Demi ke New York, Nyamar Jadi Pria Lanjut Usia, Lelaki 32 Tahun Diamankan di Bandara Indira Gandhi

Menyamar sebagai orang tua berusia 81 tahun, pria ini tertangkap ketika berusaha naik pesawat yang akan terbang ke New York dengan paspor palsu. Pria tersebut bernama Jayesh Patel yang berusia asli 32 tahun.

Baca juga: Frank William Abagnale Jr. – Pilot ‘Gadungan’ yang Sukses Berkeliling Dunia Secara Gratis!

Dia diamankan pihak Central Industrial Security Force (CISF) di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi pada Minggu (8/9/2019) kemarin. Patel menggunakan kursi roda ketika melalui pemeriksaan keamanan dan imigrasi. Dia mengenakan janggut yang diwarnai putih dan sebuah kaca mata besar.

Sayangnya selama pemeriksaan muncul kecurigaan dari pihak kemanan bandara saat Patel menolak untuk digeledah dan mengklaim dirinya terlalu tua untuk berdiri. Saat diminta kelengkapan, dia juga menyerahkan sebuah paspor yang bertuliskan nama Amrik Singh yang lahir di Delhi, 1 Februari 1938.

Karena mencurigakan dan untungnya tidak semua petugas tertipu. Juru bicara CISF mengatakan, Patel terlihat belum berusia 80 tahun dimana kulitnya lebih muda, penampilannya juga tidak setua yang terlihat di paspor.

“Penampilan dan tekstur kulit penumpang tampaknya jauh lebih muda daripada yang disebutkan di paspor. Pria itu mengenakan kacamata tanpa daya untuk menyembunyikan usianya,” ujar juru bicara CISF yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (11/9/2019).

Kemudian petugas keamanan menginterogasinya dan akhirnya Patel mengaku dirinya menyamar sebagai lelaki tua serta paspor yang diberikannya tidak sah alias palsu. Dia kemudian diserahkan dan diamankan oleh otoritas imigrasi setelah dilakukan penyelidikan.

Polisi India mengatakan, Patel berasal dari negara bagian Gujarat yang menggunakan jasa agen dengan menjanjikan sebuah paspor dan visa Amerika Serikat. Agen tersebut mengatur tata rias dan pakaian yang digunakan Patel yakni jubah putih dan sorban.

“Dia berencana pergi ke AS untuk mencari pekerjaan. Tapi profilnya sedemikian rupa sehingga dia tidak akan mendapatkan visa dengan mudah,” kata perwira polisi Sanjay Bhatia.

Penyamaran ini, seperti beberapa waktu lalu dimana seorang wanita Amerika yang ditangkap karena perdagangan anak di Filipina setelah dia mencoba menyelundupkan seorang bayi melalui keamanan bandara di tas tangannya. Jennifer Talbot, dari Ohio, dihentikan di imigrasi di bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina, ketika para agen di terminal tiga bertanya tentang isi tas selempangnya yang terlalu besar.

Baca juga: Troli Tak Hanya Angkut Barang, di Bandara India Menjadi Tempat Penyelundupan Emas

Dia saat itu sedang bersiap untuk naik pesawat menuju AS. Talbot tidak memiliki paspor atau dokumentasi perjalanan apa pun untuk anak itu.

Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen!

Maskapai nasional Garuda Indonesia telah menyelesaikan seluruh rangkaian operasional penerbangan haji tahun 2019/1440 H. Selesainya rangkaian penerbangan  haji tahun ini ditandai dengan  mendaratnya kloter 19, debarkasi Banjarmasin GA 8602, di Banjarmasin pada hari ini, Senin (16/09). Secara keseluruhan Garuda Indonesia telah memulangkan sebanyak 109.923 Jemaah dalam 284 kloter.

Baca Juga: Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019

Sebagaimana informasi yang diterima KabarPenumpang.com dari siaran pers, gelombang pemulangan Jemaah haji Indonesia telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Agustus 2019 lalu dengan keberangkatan dari Jeddah, sementara gelombang 2 pemulangan Jemaah haji telah berlangsung sejak tanggal 30 Agustus hingga 15 September 2019 dengan keberangkatan dari Madinah.

