Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun

Didi Chuxing merupakan koglomerat berbagai tumpangan yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan dan teknologi otonom Cina. Bermarkas di Beijing, Didi menyediakan jasa pemanggilan taksi, penyewaan mobil pribadi, berbagi tumpangan, sepeda dan pengantaran makanan di Cina melalui aplikasi perangkat lunak.

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan Penumpang, Didi Chuxing Uji Coba Audio Recorder di Armadanya

Baru-baru ini, platform tersebut menurunkan usia minimum penumpang yang tadinya 18 menjadi 16 tahun. Hal tersebut memungkinkan anak di bawah umur untuk menggunakan layanan secara mandiri tanpa pengawasan orang tua.

Dilansir dari laman sixthtone.com (15/8/2019) oleh KabarPenumpang.com, pengumuman dari Didi ini setelah hampir setahun melarang penumpang dibawah usia 18 tahun menggunakan platform tersebut pada Oktober 2018. Dari aturan yang yang diusulkan, nantinya penumpang dengan usia 16 tahun ke atas bisa memesan kendaraan melalui aplikasi Didi setelah menetapkan kontak darurat sebelum perjalanan dimulai.

Didi mengakui adanya pembatasan ini membuat beberapa anak muda yang bekerja atau belajar jauh dari rumah kerap kali beralih ke layanan taksi ilegal.

“Kami tidak ingin mendorong anak di bawah umur yang sudah mandiri ke daerah abu-abu yang lebih berbahaya, karena kebijakan kami mengharuskan semua anak di bawah umur untuk bepergian dengan orang tua mereka,” perusahaan menjelaskan dalam sebuah pernyataan.

Perubahan penurunan usia penumpang ini didapatkan Didi melalui jajak pendapat yang diadakan Februari kemarin secara online melalui aplikasi WeChat. Hampir 80 persen responden mendukung kemungkinan anak dibawah umur untuk bepergian sendirian. Bahkan hukum di Cina mengizinkan anak di atas usia delapan tahun untuk naik taksi dan angkutan umum saja.

Adanya pembatasan ini karena dua penumpang wanita yang tewas karena dibunuh oleh pengemudi yang bekerja di layanan carpool Didi Hitch di provinsi Henan dan Zhejiang tahun lalu. Ini memicu kekhawatiran, karena hal tersebut Didi kemudian menangguhkan Hitch atas permintaan pemerintah dan pada Juli kemarin pihaknya bisa melanjutkan layanan dengan perlindungan tambahan untuk penumpang yang rentan.

Diketahui, Juni 2016, Didi bernilai kurang lebih US$28 miliar dan di tahun yang sama mengakuisisi Uber cabang Cina. Perusahaan ini kini melayani 30 juta pengantaran per hari dan Mei 2017, Didi mulai mengembangkan aplikasi versi bahasa Inggris.

Baca juga: Dubai Kian ‘Cerdas,’ Hadirkan Layanan WiFi Gratis di Taksi dengan Portal Khusus Penumpang

Tahun 2018, Didi berekspansi ke Meksiko dan Australia serta membuka layanan berbagi tumpangan di Jepang melalui kerja sama dengan SoftBank. Didi juga mulai mendalami mobil otonom dan kecerdasan buatan, mempekerjakan peneliti, dan menanamkan modal di sektor ini.

Baggage Wrapping Sendiri Memang Hemat, Tapi ada Kelemahannya

Wrapping atau teknik membungkus tas dengan plastik sangat mudah dijumpai di bandara. Kegunaan dari wrapping ini sendiri untuk melindungi tas dan mencegahnya dari tindakan pencurian, menjaga agar tas tetap bersih dan kering serta menjaga barang tetap utuh ketika ritsleting tiba-tiba rusak.

Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

Mungkin bagi para pelancong yang tak mau repot bisa menggunakan jasa wrapping di bandara, tetapi ternyata hal ini juga bisa dilakukan sendiri di rumah. KabarPenumpang.com melansir laman wikihow.com, berikut ini cara, kelebihan dan kekurangan wrapping yang dilakukan sendiri di rumah.

