Ternyata Ada Pengaruh Suhu Dingin Pada Kinerja Bus Listrik!

Baru-baru ini The Center for Transportation and the Environment (CTE) yang bekerja untuk mengembangkan dan mengkomersilkan teknologi transportasi yang bersih, efisien serta berkelanjutan selesai bermitra dengan Pusat Keunggulan Hidrogen Midwest (MHCoE), Universitas Cleveland (CSU) dan Otoritas Transit Daerah Stark (SARTA). Pada kemitraan ini mereka melakukan sebuah studi menarik yang mengevaluasi hubungan antara suhu sekitar dan jangkauan bus listrik.

Baca juga: Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Inti penelitian terlepas dari sumber bahan bakar dan berapa jangkauan saat cuaca tengah ekstrem. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman insideevs.com (3/1/2020), ternyata modem di bus diesel konvensional menggunakan lebih banyak bahan bakar selama musim dingin.

Bedanya dengan bus listrik,  operator bus perlu mengetahui apakah bus akan dapat menempuh rute tertentu ketika musim dingin berlangsung. Sebab dari sampel yang dilakukan oleh operator, ada hasil uji singkat yang menunjukkan perubahan suhu sekitar 50-60 derajat Fahrenheit atau 10-15 derajat Celcius menjadi 22-32 derajat Fahrenheit atau -5 hingga 0 derajat Celcius.

Ini membuat 37 persen penurunan kisaran kinerja pada bus listrik. Sedangkan pada bus dengan bahan bakar hidrogen mengalami penurunan 23,1 persen. Bahkan penurunan ini bukan dalam kondisi suhu dingin ekstrem.

“Kami berhati-hati tentang keuntungan penggunaan bus FCV (Fuel Cell Vehicle) dibandingkan dengan BEV (Battery Electric Vehicle), tetapi CTE mencatat penurunan yang relatif lebih besar pada bus listrik BEV. Makalah ini mencoba untuk membandingkan performa biaya operasional bus listrik dalam kaitannya dengan berbagai kondisi suhu,” ujar mereka ketika menjelaskan hasil penelitian dalam kemitraan yang dilakukan.

Tim Studi mengumpulkan data dari delapan operator bus, diantaranya empat yang menggunakan bahan bakar hidrogen dan empat lainnya yang menggunakan bus listrik dengan baterai. Hasil analisis menunjukkan bahwa kehilangan dalam jangkauan selama perubahan suhu dari 50-60 derajat Fahrenheit ke 22-32 derajat Fahrenheit lebih besar untuk bus listrik BEV (penurunan 37,8 persen) daripada bus listrik FCV (penurunan 23,1persen).

Baca juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz

Karena baterai pada bus listrik biasanya memiliki jangkauan yang lebih kecil daripada bus listrik sel bahan bakar bahkan dalam kondisi optimal, ini merupakan pertimbangan penting untuk operator  bus yang ingin mencari pengganti satu bus. Studi ini berupaya memberi saran pada operator bus karena mereka mempertimbangkan strategi untuk mengganti armada yang ada, dan tidak bermaksud merekomendasikan satu teknologi di atas teknologi yang lain.

Punya 2 Ekstensi Baru, Metro Beijing Kukuhkan Jadi Jaringan Kereta Bawah Tanah Terpanjang

Metro Beijing memiliki dua ekstensi baru yang membuat sistem kereta bawah tanah mereka kini menjadi yang paling luas di dunia. Adanya perluasan ini bisa berfungsi sebagai metafora bagi kebangkitan Republik Rakyat Cina sebagai negara adikuasa.

Baca juga: Metro Shanghai, Jaringan Kereta Terpanjang di Dunia, Punya 18 Jalur!

Pembukaan dua ekstensi ini dilakukan pada 28 Desember 2019 kemarin dan memiliki panjang 699,3 km atau 434,6 mil. Kehadirannya ini menjadikan sepanjang Metro Beijing memiliki 405 stasiun termasuk 62 simpang susun yang menyalip Shanghai untuk menjadi jaringan metro terbesar di dunia.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (30/12/2019), adanya perpanjangan ekstensi sepanjang 16,6 km atau 10,3 mil sebelah timur jalur 7 yang membentang dari Jiaohuachang ke Huazhuang dan Huanqui Dujiaqu. Jalur ini melayani Universal Studio Resort yang menambahkan sembilan stasiun baru.

