Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Banyak maskapai yang mulai mendaratkan sebagian besar pesawat mereka karena virus corona (Covid-19) yang merebak di berbagai dunia. Namun berbeda dengan salah satu maskapai milik Vietnam, yakni Vietjet yang justru memungkinkan penumpangnya mengklaim hingga 200 juta Dong Vietnam atau sekitar Rp138 juta jika terinfeksi Covid-19 saat bepergian dengan pesawat mereka.

Baca juga: Virus Corona Merajalela, Apakah Pelancong Bisa Klaim Asuransi Ketika Terjangkit Saat Berlibur?

Klaim ini sendiri merupakan bagian dari program polis asuransi yang diluncurkan Vietjet bernama ‘Sky Covid Care’. Program asuransi ini sendiri berlaku untuk semua penerbangan domestik maskapai berbiaya hemat (LCC) asal Vietnam itu sejak 23 Maret hingga 30 Juni 2020 mendatang.

KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai laman sumber, klaim asuransi tersebut berlaku untuk semua penumpang yang memenuhi syarat tanpa aturan yang dibatasi usia dan kewarganegaraan. Bahkan dalam pernyataan resminya, Vietjet siap mengelontorkan puluhan miliar Dong Vietnam untuk memastikan bahwa pelanggannya merasa nyaman ketika bepergian selama krisis ini berlangsung.

“Keselamatan dan kesehatan penumpang dan awak kabin mendapat perlindungan utama terhadap semua risiko penyakit. Dengan asuransi ini, penumpang berhak atas pertanggungan asuransi dan manfaat dari Vietjet dalam waktu 30 hari mulai pukul 00.01 dari tanggal penerbangan, terlepas dari bagaimana penumpang terinfeksi penyakit tersebut,” tulis Vietjet.

Adanya program ini, maskapai milik Vietnam tersebut meyakini bahwa pesawat mereka aman dari paparan Covid-19. Untuk bisa mengklaim ini, pihak maskapai mengatakan bahwa calon penumpang harus memberikan semua informasi sesuai dengan syarat dan ketentuan Vietjet saat membeli tiket.

Selain itu, penumpang harus mematuhi semua tentang prosedur pencegahan dan pengendalian Covid-19 yang diberlakukan Kementerian Kesehatan dan pihak berwenang. Namun, sayangnya bagi penumpang yang telah dikonfirmasi positif Covid-19 sebelum naik pesawat milik Vietjet dianggap tidak memenuhi persyaratan.

Bagi penumpang yang melanggar prosedur keselamatan selama perjalanan, seperti melanggar aturan social distancing yang diberikan Kementerian Vietnam, juga tidak memenuhi persyaratan. Pihak maskapai menegaskan, bahwa mereka hanya memberikan premi asuransi kepada penderita Covid-19 yang tepapar saat dalam penerbangan.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Dalam artian, penderita penyakit epilepsi, penyakit mental, atau tindakan bunuh diri bukan bagian dari prosedur yang diberlakukan. Untuk mengajukan klaim, penumpang harus memberikan bukti bahwa mereka telah dites positif terkena virus corona (tunduk pada tes yang disetujui oleh Departemen Kesehatan Vietnam) dan bukti bahwa mereka dirawat “di rumah sakit atau di pusat kesehatan resmi yang terletak di wilayah Vietnam.” Pada 25 Maret, Kementerian Kesehatan Vietnam telah mengkonfirmasi total 134 kasus di negaranya.

Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Maskapai global ramai-ramai mengurangi kapasitas penerbangan mereka hingga angka yang cukup fantastis. Singapore Airlines dan Cathay, misalnya, memangkas kapasitas penerbangan hingga 96 persen. Akibatnya, tentu saja berimbas pada banyaknya pesawat yang terpaksa di-grounded akibat sepinya penerbangan di tengah terjangan wabah virus corona.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Dikutip dari Simple Flying, data jumlah pesawat yang digrounded oleh maskapai jumlahnya sangat mengejutkan. Pada 25 Maret lalu, analis data penerbangan, Cirium, melaporkan ada lebih dari 6.600 pesawat yang digrounded, tepatnya 6.639 unit.

Meskipun demikian, angka tersebut diperkirakan belum final alias masih akan terus bertambah di tengah masifnya pembatasan perjalanan antar negara bahkan antar benua. Bisa saja hari ini, angkanya berubah menjadi dua kali lipat, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, sekalipun di Cina sudah mulai membaik.

Dari total pesawat yang digrounded tersebut, antara pesawat Airbus dan Boeing, perbandingannya tidak terlalu berbeda jauh. Pesawat buatan pabrikan asal Amerika tersebut, saat ini jumlahnya ada 2.542, dengan rincian 1.671 narrowbody dan sisanya, 871 adalah pesawat widebody.

