Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Thai Airways dikabarkan menunda permintaan pengembalian dana oleh penumpang (refund). Saat ini, flag carrier Thailand tersebut tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand.

Baca juga: Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona

“Karena Thai Airways saat ini sedang menjalani proses rehabilitasi melalui Pengadilan Kepailitan Pusat, dengan menyesal perusahaan harus memberi tahu pelanggan bahwa untuk sementara proses permintaan pengembalian uang (refund) ditunda,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari businesstraveller.com.

“Informasi lebih lanjut tentang proses pengembalian dana (refund) dan perkembangan mengenai proses restrukturisasi perusahaan akan disampaikan pada waktunya nanti (jangka waktu yang tidak dapat ditentukan),” tambah, perusahaan.

Sebelumnya Thai Airways mengatakan perlu dana sekitar 58 miliar baht, atau senilai 1,8 miliar dolar AS, untuk melakukan restrukturisasi. Namun pemerintah Thailand sekarang mengatakan, prosedur itu terlalu lama. Prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.

“Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut.

Sebenarnya, Thai Airways telah terganggu sebelum pandemi virus corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan bertarif rendah yang kian ketat.

Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Bila langkah-langkah restrukturasi pada akhirnya gagal, dapat dipastikan bahwa Thai Airways akan menyusul lima maskapai lainnya yang sudah terlebih dahulu mengalami hal serupa akibat virus corona atau Covid-19. Mulai dari Avianca, Virgin Australia, FlyBe, dan Trans State Airlines.

Kendati demikian, pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha, menyebut bahwa kecil kemungkinan maskapai di Asia akan mengalami kebangkrutan. Sentimen nasionalisme dinilai menjadi titik krusial atas hal itu. Menurut pengamat penerbangan yang juga konsultan Aviation & Space Law tersebut, kultur negara-negara di Asia masih melihat isu nasionalisme sebagai suatu hal mutlak, dalam hal ini menyangkut keberlangsungan hidup maskapai flag carrier. Berbeda dengan Eropa yang pada umumnya menyerahkan permasalahan maskapai ke market.

Terobos Area Terlarang, Pria Lansia Kemudikan Van ke Apron dan Runway Bandara Narita

Seorang pria yang mengendarai mobil van nyelonong masuk apron pesawat dan area terlarang lainnya di Bandara Internasional Narita. Dia berada di tempat-tempat tersebut selama 20 menit lamanya pada dini hari 1 Juni 2020 kemarin.

Baca juga: Saat Pesawat Lepas Landas, Mobil Van Melaju di Landasan Pacu dengan Tenang

Menurut Narita International Airport Corp (NAA), sekitar pukul 00.45 waktu setempat, pria 61 tahun tersebut berhasil menyelinap melalui keamanan di pintu masuk ke sekitaran area kargo dan apron pesawat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (2/6/2020), pria itu lantas berkeliling sejauh 5,4 km melalui zona terbatas yang bisa menimbulkan risiko keselamatan pada keamanan pesawat.

Pria lansia itu saat mengitari apron pesawat tampak berada sekitar 200 meter dari taxiway dan 500 meter dari runway bandara. Dia juga berada dalam jarak sepuluh meter dari 21 pesawat yang terparkir di apron.

NAA mengatakan pelanggaran itu ebagai insiden yang mengkhawatirkan dan berjanji akan menyelidikinya. Sebenarnya jalan menuju ke gerbang selalu tertutup dan penjaga keamanan memeriksa pengemudi sebelum melintas untuk mengecek apakah mereka memiliki izin yang tepat.

Tak hanya itu, petugas keamanan juga melakukan pemeriksaan identifikasi setiap penumpang dan memeriksa kendaraan untuk mencari bahan peledak sebelum masuk ke apron. NAA mengatakan, pria tua itu menggunakan jalur taksi dan celah untuk kendaraan keluar melalui titik-titik keamanan.

Diketahui, pria itu menghentikan van-nya di pintu masuk ke area pengiriman dan ditangkap oleh petugas keamanan yang kemudian menyerahkannya ke kantor polisi Bandar Internasional Narita di Prefektur Chiba. Petugas menanyainya karena dicurigai pria tersebut melakukan pelanggaran.