Rute ini kemudian dioperasikan oleh delapan kereta tipe B. Sedangkan dua stasiun terakhir dilayani oleh Batong Line yang diperpanjang 4,5 km atau 2,8 mil ke selatan dari Tuqiao ke Huanqui Dujiaqu di ujung utaranya jalur pinggiran kota dengan menyediakan koneksi metro jalur 1 di Sihui.

Metro Beijing saat ini sudah membawa lebih banyak penumpang setiap tahunnya dari sistem metro lain di dunia. Namun untuk stasiun, New York memiliki sebanyak 468.

Diketahui, Metro Beijing merupakan angkutan kereta yang melayani kawasan metropolitan Beijing. Sebelum diperpanjang saat ini, Metro Beijing memiliki 18 jalur dengan 319 stasiun dengan panjang rel 527 km atau 327 mil dan saat itu menjadi sistem metro terpanjang kedua di dunia setelah Shanghai Metro.

Metro Beijing dibuka tahun 1969 dan menjadi sistem angkutan cepat tertua di Cina Daratan. Angkutan cepat ini berkembang luar biasa setelah 2002 karena sebelumnya hanya ada dua jalur yg beroperasi.

Baca juga: MTR Hong Kong Siap Adopsi Integrated Speed and Position Supervision System Tahun Depan

Perkembangan terakhir sebelum perpanjangan dua ekstensi yakni pembukaan jalur 7 dan seksi jalur 6, 14 dan 15 pada 28 Desember 2014 lalu. Metro Beijing ini dimiliki oleh Kota Beijing dan memiliki dua operator yakni Beijing Masa Transit Railway Operation Corp yang mengoperasikan 15 jalur dan Beijing MTR Corp yang merupakan joint venture dengan Hong Kong MTR dengan mengoperasikan tiga jalur lainnya.

Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal

Dugaan ditembak jatuhnya pesawat Ukraine International Airlines semakin menguat manakala Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengatakan bahwa bisa saja penembakan rudal tersebut tidak disengaja. Ujaran Justin ini didukung oleh laporan intelijen Kanada yang ia terima. Ya, pada Rabu (8/1) kemarin, pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines jatuh di Teheran, Iran tak lama berselang setelah pesawat tinggal landas. Pada insiden ini, sebanyak 176 orang yang ada di dalam pesawat dinyatakan meninggal – dimana 63 diantaranya adalah warga negara Kanada.

Baca Juga: Inilah Lima Spekulasi Jatuhnya Boeing 737-800 Ukraine International di Iran

“Kami memiliki data dari berbagai sumber, termasuk dari sekutu dan intelijen kami sendiri. Data tersebut menunjukkan bahwa pesawat ditembak jatuh oleh rudal darat milik Iran,” ujar Justin, dilansir KabarPenumpang.com dari laman Reuters.com (9/1).

Seolah mendukung pernyataan dari Justin, sebanyak tiga pejabat Amerika Serikat juga mengatakan bahwa Pemerintah Negeri Paman Sam percaya bahwa pihak Iran telah secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat Ukraine International Airlines.

Ditambah lagi dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengatakan bahwa dirinya tidak percaya bahwa pesawat Ukraine International Airlines jatuh karena masalah teknis.

“Itu (insiden jatuhnya pesawat) adalah hal yang tragis. Tetapi seseorang bisa saja membuat kesalahan,” ujar Presiden Trump di hadapan wartawan di Gedung Putih.

Justin juga mengatakan bahwa pihaknya tidak akan ‘beristirahat’ hingga mereka mendapatkan kejelasan, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dari insiden ini. Pada Kamis (9/1), seorang pejabat di Pemerintahan Amerika Serikat mengutip tinjauan luas terhadap data satelit dan pihak Washington menyimpulkan dengan sangat yakin bahwa pesawat Ukraine International jatuh akibat tembakan rudal – salah satu data yang dijadikan acuan adalah terdeteksinya heat signature dari dua rudal darat yang muncul tak lama berselang setelah pesawat tinggal landas.

Baca Juga: Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran

Ketika dikonfirmasi ke pihak Iran, juru bicara pemerintahan, Ali Rabiei menampik segala hipotesa yang beredar luas di publik – terutama yang menyudutkan pihak Iran.