Boeing 737 merupakan penyumbang angka terbesar untuk pesawat narrowbody dengan total 1087 unit, termasuk -200, model Klasik, dan Next Generation atau NG. Itupun belum termasuk 737 MAX. Bila ditambah dengan pesawat yang telah digrounded setahun lebih itu, totalnya mencapai 1470 unit, dimana MAX menyumbang 383 unit. Sisanya, seperti Boeing 717, 727, 747, 757, 767, 777, dan 787, masing-masing sebanyak 45, 6, 108, 150, 154, 376, dan 233 unit pesawat.

Adapun pesawat buatan Airbus, jumlahnya sedikit lebih tinggi, mencapai 2.608 unit. Sama seperti Boeing, pesawat narrowbody Airbus menjadi penyumbang terbesar dengan 1.837 dan 771 sisanya adalah widebody.

Airbus A320, yang notabene pesaing utama Boeing 737, menjadi penyumbang terbesar pesawat yang digrounded dengan 948 unit. Kemudian disusul A330 dengan 467, A319 sebanyak 338, A321 sebanyak 325, A340 sebanyak 117, A320neo 112, A380 84 unit, A350 66 unit, A321neo 58 unit, Airbus A220 33 unit, A318 23 unit, A330neo 18 unit, A300 11 unit, dan A310 sebanyak 8 unit.

Selain melacak jumlah pesawat yang digrounded, Cirium juga melacak data penerbangan yang tengah beroperasi saat ini. Pada hari Senin, 23 Maret, misalnya, Airbus A330 di seluruh dunia tercatat mengoperasikan kurang dari 600 penerbangan menggunakan 300 pesawat dengan total jam terbang mencapai 3000 jam. Bila dibandingkan dengan 16 Maret lalu, jumlah tersebut terkoreksi turun sebesar 50 persen. Namun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, perbandingannya lebih besar lagi, dengan persentase penurunan pesawat aktif mencapai 70 persen dan penurunan jam terbang mencapai 80 persen.

Contoh lainnya, Boeing triple seven atau 777, misalnya, angkanya juga cukup memprihatinkan. Pada tanggal 22 Maret hingga 15 Maret, jumlah total jam terbang dan siklus penerbangan Boeing 777 menurun sekitar sepertiga. Bila dari periode tersebut datanya digabungkan, total ada 1.200 siklus penerbangan lebih sedikit dan pengurangan 8.000 jam penerbangan antara kedua tanggal tersebut.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Selanjutnya, dari data-data di atas, pertanyaan yang paling mungkin adalah, dimana maskapai menyimpan pesawat? Bandara utama di masing-masing negara masih menjadi pilihan favorit maskapai untuk meng-grounded pesawatnya. Bahkan, di beberapa bandara utama, seperti di Hartsfield Jackson di Atlanta, Amerika Serikat dan Paris Charles de Gaulle, Perancis, saking banyaknya pesawat yang parkir, otoritas bandara setempat sampai harus menutup landasan pacu semata untuk menampung pesawat.

Sementara di negara lainnya, utamanya bagi maskapai yang tidak kedapatan tempat untuk meng-grounded armadanya di bandara utama, mereka memilih untuk meng-grounded pesawat di bandara tertutup. Kemudian, bilapun harus memaksa parkir pesawat di bandara utama, karena akses yang lebih mudah, di beberapa bandara bahkan harus membuat apron serta ruang penyimpanan tambahan sementara untuk menampung pesawat.

Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Raksasa produsen pesawat Eropa, Airbus, dilaporkan tengah berupaya membuat ventilator untuk membantu pemerintah Inggris melawan virus corona. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus berharap dapat segera diberikan lampu hijau untuk memproduksi 30 ribu ventilator mulai pekan depan.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Dalam proyek tersebut, Airbus ikut terlibat dalam penyediaan desain tiga dimensi dan fasilitas. Sadar produksi akan lebih cepat bila dilakukan bersama-sama, Airbus, melalui Ventilator Challenge UK kemudian menggandeng berbagai perusahaan lainnya, seperti Smiths Medical, dari Luton untuk membuat desain ventilator, serta Penlon, manufaktur medis yang berbasis di Abingdon, Oxfordshire.

Berbeda dengan Airbus yang menggandeng beberapa vendor, Dyson justru yakin, pengalaman dalam memproduksi mobil listrik serta mendesain dan memproduksi peralatan rumah tangga seperti penyedot debu, pembersih udara, pengering tangan, kipas tanpa noda, pemanas, pengering rambut, dan lampu dapat membuat mereka memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

Sebab, dari situ, produksi mereka bersinggungan dengan ventilator, seperti membuat motor digital, baterai, keahlian terkait aliran udara, dan filter HEPA, yang mampu membunuh partikel kecil hingga 99,9 persen. Dengan begitu, produksi ventilator bisa lebih cepat.

Seperti diwartakan The Guardian, pasalnya, di antara peralatan medis yang paling dibutuhkan di Inggris, ventilator adalah salah satunya, di samping jumlahnya yang sangat sedikit. Dalam laporan Kementerian Kesehatan Inggris atau National Health Service (NHS), saat ini Inggris hanya memiliki kurang dari 10 ribu ventilator di seantero negeri.

