Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Virus corona mungkin membuat perusahaan maskapai penerbangan di seluruh dunia berada dalam kondisi buruk. Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pengurangan frekuensi penerbangan, penutupan rute, pengurangan karyawan, pengurangan fasilitas atau layanan, hingga bangkrutnya maskapai penerbangan, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini pada Flybe, maskapai terbesar di Inggris.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman Financial Times, Jumat, Jumat, (6/3), CEO Avolon Leases Aircraft, Domhnal Slattery, mengatakan, di tengah kondisi buruknya iklim bisnis dunia aviasi, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali efisiensi dan menahan uang cash (tunai). Selain itu, saat ini, leasing pesawat terbesar di dunia tersebut mengaku juga telah banyak dihubungi oleh pelanggannya selama periode kritis akibat wabah virus corona.

“Ketika industri penerbangan terpengaruh, ia cenderung bergerak cepat untuk menghemat uang. Itulah yang kami lihat di sini. Telepon sudah mulai berdering. Kami telah melihat langkah dramatis dari maskapai penerbangan menjangkau untuk melakukan transaksi jual dan sewa kembali,” katanya.

Di antara banyaknya pelanggan perusahaan tersebut, lanjutnya, rata-rata mereka datang dari maskapai-maskapai penerbangan asal Cina. Hal itu tentu sejalan dengan apa yang terjadi belum lama ini, dimana, banyak maskapai Cina berani menawarkan harga tiket super murah, mencapai Rp60 ribu hanya untuk mendorong upaya pemulihan minat masyarakat bepergian menggunakan pesawat terbang.

Melihat banyaknya maskapai Cina yang mulai melakukan beberapa kerjasama pembiayaan, ia pun berujar bahwa hampir tak ada celah untuk melihat maskapai asal Negeri Tirai Bambu tersebut bangkrut. Hal itu dikarenakan pemerintah Cina turun tangan langsung untuk menyelamatkan perusahaan.

“Kebangkrutan dari maskapai besar Cina (di tengah wabah virus corona) tak mungkin. Sebab, pemerintah Cina akan turun tangan. Tidak diragukan lagi,” tambahnya.

Selanjutnya, ia juga ‘mensyukuri’ dengan bangkrutnya beberapa maskapai penerbangan dalam beberapa waktu belakangan, seperti Gemania (Jerman), Jet Airways (India), Flybe (Inggris), dan banyak maskapai lainnya. Menurutnya, hal itu memang sangat wajar dan pantas dialami oleh maskapai penerbangan tersebut karena memiliki kinerja bisnis yang buruk, modal sedikit, dan kelebihan karyawan.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Avolon Leases Aircraft sendiri adalah perusahaan leasing pesawat terbesar di dunia. Perusahaan yang berbasis di Dublin, Irlandia tersebut mayoritas sahamnya dimiliki oleh Bohai Leasing, perusahaan leasing (apapun, tak terbatas hanya pada leasing pesawat saja) terbesar kedua di dunia, beroperasi di 80 negara, dengan aset mencapai Rp653 triliun.

Tahun lalu, Avolon Leases Aircraft melaporkan berhasil mencatatkan laba bersih Rp10,2 triliun, naik sedikit dari tahun sebelumnya diangkat yang nyaris sama, serta total kepemilikan pesawat mencapai 925. Dengan banyaknya maskapai yang tengah terpuruk dan membutuhkan dana segar, perusahaan tersebut diperkirakan akan mendapatkan laba bersih yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Simulator LRT Berada di Depo Terbesar di Jakarta

Light Rail Transit (LRT) Jakarta, ternyata memiliki simulator masinis kereta di depo Pegangsaan Dua tepatnya di ruang MCC LRT Jakarta. Simulator tersebut ada di depo sejak pembangunan 2018 lalu.

Baca juga: Disorot Publik Akibat Sepi Penumpang, LRT Jakarta Justru Cetak Rekor Pengunjung Tertinggi

General Manager Corporate Secretary LRT Jakarta, Arnold Kindangen mengatakan, simulator tersebut dibuat seperti menjalankan kereta LRT Jakarta yang sesungguhnya.

“Kita buat ini agar masinis-masinis LRT Jakarta bisa latihan seperti mengemudikan kereta asli,” kata Arnold kepada KabarPenumpang.com yang ditemui di depo LRT Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Arnold menjelaskan, adanya simulator tersebut pun karena LRT ingin semua masinis paham dengan jalur asli. Dia menambahkan, pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dan PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, juga sudah melihat simulator ini.

“KCI dan MRT Jakarta sudah pernah ke sini lihat simulator kita, tapi mereka tidak mencobanya,” tambah Arnold.

Selain simulator, Arnold menjelaskan depo Pegangsaan Dua ini luas dan bisa menampung sebanyak 94 trainset atau sebanyak 188 kereta. Dia mengatakan bahwa depo ini bisa menampung seluruh kereta yang akan di jalankan di Jakarta.

Tak hanya itu, ketika kunjungan wartawan, pihak LRT Jakarta juga mengajak untuk merasakan saat berada di dalam dan kereta di cuci. Pencucian kereta LRT sendiri Arnold mengatakan setiap hari satu kali ketika akan pulang ke depo.

