Sepanjang Agustus 2019, Kinerja Singapore Airlines Naik Tipis, SilkAir dan Scoot Hadapi Tekanan

Seperti halnya Garuda Indonesia Group, Singapore Airliens sejatinya tak hanya nama maskapai, melainkan suatu kelompok usaha Singapore Airlines Group yang di dalamnya terdiri dari Singapore Airlines sebagai backbone layanan, kemudian ada SilkAir dan maskapai berbiaya murah, Scoot. Dan ditengah masa persaingan antar layanan yang ketat, ditambah meningkatnya tarif sebagai dampak harga minyak dunia, Singapore Airlines (SIA) Group masih mampu memperlihatkan kinerja operasional yang positif pada 3 layanannya. Dengan mengambil hub Bandara Changi, sontak menjadi pemikat pelancong untuk memakai jasa Singapore Airlines Group.

Baca juga: Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines

Dalam sebuah laporan yang dirilis 23 September lalu, SIA Group memperlihatkan kinerja operasional yang telah berlangsung dalam periode Agustus 2019. Disebutkan jumlah penumpang yang diangkut oleh SIA Group (diukur dalam pendapatan penumpang per kilometer) meningkat sebesar 7,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengikuti pertumbuhan kapasitas (diukur dalam jumlah kursi yang tersedia per kilometer) sebesar 5,6 persen. Tingkat keterisian penumpang (PLF/Passenger Load Factor) mengalami peningkatan sebesar 1,2 poin persentase menjadi 86,4 persen.

Lebih spesifik lagi, PLF Singapore Airlines mengalami peningkatan sebesar 1,5 poin persentase dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 86,3 persen. Jumlah penumpang yang diangkut meningkat sebesar 8,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, berbanding dengan peningkatan kapasitas sebesar 6,2 persen. Terlepas dari penurunan marjinal di Asia Timur dan Amerika, PLF mengalami peningkatan di seluruh wilayah rute.

Jumlah penumpang yang diangkut oleh SilkAir mengalami peningkatan sebesar 0,4 persen, sementara kapasitas mengalami penurunan sebesar 1,9 persen. Pengalihan beberapa rute penerbangan ke Scoot dan penarikan armada Boeing 737 MAX 8 dari layanan telah mempengaruhi kapasitas SilkAir. PLF meningkat sebesar 1,8 poin persentase menjadi 81,2 persen, dengan peningkatan pada seluruh wilayah rute.

Kemudian PLF Scoot mengalami peningkatan sebesar 0,3 poin persentase menjadi 88,6 persen, seiring dengan peningkatan jumlah penumpang yang diangkut sebesar 6,1 persen berbanding dengan peningkatan kapasitas sebesar 5,7 persen. PLF mengalami peningkatan di kawasan Asia Barat serta di kawasan lainnya, sementara itu PLF Asia Timur mengalami penurunan karena lalu lintas tidak sejalan dengan perubahan kapasitas. Layanan menuju Quanzhou ditangguhkan mulai pada tanggal 24 Agustus 2019 dikarenakan jumlah permintaaan yang lemah dan berkurangnya jumlah armada pesawat.

Baca juga: Scoot Hapus Biaya Pemrosesan Pembayaran Global dan Tawarkan Pilihan Pembayaran Baru

Tingkat keterisian kargo (CLF) mengalami penurunan sebesar 6,0 poin persentase, yang disebabkan oleh penurunan lalu lintas kargo (diukur dalam ton beban kargo per kilometer) sebesar 10,2 persen, melebihi penyusutan kapasitas kargo sebesar 0,8 persen. CLF di seluruh wilayah rute mengalami penurunan.

Gegara Gerombolan Lebah di Jendela Kokpit Air India, Penerbangan Terpaksa Ditunda

Masih ingat dengan kabar seekor burung burung hantu yang tiba-tiba berada dalam kokpit pesawat Jet Airways? Burung hantu ini mungkin tidak mengganggu meski berada dalam kokpit, tetapi bagaimana jika segerombolan lebah menutupi kaca kokpit, apakah pesawat bisa terbang dalam kondisi tersebut?

Baca juga: Ditemukan di Dalam Kokpit Jet Airways, Burung Hantu Dianggap Pertanda Baik

Baru-baru ini penerbangan Air India tertunda selain karena masalah teknis juga kemunculan segerombolan lebah. Lebah-lebah ini tidak berada di dalam kokpit tetapi di jendela luar kokpit dan membuat pandang pilot terhalang.