Oleh karenanya, konsorsium Ventilator Challenge UK yang dipimpin Airbus berencana untuk meningkatkan produksi ventilator yang ada dan juga diharapkan mendapatkan dukungan dari Westminster (keluarga kerjaan).

Selain dua perusahaan tersebut, Dyson dan Airbus, serta beberapa perusahaan lainnya yang digandeng Airbus, kegentingan yang terjadi juga membuat pemerintahan mendorong raksasa manufaktur lainnya untuk ikut terlibat. Mulai dari manufaktur otomotif hingga manufaktur alat kesehatan, seperti Mclaren, Nissan, Rolls Royce, dan Inspiration Healthcare.

Terbukti, dalam hitungan hari, mereka sudah menyelesaikan prototipe ventilator untuk pasien virus Corona (COVID-19). Menurut Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, jika tidak ada halangan, ventilator tersebut sudah bisa digunakan rumah sakit per pekan depan.

Baca juga: Jay Robert: “Pekerjaan Awak Kabin Telah Berubah Drastis dalam Sebulan Terakhir”

“Lebih dari enam manufaktur telah membuat protitpe (ventilator) untuk kami cek. Bisa kami katakan kami puas dengan hasilnya,” ujar Hancock sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, beberapa waktu lalu.

Hingga kini, Covid-19 telah merenggut korban jiwa sebanyak 578 pasien dan ribuan lainnya dinyatakan positif terpapar virus yang berasal dari Wuhan itu.

Wow, Ada Kereta Melintas di ‘Dalam’ Pusat Grosir Surabaya!

Ada yang unik di kota Surabaya dan mungkin hal tersebut tidak diketahui oleh banyak orang. Penasaran apa hal uniknya? Ternyata di kota berlambang buaya dan hiu itu memiliki jalur kereta api yang melintas di dalam sebuah mall.

Baca juga: Permudah Transportasi Urban, Tiongkok Bangun Rel Kereta di Apartemen

Ya, mall ini merupakan sebuah pusat grosir terbesar di Surabaya yang bernama Pusat Grosir Surabaya (PGP). Letaknya sendiri dekat dengan Stasiun Pasar Turi Surabaya. Sehingga para pelancong yang berbelanja di pusat grosir ini lebih mudah pergi dan pulang.

Nah, sebenarnya ini jalur kereta untuk penumpang atau barang ya? KabarPenumpang.com melihat dari YouTube, ternyata kereta yang melintas adalah kereta barang. Namun apakah kereta penumpang juga melintas di jalur kereta yang ada di mall tersebut? Seorang warga Surabaya yang ditanya oleh KabarPenumpang.com mengatakan rangkaian kereta yang melintas adalah rangkaian kereta barang.

“Yang lewat ke dalam mall itu rangkaian kereta barang bukan kereta penumpang,” kata Harry, warga kota Surabaya.

Dia mengatakan, jalur ini kereta sama sekali tidak mengangkut penumpang, karena kereta yang melintas berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak dan Depo. Harry mengatakan, meski begitu pusat grosir tersebut dekat dengan Stasiun Pasar Turi tapi jalur keretanya berbeda.

Dari video yang tersebar di Youtube tersebut, terdengar dengan jelas suara pluit dan lokomotif yang akan melintas. Tak lama kemudian sebuah lokomotif yang menarik barang-barang keluar dari bawah mall tersebut.

Melintasnya sebuah kereta di mall mengingatkan pada sebuah kereta di Cina tepatnya di Chongqin yang melintas langsung melalui blok flat apartemen atau rusun. Di apartemen Cina ini, kereta yang melintas adalah kereta ringan yang mengangkut penumpang.

Kereta ringan yang melewati rusun atau apartemen di kota ini adalah Chongqing Rail Transit Line nomor 2. Uniknya lagi, kereta ini melewati rusun atapartemen setiap hari dan ada kemungkinan kereta ringan ini berjenis LRT (Light Rail Transit) Monorel yang mampu mengangkut banyak penumpang dan tidak berisik.

Kereta ringan Chongqing Rail Transit Line nomor 2 ini adalah salah satu sistem transportasi di kota dengan luas 31.000 mil persegi dengan populasi sekitar 49 juta orang. Bisa dikatakan, kota ini bukanlah kota besar, melainkan kota kecil dengan penduduk yang padat dan berdesakan. Hal ini jugalah yang membuat perencanaan kota harus memiliki solusi yang efisien untuk sistem transportasinya.

Baca juga: Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Kereta ringan ini, memiliki radius kecil dan mampu menampung banyak orang. Tak hanya itu, kereta ringan ini juga dibuat melalui jalan-jalan kecil dan untuk memadukan sistem kereta dengan lingkungan sekitarnya. Sejak proses perencanaanya, LRT ini dibuat melalui rusun atau apartemen, pihak pengembang melakukan koordinassi dengan pejabat tata kota untuk membuat desain yang tepat dan memungkinkan kereta bisa melalui bangunan.

