Ngotot Merokok di Dalam Kabin, Penumpang Alaska Airlines Dibekuk Petugas Keamanan

Sebuah penerbangan Alaska Airlines dari San Francisco menuju Philadelphia terpaksa dialihkan menuju Chicago lantaran salah satu penumpangnya bersikukuh untuk merokok di dalam red-eye flight (penerbangan dini hari) tersebut. Tidak hanya sekali, namun penumpang ini berusaha untuk menyalakan rokoknya sebanyak dua kali, dimana itu berdampak pada pengalihan perjalanan. Baca Juga: Demi Merokok, Wanita ini Sebabkan Keterlambatan 2 Jam Penerbangan di Bandara Auckland Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman wxyz.com (11/4/2019), Alaska Airlines dengan nomor penerbangan 1138 ini sebenarnya telah melakoni lebih dari setengah perjalanan menuju Philadelphia. Namun karena penumpang yang keras kepala ini, akhirnya sang pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan di Bandara Internasional O’Hare, Chicago sekira pukul 04.22 dini hari waktu setempat. Pendaratan ini dilakukan agar penumpang bandel ini bisa diamankan oleh petugas yang berwajib dan mereka bisa melanjutkan penerbangan tersebut. Padahal, jika diperhatikan dengan seksama, setiap maskapai yang menawarkan perjalanan konvensional selalu mengingatkan kepada para penumpangnya untuk tidak merokok selama penerbangan. “Hal ini terpaksa kami tempuh karena penumpang ini (yang mencoba merokok di dalam pesawat) telah dianggap mengganggu kenyamanan penumpang lain, dan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, penerbangan 1138 dialihkan menuju Chicago,” ujar pihak Alaska Airlines dalam sebuah keterangan tertulis. Sesampainya di Chicago, petugas kepolisian langsung menjemput pelakudi dalam pesawat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika pihak berwajib telah berhasil membekuk pelaku dan mengeluarkannya dari penerbangan tersebut, pihak Alaska Airlines langsung melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya menyempatkan untuk mengisi bahan bakar. Baca Juga: Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia Masih belum diketahui apakah pelaku akan dikenakan sanksi oleh Federal Aviation Administration (FAA). Namun sudah jelas bahwa pelaku telah merusak kenyamanan penumpang lain yang ada di dalam penerbangan tersebut dengan memaksakan dirinya untuk tetap merokok. FAA sendiri mengatakan bahwa pihaknya masih mendalami insiden yang menyebabkan keterlambatan pendaratan di Philadelphia selama kurang lebih satu jam ini. Sementara itu, pihak Alaska Airlines masih enggan berkomentar lebih jauh terkait adanya insiden yang terjadi pada Selasa (9/4/2019) kemarin ini.

Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Michigan dan didanai Ford telah memeriksa kredensial lingkungan dari kendaraan Vertical Take Off Landing (VTOL) bertenaga listrik untuk melakukan perjalanan yang dibandingkan dengan mobil biasa dan mobil listrik dalam berbagai jarak perjalanan. Hasilnya melukiskan gambaran menarik tentang mobilitas masa depan. Baca Juga: Kembangkan Wahana VTOL, Uber Gandeng NASA dan Angkatan Darat AS Penelitian ini sendiri diterbitkan dalam sebuah jurnal akses terbuka, Nature Communications, dimana mereka mengasumsikan bahwa VTOL akan ditenagai oleh listrik dari pembangkit konvensional dan bukan dari sumber yang terbarukan. Selain itu, VTOL ini memiliki kapasitas untuk melakoni penerbangan yang efisien setelah penarikan energi tinggi saat lepas landas dan mendarat – dan ini merupakan hal yang masuk akal. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (10/4/2019), para peneliti mengambil banyak parameter realistis untuk dimasukkan ke dalam persamaan mereka, dengan asumsi bahwa pesawat akan terlihat seperti apa yang saat ini sedang dikembangkan oleh orang-orang seperti Joby, Airbus, Boeing dan Lilium, di antara banyak lainnya. Dengan demikian, para peneliti dapat mengambil langkah yang wajar untuk mengetahui berapa berat kendaraan, rasio lift-to-drag, energi khusus baterai, dan berapa banyak energi yang akan mereka gunakan selama berbagai tahap penerbangan: lepas landas, melayang, menanjakak ke ketinggian tertentu, mengarungi angkasa, hingga mendarat. Lebih mengejutkan lagi, jika moda VTOL ini melakoni perjalanan dengan jarak tempuh yang sama dengan mobil listrik, moda VTOL yang mengangkut empat penumpang menghasilkan emisi enampersen lebih rendah ketimbang mobil listrik. Jadi, dari sini saja sudah terlihat jelas bukan bahwa moda VTOL tidak hanya menawarkan perjalanan yang menyenangkan, pun mobilitas yang ramah lingkungan. Baca Juga: BlackFly, Moda VTOL Personal dengan Fleksibilitas Tinggi “Bagi saya, sangat mengejutkan melihat bahwa VTOL kompetitif dalam hal penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca dalam skenario tertentu,” ujar Gregory Keoleian, penulis studi senior dan direktur dari Center for Sustainable Systems di University of Michigan. “VTOL dengan pay load penuh dapat mengungguli mobil listrik, dan ini sangat mengejutkan,” tandasnya. Namun kembali lagi, tidaklah mudah untuk menghadirkan VTOL sebagai moda angkut – mengingat ketatnya regulasi yang mengatur jalur udara. Hal inilah yang menjadi satu hambatan bagi para perusahaan yang berkutat dengan VTOL masing-masing.  

Emirates Hilangkan Pajangan Botol Sampanye Mewah di Bar Pesawat Kelas Satu

Saar terbang dengan duduk di kursi kelas satu, penumpang akan dimanjakan bak seorang raja dan ratu. Apalagi saat terbang dengan maskapai Emirates yang akan memberikan pengalaman luar biasa diatas pesawat selama penerbangan. Bisa dikatakan semua fasilitas kelas satu Emirates sungguh nyata dan luar biasa. Baca juga: Kata Pramugari Senior, Penumpang Asal India Menjadi yang ‘Paling Sulit Diatur’ Sayangnya meski memiliki pengalaman luar biasa, maskapai yang berbasis di Dubai ini mulai mengubah beberapa kebijakan mereka. Salah satunya adalah menghapus minuman atau sampanye mahal di bar kelas satu mereka. KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (11/4/2019), bahwa Emirates tidak akan lagi menghadirkan beberapa alkohol paling mahal di bar kelas satu. Adanya perubahan ini sendiri tidak banyak mempengaruhi dan hanya akan dirasakan penumpang kelas satu dipeawat A380 mereka. Meski tidak lagi dipajang, tetapi maskapai ini tetap menawarkan minuman beralkohol tersebut untuk penumpang kelas satu. Bahkan tampilan bagian depan kabin tidak sama dengan bilah onboard, sebab lounge memiliki tampilan yang jauh lebih bagus daripada pilihan alkohol Emirates. Memang adanya perubahan ini membuat penumpang bertanya dan menurut Emirates, ini adalah pencegahan dari beberapa pilihan alkohol mahal mereka agar tidak dicuri. Mereka menganggap ini sebagai salah satu masalah signifikan untuk merubah kebijakan tersebut. Namun, Emirates masih menawarkan Dom Perignon di kelas satu mereka dan yang ditawarkan adalah Dom Perignon 2009. Nantinya Dom Perignon 2009 akan digantikan dengan versi 2008 serta Emirates juga melayani Dem Perignon Rose 2006 di beberapa penerbangan tertentu mereka. Penumpang yang terbang di kelas satu akan dapat mencicipi Dom Perignon Rose pada penerbangan ke Asia, Australia, dan Eropa. Sayangnya, penumpang yang terbang ke Britania Raya atau Inggris tidak akan memiliki akses ke Dom Perignon Rose 2006. Jika Anda terbang di kelas bisnis, Anda juga akan melihat beberapa peningkatan pada pemilihan champagnes. Pada rute ke Eropa, Amerika Utara dan Selatan, penumpang kelas bisnis akan disuguhi Veuve Clicquot Extra Brut Extra Old. Untuk penumpang premium, ini adalah perubahan yang disambut baik karena lebih banyak maskapai penerbangan memotong biaya dan mengurangi pengalaman yang mereka tawarkan. Sangat jarang melihat maskapai meningkatkan jumlah yang mereka habiskan untuk produk lunak mereka. Baca juga: Lho! Di Emirates, Ada Sampanye Sisa Dituang Ke Dalam Botol Tetapi Emirates telah menunjukkan minat yang luar biasa dalam memanjakan penumpang premium mereka. Emirates sedang meningkatkan permainan mereka yang sudah fantastis ketika datang ke pilihan alkohol onboard. Menghapus beberapa botol dari tampilan mungkin mengecewakan bagi sebagian dari Anda para pelancong yang mengerti Instagram. Meski begitu, Emirates masih menawarkan produk kelas satu yang fantastis.

