Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter

Baru-baru ini sebuah video menampilkan di mana pihak Uber menghancurkan ribuan sepeda listrik dan skuter mereka setelah menjual bisnis Jump miliknya ke Lime. Video tersebut memperlihatkan sepeda merah Jump dihancurkan di pusat daur ulang Amerika Serikat dan dibagikan di media sosial.

Baca juga: Hadirkan Layanan Sepeda Listrik di Negeri Paman Sam, Uber Akuisisi JUMP

Awalnya dalam video tersebut, sepeda-sepeda itu tiba di fasilitas daur ulang di North Carolina dan kemudian di hancurkan. Karena hal tersebut, para pembalap dan pengguna sepeda marah.

KabarPenumpang.com melansir dari laman bbc.com (28/5/2020), badan amal dan organisasi yang kecewa menyarankan agar sepeda itu disumbangkan ke kelompok masyarakat atau dijual kepada perorangan untuk meningkatkan penggunaan sepeda listrik.

“Paling tidak melepas decals atau merek dan menjual sepeda kepada individu?” ujar Orcutt dari Bike New York yang merupakan sebuah kelompok nirlaba.

Kemudian pihak Uber mengatakan dalam bahwa mereka memutuskan menghancurkan ribuan sepeda tersebut merupakan model lama dan juga karena masalah perawatan, pertanggung jawaban serta keselamatan.

“Kami mengeksplorasi menyumbang sisa, sepeda model lama. Tetapi mengingat banyak masalah signifikan termasuk pemeliharaan, pertanggungjawaban, masalah keselamatan, dan kurangnya peralatan pengisian daya tingkat konsumen sehingga kami memutuskan pendekatan terbaik adalah mendaur ulang secara bertanggung jawab,” ujar Uber dalam sebuah pernyataan.

Diketahui tahun 2018 lalu, Uber mengatakan akan lebih fokus pada sepeda listrik dan bisnis skuter dibandingkan dengan mobil. Namun pada 7 Mei 2020, Uber mengumumkan kesepakatan yang melihat Lime mengambil alih bisnis Jump bike.

Bahkan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Uber menginvestasikan $170 juta di Lime. Dalam kesepakatan ini juga, Lime memperoleh puluhan ribu sepeda Jump Uber dan kekayaan intelektual yang terkait.

Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Kepala eksekutif Lime Wayne Ting mengatakan dia lebih suka desain sepeda Uber dan akan menyebarkan lebih banyak dari mereka di masa depan. Namun, ada juga “puluhan ribu” sepeda model lama yang tidak diwariskan Lime sebagai bagian dari kesepakatan.

Sambut The New Normal, Airbus Kembali ‘Putar Otak’ Demi Bertahan Hidup

Salah satu petinggi Airbus yang tak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa produsen pesawat asal Eropa itu akan kembali memutar otak. Salah satu yang akan dipertimbangan dalam waktu dekat adalah pemangkasan produksi pesawat terlaris mereka, seri A320 (beserta turunannya).

Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Dirunut dari beberapa bulan sebelumnya, rencana Airbus untuk memangkas kapasitas produksi merupakan sebuah implementasi dari rancangan besar perusahaan dalam menghadapi anjkloknya inudstri penerbangan.

Kala itu, sekira bulan April, Airbus mengumumkan pihaknya akan memangkas kapasitas produksi menjadi sekitar sepertiga. Termasuk di dalamnya mengumumkan hanya akan memproduksi 40 pesawat A320 per bulan. Angka tersebut masih sangat mungkin untuk kembali diturunkan bila keadaan tak kunjung membaik, sekalipun wabah corona sudah mulai mereda dan mulai memasuki periode recovery.

Kurva proses recovery akan menjadi acuan perusahaan untuk mengambil langkah besar untuk beberapa bulan mendatang, setidaknya selama kuartal III 2020, apakah (kurva recovery-nya) berbentuk “V-shaped” atau “L-shaped”.

Bila kurva berbentuk “V” atau “V-shaped”, dimana industri penerbangan sudah mulai meningkat tajam setelah mencapai titik terdalam (anjlok drastis), maka Airbus mungkin akan kembali meningkatkan kapasitas produksi.

