Pernah Dengar PBE? Inilah Andalan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Pesawat

Insiden di pesawat memang tak pernah diinginkan siapapun, baik penumpang, kru, maskapai, atau bahkan regulator. Namun, ketika itu terjadi perlengkapan atau peralatan pendukung harus sudah tersedia, termasuk saat terjadi sebuah kebakaran. Bila penumpang dilengkapai masker oksigen, maka, awak kabin dan kru kokpit dilengkapai oleh Protective Breathing Equipment (PBE).

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

PBE sendiri adalah alat pelindung diri berupa stadiumpod pribadi yang dirancang untuk melindungi awak pesawat dari asap, karbon dioksida, gas berbahaya, dan kurangnya oksigen akibat adanya kebakaran di pesawat, sambil melakukan upaya memadamkan api.

Secara fungsi, sebetulnya PBE dan masker oksigen penumpang sama saja. Keduanya sama-sama menyuplai oksigen untuk pengguna. Dari segi durasi, keduany juga memiliki sama-sama hanya mampu menyuplai oksigen selama 15 menit. Tetapi, dari segi desain dan perlindungan, keduanya memiliki perbedaan drastis.

Dikutip dari essexindustries.com, masker oksigen penumpang umumnya hanya melindungi mulut dan hidung (pernapasan). Adapun PBE lebih dari itu. Selain dapat melindungi pernapasan, PBE juga dapat melindungi mata dan wajah secara keseluruhan. Hal itu dimungkinkan berkat desain PBE yang menyerupai helm astronot, dimana PBE menutup semua bagian atas, mulai dari kepala sampai ujung leher. Visibiliti pengguna juga cukup memadai, mencapai 270 derajat.

Sebelum digunakan, awak pesawat harus memastikan terlebih dahulu alat tersebut berfungsi atau tidak. Caranya, mudah, cukup melihat tanda berupa lampu indikator yang terletak di tak jauh dari posisi mata di sebelah kiri. Bila lampu indikator berwarna hijau, berarti alat tersebut berfungsi. Selain itu, lampu indikator berwarna hijau juga menandakan bahwa stok oksigen masih aman.

Sebaliknya, ketika lampu indikator berwarna merah, berarti stok oksigen di PBE sudah menipis dan harus segera keluar dari tempat berbahaya. Pasalnya, PBE akan mengalami disfungsi dalam beberapa kondisi tertentu, seperti disimpan di tempat yang kering dan umur penggunaan yang sudah bertahun-tahun.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Mengingat fungsi dan kegunaannya sebagai bagian dari prosedur kesalamatan dan keamanan penerbangan, PBE digunakan hampir 90 persen oleh maskapai di AS. Letaknya pun juga harus se-strategis mungkin, bersama dengan perlengkapan pendukung lainnya, seperti portable oxygen, oxygen mask, alat pemadam portable, serta survival kit. Tak hanya digunakan maskapai penerbangan, berbagai perusahaan bertaraf internasional pun juga selalu menyediakan PBE sebagai salah satu prosedur evakuasi.

Dilihat dari bentuk dan fungsinya, sebetulnya, PBE bisa saja difungsikan sebagai penangkal virus corona. Selain menyediakan oksigen mandiri, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi Essex Industries tersebut juga mampu melindungi pengguna dari droplet atau bahkan airborne virus corona yang notabene dapat menular lewat percikan yang terhirup oleh hidung atau percikan yang Covid-19 ke mata.

Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

Ingin pergi berlibur tapi masih dalam kuncian karena pandemi virus corona atau Covid-19? Sepertinya untuk secara nyata saat ini belum bisa dilakukan untuk semua orang. Bahkan beberapa taman bermain di beberapa negara pun mengajak pengunjungnya berwisata secara virtual yakni dengan melihat video yang di tampilkan di berbagai lini media sosial.

Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

Namun ternyata tak hanya itu, Museum Kereta Api Nasional York atau York’s National Railway Museum (NRM) di York, Inggris justru membagikan sepuluh gambar poster yang mempromosikan tujuan-tujuan indah termasuk Cornwall, pantai Yorkshire dan Irlandia Utara. Serangkaian poster dengan tema vintage bahkan di desain dengan slogan yang mendorong pelancong untuk menahan diri dari mengunjungi tempat wisata sampai Covid-19 benar-benar lenyap.

National Railway Museum and Science and Society Picture Library/PA Wire

KabarPenumpang.com melansir laman independent.co.uk (8/5/2020), rangkaian poster vintage ini awalnya dibuat hanya untuk mendorong masyarakat melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi tersebut menggunakan kereta api. Sayangnya ketika pandemi terjadi, akhirnya pihak museum mendesain ulang poster dengan tambahan slogan seperti “Kunjungi saat semua ini berakhir”, “Tidak berenang hari ini” dan “Suatu hari segera, tetapi tidak hari ini”.

