Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua

Lockdown serempak negara-negara di dunia akibat wabah virus corona atau Covid-19 membuat travelers hampir mustahil melakukan perjalanan lintas negara, apalagi lintas benua. Hal itu dikarenakan bandara-bandara hub atau transit seperti Singapura, Bangkok, Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Hong Kong, semuanya telah mengeluarkan kebijakan pembatasan perjalanan bagi seluruh penerbangan.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Dikutip dari news.com.au, perjalanan dari Inggris ke Australia misalnya, atau bisa dikatakan representatif dari penerbangan Eropa dan Asia, bisa dikatakan mustahil mengingat bandara-bandara hub di atas telah menutup diri.

Singapura dilaporkan mulai tadi malam sudah menerapkan kebijakan larangan transit bagi semua travelers. Begitu juga dengan Abu Dhabi dan Dubai. Dua hub terbesar di Timur Tengah tersebut juga dilaporkan sudah menerapkan larangan transit sejak Selasa, 24 Maret pukul 00.00 waktu setempat hingga setidaknya dua pekan mendatang.

Sedangkan untuk Hong Kong, larangan transit untuk setiap penumpang baru akan dimulai pada pukul 23.59 besok atau Rabu, 25 Maret. Demikian juga dengan Bangkok. Hanya saja, Negeri Gajah Putih tersebut tidak sampai melakukan larangan transit bagi para travelers, sebagaimana di Singapura, Dubai, Hongkong, maupun Abu Dhabi. Melainkan, menerapkan kebijakan mewajibkan kepada seluruh penumpang untuk mempunyai sertifikat sehat dan bebas virus corona. Namun tetap saja hal tersebut akan sangat menyulitkan para travelers.

Praktis, dalam kondisi tersebut, peluang satu-satunya travelers hanya bisa mengandalkan penerbangan direct. Meskipun maskapai flag carrier Australia, Qantas disebut masih mengoperasikan penerbangan langsung rute Perth dan London Heathrow, namun, jika ditelusuri dari situs resmi, maskapai yang memiliki nama lengkap Queensland and Northern Territory Aerial Services tersebut justru tidak memiliki penerbangan (ke sana) sama sekali. Bahkan, Qantas dilaporkan akan menangguhkan seluruh penerbangan internasionalnya mulai pekan depan.

“Sejumlah pusat transit internasional utama bagi warga Australia ditutup atau menjadi sangat dibatasi. (Pusat transit) ini termasuk Singapura, Bangkok, Dubai, dan Hong Kong. Peraturan dapat berubah dalam waktu singkat,” tulis situs travel advice Pemerintah Australia, Smart Traveller, pagi ini di laman Facebook.

“Jika Anda memutuskan untuk pulang ke Australia, periksa rute Anda dengan hati-hati dengan maskapai Anda dan dengan membaca serta berlangganan saran perjalanan kami di Smartraveller,” tambahnya.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Dengan berbagai kebijakan larangan tersebut, sangat mungkin saat ini maskapai benar-benar dalam kondisi tertekan. Khususnya maskapai besar dengan reputasi tinggi yang selama ini mengandalkan rute-rute internasional sebagai sumber pemasukan utama perusahaan, salah satunya seperti Singapore Airlines. Hal itu setidaknya terbukti dari pemangkasan kapasitas penerbangan mencapai 96 persen hingga akhir April mendatang.

Sebelumnya, sebagaimana rilis yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, SIA memutuskan untuk memangkas kapasitas penerbangan mencapai 96 persen akibat sepinya permintaan. Tak hanya itu, SIA bersama dengan dua anak perusahaannya, SilkAir dan Scoot, juga akan menggrounded 185 pesawat dari total 196, termasuk di dalamnya pesawa terbesar di dunia, Airbus A380 dan Boeing 787 Dreamliner. Di samping gitu, flag carrier Singapura tersebut juga akan melakukan berbagai langkah efisiensi lainnya, seperti menunda pengiriman pesawat dan memotong gaji karyawan guna menekan tingginya pengeluaran.

Imbas Pembatalan Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh, 3624 Calon Penumpang Pilih Batalkan Tiket

Sebanyak 19 perjalanan kereta api (KA) jarak jauh dari Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta dibatalkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pembatalan tersebut dilakukan oleh KAI untuk mencegah dan meminimalisir virus corona (Covid-19) yang tengah merebak saat ini.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Pembatalan dan pengurangan perjalanan tersebut terjadi di dua Stasiun besar yang ada di Jakarta yakni Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen. Kepala Humas Daop 1 Eva Chairunisa mengatakan, ini diberlakukan mulai pada Senin (23/3/2020) kemarin.