Begini Cara Maskapai Dunia Terapkan Physical Distancing di Pesawat

Selama beberapa waktu belakangan, banyak maskapai memangkas sebagian besar kapasitas penerbangan mereka. Dampaknya, banyak pesawat yang terpaksa harus digrounded. Namun, bagi pesawat yang tetap harus melayani penerbangan, bagaimana anjuran social distancing, yang kini ditingkatkan menjadi physical distancing, dapat diterapkan?

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Dikutip dari laman samchui.com, berbagai maskapai di dunia yang masih melayani penerbangan, khususnya domestik, melakukan berbagai upaya berbeda dalam menerapkan physical distancing. Air New Zealand, misalnya, harus membatasi penjualan setiap penerbangan mereka demi terciptanya physical distancing.

Setidaknya ada dua tipe physcal distancing yang diterapkan maskapai asal Selandia Baru tersebut. Pada pesawat kecil atau konfigurasi 2-2, pesawat ATR, misalnya, maskapai hanya menjual deretan kursi yang menempel dengan jendela saja. Adapun untuk pesawat agak besar dengan konfigurasi 3-3, seluruh kursi tengah wajib dikosongkan.

Meskipun belum sesuai standar yang direkomendasikan Centers for Disease Control atau CDC, sekitar 1,8 meter, menurut seorang analis, paling tidak itu adalah upaya yang sejauh ini bisa lakukan maskapai mengingat keterbatasan ruang, selain maskapai juga harus memaksimalkan ruang.

“Kami mungkin memiliki pengalaman di atas kapal, di deretan enam kursi di kelas ekonomi di pesawat, mereka diharuskan untuk menjaga kursi tengah kosong untuk beberapa jarak sosial,” kata Stephen Trent, seorang analis di Citigroup, seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Senada dengan Air New Zealand, maskapai dalam negeri, Lion Grup, juga sudah mulai menerapkan physical distancing di dalam kabin dengan konsep yang sama, yakni mengkosongkan kursi tengah pada pesawat dengan konfigurasi 3-3.

Menariknya lagi, physical distancing bahkan bukan hanya ketika di dalam pesawat. Pengaturan physical distancing juga berlaku ketika penumpang berada di ruang tunggu (waiting room) dan pada saat proses masuk ke dalam kabin pesawat (boarding), baik yang menggunakan tangga belalai (garbarata) dan tangga biasa. Pengaturan ini juga berlaku bagi penumpang yang berada di dalam bus (neoplane) saat menuju ke pesawat dan turun dari pesawat.

Selain kedua maskapai tersebut, maskapai lainnya di berbagai belahan dunia, secara substansial, mungkin belum mulai menerapkan physical distancing. Namun, secara teknis, mungkin termasuk menjalankan. Cathay Pacific, Virgin Australia, dan Delta Airlines, misalnya, ketiga maskapai tersebut mengizinkan para penumpang untuk berpindah ke tempat yang kosong. Hal itu mungkin saja terjadi, mengingat load factor seluruh maskapai di dunia, tak terkecuali ketiganya, tengah anjlok.

Dengan begitu, pasti banyak kursi kosong di pesawat yang bisa dimaksimalkan untuk pengaturan physical distancing. Hanya saja, penumpang tetap diharuskan untuk berkoordinasi dengan petugas agar pesawat tetap seimbang karena pengaturan penumpang yang tak sistematis.

Lain halnya dengan China Airlines dan Eva Air Taiwan. Kedua maskapai tersebut memang tidak menerapkan physical distancing dan mengizinkan penumpang untuk mencari kursi kosong layaknya Cathay Pacific, Virgin Australia, dan Delta Airlines. Namun, mereka justru bisa dikatakan menerapkan kebijakan lebih ketat.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Sebelum mulai boarding, para penumpang diharuskan mengikuti pemeriksaan wajib suhu tubuh. Penumpang dengan suhu di atas 37,5 derajat celsius akan ditolak untuk naik. Selain itu, semua penumpang harus mengenakan masker di dalam kabin setiap saat, kecuali saat hendak menyantap makanan dan minuman.

Terkait makanan dan minuman, dalam upaya menerapkan physical distancing, khususnya antara awak kabin dan penumpang, American Airlines, mulai mengurangi beberapa layanan, bergantung pada jarak. Untuk penerbangan di bawah 4,5 jam, misalnya, penumpang, baik first class maupun kelas ekonomi hanya disuguhkan dengan minuman. Bedanya, first class mendapatkan sampanye dan air putih sedangkan kelas ekonomi hanya mendapatkan air putih.

