Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

PT Kereta Api Indonesia (KAI) turut mengambil langkah preventif dengan memberlakukan larangan naik kereta api (KA) bagi calon penumpang yang terindetifikasi suspect virus Covid-19, saat melakukan proses boarding atau pengecekan tiket dan kartu identitas.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Pasalnya, saat ini KAI sudah menempatkan petugas khusus pengecekan suhu badan calon penumpang yang terdapat di depan meja cek boarding pass. Jika pada saat pengecekan suhu badan ditemukan panas suhu badan calon penumpang mencapai 38 derajat celcius ke atas, dan atas rekomendasi petugas kesehatan, maka calon penumpang dilarang untuk melakukan perjalanan KA. Dan, KAI akan mengembalikan penuh bea pemesanan tiket.

Tidak hanya itu, bagi penumpang suspect corona yang membawa pendamping, maka tiket dapat dikembalikan penuh juga, untuk maksimal empat orang dalam satu kode booking. Jika berbeda kode booking, maka bea tiket yang dikembalikan maksimal hanya untuk 2 orang sebagai pendamping.

Khusus di Daop 1 Jakarta, pemeriksaan suhu badan pada calon penumpang KA Jarak Jauh akan dilakukan di area pintu cek boarding pass Stasiun Gambir dan Pasar Senen. Tidak hanya terdapat petugas pengecek suhu badan saja, namun juga masih disediakan hand sanitizer di area meja boarding pass.

Kewaspadaan terhadap penyebaran virus Corona terus dintingkatkan dengan melakukan pemeriksaan suhu badan calon penumpang. PT KAI Daop 1 Jakarta sudah menurunkan petugas khusus pengecekan suhu badan calon penumpang di area pemeriksaan boarding pass. Tim medis yang bertugas di pos kesehatan stasiun juga telah siap membantu proses rujukan ke sejumlah rumah sakit jika dibutuhkan.

Tindakan pengecekan suhu badan ini merupakan langkah kongkrit KAI Daop 1 mencegah penyebaran virus Corona, terutama karena kereta api merupakan transportasi publik andalan masyarakat. Tidak hanya melakukan pencegahan lewat pengguna saja, namun kebersihan terhadap sarana dan fasilitas di stasiun pun selalu di jaga.

Seperti yang sudah dilakukan di dua stasiun keberangkatan KA Jarak Jauh wilayah Daop 1 Jakarta, yaitu Stasiun Gambir dan Pasarsenen telah dilakukan penyemprotan disinfektan menggunakan Biosanitizer yang disemprotkan ke kursi, pagar dan perangkay fasilitas penumpang serta sudut ruangan stasiun lainnya.

Dalam hal kebersihan sarana kereta, KAI melakukan pencucian interior dan eksterior kereta secara rutin setiap sebelum perjalanan dengan menggunakan bahan kimia untuk sterilisasi. KAI juga menyiagakan petugas kebersihan baik di stasiun maupun selama perjalanan. Bantal yang disediakan di kereta pun selalu dalam kondisi baru tercuci bersih setiap pergantian penumpang.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

Sebagai upaya pencegahan yang harus dilakukan bersama, PT KAI Daop 1 Jakarta juga melakukan edukasi di stasiun dan sarana kereta melalui berbagai cara dan media informasi terkait bahaya virus corona dan cara pencegahan baik untuk KA Jarak Jauh dan KRL.

Stasiun Kereta New Delhi dan Mumbai Bakal Berstandar Kelas Dunia

India merupakan salah satu negara yang memiliki jaringan kereta api terbesar di dunia. Tak hanya itu karena destinasi yang menarik, India kemudian berbenah diri dengan memantaskan moda transportasinya yang banyak di gunakan yakni kereta.

Baca juga: Stasiun di India Punya Ruang Tunggu Megah yang Mampu Tampung 500 Penumpang

Hal tersebut terlihat di mana India tengah membangun beberapa stasiun di seluruh jaringan. Salah satunya adalah menjadikan Stasiun New Delhi dan Mumbai dengan standar kelas dunia.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman financialexpress.com (9/3/2020), Menteri Perkeretaapian India, Piyush Goyal mengatakan kedua stasiun tersebut dibuat dengan standar kelas dunia untuk mengubah pengalaman penumpang. Adanya pembangunan ini, dewan kereta api India mengundang tawaran atau dilelang pada investor pada bulan April 2020 untuk membangun Stasiun New Delhi dan Mumbai.

