Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Presiden Cina Xi Jinping telah mengumumkan kemenangannya melawan wabah virus corona. Diantara beragam strategi yang dilalukan Cina, patut dicermati, Negeri Tirai Bambu ini terbilang gigih memandafaatkan setiap kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk membantu mengatasi penyebaran virus yang telah menjadi pendemik global tersebut.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Ketika virus corona mulai menyebar di berbagai negara, banyak aplikasi yang dibuat untuk memantaunya. Namun, tak hanya untuk membantu melihat peta penyebaran atau jumlah warga terinfeksi, tapi juga ada yang menyalahgunakan aplikasi tersebut untuk keuntungan pribadi. Aplikasi COVID19 Tracker tersedia di situs web dengan nama yang sama, setelah pengguna memasuki situs web ini akan diminta untuk mengunduh aplikasi Android untuk Heatmap. Dalam skenario panik ini pengguna paling rentan untuk mengetahui Statistik, Gejala, Pelacak, dan Peta.

Setelah Anda menginstal aplikasi itu ‘diracuni’ dengan ransomware bernama CovidLock yang mengambil kendali penuh dari perangkat Anda dan menghalangi bahkan membuka Kunci Layar. Ini menggunakan teknik seperti memaksa Perubahan Kata Sandi untuk Membuka Kunci Telepon. Tarik Salah, Senior Security Engineer dan Malware Researcher di Domain Tools mengatakan dalam pernyataannya bahwa mereka telah melihat serangan kunci layar ini sebelumnya.

“Catatan tebusan bahkan mengancam Anda menghapus foto, video jika Anda tidak membayar jumlahnya. Namun, tidak ada informasi tentang berapa banyak yang menjadi mangsa CowareLock Malware ini. Namun yang kami sarankan adalah jangan menginstal Aplikasi dari Toko Aplikasi Pihak Ketiga dan Situs Web yang tidak dikenal karena ada risiko keamanan. Selalu, unduh aplikasi dari Google Play Store resmi,” kata Tarik.

Karena virus corona ini berasal dari Wuhan di Cina, bagaimana Negeri Tirai Bambu menggunakan teknologi untuk hal tersebut? KabarPenumpang.com merangkum versionweekly.com (18/3/2020), ternyata Cina mengumpulkan sumber daya yang tersedia dan menggunakan teknologi baru untuk mengurangi penyebaran secara signifikan serta membuat profil orang-orang yang berisiko.

Pada virus SARS tahun 2002 lalu, para ilmuwan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk memecah kode genom virus. Namun berkat kemajuan teknologi, gen Covid-19 diidentifikasi dalam sebulan. Tak hanya itu, Cina juga menggunakan berbagai cara untuk berperang melawan ketengan mematikan tersebut.

Pengodean warna
Dengan menggandeng raksasa teknologi Alibaba dan Tencent, pemerintah Cina mengembangkan sistem peringkat kesehatan berkode warna yang melacak jutaan orang setiap hari. Aplikasi di ponsel pintar tersebut pertama kali digunakan di Hangzhou dengan kolaborasi Alibaba. Ada tiga warna yakni hijau, kuning dan merah yang digunakan untuk menandai orang-orang berdasarkan perjalanan dan riwayat kesehatan. Sedangkan di Shenzhen aplikasi ini diciptakan oleh Tencent.

Orang-orang dengan kode hijau diizinkan berada di ruang publik setelah menggunakan kode QR yang ditunjukkan di stasiun metro, kantor dan lainnya. Ada pos-pos pemeriksaan di sebagian besar tempat-tempat umum di mana kode dan suhu tubuh seseorang diperiksa. Lebih dari 200 kota di Cina menggunakan sistem ini, dan segera akan diperluas secara nasional.

Robotika
Robot digunakan digaris depan untuk mencegah penyebaran virus corona. Robot-robot ini menyiapkan makanan di rumah sakit, menjadi pelayan restoran, menyemprotkan desinfektan dan membershikan. Selain itu robot di rumah sakit juga melakukan diagnosa dan pencitraan termal. Bahkan ada yang menggunakan robot untuk mengangkut sample medis.

Robot XAG tengah beraksi menyemprotkan disinfektan di Cina. Foto: Venturebeat

Drone
Beberapa daerah yang terkena dampak parah, drone dihadirkan untuk mengangkut peralatan medis dan sampel pasien. Selain menghemat waktu, drone juga meningkatkan pengiriman serta mencegah risiko sampel terkontaminasi. Bahkan juga digunakan untuk menyiarkan peringatan pada warga agar tidak keluar rumah dan memarahi mereka yang tidak menggunakan masker.

Ekspresi nenek tua ketika drone mengingatkan dirinya agar tidak keluar tanpa menggunakan masker. Foto: Tangkapan layar

Big Data dan Pengenalan Wajah
Akses ke informasi publik telah mengarah pada pembuatan dasbor yang terus memantau virus dan banyak organisasi mengembangkannya menggunakan Big Data. Teknik pengenalan wajah dan deteksi suhu inframerah telah dipasang di semua kota terkemuka. Aplikasi ponsel pintar juga digunakan untuk mengawasi pergerakan orang dan memastikan apakah mereka telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Kamera CCTV juga telah dipasang di sebagian besar lokasi untuk memastikan bahwa mereka yang dikarantina tidak keluar.

