Tiga Maskapai Besar Ini Kompak Bebaskan “Change Fees” di Tengah Wabah Covid-19

Qatar Airways, Singapore Airlines (SIA), dan Emirates Airlines semuanya telah mengumumkan bahwa mereka akan membebaskan biaya untuk perubahan tanggal atau change fees bersamaan dengan wabah Covid-19 yang makin merebak.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Seperti dilansir laman ttgasia.com, Rabu, (11/3), pelanggan Qatar Airways dapat mengubah jadwal perjalanan mereka tanpa biaya tambahan jika tanggal perjalanan mereka jatuh antara 6 Maret dan 30 Juni 2020. Selain itu, pelanggan juga dipastikan mendapatkan kebijakan tersebut bila dilakukan setidaknya tiga hari sebelum keberangkatan.

Di samping itu, bila tidak ingin mengambil opsi refund, maskapai yang berbasis di Doha, Qatar tersebut akan memberi pelanggan opsi tambahan untuk menukarkan tiket penerbangan dengan voucher perjalanan yang dapat digunakan dalam rentang waktu satu tahun sejak voucher tersebut dikeluarkan. Adapun nilai voucher tersebut sejauh ini dilaporkan sama dengan kelebihan nominal saat proses penukaran terjadi.

Demikian pula SIA, maskapai asal Singapura tersebut akan membebaskan biaya perubahan atau reschedule untuk penerbangan antara 6 Maret hingga 31 Maret. Menariknya, kebijakan tersebut berbeda dengan ketika Cina melakukan lockdown terhadap sejumlah wilayah. Ketika itu, maskapai pada umumnya, tak terkecuali SIA, hanya menawarkan kebijakan sejenis untuk penerbangan dari dan ke Negeri Tirai Bambu tersebut saja. Kali ini, kebijakan tersebut berlaku untuk penerbangan dari dan ke semua tujuan. Kemudian, untuk penerbangan pengganti, SIA membatasinya untuk penerbangan sebelum tanggal 31 Maret 2021.

Sedangkan Emirates Airlines, pelanggan akan dapat mengubah tanggal perjalanan mereka tanpa penalti atau change fees, jika tiket mereka dikeluarkan dalam rentang waktu 7 Maret dan 31 Maret 2020, nyaris senada dengan Qatar Airways dan SIA. Bedanya, bila kedua maskapai tersebut memberikan kelonggran waktu penerbangan pengganti sebelum genap satu tahun atau 31 Maret 2021 mendatang, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab tersebut hanya memberikan batas penerbangan pengganti hanya dalam rentang 11 bulan, dengan catatan kelas pemesanan yang sama.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Akan tetapi, khusus bagi anggota Emirates Skywards yang telah memesan dalam penerbangan antara 1 Maret dan 30 Juni akan menerima bonus 20 persen dalam Tier Miles. Tier miles sendiri adalah lawan dari Skywards Miles. Bila Skywards Miles dapat digunakan untuk membeli hadiah, Tier Miles dikumpulkan untuk membantu pelanggan menaikkan tingkat keanggotaan, seperti Blue, Silver, Gold, atau Platinum yang nantinya berujung pada penawaran menarik lainnya, mengikuti tingkat setiap keanggotaan.

Sebelum memutuskan mengubah jadwal penerbangan, penumpang disarankan untuk menghubungi maskapai terkait dengan rincian penerbangan pengganti agar bisa untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut, di samping berpotensi adanya perbedaan tarif atau pajak yang masih berlaku.

Malaysia Airlines Potong Gaji Senior Manajemen 10 Persen dan Tak Ada Tunjangan

Beberapa maskapai mulai menawarkan skema cuti sukarela tanpa gaji hingga melakukan pemotongan gaji para stafnya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi dampak dari virus corona atau Covid-19 yang menyebabkan merosotnya jumlah penerbangan.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Sedangkan Malaysia Airlines Bhd (MAS) justru memangkas gaji manajemen seniornya sebesar sepuluh persen mulai Maret 2020. CEO MAS Kapten Izham Ismail mengatakan, bahwa para manajemen senior tak akan lagi menerima tunjangan dalam gaji.

