Dinaiki Dua Pria Muslim, American Airlines Batal Mengudara!

Pernahkah Anda membayangkan berada dalam posisi yang dikucilkan atau bahkan menjadi objek dari isu SARA? Tentu saja perasaan ini sangatlah mengiris hati dan akan terus terkenang walaupun sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Tapi kejadian seperti inilah yang menimpa dua penumpang American Airlines, dimana mereka dikabarkan telah mengalami tindak rasisme – bahkan sampai-sampai penerbangan yang ditumpangi oleh kedua penumpang ini dibatalkan. Duh!

Baca Juga: Lontarkan Ujaran Berbau Rasisme, Penumpang British Airways Dipecat dari Pekerjaannya!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (20/9), adalah Abderraoof Alkhawaldeh dan Issam Abdallah, dua penumpang maskapai American Airlines yang mendapat tuduhan berbau SARA dari awak kabin lantaran keduanya memeluk agama Islam dan berkebangsaan Timur Tengah. Kejadian yang terjadi 14 September ini menimpa Abderraoof dan Issam ketika mereka berdua hendak bertolak dari Birmingham menuju Dallas, Texas. Sebenarnya kedua penumpang ini bepergian secara terpisah, namun tidak sengaja bertemu di dalam penerbangan tersebut.

Kejadian ini berawal ketika Issam bertolak menuju kamar mandi setelah mendengar pengumuman terkait keterlambatan pemberangkatan karena masalah maintenance. Ketika keluar dari kamar mandi, Issam terkejut dengan kehadiran seorang awak kabin yang kedapatan tengah menguping di depan pintu toilet. Namun Issam tidak terlalu menanggapi kejadian tersebut dan kembali ke bangkunya.

Sekembalinya Issam ke bangku, alangkah terkejutnya Ia ketika mendengar penerbangan dibatalkan dan penumpang dipersilakan meninggalkan pesawat. Seketika pengumuman itu tersiar di dalam kabin, tampak dua petugas keamanan bandara menghampiri Issam dan Abderraoof secara terpisah dan mulai ‘menginterogasi’ mereka berdua. Tidak ada yang mencurigakan dari interogasi tersebut, hingga pada saat mereka berdua menunggu di sebuah kedai kopi, keduanya merasa diawasi oleh orang yang tadi menginterogasinya di dalam kabin.

“Bisa dibilang, mereka mengikuti kemanapun kami pergi,” jelas Issam.

Sejurus sesaat, Issam dihampiri oleh seorang petugas keamanan yang mengaku sebagai agen FBI dan memintanya untuk memisahkan diri dari Abderraoof. Di situlah ia baru menyadari bahwa pembatalan penerbangan tersebut dikarenakan pihak maskapai merasa tidak nyaman jika terbang bersama mereka.

Di situ Issam benar-benar merasa seperti penjahat dan terintimidasi.

“Saya merasa mereka mendiskriminasi etnisitas saya, terhadap agama saya – saya tidak berharap ada manusia yang mengalami pengalaman buruk ini,” katanya.

Setelah melewati beberapa sesi tanya jawab, akhirnya mereka berdua diijinkan untuk kembali melanjutkan penerbangan mereka.

Baca Juga: Terdesak Isu Rasisme, Wanita Ini ‘Terpaksa’ Tarik Tombol Darurat di Kereta Bawah Tanah

Menanggapi kasus ini, pihak American Airlines berdalih mengutamakan keselamatan penumpang dan lebih memilih untuk tidak melanjutkan penerbangan apabila ada sesuatu yang mencurigakan.

“Keselamatan penerbangan merupakan prioritas kami, dan kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami pun sudah menghubungi Abderraoof Alkhawaldeh dan Issam Abdallah secara langsung guna menjelaskan apa yang terjadi,” tulis pihak maskapai dalam sebuah keterangan tertulis.

