Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Garuda Indonesia semakin melebarkan sayapnya ke ujung dunia. Maskapai pelat merah tersebut kini sudah bisa mengantarkan seluruh pelanggannya, khususnya masyarakat Indonesia, ke berbagai kota di dunia lewat dua hub-nya di Eropa dan Asia Pasifik, yakni Amsterdam, Belanda, dan Tokyo, Jepang.

Baca juga: Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

Nah khusus untuk orang indonesia yang ingin terbang ke tempat-tempat yang telah disebutkan (Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, Moskow) ataupun kota-kota lain, kita sekarang memperkenalkan sesuatu yang baru. Jadi Anda bisa ke sana lewat dua kota hub kita, yaitu Amsterdam dan Tokyo,” kata Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, saat ditemui KabarPenumpang.com di kantornya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3).

Direktur yang mengaku malang melintang di dunia penerbangan (sekitar 50 tahun) sebagai customer tersebut mengatakan bahwa penerbangan ke seluruh dunia bersama Garuda akan membuat pelanggannya mempunyai pengalaman terbang lebih variatif, dibandingkan rute (dengan hub) lainnya yang berbeda.

Ia pun kemudian mengambil contoh penerbangan ke Barcelona. Saat ini, masyarakat yang ingin pergi ke Barcelona, Spanyol, khususnya di Jakarta, setidaknya mempunyai dua pilihan untuk terbang ke sana. Pertama, naik Garuda Indonesia dan KLM lewat rute Jakarta-Amsterdam-Barcelona. Kedua, Jakarta-Singapura-Barcelona lewat Singapore Airlines atau maskapai lainnya. Keduanya tentu saja memiliki kelebihan masing-masing.

“Pilihan Anda kalau di Singapura cuma dua, Anda ke kota atau Anda ke Changi. Kalau ke Amsterdam, Anda punya pilihan empat. Anda di airport-nya atau Anda sehari ke Amsterdam, jalan-jalan, nonton, terus balik lagi ke airport dan ke Barcelona, atau Anda berhenti Anda ke Volendam, foto-foto Melayu berpakaian Londo Atau Anda ke Roermond, belanja factory outlet. So, pilihannya kan jelas,” tambahnya.

Hanya saja, sekalipun bisa terbang ke seluruh dunia, layaknya maskapai besar di dunia, dengan reputasi tinggi, seperti Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates Airlines, Singapore Airlines, ataupun Turkish Airlines yang semuanya mempunyai jaringan rute global terbesar, Irfan mengaku tidak begitu senang bila hanya berhasil mengantarkan orang Indonesia ke luar negeri.

Sebaliknya, sebagai national flag carrier, Irfan justru ingin Garuda Indonesia membawa orang dari mana-mana ke Indonesia, dengan berbagai destinasi andalannya. Dengan begitu, fungsi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier, yang notabene harus memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dapat tercapai.

“Saya tidak tertarik untuk bilang ke orang Indonesia itu, eh gue bisa terbang ke Moskow, saya tidak tertarik karena saya flag carrier saya lebih tertarik lebih bawa orang Rusia ke sini daripada orang Indonesia ke rusia. Itu (mendatangkan orang Indonesia ke Moskow) biar perusahaan Rusia saja yang melakukan itu. Bahwa ada beberapa itu (penerbangan ke luar negeri) iya. Tapi kita lebih tertarik itu (mendatangkan orang Rusia ke Indonesia),” jelasnya.

Baca juga: Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Jaringan global Garuda Indonesia, dengan melayani hampir ke seluruh kota-kota di dunia, sebetulnya bukan barang baru. Lewat skema yang sama (codeshare), Garuda Indonesia di era direktur utama sebelumnya, juga pernah melakukan hal serupa. Tahun 2012, misalnya, Garuda Indonesia menggandeng Etihad Airways untuk merambah jaringan yang lebih besar. Bedanya, hanya pada di hub Garuda itu sendiri. Bila dahulu, Garuda memilih Dubai (markas Etihad) sebagai hub-nya, kini, Garuda memilih Amsterdam dan Tokyo, dengan segudang destinasi favoritnya.

Codeshare sendiri adalah operasi gabungan dari dua atau lebih maskapai penerbangan untuk mengantarkan penumpang ke tujuannya. Codeshare dimungkinkan karena maskapai pada umumnya hanya melayani rute globalnya saja, bukan rute domestik di negara lain. Seumpama, China Airlines pada Juni tahun lalu mulai melayani penerbangan Jakarta-Makassar melalui skema codeshare dengan Garuda Indonesia. Jadi, warga Cina yang ingin ke Makassar (Indonesia) mula-mula terbang dengan menggunakan China Airlines ke Jakarta dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Makassar dengan Garuda Indonesia (karena China Airlines tak melayani penerbangan ke sana).

Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Pilot perempuan pertama yang berlisensi di dunia adalah Raymonde de Laroche. Dia mendapatkan lisensinya 110 tahun lalu pada 8 Maret 1910. Namun bila berkaca pada masa lalu, di tahun 2020 ini, hanya ada lima persen pilot perempuan dan 1,42 persennya adalah kapten. International Society of Women Airline Pilots mengatakan, jumlah total kapten penerbangan wanita di Eropa bahkan tidak memenuhi kebutuhan di penerbangan Boeing 747.