“Perjalanan KA dari Gambir dan Pasar Senen mengalami penyesuaian berupa pengurangan operasional KA. KA yang mengalami pembatalan operasional merupakan pemberangkatan jadwal yang memiliki jarak berdekatan dengan daerah tujuan yang sama sehingga calon penumpang memiliki pilihan jadwal KA lain jika memang harus tetap melakukan perjalanan tersebut dan akan dibantu oleh petugas untuk proses pengalihan jadwal keberangkatan,” kata Eva melalui siaran pers yang diterima, Senin (23/3/2020).

Adanya penguranagn dan pembatalan jadwal perjalanan kereta api, dikatakan Eva dampaknya adalah ribuan calon penumpang tidak jadi berangkat dan memilih untuk mebatalkan tiket pesanan mereka. Eva menyebutkan ada 3624 calon penumpang yang memilih tidak dialihkan dan membatalkan tiket mereka dengan rincian 626 calon penumpang dari Stasiun Pasar Senen dan 3028 dari Stasiun Gambir.

“Sebelumnya kita melalui layanan pelanggan PT KAI Daop 1 Jakarta juga sudah memberikan informasi langsung kepada calon penumpang yang terdampak pada jadwal KA yang dibatalkan. Ada 3624 calon penumpang yang memilih tidak mengalihkan perjalanannya dan membatalkan tiket mereka,” jelas Eva.

Eva menjelaskan, bagi penumpang yang memiliki tiket perjalanan KA dari 23 Maret – 1 April 2020 dan ingin tetap berangkat namun terkena pembatalan, maka akan dialihkan ke jadwal KA lainnya. Calon penumpang yang dialihkan ke KA lain dan mendapat kelas yang sama atau lebih tinggi, tidak akan dikenakan penambahan bea.

Sebaliknya jika dialihkan dan mendapatkan kelas yang lebih rendah, maka KAI akan memberikan bea pengembalian di stasiun kedatangan atau batas waktu pengembalian tiga hari dari tanggal tiket. Dia menambahkan, bila calon penumpang tak ingin berangkat dan membatalkan tiketnya, maka KAI akan memberlakukan bea pengembalian penuh sebesar 100 persen secara tunia.

“Kita kembalikan 100 persen secara tunai. Calon penumpang bisa melakukan pembatalan di stasiun keberangkatan atau stasiun lainnya,” tambah Eva yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (24/3/2020).

Eva menambahkan kebijakan pengurangan jadwal perjalanan ini akan terus dievaluasi sesuai dengan perkembangan dan situasi di lapangan. Namun ketika ditanya kerugian, Eva tidak menjawab apapun.

“Baiknya kita tidak membicarakan kerugian dulu, yang terpenting saat ini kita mengedepankan pelayanan dan melakukan berbagai upaya dari sisi transportasi untuk mendukung pemerintah mempercepat pencegahan dan mengurangi penyebaran virus corona,” jelasnya.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Berikut Jadwal KA yang mengalami pembatalan perjalanan.
1. KA 42 Argo Parahyangan (Gambir – Kiaracondong) keberangkatan 10.45 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
2. PLB7002A Argo Parahyangan (Gambir – Bandung) keberangkatan 19.45 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
3. KA 52 Argo Parahyangan (Gambir – Bandung) keberangkatan 22.55 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
4. KA 66F Argo Parahyangan (Gambir – Bandung) keberangkatan 00.40 WIB, batal tanggal 28-30 Maret 2020.
5. KA 56 Argo Parahyangan (Gambir-Bandung) keberangkatan 07.10 WIB, batal tanggal 26-31 Maret 2020.
6. KA 20 Argo Cheribon (Gambir-Cirebon) keberangkatan 11.10 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
7. KA 22 Argo Cheribon (Gambir-Cirebon) keberangkatan 22.30 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
8. KA 28 Argo Cheribon (Gambir-Cirebon) keberangkatan 06.05 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
9. KA 34 Argo Cheribon (Gambir-Cirebon) keberangkatan 07.30 WIB, batal tanggal 23-31 Maret 2020.
10. KA 84 Taksaka (Gambir-Yogyakarta) keberangkatan 09.30 WIB, batal tanggal 26-31 Maret 2020.
11. KA 86 Taksaka (Gambir-Yogyakarta) keberangkatan 21.30 WIB, batal tanggal 26-31 Maret 2020.
12. KA 146 Fajar UtamaYK (Pasarsenen-Yogyakarta) keberangkatan 07.20 WIB, batal tanggal 26 Maret-1 April 2020
13. KA 148 Senja Utama YK (Pasarsenen-Yogyakarta) keberangkatan 18.55 WIB, batal tanggal 26, 28, 30 dan 31 Maret 2020
14. KA 134 Gumarang (Pasarsenen-Surabaya Pasar Turi) keberangkatan 15.45 WIB, batal tanggal 26-31 Maret 2020.
15. KA 82 Sembrani (Gambir-Surabaya Pasar Turi) keberangkatan 19.00 WIB, batal tanggal 26-31 Maret 2020.
16. KA 78A Turangga (Gambir-Bandung) keberangkatan 14.00 WIB, batal tanggal 26 Maret – 1 April 2020.
17. KA 104B Mutiara Selatan (Gambir-Bandung) keberangkatan 17.10 WIB, batal tanggal 26 Maret-1 April 2020.
18. KA 2 Argo Wilis (Gambir-Bandung) keberangkatan 05.00 WIB, batal tanggal 26 Maret – 1 April 2020.
19. KA 108A Malabar (PasarSenen-Bandung) keberangkatan 16.10 WIB, batal tanggal 26 Maret – 1 April 2020.

Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Virus corona masih terus menghantui masyarakat dunia. Masyarakat pun dihimbau untuk senantiasa menjaga jarak sosial atau social distancing satu sama lain guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Hal itu dinilai efektif ketika satu dengan yang lainnya tidak saling mengetahui siapa dan kapan di antara mereka akan terpapar Covid-19.

Baca juga: Pemindahan Penerbangan dari Bandara Adisucipto ke YIA, Bagian dari Upaya Social Distancing

Dikutip dari euronews.com, Senin, (23/3), meskipun berat, upaya warga dunia dalam menerapkan social distancing rupanya terus dilakukan di berbagai lini kehidupan, tak terkecuali dalam urusan beribadah. Di Inggris, misalnya, pada hari Minggu lalu, Uskup Agung Canterbury, memimpin prosesi ibadah Minggu melalui siaran streaming nasional pertamanya yang disiarkan di laman Facebook the Church of England.

“Hari ini banyak dari kita yang terputus dari akar kita, dari tempat ibu kita. Karena tidak memiliki akar, kita sekarang harus menemukan cara untuk membuat tempat yang aman dan menyambut orang lain pada waktu yang sulit,” katanya kepada para jemaat (viewers).

“Godaannya adalah untuk menarik jembatan penyangga dan menjaga diri kita sendiri. Itu adalah hal yang mengarah pada panic buying, untuk menumbuhkan ketakutan dan ke emosional dan spiritual serta isolasi fisik. Itu menghancurkan kita,” tambahnya.

Berbeda dengan pendeta di Inggris yang melakoni ibadah via streaming, Gereja Katolik St. Edward the Confessor di Bowie, Maryland, rupanya tetap menjalankan ibadah seperti biasa. Hanya saja tidak di dalam Gereja, melainkan di halaman parkir Gereja.

Dalam video yang beredar, pendeta Holmer, salah satu pendeta di Gereja tersebut, tampak duduk di sebuah kursi dan menunggu jemaat datang dengan menggunakan kendaraan dan melaksanakan prosesi konfesi atau pengakuan dosa dan pemberkatan tanpa harus turun, layaknya memesan makanan lewat drive-through. Bedanya, pada prosesi tersebut, antara jemaat dan pendeta berjarak lebih dari satu meter.

Di samping itu, guna menjaga kekhidmatan jemaat saat berdoa, jemaat lainnya harus mengantre dengan jarak lebih dari 5-7 meter di belakang. Tentu saja hal tersebut juga dilakukan dalam upaya menerapkan social distancing sambil memfasilitasi jemaat untuk tetap beribadah.

“Kuncinya adalah untuk menjaga kekhidmatan konfesi, Anda tahu apa yang saya maksud? Anda tidak ingin orang saling mendengar sehingga kita harus menjaga mobil pada jarak tertentu, jadi manajemen lalu lintas mungkin merupakan kunci utama pada prosesi ini,” ujar pendeta Holmer.

Selain dalam urusan agama, urusan jual beli pun tak luput dari perhatian untuk tetap menerapkan social distancing. Di Thailand, misalnya, toko-toko mulai menggunakan katrol dan tanda ‘x’ sebagai petunjuk bahwa tempat tersebut tak boleh diduduki atau didiami. Dengan begitu, skema social distancing akan terbentuk.