VLK Yadav, ketua dewan kereta api mengatakan bahwa sistem modernisasi akan memberikan pendekatan terpadu untuk meningkatkan kapasitas ekosistem kereta api India melalui konektivitas jalur kereta api multi pelacakan di seluruh negara. Stasiun New Delhi direncanakan akan diubah dengan perkiraan biaya sekitar Rs6500 crore.

Nantinya stasiun-stasiun tersebut dalam pembangunannya juga akan dibuat jalan akses yang mirip dengan bandara. Fase pertama perbaikan meliputi pengembangan 110 hektar tanah. Di stasiun tersebut juga akan dibangun fasilitas lain. Bahkan concourse baru akan ditinggikan, perbaikan 16 platform dan pembangunan kembali bangunan stasiun yang sudah ada.

“Pembangunan kembali stasiun, targetnya adalah membangun tanpa menginvestasikan uang sumber dari pemerintah. Stasiun yang sedang dikembangkan dengan standar kelas dunia beberapa tawaran sudah diselesaikan dan tawaran atau lelang untuk pembangunan Stasiun New Delhi dan Mumbai pada April 2020,” kata Yadav.

Dia menambahkan, untuk mencapai target yang ditetapkan , prioritas proyek adalah elemen kuncinya sehingga sudah bisa mulai beroperasi dengan standar dunia pada 2022-2023. Faggan Zingh Kultase, menteri negara di kementerian baja mengatakan, bahwa jaringan kereta api India memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di seluruh negeri.

Dia menambahkan, kereta api India adalah jaringan terbesar kedua di dunia dan sektor ini menuju pengembangan dan pertumbuhan lebih lanjut. Sebagai bagian dari rencana kementerian perkeretaapian untuk membangun kembali stasiun dengan standar kelas dunia seperti bandara, akan ada kendaraan khusus (SPV) yang sudah dipercayakan dengan tugas ini.

Baca juga: Laksana Bandara Internasional, Ternyata ini Sebuah Stasiun di India

IRSDC atau perusahaan pengembangan stasiun kereta api India adalah SPV yang bertanggung jawab untuk membangun kembali stasiun dalam hal ini dan beberapa diantaranya dalam perubahan infrastrukur besar. Diketahui, beberapa stasiun dijadwalkan akan dibangun kembali dengan partisipasi sektor swasta. Stasiun Habubganj dan Gandhinagar akan menjadi stasiu kereta api India pertama yang memiliki fasilitas seperti di bandara untuk kenyamanan penumpang.

Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Amerika Serikat (AS), JetBlue, mengkonfirmasi bahwa salah satu penumpangnya positif terpapar virus corona saat pesawat berada di udara. Hal itu diketahui usai yang bersangkutan mengatakan langsung kepada awak kabin yang bertugas. Dengan cepat, captain pilot segera berkomunikasi dengan petugas di darat untuk penanganan lebih lanjut.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Dilansir dari laman nytimes.com, Jumat, (13/3), kasus tersebut bermula saat pesawat yang mengangkut 114, termasuk kru kabin dan kru kokpit, berangkat dari Bandara J.F.K, New York ke Bandara West Palm Beach, Florida pada Rabu malam waktu setempat. Pihak maskapai melaporkan, penumpang yang tak diungkap identitasnya tersebut sebelumnya sudah melalui beberapa pengecekan. Hasilnya, penumpang tersebut tidak ada tanda-tanda terjangkit Covid-19.

“JetBlue tidak memiliki indikasi sebelumnya bahwa pelanggan ini memiliki atau mungkin terdapat tanda-tanda (terjangkit) virus corona,” kata maskapai , dalam sebuah pernyataan.

Menjelang tiba di Florida, penumpang yang bersangkutan kemudian melapor ke petugas bahwa dirinya dinyatakan positif mengidap virus corona. Hal itu diketahui setelah penumpang tersebut mendapat pesan singkat dari seseorang mengenani hasil tes virus corona yang dilakukan beberapa hari sebelum dirinya terbang bersama JetBlue. Celakanya, penumpang tersebut tidak memberitahukan perihal pengecekan tersebut kepada pihak maskapai sebelum pesawat lepas landas atau saat boarding check.

Alhasil, petugas di udara langsung mengontak petugas di darat untuk dilakukan penanganan dengan tepat. Setelah pesawat mendarat sempurna, seorang penumpang, Scott Rodman, mengatakan kepada CNBC bahwa pesawat sempat tertahan sekitar dua jam di apron bandara. Saat itu, dirinya dan juga penumpang lain tidak diberitahu dengan jelas oleh pihak maskapai terkait terpaparnya seorang penumpang di dalam penerbangan tersebut.

