Pramugari Emirates Bocorkan Rahasia Make Up yang Tahan Lama

Setiap naik pesawat pasti melihat penampilan pramugari yang selalu full make up dan segar meski sudah melalui perjalanan panjang dan berada di ketinggian dalam waktu berjam-jam. Padahal bagi pelacong yang berpengalaman dengan make up, hal itu mungkin bisa menjadi malapetaka.

Baca juga: Tak Perlu Make Up, Kini Pramugari Virgin Atlantic Bisa Tampil Natural

Hal ini karena kondisi kabin yang kering karena pendingin udara dan berada di ketinggian 35 ribu kaki. Meski begitu, salah satu pramugari Emirates baru-baru ini mengungkapkan bagaimana mereka selalu segar dengan make up ketika melayani penumpang di ketinggian.

Sara Silveira, pramugari Emirates asal Polandia membagikan rahasia kecantikannya tentang bagaimana dia menjaga kulit dengan riasan dan terlihat sempurna setiap saat. Dalam saluran YouTubenya, Sara mengungkapkan penggunaan make up langkah demi langkah yang dia gunakan untuk pekerjaannya.

Bahkan ada 15 produk kecantikan yang digunakan serta barang seharga $13 yang tersedia di supermarket ataupun apotek. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (25/9/2019), pertama-tama dia mengoleskan BB cream ke wajahnya dengan jari tangan dan kemudian mengoleskan concealer ke area bawah mata, dahi, di antara alis, dagu dan kedua sisi bibirnya.

Kemudian Sara menggunakan stik kontur  membentuk tulang pipi dan pelipis sebelum menggunakan spons untuk mencampur semua produk agar hasil akhir sempurna. Dengan spons yang sama, dia menggunakan bedak bubuk di sekitar bawah mata dengan kuas.

Sara melanjutkan menggunakan pensil alis dan meratakannya dengan sikat alis untuk membentuk alisnya agar terlihat alami. Melengkapi riasan untuk memperjelas tulang pipi, Ia menggunakan blush on dan bronzer.

Eye shadow di bagian mata dia menggunakan warna yang tidak terlalu mencolok dan menambahkan eyeshadow shimmer untuk memperjelas bagian mata serta di ujung mata kanan kiri bagian dalam ditambah eyeshadow berwarna nilon.

Untuk mempercantik bagian mata, Sara menambahkan eyeliner yang memperlihatkan seperti mata kucing. Lalu menambahkan taburan bedak dengan sapuan kuas diseluruh bagian wajahnya.

Untuk mempertahankan glowing wajah dengan riasan, dia menyemprotkan cairan glowing ke seluruh wajah. Setelah itu merapikan bagian rambutnya dengan digulung kemudian di jepit baik bagian kanan maupun kiri.

Baca juga: Aturan dan Etika Tata Rias Awak Kabin Masih Mengacu Ke Standar Era 60-an

Selanjutnya mengikat rambut dan membuat konde sederhana dengan bantuan jepit rambut agar lebih rapi. Akhirnya dia memasang topi pramugari khusus Emirates dan menyempurnakan riasannya dengan menambahkan maskara ke bulu mataserta lipstik di bibirnya.

Instrumen Pendaratan Terbakar Saat Landing, Penumpang Azur Air Dievakuasi

Salah satu instrumen pendaratan utama pesawat Boeing 767-300 milik maskapai asal Rusia, Azur Air dikabarkan terbakar tak berselanglama pesawat ini mendarat di Barnaul International Airport, Rusia beberapa waktu yang lalu. Insiden mengerikan ini berujung pada proses evakuasi penumpang dari dalam kabin menuju terminal – beruntung, tidak ada yang mengalami cidera serius. Namun, 20 orang dinyatakan memerlukan perawatan medis setibanya mereka di Rusia.

Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/9), roda pesawat yang menjadi salah satu instrumen pendaratan memang sejatinya dirancang untuk tahan terhadap panas akibat daya gesek antara ban dan aspal di landas pacu. Namun pada kenyataannya, percikan api yang tampak pada bawah sayap sebelah kanan berhasil membuat seisi kabin panik dan mengacaukan proses pendaratan pesawat. Beruntung, api tidak menyambar bagian sayap – tempat dimana bahan bakar pesawat berada.