Baca juga: Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial

Padahal maskapai melakukan upaya bersama untuk mendorong perempuan ke kokpit. KabarPenumpang.com merangkum thepointsguy.co.uk (8/3/2020), dalam Perang Dunia II, wanita memiliki peran penting yakni The Women Airforce Service Pilots atau WASPS mengangkut dan menguji pesawat militer pada awalnya. Tahun 1960-an Bonnie Tiburzi sangat ingin terbang untuk maskapai komersial meskipun ada beberapa yang mengatakan tidak mempekerjakan wanita sebagai pilot.

Namun akhirnya Tiburzi mendapat pekerjaan sebagai pilot American Airlines wanita pertama. Dia tidak menghadapi tentangan dari rekan pria tetapi menerima surat dari istri seorang pilot yang menuduhnya mengambil pekerjaan dari seorang pria yang membutuhkan untuk memberi makan keluarganya. Saat ini, sebagian besar maskapai mendorong wanita untuk bekerja di kokpit dan diperkirakan sekitar 804 ribu pilot wanita diperlukan untuk memenuhi permintaan pada 2038 mendatang.

Jika maskapai benar-benar ingin mendapatkan persentase pilot meningkat, mereka perlu mengatasi hambatan nyata yang mencegah perempuan mengambil kursi di kokpit. Beberapa maskapai yang menyadari hal ini, menempatkan pilot wanita mereka sebagai teladan yang terlihat. Kapten Qantas Helen Ternerry mengoperasikan penerbangan Project Sunrise tanpa henti dari London ke Sydney. Ternerry diketahui sudah terbang bersama Qantas selama 31 tahun.

“Anda tidak bisa menjadi apa yang tidak bisa Anda lihat. Daripada membicarakannya, kita meletakkan gambar di sana”, kata Trenerry.

Di luar operator legacy Amerika Serikat, United Airlines memiliki jumlah pilot wanita tertinggi, yaitu 7,40 persen persen. Pilotnya berada di depan anak-anak di kelas untuk menginspirasi imajinasi mereka dari tahap awal. Maskapai ini “melibatkan gadis-gadis di seluruh dunia ketika mereka mulai memikirkan masa depan mereka sendiri sehingga mereka dapat memastikan masa depan yang kuat bagi para wanita di industri ini.

Media sosial juga membantu generasi global digital asli yang dapat melihat kehidupan perempuan dalam pesawat terbang, seperti Eva Claire Marseille (@Flywitheva), yang membawa 153 ribu pengikut dengannya saat ia menerbangkan Boeing 747 di seluruh dunia. Tetapi ada dimensi yang sangat nyata dan sering tidak disebutkan tentang menjadi seorang wanita yang dapat membuat wanita percaya bahwa menjadi pilot mungkin tidak melengkapi rencana hidup lainnya, yaitu memiliki anak.

Bahkan ada pertanyaan apakah menjadi seorang pilot dan sebagai ibu bisa berdampingan? Mungkin ada yang berargumen bahwa sejumlah pramugari bisa mengelola waktu mereka meski karir seorang pilot sangat berbeda. Namun, kedua peran itu penting untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan penumpang. Pilot memiliki jalur yang lebih panjang dan lebih keras untuk dipekerjakan dan tetap dipekerjakan oleh sebuah maskapai penerbangan.

Mereka menjalani pelatihan dan memeriksa sepanjang karir mereka, termasuk sesi simulator penerbangan intensif dan pemeriksaan jalur tahunan. Jika maskapai penerbangan serius dalam meningkatkan jumlah pilot wanita, kebijakan kerja fleksibel mereka perlu memenuhi kebutuhan wanita. Perwira pertama senior Virgin Atlantic, Adelle Roberts, terbang lama dan menghasilkan daftar 75 persen, yang cocok untuknya.

“Adalah mungkin untuk menjadi pilot dan ibu. Saya melakukannya dan saya dapat dengan jujur ​​mengatakan bahwa sepanjang karir saya, saya tidak pernah memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang luar biasa,” kata Adelle.

EasyJet telah membuat kemajuan besar dan mengatakan itu sesuai dengan tujuannya untuk 20 persen dari semua pilot yang baru direkrut menjadi perempuan pada tahun 2020. Saat ini, India menjadi pemimpin dunia yang memiliki pilot wanita sebanyak 12 persen dan dua kali lipat lebih banyak dari Amerika Serikat.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Sebagian alasannya adalah meningkatnya pertumbuhan penerbangan komersial di India, dan sebagian adalah kurangnya kesenjangan gender dalam pembayaran berkat mandat serikat pekerja, tidak seperti di industri lain di India. Organisasi pelatihan juga ikut serta dalam aksi tersebut, dan mengambil sikap aktif dalam menangani perwakilan perempuan dalam penerbangan yang kurang.

Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Maskapai global saat ini tengah mengalami kondisi sulit di tengah wabah virus corona. Demikian juga dengan maskapai-maskapai di Indonesia, khususnya Garuda Indonesia. Di tengah perjuangan untuk membayar utang sebesar Rp6,82 triliun yang akan jatuh tempo Mei 2020 mendatang, maskapai pelat merah tersebut justru diterpa beberapa cobaan yang bersumber dari Covid-19 tersebut.