Direktur Operasi Garuda Indonesia, Capt. Bambang Adisurya Angkasa menyampaikan apresiasi serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh instansi terkait yang turut mendukung dan membantu kelancaran operasional penerbangan Haji Garuda Indonesia tahun 2019/1440 H hingga dapat terselesaikan dengan baik, aman, lancar dan selamat.

“Kelancaran operasional penerbangan haji Garuda Indonesia tahun ini juga ditandai dengan baiknya tingkat ketepatan waktu penerbangan atau On Time Performance (OTP) secara keseluruhan sebesar 89 persen, yang juga menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja operasional khususnya OTP agar dapat lebih baik lagi dalam melayani para Jemaah Haji”, kata Capt. Bambang.

Baca Juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji

Garuda Indonesia pada haji tahun 2019 ini menyiapkan 14 pesawat haji yang terdiri dari tiga pesawat Boeing B7474-400, lima pesawat Boeing B777-300ER, dan enam pesawat Airbus A330-300/200. Jumlah pesawat yang beroperasi pada musim haji tahun 2019 tersebut menyesuaikan dengan trafik jemaah Haji pada tahun  ini.

Pulau Morotai, Ditinggalkan Garuda Indonesia Kini Dilayani Wings Air

Menyandang predikat sebagai salah satu pulau yang berada di ujung Utara Indonesia, banyak yang mengasosiasikan Kabupaten Pulau Morotai ini dengan sebutan “Morotai Pulau Kenangan”. Wajar saja, pulau ini menyimpang banyak keindahan alam khas Indonesia dan juga sarat akan sejarah yang berkenaan dengan Perang Dunia II. Sebagai salah satu langkah untuk menunjang destinasi wisata di sini, salah satu member dari Lion Air Group, Wings Air kabarnya akan segera membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai pada 22 September mendatang.

Baca Juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar

Usut punya usut, Wings Air ini merupakan maskapai perdana dan satu-satunya yang membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai. Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, pihak maskapai kini masih dalam tahap menyiapkan penerbangan berjadwal tiga kali dalam seminggu – Rabu, Jumat, dan Minggu (PP).

“Wings Air bernomor IW-1180 akan mengudara dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara (MDC) pukul 06.40 WITA dan dijadwalkan mendarat di Bandar Udara Leo Wattimena, Morotai, Maluku Utara (OTI) pada 09.00 WIT,” tulis Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam siaran pers.

Bandara Leo Wattimena dulunya bernama Bandara Pitu. Bandara ini punya panjang landasan 2.400 meter dan lebar 30 meter yang dilengkapi dengan apron panjang 285 meter dan lebar 80 meter, sementara taxy way punya panjang 130 meter dan lebar 25 meter. Sehingga ideal untuk didarati pesawat sekelas ATR-72 500/600.

“Penerbangan di hari yang sama untuk rute kembali, Wings Air menggunakan nomor IW-1181 akan terbang dari Morotai pada 09.20 WIT dan diperkirakan tiba di Manado pukul 09.40 WITA,” tambahnya.

Namun berbicara soal Morotai agaknya kurang lengkap jika tidak membahas soal sejarah yang ada di pulau ini. Perang Morotai terjadi pada 15 September 1944, dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya dalam kampanye melawan Jepang.

Singkat cerita, jumlah pasukan Jepang yang telah terlebih dahulu menduduki Morotai yang sedikit terpaksa diluluh-lantakkan oleh sekutu yang beranggotakan sejumlah negara besar (Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan Inggris).

Tujuan yang bertolak belakang antara Jepang dan sekutulah yang pada akhirnya membuat peperangan ini pecah. Pulau Morotai merupakan wilayah yang penting bagi militer Jepang ketika mulai mengembangkan pulau-pulau di Halmahera sebagai titik fokus untuk mempertahankan pendekatan selatannya ke Filipina. Sedangkan sekutu melihat Morotai sebagai lokasi strategis untuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut yang diperlukan untuk mendukung pembebasan Mindanao, pulau terbesar kedua yang ada di Filipina.

Pada akhirnya, pihak sekutu berhasil mengusir Nippon dan yang kini tersisa hanyalah sebuah Museum Perang Dunia II Motorai.

Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute

Terlepas dari sejarahnya, ternyata sebelumnya maskapai plat merah Garuda Indonesia juga pernah melakukan penerbangan terjadwal menuju Morotai, namun karena masalah load factor (tingkat keterisian bangku) yang bisa dibilang minim, pada Mei 2019 kemarin pihak flag carrier ini terpaksa memberhentikan rute penerbangan ke Morotai dan beberapa destinasi lain di Timur Indonesia (Maumere dan Bima).

“Kita baru melakukan evaluasi, kita terpaksa melakukan itu (penutupan dan pengurangan penerbangan) agar kita tidak rugi sampai akhir tahun,” tutur Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham (22/5/2019).

Ini Dia Tarif Baru Kelebihan Barang Penumpang Lion Air Per 1 Kg!

Awal tahun 2019 tepatnya 8 Januari kemarin, maskapai berbiaya hemat (LCC) Lion Air menghapuskan pemberian bagasi cuma-cuma atau free baggage allowance pada penumpangnya. Hal ini membuat kecewa banyak penumpang dan mau tak mau membeli voucher bagasi melalui travel agen, website Lion Air atau pembelian langsung dibandara. Bahkan dari mereka memilih untuk membawa tas ke dalam kabin dibanding harus membayar kelebihan tersebut.

Baca juga: Bagasi Cuma-cuma Hilang dari Penerbangan Domestik Lion Air, Bagaimana Reaksi Penumpang?

Pada awal Januari, tarif yang dikenakan per lima kilogram adalah Rp180 ribu, sepuluh kilogram Rp360 ribu, 15 kg Rp540 ribu dan 20 kg Rp720 ribu. Tarif ini flat untuk ke semua rute domestik.

Namun, hari ini (16/9/2019) KabarPenumpang.com mendapatkan data bahwa Lion Air menerapkan harga baru per kilogramnya untuk kelebihan barang penumpang yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke 21 bandara lainnya. Berikut ini, daftar tarif satu kilo dari CGK ke 21 bandara tujuan.

  • UPG (Makassar) – Rp49 ribu
  • GTO (Gorontalo) – Rp61 ribu
  • DJJ (Jayapura) – Rp108 ribu
  • MKQ (Merauke) – Rp107 ribu
  • TTE (Ternate) – Rp73 ribu
  • MDC (Manado) – Rp68 ribu
  • AMQ (Ambon) – Rp76 ribu
  • PLW (Palu) – Rp52 ribu
  • BPN (Balikpapapn) – Rp44 ribu
  • TRK (Tarakan) – Rp53 ribu
  • LOP (Mataram) – Rp39 ribu
  • KOE (Kupang) – Rp69 ribu
  • SUB (Surabaya) – Rp33 ribu
  • JOG (Yogyakarta) – Rp24 ribu
  • SOC (solo) – Rp25 ribu
  • SRG (Semarang) – Rp22 ribu
  • PNK (Pontianak) – Rp37 ribu
  • KDI (Kendari) – Rp67 ribu
  • MLG (Malang) – Rp35 ribu
  • PKY (Palangkaraya)- Rp40 ribu
  • BDJ (Banjarmasin) – Rp40 ribu

Bila ditotal dengan per lima kilogram untuk kelebihan bagasi ke Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Malang lebih murah dari tarif flat yang sebelumnya sudah ada. Sedangkan 16 bandara tujuan lainnya memiliki tarif yang lebih mahal bila terhitung total lima kilogram.

Baca juga: Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah

Jadi lebih baik tarif flat sebelumnya yang sudah ditetapkan atau tarif baru dengan hitungan satu kilogram?

PT KAI Sambungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati dengan Angkutan Terusan

Angkutan terusan yang berupa minibus baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah operasional (Daop) IV Semarang untuk mengantarkan penumpang dari dan ke Demak, Kudus serta Pati. Peresmian angkutan terusan ini sendiri utuk menghubungkan warga kota-kota tersebut ke Stasiun Semarang Poncol ataupun Tawang. Seperti diketahui, di ketiga kota tersebut sudah tidak beroperasi jaringan kereta sejak 1986.

Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir

Diresmikan Jumat (13/9/2019), angkutan terusan ini menambah operasional PT KAI yang sebelumnya sudah mengoperasikan terusan dari Purwokerto menuju ke Wonosobo. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, minibus yang digunakan untuk angkutan terusan tersebut ialah Isuzu Elf rakitan Adi Putro yang mampu mengangkut 12 orang penumpang sekali jalan.