Gunakan CatIIIB, Bandara Perth dan Melbourne Jadi yang Paling Siap Hadapi Kabut Tebal

Di Indonesia, hampir setiap tahun mengalami kabut asap di beberapa daerahnya. Ini membuat banyak jadwal penerbangan harus ditunda ataupun tidak diberangkatkan. Sebab kabut asap bisa mengganggu jarak pandang pilot dan menyulitkan untuk pendaratan maupun lepas landas.

Baca juga: Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien

Sehingga untuk penerbangan bisa dilanjutkan mau tak mau menunggu langit cerah. Hal tersebut tak hanya membuat penerbangan ditunda tetapi memberikan dampak kerugian dan kekacauan di bandara lainnya. Tetapi di Australia dua bandara internasionalnya yakni Perth dan Melbourne mampu menerima pesawat yang akan lepas landas atau mendarat dalam kabut yang tebal.

Transmissometers (www.abc.net.au)

Sebab keduanya memiliki persiapan yang ekstra dan membuat pesawat bisa mendarat. KabarPenumpang.com melansir laman abc.net.au, kedua bandara internasional di Australia tersebut telah dilengkapi dengan sertifikat CatIIIB yang mana memiliki sistem teknologi tinggi untuk memungkinkan pilot mendarat bahkan ketika visibilitas turun hingga hanya 75 persen.

Nah, apakah yang dimaksud dengan sistem CatIIIB itu? Ternyata ini sistem berbasis darat yang menggunakan sinyal radio, pencahayaan yang kuat dan detektor kabut untuk memandu pesawat melaju landasan pacu. Berikut ini ada beberapa alat yang digunakan untuk sistem CatIIIB.

Antena
Akan ada dua antena yang mana salah satunya ada di setiap ujung landasan. Antena ini akan mengirim sinyal ke pilot pesawat untuk memberitahukan berbaris ke landasan. Menara petugas jalur dan localiser bekerja sama untuk memberikan informasi vertikal dan horizontal yang dikenal sebagai sistem pendaratan instrumen.

(www.abc.net.au)

Penerangan
Sekitar delapan ribu lampu dipasang di landasan pacu yang dinyalakan untuk memandu pilot ke posisi yang tepat. Di Bandara Melbourne, empat generator dinyalakan dalam jarak pandang rendah untuk memberi daya pada lampu dengan daya utama disediakan cadangan.

Transmissometers
Merupakan sensor yang tersebar di sekitar lapangan terbang untuk mengukur visibilitas atau runway visual range. Di Melbourne ada senam set sensor di landasan.

Selain sistem CatIIIB, petugas darat yakni lima karyawan Airservice Australia yang berada di menara kontrol Bandara Melbourne menggunakan radar darat untuk memastikan landasan pacu bersih. Salah satu tugas terpenting adalah menjaga area pendaratan jauh dari kendaraan dan pesawat lainnya.

Sebab pengemudi dan pilot yang terlalu dekat dengan antena bisa mengganggu instrument landing system. Shift Supervisor Peter McMillan mengatakan, pesawat bisa hilang dari radar udara ketika berada dalam kabut tebal.

“Kami melihat mereka di radar darat dan mereka terlihat berada pada kecepatan pendaratan. Kita akan mendengar pendorong terbalik itu pertanda baik, dan sebelum kita memiliki radar darat di menara tua itu bagaimana kita akan tahu apakah mereka mendarat,” kata Peter.

Meski sudah dilengkapi dengan CatIIIB, Melbourne dan Perth masih juga melakukan penundaan ketika kabut. Hal ini karena keduanya masing-masing hanya memiliki dua landasan pacu dan hanya satu yang bersertifikat CatIIIB.

Bahkan Perth baru mendapatkan sertifikat itu pada Mei kemarin dan tidak semua pilot dilatih dan pesawat bersertifikat menggunakan sistem tersebut. Peter mengatakan, pesawat yang mendekat juga terpaksa melambat untuk memberi waktu pesawat lain untuk lepas landas.

