tahu apakah lokasi boleh atau tidak sesuai peraturan pemerintah. Jadi bisa lebih aman dan tenang saat menerbangkan drone. Semoga aja aplikasinya bisa segera diunduh dan dipakai masyarakat umum.

Cegah Covid-19, Bandara Internasional Saipan Larang Pengantar Penumpang Masuk ke Terminal

Sampai saat ini para pengantar penumpang yang akan berangkat dari beberapa bandara masih diperbolehkan masuk ke dalam terminal. Namun para pengantar akan dilarang masuk ke terminal Bandara Internasional Saipan atau Bandara Internasional Francisco C. Ada/Saipan di Kepulauan Mariana, Amerika Serikat.

Baca juga: Di India, Para Pengantar Penumpang Masih Diperbolehkan Masuk ke Peron Lho!

Bandara Internasional Saipan memberlakukan ini sebagai salah satu dari aturan “normal baru” yang merupakan bagian dari rencana aksi Commonwealth Ports Authorithy (CPA) bersama-sama untuk mempersiapkan tanggal 15 Juli 2020, target tanggal pembukaan kembali Commonwealth of the Northern Mariana Islands (CNMI) kepada pelancong. Peraturan ini diberlakukan sejak Kamis (18/6/2020) kemarin yang membuat pengantar dan penumpang harus berpisah di tempat parkir.

Dilansir KabarPenumpang.com dari saipantribune.com (22/6/2020), direktur eksekutif CPA Christopher S Tenorio mengatakan, bagi para pengantar penumpang di bandara hanya akan diizinkan untuk memasuki terminal jika mengawal anak di bawah umur tanpa pendamping atau penumpang berkebutuhan khusus. Selain itu Tenorio juga menambahkan, mereka akan menunjuk lokasi bagi operator taksi untuk menjemput penumpang sehingga taksi maupun para pengantar-penjemput tidak menunggu di titik keluar pintu kedatangan.

“Tujuan kami adalah untuk menyelesaikan rencana aksi pada 15 Juli dan melakukan pengujian pada Kamis pagi dan Sabtu lalu. CPA bertujuan untuk meminimalkan potensi dampak kesehatan yang merugikan dari Covid-19 dengan memperlambat penyebaran penyakit di CNMI dan di pelabuhannya,” kata dia.

Tenorio mengatakan CPA juga berusaha untuk meminimalkan dampak Covid-19 pada ekonomi CNMI dengan mempertahankan kepercayaan di antara mitra bandara dan masyarakat yang bepergian. Dia mengatakan tujuan ini CPA didedikasikan untuk menghadirkan bandara yang aman, bersih dan nyaman bagi para penumpang, karyawan maupun para penyewa dengan menerapkan praktik terbaik untuk keselamatan dan pemulihan ekonomi.

Tenorio menambahkan beberapa langkah yang sebenarnya mereka lakukan sekarang di terminal juga akan berlaku untuk bandara di Tinian dan Rota. Sedangkan untuk pembersihan dan sanitasi, CPA akan terus meningkatkannya agar bisa mengurangi penyebaran Covid-19.

Dia menyebutkan ini termasuk sanitasi di semua permukaan dan peningkatan kebersihan juga di lakukan di toilet serta area umum lainnya. Tenorio mengatakan pemeliharaan atau penjaga CPA mereka yang melakukan pembersihan sekarang, tetapi juga berpotensi mempekerjakan pembersih profesional untuk datang setidaknya sebulan sekali untuk mendisinfeksi seluruh terminal.

Selain itu CPA juga melakukan pembatasan jarak sosial dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan di seluruh bandara dengan memasang hambatan perlindungan kaca plexiglass di administrasi dan akuntansi CPA. Dia mengatakan tanda akan ditempatkan setiap enam kaki atau sekitar 1,8 meter di daerah antrian penumpang dan pembagi plexiglass akan dipasang di pemeriksaan TSA.

Tenorio mengatakan karyawan bandara, penyewa bandara, vendor dan pengunjung diharuskan mengenakan masker di area publik dan non-publik. Dia menyebutkan, di klaim bagasi juga akan ditempatkan tanda setiap enam kaki bagi pengunjung untuk jarak sosial.

Baca juga: Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19

Untuk penumpang yang tiba, kata Tenorio, tanda atau marka akan ditempatkan untuk menginformasikan penumpang yang datang untuk menjaga jarak sosial. Dia mengatakan penyaringan termal atau pembacaan suhu penumpang yang tiba akan dilakukan pada saat kedatangan.

Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

Belum lama ini konsep kabin VIP Airbus A220-300 telah dilaunching oleh Camber Aviation Management dan Kestrel Aviation Management. Hal itu dilakukan dalam upaya untuk menawarkan pesawat regional sebagai alternatif favorit dari pesawat dengan kabin besar monoton (tradisional), jet bisnis jarak jauh, atau bahkan kabin VIP pesawat narrowbody kenamaan sekalipun.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Dengan menggandeng perusahaan desain asal Perancis, Pierrejean Vision dan perusahaan rekayasa engineering, F/List dan Flying Colours, dua perusahaan layanan penerbangan bisnis di Amerika Utara itu berhasil menciptakan perubahan besar (interior) pada pesawat yang sebelumnya dikenal sebagai Bombardier Cseries tersebut.

“Sangat berbeda dari apa yang saat ini terlihat di pesawat-pesawat dengan kabin besar lainnya. Pesawat kami ini memiliki kabin yang inovatif, nyaman, dan dirancang dengan mendetail, baik dari segi sistem, fitur, hingga penggunaan komponen canggih,” kata juru bicara perusahaan, sebagaimana dilansir Flight Global.

“Kabin dirancang untuk memungkinkan setiap pengguna memilih konfigurasi yang berbeda di beberapa zona fleksibel. Lounge, misalnya, dapat diubah menjadi ruang makan dengan desain meja convertible yang unik, kabin depan yang nyaman untuk bersantai, ruang hiburan dengan layar 75in dan Dolby sound, ruang kerja pribadi yang luas, serta kamar tidur anak-anak,” tambahnya.

Secara spesifik, kabin yang didesain nyaris 2 tahun tersebut terdiri dari kabin modular tujuh zona, dengan rincian tiga zona, yakni area depan, tengah, dan belakang serta empat variabel. Maksudnya, dari tiga zona itu, nantinya bisa dikembangkan menjadi empat variabel berbeda, seperti dapur, kamar kecil dan lemari, serta kamar utama dengan kamar mandi dan shower uap.

Desain modular atau modularitas dalam desain sendiri adalah teori dan praktik desain yang membagi sistem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut modul, yang dapat dibuat, dimodifikasi, diganti atau ditukar secara independen di antara sistem yang berbeda.

Konsep modular ini sengaja dikembangkan untuk menyederhanakan desain kabin, mempercepat proses pengerjaan, dan menekan biaya produksi serta “biaya tidak terduga” di sejumlah pesawat. “Bersama-sama, tujuan desain ini secara signifikan mengurangi biaya produksi dan penting untuk mencapai titik harga yang tepat di pasar sambil menyediakan keinginan pelanggan atas pesawat dengan lebih cepat dan berkualitas tinggi,” ujar juru bicara perusahaan.

Selain lebih elegan dengan sentuhan desain modular, konsep interior A220 ini juga dilengkapi berbagai fitur normatif yang biasa ditemukan di kabin VIP serta permainan cahaya yang berbeda-beda di setiap zona. Tak hanya itu, penumpang juga dapat menggunakan tablet untuk mengontrol tingkat pencahayaan, hiburan dan nuansa jendela, serta untuk memanggil pramugari.

Baca juga: Boeing Setujui ‘Banding’ yang Diajukan Embraer Terkait Akuisisi

Fitur-fitur lainnya yang juga ditawarkan perusahaan pada A220 ini adalah global data dan suara Ku band atau Ka band berbasis satelit, hiburan baik berupa audio maupun video sesuai permintaan, streaming nirkabel ke monitor dan perangkat pribadi, bioskop on-board opsional, dapur mini lengkap dengan oven, pembuat espresso dan anggur chiller, serta kamar tidur utama dengan tempat tidur queen-size, kamar kecil dengan toilet, dan steam shower.

Dari segi efisiensi, biaya operasional ACJ220 juga diklaim lebih murah dibanding pesawat lainnya seperti ACJ319neos dan Boeing BBJ Max 7s, sekalipun dari segi kapasitas dan dimensi keduanya nyaris sama. Meski demikian, Airbus belum secara resmi meluncurkan salah satu andalan terbarunya itu. Sebab, hingga kini, proses akuisisi Bombardier oleh Airbus –untuk menandingi Boeing yang tadinya juga berencana mengakuisisi Embraer sekalipun pada akhirnya batal terlaksana- masih terus berjalan.

Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat

Berbagai inovasi dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona di pesawat. Umumnya masih dengan cara konservatif –sekalipun tetap inovatif- seperti membuat sekat partisi di kursi dengan beragam bentuk hingga memutar kursi dengan menghadap ke belakang.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Namun, lain halnya dengan Teague. Perusahaan teknologi yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat (AS) ini membuat inovasi yang bisa dibilang out the box; atau mungkin without box, setelah menciptakan Invisible AirShield atau sekat udara tak kasat mata.

Sebagaimana namanya, Invisible AirShield berfungsi untuk melindungi penumpang yang satu dari penumpang lainnya melalui sekat udara –layaknya sekat partisi pada produk dari perusahaan lainnya- serta meningkatkan aliran udara dan membantu menekan penyebaran kuman di dalam kabin.

