A318 “Baby Bus,” Proyek Gagal Airbus yang Berhasil Lampaui Boeing

Selain memproduksi pesawat superjumbo A380, Airbus juga memproduksi pesawat mungil berjarak pendek hingga menengah, berbadan sempit dengan kapasitas maksimum 132 penumpang dan memiliki jangkauan maksimum 5.700 km. Selain itu, pesawat jet penumpang komersial bermesin ganda (twinjet), sekalipun hanya laku 80 unit, namun jumlahnya masih melapaui pesawat sejenis buatan kompetitor, Boeing 737-600 yang hanya laku 69 unit. Pesawat tersebut adalah A318.

Baca juga: “Ogah Rugi, Cari Paling Murah dan Tidak Ada Pilihan,” Jadi Momok Pemumpang Pesawat di Indonesia

Dikutip dari berbagai sumber, ide untuk membuat A318 berawal dari hasil riset pada tahun 1997 yang menunjukkan bahwa maskapai dunia pada umumnya membutuhkan pesawat kecil berukuran 70-80 penumpang. Atas dasar itu, kemudian Airbus sepakat menjalin kerjasama dengan Cina melalui Aviation Industries of China (AVIC), Singapura melalui Singapore Technologies Aerospace (STAe), dan Italia melalui Alenia Aeronautica untuk membuat pesawat dengan ukuran sekitar 100 orang.

Dalam perjalanannya, Cina tiba-tiba berubah haluan dan menginginkan pesawat yang lebih besar berkisar 150 orang. Tentu saja permintaan tersebut ditolak Airbus karena dikhawatirkan akan mengambil pangsa pasar A320 yang lebih dahulu lahir pada 22 Februari 1987. Cina pun akhirnya memutuskan mundur setelah tak mendapat jalan keluar atas ketegangannya dengan Airbus. Langkah Cina kemudian diikuti dengan Singapura yang mulai ragu dengan keberhasilan proyek A318. Adapun Italia diyakini tetap berada dalam proyek tersebut.

Meski demikian, sebelum bubar, empat negara tersebut telah berhasil membuat prototipe pesawat dengan kode sandi AE31X. Dari situ kemudian lahir dua pesawat turunannya, AE316 dan AE317, tanpa melalui fase eksplorasi alias fixed product pada desain pertama. AE316 memiliki panjang 31,3 meter dan AE317 memiliki panjang 34,5 meter. Setelah proyek bubar, Airbus tak ambil pusing. Produsen pesawat patungan antara Perancis, Jerman, dan Spanyol itu akhirnya mengambil desain A320, dengan memperpendek dimensinya menjadi hanya 31,44 m, tak jauh berbeda dengan desain AE316.

Meski demikian, mundurnya Singapura dan Cina yang notabener sebagai investor terbesar dengan 46 persen saham, bukanlah satu-satunya rintangan dalam proses produksi A318. Proyek senilai $2 miliar atau sekitar Rp31,5 triliun itu (kurs 15.779) tersebut bahkan terancam batal akibat peristiwa serangan 11 September 2011 yang membuat pesanan turun drastis.

Tak hanya itu, A318 yang semula menggunakan mesin Pratt & Whitney, kemudian memutuskan untuk menggantinya menjadi mesin keluaran CFM International (CFM). Hal itu karena mesin baru Pratt & Whitney dinilai justru lebih boros dan tidak sesuai ekspektasi. Mendapat kabar tersebut, beberapa maskapai pun, seperti Air China, British Airways, America West Airlines, dan Trans World Airlines (saat ini telah diakuisisi oleh American Airlines), membatalkan pesanan A318 dan mengalihkannya menjadi A319 atau A320, pesawat sejenis dengan kapasitas sedikit lebih besar.

Meski mendapat berbagai rintangan berat, sejak resmi melakukan layanan perdana pada 2003, A318 justru memiliki catatan kecelakaan yang cukup baik dalam internal keluarga A320. Pada 2018 silam, dari 118 kecelakaan yang melibatkan keluarga Airbus A320, satupun tidak ada yang melibatkan A318. Cukup aman, bukan?

Baca juga: Melawan Lupa, Ini Dia 4 Pesawat Terkecil di Seantero Jagad

Kini, pesawat yang ditenagai oleh dua mesin CFM56-5 atau Pratt & Whitney PW6000 dan jarak jangkau maksimal 5700 km tersebut dari 80 unit yang diproduksi, hanya tersisa 65 unit yang masih dioperasikan oleh lima maskapai, seperti Air France, TAROM, British Airways, Titan Airways, dan beberapa operator swasta atau pemerintahan.

Meskipun A318 adalah pesawat jarak pendek, nyatanya, Birtish Airways, mengoperasikan pesawat tersebut pada rute trans-Atlantik London-New York PP. Menariknya, karena Bandara London City memiliki landasan pacu pendek dan memaksa pesawat terbang dengan muatan terbatas, pada rute London-New York, A318 harus transit di Bandara Shannon, Irlandia, terlebih dahulu untuk mengisi penuh bahan bakar dan melanjutkan perjalanan ke New York, Amerika. Adapun pada rute New York-London, British Airways A318 dapat memuat penuh bahan bakar karena di bandara tersebut tidak ada pembatasan muatan dan dapat terbang langsung ke London dengan konfigurasi seluruhnya kelas bisnis 32 penumpang.

Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan

Satu dari dua kapal ferry baru yang sangat efisien dan ramah lingkungan telah beroperasi pada 10 Maret 2020. Kapal fery yang dimiliki oleh Hankyu Ferry Co.Ltd ini menggunakan solusi dari Wartsila.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Kapal bernama Settsu tersebut spesifikasinya yakni memiliki mesin dan sistem pembersihan gas buangan yang paling efisien. KabarPenumpang.com melansir dari laman hellenicshippingnews.com (18/3/2020), kapal ferry Settsu tersebut dibuat di halaman Mitsubishi Shipbuilding.

Settsu ditenagai oleh mesin dari Wartsila dengan kode 31 yang mana telah diakui oleh Guiness World Records sebagai mesin diesel 4-tak paling efisien di dunia. Mesin Wartsila 31 bisa mencapai efisiensi bahan bakar yang luar biasa melalui kombinasi teknologi inovatif termasuk injeksi bahan bakar common rail, kontrol katup hidrolik, turbocharger dua tahap dan sistem kontrol mesin Wartsila UNIC terintegrasi.

Efisiensi tinggi yang dihasilkan secara signifikan tersebut bisa mengurangi biaya bahan bakar sedangkan di saat yang sama juga menurunkan tingkat emisi. Kapal ferry Settsu ini dilengkapi dengan sistem scrubber hibrida Wartsila untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan pembatasan belerang atau sulfur 2020 dari IMO.

Manajer produk umum Wartsila Marine, Rasmus Teir mengatakan, adanya efisiensi bahan bakar sangat penting bagi operator kapal ferry di Jepang. Dia menyebutkan menggunakan mesin Wartsila 31 ini bisa menghasilkan penghematan energi yang diinginkan itu.

“Pada saat yang sama, dengan menurunkan konsumsi bahan bakar kami juga mengurangi emisi, yang merupakan persyaratan utama lainnya. Teknologi kami yang unik menawarkan kinerja emisi terbaik di seluruh rentang muatan,” kata Rasmus.

Takahiro Yamaguchi, Direktur, Hankyu Ferry Co.Ltd mengatakan, untuk proyek ini pihaknya menginginkan teknologi tercanggih. Menurutnya Wartsila 31 adalah pilihan yang tepat dan jelas untuk memenuhi kebutuhan mesin.

“Sedangkan scrubber Wartsila hybrid adalah solusi ramah lingkungan yang sangat relevan untuk batas sulfur 0,5 persen,” kata Takahiro.

Baca juga: Di 2021, Laut Pedalaman Seto Jepang Bakal Kehadiran Boat-Hailing yang Serba Bisa!

Diketahui, Jepang memiliki lebih dari 400 pulau yang dihuni secara permanen. Negeri Sakura ini telah banyak berinvestasi selama beberapa tahun terakhir dalam layanan kapal ferry. Saat ini bahkan sektor kapal ferry Jepang adalah salah satu yang paling canggih dan efisien di dunia.

Amankah Naik Moda Transportasi Saat Ini?

Pembatasan perjalanan sementara di beberapa negara untuk transportasi umum sudah mulai diberlakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Namun masih banyak pertanyaan tentang apakah aman untuk terbang, berlayar atau naik angkutan umum?

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bbc.com (10/3/2020), berbagai jawaban kemudian muncul terkait pertanyaan-pertanyaan penggunaan moda transportasi ini.

#1 Kereta dan Bus
Tingginya potensi risiko terinfeksi virus di kereta api ataupun bus tergantung seberapa ramai penumpangnya. Ini pun banyaknya penumpang bervariasi di berbagai bagian negara dan rute yang berbeda. Seperti di London Underground (kereta bawah tanah) di mana ada kepadatan yang sangat tinggi dari orang yang berkerumun di masing-masing gerbong.

Dokter Lara Gosce dari Institute of Global Health mengatakan, penelitian menunjukkan orang yang menggunakan kereta bawah tanah secara teratur lebih mungkin untuk menderita gejala seperti flu.

“Terutama, itu menunjukkan bahwa wilayah dilayani oleh jalur yang lebih sedikit, dimana penduduk dipaksa untuk mengubah jalur satu atau lebih ketika bepergian di bawah tanah dan memiliki tingkat penyakit mirip influenza yang lebih tinggi, dibandingkan dengan wilayah yang dilayani dengan baik di mana penumpang mencapai tujuan mereka dengan satu perjalanan langsung,” katanya.

Jika Anda bepergian dengan kereta atau bus yang relatif kosong, risiko Anda akan berbeda. Seberapa baik kendaraan berventilasi dan berapa lama Anda menghabiskannya juga akan memainkan peran. Network Rail mengatakan pihaknya melanjutkan dengan jadwal pembersihan “bisnis seperti biasa” tetapi sedang membuat rencana untuk pembersihan ekstra di stasiun spesialis jika perlu.

Operator bus utama Arriva juga mengatakan akan melanjutkan dengan rezim pembersihan normal untuk saat ini. Transport for London mengatakan telah meningkatkan rezim pembersihan pada jaringan kereta dan busnya, termasuk menggunakan desinfektan anti-virus tingkat rumah sakit. Menurut dokter Gosce, membatasi jumlah kontak dekat dengan individu dan objek yang berpotensi terinfeksi adalah penting.