Sebaliknya, bila kurva berbentuk “L-shaped” atau kondisi dimana iklim industri penerbangan masih lesu, seperti sekarang ini, saat hampir seluruh maskapai di dunia masih menggrounded armada mereka, sekalipun wabah dinilai sudah mulai menurun dan banyak negara sudah mulai menatap recovery dengan melonggarkan kebijakan lockdown, Airbus besar kemungkinan belum akan meningatkan kapasitas produksi. Bahkan sangat mungkin malah menurunkannya. Belum tersedianya vaksin di pasaran diklaim menjadi salah satu biang keladi mengapa masyarakat tak kunjung mulai bepergian saat wabah mulai menurun.

Pemangkasan produksi A320 mungkin akan menjadi salah satu musibah lanjutan Airbus di beberapa bulan mendatang. Sebab, pesawat narrowbody yang pertama kali dilaunching pada 1984 tersebut menyumbang sebagian besar produksi dan perputaran uang perusahaan.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Terbukti, ketika produsen pesawat yang berbasis di Toulouse, Perancis, itu hanya mengirimkan sekitar 12 pesawat (A320) di bulan April akibat penghentian operasional (mengikuti kebijakan lockdown) dan pembatalan pesanan besar-besaran oleh maskapai, Airbus mengalami kerugian besar; sekalipun angka tersebut juga ditunjang oleh penjualan pesawat lainnya, seperti A350, A330, A220. Pesanan di bulan Mei juga diprediksi sebagian pengamat juga tak kalah buruk, meskipun angka pastinya baru akan diumumkan pekan ini.

“Tujuan kami adalah menyelesaikan stabilitas baru untuk menyesuaikan diri dengan dunia baru (The New Normal) pada Juni. Kami akan memiliki gambaran yang lebih rinci; itu tidak boleh berubah secara signifikan dibandingkan dengan apa yang telah kita lakukan, tetapi itu bisa sedikit berubah,” kata CEO Airbus, Guillaume Faury, pada akhir April lalu, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Kenapa Cuci Tangan Jadi Sedemikian Penting?

Mencuci tangan merupakan hal yang paling mudah untuk dilakukan dan seharusnya sudah menjadi kebiasaan seseorang. Apalagai ketika selesai dari toilet atau akan makan menggunakan tangan sebaiknya mencuci tangan. Sebab Anda tidak tahu apakah tombol flush dan shower di toilet bersih atau ketika dalam perjalanan memegang sesuatu yang kotor ketika akan makan.

Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker

Bahkan saat virus corona atau Covid-19 tengah menjadi pandemi dunia, mencuci tangan menjadi hal yang paling penting ketika melakukan apapun. Mencuci tangan tak hanya ketika habis dari toilet saja tapi setiap memegang benda apa pun bahkan setiap 20 menit disarankan untuk mencuci tangan. Robert Aunger, seorang ahli kesehatan masyarakat evolusioner di London School of Hygiene dan Tropical Medicine mengatakan, cuci tangan terdengar seperti perilaku yang sederhana.

Tetapi dia menyebutkan mereka sudah mengusahakan membuat orang mencuci tangan selama 25 tahun dan itu diperkirakan jumlahnya masih lebih rendah. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (17/4/2020), kebiasaan higienis yang sederhana ini memberikan kemungkinan menarik untuk menghindari masalah dan pandmi. Sebuah tinjauan pada 2006 menemukan bahwa mencuci tangan secara teratur dapat mengurangi risiko infeksi pernapasan antara enam hingga 44 persen.

Sejak pandemi Covid-19 muncul, para ilmuwan telah menemukan bahwa budaya mencuci tangan suatu negara adalah prediktor “sangat baik” dari tingkat penyebarannya. Aunger mengatakan, satu masalah dengan mencuci tangan adalah bahwa, terutama di negara-negara maju, Anda dapat menghindari mencuci tangan berkali-kali dan Anda tidak akan jatuh sakit. Ketika hal itu membuat Anda sakit, seringkali berhari-hari kemudian, pada saat itu Anda lupa akan lama hilang dari ingatan.

Bahkan dengan virus corona, mereka mengatakan keterlambatan antara terinfeksi dan melihat gejala apa pun seperti lima, enam hari, sehingga koneksi sangat sulit dilihat. Kemudian ada beberapa faktor yang bisa membuat cuci tangan harus dilakukan atau tidak. Pertama setiap orang harus waspada terhadap optimisme, karena melibatkan keyakinan bahwa hal-hal buruk lebih kecil kemungkinannya terjadi pada diri kita daripada orang lain. Pandangan positif yang irasional ini bersifat universal ditemukan dalam beragam budaya manusia dan lintas demografi seperti jenis kelamin dan usia, dan bahkan pada beberapa hewan, seperti jalak dan tikus.

