Mendarat di Tengah Terjangan Badai 150 Km Per Jam, Pilot Airbus A380 Dimarahi Pihak Maskapai

Etihad Airways belakangan kerap disebut-sebut masyarakat terkait aksi heroik pilotnya dalam mendaratkan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380, di Bandara London Heathrow, Inggris. Dikatakan heroik, sebab, saat pendaratan berlangsung, Inggris dan sekitarnya, termasuk Bandara Heathrow, tengah diterjang badai Dennis, yang disinyalir lebih buruk dari badai Ciara, dengan kecepatan angin hingga 150 km per jam.

Baca juga: Atasi Masalah Crosswind, Konsep Endless Runway Bisa Jadi Solusi Jitu

Dilihat KabarPenumpang,com dalam video yang viral di media sosial, YouTube dan Twitter, awalnya, beberapa menit sebelum Airbus A380 Etihad Airways mendarat, pesawat sebetulnya sudah berapa pada posisi yang tepat, dengan landing approach altitude dan landing approach angle yang pas. Namun, beberapa detik sebelum mendarat, terpaan angin membuat bagian belakang pesawat terdorong ke samping kanan dan membuat pendaratan terancam kacau.

https://www.youtube.com/watch?v=MeVEbYHmTcM&feature=emb_title

Benar saja, walaupun tidak sampai menimbulkan kesalahan fatal hingga memakan korban jiwa ataupun luka, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan posisi pesawat miring ke arah kiri pesawat di kisaran 45 derajat. Ketika landing gear atau roda pendaratan pesawat bagian belakang touching down atau menyentuh runway, pilot masih berusaha untuk menyesuaikan angle pesawat ke arah yang pas. Kendati berhasil, namun pesawat tetap pada posisi miring sekitar 15 derajat.

Akibatnya, setelah pesawat membuka engine thrust reverser sebagai rem mesin (engine brake atau ngerem), tampak sayap bagian kiri pesawat seperti hendak terangkat kembali akibat terpaan angin. Akibatnya, pesawat kembali condong ke arah kiri hingga memaksa pesawat keluar dari runway.

Atas kejadian itu, manajemen Etihad Airways dilaporkan telah memarahi pilot pada penerbangan yang terjadi 16 Februari lalu itu. Dikutip dari laman airlineratings.com, Kamis, (5/3), di samping itu, Manager Pelatihan Kru Penerbangan Etihad juga telah mengirimkan memo ke seluruh pilot yang berisi bahwa proses pendaratan tersebut bukanlah pendaratan yang ingin dilihat oleh manajemen.

“Pandangan resmi dari Departemen Pelatihan adalah pandangan yang sederhana, INI BUKAN APA YANG KAMI INGIN MELIHAT. Ada waktu untuk memberikan pendekatan (approach) demi kepentingan keselamatan. Jika kamu melihat hal seperti itu di sim (Simulator), itu akan menjadi nilai 1 (dari 10),” isi dalam memo tersebut.

Baca juga: Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat

Sebetulnya, Airbus A380 sendiri memiliki kemampuan tahan terhadap terpaan angin atau crosswind capability hingga 40 knot atau 74 kilometer per jam dan kemampuan mendarat otomatis di tengah terpaan angin atau autoland crosswind hingga 30 knot atau 55 kilometer per jam. Hanya saja, pilot tak boleh mengaktifkan sistem tersebut karena walau bagaimanapun sistem autoland tak memiliki kemampuan insting (membuat keputusan sesuai keadaan) sebaik manusia.

Dalam pendaratan di tengah kondisi angin kencang hingga dua kali lipat dari kemampuan crosswind capability yang dimiliki pesawat, pilot memang harus cukup jeli dalam mendaratkan pesawat. Selain harus mengikuti arah angin, pilot juga harus mengarahkan landing approach angle pesawat tetap pada posisi lurus menuju runway. Hal itulah yang gagal dilakukan oleh pilot hingga mendapatkan nilai 1 dari 10 oleh manajemen Etihad.

Diam-diam Airbus Modifikasi A350 untuk Penuhi Kebutuhan di Masa Depan

Penumpang yang menaiki Airbus A350 keluaran bulan lalu mungkin tidak melihat perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan produksi empat tahun lalu. Betapa tidak, nomor modelnya sama, bagian dalam dan luarnya juga hampir terlihat sama. Namun, bagi maskapai, tentu saja Airbus A350 yang baru memiliki beberapa keunggulan lain dibanding produksi sebelumnya.