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Direktur Utama Garuda Indonesia mengatakan, dalam menyikapi turunnya frekuensi penerbangan akibat sentimen penumpang (untuk bepergian) yang meningkat, sebetulnya, ia dan tim sudah menyiapkan sederet langkah kongkret dalam balutan recovery plan untuk membuat perusahaan tetap terus eksis. Salah satunya dalam memaksimalkan armada yang ada, khususnya widebody.

Pasalnya, pesawat-pesawat widebody Garuda Indonesia, yang biasanya didedikasikan untuk penerbangan ke jarak jauh, seperti ke Cina dan beberapa rute lainnya, terpaksa harus grounded akibat sepinya penerbangan. Beruntung, flag carrier Indonesia tersebut masih punya rute gemuk di pangsa pasar domestik. Hal itulah yang kemudian mendorong Garuda Indonesia untuk memanfaatkan pesawat widebody-nya di beberapa rute gemuk domestik, salah satunya Denpasar.

“Yang paling kita persiapkan (dalam recovery plan) sebetulnya Singapura. Dalam satu hari kita itu sebetulnya ada 10 penerbangan ke Singapura. Dari pagi sampai malam. Kita potong jadi lima masih sepi kita potong jadi tiga sekarang. Jadi anda bayangkan, berapa pesawat yang tidak terbang. Nah, ini yang kemudian kita lakukan recovery. Jadi beberapa rute yang gemuk, kita ganti dengan pesawat lebih besar. Contohnya, rute Jakarta-Denpasar. Sebelumnya pakai Boeing 737 kita ganti dengan Airbus,” ujar Irfan kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantornya, di Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jumat, (6/3).

Selain itu, lanjut Irfan, di samping tengah berjuang untuk tetap terus eksis di tengah anjloknya penerbangan, sebagai national flag carrier, Garuda Indonesia juga ditantang untuk kembali menghidupkan 10 destinasi prioritas, khususnya Bali, yang kehilangan banyak wisatawan, khususnya wisawatan asal Cina. Caranya, dalam waktu dekat, Garuda Indonesia berencana untuk membuka rute-rute baru dari dan ke Bali.

“Jadi kita mau buka ke India, kita juga mau buka dari Kuala Lumpur, kita juga mau buka dari Bangkok, dan Brisbane ke Denpasar, plus satu lagi Dili. Dili kita masih mikir-mikir apakah dari Denpasar ke Dili atau dari Surabaya ke Dili,” katanya.

“Problemnya, recovery plan yang sudah dibangun cukup matang oleh tim, mesti berubah lagi ketika umroh tutup. Jadi, ada lagi (yang mesti diubah). Nah problemnya umroh itu ada lagi empat jadwal kita setiap hari. Tambah lagi pesawat yang kemudian harus parkir (grounded),” tambahnya.

Baca juga: Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Meskipun tak membuka semua recovery plan yang telah disusun, Irfan menegaskan, bahwa recovery plan Garuda Indonesia dalam menghadapi anjloknya industri penerbangan akan mencakup banyak hal. Sudah begitu, recovery plan tersebut juga semaksimal mungkin akan membuat Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai penerbangan yang paling siap ketika wabah virus corona telah berakhir.

“Kita posisinya clear (di tengah wabah virus corona) kita akan cari cara untuk bisa survive dalam situasi akibat corona ini. Kita juga kepingin menjadi salah satu perusahaan yang paling siap di region ini ketika wabah ini selesai atau terlewati,” pungkasnya.

Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Industri penerbangan saat ini mulai terpengaruh akibat virus corona. Dimana-mana, maskapai penerbangan ramai-ramai mengurangi rute ataupun mengurangi frekuensi penerbangan. Bahkan, salah satu maskapai penerbangan di Inggris, Flybe, resmi dinyatakan bangkrut akibat tak mendapat suntkan modal dan demand (penumpang) yang menurun.

Baca juga: Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Terkait penuranan jumlah penumpang di tengah wabah virus corona, Irfan Setiaputra pun angkat bicara. Menurut Direktur Garuda Indonesia tersebut, saat ini, posisi dunia penerbangan di dunia bukan mengalami penurunan demand, melainkan sentimen yang meningkat.

Menurutnya dua hal itu (antara sentimen yang meningkat dengan demand yang menurun) berbeda mengingat setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bepergian. Artinya, demand tetap ada, hanya saja, karena dibatasi dengan maraknya wabah virus corona, perilaku penumpang kemudian berubah akibat sentimen penumpang untuk bepergian yang juga cenderung berubah.

“Mungkin bukan demand yang menurun tetapi sentimen yang meningkat. Keinginan bepergian itu ada dalam hati setiap orang. Tapi hari ini mungkin banyak orang mulai bertanya, perlukah saya pergi?” katanya, kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3).