“Kereta kita cuci satu kali sehari saat mereka pulang ke depo. Bagian dalamnya juga kita bersihkan satu hari sekali. Tapi, karena adanya virus Corona yang mulai masuk ke Indonesia setiap perhentian terakhir kita lakukan pembersihan dengan desinfektan. Kalau hari biasa sebelum-sebelumnya hanya dengan cairan sabun biasa,” jelas Arnold.

Baca juga: Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Diketahui, saat banjir pada yang menggenangi jalanan Kelapa Gading beberapa waktu lalu, membuat penumpang LRT Jakarta meningkat. Arnold mengatakan, peningkatannya dari sekitar empat ribuan menjadi 10 ribuan hingga 13 ribuan lebih penumpang dalam jangka waktu 23 sampai 28 Februari 2020 kemarin.

Pekerja dan Bahan Didatangkan dari Cina, Proyek Jembatan Kereta di Bangladesh Terhambat

Berbagai hal bisa terlambat pembangunannya karena bahan baku dan pekerja dari Cina tak bisa kembali ke negara yang tengah melakukan pembangunan. Hal ini dirasakan di Bangladesh yang mengalami hambatan pada dua proyek jembatannya karena virus corona yang menginfeksi warga dari Cina. Seorang pejabat proyek mengatakan, Jembatan Serbaguna Padma dan Tautan jembatan Padma telah terpengaruh virus corona dan proyeknya bisa ditanguhkan hingga batas waktu tertentu.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

Proyek pembangunan jembatan Padma, Bangladesh

Dia menyebutkan, kurangnya pekerja asal Cina yang terlibat dalam dua proyek jalur cepat ini. Selain itu, gangguan impor reguler bahan bangunan dari Cina menjadi alasan utama terhambatnya proyek tersebut. Dua pejabat yang terlibat dalam pembangunan ini mengatakan jika situasi tidak membaik, batas waktu proyek diperpanjang satu atau dua bulan.

“Tentu saja, ada dampak virus corona pada proyek yang berbeda. Karena banyak insinyur tidak dapat kembali ke Bangladesh,” kata Duta Besar Cina untuk Bangladesh Li Jiming, yang dikutip KabarPenumpang.com dari thedailystar.net (5/3/2020).

Ini adalah pertama kalinya para pejabat secara resmi mengakui bahwa wabah virus corona menghambat proyek. Sejak 5 Februari, Menteri Transportasi Jalan dan Jembatan Obaidul Quader mengatakan bahwa pekerjaan pembangunan jembatan tidak akan terpengaruh jika situasi virus corona membaik dalam “dua bulan.”

“Wabah virus corona mempengaruhi pelaksanaan dua proyek besar CREC sampai batas tertentu karena beberapa badan usaha tidak beroperasi penuh di Cina. Beberapa staf proyek [anggota] di pusat epidemi tidak diizinkan untuk pergi. Untuk memastikan kelangsungan kemajuan pekerjaan, CREC telah berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi dampak virus corona,” kata Wang Kun, direktur proyek Proyek Link Rail Bridge Padma (PBRLP).

Direktur Proyek atas nama Kereta Api Bangladesh, Golam Fakhruddin Ahmed Chowdhury, mengatakan pengurangan jumlah pekerja karena virus corona menghambat pekerjaan mereka. Selain itu, dia menambahkan, bahan bangunan tidak dapat dibawa karena mereka tidak dapat memberikan persetujuan untuk bahan setelah pergi ke Cina.

Diketahui, sekitar 260 dari 1700 warga negara Cina yang terlibat dalam proyek-proyek itu tidak dapat kembali ke Bangladesh setelah mereka pergi ke Cina untuk merayakan tahun baru di sana. Fakhruddin, bagaimanapun, mengatakan bahwa mereka telah menulis surat kepada pihak berwenang terkait untuk mengizinkan beberapa warga negara Cina datang ke Bangladesh untuk kepentingan proyek tersebut.

Najnin Ara Keya, chief engineer dari proyek tersebut, mengatakan sekitar 150 anggota staf China dari 900 telah terjebak di Cina. Namun, mereka merekrut warga negara Cina yang berasal dari provinsi “Non-Hubei”. Selain itu mereka juga mempertimbangkan inspeksi pihak ketiga terhadap produk-produk Cina.

Md Kamruzzaman, wakil direktur proyek (Teknis) dari proyek Jembatan Padma, mengatakan pekerjaan mereka sekarang bergerak maju dengan 70 persen dari kecepatan aslinya dan mereka akan mencoba untuk melanjutkan pekerjaan dalam ayunan penuh dalam bulan ini. Dia mengatakan bahwa orang-orang Cina melatih orang-orang lokal dan sudah membawa robot untuk pekerjaan itu.