KabarPenumpang.com melansir laman washingtonpost.com (17/9/2019), Direktur Bandara Kolkata, Kaushik Bhattacharjee mengatakan, para pekerja sudah mencoba mengusir sekelompok lebah itu tetapi diserang. Bahkan wiper kaca depan kokpit pun tidak bisa digunakan dengan baik karena lebah menempel.

Ini kemudian membuat petugas memanggil pemadam kebakaran bandara untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Juru bicara Air India mengatakan, jika lebah itu ada yang tebang ke mesin dan masuk ke dalamnya, ini bisa merusak dan membahayakan para penumpang.

Setelah satu jam mencoba mengusir lebah-lebah itu, akhirnya pemadam kebakaran menyemprotkan air dan membuat mereka terusir. Ahli etimologi mengatakan, seekor lebah ratu dan koloni mungkin tengah berpindah menuju rumah baru mereka.

Ternyata masalah lebah tak hanya terjadi di Air India, tahun lalu, segerombolan lebah masuk ke dalam pesawat South Africa. Tak hanya itu, penerbangan American Airlines yang akan berangkat dari Miami juga harus tertunda karena lebah dan penumpang mau tak mau meninggalkan pesawat sementara lebah itu dibereskan dari dalam kabin.

Dikatakan George Botta seorang pembasmi lebah dari Las Vegas, sekumpulan lebah yang tersedot ke dalam mesin bisa menyebabkan kerusakan.

“Ini tidak seburuk mengusir sekawanan burung, tetapi seperti menuangkan madu ke dalam mesin,” kata Botta.

Seorang pemilik Bee Buster di California Selatan, David Marder mengatakan, pihaknya sepanjang waktu sering dipanggil ke Bandara. Dia mengatakan, untuk menangani lebah itu, hanya dengan menyedotnya dan ini akan direkomendasikan ke India.

“Semua orang akan pergi dalam 20 menit,” katanya.

Meski pemadam kebakaran mengusir dengan busa, Marder mengatakan, hal terpenting adalah pesawat tidak bermasalah dan penumpang bisa terbang dengan nyaman.

Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi

“Ketika Anda memiliki pesawat yang penuh dengan orang, yang paling penting adalah membuat orang itu selamat sehingga mereka bisa turun atau pergi dari pesawat,” kata Marder.

Kembali ke Tanah Air, Flynas Siap Terbangkan (Lagi) Jemaah Haji asal Indonesia

Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta kedatangan ‘tamu’ baru dari Arab Saudi tertanggal 22 September 2018 kemarin. Rencananya, maskapai berbiaya rendah ini akan menjalankan rute penerbangan reguler. Ya, adalah Flynas Airlines – maskapai asal Arab Saudi ini sudah mulai mengoperasikan rute Jakarta – Madinah – Jeddah pada hari Minggu kemarin dengan menggunakan pesawat Boeing 747-400 dan mengangkut 425 jemaah asal Indonesia.

Baca Juga: Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen!

Flynas Airlines akan melakukan penerbangan berjadwal dengan rute yang sama sebanyak 2 kali seminggu – Selasa dan Minggu ke Medinah, sedangkan Sabtu dan Senin dari Jeddah ke Jakarta. Presiden Direktur PT Jasa Angkasa Semesta (JAS airport service), Adji Gunawan menyampaikan bahwa pada tahun 2014 silam, JAS airport service pernah menangani Flynas Airlines yang terbang di langit Indonesia.

“Ini berarti kali kedua bagi JAS dan kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi Flynas,” ujar Adji.

Flynas sendiri merupakan Low Cost Carrier (LCC) yang mulai beroperasi pada Februari 2007 silam. Maskapai yang para September 2019 kemarin tercatat mengoperasikan 32 unit pesawat – 3 unit Airbus A319-100, 26 unit Airbus A320-200, dan 3 unit Airbus A320neo ini bermarkas di Riyadh, Arab Saudi. Anak perusahaan dari National Air Service (dengan kepemilikan saham 63 persen per Oktober 2014) ini mengoperasikan penerbangan menuju 23 destinasi yang tersebar di seluruh dunia – termasuk Indonesia baru-baru ini.

Kendati tergolong sebagai ‘pemain baru’ di jagad aviasi Arab Saudi, namun pencapaian yang sudah dilakukan oleh maskapai ini tidaklah bisa dilihat sebelah mata. Nama Flynas sendiri tercatat sebagai maskapai berbiaya rendah pertama yang melayani rute penerbangan Jeddah menuju London Gatwick pada April 2014.