Selanjutnya, direktur yang baru menjabat pada 22 Januari 2020 lalu itu juga menyoroti faktor lainnya yang membuat sentimen meningkat. Menurutnya, selain dipicu oleh keinginan pribadi, keinginan (untuk bepergian) juga pada umumnya dipicu oleh perusahaan, semisal perjalanan dinas. Ketika perusahaan menahan hal tersebut akibat sentimen yang meningkat, tentu saja perjalanan udara akan jadi berkurang.

“Yang kedua (terkait sentimen untuk bepergian yang meningkat) banyak perusahaan mengajukan untuk tahan dulu bepergian. Bukan melarang. Tahan dulu bepergian. Boleh pergi, kalau Anda merasa itu perlu. Jadi yang terjadi bukan demand yang menurun tapi terjadi sentimen yang meningkat terhadap bepergian,” tegasnya.

Di samping meningkatnya sentimen untuk bepergian yang berimbas pada penurunan jumlah penumpang, Irfan juga mengkhawatirkan industri penerbangan saat ini. Menurutnya, industri penerbangan salah satu syaratnya adalah keterbukaan. Artinya, ada interaksi antara satu negara dengan negara lainnya. Satu benua dengan benua lainnya.

Oleh karenanya, ketika keterbukaan tersebut dibatasi, seperti misalnya satu negara memblokir suatu tempat untuk berinteraksi, hal tersebut akan cukup terdampak bagi maskapai. Pasalnya, pesawat yang biasa didedikasikan untuk penerbangan ke suatu tempat (yang diblokir atau locked down) tersebut menjadi tidak terbang atau grounded. Imbasnya, pendapatan pun menurun. Sebaliknya, cost justru meningkat.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Memang situasi yang terjadi belakangan ini agak mengkhawatirkan untuk industri ini. Karena apa, salah satu syarat industri ini adalah keterbukaan. Dunia ini mestinya terbuka, tapi ketika memblokir satu tempat atau terblokirnya satu tempat atau mungkin satu negara melarang untuk berinteraksi dengan negara tersebut, mulailah persoalan-persoalan muncul,” ujar Irfan.

“Seperti contohnya pada waktu pemerintah Indonesia memutuskan menutup ke Cina. Ya artinya apa, secara teknis logistik dikitanya penerbangan ke Cina itu harus kita hentikan. Dengan penghentian tersebut, pesawat yang semestinya kita dedikasikan untuk penerbangan ke Cina, jadi ga pergi kemana-mana, parkir (grounded). Nah, begitu parkir ini menjadi cost, tidak ada lawannya, ada biaya tapi tidak ada lawannya. Ini yang menjadi persoalan,” tutupnya.

Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial

Pada Hari Perempuan Internasional, seorang pilot bernama Deborah Lawrie merayakan 50 tahun terbangnya. Dia jatuh cinta pada penerbangan ketika sang ayah memberinya dua pelajaran terbang pada ulang tahun ke-16. Deborah adalah wanita pertama yang menjadi pilot maskapai utama Australia setelah memenangkan kasus diskriminasi seks yang mencolok terhadap Ansett Airlines.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Wanita 67 tahun ini memperoleh lisensi pilot swasta pada tahun 1971 atau ketika dia berusia 18 tahun dan lisensi pilot komersial dua tahun setelahnya yakni 1973. Dia mencatat 2600 jam terbang dan menjadi instruktur penerbangan umum dan pilot charter tahun 1976. Dilansir KabarPenumpang.com dari abc.net.au (8/3/2020), meski Ansett Airlines saat itu menolak, tapi tahun 1980 dia akhirnya bekerja di sana sebagai pilot.

“(Reg) Ansett menjalankan perusahaan dan dia sangat anti-wanita. Alasan utamanya adalah dia menganggap mereka tidak akan aman. Mereka mencoba banyak argumen. Bahwa perempuan cenderung panik atau bahwa kita akan lari dan memiliki bayi. Ansett bahkan berpendapat di Komisi bahwa anting-antingnya bisa menjadi bahaya keselamatan jika mereka tertangkap di sisi pesawat jika terjadi evakuasi darurat,” kata Deborah.

Bahkan di hari Perempuan Internasional Deborah mengaku saat ini baru mengerti arti dari apa yang dia raih dengan menerbangkan pesawat.

“Aku menoleh kebelakang dan aku bertanya-tanya bagaimana aku melakukannya. Tapi kamu tahu, ketika kamu muda, kamu tidak terlalu khawatir tentang konsekuensinya. Kamu terus berjalan,” Kata dia.

Di Ansett Airlines, Deborah ternyata pernah menerbangkan pesawat McDonnell Doiglas DC-9 dan Boeing 727. Tahun 1989 dirinya mengundurkan diri secara setelah kasus sengketa pilot Australia.

Dia kemudian menjadi instruktur pilot dan tahun 1993 pindah ke Belanda serta bergabung dengan KLM sebagai pilot Fokker 50. Tahun 1994, dia menjadi instruktur Fokker 50 dan pada 1998 dirinya menjadi Manajer Keselamatan Penerbangan dan Investigator Keselamatan Penerbangan untuk KLM Cityhooper. Pada Tahun 2007 dia telah menjadi kapten senior Airbus A330 di KLM.