Memo Internal Tersebar, Emirates Peringatkan Awak Kabin yang ‘Layover’ untuk Bersikap Sopan

Selama waktu singah di suatu negara atau layover, awak kabin bisa beristirahat untuk bersiap dalam perjalanan yang akan ditempuh selanjutnya. Layover sendiri menjadi sesuatu yang jamak dilakukan oleh maskapai yang melayani penerbangan jarak jauh, dengan tujuan agar awak kabin dapat fresh berkat pergantian kru setelah penerbangan jarak jauh. Dan terkait layover, baru-baru ini Emirates mengirimkan memo internal kepada stafnya yang terdiri dari 20 ribu awak kabin. Baca juga: Coba Bunuh Diri, Awak Kabin Lompat dari Lantai 3 Gedung Kantor Pusat Emirates Memo tersebut meningatkan mereka bila kesalahan kecil saja pada saat layover bisa merusak reputasi maskapai yang berbasis di Dubai tersebut. Email yang dikirim oleh Thomas Ney mengatakan pada awak kabin bahwa waktu yang dihabiskan untuk layover sendiri disediakan agar mereka bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Dilansir KabarPenumpang.com dari paddleyourownkanoo.com (4/4/2019), sayangnya memo yang dikirim secara internal tersebut bocor setelah beberapa hari lalu ada kejadian dua anggota awak kabin Emirates yang dirampok dengan kejam di Bali. Awak kabin tersebut tengah mengendarai sepeda motor saat insiden ,dan awak kabin pria disebut-sebut terluka parah serta tengah dalam perawatan untuk pemulihan di rumah sakit Bali. Pengirim memo tersebut menyebutkan awak kabin telah melakukan tindakan tidak sensitif, karena tampaknya menghubungkan apa yang terjadi di Bali dengan perilaku yang tak pantas. Email itu memberitahukan pada awak kabin bahwa beberapa rekan mereka tidak mengelola waktu singgah dengan tepat dan mengingatkan bahwa harus mengambil tanggung jawab dengan sangat serius. Beberapa awak kabin Emirates berpendapat, bahwa memo tersebut mirip dengan pemberitahuan dari perusahaan untuk tetap di kamar hotel selama masa layover. Hal ini karena mereka takut bila sesuatu bisa terjadi diluar kendali selama masa singgah tersebut. Ney mengatakan dalam memo bahwa insiden tersebut mengakibatkan adanya intervensi dari perusahaan dan dalam insiden lain pihak berwenang setempat ikut terlibat. Ternyata masalah ini tidak hanya dirasakan oleh Emirates, melainkan hampir semua maskapai mengalami hal yang sama dan berurusan dengan awak kabin yang tak dapat mengendalikan waktu saat layover. Ada beberapa pesta yang diadakan di kamar dan awak kabin mabuk, ini bisa menghancurkan hubungan maskapai dan hotel atau insiden lain yang lebih serius seperti penggunaan narkoba. Tetapi bukan hanya awak kabin yang tidak mengelola persinggahan mereka dengan benar, seperti beberapa kasus baru-baru ini, pilot untuk maskapai penerbangan Jepang yang melebihi batas alkohol legal setelah layover mereka. Ney benar dalam memberi tahu staf bahwa “disayangkan dan patut disesalkan” adalah untuk mengingatkan sebagian besar staf tentang harapan maskapai. Faktanya, Emirates sangat jelas tentang harapannya terhadap awak kabin selama perjalanan perekrutan dan pelatihan dan kemudian sepanjang karier mereka dengan maskapai. Awak kabin Emirates adalah duta perusahaan dan setiap saat harus selalu berperilaku “dengan standar perilaku tertinggi”. Baca juga: Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby Pada tahun 2017, seorang anggota kabin Inggris dari Emirates ditemukan tewas di jalur kereta api di Amsterdam saat singgah di kota Belanda. Michael Moran baru saja bergabung dengan Emirates ketika ia hilang.

