Kesulitan Cari Utang Baru, Boeing Sebut Butuh Suntikan Modal Segera

Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith, belum lama ini mengatakan bahwa industri kedirgantaraan AS sangat membutuhkan kredit untuk mengatasi pandemi virus corona. Celakanya, di saat genting seperti itu, pasar modal justru disebut malah tertutup untuk utang baru.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

“Tidak sekarang. Pasar pada dasarnya ditutup (untuk utang baru). Maksudku, benar-benar tidak ada banyak kesempatan untuk mendapatkan utang tambahan. Itu salah satu tantangannya,” ujarnya, seperti dilansir reuters.com.

Selain itu, Smith, yang juga Wakil Presiden Eksekutif Boeing melanjutkan, bahwa sekalipun pihaknya tengah mengalami posisi sulit yang diakibatkan oleh berbagai hal, mulai dari tregedi 737 MAX dan turunannya hingga pandemi virus corona, Boeing melihat setidaknya ada secercah harapan di tengah keterpurukan. Harapan tersebut datang dari Cina, dimana, pandemi Covid-19 di Negeri Tirai Bambu tersebut sudah mulai memudar dan aktivitas perekonomian di sana bisa kembali berjalan normal.

Di samping itu, harapan lainnya juga datang dari komitmen pemerintah untuk memberikan suntikan dana ke Boeing. Pada hari Selasa lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan produsen pesawat terbesar di dunia, Boeing, keluar dari persaingan bisnis di dunia penerbangan akibat gangguan keuangan yang disebabkan oleh wabah Covid-19.

Namun, setelah pernyataan tersebut, Boeing sempat sedikit terpojok setelah tersiar kabar bahwa perusahaan tersebut tidak masuk ke dalam daftar paket bailout Senat AS sebesar $17 miliar dolar atau sekitar Rp277 triliun (kurs Rp 16.457). Padahal, paket bailout tersebut disebut untuk mengamankan bisnis penting serta menjaga keamanan dan keutuhan nasional. Tentu saja Boeing seharusnya masuk dalam kriteria tersebut (bisnis penting nasional).

Tetapi kemudian, menurut surat kabar yang beredar, Boeing memang tidak masuk dalam paket bailout tersebut. Sebab, stimulus untuk Boeing dibuat terpisah dan perusahaan tersebut, menurut informasi dari sebuah sumber, akan menerima paket bailout sebesar senilai $2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun (kurs Rp 16.457). Paket tersebut dilaporkan akan dirilis pada Rabu hari ini.

Sebetulnya, stok uang tunai yang masih dimiliki Boeing masih tergolong banyak. Pada hari Selasa lalu, CEO Boeing, Dave Calhoun, mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat ini memiliki uang tunai sekitar $15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457).

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Meskipun demikian, Boeing memang tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil. Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar $60 miliar atau Rp978 triliun (kurs Rp 16.457).

Menariknya, di tengah posisi sulit seperti itu, Boeing justru tengah bersikukuh untuk mengakuisi produsen pesawat jet asal Brazil, Embraer, senilai $4,2 miliar atau sekitar Rp68 triliun. Angka tersebut $1 miliar lebih kecil dari spekulasi semula yang mencapai $5,2 miliar. Dana sebesar itu disebut akan mengukuhkan Boeing sebagai pemegang saham terbesar, mencapai 80 persen. Saat ini, pemerintah juga dianggap telah menyetujui opsi pembelian saham Embraer tersebut.

Pertahankan Layanan Kargo, Cathay Pacific Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan

Seolah mengikuti jejak Singapore Airlines yang memangkas kapasitas penerbangan hingga 96 persen, maka Cathay Pacific dan Cathay Dragon akan mengurangi kapasitas penumpang di seluruh jaringannya sebesar 96 persen pada bulan April dan Mei sehubungan dengan penurunan permintaan yang signifikan akibat pandemi virus corona yang sedang berlangsung dan beberapa pembatasan perjalanan oleh pemerintah yang merupakan bagian dari rencana respons kesehatan global.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (26/3/2020) Cathay Pacific dan Cathay Dragon akan mengurangi jadwal operasional untuk pesawat penumpang pada bulan April dan Mei, meskipun demikian, kapasitas pesawat kargo tetap beroperasi normal. Pihak Cathay menyebut Kemampuannya bertahan di tengah pengurangan frekuensi penerbangan akan tergantung pada jumlah penambahan pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh pemerintah di seluruh dunia yang selanjutnya akan berdampak pada berkurangnya jumlah penumpang.

Cathay Pacific akan mengoperasikan tiga penerbangan per minggu ke 12 tujuan: London (Heathrow), Los Angeles, Vancouver, Tokyo (Narita), Taipei, New Delhi, Bangkok, Jakarta, Manila, Kota Ho Chi Minh, Singapura dan Sydney. Sementara Cathay Dragon mengoperasikan tiga penerbangan per minggu ke 3 tujuan: Beijing, Shanghai (Pudong), dan Kuala Lumpur.