Namun jika pada akhirnya terbukti bahwa pesawat Ukraine International Airlines jatuh karena rudal darat milik Iran, berarti besar kemungkinan bahwa ini merupakan dampak dari meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat. Sebagai informasi, pesawat nahas ini terbang beberapa saat setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke basis militer AS di Irak.

Perusahaan Patungan PT MRT Jakarta dan PT KAI Buat Empat Stasiun Integrasi

PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) merupakan perusahaan patungan yang terintegrasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pembentukan perusahaan patungan ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham dan perjanjian penataan stasiun terintegrasi antara PT MRT dan PT KAI yang dilakukan, Jumat (10/1/2020) di Kementerian BUMN.

Baca juga: Tak Jadi Dicoba, QR Code Ticketing MRT Jakarta Tertunda Beberapa Hari

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, kehadiran perusahaan patungan ini harapannya akan menjadikan transportasi di Jakarta sebagai yang diminati masyarakat. Integrasi ini juga membuat lebih ekonomis dan efisiensi untuk mempersatukan angkutan darat lainnya.

“Perusahaan patungan ini akan mengintegrasikan rute, pengelolaan dan tiket dengan satu kartu yang sama seperti Jaklingko,” ujar Anies.

Dia menambahkan, nantinya dengan kehadiran perusahaan patungan ini, maka subsidi untuk tiketnya pun bukan lagi permoda melainkan keseluruhan moda yang terintegrasi satu dengan lainnya. Anies menyebutkan yang akan dikelola oleh perusahaan patungan ini ada 72 stasiun milik KAI yang termasuk didalamnya kereta api bandara dan CommuterLine dan stasiun MRT Jakarta.

“Dalam jangka pendek akan ada empat stasiun yang akan menjadi stasiun integrasi yakni Stasiun Senen, Stasiun Juanda, Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Sudirman,” jelasnya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, untuk perusahaan patungan ini saham dibagi dua yakni PT MRT Jakarta sebesar 51 persen dan PT KAI 49 persen. William menyebutkan, saham 51 persen tersebut dari Pemprov DKI yang direpresentasikan oleh PT MRT Jakarta.

“Perusahaan ini sudah langsung beroperasi karena ada tiga hal yang harus diwujudkan yakni penataan empat stasiun tadi dan dalam waktu enam bulan ini kita akan tiga studi yakni pengelolaan integrasi, TOD dan pengembangan jaringan,” kata William.

Dia menambahkan, akhir tahun akan melakukan amandeman terhadap stakeholder agreement dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan integrasi. Sedangkan untuk nilai investasi saat ini masih akan di studi-kan karena tidak bisa menentukan secara tiba-tiba.

Baca juga: Tak Ada Bantal di Kereta Eksekutif, PT KAI: Ini Masih Kajian dan Tengah Dievaluasi

“Untuk percepatan rencana perusahaan patungan ini adalah penataan stasiun. Stasiun di tata dan yang paling utama adalah kemacetan di depan stasiun yang dikendalikan. Jadi pergerakan lalu lintas yang kita lakukan untuk penataan,” jelasnya.

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro menambahkanada perjanjian ini, PT KAI akan berperan dalam hal peningkatan prasarana di dalam stasiun, manajemen sirkulasi penumpang dan kendaraan, serta izin akses. Diketahui, perjanjian kerja sama ini akan berlaku hingga satu tahu ke depan.

Terdeteksi Mabuk, Pramugari ANA Tunda Empat Penerbangan Secara Beruntun

Pernahkah Anda membayangkan bagaiman ajadinya jika citra seorang pramugari yang anggun nan cekatan di dalam pesawat digantikan dengan seorang wanita mabuk? Jika tidak terbayang, maka Anda harus menyimak berita di bawah ini. Seorang pramugari All Nippon Airways (ANA) tertangkap berada di bawah pengaruh minuman beralkohol ketika hendak bertugas. Mungkin hal ini terdengar sepele, namun imbas dari kejadian ini adalah penundaan empat penerbangan secara beruntun. Duh, maskapai bisa-bisa rugi, nih!

Baca Juga: Diduga Mabuk dan Teler, Pramugari United Airlines Layangkan Kalimat Kasar ke Penumpang

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/1), adalah seorang pramugari berusia 20 tahun yang dikabarkan telah menenggak minuman keras di malam hari sebelum tugasnya di penerbangan pertama. Adapun pramugari ini kedapatan menenggak minuman keras ketika menjalani tes alkohol wajib yang dititahkan perusahaan sebelum bertugas.