“Saya tidak tahu saya tidak diizinkan masuk ke tempat-tempat itu. Saya hanya mengikuti kendaraan di depan saya dan masuk,” katanya seperti dikutip polisi.

Saat ini, jumlah penumpang di Bandara Narita anjlok karena pandemi virus corona. Bandara telah menutup landasan pacu “B” dan bagian lain dari fasilitas serta juga menyusutkan operasi keamanannya karena berkurangnya kebutuhan.

Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Sebelumnya juga ada kendaraan yang melanggar batas bandara pada tahun 1996 silam. Sedangkan pada Oktober 2019 lalu, seorang penumpang masuk ke apron parkir pesawat dan berlari sejauh 350 meter sebelum diamankan.

“Bukan PHK,” Inilah yang Terjadi Pada Ratusan Pilot Garuda Indonesia

Dalam beberapa jam belakangan santer kabar tentang adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada sejumlah pilot Garuda Indonesia. Disebutkan oleh beberapa media nasional, jumlahnya mencapai 150 pilot yang mulai tidak bekerja per 1 Juni 2020. Sementara Direktur Utara Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam keterangannya di awal Maret 2020 menyebutkan, bahwa tidak ada PHK massal di tengah badai virus corona. Lantas apa yang sebenarnya terjadi di tubuh maskapai plat merah ini?

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Dampak covid-19 seperti diketahui telah menghujam cukup dalam di sektor penerbangan global, yang mau tidak mau, suka tidak suka, berujung pada efisiensi besar-besar dan pemangkasan jumlah karyawan. Terkhusus dengan di Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis kepada KabarPenumpang.com menyatakan, bahwa lebih tepat apa yang dilakukan manajemen Garuda Indonesia saat ini sebagai penghentian kontrak lebih dini, dimana pilot yang disebutkan adalah yang berstatus pekerja kontrak.

“Supaya tidak salah persepsi, mereka dikontrak dari Januari 2018 hingga Desember 2020. Dan akhir bulan Juni 2020 kontrak sudah diselesaikan dengan pembayaran gaji penuh, termasuk gaji periode Juli sampai Desember 2020,” ujar Irfan Setiaputra. Kebijakan Garuda Indonesia adalah penyelesaian lebih awal atas kontrak kerja pegawai dengan profesi penerbang dalam status hubungan kerja waktu tertentu. Melalui penyelesaian kontrak tersebut, Garuda Indonesia tetap memenuhi kewajibannya atas hak-hak penerbang sesuai masa kontrak yang berlaku. Irfan menambahkan, bahwa langkah ini adalah keputusan berat yang harus diambil.

Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

Sebelumnya langkah serupa telah dijalankan oleh maskapai papan atas global, Emirates. Maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut telah mengabarkan secara resmi untuk melakukan PHK gelombang pertama, yakni kepada pilot dan awak kabin yang masih dalam pelatihan awal, serta siapa pun yang masih dalam masa percobaan.

Video ini Pastikan Penyebaran Virus Corona Mudah Menjalar Lewat Percakapan

Sebuah video menunjukkan betapa mudahnya virus corona dapat menyebar, bahkan ketika melakukan percakapan dengan orang lain. Video tersebut merupakan simulasi yang menunjukkan orang-orang dalam sebuah gerbong kereta, dimana seseorang digambarkan berwarna merah sebagai ‘penebar’ virus corona.

Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan

Lalu orang yang berwarna merah tanpa masker tersebut mulai berbicara, yang kemudian menunjukkan bagaimana tetesan kuning (droplet) dilepaskan dari mulut ketika dia berbicara dan ‘menghujani’ orang lain dengan virus. Bisa dikatakan, video simulasi ini menunjukkan betapa mudahnya virus tersebut dapat menyebar karena seseorang tidak perlu bersin atau batuk untuk menularkannya.

Saat menggunakan London Underground (kerera komuter) sebagai contoh, tetesan juga bisa mendarat di kursi, tombol, dan gagang kereta. Tetesan yang terinfeksi kemudian dapat dibawa lebih jauh melalui transmisi dari permukaan ke permukaan, seperti memegang pegangan.