“Sebagai maskapai penerbangan yang berbasis di Hong Kong, penting bagi kami untuk terus menyediakan jaringan penumpang dan kargo ke dan dari hub Hong Kong. Karena itu, kami akan berusaha untuk mempertahankan jumlah penerbangan yang terbatas ke dan dari tujuan utama di jaringan kami untuk memastikan penerbangan-penerbangan utama ini tetap berjalan normal,” ujar Ronald Lam, Cathay Pacific Chief Customer and Commercial Officer. Ia nemambahkan, jaringan kargo Cathay tetap berjalan normal, dan akan meningkatkan kapasitas kargo dengan menyediakan layanan charter dan mengoperasikan layanan penumpang tertentu yang telah ditangguhkan khususnya untuk pengiriman udara agar memenuhi permintaan pelanggan kargo.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

“Kami perlu mengambil langkah-langkah sulit yang tegas karena skala tantangan yang dihadapi industri penerbangan global saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kami tidak punya pilihan selain mengurangi kapasitas penumpang secara signifikan karena pembatasan perjalanan semakin mempersulit pelanggan untuk melakukan perjalanan dan hal tersebut menyebabkan permintaan menurun secara drastis,” tambah Ronald.

Mulai 26 Maret, Lion Air Group untuk Sementara Hentikan Penerbangan ke Papua

Dalam upaya preventif terhadap pencegahan atau menangkal masuk penyebaran corona virus disease (covid-19), Lion Air Group yang terdiri dari maskapai Lion Air, Wings Air dan Batik Air, mulai 26 Maret 2020, resmi menghentikan penerbangan sementara dari dan ke Papua. Pengentian penerbangan tersebut telah diberitahukan ke Otoritas Bandar Udara Wilayah X Provinsi Papua.

Baca juga: Inilah Kebijakan Garuda Indonesia, Lion Air dan AirAsia Seputar Tiket di Musim Wabah Corona

“layanan operasional domestik yang menghubungkan dari dan ke Papua, bahwa penerbangan Lion Air Group menghentikan atau penundaan sementara (suspend) mulai Kamis, 26 Maret 2020 pukul 00.00 waktu setempat (Waktu Indonesia Timur, GMT+ 09) sampai Kamis, 9 April 2020 pukul 23.59 WIT,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam pesan tertulis.

Operasional layanan penerbangan penumpang domestik di Provinsi Papua, Lion Air Group memiliki rata-rata 35 frekuensi penerbangan per hari pergi pulang (PP), mencakup kota sebagai berikut:

1. Jayapura – Bandar Udara Internasional Sentani (DJJ),
2. Merauke – Bandar Udara Mopah (MKQ),
3. Mimika – Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika (TIM),
4. Nabire – Bandar Udara Douw Aturure (NBX),
5. Yahukimo – Bandar Udara Nop Goliat Dekai (DEX),
6. Jayawijaya – Bandar Udara Wamena (WMX).

Takanawa Gateway Menjadi Stasiun Modern dengan Robot Pemandu Penumpang

Setelah 50 tahun, akhirnya Stasiun Takanawa Gateway dibuka di JR Yamanote Line di Tokyo. Ini merupakan stasiun pertama yang dibuka di jalur Yamanote sejak 1971 ketika Nishi-Nippori di tambahkan ke jaringan. Pembukaannya membuat jumlah stasiun di jalur yang dioperasikan JR East japan Railway Company menjadi berjumlah 30 stasiun dan juga digunakan oleh Keihin-Tohoku Line.

Baca juga: Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Takanawa Gateway memiliki bangunan stasiun yang menampilkan perpaduan eksotis antara estetika dan berbagai robot Jepang untuk membantu penumpang. KabarPenumpang.com melansir asahi.com (14/3/2020), bangunan stasiun dirancang oleh Kengo Kuma, arsitek terkenal yang juga merancang Stadion Nasional tempat utama Olimpiade Tokyo,.

Pertama kali kereta tiba di Stasiun Takanawa Gateway (asahi.com)

Memiliki tiga lantai dengan panjang atap sekitar 110 meter yang terinspirasi dari origami, stasiun ini juga memiliki ubin untuk lantai dan tangga dengan pola serat kayu. Bahkan atapnya memungkinkan cahaya mengalir melalui atrium sehingga menciptakan nuansa lapang ke ruangan tertutup yang terbuat dari kaca.

Tak hanya eksterior yang futuristik, stasiun ini dilengkapi berbagai macam robot yang bisa membantu penumpang dalam berbagai hal. Ada empat mesin signage digital yang dipasang di dalam dan luar gerbang tiket untuk memberi informasi terkait pergantian kereta api dan lokasi wisata terdekat.