Azur Air ZF-2244, yang terbang dari Nha Trang di Vietnam menuju Barnaul International Airport di Rusia pada tanggal 25 September kemarin mengangkut 331 penumpang dan 10 awak penerbang. Azur Air ZF-2244 bertolak dari Vietnam pada pukul 13.45 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Rusia pada pukul 21.05 waktu setempat, namun pesawat sempat mengalami keterlambatan ketika hendak mendarat dan baru touch down pada pukul 21.13 waktu setempat. Menurut penelusuran di lapangan, instrumen pendaratan utama sebelah kanan berada dalam kondisi terbakar setibanya pesawat di Barnaul International Airport.

Dugaan sementara, percikan api muncul akibat kondisi rem pesawat yang terlalu panas dan kemudian membakar ban. Menurut Kementerian Situasi Darurat Rusia, api baru berhasil dipadamkan pada pukul 21.40 waktu setempat. Ketika ditanya terkait insiden ini, pihak maskapai tidak menampik akan kebenaran pemberitaan yang beredar.

“Seketika mendengar situasi darurat, awak kabin langsung menjalankan evakuasi terhadap penumpang guna menjaga keamanan dan keselamatan mereka,” ujar pihak maskapai.

“Berkat tindakan yang terkoordinasi dan profesional dari awak kabin, proses evakuasi berjalan lancar,” sambungnya.

Baca Juga: Instrument Landing System Memungkinkan Pesawat Mendarat Ketika Berkabut

Dengan adanya insiden mengerikan ini, pihak maskapai mengatakan bahwa mereka akan sesegera mungkin menurunkan tim investigasi khusus yang tergabung dari perwakilan pihak maskapai, pihak produsen pesawat, regulator penerbangan, dan pihak bandara guna menemukan penyebab utama dari kebakaran instrumen pendaratan utama ini.

Temukan Tabung Oksigen Bertekanan Rendah, Dua Awak Kabin Cathay Dragon Dipecat

Setelah membebas-tugaskan ribuan pegawainya yang terlibat dalam aksi pemberontakan terhadap RUU Ekstradisi yang belakangan lalu memanas di Hong Kong, kini kabar terbaru datang dari anak perusahaan flag carrier Cathay Pacific, Cathay Dragon menyebutkan bahwa pihak maskapai memecat dua orang awak kabinnya. Bukan karena mereka berdua terlibat juga di dalam aksi massa tersebut, melainkan karena dua awak kabin ini menemukan botol oksigen ‘rusak’ di dalam kabin. Namun, ini bukanlah semata soal kerusakan tabung oksigen yang ada di dalam kabin, melainkan adanya dugaan sabotase terhadap Cathay Pacific Group.

Baca Juga: Situasi Tak Kunjung Kondusif, Cathay Pacific Tangguhkan Penjualan Tiket di Hong Kong

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aerotime.aero (24/9), pihak maskapai memberhentikan kedua awak kabin ini secara tidak terhormat tertanggal 24 September kemarin. Pemberhentian hubungan kerja ini tentu saja tidak dilakukan begitu saja, melainkan sudah ada investigasi dulu sebelumnya. Cathay Dragon mengidentifikasi bahwa satu botol oksigen di dalam pesawat Airbus A330 berada dalam kondisi tekanan rendah.

Penemuan ini sendiri terjadi manakala Airbus A330 Cathay Dragon dengan nomor penerbangan KA730 baru saja menyelesaikan penerbangan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL) menuju Bandara Internasional Hong Kong (HKG) pada Sabtu, 21 September 2019 silam.

“Kami tidak pernah menggadaikan keselamatan kru penerbang dan penumpang kami,” ujar pihak maskapai. Walhasil, tabung oksigen yang berada dalam keadaan tidak sempurna tersebut diganti sebelum pesawat terkait melanjutkan penerbangan selanjutnya.

Sebenarnya ini bukanlah yang kali pertama terjadi, mengingat dalam kurun waktu sebulan terakhir, baik Cathay Pacific maupun Cathay Dragon telah menemukan enam kasus serupa – dimana pihak maskapai menemukan satu atau bahkan beberapa tabung oksigen berada dalam tekanan rendah.

Baca Juga: Mayoritas Pilot dan Awak Kabin Dukung Aksi Protes, Cathay Pacific Tujuan Cina Daratan Terancam Lumpuh

“Semua botol oksigen yang terdampak telah dicek ulang guna menimbang kelaikkannnya dan diisi ulang semisal masih layak,” tulis Cathay Pacific Group dalam siaran pers.