Kamruzzaman mengatakan bahwa mereka memiliki target untuk membuka jembatan untuk umum pada Juni 2021. Sebanyak 25 dari 41 bentang telah dipasang dan 14 telah tiba di Bangladesh dan dua tengah dalam pembuatan di Cina. Pejabat proyek lainnya mengatakan bahwa rentang ini seharusnya datang ke Bangladesh pada bulan Januari tetapi itu masih dalam pembangunan dan mereka tidak yakin kapan itu akan tiba.

“Kami memiliki rencana untuk memasang bentang yang telah tiba di Bangladesh pada bulan Juni. Tetapi kami harus menunggu dua bentang, karena akan memakan waktu sekitar tiga bulan untuk berkumpul bahkan setelah mencapai Bangladesh,” kata seorang pejabat proyek.

Pemerintah Bangladesh juga perlu mengambil tindakan yang tepat, seperti pembukaan saluran hijau untuk visa personel Cina terkait dengan proyek-proyek besar dan mempercepat prosedur bea cukai untuk mengimpor bahan dan peralatan proyek. Dia menambahkan, bahwa dampak yang disebabkan oleh virus corona pada kemajuan proyek jalur kereta api lebih kecil daripada yang dilakukan oleh lambatnya pengadaan tanah dan pemukiman kembali.

Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Fakhruddin mengatakan bahwa setiap kali kontraktor Cina membawa masalah terkait tanah, mereka berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Bangladesh Railway sedang melaksanakan proyek jalur kereta api dengan biaya Tk 39.246 crore untuk menghubungkan ibu kota ke Jashore dengan jalur kereta api ganda sepanjang 169 km di atas Jembatan Padma yang sedang dibangun. Otoritas Jembatan Bangladesh sedang melaksanakan proyek jembatan dengan biaya Tk 30.193 crore untuk menghubungkan Dhaka dengan 21 distrik selatan.

Keren, British Airways Manjakan Penumpang dengan Kursi Roda Otonom Keliling Bandara hingga Boarding

British Airways tak lama lagi berencana akan melakukan uji coba kursi roda listrik otonom di salah satu bandara tersibuk di dunia, London Heathrow selama beberapa bulan ke depan. Hal itu adalah langkah lanjutan setelah maskapai tersebut melakukan teknologi serupa di bandara tersibuk keenam di Amerika Serikat, Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), untuk melihat bagaimana kursi roda itu dapat membantu penumpang berjalan secara otonom menuju gerbang keberangkatan (boarding).

Baca juga: Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

Dilansir thenextweb.com, Kamis, (5/3), maskapai asal Britania Raya itu menyatakan kursi roda otonom mereka dapat menghindari rintangan apapun, termasuk benda bergerak, dengan bantuan teknologi anti-collision. Selain itu, robot buatan startup asal Jepang, WHILL, tersebut juga dapat menavigasi terminal bandara tanpa bantuan dari staf pekerja.

“Selama beberapa bulan ke depan kami akan berkolaborasi dalam uji coba lebih lanjut di hub rumah kami yang sibuk di Heathrow Terminal 5 untuk mengumpulkan lebih banyak keterlibatan dan mengeksplorasi pengenalan teknologi ini bersama tim profesional layanan pelanggan kami,” kata Ricardo Vidal, Kepala Inovasi British Airways.

“Hal ini kami lakukan untuk memberikan pengalaman bandara yang benar-benar mulus dan dapat diakses. Saya gembira tentang masa depan inovasi inklusif untuk mendukung permintaan yang semakin cepat untuk perjalanan udara yang mudah diakses,” lanjutnya.

Sebelum sampai ke tempat tujuan, orang yang membutuhkan dapat mengunjungi tempat sebanyak yang diinginkannya menggunakan layar (sebelah kiri) di kursi roda hanya dengan melakukan beberapa sentuhan. Sistem nantinya akan menuntun robot untuk mengantarkan penumpang ke gate yang benar. Di samping itu, robot juga dapat mengingatkan penumpang bila mereka hampir ketinggalan pesawat. Setelah mengantar ke gerbang keberangkatan, penumpang hanya perlu turun dan kursi roda akan kembali ke WHILL station, di mana ia menunggu penumpang berikutnya.

Menariknya, walaupun secara fungsi akan sangat membantu penumpang berkebutuhan khusus, pada aplikasinya, kursi roda otonom tersebut juga dapat melayani orang sehat. Sebab, terkadang, bandara terlalu besar untuk dilalui orang-orang lanjut usia bahkan anak muda sekalipun dengan berjalan kaki. Baik untuk mencari kopi, makanan, ke toilet, atau kemanapun, sebelum benar-benar menuju ke boarding gate.

Baca juga: Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Kursi roda tersebut memang terlihat tidak asing karena menyesuaikan desain WHILL Model Ci. Perangkat ini pernah berkesempatan diuji pada ajang Consumer Electronic Show (CES) 2018 lalu dengan melintasi lantai pertunjukan pada kecepatan 8 km per jam. Dalam gelaran tersebut, bahkan robot berhasil menyabet tiga gelar sekaligus dengan predikat best of the best, meliputi Accessible Tech, iF Design Award, dan Red Dot. Saat itu WHILL mengatakan akan menjual Model Ci seharga US$4000 atau Rp57,3 juta, yang, seharusnya, dapat memberikan gambaran seberapa besar investasi yang dikeluarkan British Airways.