Baca juga: Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak

Dilansir dari laman simpleflying.com, Rabu, (4/3), belum lama ini Airbus rupanya telah melakukan beberapa pengembangan pada armada A350-nya. Pesawat tersebut dikonfirmasi memiliki perubahan mencakup daya jelajah dan take-off. Hal ini sejatinya adalah pengembangan rutin Airbus dengan menyaring setiap masukan dari maskapai untuk menunjang kenyaman dan kemanan pesawat.

“Sebagai produsen pesawat terbang terkemuka, kami terus-menerus berdialog dengan pelanggan kami untuk memenuhi persyaratan hari ini dan masa depan mereka, memajukan produk kami, menjaga mereka di ujung tombak teknolog,” kata juru bicara Airbus.

“Airbus selalu melihat konsep-konsep baru berdasarkan pada platform yang ada. Ini adalah bagian integral dari filosofi desain kami. Sebab, tidak setiap studi berhasil melihat apa yang sedang dibutuhkan hari ini,” tambahnya.

Sejak pertama kali dikirim ke maskapai Qatar Airways pada Desember 2014 lalu, Airbus A350 sejauh ini memang telah mengalami beberapa kali peningkatan berat lepas landas maksimum (maximum take-off weight, MTOW). Awalnya, A350-900 memilliki MTOW sebesar 269 ton, kemudian meningkat menjadi 280 ton pada 2018 lalu. Kemudian, kapabilitas jangkauannya pun juga berubah menjadi 9.700 mil laut. Selain itu, A350-1000 juga telah ditingkatkan dari semula MTOW-nya hanya 308 ton menjadi 319 ton.

Perubahan-perubahan ini (A350) juga mencakup sistem bahan bakar yang telah dimodifikasi untuk meningkatkan kapasitas angkut bahan bakar hingga 24.000 liter tanpa tangki tambahan. Fase tes ini juga akan mengukur peningkatan kinerja dari penyempurnaan aerodinamis, termasuk perpanjangan winglet.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Secara keseluruhan, teknologi-teknologi mutakhir ini menciptakan tingkat efisiensi operasional yang tak tertandingi dengan 25 persen pengurangan dalam pembakaran bahan bakar dan emisi, serta biaya pemeliharaan yang secara signifikan lebih rendah.

Sebetulnya, perubahan tersebut sudah terjadi sejak pertengahan 2018 lalu. Hanya saja, karena promosi yang kurang, sekalipun terdapat beberapa pemberitahuan kepada media, membuat penumpang tidak tahu-menahu terkait perubahan tersebut. Padahal, jika ditanya mengingankan perubahan atau tidak, tentu saja penumpang senantiasa menginginkan perubahan untuk meningkatkan kenyaman dan keamanan di setiap penerbangan mereka. Di samping itu, setiap perubahan ke arah yang lebih baik tentu saja juga diharapkan oleh maskapai untuk mendukung peningkatan perusahaan.

Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan

Fasilitas yang disedikan MRT Jakarta, mulai dari wahana kereta sampai bagian dalam stasiun sudah berstandar internasional, bahkan disebut-sebut lebih baik dari beberapa negara di Asia. Namun, sayangnya sisi luar stasiun masih berbanding terbalik. Ketidaknyaman masih menjadi momok tersendiri, salah satu isu yang mengemuka adalah banyaknya para ojol (ojek online) yang ngetem di sekitaran area stasiun. Selain tak elok dipandang, kehadiran kerumunan ojol kerap menimbulkan kemacetan.

Baca juga: Kerap Jadi Biang Kemacetan, Driver Ojol Harus Lebih “Peka” Marka Lalu Lintas

William P. Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta dalam Forum Pemimpun Redaksi yang dihelat hari ini (5/3/2020) di Plataran Hutan Kota Senayan mengungkapkan, bahwa umumnya penumpang MRT Jakarta sudah memesan (order) ojol menjelang mereka tiba di stasiun tujuan. Dan diantara jeda waktu penumpang turun dari kereta dan keluar dari stasiun, biasanya para ojol sudah ngetem di sisi luar stasiun. Dan seperti bisa diduga, banyaknya ojol yang mencari atau menunggu penumpang menjadikan titik penumpukan pada sisi jalan raya.