“Kami telah menghubungi Hong Kong Civil Aviation Department (HKCAD) dan aparat kepolisian guna mengusut tuntas kasus semacam ini,” sambungnya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tabung-tabung oksigen ini kerap digunakan oleh awak kabin semisal pesawat mengalami depressurisasi.

Wellness Pod, Bikin Kabin Taksi 99,9 Persen Bebas dari Kuman

Ada taksi dengan fitur anti bakteri? Mungkin ini akan menjadi pertanyaan bagi Anda bagaimana sebuah taksi bisa bebas dari bakteri dan mampu membunuh kuman yang ada di dalamnya? Maklum, sebagai transportasi umum, saban hari taksi ditumpangi oleh banyak penumpang dengan kondisi kesehatan yang beragam.

Baca juga: Mampir ke Addis Ababa Jangan Lupa Berkeliling dengan Taksi Vintage

Ternyata hal di atas bukan sesuatu yang mustahil, kabin taksi atau minicab kini dapat steril atau setidaknya membunuh kuman sampai 99,9 persen.

Dilansir dari taxi-point.co.uk (21/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, Yanfeng yang merupakan spesialis dalam konsep kendaraan pintar mengklaim telah mengembangkan solusi yang mampu membunuh bakteri tersembunyi di dalam taksi. Wellness Pod merupakan solusi yang dikembangkan Yanfeng adalah perangkat anti mikroba unik dan bisa membersihkan udara interior serta permukaan kendaraan dengan sinar UV dan mengeluarkan Aroma.

Solusi tersebut menggabungkan sanitasi udara UV dan aroma non cair yang disalurkan ke konsol overhead. Wellness Pod Yanfeng diklaim dapat meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan penumpang di dalam taksi.

Konsol pod sangat mudah dioperasikan dengan kontrol aplikasi ponsel cerdas yang digunakan. Konsol terlihat ramping dengan ventilasi udara tersembunyi dapat diintegrasikan ke interior kabin.

“Kami telah mengembangkan Wellness Pod untuk memberi penumpang pengalaman perjalanan paling nyaman dengan mempertimbangkan semua hal,” jelas Han Hendriks, Kepala Staf Teknologi di Yanfeng Technology.

Dia mengatakan, kebanyakan orang sangat peduli tentang kebersihan mobil mereka sendiri atau bersama, dan orang-orang peduli tentang interior kabin yang sehat dan menarik ketika memulai perjalanan mereka.

“Wellness Pod memenuhi permintaan ini dengan fungsionalitas kebersihan yang tak tertandingi dan pilihan konsumen. Tetapi juga sama pentingnya bagi perusahaan layanan mobilitas bersama karena interior yang bersih dan segar mendorong kepuasan pelanggan dan kendaraan, keduanya sangat penting untuk model bisnis ini,” tambahnya.

Cara kerja pembersih UV ini menggunakan sinar UV-C yang menghancurkan bakteri permukaan dan virus. Sirkulasi udara didasarkan pada aliran udara AC yang dialihkan. Perusahaan mengklaim permukaan yang terpapar secara langsung mengalami pengurangan bakteri hingga 99,9 persen melalui pembersih permukaan UV, sementara permukaan tidak langsung pun menunjukkan pengurangan sebesar 95 persen.

Baca juga: Dubai Kian ‘Cerdas,’ Hadirkan Layanan WiFi Gratis di Taksi dengan Portal Khusus Penumpang

Mode cepat-bersih antar wahana memastikan kebersihan berkesinambungan pada zona dengan sentuh tinggi untuk pengemudi taksi. Proses pembersihan udara di dalam kabin membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan diterapkan ketika taksi tidak ditumpangi. Saat saat ini belum ada informasi terkait harga Wellness Pod.

Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka

Pasar transportasi online di Indonesia semakin meluas dan ini terlihat kehadiran beberapa pendatang baru pesaing GoJek dan Grab. Pesaing baru ini sendiri besutan anak bangsa seperti GoJek yakni Anterin.

Baca juga: Aplikasi Ride Hailing Kedatangan Pemain Baru, Anterin dan BitCar

Perusahaan ini berdiri tahun 2016 di Jakarta oleh Imron Hamzzah dan Rachmat Efendi. Aplikasi Anterin merupakan aplikasi transportasi pertama di dunia yang menggunakan metode lelang harga. Dikutip KabarPenumpang.com dari cnbcindonesia.com (24/9/2019), Imron CEO Anterin mengatakan, pihaknya akan memperkuat basis di luar Jabodetabek dan memperkuat layanannya di pengantaran makanan serta logistik yang belum dirilis.

