Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, telah mengumumkan penutupan seluruh negara dalam upaya mereka memerangi wabah virus corona. Keputusan tersebut adalah pertama kalinya sepanjang Covid-19 merebak belakangan. Tak tanggung-tanggung, bila Cina hanya mengisolasi beberapa wilayah saja, Italia justru mengisolasi satu negara, yang menjadikannya sebagai satu-satunya negara di dunia yang melakukan langkah tersebut.

Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!

Keputusan tersebut tentu tak terlalu mengherankan, mengingat, Italia kini merangsek masuk ke jajaran dua besar negara dengan kasus virus corona tertinggi, mencapai 9.172 kasus. Begitupun juga dengan jumlah kematiannya, dari semula 93 orang meningkat drastis menjadi 463 orang. Jumlah itu menjadikan Italia negara di luar China dengan kasus kematian terbanyak, yang sebelumnya disandang oleh Iran dan Korea Selatan.

Imbas dari diblokade atau di-lockdown-nya Italia, tentu saja sangat berpengaruh terhadap Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino, bandara terbesar dan tersibuk di Italia, bahkan menjadi bandara tersibuk kedelapan di Eropa, dengan 43 juta penumpang di tahun 2018 lalu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sekalipun bandara tersebut hanya berada di posisi kedelapan dalam hal traffic penumpang, namun, berkenaan dengan historical atau keterikatan sejarah di dunia penerbangan, Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino justru jadi salah satu bandara yang paling mencolok, lewat nama besar yang disematkan pada bandara yang resmi berdiri pada tahun 15 Januari 1961, yakni Leonardo da Vinci.

Dunia dirgantara memang sangat mengenal Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright bersaudara karena berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil, dekat Kitty Hawk, North Carolina. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa bandara yang berlokasi di kota Roma ini juga mempunyai andil besar di dunia penerbangan lewat rancangan Sekrup Terbang (Aerial Screw) pada tahun 1480. Prinsip kerja rancangan tersebut mirip sekali dengan cara kerja rotor utama helikopter. Oleh karenanya, tak heran bila beberapa ahli kemudian menyebutnya sebagai “nenek moyang” helikopter.

Terlepas dari nama besar Leonardo da Vinci, bandara yang dikelola oleh Aeroporti di Roma (ADR) tersebut, sejak awal kelahirannya memang sudah lekat dengan hal besar, yakni untuk menggantikan salah satu bandara tertua di dunia yang masih aktif, Rome Ciampino Airport (12 km dari pusat kota Roma), yang sudah dibuka sejak tahun 1916.

Baca juga: Inilah 5 Bandara Tertua di Dunia Yang Masih Beroperasi

Selain itu, sebelum resmi dibuka pada 1961, Bandara yang menjadi hub bagi maskapai penerbangan terbesar di Italia, Alitalia, serta maskapai berbiaya rendah asal Spanyol, Vueling tersebut, sebetulnya sudah mulai beroperasi pada tahun 20 Agustus 1960, untuk membantu meringankan lalu lintas udara yang padat di Bandara Roma Ciampino selama Olimpiade Musim Panas 1960 yang menjadi salah satu momentum besar Italia di dunia penerbangan dan olahraga.

Kini, setelah hampir 60 tahun beroperasi, bandara yang memiliki tiga terminal dan empat landasan pacu (runway) tersebut dirproyeksikan bakal melayani hingga 100 juta penumpang per tahun, dengan penambahan empat terminal dan dua landasan pacu baru, dalam sebuah konsep bernama Masterplan Fiumicino Nord. Belum jelas masterplan tersebut akan dilaksanakan di tahun berapa, hanya saja, beberapa kalangan menilai hal itu akan direalisasikan dalam waktu dekat.

Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Maskapai asal Australia, Qantas, memutuskan untuk ‘mempensiunkan dini’ atau meng-rounded delapan dari 12 armada Airbus A380-nya. Adapun dua pesawat masih akan digunakan (sambil terus melihat perkembangan lanjutan) dan dua lainnya masih harus menjalani perawatan rutin. Hal tersebut dilakukan seiring menurunnya permintaan dari pelanggan, khususnya rute-rute jarak jauh yang biasa diterbangi pesawat komersial terbesar itu.

