Sasar Pasar Last-Mile Transport, Hyundai Kembangkan Skuter Listrik yang Bisa Dilipat

Pemberitaan tentang ragam moda transportasi alternatif kini memang sudah menjamur – mulai dari skuter listrik, skuter lipat, hingga gabungan dari keduanya, skuter listrik lipat. Diberitakan, produsen otomotif kenamaan asal Korea Selatan, Hyundai baru saja merilis prototipe dari skuter listrik yang akan menunjang mobilitas last-mile para penggunanya. Alih-alih menciptakan skuter ini dari nol, Hyundai sebenarnya hanyalah melanjutkan konsep skuter listrik terdahulunya yang sempat dipamerkan pada pagelaran Consumer Electronic Show 2017.

Baca Juga: Unagi Scooter, Otoped Listrik yang Bisa Menanjak Hingga 15 Derajat

Skuter listrik lipat rancangan Hyundai ini dilengkapi oleh baterai lithium onboard berkapasitas 10,5Ah, dan mampu merengkuh kecepatan maksimum diangka 20 km per jam. Dalam sekali pengisian daya, skuter ini mampu menembus jarak maksimal hingga 20 km dan tentu saja nyaman ketika dikendarai. Satu kelebihan lain dari skuter ini adalah mampu mengisi ulang daya pada kendaraan rilisan Hyundai dan Kia Motors – tidak melulu di stasiun pengisian daya konvensional.

Mengingat skuter ini merupakan moda penunjang transportasi public, maka Hyundai berupaya untuk membuat kendaraan roda dua ini se-fleksibel mungkin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (26/8), kabarnya skuter ini bisa dilipat sebanyak tiga kali lipatan guna memudahkan para penggunanya ketika hendak menggunakan moda transportasi berbasis massal. Ya, dengan begitu, skuter ini akan menjadi lebih mudah dibawa kemanapun Anda pergi.

Setelah dilipat, bentuk dari skuter ini akan otomatis menyusut, hanya sebesar meja belajar anak kecil kurang lebih dengan bobot 7,7 kg saja. Adapun fitur pelengkap dari skuter listrik ini adalah lampu pada bagian depan dan belakang (guna memberi tanda pada kendaraan lain), layer digital yang menampilkan beragam indicator seperti ketersediaan baterai dan kecepatan skuter, dan satu yang masih dikembangkan pihak Hyundai adalah system pengereman regeneratif.

Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan

Kendati terdengar sangat futuristik, namun saying pihak Hyundai masih belum mau memaparkan lebih lanjut kapan moda ini akan dirilis kepada publik, mengingat statusnya yang sampai hari ini masih dalam pengembangan.

Dua Bulan Uji Coba, Waymo Menjadi Pemimpin Perjalanan Kendaraan Otonom di California

Pilot project Robotaxi Waymo menyelesaikan 4678 perjalanan penumpang pada Juli ditambah dengan 12 perjalanan lainnya untuk tujuan pendidikan. Waymo mengangkut 6299 penumpang dengan minivan Chrysler Pacifica yang berjalan otonom atau tanpa pengemudi dalam bulan pertamanya berpartisipasi dalam program percontohan robotaxi di california.

Baca juga: Nuro, Mobil Otonom Pengantar Pizza Hadir Akhir Tahun di Houston

Dengan adanya data angka-angka ini, menunjukkan Waymo memiliki sumber daya, staf dan kendaraan untuk mengoperasikan secara otonom sambil terus menguji teknologinya di beberapa kota dan meningkatkan layanan perjalanan Waymo One di Arizona. Dilansir KabarPenumpang.com dari techcrunch.com (17/9/2019), data Waymo bersama dengan laporan triwulanan dari tiga perusahaan lain yang memegang izin dari CPUC (California Public Utilities Commission) memberikan petunjuk bagaimana permintaan kendaraan otonom komersial dan bagaimana layanan ini dapat membentuk kembali kota.

Progrm percontohan Waymo sendiri tidak terbuka untuk umum melainkan untuk karyawan dan tamu-tamu mereka di wilayah South Bay yang geofenced dan mencakup Mountain View, Palo Alto, Sunnyvale, Cupertino, Los Altos serta Los Altos Hills. Ini hanya beberapa di mana Waymo menguji coba kendaraannya di California.