Tak hanya itu, pertanyaan kenapa bandara lain tak memiliki sertifikat CatIIIB pun sering ada. Salah satu jawabannya adalah biaya dan dua bandara ini rata-rata terkena kabut tebal 15 hari dalam setahun.

Diketahui, penumpang yang akan melalui bandara diperkirakan akan meningkat menjadi 70 juta per tahun pada 2038 medatang. Manajemen berencana untuk membangun landasan pacu ketiga untuk memenuhi peningkatan lalu lintass.

Manajer lapangan terbang Luc Ramalinga mengatakan manajemen ingin memasang peralatan yang diperlukan di ketiga landasan pacu untuk memungkinkan sertifikasi CatIIIB.

Baca juga: Terkait Kabut Asap, Inilah Tiga Pedoman Bagi Pilot untuk Tetap atau Batal Terbang

“Bandara Melbourne adalah bandara 24/7 yang paling sibuk di Australia. Itu berarti lebih sedikit penundaan dan kemampuan untuk keluar dari Melbourne lebih cepat,” katanya.

Bandara masih membutuhkan persetujuan dari Pemerintah Federal untuk landasan pacu ketiga. Diharapkan konstruksi dapat dimulai antara 2019 dan 2021.

Kurangi Frekuensi Penerbangan Brussels-Amsterdam, KLM Bakal Berdayakan Kereta Cepat Thalys

Mungkin pemberitaan yang satu ini bisa dibilang cukup unik, mengingat apa yang kita ketahui selama ini adalah moda udara dan kereta selalu adu canggih dalam mengembangkan teknologinya. Kemampuan kereta cepat yang digadang-gadang mampu menyaingi efisiensi moda udara beberapa kali dikaitkan dengan ‘runtuhnya’ era perjalanan via udara di masa yang akan datang dan beralih menggunakan kereta cepat. Tapi, apa jadinya jika salah satu maskapai kenamaan dunia malah banting setir ke moda berbasis rel ini? Cukup mengejutkan, bukan?

Baca Juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!

Adalah KLM Royal Dutch Airlines, yang kabarnya akan menggantikan salah satu dari lima rute penerbangan berjadwal yang menghubungkan Brussels dan Amsterdam Schiphol dengan menggunakan kereta cepat Thalys. Adapun rencana ini diharapkan dapat terlaksana tertanggal 29 Maret 2020 mendatang.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (17/9), inisiatif ini merupakan salah satu tindakan langsung yang diambil pihak maskapai guna menurunkan intensitas penerbangan antara Brussels dan Amsterdam – dimana KLM Royal Dutch Airlines dapat mengalokasikan slot penerbangan tersebut ke penerbangan jarak jauh.

Menanggapi rencananya yang sudah kadung tersebar luas ini, pihak flag carrier Belanda menyebutkan peralihan perjalanan penumpang dari moda udara ke kereta cepat ini sudah dipertimbangkan matang-matang dan sepenuhnya sudah sesuai dengan standar kecepatan, keandalan, dan kenyamanan yang ditawarkan oleh perjalanan udara.

“Transportasi antar moda yang melibatkan kereta api dan pesawat tetap menjadi bisnis yang kompleks dan menantang,” ungkap Presiden & CEO dari KLM Royal Dutch Airlines, Pieter Elbers.

Di sini, Pieter menganggap kecepatan dalam melayani penumpang merupakan kartu as yang akan mempengaruhi transfer antar moda, dimana jika waktu tempuh kereta cepat dari Brussels menuju Amsterdam ternyata lebih lambat ketimbang pesawat, maka bisa dibilang program transfer antar moda ini gagal. Namun sebaliknya, jika waktu tempuh ternyata sama atau bahkan lebih cepat, maka dapat dikatakan berhasil.