“Jika kita melihat orang lain mencuci tangan di kamar mandi, itulah yang kita lakukan -tetapi yang terpenting, ketika tidak ada yang melakukannya, ada tekanan untuk tidak melakukannya. Dan pada kenyataannya, orang dapat dilihat sebagai orang yang tidak biasa atau ‘melebihi diri mereka sendiri’ jika mereka melakukannya,” kata Aunger.

Kedua adalah harus bisa mengerti bahwa pemikiran rasional akan berbanding dengan pengalaman. Salah satu alasan para ilmuwan begitu tertarik untuk mengungkap psikologi di balik mencuci tangan adalah karena nyawa bergantung padanya terutama pasien di rumah sakit. Meskipun telah bertahun-tahun pelatihan untuk membuat orang tetap hidup, banyak petugas kesehatan mengabaikan satu kebiasaan dasar yang dapat membantu mencegah penyebaran virus dan bakteri super yang berpotensi mematikan seperti bakteri Clostridium difficile.

Seperti yang mungkin Anda harapkan, penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang tidak mudah tersinggung cenderung mencuci tangan, dan ketika melakukannya, mereka tidak menghabiskan selama di bawah keran. Sebuah studi tahun 2008 menemukan bahwa dokter yang melaporkan membuat keputusan secara intuitif lebih mungkin untuk mencuci tangan daripada mereka yang mengatakan mereka berpikir dengan cara yang lebih rasional. Ini mengisyaratkan bahwa memberikan serangkaian argumen untuk mencuci tangan mungkin bukan cara terbaik untuk meyakinkan orang untuk melakukannya.

“Ini ‘mengusir kami’ yang merupakan hal yang paling membantu,” kata Dick Stevenson, seorang psikolog dari Macquarie University, Australia.

Yang terakhir adalah jaga agar tetap bersih yakni seperti beberapa waktu belakangan di mana banyak lembaga, badan amal, politisi dan gabungan masyarakat yang meluncurkan kampanye mencuci tangan. Selebriti telah melangkah untuk menunjukkan teknik yang tepat, banyak meme cuci tangan telah membanjiri internet, dan bahkan situs-situs porno telah terlibat.

Baca juga: Setelah ‘Tulis’ Pesan Cuci Tangan, Kini Pilot Ingatkan Pesan ‘Stay Home’ di Langit

“Ini adalah pertanyaan penting, karena pada awalnya Anda harus terus memotivasi orang tersebut untuk mencuci tangan dalam situasi tertentu, seperti melalui iklan dan tanda-tanda. Tapi jika ini terus dipertahankan maka perilakunya menjadi kebiasaan. Apa yang kita tidak tahu adalah berapa lama ini berlangsung,” kata Stevenson.

Kata “Check Point” Kondang Setelah PSBB, Ternyata Sebelumnya Justru Terkenal di Jerman

Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta membuat Polda Metro Jaya membuat beberapa titik pos pemeriksaan atau bisa dikenal dengan check point. Bahkan tidak hanya di Jakarta melainkan di seluruh Indonesia ada check point yang dibuat oleh Polisi Republik Indonesia. Kehadiran check point ini guna untuk meminimalisir kendaraan dari luar daerah masuk ke kota agar bisa mencegah penyebar luasan pandemi virus corona.

Baca juga: Intip Yuk 10 Destinasi Favorit Versi Awak Kabin

Nah, ternyata nama check point sudah ada sejak lama dan begitu terkenal di Jerman. Penasaran kenapa check point justru terkenal di Jerman? Ya, ternyata di Jerman ada yang namanya Checkpoint Charlie, yang pada era Perang Dingin merupakan titik di sepanjang Tembok Berlin. Nama Checkpoint Charlie sendiri diberikan oleh Sekutu Barat ke titik persimpangan Tembok Berlin.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kala Perang Dingin terjadi di Jerman, sepanjang area tersebut bayak warga Berlin Timur yang meninggal karena berusaha melarikan diri ke Jerman Barat. Tembok Berlin sendiri dibangun tahun 1961 silam dan runtuh pada 1989.

Kemudian ketika tembok runtuh di tahun 1989 maka pos pemeriksaan tersebut menjadi tempat wisata yang populer dan menjadi salah satu wisata utama di Berlin. Checkpoint Charlie adalah titik persimpangan di Tembok Berlin yang terletak di persimpangan Friedrichstraße dengan Zimmerstraße dan Mauerstraße serta berada di lingkungan Friedrichstadt.

