Bandara terbesar di Korea Selatan, Inceon International Airport yang sebelumnya berencana untuk menanamkan sejumlah moda untuk bekal pembangunan landas pacu keempatnya kini mulai masuk ke dalam tahap pembangunan. Adapun dana yang dianggarkan oleh Incheon International Airport Corp (IIAC) adalah senilai US$3,72 miliar atau yang setara dengan Rp54,3 triliun. Penambahan landas pacu keempat ini merupakan langkah antisipasi peningkatan jumlah penumpang jalur udara menuju negara berjuluk Negeri Ginseng ini.
Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan
Berdasarkan rangkuman KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pihak IIAC mengatakan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari perluasan bandara secara keseluruhan jilid keempat – mencakup peluasan terminal kedua, tempat pesawat ‘bersandar’, dan fasilitas angkut penumpang. Adapun landas pacu ini diperkirakan dapat mulai beroperasi pada tahun 2023 mendatang, “dan dapat mengakomodir 100 pergerakan pesawat per jam,” tutur pihak IIAC dalam sebuah pernyataan tertulis, dikutip dari laman airport-technology.com (21/12/2018).
Diketahui, perluasan bandara ini ditujukan untuk menggantikan peran dari Gimpo International Airport yang terletak di Gangseo-gu, Seoul, Korea Selatan. Dari tahun ke tahun, pengembangan dan peningkatan fasilitas di Bandara Internasional Incheon terus digalakkan. Ambil contoh, di bawah tahap kedua ekspansi, Bandara Internasional Incheon meluncurkan concourse baru pada tahun 2008 silam. Sementara pembangunan terminal kedua merupakan bagian dari ekspansi tahap ketiga pada tahun 2018.
Hiingga saat ini, tercata Bandara Internasional Incheon mengelola sekira 72 juta penumpang setiap tahunnya, dan angka tersebut akan naikke level 100 juta penumpang ketika ekspansi jilid empat ini rampung. Tidak hanya ditujukan bagi para penumpang, pihak IIAC juga mengutarakan bahwa proyek ekspansi ini akan menciptakan sekitar 50.000 lapangan pekerjaan baru serta diproyeksikan dapat menyumbang sekira US$9,79 miliar (Rp142,9 triliun) kepada pendapatan negara.
Baca Juga: Transit di Seoul, Garuda Indonesia Siap Buka Rute Jakarta – Los Angeles di Q2 2019
Bandara Internasional Incheon sendiri mulai beroperasi pada tahun 2001 silam. Lima tahun berselang, tepatnya pada 15 November 2006, sebuah Airbus A380 mendarat di Incheon dan merupakan bagian dari babak pertama perjalanan sertifikasinya. Sementara itu, dikutip dari laman web resmi bandara, Incheon adalah pengangkut kargo internasional tersibuk ketiga di dunia. Di tahun 2020 kelak, bandara ini akan mampu menampung tiga juta ton kargo – bagian dari peningkatan volume pengiriman.
Rail Clinic milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini hadir untuk membantu para korban tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemarin di Banten. Kehadiran Rail Clinic sendiri akan disiagakan di Stasiun Ciwandan, Kota Cilegon, Banten.
Baca juga: Rail Clinic, Klinik Berjalan Diatas Rel Milik PT KAI Gratis
Rail Clinic menempuh perjalanan dari Jakarta dan tiba di Stasiun Cigading pada 24 Desember 2018 kemarin sekitar pukul 17.00 WIB. Penyiagaan Rail Clinic di Cigading, karena stasiun terdekat dengan daerah terdampak tsunami adalah Stasiun Ciwandan.
Direktur SDM dan Umum PT KAI Ruli Adi mengatakan, Rail Clinic merupakan basecamp bukan sebagai pelaksana bantuan. Sebab posko utamanya sendiri ada di Cinangka dan basecamp ini untuk koordinasi.
“Rail Clinic akan berjalan jika dibutuhkan untuk membantu mengobati korban. Kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait apabila puskesmas dan rumah sakit kewalahan menangani korban tsunami,” ujar Ruli yag dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (25/12/2018).
Dokter dan perawat di Rail Clinic akan disiagakan selama tiga hari di Stasiun Ciwandan. Nantinya jika dibutuhkan lebih lama maka akan tetap standby. Ruli mengatakan, perjalanan dari Ciwandan ke Cinangka sekitar 45 menit dan peralatan lengkap jika dibutuhkan, maka Rail Clinic akan berjalan menuju lokasi.