“Dalam hal perjalanan, hindari jam sibuk jika memungkinkan atau jika memungkinkan, penumpang harus memilih rute yang hanya melibatkan satu alat transportasi,” kata dia.

Saat ini, pemerintah Inggris tidak memberitahu orang untuk menghindari transportasi umum. David Nabarro, seorang penasihat khusus pada virus corona untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa meskipun transportasi umum adalah hal yang penting untuk dilihat, bukti menunjukkan bahwa jenis “kontak sekilas” yang dimiliki orang ketika bepergian bersama sejauh ini tampaknya menjadi “sumber penularan terpenting”.

#2. Pesawat
Banyak yang berpikir bahwa lebih cenderung jatuh sakit di pesawat karena menghirup udara yang tidak sehat. Padahal udara di pesawat mungkin lebih baik dari pada rata-rata di kantor dan hampir pasti lebih baik daripada kereta atau bus. Profesor Quingyan Chen di Universitas Purdue, yang mempelajari kualitas udara di kendaraan penumpang yang berbeda, memperkirakan bahwa udara di pesawat diganti sepenuhnya setiap 2-3 menit, dibandingkan dengan setiap 10-12 menit di gedung ber-AC.

Itu karena ketika Anda berada di pesawat, udara yang Anda hirup sedang dibersihkan oleh sesuatu yang disebut filter udara partikulat efisiensi tinggi (Hepa). Sistem ini dapat menangkap partikel yang lebih kecil daripada sistem pendingin udara biasa, termasuk beberapa virus. Filter menghisap udara segar dari luar dan mencampurnya dengan udara yang sudah ada di dalam kabin, yang berarti bahwa pada suatu saat separuh udaranya segar dan sebagian lagi tidak. Banyak sistem pendingin udara biasa hanya mensirkulasi ulang udara yang sama untuk menghemat energi.

Selain menghirup tetesan dari seseorang yang batuk atau bersin, infeksi seperti virus corona dapat ditularkan melalui menyentuh permukaan yang terkontaminasi dengan tetesan infeksi pada mereka apakah itu tangan seseorang atau pegangan pintu.

Baca juga: Gegara Corona, Transportasi Umum di Israel Hanya Melayani Rute ke Kantor Pemerintahan

Perhatian utama tentang perjalanan udara adalah bagaimana penerbangan dapat mengangkut orang yang berpotensi menular dari satu bagian dunia ke bagian lainnya. Saat ini, pemerintah Inggris tidak menyarankan untuk tidak menggunakan pesawat hanya melakukan perjalanan ke daerah yang terkena dampak khusus, seperti Italia dan Provinsi Hubei, di Cina.

Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Bagi traveler yang kerap bepergian menggunakan pesawat, terkadang kerap dihadapkan dengan pilihan sulit antara istirahat dengan tanpa cahaya sama sekali (karena tirai jendela ditutup seluruhnya) atau istirahat dan menikmati penerbangan dengan menutup sebagaian tirai atau tidak sama sekali.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Padahal, pilihan untuk menutup tirai seluruh atau setengahnya belum mampu mengakomodir keinginan tipe pelanggan yang tetap menginginkan cahaya, namun tidak dalam intensitas berlebih, layakya kaca film pada mobil yang bisa diatur persentase kecerahannya. Tapi tenang, bagi tipe penumpang seperti itu, mungkin salah satu inovasi ini bisa mengakomodir keinginan Anda.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Simple Flying, Sabtu, (21/3), belum lama ini, sebuah situs online, Magical Super Store, menjual kaca film atau stained glass untuk pesawat. Pasalnya, selama ini, stained glass memang lebih banyak dijumpai di Gereja atau bangunan tua peninggalan abad pertengahan dan hampir tak pernah ditemui di jendela pesawat dengan ketinggian 10-11 kilometer di udara.

Dalam deskripsinya di laman magicalsuperstore.com, toko tersebut mengklaim mampu membuat pesawat tampak lebih megah karenanya. Selain itu, stained glass atau kaca film tersebut juga mudah digunakan karena dapat melekat pada permukaan kaca apapun.

Di samping itu, stained glass juga dapat dicuci agar bisa digunakan berkali-kali atau digulung dan digunakan kembali dengan mudah tanpa perlu kehilangan bentuk aslinya apalagi kehilangan daya rekat. Menariknya lagi, kaca film tersebut juga diklaim mampu melindungi permukaan kaca dari berbagai kuman (mungkin termasuk virus corona yang saat ini tengah mewabah). Dengan begitu, stained glass tersebut dapat membuat penumpang lebih nyaman dan aman dalam beraktivitas di pesawat, seperti tidur siang, membaca buku, menyantap hidangan, atau bahkan berdoa.