Pesanan ‘Kering,’ Boeing Alihkan SDM Untuk Perbaharui Sistem 737 MAX

Setelah menjadi headline dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang, akhirnya raksasa manufaktur kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing kembai terpaksa menelan pil pahit setelah sejumlah maskapai yang sebelumnya telah memesan armada 737 MAX, menunda untuk menindaklanjuti pemesanan tersebut. Dalam sebuah pernyataan resmi, Boeing menunjukkan ada 10 pesawat yang masuk ke dalam daftar pesanan perusahaan dua bulan awal di tahun 2019. Baca Juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman finance.nine.com.au (10/4/2019), tidak ada pesanan yang masuk ke perusahaan terhitung sejak bulan Maret 2019 kemarin – bulan dimana Boeing 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa. Jumlah pesanan di awal Maret tersebut untuk jenis pesawat yang sama ternyata jauh lebih kecil dibandingkan dengan 112 pesanan yang masuk pada kuartal pertama tahun 2018. Kala itu, Southwest Airlines telah memesan 40 jet, sementara Ryanair memesan 25 jet. Ternyata, di balik keterpurukan Boeing tersebut, ada sisi positif yang diterima oleh perusahaan – peningkatan pesanan untuk jet komersial jenis lain. Boeing berhasil menjual 85 jet komersial jenis lain pada kuartal terakhir tahun 2018 silam, dibandingkan 68 pesawat pada tahun sebelumnya. Terkait pesanan yang ‘kering’ yang masuk ke daftar pesanan perusahaan untuk jenis 737 MAX, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan bahwa perusahaannya memangkas produksi bulanan pesawat 737 untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya yang bekerja guna membawa pesawat 737 Max yang saat ini dilarang terbang di seluruh dunia kembali mengudara. Hal ini ditujukan agar keluarga 737 MAX bisa kembali mengudara. Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 “Kami sedang menyesuaikan sistem produksi sementara 737 untuk mengakomodasi jeda dalam pengiriman Max, memungkinkan kami memprioritaskan sumber daya tambahan untuk fokus pada sertifikasi perangkat lunak dan mengembalikan Max bisa terbang. Kami telah memutuskan untuk sementara waktu beralih dari tingkat produksi 52 pesawat per bulan menjadi 42 pesawat per bulan mulai pada pertengahan April,” ujar Dennis Muilenburg, dikutip dari laman Antaranews (6/4/2019). Jika jalan ini yang lantas ditempuh Boeing, akankah keluarga Boeing 737 MAX bisa kembali mengudara dan perusahaan bisa kembali meyakinkan para pelanggan untuk kembali menggunakan jet komersial ini?  