Baca Juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji

Maksapai yang masih seumur jagung ini juga terbukti serius dalam mengembangkan sayap bisnisnya. Pada tahun 2012, maskapai yang sebelumnya bernama Nas Air ini menjalin perjanjian codeshare dengan Etihad. Tidak cukup dengan raksasa asal Timur Tengah, Flynas juga mengembangkan kerja sama codeshare dengan Pegasus Airlines pada Mei 2016.

Scoot Hapus Biaya Pemrosesan Pembayaran Global dan Tawarkan Pilihan Pembayaran Baru

Scoot maskapai berbiaya hemat atau low cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group hari ini, Senin (23/9/2019) mengumumkan penghapusan biaya pemrosesan pembayaran secara global untuk semua pemesanan tiket secara langsung dan menawarkan nilai lebih kepada penumpang. Di mana Scoot memberikan kenyamanan dan pengalaman memesan tiket yang mudah kepada penumpang dengan berbagai cara pilihan pembayaran.

Baca juga: Lecehkan Pramugari Scoot, Pria India Divonis 2 Tahun Penjara dan Hukuman Cambuk

Pilihan pembayaran di jaringannya ini meliputi 67 kota di 17 negara dan teritori termasuk metode pembayaran global seperti Apple Pay, kartu kredit (American Express, JCB, MasterCard, UnionPay dan Visa), Google Pay dan PayPal. Metode pembayaran lokal seperti AXS dan PayNow untuk penumpang di Singapura, POLi untuk penumpang di Australia, WeChat Pay dan Alipay untuk di Cina, DragonPay untuk penumpang di Filipina, Konbini untuk penumpang di Jepang, dan Momo untuk penumpang di Vietnam.

Perkembangan sistem pembayaran yang didorong oleh teknologi telah membantu menutup biaya untuk mendukung dan memelihara infastruktur pembayaran. Sejak Maret 2019, Scoot secara bertahap telah menghapus biaya pemrosesan pembayaran, dimulai dari Eropa.

Selanjutnya pada Agustus 2019, biaya untuk beberapa metode pembayaran seperti AXS (untuk penumpang di Singapura) dan Konbini (untuk penumpang di Jepang) dihapus. Momo, aplikasi e-wallet dan pembayaran yang diluncurkan Agustus 2019 untuk penumpang di Vietnam, juga tidak mengenakan biaya pemrosesan pembayaran.

“Saat Scoot baru berdiri, kami menawarkan pilihan pembayaran yang terbatas dengan biaya pemeliharaan yang tinggi. Saat kami berekspansi secara global dan mendengar masukan penumpang, kami memanfaatkan kemajuan teknologi pembayaran untuk menerapkan lebih banyak pilihan metode pembayaran untuk meningkatkan pengalaman penumpang,” kata Lee Lik Hsin, CEO Scoot yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Dia menambahkan, untuk meneruskan penghematan kepada penumpang saat biaya pemeliharaannya turun, sejak Maret 2018 pihaknya telah menghapus biaya pemrosesan pembayaran secara bertahap.

“Sekarang kami siap menghapusnya secara global. Kami berharap langkah ini dapat memberi nilai lebih kepada penumpang dan memberi alasan lebih untuk escape the ordinary bersama kami,” ujar Lik Hsin.

Baca juga: Siap Saingi AirAsia, Scoot Minat Buka Rute Domestik di Indonesia

Untuk menghemat lebih banyak lagi, penumpang dapat membeli tiket saat promo Got To Go mulai 24 September 2019, di mana penumpang dapat menikmati promo harga satu arah ke 26 kota termasuk Langkawi, Trivandrum, dan Athena, mulai SGD 52 di kelas Economy FLY dan SGD 199 di kelas ScootPlus. Untuk melihat destinasi dan periode perjalanan yang tersedia selama promo, silahkan kunjungi www.flyscoot.com/gtg.

PT INKA dan Standler Rail Sepakat Bangun Perusahaan Joint Venture di Banyuwangi

PT Industri Kereta Api (INKA) merupakan perusahaan pembuatan kereta api di Indonesia dan Standler, perusahaan kereta api yang bermarkas di Swiss melakukan penandatanganan perjanjian pendirian perusahaan patungan pabrik kereta api di Banyuwangi, Jawa Timur. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Ketua Eksekutif Stadler Rail Peter Spuhler dan Presiden Direktur PT INKA Budi Noviantoro pada 20 September 2019 kemarin di kantor pusat Stadler Rail di Swiss.