“Rail Clinic dilengkapi dengan seluruh peralatan medis dan 23 paramedis semuanya siaga, ada dokter umum, gigi, pokoknya lengkap dan mudah-mudahan ini dibutuhkan masyarakat sekitar,” kata Ruli.
Rail Clinic menggunakan Kereta Rel Diesel (KRD) dengan dua gerbon yang dilengkapi dengan lampu sirene dan tanda palang merah yang ada di ambulans. Isi gerbong dari Rail Clinic adalah perlengkapan medis.
Gerbong pertama menjadi ruangan seluruh tindakan medis dari pelayanan darurat yang meliputi bantuan hidup dasar atau CPR, alat monitoring pasien, alat kejut jantung, tindakan minor, rekam jantung hingga penangan khusus dapat dilakukan. Bisa dikatakan gerbong pertama ini diperuntukkan untuk Unit Gawat Darurat (UGD). Pada gerbong kedua, dilengkapi dengan ruang pemeriksan ibu hamil dan bersalin, ruang menyusui, ruang pemeriksaan umum dan ruang farmasi.
Baca juga:India Punya Lifeline Express, Kereta “Rumah Sakit” Untuk Masyarakat Kurang MampuRail Clinic ini untuk membantu masyarakat kurang mampu yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan. Selain itu dengan adanya Rail Clinic ini, nantinya bisa membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak bisa terjangkau kendaraan bermotor atau wilayah bencana alam. Rail Clinic resmi beroperasi pada tahun 2015 lalu untuk wilayah Pulau Jawa dan Februari 2017 beroperasi di wilayah Sumatera.
Ada yang menarik dari pernyataan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara saat berbicara dalam acara Public Expose di Atjeh Connection pada Jumat, 21 Desember lalu, ditengah paparan program dan evaluasi kerja maskapai plat merah tersebut, Ari menyebut pihaknya mengkritisi terlalu banyaknya frekuensi ramp check yang dilakukan pada pesawat Garuda Indonesia di Bandara Changi, Singapura.
Baca juga:2019: Garuda Indonesia ‘Kerahkan’ Seluruh Karyawan Jadi Agen Penjualan Tiket
“Ini bukan membangkitkan soal sentimen nasionalisme, namun frekuensi ramp check pada pesawat Garuda Indonesia yang terbang ke Singapura terasa tidak fair,” ujar Ari. Ia menyebut bahwa dalam satu hari ada 9x penerbangan Garuda Indonesia menuju Changi, dimana 5 sampai 6 pesawat harus menjalani sesi ramp check secara random. Ari mengatakan, padahal pesawat mereka, seperti Singapore Airlines hanya diberlakukan 2 kali ramp check saat berada di Indonesia.
Ramp check sendiri merupakan prosedur keselamatan penerbangan, dimana otoritas seperti Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) melaksanakan pengecekan kondisi pesawat dalam berbagai aspek. Pengecekan umumnya mencakup pelaksanaan proses refuelling, pemuatan kargo, pengecekan visual mesin, pengecekan sayap, pengecekan sistem hidraulik, fuselage, roda pendarat, dan dokumen penerbangan.
Belum diketahui persis alasan keberatan yang disampaikan Ari Askhara, namun besar kemungkinan tingginya proses ramp check membawa pengaruh pada jadwal penerbangan. Disisi lain, pengamat transportasi yang pernah menjabat sebagai Direktur Utara Garuda Indonesia, Indra Setiawan, berpendapat bahwa prosedur ramp check adalah hak yang sepenuhnya dimiliki oleh otoritas penerbangan di negara tujuan.
“Memang penentuan ramp check ada unsur subyektivitas, namun tentu mereka (otoritas penerbangan di Singapura-red) mempunyai pertimbangan tersendiri untuk pemberlakuan ramp check pada pesawat asal negara tertentu. Semisal maraknya insiden pada penerbangan di Indonesia, itu bisa menjadi alasan bagi mereka untuk meningkatkan prosedur ramp check,” ujar Indra Setiawan saat dihubungi KabarPenumpang.com.