Pos pemeriksaan Charlie ditunjuk sebagai titik persimpangan tunggal (berjalan kaki atau dengan mobil) untuk orang asing dan anggota pasukan Sekutu. Kala itu, anggota pasukan Sekutu tidak diizinkan untuk menggunakan titik persimpangan sektor lain yang dirancang untuk digunakan oleh orang asing, stasiun kereta api Friedrichstraße.

Sayangnya saat ini, Checkpoint Charlie menjadi campuran yang memalukan dari memorial, museum publik dan kepentingan pribadi untuk mengambil keuntungan dari ribuan pelancong setiap harinya. Di mana warga mengorganisir aktor yang berpakaian seolah tentara Amerika untuk berfoto dengan pelancong.

Mereka pun mengutip sekitar tiga Euro untuk sekali foto. Adanya praktik tersebut kemudian dilarang oleh otoritas Berlin pada November 2019 yang menyatakan bahwa para aktor tersebut telah mengeksploitasi pelancong dengan meminta uang untuk foto.

Karena hal ini kemudian pemerintah kota Berlin membangun kembali titik tersebut dan diubah menjadi alun-alun yang dilengkapi dengan Museum Perang Dingin. Nama Charlie ini sendiri diambil dari huruf C dalam alfabet fonetik NATO. Sedangkan Soviet secara sederhana menyebutnya Friedrichstraße Crossing Point.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Jerman Timur secara resmi menyebut Checkpoint Charlie sebagai Grenzübergangsstelle (“Border Crossing Point”) Friedrich- / Zimmerstraße. Sebagai pos pemeriksaan Tembok Berlin yang paling terlihat, Checkpoint Charlie ditampilkan dalam film dan buku. Sebuah kafe dan tempat pengamatan terkenal bagi para pejabat Sekutu, angkatan bersenjata dan pengunjung, Cafe Adler (“Eagle Café”), terletak tepat di pos pemeriksaan. Itu adalah titik pandang yang sangat baik untuk melihat ke Berlin Timur sambil makan dan minum.

Swiss Uji Coba Aplikasi Pendeteksi Covid-19

Aplikasi pelacakan pasien terinfeksi virus corona untuk suatu daerah yang termasuk dalam zona merah sudah dibuat berbagai negara. Kini Swiss juga mulai melakukan hal yang sama dan tengah dalam uji coba pelacakan pada kontak orang terinfeksi virus corona atau Covid-19 ini.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Dilansir KabarPenumpang.com dari engadget.com (26/5/2020), Swiss menguji coba aplikasi ini dengan menggunakan kerangka Apple-Google. Menurut EPFL Universitas Swiss, aplikasi yang bernama SwissCovid ini adalah yang pertama menggunakan kerangka Apple-Google.

Nantinya aplikasi ini akan bekerja menggunakan Bluetooth untuk bertukar data Covid-19. Jika pengguna ternyata positif Covid-19, aplikasi akan mengingatkan pengguna jika mereka berada dekat atau kurang dari dua meter dari orang terinfeksi tersebut dalam jangka waktu yang lama atau lebih dari 15 menit.

Aplikasi ini akan diuji coba pertama kali oleh karyawan di EPFL, ETH Zurich, Angkatan darat, rumah sakit terpilih dan lembaga pemerintahan. Fase uji coba ini diharapkan berlangsung beberapa minggu.

“Sampai hari ini, karyawan di @EPFL, @ETH_en, @vbs_ddps, dan beberapa rumah sakit dan administrasi canton dapat mengunduh aplikasi penelusuran kedekatan digital #SwissCovid. Proyek skala besar ini membuka jalan bagi ketersediaan publik pada pertengahan Juni,” tulis akun EPFL di laman Twitternya.

Selain itu parlemen Swiss harus merevisi undang-undang tentang pandemi untuk memungkinkan aplikasi di luncurkan di seleuruh Swiss pada pertengahan Juni ini. Diketahui, Apple dan Google membuat teknologi pelacakan kontak mereka dan sudah tersedia untuk lembaga kesehatan masyarakat minggu lalu.

Saat ini teknologi tersebut bisa digunakan pada iOS 13.5 dan perangkat Androi 6.0 ke atas. Model ini menggunakan pendekatan “desentralisasi”, di mana operasi utama dilakukan pada ponsel pengguna, bukan di server terpusat. Pendekatan itu dimaksudkan untuk melindungi privasi pengguna dengan lebih baik, dan menurut EPHL, protokol “DP3T” yang didesentralisasi dipimpin oleh dua Institut Teknologi Federal Swiss.