Jay Robert: “Pekerjaan Awak Kabin Telah Berubah Drastis dalam Sebulan Terakhir”

Jika dokter adalah garda terdepan dalam membantu menyembuhkan orang-orang yang terinfeksi virus corona (Covid-19). Awak kabin adalah garda terdepan pada penerbangan untuk melayani para penumpang baik yang sehat maupun yang tengah sakit.

Baca juga: Emirates Lakukan Tes Covid-19 Pada Seluruh Awak Kabin

Namun, bagaimana nasib mereka ketika Covid-19 ini tengah menyerang industri penerbangan? Jay Robert, awak kabin yang juga pembuat Cabin Crew Lounge A Fly Guy, yaitu grup jejaring sosial untuk staf maskapai penerbangan di seluruh dunia mengatakan pekerjaannya kini telah berubah drastis selama sebulan terakhir.

“Jadwal terbang saya telah dihapus untuk bulan depan karena semua tujuan saya rostered penerbangan untuk menutup perbatasan mereka. Jadi ketidakpastian yang paling saya hadapi adalah apakah dan kapan saya akan bekerja selanjutnya,” katya Robert yang dikutip KabarPenumpang.com dari huffpost.com (20/3/2020).

Pada Kamis (19/3/2020) kemarin, American Airlines mengumumkan mendaratkan setengah dari armadanya pada bulan April dan menawarkan program cuti sukarela untuk mengurangi biaya. Seorang awak kabin yang baru bekerja di American Airlines meminta anonimitas untuk menghindari dampak yang dilakukan maskapai tersebut.

Dia mengaku khawatir tentang status pekerjaannya karena dia mengaku tidak mendapatkan bayaran sama sekali. Awak kabin itu juga mengatakan bahwa perusahaan penerbangannya menawarkan cuti sakit selama 14 hari bagi mereka yang tertular virus tersebut, tetapi saat ini salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah terjebak di suatu tempat dan tidak bisa pulang.

“Jika mereka menutup bandara ketika kita berada di jalan, kita macet. Banyak dari kita bepergian karena sayangnya, dengan apa yang dibayar maskapai penerbangan kepada kami, kami tidak mampu untuk tinggal di hub ini,” kata dia.

Association of Flight Attendants, serikat utama untuk profesi di AS, telah mengeluarkan tindakan untuk keselamatan awak pesawat, dan pemimpinnya, Sara Nelson, telah mengkritik tanggapan pemerintah terhadap pandemi. Pada penerbitan cerita ini, satu awak kabin telah dilaporkan telah tertular virus.

“Tampaknya penerbangan telah beralih dari liburan ke penerbangan penyelamatan. Orang-orang tampaknya sangat bersyukur mereka memiliki jalan pulang sebelum perbatasan mereka ditutup. Banyak penumpang Eropa memotong perjalanan mereka untuk mencoba melewati tenggat waktu untuk kembali,” ujar Robert.

Dia mengaku saat ini pedoman berubah setiap hari di mana dalam sebulan ini awak kabin hanya diperbolehkan menggunakan masker pada penerbangan yang menuju ke tujuan berisiko. Tetapi hari berikutnya mereka diberi sarung tangan dan masker untuk semua penerbangan.

“Kami juga diberitahu untuk tidak meninggalkan hotel saat singgah di negara lain dan kami harus melakukan karantina sendiri saat tiba di negara asal kami selama dua minggu. Banyak waktu sendirian hari ini, jadi menjaga kesehatan mental juga penting dan memeriksa kolega yang menderita kecemasan,” jelasnya.

Maskapai penerbangan juga berbagi informasi yang jelas dan bermanfaat tentang langkah-langkah yang mereka ambil untuk menjaga pesawat tetap bersih dan aman. Delta, misalnya, telah membuat situs sumber daya khusus terkait dengan virus. Di sana, mereka memaparkan praktik sanitasi, yang telah diperbarui untuk menyertakan prosedur pengasapan desinfektan, mengikuti “daftar periksa 19-titik yang ketat untuk kebersihan kabin, termasuk disinfektan permukaan kabin dan area kontak pelanggan seperti kursi, saku kursi belakang, meja baki dan lantai.

Tindakan ini juga merinci cara kerja filter udara tingkat industri untuk mencegah penyakit. Merebaknya Covid-19 ini menyebabkan banyak gangguan dalam jadwal penerbangan yang berimbas ke awak kabin, agen perjalanan dan upah.

Dia mengatakan ini bukan pertama kali awak pesawat menghadapi hal seperti ini, kenyataannya mereka dilatih juga terkait hal ini sejak awal. Sara Nelson menambahkan awak kabin dilatih tentang cara mengurangi penyebaran penyakit menular.

Baca juga: Ada Penumpang Sakit di Pesawat? Hubungi Awak Kabin dan Jangan Langsung Panik Tertular

“Itu bagian dari pelatihan awal dan pelatihan tahunan kami. Kami memiliki akses ke informasi itu, kami memiliki pembaruan, kami memiliki pengingat di situs web kami. Kami sudah lebih sadar daripada masyarakat umum dan lebih terbiasa karena kami memiliki garis dasar pelatihan di sekitarnya,” kata Sara.