Penumpang yang membutuhkan bantuan bisa mengucapkannya ke mikrofon dan mesin akan memunculkan rute serta peta kereta dan perkiraan penumpang untuk mencapainya. Data tersebut juga bisa dikirim melalui ponsel pintar dengan memindai kode QR.

Ada juga enam robot yang menangani keamanan dan pembersihan, di mana robot keamanan bisa mendeteksi penumpang dengan tongkat putih. Setelah deteksi dilakukan, robot dapat menghubungi staf keamanan manusia untuk memastikan penumpang akan diberikan bantuan jika perlu.

Fungsi pengenalan wajah pada robot akan memungkinkan untuk menemukan anak-anak yang hilang atau bahkan orang-orang yang terdaftar sebagai polisi yang diinginkan untuk ditanyai dalam hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Sedangkan robot pembersih menggunakan sensor yang dipasang di seluruh stasiun untuk menentukan tingkat kepadatan. Ini memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas mereka tanpa mengganggu penumpang yang bergerak di sekitar stasiun.

Robot kursi roda bahkan dapat mengangkut penumpang ke toilet atau lift jika permintaan dimasukkan ke dalam mesin. Toko serba ada dengan sistem pembayaran otomatis “Touch to Go” akan diatur di dalam gerbang tiket di lantai dua. Dalam toko serba ada ini, sekitar 50 kamera dipasang di langit-langit monitor barang yang dipilih oleh pelanggan untuk pembelian. Jika pembayaran dilakukan dengan uang elektronik, seperti kartu Suica, gerbang keluar terbuka secara otomatis.

Toko berencana untuk menyimpan sekitar 600 item, termasuk makan siang kotak bento, minuman dan makanan ringan. Diketahui, awalnya pembukaan Takanawa Gateway ini pada 14 Maret lalu, namun karena adanya Covid-19, maka tidak diadakan upacara pembukaan.

Dulunya, daerah sekitar Stasiun Takanawa Gateway digunakan sebagai pangkalan kereta api dan tidak memiliki fasilitas yang diterima oleh orang Tokyo. Tapi itu tidak menghentikan 350 atau lebih penggemar kereta api berkumpul sekitar jam 04.00 pagi waktu setempat bahkan sebelum stasiun dibuka untuk umum.

Kedatangan kereta pertama dalam jaringan dari Jalur Yamanote pada pukul 04.35 pagi memicu kegilaan di antara para penggemar yang menunggu tepuk tangan para penumpang yang turun dan pergi ke pesta pora mengambil foto.

Masahiro Nomura, 33, seorang karyawan perusahaan yang tinggal di Abiko, Prefektur Chiba, termasuk yang pertama kali datang. Dia terkesan dengan “atmosfer kuat ke Jepang-an” yang melingkupi kompleks itu, terutama jumlah kayu yang digunakan, dikombinasikan dengan robot-robot futuristik yang sedang bekerja.

Nama Stasiun Takanawa Gateway diberikan dalam skrip katakana, menjadikan stasiun itu satu-satunya di jalur Yamanote atau Keihin-Tohoku untuk tidak sepenuhnya bergantung pada karakter kanji untuk namanya.

Baca juga: Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter

“Saya pikir penumpang akan dengan cepat terbiasa dengan nama katakana dari stasiun,” kata Nomura.

Kepala stasiun Taka Nakamura mengatakan dia berharap pengunjung stasiun akan “menikmati kehangatan kayu” dan meminta maaf sebesar-besarnya atas keputusan untuk membatalkan upacara pembukaan. Dia menambahkan bahwa staf stasiun akan melakukan segala upaya untuk mencegah penyebaran infeksi Covid-19 dengan menyediakan desinfektan pembersih tangan.

7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Maskapai di seluruh dunia pada umumnya menawarkan pengalaman terbang yang berbeda-beda kepada setiap penumpang.Tentu saja hal itu bergantung pada kelas penerbangan yang dibeli. Mulai dari kelas ekonomi, kelas premium, kelas bisnis, dan kelas satu atau first class.

Baca juga: Pelayanan Optimal dan Hiburan Melimpah, Pengalaman Naik Business Class Thai Airways

Dari keempat kelas tersebut, kelas ekonomi pada umumnya menjadi kelas yang ramai diminati karena harganya yang terjangkau. Namun, sebagaimana harganya, soal layanan yang diberikan, kelas tersebut juga hampir dapat ditebak. Pastinya tak akan selengkap layanan kelas satu atau kelas bisnis.

Akan tetapi, sekalipun sering bepergian menggunakan pesawat terbang, travelers, khususnya bagi yang belum pernah merasakan pengalaman terbang dengan first class dan business class, terkadang sulit membedakan dan mencari persamaan layanan apa saja yang ditawarkan kedua kelas tersebut. Dikutip dari laman thepointsguy.com, berikut tujuh perbedaan dan persamaan first class dan business class.