Artificial Intelligence
AI memainkan peran utama dalam perawatan kesehatan akhir-akhir ini. Dengan bantuan analitik data dan model prediksi, profesional medis dapat memahami lebih banyak tentang banyak penyakit. Baidu, raksasa internet Cina, telah membuat algoritma Lineatrfold tersedia untuk tim yang memerangi wabah. Tidak seperti Ebola, HIV dan Influenza, Covind-19 hanya memiliki RNA untai tunggal, sehingga mampu bermutasi dengan cepat. Algoritma ini jauh lebih cepat daripada algoritma lain yang membantu memprediksi struktur suatu virus.

Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona

Kendaraan Otonom
Pada saat krisis kesehatan profesional yang parah dan risiko kontak orang-ke-orang, kendaraan otonom terbukti sangat bermanfaat dalam mengirimkan barang-barang penting seperti obat-obatan dan bahan makanan. Apollo, yang merupakan platform kendaraan otonom Baidu, telah bergandengan tangan dengan startup mandiri Neolix untuk mengirimkan pasokan dan makanan ke rumah sakit besar di Beijing. Baidu Apollo juga telah membuat kit mobil mikro dan layanan cloud mengemudi otonom tersedia secara gratis untuk perusahaan yang memerangi virus. Idriverplus, perusahaan self-driving China yang mengoperasikan kendaraan pembersih jalan listrik, juga merupakan bagian dari misi tersebut. Kendaraan andalan perusahaan digunakan untuk mendisinfeksi rumah sakit.

Scoot Perpanjang Perubahan Tanggal Gratis dengan Perbedaan Tarif Berlaku

Scoot maskapai berbiaya hemat (LCC) asal Singapura memberikan layanan gratis perubahan tanggal penerbangan. Layanan ini diberikan karena meningkatnya skala pandemi virus corona atau Covid-19 dan banyak penumpang Scoot yang telah memesan tiket penerbangan ingin mengubah rencana perjalanan mereka.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

“Scoot memahami dan ingin memberikan penumpang kami kepercayaan diri untuk melakukan perjalanan saat mereka sudah siap,” tulis Scoot kepada KabarPenumpang.com melalui keterangan tertulis.

Anak perusahaan Singapore Airlines ini mengatakan, pada 19 Februari 2020 akan memberikan fleksibilitas kepada penumpang yang melakukan pemesanan sebelum dan pada 18 Februari 2020 dengan jadwal penerbangan mulai 20 Februari hingga seterusnya untuk melakukan perubahan tanggal sebanyak satu kali. Scoot menyebutkan bahwa ketika pelanggan ingin melakukan perubahan tanggal penerbangan tidak akan dikenakan biaya, tetapi perbedaan tari tetap berlaku.

“Ini dapat dilakukan dengan mudah oleh penumpang melalui halaman “Kelola Pemesanan Saya” di situs atau melalui aplikasi mobile kami, sehingga mereka tidak perlu menghubungi call centre kami,” tulis Scoot.

Perubahan tanggal harus dilakukan sebelum tanggal keberangkatan awal, atau paling lambat 31 Mei 2020 (mana yang lebih dulu), untuk jadwal penerbangan sampai 27 Maret 2021. Kebijakan perubahan tanggal gratis dari Scoot menarik penumpang yang masih berencana untuk melakukan perjalanan dan masih menyukai fleksibilitas seputar tanggal keberangkatan mereka mengingat situasi saat ini.

“Untuk memberikan penumpang kami kepercayaan diri dalam merencanakan perjalanan, Scoot memperpanjang kebijakan perubahan tanggal gratis sebanyak satu kali untuk semua pemesanan baru yang dibuat antara 10 Maret 2020 sampai 14 Mei 2020 di situs kami, aplikasi mobile atau situs pemesanan WeChat,” tulisnya.

Baca juga: Scoot Resmi Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 Bandara Changi

Untuk pemesanan yang dilakukan pada periode ini, perubahan tanggal gratis satu kali dapat dilakukan hingga empat jam sebelum waktu keberangkatan penerbangan yang dijadwalkan, untuk perjalanan hingga 27 Maret 2021.