“Ini memberikan tanggung jawab besar kepada penguji Swiss, karena banyak negara lain berniat untuk mengadopsi protokol yang sama di kemudian hari. Kita tahu bahwa sebanyak 22 lembaga kesehatan masyarakat telah meminta API, tetapi tidak jelas berapa banyak dari mereka yang akan menggunakannya. Beberapa negara, seperti Australia, telah meluncurkan aplikasi mereka sendiri,” kata manajer proyek Alfredo Sanchez.

Tak hanya itu, Inggris mengatakan akan menggunakan pendekatan terpusat dan mulai menguji aplikasi sendiri, tetapi dilaporkan mempertimbangkan untuk beralih ke kerangka Apple-Google.

Baca juga: “PeduliLindungi,” Andalkan Bluetooth untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

“Jejak digital ini tidak akan menggantikan langkah-langkah perlindungan, tetapi ini adalah cara terbaik untuk mengendalikan evolusi epidemi,” kata Alain Berset, Dewan Federal di Departemen Dalam Negeri Swiss.

Pertama di Dunia, Taksi Udara EHang 216 Mulai Layani Kargo Udara

Setelah berhasil merealisasikan konsep passenger drone hotel atau hotel drone penumpang pertama di dunia, EHang terus tancap gas. Kali ini, taksi udara otonom pertama di dunia ini dilaporkan telah mengantongi izin untuk melayani kargo udara atau logistik angkutan berat oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CCAC). Dengan begitu, praktis, EHang menjadi kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV) pertama di dunia yang berhasil mendapatkan izin masuki layanan kargo udara.

Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

New Atlas melaporkan berdasarkan peraturan yang diperkenalkan pada Februari 2019 oleh CAAC, EHang menjadi perusahaan pertama yang diberikan sertifikasi kelaikan udara untuk kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV). Uji coba logistik udara saat ini sedang dilakukan di Taizhou, Provinsi Zhejiang Cina, mengangkut kargo dengan muatan sedang hingga berat serta jarak dan medan yang beravariasi, antara permukaan tanah dan lokasi di puncak bukit, serta antara pantai dan pulau.

“Kami sangat senang bahwa CAAC dan EHang memimpin operasional pilot komersial pertama di dunia untuk AAV kelas penumpang untuk keperluan logistik udara. Persetujuan ini sangat penting. Bagi EHang, ini memungkinkan kami untuk meningkatkan keunggulan inovasi kami dan mempercepat komersialisasi teknologi AAV serta solusi mobilitas udara untuk logistik,” kata pendiri, ketua, dan CEO EHang, Hu Huazhi.

“Ini juga meletakkan dasar bagi para regulator di seluruh dunia untuk bersama-sama mengeksplorasi, mendukung, dan membangun ekosistem regulasi berjelanjutan yang terkoordinir dengan baik. Ini akan menguntungkan proses pengembangan jangka panjang dalam pengaplikasian urban air mobility (UAM) yang lebih menjanjikan,” tambahnya.

Berbeda dengan EHang 184 yang melayani penumpang, AAV atau taksi drone EHang yang sekarang diizinkan memasuki layanan kargo udara untuk mengangkut lebih dari 150 kg (330 lb) kargo per penerbangan adalah EHang 216, taksi udara listrik berkapasitas dua orang yang dilaporkan mampu mencapai kecepatan maksimum 130 km per jam dan penerbangan maksimum selama 21 menit per sekali charge.

Sebelumnya, pada pertengahan Mei lalu, taksi terbang drone pertama di dunia, EHang, dilaporkan telah bermitra dengan LN Holdings, platform pariwisata dan grup pengembangan hotel, untuk merealisasikan konsep passenger drone hotel atau hotel drone penumpang pertama di dunia. Dengan konsep tersebut, nantinya para tamu hotel dapat memiliki kesempatan untuk bepergian dengan drone penumpang ikonik EHang sebagai transportasi dan wisata udara di dunia perhotelan.

Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Dronelife.com menulis, hotel drone penumpang dinilai sebagai cara yang brilian untuk memamerkan teknologi wahana terbang otomatis (AAV) dan urban air mobility (UAM). Wisatawan yang mengunjungi Guangzhou akan dapat berkeliling di sekitar landmark kota seperti Menara Canton, Beijing Road, dan Sungai Pearl dari udara. Kemitraan ini berencana untuk menawarkan bukan hanya peluang baru menikmati Kota Guangzhou yang indah, tetapi juga untuk menyisipkan peluang pendidikan dan hiburan seperti pertunjukan lampu drone.