Baca juga: Mengenal Sonar Bangla Express, Kereta di Bangladesh dengan Rangkaian Gerbong Produksi PT INKA

Dari keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Sabtu (21/9/2019), Joint Ventucer Company ini akan menjadi perusahaan investasi yang didirikan di Indonesia untuk mengoperasikan dan memproduksi rolling stock modern di Banyuwangi. Nantinya perusahaan patungan tersebut akan menggambungkan sumber daya baik dari Stadler maupun INKA dalam bidang teknologi, tenaga kerja, pengalaman dan sumber daya yang bermanfaat lainnya.

Tak hanya itu, diadakan pula Lettter of Intent (LoI) antara PT INKA, Stadler Rail AG dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). LoI ini sendiri untuk menghormati niat PT KAI untuk bergabung sebagai salah satu pemegang saham dan berkontribusi dalam aspek komersial di perusahaan patungan itu.

Menteri BUMN Indonesia Rini Soemarno yang hadir dalam penandatangan perjanjian tersebut mengatakan, investasi baru ini akan mendukung pengembangan fasilitas transportasi di Indonesia. Duta Besar RI untuk Swiss, Muliaman D Hadad juga memuji adanya langkah baru ini dengan adalasan invesatasi dan ahli teknologi Swiss akan memenuhi kebutuhan meningkatnya jumlah kereta api di Indonesia.

Selain itu, berbagai produk yang dihasilkan perusahaan patungan tersebut juga memiliki potensi untuk diekspor ke berbagai wilayah di Asia. Bahkan sekitar 125 gerbong diperkirakan akan digunakan setiap tahun setelah total investasi US$100 juta.

Jumlah ini juga akan meningkat segera menjadi seribu gerbong pertahun. PT KAI akan menjadi pembeli utama untuk gerbong-gerbong kereta. Pabrik perusahaan gabungan ini akan dibangun di lahan seluas 83 hektar yang berjarak tiga kilometer dari pelabuhan setempat di kota Banyuwangi.

Baca juga: Tak Jadi Beroperasi Tahun Ini, Pabrik PT INKA di Banyuwangi Dibuka Tahun 2020

Pabrik kereta ini akan mulai memproduksi kereta api tahun 2020 mendatang. Tak hanya membangun pabrik, Stadler Rail juga akan meluncurkan sekolah kejuruan kereta api di Indonesia.

Citilink dan GMF AeroAsia Bentuk Anak Usaha Baru di Bidang Pendidikan

PT Citilink Indonesia bersinergi dengan perusahaan perawatan pesawat PT GMF AeroAsia (GMF) membentuk anak usaha yang akan bergerak dalam bidang pendidikan di dunia aviasi dan non aviasi yakni PT Garuda Ilmu Terapan Cakrawala Indonesia (GITC Indonesia). Komposisi kepemilikan saham dari dua perusahaan Garuda Indonesia Group yakni Citilink 80 persen dan GMF 20 persen.

Baca juga: Citilink Rute Domestik Mulai Beroperasi Sementara di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta

Direktur Utama Citilink Juliandra mengatakan, GITC Indonesia resmi berdiri 30 Agustus 2019 kemarin. Dia mengatakan ini adalah bentuk ekspansi bisnis Citilink dalam bidang pendidikan dan pengembangan kualitas SDM serta dalam rangka mendukung operasional Penerbangan.

Juliandra menambahkan, di tahap awal, GITC Indonesia akan menyediakan pendidikan bagi SDM untuk menunjang kegiatan operasional di lingkungan Garuda Indonesia Group termasuk pendidikan untuk pilot, awak kabin, engineer dan pengawai darat.

“Dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang mumpuni serta tenaga pengajar yang ahli di bidangnya diharapkan GITC Indonesia mampu menghadirkan pendidikan di bidang aviasi yang berkualitas baik dan terpercaya” kata Juliandra yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, Senin (23/9/2029).

Ke depannya, GITC Indonesia akan membuka fasilitas pendidikan di bidang aviasi untuk umum, adapun pelatihan yang disediakan mulai dari pendidikan untuk operasional maskapai (airline operation) hingga pendidikan untuk pengembangan bisnis maskapai (airline business). Untuk memberikan kualitas pendidikan terbaik GITC yang saat ini bertempat di Duri Kosambi, Cengkareng, dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang lengkap mulai dari ruang kelas, lounge, asrama hingga simulator berbagai tipe pesawat seperti Airbus A320, Airbus A330, Boeing 737-800NG, ATR 72-600 dan CRJ1000.