“Pada saat pembatasan perjalanan yang meluas, kami berharap bahwa menciptakan kembali pilihan poster perjalanan paling populer akan memungkinkan orang untuk menikmati beberapa tujuan liburan favorit mereka sambil merayakan gaya dan keunikan dari karya seni ini,” kata Judith McNicol, direktur NRM.

National Railway Museum and Science and Society Picture Library/PA Wire

McNicol mengatakan, ini juga merupakan cara mereka untuk menunjukkan dukungan kepada para pekerja utama bangsa termasuk lebih dari 115 ribu pekerja kereta api yang terus menjaga (infrastruktur) semuanya selama masa pandemi ini. Dia menambahkan bahwa sementara orang tidak dapat mengunjungi lokasi-lokasi indah di akhir pekan libur kali ini.

“Kami berharap, poster-poster yang ditata ulang ini dapat mengangkat senyum dan memberi orang sesuatu untuk dinanti-nantikan ketika lockdown dibuka,” tambah McNicol.

Baca juga: “1940s Weekend Railway at War,” Cara Edukasi dan Nostalgia Sejarah Kereta ala Britania Raya

Saat ini, industri perkeretaapian menyatakan yang boleh bepergian hanya para pekerja atau hanya pada orang yang berkebutuhan penting. Selain itu, juga harus tetap menjaga jarak sosial. NRM sendiri telah ditutup untuk umum sejak 17 Maret 2020 lalu. Diketahui ada 10.700 poster dan karya seni kereta api lainnya berasal dari tahun 1804 hingga hari ini yang menjadi koleksi NRM.

Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun

Presiden Emirates Sir Tim Clark memprediksi akan ada lebih banyak maskapai bangkrut di akhir tahun mendatang. Hal itu dikarenakan industri penerbangan global masih belum akan kembali ke kondisi normal, seperti sebelum adanya wabah Covid-19.

Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

“Saya harus memberitahu bahwa akan ada korban (maskapai bangkrut). Kami (maskapai) tidak bebas dari ini (ancaman kebangkrutan). Pada akhir tahun, akan ada lebih banyak korban. Orang-orang tidak akan bisa bertahan, bahkan dengan suntikan ekuitas, dana talangan, dan lain sebagainya mereka masih akan tetap dalam kesulitan, masih jauh dari harapan (untuk menghindari kebangkrutan),” katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Aviation Week belum lama ini, sebagaimana dilaporkan Simple Flying.

“Jika (krisis) terus berlanjut, semua dana talangan yang diterima semua orang (maskapai) akan lenyap. Jika (anjloknya industri penerbangan) berlangsung selama dua atau tiga bulan lagi, mereka bisa memerlukan paket dana talangan lain,” tambahnya.

Dalam catatan presiden yang juga lulusan ekonomi dari University of London tersebut, maskapai penerbangan Eropa sejauh ini sudah maupun akan menerima paket stimulus dari pemerintah masing-masing dengan total sebesar US$33,7 miliar atau sekitar Rp477 triliun (kurs 1 dollar – Rp14.150). Maskapai penerbangan di AS juga demikian. Setidaknya sebanyak US$25 miliar atau Rp354 triliun telah dikucurkan pemerintah sebagai bentuk pelaksanaan dari UU CARES. Namun, tetap saja itu tidak akan cukup.

Kembali lagi, bila industri penerbangan masih tak juga bergerak naik, lanjut Clark, hanya sedikit pemerintah mana pun di dunia yang sanggup untuk merogoh kocek lebih dalam lagi (per dua atau tiga bulan) untuk mencegah maskapai nasional mereka bangkrut. Bila kondisi seperti ini bertahan setidaknya tiga tahun, sebagaimana prediksi banyak pengamat penerbangan global, artinya pemerintah harus menggelontorkan uang hingga jilid ke-12 (asumsi tiga bulan sekali maskapai butuh paket stimulus dan berlangsung selama tiga tahun).

Tak hanya maskapai, dalam pandangan pria 70 tahun yang telah menjabat Presiden Emirates Airlines sejak 2003 lalu itu, unit bisnis lain di industri penerbangan global juga akan terkena imbasnya, mulai dari produsen seperti Airbus dan Boeing sampai lessor.

