Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak

Bepergian bersama dengan orang tua dengan menumpang pesawat sering dilakukan oleh keluarga untuk menikmati liburan mereka. Namun apa jadinya bila pilot yang mnengemudikan pesawat tersebut sepasang ibu dan anak perempuannya? Baca juga: Momen Langka! Pilot Airbus A320 Indigo Berhasil Abadikan Peluncuran Roket PSLV C-45! KabarPenumpang.com melansir dari laman unilad.co.uk, seorang penumpang pesawat bernama John Watret yang tengah terbang dari Los Angeles menuju Atlanta ini mengetahui ada sesuatu yang unik dalam penerbangannya. Ternyata itu adalah sepasang pilot yang bertanggung jawab dalam penerbangan tersebut bukanlah rekan kerja biasa. Keduanya yakni kapten Wendy Rexon dan first officer atau kopilot Kelly Rexon adalah pasangan serta tim ibu dan anak. Keduanya bekerja di Delta Airlines dan mengudarakan pesawat tersebut untuk memastikan semua penumpang dan kru tiba ditujuan dengan selamat. John yang merupakan seorang rektor kampus Worldwide University Embry Riddle Aeronautical mencari tahu hubungan kedua pilot dan kopilot tersebut dan membagikannya kepada dunia. Dia mengatakan bahwa keduanya menginspirasi wanita muda lainnya dan mengunggah foto ibu dan anak itu. Dalam akun Twitter milik John, foto ibu dan anak itu mendapat respon suka sebanyak 42 ribu dan di retweet hingga 16 ribu kali setelah diunggah. Tweet yang diunggah John sendiri mendapat respons baik dari akun resmi Delta Airlines, “Tujuan kru penerbangan keluarga!” Saat mengunggah foto ibu dan anak tersbeut, John mengingat saat seorang penumpang bertanya pada petugas apakah kedua anaknya bisa mengunjungi ruang pilot dan ketika mereka kembali dirinya mendengar mendiskusikan sepasang ibu dan anak ini. Embery Ruddle berkomitmen untuk menghadirkan lebih banyak peluang bagi perempuan di semua industri penerbangan sehingga saat menyebarkan kisah Wendy dan Kelly sangat senang. Baca juga: Sergey Vladimirovich Ilyushin – Dari Keluarga Petani Sukses Sebagai Founder Pabrikan Pesawat Rusia Bahkan ternyata sepasang ibu dan anak ini adalah keluarga pilot. Sebab ayah Wendy yang bernama Bill merupakan seorang pensiunan pilot Northwest Airlines dan suaminya Michael merupakan pilot maskapai American Airlines.

Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin

Pemberlakuan regulasi bagasi berbayar yang diterapkan oleh sejumlah maskapai dalam negeri membuat para pelancong harus lebih cermat dalam membawa barang. Alih-alih membawa koper padahal barang yang dibawanya sedikit, ada baiknya Anda menggunakan koper berukuran kecil agar bisa masuk ke dalam bagasi kabin. Nah, guna menyiasati hal ini, Senior Manager Skyteam Hub Services Bandara Soekarno – Hatta PT Garuda Indonesia, Engeline Yolanda Kardinal memberikan tips untuk membawa koper ke dalam kabin. Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman tempo.co, berikut adalah tips membawa koper ke dalam kabin menurut Engeline Yolanda. Menurutnya, etika membawa koper atau hand carry berikut ini sebaiknya dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Boarding Time Management Tidak semua maskapai akan membuka pintu belakang yang dikhususkan untuk penumpang dengan seat number besar. Maka dari itu, usahakan diri Anda (yang mendapatkan seat number besar) untuk mengantri paling depan jika gate sudah dibuka. Ini ditujukan agar alur boarding penumpang tidak terhambat hanya karena Anda berupaya untuk memasukkan koper ke dalam bagasi kabin. Hand Carry Tetap Berada di Dalam Pengawasan Terkadang, hand carry yang Anda simpan di bagasi kabin tidaklah berada tepat di atas kepala Anda. Jika hal ini terjadi (hand carry berada jauh dari bangku Anda), pastikan pengawasan Anda terfokus selama penerbangan. Hal ini ditujukan untuk meminimalisir kemungkinan barang Anda tertukar atau sengaja ditukar oleh oknum penumpang yang tidak bertanggung jawab. Namun, Engeline Yolanda tetap menganjurkan agar hand carry yang Anda bawa ditempatkan tepat di atas bangku Anda. Ukuran Koper Nah, poin yang satu ini sedikit memerlukan kejelian Anda dalam mengukur koper. Ukuran koper yang diperbolehkan masuk ke dalam bagasi kabin adalah 18 inchi, 19 inchi, dan 20 inchi dengan berat maksimal 7 kilogram. Baca Juga: Bocah Dimasukkan dalam Bagasi Kabin, Foto Pria ini Menjadi Viral Tandai Koper Anda Bagi sebagian orang, koper dengan wujud apa adanya (tanpa stiker atau hiasan tambahan lain) merupakan yang terbaik. Namun dengan tidak adanya tanda otentik dari koper Anda inilah yang menyebabkan potensi koper Anda tertukar dengan penumpang lain semakin besar. Maka dari itu, ada baiknya Anda memberikan satu penanda otentik agar koper Anda tidak tertukar dengan penumpang lain. Dengarkan Instruksi Awak Kabin Poin terakhir ini yang kerap diindahkan oleh para penumpang, dimana ketika pesawat tengah taxi menuju terminal, penumpang sudah buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk turun. Ada baiknya Anda menunggu pesawat berhenti dengan sempurna dan baru berkemas untuk turun. Pun etika yang sama kiranya Anda praktekkan ketika tengah membuka head rack, karena dikhawatirkan barang yang ada di atas jatuh dan menimpa penumpang yang masih duduk. Kasihan, bukan?  