Tidak dijelaskan secara rinci kapan kejadian ini terjadi, namun kala itu, ANA NH2142 memiliki jadwal penerbangan pertama pada pukul 07.20 waktu setempat menuju Tokyo. Kurang lebih satu jam sebelumnya, para awak penerbang diwajibkan untuk berkumpul terlebih dahulu di Bandara Fukuoka untuk melakukan tes tersebut.

Ketika diperiksa dengan menggunakan mesin khusus, napas dari pramugari ini tercatat memiliki kandungan 0,14mg alkohol – sementara menurut peraturan yang berlaku di perusahaan, setiap awak penerbang yang hendak bertugas harus bersih dari alkohol (0mg).

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, “Mengapa hanya karena satu pramugari yang terindikasi ‘mabuk’ saja, pihak maskapai bisa sampai menunda keberangkatan dari empat penerbangan lain?”

Jawabannya sederhana, karena pihak maskapai harus mencari pramugari pengganti untuk mengisi kekosongan satu slot di penerbangan menuju Tokyo – yang harusnya diisi oleh pramugari mabuk ini.

Baca Juga: Gara-Gara Vodka, Penumpang Mabuk Hina Awak Kabin dengan Sebutan “Pedofil”

Menurut pengakuan si pramugari, pada malam sebelum bertugas, ia menenggak minuman Shochu, sejenis minuman keras hasil sulingan bersama seorang temannya. Namun sayang, ia tidak menyadari berapa banyak Shochu yang ia minum.

“Saya malu karena telah dengan ceroboh melanggar peraturan maskapai,” ujar pramugari yang identitasnya disamarkan ini.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, imbas dari kejadian ini adalah penundaan empat penerbangan secara beruntun. Dari keempat penundaan keberangkatan tersebut, satu penundaan yang paling lama memakan waktu sekitar 25 menit.

Kendala Teknis, Airbus A330-300 MAS ‘Ngerem’ Mendadak Dua Kali Ketika Hendak Take Off

Biasanya momen tahun baru dijadikan ajang yang tepat untuk ‘membuka lembaran baru’, dimana segala catatan buruk yang sudah tertoreh di tahun sebelumnya diharapkan bisa berubah menjadi cemerlang di tahun berikutnya. Namun tidak bagi maskapai penerbangan asal negeri tetangga, Malaysia Airlines (MAS). Maskapai plat merah ini dikabarkan sempat membatalkan take off sebanyak dua kali pada kesempatan yang terpisah. Tentu saja hal ini menjadi sebuah catatan kurang baik bagi perusahaan yang namanya ‘tenar’ setelah insiden hilangnya MAS MH-370 pada 8 Maret 2014 silam.

Baca Juga: Mau Tenang Sebelum Take Off? Perhatikan Panduan Ini

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (8/1), kejadian yang menimpa Malaysia Airlines MH145 ini berawal ketika pada tanggal 1 Januari 2020 kemarin, pesawat Airbus A330-300 yang dioperasikan oleh perusahaan hendak melakukan penerbangan berjadwal dari Kuala Lumpur menuju Auckland, Selandia Baru. Proses boarding penumpang, push back, hingga taxiing semuanya berjalan lancar, hingga tiba saatnya pesawat melakukan take off.

Ketika pesawat tengah dalam kecepatan penuh untuk tinggal landas, secara tiba-tiba pilot melakukan pengereman mendadak dan kejadian ini membuat penumpang terheran-heran. Tidak sedikit juga dari penumpang yang mengeluhkan kejadian ini mengingat pengereman ini membuat beberapa dari mereka terperanjat kaget.

Salah satu penumpang di dalam pesawat tersebut, Serjit Singh mengatakan, “Kejadian ini mengerikan … Saya pikir saya hampir mati kala itu,”

Tak lama berselang setelah pesawat ‘kehilangan’ kecepatannya di landas pacu, pilot menginformasikan bahwa pesawat mengalami kendala teknis dan terpaksa kembali ke terminal. Alih-alih menurunkan penumpang ke terminal, awak pesawat malah membiarkan mereka berada di dalam pesawat hingga kurang lebih tiga jam lamanya – sementara para teknisi berkutat dengan masalah yang dimaksud pilot barusan.

“Saya ingat dimana ada ambulans yang menghampiri pesawat karena ada salah satu penumpang yang begitu tertekan akibat kejadian ini,” terangnya.