Baca Juga: KLM Gandeng TU Delft Kembangkan Pesawat Hemat Energi “Flying-V”

“Kami bertujuan untuk memaksimalkan kedua sektor transportasi ini. Selain itu, mengurangi frekuensi penerbangan (dari Brussels menuju Amsterdam) dari lima menjadi empat penerbangan dalam sehari juga akan memberikan pengalaman luar biasa dalam layanan Air&Rail,” sambungnya.

Klaim Maskapai “Bintang Lima,” Ternyata Ada Kotoran di Kursi dan Meja Penumpang Hainan Airlines

Sebuah kabin pesawat yang penuh dengan kuman baik di kursi, meja hingga toilet sudah pasti dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan. Tapi bagaimana bila itu ditambah lagi dengan sampah penumpang yang tidak dibersihkan oleh petugas kebersihan kabin?

Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya

Ini mungkin bisa menambah masalah baru dan memperlihatkan bahwa awak kabin maskapai tersebut tidak profesional dalam bekerja. Hal ini baru saja dirasakan seorang penumpang yang berangkat dari Dublin ke Edinburgh di Skotlandia.

Dilansir KabarPenumpang.com dari edinburghlive.co.uk (23/9/2019), Paul Lucas yang naik Hainan Airlines pesawat Boeing 787 memviralkan apa yang dilihat dan direkamnya ke media sosial. Dalam penerbangan menuju ke Edinburgh tersebut, Paul menemukan noda kopi dan sisa makanan di sekitar kursinya.

Video yang diunggah ke akun YouTube tersebut menunjukkan salah satu sudut mengerikan dari penerbangan. Paul merekam ketika mengangkat bantal dari kursinya dan terlihat noda yang menjijikan.

Kemudian dia menunjukkan remah makanan dan noda kopi disekitar kursinya bersamaan dengan sendok garpu bekas serta tutup botol. Ketika dirinya membuka meja di depan kursi terlihat ada tumpahan makanan di atasnya.

“Pesawat ini memiliki waktu lebih dari dua jam di Dublin. Tetapi tampaknya jelas bahwa pesawat ini tidak dibersihkan dengan benar dalam beberapa minggu dan tingkat sejumlah kotoroan di dinding samping,” katanya.

Dia mengatakan, situasi ini memalukan padahal Skytrax memberikan penghargaan bintang lima untuk kebersihan Hainan Airlines. Apalagi sampah ini bukan sesuatu yang bisa ditoleransi oleh maskapai yang memasarkan dirinya sebagai bintang lima.

Setelah kursi, dirinya kemudian pindah ke toilet dan mendapati semua baik. Meski kesal dengan kotornya kursi, Paul memberi pujian pada maskapai ini karena berangkat tepat waktu dan memberikan headphone gratis selama penerbangan. Video itu ditonton lebih dari 68 ribu kali dengan beberapa orang mengkritik maskapai karena tidak membersihkan dengan benar.

Baca juga: Punya Budaya Kebersihan yang Kuat, ANA Sabet Predikat Maskapai dengan Kabin Terbersih

“Kebersihannya memang mengerikan. Sangat menjijikkan! ”Komentar seorang pengguna.

 

Dituduh Promosi Ilegal, Airbus Diperkarakan Eks Pilot AS

Seorang eks pilot dan pimpinan militer Amerika Serikat, Chuck Yeager angkat bicara setelah dirinya mengklaim Airbus telah menggunakan nama dan fotonya secara ilegal. Penggunaan nama dan foto Yeager ini disinyalir merupakan bagian dalam promosi helikopter terbaru milik Airbus. Jika pihak manufaktur pesawat menggelontorkan bayaran kepada Yeager, mungkin hal ini tidak akan menjadi pemberitaan – namun ini tidak dan malah menyulut emosi dari Yeager.

Baca Juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman avweb.com (23/9), Yeager menduga Airbus telah menggunakan identitasnya sebagai bagian dari upaya promosi helikopter terbarunya pada tahun 2017 silam.