Menyiasati kondisi di atas, William menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan provider ojol seperti GoJek dan Grab, dan dikatakan telah ditemukan kesepakatan untuk pengaturan lebih lanjut. “Lebih mudah untuk mengatur dan mengkoordinasikan ojol, lantaran kami bisa dibantu oleh provider, tapi sebaliknya lebih sulit untuk mengatur penumpang,” ujar William. PT MRT Jakarta telah merancang zona transit (transit plaza) atau tempat drop off dan pick up, namun kembali lagi, masih ada perilaku penumpang yang kadang belum disiplin dalam menunggu di zona yang ditentukan.

Rencana kedepan, zona transit akan diperluas, sehingga nantinya akan ada pola first come first serve untuk penumpang yang menggunakan jasa ojol. Zona transit tentu belum bisa disiapkkan di setiap stasiun, lantaran keterbatasan lahan, namun orang nomer satu di MRT Jakarta menyebut, stasiun MRT Lebak Bulus saat ini sudah menerapkan konsep transit plaza untuk mewadahi akses penumpang ojol.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Kolaborasi MRT Jakarta dan provider ojol terlihat sudah cukup serius, seperti telah diluncurkannya GoRide Instant. GoRide Instan adalah layanan dari GoJek untuk menerima order di area tertentu secara lebih cepat, karena pengemudi ojol dapat terhubung langsung dengan calom penumpang melalui kode khusus yang dimiliki penumpang.

Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Wabah virus corona belum ada tanda-tanda berakhir. Bahkan, dari semula wabah tersebut hanya sebuah endemik, terbatas pada suatu tempat di suatu negara, kini sudah mulai bertransformasi menjadi pandemik, menyebar di banyak negara di hampir seluruh benua, kecuali Antartika.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Sebagai imbasnya, maskapai global pun ramai-ramai mengurangi rute ke sejumlah kawasan, khususnya Asia karena minat penumpang yang menurun. Melihat fenomena ini, International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri sudah memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam, hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $ 29 miliar atau Rp 417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020.

Dilansir dari laman independent.co.uk, Kamis, (5/3), turunnya frekuensi penerbangan telah membuat sejumlah bandara di banyak negara sepi bak kuburan. Untuk lebih lengkapnya, berikut daftar 8 sepinya bandara di seluruh dunia.

1. Haneda Airport, Tokyo, Jepang

Sumber: Reuters

Jumlah kasus Virus Corona (COVID-19) di Jepang telah melewati 1.000 orang pada Rabu, 4 Maret 2020. Namun, mayoritas berasal dari penumpang Diamond Princess. Di antara 1.000 pasien, 12 orang dinyatakan meninggal dunia dan virus menyebar ke berbagai penjuru Negeri Sakura. Pasien terkini berasal dari prefektur Yamaguchi di bagian barat Jepang.

2. Daxing International Airport, Beijing, Cina

Sumber: AFP via Getty

Kematian virus corona di daratan Cina terus-menerus bertahan, sekalipun engan intensitas yang mulai menurun dibandingkan di negara lain yang justru meningkat. Terakhir, korban tewas bertambah 42 orang pada Minggu (1/2) menurut Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC). Semua kematian baru terjadi di Provinsi Hubei. Kematian ini menambah total korban jiwa di Cina menjadi 2.912, kata NHC.

3. Shanghai Pudong Airport in Shanghai, Cina

Sumber: EPA

Hingga kini, ada 129 kematian dilaporkan di luar Cina. Adapun kasus yang dikonfirmasi di Cina sekitar 202. Dari kasus itu, 193 ada di Provinsi Hubei. Itu berarti ada sembilan kasus baru yang dilaporkan di seluruh Cina di luar Hubei, menurut NHC.

4. Changsha Huanghua International Airport, Cina

Sumber: Reuters

Jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Cina saat ini sekitar 80.026. Sebanyak 44.462 pasien di Cina telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit, kata NHC. Virus corona telah menyebar hingga ke lebih dari 60 negara. Hingga Senin (2/3/2020) pukul 09.00 WIB, jumlah kasus virus corona COVID-19 mencapai 88.382, dengan jumlah kasus terbanyak di Cina 79.826 dan di Korea Selatan dengan jumlah 3.736 kasus.

5. Taoyuan International Airport, Taiwan

Sumber: EPA

Biasanya bandara tersebut menjadi salah satu bandara tersibuk di Taiwan. Namun, sejak virus corona merebak, angka kunjungan wisawatan dalam dan luar negeri ke Taiwan terus menurun. Tak heran jika bandara ini sekarang tampak sepi.