Jaga Jarak Sosial, Persempit Penyebaran Covid-19

Menjaga jarak sosial atau social distancing saat ini diperlukan untuk meminimalisir penyebaran virus corona atau Covid-19. Di beberapa negara hal ini sudah dilaksanakan dan pejabat kesehatan di Amerika Serikat juga meminta hal tersebut. Memang hidup tanpa interaksi langsung dengan orang lain bisa dicoba, tetapi para ahli kesehatan masyarakat bersikeras bahwa komitmen setiap orang untuk menjaga jarak adalah untuk meminimalkan Covid-19 yang akhirnya membantu menyelamatkan nyawa.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, TransJakarta Tak Terima Uang Tunai Untuk Top Up Kartu Elektronik

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman latimes.com (18/3/2020), banyak cara yang lebih baik bisa dilakukan untuk menjaga jarak sosial. Seperti tidak adanya pertemuan massal atau pertemuan di tempat-tempat yang mana orang banyak bisa berkumpul. Jika memang harus keluar ke tempat umum, berikan jarak sekitar satu meter. Ini dilakukan agar peluang penyebaran virus lebih diperlambat lagi. Crystal Watson, pakar kesiapsiagaan kesehatan masyrakat di Univesitas Johns Hopkins mengatakan, ini adalah cara paling penting untuk melindungi masyarakat yang paling rentan.

“Maka rumah sakit akan dapat menangani ini jauh lebih baik,” kata Watson.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa satu orang yang terinfeksi dengan virus corona baru, rata-rata menginfeksi 3,3 orang. Semakin tinggi angka itu maka semakin cepat virus menyebar. Beberapa faktor mempengaruhi jumlah reproduksi, termasuk seberapa menularnya virus, seberapa rentan orang, berapa kali orang berinteraksi satu sama lain, dan berapa lama interaksi itu berlangsung.

Dr. Jeffrey Martin, seorang ahli epidemiologi penyakit menular di UC San Francisco mengatakan, penjajaran sosial bertujuan untuk mengurangi dua hal terakhir dalam daftar itu, yang pada gilirannya akan mengurangi jumlah reproduksi dan memperlambat penyebaran penyakit.

Mengisolasi diri sendiri adalah saat Anda memiliki gejala dan tidak ingin membuat orang lain sakit. Dalam kasus Covid-19, keduanya seharusnya berlangsung sekitar 14 hari, cukup waktu untuk timbulnya gejala potensial dalam lingkungan di mana virus tidak dapat menginfeksi orang lain. Idealnya, jarak sosial terlihat seperti karantina atau isolasi diri, kecuali tidak ada kerangka waktu tertentu yang terlibat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengatakan, jika bisa bekerja di rumah lebih baik dilakukan dan jangan berkumpul di ruang publik bersama atau di acara publik, seperti pusat kebugaran, restoran, festival, atau konser. Hindari pelayaran dan perjalanan yang tidak penting, terutama jika Anda berisiko lebih tinggi untuk sakit parah akibat penyakit itu, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

“Jika Anda harus pergi ke toko untuk membeli bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya, cobalah untuk pergi selama jam sibuk. Saat Anda di sana, pertahankan jarak sekitar satu meter antara Anda dan orang lain. Itu akan mengurangi kemungkinan Anda akan terkena virus dari tetesan yang menyebar di udara dengan batuk atau bersin,” kata Watson.

Dia menambahkan pastikan untuk membersihkan permukaan bersama sebelum dan setelah Anda melakukan kontak dengan mereka. Jika sekolah anak-anak Anda telah ditutup, jangan kirim mereka ke tempat penitipan anak atau pengaturan kelompok lain yang mengalahkan tujuan penutupan sekolah.

“Kita semua harus berlatih menjaga jarak sosial sebanyak mungkin. Bahkan jika Anda merasa baik-baik saja, Anda mungkin terinfeksi, dan Anda masih bisa menularkan virus kepada orang lain yang mungkin berisiko sakit serius atau bahkan kematian. Sangat penting untuk mempertimbangkan bahwa kita semua adalah bagian dari ini dan Anda tidak ingin menjadi … tautan dalam rantai ini yang melanjutkan rantai transmisi yang mungkin dapat menyebabkan seseorang menjadi benar-benar sakit,” kata Watson.

Untuk menyelesaikan dengan jarak sosial, sulit untuk diungkapkan karena bisa saja ini dilakukan jangka panjang dan melakukan banyak penyesuaian dalam hidup untuk mengakomodasi. Bahkan Watson mengatakan, akan melewati hal itu meski terasa menyakitkan.

“Kamu tidak salah. Manusia adalah makhluk sosial, dan diisolasi dapat memiliki konsekuensi jangka panjang negatif bagi kesehatan fisik, mental dan kognitif. Saya pikir apa yang kita hadapi saat ini adalah memitigasi risiko langsung ini sementara mungkin tidak mengabaikan risiko jangka panjang,” kata Julianne Holt-Lunstad, seorang psikolog penelitian dan ahli saraf di Universitas Brigham Young.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Untungnya, ada banyak cara untuk meringankan keterasingan sosial itu, dan untuk mencari anggota masyarakat yang rentan. Orang-orang yang bersembunyi di rumah dapat melakukan obrolan video dan telepon dengan teman dan orang yang dicintai. Mereka dapat menawarkan dukungan secara verbal atau aktif, dengan berbagi informasi kontak atau mengantarkan makanan atau barang ke tetangga yang mungkin tidak dapat keluar sendiri. Holt-Lunstad menunjuk ke salah satu tetangganya sendiri, yang mengirimkan teks penawaran kelompok untuk mengambil item dari toko untuk mereka.