Baca juga: Mendarat di Tengah Terjangan Badai 150 Km Per Jam, Pilot Airbus A380 Dimarahi Pihak Maskapai

Dikutip dari laman flightglobal.com, Kamis, (12/3), maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut rencananya akan mengrounded A380 selama kurang lebih enam bulan atau hingga September 2020 mendatang.

Sebagai gantinya, Qantas masih memiliki dua armada pilihan, Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A330. Belum jelas mana yang akan digunakan untuk menggantikan posisi A380. Sejalan dengan keputusan tersebut, Qantas dan anak perusahaannya, Jetstar, juga akan memangkas kapasitas rute internasional mereka sebesar 23 persen, khususnya di pasar Asia-Pasifik. Adapun rute lainnya, seperti AS dan Inggris, masing-masing akan dipangkas sebesar 19 persen dan 17 persen.

Selain itu, Qantas juga akan menunda pembukaan rute baru Brisbane-Chicago hingga September mendatang. Sebagai gantinya, maskapai tersebut akan memaksimalkan rute favoritnya, Perth-London. Tentu saja dengan pilihan menggunakan pesawat yang lebih kecil atau memaksimalkan dua armada A380 yang masih tersisa. Adapun Jetstar, maskapai tersebut akan menangguhkan penerbangan ke Bangkok, dan memangkas separuh penerbangan dari Australia ke Vietnam dan Jepang.

Menurut juru bicara perusahaan, hal itu dilakukan untuk terus menancapkan eksistensi maskapai di tengah rendahnya load factor karena permintaan yang menurun akibat berbagai hal, khususnya virus corona atau Covid-19. Langkah tersebut tentu saja berbeda dengan beberapa strategi maskapai lainnya yang banyak memutuskan untuk menutup beberapa rute, tak terkecuali rute andalannya akibat minimnya permintaan.

“Daripada keluar (menutup) rute sama sekali, Qantas akan menggunakan pesawat yang lebih kecil dan mengurangi frekuensi penerbangan untuk menjaga konektivitas secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca juga: Beragam Poin ini Menjadi Pertimbangan Qantas dalam Uji Coba “Project Sunrise”

Selain mengurangi kapasitas di rute-rute internasional, Qantas dan maskapai berbiaya rendah yang juga anak perusahaannya, Jetstar, berencana akan mengurangi kapasitas di jarangan domestiknya. Masing-masing sebesar 3 persen dan 5 persen hingga September mendatang. Dengan begitu, dari keduanya, total pesawat yang di-grounded mencapai 38 unit.

Sebagaimana yang umum diketahui, Qantas selama ini, memang mempunyai jaringan global yang cukup baik, terbukti dari keberhasilan mereka sebagai maskapai terbaik kedelapan versi Skytrax pada 2019. Maskapai tersebut dikenal kuat untuk beberapa rute long range dan medium, seperti Sydney-Los Angeles, Sydney-London (via Singapura), Sydney-Dallas, Melbourne-Los Angeles. Sydney-Sapporo, Sydney-Osaka, Sydney-Hong Kong, Melbourne-Narita, Melbourne-Auckland, serta Brisbane-Narita.

Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Merebaknya virus corona di dunia membuat sebagian besar orang panik dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berbelanja berlebihan. Mungkin membeli bahan makanan atau masker ketika panik tak masalah, tapi bagaimana bila yang terbeli adalah tisu gulung yang bisa digunakan selama 12 tahun?

Baca juga: Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

Ya, hal ini terjadi pada sebuah keluarga di Australia yang membeli persediaan tisu toilet selama 12 tahun secara tidak sengaja. KabarPenumpang.com melansir laman usatoday.co (10/3/2020), seorang wanita mengaku menjadi penimbun tisu toilet karena tidak sengaja. Ini kemudian membuatnya menjadi ratu tisu toilet yang diproklamirkannya sendiri dalam penimbunan tak sengaja itu.

Haidee Janetzki, mengatakan dirinya membeli 2304 gulungan tisu toilet dari layanan online Who Gives a Crap. Dia biasanya memesan sebanyak 48 gulungan setiap tiga bulan, tetapi karena ada peralihan ke layanan baru, semuanya menjadi kacau.