KabarPenumpang.com merangkum laman express.co.uk (26/5/2020), video simulasi itu juga menunjukkan bagaimana penyebaran virus dapat ditahan dengan menggunakan masker atau penutup wajah. Bahkan jumlah tetesan berkurang secara signifikan saat wajah tertutup masker.

Ketika orang terinfeksi virus dan berbicara tanpa masker, sebanyak 109 tetesan berpindah ke wajah dan 495 tetesan mendarat di penumpang lain. Tetapi ketika orang terinfeksi menggunakan masker jumlahnya masing-masing turun menjadi dua dan sembilan tetesan saja.

Para peneliti berpendapat bahwa masker yang menutupi wajah menghalangi sebagian besar tetesan terhadap orang lain ketika mereka berbicara, bernafas, batuk maupun bersin. Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini oleh para peneliti di Kanada, menemukan bahwa masker kain sederhana bisa memblokir hingga 99 persen partikel menular.

Ini menambah bukti bahwa menggunakan masker di depan umum saat ini sangat baik. Dr Julian Tang, seorang ahli kondisi pernafasan di Universitas Leicester mengatakan, bahwa tetesan yang dihasilkan ketika berbicara tidak menyebar sejauh yang mereka lakukan ketika bersin atau batuk yang dapat menjangkau hingga 22 kaki atau sekitar 6,7 meter. Tapi virusnya masih bisa ditularkan hanya dengan mengobrol terlalu dekat dengan seseorang.

“Jika Anda bernapas dan berbicara jelas tetesan tidak melakukan perjalanan sejauh ini, tetapi mereka dapat melakukan perjalanan cukup jauh untuk mempengaruhi teman Anda yang duduk di hadapan Anda, atau seseorang yang mengobrol dengan Anda. Itulah jarak kuncinya. Seberapa jauh tetesan yang terinfeksi harus melakukan perjalanan untuk menginfeksi orang lain?” kata Tang.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Berada di luar juga mengurangi risiko infeksi karena virus apa pun yang dilepaskan oleh seseorang yang terinfeksi akan terdilusi oleh angin. Tetapi transmisi masih dapat terjadi di luar ruangan, itulah sebabnya saran resmi otoritas kesehatan di Inggris adalah untuk tetap berjarak dua meter.

Lagi-Lagi Proyek High-Speed Rail Malaysia dan Singapura Ditangguhkan

Lagi, lagi dan lagi, sepertinya kata-kata ini cocok untuk proyek High-Speed Rail (HSR) yang akan dibangun dari Malaysia ke Singapura. Pasalnya pihak Malaysia mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah sepakat dengan Singapura untuk menangguhkan proyek tersebut hingga 31 Desember 2020 mendatang.

Baca juga: Proyek High Speed Rail Malaysia-Singapura Ditangguhkan Hingga 31 Mei 2020

“Malaysia telah meminta untuk memperpanjang periode penangguhan untuk memungkinkan kedua belah pihak untuk membahas perubahan yang mereka pikirkan. Kami sedang mempertimbangkan permintaan mereka dengan serius,” Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan mengatakan dalam sebuah posting di halaman Facebook-nya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bangkokpost.com (31/5/2020), Khaw mengatakan bahwa Menteri Senior Malaysia Azmin Ali menulis kepadanya untuk meminta perpanjangan dalam membahas usulan perubahan Malayasia dalam proyek tersebut. Khaw menambahkan, karena setiap perubahan proyek membutuhkan persetujuan pihaknya, maka penangguhan yang diperpanjang akan memungkinkan kedua negara untuk menilai perubahan yang ada dalam pikiran Malaysia.

“Dalam semangat kerja sama bilateral, kami telah sepakat untuk perpanjangan akhir dari periode penangguhan hingga 31 Desember 2020. Ini harus menyediakan waktu yang cukup bagi Malaysia untuk mengklarifikasi proposal dan bagi kedua belah pihak untuk menilai implikasi dari perubahan yang diusulkan,” kata Khaw.

Dalam pernyataan terpisah, Datuk Seri Azmin, yang juga Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, mengatakan kedua pemerintah telah sepakat untuk melanjutkan diskusi “dalam waktu dekat”.