Dilakukannya uji coba di kedua bandara tersebut sebetulnya bukan semata-mata karena robot canggih tersebut menarik minat perusahaan. Melainkan, sudah menjadi bagian dari upaya lima tahun inovasi berkelanjutan British Airways senilai GBP6,5 miliar (Rp116,5 triliun) yang dikeluarkan oleh maskapai demi meningkatkan pengalaman pelanggannya. Saat ini, robot kursi roda otonom atau WHILL Airport Mobilty Service telah hadir di banyak negara, seperti India, Kanada, Amerika, Jepang, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya.

Taipei Hadirkan Sistem Inframerah untuk Cek Suhu Tubuh Penumpang MRT

Berbagai macam tindakan pencegahan mulai dilakukan perusahaan moda transportasi di dunia. Singapura di stasiun MRT-nya sudah memiliki kios pengecekan suhu tubuh mandiri. Selain itu juga menghadirkan handsanitaizer bagi para pengemudi taksi, bus maupun masinis kereta.

Baca juga: Kios Cek Suhu Tubuh Mandiri Hadir di Stasiun dan Pertukaran Bus Singapura

Tak hanya Singapura, beberapa negara lain juga melakukan hal tersebut seperti di Indonesia yang menghadirkan handsanitaizer di seluruh halte TransJakarta dan stasiun MRT Jakarta. Bahkan kereta maupun bus juga disemprotkan cairan desinfektan ke seluruh sudutnya seperti kursi, lantai, sela-sela hingga pegangan gantung.

Sedangkan di Taipei, MRT-nya akan memasang sistem inframerah di satu pintu masuk Stasiun Utama Taipei. Sistem ini akan membantu mengukur suhu penumpang yang akan naik kereta MRT. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman taiwannews.com.tw (29/2/2020), MRT Taipei tidak akan mengizinkan penumpang yang memiliki suhu tubuh diatas 38 derajat Celcius untuk naik kereta.

Jika sistem inframerah tersebut mencatat suhu 37,5 derajat Celcius dan 38 derajat Celcius maka penumpang akan menggunakan termometer manual untuk pengecekan ulang. Nantinya bila hasil terkonfirmasi maka penumpang akan diizinkan masuk. Tetapi petugas MRT akan menyarankan penumpang dengan suhu tubuh 37,5 dan 38 derajat Celcius untuk berobat ke dokter atau ke perawatan medis sesegera mungkin.

Hal terparahnya adalah ketika suhu tubuh terdeteksi inframerah di atas 38 derajat Celcius maka penumpang akan ditolak masuk ke stasiun MRT dan akses kereta pun tertutup untuk mereka. Pejabat MRT Taipei mengatakan, sistem inframerah ini juga akan dipasang di stasiun tersibuk bila memang diharuskan.

Pelarangan naik kereta MRT pun juga dilakukan oleh pihak MRT Jakarta yang mengatakan jika penumpang memiliki suhu tubuh diatas 38,5 derajat Celcius tidak diperkenankan naik kereta. Tetapi penumpang akan disarankan untuk berobat ke dokter atau ke rumah sakit terdekat.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

MRT Jakarta saat ini diketahui melakukan pengecekan baru di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Nantinya pengecekan suhu tubuh ini juga akan ada di seluruh stasiun MRT. Diketahui, orang terinfeksi virus corona di Taipei sebanyak 39. Sedangkan Indonesia yang dinyatakan positif ada dua orang dan kini kondisinya berangsur membaik.

Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Salah satu maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe, dilaporkan telah bangkrut akibat jumlah penumpang yang terus menurun. Tentu saja penurunan drastis penumpang akibat wabah virus corona yang makin mewabah di seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Dikutip dari laman theguardian.com, Jumat, (6/3), selain diakibatkan anjloknya jumlah penumpang, maskapai terbesar di Inggris yang mengoperasikan hampir 40 persen dari penerbangan domestik, juga dinyatakan bangkrut akibat tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintahan yang dipimpin PM Boris Johnson tersebut sebesar 100 juta poundsterling Rp1,8 triliun guna menstabilkan bisnisnya.

Selain itu, maskapai yang pada 2019 lalu diambil alih oleh konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital senilai 2,8 juta dolar AS tersebut juga menjanjikan memberikan investasi besar. Kala itu, konsorsium berjanji akan menggelontorkan dana 130 juta dolar AS atau Rp1,8 triliun untuk maskapai yang telah berdiri sejak 1979 tersebut.

Bangkrutnya Flybe mungkin agak aneh, mengingat maskapai itu melayani sekitar 30 bandara di Eropa atau salah satu yang terbesar. Setiap tahun, Flybe juga mengangkut sebanyak 8 juta penumpang dengan 74 armada pesawat dan memperkerjakan sekitar 2.000 karyawan.