Imbas Covid-19, PO Bus Sepi Penumpang dan Tengah Cari Solusi

Virus corona atau Covid-19 yang sudah menyebar di Indonesia, juga membuat perusahan otobus (PO) ikut terdampak. Bahkan yang paling terdampak adalah PO yang memiliki trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan pariwisata.

Baca juga: Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan

Pasalnya saat ini hampir semua obyek wisata ditutup dan masyarakat diimbau untuk tidak ke tempat keramaian demi mencegah penyebaran Covid-19 ini. Selain itu tidak menutup kemungkinan mudik lebaran tahun ini bisa dilarang. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, banyak pemilik PO bus yang mengaku imbauan untuk dirumah ini memengaruhi penumpang bus AKAP mereka.

Para pemilik PO bus mengatakan, mereka sebagai penyedia mobilisasi orang pastinya akan merasa terkena imbas seperti berkurangnya penumpang. Sehingga hal ini berbeda dengan angkutan dalam kota yang mungkin tidak terlalu berpengaruh dengan Covid-19.

Mereka bahkan menyebutkan harus mengandangkan beberapa armada untuk menekan biaya perawatan. PO Sumber Alam dan Maju Lancar menjadi dua diantara PO bus yang mengandangkan setengah aramada mereka.

“Mungkin karena ada pembatasan pergi ke luar kota, penumpang juga turun drastis, jadi hanya melayani ke trayek yang masih ada penumpangnya,” kata Anthony Steven Hambali, Pemiliki PO Sumber Alam yang dikutip dari kompas.com.

Selain itu, pemilik PO Margo Mulyo Endang Suwarningsih mengaku para pemilik bus saat ini tengah terpuruk. Endang mengatakan banyak yang membatalkan berbagai acara keluar kota karena adanya Covid-19 tersebut.

Bahkan ada juga PO bus yang memberhentikan operasional mereka sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seperti PO MPM yang melayani trayek dari beberapa kota di Sumbar menuju ke Jakarta dan Bandung mulai menghentikan operasinya sejak 26 Maret 2020 dari Padang dan 28 Maret 2020 dari Jakarta.

“Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan menyatakan stop beroperasi. Dengan kesadaran sendiri bahwa Covid-19 sangat berbahaya bagi manusia, dan tidak bisa memprediksi penumpang yang naik bus, maka lebih baik bus ini stop operasi,” ujar Ketua DPD Organda Sumbar, Budi S Syukur.

Dengan adanya kondisi saat ini, dan imbauan pemerintah baik di pusat maupun Jakarta, agar jangan berpergian dan ditambah lagi banyak group yang telah mengorder dan membatalkan orderannya baik ke Padang maupun ke Jakarta, maka pihak perusahaan mengambil langkah tersebut.

Anthony menambahkan, meski larangan mudik dilakukan untuk masyarakat dan PO harus tetap melayani kebutuhan transportasi kini sedang dibahas langkah-langkah yang harus dilakukan menanggapi penyebaran virus ini.

“Saat ini pun kami di IPOMI koordinasi dengan Organda, membahas opsi-opsi yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan keamanan masyarakat,” ucap Anthony.

Humas IPOMI dan Direktur Operasi PO Maju Lancar, Adi Prasetyo, mengatakan, opsi yang sedang dibahas terkait pekerja yang ada di industri transportasi yang berkurang pendapatannya karena virus corona.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

“Perlu dicarikan solusi untuk pekerja di industri transportasi. Imbas virus ini menyebabkan jumlah penumpang turun dan pengurangan armada yang beroperasi,” ujar pria yang biasa dipanggil Didit.

Untuk mengatasi masalah ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil berbagai langkah yakni salah satunya dengan membatalkan mudik gratis.

Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Wabah virus corona telah memberi efek domino di dunia penerbangan. Setelah jumlah penumpang global anjlok sampai 85 persen, maskapai di dunia ramai-ramai memangkas kapasitas penerbangan mereka, bahkan di antaranya ada yang sampai 96 persen, seperti Singapore Airlines dan Cathay.

Baca juga: Airbus Masih Hentikan Produksi, Serikat Pekerja Layangkan Protes

Selain pengurangan kapasitas penerbangan, maskapai global juga ramai-ramai melakukan beberapa langkah efisiensi, mulai dari pemotongan gaji, pengurangan karyawan, penundaan sejumlah investasi, hingga penundaan dan pembatalan sejumlah pesanan pesawat. Imbasnya, tentu saja produsen pesawat, dalam hal ini Boeing dan Airbus juga ikut tertekan.