Menurut sebuah video kepada 13 ribu karyawan MAS, Izham mengatakan pemotongan adalah bagian dari langkah-langkah mengatasi penurunan tajam dalam permintaan ditengah wabah Covid-19. KabarPenumpang.com merangkum theedgemarkets.com (9/3/2020), Izham mengatakan, langkah-langkah pemotongan gaji ini akan diperkenalkan dalam beberapa hari mendatang.

“Anda telah mendengar selama beberapa minggu terakhir bagaimana maskapai penerbangan di seluruh dunia dari Emirates ke Cathay Pacific, Singapore Airlines (SIA) dan Malindo Air telah dipaksa untuk mengambil tindakan keras untuk menjaga arus kas. Tim kepemimpinan senior dan saya memiliki juga telah melakukan brainstorming langkah-langkah potensial untuk melakukan hal yang sama untuk MAG (Malaysia Airlines Group) dan kami akan memutuskan tindakan segera dan jangka panjang dalam beberapa hari,” katanya dalam video.

“Saya akan menghubungi Anda (karyawan) lebih banyak pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya tentang apa yang perlu kita lakukan. (Sejauh ini,) kami telah memperkenalkan pengurangan kapasitas yang sangat besar. Pada kuartal pertama tahun 2020 saja, kami telah menghapus 7,1 persen dari kapasitas (penerbangan) kami. Sampai saat ini, kami telah membatalkan lebih dari 1600 penerbangan dan jumlahnya meningkat,” tambah Izham.

Izham menyebutkan dalam catatannya, MAS telah memangkas kapasitas penerbangannya ke Cina sebesar 53 persen, Korea Selatan dan Jepang sebesar 23 persen. Dia mengatakan, pada tingkat dan momentum krisis ini lebih banyak penerbangan harus dibatalkan karena hanya ada sedikit permintaan pasar.

Diketahui, SIA memotong gaji manajemen senior sebesar 10-15 persen per 1 Maret kemarin dan menawarkan skema cuti sukarela tanpa gaji ke karyawan. Sedangkan Malindo Air akan memberlakukan pemotongan gaji 50 persen pada stafnya selain dua minggu cuti tak dibayar. Dalam video tersebut juga dibahas kinerja MAS pada 2019 lalu dengan adanya kenaikan pada pendapatan.

“Kami mencapai rekor memecahkan hasil RASK di 2Q hingga 4Q 2019, dengan RASK tertinggi yang pernah tercatat dalam tiga tahun,” kata Izham.

Dia mencatat bahwa selama tahun pertama penerapan rencana bisnis jangka panjang (LTBP), MAG perusahaan induk MAS mencapai pendapatan bersih setelah pajak (NIAT) keseluruhan yang lebih baik dibandingkan dengan 2018, yaitu 18 persen di depan anggaran.

“Pendapatan grup (MAG) tumbuh tujuh persen year on year pada 2019. Peningkatan kinerja NIAT tahun ke tahun adalah meskipun harga bahan bakar lebih tinggi sebesar US$3 per barel, kenaikan tiga pesen dalam dolar AS terhadap dampak ringgit dan MFRS16,” kata Izham.

Namun, ia tidak mengungkapkan NIAT dan angka pendapatan, maupun MAS yang merugi untuk 2019. Kerugian bersih MAS untuk FY18 menyempit menjadi RM791,71 juta dari RM812,11 juta di FY17, karena pendapatan meningkat sedikit 0,8 persen year on year menjadi RM8,74 miliar.

LTBP MAS akan membuat maskapai penerbangan nasional mencapai titik impas keuangan pada tahun 2022 dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya modal untuk operasinya dua tahun kemudian. Masih memposisikan MAS sebagai maskapai penerbangan premium, LTBP terdiri dari empat pilar, yang terdiri dari penentuan ukuran armada maskapai, memberikan pengalaman pelanggan premium, memiliki strategi kemitraan dan diversifikasi pendapatan maskapai.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

“(Melangkah ke depan,) yang perlu kita lakukan lebih baik adalah lebih jauh menurunkan biaya. Meskipun kita sudah kompetitif dibandingkan dengan maskapai sejenis, masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam mengurangi pemborosan. Sayangnya, Covid-19 telah menghambat momentum kami. Sudah sembilan minggu (sejak wabah virus) dan arus kas (kekurangan) telah mengalami dampak yang serius, kata Izham.

Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

Di tengah virus corona yang sedang mewabah dan jadi sorotan di Ibukota Jakarta, Kementerian Perhubungan (Kemnhub) akan menaikkan tarif ojek online (ojol). Padahal tarif ojol baru saja naik pada September 2019 kemarin. Bahkan, para aplikator seperti GoJek dan Grab sudah menerapkannya sesuai pembagian zonasi di seluruh Indonesia.

Baca juga: Resmi, Tarif Ojol Naik di Seluruh Indonesia, Ini Dia Kisarannya!

Kenaikan tarif baru ojol ini, dikatakan Direktur Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, akan berlaku per 16 Maret 2020. Dia mengatakan, tarif yang naik hanya akan terjadi pada Zona II yakni Jabodetabek dan bukan keseluruhan zonasi.

Budi Setiyadi mengatakan, kenaikan ini untuk tarif batas bawah sebesar Rp250 per kilometer (km) dan tarif batas atas Rp150 per km. Budi menjelaskan, kenaikan tarif ini sudah disepakati oleh aplikator termasuk juga dengan Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

“Dengan demikian maka tarif batas bawah ojol naik dari sebelumnya Rp2 ribu menjadi Rp2.250. Lalu untuk tarif batas atas naik dari Rp2.500 menjadi Rp2.650. Berikutnya untuk biaya jasa minimalnya setelah dihitung sedemikian rupa naik dari Rp8 ribu – Rp10 ribu menjadi Rp9 ribu – Rp10.500,” jelas Budi Setiyadi.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, GoJek dan Grab yang menanggapi hal tersebut mengaku tunduk pada kebijakan yang sudah diputuskan terkait kenaikan tarif. Bahkan GoJek dan Grab akan melakukan penyesuaian sehingga mulai pekan depan bisa langsung menerapkan tarif baru tersebut.

“Kami dari GoJek pada prinsipnya senantiasa mematuhi pedoman biaya jasa yang ditetapkan pemerintah. Kami juga berusaha selalu meningkatkan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan untuk konsumen kami,” ucap Chief of Public Policy and Goverment Relation Gojek Dyan Shinto Nugroho.

Shinto juga menegaskan bila GoJek juga sudah resmi mengandeng pihak asuransi guna menjamin keselamatan baik penumpang dan driver-nya. Ke depan, dia juga mengklaim akan terus meningkatkan kenyamanan baik dalam hal pelayanan atau melalui aplikasi.

Sedangkan Head of Public Affairs Grab, Tri Sukma Anreiano mengaku kemungkinan besar akan ada penurunan permintaan pelanggan. Dia mengatakan, untuk penyesuaian algoritma tidaklah rumit karena sudah terjadi kenaikan tarif beberapa kali.

“Sampai pekan depan itu cukup untuk penyesuaian,” kata Tri.

Karena hanya untuk Zona II yakni Jabodetabek, Tri mengatakan akan coba mengkomunikaiskan dengan mitra di wilayah. Selain itu, mereka juga menjelaskan Grab akan mengevaluasi adanya keputusan tersebut terutama mengenai respon dari masyarakat karena di prediksi akan ada dampak yang menimbulkan efek khusus bagi masyarakat pengguna Grab.

Baca juga: Tarif Baru Ojol Berlaku 1 Mei di Lima Kota, GoJek dan Grab Ikut Aturan Pemerintah

“Untuk yang sudah ditetapkan pemerintah, kami akan beradaptasi dalam skema baru, dan kami harap keputusan ini bisa meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi kami juga kelangsungan industri ojol,” ujar Tri

Beroperasi Penuh Per 29 Maret 2020, Semua Maskapai dari Adisucipto Pindah ke YIA

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo akan diresmikan pada 29 Maret 2020 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini kemudian membuat maskapai yang tadinya mendaratkan pesawat mereka di Bandara Adisucipto pindah ke bandara baru ini semua sebelum tanggal 29 Maret itu.

Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta

Seperti maskapai milik Lion Air Group yakni Lion Air dan Batik Air. Dua hari lalu, tepatnya 8 Maret 2020, keduanya memindahkan penerbangan mereka ke YIA. Corporate Communication  Strategic of Lion Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pemindahan Lion dan Batik ke YIA sekaligus menandai sebagai bandara kelima di kawasan Jogja, Solo Semarang  (Joglosemar) yang dilayani untuk penerbangan sipil komersial.