1. Check-in, bagasi, dan boarding
Baik penumpang kelas bisnis dan kelas satu keduanya akan menerima prioritas check-in, tag bagasi, dan boarding. Kemudian, secara substansial, sebetulnya, koper kelas satu atau first class harusnya didahulukan. Namun, secara teknis, koper dengan tag prioritas, besar kemungkinan akan didahulukan secara bersamaan, tanpa melihat mana yang first class dan mana yang bukan. Kemudian, ketika memasuki pesawat, mungkin akan ada sedikit antrean pada penumpang business class. Sebab, kabin mereka lebih kecil ketimbang first class. Hanya saja, pada umumnya, business class jarang terdapat antrean, layaknya first class.

2. Lounge
Maskapai-maskapai besar dunia dengan reputasi tinggi pada umumnya memiliki lounge first class dan business class terpisah. British Airways, misalnya, menyediakan akses penumpang first class ke The Concorde Room di London Heathrow Terminal 5 (LHR) di mana penumpang dapat menikmati hidangan sampanye dan à la carte sebelum memulai penerbangan. Adapun business class umumnya hanya dihadapkan dengan hidangan prasmanan yang terkadang kurang pas di lidah. Hanya saja, itu semua teragantung pada maskapai. Poinnya, tentu saja keduanya memiliki lounge yang terpisah dan fasilitasnya pun berbeda.

finansialku.com

3. Kursi Pesawat
Di antara berbagai perbedaan, mungkin kursi pesawat penumpang first class dan business class adalah salah satu yang paling mencolok. Business class pada umumnya tetap memberikan kenyamanan lebih kepada para pelanggan dengan fully-flat bed dan beberapa tempat penyimpan atau storage untuk menyimpan barang. Namun tetap saja, tidak privasi.

Sebaliknya, kursi pelanggan first class tentu saja lebih mewah dengan tempat tidur yang luas, nyaman, privasi terjamin, dan akses lorong langsung. Di samping itu, biasanya, terdapat banyak kotak storage yang memudahkan pelanggan untuk meletakkan berbagai jenis barang.

sandwich di business class Lufthansa. Sumber: Live and Let’s Fly – BoardingArea

4. Makanan dan minuman
Dari segi makanan, biasanya pelanggan di business class ditawarkan varian yang cukup beragam. Hanya saja, jumlahnya tak sebanyak pelanggan first class. Di samping itu, menunya juga sedikit berbeda, mulai dari main course atau hidangan utama, appetizer, hingga dessert. Begitupun juga dengan minuman, baik sampanye maupun anggur, meskipun kedua kelas tersebut mendapatkan minuman tersebut, tentu saja rasa dan kualitasnya sedikit berbeda.

Sumber: airlineratings.com

5. Fasilitas
Bantal dan selimut mewah mungkin kedua kelas tersebut sama-sama mendapatkannya. Namun, soal lainnya, belum tentu. Fasilitas Wi-Fi, misalnya, jika ada, mungkin pelanggan first class mungkin akan diberikan akses gratis. Adapun business class harus membayar. Kemudian, kit amenitiesnya atau kelengkapan tambahannya pun juga berbeda.

First class akan dilengkapi dengan lonceng dan business class hanya dengan sebuah peluit.Yang paling membedakan adalah kasur. Pelanggan first class akan dilengkapi dengan kasur mewah. Bahkan, di beberapa kasus, kasurnya mungkin jauh lebih nyaman dibanding kasur di rumah.

Di samping itu, awak kabin juga akan merapikan kasur setiap selesai digunakan, tak peduli berapapun jarak penggunaannya. Ketika selesai dirapikan, kemudian pelanggan menggunakannya kembali dalam hitungan detik dan membuat kasur kembali berantakan, sementara pelanggan pergi ke toilet, awak kabin pasti akan merapikannya.

Baca juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!

6. Layanan
Di bagian ini, mungkin tergantung selera pelanggan. Hanya saja, secara estetika, jauh lebih berkesan first class. Pelanggan business class mungkin tidak akan dipanggil sesuai nama. Selain itu, pelanggan kelas tersebut mungkin harus menunggu beberapa saat untuk awak kabin mengisi atau me-refiil minuman. Adapun untuk pelanggan first class, pelanggan akan dipanggil dengan sebutan nama, pertanda awak kabin dan pelanggan sudah mulai terjalin kedekatan spesial. Selain itu, awak kabin akan selalu mengisi minuman pelanggan ketika lewat ataupun setiap kali dipanggil.

7. Harga
First class pada umumnya jauh lebih mahal dibanding business class. Hal tersebut tentu wajar mengingat pelayanan keduanya terdapat banyak perbedaan, sekalipun di beberapa terdapat beberapa persamaan.