Cara kerja AirShield sebetulnya nyaris sama dengan AC atau lampu overhead di dalam kabin. Bila lampu memberikan cahaya dan AC memberikan udara sejuk ke setiap penumpang, maka, fitur Invisible AirShield yang ditempel di overhead cabin juga menyemburkan udara. Bedanya, AirShield memberikan udara seolah ‘mengurung’ setiap penumpang.

Dengan begitu, setiap tetesan atau percikan dari penumpang dapat terisolir dan tak tersebar ke bagian lain kabin. Selain itu, cara kerja AirShield, bila ditelisik lebih dalam, nyaris mempunyai kesamaan konsep dengan air curtain –menyekat antara udara di luar dengan udara di dalam sekalipun dengan pintu terbuka- yang biasa ditemukan di pintu masuk mall, perkantoran, atau gedung lainnya.

Posisi Invisible AirShield berada tepat di atas kepala setiap penumpang. Foto: CNN International

“Ada begitu banyak support, desain, dan dukungan teknik, untuk menyelesaikan beberapa masalah ini. Kita semua berusaha membuat masyarakat bisa terbang lagi, saya pikir semakin cepat kita bisa membuat orang nyaman dengan penerbangan, semakin baik industri dan dunia akan bergairah kembali,” kata Anthony Harcup, direktur senior airline experience Teague, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari CNN International.

Konsep invisble yang dikembangkan, lanjut Harcup, dinilai lebih efisien dan efektif dibanding produk lainnya yang juga menawarkan pelanggan terbebas dari Covid-19 dengan membatasi udara mereka dengan sekat partisi.

Bahkan, Harcup mengklaim inovasi AirShield bisa lebih efektif ketimbang mengosongkan kursi tengah untuk menjaga jarak aman atau physical distancing. Sebab, physical distancing tanpa adanya fitur sejenis AirShield atau sekat partisi akan terbuang percuma. Terlebih bila penumpang tak memakai masker dan atau face shield atau menggunakan keduanya dengan cara yang kurang benar.

Dari sisi keamanan saat terjadi keadaan darurat, konsep invisible pada AirShield juga membuat penumpang seperti merasa dalam keadaan normal saj. Sebab, sama sekali tak merubah interior pesawat di sekitar kursi. Jadi, tak ada halangan apapun yang dapat memperlambat mobilitas penumpang untuk keluar masuk kursi.

Oleh karenanya, dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, Invisible AirShield diharapkan dapat meyakinkan penumpang untuk berani naik pesawat lagi dan membantu membawa angin perubahan di industri penerbangan global yang tengah anjlok.

Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors

“Saya pikir produk seperti ini, hal-hal yang tidak berubah secara mendasar mengubah tata letak, model komersial densifikasi, sesuatu yang terlihat, saya pikir itu akan sangat membantu membawa orang kembali berpergian menggunakan pesawat,” tambah Harcup.

Saat ini, Invisible AirShield baru saja menyelesaikan izin hak paten dan juga telah mendapatkan lampu hijau untuk digunakan di pesawat. Belum ada laporan maskapai mana saja yang sudah tertarik. Begitu juga dari segi harga, belum ada kejelasan. Namum, Harcup meyakini, Teague akan memberikan harga terbaik atas produk tersebut. Proses produksinya juga tak sulit karena perusahaan menggunakan printer 3D.

Tiga Kelas Ekonomi Baru Jadi Pilihan Penumpang Malaysia Airlines

Seluruh pelanggan Malaysia Airlines saat ini bisa menikmati pilihan kursi baru di kelas ekonomi, pasalnya, maskapai plat merah asal Negeri Jiran ini baru saja memperkenalkan opsi tarif fleksibelnya di kelas ekonomi yang disempurnakan di seluruh jaringan.

Baca juga: Setelah Gaji Senior Manajemen Dipotong, Kini Malaysia Airlines Minta 13 Ribu Karyawan Cuti Tak Dibayar

Tiga pilihan kelas ekonomi tersebut yakni Lite, Basic dan Flex yang bisa mulai dipilih sejak 22 Juni 2020. Awalnya pilihan tiga kursi ekonomi ini hanya terbatas di tujuan domestik, ASEAN dan Asia Selatan, tetapi kini bisa ke semua tujuan kecuali dari Malaysia ke Jepang atau sebaliknya serta tujuan ke Jeddah dan Madinah.

“Dengan pulihnya dunia penerbangan secara perlahan dari pandemi Covid-19 dan ketika penumpang mulai melakukan perjalanan lagi, Malaysia Airlines berupaya membawa mereka ke langit tanpa beban ke khawatiran dengan pengalaman yang benar-benar tidak merepotkan,” kata Kepala Eksekutif Grup Malaysia Airlines, Kapten Izham Ismail.