Karena layanan baru tersebut Haidee keliru memasukkan pesanan yang harusnya 48 gulungan menjadi 48 dus tisu toilet. Bila ditotal harganya lebih dari $2000. Dia dan sang suami Chris mengatakan, insiden salah pesan tersebut terjadi pada bulan Februari kemarin atau beberapa minggu sebelum negara tersebut terkena dampak virus corona.

Karena terlanjur membeli, keduanya kemudian menumpuk semua dus tisu tersebut di garasi. Mereka membuat tumpukan seperti takhta kerajaan dan mengunggahnya di akun Facebook. Australia menghadapi kekurangan tisu toilet sama dengan yang dihadapi beberapa orang di Amerika yang karena panik membeli disebabkan oleh ketakutan virus corona.

“Saya lega teman-teman dan keluarga saya tidak perlu khawatir tentang itu,” kata Haidee.

Sedangkan sang suami, Chris mengatakan, dirinya tidak percaya orang-orang membeli tisu toilet seperti itu secara massal. Setelah menjadi penimbun tisu toilet tidak sengaja, Haidee berencana menjualnya untuk penggalangan dana dan harganya pun sama seperti mereka membelinya.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Dia mengatakan, hasilnya akan akan diberikan ke sekolah putri mereka. Diketahui, Who Gap Crap mengembalikan biaya pengiriman untuk kotak yang berjumlah lebih dari $250 dan perusahaan saat ini sudah menjual habis dari penawaran tisu toilet 48 paket itu.

Jelang Setahun Grounded, Boeing Habiskan Total Rp268 Triliun Gegara 737 MAX

Jelang satu tahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret mendatang dan sehari setelah ‘anniversary’ insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, 10 Maret 2019 lalu, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Padahal, sebagaimana dilaporkan gwinnettdailypost.com, Selasa, (10/3), Januari lalu, di depan para investor, Boeing memperkirakan estimasi biaya yang akan dikeluarkan untuk pemulihan 737 MAX hanya sekitar Rp209 triliun. Dana tersebut setidaknya digunakan untuk dua hal. Pertama, membayar kompensasi kepada maskapai pelanggan sebesar Rp119 triliun. Kedua, untuk memproduksi kembali Boeing 737 MAX sebesar Rp90 triliun.

Seiring berjalannya waktu, Boeing kemudian memperkirakan butuh sekitar Rp57 triliun untuk memproduksi kembali 737 MAX begitu pesawat diizinkan kembali terbang. Di samping itu, Boeing juga telah menganggarkan dana sebesar Rp1,4 triliun untuk kompensasi bagi keluarga korban, meliputi Ethiopian Airline dan Lion Air, yang dari keduanya sampai merenggut 346 orang korban tewas. Dengan begitu total estimasi dana membengkak jauh di luar dugaan menjadi Rp268 triliun.

Bahkan, seorang analis Bank of America Merrill Lynch (BAML), Ronald Epstein, memperkirakan bahwa Rp268 triliun tersebut bisa saja akan terus melambung karena Boeing 737 MAX yang tak kunjung bisa kembali terbang setelah hampir setahun lamanya. Parahnya, analis yang juga mantan ilmuan riset terapan Boeing itu memprediksi, angka tersebut belum termasuk kompensasi yang mungkin bisa saja juga melambung.

“Perkiraan kami adalah sekitar $23 miliar (Rp330 triliun), tidak termasuk tanggung jawab atas kematian dan jika diperpanjang lebih lama, jumlah itu akan naik,” jelasnya. Atas prediksi tersebut dan juga prediksi dari para analis lainnya, selain dari analis internal, tak heran bila Boeing sangat berharap 737 MAX-nya dapat kembali terbang pertengahan tahun ini.

Pasalnya, bila tidak juga terbang sesegera mungkin, pesanan yang sudah dilakukan oleh maskapai global akan bisa dibatalkan secara sepihak atau ditunda tanpa adanya penalti apapun. Sebab, pada umumnya, tenggat waktu pengiriman pesawat mencapai waktu setahun.