Beruntung, sebelum munculnya berbagai kesulitan di dunia penerbangan saat ini, selama beberapa tahun ke belakang, industri penerbangan global terus-menerus mengalami lonjakan. Saking melonjaknya, Boeing dan Airbus sampai kewalahan memenuhi permintaan pesawat dari maskapai. Khusus untuk Airbus, kondisi tersebut bahkan sampai membuat perusahaan mengalami overbooking, terutama pada pesawat A320neo dan pesawat turunannya.

Menurut laporan dari kantor berita flightglobal.com, keputusan overbooking saat permintaan tengah melonjak drastis justru menjadi penyelamat saat kondisi tak terduga datang. Tak terkecuali krisis akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Bila dahulu overbooking atau pesanan berlebih membuat Airbus pusing untuk terus menggenjot kapasitas produksi dan di beberapa kondisi menjadi sebuah beban, saat ini dinilai menjadi keputusan krusial di masa lampau yang sedikit membuat perusahaan selamat atau setidaknya mempunyai beberapa ruang gerak dan waktu untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury mengatakan saat ini pesawat yang masih belum diserahkan (backlog) cukup banyak. Bahkan, untuk backlog pesawat jet A320 dan turunannya, seperti A320neo, A321, 319, dan A318 jumlahnya mencapai 6.200 jet. Meskipun Airbus tidak telalu buka-bukaan terkait konsep pengelolaan overbooking, yang jelas, hal itu saat ini membuat perusahaan sedikit terbantu.

Meski demikian, layaknya Boeing yang membutuhkan suntikan dana segar mencapai $60 miliar atau Rp978 triliun (kurs Rp 16.457), Airbus juga membutuhkan dana segar untuk menjalankan roda bisnisnya, selain juga untuk mengamankan rantai pasokan produksi serta persiapan ketika wabah Covid-19 benar-benar telah berakhir. Hanya saja, tak seperti Boeing yang masih mengandalkan suntikan modal dari pemerintah, Airbus bisa dibilang lebih mandiri.

Perusahaan patungan antara perusahaan Perancis, Jerman, dan Spanyol tersebut saat ini dilaporkan telah mendapatkan fasilitas utang baru dari bank sentral, yang tak disebutkan lebih rinci entah bank sentral Perancis, Jerman, Spanyol, atau bank sentral dari negara lainnya, dengan nominal mencapai Rp265 triliun (kurs Rp 16.457) atau €15 miliar. Dengan begitu, likuiditas salah satu produsen pesawat terbesar di dunia itu sudah mencapai €30 miliar atau Rp530 triliun (kurs Rp 16.457).

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Selain memperkuat posisi keuangan perusahaan dengan menambah utang baru, Airbus juga telah melakukan sejumlah langkah efisiensi lainnya, mulai dari menangguhkan dividen untuk menghemat €1,4 miliar hingga menunda pembayaran dana pensiun.

Meski demikian, menurunnya wabah Covid-19 di Cina telah membuat Airbus sedikit bernapas lega. Setelah pengiriman pesawat terbengkalai, Faury menyebut bahwa mungkin April mendatang pengiriman pesawat ke negara tersebut akan kembali dimulai. Hal itu dikarenakan lonjakan penumpang akan kembali terjadi di sana mencapai sekitar 15 persen.

Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

Virus corona atau Covid-19 yang sudah menjadi pandemi di seluruh dunia banyak membuat perekonomian di berbagai industri menurun drastis. Salah satunya adalah maskapai penerbangan yang saat ini harus ‘mendaratkan’ lebih banyak pesawat mereka dibandingkan digunakan untuk mengirim pelancong ke berbagai destinasi di dunia.

Baca juga: Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman krqe.com (25/3/2020), namun ternyata ada beberapa industri lain yang diuntungkan yakni bandara-bandara tempat pesawat milik maskapai penerbangan di daratkan. Seperti Bandara Roswell di New Mexico, Amerika Serikat, yang kini menjadi tempat parkir bagi pesawat-pesawat yang tidak digunakan untuk terbang.

“Karena pandemi ini, maskapai banyak yang menutup sebanyak 50 hingga 75 persen dari bisnis penerbangan internasional mereka. Mereka juga mulai mematikan sebagian penerbangan domestik dan para pemilik maskapi memerlukan tempat untuk parkir pesawat-pesawat mereka itu,” kata Direktur Bandara Roswell Scoot Stark.

Dia mengatakan, untuk memarkirkan pesawat milik maskapai-maskapai, Bandara Roswell adalah solusi terbaik.

“Saat ini ada 100 dari antara 150 hingga 200 hektar aspal yang telah ditinggalkan dan tidak digunakan oleh konfigurasi bandara yang kita miliki sekarang. Sehingga disanalah kesempatan kami,” kata Scoot.

Dia menyebutkan, sekarang para pekerja dari Departemen Jalan Roswell telah bekerja untuk membersihkan kotoran dan rumput dari aspal di landasan pacu yang terbengkalai. Dikatakan Scoot, landasan pacu tersebut mampu menampung 300 hingga 500 pesawat tambahan.