6. Noi Bai International Airport, Vietnam

Sumber: AFP via Getty

Vietnam merupakan negara pertama di Asia yang mengumumkan semua pasien virus corona di negaranya sembuh total. Meski demikian, permintaan penerbangan global ke negara tersebut telah terlanjur turun sekitar 30 persen, salah satunya penerbangan dari Amerika yang menjadi salah satu penerbangan andalan Vietnam.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

7. Hong Kong International Airport, HongKong

Sumber: Twitter @MatthewTyler674

HongKong mungkin jadi negara yang terpukul telak. Pariwisata, yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan negara terbesar, kini telah anjlok. Selain karena virus corona, penurunan juga terjadi akibat protes anti pemerintah besar-besaran yang dimulai dari protes UU Ekstradisi. Tak heran, bila saat ini salah satu bandara tersibuk di dunia tersebut juga ‘menawarkan’ pemandangan sepi bak kuburan.

8. Ben Gurion International Airport, Israel

Sumber: Reuters

Kementerian Kesehatan Israel menyatakan jumlah kasus infeksi virus corona baru atau Covid-19 di negaranya bertambah menjadi empat pada Jumat (28/2) waktu setempat. Seorang warga negara Israel yang baru kembali dari Italia dinyatakan positif terinfeksi. Walaupun Timur Tengah tak separah Asia, nyataya, virus corona di sana telah berhasil membuat bandara di sana sepi.

Bandara Tribhuvan Punya Dua Robot yang Bisa Memandu dan Menghibur Penumpang

Era teknologi masa kini semakin canggih dan terkadang membuat tercengang. Hal ini karena banyak teknologi baru seperti robot yang mulai dipekerjakan di berbagai tempat dan bidang pekerjaan. Salah satunya adalah di bandara tempat dan keluar masuknya pelancong.

Baca juga: British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow

KabarPenumpang.com melansir laman onlinekhabar.com (20/2/2020), Bandara Tribhuvan (TIA) di Kathmandu, Nepal, baru-baru ini menghadirkan dua robot yang akan membantu penumpang. Selain memberikan informasi, robot ini juga akan menghibur para penumpang.

Menteri Kebudayaan, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal, Yogesh Bhattarai mengatakan, peluncuran layanan robot ini akan merubah bandara menjadi ramah teknologi dan modern. Dia mengatakan, robot-robot tersebut akan menyambut para penumpang di depan mereka.

Untuk memudahkan pelancong dari berbagai belahan dunia, robot ini dilengkapi berbagai bahasa yakni Nepal, Inggris dan Cina. Sehingga nantinya para penumpang yang bertemu dan menggunakan robot ini akan diberi informasi sesuai dengan bahasa yang dipilih.

Administrasi Bandara Kathmandu mengatakan, robot-robot tersebut juga hadir untuk membantu penumpang yang menunggu agar terhindar dari kebosanan. Dua robot ini menghabiskan biaya pembuatan senilai RS2 juta dan kini berada di terminal kedatangan dan keberangkatan.

Tak hanya di Kathmandu, beberapa negara lain sebelumnya juga sudah menggunakan robot untuk membantu penumpang di bandara. Seperti di Bandara Incheon, Korea Selatan yang memiliki robot bernama Troika yang membantu penumpang dengan memindai boarding pas dan Anda akan diantar ke gerbang tujuan.

Bahkan, Troika juga akan memanggil nama calon penumpang yang telah memindai boarding pass mereka. Jika dalam perjalanan menuju ke gerbang dan calon penumpang berdiri terlau jauh dari robot ini, maka akan mengeluarkan suara “Harap tetap dekat supaya aku bisa melihatmu.”

Troika sendiri seperti seorang tour guide yang memberikan segala informasi seperti lokasi tujuan penerbangan, pemberangkatan, peta bandara sampai cuaca. Robot ini dilengkapi dengan berbagai bahasa seperti Inggris, Korea, Cina dan Jepang sehingga mudah digunakan oleh pelancong.

Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Selain itu, Bandara Indira Gandhi di India juga memiliki robot bernama RADA yang ditempatkan di salah satu lounge. RADA akan menjadi pemandu yang bisa berinteraksi dengan para calon penumpang secara langsung. Robot ini akan memindai boarding pass penumpang dan agar Anda bisa langsung berinteraksi. Tak hanya suara, RADA bisa menggerakkan tangan.

Tuntas Mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair Fokus Hubungkan Jawa-Sumatera dan Kalimantan

Setelah menjadi perbincangan sejumlah kalangan atas kontribusinya bersama salah satu lembaga kemanusiaan ternama di Indonesia dalam membantu proses pemulangan korban konflik di Wamena, Oktober 2019, Xpressair Januari lalu juga sempat kembali menjadi perbincangan hangat karena keputusannya migrasi dari Yogyakarta ke Solo.