“Angkutan ini akan dikelola PT Kereta Api Pariwisata sebagai anak perusahaan PT KAI dengan harga tiket Rp60 ribu dan bisa dibeli melalui aplikasi KAI Access. Tahap pertama pembelian tiket masih melalui aplikasi KAI Access, diharapkan nanti dalam sekali pembelian bisa include di dalamnya tiket kereta dengan angkutan terusan. Tapi itu nanti masih tahap pengembangan,” ujar EVP PT KAI Daop IV Semarang Mohamad Nurul Huda Dwi Santoso yang dikutip dari detik.com.

Akan ada sepuluh perjalanan angkutan terusan ini, lima dari Semarang Poncol dan lima lainnya dari Pati. Angkutan terusan tersebut melayani empat kota yang masing-masing memiliki checkpoint untuk naik dan turun penumpang yakni Semarang di Stasiun Semarang Ponconl dan Tawang, Kudus di Agen Rahayu Ahmad Yani dan SPBU Matahari, Demak di agen tiket Gunawan Shantika, sedangkan Pati di Eridani Travel Jalan Dr Susanto No.1 dan di depan Terminal Pati.

Huda mengatakan, perjalanan pertama dari Stasiun Poncol pukul 02.15 WIB dan menempuh waktu hingga ke Pati sekitar tiga sampai tiga jam setengah, dan sebaliknya dari Pati keberangkatan pertama pukul 04.00 WIB. Pihaknya berharap kehadiran angkutan terusan tersebut bisa membantu masyarakat yang hendak bepergian ke tiga kota itu serta meningkatkan jumlah pelancong.

Baca juga: NIS 171 – Konsep Lokomotif Futuristik Hindia Belanda untuk Rute Semarang-Yogyakarta

Huda menambahkan, untuk rute lainnya masih melihat animo masyarakat. “Nanti lihat animo masyarakat bagaimana, sudah ada permintaan ke Blora, Rembang, harapannya nanti bisa ada pengembangan ke sana, sebagaimana juga daerah Purwokerto menuju Wonosobo, atau ke depan dari Pekalongan ke Dieng, tergantung permintaan masyarakat.”

KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line

Pecinta kereta api tak mungkin tak kenal dengan kereta rel listrik (KRL) Pakuan yang melayani relasi Bogor-Jakarta Kota dan Bogor-Tanah Abang. Kereta api Pakuan Ekspres diluncurkan tahun 2000 dan menggunakan KRL hibahan dari Jepang yakni Toei 6000.

Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora

Bisa dikatakan Pakuan Ekspres merupakan KRL ekspres pertama yang menggunakan pendingin udara (AC). Pakuan Ekspres tidak berhenti di setiap stasiun tetapi KRL ini sudah pasti berhenti di Stasiun Bogor, Juanda, Gambir dan Gondangdia.

Sedangkan beberapa rangkaian ada pula yang berhenti di Stasiun Cikini, Manggarai, Tebet, Bojonggede dan Cilebut. KabarPenumpang.om merangkum dari berbagai laman sumber, sedangkan Pakuan Ekspres yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dari Bogor akan berhenti di Stasiun Cilebut, Bojonggede dan Sudirman.

KRL ini menempuh jarak dari Bogor ke Jakarta sepanjang 66 km dengan waktu tempuh 55-70 menit. Nama Pakuan sendiri diambil dari nama sebuah kerajaan di Bogor yakni Pakuan Padjajaran. Ternyata kereta Pakuan sudah beroperasi sejak tahun 1972 dan tahun 1980-an, KRL ini menggunakan KL-2 861xx dan KL-2 871xx yang merupakan KRL Rheostatik berbahan baja anti karat atau stainless steel.

Tahun 1994 silam, KRL AC Pakuan Utama diluncurkan sebagai brand Perumka dan awalnya KRL AC ini untuk KLB Presiden Soeharto untuk meresmikan jalan layang Jakarta Kota-Manggarai. Setahun berikutnya, KRL KL-2941xx (KRL BN-Holec) digunakan untuk KRL Pakuan bisnis hingga akhirnya tahun 2000 menggunakan KRL Toei 6000 itu.