Baca juga: Tak Lakukan Lockdown, Singapura Optimalkan Social Distancing

“Seperti yang Anda lihat. Kami menggunakan tali untuk mengirim kopi, serta kotak-kotak yang dipasang dengan roda. Secara mental, semua orang senang. Setidaknya pelanggan akan merasa bahwa kita memperhatikan mereka. Itu juga menciptakan interaksi antara pelanggan dan staf,” kata owner coffe shop di Bangkok, Apirak Chamraksin.

Di Lebanon, social distancing juga semaksimal mungkin diterpakan. Di negara jajahan Perancis tersebut, di salah satu kota, sebuah drone tampak sibuk berlalu-lalang untuk mengantarkan bunga mawar merah ke lantai 3 sebuah rumah, guna merayakan Hari Ibu, serta mencegah pelanggaran batas-batas jarak atau social distancing. Tak hanya itu, drone juga digunakan untuk menghibur dan mendukung para pekerja medis yang tengah bertugas dalam memerangi pandemi.

Imbas Corona, Wanita Asia Jadi Bahan Omelan Rasis di Kereta Bawah Tanah New York

Apakah dibenarkan seseorang menjadi rasis karena negaranya menjadi korban adanya wabah virus corona atau Covid-19 yang saat ini melebar ke belahan dunia lain? Seperti tidak, karena rasisme tidak dibenarkan dimana pun meski negara tersebut menjadi tempat pertama Covid-19 terjadi.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Namun, nyatanya rasis terhadap seorang Cina justru kini terjadi di New York, Amerika Serikat. KabarPenumpang.com melansir laman nbcnews.com (18/3/2020), baru-baru ini seorang wanita bernama Emily Chen tengah menumpang di kereta bawah tanah New York untuk kembali pulang ke rumahnya.

Saat itu ternyata ada seorang penumpang pria yang mulai membuat pernyataan ofensif dan untungnya ada penumpang lain yang membela Chen. Insiden rasis ini terekam dalam sebuah video dan dibagikan oleh Chen melalui laman Facebooknya pada Minggu (15/3/2020) kemarin.
https://web.facebook.com/9310149/videos/10121822316330034/
Dalam video itu penumpang pria tersebut berkata “Kamu orang Cina, mengapa kamu membawa corona ke Amerika?”

Kemudian seorang penumpang lainnya datang untuk memberitahu agar berhenti mengganggu.

Tapi, penumpang tersebut terus meneriakkan kata-kata kasar kepada Chen karena merekam kejadian itu dan penumpang lain menghalangi dia agar tidak semakin mendekat.

“Ini bukan saatnya menyalahkan orang lain atau mencari alasan untuk menyakiti orang lain,” kata Chen di posting Facebook. Insiden ini terjadi setelah walikota New York Bill de Blasio membahas peningkatan diskriminasi xenophobia yang diarahkan pada komunitas Asia yang ia sebut “tidak dapat diterima.”

Diketahui, awal bulan Maret, seorang pria terekam kamera sedang menyemprot penumpang Asia dengan penyegar udara Febreze. Pria itu terdengar berteriak “Aku tidak ingin dia di bawahku! Katakan padanya untuk bergerak.”

Minggu lalu, Komisi hak Asasi Manusia kota New York mengatakan mereka sedang menyelidiki lima kasus rasisme yang disebakan oleh Covid-19 yang terjadi selama dua minggu terakhir. Salah satu contoh melihat seorang pria berusia 59 tahun memberi tahu polisi bahwa seorang remaja menendangnya ke tanah sambil berteriak ‘Virus corona Cina,’ sebelum meludahi wajahnya.

Kasus lain melibatkan seorang wanita di Midtown yang meninju seorang wanita Asia tanpa topeng di wajahnya sambil berteriak ‘Di mana masker corona Anda, Anda jalang Asia?’

Baca juga: Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Pihak berwenang juga menyelidiki seorang pria yang berulang kali melecehkan seorang pria Asia dan putranya yang berusia 10 tahun di Queens. Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan dalam sebuah pernyataan pekan lalu bahwa ia “muak” mendengar tentang serangan baru-baru ini terhadap seorang wanita keturunan Asia berusia 23 tahun.

“Tidak seorang pun di negara bagian ini yang pernah merasa terintimidasi atau terancam karena siapa mereka atau bagaimana penampilan mereka,” katanya.

Setelah ‘Tulis’ Pesan Cuci Tangan, Kini Pilot Ingatkan Pesan ‘Stay Home’ di Langit

Dunia berlomba-lomba melawan wabah virus corona. Beragam cara dilakukan oleh banyak negara serta masyarakatnya dari berbagai kalangan, mulai dari selebgram, youtuber, hingga pilot sekalipun tak ingin ketinggalan untuk memberikan pesan positif melawan penyebaran virus corona.