Sementara itu Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan mengatakan bahwa pendirian anak usaha ini merupakan upaya GMF dalam rangka pemenuhan kualitas SDM yang dapat mendukung ekspansi bisnis. Melalui pembentukan anak usaha yang fokus terhadap pengembangan kualitas dan pelatihan tenaga kerja, kedepannya GITC diharapkan dapat melahirkan teknisi-teknisi andal untuk mendorong percepatan pertumbuhan bisnis GMF.

“Kedepannya kami berupaya memperluas jangkauan penyedia pelatihan teknisi pesawat dengan menyasar pelanggan lain di luar Garuda Indonesia Group melalui GITC Indonesia” ungkap Tazar.

Baca juga: “Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan

Adapun bentuk pelatihan yang disediakan bersifat mandatory training, sehingga usaha gabungan ini memiliki potensi pasar yang besar dengan menarik MRO lain baik domestik maupun internasional.

Akankah Connected Cabin dari Airbus Jadi Masa Depan Sektor Kedirgantaraan Global?

Masa depan sektor kedirgantaraan global agaknya mulai terbentuk sejak sekarang – sehingga kurang lebih gambaran beberapa tahun ke depan sudah bisa Anda prediksikan. Munculnya bahan bakar campuran yang kabarnya bisa meminimalisir polusi udara, pesawat bertenaga listrik (drone), bangku di dalam kabin yang bisa meningkatkan kapasitas penumpang dan memberikan kenyamanan lebih kepada para penggunanya, hingga hadirnya teknologi robotika di bandara merupakan segelintir inovasi yang coba dihadirkan oleh sejumlah perusahaan guna meningkatkan user experience.

Baca Juga: Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang

Sebagai salah satu pemain kawakan di industri aviasi, Airbus juga tak pelak mencanangkan beberapa perubahan dari struktur pesawat yang dirakitnya. Setelah pada pemberitaan terakhir menyebutkan bahwa Airbus kabarnya bakal menambahkan sejumlah sensor yang dapat memantau kebiasaan penumpang selama berada di dalam kabin, kini kabarnya perusahaan gabungan yang berdomisili di Eropa ini akan mencoba untuk mengembangkan connected cabin yang akan memberikan sensasi berbeda ketika mengudara.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman resmi milik pihak produsen pesawat, airbus.com (11/9), program Airspace Connected Experience milik Airbus akan mengantarkan pengalaman baru yang dipersonalisasi bagi penumpang dan memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan tambahan maskapai – dan tentu saja efisiensi operasional. Airbus juga kabarnya telah memulai uji coba di dalam pesawat terhadap teknologi connected cabin yang dikombinasikan dengan Internet of Things di atas pesawat A350-900 Flight Lab. Menurut pihak perusahaan, teknologi ini akan segera diumumkan kepada pelanggan.

Nantinya, pengaplikasikan connected cabin ini tidak hanya membawa manfaat tersendiri kepada apara penumpang, melainkan kepada pihak maskapai sebagai operator dan juga awak kabin. Adapun keuntungan yang mungkin dapat tersaji dengan hadirnya teknologi connected cabin antara lain:

1. Penumpang akan menerima pengalaman perjalanan yang lebih personal yang secara khusus ditargetkan untuk kebutuhan dan preferensi individu, berdasarkan data yang tersedia (diambil dari sensor yang merekam kebiasaan penumpang di dalam kabin). Secara khusus, data-data ini mencakup pemesanan makanan, pengaturan posisi bangku, serta penawaran In-Flight Entertainment (IFE) di dalam penerbangan.

2. Pihak maskapai akan dapat menghasilkan pendapatan tambahan melalui ritel dan iklan yang dipersonalisasi. Selain itu berbagai layanan baru juga mungkin dihadirkan melalui pendekatan Internet of Things. Pihak maskapai juga dapat meningkatkan efisiensi operasionalnya dengan menerapkan pemeliharaan prediktif, menghindari pemborosan, dan membuat layanan kru lebih efisien.

Baca Juga: Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini

3. Awak kabin akan menemukan lingkungan kerja yang lebih baik dan peralatan yang lebih efisien, diaktifkan secara digital oleh data real-time yang diperoleh dari platform Internet of Things di seluruh kabin. Penggunaan smart device juga akan memungkinkan awak kabin memantau dan mengoperasikan semua komponen.

Akankah inovasi connected cabin yang coba diusung Airbus ini merupakan masa depan dari sektor aviasi global?

Apa Sih Perbedaan Antara Boeing dan Airbus Dimata Seorang Pilot?

