Kementerian Perhubungan Periksa Mendadak Layanan Ojol di Malaysia

Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Malaysia akan melakukan pemeriksaan mendadak pada layanan e-hailing sepeda motor untuk memastikan keselamatan penumpang yang menggunakan layanan ini. Menteri Anthony Loke mengatakan petugas dari kementerian akan menyamar dan disamar sebagai penumpang untuk memeriksa apakah pengendara dan operator layanan mematuhi peraturan keselamatan jalan.

Baca juga: Anggota Parlemen Malaysia Canangkan Ganti Bus Pengumpan dengan Ride Hailing

“Ini sangat penting karena kita tidak bisa berkompromi dengan keselamatan. Pemerintah telah setuju untuk memiliki masa percobaan enam bulan (untuk layanan) dan kami akan melihat seberapa aman wahana bagi penumpang. Langkah-langkah keselamatan harus dipatuhi oleh semua operator dan saya berharap mereka memusatkan perhatian mereka pada aspek ini,” kata Like yang dikutip KabarPenumpang.com dari themalaysianreserve.com (7/1/2020).

Industri e-hailing sepeda motor dimulai di Malaysia pada 1 Januari di bawah proyek percontohan Proof of Concept (POC) enam bulan untuk sistem yang akan dinilai sebelum kerangka peraturan dikembangkan untuk industri. Dego Ride memiliki lebih dari empat ribu pengendara terdaftar di bawahnya dan 700 telah disetujui sejauh ini. Tarif untuk Dego Ride ditetapkan pada RM3 atau Rp10 ribu untuk tiga kilometer pertama, dengan RM1 dibebankan untuk setiap kilometer berikutnya.

Aplikasi ini juga memiliki fitur khusus yang memungkinkan penumpang perempuan untuk meminta pengendara perempuan. Dilaporkan bahwa 100 pengemudi wanita telah mendaftar dengan Dego Ride dengan kurang dari 50 disetujui.

Loke menggunakan layanan Dego Ride dari Markas Besar Kontingen Polisi Kuala Lumpur ke stasiun LRT Pasar Seni. Dia tidak memberi tahu operator layanan bahwa dia akan menguji perjalanan dan pengendara tidak tahu siapa dia sampai mereka tiba di lokasi.  Lokemengatakan dia menunggu 15 menit sebelum permintaannya diterima oleh pengendara.

“Kami tahu bahwa layanan ini masih baru dan kami belum memiliki banyak layanan memanggil sepeda. Oleh karena itu, waktu tunggu akan sedikit lebih lama, ”katanya.

Loke menambahkan, beberapa perusahaan lain telah menyatakan niat mereka untuk menyediakan layanan selama periode POC, tetapi hanya Dego Ride yang menawarkan layanannya kepada publik. Loke mengatakan bahwa proyek percontohan enam bulan akan mengarah pada pengembangan kerangka kerja peraturan untuk industri kendaraan dan layanan lain yang melibatkan sepeda motor.

“Kami ingin melihat ini secara holistik. Setelah layanan ini lebih terintegrasi, tidak hanya untuk penumpang tetapi untuk pengiriman makanan dan pengiriman lainnya juga, kami kemudian akan mengatur seluruh industri secara bersamaan. Itu sebabnya kami melakukan proyek percontohan ini,” tambahnya.

Adapun Gojek Indonesia, Loke mengatakan mereka harus mendirikan perusahaan di Malaysia terlebih dahulu jika ingin memberikan layanan di sini. Dia, bagaimanapun, mengatakan kementerian belum menerima aplikasi dari Gojek.

Sementara itu, Loke juga mengkritik buruknya pemeliharaan stasiun KTM Komuter Kuala Lumpur ketika ia menemukan bahwa hanya satu dari dua walkator baru yang dibangun di stasiun yang berfungsi selama putaran di stasiun kemarin.

Dia juga mengatakan hanya satu dari empat mesin tiket di stasiun masih dalam kondisi baik. Loke mengatakan kondisinya memalukan dan tidak menggambarkan citra negara yang baik, terutama di tengah kampanye Visit Malaysia 2020.