Karena perusahaan dalam program percontohan, maka tidak diperkenankan untuk mengenakan biaya perjalanan bagi penumpang. Dr Susan Shaheen, wakil direktur Pusat Penelitian Keberlanjutan Transportasi di Universitas California mencatat, bahwa sulit untuk menentukan pemintaan untuk layanan penumpang yang berjalan tanpa pengemudi. Waymo saat ini memiliki izin berpartisipasi dalam program Percontohan Layanan Penumpang Kendaraan Bermotor oleh CPUC.

Diketahui, Waymo, yang menerima izin pada 2 Juli atau dua bulan memasuki kuartal kedua sudah menjadi pemimpin dalam hal perjalanan. Di bawah program, pemegang izin harus menyerahkan data anonim tentang setiap kendaraan otonom yang beroperasi.

Waymo dan perusahaan lain yang berpartisipasi dalam uji coba harus memberikan total jarak tempuh kendaraan yang ditempuh selama layanan penumpang, serta total jarak tempuh dalam kendaraan listrik (jika ada) setiap kuartal. Persyaratan data lainnya untuk setiap kuartal mencakup jarak tempuh ke titik penjemputan, waktu idling, hunian kendaraan dan data tentang wahana yang dapat diakses.

Data ini dimaksudkan untuk membantu CPUC mengembangkan kerangka kerja untuk penyebaran penuh, layanan penumpang kendaraan otonom berbayar di California. Namun, data mungkin tidak sepenuhnya menangkap seperti apa layanan komersial itu. Misalnya, total jarak tempuh Waymo yang dilalui dari lokasi awal kendaraan ke titik penjemputan atau istilah yang dikenal sebagai deadhead miles dengan berjarak 48.137 mil dari total 59.916.

Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga

Waymo mencatat dalam laporannya kepada CPUC bahwa ia terus menguji di antara wahana, menyiratkan bahwa ini bisa menaikkan deadhead mil. Perusahaan kendaraan otonom sebagian besar telah mendukung dua program percontohan CPUC.

Volvo Kenalkan Kursi Tambahan untuk Anak Sejak 1972

Dalam sebuah kecelakaan mobil, anak-anak berusia nol sampai 15 tahun sangat rentan menjadi korban. Hal ini kemudian membuat Volvo mengembangkan sejumlah pedoman keselamatan untuk anak ketika orang tua mengemudikan mobil mereka setelah melakukan studi pada tujuh ribu kecelakaan yang terjadi.

Baca juga: Foto Viral Ini Ingatkan Pentingnya Car Seat Untuk Anak

Volvo menyebutkan, bayi menjadi penumpang yang paling rentan jika terjadi kecelakaan dimana cedera otak traumatis bisa menyebabkan kerusakan yang fatal, sehingga dengan penggunaan peralatan keselamatan yang tepat bagi anak-anak ketika berkendara bisa mengurangi konsekuensi dari cedera dalam insiden kecelakaan.

(carglancer.com)

KabarPenumpang.com melansir laman carglancer.com (14/9/2019), Folksam yang merupakan mitra Volvo dan sebuah perusahaan asuransi asal Swedia melakukan penelitian terkait risiko bagi penumpang anak. Mereka mendapatkan data bahwa anak-anak yang duduk menghadap depan dengan kursi tambahan (car seat), lima kali lebih tinggi mengalami cedera dibandingkan posisi duduk menghadap kebelakang.

Adanya data ini kemudian membuat Volvo merekomendasikan agar pengemudi yang membawa anak-anak dan kursi tambahan mereka meletakkannya menghadap kebelakang untuk yang berusia 0-4 tahun. Ketika kursi anak diletakkan disebelah pengemudi dan menghadap belakang, airbag harus dinonaktifkan.

Gunakan sabuk pengaman untuk anak dengan benar dimana bagian diagonal sabuk diletakkan di atas bahu dan bukan di bawah lengan. Bagian horizontal harus melewati paha atas dan bukan diatas perut.