Gandeng Boingo, Bandara Heathrow Rilis Akses WiFi 100 Mbps!

Bandara Heathrow di London baru saja memperkenalkan akses WiFi berkecepatan tinggi di semua terminalnya. Hal ini dilakukan berkat kerja samanya dengan penyedia layanan internet kenamaan asal Negeri Paman Sam, Boingo. Dengan hadirnya akses WiFi berkecepatan tinggi ini, memungkinkan penumpang untuk dapat ‘berselancar’ hingga kecepatan 100 Mbps. Baca Juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019 Memang, hadirnya akses WiFi di prasarana transportasi bukanlah hal baru di pasar. Sebut saja stasiun kereta api hingga bandara semuanya sudah hampir memiliki akses yang akan menunjang pengalaman para penumpang ini. Namun tidak sedikit juga dari fitur tambahan semacam ini yang ‘tipu-tipu’, alias tidak sesuai dengan apa yang diiklankan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (8/4/2019), Boingo untuk instalasi akses WiFi di Bandara Heathrow ini menggunakan teknologi Passpoint1, dimana layanan ini menawarkan pengalaman WiFi yang aman. Ini memungkinkan pengguna untuk menjelajahi internet dan menorehkan pengalaman yang baik selama berada di bandara ini. Bandara Heathrow sendiri telah berinvestasi dalam memodernisasi jaringan nirkabelnya untuk menyediakan kapasitas bandwidth yang dibutuhkan di seluruh bandara. Sebagai bagian dari kolaborasinya dengan pihak bandara, Boingotelah menginstall dua tautan internet berkecepatan tinggi yang baru. Bagi para penumpang yang sudah menjadi anggota dari Heathrow Rewards Loyalty Program, mereka akan berhak untuk mendapatkan 100 poin ketika masuk ke jaringan WiFi baru ini. “Apakah penumpang hendak melakukan streaming, menjelajah atau bekerja saat bepergian, kami bersemangat untuk meningkatkan pengalaman konektivitas mereka dengan jaringan hasil kerja sama kami dengan Boingo,” ujar Kepala properti Bandara Heathrow, John Arbuckle. Baca Juga: Fantastis! London Punya Enam Bandara Internasional “Ini hanyalah salah satu dari banyak inisiatif yang telah kami investasikan untuk Heathrow, dimana semuanya bertujuan untuk melayani dan menyenangkan 80 juta penumpang kami, dan menjadikan Heathrow sebagai bandara kelas dunia,” imbuhnya. Senada dengan John Arbuckle, Kepala Pemasaran dari Boingo, Dawn Callahan juga mengatakan, “Kami dapat dengan bangga memperkenalkan teknologi di bandara tersibuk di Eropa dan meluncurkan WiFi berkecepatan tinggi yang mudah digunakan oleh para pelancong,” ujarnya singkat.