Ternyata Pemilihan Kursi Kereta Bisa Jadi Pro dan Kontra Pada Penumpang

Setiap penumpang kereta memiliki pilihan kursi dan posisi duduknya masing-masing. Biasanya penumpang yang penyendiri akan lebih memilih kursi untuk dua orang dibandingkan empat orang berhadapan. Hal ini pun berlaku bagi sebaliknya bila penumpang pergi berkelompok biasanya memilih kursi empat dengan berhadapan untuk memudahkan komunikasi satu dengan yang lain. Baca juga: Serba-Serbi Pilih Kursi ‘Panas’ di Kereta Ekonomi Premium KabarPenumpang.com merangkum dari londonist.com, kenyataannya pilihan dua atau empat kursi ini memiliki pro kontra tersendiri. Penasaran alasan setiap penumpang saat memilih kursi dua atau empat? 1. Alasan memilih kursi empat a. Ruang kaki Untuk ruang lutut pemilihan kursi empat ini cocok apalagi bila bepergian bersama kelompok. Selain lebih nyaman, kaki juga lebih leluasa dan lutut antar penumpang tidak bersenggolan. Selain itu memiliki ruang yang cukup bila Anda duduk di jendela dan akan mudah pergi ke toilet atau ke kantin kereta karena tidak perlu mengganggu penumpang lainnya. Tetapi ruang tersebut akan tak berguna bila penumpang di depan Anda membawa barang besar bersamanya. Sehingga terkadang kursi untuk dua orang lebih nyaman. b. Meja Biasanya ada meja lipat disetiap kursi dan beberapa diantara kereta dilengkapi dengan soket listrik. Meja ini menguntungkan bila Anda melakukan perjalanan bisnis dan harus menulis sesuatu di buku atau menggunakan perangkat elektronik untuk bekerja. Meski begitu kehadiran meja ini juga bisa menghambat bila Anda ingin keluar ketika semua penumpang menggunakan meja mereka. 2. Alasan memilih kursi dua a. Privasi Dengan kursi untuk dua orang, bila Anda orang yang lebih memilih ketenangan dan seorang yang penyendiri kursi dua ini membuat lebih memiliki privasi. Sebab Anda hanya akan bersama penumpang disebelah. Tidak merasa sempit pada kaki karena memiliki ruang yang lega untuk diri sendiri. Sayangnya bila duduk hanya bersebelahan ketika penumpang yang lain tidur, Anda akan sendirian. b. Aman dari kelompok Kereta sebagai salah satu pilihan alternatif transportasi kerap kali dinaiki oleh sekelompok penumpang yang biasanya cukup membuat ramai kereta. Tetapi ketika duduk dengan dua kursi, hal ini mungkin bisa terminimalisir karena tidak ada kebisingan yang akan didengar. Saat duduk di kursi dua, sayangnya Anda tidak akan bisa berbagi cerita, makanan atau hal lainnya alias sibuk dengan kegiatan masing-masing penumpang. Untuk melihat banyaknya antusias penumpang dalam memilih duduk di dua kursi atau empat kursi, londonist.com melakukan survei dan membuatnya di grup Facebook London Roundel Ramblings dengan sebuah poling. Hasilnya adalah kursi dua dipilih oleh 142 orang, kursi empat dipilih oleh 72 orang dan sisanya 15 orang. Baca juga: Menyoal Kepadatan Penumpang Kereta di Inggris, Desainer ini Adopsi Konsep Kursi Bar dan Jemuran Kursi bergaya maskapai terbukti hampir dua kali lebih populer dari kursi kelompok. Kategori lain termasuk orang-orang yang lebih suka berdiri, beberapa yang mencari kursi tunggal yang langka, dan yang lain naik kereta dengan kursi tiga baris.