Kepala Eksekutif Connect Airways, Mark Anderson, mengatakan, sebetulnya perusahaan telah melakukan sejumlah langkah-langkah penyelamatan sebelum benar-benar bangkrut, seperti efisiensi bahan bakar serta memaksimalkan segala profit yang masih mungkin dicapai. Namun, pada akhirnya, demand yang menurun, persaingan bisnis yang ketat, ditambah gagalnya suntikan modal dari pemerintah, membuat perusahaan tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan bisnisnya.

“Inggris telah kehilangan salah satu aset regional terbesarnya. Flybe telah menjadi bagian penting dari industri penerbangan Inggris selama empat dekade, menghubungkan komunitas regional, orang-orang dan bisnis di seluruh negara,” katanya.

Dengan bangkrutnya Flybe, praktis calon penumpang yang telah membeli tiket sangat dirugikan. Pasalnya, Flybe memang menyatakan tidak sanggup untuk memberikan jalan keluar berupa penerbangan pengganti bagi para calon penumpang. Namun, beberapa perusahaan pun hadir dengan memberikan solusi.

Di antara perusahaan-perusahaan tersebut ialah Great Western Railway, South Western Railway, TransPennine Express, dan Avanti West Coast, perusahaan kereta di bawah kendali operator First Rail yang menawarkan perjalanan gratis bagi para calon penumpang dan staf. Kemudian ada juga EasyJet, maskapai berbiaya rendah asal Inggris, yang menawarkan harga miring bagi para calon penumpang dan penerbangan gratis bagi para staf untuk pulang ke wilayahnya masing-masing.

Bangkrutnya Flybe juga menjadi sinyal buruk bagi para maskapai penerbangan di Inggris (karena sudah dua maskapai bangkrut dalam tempo hanya enam bulan setelah September lalu maskapai Thomas Cook telah lebih dahulu bangkrut) serta maskapai penerbangan di seluruh dunia, mengingat International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional telah memperkirakan bahwa maskapai global tahun ini sebesar US$29 miliar atau Rp417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020, tak terkecuali dengan maskapai Indonesia. Salah satunya seperti Garuda Indonesia.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Sebagaimana yang umum diketahui, maskapai pelat merah itu memiliki utang yang akan jatuh tempo Mei 2020. Totalnya mencapai US$500 juta atau sekitar Rp6,82 triliun. Di samping itu, total kewajiban (utang) Garuda per September 2019 sudah tembus US$3,51 miliar atau setara dengan Rp47 triliun (asumsi kurs Rp 13.600 per US dollar).

Bila Flybe yang tak mendapatkan suntikan total modal sebesar Rp3,6 triliun serta memiliki utang sebesar Rp320 miliar saja bangkrut, lantas bagaimana dengan Garuda Indonesia bila tak berhasil mendapatkan utang baru untuk menutup utang lamanya yang notabene jauh besar jumlah utangnnya? Selain itu, normalnya, untuk dapat memangkas jumlah utang, maskapai harus meningkatkan profitnya, seperti apa yang dilakukan easyjet, maskapai LCC asal Inggris, pada 2010 lalu yang selamat dari utang dan ancaman bangkrut dengan meningkatkan profit. Dengan kondisi iklim penerbangan yang tengah memburuk akibat virus corona, bagaimana Garuda Indonesia dapat meningkatkan profit untuk memangkas jumlah utang?

Badai Corona Hantam Sektor Industri Otomotif dan Suku Cadang

Virus corona tak hanya mengganggu penerbangan, tetapi juga di sektor manufaktur seperti otomotif yang menyumbang 20 persen dari total nilai ekspor di Jepang. Seperti beberapa perusahaan mobil milik Jepang yang menghentikan beberapa operasionalnya baik di Jepang maupun di Cina karena kekurangan suku cadang.

Baca juga: Bisa Deteksi Covid-19 dalam 20 Detik, Dunia Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perangi Corona

Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (5/3/2020), Nissan terpaksa menghentikan produksi di beberapa pabrik perakitan domestik termasuk Tochigi dan Fukuoka karena kekurangan suku cadang dari Cina. Tak hanya itu, Honda juga mengklaim keterlambatan pengiriman mobil baru karena ada masalah pengadaan komponen buatan Cina.

Bahkan Mazda harus membeli suku cadang alternatif dari Meksiko sebagai respon darurat dengan harga mahal karena pabrikan komponen eksterior Cina tak bisa mengekspor barang. Karena hal ini, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI), Asosiasi Produsen Otomotif Jepang (JAMA), dan Asosiasi Industri Suku Cadang Mobil Jepang (JAPIA) membentuk Dewan Studi Penanggulangan virus corona di industri otomotif dengan tujuan untuk berbagi informasi terkait industri secara umum dengan kekhawatiran dan kemungkinan tindakan balasan.

Industri robot di Jepang, di sisi lain menghadapi masalah permintaan. Seperti pabrikan besar Fanuc dan Yaskawa yang mendesain dan memproduksi komponen mereka sendiri sehingga masalah rantai pasokan kurang menjadi perhatian. Namun yang di khawatirkan adalah goyahnya sektor manufaktur akan menekan permintaan untuk produk mereka di Cina.