Terbukti, Airbus dan Boeing, selain telah mengurangi kapasitas produksi, mereka juga telah mem-PHK ribuan karyawan di berbagai pabrik di seluruh dunia. Lessor pun demikian, dengan ketidakmampuan maskapai dalam membayar kredit akibat bangkrut atau manajemen keuangan yang mengharuskan mereka menahan cadangan uang cash, membuat perputaran uang di tubuh lessor kacau. Pada akhirnya mereka juga akan terkena imbas dari musibah ini.

Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

Senada dengan Clark, CEO Wizz Air, Jozsef Varadi justru memandang persoalan industri penerbangan global lebih rinci lagi. Menurutnya, maskapai akan terkategorisasi menjadi tiga bagian akibat wabah virus corona ini.

“Saya juga berpikir bahwa, mengingat situasi saat ini, Anda mungkin akan melihat maskapai penerbangan terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, maskapai penerbangan yang akan diakuisisi oleh pemerintah. Kedua, maskapai yang dapat menyortir diri mereka sendiri seperti kita (Wizz Air) dan dapat bertahan serta bergerak maju. Ketiga, akan ada maskapai yang terjebak dan kemudian akan bangkrut,” kata bos maskapai Hungaria tersebut.

Panas! Trump Larang Maskapai Cina ke AS Mulai 16 Juni, Begini Kronologinya

Presiden Amerika Donald Trump resmi melarang maskapai Cina masuk ke Amerika Serikat (AS) mulai 16 Juni mendatang. Bila perang dagang antara AS-Cina pada umumnya dimulai lebih dahulu oleh AS, kali ini kronologinya berbeda. Larangan maskapai Cina masuk AS disebut sebagai langkah balasan dari larangan serupa yang dialami oleh dua maskapai AS oleh Cina.

Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker

“Departemen Transportasi Amerika Serikat menanggapi lambannya Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (Cina) untuk mengizinkan maskapai penerbangan AS dalam melaksanakan sepenuhnya hak bilateral mereka, yakni melakukan layanan penerbangan berjadwal dari dan ke Cina,” kata Kementerian Perhubungan (Kemenhub) AS, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Simple Flying.

“(AS) menangguhkan operasional penumpang berjadwal dari semua maskapai penerbangan Cina dari dan ke Amerika Serikat. Kebijakan ini akan berlaku efektif mulai tanggal 16 Juni 2020,” tambah, bunyi keterangan dalam pernyataan tersebut.

Dengan kebijakan tersebut, praktis, empat maskapai Cina, yang notabene mempunyai rute berjadwal ke AS akan terdampak, mulai dari Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Xiamen Airlines.

Air China saat ini mengoperasikan rute segitiga yang membentang dari Beijing-Los Angeles-Tianjin-Beijing. Rute ini hanya beroperasi seminggu sekali. Demikian juga dengan China Eastern Airlines di rute Shanghai-New York (JFK), China Southern rute Guanzhou-Los Angeles dengan Airbus A380nya, dan Xiamen Airlines di rute Xiamen (XMN)-Los Angeles yang kesemuanya memiliki penerbangan berjadwal sebanyak sepekan sekali.

Tak hanya itu, dua maskapai Cina lainnya yang tengah mengajukan penerbangan berjadwal ke Kemenhub AS otomatis juga gagal terbang. Dua maskapai tersebut, Hainan Airlines dan Sichuan Airlines, diketahui akan mulai membuka penerbangan, masing-masing dari dan ke Hainan-Boston dan Hainan-Seattle serta rute Sichuan-Los Angeles mulai 1 Juli mendatang.

Baca juga: China Eastern Klaim Jadi Maskapai Terbesar di Dunia

Kronologi kebijakan larangan terbang yang diberlakukan AS untuk maskapai Cina sebetulnya masih belum begitu jelas. Namun, diketahui, sejak 22 Mei lalu, pemerintah AS memang telah mulai mewajibkan empat maskapai penerbangan asal Cina (Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Xiamen Airlines) untuk mengajukan jadwal penerbangan ke Kemenhub AS. Langkah itu dilakukan sebagai balasan atas upaya Cina menghalangi masuknya dua maskapai AS, United Airlines dan Delta Air Lines. Namun, belum jelas sejak kapan dua maskapai besar AS itu mulai dipersulit masuk ke Cina.

Dengan diberlakukannya larangan terhadap maskapai Cina dan AS, pengamat penerbangan global memang masih menghitung siapa yang paling dirugikan atas kebijakan tersebut. Namun, yang pasti, dengan masih maraknya wabah corona di AS dan sudah mulai menurunnya wabah corona di Cina, besar kemungkinan, maskapai AS akan lebih dirugikan. Selain itu, dalam upaya recovery, pekan lalu, diketahui frekuensi penerbangan penumpang maskapai Cina melebih jumlah penerbangan penumpang maskapai AS.

Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19

Bandara-bandara dunia kini mulai kembali membuka penerbangan domestik maupun internasional. Namun, bagaimana kesiapan bandara-bandara dalam menghadapi penumpang? Sementara pandemi Covid-19 belum juga berakhir.

Baca juga: “The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly

Mengikuti standar yang ditetapkan oleh WHO, semua bandara kini menerapkan langkah-langkah khusus untuk penumpang yang akan bepergian, salah satunya adalah Bandara Zurich di Swiss yang menerapkan langkah unik untuk keselamatan calon penumpang.

Persisnya Bandara Zurich bekerja sama dengan Selecta untuk mengadirkan mesin penjual masker otomatis. Kehadiran mesin ini untuk memudahkan penumpang yang lupa atau tidak membawa masker dari rumah, sehingga bisa membelinya dari mesin penjual otomatis tersebut.

Selain itu juga, bandara menghadirkan robot pembersih ruang ekstra untuk pelancong ketika mengantri di keamanan, konter check in dan gerbang keberangkatan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (29/5/2020), tak hanya bandara yang bersiap, melainkan Lufthansa unit Swiss Internasional dan Edelwiss Air berencana meningkatkan layanan mereka dalam beberapa minggu ke depan ketika pembatasan mulai dibuka kembali bulan depan.

Maskapai-maskapai ini telah bekerja sama dengan Flughafen Zuerich, layanan darat pakaian Swissport dan polisi bandara tentang langkah-langkah keselamatan untuk mematuhi pedoman otoritas kesehatan federal. Operator bandara mengatakan, langkah-langkah lainnya adalah membersihkan pegangan tangan, troli barang, menghadirkan ratusan pembersih tangan dan panel Plexiglas di semua meja.

Bandara Zurich juga menghadirkan ruang ekstra yang lebih luas untuk menghindari terbentuknya keramaian di pos pemeriksaan keamanan bahkan konter pengecekan paspor akan beroperasi sebanyak mungkin. Hal ini dilakukan untuk membantu memastikan jarak fisik atau physical distancing terlaksana dengan baik.

Sementara dari pihak maskapai, yaitu Swiss International Air Lines mendesak para penumpang untuk menutupi hidung dan mulut mereka di penerbangan. Selain meningkatkan pembersihan kabin, maskapai plat merah ini akan memberikan tisu disinfektan kepada penumpang dan menangguhkan layanan dalam pesawat seperti handuk panas dan penjualan bebas bea. Mereka juga tidak berencana untuk membiarkan kursi tengah kosong.

Baca juga: Bandara Tribhuvan Punya Dua Robot yang Bisa Memandu dan Menghibur Penumpang

“Secara komersial tidak ada maskapai yang mampu membiarkan 40 persen kursi di atas kapal kosong. Selain itu, membiarkan kursi tengah kosong tidak menjamin jarak sosial berdasarkan aturan saat ini,” Chief Operating Officer Swiss Thomas Frick.

Virus Corona Bikin Penerbangan Jadi Mahal?

Di awal kemunculan penerbangan jet komersial di tahun 50-an, maskapai penerbangan, seperti Pan Am, United Airlines, dan Qantas, umumnya diisi oleh orang-orang berduit, dengan setelan berupa jas. Sebab, kala itu, tiket pesawat masih mahal. Jelang tahun 80an, barulah era pesawat komersial dengan harga murah dimulai. Bila sebelumnya kabin pesawat dihiasi oleh penumpang dengan setelan berkelas, kini, pemandangan tersebut nyaris 180 derajat berubah.

Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Akan tetapi, kekhawatiran kembalinya era seperti itu pun kembali muncul di kalangan pengamat dan pelaku bisnis penerbangan. Faktor-fator pendorongnya (penerbangan kembali mahal karena tiket menjadi mahal) pun banyak, beberapa di antaranya seperti kebangkrutan maskapai yang menyebabkan berkurangnya kompetisi (ogiopoli atau duopoli) hingga keterbatasan armada akibat banyaknya pesawat yang terpaksa pensiun dini.

Selain itu, pada umumnya, maskapai menetapkan harga dan strategi bisnis ke depan (yang pada akhirnya juga mempengaruhi harga) lewat dua hal, by sistem atau manual, sama saat seperti maskapai hendak membuka rute baru.