Hal itu (pembatalan atau penundaan pembelian pesawat oleh maskapai) sangat dimungkinkan mengingat saat ini iklim penerbangan global tengah kacau akibat virus corona dan memaksa maskapai melakukan efisiensi besar-besar. Jangankan untuk menambah armada, pesawat yang ada saja banyak yang digrounded akibat sepinya penerbangan.

Lagi pula, bila pun Boeing 737 MAX dapat segera terbang, pesawat tersebut hampir telah kehilangan daya magisnya, yakni menyangkut efisiensi bahan bakar dan dimensi yang ditawarkan (tak terlalu kecil untuk terbang jarak jauh atau menengah namun juga tak terlalu besar untuk terbang jarak pendek atau menengah).

Baca juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Berkenaan dengan efisiensi, saat ini, harga minyak dunia tengah terus menerus turun. Akibatnya, maskapai tak terlalu mementingkan efisiensi. Kondisi yang mungkin akan berbeda dengan tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya, dimana harga minyak dunia tengah melonjak tajam. Kemudian, terkait dengan pangsa pasar medium long range atau pesawat yang bisa melakukan perjalanan lebih jauh dan menampung lebih banyak penumpang daripada narrowbody tetapi lebih sedikit daripada pesawat widebody, ceruk pasar tersebut sudah diambil dengan baik oleh A321neo XLR.

“Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika bukan karena krisis MAX? Apa artinya itu dalam persaingan mereka dengan Airbus. A321neo XLR telah bekerja dengan sangat baik. Boeing belum mampu melakukan apa pun,” kata Ronald Epstein.

Tiga Pekerja Boeing di Washington Positif Terinfeksi Covid-19

Tiga orang karyawan Boeing di pabrik jet Everett, Washington rumah bagi produksi widebod-ynya positif terinveksi virus corona atau Covid-19. Karyawan tersebut saat ini berada di karantina dan tengah menerima perawatan. Adanya karyawan yang terinfeksi kemudian membuat perusahaan menjaga keamanan pekerja lainnya.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

“Kami telah memberitahu karyawan lain dan mengikuti saran pejabat kesehatan masyarakat. Sebagai tindakan pecegahan, kami telah meminta semua rekan kerja karyawan yang terinfeksi dan berada dalam kontak dekat untuk tetap tinggal di rumah agar dikarantina dan mengawasi diri sendiri,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman seattletimes.com (9/3/2020).

Selain itu Boeing juga melakukan pembersihan menyeluruh terhadap area kerja dan ruang umum. Untungnya Boeing mengaku pekerjaan produksi maupun rantai pasokan mereka belum terpengaruh meski ada yang terinfeksi virus corona.

“Kami mengambil tindakan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawan kami dan keluarga mereka. Kami telah meminta karyawan di wilayah Puget Sound yang dapat melakukan pekerjaan di luar kantor untuk melakukan telekomunikasi dari rumah. Kami terus berkomunikasi secara terbuka dan sering dengan karyawan kami dan mendorong semua orang untuk berhati-hati dan mengambil semua tindakan kesehatan dan keselamatan yang tepat,” tulis Boeing.

Boeing mengkonfirmasi karyawannya yang terinfeksi virus corona saat mengerjakan produksi 777 dan sakit dengan gejala mirip flu. Pada saat itu, Boeing bertanya pada sepuluh rekan karyawan yang sakit tersebut selama shift dua dan menyuruh mereka untuk pulang.

Setelah pekan lalu ada pengumuman dari Boeing yang menyatakan satu karyawannya terinfeksi virus corona, pada (11/3/2020) kemarin, dua karyawan Boeing lainnya yang bekerja di Everett juga positif terinveksi virus corona.

Baca juga: Transit di Denpasar, Malindo Air OD171 Dikonfirmasi Situs Kesehatan Australia Terdampak Corona

Hal ini kemudian menambah jumlah pekerja yang terinfeksi menjadi tiga orang setelah para pekerja lainnya juga diuji. Seattle sendiri merupakan satu dari beberapa wilayah Amerika Serikat yang menangani virus corona. Washington yang merupakan hotspot infeksi virus ini sudah melaporkan 267 kasus yang dikonfirmasi termasuk 54 kasus di Snohomush County yang mencakup Everett.

Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan rute KRL-2 dengan relasi Bogor – Depok – Jakarta Kota menjadi jalur paling berisiko terkontaminasi virus corona. Dia mengatakan hal tersebut dalam presentasi tertutup penanganan corona dengan SKPD di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (11/3/2020) pagi. Dia mengatakan presentasi itu bertujuan membangun kewaspadaan. Hal ini bisa saja karena ramainya suasana kereta sehingga adanya kontak dekat antar penumpang.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang mengoperasikan kereta rel listrik (KRL) ini mengatakan, sebagai operator transportasi publik, berupaya mengerahkan sumber daya agar KRL tetap dapat mengantispasi peredaran virus corona dan tetap memberikan layanan bagi pengguna. Mereka menyebutkan jumlah pengguna lintas Bogor/Depok menuju Jakarta Kota/Angke/Jatinegara satu tahunnya sebesar 199.443.439 pengguna.

VP Corcomm PT KCI Anne Purba mengatakan dalam siaran pers, pengguna KRL per harinya mencapai 546.420 pengguna atau 69 persen dari keseluruhan pengguna KRL. Dia mengatakan, mulai 12 Maret 2020, akan ada tim kesehatan dengan jajaran pegawai KCI yang akan melakukan roadshow sosialisasi lanjutan ke sejumlah stasiun untuk melakukan upaya edukasi, pembagian masker dan menjelaskan langkah pencegahan penyebaran virus.

“Kita menghimbau agar penumpang tidak meludah sembarang di stasiun maupun kereta. Menggunakan masker ketika sedang sakit batuk, flu atau dalam masa penyembuhan,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Anne menyebutkan agar penumpang menjaga kebersihan antara lain mencuci tangan dengan benar. Memeriksakan diri ke pos kesehatan bila kurang sehat.

Bahkan pekan lalu, PT KCI bersama dengan PT KAI Daop 1 Jakarta mengadakan kegiatan pengobatan dan cek kesehatan gratis untuk penumpang dengan menghadirkan RailClinic di Stasiun Depok dan Bogor. Dikutip dari detik.com, juru bicara pemerintah terkait virus corona (Covid-19), Achmad Yurianto mengatakan, adanya pernyataan tersebut bukan untuk menakut-nakuti tetapi penularan memang menjadi risiko dalam kondisi yang berdesak-desakan.

“Tadi kan kata-kata Anies itu terkontaminasi kereta ini kan penuh orang, jadi rawan terjadi penularan karena penyakit ini yang bawa orang bukan kereta. Kenapa? karena padat, berdesak-desakan, sehingga kontak dekat sangat mungkin terjadi. Jadi bukan keretanya yang terkontaminasi tetapi dengan risiko berdesakan rawan terjadi penularan. Ya kalau (supaya) hati-hati kan bukan nakut-nakutin,” ujarnya.

Dia menghimbau pihak KCI mengatur perjalanan kereta agar tidak terjadi desak-desakan penumpang. Yuri mengingatkan agar tetap memakai masker dan mencuci tangan setelah turun kereta.

Baca juga: Pekerja dan Bahan Didatangkan dari Cina, Proyek Jembatan Kereta di Bangladesh Terhambat

“Artinya bisa nggak sih diatur perjalanan biar nggak terlalu padat keretanya, tidak perlu terlalu berdesak-desakan. Kemudian bisa saja pada saat seperti itu paling aman pakai masker, kemudian cuci tangan setelah turun kereta, sebenarnya sederhana kan,” katanya.

Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Otoritas penerbangan Kuwait dilaporkan telah memutuskan untuk menutup Bandara Internasional Kuwait (KWI) pada Jumat, 13 Maret 2020. Belum jelas sampai kapan negara Teluk Arab tersebut men-shutdown bandara utamanya tersebut.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Menurut kantor berita thepointsguy.com, Kamis, (12/3), dengan ditutupnya bandara tersebut, seluruh penerbangan dari dan ke bandara akan ditangguhkan kecuali penerbangan yang memuat warga Kuwait yang hendak pulang. Di samping itu, bandara yang direnovasi besar-besaran pada 1999-2001 tersebut juga tetap akan melayani penerbangan kargo. Selebihnya, otoritas setempat tidak akan mengizinkan kecuali dengan beberapa negosiasi.