Setelah tim medis datang, ia pun diberitahu bahwa seorang penumpang yang duduk di dekat dirinya positif mengidap Covid-19. “Dari apa yang kami diberitahu, dia telah diuji untuk virus dua hari yang lalu dan mendapat pesan teks saat dia berada di pesawat,” katanya, yang terbang ke Florida untuk mengunjungi orang tuanya.

Usai diberitahu, ia pun sempat mengungkapkan kekecewaannya serta menyayangkan bahwa penumpang tersebut masih memberanikan dirinya untuk bepergian saat masih dalam posisi menunggu hasil tes keluar. “Agak liar. Jika Anda telah diuji dan Anda berpikir mungkin ada sesuatu yang salah dan tetap naik pesawat terbang itu gila,” tambahnya.

Menariknya, sekalipun seorang penumpang telah dinyatakan positif, penumpang lain, termasuk Scott Rodman, tidak sampai dikarantina. Penumpang yang berjarak tiga atau empat bangku ke depan, belakang, samping kanan dan kiri, serta penumpang lainnya di dalam penerbangan tersebut hanya sebatas dipesan untuk segera melapor jika ada gejala-gejala aneh sesampainya di tempat tujuan masing-masing. Adapun penumpang yang dinyatakan positif tersebut langsung dikarantina dan mendapat penanganan serius dari otoritas setempat.

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Pasca penumpang virus corona dan penumpang lainnya berlalu, otoritas Palm Beach International Airport pun langsung menutup bandara. Belum jelas berapa lama durasi penutupan tersebut. Hal itu dilakukan untuk melakukan sterilisasi dengan menyemprotkan disinfektan ke seluruh area, khususnya area-area yang dilalui para penumpang. Namun, saat ini, bandara tersebut dilaporkan sudah dibuka kembali dan berjalan seperti biasa.

Begitu juga dengan bandara keberangkatan, Bandara J.F.K, New York. Petugas di sana juga disibukkan untuk melakukan penyemprotan disinfektan usai kabar adanya penumpang terpapar virus corona yang melewati bandara tersebut tersiar. Otoritas bandara J.F.K menyisir seluruh area yang dilalui penumpang yang positif tersebut dan juga penumpang lainnya berkat bantuan rekaman CCTV.

Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan KRL (Kereta Rel Listrik) relasi tertentu jadi tempat paling berisiko terkontaminasi virus corona. Di saat yang bersamaan, penumpang setia KRL tak punya pilihan moda transportasi lain yang memudahkannya sampai ke tempat tujuan. Lantas, penumpang harus bagaimana?

Baca juga: Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI

Dilansir asahi.com, Jumat, (13/3), penumpang yang tak punya pilihan lain kecuali tetap menggunakan KRL mungkin dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya, menurut Masashi Yamakawa, profesor di Kyoto Institute of Technology, meskipun kereta penuh sesak, penumpang tetap bisa terhindar dari virus corona dengan menghindari tempat-tempat tertentu.

Dalam simulasi penelitian tentang penyebaran influenza pada 2013 lalu, Yamakawa menemukan bahwa penumpang yang berada di dekat pintu kereta lebih besar terpapar virus tersebut. Kesimpulan tersebut didapat setidaknya dengan melakukan dua skenario simulasi. Pertama, penumpang bersin di dekat pintu kereta. Kedua, penumpang bersin yang duduk di antara pintu kereta.

Setelah memeriksa proses penyebaran virus selama beberapa detik, profesor tersebut menyimpulkan bahwa partikel (aerosol) yang dikeluarkan dari seseorang yang bersin di dekat pintu saat kereta tengah berjalan tersebar dengan lebih luas, menyebar ke langit-langit atau terhirup penumpang lain, dan membuat lebih banyak penumpang dalam bahaya terpapar infeksi. Adapun skenario simulasi kedua, Yamakawa mendapati bahwa partikel yang dikeluarkan dari penumpang yang bersin saat di duduk di antara pintu kereta cenderung jatuh ke lantai.

Ilustrasi tempat-tempat rawan sebaran virus corona di kereta. Foto: Business Insider

Sebetulnya penelitian tersebut memang tak tendensius terkait virus corona. Hanya saja, bila (penelitian dari Profesor Yamakawa) disandingkan dengan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, yang menyatakan virus corona dapat menular dari partikel (aerosol) yang berada di udara, maka penelitian tersebut bisa menjadi acuan untuk penumpang yang masih menggunakan kereta di tengah mewabahnya Covid-19.

“Jika transmisi (sebaran) aerosol memungkinkan (sebagaimana laporan WHO), maka kemungkinan infeksi akan lebih besar di dekat pintu,” kata Yamakawa.