Jerman Adopsi Intelligent Transport Systems di Masa Depan

Teknologi berkembang pesat dan meberikan inovasi baru dalam sistem transportasi sehingga membuat kinerja kendaraan lebih efisien. Hal ini juga dikarenakana adanya permintaan esensial dan imperatif dalam sistem transportasi yang sangat penting di masa sekarang dan masa depan bagi jalanan dan pengendara. Baca juga: Mercedes-Benz Urbanetic, Solusi Berkendara Multifungsi dari Masa Depan Dirangkum KabarPenumpang.com dari theguardiantribune.co (5/4/2019), bahkan sistem ini mendapatkan adopsi yang luas secara global karena kemampuannya yang memberikan rincian semua tentang lalu lintas, ketersediaan tempat duduk dan informasi perjalanan. Bahkan aplikasi Intelligent Transport Systems (ITS) kini diterima secara luas dan digunakan di beberapa negara. Tak hanya itu, penggunanya pun tidak hanya sebatas dalam pengaturan lalu lintas dan informasi, tetapi juga untuk keselamatan di jalan serta penggunaan infrastruktur yang efisien. Memiliki kemungkinan yang tidak terbatas, ITS menjadi aplikasi dalam bidang kerja multidisiplin dan beberapa negara di dunia sudah mengembangkan solusi untuk menawarkan aplikasi ITS dalam memenuhi permintaan. Salah satu negara yang mengadopsi Intelligent Transport Systems (ITS) adalah Jerman yang digunakan untuk mengatasi banyak masalah yang berkaitan dengan perjalanan. Tahun 2017, Munich diberi gelar ‘Traffic Jam Capital’ di Jerman karena pengendara di kota menghabiskan sekitar lima puluh satu jam dalam kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, dengan mengadopsi sistem ITS dapat menyebabkan pengurangan waktu perjalanan penumpang dan membantu meningkatkan kenyamanan dan keselamatan mereka. Tujuan utama Jerman untuk sistem transportasi cerdas adalah untuk mendukung dan mendorong pengembangan ini dan meningkatkan pelaksanaan produk serta layanan yang terhubung dengan ITS. Selain itu Jerman juga bertujuan untuk mengurangi emisi karbon yang terjadi karena kemacetan lalu lintas. Pada 2020, Jerman berencana mengurangi emisi gas rumah kaca hingga empat puluh persen. Intelligent Transport Systems memiliki beragam aplikasi dan teknologi yang dapat membantu mengurangi emisi kendaraan. Salah satu aplikasi adalah sistem manajemen lalu lintas, yang dilengkapi untuk memprediksi kondisi, mengidentifikasi dan menghapus insiden serta memastikan bahwa lalu lintas berjalan dengan lancar. Ini akan memiliki dampak besar pada emisi GRK dari setiap kendaraan. Aplikasi lain dari Sistem Informasi Perjalanan ITS yang menawarkan informasi kepada pengemudi seperti sistem panduan rute. Sistem ini akan membantu mengurangi emisi karena pengemudi kendaraan akan mencapai tujuan yang diinginkan dalam perkiraan waktu dan juga pemborosan bahan bakar akan dicegah. Permintaan pengurangan emisi ini akan mendorong pengembangan layanan ITS publik atau kolektif. Salah satu kota yang melaksanakan berbagai proyek sistem transportasi cerdas adalah Hamburg. Dimana ada proyek Hamburg Electric Autonomous Transportation (HEAT) yang dikembangkan untuk minibus listrik. Faktanya, ini adalah salah satu kota pertama di Jerman yang menguji kendaraan yang terhubung dan otonom pada jalur pabrikan yang independen di pusat kota. Baca juga: Jerman Siap Operasikan Kereta Penumpang Tanpa Emisi di 2018 Proyek lainnya adalah Kursus Tes untuk Mengemudi Otomatis dan Saling Terputus-putus, Check-In / Be-Out, di mana smartphone akan digunakan untuk tujuan tiket, parkir cerdas, layanan carpooling, dan banyak lainnya. Proyek-proyek ini menjadikan Hamburg kota yang ideal untuk solusi logistik dan mobilitas perkotaan. Pelabuhan juga telah mengembangkan dan menerapkan solusi logistik cerdas. Misalnya, di terminal kontainer Altenwerder, kendaraan terpandu otomatis memindahkan kontainer ke lokasi yang ditentukan.