Ternyata sebelum adanya pedoman ini, Volvo telah melakukan pengaman keselamatan pasif berkualitas tinggi di dalam mobil selama lebih dari setengah abad. Bahkan belum lama ini, Volvo merayakan 60 tahun penciptaan sabuk pengaman tiga titik.

Tak hanya itu, terinspirasi oleh para astronot, Volvo juga mulai menguji kursi dengan menghadap ke belakang pada tahun 1964. Perusahaan asal Swedia ini kemudian memperkenalkan kursi anak pertama dari jenis ini setelah delapan tahun kemudian, yaitu tepatnya pada 1972.

Pada tahun 1990, Volvo memperkenalkan bantal booster yang terintegrasi ke kursi penumpang belakang. Kursi anak Volvo terbuat dari wol 80 persen, menggunakan dudukan ISOFIX, dirancang untuk berbagai beban.

Baca juga: Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo

Pada 2014, Volvo mengembangkan kursi karet lima kilogram untuk anak-anak, yang dapat dibawa ke pesawat terbang sebagai barang bawaan. Volvo juga membuat rekomendasi bagaimana menggunakan berbagai jenis kursi anak untuk penumpang dengan bobot dan usia yang berbeda.

Uji Sertifikasi 737 MAX Jatuh Pada September Ini, FAA dan Boeing Masih Rahasiakan Tanggal, Ada Apa?

Kepala Federal Aviation Administration (FAA) yang baru, Stephen Dickson dikabarkan akan bertolak menuju Seattle pada minggu ketiga bulan September ini untuk menguji perangkat lunak varian Boeing 737 MAX yang sudah dikonfigurasi ke dalam sebuah simulator.

Baca Juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?

Rencananya, lawatan Stephen ini akan disambut oleh para pejabat dari Boeing. Salah satu bagian dari sertifikasi varian pesawat ini merupakan hal yang sebelumnya sudah ditunggu-tunggu oleh Boeing, dan diharapkan ini menjadi angin segar bagi perusahaan yang dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang ini mengalami kerugian yang sangat besar akibat grounded massal varian 737 MAX sejak Maret silam.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com darii laman Reuters.com (17/9), tidak disebutkan kapan pastinya Stephen akan mengunjungi salah satu markas dari Boeing ini. Namun FAA mengatakan bahwa kedatangan Stephen ini akan menjadi satu langkah yang akan mengantarkan Boeing mendapatkan sertifikasi agar varian 737 MAX miliknya bisa kembali mengudara dan mengangkut penumpang kembali.

“Stephen juga rencananya akan mengunjungi tim sertifikasi pesawat dari FAA yang ada di Seattle, tapi kami tidak bisa mengkonfirmasi kapan hal tersebut akan terjadi,” ujar salah satu juru bicara dari FAA.

“Stephen juga telah mengambil alih sebagai administrator pada pertengahan Agustus kemarin,” lanjutnya.

Pada kesempatan terpisah, juru bicara dari parlemen Peter DeFazio – yang juga merangkap sebagai Ketua Komite Transportasi parlemen membenarkan bahwa pihak Boeing telah menolak undangan untuk bersaksi pada sidang di hadapan parlemen mendatang.

“Boeing bekerja dengan tekun dan transparan dengan komite-komite di parlemen dan Senat untuk memastikan bahwa informasi yang dibagikan tepat dan kami akan terus mengembangkan hubungan baik ini,” ujar Peter.

Menanggapi pemberitaan dari FAA ini, pihak Boeing mengatakan bahwa mereka akan melakukan penerbangan uji sertifikasi, “pada rentang September ini,” dan senada dengan pihak FAA, CEO dari Boeing Dennis Muilenburg juga lebih memilih bungkam terkait uji sertifikasi ini.

Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8

Sebelumnya, maskapai-maskapai besar Amerika Serikat telah membatalkan sejumlah penerbangan ke bulan Desember sebagai dampak dari grounding massal varian 737 MAX, termasuk American Airlines dan United Airlines. Sedangkan Southwest Airlines telah membatalkan penerbangan ke awal Januari.