Sedangkan para produsen Jepang yang memiliki pabrik di Cina mau tak mau menghentikan operasionalnya namun ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali karena pemasok otomotif terletak di sekitaran mereka. Salah satunya Honda yang menghentikan operasional pabrik mereka di Wuhan dan akan mulai berkoordinasi untuk melanjutkan operasi.

Nissan, yang memiliki satu pabrik di Provinsi Hubei dengan dua pabrik di Provinsi Hunan yang berdekatan, juga telah menutup semua operasinya. Daikin Industries, produsen AC, memiliki pabrik AC HVAC ukuran besar di Wuhan. Perusahaan telah merencanakan cadangan produksi di situs Malaysia-nya. Sementara itu, operasi manufaktur baik AC industri dan digunakan di rumah di pabrik Suzhou dan Shanghai telah kembali beroperasi.

Hitachi Construction Machinery telah mengalami kesulitan produksi di pabrik Hefei, di provinsi Anhui yang berdekatan, karena kurangnya pekerja. Banyak yang tidak kembali setelah liburan Tahun Baru China, dan pembatasan pemerintah pada pergerakan orang menyebabkan kesulitan tambahan.

Pada catatan yang lebih positif, di luar Provinsi Hubei, banyak pabrikan Jepang mulai memulai kembali operasi mereka, meskipun tidak sepenuhnya. Toyota kembali beroperasi di pabriknya di Changchun, Guangzhou, Tianjin dan Chengdu, tetapi hanya setengah dari tingkat produksi. Isuzu melanjutkan produksi truknya di pabrik Chongqing dan Nanchang, Mazda melanjutkan produksi di Nanjing dan Mitsubishi juga memulai kembali operasinya di Changsha dan Fuzhou.

Seperti Toyota, tingkat produksi mereka saat ini sekitar setengah dari tingkat normal. Sementara itu, Sony, yang memiliki empat pabrik termasuk Huizhou, Wuxi, dan dua di Shanghai, kembali berproduksi pada 10 Februari, meskipun sekali lagi dengan tingkat produksi yang lebih rendah.

Baca juga: Di Tengah Tekanan Corona, Garuda Indonesia Pastikan Penerbangan Tetap Normal ke Korea Selatan

Menurut penelitian JETRO (Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang), tingkat pengoperasian kembali pabrik-pabrik Jepang di Shenzhen dan Dongguan di Provinsi Guangdong, salah satu klaster manufaktur terpadat di Cina, mencapai 67,9 persen pada 14 Februari. Namun dalam salah satu pengembangan zona di Kota Shenzhen, yang diizinkan untuk melanjutkan operasi manufaktur pada 10 Februari, hanya 2500 dari sekitar 12 ribu karyawan dari perusahaan penyewa sejauh ini kembali bekerja.

Bagaimana dengan MRT Jakarta yang kereta dan komponennya semua diproduksi dan di kirim dari Jepang? Apakah pengiriman komponen mereka dari Jepang tertunda saat virus corona ini? William P. Sabandar, direktur utama PT MRT Jakarta menyebut, bahwa isu corona telah mengganggu proses pengerjaan proyek fase 2A yang telah dimulai pada awal Maret 2020, lantaran akses tenaga ahli dari Jepang yang terbatas dari dan ke Indonesia.

Inilah Alasan Awak Kabin Hingga Terjerumus dalam Kecanduan Obat dan Alkohol

Sebagian orang mungkin punya anggapan bahwa menjadi awak kabin bakal merasakan semua kenikmatan, lantaran memiliki pendapatan yang cukup besar sehingga bermewah-mewah. Padahal di balik itu semua, kehidupan mereka tidaklah semenyenangkan yang orang lain kira.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Bahkan bisa dikatakan kelam dan gelap tanpa ada kebahagiaan dan kebebasan. KabarPenumpang.com merangkum dari qz.com (27/2/2020), ternyata gaya hidup tinggi para awak kabin ini dapat membuat kesehatan mental, gangguan tidur, kecanduan alkohol hingga penyalahgunaan obat-obatan.

Kehidupan glamor awak kabin

Adrianna seorang awak kabin yang sudah sepuluh tahun bekerja di maskapai penerbangan utama di Amerika Serikat mengatakan, banyak dari mereka yang menderita penyakit kecemasan. Dia menyebutkan ini karena terjebak dalam sebuah ‘tabung’ dengan orang-orang berbeda sepanjang hari.

“Kami tidak diizinkan untuk menunjukkan emosi kami yang sebenarnya dan itu selamanya. Saya sering bersumpah dalam tidur dan menjerit karena tidak diizinkan mengekspresikan emosi sepanjang,” kata Adrianna.

Mungkin sisi kelam kehidupan awak kabin cukup jarang terkespos. Bahkan ada beberapa cerita awak kabin ini yang viral dan menjadi perbincangan semua khalayak di dunia nyata maupun media sosial. Biasanya yang mencakup sisi kelam mereka adalah terlihat tampak mabuk dalam penerbangan hingga ketahuan meminum alkohol sebelum berangkat. Adrianna mengatakan, karena alkohol dirinya kehilangan teman, bukan hanya dipecat, temannya itu meninggal karena kecanduan berat alkohol.