“Tujuh puluh tahun yang lalu, Chuck Yeager memecahkan sound barrier,” kata Guillaume Faury, CEO dari Airbus Helicopters.

“Kini kami tengah berusaha untuk memecahkan cost barrier. Tidak boleh ada istilah ‘kecepatan dengan biaya berapa pun’,” sambungnya.

Kurang lebih itulah yang dicantumkan pihak Airbus ketika mempromosikan helikopternya – dan tanpa sepengetahuan dari Yeager. Otomatis, ini tidak sejalan dengan kode etik promosi. Minggu lalu, Yeager yang didampingi oleh pengacaranya melayangkan gugatan ke pengadilan federal terkait promosi ilegal yang dilakukan oleh Airbus.

“Dengan menggunakan nama dan identitas Yeager secara ilegal, maka Airbus dituduh telah menghalangi jalur masuknya penghasilan Yeager yang cukup potensial (royalti),” tulis kuasa hukum Yeager.

Pada kesempatan sebelumnya, Yeager juga sudah menyambangi pihak Airbus pada tahun 2008 silam dan mengatakan bahwa royalti yang harus dibayarkan Airbus jika menggunakan identitas Yeager dalam sebuah promosi adalah senilai US$1 juta atau yang setara dengan Rp14,1 miliar. Namun kala itu, Airbus menolak tawaran tersebut.

Baca Juga: Dianggap Ilegal, Pengemudi Uber di Hong Kong Harus Bayar Denda Rp5,3 Juta

Gugatan Yeager ini menuduh Airbus telah menggunakan rekaman kunjungan Yeager sebagai salah satu materi dalam promosi tersebut – kendati gugatan itu tidak mencantumkan kapan dan bagaimana cara Airbus mengambil rekaman tersebut.

Walaupun mencantumkan nama Yeager di dalam promosinya, namun pria berusia 96 tahun ini bersikukuh bahwa dirinya tidak menerima royalti sama sekali dan tidak mendukung program helikopter rakitan Airbus.

Gara-Gara Jetlag Jadi Susah BAB

Jetlag merupakan gangguan sementara yang menyebabkan kelelahan, insomnia dan gejala lainnya sebagai akibat dari perjalanan udara melintasi berbagi zona waktu. Lalu, apakah kesulitan buang air besar atau BAB juga bisa disebabkan karena jet lag ini?

Baca juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar

Nah, ternyata benar adanya bila jetlag bisa membuat pelancong sulit BAB ketika berada di tempat baru seperti luar negeri. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, sulitnya BAB karena adanya perubahan jam biologis tubuh.

Sebab tubuh manusia memiliki semacam jam biologis yang mengikuti siklus 24 jam yang disebut ritme sirkadian. Di mana sebagian kecil otak yang disebut hipotalamus bertindak seperti jam alarm untuk mengaktifkan berbagai fungsi tubuh seperti rasa lapar, haus dan tidur.

Ini juga mengatur suhu tubuh, tekanan darah dan tingkat hormon serta glukosa dalam aliran darah. Untuk membantu tubuh mengetahui waktu, serat-serat di saraf optik mata mentrasnsmisikan persepsi cahaya dan kegelapan ke pusat ketepatan waktu di dalam hipotalamus.

Jadi, ketika mata seorang pelancong udara merasakan fajar atau senja berjam-jam lebih awal atau lebih lambat dari biasanya, hipotalamus dapat memicu aktivitas pada bagian tubuh lainnya yang belum siap maka terjadilah jet lag ini. Sehingga terjadilah masalah pada pelancong yang harusnya dalam waktu tidur tetapi terjaga sehingga proses BAB ikut menjadi terganggu.

Sulitnya BAB karena jetlag juga bisa disebabkan adanya perubahan gerakan usus. Hal ini bisa mengakibatkan rasa tidak tuntas ketika BAB dan bila dibiarkan masalah sembelit dapat mengakibatkan pendarahan pada anus dan luka pada anus serta sumbatan usus.