Siapa diantara Anda semua yang tidak tahu tentang duopoli di ranah manufaktur kedirgantaraan global? Ya, dua perusahaan pembangun pesawat yang berhasil duduk di ranking satu dan dua adalah Boeing dan Airbus. Sedikit nama perusahaan lain yang berhasil menyabotase pasar – contohnya seperti Bombardier hingga McDonnell Douglas. Namun dua nama tersebut masih belum bisa meruntuhkan kedigdayaan dari Boeing dan Airbus.

Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Nah, berbicara tentang dua merk dagang ini, ternyata terdapat perbedaan yang cukup signifikan di antara keduanya. KabarPenumpang.com mengutip dari laman skiesmag.com, seorang pilot bar empat yang bernama Steve Zago membeberkan perbedaan yang tampak ketika dirinya mengemudikan Boeing 737NG dan Airbus A330.

Sebelum membahasnya lebih jauh, adapun Boeing 737NG merupakan pesawat narrow-body yang merupakan kembangan dari varian utamanya, Boeing 737 dan pertama kali mengudara pada 9 Februari 1997 dengan status uji coba. Sedangkan Airbus A330 tergolong sebagai pesawat wide-body yang mampu merengkuh jarak 5.000 hingga 13.430 kilometer. Adapun A330 ini pertama kali mengudara pada 2 November 1993 dengan status uji coba.

Nah, berdasarkan penuturan Steve Zago, perbedaan mendasar dari kedua pesawat yang sama-sama memiliki ‘keluarga besar’ (turunan pesawat) ini tampak dari kemudinya. Jika Boeing 737NG masih setia menggunakan kemudi layaknya stir mobil, maka tidak dengan Airbus A330 yang menggunakan joystick yang terletak di sisi sebelah kiri bawah pilot untuk mengendalikan arah pesawat.

“Jika Anda ingin membelokkan pesawat 25 derajat ke arah kiri, maka anda harus membelokkan sedikit kemudi ke arah kiri sembari menariknya ke arah belakang – dengan tujuan untuk tetap menjaga ketinggian pesawat. Namun di Airbus, Anda tidak lagi harus menarik tuas kemudi ke arah belakang, cukup membelokkan joystick ke arah kiri dan pesawat akan berbelok,”

Selain dari kontrol pesawat, lanjut Steve, perbedaan yang cukup menohok datang dari keseluruhan sistem fly-by-wire yang tersemat di dalam kedua jenis pesawat ini.

“Di Boeing 737NG, tugas saya ketika sistem autopilot dimatikan adalah menjaga pengaturan yang ada di sayap agar pesawat tetap berada di ketinggian yang aman. Tidak ada komputer atau layar indikator fly-by-wire yang memberitahu sistem kontrol penerbangan untuk menjaga terus sayap sebelum approaching menuju bandara yang sebelumnya telah saya input,” terang Steve.

“Sementara layar tersebut ada di (pesawat rilisan) Airbus,” lanjutnya.

Pada Airbus, Steve mengatakan bahwa dirinya seolah kehilangan kendali langsung terhadap pesawat, “sebuah kemampuan untuk mengetahui persis apa yang dilakukan oleh autopilot (atau autopilot baru), sedangkan tangan saya yang satunya lagi bisa dengan santai memainkan tuas thrust sembari mengikuti input kontrol dari autopilot,”

Dengan kata lain, kontrol penerbangan dari Airbus bisa dibilang jauh lebih sederhana ketimbang Boeing. Selain itu, Steve juga mengatakan bahwa flightdeck yang ada di Airbus juga lebih lega daripada yang ada di Boeing.

“Dengan begitu, Anda bisa dengan leluasa dan efisien menggunakan Quick Reference Handbook (QRH),” lanjut Steve.

Baca Juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?

Kendati penjelasan Steve tadi agaknya lebih berpihak pada Airbus dengan segala kemudahan kendalinya, sejatinya ini hanyalah soal keterbiasaan seseorang untuk mengendalikan sebuah kendaraan. Dibutuhkan penyesuaian beberapa waktu sebelum bisa ‘lancar’ mengemudikan suatu moda.

Ambil contoh, mungkin apa yang Anda rasakan ketika mengemudikan mobil berjenis pick-up seperti Suzuki Carry akan berbeda jauh jika Anda mengemudikan sebuah Toyota Vios – mulai dari ‘kedalaman’ persneling, beratnya stir atau kemudi, hingga posisi duduk. Hal yang sama sederhananya terjadi pada pilot yang mengemudikan Airbus dan Boeing.