“Program ini akan mempromosikan integrasi inovatif mulai dari tamasya udara (UAM), transportasi wisatawan, logistik udara, pertunjukan cahaya dengan drone, pameran cerdas, hingga pendidikan. Ini juga akan mempromosikan pengalaman baru wisata udara dan mengeksplorasi kasus penggunaan komersial lainnya untuk EHang AAV,” tulis EHang dalam sebuah rilis.

India Kembali Buka Penerbangan, Pilot yang Lama Tak Terbang Harus “Up To Date”

India mulai kembali membuka penerbangan mereka setelah lockdown selama lebih dari sepuluh minggu. Pilot yang tidak bertugas dalam penerbangan kargo dan evakuasi selama lockdown akan kembali memasuki kokpit setelah tinggal di rumah setelah berminggu-minggu. Diperkirakan sekitar 80 sampai 85 persen pilot di India tidak berada dalam kokpit sejak 25 Maret lalu. Mereka dirumahkan setelah larangan penerbangan domestik dan internasional dimulai.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Dilansir KabarPenumpang.com dari thehindubusinessline.com (6/5/2020), setelah penerbangan kembali di buka di Negeri Bollywood tersebut, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil menetapkan adanya batasan waktu penerbangan maksimum untuk pilot adalah 35 jam dalam tujuh hari berturut-turut dan 100 jam dalam 28 hari berturut-turut.

Namun karena mereka sudah puluhan minggu tidak terbang, ketika kembali ke rutinitas, mereka tidak hanya harus menangani jarak sosial dan norma-norma perlindungan lainnya yang diberlakukan sektor penerbangan pasca Covid-19, tetapi yang lebih penting mereka harus up to date dengan keterampilan yang dimiliki.

Hal ini penting karena beberapa pilot berpendapat bahwa prosedur operasi standar atau SOP tertentu yang perlu dipatuhi untuk memastikan tidak ada yang terlewat dalam peraturan penerbangan dan menyelesaikannya dengan aman. Fokusnya lebih pada  penghematan bahan bakar dengan mengambil flap dan gear keluar sedikit kemudian dalam pendekatan,” jelasnya.

Flap adalah perangkat pengangkat tinggi di mana mereka bergerak ke bawah untuk meningkatkan kelengkungan sayap yang meningkatkan daya angkat. Tetapi saat mereka bergerak lebih jauh untuk mendarat, hambatan meningkat secara proporsional. Demikian pula, saat Anda menurunkan roda pendaratan, hal itu menyebabkan peningkatan tarikan saat mencuat dari bawah pesawat dan merusak aliran udara yang efisien di sekitar badan utama pesawat.

Peningkatan daya dorong (tenaga mesin) yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan ini menyebabkan aliran bahan bakar lebih tinggi. Sehingga dengan demikian, tujuannya adalah untuk menunda ekstensi flap ke posisi mendarat dan menurunkan roda pendarat selambat mungkin.

“Kedua hal ini tidak terlalu rumit untuk pilot berpengalaman, mereka harus diatur waktunya dengan benar. Penundaan apa pun dapat menyebabkan pesawat terlalu tinggi pada pendekatan, membutuhkan tingkat keturunan yang lebih tinggi dekat dengan tanah. Atau mungkin datang terlalu cepat, membuatnya sulit untuk memperlambat ke kecepatan pendaratan yang sesuai, yang akan memungkinkan Anda untuk mengambil pendaratan dan mendarat dan berhenti pada panjang landasan yang tersedia, ”kata seorang pilot.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Untuk lebih memastikan bahwa pilot telah diaklimatisasi dengan benar sebelum mengoperasikan penerbangan, mereka juga menjalani penerbangan pengamatan ketika duduk di belakang awak operasi dan mengamati untuk menyegarkan ingatan dalam kehidupan nyata dan skenario praktis.

Sterilkan Kamar Hotel dari Virus Corona, Tips dari Pramugari ini Layak Ditiru

Menikmati liburan dan perjalan saat ini pasti dirindukan oleh banyak orang. Namun pastinya ketika Anda akan kembali bepergian tak lagi sama seperti sebelumnya bahkan mungkin akan lebih menjaga kebersihan di mana pun berada. Seperti seorang pramugari yang menunjukkan harus membersihkan kamar hotel tempatnya menginap ketika pandemi virus corona saat ini.