Baca juga: Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal

Meski berubahnya jam biologis tubuh dan waktu tidur, sebenarnya pelacong yang terkena jetlag juga masih bisa BAB dengan makan teratur, mencoba menguasai diri dengan perubahan waktu. Selain itu juga pelancong tidak boleh lupa untuk minum air putih yang cukup, sebab dengan konsumsi air yang cukup tubuh terhidrasi dengan baik dan saluran pencernaan pun bisa lebih lancar mencerna asupan yang dimakan.

Hadirkan Kelas Ekonomi Premium, Emirates Galau untuk Pesawat yang Digunakan

Memiliki pangsa pasar yang cukup besar, maskapai Emirates akan memperkenalkan kelas dengan kabin terbaru mereka. Kabin baru ini nantinya akan digunakan untuk kelas ekonomi premium. Namun kehadiran kelas baru ini belum jelas akan ada di armada yang mana.

Baca juga: Resmi! Emirates Purna Tugaskan Boeing 777-300

Dari kabar yang beredar kelas ekonomi premium akan hadir di Airbus A380 pada Desember 2020 mendatang. Tetapi hal tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Emiraters. Dilansir dari samchui.com (23/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, Presiden Dubai Emirates, Tim Clark mengungkapkan pemikirannya untuk kemungkinan menghadirkan kelas ekonomi premium di armada mereka karena keterlambatan kedatangan Boeing 777X.

Dia mengatakan, Boeing 777X pertama mereka harusnya akan datang Juni 2020 dan sekaligus Emirates akan mengungkapkan adanya produk kabin baru. Tetapi hal ini menjadi tertunda dan pelancong harus menunggu. Pasalnya masalah yang terjadi pada 737 MAX sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian dan ini membuat uji penerbangan 777X tertunda enam bulan.

Baca juga: Boeing Apes (Lagi)! Pintu 777X ‘Meledak’ Saat Uji Final Load, Jadwal Terbang Perdana Ikut Molor

Sehingga Tim mengatakan belum jelas nantinya kelas ekonomi premium ini ditetapkan untuk Airbus A380 atau Boeing 777X. Menurutnya kelas ekonomi premium dirasa akan sangat bermanfaat bagi maskapai ini terutama bagi armada Airbus A350, A330Neo dan Boeing 777X di masa depan.

Seiring berjalannya waktu dan perubahan pasar, Emirates siap untuk bersaing ketika penumpang mencari produk premium lebih murah dibandingkan yang lainnya. Diketahui, Airbus telah memilih untuk menghentikan produksi A380 mereka tahun 2021 tetapi meski begitu Emirates tetap teguh bahwa armada A380 akan tetap menjadi bagian mereka hingga tahun 2035.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Dengan A380 menjadi pesawat yang sedemikian besar, kemungkinan Emirates akan membutuhkan waktu untuk meluncurkan Ekonomi Premium pada pesawat yang diinginkan. Tak hanya itu, pada Expo Pesawat Aircraft awal tahun ini, HAECO mengungkapkan kabin eclips baru mereka.

Namun mereka tidak mengatakan, kabin eclips tersebut akan digunakan untuk maskapai yang mana. Tak hanya itu HAECO hanya menyebutkan, kabin eclips akan hadir di 2020 mendatang.

Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”

Apa yang akan Anda lakukan jika melihat baling-baling pesawat yang Anda tumpangi mendadak mati? Panik? Tentu saja! Dijamin otak Anda semua sudah mengarahkan kepada skema terburuk yang akan terjadi – kecelakaan pesawat. Dan percayakah Anda bahwa deskripsi di atas bukan hanya sekedar imajinasi liar belaka, namun pernah terjadi beberapa waktu ke belakang!