Sayang, pada Juli 2011, KRL Pakuan mengakhiri ceritanya sebagai moda transportasi yang mengangkut masyarakat dari Bogor-Jakarta PP. Pengehentian operasi kereta ini karena peran KRL yang akan digantikan KRL Commuter Line yang akan dioperasikan PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) yang kini bernama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Baca juga: KRD Kelud Ekspres – Pamor Pudar Lantaran Harga Tiket Dianggap ‘Kemahalan’

Saat itu PT KCJ memutuskan untuk melakukan perubahan sistem operasi menjadi single operation. Ada dua perubahan penting dalam sistem operasi baru ini yakni yang pertama perampingan relasi perjalanan KRL dari 37 menjadi lima rute. Kedua tidak ada pengkelasan dalam lintasan trek yang artinya tidak ada kereta yang didahulukan dan semua kereta berjalan secara berurutan.

DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Di dekade 70-an hingga 90-an dikenal sebagai masa keemasan bagi maskapai flagship Garuda Indonesia. Dikala itu, Garuda Indonesia mampu melayani penerbangan ke beberapa kota di Eropa, bahkan melayani penerbangan ke Hawaii dan Los Angeles di Amerika Serikat. Diantara kenangan masa keemasan Garuda Indonesia, publik lekat dengan beberapa pesawat yang khas pada masa itu, seperti Douglas DC-9 untuk melayani penerbangan domestik. Sementara untuk penerbangan jarak menengah – jauh, Garuda Indonesia mengoperasikan armada wide body seperti Boeing 747-200, Airbus A300, dan DC-10.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Nah, yang disebut terakhir, yaitu DC-10 menjadi kenangan yang membekas bagi banyak penumpang di era tersebut. Inilah jet berbadan lebar Garuda Indonesia yang tampil dengan tiga mesin, dimana salah satu mesin berada di sayap vertikal. DC-10 adalah pesawat yang dibuat oleh pabrikan McDonnel Douglas, Amerika Serikat. Dan yang diakuisi Garuda Indonesia adalah seri DC-10 30, jumlah yang dioperasikan maskapai plat merah ini pun lumayan banyak, yakni total ada 28 unit. Rute yang umum dilayani DC-10 Garuda yaitu ke Eropa, Australia dan Jepang. Tak itu saja, dimasa pemerintahan Presiden Soeharto, DC-10 Garuda kerap ‘disulap’ sebagai pesawat kepresidenan.

Dirunut dari sejarahnya, DC-10 lahir sebagai jawaban McDonnel Douglas setelah kemunculan Boeing 747-100. DC-10 pertama kali meluncur pada 29 Agustus 1970, dan dioperasikan perdana oleh maskapai American Airlines pada 5 Agustus 1971. Pesawat ini disasar untuk memenuhi permintaan maskapai yang melayani rute penerbangan jarak menengah – jauh, yaitu penerbangan dengan jarak di rentang 3 ribu sampai 9 ribu kilometer.

Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya 

Dari kapasitas, DC-10 dapat memenuhi harapan maskapai. Untuk desain single class (economy) dengan jarak antar bangku 29 inchi, layout 2 – 4 – 2, maka pesawat ini dapat membawa sekitar 380 penumpang dalam sekali penerbangan. Garuda Indonesia resmi mengoperasikan DC-10 pada tahun 1978 sampai pertengahan 90-an. Dengan populasi 28 unit armada, Garuda Indonesia menjadi operator DC-10 terbanyak di kawasan Asia Tenggara.

Pesawat yang bisa disebut favorit banyak maskapai ini memang mendunia, dalam empat varian, total produksi DC-10 mencapai 446 unit. Konstruksinya yang kokoh, plus avionik yang canggih pada masanya, bahkan disebut-sebut lebih modern dibanding Boeing 747-200, menjadikan pesanan DC-10 mengalir deras sampai produksi terakhirnya pada tahun 1988.

Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Meski canggih dan punya sejumlah keunggulan, DC-10 bukan tak punya kelemahan, ada beberapa kali kecelakaan yang melibatkan pesawat ini. Salah satunya fenomenal adalah DC-10 30 Garuda Indonesia PK-GIE yang hendak bertolak dari Fukuoka, Jepang. Dalam musibah tersebut 3 dari 275 penumpangnya tewas. Musibah ini diakibatkan pilot membatalkan penerbangan di saat pesawat sudah mencapai kecepatan 160 knots. Pilot disebutkan membatalkan penerbangan karena menemukan sesuatu yang tidak beres.