Wrapping tas sendiri dirumah

# Memilih bungkus
1. Gunakan plastik untuk membungkus barang tepatnya yang khusus untuk membungkus koper dan ini lebih kuat dalam perekatannya. Warnanya pun bening atau cerah, biasanya ini untuk mengidentifikasi barang milik Anda. Jangan pilih plastik wrapping untuk makanan karena lebih mudah rusak.
2. Bawa lagi plastik wrapping tersebut di tas lain, karena ketika pulang dari melancong, Anda akan kembali mengamankan tas atau koper dengan plastik wrapping.
3. Plastik wrapping bisa dibeli di toko online karena dijual secara komersial.

# Cara membungkusnya
1. Mulai dari bagian tengah koper, dengan ujung di tengah salah satu sisi yang lebih besar dan bungkus plastik di sekitar tas ketika Anda memegang ujungnya. Setelah bagian tengah dibungkus beberapa kali Anda dapat membungkus berulang kali tanpa harus memegangnya.
2. Tarik plastik sebaik mungkin untuk mendapatkan segel ketat pada tas. Anda perlu memberi sedikit ketegangan pada bungkus, ini akan memastikan bahwa lapisan plastik saling menempel erat.
3. Saat membungkus, lihat dan pastikan seluruh permukaan tas tertutup plastik.
4. Jangan lupa bungkus bagian atas dan bawah koper. Balut keseluruhannya agar tas tertutup plastik.
5. Pastikan ujung terakhir pembungkus merekat dan tidak terurai, Anda bisa menempelkan ujung dengan lakban atau selotip.
6. Buat lubang pada bagian pegangan dan roda koper

# Kelemahan wrapping dirumah
1. Biasanya tidak terlalu rekat dengan atau menempel sempuna alias tidak sama dengan wrapping di layanan bandara.
2. Tidak terlalu rapi dan terkadang setiap bagian tidak rata menutupnya ketika di bungkus dengan plastik.
3. Bila memwrapping dari rumah dan plastik tiba-tiba dipotong untuk diperiksa, Anda akan sulit membungkusnya lagi. Ini berbeda dengan layanan wrapping di bandara yang akan menjamin membungkus tas Anda kembali ketika plastik di potong untuk pemeriksaan tas.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Pakistan Wajibkan Penumpang Gunakan Baggage Wrapping

Jadi, sebagai pelancong yang bijak, pilih wrapping murah dengan melakukannya di rumah atau di bandara sebelum check in?

Ada Celah Diantara Sambungan Rel, Ternyata untuk Mengatur Tekanan Panas

Beberapa rel kereta api yang tersambung dapat disebut sebagai sebuah jalur. Dan tahukah Anda bahwa diantara sambungan rel terdapat ruang atau celah. Selain sebagai celah pada sambungan, belum banyak diketahui bahwa celah alias jarak antar sambungan rel juga dimaksudkan untuk mengatur tekanan panas yang diterima oleh rel.

Baca juga: Sejak Dahulu, Hubungan Antara Rel Kereta dan Batu Kerikil Tak Terpisahkan

Selain tekanan panas yang dihasilkan antara gesekan dengan roda besi kereta, Tekanan termal tentunya juga berasal dari sengatan panas matahari.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari railwayage.com, ketika rel kereta terkena tekanan panas, maka akan memuai atau memanjang dan jarak ini ada agar tidak terjadi pembengkokan. Sebaliknya ketika tekanan kembali ke suhu normal, maka bentuk rel kereta akan kembali seperti semula.

Kehadiran Continuous welded rail (CWR) membuat tegangan termal rel menjadi prioritas, karena rel cenderung tumbuh secara signifikan dengan kenaikan suhu karena panjang kontinyu yang masif. Sebelum dipasang, rel diubah peregangannya dengan tensor hidraulik atau dipanaskan hingga Suhu Bebas Stress untuk mengurangi kemungkinan yang terjadi pada proses tersebut

Dalam dingin yang ekstrem, panjang CWR akan terjadi tekanan tarik. Stres ini dapat menyebabkan baja rel patah. Sedangan pada panas ekstrem, panjang CWR seolah mendapat tekanan. Jenis stres ini dapat menyebabkan panjang kereta api melengkung ke samping.

Untuk mencegah perubahan panjang CWR, maka rel dikunci oleh jangkar rel atau pengencang elastis, dan tegangan termal yang pada gilirannya ditransfer ke ikatan dan pemberat. Pengencang elastis diukur dengan “beban kaki” dan gaya yang diberikan ke dasar rel untuk mentransfer tegangan tersebut.