Selain itu, ia juga menegaskan, meskipun penelitiannya (tahun 2013 silam) tak berkenaan dengan virus corona, namun, jika Covid-19 tersebut menyebar dengan cara yang mirip dengan influenza, maka penumpang akan sangat mungkin terinfeksi dengan berbagai cara, mulai dari menghirup partikel yang dikeluarkan dari seseorang yang bersin atau batuk, hingga menyentuh tangan, mata, mulut dan hidung dengan tangan yang digunakan untuk memegang tali, besi, atau apapun dari orang yang terpapar (Covid-19).

Penelitian dari Masashi Yamakawa pun kemudian juga dilengkapi dengan rekomendasi oleh Yoshiaki Katsuda, profesor dari Kansai University of Social Welfare yang mengambil spesialisasi pada hubungan kesehatan dan perjalanan. Ia mengatakan bahwa kereta yang lebih sering berhenti, layaknya kereta commuter line relasi Jabodetabek, kemungkinan lebih kecil terpapar virus corona, dibanding kereta jarak jauh seperti Shinkansen di Jepang atau KAI di Indonesia.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Sebab, jarak dari satu stasiun dengan stasiun lainnya tak terlalu jauh. Ketika kereta berhenti dan pintu terbuka, udara segar mungkin masuk dan menggantikan partikel udara tak sehat di dalam kereta. Adapun partikel tak sehat tersebut sangat dimungkinkan untuk keluar dan memuai di udara.

Oleh karenanya, Shinji Yamasaki, profesor dari Universitas Prefektur Osaka yang mengambil spesialisasi penyakit menular mengingatkan pentingnya mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Selain itu, Asosiasi Kesehatan untuk Penyakit Menular dan Pencegahan serta Pengendalian Infeksi di Jepang menyarankan supaya individu yang menggunakan transportasi umum agar tak menyentuh hidung, mulut, atau mata dengan tangan yang digunakan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang disentuh oleh orang lain, seperti tali pegangan di kereta dan sejenisnya.

Setelah Gaji Senior Manajemen Dipotong, Kini Malaysia Airlines Minta 13 Ribu Karyawan Cuti Tak Dibayar

Malaysia Airlines (MAS) mulai bulan Maret 2020 akan mulai memotong gaji senior manajemennya sepuluh persen. Selain itu para senior manajemen ini juga tidak akan mendapatkan tunjangan apapun. Namun ternyata tak hanya para senior manajemen, MAS juga menawarkan cuti tanpa dibayar alias sukarela untuk semua karyawannya yang berjumlah 13 ribu orang mulai bulan ini.

Baca juga: Malaysia Airlines Potong Gaji Senior Manajemen 10 Persen dan Tak Ada Tunjangan

Maskapai nasional milik Malaysia mengatakan, skema ini juga ditawarkan kepada staf induknya Malaysia Aviation Group (MAG) dan anak perusahaan termasuk MAB Kargo, MAB Engineering, Fireflu dan MASwings. KabarPenumpang.com melansir laman nst.com.my (12/3/2020), Manajemen tertinggi MAS mengonfirmasi bahwa karyawan bisa memilih untuk mengambil cuti yang tidak dibayar selama tiga bulan atau lima hari cuti tidak dibayar perbulannya.

“Kami mengonfirmasi bahwa MAG telah memberi stafnya opsi untuk secara sukarela mengambil cuti tak berbayar lima hari per bulan setidaknya selama tiga bulan, atau antara satu dan tiga bulan mulai April 2020,” ujar juru bicara MAS.

Dia mengatakan langkah itu sejalan dengan pengurangan operasi maskapai karena pandemi virus corona atau Covid-19. Juru bicara itu mengatakan, hingga saat ini MAS telah membatalkan lebih dari dua ribu penerbangan hingga April karena pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh negara-negara dalam jaringan mereka.

Pada 9 Maret, MAG telah mengumumkan pengurangan 10 persen dari gaji manajemen senior termasuk tunjangan mereka. Kepala eksekutif kelompok, Kapten Izham Ismail mengatakan pemotongan biaya adalah untuk mengatasi permintaan yang lebih lemah untuk perjalanan udara karena pandemi.

“Sayangnya, Covid-19 telah menghambat momentum pertumbuhan kami. Kita harus bersatu untuk memerangi krisis ini. Sudah sembilan minggu, arus kas tidak hanya mempengaruhi MAG tetapi juga totalitas industri (penerbangan),” katanya dalam video tujuh menit kepada karyawan MAG baru-baru ini.