Stained glass tersedia dalam beberapa pesawat Airbus dan Boeing. Foto: Magical Super Store

Hanya saja, stained glass tersebut sejauh ini tidak tersedia dalam beragam varian. Hanya pesawat keluaran dua pabrikan besar saja, yakni Boeing dan Airbus, yang sudah tersedia. Mulai dari Airbus A330, Airbus A350, Boeing 707-767, Boeing 787, hingga Boeing 777X. Khusus untuk Boeing 777X, padahal pesawat tersebut saat ini masih dalam proses pengembangan setelah berhasil terbang perdana pada 20 Januari 2020 lalu dan belum secara reguler melayani penumpang. Selain itu, harganya pun juga bervariasi, mulai dari $25 atau Rp400 ribuan hingga yang termahal (untuk Boeing 787 Dreamliner) $50 atau Rp 800 ribuan.

Meskipun saat ini stained glass penggunaannya masih debatable, namun animo masyarakat terhadap produk tersebut cukup tinggi. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari ludesnya salah satu varian produk tersebut, yakni varian untuk Airbus A330.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Sejauh ini maskapai-maskapai di dunia pada umumnya hanya mengatur tertutupnya tirai jendela pesawat saat lepas maupun turun landas dan sama sekali belum menyinggung penggunaan stained glass. Hanya saja, pada beberapa kasus, traveler yang biasanya kerap meletakkan kamera di jendela, kadang kala mendapat protes dari penumpang yang duduk di kursi lain. Alasannya simpel, mengganggu pemandangan.

Namun demikian, guna mencari kejelasan, sebetulnya beberapa maskapai besar, Delta Airlines, Southwest, JetBlue, American Airlines, United Airlines, dan Alaska Airlines, sudah coba dimintai keterangan terkait penggunaan stained glass pribadi pada penerbangan. Tetapi mereka belum memberikan jawaban tegas boleh tidaknya memasang stained glass.

Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Virus corona atau Covid-19 telah membuat maskapai di dunia kalang kabut akibat jumlah penumpang yang terus merosot. Terlebih, situasi belakangan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Padahal, Centre for Aviation atau CAPA, telah memprediksi, jika tidak ada langkah konkret (untuk membuat maskapai dapat terus bertahan), maka beberapa maskapai mungkin akan bangkrut di akhir Mei.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Selain itu, di belahan bumi lain, Airlines for America (A4A), asosiasi yang mewakili 11 maskapai penerbangan utama Amerika Utara tersebut juga memprediksi bahwa tujuh maskapai terbesar di negara itu akan benar-benar kehabisan uang antara Juni dan akhir tahun. Itu semua bisa terjadi akibat penurunan jumlah penumpang besar-besaran dan di waktu yang nyaris bersamaan.

Akan tetapi, jumlah penurunan penumpang besar-besaran rupanya juga memberikan efek domino, khususnya terkait penyimpanan pesawat. Pasalnya, di tengah sepinya penerbangan, hampir seluruh maskapai di dunia menggrounded pesawat mereka secara bersamaan dan dalam jumlah cukup besar. Padahal, bandara-bandara di dunia memiliki kapasitas yang terbatas. Terlebih, terdapat beberapa pesawat widebody yang memakan banyak kapasitas penyimpanan pesawat di bandara. Misalnya seperti Airbus A380.

Dilansir Simple Flying, beberapa maskapai besar yang mengoperasikan A380, seperti Lufthansa, Qantas, dan Emirates, misalnya, harus putar otak untuk mencari tempat yang pas untuk menyimpan pesawat terbesar itu. Pasalnya, tak semua bandara bisa memuat A380 mengingat pesawat tersebut memiliki dimensi yang di atas rata-rata. Bahkan, beberapa bandara harus mengubah struktur hanggarnya semata agar bisa memuat pesawat tersebut.

Lufthansa dilaporkan telah berhasil mendapatkan tempat nyaman bagi Airbus A380nya. Sejauh ini, empat armada A380 mereka diparkir di Terminal 3 di Bandara Frankfurt, Jerman. Namun, bandara tersebut telah kehabisan ruang untuk menyimpan lebih banyak pesawat A380, sehingga armada lainnya disimpan di bandara lain, salah satunya Bandar Udara Internasional Berlin Brandenburg (BER), bersama beberapa pesawat Airbus A320 dan A321.

Begitu juga dengan Emirates, maskapai sekitar 115 pesawat A380, saat ini dilaporkan telah mendapatkan tempat nyaman bagi 20 armada A380nya. Tak terkecuali dengan Qantas, Air France, Etihad, Korean Air, Singapore Airlines, hingga All Nippon Airway yang juga memiliki sejumlah armada A380. Hanya saja, maskapai-maskapai tersebut tak secara gamblang menjelaskan dimana pesawat superjumbo tersebut digrounded.

Namun demikian, di seluruh dunia, kapasitas penyimpanan pesawat di bandara bukan hanya untuk A380. Banyak pesawat lain yang membutuhkan ruang untuk ‘istirahat’ dalam jangka waktu yang belum dapat ditentukan. Terlebih, di tengah wabah virus corona yang telah memaksa banyak negara menutup rute internasional dan domestik (lockdown). Bila pada waktunya tiba, dimana jumlah pesawat yang digrounded sudah kelewat banyak dan membuat bandara penuh, lantas kemanakah pesawat harus diparkir?