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Saat itu, Sales Marketing and Corporate Supervisor Xpressair, Irfan Setiawan, mengatakan bahwa pihaknya mengaku lebih memilih Solo atau Semarang (ketimbang Yogyakarta) karena alasan market. “Kami lebih memilih ke Solo atau Semarang karena melihat marketnya. Kalau di Bandara baru Kulon Progo permasalahannya hampir mirip dengan Kertajati yang belum banyak integrasi transportasi lain,” kata Irfan ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (27/1).

Namun, terlepas dari semua itu, Xpressair sejak 2012 silam memang sudah banyak diperbicangkan sejumlah kalangan karena pengaruh besarnya. Betapa tidak, saat memulai fokus mengabdi ke wilayah Timur Indonesia pada 2012 lalu, ditandai dengan dilakukannya kegiatan rebranding dengan menggunakan logo Burung Cendrawasih yang notabene identik dengan bumi Papua, faktanya, kunjungan wisatawan di Papua memang meningkat dan terus meningkat bersamaan dengan penerbangan Xpressair (dan juga beberapa maskapai lainnya) ke Papua.

Sebagaimana data yang berhasil dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, ada kurang lebih sebanyak 12 ribu wisatawan yang berkunjung ke provinsi paling Timur di Indonesia ini pada 2012. Kunjungan para turis lokal maupun manca negara ini terbagi dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Sementara para turis dari luar negeri yang berkunjung ke Papua lebih didominasi dari benua Asia, yakni dari negara Jepang dan Cina, sementara turis Eropa berasal dari Italia. Menariknya, angka tersebut terus meningkat hingga sekitar tahun 2019 lalu, saat terjadinya konflik di Wamena.

Bahkan, maskapai yang memiliki motto “Terbanglah Indonesia” tersebut digadang-gadang menjadi salah satu maskapai terbesar untuk wilayah-wilayah Indonesia Timur dengan melayani 33 rute ke berbagai wilayah di Indonesia Timur. Salah satu rute favorit bagi kalangan wisawatan domestik maupun mancanegara yakni penerbangan langsung dari Jakarta ke Sorong, setiap harinya, untuk kemudian wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi favorit di Raja Ampat.

Baca juga: Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Kini, setelah sekitar tujuh tahun mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair memutuskan untuk beralih fokus menghubungkan Jawa – Sumatera dan Kalimantan, dengan keberangkatan dari Solo, Semarang, dan Jakarta. Penerbangan dari Solo sendiri akan dimulai 31 Maret 2020. Tahap awal akan buka tiga rute, yakni Solo-Samarinda, Solo-Pontianak, dan Solo-Palembang, serta akan dilanjutkan dengan penerbangan Solo-Banjarmasin dan Solo-Lampung. Penerbangan di lima kota tersebut direct flight (PP), sekitar tiga kali setiap pekannya.

Sedangkan untuk keberangkatan dari Semarang, setidaknya akan ada tiga rute, yakni rute Semarang – Palembang PP (mulai 10 Maret 2020 mendatang), tiga kali dalam seminggu, Semarang – Banjarmasin PP (mulai 30 Maret 2020), empat kali dalam seminggu, dan Semarang – Lampung PP yang akan segera diluncurkan. Begitupun juga dengan keberangkatan dari Jakarta. Berikut daftarnya.

1. Jakarta (CGK) – Pangkalan Bun (PKN) PP
Mulai 30 Maret 2020 Senin, Rabu, Jum’at, dan Minggu
CGK – PKN : 06.55 LT – 08.30 LT
PKN – CGK : 09.20 LT – 10.55 LT

2. Jakarta (CGK) – Sampit (SMQ) PP
Mulai 30 Maret 2020 Senin, Rabu, Jum’at, dan Minggu
CGK – SMQ : 11.30 LT – 13.05 LT
SMQ – CGK : 13.35 LT – 15.10 LT

3. Jakarta (CGK) – Muara Bungo (BUU)
Mulai 31 Maret 2020 Selasa, Kamis, dan Sabtu
CGK – BUU : 06.55 LT – 08.15 LT
BUU – CGK : 08.45 LT – 10.05 LT

4. Jakarta (CGK) – Pontianak (PNK) PP
Mulai 11 Mei 2020 Selasa, Kamis, dan Sabtu
CGK – PNK : 10.35 LT – 12.10 LT
PNK – CGK : 13.35 LT – 15.10 LT

5. Jakarta (CGK) – Padang (PDG)
Mulai 11 Mei 2020 Setiap Hari
CGK – PDG : 15.40 LT – 17.30 LT
PDG – CGK : 18.00 LT – 19.50 LT

Belakangan Pesawat Kerap Bermasalah pada Roda Pendarat, Ada Apa?