Baca juga: Marak Pencurian Komponen Rel Kereta, Ternyata Sudah Jadi Momok Sejak Puluhan Tahun

Tujuan utama dengan pengencang dan jangkar adalah untuk mengelola risiko belt dengan mengunci rel pada suhu yang lebih tinggi dari rata-rata dan mengurangi kekuatan kompresi. Suhu di mana rel dikunci disebut sebagai Suhu Rel Netral yang diinginkan atau Neutral Rail Temperature (NRT) atau Temperatur Pemasangan Rel disukai atau Preferred Rail Laying Temperature (PRLT).

Hadir dengan Beragam Fitur Terbaru, Kenapa Penjualan A330neo Masih Lesu?

Pamor dari Airbus dan varian terbarunya, A330neo kini tengah menjadi topik hangat perbincangan banyak kalangan. Terlebih pasca grounded massal dari varian 737MAX milik seteru abadinya, Boeing, pamor Airbus seolah berada di atas angin. Hampir sama seperti A320 yang ditransformasikan menjadi A320neo, A330neo pun merupakan kembangan dari A330 yang membawa banyak pembaruan fitur – dan katanya bakal disukai oleh pihak maskapai pengguna dan penumpang.

Baca Juga: Untuk Direct Flight Umrah, Mei 2019 Airbus A330-900NEO Lion Air Tiba di Indonesia

Airbus A330neo dikabarkan menggunakan mesin baru, Rolls Royce Trent 7000 yang akan membuat penerbangan menjadi lebih senyap, penggunaan desain sayap baru yang akan mengurangi penggunaan bahan bakar hingga 14 persen, jarak tempuh yang lebih jauh, hingga ketersediaan bangku penumpang yang lebih banyak di dalam kabin. Kendati lebih banyak, pihak Airbus bakal menjamin kenyamanan penumpang selama mengudara.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/9), Airbus A330neo sendiri terbagi ke dalam dua varian:

1. A330-800 yang mampu memboyong hingga 406 penumpang ke destinasi maksimal 15.094 km

2. A330-900 yang memiliki kapasitas angkut maksimal hingga 440 penumpang dengan jarak tempuh maksimal 13.334 km.

Lalu jika pilot menerbangkan pesawat jenis ini kelak, sesungguhnya mereka tidak perlu beradaptasi terlalu lama mengingat tingkat kesamaan A330neo dengan pendahulunya, A330-200 dan A330-300 hampir mencapai angka 99 persen. Jadi, pilot tidak perlu adaptasi lama untuk menerbangkan A330neo sebelum beroperasi di rute terjadwal.

Nama Airbus A330neo semakin melejit manakala rivalnya, Boeing mengumumkan bahwa ada penundaan peluncuran program 777X karena ditemukannya beragam masalah. Dari momentum ini saja, bukan tidak mungkin apabila maskapai penerbangan yang berencana untuk menghadirkan Boeing 777X akan berubah haluan dan menilik A330neo yang memiliki kemampuan hampir setara dengan pesawat ber-winglet tekuk ini.

Baca Juga: Terbang 4 Jam 45 Menit Hanya dengan Satu Mesin, Airbus A330-900 Raih Sertifikasi ETOPS

Kendati memiliki banyak kelebihan yang akan menunjang operasi, namun daya beli terhadap varian A330neo ini masih terbilang cukup rendah. Hal ini bukan karena A330neo tidak bagus atau kurang kompatibel untuk pihak maskapai, melainkan di luar sana masih banyak varian A330-200 seumur jagung yang masih atau baru digunakan oleh maskapai. Namun di sini pihak Airbus menaruh kepercayaan tinggi akan peningkatan penjualan varian A330neo.

 

 

Tiru Lion Air, TUI Airways Seruduk Gate Ketika “Push Back”

Pada Sabtu (7/9) kemarin, salah satu pesawat maskapai carter terbesar di dunia, Thomson Airways (atau yang biasa disebut TUI Airways atau TUI UK) dengan nomor penerbangan TOM 2688 mengalami keterlambatan pemberangkatan. Namun keterlambatan yang satu ini bukan dikarenakan masalah pada mesin atau hal teknis lainnya, melainkan sayap pesawat menabrak gate ketika tengah didorong mundur dari terminal, duh!