Lewat investigasi, akhirnya ditemukan bukti adanya kerusakan pada mesin General Electric CF6, lantaran keausan akibat masa pakai, dimana pihak Garuda belum mengganti komponen pada mesin turbin jet tersebut.

Meski kini tak lagi banyak mengangkasa, pesawat yang dibagun dari paltform DC-10 cukup sukses di pasaran. Di bidang militer, KC-10 Extender sampai saat digunakan sebagai pesawat tanker udara. Sementara pengembangan pada varian sipil, merujuk ke nama MD-11, yang juga sempat digunakan Garuda Indonesia. Sayangnya penjualan MD-11 tak sesukses DC-10, seperti halnya DC-10, pesawat trijet ini lebih banyak dioperasikan untuk angkutan kargo udara.

Indian Railway Mulai Uji Lokomotif Bertenaga Baterai Lithium Ion untuk Shunting

Indian Railway mulai menguji lokomotif yang bisa berjalan dengan baterai lithium-ion setelah adanya dorongan untuk elektrifikasi. Rencananya Chittaranjan Locomotive Works akan membuat sepuluh kereta api semacam ini.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Lokomotif dengan tenaga baterai lithium-ion ini dikembangkan dan dioperasikan oleh Eastern Railway. Pemilihan baterai lithium-ion sendiri karena yang paling umum digunakan pada kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) serta memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan beratnya.

“Dengan rencana untuk elektrifikasi penuh dari momentum pengumpulan Indian Railway, lokomotif baterai ini akan digunakan untuk fungsi kecil seperti shunting atau pemindahan peralatan kecil di dalam stasiun atau menempuh perjalanan jarak pendek,” kata pejabat senior Kereta Api yang dikutip kabarPenumpang.com dari business-standard.com (2/9/2019).

Dia mengatakan, saat ini operasi shunting dilakukan oleh lokomotif diesel yang dianggap tidak hemat energi. Penggunaan baterai pada lokomotif dikarenakan NITI Aayog (Hindi untuk Kebijakan Komisi) telah menetapkan target ambisiusnya seperti konversi penuh ke EV untuk kendaraan roda tiga pada tahun 2023 dan kendaraan roda dua pada tahun 2025.

Percontohan dimulai dengan lokakarya kereta api Kanchrapara dari Eastern Railway telah mengubah satu lokomotifnya yang bekerja sebagai mesin shunting dengan tenaga baterai 25KV.

“Ini akan bekerja pada mode ganda, kabel (25 kv) dan nirkabel sehingga lokomotif bekerja bahkan tanpa daya terhubung jaringan. Namun, itu akan dapat menarik kereta barang dan penumpang dengan kecepatan rendah saat dalam mode baterai,” kata pejabat itu.

Di lokomotif baru ini, mode operasi dari traksi listrik ke baterai dapat diubah dengan operasi sakelar sederhana. Shunter yang dioperasikan dengan baterai mampu menggerakkan kereta penumpang dengan hingga 24 gerbong dan kereta barang 58 BOXN (sejenis kereta).

Lokomotif yang dioperasikan dengan baterai akan diproduksi dalam skala besar untuk operasi shunting, karena pengangkut nasional ingin menyetrum rute ukuran yang luas (BG) pada 2021-2022. Dibandingkan dengan rata-rata 608 rute km per tahun elektrifikasi yang dilakukan pada periode 2009-2014, rata-rata elektrifikasi rel kereta api telah meningkat menjadi 2737 rute km per tahun antara 2014 dan 2019.

Menurut roadmap pemerintah, tujuh ribu kilometer rute kereta akan dialiri listrik pada 2019-2020, diikuti oleh masing-masing 10500 pada 2020-2021 dan 2021-2022. Selama tahun keuangan saat ini, elektrifikasi hanya sekitar seribu kilometer sejauh ini telah selesai. Pejabat mengharapkan kecepatan meningkat pada akhir tahun.