Deborah menambahkan, saat berada di KLM, maskapai Belanda tersebut tidak ada masalah dalam mempekerjakan pilot wanita. Tahun 2008, dirinya kembali ke Australia dan bergabung dengan Jetsar Airways. Pada Juli 2012 ia bergabung dengan Tigerair Australia dan saat ini menjadi Kapten dan instruktur Airbus A320. Saat ini bisa dikatakan Deborah menjadi pilot wanita tertua yang masih terbang bersama maskapai komersial besar.

“Tidak ada tempat lain di dunia selain Australia dan Selandia Baru di mana Anda dapat terbang melewati usia yang merupakan hari ulang tahun terakhir saya sehingga saya yang tertua di dunia,” katanya.

Namun hingga saat ini dirinya belum berniat pensiun, bahkan, selalu mengatakan tiga tahun lagi tapi tidak dilakukannya. Tahun lalu, wanita kelahiran 14 Mei 1953 ini diangkat menjadi Anggota Ordo Australia dalam Penghargaan Ulang Tahun Ratu karena “layanan signifikan terhadap penerbangan dan bagi wanita dalam profesi”.

“Itu benar-benar kejutan yang luar biasa. Saya merasa sangat tersanjung dan itu indah untuk mendapatkan pengakuan itu,” ujarnya.

Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak

Ketika dunia merayakan Hari Perempuan Internasional, dia mengatakan segalanya berubah dan sekarang jauh lebih mudah bagi pilot wanita muda untuk mendapatkan pekerjaan.

“Saya pikir secara umum masyarakat lebih menerima wanita masuk ke peran yang berbeda. Saya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam seluruh karir saya, saya telah melihat seorang wanita mengisi bahan bakar pesawat, yang belum pernah saya lihat sebelumnya,” tambah Deborah.

Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Virus corona belum ada tanda-tanda akan berakhir, justru terus semakin membesar. Akibatnya, maskapai global ramai-ramai melakukan sejumlah efisiensi, mulai dari mengurangi layanan, menutup atau mengurangi rute, merumahkan karyawan, meminta karyawan untuk dengan sukarela mengambil cuti tanpa dibayar, hingga mengurangi gaji. Semua itu dilakukan semata untuk tetap bertahan hidup di tengah terjangan ‘badai’ virus corona.

Baca juga: Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Akan tetapi, bagi maskapai Garuda Indonesia, rupanya virus corona tak terlalu berarti banyak, khususnya terkait langkah-langkah inisiatif, sebagaimana yang dilakukan banyak maskapai dunia. Bila virus corona telah membuat Singapore Airlines, Qatar Airways, dan Etihad Airways, mengurangi rute penerbangan, menawarkan cuti tanpa dibayar, mengurangi layanan, merumahkan karyawan, hingga pengurangan gaji, Garuda Indonesia masih bisa selamat dari hal tersebut.

“Kita tidak pernah punya rencana untuk, misalnya merumahkan karyawan, mengurangi karyawan, maupun mengurangi gaji,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra kepada KabarPenumpang.com, Jumat, (6/3/22020)

Meskipun tak menampik bahwa secara bisnis Garuda Indonesia juga terdampak virus corona, lanjutnya, hal itu (maraknya pengurangan gaji ataupun pengurangan karyawan oleh maskapai global) terjadi karena posisi mereka sebagai maskapai penerbangan berbasis hub atau transit. Jadi, tak heran bila mereka mempunyai penerbangan hampir ke seluruh penjuru dunia. Hanya saja, di tengah terjangan virus corona, hal tersebut sangat membuat mereka kewalahan.

Garuda Indonesia. Foto: Instagram ari_setiawan.20

Sebaliknya, bagi Garuda Indonesia, tidak adanya rencana untuk melakukan efisiensi dengan melakukan pengurangan karyawan ataupun melakukan pengurangan gaji dikarenakan maskapai pelat merah tersebut mempunya basis penumpang domestik yang kuat. Oleh karenanya, selama banyak orang ingin bepergian dengan singkat lintas pulau, virus corona tak akan terlalu membuat Garuda kewalahan.

“Kita memang tidak sebesar mereka (Etihad, Singapore Airlines, Emirates, Qatar), tapi kita punya pasar domestik yang kuat, mereka tidak punya pasar domestik. Nah kalau pasar domestik ini, selama orang Sumatera boleh pindah ke Jawa, orang Jawa ke Kalimantan, kemana-mana bisa, tidak ada masalah kan?” tegas, mantan Country Manager Cisco Indonesia tersebut.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Terkait virus corona, International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus tersebut sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar US$29 miliar atau Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang 2020.

Selain itu, maskapai global juga sudah mulai bergerak untuk mencari inisiatif pembiayaan melalui leasing penerbangan di dunia, salah satunya Avolon Leases Aircraft. CEO leasing pesawat terbesar di dunia tersebut, Domhnal Slattery, mengatakan bahwa saat pihaknya mengaku sudah banyak dihubungi maskapai di dunia, khususnya dari Cina, untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan di tengah sepinya penerbangan akibat corona.

Makan Nasi Goreng Ala Kadarnya di Bandara Soetta, Netizen ini ‘Komplain’ dengan Harga Rp120 Ribu!