“Salah seorang pramugari senior juga sempat menghampiri saya dan berkata bahwa pesawat dalam kondisi yang baik dan kami semua bisa mendarat di Auckland dengan selamat,” tambah Serjit.

Singkat cerita, penumpang diturunkan dari pesawat dan diminta untuk kembali pada keesokan harinya. Dengan penuh harapan, semua penumpang berharap penerbangan kali ini bisa berjalan mulus, namun pada kenyataannya, hal yang sama persis kembali terulang. Pesawat tetiba melakukan pengereman darurat dan sang pilot kembali meminta ‘ijin’ kepada penumpang untuk kembali ke terminal.

Akhirnya pihak maskapai menukar pesawat bermasalah tersebut dengan yang baru dan benar saja, penerbangan menuju Auckland berjalan mulus tanpa menemukan sesuatu yang berarti – hanya keterlambatan satu hari.

Baca Juga: Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya!

Menanggapi insiden ini, pihak Malaysia Airlines meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

“Pesawat mengalami retimed sebanyak dua kali karena adanya kesalahan teknis yang tidak terduga. Kompensasi terhadap penumpang diberikan dalam beberapa pilihan. Kami meminta maaf karena keselamatan penumpang merupakan prioritas di Malaysia Airlines,” tulis pihak Malaysia Airlines dalam sebuah keterangan tertulis.

Terbang dari Jepang ke Inggris, Pangeran Harry Kepergok Duduk di Kelas Ekonomi

Seorang pangeran naik pesawat dan duduk di kelas ekonomi premium apakah mungkin? Ya ini bisa saja terjadi dan nyatanya pangeran dari Negeri Britania, yakni Pangeran Harry belum lama ini naik kelas ekonomi premium saat pulang dari Tokyo, Jepang.

Baca juga: Kunjungan Kenegaraan, Raja Swedia Naik Pesawat Komersial dan Duduk di Kelas Ekonomi

Bangsawan yang punya gelar Duke of Sussex tersebut kedapatan naik kelas ekonomi premium dalam penerbangan menggunakan pesawat milik maskapai All Nippon Airways atau ANA. Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman nzherald.co.nz (6/11/2019), saat itu Pangeran Harry hendak kembali ke London dengan keberangkatan dari Bandara Haneda di Tokyo usai menonton pertandingan Piala Dunia Rugby.

Dirinya kedapatan naik kelas ekonomi premium ketika seorang penumpang berhasil mendapatkan fotonya saat naik pesawat. Penumpang itu kemudian membagikan di Instagram dan warganet langsung mengomentari, “Pangeran Harry, astaga.”

“Duduk di seberang Pangeran Harry dalam penerbangan kita dari Tokyo… Dan aku bisa memastikan dia tampan dan dia hampir jatuh dari tempat duduknya ketika sudah tiba di kabin,” ujar penumpang tersebut.

Keputusan suami Meghan Markel tersebut terbang dengan pesawat komersial karena mengikuti reaksi pada Agustus lalu ketika dirinya dan sang istri dikritik saat melakukan empat perjalanan dengan jet pribadi selama 11 hari ketika kampanye tentang masalah lingkungan. Sejak saat itu, dirinya kemudian memutuskan naik penerbangan komersial untuk tur ke Afrika Selatan.

Berlanjut ketika mendatangi pernikahan temannya pun,  Pangeran Harry naik pesawat komersial bukan jet pribadi. Karena masalah tersebut, pada September lalu, kerajaan membela penggunaan jet pribadi.

Yang mengatakan, di mana kadang-kadang penerbangan pribadi tersebut diperlukan untuk memastikan keselamatan.

Baca juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa?

“Saya menghabiskan 99 persen waktu bepergian menggunakan pesawat komersial. Tapi kadang-kadang hal ini perlu ketika ada kesempatan berdasarkan keadaan unik untuk memastikan keluarga saya aman. Ini benar-benar sesederhana itu,” aku Harry.

 

 

Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara

Kendati tengah berada di atas angin berkat tergelincirnya rival terbesar Airbus, Boeing, namun bukan berarti perusahaan bisa bersantai menikmati pesanan yang masuk begitu saja. Ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan perusahaan, salah satunya adalah dari lini pengadaan. Beredar rumor bahwa Airbus akan mengevaluasi pengadaan jalur perakitan akhir tambahan (Final Assembly Line/FAL) di Mobile, Alabama (AS), dan Mirabel, Quebec (Kanada) untuk model A320 dan A350. Hadirnya FAL anyar ini digadang-gadang dapat memecah konsentrasi perakitan pesawat dan sedikit banyaknya mempercepat proses produksi.