By sistem, berarti maskapai dibantu menetapkan harga oleh software khusus dengan cara menganalisis waktu keberangkatan , waktu kedatangan, durasi perjalanan favorit penumpang dan mengkombinasikannya dengan data historis, musim, dan indikator atau kecenderungan pasar seperti event, kompetisi pada rute yang sama, dan sebagainya. Celakanya, data dari semua itu kacau dan besar kemungkinan hasil akhir atau rekomendasi harga tiket dari software tersebut juga tak bisa diandalkan.

By sistem tak maksimal, maskapai bisa saja menetapkan harga tanpa bantuan software atau by manual. Biasanya, pakar manajemen harga juga mengkombinasikan berbagai data di atas untuk menetukan harga. Hanya saja, by manual memiliki satu keunggulan, yakni feeling dalam menetapkan harga sesuai kemampuan atau harapan pasar yang tentu saja tak dimiliki oleh software. Namun, tetap saja problem terbesar penumpang saat ini tak melulu terkait harga mahal, melainkan masalah keselamatan (ancaman dari Covid-19).

Dikutip dari BBC Internasional, dengan kondisi tersebut, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi maskapai. Selain harus tetap beroperasi, maskapai juga tak boleh sekedar beroperasi alias harus untung dalam setiap penerbangan. Normalnya, harga tiket mahal akan menekan jumlah penumpang. Begitupun sebaliknya. Tetapi, virus corona telah mengubahnya akibat kekhawatiran penumpang dalam bepergian. Belum lagi berbagai pendapat yang menyebut industri penerbangan akan kembali normal setelah tiga tahun mendatang.

Oleh sebab itu, bila dengan menurunkan harga tiket jumlah penumpang tak juga kunjung meningkat, sebagaimana ketika maskapai menaikkan harga tiket, tentu maskapai akan lebih memilih menaikkan harga tiket. Terlebih, likuiditas juga menuntun mereka untuk menunda ketersediaan tiket murah selama beberapa tahun mendatang.

Baca juga: Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru

Paul Simmons, seorang eksekutif senior maskapai penerbangan yang berpengalaman di berbagai maskapai di seluruh dunia, seperti EasyJet dan Malaysia Airlines, menyebut bahwa kekhawatiran bangkrutnya banyak maskapai di seluruh dunia akan menimbulkan ogiopoli atau duopoli yang pada akhirnya mendorong harga tiket menjadi mahal kemungkinannya kecil. Sebab, menurutnya, saat maskapai bangkrut, maskapai baru akan muncul. Namun, ketika penerbangan tak kunjung kembali normal, maka besar kemungkinan harga tiket akan menjadi mahal.

“Meskipun beberapa maskapai penerbangan pasti akan gulung tikar, yang lain pasti akan meningkatkan untuk mengisi kekosongan. ‘Diskon’ penawaran dan permintaan mungkin membutuhkan waktu, namun, mengarah pada penetapan harga yang lebih tinggi dalam jangka menengah,” katanya.

Ditjen Penerbangan Sipil Minta Maskapai Kosongkan Kursi Tengah Kabin

Direktorat Jenderal (Ditjen) Penerbangan Sipil atau The Directorate General of Civil Aviation (DGCA) meminta maskapai penerbangan untuk membuat kursi tengah agar tetap kosong sehingga membuat jarak sejauh mungkin antar satu penumpang dengan yang lainnya pada Senin (1/6/2020). Namun sebelumnya Menteri Penerbangan Sipil India, Hardeep Singh Puri mengatakan bahwa mempertahankan kursi tengah agar kosong tidak akan memungkinkan bagi maskapai karena tarif akan naik.

Baca juga: India Kembali Buka Penerbangan, Pilot yang Lama Tak Terbang Harus “Up To Date”

“Jika maskapai penerbangan harus membagikan kursi tengah karena permintaan tinggi, maka ia harus mengatur “peralatan pelindung tambahan” untuk penumpang,” kata DGCA.

Untuk itu, regulator meminta maskapai penerbangan untuk menyediakan masker wajah tiga lapis, pelindung wajah dan baju pembungkus atau seperti kostum hazmat dengan standar yang disetujui oleh Departemen Tekstil bagi penumpang yang menempati kursi intervensi dalam kabin pesawat.

Diketahui, India mulai kembali membuka penerbangan mereka setelah hampir dua bulan karena penguncian nasional. Penerbangan tersebut untuk domestik dan internasional akan dibuka sebelum Agustus.

KabarPenumpang.com melansir livemint.com (1/6/2020), dalam penerbangan yang kini kembali dibuka, tidak akan ada lagi makanan dan minuman yang disediakan dalam kabin kecuali dalam keadaan genting. DGCA mengatakan, penumpang yang masuk dan keluar pada penerbangan harus berurutan atau penumpang tidak lagi diperkenankan untuk buru-buru ketika pesawat mendarat dan pintu dibuka.