Produksi Indonesia, Lokomotif CC203 Atau GE U20C Pernah Digunakan di Filipina dan Australia

Setelah mengenal sosok lokomotif CC203 atau GE U20C yang sudah malang melintang di jalur kereta Pulau Jawa maupun Sumatera, lantas bagaimana kiprah lokomotif ini di negara lain? Di Indonesia CC203 memiliki bentuk yang khas di bagian shorthood atau kabin yang berbentuk trapesium dan aerodinamis. Baca juga: Jadi ‘Paket’ Pada Peluncuran KA Argo, Ini Dia Lokomotif CC203 Penarik Kereta Eksekutif Sedangkan di negara lain bentuknya biasa saja yakni kotak seperti GE U18C. Tetapi jangan heran saat melihat GE U20C berhidung miring juga ada di Australia. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagaimana lokomotif tersebut bisa tiba disana. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata lokomotif tipe ini  tiba di Australia setelah perjalanan dan cerita yang cukup panjang. Lokomotif ini merupakan khas bentuk Indonesia dan generasi pertama, kemudian GE U20C ini sengaja di ekspor ke Filipina karena dipesan oleh perusahaan terminal peti kemas International Container Terminal Servic Inc. (ICTSI) di Manila, Filipina. Bahkan saat itu, pelepasan lokomotif ini dilakukan oleh Presiden Soeharto di Stasiun Gambir pada 17 Desember 1996 bersamaan dengan dua lokomotif seri sama lainnya. Lokomotif yang beroperasi pada Maret 1997 di Filipina ini diberi nomor 1 dengan livery jingga dengan garis abu-bau dan bertuliskan ICTSI yang merupakan operator dan pemilik dari lokomotif ini.
Lokomotif CC203
Sayangnya lokomotif GE U20C hanya bertahan selama enam tahun di Filipina. Sebab tahun 2003 ICTSI memutuskan untuk menutup jalur kereta api di pelabuhan karena merugi. Tak hanya itu, infrastruktur yang buruk membuat perjalanan kereta api sangat lambat dan semua aset perkeretaapian seperti gerbong dan lokomotif di jual keluar negeri. Kemudian lokomotif GE U20C tersebut dibeli oleh perusahaan kereta api swasta Australia South Spur Railway Service atau SSRS pada Desember 2007.  Sejak saat itu, llivery pada lokomotif berganti menjadi warna biru telur asin dengan tambahan warna kuning tanpa logo perusahaan. Selain penggantian livery, SSRS juga menambahkan handrail pada dek lokomotif, melepas semboyan, dan melepas lampu-lampu semboyan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi standar lokomotif di Australia. Sayangnya selama ber-livery biru dan dimiliki SSRS, lokomotif ini justru tidak pernah dioperasikan. Hingga akhirnya pada Mei 2008, livery lokomotif ini diganti menjadi livery hijau kuning seperti pada saat ini. Selama ber-livery hijau, lokomotif sudah tiga kali berganti kepemilikan. Pertama dia dibeli oleh Coote Industrial dari SSRS. Kedua dibeli oleh Greentrains/Engenco dari Coote Industrial. Sampai akhirnya pada 2012 lalu, kepemilikan lokomotif jatuh ke tangan QUBE Logistic. Pada saat itu lampu kabut diganti berkedap-kedip seperti sirene polisi dan dek diberi reflektor cahaya yang merupakan standar keamanan American Association of Railways (AAR). Meskipun sudah berganti kepemilikan sebanyak empat kali. Sejak awal dibeli oleh South Spur sampai dimiliki oleh QUBE Logistic, dia masih tetap bernomor seri U201. Saat itu oleh Coote Industrial, Greentrains, hingga QUBE Logistic, U201 digunakan untuk membawa kereta angkutan barang. Baca juga: Pernah Beroperasi Lima Dekade di Indonesia, Lokomotif D301 59 Jadi Monumen di Stasiun Semarang Tawang U201 terlihat masih beroperasi mengangkut barang hingga tahun 2014. Selepas 2014, status lokomotif ini diturunkan dari beroperasi menjadi barang simpanan. Terkadang lokomotif ini juga terlihat berdinas langsiran kereta barang. Perlu diketahui, lokomotif diesel elektrik ini adalah PT GE Lokomotif Indonesia, perusahaan patungan antara PT Industri Kereta Api Indonesia (PT INKA) dan GE Transportation.

Konflik Industri Dirgantara AS vs Eropa, Cina Coba Curi Ceruk Pasar Lagi?