KabarPenumpang.com mengutip siaran pers, Danang mengatakan, Lion berencana mengoperasikan 46 frekuensi penerbangan setiap hari pergi pulang (PP) di YIA. Nantinya akan melayani 14 kota tujuan domestik yakni Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Mataram, Medan, Pontianak dan Tarakan.

Selain itu Garuda Indonesia dan Citilink yang sudah memindahkan layanan mereka lebih dahulu ke YIA juga akan mulai melayani seluruh penerbangannya pada 29 Maret 2020. Direktur utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan, pemindahan layanan mereka ke YIA merupakan bagian dari upaya peningkatan layanan penerbangan melalui hadirnya layanan fasilitas ke bandarudaraan bertaraf internasional di YIA.

Pada perpindahan ini, Garuda Indonesia akan mengoperasikan 81 penerbangan dari dan menuju ke YIA ke sejumlah destinasi penerbangan domestik seperti Makassar, Denpasar, Balikpapan dan Jakarta. Dia mengatakan, dioperasikannya layanan penerbangan Garuda Indonesia di YIA kedepannya di harapkan dapat semakin memperkuat berbagai potensi peningkatan layanan terhadap penumpang mulai dari aspek pre-flight hingga post-flight melalui berbagai fasilitas penunjang yang dihadirkan bandara berkapasitas 20 juta penumpang per tahun tersebut.

Sedangkan Citilink akan mengoperasikan sebanyak 24 penerbangan dari dan menuju ke YIA setiap minggunya ke sejumlah destinasi seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru, Balikpapan, Makassar, Palembang, Banjarmasin dan Denpasar.  PT Angkasa Pura I yang mengoperasikan Bandara Internasional Yogyakarta ini mengatakan semua maskapai sudah harus pindah pada 29 Maret 2020. Mereka mengatakan transportasi untuk integrasi angkutan penumpang lain menuju ke kota Yogyakarta seperti Danri, Satelqu, taksi sudah ada.

“Penumpang juga bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Wojo yang jaraknya sepuluh menit dari Bandara Internasional Yogyakarta,” kata VP Corporate Secretary AP I, Handy Heryudhitiawan.

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Diketahui, satu maskapai yang lebih memilih pindah ke Solo adalah Xpressair.  Mereka mengatakan pemindahan ke Solo dikarenakan pasar di bandara baru Yogyakarta ini berbeda dengan di Adisutjipto.

Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri

PT Angkasa Pura I hari ini menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Gudang Garam Tbk, terkait rencana kerja sama pembangunan Bandara Dhoho Kediri di Jawa Timur. Angkasa Pura I sebagai pemilik lisensi badan usaha bandar udara (BUBU) dari Kementerian Perhubungan akan bekerja sama dengan Gudang Garam melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha berdasarkan prakarsa oleh badan usaha (unsolicited).

Baca juga: Ikuti Seleksi Pengelolaan Bandara Hang Nadim, Angkasa Pura I Gandeng Incheon dan WIKA

Pembangunan Bandara di Kediri ini dipandang potensial karena dapat menjadi alternatif penerbangan setelah Bandara Juanda di Jawa Timur. Maka seiring dengan perkembangan dan potensi tersebut, bandara di Kediri ini dapat menjadi alternatif bandara yang akan dapat menjadi gerbang kedua di wilayah Jawa Timur, terutama dapat membuka area ke wilayah Tulung Agung, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Magetan dan lain lain.

Bandara Kediri direncanakan menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi gerbang alternatif menuju Jawa Timur selain Bandara Juanda Surabaya. Di tahun 2019 yang lalu, tercatat Bandara Juanda telah melayani lebih dari 16,6 juta penumpang dengan trafik pesawat mencapai 129 ribu pergerakan pesawat dan kargo mencapai 88,4 juta kilogram.

Dikutip dari siaran pers Angkasa Pura I, disebutkan Bandara Dhoho akan dibangun di Desa Grogol, Kecamatan Grogol dan Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri. Jarak Desa Grogol ke Pusat Kota Kediri sekitar 13 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sementara jarak dari Bandara Juanda Sidoarjo sekitar 120 km dengan waktu tempuh 1,5 hingga 2 jam perjalanan via jalan tol. Sedangkan jarak dari Bandara Abdurahman Saleh Malang sekitar 87 km dengan waktu tempuh perjalanan darat 3 hingga 4 jam.