Baca juga: Sering Lihat Pesawat Mengeluarkan Asap Putih? Ini Dia Penjelasannya

Belum lama ini, seorang pilot di Sydney, Australia, mendadak viral di media sosial setelah melakukan cara tak biasa untuk mengingatkan masyarakat setempat agar senantiasa menjaga kebersihan di tengah merebaknya Covid-19.

Lewat manuver di langit Kota Sydney, pesawat itu mengeluarkan asap putih yang membentuk tulisan ‘wash hand’ alias cuci tangan. Pesan tersebut tentu sangat sejalan dengan berbagai protokol kesehatan di banyak negara di seluruh dunia yang salah satu di antaranya menekankan pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh benda apapun. Terlebih di tengah wabah virus corona seperti sekarang ini.

Dilansir CNN Travel, seolah tak ingin ketinggalan, seorang pilot di Austria pun melalukan langkah serupa. Bedanya, bila pilot di Australia tersebut melakukannya dengan condensation trail (contrail), yaitu efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan, pilot di Austia tersebut ‘menulis pesan stay home’ di langit dengan cara digital atau skywriting digital.

Sayangnya, pesawat tersebut tanpa disertai kejelasan data diri pilot. Sepertinya, ia menggunakan Etch A Sketch untuk mengeja tulisan dengan pesan ‘Stay Home’ di situs radar penerbangan, Flightradar24. Dalam aksinya, pilot menulis pesan itu lewat penerbangan dengan durasi 24 menit pada hari Senin. Ia diketahui lepas landas dari bandara di Wiener Neustadt, Austria, sekitar 50 mil selatan Wina.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Sama halnya dengan pesan pilot di Austalia, pesan pilot di Austria tersebut juga sangat sejalan dengan protokol kesehatan di seluruh dunia. Selain melakukan social distancing, langkah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 salah satunya dengan berdiam diri di rumah atau stay home. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari beberapa negara yang telah menerapkan kebijakan lockdown yang poin terpentingnya adalah stay home.

Hingga Kamis lalu, sebanyak 1.843 warga Austria tercatat telah terjangkit virus Corona. Hal itu pun dibenarkan oleh salah satu pejabatnya. Dengan banyaknya kebijakan lockdown atau stay home, diharapkan rantai penyebaran virus corona dapat terputus dan virus tersebut dapat benar-benar segera lenyap dari muka bumi.

Pemindahan Penerbangan dari Bandara Adisucipto ke YIA, Bagian dari Upaya Social Distancing

Di tengah merebaknya wabah virus corona, PT Angkasa Pura I terus memantapkan jadwal pengoperasian penuh (full operation) Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo pada 29 Maret 2020. Saat full operation tersebut, ditandai dengan pemindahan seluruh penerbangan dari Bandara Adisucipto Yogyakarta ke YIA. Namun rupanya tak semua bakal pindah ke YIA.

Baca juga: Beroperasi Penuh Per 29 Maret 2020, Semua Maskapai dari Adisucipto Pindah ke YIA

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (23/3/2020), PT Angkasa Pura I menyebut penerbangan berjadwal dan tidak terjadwal yang menggunakan pesawat propeller serta penerbangan VIP yang menggunakan pesawat jet pribadi, masih akan tetap beroperasi dari Bandara Adisutjipto. Namun lain dari proses pemindahan tersebut, nyatanya rencana pemindahan juga terkait dengan penanganan wabah corona. “Kepindahan seluruh penerbangan dari Bandara Adisucipto di tengah situasi seperti saat ini juga merupakan solusi untuk mengurangi risiko penularan Virus Corona/Covid-19 di tengah padatnya penumpang dan sempitnya ruang untuk menerapkan konsep social distancing dengan maksimal di Bandara Adisutjipto,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi.

Memiliki terminal penumpang seluas 219.000 meter persegi, YIA dapat menampung hingga 20 juta penumpang per tahun atau 11 kali lebih besar dari Bandara Adisutjipto yang hanya dapat menampung 1,8 juta penumpang per tahun.

Adapun penerbangan yang akan dipindahkan yaitu sebanyak 54 penerbangan yang terdiri dari 48 penerbangan domestik (24 jadwal keberangkatan dan 24 jadwal kedatangan) dan 6 jadwal penerbangan internasional rute Malaysia dan Singapura.