Pihak regulator juga mengatakan, persediaan di pesawat harus dibersihkan dan disanitasi selama perjalanan. Kemudian ketika penumpang sudah tidak ada di dalam kabin, seluruh bagian pesawat harus disanitasi setiap sudutnya. Bahkan ketika pesawat melakukan penerbangan transit, maskapai juga bisa membersihkan kursi yang dikosongkan.

“Sabuk pengaman dan semua titik yang titik kontak lainnya harus dibersihkan secara menyeluruh. Pada akhirnya setiap pesawat harus dibersihkan dengan mendalam,” saran regulator.

Selain memperhatikan penumpang, maskapai juga harus melakukan pemeriksaan kesehatan semua kru secara teratur dan ketika bertugas, semua awak kabin harus diberi pakaian pelindung lengkap. Dalam kasus darurat COVID-19 di dalam pesawat, maskapai harus mendisinfeksi semua kursi yang terkena dampak dan bersebelahan.

Ditjen Penerbangan Sipil meminta otoritas bandara dan perusahaan penerbangan untuk mengeksplorasi kemungkinan memiliki terowongan desinfeksi untuk memastikan keselamatan penumpang. Tapi implikasi kesehatan dari terowongan desinfeksi harus dievaluasi sebelum implementasi.

DGCA menyebutkan, pedoman yang sebelumnya ditentukan oleh regulator dan kementerian penerbangan sipil akan tetap berlaku dengan arahan tambahan ini. Sedangkan regulator penerbangan mengatakan, aturan baru akan mulai berlaku mulai 3 Juni 2020.

Setelah wabah virus corona di negara itu, Kementerian penerbangan sipil merilis seperangkat pedoman baru di mana penumpang perlu mencapai bandara setidaknya dua jam sebelum jadwal keberangkatan. Hanya penumpang dengan konfirmasi check in web yang diizinkan untuk memasuki terminal bandara.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Kementerian penerbangan sipil menambahkan bahwa tidak akan ada check in fisik di loket. Penumpang harus berjalan kaki melewati zona penyaringan panas sebelum memasuki gedung terminal bandara. Masker dan sarung tangan adalah wajib untuk semua. Hanya asimptomatik yang akan diizinkan bepergian. Semua penumpang harus menginstal aplikasi Aarogya Setu di ponsel mereka kecuali anak-anak di bawah usia 14 tahun dan hanya satu tas check in yang diizinkan.

Indonesia Pertimbangkan Undang Cina dan Jepang untuk Bahas Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Menteri Ekonomi Airlangga Hartanto setelah pertemuan kabinet dengan Presiden Joko Widodo pada hari Jumat (29/5/2020) mengumumkan bahwa Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengundang perusahaan-perusahaan Jepang dalam integrasi jalur kereta api cepat yang akan mereka bangun dari Jakarta ke Surabaya. Nantinya pembangunan kereta cepat Jakarta ke Surabaya ini akan menggunakan skema milik Cina dengan dana $6 miliar seperti pembangunan dari Jakarta menuju Bandung.

Baca juga: Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021

“Agar lebih ekonomis menurut presiden, proyek kereta api Jakarta – Bandung tidak hanya berakhir di Bandung tetapi terus ke Surabaya,” ujar Airlangga yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman globalconstructionreview.com (1/6/2020).

Dia menyebutkan tidak akan ada pembatalan proyek kereta cepat Jakarta ke Surabaya melainkan akan diintegrasikan ke dalam proyek kereta api cepat Jakarta – Bandung. Airlangga menambahkan, bahwa presiden juga mengusulkan konsorsium investor Jepang untuk bergabung dengan konsorsium Indonesia-Cina yang membangun jalur ke Bandung.

Airlangga mengatakan ide ini sendiri merupakan bagian dari tinjauan strategis yang lebih luas dari 89 proyek infrastruktur senilai sekitar US$100 miliar yang direncanakan selama empat tahun ke depan yang akan dilakukan setelah pandemi Covid-19. Diketahui, Cina dan Jepang merupakan saingan dalam penawaran untuk kontrak kereta api berkecepatan tinggi.

Untuk jalur Jakarta menuju ke Bandung dimenangkan oleh Cina pada 2015 lalu dan Jepang mencapai kesepakatan pada proyek kereta Jakarta ke Surabaya pada September 2019 lalu setelah dua tahun negosiasi. Jalur Jakarta ke Surabaya sendiri diharapkan memasuki layanan pada tahun 2025 mendatang.