Grab Targetkan 50 GrabKitchen Hingga Akhir 2019 di Seluruh Indonesia

Grab Kitchen merupakan bentuk ekspansi baru GrabFood yang berkonsep cloud kitchen. Ini adalah sebuah platform dari Grab berbentuk dapur yang bisa diisi berbagai merchant atau restoran dan tidak ada disembarang tempat. Untuk menentukan lokasi Grab Kitchen, pihak Grab melalukan riset terlebih dahulu untuk melihat apakah layak digunakan.

Baca juga: Tim MapsOps Grab Ternyata Ada Dibalik Kemudahan Penjemputan

Kehadirannya sendiri ternyata didapatkan berdasarkan data internal yang dihimpun dari layanan GrabFood, dimana para penikmat kuliner di wilayah tertentu kerap mengalami kesulitan dalam menikmati menu makanan dan minuman favorit mereka akibat kurang memadainya konsentrasi jumlah merchants di wilayah tersebut.

Hal ini menimbulkan kesenjangan antara permintaan dan pasokan, sehingga menyebabkan waktu tunggu pesanan yang lama karena mitra pengemudi GrabFood harus menempuh jarak yang jauh untuk menjangkau merchants terkait. GrabFood memperkenalkan konsep cloud kitchen ke warga Indonesia melalui proyek pilot GrabKitchen pada September 2018 lalu dan resmi diluncurkan April 2019. Saat ini enam bulan berjalan GrabFood ternyata sudah meluncurkan sepuluh GrabKitchen dan salah satunya di Bandung yang menjadi lokasi pertama GrabKitchen di luar Jakarta.

Di Jakarta sendiri Grab Kitchen sendiri sudah ada di Kedoya, Cideng, Kramat, Tendean, Pondok Aren, Fatmawati, Cililitan, dan Capital Place. GrabFood berencana untuk mengembangkan jaringan cloud kitchen miliknya secara signifikan dengan menghadirkan lebih dari 50 GrabKitchen di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2019 ini.

“Menyusul layanan pesan-antar makanan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia dan Asia Tenggara, kini siap mengembangkan jaringan cloud kitchen bernama ‘GrabKitchen’ secara signifikan di Indonesia,” kata President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman web milik Grab.

Head of Marketing GrabFood and New Business, Grab Indonesia Ichmeralda Altri Rachman mengatakan, Grab Kitchen tidak hanya menambah pilihan santapan di area tersebut tapi juga mempersingkat waktu pengantaran guna meningkatkan pengalaman memesan melalui aplikasi Grab.

“Pertama pesannya apa aja sih, di area mana aja, kira-kira menunya apa aja, tipe makanannya apa aja, ada gap gak yah yang perlu di-capture. Setelah menemukan gap itu, kita akan menentukan tempat membuka dan mengajak merchant tertentu karena makanan-makanan inilah yang disukai,” kata Ichmeralda.

Dia mengatakan, kehadiran Kitchen ini bisa berdampak baik bagi pelanggan maupun merchant. Bahkan untuk merchant ada dua keuntungan utama yang bisa didapat yakni mendapat dapur sendiri secara gratis dari Grab serta penungkatan visibilitas.

Sedangkan untuk pelanggan waktu pengantaran karena mitra hanya perlu datang ke satu tempat dan bisa membeli dari berbagai merchant berbeda sekaligus tanpa perlu ganti-ganti restoran. Dia mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan merchant terbaik untuk menyajikan ragam hidangan favorit, selain itu pengguna bisa mendapatkan berbagai keuntungan seperti biaya pengantaran yang lebih murah, waktu pengantaran yang lebih cepat dan konsep mix and match.

“Konsep ‘mix and match’ di mana mereka bisa memesan beberapa menu dari restoran yang berbeda dalam satu kali pemesanan,” ucap Ichmeralda.

Baca juga: Grab Uji Coba Kenakan Denda Pembatalan Order di Lampung dan Palembang

Dia menambahkan, GrabKitchen juga bisa membawa makanan yang menjadi demand besar di suatu lokasi tetapi belum ada di tempat tersebut. Merchant-merchant yang menjadi bagian dari Kitchen akan mendapatkan banner tersendiri sebagai penanda.