Bekerja di udara, sebenarnya bukanlah selalu menyenangkan, bahkan sekali penerbangan bisa sangat melelahkan dan banyak awak kabin yang membayangkan untuk mencari pekerjaan lain. Dari mereka banyak yang stres, cemas atau merasa tidak menyenangkan tetapi harus tetap tersenyum ketika penumpang memanggil mereka.

Jetlag karena penerbangan beda waktu pun bisa meliputi perubahan perasaan, kelelahan dan lainnya. Tapi bila suadh bekerja menjadi awak kabin sulit untuk berhenti apalagi dengan gaji yang cukup tinggi ketika sering terbang untuk bertugas. Untuk melewati masalah dalam penerbangan, mereka sering bersama-sama dengan berkumpul dan minum alkohol. Bahkan seorang awak kabin mengaku, banyak yang suka minum seperti dirinya. Ada pula yang lebih memilih minum sendirian.

Adrianna menambahkan, dirinya berhenti munim satu tahun yang lalu dan terkadang masih sulit untu mengetahui kapan berhenti. Sebab dia menyebutkan, Anda akan berpikir minum di kamar sendirian bukanlah masalah sosial. Heather Healy yang mengelola Flight Attendants Drug and Alcohol Program (FADAP), sebuah prakarsa keselamatan mengatakan, pihaknya melakukan survei anonim tahun 2000 lalu dengan awak kabin. Mereka meminta awak kabin untuk berbagi informasi tentang apa saja yang sudah dilakukan.

Beberapa awak kabin mengelola kecemasan atau depresi dengan obat resep yang sangat adiktif, termasuk obat tidur atau opioid untuk mengatasi rasa sakit.

“Anda memiliki sekelompok masalah pekerjaan yang mendorong lingkungan minum. Tetapi juga menggunakan alkohol dan resep untuk mengelola beberapa masalah yang merupakan bagian dari pekerjaan kecemasan, stres, sulit tidur, dan rasa sakit,” tambahnya.

Sebanyak 85 persen awak kabin yang menggunakan layanan FADAP mengatakan, mereka akan melakukannya lagi. Awak kabin dapat menjangkau ke layanan itu sendiri sebagai alternatif, anggota keluarga pramugari yang kurang sehat dapat menghubungi layanan alih-alih maskapai itu sendiri, untuk menghindari membahayakan pekerjaan orang yang mereka cintai. Seringkali, pramugari dirujuk ke FADAP setelah orang lain di kru memperhatikan mereka berlama-lama di kursi bar atau menampilkan perilaku mengkhawatirkan lainnya. Jika seorang pramugari kedapatan melanggar peraturan narkoba atau alkohol, FADAP dapat membantu, kata Healy.

“Semua orang [di FADAP] bergeser bukan untuk mencoba membantu menyelamatkan pekerjaan Anda, tetapi untuk menyelamatkan hidup Anda, karena peluang Anda untuk sembuh, begitu Anda kehilangan pekerjaan dan kehilangan asuransi kesehatan Anda peluang itu turun secara signifikan.”

Pada saat yang sama, katanya, risiko bunuh diri melonjak. Sesuai peraturan FAA, pramugari yang diberhentikan dapat bergabung kembali dengan profesi dengan majikan lain, tetapi hanya setelah berhasil menyelesaikan program pemulihan. Healy menambahkan, tidak semua awak kabin kembali ke penerbangan karena pekerjaan memicu kekambuhan.

Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas

“Dari perspektif kesehatan jangka panjang, keluar dari pekerjaan mungkin merupakan hal terbaik. Kuncinya mungkin menjadi pramugari adalah mimpi terburuk Anda, dalam hal menstabilkan penyakit kejiwaan Anda,” katanya. “Biarkan kamu melakukan sesuatu yang lain,” katanya.

Bisa Deteksi Covid-19 dalam 20 Detik, Dunia Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perangi Corona

Virus corona tak selamanya petaka. Bagi perusahaan teknologi, virus terebut justru menjadi sebuah berkah. Betapa tidak, dengan adanya Covid-19, perusahaan jadi terdorong untuk melakukan inovasi teknologi, dalam hal ini teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Dilansir venturebeat.com, Rabu, (4/3), perusahaan Denmark, UVD Robots, misalnya, mengklaim bahwa pihaknya sudah mencapai kesepakatan Sunay Healthcare Supply untuk mendistribusikan robotnya di Cina. Nantinya, robot UVD berkeliling di sekitar fasilitas perawatan kesehatan untuk menyebarkan sinar UV ke kamar-kamar yang terkontaminasi oleh virus atau bakteri.

Lain Denmark, lain pula Israel. Dalam upaya melawan penyebaran virus corona, negara tersebut membuat robot pintar bernama Temi. Sejauh ini, ratusan robot Temi telah dirancang untuk bekerja di rumah sakit, bandara, dan rumah perawatan lansia. Menurut salah satu pimpinan Robotemi, Yoels, robot itu juga digunakan di kantor-kantor di seluruh China untuk memeriksa kedatangan karyawan untuk demam salah satu gejala Covid-19 yang paling menonjol.