Inilah Kebijakan Garuda Indonesia, Lion Air dan AirAsia Seputar Tiket di Musim Wabah Corona

Virus corona atau Covid-19 yang tengah merebak di Indonesia mulai menerpa industri transportasi. Salah satu yang terkena dampak adalah maskapai penerbangan. Karena hal ini banyak penerbangan keluar negeri dibatalkan dan armada-armada di daratkan bahkan bandara pun sepi. Saat ini pun banyak maskapai yang membatalkan keberangkatannya ke dalam negeri sendiri. Hal ini disebabkan tak banyak penumpang yang naik atau sama sekali tidak ada penumpangnya.

Baca juga: Imbas Pembatalan Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh, 3624 Calon Penumpang Pilih Batalkan Tiket

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Garuda Indonesia telah mengambil kebijakan terkait perubahan jadwal dan penggantian rute untuk seluruh penerbangan domestik maupun internasional. Dari laman website Garuda, bagi calon penumpang yang memiliki tiket issued sebelum dan sampai 15 Maret 2020 dengan perjalanan dari 24 Januari – 31 Mei 2020 akan ada beberapa ketentuan.

Penumpang dapat melakukan perubahan jadwal atau rute penerbangan sebanyak satu kali tanpa dikenakan biaya perubahan. Bila memilih untuk melakukan perubahan jadwal di rute yang sama dan pada kabin penerbangan yang sama di luar periode black out maka tidak ada biaya tambahan, namun sebaliknya pada periode black out akan dikenakan selisih harga dan pajak.

Garuda menuliskan lagi, bila penumpang memilih melakukan perubahan rute terbang, maka akan dikenakan selisih harga dan pajak. Sedangkan untuk penumpang yang belum memiliki keputusan untuk penggantian boleh memperpanjang masa berlaku tiket hingga 31 Maret 2020.

Setelah masa berlaku tiket diperpanjang sampai dengan 31 Maret 2021, penumpang hanya diperkenankan melakukan perubahan jadwal/rute sebanyak satu kali dengan tanggal perjalanan sampai dengan 31 Maret 2021 (complete travel). Garuda mengatakan refund dimungkinkan tetapi dalam bentuk voucher.

Nantinya voucher dapat ditukarkan sampai dengan 31 Maret 2021 dan dapat digunakan untuk pembelian tiket Garuda Indonesia dan produk Garuda Indonesia lainnya. Penukaran voucher dapat dilakukan di kantor penjualan. Khusus penerbangan code-share dengan Airline lain, reschedule harus menggunakan fare-class yang sama.

Jika menggunakan fare-class yang berbeda, maka perbedaan harga berlaku (terdapat tambahan biaya). Tanggal penerbangan baru yang berlaku untuk reschedule / reroute / redeem voucher adalah sampai dengan 31 Maret 2021 (complete travel). Perubahan jadwal, perubahan rute dan reroute dapat dilakukan melalui layanan Live Chat 24 jam Garuda Indonesia atau Call Center.

“Kami saat ini menangani jumlah permintaan yang sangat tinggi dan berusaha untuk memprioritaskan reservasi dengan tanggal penerbangan yang paling dekat. Kami menghimbau para penumpang dengan tanggal keberangkatan dalam waktu 48 jam ke depan yang menghubungi kami melalui Live Chat 24 jam dan call center. Sementara untuk penerbangan dengan waktu diluar itu, mohon menghubungi kami melalui E-Mail,” tulis pihak maskapai.

Namun berbeda dengan maskapai Lion Air yang belum himbauan khusus terkait perpanjangan status darurat bencana akibat virus corona hingga 29 Mei 2020. Namun, maskapai berlambang singa ini mengatakan telah intensif melakukan imbauan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan penerbangan seperti melakukan tes kesehatan sebelum melakukan perjalanan.

Sedangkan AirAsia menawarkan kompensasi bagi calon penumpang berupa pengubahan jadwal atau akun kredit kepada calon penumpang yang telah memiliki tiket penerbangan internasional atau dari Malaysia tetapi hanya untuk penerbangan sebelum 16 Maret 2020 dengan tanggal keberangkatan hingga 30 April 2020. Setiap calon penumpang dihimbau untuk merujuk pada arahan pemerintah dan otoritas masing-masing negara sebelum memutuskan untuk bepergian.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Adapun daftar pembatasan perjalanan tersebut akan diperbarui dan dapat berubah dari waktu ke waktu.Jika ingin lakukan refund, maskapai ini merujuk penumpang ke sitis resmi milik AirAsia. Sebab penawaran kompensasi hanya berlaku untuk pemesanan melalui airasia.com dan bila memesan melalui agen travel bisa menghubungi agen travel untuk bantuan lanjutan.

KAI Tanggap Darurat Covid-19, Pembatalan Tiket Kereta Bisa Secara Online!

Sejak Senin (23/3/2020) kemarin, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta melakukan pengurangan jadwal perjalanan dari Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen dalam rangka antisipasi penyebaran Covid-19. Diketahui terdapat 19 keberangkatan kereta api (KA) yang mengalami pembatalan perjalanan dengan jadwal keberangkatan kurun waktu 23 Maret – 1 April 2020, dan KA yang mengalami pembatalan operasional tersebut merupakan KA-KA yang memiliki jarak berdekatan, sehingga calon penumpang memiliki pilihan KA lain jika memang harus tetap melakukan perjalanan.