Baca Juga: Bisnis LCC Tak Selalu Mulus, Kasus Air Berlin Menjadi Contoh

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman bristolpost.co.uk (8/9), pesawat dicarter untuk melakoni holiday flight ini dijadwalkan bertolak dari Manchester menuju Palma. Namun ketika tengah push back, pesawat menabrak sesuatu yang kemudian diyakini adalah sebuah gate. Ketika push back, salah seorang penumpang yang bernama Simon Finnegan mengaku mendengar suara gesekan besi yang cukup keras.

“Kami mendengar suara derak yang cukup keras dan kami mulai berpandangan satu sama lain,” ujar Simon menggambarkan situasi kala itu.

“Jika ini terjadi pada mobil kalian, maka bill dengan harga yang fantastis siap menanti,”lanjutnya.

Pasca kejadian ini, penumpang yang berada di dalam pesawat dievakuasi kembali ke dalam terminal dan mendapatkan kompensasi berupa voucher makan. Ketika semua penumpang sudah dievakuasi, petugas bandara dan perwakilan dari pihak maskapai langsung turun ke lapangan untuk mengecek seberapa parah kerusakan yang terjadi. Tidak diberitakan secara detail berapa lama keterlambatan pemberangkatan ini terjadi.

Menanggapi insiden ini, pihak TUI meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

“Kami paham betapa delay membuat penumpang frustasi, namun kami ingin mengapresiasi kesabaran penumpang dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar salah satu juru bicara pihak maskapai.

Baca Juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Kejadian ini mengingatkan kita pada maskapai swasta terbesar di Indonesia, Lion Air, dimana maskapai berlogo singa ini juga pernah menabrak sesuatu ketika tengah taxi. Adalah Lion Air dengan nomor penerbangan JT633, yang hendak melakukan perjalanan dari Bengkulu menuju Jakarta pada Rabu (7/11/2018) tahun lalu menabrak salah satu tiang lampu yang ada di Bandara Fatmawati Soekarno.

Walhasil, penerbangan ini mengalami keterlambatan lebih dari empat jam lamanya.

Meski Harus Terbang dengan Satu Penumpang, Maskapai Belum Tentu Merugi!

Pada pertengahan bulan Agustus kemarin, jagad media sosial dibuat ramai dengan pernyataan seorang penumpang Delta Airlines yang katanya terbang seorang diri di dalam pesawat. Kendati pada akhirnya penumpang yang bernama Vincent Peone ini tidak jadi mengudara karena pihak Delta mengatakan pesawat masih butuh perawatan dan Vincent harus kembali menunggu di Terminal untuk penerbangan selanjutnya.

Baca juga: Jadi Penumpang Tunggal di Penerbangan Garuda Indonesia, Sosok Pengusaha Asal Palu Menjadi Viral

Namun pertanyaannya di sini adalah, mungkinkah pesawat hanya menerbangkan satu orang penumpang di dalam penerbangan? Mengingat kasus serupa juga mungkin pernah terjadi di belahan bumi lainnya. Guna menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com mengutip dari laman usatoday.com, dimana seorang kapten penerbangan yang tidak ingin mengungkapkan identitasnya mengatakan bahwa mungkin saja penumpang hanya mengudara seorang diri di dalam pesawat.

Jika dilihat dari efisiensi dan nilai ekonomis, jelas hal semacam ini tidak masuk ke dalam akal sehat – namun pada kenyatannya, varibel yang dipikirkan oleh pihak maskapai tidak melulu tertuju pada dua poin tersebut. “Ada banyak pertimbangan maskapai ketika harus menerbangkan satu orang penumpang saja,” ujar sang pilot.

Di sini, sang pilot menjelaskan bahwa mungkin saja penerbangan hari ini maskapai X membawa satu penumpang atau bahkan terbang dalam keadaan kabin kosong, tapi pada penerbangan keesokan harinya, kursi penumpang di dalam kabin bisa terisi penuh.

Skema ini biasanya terjadi pada penerbangan tengah malam dari sebuah kota kecil menuju hub besar, dan pada keesokan harinya, pesawat yang sama mengangkut jumlah penumpang yang banyak karena berangkat dari hub besar. Dalam kasus kerusuhan di Papua beberapa lalu misalnya, pesawat yang bertolak dari Jakarta bisa saja sepi penumpang, tapi sebaliknya yang terbang dari Papua menuju Jakarta bisa terisi penuh oleh penumpang.