Pada tahap awal, Bandara Dhoho Kediri direncanakan akan dibangun seluas 13.558 meter persegi dari luas total lahan bandara hampir 400 hektar dengan dimensi runway 2400 meter x 45 meter untuk kapasitas 1,5 Juta penumpang per tahun.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi bersama Direktur PT Gudang Garam Tbk. Istata T. Siddharta di Jakarta, Selasa (10/3) siang.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

“Kami sangat antusias dapat menuangkan suatu rencana kerja sama yang baik antara Angkasa Pura I dengan Gudang Garam terkait pengelolaan Bandara Dhoho di Kediri di Jawa Timur. Pembangunan Bandara Dhoho Kediri sangat potensial karena dapat menjadi alternatif penerbangan setelah Bandara Internasional Juanda di Jawa Timur,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi. Direktur PT Gudang Garam Tbk. Istata T. Siddharta mengatakan, “Investasi ini merupakan investasi jangka panjang dan komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap pengembangan wilayah Jawa Timur.”

*

Boeing 777-300 Swiss Airlines Tertahan 26 Jam Akibat Bird Strike

Belum lama ini, maskapai Swiss International Airlines dilaporkan mengalami bird strike atau serangan burung pada penerbangan LX-40 dari Bandara Zurich (ZRH), Swiss ke Los Angeles International Airport (LAX), Amerika Serikat. Anehnya, insiden bird strike baru diketahui setelah pesawat mendarat mulus di LAX.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Selama perjalanan, tak ada laporan apapun mengenai pilot, entah peristiwa tersebut terjadi dengan begitu cepat, sehingga membuat pilot tak sadar akan insiden bird strike yang menimpa pesawatnya atau bird strike belum membuat pesawat mengalami kerusakan hingga pesawat mendarat. Beruntung, insiden tersebut tidak sampai menyebabkan kecelakaan fatal dengan beberapa korban jiwa dan luka.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman avherald.com, Selasa, (10/3), maskapai yang menjadi bagian dari Lufthansa Grup ini kemudian harus menjalani proses cukup lama, hingga 26 jam. Pesawat dengan kode registrasi HB-JNI tersebut disinyalir mendapatkan masalah pada salah satu mesin General Electric GE90-115BL1. Akibat kejadian tersebut, penerbangan berikutnya, dengan flight number LX-41, terpaksa harus dibatalkan.

Setelah pemeriksaan intensif, pesawat 777-300ER yang baru berusia dua tahun tersebut akhirnya dapat terbang kembalil ke Zurich dengan penerbangan LX-5041.

Meskipun belum ada keterangan lebih lanjut kapan dan bagaimana proses terjadinya bird strike pada maskapai yang juga biasa disingkat SWISS tersebut, namun, besar kemungkinan, insiden itu terjadi menjelang pesawat turun landas di Bandara Los Angeles International Airport.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas ataupun turun landas. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, dalam rentang waktu 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Baca juga: Tiga Manfaat Drone di Bandara, Nomor Dua Taruhannya Nyawa

Oleh karenanya, pada tahun 2017 lalu, salah satu bandara di Kanada, Bandara Internasional Edmonton, sampai harus menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir kawanan burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara. Drone tersebut dikendalikan dari jarak jauh dan berhubungan langsung dengan otoritas bandara untuk memaksimalkan fungsinya. Teknologi ini pun didaulat menjadi pionir karena belum ada yang menggunakan The Robird, nama dari robot drone pengusir burung tersebut, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.

Dari segi desain, The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam jumlahbesar, seperti burung camar dan angsa. Bahkan, selain menakut-nakuti burung, The Robird Drone juga dapat ‘memaksa’ kawanan domba untuk menjauh dari bandara.

Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Direktur utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu terkait pengaruh diskon atau penurunan harga tiket terhadap demand penumpang. Diskon yang berikan tersebut memang baru berlaku sejak 1 Maret 2020 lalu.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

“Kita masih memonitor impact dari diskon apakah terjadi lonjakan atau tidak terjadi lonjakan, tapi penumpang yang mau berangkat, disubsidi. Intinya kita masih mau liat lah,” katanya kepada KabarPenumpang.com, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, selain insentif tersebut baru saja dimulai (dan berakhir pada 31 Mei 2020), karakter penumpang di Indonesia juga patut dijadikan tolok ukur untuk melihat sejauh mana pengaruh insentif tersebut. Pasalnya, karakter travelers (penumpang) di Indonesia lebih pada weekend travelers.