Jadi, kedua pesawat di atas sama-sama baik dan bagus kok! Hanya saja ini merupakan soal pandangan dari pilot yang mengemudikannya.

Lufthansa Mutilasi Airbus A340-600 Menjadi Souvenir Unik nan Artistik

Seiring berjalannya waktu, makin banyak unit pesawat yang sudah tidak dioperasikan oleh pihak maskapai. Lalu, bagaimana nasib pesawat-pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi? Jawabannya tergantung! Ya, ada beberapa pesawat yang malah digunakan oleh maskapai lain guna menutupi kekurangan armada, bahkan ada beberapa dari mereka yang disulap dan memasuki ‘fase baru’ kehidupannya sebagai pesawat tua.

Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan sebuah pesawat Convair CV-440 yang dijadikan sebuah salon kecantikan oleh wanita yang berasal dari Carluke, Lanarkshire. Atau sebuah Boeing 747 milik Pakistan International Airlines (PIA) yang disulap menjadi sebuah restoran mewah nan unik di Karachi, Pakistan. Nah, ternyata ide untuk mengalih-fungsikan pesawat yang sudah tidak beroperasi sudah banyak dilakukan oleh orang kreatif di luar sana.

Tapi kini pemberitaan terbaru datang dari maskapai terbesar di Jerman, Lufthansa yang juga tak mau kalah dalam urusan sulap menyulap pesawat yang sudah pensiun. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman koamnewsnow.com, pihak maskapai menggunakan cara yang lebih elegan dalam mengemas pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi.

Dikabarkan, Lufthansa ‘memutilasi’ salah satu pesawat Airbus A340-600 dengan nomor registrasi D-AIHO dan menjadikan masing-masing potongannya sebagai souvenir yang bisa Anda beli di laman worldshop.eu. Adapun bagian-bagian yang disulap dan dijual pihak maskapai meliputi panel sisi yang digabungkan dengan kerangka pesawat yang dijadikan sebagai meja kopi, jendela pesawat yang dijadikan jam dinding, dan beragam karya lainnya.

Airbus A340-600 ini sendiri sudah mengabdi kepada Lufthansa sekira 10 tahun lamanya.

“Kami membutuhkan waktu sekitar 10 minggu untuk membongkar pesawat sepanjang 75 meter ini menjadi bagian-bagian kecil,” ujar salah satu juru bicara dari Airbus.

Baca Juga: Wanita Pirang Ini Sulap Convair CV-440 Jadi Sebuah Salon Mewah!

Salah satu benda yang paling murah yang dapat Anda dapatkan dari program bertajuk Lufthansa Upcycling Collection ini adalah gantungan kunci berbentuk tag dari kulit pesawat asli yang dibanderol dengan harga US$27 atau yang berkisar Rp380.000.

Jika dipikir-pikir, mengolah pesawat menjadi souvenir seperti yang dilakukan Lufthansa ini merupakan ide yang cukup brilian dalam meraup keuntungan. Alih-alih menelantarkannya begitu saja kuburan pesawat, lebih baik didaur ulang, bukan?

Inilah 11 Anggapan yang Keliru Seputar Makanan di Pesawat

Makanan pesawat baik kelas bisnis maupun kelas satu tidak selalu dijamin enak. Anda bisa mengingat bahwa semua makanan itu dipersiapkan jauh-jauh hari yang kemudian dipanaskan kembali sebelum lepas landas atau ketka dalam penerbangan.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Tapi, sebagai penumpang, Anda tidak mungkin melewatkan makanan apalagi bila penerbangan yang dilalui dengan waktu tempuh lama dan jarak yang jauh. Nah, KabarPenumpang.com merangkum laman insider.com, ada sebelas kesalahan yang bisa saja Anda lakukan dengan makanan pesawat dan bisa merusak mood selama perjalanan. Berikut hal-hal yang bisa merusak makanan dalam penerbangan.

(insider.com)

#Menambahkan garam dalam makanan
Tekanan dan ketinggian dalam kabin pesawat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi selera penumpang. Ini membuat rasa makanan tidak seperti di darat. Seorang pramugari Hawaiian Airlines Mapuana Faulkner mengatakan pelancong enderung kekurangan rasa dan sebagai gantinya banyak yang meminta lebih banyak garam. Tapi Rachelle Lucas dari TheTravelBite mengatakan, jangan gunakan garam dan minta irisan lemon dan peras airnya agar asam dari lemon  menambah rasa pada makanan.