Baca juga: PT KCIC: Akhir 2019 Progres Kereta Cepat Jakarta-Bandung Ditargetkan Tembus 53 Persen

Saat ini diketahui proyek kereta cepat Jakarta ke Bandung menghadapi penundaan satu tahun sebagai akibat dari pandemi virus corona yang melanda dunia. Penundaan ini juga terjadi karena sekitar 300 staf Cina pulang untuk merayakan Tahun Baru Imlek di bulan Februari dan tidak dapat kembali setelah Indonesia melarang penerbangan ke dan dari Cina.

Tak hanya itu hubungan para pekerja proyek dari direktur, manajer, insinyur dan konsultan Cina pun menjadi terhambat untuk saat ini.

Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

Lion Group yang terdiri dari Lion Air, Batik Air dan Wings Air, memutuskan untuk melakukan penghentian sementara operasional penerbangan penumpang berjadwal domestik dan internasional, mulai 5 Juni 2020 sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut (until further notice/ UFN).

Baca juga: Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara

Dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com, keputusan tersebut diambil atas dasar evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya. Catatan mereka, banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara akibat kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Akan tetapi, atas dasar penelusuran singkat ke beberapa calon penumpang Lion Air yang gagal terbang, mayoritas dari mereka mengaku sudah melengkapi persyaratan yang sudah ditentukan sebelumnya. Hanya saja, di beberapa kasus, justru terdapat perubahan ketentuan dan pada akhirnya membuat penumpang tersebut tidak masuk klasifikasi terbang.

Selain itu, muncul dugaan, bahwa keputusan Lion Group untuk kembali batal terbang saat proses recovery (ditandai dengan bergeraknya kembali lini bisnis di bawah tatanan The New Normal) lebih dikarenakan mereka takut rugi besar.

Pasalnya, dengan rendahnya minat penerbangan, praktis, tak ada yang bisa diharapkan dari sebuah penerbangan kecuali rugi. Dalam keadaan normal, pasca lebaran penerbangan akan kembali memasuki fase low season. Bila dalam keadaan normal saja, low season pasca lebaran load factor rendah, bagaimana kondisi tersebut ditambah dengan adanya kekhawatiran calon penumpang terhadap ancaman virus corona? Tentu akan semakin membuat penerbangan sepi peminat.

Tak hanya itu, menurut seorang pengamat penerbangan yang tak ingin disebutkan namanya, pemberlakuan PSBB di beberapa wilayah juga membuat kargo ikut sepi. Padahal, di banyak kasus, antara kargo dan penumpang, maskapai justru lebih banyak mendapat revenue dari kargo. Jadi, dengan sepinya penumpang dan kargo, praktis, maskapai tak ada pilihan lain kecuali menunggu ekosistem industri penerbangan kembali normal.

“Dugaan saya, mereka ‘pintar’ dengan menunggu ekosistem (penerbangan) terbentuk kembali (normal) dan setelah itu barulah kemudian mereka kembali seperti sediakala,” katanya.

Sebagai sebuah perusahaan swasta, tentu Lion Group tak punya kewajiban atau paling tidak tanggung jawab untuk tetap menyediakan moda transportasi udara sekalipun secara kalkulasi atau hitungan di atas kertas, penerbangan ke dan dari manapun dan dengan pesawat apapun akan mengalami kerugian.

Singkatnya, masih menurut pengamat tersebut, Lion Group cenderung ‘pintar’ untuk menunggu ekosistem industri penerbangan, baik berurusan dengan kargo maupun penumpang, terbentuk kembali; meskipun perusahaan yang berdiri sejak tahun 1999 tersebut memberikan alasan lain. Hal itu dilakukan guna menghindari kerugian besar.

Celakanya, sebagai maskapai dengan market share terbesar (pada tahun 2018 mencapai 51 persen) , langkah Lion Group pada akhirnya dinilai oleh sebagian pengamat menjadi acuan maskapai lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

Di saat yang bersamaan, Garuda Indonesia, sebagai maskapai BUMN yang memiliki tanggung jawab lain untuk tetap menyediakan moda transportasi udara, ‘dibiarkan’ oleh Lion Group untuk ‘menikmati’ pangsa pasar dengan leluasa. Nantinya, setelah ekosistem industri penerbangan kembali terbentuk, barulah Lion Group memulai kembali operasionalnya, tanpa harus mengeluarkan cost besar untuk proses recovery selama diberlakukannya The New Normal.

Menurut seorang pengamat penerbangan lainnya, keputusan ‘pintar’ Lion Group dengan membiarkan Garuda Indonesia melayani sepinya penumpang dipandang sebagai keputusan yang sah-sah saja. Perusahaan swasta pada umumnya memang sudah barang tentu fokus hanya pada sisi bisnis saja.