“Meskipun saya tidak membutuhkan apa-apa, hanya mengetahui bahwa saya dapat mengandalkan tetangga saya jika saya memang membutuhkan sesuatu,” kata Holt-Lunstad.

Scania Kenalkan Sistem BSW dan VRUCW untuk Kurangi Kecelakaan Pada Pejalan Kaki dan Pesepeda

Kendaran besar seperti bus dan truk memiliki blind spot atau bagian yang tak bisa terlihat oleh para pengemudi. Ini salah satu yang bisa menyebabkan kecelakaan di jalan raya. Hal tersebut kemudian membuat pabrikan truk Swedia Scania memperkenalkan dua sistem deteksi sisi baru yang dirancang untuk menghindari atau mengurangi truk bersentuhan dengan pengguna jalan lain.

Baca juga: I-SAW-U, Teknologi Anti Blind Spot Pada Angkutan Bus

KabarPenumpang.com melansir laman thetruckexpert.co.uk (2/3/2020), sistem tersebut adalah Blind Spot Warning (BSW) dan berada di kedua sisi truk serta Vulnerable Road User Collision Warning (VRUCW) di sisi penumpang. Sistem ini menggunakan sensor radar dan kamera dalam kombinasi yang bekerja dengan kecepatan lebih dari dua kilometer per jamnya termasuk di jalan raya.

BSW dan VRUCW memberikan peringatan yang dapat didengar dan dilihat pengemudi yang meningkat dalam tiga tingkatan. Dalam hal sistem ini, Scania lebih mengantisipasi pada pejalan kaki dan pengendara sepeda. Sebab Scania mengatakan, mereka akan mendapat manfaat paling banyak dari mata ekstra tersebut.

Di Inggris, insiden paling umum adalah saat sebuah truk belok ke kiri di persimpangan dan ketika itu seorang pengendara sepeda mencoba melewati dari sisi kiri truk. Sehingga Scania mengatakan, kehadiran fungsi deteksi samping, akan memberitahu pengemudi truk dengan peringatan visual dan suara dalam kabin jika ada pengendara sepeda dan pejalan kaki memasuko zona risiko di dekat truk.

Sementara sistem BSW utamanya dirancang untuk memperingatkan pengemudi truk tentang mobil “tersembunyi” ketika pada kecepatan tinggi berpindah jalur, ia juga dapat memperingatkan untuk sepeda dan pejalan kaki. Sementara fokus utama VRUCW adalah mendeteksi pengendara sepeda dan sepeda motor, VRUCW juga dapat melihat pejalan kaki.

“Deteksi Sisi yang ditingkatkan adalah komponen lain dalam tujuan Scania untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan yang rentan. Saya sangat merasa bahwa setiap pengemudi truk ingin memiliki sistem pendukung tanpa henti ini di pihak mereka ketika berhadapan dengan lingkungan lalu lintas yang sibuk,” kata Alexander Vlaskamp, ​​wakil presiden senior, kepala Scania Trucks.

Baca juga: Singapura Uji Coba Sistem Blind Spot Pada 20 Bus

“Truk membentuk tulang punggung masyarakat perkotaan dan memastikan kita semua melakukan semua yang kita bisa untuk mempromosikan keselamatan adalah penting bagi semua orang. Scania percaya sistem ADAS dapat membuat perbedaan nyata, membantu pengemudi untuk menangani beberapa lingkungan mengemudi yang paling menantang dengan aman,” tambahnya.

Gegara Corona, Transportasi Umum di Israel Hanya Melayani Rute ke Kantor Pemerintahan

Mewabahnya virus corona sudah menjadi kejadian luar biasa di berbagai negara dan membuat adanya peraturan baru untuk moda transportasi ataupun hal lainnya. di Israel, pembatasan transportasi umum hingga jam delapan malam ketika hari kerja.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Sedangkan pada akhir pekan tidak ada layanan transportasi yang akan beroperasi. Menteri Perhubungan Betzalel Smotrich mengatakan, sejak Selasa (17/3/2020) kemarin, transportasi umum hanya boleh digunakan untuk warga yang akan melakukan hal untuk pemerintahan.

Dia menyebutkan maka akan ada beberapa perhentian dan rute yang diubah atau sama sekali tidak dilintasi. Smotrich mengatakan, warga masyarakat tidak bisa mengunjungi kerabat di akhir pekan karena bisa menginveksi mereka dengan virus.

“Siswa di sekolah juga harus belajar dirumah karena sekolah ditutup. Transportasi umum kita hentikan pukul delapan malam dan peraturan ini berlaku untuk bus, kereta api dan kereta ringan,” kata dia.

Adanya peraturan baru ini diperkenalkan oleh direktur otoritas transportasi nasional Amir Asraf. Dari data pusat statistik, banyak warga Israel yang menggunakan transportasi umum karena status sosial yang rendah.