Siapa bilang perang dagang hanya terjadi antara Amerika Serikat dan Cina saja? Dua raksasa manufaktur kedigrantaraan global, Boeing dan Airbus pun terlibat dalam perang dagang – hanya saja beda medan dengan Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu. Namun di tengah-tengah perang dagang yang terjadi antara dua perusahaan ini, ada pihak ketiga yang dikabarkan mendapatkan keuntungan, yaitu Cina. Baca Juga: Borong 300 Pesawat dari Airbus, Inikah Strategi Cina Menangkan Perang Dagang dengan AS? Asal muasal pertikaian antara Boeing dan Airbus ini tidak lepas dari peran Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengenakan tarif impor pada produk-produk Uni Eropa senilai US$11 miliar (Rp155,7 triliun). Terhitung sejak saat itu, hubungan kedua perusahaan ini jadi kian memanas. KabarPenumpang.com mewartakan dari laman Reuters, salah satu ‘komoditas’ Uni Eropa yang menjadi target untuk masuk ke pasar Amerika Serikat adala pesawat komersial. Dikabarkan, Amerika Serikat dan Eropa dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir terlibat dalam sebuah perseteruan karena saling tuduh dalam hal memberikan subsidi kepada Airbus dan Boeing. Subsidi yang diberikan dianggap sebagai bala bantuan bagi kedua perusahaan agar mendapatkan keuntungan dalam bisnis pesawat dunia. Menanggapi perseteruan ini, Menteri Keuangan Perancis, Bruno Le Marie mengatakan, “bentrokan antara Boeing dan Airbus akan absurd hanya karena dua industri kami benar-benar saling terkait, kami bergantung satu sama lain untuk sejumlah komponen,” Pada kesempatan yang sama, Menteri Bruno juga menyebutkan bahwa perseteruan ini hanya akan menguntungkan produsen kedigrantaraan Cina, Commercial Aircraft Corp of China Ltd. (COMAC). “Perang komersial antara Boeing dan Airbus hanya akan menguntungkan COMAC,” ujarnya. Entah apa yang terlintas di dalam benak Menteri Bruno, namun sebagaimana yang diketahui bersama, COMAC merupakan salah satu upaya Cina dalam ikut terjun langsung dalam persaingan di sektor aviasi global – setelah sebelumnya, Cina telah menerbitkan ijin kepada pihak Boeing dan Airbus untuk membangun fasilitas penunjang produksi di dataran Cina. Baca Juga: Airbus Duga Cina Jadi Dalang di Balik Insiden Serangan Cyber Tidak bisa dipungkiri, misi spionase Cina dalam upayanya untuk mencuri ceruk pasar di berbagai sektor potensial bisa terbilang monoton. Sebagai contoh sederhana, di sektor telekomunikasi, Cina berhasil menumbangkan beberapa rivalnya hanya demi mengembangkan produk lokal mereka. Pun dengan bidang kemiliteran yang juga menggunakan skema yang serupa. Mungkin Anda masih ingat dengan insiden peretasan yang terjadi di tubuh Airbus, dimana perusahaan yang berbasis di Eropa tersebut menduga kuat Cina ada di balik aksi picik ini. Tidak menutup kemungkinan – atau mungkin benar 100 persen, ujaran Menteri Bruno tadi merujuk pada rekam jejak Cina dalam upayanya untuk menguasai ceruk pasar dan memenangkan perang dagang dengan Amerika Serikat.  