Menariknya, keputusan tersebut diambil hanya karena 72 kasus virus corona saja. Bahkan, dari 72 kasus tersebut, belum dilaporkan adanya kematian pertama. Tentu saja hal keputusan tersebut adalah langkah berani, mengingat, negara-negara dengan kasus Covid-19 tertinggi saja, seperti Korea Selatan, Iran, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Spanyol, sampai Cina sekalipun belum sampai menutup bandara utamanya, kecuali Italia yang baru saja menutup negaranya, termasuk bandara utamanya, beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, bisa dikatakan Kuwait sebagai negara pertama yang menutup bandara internasional utamanya, bukan menutup bandara utamanya karena negaranya juga ditutup, layaknya Italia.

Badara Internasional Kuwait (KWI) sendiri adalah bandara terbesar dan tersibuk serta satu-satunya bandara komersial di Kuwait (mengingat teritorialnya yang tak lebih besar dari Provinsi Jawa Barat) dengan 335 penerbangan per hari. Menurut Kuwait Times, pada tahun 2019 lalu, bandara tersebut melayani sekitar 15,5 juta penumpang, meningkat empat persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Walaupun kecil, sebagai salah satu negara kaya di Timur Tengah, Bandara Kuwait rupanya menjadi hub bagi banyak maskapai, seperti Jazeera Airways, Kuwait Airways, Wataniya Airways, dan maskapai asal Singapura United Aviation. Di samping itu, bandara tersebut juga memiliki banyak penerbangan langsung dari sekitar 60 bandara di dunia.

Baca juga: Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona

Selain menutup bandara, sama seperti beberapa negara lainnya yang disebutkan sebelumnya, negara kaya minyak tersebut juga memberlakukan beberapa langkah lanjutan, seperti menutup restoran, kafe, pusat perbelanjaan, hingga kantor pemerintahan. Khusus untuk kantor pemerintahan, isolasi tersebut hanya berlaku mulai 12-26 Maret 2020 dan baru kembali normal pada 29 Maret mendatang. Adapun larangan untuk ke pusat-pusat keramaian (restoran, kafe, dan pusat perbelanjaan) belum ada batasan pemberlakuan yang jelas.

Beruntung, pembatasan tersebut, sejauh ini, tak sampai menimbulkan gejolak di masyarakat. Pasalnya, di beberapa negara lainnya, seperti di Italia dan Spanyol, aturan sejenis membuat masyarakat panik dan justru berlomba-lomba untuk keluar negeri. Di Italia, larangan untuk mendatangi pusat-pusat keramaian bahkan aturan untuk menjaga jarak setidaknya satu meter satu dengan yang lainnya telah menimbulkan kerusuhan di beberapa wilayah.

Tersebar Foto Kabin ‘Kosong’ Singapore Airlines dari Korea Selatan ke Singapura

Pesawat Singapore Airlines (SIA) yang berangkat dari Korea Selatan dengan tujuan Singapura baru-baru ini tampak kosong. Hal ini dikarenakan penumpang maskapai Negeri Singa tersebut tidak mengizinkan penumpang yang bukan warga Singapura untuk naik ke pesawat mereka.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Kosongnya kabin pesawat milik Singapura tersebut diunggah oleh seorang penumpang wanita asal Singapura di akun media sosialnya. Wanita itu mengatakan ini adalah penerbangan terbaik dalam hidupnya.

Dia memfoto seluruh kabin kosong bahkan dirinya bisa berselonjor di kursi-kursi sebelahnya. Wanita tersebut juga memperlihatkan hanya ada beberapa penumpang yang berbaring di kursi mereka.

Bahkan dirinya mengaku lupa berapa kali dilayani oleh awak kabin yang memberikan makanan ataupun minuman ringan selama penerbangannya tersebut. Dia mengatakan, tidak bisa menikmati penerbangan jarak jauh, tapi ini adalah penerbangan terbaik selama hidupnya.