Baca juga: Ternyata Ada yang Beda di Indikator Lampu Lokomotif Kereta Amerika Serikat

Menariknya, ini bukan pertama kalinya Railways menggunakan lokomotif yang dioperasikan dengan baterai, sebelumnya Sonarpur sebelumnya telah mengubah lokomotif periodik lama menjadi shunter yang dioperasikan dengan baterai melalui teknologi mereka sendiri di awal tahun 2000-an. Itu dikembangkan menggunakan peralatan cadangan dari EMU / MEMU konvensional dan baterai traksi (2V / 1100Ah) dari pelatih AC konvensional.

“Perbedaan utama kali ini adalah bahwa Railways juga bergabung dengan klub lithium-ion,” kata pejabat itu.

Jumlah Penumpang Turun Drastis, Cathay Pacific Ambil Langkah Penyesuaian Kapasitas

Cathay Pacific harus menderita dan menerima akibat dari adanya protes anti pemerintah yang terjadi di Hong Kong (HK). Pasalnya para demonstran ini menyerbu pusat utama mereka di Bandara Internasional Hong Kong dan membuat maskapai tersebut menutup operasi sementara waktu.

Baca juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?

Karena hal tersebut, maskapai Cathay Pacific dan Cathay Dragon hanya mengangkut 2.906.954 penumpang pada Agustus 2019. Jumlah ini menurun 11,3 persen dibandingkan bulan yang sama di tahun 2018 kemarin.

Tak hanya itu, load factor-nya pun turun hingga 7,2 poin dengan presentase 79,9 persen. Kapasitas keseluruhan atau ASKS (available seat kilometers) naik sebesar 5,1 persen tetapi RPK (revenue passenger kilometers) turun 3,6 persen dibandikan periode yang sama tahun 2018.

Bahkan pergolakan pun terjadi ditubuh manajemen, dimana ada perubahan Dewan Direksi yakni CEO perusahaan Rupert Hogg dan kepala pelanggan dan pejabat komersial Paul Loo digantikan oleh Ronald Lam dan Augustus Tang. Tak hanya itu kurang dari tiga minggu kemudian, John Slosar, yang telah menjadi ketua perusahaan penerbangan sejak 2014, mengumumkan akan mengundurkan diri pada November 2019.

“Agustus adalah bulan yang sangat menantang, baik untuk Cathay Pacific dan Hong Kong. Lalu lintas masuk Hong Kong kami turun 38 persen sementara keluar turun 12 persen, dan kami melihat September ini kondisi belum akan membaik,” kata kepala pelanggan dan komersial Cathay Pacific Grup Ronald Lam yang dikutip KabarPenumpang.com dari aerotime.aero (12/9/2019).

Lam menambahkan, permintaan lalu lintas masuk ke Hong Kong dari pasar regional khususnya Cina daratan dan Asia Timur Laut menurun drastis padahal, rute Pasifik Selatan adalah titik andalan. Sebagai hasil penurunan permintaan perjalanan, peningkatan campuran penumpang transit dan dampak negatif yang disebabkan oleh penguatan dollar AS membuat jumlah penumpang berada di bawah tekanan lebih lanjut.

“Mengingat penurunan signifikan dalam pemesanan ke depan, terutama untuk sisa tahun ini, kami akan membuat beberapa langkah taktis jangka pendek seperti penyesuaian kapasitas. Secara khusus, kami mengurangi pertumbuhan kapasitas sehingga akan sedikit turun dari tahun ke tahun pada musim dingin 2019 versus rencana pertumbuhan awal kami yang lebih dari enam persen pada periode tersebut,” jelas Lam.

Hasil yang mengecewakan juga datang pada rilis hasil Semester pertama 2019 Cathay Pacific yang diumumkan pada 7 Agustus 2019. Untuk paruh pertama tahun ini, Grup melaporkan laba bersih $172 juta (HK$1347 juta), dibandingkan dengan hilangnya $33,6 juta (HK$263 juta) untuk periode yang sama pada tahun 2018, ketika Cathay berhasil mencapai laba bersih untuk pertama kalinya sejak 2015.

Baca juga: Direksi Air China Sebut Tak Akan Akuisisi Cathay Pacific

Angka lalu lintas untuk Agustus dan musim dingin sekarang dapat mempersulit upaya Cathay dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan di program perputaran keuangan tiga tahun, didorong oleh peningkatan pendapatan dan pemotongan biaya.