Mengekor Kesuksesan Cina, Anggota Kongres AS Canangkan Strategi Kereta Cepat “Green New Deal”

Memang, nama Cina agaknya terlalu sulit untuk digeser dari kedigdayaannya di sektor terknologi. Bahkan, Negara Adikuasa Amerika Serikat saja sampai-sampai ‘mengekor’ Negeri Tirai Bambu dalam urusan jaringan kereta api berkecepatan tingginya – kendati dua raksasa ini sudah lama terlibat dalam Perang Dagang yang tak kunjung usai. Apakah ini salah satu strategi yang dilakukan AS agar tidak jauh tertinggal dari rival terbesarnya ini? Atau Negeri Paman Sam memiliki niatan lain di balik upaya mengekor Cina kali ini?

Baca Juga: [Bagian 1] Fakta Unik Kereta Cepat di Cina – Punya Jaringan Terbesar di Dunia dan Angkut 2 Juta Penumpang Per Hari

Persisnya pada Februari 2019 lalu, anggota kongres AS, Alexandria Ocasio-Cortez dan Ed Markey mengumumkan sepasang resolusi yang bernama “Green New Deal.” Resolusi ini mencakup skema pengadaan dan pembangunan jaringan kereta api berkecepatan tinggi dan mulai menjadikan jalur perjalanan udara sebagai opsi kedua dalam menempuh perjalanan jarak jauh dalam negeri.

Mungkin, agak terlalu gengsi untuk pihak AS jika menyatakan bahwa ide ini terinspirasi dari Cina yang sudah mulai menjadikan kereta berkecepatan tinggi sebagai moda utama pengangkut penumpang dan menjadikan sektor aviasinya sebagai ‘cadangan’ moda. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman signal.supchina.com (12/9), contoh paling sederhana dari pernyataan di atas adalah perjalanan dari Beijing menuju Shanghai (sejauh 1.213 km) yang kini sudah mulai digalakkan dengan menggunakan jaringan kereta cepat.

“Tidak hanya itu, banyak rute penerbangan yang kini sudah mulai tergantikan dengan jaringan kereta cepat, dimana sebenarnya Cina memiliki luas daratan yang hampir setara dengan Amerika,” ujar salah satu juru bicara dari Cina yang identitasnya dianonimkan.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, jaringan kereta api cepat Cina mengular di kecepatan rata-rata 250 hingga 350 km per jam, dan ‘meliuk-liuk’ di bentang jalur yang mencapai total 18.000 mil. Rencananya, total bentang jalur jaringan kereta cepat Cina ini akan bertambah ke angka 25.000 mil di tahun 2025 mendatang.

Baca Juga: [Bagian 2] Fakta Unik Kereta Cepat di Cina – Lima Jalur Kecepatan Tinggi Pemecah Rekor Dunia

Satu kunci kesuksesan Cina dalam menghadirkan jaringan kereta cepat yang hampir merata di semua bagian negaranya adalah timeline pembangunan yang jelas dan system yang sedikit memaksa – wajar saja, mengingat Cina merupakan salah satu negara penganut paham komunis terbesar di dunia. Prinsip liberal yang dianut oleh Amerika sedikit banyaknya menyumbang kesulitan bagi Pemerintah untuk menggalakkan timeline serupa seperti di Negeri Tirai Bambu.

Terlepas dari resolusi yang coba dihadirkan oleh dua anggota kongres tersebut, namun kehadiran jaringan kereta cepat di AS sejatinya akan berdampak pada menurunnya level polusi di sana. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa pesawat merupakan salah satu penyumbang emisi rumah kaca terbesar di dunia.

Serba-Serbi Pendaratan Darurat Medis Garuda Indonesia GA728 di Karratha, Australia

Maskapai plat merah Garuda Indonesia dikabarkan melakukan pendaratan darurat di Bandara Karratha, Australia pada Minggu (15/9) kemarin. Alih-alih mengalami kerusakan pada mesin ketika mengudara, ternyata pendaratan darurat ini merupakan tindak responsif dari pihak maskapai untuk menyelamatkan salah satu penumpangnya yang mengalami serangan jantung ketika tengah di udara. Adapun pesawat Boeing 737-800 yang digunakan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA728 ini tengah melakukan penerbangan berjadwal dari Denpasar (DPS) menuju Perth (PER).