Sayangnya akun media sosial wanita tersebut dikunci dan hanya yang berteman bisa melihatnya. Dilansir KabaraPenumpang.com dari laman mothership.sg (10/3/2020), atas viralnya foto-foto tersebut, warganet mulai menanggapi hal itu karena penasaran.

Kemudian wanita penyebar foto tersebut mengatakan, bahwa orang non Singapura dilarang naik kepesawat. Pelarangan tersebut membuat keributan besar terutama bagi pelancong yang seharusnya transit di Singapura.

Diketahui, pembatasan ketat yang dilakukan Singapore Airlines ini karena wabah virus corona atau Covid-19 yang tengah merebak di seluruh dunia. Pemerintah Singapura sendiri mengumumkan sejak 4 maret 2020 kemarin hingga batas waktu yang belum ditentukan, semua pengunjung yang memiliki sejarah perjalanan ke Korea Selatan, Iran dan Italia Utara dalam 14 hari terakhir tidak diizinkan masuk ke Singapura.

Pembatasan dilakukan karena ketiga negara tersebut memiliki jumlah masyarakat terinveksi Covid-19 yang makin banyak. Sehingga pembatasan ini menjadi alasan mengapa hanya orang Singapura yang diizinkan menggunakan penerbangan Singapore Airlines tertentu.

Baca juga: Terdampak Badai Corona, Inilah Alasan Singapore Airlines Mengurangi Frekuensi Penerbangan ke Sejumlah Negara

Adapun saat ini warga Singapura yang merupakan penduduk tetap dan pemegang paspor jangka panjang akan diberikan Stay-Home-Notice (SHN). Diketahui, wanita tersebut tidak langsung dipulangkan pada hari yang sama. Wanita itu kemudian mengungkapkan, dia harus mengisolasi dirinya sendiri di rumah selama 14 hari setelah tiba di Singapura.

Stasiun Pulau Air Mulai Beroperasi, Banyak Warga Antusias dan Berselfie Ria

Stasiun Pulau Air atau Pulau Aie yang berada di salah satu sudut kota tua Padang kini menjadi tempat berswafoto atau selfie. Bukan karena bangunan lamanya yang menjadi cagar budaya tetapi bangunan baru setelah reaktivasi.

Baca juga: Kisah Stasiun Pulau Air, Saksi Bisu Kebangkitan Perkeretaapian di Sumatera Barat

Ya, stasiun yang satu ini bisa dikatakan mati suri selama 37 tahun atau sejak 1983 silam. Mati surinya stasiun dan jalur kereta di Pulau Aie ini karena kalah dengan kendaraan bermotor serta diperburuk prasarana gerbong kereta yang rusak dimakan usia.

Peron Stasiun Pulau Air atau Pulau Aie (detik.com)

Selama hampir 37 tahun, meski jalur kereta masih terlihat, di sekitaran bekas Stasiun Pulau Aie sendiri sudah banyak bangunan rumah penduduk. Bahkan bangunan stasiun pun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

Meski bangunannya terlihat kokoh, tetapi banyak retakan terlihat di dinding dan sambungan tembok. Dulunya, sebelum berhenti beroperasi, kereta dari Stasiun Pulau Aie berangkat menuju ke Stasiun Padang dan terhubung ke Pelabuhan Muaro.

Saat ini bangunan dan jalur kereta di Stasiun Pulau Aie sudah di reaktivasi dan dihidupkan kembali. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stasiun Pulau Aie sendiri mulai direaktivasi oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada Juli 2019 lalu.

Rencananya dari Stasiun Pulau Air reaktivasi akan berlanjut ke Stasiun Muaro. Adanya reaktivasi ini pemerintah berharap pariwisata dan kegiatan dagang di wilayah sekitar diharapkan bisa terus meningkat.