Sehingga mereka setiap saat menggunakan bus atau kereta api dibandingkan kendaraan pribadi. Dilansir KabarPenumpang.com dari jpost.com (17/3/2020), Prof Arel Avineri, Kepala Spesialisasi Lulusan, Rekayasa dan Manajemen Sistem Infrastruktur di Afeka College mengatakan, meskipun lebih sedikit orang akan menggunakan transportasi umum karena wabah koronavirus, penurunan ketersediaan mungkin tidak diinginkan.

“Dalam penelitian yang dilakukan pada SARS, terbukti bahwa setiap kali mereka berbicara tentang wabah di media, ada penurunan 1200 pengguna kereta bawah tanah di Taiwan, meskipun naik kembali seiring waktu. Berarti, masyarakat sedang shock sekarang, tetapi seiring waktu, orang akan perlu melakukan perjalanan lagi, dan transportasi umum diperlukan karena tidak semua orang memiliki mobil,” katanya.

Analis transportasi Nachman Shelef mengatakan, ada jalur bus yang harus dikurangi, seperti yang menuju ke lembaga pendidikan atau zona industri, tetapi pengurangan keseluruhan bisa meningkatkan kepadatan di jalur sibuk.

“Saya berharap mereka mempertimbangkan faktor ini, terutama ketika sebagian besar dari mereka yang mengambil keputusan menggunakan kendaraan pribadi dan karena itu tidak mengerti apa artinya bergantung pada transportasi umum daripada mobil,” katanya.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Jumlah pelancong di Jalur Kereta Israel menurun setidaknya 50 persen pada hari Senin (16/3/2020), meskipun jalur bus Egged memiliki jumlah penumpang normal. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan desinfeksi bus dan kereta minggu lalu. Tidak ada arahan resmi yang diterima oleh operator transportasi umum dan Kereta Api Israel. Perusahaan memulai operasi desinfeksi sendiri.

Di Tengah Wabah Virus Corona, Mitsubishi SpaceJet Sukses Terbang Perdana

Wabah virus corona atau COVID-19 masih terus membayangi Jepang dengan menewaskan sedikitnya 29 orang. Namun demikian, hal tersebut rupanya tak membuat Mitsubishi menunda kembali ambisinya. Pabrikan asal Jepang tersebut belum lama ini dilaporkan berhasil melakukan penerbangan perdananya pada Mitsubishi SpaceJet M90.

Baca juga: Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Dikutip dari laman mitsubishiaircraft.com, Kamis, (19/3), pesawat dengan nomor registrasi JA26MJ tersebut, yang merupakan bagian dari pesawat uji yang ke-10 atau Flight Test Vehicle 10 (FTV10), berhasil lepas landas pada 14:53 dari Bandara Nagoya dan kembali ke bandara yang sama pada 16:40waktu setempat.

Selama sekitar dua jam, pesawat tersebut berputar-putar di atas lautan Samudera Pasifik untuk menguji karakteristik dasar pesawat dalam kondisi normal, seperti saat menanjak, menurun, atau saat berbelok. Pesawat yang dikomandoi oleh dua pilot kawakan Jepang, Hiroyoshi Takase dan Akira Udagawa, tersebut diklaim bekerja dengan baik dan tidak terdapat gangguan apapun.

“Tes penerbangan hari ini berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Pesawat memenuhi ekspektasi dan menangani tepat seperti yang saya perkirakan,” kata kapten pilot FTV10, Hiroyoshi Takase.

Setelah penerbangan perdana Mitsubishi SpaceJet M90, dengan nomor registrasi JA26MJ FTV10, tes penerbangan berikutnya dijadwalkan akan dilakukan pada beberapa pekan ke depan, setelah pabrikan melakukan beberapa penyempurnaan.

“Setelah penerbangan pertama, Mitsubishi Aircraft Corporation bersiap untuk memasuki tahap akhir pengujian sertifikasi penerbangan untuk SpaceJet M90. Tes penerbangan lebih lanjut akan dilakukan di Nagoya dalam beberapa minggu mendatang,” tulis pabrikan asal Jepang tersebut dalam sebuah pernyataan.

“Kabar hari ini sangat menggembirakan, karena menandai dimulainya pengujian penerbangan sertifikasi untuk SpaceJet M90 pertama dalam konfigurasi final yang dapat disertifikasi,” kata Alex Bellamy, Chief Development Officer Mitsubishi Aircraft.

Setelah uji coba kedua yang dilakukan beberapa pekan ke depan dilakukan, FTV10 tersebut akan langsung diterbangkan ke Moses Lake Flight Test Center untuk bergabung dengan armada uji Mitsubishi SpaceJet M90 lainnya, guna melalui tahap akhir dari uji sertifikasi penerbangan.