Jumat, 28 Februari lalu, maskapai Pakistan International Airlines (PIA) memutuskan untuk balik kanan atau return to base saat baru lepas landas dari Bandara Internasional Dubai dalam perjalanan menuju Lahore, Pakistan. Setelah mendarat, diketahui, pesawat memiliki masalah dengan bagian pintu landing gear yang tak mau menutup.

Baca juga: Mendebarkan! Pesawat Ini Landing Tanpa Roda

Dilansir laman simpleflying.com, Senin, (3/3), menurut The Aviation Herald, saat itu, pesawat Airbus A320 dengan nomor registrasi AP-BLU tersebut awalnya dikonfirmasi terbang dengan mulus di Dubai. Kemudian 20 menit setelah lepas landas, pesawat mempertahankan ketinggian di angka 4.000 kaki karena terindikasi adanya masalah pada landing gear doors yang tak mau menutup.

Usai mendarat, pesawat dengan nomor penerbangan PK204 tersebut akhirnya tertahan lama di apron bandara, sekitar enam jam, untuk menjalani pengecekan. Terlepas dari perawatan dan perbaikan apapun, nyatanya, pesawat memang tertahan lama dan seluruh penumpang dialihkan dengan penerbangan lainnya. Belakangan diketahui, menurut Planespotters, pesawat tersebut sudah berusia 14 tahun dan sudah menjalani ribuan jam terbang.

Akan tetapi, di luar insiden tersebut, bila dilihat sedikit ke belakang, sebetulnya, insiden yang melibatkan bagian di sekitaran roda pesawat kerap terjadi. Pada 16 Februari, misalnya, pendaratan Virgin Australia Boeing 777 di Los Angeles tak berjalan mulus akibat adanya masalah dengan sistem hidraulik di salah satu roda pendaratan yang tidak dipasang dengan benar. Akibatnya, asap terlihat keluar dari pesawat yang disebabkan oleh gesekan pada rem roda ketika pesawat meluncur di landasan.

Pada 7 Februari, pesawat Icelandair Boeing 757-200 yang terbang dari Berlin Tegel (Jerman) ke Keflavik (Islandia) mengalami kerusakan roda pendaratan utama saat tiba di Bandara Internasional Keflavik. Beruntung, tidak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Kemudian, pada 3 Februari, pesawat Air Canada harus kembali ke Madrid karena memiliki masalah dengan roda pendaratan. Laporan awal menyatakan bahwa bagian dari roda pendaratan Boeing 767, rute Madrid-Toronto, lepas dan jatuh ke mesin. Hal tersebut kemudian, oleh maskapai, dikonfirmasi bahwa insiden tersebut diakibatkan pesawat mengalami pecah ban dan serpihannya masuk ke mesin.

Baca juga: Niat Hati Mau Ngumpet di Ban Pesawat, Wisatawan Gelap Asal Rusia Dibekuk Petugas Bandara Taiwan

Di penghujung tahun 2019 lalu, pada 22 Desember, United Airlines Boeing 737-800 mengalami kerusakan pada roda pendaratan pesawat bagian kiri hingga menyebabkan percikan api saat pesawat mendarat di Bandara Internasional Denver. Sama seperti berbagai peristiwa sebelumnya, beruntung insiden tersebut tak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Berbagai insiden tersebut, sebetulnya sudah cukup untuk membuat sejumlah pihak bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Namun, sejauh ini, belum ada keterangan apapun dari para ahli dunia mengenai fenomena ini. Entah hanya sebuah kebetulan saja atau sebaliknya, memang terdapat berbagai permasalahan serius mengenai landing gear atau main landing gear system di berbagai pesawat milik Boeing ataupun Airbus. Otoritas Keamanan Penerbangan Eropa atapun Otoritas Penerbangan Sipil Amerika sendiri hingga kini belum memberikan penyataan apapun untuk menyelidiki berbagai kasus tersebut.

Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan

Di beberapa maskapai layanan penuh (full service), saat ini beberapa suguhan sudah dihilangkan karena merebaknya virus corona. Seperti halnya layanan handuk panas di kelas bisnis yang sudah tak ada lagi, gelas yang digunakan hanya sekali pakai dan penggunaan masker bagi penumpang dan awak kabin.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Bahkan awak kabin yang bekerja di pesawat pun harus menerima risikonya yakni dengan cuti tak dibayar karena adanya pengurangan jumlah rute penerbangan pesawat. Karena hal tersebut, serikat awak kabin terbesar di Amerika Serikat saat ini mencari serangkaian langkah-langkah untuk membantu memerangi penyebaran virus corona dan mendapat bayaran serta perlidungan ketika mereka sakit.

KabarPenumpang.com melansir laman cnbc.com (3/3/2020), Association of Flight Attendants mengatakan, maskapai penerbangan dan industrinya tidak semuanya secara konsisten telah menerapkan beberapa dari rekomendasi ini. Asosisasi ini sendiri diketahui mewakili 50 ribu awak kabin termasuk United Airlines, Alaska Airlines dan Spirit Airlines.

“Secara umum, industri ini jauh melebihi instruksi pemerintah, tetapi apa yang diperlukan adalah tanggapan yang terkoordinasi dari pemerintah kita,” ujar asosiasi itu.

Saat ini, maskapai sudah menjadi pusat pecahnya virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 90 ribu orang dan kini juga mengancam keuntungan semua maskapai salah satunya penerbangan di Amerika Serikat. Hal ini karena menurunnya jumlah penumpang penerbangan.

Bahkan saham maskapai penerbangan telah jatuh di pasar yang lebih luas dalam kekalahan pekan lalu sebagai hasilnya. Operator ditugaskan untuk membantu menegakkan seperangkat pembatasan perjalanan yang terus berubah termasuk larangan beberapa pengunjung yang melakukan perjalanan ke Cina.

Maskapai penerbangan telah mengurangi penerbangan internasional di Asia dan ke beberapa tujuan di Eropa, dan lebih banyak lagi pemotongan akan dilakukan. Alaska Airlines pada hari Senin mengatakan pihaknya menangguhkan layanan handuk panasnya di kelas satu dan akan menangguhkan daur ulang onboard selama dua minggu.

Ini dilakukan Alaska Airline untuk mengurangi bahan yang disentuh oleh penumpang. Maskapai yang berbasis di Seattle juga mendorong penumpang untuk bepergian dengan santizer atau tisu antibakteri untuk membersihkan sandaran lengan dan meja nampan .

Meski begitu, maskapai juga memperingatkan penumpang bahwa tisu basah yang dijual secara komersial dapat merusak lapisan atas pada kulit kursi maskapai. Delta Air Lines, untuk bagiannya, mengatakan para kru pembersihan pada penerbangan trans-Atlantik dan trans-Pasifik harus melengkapi daftar periksa 19 titik termasuk permukaan yang sidemprot disinfektan seperti tempat duduk, kantong sandaran kursi, meja nampan dan lantai.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Pada penerbangan ke Amerika Serikat dari Asia, maskapai yang berbasis di Atlanta ini mencuci linen dan menyanitasi headset secara terpisah dan mengatakan mereka menyediakan kit kenyamanan untuk semua penumpang pada penerbangan internasional jarak jauh dengan pembersih tangan atau handuk.

Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Selain pesawat dan awak kabin yang terdampak, ternyata kereta di Singapura (MRT) juga terkena imbasnya. Bahkan SMRT Corp dan penyedia layanan penerbangan SATS Ltd, bergabung dengan daftar perusahaan Singapura yang memotong bayaran di tengah wabah virus corona ini.

Baca juga: Terdampak ‘Badai’ Corona, Inilah Serangkaian Strategi Singapore Airlines Group untuk Bertahan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman yahoo.com (27/2/2020), Neo Kian Hong, CEO Grup SMRT mengatakan, mengingat situasi menantang yang timbul dari wabah virus corona, SMRT menerapkan pengurangan gaji hingga lima persen per bulan dan pengurangan bonus 0,5 persen untuk staf manajemen tahun ini. Hong mengatakan, akan melanjutkan dengan upaya perekrutan yang direncanakan untuk Thomson-East Coast Line baru untuk melayani penumpang dengan lebih baik.

Selain itu, investor SMRT, yaitu Temasek mengatakan akan membekukan semua gaji serta kenaikan promosi dan sebagian memotong bonus tahunan untuk tim manajemen senior. Temasek juga meminta manajemen senior untuk mengambil pemotongan gaji sukarela hingga satu tahun.