Baca juga: Wajib Selfie, Jadi Syarat Naik Grab di Malaysia

“Saya ingin manajemen puncak perusahaan-perusahaan ini turun secara teratur dan memeriksa layanan yang disediakan di lapangan.
“Bukan hanya menteri yang harus turun untuk memeriksa masalah ini. CEO dari masing-masing perusahaan yang terkait dengan pemerintah harus lebih proaktif, ”tambahnya.

Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Pecahnya konflik antara Iran vs Amerika Serikat terkait tewasnya Jenderal Qasem Soleimani, rupanya ikut berdampak pada sektor transportasi di Indonesia, persisnya Garuda Indonesia saat ini yang melayani penerbangan Jakarta-London harus menyesuaikan rute penerbangannya.

Baca juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang

Pejabat Direktur Operasi Garuda Indonesia, Tumpal M. Hutapea dalam pesan tertulis (08/01/2020) mengatakan, “Garuda Indonesia menyesuaikan jalur penerbangan dari dan menuju Eropa dari yang sebelumnya melewati wilayah udara Bucharest dialihkan ke wilayah udara Mesir dan Yunani. Dengan demikian seluruh layanan operasional Garuda Indonesia pada rute tersebut tetap berlangsung normal seperti biasa”.

Ditambahkan, Garuda Indonesia memastikan bahwa jalur udara untuk rute penerbangan dari dan menuju Eropa tidak melewati kawasan udara Iran dan sekitarnya menyusul adanya larangan terbang yang dikeluarkan Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pasca ketegangan yang tengah terjadi di kawasan tersebut.

Baca juga: Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran

“Kami akan terus memantau secara intensif perkembangan lebih lanjut kondisi tersebut serta berkoordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan terkait dalam memastikan aspek safety & security layanan operasional Garuda Indonesia tetap terjaga”, kata Tumpal.

“The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly

Biasanya vending machine atau mesin penjual otomatis digunakan untuk membeli makanan, minuman kaleng atau hal lainnya. Namun bagaimana jika mesin penjual otomatis ini justru membantu pengguna untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan hanya dengan menekan tombol?

Baca juga: Sajikan Hidangan Hangat dan Bersih, Stasiun Central Mumbai Hadirkan Mesin Penjual Makanan Otomatis

Ternyata beberapa kota menyediakan cara baru untuk memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan seperti membeli keripik atau soda kalengan. KabarPenumpang.com melansir dari laman yahoo.com (8/12/2019), mesin penjual otomatis ini bernama “The Giving Machine.”

Mesin ini bisa memudahkan pengguna untuk tindakan layanan bantuan secara instan. The Giving Machines sendiri ternyata kampanye dari Light the World yang menawarkan makanan, hewan ternak, vaksin, peralatan resusitasi untuk bayi dan barang-barang lain yang butuhkan seperti kelambu dan alat olahraga.

“The Giving Machines menyediakan cara bagi orang-orang untuk dengan cepat dan mudah membantu mereka yang membutuhkan dan menjadikan musim Natal mereka sedikit lebih berarti bagi diri mereka sendiri dan banyak orang lain,” kata situs web Light the World.

Dengan mesin ini penduduk lokal atau pelancong dapat menyumbang dan membeli apa yang ingin mereka kembalikan ke komunitas lokal atau global untuk yang membutuhkan. Pembayarannya pun mudah, di mana pengguna bisa menggunakan kartu kredit atau pembayaran mobile.

Mesin ini ternyata sudah mulai debutnya pada tahun 2018 di empat lokasi di Salt Lake City di negara bagian Utah, Amerika Serikat dan keempat mesin tersebut sudah mengumpulkan lebih dari US$800 ribu di tahun pertamanya. Tahun berikutnya, mesin-mesin ini juga sudah ditempatkan di London, Manila, New York dan Arizona.

Pada 2018 kemarin sebanyak 92.190 orang berpartisipasi dan 18 badan amal mendapat manfaat. Bahkan tahun 2019 Denver, Las Vegas, Orem dan San Jose sudah mendapatkan mesin penjual otomatis khusus tersebut.