“Dua aplikasi yang sudah hadir, kami tidak bisa mengikuti mereka. Kami ambil pasar yang beda dengan bisnis model yang berbeda pula. Selain itu, Anterin juga akan berkolaborasi dengan semua mitra di kota-kota besar, dengan mengangkat kearifan lokal. Kami hadir dalam konsep marketplace saat melihat driver ini tidak punya pilihan,” kata dia.

Model bisnis yang berbeda pun menurut dia bisa membuat mitra pengemudi mandiri, dan bisa menentukan pilihan sendiri. Selain itu, pihak Anterin pun tidak mengambil komisi, karena model langganan Rp150 ribu per bulan. Biasanya, mitra pengemudi mengambil paket langganan satu bulan melalui e-token milik Anterin.

“Jadi 100 persen punya mereka, dan bisa atur sendiri targetnya. Di sela pagi sore mereka bisa beraktivitas yang lain,” kata Imron.

Selain itu, tidak seperti dua pendahulunya, Anterin tidak gencar dalam mengejar valuasi. Menurut dia untuk bertahan pihaknya akan lebih mengembangkan aplikasi, mempelajari pasar untuk penambahan

Anterin menyediakan jasa angkutan ojek motor, menyediakan jasa angkutan ojek motor, transportasi mobil, on-demand kurir serta truk. Bahkan pengguna bisa bebas memilih driver berdasarkan kriteria dan selera pengguna baik itu dari harga, jenis kendaraan, penulaian pengguna atau jenis kelamin (pria/wanita).

Sama dengan aplikasi transportasi online lainnya, Anterin menyediakan beberapa cara pembayaran seperti tunai atau kartu kredit. Tak hanya itu, Anterin pun selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan selalu meningkatkan standar keamanan serta kenyamanan kepada pelanggan dari waktu ke waktu.

Cara menggunakan aplikasi Anterin pun mudah, setelah registrasi, untuk mencari pengemudi, pengguna memasukkan titik penjemputan dan pengantaran seperti biasa. Nanti aplikasi akan mengestimasi tarif layanan untuk pengguna.

Kemudian, setelah itu mengklik tombol mencari pengemudi dan Anterin akan mencarikan disekitar pengguna. Setelah dapat pengemudi, pengguna bebas menentukan pengemudi yang terbaik.

Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu

Layanan Anterin saat ini baru tersedia di beberapa kota besar di Indonesia diantaranya seperti Jabodetabek, Bandung, dan Yogyakarta. Aplikasi Anterin dapat diunduh di Google Play untuk smartphone Android. Pengemudi Anterin menggunakan jaket berwarna biru dengan logo jalanan berbentuk segitiga dasar putih dengan garis putus-putus di bagian tengahnya yang menggantikan huruf A.

Mulai 27 September 2019, Garuda Indonesia Buka Rute Manada-Davao

Menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas 70 penumpang (all economy class), mulai Jumat, 27 September 2019, Garuda Indonesia akan melayani rute baru, Manado-Davao di Filipina Selatan. Rute baru ini akan dilayani 2 kali per minggu, yakni pada hari Senin dan Jumat.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan bahwa layanan penerbangan Manado – Davao tersebut merupakan bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk menghadirkan konektivitas tanpa batas (seamless connectivity) kepada para pengguna jasa menuju Filipina melalui layanan penerbangan pertama (regular flight) yang menghubungkan Manado dengan Davao.

Dalam keterangan resmi (25/9), Ari menjelaskan, “Pengoperasian rute ini juga kami harapkan dapat menunjang pengembangan kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan maupun kegiatan pariwisata di wilayah regional antara Davao sebagai salah satu pusat bisnis di selatan Filipina dengan berbagai wilayah di provinsi Sulawesi Utara”.

“Kami tentunya berharap bahwa penerbangan langsung ini juga akan menjadi momentum penting bagi kedua negara khususnya dalam memperkuat sektor perdagangan dan investasi, serta perluasan akses konektivitas udara antara Indonesia dan Filipina”, papar Ari.