Baca juga: The Boneyard, Inilah Tempat Bersemayam Para Pesawat Setelah Pensiun dari Masa Tugasnya

Mungkin dalam kondisi tersebut, sebagai alternatif, gurun pasir bukanlah tempat yang buruk. Sejauh ini, pesawat-pesawat yang sudah purna tugas atau digrounded dalam waktu lama juga banyak disimpan di gurun pasir. Singapore Airlines (induk dari SilkAir), misalnya, pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di Alice Springs, kota gurun pasir, di Australia.

Selain itu, ada juga The Mojave Air dan Space Port yang berada di Gurun Mojave, tepatnya di Bandara Mojave, Southern California, Amerika Serikat. Selama 37 tahun belakangan, bandara tersebut juga menjadi tempat nyaman bagi pesawat yang sudah purna tuga atau digrounded dalam waktu cukup lama. Tak hanya itu, Spanyol juga memiliki Bandara Teruel, yang juga kerap kali dijadikan sebagai alternatif penyimpanan pesawat dalam waktu cukup lama.

Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Di tengah wabah virus corona, penumpang kerap kali dibuat khawatir dengan adanya beberapa pasien positif terpapar Covid-19 yang memiliki riwayat perjalanan di berbagai moda transportasi; tak terkecuali pesawat terbang. Belum lama ini, maskapai asal Amerika Serikat (AS), JetBlue, dibuat geger dengan pengakuan salah satu penumpang yang divonis positif virus corona.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Penumpang yang tak diungkap identitasnya tersebut sebelumnya sudah melalui beberapa pengecekan. Hasilnya, penumpang tersebut tidak ada tanda-tanda terjangkit Covid-19. Menjelang tiba di Florida, penumpang yang bersangkutan kemudian melapor ke petugas bahwa dirinya dinyatakan positif mengidap virus corona. Hal itu diketahui setelah penumpang tersebut mendapat pesan singkat dari seseorang mengenani hasil tes virus corona yang dilakukan beberapa hari sebelum dirinya terbang bersama JetBlue.

Hingga kini, pihak maskapai belum memberikan keterangan jelas mengenani posisi duduk penumpang positif virus corona tersebut. Namun, terlepas dari hal tersebut (penumpang positif Covid-19 duduk di row dan seat berapa), baru-baru ini, seorang ahli dari Emory University, AS, Profesor Vicki Hertzberg memberikan tips terkait cara menghindari terpapar virus corona di pesawat.

Menurut profesor yang mengambil speasialisasi di bidang biostatistik, informasi kesehatan masyarakat, dan network science tersebut menilai bahwa penumpang yang duduk di dekat jendela lebih besar peluang untuk terhindari dari paparan Covid-19 dibanding tempat duduk di posisi lainnya.

“Kami menemukan bahwa zona risiko sebenarnya berada di orang-orang yang duduk di barisan depan Anda, orang-orang yang duduk di barisan di belakang Anda, dan orang-orang di barisan yang sama atau dua kursi di kedua sisi (kiri dan kanan) ,” ujar pria yang telah menyandang gelar profesor sejak Januari 1995 tersebut, seperti dilansir abcnews.go.com

“Jika kamu berada di dekat jendela, jelas tidak ada dua kursi di satu sisi Anda (kiri dan kanan) dan Anda telah memotong zona risiko itu dengan adanya enam orang tersebut (dalam konfigurasi 3 kursi kiri dan kanan dengan satu lorong) , yakni orang-orang di depan mereka dan di belakang mereka,” tambahnya.

Meski demikian, ia pun memberikan penekanan bahwa sebetulnya, penumpang tidak perlu terlalu khawatir soal penyebaran virus corona di dalam kabin pesawat. Pasalnya, tak seperti moda transportasi lainnya, pesawat memiliki teknologi penyaring udara canggih atau High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang diklaim 99 persen mampu menghilangkan bakteriologis di dalam kabin.

“Sebenarnya udara di dalam pesawat sama bersihnya (dengan di tempat lain). Faktanya, seperti misalnya, katakanlah, (tingkat kebersihan udaranya sama dengan) gedung kantor modern, karena gedung tersebut lebih sering dibersihkan dibanding yang lain,” kata Profesor Vicki.

Selain itu, di luar teknologi HEPA Cabin Air Filter dan posisi paling aman terpapar virus corona di dalam pesawat, sebetulnya, maskapai global juga telah melakukan upaya ekstra membersihkan pesawat dari sisa Covid-19. Sebagai informasi, menurut penelitian, virus corona disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainles, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Oleh karenanya, sekalipun pesawat sudah selesai digunakan beberapa jam sebelumnya dan kemudian digunakan kembali pada penerbangan berikutnya, seorang penumpang masih mungkin terpapar virus corona. Sebab, virus tersebut dapat bertahan di beberapa bahan, sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Maka dari itu, maskapai di seluruh dunia telah berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan area-area yang banyak disentuh penumpang, seperti armrests, seat belts, meja seatback (tray tables), handle kabin overhead, handle pintu toilet, hingga bagian dalam toilet secara keseluruhan. Tentu saja tanpa mengurangi perhatian pada bagian-bagian lainnya untuk dibersihkan dan disemprot disinfektan.