“Diskusi akan mencakup beberapa perubahan yang diusulkan dalam aspek komersial dan teknis proyek,” tambahnya.

Azmin mengatakan dia telah diminta oleh kabinet negaranya untuk memimpin tim Malaysia dalam diskusi dengan Pemerintah Singapura mengenai proyek tersebut. Pengumuman datang pada hari yang sama dengan batas waktu untuk memutuskan nasib proyek, setelah kedua negara sepakat untuk menangguhkannya selama sekitar dua tahun pada bulan September 2018.

Baca juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Keputusan tersebut telah mendorong tanggal penyelesaian untuk jalur kereta 350 km dari akhir 2026 hingga Januari 2031. Kementerian Transportasi Singapura mengkonfirmasi bahwa pemerintah Malaysia telah memberi tahu Singapura bahwa ia akan mengusulkan beberapa perubahan pada proyek HSR dan meminta perpanjangan tujuh bulan.

Untuk diketahui, sebelumnya penangguhan pembangunan proyek High-Speed Rail (HSR) Kuala Lumpur-Singapura 350 km telah diperpanjang hingga 31 Mei 2020.

Garuda Indonesia Luncurkan “KirimAja,” Jasa Pengiriman Barang Berbasis Aplikasi Mobile

Garuda Indonesia Group melalui anak usahanya, PT Aerojasa Cargo secara resmi meluncurkan “KirimAja” yang merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital dengan jangkauan pengiriman barang ke sejumlah destinasi penerbangan yang dilayani oleh seluruh armada Garuda Indonesia, Citilink Indonesia maupun pengiriman untuk wilayah Jabodetabek dan wilayah antarkota lainnya yang didukung oleh layanan dari Aerojasa Cargo.

Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Pandemi Covid-19 menuntut kami untuk semakin adaptif dan kreatif berakselerasi mengembangkan opportunity bisnis di era new normal, yang salah satunya kami kembangkan melalui bisnis layanan logistik dengan memperkenalkan “KirimAja” yang merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital”

Perkembangan pesat industri e-commerce di Indonesia serta munculnya tren baru pada era new normal, menjadikan sektor layanan logistik memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat akan layanan pengiriman barang secara cepat, tepat, dan efisien.”

“KirimAja” kami harapkan dapat menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat maupun sektor UMKM yang membutuhkan layanan pengiriman barang secara online yang didukung oleh layanan kargo udara yang terpercaya, baik dari sisi akurasi waktu pengiriman, keamanan paket, hingga tarif yang kompetitif,” ungkap Irfan.

KirimAja juga turut didukung oleh business model berbasis komunitas (“community based”) yang tidak hanya semakin mendekatkan layanan kepada masyarakat, namun juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat yang bergabung sebagai agen pengiriman melalui program Sohib KirimAja”. Adapun saat ini telah terdapat agen “Sohib KirimAja” yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia yang dapat melayani pengiriman barang sampai dengan alamat tujuan pengiriman.

Dengan dilengkapi berbagai fitur yang dapat diakses dengan mudah seperti reservasi, booking management, real time tracking, tracing, pengecekan tarif pengiriman, hingga pembayaran yang dapat dilakukan dengan virtual account, aplikasi pendukung layanan “Kirim Aja” menawarkan konsep layanan “one-stop-service” untuk kebutuhan pengiriman paket ke seluruh Indonesia.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Saat ini “KirimAja” dapat melayani pengiriman barang umum, mulai dari produk fashion, barang elektronik, perlengkapan rumah tangga, makanan kering, hingga produk non-perishable lainnya. Kedepannya, “KirimAja” akan turut mengembangkan kapasitas layanan lainnya, khususnya untuk segmentasi pengiriman makanan dengan durasi pengiriman yang lebih singkat. Aplikasi “KirimAja” saat ini telah tersedia diseluruh platform mobile device, dapat digunakan baik iOS maupun Android.

Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi

Banyaknya calon pemumpang yang gagal berangkat lantaran tak memenuhi standar dan syarat protokol Covid-19, menjadi keprihatinan bagi maskapai penerbangan. Lion Air Group dan Citlink lantas sempat memutuskan menghentikan penerbangan karena hal tersebut. Dan ketika layanan penerbangan dari kedua maskapai akhirnya dibuka kembali per 1 Juni 2020, ditekankan kembali beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi calon pemumpang agar dapat lolos terbang di musim pandemi ini.

Baca juga: Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara

Dalam siaran pers (31/5/2020), Lion Air Group mewajibkan bagi tiap calon pemumpang untuk mempersiapkan beberapal hal selama penerbangan di musim pandemi Covid-19, yaitu:

1. Tiba lebih awal di terminal keberangkatan yakni empat jam sebelum keberangkata. Penerbangan Lion Air Group domestik tetap di Terminial 2E dan internasional di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang belum ada perubahan sesuai dengan sejak diizinkan beroperasi pada 7 Mei 2020. Untuk bandar udara lainnya yang beroperasi tetap di terminal yang sama.

2. Menunjukkan dokumen atau berkas kelengkapan, meliputi
a. Tiket pesawat udara valid dan melaporkan rencana perjalanan udara,
b. Identitas diri resmi dan masih berlaku (Kartu Tanda Penduduk atau identitas lainnya),
c. Surat keterangan atau sertifikat bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan dan        dokumen lain yang harus dipenuhi sesuai Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2020,
· Hasil Rapid Test negatif Covid-19 maksimal berlaku 3 hari sejak diterbitkan; atau
· Hasil Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) negatif Covid-19 berlaku maksimal 7 hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan; atau
· Surat keterangan bebas gejala seperti influenza bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas RT-PCR maupun Rapid Test.
d. Menunjukkan surat tugas sesuai instansi, surat keterangan sebagaimana dipersyaratkan,
e. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (electronic Health Alert Card/ e-HAC) sebelum berangkat. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui aplikasi e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac atau bentuk lain (cetak) yang disediakan oleh petugas.

3. Mengenakan masker sebelum penerbangan, saat di dalam pesawat hingga mendarat dan keluar dari bandar udara,

4. Mencuci tangan atau menggunakan cairan pembersih kuman pada tangan (hand sanitizer),

5. Mengikuti aturan jarak aman (physical distancing) sebagaimana diberlakukan,

6. Menjaga kebersihan selama berada di dalam pesawat,

7. Agar calon penumpang membawa hand sanitizer sendiri.

MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan

Moda Raya Terpadu Jakarta atau yang dikenal dengan MRT Jakarta telah mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker sebagai upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19. Namun saat ini ada hal terbaru, di mana penumpang tidak diperbolehkan berbicara satu dengan lainnya.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Bahkan, penumpang juga tidak dibolehkan untuk menelepon ketika berada dalam kereta MRT Jakarta. Padahal sebenarnya dengan menggunakan masker saja sudah mencegah dalam penularan Covid-19. Ternyata kebijakan ini bukan hanya ada di Indonesia, tetapi Singapura sudah memulainya lebih dahulu.

Di mana Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong menyebutkan beberapa langkah yang diambil pemerintah untuk meminimalkan ancaman infeksi silang Covid-19 dalam transportasi umum. Wong yang juga mengetuai satuan tugas multi kementerian yang menangani pandemi, mencatat bahwa jarak aman dapat menjadi tantangan pada beberapa rute selama jam sibuk.

“Para penumpang harus menggunakan masker dan tidak berbicara satu sama lain untuk mencegah droplet. Penumpang juga tidak boleh berbicara di ponsel, dengan demikian mereka bisa menghindari penyebaran droplet ketika berada di ruang tertutup,” ujar Wong yang dikutip KabarPenumpang.com dari todayonline.com (2/6/2020).

Bahkan hal ini juga sebelumnya sudah diserukan pemerintah oleh Menteri Perhubungan Khaw Boon pada 23 Maret 2020 kemarin. Khaw mengatakan, penumpang berbicara dengan lembut jika perlu tetapi yang terbaik adalah tidak berbicara.

Namun ternyata penumpang yang menggunakan transportasi umum mengaku bahwa masih banyak penumpang yang berbicara keras di ponsel mereka atau satu dengan lainnya. Bahkan mereka juga ada yang mengobrol di telepon untuk waktu yang lama.