“Dengan jumlah kunjungan wisatawan ke Davao yang diperkirakan mencapai 2,3 juta orang sepanjang tahun 2018 dapat menjadi peluang tersendiri bagi pengembangan potensi kepariwisataan di Manado, khususnya dengan adanya akses penerbangan langsung dari Davao menuju Manado ini yang diharapkan dapat menarik wisatawan di Davao untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata unggulan di Manado”, tutup Ari.

Baca juga: Lion Air Group (Wings Air) Bersiap Terima ATR-72 600 Ke-80

Penerbangan Manado–Davao akan beroperasi dengan nomor penerbangan GA 7401 yang berangkat dari Bandara Internasional Sam Ratulangi pada pukul 10.30 WITA. Sedangkan penerbangan Davao–Manado akan beroperasi dengan nomor penerbangan GA 7402 yang berangkat dari Bandara Internasional Francisco Bangoy pada pukul 13.15 (local time).

Buntut Pencabutan Logo “Garuda Indonesia,” Sriwijaya Air Group Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Dunia dirgantara nasional kembali ramai, kali ini terkait ‘perselisihan’ antara Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air, persisnya Garuda Indonesia Group telah memutuskan pencabutan logo “Garuda Indonesia” pada armada Sriwijaya Air. Hal ini terjadi sebagai buntut dari kasus sengketa kerja sama manajemen (KSM) antara group maskapai plat merah merah itu dengan Sriwijaya Air Group.

Baca juga: Ada Logo Garuda Indonesia di Sriwijaya Air, Gabung Seutuhnya Atau Tetap KSO?

“Pencabutan logo Garuda Indonesia pada armada Sriwijaya Air merupakan upaya dalam menjaga brand Garuda Indonesia Group, khususnya mempertimbangkan konsistensi layanan Sriwijaya Air Group yang tidak sejalan dengan standardisasi layanan Garuda Indonesia Group sejak adanya dispute (sengketa) KSM tersebut,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan dalam keterangan resmi (25/9).

Meski tak disebutkan terkait dengan kasus di atas, pihak Sriwjaya Air Group lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tertanggal 24 September 2019 telah memutuskan pergantian susunan direksi dan komisaris definif. Seperti dikutip dari Surat Pemberitahuan yang diberikan PT Sriwjaya Air Group, susunan tersebut adalah:

Dewan Direkur Definif PT Sriwijaya Air:
– Direktur Utama: Robert Daniel Waloni
– Direktur Komersial: Rifai
– Direktur Keuangan: Amrulloh Hakiem
– Direktur Operasional: Fadjar Semiarto
– Direktur Teknik: Romdhani
– Direktur Kualitas, Keselamatan dan Keamanan: Toto Soebandoro
– Direktur Legal dan SDM: Anthony Raimond Tampubolon

Baca juga: Horee! Garuda Indonesia, Citilink dan Sriwijaya Air Turunkan Harga Tiket 20 Persen di Semua Rute

Dewan Komisaris Definif PT Sriwijaya Air:
– Komisaris Utama: Jusuf Manggabarani
– Wakil Komisaris Utama: Lie Chandra
– Komisaris: Hendiri Lie
– Komisaris: Sonia Xevianne Bongoro
– Komisaris: Jefferson Irwin Jauwena

Ditjen Perhubungan Udara: “Maskapai Asing Jangan Hanya Mengambil Rute Gemuk Saja”

Bicara tentang harga tiket pesawat yang kini tengah melambung, agaknya tidak akan pernah ada habisnya. Kepentingan pihak maskapai untuk melayani penumpang dan mendapatkan laba terbaik agaknya berbanding terbalik dengan harga tiket murah yang diharapkan oleh penumpang. Beberapa waktu ke belakang, Presiden Joko Widodo pernah meluncurkan pernyataan yang akan memasukkan maskapai asing guna men-stabilkan harga tiket yang sudah kadung ‘mengudara’. Namun, apakah ini merupakan jalan keluar terbaik?

Baca Juga: ‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!

Menurut Direktur Angkutan Udara Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Maria Kristie Endah, masuknya maskapai asing ke layanan domestik Indonesia seyogyanya bukanlah hal baru lagi, mengingat ada nama AirAsia yang kini sudah hilir mudik di langit Tanah Air. Ya, AirAsia sendiri merupakan maskapai asal Malaysia yang juga turut bermain di sektor penerbangan domestik Indonesia.