Baca juga: Di Hari Perdana Komersial MRT Jakarta, Vending Machine dan Passenger Gate Masih Bermasalah

“Keluarga saya dan saya membeli seekor kambing untuk sebuah keluarga di Afrika, dan kami tersentuh ketika kami membeli persediaan untuk tempat perlindungan wanita yang terpukul. Kami menggunakan kesempatan untuk mendiskusikan amal dengan anak-anak kami dan lebih memahami arti Natal. Kami tidak sabar untuk mengunjungi Giving Machines di kota kami di Denver tahun ini,” ujar Jon LaClare seorang pengguna The Giving Machines.

Mesin yang bisa digunakan selama liburan ini, penggunanya bisa menyumbang antara US$5 hingga US$500.

Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Ratusan varian pesawat Boeing yang paling menuai sorotan dalam beberapa waktu ke belakang, 737 MAX, masih ‘terparkir’ di sejumlah markas perusahaan sembari menunggu izin terbang baru pasca dua kecelakaan super fatal yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Air. Belum surut soal masalah perizinan ini, pihak pabrikan pesawat malah kembali menemukan satu lagi potensi masalah

Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8

Masalah tersebut diketahui berasal dari korsleting yang berasal dari salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat. Wah, kalau benar ini menjadi masalah baru di 737 MAX, maka pertanyaan besar yang akan muncul adalah, “Apakah Boeing benar-benar serius merakit pesawat jenis ini?”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (7/1), potensi masalah anyar ini ditemukan Boeing pada bulan Desember 2019 kemarin. Sebelum potensi masalah ini kadung meluas dan malah membuka kasus baru bagi perusahaan, maka dari itu Boeing dengan sigap langsung melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terkait temuan ini.

“Korsleting inilah yang kemudian menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan, saat pilot tidak menanganinya dengan tepat,” ujar salah seorang teknisi senior dari Boeing.

Tidak menampik isu yang beredar, pernyataan dari teknisi senior Boeing tersebut lalu diamini oleh juru bicara perusahaan. Ia berdalih bahwa pihaknya tengah menyelidiki temuan ini, sebagai bagian dari proses peningkatan keselamatan yang tergolong sangat ketat ini.

“Prioritas utama kami adalah memenuhi seri 737. (Kami berusaha untuk) memenuhi setiap persyaratan sebelum meminta ijin untuk terbang kembali. Kami bekerja sama dengan FAA dan regulator lainnya dalam proses sertifikasi yang ketat dan komprehensif untuk memastikan desain pesawat aman dan memenuhi persyaratan,” terang sang juru bicara.

Terkait lengsernya Dennis Muilenberg dari posisi CEO Boeing, Ia melanjutkan, era kepemimpinan dari CEO David Calhoun diharapkan menjadi satu momen untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari regulator dan beberapa lapisan lain.

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

“Perubahan dalam kepemimpinan diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan regulator, pelanggan, dan semua kepentingan lainnya pada perusahaan,” sambungnya.

Sebagai informasi tambahan, Dennis Muilenberg dinyatakan lengser dari kepala pimpinan Boeing terhitung tanggal 23 Desember 2019 kemarin. Ini tidak lepas dari ‘peran dan keputusannya’ dalam rentetan panjang insiden Boeing 737 MAX 8.

Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran

Pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines dikabarkan jatuh setelah lepas landas dari bandara Imam Khomeini, Iran. Menurut pemberitaan yang tersiar, pesawat ini mengangkut 180 penumpang dan awaknya. Media lokal Iran menginformasikan bahwa pesawat jatuh tak lama setelah tinggal landas dikarenakan masalah teknis.

Baca Juga: Duh! Potongan Pesawat Uji Airbus Jatuh di Desa Dekat Bandara Toulouse-Blagnac

Menurut situs Flightradar 24, terlihat bahwa pesawat meninggalkan Iran pukul 02.42 waktu setempat menuju Bandara Internasional Kyiv’s Boryspil di Ukraina. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pesawat milik Ukraine International Airlines diketahui baru berumur sekitar 4 tahun.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Boeing selaku produsen belum memberikan tanggapan dan belum ada informasi lebih lanjut terkait kecelakaan tersebut.