“Jelas mereka belum mengindahkan saran pemerintah,” ujar penumpang tersebut.

Dalam hal ini, operator transportasi memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran bagi para penumpang untuk menahan diri berbicara kecuali jika diperlukan. Ada banyak poster dan pengumuman tentang pemakaian masker wajah wajib dan perlunya menjaga jarak dengan aman di stasiun MRT dan di dalam kereta.

“Kami juga melihat poster serupa di halte dan di dalam bus. Tapi kami tidak melihat poster atau mendengar pengumuman yang meminta komuter untuk menahan diri dari berbicara, terutama di ponsel mereka,” kata penumpang itu.

Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Sudah waktunya bagi operator transportasi untuk meningkatkan langkah-langkah untuk mengingatkan penumpang tentang hal ini. Warga Singapura pada umumnya taat hukum, dan pengingat semacam itu akan sangat membantu untuk membuat semua orang memainkan peran mereka dalam menjaga sistem transportasi umum tetap aman saat Singapura bergerak ke fase pertama dari dimulainya kembali kegiatan mulai 2 Juni.

Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

Akhirnya Emirates mengikuti jejak maskapai dunia lainnya yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada stafnya. Surat-surat berupa redundansi sudah dikirim lebih dari dua minggu setelah sumber yang bisa dipercaya mengklaim bahwa maskapai yang berbasis di Dubai itu tengah mempersiapkan rencana untuk menghilangkan hingga sepertiga dari tenaga kerjanya untuk mengatasi dampak buruk Covid-19.

Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’

Namun kabar tersebut ternyata sempat disangkal Emirates. Melalui juru bicaranya, disebutkan bahwa rencana tersebut belum pernah dibuat. Tapi hanya berselang beberapa hari, pada Minggu (31/5/2020), maskapai asal Uni Emirat Arab itu akhirnya mengonfirmasi bahwa PHK akan dilakukan.

“Kami telah berupaya untuk mempertahankan komposisi pekerjaan yang ada saat ini, namun kami akan meninjau semua skenario yang harus dilakukan untuk mempertahankan operasi bisnis kami. Dan akhirnya disimpulkan bahwa kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang luar biasa yang bekerja dengan kami selama ini,” bunyi pernyataan dari Emirates yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (31/5/2020).

Pernyataan tersebut juga mengatakan mereka terus menilai kembali situasi dan harus beradaptasi dengan masa transisi ini. Mereka mengatakan bahwa tidak mudah memandang hal ini dan perusahaan melakukan segala hal yang mungkin untuk melindungi para pekerja.

“Di mana kita dipaksa untuk mengambil keputusan sulit, kita akan memperlakukan orang lain dengan adil dan hormat. Kami akan bekerja dengan karyawan yang terkena dampak untuk memastikan mereka mendapatkan haknya,” lanjut pernyataan itu.

Gelombang PHK pertama akan melibatkan pilot dan awak kabin yang masih dalam pelatihan awal, serta siapa pun yang masih dalam masa percobaan. Meskipun ada rumor tentang redudansi yang akan datang, banyak kru akan merasakan hal tersebut karena pengumuman hari ini setelah tidak menerima peringatan sebelumnya dari perusahaan.

Banyak kru percaya cuti yang tidak dibayar, kontrak paruh waktu dan cara kerja alternatif akan ditawarkan terlebih dahulu sebelum PHK diumumkan. Surat redundansi yang dikirim ke staf memberi tahu bahwa mereka tidak akan diminta untuk bekerja selama periode pemberitahuan 14 hari.

Baca juga: American dan United Airlines Rugi Rp59 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Menanti Giliran PHK

Karena sebagian besar staf dan awak pesawat Emirates adalah ekspatriat asing, maskapai ini telah memberi tahu bahwa mereka dapat tetap berada di negara itu sampai dapat mengatur penerbangan ke negara asal mereka. Emirates melakukan hal tersebut karena pembatasan perjalanan yang berarti banyak negara masih terlarang dan Emirates saat ini hanya melayani sembilan tujuan.