Kontrak Sejak 2018, PT KCI Kembali Datangkan 192 Kereta Bekas dari Jepang

Sebanyak 192 unit kereta akan datang untuk mengganti kereta lama milik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tahun 2019 ini. Kereta yang didatangkan ini sendiri merupakan kereta rel listrik (KRL) bekas pakai di Jepang. Baca juga: Targetkan 2 Juta Penumpang di 2019, PT KCI Tambah Dua Gerbong di Tiap Rangkaian Kedatangan kereta-kereta bekas ini sendiri didasari kontrak tahun 2018 lalu antara KCI dengan East Japan Railway Company yang merupakan perusahaan penyedia jasa perkeretaapian penumpang asal Jepang. Dalam kontrak itu, KCI sendiri akan mendatangkan sebanyak 356 unit kereta yang pengirimannya mulai tahun 2018 hingga 2020 mendatang. Direktur PT KCI Wiwik Widayanti mengatakan, hingga Januari 2019, sudah ada 24 unit kereta yang sudah terealisasi dan tahun sebelumnya hanya mendatangkan 68 unit kereta. “Tahun ini akan mendatangkan jauh lebih besar. Dana yang dikeluarkan untuk 192 unit kereta ini sekitar Rp190 miliar,” kata Wiwik yang dikutip KabarPenumpang.com dari kontan.co.id (10/4/2019). Dia menambahkan untuk tahun 2020 mendatang yang akan didatangkan sisanya adalah 96 unit. Wiwik menargetkan, dengan kehadiran kereta-kereta ini bisa mengangkut 343,5 juta penumpang sepanjang 2019 dengan kapasitas angkut maksimum 1,3 juta penumpang. Pengguna KRL Jabodetabek Sumbang KCI Rp3,3 Miliar per hari. Direktur Teknik PT KCI John Roberto, kereta yang didatangkan adalah kereta bekas yang berasal dari Jepang dengan seri 205. John yakin dengan standar perawatan yang PT KCI terapkan kereta akan tetap berfungsi dengan baik. “Standar perawatan kami sama dengan Jepang,” ujarnya. Sementara itu, di tahun 2021 PT KCI akan membuat kereta baru yang digarap secara bertahap dimulai dengan 25 train set terlebih dahulu. Sejauh ini, rencana tersebut sampai tahap diskusi dengan INKA. INKA yang akan mengerjakan proyek tersebut agar ada proses transfer teknologi. “Tapi masih belum tahu apakah bekerjasama lagi dengan perusahaan Jepang atau tidak,” tambah John. John mengatakan dari 192 unit akan dijadikan 16 rangkaian dengan 12 stamformasi agar bisa mengangkut lebih banyak dan nyaman. “Di Jepang stamformasi delapan kereta, kita buat jadi 12, dan ini masih seri 2015,” katanya. Baca juga: PT KCI – Tukar KMT Lama ke Baru Sebelum Tanggal 21 Juli 2018 Sementara itu, Wiwik menambahkan, sejak beroperasi pada 2013 hingga 2018, rata-rata pertumbuhan volume penumpang KRL sebesar 17 persen. Peningkatan paling signifikan, kata Wiwik, terjadi pada 2017. Ia menjelaskan, peningkatan pada tahun tersebut terjadi karena dibukanya dua stasiun baru, yakni Stasiun Cikarang dan Stasiun Rangkasbitung. Jumlah volume penumpang pada 2017 sebanyak 315.853.991, sedangkan 2016 dengan jumlah 280.586.407 penumpang.

Baggage Wrapping Bandara I Gusti Ngurah Rai Gunakan Plastik Ramah Lingkungan, Bagaimana dengan yang Lain?