“Banyak yang nanya tiap hari, ‘gimana pak perkembangannya?’, saya bilang, tunggu dulu deh karena banyak travelers kita itu weekend travelers. Jumat, Sabtu, Minggu. Kenapa, karena mereka pulang kampung, datangi kawinan, reuni, liburan singkat, macem-macemlah, mayoritas banyak sekali dilakukan di weekend,” jelasnya.

“Jadi kalau Anda lihat kan, ramai sekali Cengkareng itu Jumat sore Sabtu pagi. Ramai lagi Minggu malam, karena orang pada pulang. Nah itu kita liat impactnya begitu,” tambahnya.

Selanjutnya, direktur yang baru menjabat pada 22 Januari 2020 lalu tersebut juga menegaskan, bahwa insentif yang diberikan bukan semata pada lonjakan penumpang. Celakanya, hal tersebut (tolok ukur lonjakan penumpang sebagai tujuan utama dan satu-satunya program pemberian insentif) justru yang terjadi pada banyak orang.

“Tapi yang ingin saya sampaikan yang orang suka salah ngerti, dengan memberikan insentif itu, negara hadir, ga seperti zaman-zaman dulu ada ini itu komentator aja yang banyak. Kali ini negara hadir. Bahwa kehadiran negara itu masyarakat itu tidak mau ambil, ya bukan urusan negara karena negara harus hadir,” tegasnya.

Oleh karenanya, ia pun mengajak semua kalangan, khususnya pihak-pihak yang masih menunggu atau menahan diri untuk bepergian apalagi pihak yang selama ini mengeluh harga tiket mahal, agar memanfaatkan momentum tersebut. Selain program insentifnya terbatas, hal itu (mengajak semua kalangan untuk memanfaatkan insentif tersebut) juga untuk memulihkan kondisi penerbangan dan pariwisata nasional.

“Saya pikir mestinya diapresiasilah. Jadi orang yang ga mau pergi, pergilah. Yang selama ini ribut di media sosial, mahal, mahal, ini dikasih murah ga pergi juga. Sebetulnya Anda mau pergi atau ga pergi sih?,” ujar Dirut yang juga jebolan ITB tersebut, dengan nada sedikit humor.

Baca juga: Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

Sebagaimana rilis yang terima redaksi KabarPenumpang.com sebelumnya, maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.

Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.

Transit di Denpasar, Malindo Air OD171 Dikonfirmasi Situs Kesehatan Australia Terdampak Corona

Nama Malindo Air (Lion Air Group) belakangan sering dikaitkan dengan imbas virus corona, seperti belum lama ini, Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, sedang mencari data seluruh penumpang pesawat Malindo Air rute Denpasar – Melbourne pada penerbangan Jumat, 28 Februari 2020, setelah seorang penumpangnya diketahui positif terjangkit virus corona. Penumpang wanita berusia 30-an tahun ini baru kembali dari Iran melalui Bali, dan pulang ke Melbourne menggunakan Malindo Air nomor penerbangan OD177 yang mendarat di Melbourne, pukul 6 pagi.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Dan belum usai kasus di atas dan masih terkait Malindo Air, situs New South Wales (NSW) Health Government – health.nsw.gov.au, merilis informasi yang sempat menjadi perhatian netizen di Indonesia, pasalnya situs kesehatan NSW menginformasikan beberapa penerbangan yang terkait tujuan Sydney dan telah terkonfirmasi adanya kasus virus corona (Covid-19).

Diantara penerbangan-penerbangan yang disebutkan dalam tabel, tertera Malindo Air dengan nomer penerbangan OD171. Tertulis, bahwa OD171 terbang dari Kuala Lumpur tujuan Sydney dengan transit di Denpasar, Bali. Masih data yang tertera, pesawat disebut berangkat pada 29 Februari dan tiba di Sydney pada 1 Maret 2020.