Baca Juga: Bandara “Bandaranaike” Kolombo, Saksi Bisu Beberapa Pendaratan Darurat Garuda Indonesia

Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan pada awalnya, penerbangan berjalan normal. Hingga tak berselang lama setelah pesawat tinggal landas, salah satu awak kabin di dalam penerbangan tersebut mendapati salah satu penumpang berjenis kelamin wanita berusia 63 tahun mengalami gejala sesak nafas. Sejurus sesaat, awak kabin langsung berupaya untuk memberikan bantuan pertama pada wanita tersebut.

“Melihat kondisi penumpang yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pilot in command (PIC) Captain Shahzam Nizam Rassat, sesuai SOP, kemudian memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan di Bandara Karratha untuk memastikan penumpang mendapatkan penanganan lebih lanjut,” terang Ikhsan.

Adapun kondisi wanita yang dianonimkan tersebut berangsur membaik, dan pesawat Garuda Indonesia GA728 kembali melanjutkan perjalanan menuju Perth pukul 01.06 LT dan tiba pada pukul 01.25 LT di hari yang sama.

Mengapa di Bandara Karratha?
Mengingat kondisi pasien yang membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin, wajar adanya jika kapten penerbangan terpaksa mengambil keputusan untuk mengalihkan penerbangan tersebut menuju bandara terdekat yang available. Pertanyaannya, “Mengapa pilot memilih Bandara Karratha?”

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, ini merupakan kondisi darurat medis dimana pesawat harus sesegera mungkin mendarat agar nyawa dari penumpang terselamatkan. Mengingat Bandara Karratha merupakan salah satu bandara yang dilintasi oleh pesawat, maka tidak heran jika GA728 memilih untuk mendarat di bandara yang terletak 14km dari pusat kota Karratha ini.

Selain itu, jika diperhatikan rekam jejak penerbangan pesawat yang terdapat di laman flightstats.com, Garuda Indonesia GA728 yang terbang dari Denpasar menuju Perth ini mengambil rute lurus ke arah Selatan, menyeberangi Samudera Hindia dan melanjutkan penerbangan di atas Benua Australia. Tercatat pula bahwa pesawat Garuda Indonesia GA728 sempat berbalik arah di atas kota tambang, Tom Price sebelum akhirnya mendarat di Karratha.

Baca Juga: Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen!

Kuat dugaan, alasan dari pilot untuk mendarat di Bandara Karratha adalah lalu lintas udara di Bandara Perth itu terlalu sibuk – wajar adanya jika pesawat harus mengantri untuk mendarat atau take-off dari bandara internasional sekelas Bandara Perth .

Selain itu, dugaan lain adalah unit pesawat yang digunakan oleh Garuda Indonesia pada penerbangan tersebut, Boeing 737-800 merupakan pesawat narrow-body yang agaknya tidak terlalu rumit untuk menjalani skema pendaratan darurat (menimbang dari panjang landas pacu atau runway dan kesiapan ground handling menangani kasus darurat medis) semacam ini.

Kemungkinan terakhir, kondisi penumpang sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Perth, mengingat jarak yang terbentang antara Karratha dan Perth mencapai angka 1.522,4 km via National Route 1.

Bandara Ngurah Rai Musnahkah Ratusan Tongsis, Bagaimana dengan Regulasi di Luar Sana?

Sektor aviasi global tercatat sebagai perjalanan yang paling aman di dunia – walaupun ketika terjadi kecelakaan, hampir tidak ada harapan lagi untuk bisa bertahan hidup. Terlepas dari kasus kecelakaan, pengamanan yang dijalankan oleh para petugas bandara maupun maskapai bisa dibilang sangat ketat. Banyak barang yang tidka boleh dibawa oleh penumpang ke dalam kabin, mulai dari benda tajam, gunting kuku, sejumlah alat elektronik, dan perangkat penunjang ponsel pintar.

Baca Juga: Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara?