“Karena itu, tindakan drastis harus dilakukan oleh kita semua. Saya akan menghubungi Anda lebih banyak di hari-hari dan minggu-minggu berikutnya, apa yang perlu kita lakukan. Ini tidak hanya mempengaruhi maskapai penerbangan, tetapi juga hotel, pengecer, pasar dan pusat perbelanjaan,” tambahnya.

Baca juga: Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg

Izham mengatakan maskapai global terpaksa melakukan langkah-langkah pemotongan biaya untuk menjaga arus kas. Ini termasuk Emirates, Cathay Pacific, Singapore Airlines dan Malindo Air. Para ahli penerbangan mengatakan, penangguhan perjalanan secara keseluruhan dari atau ke China yang disebabkan oleh pandemi telah berdampak buruk pada hasil dan profitabilitas maskapai Asia, yang sudah tertekan. Beberapa pasar di Asia menderita tingkat kelebihan kapasitas dan kompetisi “irasional”, tambah mereka.

[Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman

Masih ingat taksi drone 282 karya anak bangsa? Belum lama ini rupanya telah berhasil terbang, loh. Taksi terbang yang rencananya akan dipamerkan di Hannover Messe pada 20-24 April 2020 mendatang, tersebut berhasil terbang sekalipun dengan durasi yang belum terlalu lama, tak seperti taksi terbang lainnya yang sudah lebih dahulu mapan secara teknologi.

Baca juga: Mau Diboyong Ke Jerman, Inilah “Frogs” Drone Taksi Asli Kota Gudeg

Seperti video yang dilihat KabarPenumpang.com, taksi terbang drone yang lahir buah hasil riset selama dua tahun dan menghabiskan dana sebesar Rp1 miliar tersebut awalnya sempat terangkat beberapa cm. Setelah sekian detik tertahan, taksi terbang tersebut kemudian terbang lebih tinggi lagi hingga kemudian mendarat sekalipun belum terlalu mulus.

Meskipun demikian, keberhasilan mesin mengangkat drone yang mampu mengangkut maksimal beban 200 kilogram tersebut rupanya sudah membuat sang kreator puas. Pasalnya, ada beberapa parameter penting sebelum delapan motor atau propellernya berhasil mengangkat wahana taksi terbang, seperti misalnya udara dingin dan lembab yang membuat massa jenis udaranya menjadi agak berat.

Sebagaimana taksi terbang lainnya di berbagai penjuru dunia, Frogs juga didesain lebih untuk memenuhi kebutuhan transportasi di Indonesia, khususnya Jakarta yang sudah sangat macet dan membutuhkan alternatif transportasi lain. Selain membidik pangsa pasar jasa taksi udara, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk memuat kargo, kebutuhan militer, serta kepentingan darurat maupun pertolongan pertama di daerah bencana yang sulit diakses.

Diketahui, Frogs, pionir drone berawak di Indonesia, memimpin barisan produk teknologi yang akan mewakili Indonesia di pameran tersebut tahun ini. Drone taksi ini mampu mengangkut dua penumpang dengan delapan buah baling-baling dan terbang sejauh 100 km hanya dengan satu kali pengisian daya listrik. Drone ini lahir di sebuah bengkel di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan dalam ekosistem UMG Idealab.

Dibanding produk lainnya, taksi terbang karya anak bangsa tersebut memang belum terlalu mencolok, baik secara desain, dimensi, maupun kemampuan. Sebagai perbandingan, dengan taksi terbang buatan Cina, Ehang 184, misalnya, secara daya angkut, Frogs memang masih tertinggal sedikit. Bila Ehang 184 mampu mengangkut 230 kilogram, Frogs hanya sedikit di bawahnya 200 kilogram.

Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Akan tetapi, bila berbicara soal daya jelajah, Frogs buatan asli Indonesia tersebut mampu terbang lebih jauh dibanding batan Cina. Ehang 184 yang juga menggunakan listrik sebagai sumber tenaga bisa membawa penumpang hingga sejauh 10 mil atau 16 kilometer atau sekitar 23 menit penerbangan dengan kecepatan standar. Sedangkan Frogs sanggup melesat sejauh 100 km.

Hanya saja, bila dibandingkan dengan produk serupa lainnya, khususnya dari pabrikan besar, Frogs memang tertinggal cukup jauh. Dengan Joby Aviation, misalnya, Frogs hampir tertinggal di semua lini. Dengan hanya enam baling-baling listrik, taksi terbang Toyota tersebut justru mampu terbang lebih jauh, mencapai 150 mil (241 km) dengan sekali pengisian daya serta kecepatan hingga 200 mph ata 322 kilometer per jam. Namun, perbedaan mencolok tersebut tentu sangat wajar, mengingat Toyota menggelontorkan investasi senilai Rp5,3 triliun sedang kan Frogs hanya sekitar Rp1 miliar.