Tetapi, pengamat penerbangan yang juga eks kapten pilot tersebut mengungkap, sebetulnya titik permasalah bukan ada pada Lion Group, melainkan ada pada pemerintah. Dengan market share besar, tentu, langkah Lion Group (dengan alasan apapun) akan sangat berpengaruh dalam upaya menyediakan moda transportasi udara untuk masyarakat.

Baca juga: Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi

“Persoalannya adalah mengapa pemerintah membiarkan mereka menguasai pasar lebih dari 50 persen. Nah, dalam keadaan normal kalau tiba-tiba mereka berhenti (dengan alasan apapun) maka masyarakat yang menderita dan juga berdampak pada perekonomian. Semoga kedepan pemerintah RI lebih hati-hati dalam menata komposisi penerbangan,” katanya melalui pesan singkat kepada KabarPenumpang.com.

Grab Minta Pengemudi dan Penumpang Isi Form Pernyataan Kesehatan Sebelum Melakukan Perjalanan

Para pengguna ride hailing saat ini tidak akan bisa duduk di kursi depan penumpang ketika naik mobil. Bahkan salah satunya yakni Grab meminta para penumpang juga harus mengisi keterangan kesehatan dan kebersihan sebelum melakukan perjalanan.

Baca juga: Di Singapura, Private Hire Car Bila Beroperasi Dianggap Ilegal dan Kena Denda $10 Ribu

Hal ini merupakan serangkaian tindakan pencegahan yang diperkenalkan Grab di Singapura pada akhir bulan ini (Juni 2020-red) untuk menghadapi pandemi Covid-19. Grab mengatakan pihaknya juga memberlakukan jarak yang aman di dalam kendaraan sehingga penumpang tidak diperbolehkan duduk di kursi sebelah pengemudi.

“Ini artinya mobil dengan empat kursi hanya akan diisi oleh tiga penumpang,” ujar Grab.

Selain itu Grab menyebutkan, pengemudi maupun penumpang bisa membatalkan perjalanan jika salah satu dari mereka tampak tidak sehat atau tidak menggunakan masker.

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (3/6/2020), nantinya pihak manapun yang membatalkan perjalanan tidak akan bertanggung jawab atas hukuman apa pun. Terkait persyaratan untuk menyatakan status kesehatan dan kebersihan, Grab mengatakan para pengemudi dan penumpang mengirimkan pernyataan kesehatan mereka setiap hari.

“Fitur pernyataan kesehatan dan kebersihan online baru akan mengharuskan semua pengemudi dan mitra pengiriman, serta penumpang, untuk mengonfirmasi bahwa mereka tidak menunjukkan gejala Covid-19, dan telah mengadopsi langkah-langkah keselamatan dan kebersihan yang diperlukan, sebelum mereka dapat mulai mengemudi, mengantarkan pesanan atau memesan tumpangan,” kata Grab.

Tak hanya itu, pengemudi dan mitra pengiriman juga akan diminta untuk mengambil selfie menggunakan fitur masker selfie setelah menyelesaikan pernyataan tersebut.

“Kami telah memperbarui peringkat dan sistem umpan baliknya untuk memungkinkan pengguna melaporkan masalah terkait kesehatan dan kebersihan,” ujar Grab.

Pengemudi dan penumpang yang kedapatan melakukan tindakan pencegahan secara tidak memadai dapat membuat akun mereka ditangguhkan. Kepala operasi regional Grab Singapura, Russell Cohen, mengatakan perusahaan sedang mencari cara untuk menetapkan standar yang lebih tinggi untuk standar higiene dalam perjalanan naik.

Perusahaan GoJek dan operator taksi, ComfortDelGro, keduanya mengatakan bahwa mereka juga telah melakukan tindakan, ketika ditanya tentang tindakan pencegahan Covid-19 mereka. Manajer umum GokJek, Lien Choong Luen, mengatakan para pengemudi akan mendapatkan layanan fogging dan sanitasi mobil gratis.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

Kepala komunikasi korporat grup ComfortDelGro, Tammy Tan, mengatakan armada taksinya memiliki sistem SafeEntry untuk pelacakan kontak. Dia menambahkan bahwa 400 taksi ComfortDelGro sedang dilengkapi dengan perisai plastik di sekitar kursi pengemudi sebagai bagian dari persidangan. Jika berhasil, itu akan diperluas ke lebih banyak armadanya sebagai cara untuk meminimalkan kontak dengan penumpang.