Bepergian dengan pesawat memanglah menyenangkan, namun terkadang yang membuat lelah adalah ketika penumpang harus menunggu di bandara. Apalagi bila keberangkatan pagi-pagi sekali dan belum sarapan.

Baca juga: Di Bandara Soetta – Perut Lapar Tapi Budget Ngepas, Yuk Makan di Sini!

Mau tak mau penumpang akan makan di bandara baik bekal yang di bawa ataupun di restoran di dalam bandara. Tapi terkadang makan di restoran bandara harganya sungguh fantastis.

Baru-baru ini, seorang penumpang yang tengah menunggu keberangkatannya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kecewa sekaligus marah dengan makanan yang dipesannya. Penumpang bernama Nita itu bercerita tentang kesedihan dan kemarahannya melalui akun Instargram @_sadfood.

Nita mengirim pesan ke akun @_sadfood tersebut dan diunggah ke feed dengan dua foto. Foto pertama nasi goreng yang terlihat biasa dengan tambahan kerupuk dan yang kedua curhatan Nita (@nitamafarsia) yang di capture.

Nita bercerita bahwa ketika di Bandara Soetta tepatnya Terminal 3 memutuskan untuk makan nasi goreng dengan harga Rp120 ribu. Namun yang datang adalah nasi goreng ala kadarnya tanpa bumbu dan hanya diberi kecap serta sedikit suwiran ayam.

“Ini sudah kumakan beberapa sendok, jadinya isinya cuma nasi kecap kurang bumbu, kerupuk dan sedikit suiran ayam bahkan tanpa telur!!! Nasi goreng abang gerobak 13ribu aja ada telurnya, ini 120rb tanpa telur trs suiran ayamnya minimalis ekonomis tp karena lapar ya habis aja sih,” tulis Nita yang dikutip KabarPenumpang.com dari @_sadfood.

Sebenarnya harga makanan yang mahal di bandara bukanlah rahasia umum. Mahalnya harga-harga makanan itu karena biaya sewa restoran yang tinggi, peraturan ketat hingga area penyimpanan makanan yang terbatas.

Fasilitas dan kenyamanan restoran di bandara juga menjadi salah satunya. Sebenarnya ada trik yang mudah daripada harus membayar makanan mahal di dalam bandara. Penumpang bisa membawa bekal dari rumah, ataupun makan di kantin karyawan bandara.

Kantin karyawan ini biasa tak jauh dari terminal keberangkatan, seperti di Terminal 1 dan 2 ada dekat parkiran motor. Harga makanan cukup terjangkau dengan kantong dan pilihan makanan juga pun berbagai macam.

Baca juga: Warga Singapura Suka Berlibur di Bandara, Ternyata ini Alasannya!

Penumpang juga bisa membeli atau makan di mall sebelum bandara. Bila ingin makan di restoran bandara, baiknya melihat menu dan harga makanan yang akan dipesan atu bertanya kepada pelayan restoran tentang makanan yang akan di pesan sebelum datang makanan yang tak diinginkan.

ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Maskapai asal Papua Nugini dilaporkan telah memesan sejumlah pesawat ATR 42-600S pada gelaran Singapore Airshow 2020 lalu. Sekilas, produk dari pabrikan pesawat regional terbesar di dunia tersebut memang tak ada bedanya. Namun, sesuai namanya (tambahan huruf ‘S’ di bagian belakang), ATR 42-600S adalah pesawat tangguh dengan teknologi Short Take-Off and Landing (STOL).

Baca juga: Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

Dilansir dari simpleflying.com, Kamis, (5/3), dengan teknologi tersebut pesawat tersebut hanya membutuhkan landas pacu sepanjang 800 meter saja. Kemampuan tersebut tentu bukan hal baru bagi pesawat kecil, namun, bila dilihat dari pengembangan lainnya, ATR 42-600S mungkin bisa jadi yang terbaik di kelasnya.

Selain mampu terbang dengan landasan pacu pendek, pesawat justru dapat terbang lebih hemat 40 persen bahan bakar dibanding versi sebelumnya, seperti ATR 42-600 dan ATR 72-600. Di samping itu, pesawat juga mampu mengangkut 50 penumpang, dengan konsumsi bahan bakar sama dengan mengangkut 30 penu

mpang.

Tak hanya itu, ATR 42-600S juga turut dipasang spoiler simetris untuk meningkatkan efisiensi pengereman saat mendarat. Di samping itu, sistem autobrake juga akan memastikan daya pengereman penuh terjadi beberapa saat setelah pesawat touchdown.

Dengan kemampuannya tersebut, tak jarang, pesawat disebut-sebut sebagai andalan di wilayah-wilayah terluar seperti Papua ataupun Papua Nugini, dengan bandara-bandara menantang berupa landasan pacu pendek, cuaca ekstrem, tanah bergelombang, runway tak lurus sempurna, hingga tak adanya instrumen pendukung pendaratan ataupun penerbangan pesawat.

Menurut pihak perusahaan, varian ATR 42-600S ini akan tetap menggunakan mesin yang sama seperti ATR 42 dan ATR 72. Hanya saja, dalam pengaplikasiannya, pilot akan dihadapkan dengan dua opsi lepas landas, yakni memaksimalkan daya untuk mengoperasikan STOL (dengan asumsi lebih boros bahan bakar) atau pengoperasian efisien bahan bakar dengan menggunakan landas pacu yang lebih panjang.