Pada awal bulan Agustus kemarin, Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali kembali menggelar pemusnahan barang yang dinilai berbahaya dari penumpang. Pemusnahan ini dilakukan karena barang-barang tersebut tidak sesuai dengan aturan yang mengatur tentang barang yang diperbolehkan untuk dibawa masuk dalam pesawat udara.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (7/8), ribuan barang yang berhasil disita petugas keamanan bandara ini terdiri dari: 217 unit powerbank, 112 unit korek gas, 855 unit tongsis atau tongkat swafoto, dan satu karung berisikan barang tajam seperti gunting, pisau, hingga cutter. Adapun barang-barang ini berhasil dikumpulkan petugas hanya dalam rentang waktu tiga bulan saja – dari mulai Maret hingga Mei 2019.

Pemusnahan barang-barang terlarang ini membuktikan bahwa PT Angkasa Pura I selaku pengelola bandara terus berupaya untuk mewujudkan komitmen mereka – penerbangan selalu dalam keadaan aman dan selamat.

Lalu bagaimana dengan yang ada di luar sana? Apakah pihak maskapai atau pengelola bandara memberlakukan standar yang sama terhadap tongsis ini?

Mengutip dari laman sumber lain, banyak maskapai penerbangan asing di luar sana yang bahkan tidak melarang penumpangnya untuk menggunakan tongsis di dalam penerbangan mereka selama tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang lainnya.

Sebut saja Singapore Airlines yang mengatakan bahwa pihak maskapai tidak memiliki regulasi khusus yang mengatur soal keberadaan tongsis di dalam kabin. Sama halnya dengan beberapa maskapai kenamaan lain seperti American Airlines, Virgin Atlantic, EasyJet hingga British Airways.

Baca Juga: Priiit..! Dilarang Selfie di Tempat-Tempat Berikut Ini

Namun ada Air France yang ternyata tidak mengijinkan penumpangnya untuk menggunakan tongsis selama perjalanan, maupun ketika masih di darat. Tidak hanya melarang, namun pihak maskapai juga tidak mengijinkan penumpang untuk membawanya masuk ke dalam kabin.

Perspektif di Amerika Serikat, Ternyata Wrapping Barang Bawaan Itu Penting!

Seringkali ketika di bandara dan hendak bepergian ke suatu tempat, banyak pelancong yang wrapping tas, koper atau barang lainnya. Entah apa maksudnya dan sebenarnya apa saja kegunaan mem-wrapping barang sebelum bepergian dengan pesawat?

Baca juga: Otoritas Penerbangan Pakistan Wajibkan Penumpang Gunakan Baggage Wrapping

KabarPenumpang.com merangkum laman fodors.com (6/9/2019), ternyata wrapping atau membungkus dengan plastik ini sangat banyak manfaatnya. Bila di Indonesia, masih banyak yang menganggap wrapping ini aneh, tetapi pelancong internasional melakukannya setiap saat.

Sebenarnya dengan mem-wrapping tas, keamanan, barang bawaan seseorang lebih terjamin karena bila ada orang yang akan mengambil sesuatu dari dalam tas tidak akan bisa melakukannya dan bila terjadi akan langsung ketahuan. Selain itu, tas juga aman dari penyelundupan obat-obatan terlarang, senjata atau pun bahan peledak saat dilakukannya pemeriksaan.

Tak hanya itu, manfaat lainnya membungkus koper dengan plastik adalah menurunkan kemungkinan koper usang atau empuk akan pecah dan terbuka ketika transit. Ini juga membungkus kait dan ritsleting yang rusak ketika bepergian. Koper yang terbungkus juga bisa melindungi dari bantingan, goresan, minyak, salju atau hujan.

Layanan wrapping di bandara, bisa ditemui pelancong sebelum pemeriksaan keamanan.Tetapi terkadang letak layanan wrapping ada di dekat konter check in.

Di Amerika Serikat, hanya ada beberapa bandara yang menawarkan layanan ini seperti Bandara Internasional Miami (MIA), Bandara Internasional JFK New York (JFK), dan Bandara George Bush Intercontinental (IAH) Houston, semua dioperasikan oleh Secure Wrap. Sedangkan Fort Lauderdale – Bandara Internasional Hollywood (FLL), dioperasikan oleh Bags To Go dan Bandara Internasional Seattle-Tacoma (SEA), dioperasikan oleh Smarte Carte.