Baca juga:Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi
Indra menambahkan kasus larangan terbang bagi maskapai asal Indonesia ke Eropa pada beberapa tahun lalu, hal tersebut juga merupakan bukti subyektivitas dari otoritas penerbangan yang dilandasi track record atas beberapa kejadian. Seiring dengan membaiknya track record penerbangan, maka boleh jadi frekuensi ramp check akan dikurangi. Menurut Ari Askhara, tidak hanya Garuda Indonesia, frekuensi ramp check yang tinggi di Changi juga diberlakukan pada semua maskapai asal Indonesia yang terbang pulang pergi ke Singapura.
Hari ini, kereta relasi baru dari Kiaracondong, Bandung menuju ke Tasikmalaya mulai diluncurkan ke rel oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kereta Galunggung ini akan menempuh ruter tersebut PP dan akan melayani penumpang dengan tiket gratis selama satu bulan.
Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Istagram @kai121_, tiket gratis ini akan berlaku dari 26 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019 mendatang dan pemesanannya bisa langsung ke loket yang di singgahi KA Galunggung mulai H-7 keberangkatan. Tiket gratis ini hanya bisa dibeli maksimal empat tiket oleh satu orang.
Meski gratis, penumpang tetap harus menunjukkkan identitas diri saat pembelian tiket dan sebelum perjalanan. Kereta ini sendiri dalam satu rangkaian akan memiliki enam gerbong dengan kapasitas 636 kursi. Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) II Bandung, Jhoni Martinus mengatakan, penamaan kereta relasi baru ini dengan KA Galunggung karena diambil dari gunung berapi yang berada di Kabupaten Tasikmalaya.
Jadwal KA Galunggung (K@kai121_)
Jhoni menambahkan, KA Galunggung akan berangkat setiap hari dari Stasiun Kiaracondong pukul 06.05 WIB dan tiba di Tasikmalaya pukul 09.25 WIB. Sedangkan dari Tasikmalaya pukul 10.35 dan tiba di Kiaracondong pukul 14.11.
Kereta Galunggung akan berhenti di delapan stasiun dari arah Bandung dan tujuh stasiun dari arah Tasikmalaya. Delapan stasiun itu adalah Stasiun Cimekar, Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Leles, Cibatu, Cipeundeuy, Ciawi. Sedangkan dari Tasikmalaya ke Bandung yakni Stasiun Rajapolah, Ciawi, Cipeundeuy, Cibatu, Leles, Cicalengka dan Rancaekek.
“Selama masa uji coba dari tanggal 26 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019 gratis, tiketnya nol rupiah,” tambah Jhoni.
Nantinya setelah masa uji coba dengan tarif nol rupiah, tarif yang akan diberikan oleh PT KAI sendiri berkisar di harga Rp25 ribu hingga Rp90 ribu. KA Galunggung sendiri hanya memiliki kelas ekonomi dalam perjalanannya.
Baca juga: PT KAI Akan Gandeng GoJek, Bayar KA Lokal Bisa Pakai Go-Pay?
Dikarenakan masih dalam tahap uji coba, tiket KA Galunggung juga hanya bisa dipesan melalui loket dan saat ini belum bisa dibeli melalui aplikasi KAI Access. Untuk diketahui, KA Galunggung sendiri saat ini menggunakan rangkaian KA Kahuripan.
Generasi milenial tentu tahu bahwa maskapai Garuda Indonesia kini melayani penerbangan rute jarak jauh non stop, dari Jakarta ke Eropa, entah itu dengan tujuan akhir Amsterdam atau London. Pesawat yang digunakan juga tergolong canggih, yaitu dengan pesawat wide body twin engine Boeing 777-300ER (Extended Range).
Baca Juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43
Di masa sebelumnya, yaitu pada dekade 80/90an, Garuda Indonesia juga pernah melayani penerbangan ke beberapa kota utama di Eropa dengan jumbo jet Boeing 747-200. Tapi tahukah Anda, bahwa di dekade 60-an, saat belum tersedia pesawat wide body, faktanya Garuda Indonesia sudal berhasil mengibarkan sayapnya ke Benua Biru. Persisnya di tahun 1965, Garuda Indonesia berhasil membuka rute penerbangan Jakarta – Amsterdam, Belanda. Meski tidak non stop, namun faktanya di masa tersebut, pembukaan rute tersebut merupakan pencapaian besar dalam branding maskapai plat merah ini.