Mampir ke Addis Ababa Jangan Lupa Berkeliling dengan Taksi Vintage

Menjelajahi sebuah tempat untuk pertama kalinya ketika turun dari bandara, banyak pelancong yang memilih taksi untuk tiba ditujuannya. Hal ini biasanya karena taksi lebih mudah didapat dan bisa langsung ketempat tujuan pelancong.

Baca juga: Dubai Kian ‘Cerdas,’ Hadirkan Layanan WiFi Gratis di Taksi dengan Portal Khusus Penumpang

Taksi juga bisa menjadi ikon suatu kota seperti di Inggris maupun di Amerika. Namun bagaimana jika taksi yang menjadi ikon sebuah kota tersebut tak layak lagi disebut taksi karena mobil yang digunakan sudah cukup tua dan harus pensiun?

Taksi vintage Addis Ababa (theguardian.com)

KabarPenumpang.com mendapatkan fakta dari theguardian.com (11/9/2019), bahwa ternyata di Ethiopia masih ada taksi dengan mobil tua beroperasi. Bahkan ini disebut sebagai taksi vintage karena menggunakan mobil Peugeot yang dibuat pada abad pertengahan.

Taksi ini masih digunakan oleh para pengemudi meski untuk mendapatkan bagian-bagian dari mobil tipe tersebut sudah sulit. Untuk menemukan taksi vintage asal Ethiopia ini tak sulit yakni ketika pelancong tiba di Bandara Internasional Bole Addis Ababa.

Mobil Peugeot 404 dan 504 abad pertengahan terlihat sangat menonjol di bandara. Bahkan ada taksi yang sudah berusia 60 tahun tetapi masih melaju untuk mengangkut penumpang.

Selain di Bandara Addis Ababa, taksi vintage ini juga memiliki tempat terbaik untuk di temukan yakni Harar yang merupakan kota kecil dengan lorong sempit berusia satu abad atau seribu tahun dan rumah-rumah dicat cerah serta terletak di bagian timur Ethiopia dekat perbatasan Somaliland. Di kota kecil ini, pelancong akan mudah menemukan taksi vintage karena bertebaran dimana-mana.

Biasanya para pengemudi taksi mengelilingi tembok kota kuno untuk mencari pelanggan atau berkumpul di bundaran tengah. Bisa dikatakan, hampir semua armada taksi menggunakan Peugeot tipe ini dan tuk-tuk roda tiga serta minibus adalah pesaing mereka.

Selain mahalnya harga mobil baru dan batasan impor, Ethiopia sendiri memiliki konektivitas internet yang buruk. Ini menjadikan gelombang berbagai perjalanan yang mengganggu industri taksi di seluruh dunia belum muncul sebagai ancaman utama dan terbatas pada beberapa startup di ibukota Addis Ababa.

Meski taksi dengan mobil tua, para pegemudi bangga dengan apa yang mereka kendarai. Tetapi mereka jugalah yang pertama mengakui bahwa kehidupan mobil-mobil ini akan segera berakhir.

“Mobil tidak pernah mati dengan kualitas. Saya sudah mengemudi 30 tahun. Sangat mudah perawatannya tetapi sulit menemukan bagian-bagian mesin. Saya lebih suka mobil baru karena hemat bahan bakar,” kata Alemu Yama, pemilik Peugeot 404 yang berusia lebih dari 50 tahun.

Sementara Peugeot mudah diperbaiki, suku cadang yang tercantum dalam manual vintage yang dibawa oleh setiap pengemudi semakin langka dan penghematan bahan bakar yang luar biasa. Berkat pajak impor hingga 200 persen, Ethiopia saat ini memiliki salah satu tingkat kepemilikan mobil terendah di dunia.

Banyak yang berharap ini akan berubah di bawah perdana menteri ambisius Abiy Ahmed, yang telah melakukan reformasi sejak berkuasa pada 2018. Sampai saat itu, taksi antik akan terus mengemudi, selama mereka satu-satunya pilihan.

Baca juga: Totalitas Horor, Jepang Hadirkan Taksi ‘Berhantu’ di Osaka Tiap Musim Panas

Pengemudi Belete Mulatu memperkirakan bahwa Peugeot tidak punya banyak waktu lagi. “Mereka tidak akan berada di jalan lebih dari dua atau tiga tahun. Perdana menteri baru akan mengubah banyak hal. “