Mengingat segala sesuatunya kini sudah serba ramah lingkungan dan berkelanjutan, ternyata tidak hanya sektor transportasi saja yang mengaplikasikan hal ini, pun halnya dengan fasilitas pendukungnya – sebut saja baggage wrapping di bandara. Nah, kali ini ada PT Candi Agung Majapahit yang juga mengganti plastik biasa untuk membungkus bagasi para pelancong dengan plastik yang ramah lingkungan. Baca Juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda? Ini merupakan bentuk dukungan dan komitmen atas Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai yang dikeluarkan akhir tahun 2018 lalu. “Kami sudah dua bulan lebih menggunakan plastik ramah lingkungan ini. Bahan plastik ini sama dengan bahan plastik pada umumnya. Tapi, kami menambah bahan tertentu pada plastik yang kami gunakan sehingga plastik yang dihasilkan ramah lingkungan,” ungkap Direktur PT Candi Agung Majapahit Achmad Fauzi Sandi, dikutip dari laman tribunnews.com (2/4/2019). Ia juga menambahkan bahwa dengan menambahkan bahan aditif ini akan mempercepat proses oksidasi dan biodegradasi plastik. Patut diketahui, PT Candi Agung Majapahit yang beroperasi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sampai saat ini merupakan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan layanan pengemasan yang telah menggunakan plastik ramah lingkungan. Namun, seperti yang sudah disinggung di atas, belum semua – atau bisa dibilang masih banyak jasa baggage wrapping yang menggunakan plastik biasa untuk membungkus barang bawaan para pelancong ini. Salah satunya yang masih menggunakan plastik konvensional adalah PT Diva Sinergi Adipradana yang beroperasi di Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Menurut Manager Operasional PT Diva Sinergi Adipradana, Rendy Mardiansyah, penggunaan plastik ramah lingkungan membutuhkan biaya yang cukup besar mengingat harga dari plastik tersebut tidaklah murah. “Sebenarnya yang menawarkan (plastik ramah lingkungan) sudah ada, namun ketika dihitung-hitung, penggunaan plastik ramah lingkungan ini akan berdampak pada melonjaknya harga yang kami tawarkan kepada pelanggan,” ujar Rendy kepada KabarPenumpang.com, Rabu (10/4/2019). Baca Juga: Kini Tersedia Layanan Baggage Wrapping di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Kendati begitu, hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk PT Diva Sinergi Adipradana untuk menggunakan plastik ramah lingkungan di masa yang akan datang. “Mungkin kok, tapi tidak untuk dalam waktu dekat ini. Kami tunggu situasi di lapangan kondusif terlebih dahulu, apalagi kemarin Lion Air baru saja memberlakukan sistem bagasi berbayar. Nanti akan kami pertimbangkan kembali kapan tepatnya untuk menggunakan plastik ramah lingkungan ini.” tutupnya.  

Resmi Ganti Nama dari Sisingamangaraja Menjadi ASEAN, Stasiun MRT Ini Juga Terintegrasi Halte TransJakarta

Stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Sisingamangaraja resmi berganti nama menjadi Stasiun MRT ASEAN. Pergantian nama ini sendiri dihadiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dan perwakitan tetap negara-negara ASEAN. Baca juga: Komikus Jepang Kritik Hutang Pembangunan, MRT Jakarta: “Tidak Ada yang Namanya Terlambat Bayar” Perubahan nama tersebut dikatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan karena Jakarta bukan hanya ibukota Indonesia tetapi juga ibukota ASEAN. Dengan perubahan nama ini, berharap adanya penguatan komitmen Indonesia untuk berperan di tingkat regional. Ternyata setelah berganti nama, stasiun ini rencananya juga akan terintegrasi dengan halte dari transJakarta CSW. Anies mengatakan kedua moda transportasi massal ini sendiri akan tersambung dengan eskalator. “Nanti akan ada di sudut barat utara, ada fasilitas eskalator untuk bisa naik ke atas (Halte CSW),” ujar Anies yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (10/4/2019). Dia mengatakan, pihaknya kini tengah memfinalisasi desain integrasi yang disayembarakan ke publik. Anies berharap masalah integrasi Stasiun ASEAN dan Halte CSW bisa menjadi contoh untuk memikirkan integrasi sebelum melakukan pembangunan. “Anda mau contoh sempurna perencanaan tidak terintegrasi? Stasiun ini dan halte TransJakarta di situ. Dibangun dalam waktu yang bersamaan tetapi dalam perencanaannya pun tidak memikirkan ketersambungan,” kata Anies. Stasiun MRT ASEAN sendiri letaknya berada di tengah lintas MRT fase I Bundaran HI-Lebak Bulus dan Halte CSW yang dilewati TransJakarta merupakan koridor 13 Ciledug-Tendean dan memiliki 118 anak tangga. Sebelumnya pada Maret lalu Stasiun MRT juga sudah terintegrasi dengan TransJakarta di halte Bundaran HI. Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono, mengaku, saat ini baru halte bus TransJakarta Bundaran HI yang terintegrasi langsung dengan Stasiun MRT. Sebab, sedari dulu Jepang memang mendesain MRT terkoneksi dengan moda lain hanya di Bundaran HI. Namun, karena pemerintah sekarang ingin integrasi, bukan elimininasi, pihaknya tengah mempersiapkan halte lain yang terintegrasi dengan MRT seperti di Bundaran HI. Misalnya, di Tosari yang akan dikerjakan April ini. Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta Agung mengatakan, halte TransJakarta akan terintegrasi dengan Stasiun Dukuh Atas. Namun, karena mediannya terlalu kecil, tidak memungkinkan untuk membuat terowongan seperti halte Bundaran HI. Untuk itu, halte TransJakarta di Tosari diperpanjang lebih dekat ke menara BCA, Grand Indonesia, atau Hotel Mandarin, sehingga penumpang lebih mudah berpindah moda.