Baca Juga: Miskomunikasi, Seorang Ayah Hadiahkan Dua Unit Airbus A350-1000 untuk Ultah Anaknya!

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (7/1), Mobile dikenal sebagai jalur perakitan akhir untuk keluarga jet A320 dan baru-baru ini diperluas untuk menyertakan jalur perakitan akhir untuk A220 juga. Sementara Mirabel yang ada di Quebec merupakan tempat Airbus untuk memproduksi keluarga pesawat A220 berkat kerja sama yang terjalin dengan Bombardier.

Ya, jika Airbus ingin mengamankan kapasitas produksi tambahan untuk model A320 dan model A350, maka rumor yang diterbitkan oleh Flieger Faust ini bisa saja dipertimbangkan – atau mungkin ini adalah bocoran dari pihak Airbus kepada Flieger Faust? Belum dapat dipastikan kebenarannya, mengingat belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait.

Menurut laman sumber, Airbus telah mencatatkan sebuah pencapaian dari segi jumlah pesanan yang masuk, dimana perusahaan berhasil menyalip rival mereka, Boeing dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, memenangkan pangsa pasar bukan berarti Airbus telah unggul secara keseluruhan. Mereka masih harus memikirkan bagaimana arus produksi perusahaan bisa mengalir lancar tanpa terbentur keterlambatan.

Baca Juga: Delapan Aplikasi Ini Bisa Pantau Pergerakan Pesawat via Smartphone

Menimbang lokasinya, Mobile yang ada di Alabama ini sendiri terbilang cukup strategis, mengingat semua fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan Airbus untuk melakukan sentuhan akhir pada setiap pesawatnya sudah berada di lokasi. Rumor ini didukung oleh terbentuknya lapangan pekerjaan baru bagi para warga Mobile yang dipercaya akan menggairahkan sektor bisnis di area tersebut.

Empat Jam Tertahan di Kabin, Penumpang Coba Dobrak Pintu Kokpit dan Buka Pintu Darurat!

Baru-baru ini penumpang Air India mengamuk dalam kabin pesawat dan memaksa masuk ke kokpit, bukan itu saja, sang penumpang juga berniat membuka pintu darurat. Hal ini terjadi karena penumpang tertahan selama empat jam di dalam pesawat karena kesalahan teknis.

Baca juga: Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit

Kabar penumpang.com melansir thesun.co.uk (6/1/2020), penerbangan tertunda selama empat jam ini terjadi pada Air India dengan nomor penerbangan AI865 yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Delhi pukul 10.10 waktu setempat pada Kamis (2/1/2020) lalu dan penumpang sudah naik ke pesawat sejak pukul 09.15. Namun penerbangan ini ternyata tidak lepas landas di runway setelah satu setengah jam.

Ternyata penerbangan tujuan Mumbai tersebut terhalang adanya gangguan teknis yang membuat penundaan yang lama. Tak hanya itu setelah empat jam tertahan, penumpang baru diizinkan turun sekitar pukul 14.20 sebelum diberangkatkan kembali pukul 18.00 atau tujuh jam setelah penundaan alias delay.

Saat penundaan dan penumpang tertahan selama empat jam, mereka kemudian marah dan berdiri di lorong kabin serta beberapa orang menggedor-gedor pintu kokpit. Bahkan sampai ada seorang penumpang wanita yang berteriak, “Jika Anda tidak membuka pintu, saya akan mendobraknya.”

Tak hanya itu penumpang wanita lainnya juga berusaha membuka pintu darurat. Untungnya saat itu awak kabin melihat dan melepaskannya dari pegangan pintu. Selain itu penumpang lain pun juga menyuruhnya agar berhenti.

Sebelum membuka pintu darurat, awak kabin memeriksa jendela, atas kejadian tersebut belum ada penumpang yang dikenakan denda atas perilaku mereka. Karena insiden ini, bisa saja banyak penumpang yang berpotensi terkena dakwaan yang dapat mengakibatkan mereka dilarang naik pesawat selama dua tahun di bawah aturan baru India.