Baca juga: Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (23/9), seorang penumpang dari maskapai QantasLink Dash 8, Rodney Hyman mendapati mesin di burung besi yang ditumpanginya mendadak mati ketika menempuh perjalanan dari Cairns menuju Townsville beberapa waktu yang lalu. Menurut pengakuan Rodney, matinya salah satu baling-baling dari pesawat kecil ini terjadi tak berselang lama setelah pesawat tinggal landas.

Rodney yang kala itu tengah duduk di samping jendela, otomatis langsung mengetahui bahwa baling-baling pesawat yang dikendarainya mati. Sontak ia langsung mengeluarkan ponselnya guna mengabadikan momen tersebut – siapa tahu bisa menjadi suatu alat bukti jika pesawat propeller tersebut jatuh atau mengalami kecelakaan.

“Mungkin sekira 15 hingga 20 menit setelah pesawat tinggal landas,” ujar Rodney kepada media setempat.

“Ya, baling-baling pesawat itu benar-benar mati,” sambungnya singkat.

Pada awalnya, Rodney sempat tidak menyangka bahwa baling-baling pesawat itu mati, namun pada akhirnya, ia baru menyadari setelah kecepatan pesawat berangsur menurun.

“Terlebih ketika awak penerbang mengumumkan terkait kejadian ini, di situlah saya baru benar-benar percaya,” lanjut Rodney.

Kendati terdengar menyeramkan di telinga penumpang, namun pengumuman semacam ini merupakan sebuah standar pengoperasian yang kudu dilakukan oleh pihak maskapai guna memberitakan kejadian terbaru yang menimpa pesawat terkait.

Ketika dikonfirmasi, pihak anak perusahaan dari The Flying Kangaroo ini tidak menyangkalpemberitaan tersebut.

Baca Juga: Bikin Ulah Pasca Keluar Toilet, Penumpang ini Paksa The Flying Kangaroo Return to Base

“Terkait insiden ini, penerbangan cari Cairns menuju Townsville terpaksa Return to Base. Namun pesawat tetap bisa mendarat di Cairns dengan selamat,” tutur pihak Qantas.

“Kendati salah satu mesin mati, namun pesawat ini masih bisa mengudara untuk batas waktu tertentu. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” sambung Qantas.

Keluarga Korban Kecelakaan 737 MAX Tolak Dana Santunan dari Boeing, Ada Apa?

Setelah pada pemberitaan terakhir disebutkan bahwa Boeing kini tengah menantikan kehadiran regulator dari Federal Aviation Administration (FAA) guna membawa varian 737 MAX kembali ke udara pasca dua kecelakaan maut yang melibatkan dua maskapai: Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302, kini kabar terbaru dari pabrikan pesawat asal Amerika ini menyebutkan bahwa mereka menyantuni keluarga korban kecelakaan Boeing 737 MAX senilai US$144.500 per keluarga. Apakah nilai tersebut setimpal dengan hilangnya nyawa dari korban kecelakaan yang hanya berselang sekitar lima bulan ini?

Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (24/9), uang santunan tersebut berasal dari dana bantuan keuangan yang dikumpulkan Boeing dan sudah terkumpul sekira US$50 juta. Pembagian dana santunan ini sebenarnya merupakan reaksi dari pihak manufaktur pasca ‘dikejar-kejar’ oleh keluarga korban kecelakaan melalui jalur pengadilan. Namun alih-alih bersedia menerima dana tersebut, banyak dari keluarga korban yang menolak menerima dana tersebut.

“US$144.500 merupakan nilai yang sama sekali tidak mendekati kompensasi yang harus kami tukar dengan nyawa keluarga yang meninggal akibat kecelakaan ini,” ujar Nomaan Husain, pengacara yang mewakili sekitar 15 keluarga.

“Ini (pembagian dana santunan) bukanlah sesuatu yang akan memuaskan pihak keluarga, dan mereka benar-benar menginginkan jawaban,” sambungnya.