Di tahun 1965, Garuda Indonesia terbilang terdepan diantara maskapai-maskapai di belahan Asia Selatan. Dan penerbangan Jakarta – Amsterdam kala itu dilayani oleh pesawat komersial jarak jauh four engine Convair CV-990, jenis pesawat yang terbilang canggih saat itu, di pasaran Convair CV-990 setanding dengan Boeing 707.
Tentang Convair CV-990, di tahun 1960-an, nama pesawat ini ramai diperbincangkan, pasalnya salah satu variannya, Convair CV-990 Coronado baru saja selesai dirakit dan melakukan penerbangan perdana pada 24 Januari 1961. Menurut beberapa laman sumber yang dikutip KabarPenumpang.com, pesawat four engined narrow-body buatan Amerika ini merupakan suksesor dari Convair 880 – berdasarkan request yang dilontarkan oleh pihak American Airlines.
Karena sedang hangat-hangatnya diperbincangkan, wajar saja jika kala itu banyak maskapai yang ingin mengoperasikan Convair CV-990 Coronado – tidak terkecuali flag carrier Garuda Indonesia. Untuk ukuran industri penerbangan Indonesia tahun 1960-an, terbang dengan menggunakan Convair CV-990 Coronado sudah termasuk ke dalam kategori mewah. Pasalnya, sektor kedirgantaraan nasional kala itu masih didominasi oleh pesawat baling-baling yang menggunakan mesin Piston dan Prop-Jet.
Jika menilik ke spesifikasi dasarnya, pesawat ini memiliki panjang sekira 42,59 meter, dengan bentang sayap mencapai 36,58 meter. Adapun kapasitas maksimal dari Convair CV-990 Coronado adalah 149 penumpang dengan empat awak kabin. Convair CV-990 Coronado menggunakan empat buah mesin General Electric CJ805-23B turbofans, yang membuat pesawat ini mampu menembus kecepatan maksimum hingga angka 621 mph atau yang setara dengan 1.000 km per jam – kecepatan jelajah 896 km per jam.
Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan
Jika dibandingkan apple-to-apple, Convair CV-990 setara dengan Boeing 707 dan Douglas DC-8. Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, Garuda Indonesia juga pernah menggunakan jasa dari pesawat yang hanya diproduksi sebanyak 37 unit ini. Sekitar tahun 1965, Convair CV-990 “Majapahit” yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia melakukan penerbangan jarak jauh perdananya dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Dengan teknologi yang masih serba terbatas kala itu, maka sedikit tidak mungkin rasanya jika pesawat sekelas Convair CV-990 Majapahit milik Garuda Indonesia melakukan penerbangan langsung menuju Belanda.
Pebisnis dan pelancong banyak yang memilih menggunakan pesawat untuk bepergian. Hal ini dirasa lebih menghemat waktu dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh. Apalagi jika dengan kendaraan darat bisa memakan waktu lebih lama dari penerbangan.
Baca juga: Uji Pemindai “Walk Through,” Bandara Cardiff Jamin Potong Antrean Plus Tingkatkan Keamanan
Namun, ternyata bandara tempat penumpang menunggu keberangkatan pesawat mereka menjadi salah satu yang bisa menganggu. Pasalnya penumpang pesawat yang ada di bandara dari mulai masuk hingga mengantri di pemeriksaan keamanan memiliki tingkat stres yang cukup tinggi bila masa liburan tiba, bahkan ada penumpang yang lupa berperilaku semestinya jika sudah frustasi.
KabarPenumpang.com melansir laman express.co.uk (11/12/2018), dikarenakan tingkat stres dan frustasi yang tinggi membuat Bandara London Stansted dan YouGov melakukan survei pada dua ribu penumpang Inggris untuk mencari tahu kebiasaan penumpang bandara yang paling menjengkelkan. Di urutan pertama dengan persentasi 57 persen, mereka jengkel jika ada penumpang lain yang tiba-tiba saja melompat antrean alias terburu-buru sehingga menyerobot agar tidak tertinggal pesawat.
Urutan kedua adalah penumpang yang sering meletakkan tas atau barang bawaan lainnya di atas kursi. Sebanyak 41 persen penumpang yang disurvei mengatakan, hal tersebut sangat dibenci karena membuat orang lain tidak bisa duduk.
Ada 38 persen atau di urutan ketiga adalah proses yang lambat. Dimana penumpang merasa frustasi dengan pelancong lain yang tidak memiliki kelengkapan dokumen dan membuat yang lainnya ikut tertahan. Sedangkan untuk mengepak kembali tas mereka karena diperiksa saat antrean menahan penumpang lain dan ini sebanyak 34 persen penumpang merasa kesal.