Bersihkan ‘Ruang’ Pribadi, Hindari Virus dan Kuman di Kabin Pesawat

Mantan model, Naomi Campbell membersihkan sekitaran kursi di pesawat tempatnya duduk dan videonya kemudian menjadi viral. Biasanya para penumpang seperti Naomi melakukan hal itu untuk kebersihan dirinya sendiri dan untuk kenyamanan pribadi. Apalagi saat ini tengah marak penyebaran virus corona, sehingga mawas diri dalam kabin pesawat cukup diperlukan.

Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

KabarPenumpang.com melansir laman nytimes.com (17/3/2020), maskapai besar seperti Delta Airlines dan American Airlines mengatakan mereka membersihkan pesawat ke berbagai sudut diantara penerbangan dan bahwa kebersihan pesawat mereka adalah prioritas. Aaron Milstone, ahli epidemiologi di Rumah Sakit Johns Hopkins mengatakan, pesawat dan kursi di dalam kabin adalah ruang publik dan tahu bahwa kuman dapat hidup dipermukaan dalam waktu yang lama sehingga tak ada salahnya untuk membersihkannya. Berikut ini, ada beberapa tips untuk membersihkan area pesawat tempat Anda duduk dan menjaga kesehatan dalam penerbangan.

https://www.instagram.com/p/B9ZkCgVnXIf/?utm_source=ig_web_copy_link

1. Jaga tangan agar selalu bersih dan berhenti menyentuh wajah
Kebanyakan orang menyentuh wajah lebih sering daripada yang mereka sadari. Bahkan mereka menyentuh permukaan di mana ada tetesan ketika seseorang bersin atau batuk sehingga dapat menyebabkan virus ditularkan.

Andrew Mehle, associate professor microbiology medis dan imunologi di University of Wisconsin Madison, menekankan bahwa sanitasi ruang penumpang di pesawat harus dilakukan bersamaan dengan mencuci tangan dan melakukan praktik kebersihan lainnya.

“Jadi yang pertama adalah cuci tangan Anda saat bersentuhan dengan meja baki atau apapun yang tidak dibersihkan,” kata dia.

Mehle menambahkan, cuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik atau dengan menyanyikan Selamat Ulang Tahun sebanyak dua kali dan jika tidak memungkinkan maka gunakan pembersih tangan dalam jumlah yang cukup.

2. Pilih kursi jendela
Sebuah studi dari Emory University menemukan bahwa selama musim flu, tempat teraman untuk duduk di pesawat adalah melalui jendela. Para peneliti mempelajari penumpang dan awak pesawat pada sepuluh penerbangan dalam waktu tempuh tiga hingga lima jam dan mengamati bahwa orang yang duduk di kursi dekat jendela memiliki lebih sedikit kontak dengan orang yang berpotensi sakit.

“Pesan tempat duduk dekat jendela, cobalah untuk tidak bergerak selama penerbangan, tetap terhidrasi dan jauhkan tangan Anda dari wajah Anda. “Waspadai kebersihan tanganmu”,” kata Vicki Stover Hertzberg, seorang profesor di Sekolah Perawat Universitas Emory dan direktur Pusat Ilmu Keperawatan Data di Emory.

3. Bersihkan permukaan keras
Ketika sampai di kursi dan tangan Anda bersih, gunakan tisu desinfektan untuk membersihkan permukaan keras di kursi seperti sandaran kepala dan lengan, sabuk pengaman, remote, layar, saku belakang kursi dan meja baki. Jika dudukannya keras dan tidak keropos, Anda dapat membersihkannya juga. Menggunakan tisu di kursi berlapis kain bisa menyebabkan kursi basah dan menyebarkan kuman daripada membunuh mereka.

“Tidak buruk untuk membersihkan area di sekitar Anda, tetapi perlu diingat bahwa virus corona tidak akan melompat dari kursi dan masuk ke mulut Anda. Orang-orang harus lebih berhati-hati menyentuh sesuatu yang kotor kemudian meletakkan tangan di wajah mereka,” kata Milstone.

Tisu desinfektan biasanya menuliskan pada kemasan berapa lama suatu permukaan harus tetap basah agar bisa bekerja. Waktu itu dapat berkisar dari 30 detik hingga beberapa menit. Agar tisu dapat bekerja, Anda harus mengikuti persyaratan waktu tersebut.

Hertzberg menambahkan bahwa jika ada televisi layar sentuh, Anda harus menggunakan tisu saat menyentuh layar. Menggunakan handuk kertas atau tisu memastikan bahwa ada penghalang antara permukaan yang mungkin memiliki tetesan dan tangan Anda, yang kemungkinan akan menuju ke wajah Anda.

Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya

“Seseorang yang sakit dan batuk mungkin menyentuh pintu dan keran, jadi gunakan tisu di kamar mandi lalu gunakan tisu untuk membuka pintu dan untuk menutup keran kemudian membuang yang ada di tempat sampah saat keluar,” kata Bernard Camins, direktur medis untuk pencegahan infeksi di Sistem Kesehatan Mount Sinai.

Ada Penumpang Sakit di Pesawat? Hubungi Awak Kabin dan Jangan Langsung Panik Tertular

Merebaknya virus corona atau Covid-19 saat ini di seluruh dunia, membuat banyak masyarakat semakin resah. Bahkan dalam perjalanan menggunakan pesawat pun penumpang ikut resah apalagi jika ada penumpang lain yang bersin, batuk ataupun flu.