Kekesalan keluarga korban ini makin memuncak manakala mereka ingat akan janji yang dilontarkan oleh pihak perusahaan pada bulan Juli silam, dimana keluarga dan masyarakat yang terdampak akan menerima US$100 juta.

Namun di tengah jalan, pihak Boeing mengatakan bahwa dana tersebut akan dipecah menjadi dua: setengah untuk dibayarkan langsung kepada pihak keluarga, sedangkan setengahnya lagi akan dicadangkan guna biaya pendidikan dan pengembangan wilayah yang terdampak.

Baca Juga: Gelontorkan Rp1,4 Triliun, Boeing Siap ‘Cicil’ Dana Santunan Keluarga Korban 737 MAX 8

Di sisi lain, CEO dari Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan bahwa pemberian santunan ini merupakan upaya perusahaan untuk membantu keluarga korban dari dua kecelakaan maut yang sama-sama menggunakan varian pesawat 737 MAX 8 ini.

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, sejak Maret 2019 kemarin, pesawat berjenis 737 MAX sudah di-grounded-kan secara massal guna mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.

Tunggu Izin Mengudara Terbit, SilkAir Berencana ‘Istirahatkan’ Boeing 737 MAX di Australia

Grounded massal yang dilakukan oleh hampir semua maskapai di dunia terhadap varian pesawat Boeing 737 MAX memang berdampak panjang dan masif. Selain terganggunya sejumlah operasional penerbangan di beberapa maskapai, tapi dibutuhkan juga ruang penyimpanan dengan kapasitas yang amat sangat besar untuk menampun pesawat-pesawat yang tengah ‘mati suri’ ini. Walhasil, satu nama yang mencuat ke permukaan dan disinyalir bakal menjadi tempat bersemayamnya pesawat-pesawat ini adalah di Asia Pasific Aircraft Storage (APAS), Alice Springs, Australia. Tapi, tentu saja tidak semua pesawat bertipe 737 MAX disimpan di sini…

Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX”

Tarik mundur ke tanggal 10 Maret 2019 kemarin, dimana pesawat Ethiopian Airlines ET302 jatuh di Addis Ababa dan menewaskan 157 orang – termasuk penumpang dan awak penerbangan. Kejadian ini menyusul jatuhnya maskapai Indonesia Lion Air JT610 di perairan Tanjung Karawang para 29 Oktober 2018 yang menewaskan keseluruhan isi pesawat – 189 orang. Kecelakaan yang hanya berselang sekira lima bulan ini sontak menjadi sorotan publik dunia dan terus menghiasi headline sejumlah media kenamaan.

Sebenarnya, inisiasi penempatan varian 737 MAX di APAS Australia diawali oleh anak perusahaan dari Singapore Airlines, SilkAir. Namun tidak menutup kemungkinan jika maskapai lain juga mengikuti langkah yangbakal ditempuh oleh maskapai tersebut. Pertanyaannya adalah, “mengapa mesti di APAS?”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (21/9), dikabarkan bahwa iklim di APAS ini relatif kering dan dianggap cocok untuk menyimpan dan merawat pesawat – tidak terkecuali Boeing 737 MAX. Ya, dibutuhkan suatu wilayah yang sangat kering untuk menyimpan suatu pesawat, dengan tujuan agar kondisi lembab tidak mempercepat proses korosi pada tubuh pesawat dan tidak merusak fungsi-fungsi di dalam pesawat.

Baca Juga: Uji Sertifikasi 737 MAX Jatuh Pada September Ini, FAA dan Boeing Masih Rahasiakan Tanggal, Ada Apa?

Sebenarnya ada banyak lokasi selain di APAS ini yang memiliki kriteria cuaca yang tepat untuk menyimpang Boeing 737 MAX, namun saja kebanyakan dari mereka tidak memiliki fasilitas landas pacu yang benar-benar ideal untuk mendaratkan pesawat semacam ini – dan Australia ini memiliki keduanya, baik kondisi cuaca yang kering dan landas pacu untuk mendaratkan pesawat.