“Menambahkan ATR 42-600S ke keluarga kami sangat masuk akal dan membuka jalan bagi masa depan perusahaan. Ada potensi besar untuk pesawat 50-kursi dan ATR 42-600S dapat membantu maskapai memperluas wawasan mereka, karena dapat menjangkau hingga sekitar 500 bandara baru di seluruh dunia,” kata CEO dari ATR, Stefano Bortoli.

Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas

“Ini adalah ilustrasi yang jelas tentang dedikasi kami dalam membantu lebih banyak orang dan komunitas yang lebih terpencil mendapat manfaat dari menjadi bagian dari dunia yang terhubung dan dengan cara yang berkelanjutan,” lanjutnya.

Saat ini, pesawat masih dalam proses mendapatkan sertifikasi dari berbagai regulator sebelum benar-benar melayani penerbangan di seluruh dunia. Diperkirakan, pesawat akan terbang pada paruh kedua 2022 atau sekitar bulan Maret.

Awas! Bila Dapat Kursi Pesawat di Bawah Bagian Ini Atau Anda Bakal ‘Ketiban’ Awak Kabin

Ketika masuk ke dalam pesawat dan duduk sesuai dengan kursi yang tertera di tiket, biasanya penumpang melihat ke luar jendela. Itupun bagi yang duduk tepat di samping jendela. Bagi mereka yang duduk di kursi tengah atau pinggir, biasanya gadget adalah andalan untuk melepas penat sambil menunggu pesawat lepas landas, atau hal lain yang paling mungkin adalah mengeset tempat duduk dan tidur. Jarang sekali penumpang melihat-lihat sekitar kabin.

Baca juga: Pantas Banyak ‘Skandal,’ Ternyata Pramugari Punya ‘Ruang’ Tersembunyi Bak Hotel di Pesawat

Padahal, bila mereka melakukan itu (melihat-lihat sekitar kabin), mungkin sesuatu yang aneh akan didapatkan. Seperti dikutip dari laman stuff.co.nz, Jumat, (6/3), di balik struktur pesawat, yang pada umumnya penumpang hanya mengetahui adanya ruang kargo dan kabin, nyatanya terdapat ruang khusus untuk awak kabin beristirahat dan ruang khusus tersebut bisa saja diketahui dengan melihat indikasi adanya kompartemen penumpang yang tak memiliki handle atau tak bisa dibuka dari luar.

Usut punya usut, rupanya kompatemen penumpang tanpa pegangan atau tak bisa dibuka dari luar tersebut adalah jalan keluar darurat awak kabin untuk keluar lebih cepat. Itulah sebabnya mengapa kompartemen tersebut tak dapat dibuka dari luar. Sebab, bila terbuka, penumpang memang dapat sedikit mengintip ruang tersembunyi awak kabin tersebut. Sebaliknya, bila keadaan darurat memaksa awak kabin keluar lewat emergency hatch tersebut dengan sembrono atau tak hati-hati, bisa saja penumpang kejatuhan mereka.

Hanya saja, posisi emergency hatch awak kabin, yang dapat terlihat dari tidak adanya pegangan atau handle kompartemen penumpang agar bisa dibuka dari luar, cenderung berbeda-beda. Ada yang di atas penumpang, ada yang sebaliknya, di bawah penumpang, di bagian lantai kabin, hingga di bagian depan kanan kabin. Tergantung pada jenis pesawatnya. Airbus A380, misalnya, justru terletak di bawah kabin mengingat pesawat tersebut memiliki dua lantai. Jadi, posisi ruang tersembunyi awak kabin berada di antara kedua lantai tersebut dan emergency hatch-nya berada di bawah lantai dua.

Seperti yang sudah ramai diberitakan, belum lama ini seorang pramugara atau awak kabin bernama Blair, telah membuat netizen terkejut akibat sebuah postingan di laman Instagram milik Virgin Australia. Dalam video berdurasi singkat tersebut, tampak sang pramugara tengah berada di ruangan ‘asing’ di dalam sebuah pesawat dan berlagak seperti sedang mengintip dengan membuka sebuah tirai hitam yang menutupinya ruangan atau kamar tersebut. Sekilas, hampir tak ada bedanya dengan hotel kapsul.

Ruang rahasia itu diketahui tepat berada di atas kursi kabin kelas ekonomi dan kelas bisnis pada bagian sebelah kiri. Ia tidak menjelaskan secara detail apakah ruang atau kamar tersembunyi itu tersedia di semua jenis pesawat. Namun, pada video tersebut, ruang rahasia itu berada di pesawat Boeing 777-300ER yang notabene tergolong sebagai pesawat berbadan lebar atau widebody, dengan durasi terbang berkisar 7-15 jam lamanya. Jadi, wajar saja bila terdapat kamar tersembunyi seperti itu.