Baca juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

Namun nyatanya Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini menempatkan risiko tertular Covid-19 di pesawat dalam kategori rendah. Hal ini karena sifat udara di pesawat yang bersirkulasi dan disaring.

Meski begitu, pelancong harus mengambil tindakan pencegahan kesehatan yang mungkin dan menjaga jarak sosial dari siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan. KabarPenumpang.com melansir laman foxnews.com (16/3/2020), ketika berada satu pesawat dengan penumpang yang sakit, Anda harus sadar bahwa pemerintah federal dan CDC memiliki protokol untuk industri penerbangan jika terjadi kejadian seperti itu.

Sehingga jika penumpang diketahui sakit dalam penerbangan internasional, peraturan federal mewajibkan awak pesawat untuk melaporkan penumpang tersebut ke CDC sebelum tiba di Amerika Serikat. Setelah itu, CDC akan menjelaskan jika penumpang lain tertular dalam penerbangan, maka pejabat kesehatan bisa melakukan investigasi kontak untuk membantu mengidentifikasi serta menjangkau siapapun yang pernah melakukan kontak dengan penumpang sakit selama perjalanan.

“Kadang-kadang CDC diberitahu tentang seorang musafir yang sakit ketika pesawat masih mengudara atau tidak lama setelah pesawat mendarat. Namun, dalam kebanyakan kasus, CDC diberitahukan ketika seorang pelancong yang sakit mencari perawatan di fasilitas medis,” jelas agen CDC.

CDC kemudian akan bertanggung jawab dalam mengoordinasikan penyelidikan antara agen-agen federal dan maskapai penerbangan untuk menentukan di mana dan seberapa luas orang ini bepergian. Jika penumpang dianggap menularkan penyakit, penyelidik berkonsultasi dengan maskapai penerbangan untuk manifes penerbangan dan menentukan siapa yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang sakit.

Dalam hal ini, pejabat kesehatan membuat zona kontak dari bagan tempat duduk dan mengidentifikasi penumpang yang mungkin terpapar. Setelah itu akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan menguraikan langkah lanjutan.

“Zona kontak” di pesawat, bagaimanapun, tidak selalu terbatas pada area di sekitar penumpang yang terinfeksi. CDC mengatakan setiap teman seperjalanan, terlepas dari di mana mereka duduk, dianggap sebagai bagian dari “zona kontak”. Anak-anak di bawah 2 tahun, yang duduk di pangkuan wali mereka, juga dianggap sebagai bagian dari zona kontak saat menyelidiki kasus campak atau rubella.

Tetapi sekali lagi, CDC masih belajar tentang virus corona dan bagaimana penyebarannya, sehingga siapa pun yang berhubungan dekat dengan penumpang maskapai lain harus mengambil setiap tindakan pencegahan. Misalnya, pelancong harus menghindari menyentuh mata, hidung atau mulut setelah bersentuhan dengan permukaan yang berpotensi kuman, dan mereka harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

TSA juga memungkinkan penumpang untuk membawa pembersih tangan berbasis alkohol dalam barang bawaan jika kontainernya berukuran kurang dari 3,4 ons. Selain itu CDC menyarankan Anda memantau kesehatan Anda selama dua minggu setelah kembali dari perjalanan. Jika Anda mulai merasa sakit dengan “demam, batuk atau kesulitan bernapas,” tinggal di rumah dan hubungi dokter untuk melaporkan gejala.

Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar Pesawat

Dunia penerbangan terus berkembang pesat. Saat ini, sebelum adanya virus corona atau COVID-19, setiap tahunnya, ada sekitar 4,5 miliar perjalanan pesawat komersial, dengan total pergerakan 64 juta metrik ton kargo, serta menopang sekitar sepertiga dari perdagangan global. Tak hanya itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan di seluruh dunia.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Meski demikian, memang ada harga mahal yang harus dibayar dari pesatnya perkembangan di dunia penerbangan. Setiap tahunnya, perjalanan udara disinyallir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Bahkan, dengan permintaan bahan bakar dari penerbangan yang akan terus meningkat antara 1,9 dan 2,6 persen atau lebih setiap tahun, bila tak ada langkah pencegahan apapun, diperkirakan emisi global akibat pergerakan pesawat akan meningkat hingga 22 persen pada tahun 2050.

Oleh karenanya, selain mencari alternatif energi terbarukan, yang beberapa tahun lalu sudah dimulai sekalipun saat ini penggunannya belum pada intensitas yang tinggi, teknologi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi pada pesawat juga tak kalah penting. Dilansir dari laman prescouter.com, berikut enam teknologi terdepan untuk mengingkatkan efisiensi pada pesawat.

1. Winglets
Winglets inovasi pesawat yang terletak di ujung sayap. Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi. Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

2. Flexible Navigation System
Seiring perkembangan teknologi, pesawat pun kemudian dilengkapi dengan teknologi pendeteksi cuaca, seperti airborne weather radar dan teknolgi pendukungnya digital weather radar. Teknologi tersebut dapat membantu pilot menghindari kondisi cuaca yang tidak menguntungkan seperti badai, angin kencang, dan sejenisnya. Studi menunjukkan teknologi tersebut dapat mencegah keluarnya 1,4 ton CO2 oleh pesawat.