Setelah Boeing, Kini Karyawan Airbus di Spanyol Dilaporkan Positif Terinfeksi Corona

Setelah Boeing yang mengumumkan kasus karyawan yang positif terkena corona, kini karyawan Airbus di pabrik Getafe, Spanyol di diagnosa positif terinfeksi virus corona dan harus dikarantina. Airbus merilis salah satu karyawannya yang terinfeksi virus corona pada 9 maret 2020.

Baca juga: Tiga Pekerja Boeing di Washington Positif Terinfeksi Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (12/3/2020), pihak manufaktur mengatakan, telah menyarankan karantina pribadi selama 14 hari bagi pekerja yang telah melakukan kontak langsung dengan karyawan yang terinfeksi virus corona. Airbus menegaskan, bahwa kesehatan dan keselamatan adalah prioritas nomor satu bagi mereka.

Dalam tindakan pencegahan penyebaran virus tersebut, Airbus mengikuti protokol medis dari otoritas kesehatan global dan nasional serta telah menerapkan pedoman staf dalam kaitannya dengan interaksi sosial, kebersihan, perjalanan dan kunjungan ke fasilitas Airbus. Pabrik Airbus di Gertafe sendiri membuat stabilisator horisontal untuk seri A350, A330 serta untuk keluarga A320 dan membangun tail-cone untuk A350.

Selain itu, di pabrik Getafe, Airbus juga melakukan pekerjaan konversi untuk pesawat tanker militer A330 MRTT, memasang pengisian bahan bakar dan sistem avionik khusus pada twinjet.

Selain Airbus, tiga karyawan Boeing di pabrik jet Everett, Washington juga positif terinfeksi virus corona. Ketiga karyawan tersebut kini dalam karantina dan tengah menerima perawatan. Karena hal ini, Boeing juga merumahkan sepuluh karyawan lainnya untuk mengkarantina diri mereka di rumah selama 14 hari.

“Kami telah memberitahu karyawan lain dan mengikuti saran pejabat kesehatan masyarakat. Sebagai tindakan pecegahan, kami telah meminta semua rekan kerja karyawan yang terinfeksi dan berada dalam kontak dekat untuk tetap tinggal di rumah agar dikarantina dan mengawasi diri sendiri,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman seattletimes.com (9/3/2020).

Adanya karyawan Boeing yang terinfeksi, membuat mereka melakukan pembersihan menyeluruh terhadap area kerja dan ruang umum. Meski adanya karyawan yang positif corona, Boeing mengaku pekerjaan produksi maupun rantai pasokan mereka belum terpengaruh.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Seattle sendiri merupakan satu dari beberapa wilayah Amerika Serikat yang menangani virus corona. Washington yang merupakan hotspot infeksi virus ini sudah melaporkan 267 kasus yang dikonfirmasi termasuk 54 kasus di Snohomush County yang mencakup Everett.

Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

Naomi Campbell, supermodel senior asal Inggris membuat viral di Instagram, lantaran Ia melakukan dan menggunakan sesuatu yang unik ketika berada di bandara. Pasalnya ditengah menyebarnya virus corona saat ini, dia menggunakan pakaian atau kostum hazmat (hazardous materials) di bandara ketika akan bepergian dengan pesawat.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Naomi memang diketahui sudah lama menjadi pendukung untuk tetap bebas kuman saat bepergian. Viralnya foto tersebut ketika wanita 49 tahun itu mengunggah gambar dirinya yang menggunakan kostum hazmat di Bandara Internasional Los Angeles pada hari Selasa (10/3/2020).

https://www.instagram.com/p/B9kwcbPnFPo/?utm_source=ig_web_button_share_sheet

Selain kostum hazmat, Naomi juga melengkapi dirinya dengan kaca mata, masker wajah dan sepasang sarung tangan lateks berwarna merah muda. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (12/3/2020), dalam satu foto dia berpose di Terminal Internasional Tom Bradley dengan koper putih yang senada dengan kostum hazmatnya.

Kemudian foto lainnya menunjukkan Naomi tengah berada di dalam kabin pesawat dengan tambahan jumbah cokelat yang menutupi kostum hazmat dengan tangan yang tertutup sarung tangan sembari memegang ponselnya dan tangan lain memegang plastik transparan.

Dalam foto yang diunggah di akun Instagramnya tersebut, Naomi menuliskan caption “Safety First NEXT LEVEL”. Dia juga berjanji akan mengunggah videonya di saluran YouTube secepatnya. Tindakan uniknya tersebut banyak pengikutnya di Instagram yang setuju dengan perilakunya itu.