Pilot anonim ini juga menambahkan bahwa mungkin saja kondisi kabin hanya diisi oleh satu penumpang, tapi tidak dengan kargo mereka. Ya, pendapatan yang akan diterima maskapai dari kargo jauh lebih besar ketimbang dari penumpang. Dengan kata lain, biaya operasionalnya juga mungkin akan tertutup.

Baca juga: Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya

Selain itu, skema lain adalah karena untuk mengatur jadwal penerbangan ini tidaklah semudah menata ruangan. Pihak maskapai telah terlebih dahulu mengatur pesawat mana yang akan terbang, siapa saja awak kabin yang beroperasi, hingga kapan suatu pesawat harus masuk hanggar guna perawatan rutin. Jika ada dari jadwal tersebut yang meleset, maka itu akan mengacaukan apa yang sudah mereka tata sebelumnya.

Jadi bottomline-nya adalah, mungkin saja jika ada sebuah pesawat yang hanya menerbangkan seorang penumpang di dalamnya.

 

Ekspansi Bisnis, Japan Railway East Buka Area Belanja di Stasiun Singapura Akhir 2019

Bila mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket semata, rasanya berat bagi perusahaan kereta untuk dapat mencetak laba secara signifikan. Untuk itu, pilihan optimalisasi kawasan stasiun yang terintegrasi dengan area belanja menjadi opsi yang dikedepankan hampir di semua perusahaan kereta. Mungkin karena alokasi dana yang besar, bukan tak mungkin investasi justru di lakukan di luar negeri, salah satunya seperti dilakukan perusahaan kereta asal Jepang.

Persisnya East Japan Railway Co (JR East) akan membuka area belanja di 27 dari 32 stasiun di Thomson-East Coast Line (TEL), Singapura. Kabarnya area belanja tersebut akan beroperasi secara bertahap mulai akhir tahun ini.

Baca juga: Naik Kereta Shinkansen, Jangan Lupa Beli Ekiben di Kios Stasiun untuk Bekal Makanan

Dilansir dari todayonline.com (5/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, dibukanya area belanja oleh JR East ini merupakan operator kereta api Jepang pertama yang mengembangkan fasilitas komersial di stasiun di negara-negara asing. JR East memiliki rencana awal membuka di stasiun dekat perbatasan Malaysia di jalur utara-selatan yakni Woodlands North, Woodlands and Woodlands South.

Toshio Omiyama, direktur pelaksana JR East Business Development SEA, unit Singapura mengatakan, pihaknya memenangkan kontrak operasi ritel untuk jalur kereta api senilai S$24 juta atau sekitar US$17,3 dengan SMRT Experience, anak perusahaan operator angkutan umum SMRT Corp, dan Alphaplus Investments, anak perusahaan dari supermarket besar dan operator rantai toko serba ada NTUC FairPrice Co-Operative, pada 27 Agustus kemarin.

Ketiga perusahaan tersebut akan mendirikan Stellar Singapore-Japan Retail pada bulan Oktober untuk mengoperasikan ruang ritel, dengan JR East Business Development SEA yang memegang 35 persen saham. JR East mengatakan, operator ini akan menyewa ruang lantai dengan luas lima ribu meter persegi dari Land Transport Authority (LTA) Singapura selama 16 tahun mulai dari akhir 2019.

“Area perbelanjaan terbesar akan berada di Stasiun Woodlands pada 1570 meter persegi. NTUC FairPrice bermaksud untuk membuka toko-toko Cheers di ruang ritel,” ujar Omiyama.

Manajer pengembangan bisnis baru JR East Akiko Takamura mengatakan, area belanja ini mungkin akan menampung beberapa penyewa Jepang yang saat ini mengoperasikan toko di mal Jepang yang dikelola JR East. Jalur Thomson-East Coast akan dikembangkan dalam lima fase hingga Juni 2024 untuk memperluas ke arah timur dekat Bandara Changi, menjadi jalur terpanjang ketiga di negara tersebut.

Baca juga: Mirip Lokasi Syuting Video Klip Girlband, Stasiun MRT Dijadikan Objek Foto Para Pelancong

Diketahui, Otoritas Angkutan Darat (LTA) telah mengumumkan pada bulan Agustus bahwa mereka akan melakukan outsourcing bisnis non-tarif sistem kereta api untuk pertama kalinya dan telah memberikan tender bagi pengoperasian ruang iklan dan area belanja di sepanjang TEL.

Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang

Apakah Anda pernah merasa bahwa gerak-gerik Anda diawasi? Tentu saja perasaan ini tidak enak dan sangat mengganggu, ya! Tapi jangan salah, manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus rencananya akan mengawasi setiap apa yang Anda lakukan di dalam kabin. Mulai dari apa yang Anda minum, film apa yang sedang Anda tonton, hingga bahkan seberapa banyak Anda menggunakan tisu toilet.

Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik

Ternyata ini merupakan rencana pihak Airbus untuk bisa mengumpulkan data tentang perilaku penumpang dan apa yang mereka konsumsi selama penerbangan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (11/9), bulan lalu, Airbus menerbangkan salah satu berbadan lebarnya A350-900 untuk menguji apakah ‘pikiran gila’ para eksekutif ini dapat dikembangkan lebih lanjut atau tidak.

“Ini bukan konsep, ini bukan mimpi,” ujar vice president of cabin marketing Airbus, Ingo Wuggetzer.

Pihak Airbus menambahkan bahwa nantinya pesawat Airbus akan dipenuhi oleh sensor untuk mengumpulkan data kebiasaan penumpang di dalam kabin. Manufaktur pesawat yakin, pemasangan sensor ini mampu menghemat pengeluaran pihak maskapai penggunanya dan bisa mengurangi tingkat stress penumpang – terutama ketika antre untuk mengambil bagasi kabin dan menggunakan toilet.

Ambil contoh sensor yang ada di toilet, nantinya sistem akan merekam seberapa sering toilet digunakan, apakah persediaan tisu dan sabun masih ada di dalam toilet, dan lebih jauh lagi, Airbus bisa mengetahui apakah keberadaan toilet di dalam pesawat sudah dirasa cukup atau harus ditambah lagi.

Selain itu, Airbus juga berencana untuk menambahkan kamera kecil di dalam pesawat untuk memantau berapa banyak orang yang menunggu kamar mandi, dan kemudian memberi tahu para penumpang perkiraan waktu tunggu atau toilet yang mana yang harus mereka gunakan.

Baca Juga: Gaet Musisi Asal Seattle, Singapore Airlines Rilis Video Super Kreatif di Airbus A350!

Sebagian data yang dikumpulkan oleh sensor akan dibagikan kepada awak kabin melalui WiFi onboard dan dilanjutkan kepada pihak maskapai sesampainya mereka di darat (landing). Dari situ, data akan dapat dipelajari tentang kebiasaan penumpang selama berada di dalam pesawat.

Selain itu, Airbus juga berencana untuk menambahkan kamera kecil di dalam pesawat untuk memantau berapa banyak orang yang menunggu di toilet, dan kemudian memberi tahu para penumpang perkiraan waktu tunggu atau toilet yang mana yang harus mereka gunakan.

N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter

Berpulangnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab dipanggil BJ Habibie pada Rabu (11/9) kemarin memang menyisakan duka yang amat mendalam bagi warga Indonesia. Pria jenius kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan sektor aviasi, baik domestik maupun mancanegara. Kendati raganya sudah bersatu dengan tanah, namun jasa dan masterpiece-nya akan selalu melekat di setiap orang yang menghormatinya.

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Salah satu masterpiece BJ Habibie yang paling terkenal di jagad dirgantara adalah airliner regional komuter bertenaga turboprop, N-250. Pesawat rakitan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio/IPTN (sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia) ini menggunakan desain dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Bahkan, kode huruf N yang bertengger di depan nama pesawat ini merupakan akronim dari Nusantara – semakin mempertegas bahwa N-250 merupakan pesawat produksi lokal yang siap bersaing dengan burung besi buatan luar.

Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, N-250 sejatinya menjadi primadona IPTN dalam upayanya mencuri ceruk pasar di kelas pesawat berkapasitas 50-70 penumpang dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Pesawat dengan bentang sayap 28 meter dan panjang 26,3 meter ini juga pernah menjadi bintang utama pada pagelaran Indonesia AirShow 1996 di Cengkareng.