Baca juga: Imbas Pembatalan Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh, 3624 Calon Penumpang Pilih Batalkan Tiket

Namun, jika calon penumpang tidak berkenan dialihkan ke KA lain, maka dapat dilakukan pembatalan tiket dengan bea pengembalian 100 persen. Pembatalan tiket dengan pengembalian bea 100 persen juga berlaku bagi calon penumpang KA yang memiliki jadwal keberangkatan pada masa tanggap darurat Corona, yaitu 23 Maret – 29 Mei 2020.Secara total terhitung sejak 1 maret 2020 hingga kini sekitar 71 ribu tiket untuk keberangkatan sampai dengan 90 hari kedepan telah dilakukan proses pembatalan baik melalui loket stasiun dan jalur online.

Guna menghindari penumpukan calon penumpang yang ingin melakukan pembatalan di loket stasiun, terutama di dua stasiun keberangkatan KA Jarak Jauh, Stasiun Gambir dan Pasar Senen, PT KAI Daop 1 Jakarta menginformasikan bahwa pembatalan dapat dilakukan secara online melalui aplikasi KAI Access. Meskipun pembelian tiket melalui stasiun dan channel penjualan tiket yang lain, calon penumpang tetap bisa melakukan pembatalan di aplikasi KAI Access, terpenting nomor identitas yang di daftarkan pada akun aplikasi KAI Access harus sesuai dengan nomor identitas pemesan tiket.

Bahkan, pembatalan melalui KAI Access juga bisa untuk membatalkan tiket lainnya yang masih memiliki satu kode booking.

“Yang perlu dipastikan, calon penumpang memiliki aplikasi KAI Access dengan versi paling update, maka dapat membatalkan tiket dengan pengembalian bea 100 persen. Bagi pengguna yang telah memiliki Aplikasi KAI Access dapat melakukan proses update pada aplikasi tersebut,” kata Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa melalui siaran pers, Rabu (25/3/2020).

Dia mengatakan, jika tidak melakukan pembatalan melalui aplikasi KAI Access, calon penumpang dapat langsung datang ke loket pembatalan yang ada di stasiun. Terdapat delapan stasiun di wilayah Daop 1 Jakarta yang melayani pembatalan tiket KA Jarak Jauh. Masing-masing stasiun memiliki 3 loket untuk melayani pembatalan tiket.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

Bahkan, guna menghindari antrean, khusus di Stasiun Gambir dan Pasar Senen, ditambah menjadi 5 loket layanan pembatalan tiket. Berikut jadwal operasional pelayanan loket pembatalan tiket di stasiun yang buka setiap hari (Senin-Minggu):

1. Stasiun Gambir: Pukul 07.00 – 22.00 WIB
2. Stasiun Pasar Senen: Pukul 07.00 – 22.00 WIB
3. Stasiun Jakarta Kota: Pukul 07.00 – 19.00 WIB
4. Stasiun Bogor: Pukul 09.00 – 16.00 WIB
5. Stasiun Cikampek: Pukul 07.00 – 22.00 WIB
6. Stasiun Rangkasbitung: Pukul 09.00 – 16.00 WIB
7. Stasiun Serang: Pukul 09.00 – 19.00 WIB
8. Stasiun Bekasi : Pukul 07.00 – 22.00 WIB

Jenuh Saat “Work From Home,” Atasi Kebosanan dengan Cari Ini!

Harus bekerja dari rumah alias work from home dan tidak bisa berkumpul dengan teman karena memilimalisir penyebaran virus corona atau Covid-19 mungkin akan sangat membosankan. Namun, ternyata banyak hal yang bisa dilakukan meski bekerja dari rumah seperti melakukan hal yang belum terlaksana atau ‘berkumpul’ melalui video.

Baca juga: Amankah Naik Moda Transportasi Saat Ini?

KabarPenumpang.com merangkum dari laman phillyvoice.com (20/3/2020), berikut ada beberapa tips untuk menghilangkan perasaan bosan ketika harus bekerja dari rumah dan tak bisa bepergian.

Pilih platform dan waktu
Tak bisa bertatap muka secara langsung dengan teman bisa menjadi masalah karena kehilangan pertemuan sosial. Namun, ternyata bisa dilakukan melalui online yakni dengan grup yang akan saling berhubungan melalui telepon video. Banyak aplikasi yang bisa digunakan seperti FaceTime, Skype, Facebook Messanger, Houseparty dan Google Hangouts.

Setelah memilih akan berhubungan grup dengan media sosial, jangan lupa tentukan waktu untuk terhubung satu sama lain. Bagian terbaik dari happy hour virtual ini tidak harus cara tradisional seperti dari jam 5 hingga jam 7, tetapi bisa disesuaikan masing-masing kelompok.