Sedangkan lainnya ada yang menuduh dirinya meremehkan virus yang sudah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang dan menewaskan lebih dari empat ribu di seluruh dunia. Diketahui, sebelum viral dengan jas hazmat, supermodel ini pernah memposting video di YouTube ritual sebelum penerbangan yang intens.

Dia melibatkan pembersihan segala sesuatu yang dekat dengan kursi pesawatnya menggunakan tisu anti bakteria Dettol tahun lalu. Dalam video itu, Naomi berbicara tentang tekniknya untuk menghindari kuman saat terbang selama lima menit.

“Bersihkan apa pun yang mungkin bisa Anda sentuh, sebelum menyeka kursi, sabuk pengaman, meja nampan, layar TV, remote control dan jendela dengan tisu anti-bakteri. Ini yang saya lakukan di setiap pesawat yang saya naiki. Saya tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang saya. Ini kesehatan saya dan itu membuat saya merasa lebih baik,” ujarnya.

Setelah mengenakan masker wajah sanitasi sebelum lepas landas, Naomi menekankan bahwa rutinitas yang ketat telah membantunya untuk tetap sehat selama karir modeling yang panjang dan telah berlangsung selama tiga dekade.

“Maksudku, sama seperti aku bepergian, aku seharusnya lebih sering sakit pilek dan sebagainya. Aku bersyukur tidak sakit. Aku benar-benar berpikir ini membantuku, rutinitas kecilku,” ujar Naomi.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Sementara pendekatan Naomi mungkin tampak sedikit di sisi ekstrim, para pelancong diperintahkan untuk mencuci atau membersihkan tangan mereka setelah menyentuh permukaan di bandara dan pesawat ketika para pemimpin dunia berusaha untuk mengandung virus corona. Menurut para ahli penyakit menular, sering mencuci tangan adalah salah satu pertahanan terbaik melawan penyebaran virus tersebut.

Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Para ahli kesehatan dunia mengatakan sejumlah besar penumpang lansia (lanjut usia) membuat moda transportasi menjadi lebih rentan terhadap penyebaran penyakit menular. Mereka pun mengambil contoh dari kasus penyebaran virus corona atau Covid-19 di Diamond Princess, yang menjadi satu-satunya lokasi terbanyak di luar negara, dengan jumlah kasus 696 dan delapan orang di antaranya tewas.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Dikutip dari kantor berita dailymail.co.uk, Kamis, (12/3), dalam kasus tersebut, para ahli telah menyoroti sejumlah alasan mengapa kapal pesiar rentan terhadap penyebaran penyakit, termasuk sebagian besar penumpang tua sekalipun berada di ruang terbatas, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti penyakit jantung atau paru-paru.

“Diketahui bahwa infeksi tertentu dapat menyebar dengan cepat di kapal pesiar. Kapal pesiar membawa penumpang dan kru dari seluruh dunia, seringkali penumpang relatif tua, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam rumah bercampur dengan orang lain, dan kemudian mereka pergi untuk pulang atau melanjutkan liburan,” kata Paul Hunter, seorang profesor medis di University of East Anglia, Inggris.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa sistem pendingin udara dapat menyebarkan virus dengan berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, seperti SARS. Dr Bharat Pankhania, seorang dosen klinis senior di Universitas Exeter, mengatakan bahwa lubang ventilasi hotel, saat itu, telah berkontribusi besar terhadap wabah SARS pada tahun 2002-03 silam. Jika Covid-19 bisa menyebar dengan cara yang sama, maka mengkarantina penumpang di Princess Diamond selama dua minggu adalah sebuah kesalahan.

“Sangat menarik bahwa ada begitu banyak kasus di atas kapal, dan yang jauh lebih mengkhawatirkan bahwa kasus-kasus ini muncul setelah pengisolasian di kapal,” katanya.

“Jika ini juga merupakan kasus di kapal, itu menunjukkan bahwa kapal itu bukan tempat yang cocok untuk menampung sejumlah besar kasus dengan sistem pendingin udara terpusat,” tambahnya.

Meningkatnya kasus virus corona setelah proses karantina berlangsung memang sangat dimungkinkan, mengingat, para pasien yang diduga terinfeksi tetap berada di sana, sekalipun dirawat dengan serius.