Baca juga: Meski Bakal Merugi, Mitsubishi Regional Jet Siap Masuk Jalur Produksi di 2020

Mitsubishi Heavy Industries Ltd sebelumnya telah menargetkan bahwa pesawat buatannya akan mulai dikirimkan ke para pelanggannya pada pertengahan 2020 lalu. Namun, setelah sempat tertunda sampai lima kali, mengingat Pesawat Mitsubishi Regional Jet (MRJ) yang kini telah berganti nama menjadi Mitsubish SpaceJet tersebut sejatinya sudah memasuki pengiriman pertama pada 2013 silam, pada 5 Februari 2020 pabrikan tersebut kembali mengumumkan kemballi penundaan pengiriman pesawat. Hal itu disebabkan pesawat harus melewati desain ulang pada sistem kelistrikan. Alhasil, pesawat harus menjalani sertifikasi ulang.

Setelah sukses pada penerbangan perdana, pesawat hasil koloborasi dengan Mitsubishi Heavy Industries dengan Toyota Motor Corporation, yang desainnya dibantu oleh Fuji Heavy Industries, anak usaha Toyota, diharapkan dapat segera memasuki tahun layanan perdananya pada akhir 2021 atau awal tahun 2022.

Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Malaysia yang sudah menyatakan dirinya lockdown per 18 Maret 2020 hingga dua minggu kedepan membuat beberapa pengemudi bus dan teknisi yang bekerja di Singapura tertahan tak bisa pulang. Para pengemudi dan teknisi bus ini merupakan warga Malaysia yang tinggal di Johor dan biasanya bekerja pergi pulang.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Karena hal tersebut, Menteri Transportasi Khaw Boon Wan mengatakan dalam laman Facebooknya bahwa bagi para pengemudi dan teknisi bus yang ingin tinggal di Singapura dan bekerja selama dua minggu karena lockdownya Malaysia akan disediakan hotel untuk beristirahat.

Bulim Bus Depot untuk Pengemudi sebelum dipindahkan ke hotel (straitstimes.com)

“Karena sejumlah pengemudi dan teknisi bus kami adalah orang Malaysia yang pergi pulang dari Johor untuk bekerja di sini, kami memiliki rencana darurat jika seandainya perjalanan mereka terganggu. Kami sekarang telah mempraktikkan rencana darurat,” ujar Khaw yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (17/3/2020).

Dia mengatakan, layanan kereta api dan bus tidak terlalu terpengaruh meski mungkin ada sedikit degradasi dari beberapa layanan bus. Khaw mengatakan, bahwa empat transportasi umum Singapura seperti SBS Transit, MRT, Tower Transit Singapore dan Go-Ahead Singapore telah bekerja sama dengan Serikat Pekerja Transportasi Nasional dan Otoritas Transportasi Darat untuk menghadirkan akomodasi hotel bagi pengemudi dan teknisi bus asal Malaysia yang ingin tinggal dan terus bekerja di Negeri Singa tersebut.

“Mereka akan merasa nyaman dan bisa beristirahat dengan baik,” kata Khaw.

Saat ini operator transportasi umum SBS Transit sudah menghadirkan akomodasi di beberapa hotel untuk pengemudi Malaysia. Adanya pengadaan akomodasi hotel tersebut memungkinkan layanan bus akan terus berlanjut sesuai jadwal.

“Mengingat pengumuman terakhir oleh pihak berwenang Malaysia, kami telah mengamankan akomodasi sementara di beberapa hotel untuk kapten bus Malaysia kami. Ini akan segera berlaku untuk memastikan bahwa layanan bus terjadwal tidak terpengaruh,” ujar SBS Transit dalam laman Facebooknya.

Bahkan para pengemudi tidak akan dipaksa tidur di kursi malas dalam depot. Selain SBS, MTR Singapura juga menghadirkan kamar yang cukup untuk semua staf asal Malaysia dan meyakinkan para penumpang akan tetap beroperasi dengan baik.

Tower Transit mengatakan mengatur akomodasi untuk pengemudi mereka di berbagai hotel di Singapura adalah isyarat kecil jika dibandingkan dengan semua pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjaga layanan bus tetap berjalan. Menanggapi gambar dan video yang beredar di media sosial tentang akomodasi sementara yang didirikan di Bulim Bus Depot, Tower Transit mengatakan daerah tersebut berfungsi sebagai perumahan sementara staf untuk membiarkan pengemudi beristirahat sambil menunggu akomodasi hotel mereka selesai.

Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Kapten bus SMRT Lim Kheng Toh, (42 tahun), yang akan tinggal di sebuah hotel di Jurong, mengatakan ia berterima kasih kepada operator untuk pengaturannya.

“Sementara saya kecewa bahwa saya tidak punya lebih banyak waktu untuk pulang dan membuat persiapan yang cukup, saya telah berdiskusi dengan istri saya dan kami memutuskan bahwa saya harus tinggal bersama tim saya dan bekerja di sini sementara itu,” tambahnya.