Situs kesehatan yang dikelola negara bagian tersebut juga menyebutkan close contack rows, artinya area bangku yang dekat dengan penderita dan kemungkinan bisa tertular, yaitu di kursi di baris 13, 14, 15, 16 dan 17. Malindo Air diketahui mulai membuka penerbangan Kuala Lumpur ke Sydney via Denpasar sejak 14 Agustus 2019. Penerbangan dalam kelas bisnis dan ekonomi ini dilayani setiap hari dengan menggunakan pesawat narrowbody Boeing 737-900, yang punya komposisi 12 kursi kelas bisnis dan 168 kursi kelas ekonomi.

Informasi yang dirilis situs NSW Health, sontak membuat perhatian netizen di Indonesia, lantaran pesawat OD171 transit di Denpasar dan belum diketahui informasi penanganan lebih lanjut atas rilis informasi ini.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Seperti halnya maskapai-maskapai lain, Malindo Air juga terimbas sepinya penumpang, bahkan maskapai yang berbasis di Malaysia ini mengeluarkan kebijakan untuk memotong gaji karyawan hingga 50 persen. Kebijakan itu juga mencakup penangguhan penerbangan, penundaan pembayaran terhadap pemasok, hingga meminta staf menjadi sukarelawan untuk cuti tidak dibayar.

Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

Imbas ditutupnya rute dari dan ke Cina, umrah, dan beberapa rute jarak jauh lainnya, Garuda Indonesia praktis hanya bisa memarkirkan armada widebody-nya. Namun, pesawat yang biasa didedikasikan untuk long range route atau ultra long range tersebut kini mulai digunakan untuk rute-rute gemuk Garuda Indonesia, seperti misalnya Jakarta-Denpasar.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

“Jadi beberapa rute yang gemuk, kita ganti dengan pesawat lebih besar. Contohnya, rute Jakarta-Denpasar. Sebelumnya pakai Boeing 737 kita ganti dengan Airbus (A-330-300 dan A330-200),” ujar Irfan kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantornya, di Garuda Indonesia Kebon Sirih, beberapa waktu lalu.

Selain bagian dari strategi atau recovery plan Garuda Indonesia dalam menghadapi kondisi penerbangan global yang memburuk, lanjut Irfan, pengoperasian armada widebody untuk rute-rute domestik (Jakarta-Denpasar) juga merupakan sebuah respon dari maskapai atas berbagai masukan dari masyarakat, dalam hal ini untuk menjajal layanan pesawat widebody.

“Ini (kebijakan pengoperasian armada widebody untuk rute domestik) juga merespon feedback dari penumpang, ‘kok saya naiknya pesawat kecil, narrowbody style’ maunya naiknya widebody. Saya bilang, narrowbody kan enak, karena dia kan kecil tiga-tiga begitu, keluarnya juga ga rebutan dengan orang. Tapi again ini masalah psikologis, jadi beberapa ada yang kita relokasi dan beberapa lainnya akan kita buka (untuk) rute baru,” tambahnya.

Redaksi KabarPenumpang.com bersama Irfan Setiaputra.

Seperti dilihat dari situs resmi Garuda Indonesia, kebijakan maskapai untuk mengoperasikan armada widebody memang benar adanya, meskipun belum seluruh rute Jakarta-Denpasar menggunakan armada widebody. Misalnya, pada penerbangan Rabu, (11/3), Garuda Indonesia memiliki total 12 keberangkatan, dimana empat di antaranya menggunakan armada widebody (Airbus A330-300) dengan konfigurasi yang beragam, mulai dari kelas ekonomi (seluruhnya dengan total 360 penumpang) serta kelas ekonomi dan bisnis. Sisanya, masih menggunakan pesawat narrowbody atau satu lorong, dalam hal ini Boeing 737-800NG.

Dari kedua pesawat tersebut, tentu saja terdapat beberapa spesifikasi yang berbeda, mulai dari kapasitas, kemampuan atau daya jelajah pesawat, kecepatan maksimal, hingga panjang dan lebar pesawat. Biasanya, perbedaan yang paling dirasakan penumpang ketika terbang menggunakan pesawat widebody dan narrowbody adalah dimensi pesawat, mengingat, pesawat Airbus A300-00 memiliki dimensi hampir dua kali lipat dibanding pesawat Boeing 737-800NG. Jadi, lebih nyaman (karena tidak merasa sempit) dalam menemani penerbangan, sekalipun untuk jarak pendek.