Mengutip dari laman Reuters (8/1), Kepala Layanan Kedaruratan Iran, Pirhossein Koulivand mengatakan, “Pesawat terbakar. Kami sudah mengirim kru untuk menyelamatkan penumpang,”

Seiring dengan viralnya pemberitaan ini, muncul juga sebuah rekaman amatir yang menunjukkan sebuah pesawat yang terbakar tengah melintas di kegelapan malam. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit ini, tampak pesawat meledak di akhir-akhir video. Diduga, pesawat tersebut adalah Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines.

Baca Juga: Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152

Jatuhnya pesawat ini bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Apakah insiden jatuhnya pesawat ini masih ada korelasinya dengan ketegangan antara dua negara tersebut?

Ada juga asumsi yang menyebutkan bahwa pesawat Ukraina ini tidak sengaja tertembak oleh Sistem Pertahanan Udara Militer Iran. Namun kembali lagi, masih belum ada titik terang terkait insiden ini.

Liburan Nataru 2020, Angkasa Pura I Akui Adanya Penurunan Jumlah Penumpang

Di luar kebiasaan, saat momem libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020, justru terjadi penurunan penumpang di beberapa bandara yang operasionalnya ditangani PT Angkasa Pura I. Secara persentase, trafik penumpang ini mengalami penurunan 3,3 persen dibanding trafik libur Natal dan Tahun Baru 2019 lalu yang tercatat sebanyak 4,69 juta penumpang.

Baca juga: Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (7/1/2020), disebutka PT Angkasa Pura I melayani sebanyak 4,5 juta penumpang sepanjang masa liburan Nataru 2020 lalu. Angka ini berdasarkan perhitungan selama 19 hari, mulai 19 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020 di 14 bandara yang dikelola Angkasa Pura I.

Faik Fahmi, Direktur Utama PT Angkasa Pura I, menjelaskan bahwa penurunan trafik penumpang di beberapa bandara, terutama di Pulau Jawa, masih dipengaruhi oleh faktor yang sama dengan tahun lalu yaitu karena telah dioperasikannya Jalan Tol Trans Jawa, harga tiket yang dinilai masih relatif tinggi, dan semakin banyaknya pilihan moda transportasi lain.

Disebutkan pula, pertumbuhan trafik tertinggi pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2020 di bandara-bandar Angkasa Pura I terjadi di Bandara Internasional Lombok dengan peningkatan trafik mencapai 15,19 persen. Pada periode ini total trafik penumpang yang melalui Bandara Internasional Lombok mencapai 190 ribu orang dari 168 ribu orang pada periode yang sama pada 2019.

Baca juga: Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun

Sementara dari sisi jumlah penumpang, sama halnya dengan tahun lalu, tahun ini Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menjadi penyumbang trafik tertinggi dengan melayani 1,4 juta penumpang, dibanding periode yang sama pada tahun yang hanya mencapai 1,3 juta penumpang. Trafik penumpang kedua tertinggi terjadi di Bandara Juanda Surabaya dengan total trafik sebanyak 919 ribu penumpang dan tertinggi ketiga terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan total sebanyak 479 ribu penumpang.

Uber dan Hyundai Siap Luncurkan Layanan Taksi Udara di 2023

Pada hari Senin (6/1) kemarin, manufaktur otomotif asal Korea Selatan, Hyundai mengumumkan bahwa pihaknya bakal melakukan produksi massal untuk varian mobil terbang yang nantinya akan bernaung di bawah merk dagang Uber. Jika tidak meleset dari rencana awal, maka mobil terbang ini akan diluncurkan pada tahun 2023 mendatang. Pihak Hyundai mengklaim bahwa mobil terbangnya ini mengusung konsep Vertical Take-Off Landing (VTOL) yang mampu memboyong empat penumpang.