 

Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Sutradara kenamaan Hollywood, Christopher Nolan disebut melakukan langkah konyol sekaligus berani. Betapa tidak, belum lama ini, ia dilaporkan gigih memperjuangkan agar salah satu adegan dalam karya terbarunya, Tenet, menggunakan Boeing 747 asli untuk ditabrakkan ke sebuah bangunan mirip hanggar dan seketika hancur berkeping-keping.

Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Sebetulnya, ia tak berencana menggunakan Boeing 747 asli untuk diledakkan. Sebagaimana film-film pada umumnya, awalanya ia hanya berencana untuk menggunakan minatur, set-piece build, kombinasi efek visual, dan berbagai teknologi lainnya (CGI atau computer-generated imagery).

“Awalnya aku terpikir untuk membuat miniatur. Tapi setelah melakukan penghitungan, akan lebih efisien bila kami membuat adegan tersebut betulan dengan pesawat yang juga sungguhan,” ungkap Nolan kepada GamesRadar, seperti dikutip dari sea.ign.com.

Sementara itu, Robert Pattinson, salah satu aktor utama dalam film Tenet menyebut bahwa ide Christopher Nolan untuk meledakkan Boeing 747 asli sebagai ide konyol. Namun demikian, aktor yang namanya melejit lewat film Twilight ini juga menyebut keputusan itu sebagai langkah berani.

“Kamu tidak akan berpikir ada kenyataan di mana kamu akan melakukan adegan di mana mereka hanya memiliki 747 yang sebenarnya untuk diledakkan!” katanya.

Dihimpun KabarPenumpang.com, harga pesawat Boeing 747 bekas di pasaran memang tergolong murah sekalipun semuanya tergantung tahun produksi. Jadi, sangat relatif. Misalnya, di situs telstarlogistics.typepad.com Boeing 747-200 keluaran tahun 1970-an dibanderol sekitar $100,000 atau Rp1,4 miliar lebih (kurs 14,6210).

Di situs lainnya, Boeing 747-400F keluaran tahun 2013 masih dibanderol dengan harga tinggi, mencapai $29,700,000 atau lebih dari Rp419 miliar (kurs 14,6210). Adapun pesawat yang digunakan Christopher Nolan untuk diledakkan dalam salah satu adegan di film Tenet tidak disebutkan dengan rinci jenis dan tahun pembuatannya.

Hanya saja, dari kode registrasi pesawat yang terlihat dalam trailer Tenet tercantum kode registrasi sebagai LN-WTJK. Menurut planespotters.net, pesawat Boeing 747 dengan kode registrasi tersebut adalah Boeing 747-200F berumur 40 tahun 3 bulan atau produksi tahun 1980-an. Dengan harga pasaran yang sudah disebutkan di atas, terbayang bukan nilai investasi untuk meledakkan sebuah pesawat Boeing 747-200F?

Aksi Christopher Nolan menggunakan pesawat asli untuk dihancurkan dalam proses produksi sebuah film bukan pertama kalinya. Pada 2016 lalu, sutradara, penulis, dan produser berkebangsaan Inggris ini juga pernah memperjuangkan agar film besutannya dan Emma Thomas menggunakan pesawat asli Spitfires dan HA-1112 Buchón buatan Spanyol (versi lisensi dari Messerschmitt Bf 109).

Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

Namun, entah bagaimana proses pergolakan di dalam tubuh tim, pada akhirnya, adegan yang sudah dirancang Nolan dengan pesawat asli harus berakhir pupus. Disebutkan, adegan di film Dunkirk yang dimaksud hanya menggunakan replika pesawat.

Sebagai informasi, Christopher Nolan belum lama ini meluncurkan trailer kedua film terbarunya Tenet. Film yang digadang-gadang dibumbui degan adegan-adegan menarik itu menurut salah satu aktornya, John David Washington, justru memiliki jalan cerita atau plot yang absurd. Pendapat itu pun juga diamini oleh aktor-aktor lainnya dalam film tersebut. Walau penuh dengan ketidakpastian akibat wabah corona, Tenet dijadwalkan akan tetap dirilis pada tanggal 17 Juli 2020 mendatang.