Scoot mengatakan, dengan memberikan lahan untuk mendaratkan pesawat, kota tersebut mendapatkan biaya tambahan hingga $14 per pesawat per hari untuk menyimpannya. Walikota mengatakan, ini adalah pendapatan selamat datang ketika begitu banyak bisnis ditutup.

“Ini akan menambah pekerjaan, sekarang beberapa dari mereka akan menjadi orang-orang yang akan datang dari luar kota dari tempat lain tetapi tidak semua dari mereka memiliki kredensial yang tepat di sini untuk melakukan pekerjaan ini tetapi beberapa melakukannya, dan yang lainnya adalah membawa kegiatan ke dalam ekonomi, “kata Walikota Dennis Kintigh.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Diketahui, harga untuk penyimpanan pesawat ditetapkan sepuluh tahun yang lalu dan dijadwalkan akan diperbarui. “Kami tidak ingin menambahkan biaya tambahan ke maskapai, jadi kami akan menahan harga kami sampai acara atau virus corona selesai,” kata Mark Bleth, manajer pusat udara dan wakil direktur di Roswell.

Tak Ditemukan Indikasi Suap, Tony Fernandes Kembali ke Pucuk Pimpinan AirAsia

AirAsia Group Berhad Malaysia belum lama ini menyebut bahwa penyelidikan internal terkait dugaan suap yang melibatkan pimpinan tertinggi perusahaan, Tony Fernandes, sudah selesai dilakukan. Hasilnya, Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO) yang dialamatkan pada Tony tidak benar.

Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Dikutip dari channelnewsasia.com, dalam penyelidikan internal tersebut, penyidik menemukan bahwa segala pengadaan pesawat dengan Airbus telah dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur. Hal itu berarti, tuduhan terkait suap Airbus kepada Tony melalui skema sponsorship lewat sebuah klub sepak bola Inggris, karena jumlah pengadaan pesawat yang cukup besar, juga tidak benar.

“Sponsor tersebut menunjukkan manfaat yang dapat ditunjukkan kepada Grup AirAsia dan tidak terkait dengan keputusan pembelian oleh Dewan Direksi AirAsia Berhad,” kata seorang juru bicara perusahaan.

Selain melakukan penyelidikan internal, AirAsia Group Berhad Malaysia juga telah meminta investigator independen, BDO Governance Advisory, untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya pun sama, mereka tidak menemukan adanya kejanggalan apapun, dalam hal ini terkait sponsorship yang selama ini diduga sarat bermuatan suap.

Oleh karenanya, dengan dua hasil penyelidikan tersebut, Dewan AirAsia pun memutuskan untuk memberikan kembali mandat Direktur Eksekutif AirAsia kepada Tony Fernandes. Di samping itu, posisi eksekutif lainnya juga telah kembali diberikan kepada kamarudin meranun. Keduanya diketahui telah menyatakan mundur dua bulan atau lebih sejak 4 Februari lalu akibat gaduh soal kasus suap tersebut.

Meski AirAsia sejak awal hingga saat ini terus membantah, nyatanya, Airbus telah terlanjur divonis bersalah oleh pengadilan. Jaksa Penuntut di Prancis, Jean-Francois Bohnert berujar bahwa Airbus telah melakukan praktik kecurangan untuk mempertahankan bisnisnya di banyak negara. Dengan begitu, Airbus dituntut membayar Rp54 triliun, dengan rincian €984 juta atau sekitar Rp14 triliun kepada otoritas Inggris, €525 juta atau Rp8 triliun untuk otoritas Amerika Serikat, dan €2,08 miliar atau Rp31 triliun untuk otoritas Perancis.

Sebelumnya, Selasa, (4/2) silam, jagat pemberitaan internasional dihebohkan dengan mundurnya Tony Fernades dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif AirAsia selama dalam jangka dua bulan atau lebih. Mundurnya Tony Fernades secara tiba-tiba diduga sebagai respon pria kelahiran Malaysia ini atas putusan Pengadilan Tinggi Perancis yang memvonis denda kepada Airbus sebesar €3.6 miliar atau sekitar Rp54 triliun (kurs Rp 15.139) pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Dalam catatan Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO), sejak 2005 hingga 2014, AirAsia dan AirAsia X telah memesan 406 pesawat Airbus. SFO yang sudah memantau Airbus sejak lama, menduga, dari sejumlah pesanan tersebut, Tony mendapatkan commitment fee yang disalurkan oleh dua anak perusahaan Airbus, tidak langsung ke rekening Tony, melainkan melalui rekening salah satu unit bisnis Tony lainnya, yakni klub sepak bola asal Inggris, Queens Park Rangers F.C. (QPR).

Lewat klub tersebut, commitment fee yang diduga sebesar US$50 juta untuk Tony Fernandes diberikan dengan menggunakan skema sponsorship. Atas dugaan tersebut, AirAsia sendiri mengatakan sponsor Airbus ke QPR merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal sebagaimana mestinya.