Bandara YIA memiliki landas pacu (runway) sepanjang 3.250 x 45 meter dengan shoulder (bahu runway) 15 meter di kedua sisi dan memiliki tingkat kekerasan PCN (Pavement Classification Number) 107. Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8. “Spesifikasi ini membuat YIA mampu didarati oleh pesawat berbadan besar dan terberat seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380,” tambah Faik Fahmi.

Sejak awal beroperasi pada 6 Mei 2019 hingga Februari 2020, YIA telah melayani lebih dari 336.823 penumpang dan 3.843 pergerakan pesawat dengan 13 rute domestik tujuan Denpasar, Banjarmasin, Palembang, Jakarta (Cengkareng dan Halim Perdanakusuma), Palangkaraya, Batam, Banjarmasin, Samarinda, Tarakan, Pontianak, Makassar, dan Kualanamu.

Baca juga: Pasar di Bandara YIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Beroperasinya YIA secara penuh akan membuat operasional YIA bertambah menjadi 24 jam dari yang sebelumnya hanya beroperasi 12 jam dari pukul 06.00 – 18.00 WIB. Sementara, jam operasi Bandara Adisutjipto Yogyakarta akan berubah dari sebelumnya pukul 05.00 – 21.00 WIB, menjadi pukul 05.00 – 18.00 WIB.

Emirates Lakukan Tes Covid-19 Pada Seluruh Awak Kabin

Uni Emirat Arab, sebagai negara kaya minyak, sampai saat ini telah menyelesaikan lebih dari 125 ribu tes dalam beberapa minggu terakhir. Itu hanya 23 ribu tes lebih sedikit daripada Italia negara yang paling parah terkena dampak di Eropa di mana sayangnya jumlah kematian terkait virus corona (Covid-19) kini telah melebihi daratan Cina.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Otoritas kesehatan di Uni Emirat Arab, kini memperluas pengujian Covid-19 nya yakni ke seluruh awak kabin maskapai Emirates. Mereka melakukan pengujian karena mengatasi kekhawatiran terkait perjalan internasional. Sehingga awak kabin yang baru mendarat di Bandara Internasional Dubai harus melakukan serangkaian tes. Bandara Dubai sendiri dikenal sebagai hub bagi Emirates.

Tes ini bukan hanya pemeriksaan kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh tetapi tes Covid-19 yeng melibatkan pengusapan hidung. Hasil dari tes tersebut akan keluar dalam waktu 12 jam. Namun meski begitu, para awak kabin ini diperintahkan untuk mengkarantina diri mereka masing-masing selama 14 hari dari hari mereka tiba di Bandara Internasional Dubai.

Dilansir KabarPenumpang.com dari paddleyourownkanoo.com (20/3/2020), selama periode isolasi mandiri ini, awak kabin bisa dipanggil untuk melakukan penerbangan dan ketika kembali ke Dubai mereka harus melakukan melakukan kembali periode karantina mandiri selama 14 hari. Maskapai asal Uni Emirates Arab ini juga meredakan kekhawatiran terkait penerbangan dengan meluncurkan skrining panas pada semua keberangkatan di bandaranya.

Sehingga setiap penumpang yang terdeteksi memiliki suhu abnormal atau melebihi batas yang ditentukan akan melakukan skrining lebih lanjut dan tes Covid-19. Saat melakukan serangkaian tes, penumpang tidak akan diizinkan naik ke pesawat hingga hasil dinyatakan negatif.

Maskapai juga mengklaim akan melakukan desinfeksi selama delapan jam terhadap pesawat apa pun di mana Covid-19 yang dikonfirmasi atau diduga terjadi. Seperti maskapai lainnya, krisis Covid-19 juga berdampak besar pada bisnis Emirates. Maskapai ini terpaksa memangkas jadwal dan sekarang meminta staf untuk mengambil cuti tanpa bayaran untuk mengurangi biaya.

Diketahui, adanya pemeriksaan Covid-19 karena awal minggu ini, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom memiliki pesan sederhana untuk mengalahkan pandemi Covid-19 untuk pemerintah di seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

“Tes, tes, tes. Kamu tidak bisa melawan api dengan mata tertutup. Dan kita tidak bisa menghentikan pandemi ini jika kita tidak tahu siapa yang terinfeksi,” kata Tedros terkait kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya pengujian.

Airbus Masih Hentikan Produksi, Serikat Pekerja Layangkan Protes

Setelah menghentikan produksi dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang selama empat hari lalu atau sejak Selasa (17/3), untuk mencegah penyebaran virus corona, Airbus memutuskan masih akan terus melanjutkan penghentian sementara proses produksi di pabrik-pabrik mereka. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesehatan para pekerjanya dari paparan Covid-19.