Akibat Virus Corona, Harga Airbus A380 Bekas Turun Drastis

Pada bulan Februari 2019 lalu, Airbus menyadari bahwa permintaan untuk pesawat superjumbo telah berakhir setelah pelanggan terbesar mereka, Emirates, memutuskan untuk membatalkan pesanan untuk 39 pesawat (A380) barunya. Kala itu, maskapai tersebut melihat bahwa era pesawat lebih kecil namun mampu terbang tak kalah jauh,seperti 330-900 dan A350-900, dapat menggantikan posisi A380.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Dikutip dari laman Simple Flying, meskipun saat ini maskapai telah beralih dari pesawat besar dengan empat mesin ke pesawat medium atau menengah besar dengan mesin ganda, maskapai yang telah terlanjur memiliki pesawat superjumbo, dan tak lagi memiliki banyak pelanggan A380, setidaknya masih mempunyai dua opsi. Seperti penerbangan haji dan pesawat angku militer.

Namun demikian, jikalau pun dipaksakan untuk penerbangan komersial, maskapai setidaknya harus merogoh kocek sebesar Rp464 juta per jam. Bila pada umumnya armada A380 digunakan dalam penerbangan jarak jauh, bahkan ada yang sampai 21 jam, bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk sebuah perjalanan A380. Tentu sangat besar. Terlebih, di tengah iklim maskapai global yang kacau akibat virus corona atau COVID-19, menerbangkan A380 rasanya bukanlah keputusan tepat.

Dengan kondisi di tengah wabah corona dan kecenderungan maskapai yang lebih memilih pesawat bermesin ganda namun memiliki kemampuan terbang jarak jauh, harga untuk sebuah pesawat Airbus A380 disinyalir akan terus anjlok. Dalam katalog daftar harga pesawat-pesawat Airbus, pesawat baru A380 terakhir masih berada dikisaran US$445 juta atau Rp7,1 triliun (kurs 15.480). Namun, harga tersebut diprediksi akan terus mengalami penurunan di tengah harga suku cadangnya yang justru tengah mengalami kenaikan. Tak terkecuali dengan nilai jual pesawat bekas pakai A380.

Seorang analis valuasi dari Ascend by Cirium, Valerie Bershova, harga A380 keluaran 2005 lalu saat ini dibanderol senilai US$77 juta atau Rp1,2 triliun (kurs 15.480). Untuk keluaran tahun lalu, harganya diperkirakan mencapai US$276 juta atau Rp4,4 triliun (kurs 15.480). Angka-angka tersebut keluar sebelum wabah virus corona terus menggrogoti industri penerbangan global, tak terkecuali dalam pasar penjualan pesawat bekas. Oleh karenanya, saat ini, diperkirakan harga pesawat A380 bekas berada jauh lebih rendah dari nilai jual terakhir Rp4,4 triliun.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Pangsa pasar pesawat bekas di dunia memang tak kalah menariknya dengan pangsa pasar pesawat baru. Pasalnya, selain dapat digunakan kembali untuk berbagai penerbangan, baik sipil maupun militer, pesawat bekas juga dapat dijadikan untuk sebuah gantungan kunci. Bagi mereka yang tak tertarik di dunia penerbangan, mungkin itu hanya sebuah gantungan kunci biasa. Namun, bagi pecinta dirgantara, gatungan kunci dari pesawat bekas pakai mungkin adalah sebuah kebanggan.

Pada pertengahan Februari lalu, situs aviationtag.com, mengumumkan bahwa mereka untuk pertama kalinya menjual gantungan kunci dari pesawat bekas Airbus A380 milik Singapore Airlines yang sudah purna tugas. Dalam situs tersebut, tertara bahwa Airbus A380 dijual dengan harga mulai dari Rp 415.000 atau €27.95. Menarik, bukan?

Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

Sebuah restoran di Stasiun Higashikoganei di Jalur Chuo East Japan Railway Company mengenalkan robot pembuat mie soba. Robot ini akan memasak mie bagi penumpang yang kelaparan ketika berada di restoran tersebut.

Baca juga: Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.com (17/3/2020), robot tersebut diperkenalkan Senin kemarin. Robot ini mampu membuat 40 hidangan mie soba per jam dan jumlahnya hampir sama dengan yang dibuat manusia.

Robot pembuat mie soba (japantimes.co.jp)

Dikatakan JR East, robot ini akan memasak di restoran Sobaichi selama masa percobaan hingga 15 April 2020 mendatang. Masa percobaan ini dilakukan untuk menentukan apakah robot tersebut dapat berfungsi dengan baik dan bisa memenuhi harapan pelanggan yang menyukai mie.

Dikembangkan oleh Connected Robotics Inc. yang berbasis di kota Koganei, robot dapat merebus hingga tiga porsi soba pada saat yang sama sebelum membilasnya dengan air dingin. Setelah matang, pekerja manusia harus meletakkannya di piring membantu robot.

“Kita bisa menghindari panas musim panas dan risiko luka bakar akibat mendidihnya air panas. Kita juga bisa melakukan hal-hal lain, seperti berurusan dengan pelanggan, memasak makanan yang digoreng dan membersihkan piring,” kata karyawan restoran Akimasa Yasue tentang robot itu.