Dia mengatakan, dengan menempatkan kebutuhan penumpang sebagai prioritas, Malaysia Airlines meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mendapatkan wawasan yang tak ternilai bagi mereka. Kemudian maskapai mendesain, mendefinisikan ulang dan kemudian memperkenalkan tiga kelas ekonomi ini.

Dengan kehadiran tiga pilihan tersebut, membuat pelancong mendapatkan pilihan ekstra di masa pandemi, karena mereka akan mendapat bagasi 35 kg ketika check in. Bahkan jika datang lebih awal di bandara, penumpang bisa mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan lebih awal dari hari itu.

Tak hanya itu, penumpang kelas ekonomi Flex juga memiliki prioritas check in yakni tidak perlu mengantri. Mereka juga akan mendapat diskon sepuluh persen ketika memesan kelas Flex berikutnya. Maskapai ini juga memiliki produk yang disebut dengan Neighbor Free Seat (NFS) yang akan tersedia secara ekslusif untuk penumpang Flex di semua penerbangan dengan setengah harga.

Layanan ini sangat baik bagi penumpang yang khawatir akan terlalu dekat dengan penumpang lain di pesawat. Sedangkan untuk pelanggan dengan tarif Basic mendapatkan bagasi gratis 20 kg dan penumpang akan memiliki kesempatan untuk menikmati manfaat program loyalitas seperti peningkatan Enrich Miles yang memungkinkan mereka untuk mencoba pengalaman kelas bisnis operator.

Baca juga: Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg

Sedangkan untuk kelas tarif Lite tidak ada keuntungan dari opsi lain dan ini pilihan yang cocok untuk pelancong biasa atau bisnis tertentu. Selain itu, apa pun kondisinya semua pelanggan maskapai akan mendapat manfaat dari keistimewaan dan layanan dari model full service.

Bagasi kabin tujuh kilogram, makanan ringan gratis, makanan berat dan minuman akan tersedia. Semua penumpang juga akan memiliki akses ke sistem IFE (In-Flight Entertainment) Malaysia Airlines yang dikuratori secara khusus.

Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker

Perekonomian di Singapura mulai dibuka kembali dan kegiatan dengan banyak orang serta kontak langsung akan semakin sering termasuk dalam angkutan umum. Bahkan sejak tanggal 2 Juni 2020, Singapura mengharuskan semua orang yang keluar rumah harus menggunakan masker.

Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

Dilansir KabarPenumpang.com dari gov.sg (1/6/2020), di waktu yang sama juga, Singapura memberlakukan perbedaan penggunaan face shield atau pelindung wajah dengan masker. Di mana penggunaan face shiled hanya akan diizinkan untuk kelompok atau pengaturan tertentu yang dikecualikan.

Adapun kelompok yang diperbolehkan hanya menggunakan face shield yakni anak-anak berusia di bawah 12 tahun karena mereka mungkin mengalami kesulitan mengenakan dan menjaga masker wajah untuk jangka waktu yang lama. Kemudian orang-orang dengan kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan sulit pernapasan atau masalah medis lainnya ketika masker wajah digunakan untuk jangka waktu yang lama.

Tak hanya itu, bagi para pembicara suatu kelompk dalam ruangan atau lingkungan pendidikan, di mana mereka sebagian besar tetap berada di tempat mereka berbicara dan mampu menjaga jarak yang aman dari orang lain. Tak hanya itu, untuk situasi seperti melakukan siaran televisi akan dibebaskan dari keharusan menggunakan masker atau face shield.

Pembebasan ini akan terus berlanjut asalkan kegiatan tersebut dilakukan di lingkungan yang aman dan terkendali. Pemerintah Singapura juga mengatakan, dalam pengaturan tertentu face shield bisa digunakan diluar masker untuk perlindungan tambahan.

Dengan menggunakan face shield tambahan ini sebenarnya bisa membantu melindungi mata seseorang dari tetesan yang mungkin mengandung partikel virus dan juga mencegah masker agar tidak basah. Sebenarnya penggunaan face shield juga agar orang tidak menyentuh wajah mereka. Sampai saat ini pun, pemerintah Singapura masih menyarankan untuk masyarakat tinggal dirumah dan menghindari keluar jika memungkinkan.

Baca juga: Mulai Fase New Normal, Inilah Beragam Kebijakan dari Otoritas Darat Singapura

Pihak pemerintah mengatakan, bagi masyarakat yang perlu keluar rumah dan menggunakan transportasi umum selain memakai masker juga ditambah face shield dan mengambil langkah seperti menjaga kebersihan tangan, menjaga jarak aman untuk membantu pengurangi penyebaran Covid-19. Pemerintah Singapura menambahkan, anak-anak di bawah berusia dua tahun tidak dianjurkan menggunakan masker demi keamanan.