Baca juga: Bandara Gerald R Ford Tingkatkan Pembersihan Anti Corona dengan Elektrostatik

Seorang pramugari yang tak disebutkan namanya merupakan awak dari SkyQueen, dan saluran media sosialnya ia berbagi rutinitas dalam sebuah video selama 15 menit. KabarPenumpang.com melansir laman thesun.co.uk (15/5/2020), pramugari tersebut mengenakan masker wajah dan menjelaskan proses dari awak hingga selesai sebelum dirinya bersantai di dalam ruangan.

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan tidak membawa virus ke dalam kamar. Dalam videonya, dia memperlihatkan kamar hotelnya di Cleveland, Ohio. Di kamar hotel, ia  menyemprot sepatu dengan desinfektan, kemudian menyemprot tas dan koper yang telah tersentuh dengan orang lain di luar.

“Ambil lap dan pergi melalui kamar mandii,  dan menghapus (lap) semua item yang pernah disentuh orang sebelumnya, seperti saklar lampu, kunci, pegangan seta segala sesuatu yang pernah disentuh, ” kata pramugari itu.

Dia menambahkan, bahwa fokus pada area tempat tidur adalah kunci, di mana Anda meletakkan ponsel dan barang-barang lainnya. Pramugari kemudian menggunakan tisu di meja dan mengatakan gelas plastik sekali pakai harus digunakan sebagai pengganti mug keramik.

“Jelas [membersihkan] telepon dan remote control wajib dilakukan karena selalu kotor,” ujarnya.

Trik lain yang ia sarankan adalah memasukkan remote ke dalam kantong plastik, karena memungkinkan Anda menggunakan perangkat tanpa harus menyentuhnya dengan tangan kosong, dengan mengatakan itu kotor “bahkan tanpa virus corona”. Semprotan desinfektan juga dapat digunakan di tempat tidur, ke atas selimut dan bantal.

Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Kamar mandi tak luput dari upaya pembersihan, yakni keran, toilet flush dan lampu perlu digosok keras. Tips lainnya termasuk menggunakan alkohol gosok pada ponsel, serta memiliki tas terpisah untuk memasukkan pakaian kotor ke dalamnya, sehingga tidak menginfeksi pakaian bersih. Dia menambahkan, setelah semuanya selesai dilakukan untuk pembersihan, ia baru bisa bersantai dan menikmati kamar tersebut.

Petugas Naik ke Pesawat dengan Kostum Hazmat, Timbulkan Kepanikan di Kabin

Orang-orang menggunakan kostum hazmat naik ke pesawat dan membawa seorang penumpang turun sesaat setelah mendarat di Bandara Dublin. Ini kemudian membuat semua penumpang harus tinggal di kursi mereka selama dua jam setelah mendarat dan membuat ketakutan tersendiri.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Para penumpang kemudian diberikan selebaran yang berisi bahwa penerbangan dari Rusia ke Dublin tersebut kemungkinan membawa seseorang yang terinfeksi virus corona. Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk (2/2/2020), seorang penumpang bernama Laura Noona yang mengunjungi Moskow setiap tiga hingga empat bulan untuk perawatan hematologi bersama dengan sang suami Archie o’Connor mengaku menyadari ada seorang penumpang yang sakit di dekat mereka.

“Kami tidak diberi tahu bahwa ada sesuatu yang salah selama penerbangan … kami tidak menyadari ada sesuatu yang ‘salah’ di atas pesawat. Ketika kami mendarat, penumpang berdiri untuk mengambil bagasi kabin untuk meninggalkan pesawat, tetapi kapten kemudian berbicara dan memerintahkan semua penumpang untuk duduk dan tinggal di kabin,” ujar Laura.

Dia mengatakan, tak lama seorang pria naik ke pesawat menggunakan kostum hazmat dan sarung tangan sembari membawa penumpang Cina dari tempat duduknya untuk dibawa turun dan itu melewati banyak penumpang.

“Saya bisa melihat ambulans, polisi bandara dan anggota garda síochána (pasukan polisi Irlandia) di landasan. Beberapa saat kemudian kami diberitahu bahwa ada kemungkinan penyebaran virus corona pada penerbangan dan kami diberi selebaran tentang apa yang harus dilakukan,” ungkapnya.

Setelah itu Laura dan semua penumpang tetap di pesawat dan disuruh menuliskan nomor tempat duduk mereka serta informasi kontak pribadi pada formulir yang disediakan oleh dokter dan pihak kesehatan setempat.