Lagi Enak Duduk, Penumpang Lufthansa Terkena ‘Hujan Lokal’ dari Arah Lampu Baca

Kebasahan saat tengah duduk dalam penerbangan tak mungkin terjadi bila tidak ada sesuatu yang tumpah atau bocor. Belum lama ini beberapa penumpang pesawat Lufthansa harus merasakan diri meeka basah saat air menetes dari lampu baca di atas kepala penumpang. Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (21/3/2019), air yang bocor dari lampu kabin tersebut kotor dan berwarna cokelat. Salah seorang blogger yang juga penumpang pesawat Airbus A380 dari Los Angeles tersebut melihat kejadian itu dan menuliskannya di blog miliknya liveandletsfly. Matthew Klint menuliskan ketika pesawat yang mereka tumpangi lepas landas dari Bandara Los Angeles, air berwarna cokelat tersebut mulai menetes dengan cepat di sekitar lampu baca di deretan kursi depan. “Pertama, itu hanya beberapa tetesan, tapi tak lama kemudian aliran tetesan yang stabil mengikuti … seperti keran yang bocor. Para penumpang, terutama wanita miskin di kursi tengah, mulai basah,” tulis Matthew di blognya. Dia mengatakan, saat itu para penumpang yang duduk dikursi tersebut memanggil awak kabin dengan menekan tombol panggilan. Sayangnya saat itu pesawat akan lepas landas dan awak kabin tidak tertarik dengan hal tersebut. Matthew mengatakan, karena tetesan air tersebut, penumpang mau tidak mau menggunakan kain tambahan untuk melindungi mereka. Menurut Matthew, air tersebut terus menetes selama sepuluh menit dan ternyata bukan hanya penumpang didepannya tetapi di baris belakang pin merasakan hal yang sama. Dia kemudian mengklaim bahwa awak kabin datang untuk melihatnya, tetapi mereka hanya menjelaskan bahwa itu adalah kondensasi dari perubahan kelembaban. Matthew mengklaim masalah itu akhirnya berhenti, meskipun dia merasa seharusnya Lufthansa “melakukan lebih dari sekadar mengangkat bahu”. “Saya kira Anda dapat menambahkan Lufthansa ke daftar A380 yang menawarkan onboard shower,” tulisnya bercanda. Orang-orang yang berkomentar di postingannya menyebutnya “kotor” dan mengatakan kompensasi seharusnya ditawarkan. Beberapa menyarankan segelas sampanye atau piyama dari kelas satu untuk dipakai agar kering. Yang lain bergurau, rasanya seperti Emirates yang punya pancuran nyata, “Kamar mandinya terbatas 10 menit.” Baca juga: ‘Melukis’ di Meja Lipat Pesawat, Penumpang ini Mendadak Viral! Masalah penyejuk udara lainnya dalam penerbangan baru-baru ini melihat kabin Jetstar terisi ‘asap’ saat pesawat berada di udara. Seorang penumpang merekam kejadian yang terjadi karena perubahan suhu, menghasilkan uap air.

On This Day: Penerbangan Trans-Atlantik Perdana yang Dibumbui Sejumlah Kendala

Memang, tidak ada hari libur nasional di tanggal 12 April 2019 ini – pun dengan jadwal cuti bersama yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Namun percayalah, 12 April merupakan tanggal yang memiliki nilai sejarah tersendiri, dimana 91 tahun yang lalu, tiga orang pionir di sektor aviasi melakukan penerbangan trans-Atlantik dari arah timur menuju barat. Dapatkah Anda membayangkan betapa bersejarahnya momen tersebut, mengingat keberadaan teknologi yang masih bisa dibilang seadanya dan belum secanggih sekarang. Baca Juga: Campur Biofuel dan Avtur, United Airlines Sukses Layani Penerbangan Trans-Atlantik Terlama! Adalah Hermann Kohl (berkebangsaan Jerman), Ehrenfried Günther Freiherr von Hünefeld (berkebangsaan Jerman), dan James Fitzmaurice (berkebangsaan Irlandia) yang melakoni perjalanan bersejarah tersebut. Sebenarnya, gagasan penerbangan trans-Atlantik ini sudah terpatri untuk dieksekusi sejak masa Perang Dunia I. Gagasan ini ditunjang dengan kemajuan teknologi di sektor aviasi yang dirasa sudah cukup dan ambisi dari sejumlah pilot yang merasa tertantang untuk mengukirkan namanya di dalam buku sejarah kedirgantaraan global.
James Fitzmaurice (tengah) dan Ehrenfried Gunther (kanan). Sumber: Kompas
Belum lagi iming-iming hadiah dari sejumlah pihak pelaku aviasi yang semakin mengobarkan asa para pilot untuk menaklukkan penerbangan lintas Samudera Atlantik ini. Sebelum mengarungi Samudera Atlantik, ketiga pilot ini sudah memiliki pengalamannya masing-masing. Sebut saja Hermann dan Ehrenfried yang telah terlebih dahulu mencoba rute penerbangan ini setahun sebelum menorehkan sejarah – 1927. Namun karena terkendala cuaca buruk, mereka berdua terpaksa Return to Base dan penerbangan tandem tersebut pun batal terlaksana. Pun dengan James yang juga pernah mencoba rute penerbangan ini bersama temannya. Namun sama seperti Hermann dan Ehrenfried, James harus mengurungkan niatnya karena terkendala kondisi cuaca.
Junkers W33. Sumber: Kompas
Pada akhirnya James memutuskan untuk bergabung dengan Hermann dan Ehrenfried untuk melakoni penerbangan trans-Atlantik ini bertiga dan mereka sepakat untuk mengudara dari timur menuju barat (Irlandia menuju Jerman). Lagi-lagi kendala cuaca hampir saja membatalkan penerbangan mereka. Hingga pada akhirnya di tanggal 12 April 1928, dengan menggunakan pesawat fixed wings, Junkers W33, mereka bertiga mengudara untuk mencatat tinta emas di sektor aviasi global. Baca Juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong Ternyata, hambatan tidak hanya terjadi pra-penerbangan saja. Ketiga pilot beda kewarganegaraan ini juga sempat mengalami kendala dalam urusan komunikasi, sehingga mereka bertiga menyiasatinya dengan cara kode khusus agar penerbangan tersebut berjalan lancar. Lagi, kendala terjadi ketika pesawat tengah mengudara dan sistem pesawat mulai berjalan tidak normal. Kondisi itu diperburuk dengan cuaca yang lagi-lagi seolah tidak merestui penerbangan tersebut. Ketika semula tujuan akhir dari penerbangan ini adalah New York, akhirnya karena banyaknya aspek yang tidak memungkinkan pesawat untuk terbang menuju New York, ketiga pilot ini terpaksa mendaratkan Junkers W33 yang diberi nama Bremen di Pulau Greenly di Kanada.  