Pasalnya, sistem pendingin udara atau sirkulasi udara di sana tak seperti di rumah sakit bahkan di pesawat yang telah dilengkapi dengan teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Dengan begitu, udara yang mengandung virus corona atau bakteri jahat lainnya bisa saja terhirup oleh orang yang sehat dan pada akhirnya ikut terinfeksi.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang saat ini tengah menjadi sorotan dunia karena telah memakan begitu banyak korban jiwa dan telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

Dengan kondisi kapal pesiar yang penuh sesak, tidak adanya teknologi sejenis HEPA, tingginya interaksi antar penumpang, dan lemahnya sistem penanggulangan penyebaran virus yang tak se-ketat di moda transportasi atau bahkan di tempat lainnya, semisal bandara, membuat Covid-19 menyebar dengan ganas.

Jadi Korban Salah Tangkap, Pengemudi ini Gunakan Akun Orang Lain, GoJek: Itu Tak Dibenarkan!

Ari Darmawan pengemudi GoCar yang menggunakan akun Komarus Jaman, menjadi terdakwa dan pesakitan di meja Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hal ini dikarenakan seorang penumpang bernama Suhartini melaporkan Ari melakukan tidak kekerasan dan pencurian.

Baca juga: Akibat Miskomunikasi dengan Pengemudi, Penumpang GrabCar Tekan ‘Tombol Darurat’

Ari diamankan pihak kepolisian pada Oktober 2019 kemarin dan diduga menjadi korban salah tangkap. Namun, kuasa hukum Ari, Ditho Sitompul mengaku yakin kliennya akan dinyatakan tidak bersalah dalam kasus pencurian dan kekerasan yang dilaporkan oleh korban penumpang taksi online Suhartini.

Bahkan mereka siap melaporkan balik dan meminta ganti rugi jika memang kliennya terbukti tidak bersalah. Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (11/3/2020), keyakinan Ditho bahwa kliennya tidak bersalah berdasarkan beberapa fakta persidangan yang sudah terungkap. Fakta pertama datang dari saksi pihak GoJek yang mengatakan Ari memakai akun Komarus Jaman dan tidak pernah melakukan penjemputan terhadap Suhartini.

Sebab pengemudi yang menjemput adalah Dadang Supriatna yang merupakan pengemudi sebelum Ari. Tak hanya itu, adanya kesan terburu-buru dari pihak penyidik Polres Metro Jakarta Selatan dalam menyusun BAP.

“Menurut saya ini terburu-buru bahkan penyidik pembantu yang dihadirkan jaksa dalam persidangan kemarin mengatakan tidak ada gelar perkara sebelum penetapan tersangka,” kata Ditho.

Bahkan Ditho mengatakan, pihak kepolisian tidak memeriksa bukti percakapan ke pihak GoJek antara Ari dan korban. Selain itu, pihak kepolisian juga tidak mengetahui adanya pengemudi lain bernama Dadang Supriatna ini.

Kronologi Kasus dugaan salah tangkap berawal ketika Ari mendapat orderan dari seorang pelanggan bernama Suhartini pada Rabu 4 Oktober 2019 pukul 03.40 WIB. Kala itu, Suhartini meminta dijemput dari daerah Kemang Venue Jakarta Selatan menuju daerah Damai Raya Cipete.

Ketika mendapat orderan tersebut, Ari mencoba menghubungi Suhartini untuk meminta konfirmasi. Namun, tidak kunjung mendapat balasan dari Suhartini. Suhartini pun pada akhirnya tidak jadi naik ke mobil Ari. Pada keesokan harinya, Ari tiba-tiba didatangi polisi dan ditangkap karena dituduh melakukan tindak pencurian dan kekerasan.

Ari kemudian memberikan mandat kepada Hotma Sitompul sebagai kuasa hukum untuk mulai melakukan investigasi. Dari hasil investigasi tersebut diketahui bahwa Suhartini kemudian mendapatkan pengemudi taksi online bernama Dadang. Setelah Suhartni masuk ke mobil, Dadang langsung membatalkan pesanan secara sepihak.

Secara otomatis, aplikasi akan mencari pengemudi baru dan dapatlah Ari Darmawan. Disitulah Dadang diduga melakukan tindak pencurian dan kekerasan. Usai dirampok, korban langsung diturunkan di Jalan Senopati depan Roger Salon, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Atas dasar itulah, Hotma Sitompul melaporkan Dadang ke Polres Metro Jakarta Selatan.

Baca juga: GoJek Hadirkan Tiga Fitur Baru, Permudah Penjemputan Penumpang

Namun apakah dibenarkan seseorang pengemudi menggunakan akun pengemudi lain? VP Corcomm GoJek Michael Say mengatakan, hal ini tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan memindah tangankan akun.

“Tentu tidak, aturan kami jelas sangat tidak dibenarkan untuk memindah tangankan akun,” kata Michael yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (12/3/2020)