Namun, kekhawatiran masyarakat terkait ujaran Presiden tersebut kini sudah mulai terang. Maria Kristie yang ditemui pada acara Polemics and Prospects of the Aviation Industry: Airfares, Competition, and Efficiency mengatakan, “Jika maskapai asing ingin mengoperasikan penerbangan domestik, maka mereka tidak boleh mengambil rute gemuk saja,”

Rute gemuk merupakan rute penerbangan dengan presentase okupansi atau daya angkut yang tinggi – seperti menuju Bali, Surabaya, dan Jakarta. Di Indonesia sendiri, lanjut Maria, ada sekitar 15 rute gemuk yang selalu ramai diterbangi penumpang.

Tidak hanya soal rute gemuk, Maria juga menyinggung soal penurunan kapasitas penerbangan dari Manado menuju Miangas – pulau paling utara yang ada di perbatasan Indonesia dan Filipina. Menurut catatannya, penerbangan menuju Miangas yang selalu dibanggakan oleh Presiden Joko Widodo ini nasibnya juga malang. Dari awal dibuka, rute penerbangan menuju Miangas tercatat ada tujuh kali penerbangan dalam seminggu – namun kini hanya sekali dalam sepekan.

“Penumpangnya juga ASN (Aparatur Sipil Negara) dan tentara saja,” tukas Maria.

Kendati menghadapi tantangan yang tidak mudah, namun Pemerintah berjanji untuk terus menjembatani antara dua kepentingan yang bertolak belakang ini.

Terakhir, Maria juga menyinggung soal poin paling penting yang menyebabkan industri kedirgantaraan domestik semakin terpuruk, yaitu soal nilai tukar rupiah. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, hampir semua biaya yang berkaitan dengan penerbangan ini menggunakan mata uang dollar, sedangkan pendapatan yang diterima oleh maskapai menggunakan mata uang rupiah.

Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Argumen Maria tadi diamini oleh Head of Research Indonesia National Air Carrier (INACA), Wismono Nitidihardjo.

“Pengeluaran dalam bentuk dollar, pendapatan dalam bentuk rupiah. Ini sedikit banyaknya membuat revenue yang diterima oleh pihak maskapai menjadi kecil,” jelasnya.

“Jadi, diharapkan dengan adanya forum diskusi seperti ini bisa mengedukasi masyarakat bahwa tingginya harga tiket pesawat tidak hanya didasari oleh maskapai yang ingin dapat untung besar – melainkan betapa kompleksnya penghitungan harga jual tiket pesawat.” tutup Wismono pada kesempatan yang sama.

Bottomline-nya adalah, kompleksitas penentuan harga tiket pesawat merupakan suatu proses yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat di luar sana. Banyak sekali pertimbangan yang harus dihitung pihak maskapai agar mereka tidak merugi – kendati mendapatkan laba yang minim.

Revolusioner! Tempat Makan di Pesawat Terbuat dari Bahan Alami dan Bisa Dimakan

Mengganti peralatan makan di dalam kabin pesawat dengan bahan yang bisa didaur ulang atau bahkan bisa dimakan ternyata bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan, apalagi dengan adanya barang-barang baru ini bisa mengurangi limbah plastik yang dihasilkan dari setiap penerbangan.

Baca juga: Solusi Ramah Lingkungan, Mulai 1 Agutus Kargo Garuda Indonesia Gunakan Kemasaan dari Bahan Daur Ulan

Pasalnya diperkirakan 5,7 juta ton limbah kabin termasuk plastik sekali pakai, earphone dan limbah makanan dihasilkan oleh penerbangan penumpang setiap tahun. Hal ini kemudian membuat studio desain PriestmanGoode mengembangkan produk yang ramah lingkungan yang bisa dimakan atau di daur ulang.

(telegraph.co.uk)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (17/9/2019), PriestmanGoode mengembangkan nampan yang terbuat dari ampas kopi bekas, penutup lauk yang terbuat dari ganggang atau daun pisang dan sendok garpu dari kayu kelapa. Dalam pengembangannya, mereka mengatakan tengah berdiskusi dengan perusahaan penerbangan dan perusahaan kereta api.

Hal ini agar “dream (mimpi)” untuk mengubah konsep mereka menjadi kenyataan di seluruh industri. Baki atau nampan tersebut merupakan bagian dari pameran baru di London Design Museum yang berjudul “Get Onboard: Reduce” yang mana untuk mengajarkan penggunaan kembali dan berpikir kembali. Pameran ini sendiri akan dibuka hingga Februari 2020.