#Makan di meja
Meja yang ada di depan penumpang tidak pernah dibersihkan, bahkan orang tua yang membawa bayi menggantikan popoknya disitu. Mantan pramugari Booby Laurie mengatakan, meja adalah salah satu tempat yang kotor dalam penerbangan.

#Tidak memesan makanan sebelumnya
Sebagian besar penumpang tidak sadar bisa memesan makanan sebelum penerbangan berlangsung. Padahal dengan memesan makanan 24 jam sebelum keberangkatan, Anda bisa memilih sesuai selera seperti vegetarian, vegan, makanan anak, bebas gluten dan lainnya. Bonus yang didapat, Anda akan mendapat makanan lebih dulu daripada penumpang lainnya.

#Pesan teh atau kopi
Beberapa berita tidak enak bagi pecandu kafein karena kopinya mungkin tidak sebersih yang dikira. Apalagi air yang digunakan untuk menyeduh kopi berasal dari keran air di toilet dan jarang sekali tangkinya dibersihkan.

#Duduk di baris terakhir
Dibeberapa maskapai layanan penuh pemilihan kursi menentukan makanan yang disajikan awak kabin.

“Duduk di baris terakhir jangan berharap berbagai macam hidangan. Semua yang terbaik mungkin sudah diberikan kepada orang-orang di depan. Jadi jangan buat kesalahan jika ingin mendapat makanan lebih baik,” kata Lucas Paluch dari Lean TravelerGuide.

Mayoritas maskapai memulai pembagian makanan dari depan pesawat ke belakang. Bila ingin dapat camilan, minuman atau makanan yang lebih komplit duduklah didepan.

(insider.com)

#Tidak cukup air
Air di pesawat kemungkinan besar sangat kotor, tetapi Anda harus minum untuk menghindari dehidrasi.

“Selama penerbangan, Anda kehilangan banyak air dari tubuh Anda karena kering, udara ber-AC di pesawat. Kelembaban berada pada interval 10-20 persen, seperti gurun. Para peneliti menunjukkan bahwa selama 10 jam penerbangan Anda kehilangan 1,6 hingga 2 liter air atau sekitar empat persen air dalam tubuh Anda. Jika Anda melewatkan minum air yang cukup, segera Anda akan merasa lelah dan kepala Anda akan mulai sakit,” kata Paluch.

Jangan lupa beli air botolan ketika melewati keamanan dan bawa masuk ke dalam kabin.

#Minum alkohol
Sebenarnya meminum alkohol sebelum penerbangan dan ketika penerbangan tidak bisa dinikmati sebanyak saat di darat. Ini karena alkohol adalh salah satu penyebab dehidrasi.

#Vegetarian
Jika berpikir untuk menjadi vegetarian, sekaranglah saatnya, sebab seorang awak kabin mengatakan, dirinya menemukan daging dan ikan yang lebih kering di dalam kabin karena kelembaban rendah dan udara kering.

“Kami mendapatkan makanan vegan kami terlebih dahulu karena penumpang dengan pembatasan diet dilayani sebelum orang lain. Dengan cara ini, tidak hanya makanan kami yang lebih enak (karena tidak membutuhkan waktu 30-60 menit untuk mencapai kami di ujung pesawat) tetapi juga lebih aman untuk dimakan,” kata Cory Varga pendiri You Could Travel.

(insider.com)

#Pertimbangkan masalah hub
Terbang dari hub salah satu maskapai menjadi pilihan terbaik, karena makanan yang disajikan lebih segar dibandingkan dari tempat yang lain karena lebih sering dipanaskan.

“Sebagai contoh, kemungkinannya adalah bahwa makanan akan lebih baik pada penerbangan Alitalia dari Roma, daripada penerbangan ke Roma, karena mereka memiliki dapur katering besar di hub mereka,” kata Michael Holtz, pendiri dan CEO SmartFlyer.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

#Makan sesuai jadwal
Bila memiliki masalah pada lambung, baiknya makan sebelum melakukan perjalanan. Sebab, makanan yang disajikan dalam penerbangan akan disajikan sesuai waktu yang sudah ditentukan pihak maskapai. Ini bisa membantu Anda menikmati perjalanan dengan baik selama di kabin pesawat.

#Mengambil makanan pesawat
Ternyata membawa makanan dari dalam kabin pesawat di negara asing yang tidak disegel pabrik bisa membawa penumpang dalam masalah besar dengan bea cukai. Jadi jika ragu, baiknya tinggalkan semua atau makan saat berada di pesawat.