“Ada dua tempat istirahat di pesawat Boeing 777-300ER kami, yang terletak di atas kabin kelas bisnis dan ekonomi di kedua ujung pesawat dan digunakan setelah layanan makanan utama. Istirahat dialokasikan untuk memastikan bahwa jumlah kru yang tepat selalu tetap bawah (kabin) untuk membantu para tamu,” katanya dalam video tersebut.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

“Area istirahat untuk awak kabin kami berada di atas kabin ekonomi, dan memiliki delapan tempat tidur (single) dengan seprai, selimut, dan bantal yang nyaman untuk memastikan awak beristirahat dengan baik begitu mereka kembali ke kabin” tambahnya.

Meskipun ada dua tempat (di atas kursi kabin kelas ekonomi dan kelas bisnis), ia menjelaskan, lazimnya, kamar rahasia di atas kabin kelas ekonomi tersebut digunakan untuk para awak kabin. Sedangkan kamar tersembunyi di atas kelas bisnis dikhususkan untuk pilot dan kru dengan fasilitas yang nyaris serupa dengan kamar tersembunyi peruntukan awak kabin.

Ternyata, Awak Kabin Perhatikan Semua Perilaku Penumpang Saat Masuk Pesawat

Setiap orang terbang karena berbagai alasan, baik itu untuk menikmati suatu tempat atau melakukan perkerjaan seperti perjalanan bisnis. Bahkan barang bawaan masing-masing penumpang pesawat pun tidak akan sama satu dengan yang lainnya.

Baca juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui

Namun, tahukah Anda sebagai penumpang ternyata awak kabin ahli dalam segala hal dalam seluruh proses perjalanan udara. Tak hanya itu, mereka tahu apa yang harus di cari dan bisa menangani situasi apapun di dalam kabin. Nah, sebagai penumpang pesawat, pernahkah Anda melihat awak kabin melakukan pengamatan dari pertama kali tiba di dalam kabin, pesawat lepas landas hingga akan tiba ditujuan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari msn.com (29/2/2020), pengamatan awak kabin pada penumpang yang masuk ke pesawat tidak akan diberitahu oleh mereka. Berikut ini ada beberapa hal yang dilakukan dan diamati oleh awak kabin kepada para penumpang mereka.

#1 Apakah Anda ramah?
Ketika sampai di pesawat tepatnya di pintu masuk, penumpang biasanya mengeluarkan semacam energi dan awak kabin berada dalam posisi khusus untuk memerhatikanya. Biasanya mereka akan menyapa penumpang saat masuk ke dalam.

“Jika kita menyapa di pintu, kita perhatikan apakah kita diakui oleh senyum atau halo kembali,” kata Avalon Irizarry, awak kabin American Airlines.

Dia menambahkan, bila Anda membalas salam atau senyum mereka, secara otomatis akan membuat kesan yang lebih baik meski hanya satu kata.

#2 Apa yang Anda kenakan dan bawa?
Setiap awak kabin yang berada di dekat pintu selain menyapa juga melihat pakaian penumpang dan barang bawaan mereka. Salah satu alasan perhatian awak kabin terhadap detail tersebut adalah untuk memastikan penumpang mematuhi peraturan pesawat. Bisa dikatakan, awak kabin adalah garis pertahanan terakhir terhadap penumpang yang mungkin mencoba naik ke pesawat dengan bawaan yang lebih besar dibandingkan seharusnya.

Irizaary menambahkan, penumpang tak perlu heran ketika awak kabin melihat dari atas ke bawah. Ini dilakukan kemungkinan karena mereka menangani pilihan pakaian dan aksesori Anda.

“Kau akan terkejut dengan apa yang dikenakan orang!” kata Irizarry.

Dia mengatakan, penumpang duduk berjam-jam dalam tabung logam, menarik untuk melihat orang-orang memakai stiletto dan pakaian rumit yang terlihat tidak nyaman dan tidak mungkin untuk disesuaikan dan dilepas ketika Anda perlu ke kamar mandi. Cari tahu beberapa hal lagi yang dikatakan pramugari untuk menghindari pemakaian di pesawat terbang. Irizarry juga menunjukkan perhatian pramugari pada sandal jepit.

“Pramugari memiliki sesuatu tentang menutupi kaki Anda. Mereka juga mengawasi penumpang yang berjalan di sekitar kabin atau pergi ke kamar kecil tanpa sepatu, karena kita tahu betapa kotornya lantai pesawat!” jelas Irizarry

Baca juga: Bila Ada Penumpang Pipis di Kursi, Inilah Prosedur Penanganan dari Awak Kabin!

#3 Anda butuh bantuan atau perhatian khusus?
Dari awal naik, awak kabin bisa melihat tanda-tanda penumpang yang baik, membutuhkan bantuan atau yang sedang dalam kondisi mabuk. Sebab pengamatan yang satu ini dilakukan untuk menghindari konflik dan mencegahnya bila terjadi. Tak hanya seorang pemabuk, penumpang yang membutuhkan tambahan seperti bayi, orang tua atau seseorang yang sakit juga diberikan perhatian.

“Kadang-kadang, kita sudah melihat mereka di gerbang berbicara dengan agen, atau mereka datang sudah meminta perlakuan khusus, atau mengeluh. Di kelas satu, kami perhatikan yang mencoba menarik perhatianmu karena mereka ingin mantel mereka segera digantung, bahkan ketika itu sulit didapat saat naik,” kata Irizarry.