Baca Juga: Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (7/1), adapun kesepakatan ini diumumkan Hyundai pada perhelatan Consumer Electronics Show yang diadakan di Las Vegas beberapa waktu yang lalu. Mereka mengkalim bahwa kerja sama ini merupakan cara untuk membantu Uber untuk mewujudkan impiannya menerapkan layanan taksi udara di beberapa kota – terhitung sejak 2023 mendatang.

Kepala Divisi Mobilitas Udara Perkotaan Hyundai, Jaiwon Shin mengatakan bahwa ia mengharapkan manufaktur skala besar untuk menjaga biaya tetap terjangkau untuk jaringan transportasi udara modern ini.

“Kami tahu cara memproduksi kendaraan berkualitas tinggi secara massal,” ujar Jaiwon dalam konferensi pers.

Jaiwon juga menambahkan bahwa ia juga berharap ada kemitraan dengan perusahaan terkait yang akan memungkinkan layanan taksi udara ini menjadi lebih terjangkau bagi semua orang.

Kepala Uber Elevate, Eric Allison yang juga hadir di acara tersebut mengatakan bahwa, “dengan membawa label transportasi udara, maka kami dapat menawarkan efisiensi waktu yang signifikan bagi para penggunanya,”

Baca Juga: Tak Mau Ambil Risiko, Uber Kembangkan Riset dan Tinjau Mekanisme Layanan Taksi Udara

“Kami juga merupakan satu-satunya aplikasi yang mampu menghubungkan penumpang dari mobil kereta api, dan bahkan sepeda ke pesawat,” tandas Eric.

Uber mengumumkan bahwa perusahaan juga telah memilih Melbourne sebagai kota ketiga menyusul Dallas dan Los Angeles untuk menjadi kota pertama yang menawarkan layanan Uber Air, dengan perkiraan uji penerbangan pada tahun 2020 dan operasi komersial pada tahun 2023.

Sejumlah Bandara Mulai Uji Coba Face Recognition, Seberapa Amankah Pengaplikasiannya?

Dewasa ini, penggunaan teknologi face recognition memang sudah mulai diterapkan di sejumlah bandara. Tujuannya adalah untuk mempercepat alur pemeriksaan penumpang di dalam bandara, sehingga penumpukan seperti di zona imigrasi dan zona pemeriksaan keamanan. Kehadiran dari teknologi ini juga sejatinya bisa digambarkan sebagai penanda perkembangan zona aviasi global, mengingat sejumlah pengamat mengatakan bahwa permintaan penerbangan di masa yang akan datang akan meningkat secara drastis.

Baca Juga: Fasilitas Pertumbuhan Penumpang, Bandara Global Bakal Terapkan Teknologi Biometrik

Nah, diantara sekian banyak bandara di luar sana, ada beberapa bandara yang mulai menerapkan teknologi face recognition ini guna menunjang pengoperasian dan kelancaran arus penumpang di dalamnya. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman biometricupdate.com, Rome – Fiumicino International Airport (FCO) atau yang kerap disebut sebagai Leonardo da Vinci Airport ini akan menguji coba teknologi biometrik face recognition untuk memverifikasi identitas penumpang yang hendak berangkat di konter check-in. Menurut informasi yang dirilis oleh pihak pengelola bandara, teknologi yang didukung oleh Enac dan Kepolisian Negara ini akan menjadi yang pertama di Negeri Pizza.

Lain cerita dengan yang dialami oleh San Francisco International Airport (SFO), dimana pihak pengelola bandara menggaet ID Telos yang akan menyediakan teknologi biometrik untuk pemeriksaan latar belakang Designated Aviation Channeling (DAC) yang telah disetujui oleh Transportation Security Administration (TSA). Mengutip dari laman sumber lain, DAC yang dikembangkan oleh ID Telos ini merupakan penawaran modular berbasis web yang memungkinkan bandara dan pihak maskapai untuk memilih layanan mana yang mereka butuhkan. ID Telos menyesuaikan portal web yang aman sesuai dengan kebutuhan para penggunanya dan memungkinkan mereka untuk melakukan banyak fungsi pada satu platform.