Percobaan ini didorong oleh JR East Start Up Co., sebuah perusahaan yang bertugas mengembangkan bisnis baru untuk operator kereta api. Tak hanya robot pembuat mie soba, tapi di salah satu stasiun di Jepang juga sampai 19 Maret 2020 ada pub kecil yang menjadikan robot sebagai bartendernya.

Pub kecil yang mempekerjakan robot sebagai bartender ini berada di Stasiun Ikebukuro, Tokyo. Pub itu disebut Zeroken Robo Travern yang dimiliki oleh Yoronotaki sebuah perusahaan yang mengoperasikan rantai restoran bergaya izakaya di seluruh negeri. Pub tersebut sebenarnya hadir sebagai, bagian dari program percontohan yang dijalankan untuk melihat bagaimana pelanggan merespon ketika dilayani oleh mesin dan bukan manusia.

Untuk menikmati bir, koktail atau minuman campuran yang disajikan robot, pengunjung stasiun harus membayar di kios pembayaran otomatis. Kemudian ketika mendapatkan QR Code, pengunjung memberikannya kepada robot agar kode tersebut dipindai dan menyiapkan minuman yang dipesan.

Robot-robot itu memerlukan waktu sekitar 40 detik untuk menuangkan segelas bir dan untuk koktail serta minuman campuran waktunya di bawah satu menit. Robot bartender ini memiliki seperangkat kamera yang dipasang pada layar untuk memantau keadaan emosional pelanggan seperti melacak apakah mereka bahagia atau semakin tidak sabar.

Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing

Robot bartender tersebut dirancang oleh QBIT Robotics yang mengembangkan server lengan robot serupa untuk restoran pasta takout kecil. Biaya bartender robot sekitar $82 ribu atau sekitar Rp1,1 miliar, setara dengan sekitar tiga tahun gaji untuk rata-rata bartender di Jepang. Kehadiran robot bartender ini kemudian ternyata memiliki respon positif dari pengunjung.

‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Virus corona tak selamanya berdampak negatif. Setelah sebelumnya British Airways mencatat rekor baru untuk Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan empat jam dan 56 menit pertengahan Februari lalu, belum lama ini, maskapai Air Tahiti Nui justru berhasil mencetak rekor sebagai penerbangan komersial terjauh di tengah ekosistem industri penerbangan yang memburuk akibat COVID-19.

Baca juga: Kurang dari 5 Jam, British Airways Catatkan Rekor Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan Boeing 747

Dilansir CNN Travel, maskapai asal Polinesia Perancis tersebut biasanya terbang menuju Bandara Charles de Gaulle di Paris dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Namun, karena negara tersebut tengah memberlakukan pembatasan penerbangan akibat maraknya wabah COVID-19, pesawat Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui terpaksa terbang langsung dari Pape’ete di Tahiti menuju Paris, Perancis.

Namun, siapa nyana, penerbangan yang ‘dipaksakan’ tersebut justru berhasil mendorong terpecahkannya rekor penerbangan komersial terjauh. Bila sebelumnya rekor tersebut disandang Singapore Airlines pada rute Singapura-Newark dengan jarak tempuh 15.348 km, Air Tahiti Nui berhasil mematahkannya dengan mencatatkan penerbangan sejauh 15.715 km dalam waktu selama 15 jam 45 menit.

Pesawat dengan nomor penerbangan TN064 diketahui tinggal landas dari Pape’ete sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada tanggal 15 Maret dan mendarat di Perancis 16 Maret pukul 5.54 pagi waktu setempat. Sekalipun berhasil mencatatkan rekor, penerbangan tersebut bukannya tanpa risiko.

Pasalnya, pesawat Boeing 787 Dreamliner yang digunakan saat maskapai tersebut memecahkan rekor penerbangan komersial terjauh, standar pabrikannya hanya mampu terbang sejauh 14.800 km, sedangkan kala itu penerbangan dipaksakan sampai 15.715 km.

Beruntung, karena virus corona telah membuat penurunan jumlah penumpang dimana-mana, tak terkecuali di Polinesia Perancis (dalam hal ini maskapai Air Tahiti Nui), pilot jadi memiliki keberanian untuk terbang lebih dari standar penerbangan terjauh yang telah ditetapkan.

Baca juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Sebab, saat itu, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner hanya mengangkut total 150 penumpang dari kapasitas maksimal mencapai 290 penumpang. Oleh karenanya, pilot memiliki dasar yang cukup untuk menerbangkan pesawat lebih jauh dari biasanya karena konsumsi bahan bakar yang lebih irit (disebabkan jumlah penumpang yang lebih sedikit).

Air Tahiti Nui sendiri, dalam sebuah pernyataan, mengaku kagum dengan penerbangan tersebut, sekaligus tak menyangka akan berakhir manis seperti itu. “Penerbangan ini dioperasikan secara luar biasa dan dalam batasan yang diberlakukan oleh otoritas Amerika dalam menghadapi epidemi Covid-19,” kata juru bicara Air Tahiti Nui, seperti dikutip dari CNN Travel.