Jadi ‘Paket’ Pada Peluncuran KA Argo, Ini Dia Lokomotif CC203 Penarik Kereta Eksekutif

Dari segi kecepatan, lokomotif ini memang hanya mampu melesat maksimum 150 km per jam, namun lokomotif CC203 yang merupakan hasil pengembangan dari lokomotif CC201 ini tampil dengan desain unik, dimana bentuk kabin untuk masinisnya sudah diperbaharui dengan ujung pendek yang ‘aerodinamis’ dan juga diperlebar. Hal ini sendiri dibuat untuk kenyamanan dan mengurangi penumpang liar untuk ikut naik di depan lokomotif. Baca juga: Akhiri ‘Derita,’ Kini Masinis PT KAI Mulai Nikmati Lokomotif Ber-AC CC203 sendiri bergandar CO’Co’ yang maksudnya adalah lokomotif dengan dua bogie yang memiliki tiga poros penggerak dimana masing-masing digerakkan oleh motor traksi sendiri. Lokomotif ini sudah menggnakan motor diesel dengan duatingkat Turbocharger sehingga daya mesinnya 2150 hp.
Lokomotif CC203
Penasaran sejak kapan lokomotif CC203 ini hadir di Indonesia? Ternyata CC203 didatangkan oleh PT KAI (d/h Perumka) untuk menyambut peluncuran KA kelas Argo tahun 1995. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumberr bahwa, kehadirannya saat itu didatangkan langsung dari Amerika Serikat sebanyak 12 unit dan khusus untuk menarik kereta ekspres. Di awal pengoperasiannya bahkan CC203 menjadi andalan untuk menarik KA penumpang kelas eksekutif full di Pulau Jawa. Pada launching perdananya kala itu, lokomotif CC203 juga bersamaan dengan peresmian kereta api Argo Bromo dan Argo Gede di Stasiun Gambir. Menjadi pengganti lokomotif CC201, CC203 jarang sekali berdinas menarik KA ekonomi ataupun kereta barang. Dimana saja ya lokomotif CC203 tersebar? Lokomotif ini hanya di depo lokomotif yang melayani kereta-kereta komersial/eksekutif argo atau satwa. Berikut ini beberapa depo yang mendapat alokasi CC203 yakni Jatinegara, Bandung, Cirebon, Semarang Poncol, Yogyakarta dan Sidotopo. Selain di impor dari Amerika Serikat yang diproduksi oleh produksi oleh General Electric Transportasi waktu kedatangannya, nyatanya setelah itu lokomotif CC203 adalah lokomotif pertama buatan Indonesia dengan kerja sama PT INKA dengan General Electric. Indonesia membuat lokomotif ini sejak tahun 1997-2000 yang terdiri empat generasi. CC203 yang diproduksi tahun 1995 nomor 01-12 masih buatan Amerika Serikat alias pabrikan asal. Generasi ke II CC 203 generasi II di produksi 1997-1998, nomor 13-30, CC 203 generasi III di produksi 1999-2000, nomor 31-37 dan CC 203 generasi IV di produksi 2000, nomor 38-41. Jumlah CC203 sendiri ada 37 di Pulau Jawa dan empat lainnya di Lampung. Persebaran pembagiannya adalah Jatinegara ada sembilan, Bandung dan Purwokerto ada lima, Madiun empat lokomotif, Semarang Poncol dan Yogyakarta dua lokomotif, Sidotopo ada delapan serta Jember ada dua lokomotif. Sedangkan di Tanjung karang ada empat lokomotif CC203 ini. Bila di Pulau Jawa digunakan untuk menarik kereta ekspres ataupun eksekutif, lokomotif CC203 di Tanjung Karang digunakan untuk melayani dinasan KA pulp dan kayu, sebab lokomotif ini merupakan saran milik PT Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper. Sayangnya CC203 di Divre 3 ini kondisinya cukup memprihatinkan dan terancam tidak berdinas lagi karena dari awal pengoperasiannya selalu di forsir. Baca juga: Pernah Beroperasi Lima Dekade di Indonesia, Lokomotif D301 59 Jadi Monumen di Stasiun Semarang Tawang Lokomotif CC203 sendiri tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan, namum pada awal tahun 2000-an, lokomotif ini sempat dipasangi topi yang kemungkinan kotak AC tetapi akhirnya di hilangkan. Beberapa foto jadul CC203 semasa masih menggunakan livery Departemen Perhubungan banyak memperlihatkan lokomotif yang dipasangi kotak AC tersebut.