Sebuah pernyataan dari Tim Darurat Kesehatan Masyarakat Nasional berbunyi, “Irlandia telah menyusun rencana sebagai bagian dari kesiapan komprehensifnya untuk menghadapi keadaan darurat kesehatan masyarakat sebagai dampak penyebaran Covid-19.”

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Selain itu, penjelasan tersebut untuk memaksimalkan kemungkinan suatu kasus terdeteksi jika seseorang muncul di sini dan untuk mencegahnya ditularkan ke orang lain. Protokol selalu memastikan bahwa orang-orang yang terlibat dikomunikasikan sepenuhnya dengan dan menyadari apa yang sedang terjadi. Saat ini tidak ada kasus yang dikonfirmasi tentang virus corona di Irlandia.

Inilah Penerapan “The New Normal” di Bandara Bengaluru Pasca Lockdown

India akhirnya selesai mengakhiri masa lockdown tahap ketiga pada 17 Mei lalu. Berbagai sektor pun mulai dibuka kembali, tak terkecuali transportasi udara. Namun, sebelum lockdown berakhir, Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru rupanya telah terlebih dahulu menata diri dengan menyiapkan konsep “The New Normal”.

Baca juga: India Akan Terapkan Aturan Ketat di Bandara Usai Lockdown

The New Normal yang diterapkan Bandara Internasional Kempegowda berupa terpasangnya penanda physical distancing, seperti saat antre self check-in, tempat duduk panjang di seluruh area bandara termasuk di dalamnya seluruh bangku di outlet F&B, skybridge atau garbarata, dan antrean di check-in counter.

Selain itu, untuk mencegah terjadinya penumpukan, pihak bandara memang tak sampai membatasi jumlah penerbangan, sebagaimana terjadi di wilayah lain di India, melainkan mencoba mengantisipasinya dengan mendorong check-in online serta boarding pass elektronik yang juga tercetak bersamaan setelah check-in online.

Tak hanya itu, berbagai protokol kesehatan lainnya juga telah diterapkan, seperti pengukur suhu tubuh, penyemprotan disinfektan secara rutin, fogging di seluruh area terminal, dan fasilitas sanitasi. Semua dilakukan demi mencegah penyebaran virus corona di bandara.

Tak lupa, tentu saja masker wajib digunakan selama di area bandara dan selama di penerbangan. Bila penumpang kedapatan tak memakai masker karena berbagai alasan, mereka dapat membeli di outlet khusus yang sudah disediakan dengan harga terjangkau. Otoritas bandara juga akan memastikan seluruh calon penumpang mengunduh aplikasi Aarogya Setu untuk melacak kontak tracing.

“Langkah-langkah yang diambil termasuk cara untuk memastikan physical distacing, thermal screening, titik-titik sanitasi dan desinfeksi, fogging di seluruh area terminal, dan kebijakan contactless di seluruh outlet di bandara, untuk memastikan para traveler melewati Bandara se-nyaman dan se-aman mungkin,” kata juru bicara Bangalore International Airport Limited (BIAL).

“Tambahan signage (penanda informasi), termasuk di lantai, tempat duduk, di papan informasi digital, dan standees telah dipasang di seluruh penjuru bandara untuk membantu penumpang menjaga jarak yang memadai. Jarak sosial juga akan diberlakukan di area parkir,” tambahnya.

Hari Marar, CEO BIAL menambahkan, para petugas, khususnya di outlet F&B juga akan diharuskan menggunakan APD, untuk melengkapi kebijakan contactless; mulai dari memesan makanan hingga mengambil dan membayarnya. Semua dilakukan guna menekan penyebaran virus coroan di bandara.

“Dengan prioritas tertinggi pada keselamatan penumpang, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya, kami telah menerapkan serangkaian tindakan untuk melindungi penumpang dan meminimalkan paparan dari transmisi virus ketika bandara dibuka kembali,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari indianexpress.com.

Baca juga: Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara

Sebelumnya, jauh sebelum penerapan lockdown dicabut pemerintah, otoritas bandara di India memang telah menyusun rancangan “The New Normal” dengan menjanjikan aturan ketat di seluruh bandara di India, khususnya bandara internasional sebagai gerbang masuk wisawatan mancanegara.

Saat itu, terhitung sejak pertengahan April lalu, otoritas bandara dan pemerintah India telah menyiapkan payung hukum guna memberikan legalitas kepada petugas dalam bertindak di lapangan. Tak heran bila saat ini Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru menerapakan skema tersebut, sebagai bagian dari rencana besar pemerintah.