Berbeda dengan kedua bandara di atas, Haneda Airport yang ada di Tokyo akan menggunakan teknologi biometrik ini untuk menampilkan estimasi waktu tunggu penumpang di terminal keberangkatan. Dalam meluruskan upaya peningkatan pelayanan kepada penumpang, pihak bandara menggaet NEC yang namanya sudah cukup mashyur di dunia teknologi.

Baca Juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Namun kendati canggih dan terdengar menjanjikan, bukan berarti teknologi biometrik ini tidak memiliki kelemahan. Identitas diri Anda yang ‘didaftarkan’ kepada pihak penyedia layanan terkait (seperti bandara, stasiun kereta, dan lain sebagainya) bisa saja sewaktu-waktu bocor dan disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Seram, bukan?

Temukan ‘Kecacatan’ di Mesin, FAA Berikan Arahan untuk Operator Airbus A380

Federal Aviation Administration (FAA) telah mengeluarkan Airworthiness Directive (AD) atau arahan kelaikan udara baru untuk Engine Alliance (EA) GP7200 yang selama ini menunjang pengoperasian dari Airbus A380. Arahan ini membutuhkan inspeksi ultrasonik terhadap Low-Pressure Compressor (LPC) bilah kipas tahap pertama (1st-stage fan blades), dan jika ditemukan sesuatu yang dapat membahayakan operasi penerbangan, bukan tidak mungkin jika bilah kipas ini akan diganti.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (6/1), FAA mengatakan inspeksi ini merupakan evolusi yang diterapkan setelah In-Flight Shutdown (IFSD) yang ‘menimpa’ penerbangan Airbus A380 pada 10 Maret 2019 silam. Kendati pihak FAA tidak merinci maskapai yang mengoperasikan penerbangan pada tanggal tersebut, namun maskapai asal Perancis, Air France mengoperasikan Airbus A380 dengan nomor penerbangan AF703. Usut punya usut, pesawat tersebut diperintahkan untuk kembali ke Abidjan setelah melaporkan kerusakan pada bagian mesinnya.

“IFSD dihasilkan dari faktur pada dua bilah kipas tersebut. Retakan ini berasal dari area mikrotekstur yang dapat berimplikasi pada low-cycle fatigue debit,” ujar salah seorang juru bicara dari FAA.

“Berawal dari retak seperti ini, jika tidak ditangani dengan tepat, maka bukan tidak mungkin apabila ini bisa menyebabkan kegagalan mesin di masa yang akan datang,” sambungnya.

Adapun arahan kelaikan udara ini diterbitkan pada 30 Desember 2019 dan terhitung efektif pada 14 Januari 2020 mendatang. Dari 15 operator Airbus A380 yang ada di seluruh dunia, hanya ada lima maskapai saja yang diperkirakan terpengaruh oleh arahan inspeksi ini, yaitu Air France, Emirates, Etihad, Qatar Airways, dan Korean Air.

Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?

FAA menargetkan, biaya yang dikenakan untuk inspeksi ultrasonik ini berkisar US$2.720 untuk inspeksi empat mesin selama delapan jam kerja.

Sebelumnya, pada bulan September 2017, Airbus A380 yang dioperasikan oleh Air France mengalami kegagalan mesin GP7200 yang tidak terkendali atas Greenland. Kala itu, Air France Flight 66 tengah melakukan perjalanan di rute Charles de Gaulle ke Los Angeles.

Shinkansen Pacu Kecepatan Antara Tokyo ke Sapporo, Namun ‘Terhalang’ Terowongan Seikan

Terowongan Seikan merupakan terowongan bawah laut sepanjang 53 km yang mengubungkan Hokkaido dengan Pulau Honshu utama Jepang menjadi penghalang terbesar untuk kereta peluru shinkansen. Pasalnya kecepatan kereta peluru dibatasi hingga 160 km per jam di terowongan, jauh dibawah kecepatan maksimumnya yang lebih dari 300 km per jam.

Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Padahal kereta peluru Jepang memiliki rencana untuk bereksperimen untuk meningkatkan kecepatan koneksi shinkansen antara Tokyo dan kota utara Sapporo. Tujuannya adalah menyelesaikan perjalanan dalam empat setengah jam yang mereka yakini adalah maksimum dalam meyakinkan pelancong untuk beralih dari pesawat.

Namun untuk melakukan itu, kereta peluru shinkansen harus mengatasi kemacetan kereta pembawa kentang dan bawang. KabarPenumpang.com melansir asia.nikkei.com (3/1/2020), terowongan ini digunakan bersama dengan Hokkaido Railway, operator kereta peluru atau JR Hokkaido dan Japan Freight Railway yang mengangkut kargo dengan kereta api biasa.

Tak hanya itu, kentang, bawang dan produk lainnya yang dibawa oleh Japan Freight melalui Terowongan Seikan menjadi masalah. Apalagi di masa lalu risiko kargo jatuh dari kereta barang membuat kecepatan kereta peluru akhirnya dibatasi.

Terowongan Seikan (www.railway-technology.com)

Namun salah satu jawabannya adalah kereta peluru membawa kargonya sendiri yang akhirnya membuat JR Hokkaido bermitra dengan perusahaan pengiriman Sagawa Express untuk menguji transportasi makanan laut dengan kereta peluru bersama penumpang. Uji coba sendiri akan dimulai awal tahun ini.

Nantinya sebelum memasuki terowongan, JR Hokkaido dan Sagawa berencana untuk memuat cumi-cumi, ikan dan makanan laut lainnya yang ditangkap di dekat Hakodate ke dalam shinkansen menuju Aomori, prefektur paling utara Honshu. Kedua perusahaan mengantisipasi permintaan kuat untuk makanan laut segar, cukup untuk menuntut biaya transportasi yang tinggi.

Produk yang tepat untuk dikirim akan ditentukan kemudian, tetapi kentang dan bawang tidak akan dikirim dengan cara ini, karena tidak ada produsen tanaman akan membayar biaya transportasi yang tinggi. Kelemahan dari rencana ini adalah volume kargo yang besar tidak dapat diangkut.

Oleh karena itu, pendekatan tersebut akan dikombinasikan dengan opsi lain yang sedang diperiksa, termasuk menetapkan slot waktu untuk kereta peluru untuk melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi melalui terowongan. Pengangkutan juga bisa diangkut dengan feri, bukan dengan kereta api.

Perjalanan dari Tokyo ke Stasiun Shin-Hakodate-Hokuto di ujung selatan Hokkaido saat ini memakan waktu sekitar empat jam. Dengan perpanjangan 200 km ke Sapporo, ibukota Hokkaido, yang diharapkan selesai sekitar tahun 2031, tantangannya adalah mewujudkan perjalanan penuh dalam waktu empat setengah jam. Menyelesaikan hambatan di Terowongan Seikan sangat penting bagi shinkansen untuk bersaing dengan maskapai penerbangan.

“Masalah seputar penggunaan bersama Terowongan Seikan tidak dapat diselesaikan hanya oleh dua perusahaan kereta api.Itu tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan tunggal,” kata Presiden JR Hokkaido Osamu Shimada.

Sagawa, unit utama SG Holdings, tampaknya mengajukan proyek percontohan ke JR Hokkaido. Kedua belah pihak telah mencapai hasil positif menggunakan jalur kereta api non-shinkansen. JR Hokkaido, Sagawa dan perusahaan lain mulai mengangkut barang dan penumpang bersama-sama berdasarkan uji coba pada bulan April antara kota Wakkanai dan kota Horonobe, keduanya di Hokkaido.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Para mitra memuji upaya mereka baru-baru ini dari Kazuyoshi Akaba, menteri transportasi Jepang. Banyak pemangku kepentingan bergantung pada keberhasilan proyek shinkansen. Untuk tahun fiskal 2018, JR Hokkaido mengalami kerugian operasional konsolidasi 41,8 miliar yen ($384 juta). Shinkansen Hokkaido menghasilkan kerugian 9,5 miliar yen tahun itu.