Komikus Jepang Kritik Hutang Pembangunan, MRT Jakarta: “Tidak Ada yang Namanya Terlambat Bayar”

Pemerintah Indonesia dan PT MRT Jakarta dibuat kecewa oleh salah satu komikus asal Jepang yang menyinggung soal hutang pihak Indonesia terhadap Negeri Sakura yang digunakan untuk pembangunan moda transportasi berbasis massal anyar Ibukota ini. Dalam komik yang diunggah Onan Hiroshi – sang komikus ke laman web onanhiroshi.com ini, tampak gambar dua orang petugas Japan International Cooperation Agency (JICA) yang terkesan ‘mengemis’ kepada pihak MRT Jakarta yang digambarkan sebagai seorang bos. Baca Juga: MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun Guna melengkapi komik itu, Onan juga menyematkan caption, “Dear, Indonesia Gov, please pay! For Japan reward.” Menanggapi viralnya komik ini, PT MRT Jakarta menyayangkan adanya komik tersebut. Alih-alih memperkarakannya, PT MRT Jakarta melalui Division Head Corporate Secretary, Muhamad Kamaluddin lebih memilih untuk tidak terlalu menghiraukannya dan terus fokus pada maintenance fase 1 dan persiapan pembangunan fase 2. “Iya jadi menyayangkan ya kalau ada yang membuat kartun seperti itu. Tapi itu kan sebetulnya sudah ada prosesnya ya dan memang tidak ada keterlambatan (pembayaran),” ujar Muhammad Kamaluddin, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com. “Dan ini kan baru di sosmed, jadi kami tidak memberikan komentar resmi kecuali di media resmi kami menyampaikan hak jawab karena hanya di sosmed pribadi. Yang penting semua sudah sesuai proses dan peraturan pinjaman dan kontrak dengan kontraktor,” tandasnya. Patut diketahui, tenor pelunasan hutang PT MRT Jakarta terhadap Jepang adalah 40 tahun dengan masa tenggang selama 10 tahun. Itu artinya, Pemerintah Indonesia baru mulai mencicil pinjaman 10 tahun setelah pinjaman itu ditandatangani. “Sudah masuk dalam cicilan kan untuk 40 tahun pembayarannya dan sebetulnya sekarang belum masuk dalam pembayaran, masih ada grace period selama 10 tahun, baru nanti tahun ke-10 akan mulai pembayaran,” terang Muhammad Kamaluddin. Tentu saja, perkara pelunasan hutang ini sudah melalui persetujuan dari kedua belah pihak yang sama-sama menyetujui skema pembayaran tersebut. Muhammad Kamaluddin sendiri mengatakan bahwa PT MRT Jakarta tidak akan terlambat dalam melakuan pembayaran pinjaman ini. “Tidak ada yang namanya keterlambatan pembayaran oleh pemerintah dan MRT Jakarta,” tukasnya. Baca Juga: Ini Dia Rute MRT Jakarta Jika Diteruskan Hingga ke Tangerang Selatan Di sisi lain, Direktur Keuangan PT MRT Jakarta, Tuhiyat mengatakan bahwa biaya pembangunan Moda Raya Terpadu fase 1 ini mengalami pembengkakkan dari angka Rp14,2 triliun menjadi Rp16 triliun. Hal ini dilatarbelakangi oleh peningkatan daya tahan gempa MRT Jakarta dari magnitudo 7 menjadi magnitudo 9. “Itu (penambahan biaya) yang dinamakan price adjusment dari variatif order karena kontraknya sifatnya design and build. Begitu sambil desain, sambil bangun, di lapangan ada regulasi baru,” terang Tuhiyat.