Etihad Airways belakangan kerap disebut-sebut masyarakat terkait aksi heroik pilotnya dalam mendaratkan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380, di Bandara London Heathrow, Inggris. Dikatakan heroik, sebab, saat pendaratan berlangsung, Inggris dan sekitarnya, termasuk Bandara Heathrow, tengah diterjang badai Dennis, yang disinyalir lebih buruk dari badai Ciara, dengan kecepatan angin hingga 150 km per jam.
Baca juga: Atasi Masalah Crosswind, Konsep Endless Runway Bisa Jadi Solusi Jitu
Dilihat KabarPenumpang,com dalam video yang viral di media sosial, YouTube dan Twitter, awalnya, beberapa menit sebelum Airbus A380 Etihad Airways mendarat, pesawat sebetulnya sudah berapa pada posisi yang tepat, dengan landing approach altitude dan landing approach angle yang pas. Namun, beberapa detik sebelum mendarat, terpaan angin membuat bagian belakang pesawat terdorong ke samping kanan dan membuat pendaratan terancam kacau.
https://www.youtube.com/watch?v=MeVEbYHmTcM&feature=emb_title
Benar saja, walaupun tidak sampai menimbulkan kesalahan fatal hingga memakan korban jiwa ataupun luka, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan posisi pesawat miring ke arah kiri pesawat di kisaran 45 derajat. Ketika landing gear atau roda pendaratan pesawat bagian belakang touching down atau menyentuh runway, pilot masih berusaha untuk menyesuaikan angle pesawat ke arah yang pas. Kendati berhasil, namun pesawat tetap pada posisi miring sekitar 15 derajat.
Akibatnya, setelah pesawat membuka engine thrust reverser sebagai rem mesin (engine brake atau ngerem), tampak sayap bagian kiri pesawat seperti hendak terangkat kembali akibat terpaan angin. Akibatnya, pesawat kembali condong ke arah kiri hingga memaksa pesawat keluar dari runway.
Atas kejadian itu, manajemen Etihad Airways dilaporkan telah memarahi pilot pada penerbangan yang terjadi 16 Februari lalu itu. Dikutip dari laman airlineratings.com, Kamis, (5/3), di samping itu, Manager Pelatihan Kru Penerbangan Etihad juga telah mengirimkan memo ke seluruh pilot yang berisi bahwa proses pendaratan tersebut bukanlah pendaratan yang ingin dilihat oleh manajemen.
“Pandangan resmi dari Departemen Pelatihan adalah pandangan yang sederhana, INI BUKAN APA YANG KAMI INGIN MELIHAT. Ada waktu untuk memberikan pendekatan (approach) demi kepentingan keselamatan. Jika kamu melihat hal seperti itu di sim (Simulator), itu akan menjadi nilai 1 (dari 10),” isi dalam memo tersebut.
Baca juga: Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat
Sebetulnya, Airbus A380 sendiri memiliki kemampuan tahan terhadap terpaan angin atau crosswind capability hingga 40 knot atau 74 kilometer per jam dan kemampuan mendarat otomatis di tengah terpaan angin atau autoland crosswind hingga 30 knot atau 55 kilometer per jam. Hanya saja, pilot tak boleh mengaktifkan sistem tersebut karena walau bagaimanapun sistem autoland tak memiliki kemampuan insting (membuat keputusan sesuai keadaan) sebaik manusia.
Dalam pendaratan di tengah kondisi angin kencang hingga dua kali lipat dari kemampuan crosswind capability yang dimiliki pesawat, pilot memang harus cukup jeli dalam mendaratkan pesawat. Selain harus mengikuti arah angin, pilot juga harus mengarahkan landing approach angle pesawat tetap pada posisi lurus menuju runway. Hal itulah yang gagal dilakukan oleh pilot hingga mendapatkan nilai 1 dari 10 oleh manajemen Etihad.