Baca juga: Setelah Boeing, Kini Karyawan Airbus di Spanyol Dilaporkan Positif Terinfeksi Corona

Dilansir CNBC international, dalam sebuah pernyataannya, Airbus mengatakan telah melakukan beberapa kegiatan terkait protokol kesehatan negara ataupun dunia dengan serikat pekerja untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawannya, sambil tetap mengamankan kelangsungan bisnis.

Produsen pesawat patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut mengkonfirmasi bahwa aktivitas produksi akan kembali dilanjutkan ketika stok atau rantai produksi mulai menipis. Di samping itu, pabrik akan kembali beraktivitas ketika situasi mulai aman. Pasalnya, hingga kini, wabah Covid-19 di Perancis ataupun di Eropa tengah meningkat tajam dengan angka kematian tinggi.

Pernyataan Airbus tersebut juga sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang. Terlebih, European planemaker menyebut bahwa pabrik Airbus di Perancis dan Spanyol akan kembali berakvitas pada Senin hari ini setelah empat hari stop produksi.

Pernyataan tersebut tentu saja sejalan dengan fakta yang ada. Perancis dan Spanyol sejauh ini memang dikenal sebagai andalan bagi beberapa jalur perakitan pesawat sipil dan militer Airbus dan bagian-bagian manufaktur yang diperlukan untuk keberlangsungan operasional perusahaan di negara-negara lain, terutama di Inggris dan Jerman, selain juga di lokasi perakitan satelit (pendukung) di Amerika Serikat dan Cina.

Hanya saja, keputusan Airbus tersebut kemudian mendapatkan kritikan tajam dari serikat pekerja. Serikat CGT Perancis menilai langkah tersebut nantinya bukan hanya berdampak pada Airbus itu sendiri, melainkan lebih luas dari itu, mencakup seluruh rantai produksi pesawat di berbagai negara.

Jika itu terjadi, tentu akan sangat berisiko bagi Airbus untuk membangun kembali rantai pasokan yang telah rusak ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan demikian, jadwal pengiriman pesawat mungkin akan tertunda di saat maskapai tengah menghadapi lonjakan permintaan tajam saat industri penerbangan telah normal kembali.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Oleh karenanya, serikat pekerja tersebut meminta Airbus untuk memberikan pilihan kepada para karyawan. Detailnya, perusahaan harus mengizinkan para karyawan untuk memutuskan sendiri, berkerja atau tidak, demi menjaga keberlangsungan bisnis. Terlebih saham Airbus SE juga telah terkoreksi turun 64 persen.

Keputusan Airbus tersebut tentu sejalan dengan pemerintah negara tersebut. Sebelumnya, sejak Selasa siang, orang-orang di Perancis telah dilarang keluar dari rumah mereka, hingga 14 hari ke depan, selain melakukan perjalanan penting dengan menandatangani dokumen yang menyatakan ke mana mereka akan pergi. Negara tersebut juga akan memberlakukan denda bagi warganya yang melanggar aturan lockdown dan protokol kesehatan seperti social distancing atau bahkan physical disctancing.

Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Setelah mengkonfirmasi hanya akan mengoperasikan 50 persen dari kapasitas yang semula dijadwalkan hingga akhir April, belum lama ini Singapore Airlines (SIA) dilaporkan akan memangkas jauh lebih tinggi dari itu, mencapai angka 96 persen hingga akhir April. Hal tersebut tentu saja diakibatkan oleh anjloknya permintaan di tengah pembatasan perjalanan di banyak negara di seluruh dunia akibat Covid-19.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Dilansir Bloomberg, SIA bersama dengan dua anak perusahaannya, SilkAir dan Scoot, akan menggrounded 185 pesawat dari total 196, termasuk di dalamnya pesawa terbesar di dunia, Airbus A380 dan Boeing 787 Dreamliner. Di samping gitu, flag carrier Singapura tersebut juga akan melakukan berbagai langkah efisiensi lainnya, seperti menunda pengiriman pesawat dan memotong gaji karyawan guna menekan tingginya pengeluaran.

CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, menyebut bahwa pihaknya akan mulai menjalankan skema pemotongan gaji tersebut pada bulan ini dengan persentase pemotongan sebanyak 15 persen dari angka (gaji) normal serta menawarkan cuti tanpa dibayar. Hal itu pun juga berlaku untuk karyawan senior dan dewan direksi. Hanya saja, untuk keduanya, belum diketahui berapakah persentase pemotongannya.

Selain itu, dalam sebuah pernyataan, SIA Group juga mengakui bahwa pihaknya memang tengah melalui masa-masa sangat sulit. Parahnya lagi, masa-masa sulit itu juga tidak diketahui kapan akan berakhir.