Buntut Kecelakaan 737 MAX 8, Kini Boeing Hadapi Tuntutan di Level Korporasi

Boeing lagi-lagi kembali menjadi sorotan media massa, setelah sejumlah korporasi menuntut kompensasi terkait penangguhan pesawat komersial berjenis 737 MAX. Sebut saja maskapai asal Negeri Tirai Bambu, China Eastern Airlines yang telah mengajukan tuntuan pemberian kompensasi dari Boeing terkait penangguhan layanan tersebut. Padahal, maskapai yang berbasis di Shanghai ini berencana untuk menambah 60 armada baru di tahun 2019 ini – 11 diantaranya merupakan jenis Boeing 737 MAX. Baca Juga: Grounded Boeing 737 MAX 8 Ikut Hantam Bisnis Agen Perjalanan Ini Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, belum diketahui secara pasti apakah maskapai ini akan melanjutkan pemesanan tersebut atau tidak. Kendati begitu, proses pengajuan kompensasi tersebut tetap bergantung pada apakah persoalan rancang bangun pesawat itu sebagai salah satu faktor utama yang memicu terjadinya kecelakaan atau tidak. Diketahui, China Eastern Airlines memiliki tiga armada Boeing 737 MAX 8 dari total 36 pesanan yang masuk ke Boeing. Beruntung, pihak maskapai harus ‘kehilangan’ tiga armada yang termasuk baru ini ketika mereka telah melewati peak season puncak arus mudik dan balik libur Tahun Baru Imlek. Walaupun begitu, pihak maskapai terpaksa mengalami kerugian akibat pesawat yang tengah jadi pusat perhatian dunia ini tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Sederhananya seperti ini, jika ada sebuah maskapai yang masih memesan pesawat jenis Boeing 737 MAX, mungkin mereka hanya akan membatalkan pesanan tersebut dan berpindah ke lain hati. Namun lain ceritanya jika ada maskapai seperti China Eastern Airlines yang telah mengoperasikan pesawat Boeing 737 MAX (tiga unit), dan terpaksa mengandangkannya karena masalah keamanan. Wajar jika pihak maskapai melayangkan gugatan penggantian kompensasi sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap pabrikan pesawat ini. Itu baru dari sisi maskapai saja, belum lagi investor. Mengutip dari laman Reuters.com (10/4/2019), seorang penggugat utama kasus ini, Richard Seeks mengatakan bahwa kompromi Boeing mulai muncul setelah kecelakaan Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 penumpang, lima bulan setelah kecelakaan Lion Air yang juga menewaskan 189 penumpang. Baca Juga: Pesanan ‘Kering,’ Boeing Alihkan SDM Untuk Perbaharui Sistem 737 MAX Richard Seeks mengatakan, driinya membeli 300 saham Boeing pada awal Maret, dan menjualnya dengan kerugian dalam dua minggu terakhir. Penggugat mencari ganti rugi bagi investor saham Boeing dari 8 Januari hingga 21 Maret. Tidak bisa dipungkiri, Boeing menghadapi banyak tuntutan hukum lainnya atas dua kecelakaan fatal tersebut, termasuk oleh keluarga korban dan oleh para pengambil bagian dalam rencana pensiun karyawannya.