3. 3D Printing/Carbon fibers/Shape Memory Alloys (SMA)
Mengurangi bobot keseluruhan pesawat selalu menjadi prioritas utama untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Oleh karenanya, dengan adanya tiga teknologi tersebut dapat membuat bobot pesawat jadi lebih ringan.

4. Continuous Climb and Descent Operations
Continuous Climb (CCO) and Descent Operations (CDO) memungkinkan pesawat untuk mengikuti jalur penerbangan yang mudah diadaptasi dan ideal sehingga memberikan keuntungan finansial. Seperti turunnya konsumsi bahan bakar, emisi global, serta kebisingan dan ujungnya tentu saja cost untuk bahan bakar yang menurun.

Baca juga: Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global

5. Double-Bubble D8
Double-Bubble D8 merupakan pesawat yang dikembangkan secara bersama-sama oleh tim insinyur dari Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney. Desain pesawat anyar tersebut diklaim dapat membuat konsumsi bahan bakar lebih irit 37 persen dibanding pesawat jet penumpang pada umumnya. Hanya saja, ketimbang menggunakan pesawat tersebut, sebagian pengamat menilai, lebih baik menggunakan pesawat listrik mengingat desainnya yang hampir mirip.

6. Blended Wing Body (BWB)
Pada gelaran Singapore AirShow 2020 yang dihelat mulai 11 – 16 Februari lalu, Airbus resmi memperkenalkan MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls), sebagai prototipe teknologi model Blended Wing Body. Desain pesawat model BWB dinilai memiliki beberapa kelebihan, seperti 27 persen lebih irit bahan bakar, 15 persen lebih ringan, 20 persen lebih mudah terangkat, dan 27 persen lebih sedikit membutuhkan dorongan.

Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan

Pesawat yang sudah purna tugas kerap kali disulap dalam beragam fungsi, mulai dari hotel, gantungan kunci, hingga rumah. Khusus untuk rumah, belum lama ini, sebuah pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8 berhasil disulap oleh perusahaan arsitektur dan properti asal Australia menjadi sebuah bangunan berharga Rp576 juta (kurs Rp15.480).

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Dilansir Insider, rumah minimal mungil portable serba putih yang dinamakan Aero Tiny tersebut awalnya hanya difungsikan sebagai simulator bagi para pramugari di Brisbane, Australia. Pesawat buatan De Havilland, produsen pesawat asal Kanada, tersebut kemudian dijual dengan harga miring lewat media sosial Facebook, tepatnya hanya $1.320 atau Rp20 juta (kurs Rp15.480). Padahal, normalnya, pesawat tersebut masih berada dikisaran ratusan ribu bahkan jutaan dolar, tergantung pada tahun produksinya.

Melihat pesawat dengan harga murah, ditambah keinginan perusahaan untuk mencari wadah untuk berinovasi (dalam membuat rumah), Tiny House Guys, pun tak tinggal diam. Dengan cepat mereka mengakuisisi pesawat tersebut dan dialihfungsikan menjadi sebuah rumah minimalis mewah.

“Begitu saya melihatnya (Bombardier Q Series) dijual, saya tahu sesuatu yang istimewa dapat dibuat darinya. Kami membelinya langsung dan mengirimkannya ke rumah produksi kami untuk kemudian dirancang khusus menjadi sebuah rumah,” kata Rick Keel, pendiri perusahaan tersebut.

Meskipun tergolong berukuran kecil, hanya sekitar 1,6×2,7 meter atau 12 ,1 meter persegi, fasilitas yang ditawarkan Aero Tiny juga tergolong lengkap. Sebagaimana rumah pada umumnya, hunian portable yang bisa dibawa-bawa ketika liburan ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kenyamanan penghuninya, seperti dapur minimalis, kamar mandi, meja dan sofa lipat, lemari, wastafel, lemari es mini, hingga area yang bisa digunakan untuk ruang tamu maupun kamar tidur.

Selain itu, bagi para pecinta pesawat, rumah tersebut sejak awal didesain untuk mempertahankan sebanyak mungkin karakter asli pesawat, termasuk kelongsong logam lengkung dan lipatan, jendela darurat, hingga tangga bercahaya yang mengarah ke interior. “Interiornya hampir seluruhnya dirombak untuk menciptakan ruang tamu minimalis. Namun, sejumlah fitur tertentu masih kami selamatkan,” tutur Rick.

Di samping itu, Aero Tiny juga tergolong ramah lingkungan. Pasalnya, pesawat tersebut mengandarkan sumber energinya dari matahari. Oleh karenanya, di bagian bawah rumah, terdapat panel surya dan baterai, sebagai alternatif energi cadangan dikala musim dingin tiba.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Untuk membuat rumah minimalis tersebut, Rick Keel dan perusahaannya, Tiny House Guys, harus menghabiskan waktu sekitar enam minggu. Waktu yang cukup lama dibandingkan project lainnya yang digarap perusahaan.

“Kami menghabiskan lebih dari enam minggu untuk mengubah badan pesawat menjadi rumah mungil yang indah di atas roda. Tujuan kami menciptakan Aero Tiny adalah untuk menjadi rumah kompak yang berkelanjutan,” pungkas Rick.