Bermain permainan
Siapa bilang terhubung online tidak bisa bermain? Nyatanya ini bisa dilakukan seperti mengatur Quizzo dan membuat pertanyaan-pertanyaan sepele yang bisa ditanyakan kepada teman-teman. Pilihan lainnya bisa mencoba bermain Jackbox Games.

Bahkan sebuah perusahaan yang berbasis di Chicago baru-baru ini menerbitkan panduan praktis untuk bermain jarak jauh dengan teman-teman. Anda bisa meminta teman memilih secara anonim dalam jajak pendapat tentang pertanyaan lucu dan bodoh seperti, Siapa yang paling mungkin memenangkan lotere tetapi kehilangan tiket?” dan kemudian tertawa bersama hasilnya secara online.

Minuman khas
Tidak semua orang bisa minum minuman keras, ketika berkumpul secara online buat minuman pilihan Anda dan teman. Minuman ini nantinya bisa dinikmati ketika dalam perbincangan dalam video bersama teman lainnya. Meski berbeda-beda tetapi semua bisa menikmati minuman pilihan mereka masing-masing.

Berkolaborasi dalam daftar lagu
Jika Anda dan teman-teman memiliki lagu kesukaan yang sama, salah satu diantaranya bisa memutar lagu tersebut. Ada baiknya buat daftar lagu di Spotify atau Joox untuk hiburan hangout virtual ini. Hal ini bisa membantu Anda dalam menikmati lagu pilihan masing-masing.

Baca juga: Jaga Jarak Sosial, Persempit Penyebaran Covid-19

Siapkan topik untuk dibahas
Ketika berkumpul virtual ini, jangan lupakan untuk menyiapkan topik obrolan. Mungkin obrolan bisa dari hobi hingga apapun yang tengah naik daun seperti virus corona saat ini.

Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Pilot mungkin menjadi salah satu profesi teraman dibanding awak kabin karena tidak berhubungan langsung dengan penumpang. Namun, nyatanya, pilot tetap saja berpeluang terpapar virus corona mengingat mereka masih akan keluar lewat jalur yang sama dengan para penumpang. Atas alasan itu, tak heran bila pilot kemudian mencari alternatif lainnya untuk keluar dari pesawat.

Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Dikutip dari indiatoday.in, seorang pilot AirAsia terpaksa keluar pesawat lewat jendela atau cockpit emergency escape through sliding window setelah pintu keluar utama diketahui telah dilalui oleh beberapa penumpang yang diduga terpapar Covid-19. Selain meninggalkan pesawat melalui pintu keluar utama, para penumpang suspect corona tersebut juga diketahui duduk di barisan terdepan alias tak terlalu jauh dengan akses keluar masuk utama pilot. Tak heran bila pada akhirnya pilot memutuskan untuk keluar dari cockpit emergency hatch.

Beruntung, setelah dites, penumpang diduga terpapar Covid-19 itu dilaporkan negatif corona. Hanya saja, sebelum hasil tes keluar, penerbangan AirAsia rute Pune-Delhi tersebut tetap saja dibuat repot. Selain pesawat harus masuk ke apron yang agak terpencil di bandara, insiden itu juga memaksa maskapai untuk menerapkan kebijakan isolasi mandiri kepada para awak kabin dalam penerbangan tersebut.

“Ada kasus yang dilaporkan tentang dugaan penumpang COVID-19 di atas pesawat I5-732, Pune ke New Delhi pada 20 Maret, yang duduk di Baris 1. Para penumpang kemudian diperiksa dan diuji negatif,” kata seorang juru bicara AirAsia India.

“Sebagai tindakan keamanan setelah mendarat, pesawat itu diparkir di sebuah apron terpencil dan para penumpang yang diduga turun dari pintu depan. Semua penumpang lainnya, dikawal oleh kru, turun lewat pintu belakang pesawat,” lanjutnya.

Di samping melakukan pemisahan jalur keluar penumpang diduga terpapar corona dan tidak serta memarkir pesawat di apron agak jauh di sudut bandara, juru bicara AirAsia India yang tak disebutkan namanya tersebut juga menegaskan bahwa pesawat langsung disemprot disinfektan dan difumigasi guna menjamin kenyamanan dan keamanan pada penerbangan berikutnya. Adapun pilot yang keluar dari Cockpit Emergency Hatch, juru bicara tersebut juga mengakui dan mengklaim bahwa hal tersebut tak menyalahi aturan.

Baca juga: Setelah ‘Tulis’ Pesan Cuci Tangan, Kini Pilot Ingatkan Pesan ‘Stay Home’ di Langit

Cockpit Emergency Hatch sendiri adalah pintu darurat kokpit yang umumnya terletak di atas kokpit tergantung pada jenis pesawat. Umumnya pintu darurat kokpit tersebut digunakan hanya dalam keadaan mendesak. Selain lewat Cockpit Emergency Hatch yang berada di atas kokpit, pilot juga bisa keluar lewat jendela atau cockpit emergency escape through sliding window, sebagaimana yang dilakoni pilot AirAsia di atas.