Tak hanya itu, pelancong yang menggunakan pesawat bisa dimudahkan dengan kereta bandara yang tersambung hingga Stasiun Pulau Aie. Setelah mulai beroperasi lagi, tarif kereta pun terbilang cukup murah yakni Rp10 ribu dari Bandara Minangkabau hingga ke Stasiun Pulau Aie.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Sedangkan dari Stasiun Padang ke Stasiun Pulau Aie Rp5 ribu sekali berangkat. Aktifnya kembali Stasiun Pulau Aie juga membuat warga antusias baik untuk pariwisata ataupun perekonomian mereka. Untuk diektahui, letak Stasiun Pulau Aie berada di Kota Lama Padang tepatnya di jalan Pulau Air Kelurahan Palinggam, Padang Selatan.

Stasiun ini merupakan stasiun ujung sebelum jalur menuju pelabuhan Muaro dari percabangan stasiun Padang. Stasiun yang menghubungkan kota Padang hingga Sawahlunto ini dibangun secara bertahap pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dibangun tahun 1890-an, merupakan stasiun dan jalur kereta api pertama yang dibangun Belanda di Padang sekaligus di Ranah Minang.

Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menyebut inisiatif untuk melakukan perbicangan dengan maskapai lain dipandang belum tepat. Sebab, saat ini, masing-masing maskapai tengah mengalami persoalan masing-masing, sekalipun ia memang mengakui kekompakan maskapai-maskapai dalam negeri ketika menghadapi sebuah problem.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Sepanjang pengetahuan saya sih kita memang kompak, banyak asosiasi, banyak berinteraksi, kerjasama antar maskapai. Tapi ini kayanya sebuah situasi yang semua orang belum pernah mengalami. Jadi hari ini kalau saya ada rencana bertemu dengan beberapa CEO maskapai menurut saya sih hari ini mungkin ga terlalu tepat juga kita bicarakan karena mereka juga mempunyai masalahnya masing-masing yang berat sekali gitu kan,” katanya saat ditemui KabarPenumpang.com di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, beberapa waktu lalu.

“Jadi kalau kita duduk terus mencoba mencari solusi dari masalah masing-masing, jangan-jangan solusi tuh malah memakan salah satu kan, bukan malah membantu. Kita ada beberapa ide, Cuma saya pikir timing-nya belum tepatlah untuk kita bicara,” tambahnya.

Dirut berpostur tinggi besar tersebut pun kemudian mengambil sebuah perumpamaan penerbangan ke Cina yang dalam hematnya hampir semua maskapai di Asia tidak dapat terbang ke sana. Menurunya, kondisi tersebut tentu saja membuat masing-masing maskapai mengalami penurunan pada utilisasi atau isi pesawat. Selain itu, ia juga mengambil perumpamaan terhadap dampak virus corona yang dalam amatannya telah membuat penerbangan terpukul keras karena sentimen yang meningkat hingga menyebabkan jumlah penumpang terus menurun.

“Kaya yang terbang misalnya dalam satu hari ke satu tempat, misalnya Jakarta-Singapura. Satu hari misalnya ada 20 ribu orang yang terbang. Sekarang tinggal 2 ribu, misalnya, atau tinggal 5 ribu. Sementara kan jumlah pesawat yang disiapkan oleh semua maskapai yang melayani Jakarta-Singapura itu kan cukup untuk 20 ribu. Tapi berlebih karena 5 ribu kan. Nah ketika masing-masing mencoba mengambil ceruk pasar 5 ribu ini, apakah penurunannya eksponensial?” paparnya.

“Misalnya saya 20 persen, kalau begitu saya dapat 1 ribu? Kan belum tentu begitu dan karena saya 20 persen dari 20 ribu itu 4 ribu, wah ini kesempatan ini jadi ngambil 5 ribu. Atau yang tadinya 50 persen ya mereka ingin mengambil yang 5 ribu tadi. Jadi semuanya mau ngambil yang 5 ribu sisa ini kan? Untuk dirinya sendiri,” jelasnya.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Jika skema tersebut benar adanya, hal itu pun membuatnya khawatir bahwa maskapai akan perang tarif atau banting-bantingan harga. Jika hal itu terjadi, ia memandang penerbangan justru akan merugikan maskapai itu sendiri.

“Nah ini (disaat penerbangan sepi) yang akan terjadi adalah perang harga. Saya Cuma mau mengingatkan aja pada setiap orang, perang harga tidak akan membantu siapapun dan perang harga juga akan penerbangan itu sendiri pun merugi,” pungkasnya.