Membungkus tas dengan plastik cukup mudah dengan meletakkan tas diatas mesin dan hanya memakan waktu satu menit. Plastiknya pun bisa didaur ulang sehingga tidak menjadi limbah begitu saja. Untuk biaya wrapping sendiri tergantung ukuran dan berat koper itu sendiri.

Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

Di Amerika Serikat, dengan membayar $15 untuk membungkus koper ukuran standar dan $22 untuk barang yang tidak beratur bentuknya seperti papan selancar, sepeda dan alat olahraga lainnya. Selain keamanan tas terjaga, pelancong bisa mendapat manfaat dan jaminan ketika melakukan wrapping tas. Jaminan tersebut yakni penggantian biaya ketika tas rusak ataupun hilang.

Demi ke New York, Nyamar Jadi Pria Lanjut Usia, Lelaki 32 Tahun Diamankan di Bandara Indira Gandhi

Menyamar sebagai orang tua berusia 81 tahun, pria ini tertangkap ketika berusaha naik pesawat yang akan terbang ke New York dengan paspor palsu. Pria tersebut bernama Jayesh Patel yang berusia asli 32 tahun.

Baca juga: Frank William Abagnale Jr. – Pilot ‘Gadungan’ yang Sukses Berkeliling Dunia Secara Gratis!

Dia diamankan pihak Central Industrial Security Force (CISF) di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi pada Minggu (8/9/2019) kemarin. Patel menggunakan kursi roda ketika melalui pemeriksaan keamanan dan imigrasi. Dia mengenakan janggut yang diwarnai putih dan sebuah kaca mata besar.

Sayangnya selama pemeriksaan muncul kecurigaan dari pihak kemanan bandara saat Patel menolak untuk digeledah dan mengklaim dirinya terlalu tua untuk berdiri. Saat diminta kelengkapan, dia juga menyerahkan sebuah paspor yang bertuliskan nama Amrik Singh yang lahir di Delhi, 1 Februari 1938.

Karena mencurigakan dan untungnya tidak semua petugas tertipu. Juru bicara CISF mengatakan, Patel terlihat belum berusia 80 tahun dimana kulitnya lebih muda, penampilannya juga tidak setua yang terlihat di paspor.

“Penampilan dan tekstur kulit penumpang tampaknya jauh lebih muda daripada yang disebutkan di paspor. Pria itu mengenakan kacamata tanpa daya untuk menyembunyikan usianya,” ujar juru bicara CISF yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (11/9/2019).

Kemudian petugas keamanan menginterogasinya dan akhirnya Patel mengaku dirinya menyamar sebagai lelaki tua serta paspor yang diberikannya tidak sah alias palsu. Dia kemudian diserahkan dan diamankan oleh otoritas imigrasi setelah dilakukan penyelidikan.

Polisi India mengatakan, Patel berasal dari negara bagian Gujarat yang menggunakan jasa agen dengan menjanjikan sebuah paspor dan visa Amerika Serikat. Agen tersebut mengatur tata rias dan pakaian yang digunakan Patel yakni jubah putih dan sorban.

“Dia berencana pergi ke AS untuk mencari pekerjaan. Tapi profilnya sedemikian rupa sehingga dia tidak akan mendapatkan visa dengan mudah,” kata perwira polisi Sanjay Bhatia.

Penyamaran ini, seperti beberapa waktu lalu dimana seorang wanita Amerika yang ditangkap karena perdagangan anak di Filipina setelah dia mencoba menyelundupkan seorang bayi melalui keamanan bandara di tas tangannya. Jennifer Talbot, dari Ohio, dihentikan di imigrasi di bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina, ketika para agen di terminal tiga bertanya tentang isi tas selempangnya yang terlalu besar.

Baca juga: Troli Tak Hanya Angkut Barang, di Bandara India Menjadi Tempat Penyelundupan Emas

Dia saat itu sedang bersiap untuk naik pesawat menuju AS. Talbot tidak memiliki paspor atau dokumentasi perjalanan apa pun untuk anak itu.