Dalam pameran tersebut juga memperlihatkan bagaimana desain dapat ditata kembali menggunakan bahan-bahan inovatif untuk mengatasi limbah dalam industri perjalanan dan mendorong pelancong untuk memikirkan kembali kebiasaan mereka. Tak hanya nampan, PriestmanGoode juga mengembangkan termos air yang terbuat dari gabus dan bioplastik kompos.

Botol daur ulang (telegraph.co.uk)

Botol ini dapat digunakan kembali dan cocok berada di saku depan kursi kabin. Ini dimaksudkan untuk penggunaan berulang tetapi dalam jangka pendek seperti liburan. Adanya botol ini pun untuk membantu menghilangkan jutaan botol plastik yang dijual di bandara setiap tahun.

Seperti jika penumpang di Bandara Heathrow meninggalkan ruang tunggu, mereka bisa mengisi ulang botol dari air mancur dibandingkan membeli botol plastik. Dengan hal ini bandara mengatakan dapat mengurangi konsumsi botol plastik sebesar 35 juta per tahun.

Baca juga: Stasiun di Melbourne Uji Penggunaan Duratrack, Bantalan Rel dari Bahan Plastik Daur Ulang

“Ada banyak diskusi di ruang publik tentang industri lain, di jalan raya, pompa bensin, tetapi tidak ada yang benar-benar telah dibicarakan tentang membuat orang mempertanyakan cara mereka bepergian. Itu bukan sesuatu yang sering kita dengar,” kata Jo Rowan, associate director strategy di PriestmanGoode.

Terkait nampan yang akan hadir dalam penerbangan, Rowan mengatakan ini akan luar biasa untuk menciptakan traksi dan diubah menjadi kenyataan.

Budi Karya: “Soal Tiket, Kemenhub Terus Jembatani Kepentingan Maskapai dan Penumpang”

Industri penerbangan dalam negeri belakangan ini memang kerap menuai komentar miring dari warga – terutama terkait tingginya harga tiket yang dijual. Mulai dari tingginya harga avtur hingga isu tentang duopoli yang dilakukan oleh dua penguasa pasar, Garuda Indonesia dan Lion Air tak pelak menjadi dalih dari melambungnya harga tiket tersebut. Seperti yang tertuang dalam rumus ekonomi, “harga akan turun apabila permintaan naik, pun sebaliknya”, sektor penerbangan penumpang domestik dewasa ini tengah lesu-lesunya, dimana permintaan perlahan menurun seiring meningkatnya harga tiket yang tawarkan.

Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Ini merupakan polemik yang tengah hangat diperbincangkan oleh sejumlah lapisan masyarakat, mulai dari Pemerintah sebagai regulator hingga pihak maskapai sebagai pemain inti di dalamnya. Dalam acara yang bertajuk Polemics and Prospects or the Aviation Industry: Airfares, Competition, and Efficiency, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa pihaknya bersama stakeholders terkait bakal menghadirkan beberapa inisiatif yang berkenaan dengan kebijakan fiskal.

“Karena dengan hadirnya inisiatif ini sedikit banyaknya akan berdampak pada harga jual tiket di pasar,” tutur Menhub Budi kepada KabarPenumpang.com, Rabu (25/9).

Sembari menunggu hadirnya inisiatif tersebut, lanjut Menhub Budi, masyarakat juga seyogyanya harus teredukasi secara tepat agar tidak terjadi missleading dalam urusan tingginya bea naik pesawat ini.

“Kami ingin sekali maskapai-maskapai ini sustain (berkelanjutan), maka dari itu kami dari Kementerian Perhubungan konsisten untuk mencarikan jalan keluar dari masalah yang terlihat bertolak belakang ini (tingginya harga tiket dan kepentingan agar maskapai bisa sustain),” sambungnya.

Menhub Budi mengatakan bahwa penerbangan di Indonesia merupakan salah satu cara untuk menyatukan beragam titik yang ada di Nusantara – bahkan untuk yang terluar dan terjauh sekalipun. Wajar adanya jika semua pemangku kepentingan memutar otak agar dapat menjembatani antara permintaan pasar yang mewakili kepentingan rakyat dan keberlangsungan industri penerbangan domestik sendiri.

Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

“Salah satu caranya adalah kami sudah meminta kepada pihak maskapai untuk mengadakan diskon di hari-hari yang okupansinya sepi, semisal hari Selasa dan Kamis. Ini diharapkan bisa menjadi jembatan bagi kedua belah pihak,” lanjut Budi.