Ada lagi BlueDot, perusahaan asal Kanada yang menggabungkan keahlian kesehatan masyarakat dan medis dengan analitik data canggih dengan kecerdasan buatan untuk membangun solusi yang melacak, mengkontekstualisasikan, dan mengantisipasi risiko penyakit menular. Hal yang serupa juga dilakukan oleh perusahaan asal negeri Paman Sam, Apple dan Microsoft, yang mengembangkan teknologi kesehatan untuk mengantisipasi risiko penyakit menular.

Tak mau kalah dengan negara lain, sebagai negara endemik virus corona, pemerintah Cina telah mendorong beberapa perusahaan teknologi di negaranya untuk turut andil dalam upaya memerangi virus corona. Di antaranya ada Alibaba, Tencent, Huawei, hingga Baidu. Keempat raksasa teknologi China sedang mempercepat pengguna layanan kesehatan berbasis teknologi dengan menggunakan cloud computing dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi dan menangkal virus corona.

Jika sebelumnya keempatnya membantu pemerintah China untuk melacak orang-orang yang berpotensi melakukan kontak dengan yang sudah tertular virus corona dan kini mereka akan meningkatkan perawatan kesehatan dengan fokus pada penyediaan alat membantu industri medis.

Bahkan, salah satu dari perusahaan tersebut, Alibaba, dilaporkan telah berhasil mengembangkan CT scan dada, dengan teknologi kecerdasan buatan, untuk pasien dengan akurasi 96 persen. Dengan akurasi tinggi tersebut, alat tersebut rupanya juga dapat mendeteksi seseorang terinfeksi virus corona atau tidak hanya dalam tempo 20 detik. Padahal, normalnya, tim medis mampu melakukan hal tersebut dalam waktu 15 menit.

Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona

Sistem AI ini dilatih pada gambar dan data dari 5.000 kasus virus corona yang dikonfirmasi dan telah diuji di rumah sakit seluruh China. Dikatakan bahwa setidaknya 100 fasilitas kesehatan saat ini mempekerjakan AI dari Alibaba.

Senada dengan Alibaba, pekan lalu, para peneliti dari Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan, Perusahaan Teknologi Medis Wuhan EndoAngel, dan China University of Geosciences juga telah berbagi pekerjaan terkait penelitian mendalam yang mendeteksi Covid-19 dengan akurasi 95%. Model ini dilatih dengan CT scan dari 51 pasien dengan pneumonia Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium dan lebih dari 45.000 gambar CT scan anonim. Model pembelajaran mendalam dilatih dengan CT scan pasien influenza, pasien Covid-19, dan orang sehat dari tiga rumah sakit di Wuhan, termasuk 219 gambar dari 110 pasien dengan Covid-19.

Di Tengah Tekanan Corona, Garuda Indonesia Pastikan Penerbangan Tetap Normal ke Korea Selatan

Selain Cina Daratan, wabah virus corona juga menjadi momok menakutkan di Korea Selatan, pasalnya sampai saat ini kasus corona telah mencapai 6.000, menjadikan Negeri Ginseng ini menjadi negara terbesar yang melaporkan kasus di luar pusat wabah di Cina. Namun, maskapai Garuda Indonesia memastikan layanan operasional penerbangan dari dan menuju Incheon, Seoul, Korea Selatan hingga kini tetap beroperasi dengan normal.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Hal tersebut menyusul kebijakan yang ditetapkan Kementerian Luar Negeri terkait larangan masuk dan transit ke Indonesia bagi para pendatang/travellers yang dalam 14 hari terakhir melakukan perjalanan di sejumlah kota di Iran, Italia dan Korea Selatan.

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (5/3/2020), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, “Dengan adanya kebijakan larangan masuk tersebut, saat ini Garuda Indonesia terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian dan otoritas terkait agar kebijakan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan baik, khususnya dalam hal tindakan preventif yang perlu dilakukan dari segi operasional penerbangan guna memitigasi risiko penyebaran Covid-19 dari dan ke Negara/kota-kota yang terdampak.”

Saat ini Garuda Indonesia melayani sebanyak 14 frekuensi penerbangan dari dan menuju Seoul setiap minggunya yang terdiri dari rute penerbangan Jakarta-Seoul vv dan Denpasar-Seoul vv yang masing masing dilayani sebanyak 7 kali per minggu.

Garuda Indonesia secara konsisten telah melakukan langkah-langkah preventif guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 melalui pelaksanaan disinfeksi pesawat, penyediaan sarana hand sanitizer dan masker untuk kebutuhan awak pesawat dan kebutuhan mendesak penumpang, penggantian HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter pada armada yang digunakan untuk penerbangan ke dan dari destinasi yang terdampak penyebaran covid-19 serta pemeriksaan rutin kepada awak kabin yang bertugas pada saat sebelum dan setelah bertugas.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Garuda Indonesia akan terus memantau situasi terkini atas perkembangan epidemi Covid-19 dan berkoordinasi dengan kementerian dan otoritas terkait untuk mengambil tindakan yang sekiranya diperlukan guna pencegahan penyebaran virus Covid-19 ini.