Aturan tersebut menyebutkan bahwa siapa pun yang diketahui telah memperlihatkan  perilaku yang mengancam jiwa atau kerusakan pada pesawat mak akan dihadapkan pada dakwaan pidana.

“Penerbangan itu sangat tertunda karena alasan teknis. Manajemen Air India telah meminta kru untuk merinci laporan tentang perilaku buruk yang dilaporkan oleh beberapa penumpang,” ujar juru bicara Air India.

Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan

Diketahui beberapa waktu lalu seorang penumpang Jet2 di denda dan dilarang terbang oleh maskapai tersebut selama seumur hidup setelah mencoba masuk ke kokpit dan membuka pintu darurat. Kemudian ada seorang penumpang gila yang memicu kepanikan setelah membuka pintu pesawat yang sedang bersiap untuk berangkat. Tak hanya itu, seorang penumpang wanita juga pernah diamankan karena membuka pintu darurat, lantaran hawa di kabin terlalu pengap.

Inilah Lima Spekulasi Jatuhnya Boeing 737-800 Ukraine International di Iran

Insiden jatuhnya pesawat Ukraine International PS752 pada Rabu (8/1) kemarin tentu saja membuat banyak orang bertanya-tanya apa penyebab dari jatuhnya pesawat bertipe Boeing 737-800 ini. Spekulasi pun mulai bermunculan, mulai dari masalah teknis, hingga yang paling ‘liar’ adalah pesawat ini jatuh karena terkena tembakan. Tentu saja masih terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab jatuhnya pesawat yang tengah mengangkut 180 orang di dalam pesawat ini, mengingat masih diperlukannya penyelidikan mendalam dan menyeluruh.

Baca Juga: Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran

Bagi Anda yang penasaran dengan spekulasi apa saja yang menyelimuti kasus jatuhnya pesawat Ukraine International di Teheran pada Rabu kemarin, berikut KabarPenumpang.com rangkum lima spekulasi yang beredar di masyarakat, dilansir dari laman news.sky.com (8/1).

Masalah Pada Mesin
Tak berselang lama setelah pesawat nahas ini jatuh, pihak Kedutaan Ukraina yang ada di Ibukota Iran menyebutkan bahwa pesawat jatuh karena adanya kegagalan pada mesin yang berujung pada terbakarnya mesin pesawat.

Sebenarnya spekulasi ini cukup masuk akal, mengingat pada video yang beredar luas di publik menunjukkan bahwa pesawat dalam kondisi terbakar ketika melintas di udara.

Namun spekulasi ini ‘menguap’ begitu saja, seiring dengan dicabutnya komentar dari Kedutaan Ukraina tak lama setelah mereka mengunggah penyebab jatuhnya pesawat.

Masalah Mekanis
Sebenarnya spekulasi ini masih bisa menjadi hulu dari spekulasi pertama. Ketika petugas ground handling tidak telaten dan teliti dalam memperbaiki dan mengecek pesawat sebelum mengudara, maka bukan tidak mungkin jika pesawat akan mengalami kecelakaan.

Spekulasi ini ditunjang dengan pernyataan pihak maskapai yang mengatakan bahwa ini merupakan kecelakaan fatal pertama yang melibatkan Ukraine International Airlines dan awak kokpit berpengalaman. Selain pihak maskapai, para pejabat Iran juga mencurigai adanya masalah teknis yang menyebabkan pesawat jatuh.

Korsleting
Sebenarnya spekulasi ini terbilang cukup ‘minim pendukung,’ namun bukan tidak mungkin jika ternyata pesawa Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Ukraine International ini mengalami korsleting yang pada akhirnya membuat pesawat terbakar dan jatuh.

Baca Juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang

Bom
Seorang mantan senior inspector di UK Air Accidents Investigation Branch (AAIB), Tony Cable mengatakan bahwa spekulasi tentang bom di dalam penerbangan berjadwal menuju Ukraina ini bisa jadi benar adanya. Menurut Tony, bom yang diledakkan di udara dapat dengan mudah menghilangkan kendali pesawat.

Ditembak
Pesawat ini dikabarkan jatuh beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan roket terhadap dua basis Amerika Serikat di Irak. Ya, jika memang spekulasi ini benar, maka tensi antara Iran dan Amerika Serikat yang belakangan ini sedang meningkat akan semakin memanas. Spekulasi terkena tembakan dari artileri pertahanan udara Iran (salah tembak) belakangan cenderung menguat.