Bedanya, mungkin terletak dari instrumen pendukung untuk keluar lewat kedua tempat tersebut. Bila pintu darurat yang terletak di atas kokpit dilengkapi dengan cockpit crew emergency escape gear atau biasa juga disebut cockpit escape reels agar memudahkan penggunanya keluar meluncur turun dalam hitungan detik dari ketinggian sekitar 10 meter lebih, pintu darurat kokpit dari jendela umumnya hanya dilengkapi dengan seutas tali dan butuh usaha lebih untuk turun secara manual step by step ketimbang menggunakan cockpit escape reels yang hanya tinggal berpegangan dan langsung meluncur turun.

Di Tengah Wabah Corona, KLM Putuskan Jemput Traveler di Hong Kong dan Seoul

Sebelum kasus virus corona di Italia, Spanyol, dan Iran melonjak tajam, Korea Selatan adalah nomor kedua terbanyak setelah Cina yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di dunia. Hingga 19 Maret lalu, Negeri Ginseng itu tercatat 8,413 kasus dengan 84 di antaranya meninggal dunia. Tak heran bila negara-negara lain melakukan pembatasan perjalanan dari negara tersebut, tak terkecuali pemerintah Indonesia.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Dikutip dari nltimes.nl, di tengah pemberlakuan pembatasan perjalan dari negara tersebut oleh banyak negara di dunia, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disingkat KLM dilaporkan justru malah diizinkan oleh otoritas penerbangan Belanda untuk melakukan penerbangan repatriasi. Penerbangan repatriasi sendiri adalah penerbangan yang dimaksudkan untuk memulangkan kembali warganya yang masih terjebak di Korea Selatan.

Di samping memulangkan warga negara Belanda, penerbangan tersebut juga dimaksudkan untuk memulangkan kembali warga dari negara-negara dengan visa Schengen, seperti Jerman, Yunani, Hungaria, Italia, Islandia, Perancis, Republik Ceko, Austria, Estonia, Finlandia, Luxemburg, Norwegia, Slovakia, Slovenia, Latvia, Spanyol, Lithuania, Polandia, Swiss, Denmark, Swedia, Malta, Belgia dan Portugal.

Dalam laporan The Telegraph, KLM disebut akan melakukan dua penerbangan repatriasi pada Selasa dan Kamis waktu setempat. Oleh karenanya, para travelers yang masih terjebak di Korea dan ingin kembali ke Eropa disarankan untuk segera menghubungi pihak KLM. Belum jelas penerbangan tersebut akan memakai pesawat jenis apa. Hanya saja, bila melihat dari penerbangan repatriasi lainnya, penerbangan Seoul-Amsterdam mungkin juga akan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selain melayani penerbangan repatriasi ke Seoul, Royal Dutch Airlines atau KLM juga akan melayani penerbangan serupa ke HongKong. Untuk penerbangan ke Hongkong, maskapai dilaporkan membuka penerbangan lebih banyak dibanding ke Seoul. Dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightstats.com,setidaknya terdapat empat jadwal penerbangan repatriasi ke Hongkong, mulai dari hari Senin hingga Kamis mendatang.

Dengan penerbangan repatriasi tersebut, maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi dengan nama yang sama dengan ketika pertama kali berdiri itu mungkin akan sedikit ‘terselamatkan’ di tengah anjloknya cash flow maskapai penerbangan di dunia akibat wabah Covid-19. Selain itu, penerbangan repatriasi juga sekaligus membatalkan pengumuman maskapai sebelumnya terkait penangguhan perjalanan dari dan ke Hong Kong, Korea Selatan, dan Italia mulai 14 hingga 28 Maret mendatang.

Efek positifnya, mungkin, lewat penerbangan repatriasi dengan dipenuhi penumpang, akan ada karyawan yang ‘selamat’ dari gelombang PHK massal yang dilakukan perusahaan. Sebelumnya, maskapai asal Belanda tersebut dilaporkan akan melakukan pengurangan 30 persen karyawan atau sekitar 1.500-2.000 karyawannya di seluruh dunia.

Baca juga: Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona

Akan tetapi, bila berbicara efek negatif, penerbangan repatriasi di tengah wabah Covid-19 mungkin terkesan mengorbankan awak kabin. Salah satu anggota dari Asosiasi Kabin Kru Belanda atau Dutch Cabin Crew Association, Chris van Elswijk, menyebut bahwa kru kabin mungkin akan kesulitan untuk menjalankan protokol kesehatan semacam social distancing atau batas jarak hingga 1,5 meter antara satu dengan yang lainnya.

“Jika Anda bekerja di pesawat penuh dengan 300 penumpang, Anda tidak dapat memenuhi pedoman yang ditetapkan,” katanya.