“Secara terpisah, SATS pada 19 Februari telah menerapkan serangkaian langkah penghematan biaya seperti pemotongan gaji sepuluh persen untuk tim manajemen. Pekerja berusia 55 tahun ke atas diberi opsi pensiun dini secara sukarela, dan staf juga dapat meminta cuti sukarela yang tidak dibayar dan pekerjaan mereka tidak akan diganti,” kata juru bicara itu menambahkan.

“Epidemi virus corona telah menyebabkan penurunan tajam dalam volume penumpang dan kargo di seluruh Asia, berdampak pada aliran pendapatan untuk SATS. Oleh karena itu, kami mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko dan dampak situasi pada bisnis kami dan orang-orang kami,” kata SATS dalam sebuah pernyataan.

SATS, SMRT dan CapitaLand adalah beberapa perusahaan portofolio di bawah Temasek. CapitaLand kemarin mengatakan akan menerapkan pembekuan pembayaran, mengatakan anggota dewan dan manajemen senior akan mengurangi biaya dan gaji pokok mereka mulai dari lima hingga 15 persen.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Singapore Airlines, mayoritas dimiliki oleh Temasek, mengatakan akan membekukan perekrutan untuk semua posisi petugas darat dan mengurangi kapasitas karena permintaan turun. Pada tanggal 26 Februari, jumlah kasus COVID-19 di Singapura adalah 93, di mana 62 di antaranya telah sepenuhnya pulih.

Kios Cek Suhu Tubuh Mandiri Hadir di Stasiun dan Pertukaran Bus Singapura

Banyak cara untuk mencegah seseorang terinfeksi virus corona salah satunya dengan mencuci tangan dengan sabun dan membasuhnya di air mengalir atau menggunakan pembersih tangan atau handsanitiser. Namun bagaimana dengan moda transportasi yang banyak digunakan oleh masyrakat, apakah sudah ada pencegahan yang dilakukan seperti ketersediaan handsanitiser atau pengecekan suhu tubuh?

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Di Singapura sebagai salah satu negara yang terdampak virus corona, di beberapa stasiun MRT dan halte transit bus disediakan alat pengecekan tubuh yang bisa memeriksa sendiri. Menteri Transportasi Singapura, Khaw Boon Wan yang mengunjungi Stasiun MRT Toa Payoh dan pertukaran bus pada Minggu (1/3/2020) melakukan pemeriksaan suhu tubuh di kios yang bisa memeriksa sendiri.

Kios ini ada dua dan berada di stasiun tersebut hingga tangal 2 Maret kemarin. Kios prototipe pemeriksa suhu tubuh mandiri tersebut merupakan inisiatif dari beberapa lembaga pemerintah dan perusahaan lokal untuk mendorong orang untuk memeriksa suhu tubuh mereka secara teratur di tengah wabah virus corona yang masih menyebar hingga saat ini.

Setiap kios mandiri ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (1/3/2020), dilengkapi dengan sensor yang akan mendeteksi suhu tubuh orang yang berdiri didepan dan menggunakannya. Jika lampu kuning menyala di layar artinya orang tersebut dalam kondisi melebihi batas tertentu atau mengalami demam.

Namun jika suhu orang yang mengecek dibawah ambang batas maka layar lampu kios akan berwarna hijau. Kios ketiga saat ini sedang dicoba di Chong Pang Community Club. Khaw saatmenggunakan kios pengecekan suhu tubuh tengah mendistribusikan pembersih tangan kepada para pekerja angkutan umum yakni kereta dan bus bersama dengan ketua kelompok Yayasan Temasek Cares Richard Magnus.

Temasek Foundation, berupaya meningkatkan daya tahan masyarakat Singapura untuk mengatasi keadaan darurat. Melalui inisiatif ini, Temasek Foundation berencana untuk mendistribusikan 100 ribu botol sanitiser kepada para pekerja transportasi di garis depan termasuk pengemudi taksi dan layanan ride hailing.

Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

Baru-baru ini mereka juga mendistribusikan sanitiser tangan ke 17 klinik independen yang dikelola amal, rumah sakit, dan organisasi layanan kesehatan, seperti NKF Integrated Renal Center dan Tzu Chi Day Rehabilitation Center. Memperhatikan bahwa pekerja transportasi garis depan hanya memiliki sedikit akses ke fasilitas mencuci sabun dan air ketika mereka bekerja, Magnus mengatakan pada hari Minggu bahwa sanitiser tangan akan memungkinkan mereka untuk membersihkan tangan sambil tetap melakukan tugas mereka secara efisien.