Sebetulnya, kebijakan Garuda Indonesia untuk menggunakan armada widebody untuk rute domestik dengan durasi kurang lebih 1 jam 30 menit bukanlah kebijakan baru. Pada tahun 2015 lalu, national flag carrier tersebut juga pernah menerapkan kebijakan serupa. Hanya saja, kala itu untuk periode yang cukup singkat, yakni 14-17 Agustus saja, bukan untuk periode yang cukup lama seperti sekarang ini.

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Kebijakan tersebut tentu saja bukan tak berisiko. Bila okupansi rendah, maka akan sangat merugikan maskapai, mengingat biaya operasional armada widebody jauh lebih besar ketimbang armada narrowbody. Begitupun sebaliknya, bila okupansi atau load factor tinggi, maka maskapai bisa memetik profit luar biasa. Skema bisnis seperti ini juga bukanlah barang baru. Pada tahun 1927, maskapai legendaris, Pan American (Pan Am), juga pernah melakukan strategi bisnis seperti itu dan berhasil mencapai profit luar biasa.

Di dunia, dalam hal ini terkait respon maskapai terhadap virus corona, kebijakan memaksimalkan armada widebody karena banyaknya armada tersebut yang grounded akibat sepinya penerbangan, juga sebetulnya sudah mulai dilakukan oleh beberapa maskapai besar, seperti United Airlines, American Airlines, Delta Airlines, dan Air Canada.

Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Pada 3 maret 2020, lokomotif uap tercepat di dunia dan pernah menjadi pemegang rekor resmi merayakan 82 tahunnya sejak dikeluarkan dari Doncaster Works. Lokomotif uap 4468 Mallard merupakan anggota ke 28 dari desain LNER A4 Class oleh Sir Nigel Gresley yang merupakan Chief Mechanical Engineer.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Lokomotif ini dikembangkan dari kelas A3-nya yang terpisah dari Flying Scotsman dan diselesaikan di Plant The Plant pada 2 maret 1938. KabarPenumpang.com melansir dari laman railadvent.co.uk (3/3/2020), 4468 Mallard setelah diselesaikan pada 82 tahun silam menampilkan satu peningkatan signifikan dari anggota sebelumnya dan memiliki cerobong asap ganda serta pipa blower pipa Kylachap ganda.

Fitur terbaru ini digunakan pada kecepatan tinggi di atas 100 mph atau 160,9 km per jam. Di mana peredam aliran udara dan uap buangan serta asap keluar melalui ketel lokomotif ditingkatkan yang memungkinkan mencapai kecepatan yang lebih tinggi.

Tipe A4s bahkan sudah mencapai kecepatan 114 mph atau 183,4 km perjam dan dengan peningkatan tersebut diharapkan memungkinkan melaju dikecepatan yang lebih tinggi. Setelah empat bulan melaju dengan menggunakan komponen-komponen baru, pada 3 Juli 1938 adalah hari di mana Mallard mencoba memecahkan rekor kecepatan dunia untuk lokomotif uap secepat 125 mph atau 201,1 km per jam.

Kemudian pada perjalanan kembali ke King’s Cross, setelah perbaikan di dekat Grantham, Mallard kecepatannya turun ke 20 mph atau 32,1 km per jam. Sebelum turun, Mallard sempat mencapai rekor lokomotif uap tertinggi yakni 126 mph atau 202,7 km per jam. Karena hal tersebut maka terjadi Stoke Bank diantara Grantham dan Peterborough.

Karena hal tersebut Mallard 4468 yang gagal kemudian dikeluarkan dari kereta di Peterborough untuk mendapat perbaikan. Namun rekor yang pernah di buat Mallard kini digeser dan dipegang oleh LNER A4 Pacific dan belum digeser lagi setelah itu.

Kini Mallard yang bergabung dengan A4s lainnya dengan layanan kereta normal setelah perbaikan, lokomotif uap ini menghabiskan sebagian besar perjalanannya selama 25 tahun untuk LNER dan kereta api Inggris yang mengangkut penumpang kereta East COas Mainline.

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Saat ini, lokomotif uap 4468 Mallard bentukannya masih dipertahankan dan di pajang dalam koleksi nasional pada penarikan tahun 1963. Mallard sendiri tampil di Museum Kereta Api Nasional di New Yprl yang pernah ada dengan sejumlah jalur utama yang disetujui pada akhir tahun 1980-an.