Setahun sesudahnya, prototipe dari N-250 ini juga pernah diterbangkan sampai ke Eropa, yaitu untuk dipamerkan dalam Paris AirShow 1997 dan berhasil mencuri perhatian publik lewat demo udaranya. Dapat Anda bayangkan, betapa hebatnya pesawat ini pada masanya dulu – menggunakan sistem fly-by-wire, masih berstatus sebagai pesawat prototipe, namun sudah diterbangkan dan diperkenalkan ke luar negeri. Digadang-gadang, N-250 bakal menjadi lawan berat bagi keluarga ATR-72.

Namun sayang, ketika tengah menunggu sertifikasi dari pihak Federal Aviation Administration (FAA) guna menyatakan bahwa pesawat ini laik untuk mengangkut penumpang, sejumlah kendala mulai menghampiri. Satu yang menjadi tembok paling kokoh yang menahan laju dari N-250 untuk mengudara adalah krisis moneter. Hingga pada akhirnya, pengembangan pesawat yang menggunakan dua unit mesin Allison AE2100C turboprop engines ini mangkrak begitu saja. Tercatat, hanya ada dua unit dari N-250 saja yang sudah lahir ke dunia, namun itu pun statusnya masih sebagai prototipe.

Baca Juga: Lanjutkan Asa N250 yang Tenggelam, Ini Dia R80 Besutan B.J. Habibie

Sempat ada niatan dari BJ Habibie untuk kembali mengembangkan N-250 ini, terlebih saat beliau mendapatkan ‘restu’ dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, guna meminimalisir cost pengembangannya, BJ Habibie dikabarkan akan mengurangi performa dari N-250, seperti penurunan kapasitas mesin dan dicabutnya sistem fly-by-wire.

Menuju Operasional Penuh di 2020, Proses Pembangunan YIA Kini Mencapai 82 Persen

Apa kabar dengan Bandara Internasional Yogyakarta? Setelah empat bulan beroperasi resmi, yakni dengan penerbangan komersial perdana pada 6 Mei 2019, kini bandara yang terletak di kawasan Kulon Progo ini telah mencapai perkembangan yang signifikan. Selain pembanguan pelayanan dan infrastruktur yang sudah mencapai 82 persen, jumlah penumpang pun telah mencapai 96 ribu orang sampai 31 Agustus lalu.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Bahkan, terjadi peningkatan penumpang yang cukup signifikan pada Agustus 2019 lalu jika dibandingkan bulan sebelumnya. “Pada Juli 2019, YIA melayani 27.585 penumpang, sementara Agustus 2019 tercatat ada 38.646 penumpang. Artinya terjadi peningkatan penumpang sebesar 40 persen,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dalam siaran pers (12/9/2019)

Saat ini di YIA ada 14 jadwal penerbangan setiap harinya dengan tujuan ke Jakarta (Cengkareng), Jakarta (Halim), Palangkaraya, Samarinda, Lombok, dan Makassar yang dilayani oleh empat maskapai, yaitu Citilink, Batik Air, Indonesia AirAsia, dan Lion Air.
Pada 25 September 2019 mendatang, direncanakan akan ada tambahan enam rute penerbangan lagi di YIA yang dioperasikan oleh Lion Air. Maskapai berlogo singa merah ini akan membuka rute Kualanamu-YIA-Kualanamu, YIA-Tarakan-YIA, YIA-Pontianak-YIA. Sehingga akan ada 20 jadwal penerbangan yang dilayani di YIA.

“Ke depan, beberapa maskapai juga telah merencanakan akan membuka beberapa rute baru dari dan menuju YIA, antara lain dari maskapai Citilink, Batik Air, dan Lion Air yang akan membuka tambahan 16 rute lagi, sehingga total akan ada 36 penerbangan yang dilayani di YIA,” kata Faik.

Baca juga: Disambut Water Salute, Citilink QG-132 Lakukan Penerbangan Komersial Perdana ke YIA

Penambahan jadwal penerbangan ini seiring dengan progres pembangunan bandara yang terus mengalami kemajuan. Hingga minggu pertama September 2019, progres pembangunan YIA telah mencapai 82 persen. Pembangunan bandara ini ditargetkan tuntas 100 persen akhir tahun ini dan bisa dioperasikan secara penuh di awal tahun 2020.
Nantinya, sebagian besar penerbangan yang saat ini dilayani di Bandara Adisutjito akan dipindahkan secara bertahap ke YIA.