“Di tengah tantangan terbesar yang dihadapi SIA Group saat ini, tidak jelas kapan SIA Group dapat mulai menjalakan kembali layanan dengan normal mengingat ketidakpastian kapan pemberlakuan perbatasan yang ketat akan dicabut,” kata SIA.

Oleh karenanya, dalam keadaan sulit seperti ini, Singapore Airlines mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan lembaga keuangan mengenai kebutuhan pendanaan jangka pendek dan panjang. Kemudian, SIA juga telah menempuh jalur pembiayaan kredit untuk mendukung arus kas atau cash flow perusahaan.

Keadaan SIA seperti ini pun mengingatkan kembali pada pernyataan Centre for Aviation atau CAPA. Dikutip dari Bloomberg, seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA mengatakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang atau telah melakukan praktik bisnis tak sehat. Singkatnya, maskapai bisa dikatakan telah bangkrut (secara substansial). Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Menariknya, SIA mungkin saja akan bernasib sama dengan maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe. Belum lama ini, maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Pertanyaan pun muncul, dengan memangkas 96 persen dari kapasitas penerbangan ditambah arus kas perusahaan yang tengah tertekan, bila SIA tak mendapatkan suntikan dana, mungkinkan SIA bernasib sama dengan Flybe?

Tak Lakukan Lockdown, Singapura Optimalkan Social Distancing

Berbagai negara sudah menerapkan lockdown untuk meminimalisir penyebaran virus corona (Covid-19). Lockdown yang dilakukan bukan hanya agar warga negara tersebut tidak bepergian keluar rumah untuk berkumpul, juga untuk menghindari pendatang yang bisa saja membawa virus untuk disebarkan.

Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Namun, Singapura justru tidak mengambil langkah tersebut padahal lebih dari 300 orang terinfeksi dan dua diantaranya meninggal dunia. Dirangkum KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (20/3/2020), Singapura justru menerapkan sosial distancing dan tidak melockdown negaranya.

Melalui akun Facebook-nya, Presiden Halimah Yacob menyatakan, meski kasus baru di Cina sudah dapat dikendalikan, namun di Eropa dan Amerika Serikat, wabah masih berada di puncaknya. Apalagi bila Singapura melakukan lockdown, dampak sosial dan ekonomi akan semakin besar.

Di mana ekonomi Negeri Singa ini terpukul dan menghadapi ancaman resesi karena sektor perdagangan dan pariwisata tak beroperasi normal. Dia melarang adanya acara dan pertemuan yang dihadiri 250 orang atau lebih.

Sebab sebanyak 40 kasus baru dilaporkan pukul 12 malam pada Jumat (20/3/2020) dengan total menjadi 385 yang terinfeksi. Kementerian kesehatan Singapura mengatakan, langkah untuk melarang pertemuan besar adalah perluasan dari persyaratan sebelumnya untuk acara olah raga, budaya dan hiburan dengan tiket terbatas menjadi kurang dari 250 orang.

Kementerian juga mendesak para pengusaha untuk memudahkan staf untuk bekerja dari rumah, dan mengatakan akan memperpanjang penangguhan beberapa kegiatan untuk para manula hingga 14 hari lagi hingga 7 April.

“Kami tidak melihat bukti penyebaran masyarakat luas di Singapura namun pada tahap ini karena sebagian besar peningkatan berasal dari kasus impor. Tetapi kami ingin menjadi proaktif dalam menerapkan langkah-langkah penyelamatan yang sangat ketat sejak dini,” Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong.

Operator yang tidak mematuhi persyaratan untuk menunda pertemuan besar dapat dituntut di bawah Undang-Undang Penyakit Menular dan siapa pun yang dihukum karena pelanggaran pertama dapat didenda sebanyak S$10 ribu ($ 6.900) dan dipenjara selama enam bulan. Pemerintah Singapura juga meluncurkan aplikasi mobile baru pada hari Jumat untuk mempercepat pelacakan kontak dengan mendeteksi dan merekam ponsel di dekatnya yang juga memiliki aplikasi diinstal, daripada mengandalkan ingatan individu, yang bisa keliru.

Baca juga: Tersebar Foto Kabin ‘Kosong’ Singapore Airlines dari Korea Selatan ke Singapura

Aplikasi ini memperkirakan jarak antara pengguna dan durasi kontak mereka dalam 2 meter dan dalam jangka waktu 30 menit dan informasi ini akan direkam dan disimpan secara lokal di ponsel masing-masing pengguna.