Sebanyak 29 persen penumpang yang marah karena pelancong terburu-buru dan ingin bertemu orang di bandara. Sedangkan 25 persen dikecewakan karena gagal menumpuk nampan mereka setelah melalui keamanan bandara. Tujuh belas persen kesal karena tetap membawa barang-barang yang memicu detektor logam berbunyi di pakaian mereka dan ini membuat penumpang lainnya mau tak mau menunggu hingga selesai pemeriksaan.
Tiga belas persen lainnya kesal dengan orang-orang yang antre di gerbang sebelum penerbangan bahkan belum ada pemanggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Yang terakhir adalah dimana penumpang tidak sengaja salah mengambil tas. Menurut staf bandara, bukan hanya sesama penumpang yang menemukan hal aneh, sebab mereka juga kerap kali menemukan sesuatu yang tak terduga.
Baca juga: Survei: Pelancong Bisnis Lebih Betah Berada di Bandara Ketimbang Stasiun!
Dimana ada hewan dan amunisi senjata yang mirip dengan abu manusia serta kembang api. Bahkan pernah ada petugas bandara yang menemukan seekor laba-laba hidup dalam tas penumpang.
“Penumpang itu tidak tahu ada laba-laba di tasnya. Saat dibuka laba-laba itu keluar dan merayap,” ujar seorang petugas.
Jelang beroperasinya MRT Jakarta yang ditargetkan pada Maret 2019, MRT Jakarta terus melanjutkan berbagai pengujian yang dipersyaratkan dari regulator, dan sebagai upaya untuk dapat menghadirkan layanan dengan standar kualitas yang baik kepada publik. Sejalan dengan kemajuan konstruksi yang telah mencapai 97,52 persen pada akhir November lalu, MRT Jakarta melaksanakan fase Testing & Commissioning dan Trial Run dengan rincian sebagai berikut:
1. Fase Testing & Commissioning (Agustus 2018 – Februari 2019), adalah fase pengecekan dan pemeriksaan sistem yang sepenuhnya dilakukan oleh Kontraktor dengan pengawasan dari MRT Jakarta. Pada fase ini MRT Jakarta mengundang pemangku kepentingan secara terbatas untuk menyaksikan kegiatan testing & commissioning tersebut.
Baca juga: Palyja Rencanakan Pasang Drinking Fountain di 3 Stasiun Besar MRT Jakarta
2. Fase Parallel Trial Run (akhir Desember 2018 – Februari 2019), adalah fase uji coba dimana dilakukan uji coba MRT Jakarta secara paralel dengan tahap Testing & Commissioning. Pada tahap ini MRT Jakarta akan melibatkan pemangku kepentingan secara terbatas khususnya yang memiliki keterlibatan/dampak/pengaruh secara langsung dalam proses pembangunan MRT Jakarta berdasarkan data yang telah dimiliki oleh MRT Jakarta.
3. Fase Full Trial Run (pertengahan Februari 2019 – operasi komersial MRT Jakarta Maret 2019), merupakan tahap uji coba operasi penuh oleh MRT Jakarta. Pada tahap ini MRT Jakarta akan melakukan pelibatan publik secara terbatas.
Bagi Anda yang hingga saat ini masih berpikiran bahwa menjadi seorang awak kabin merupakan tugas yang mudah dan menyenangkan karena bisa berkeliling Indonesia atau dunia sekalipun, nampaknya Anda harus meralat stigma tersebut. Tidak hanya sektor perjalanan udara saja yang memiliki beragam regulasi ketat, pun dengan para awak kabin ini – apalagi awak kabin dari maskapai bintang 5 yang namanya sudah mahsyur, sebut saja Singapore Airlines.
Baca Juga: Tambah Rute Penerbangan Berjadwal, Singapore Airlines Resmi Terbangkan A350-900 Ke Jakarta
Beberapa standar tinggi yang diterapkan oleh maskapai Singapore Airlines terhadap para awak kabinnya ini mencakup keseluruhan aspek, mulai dari penampilan hingga keterampilan mereka dalam melayani penumpang. Khusus untuk penampilan, para awak kabin ini harus memperhatikan berat badan hingga tatanan rambut mereka agar bisa fit in ke dalam seragam mereka yang dibanderol dengan harga £10.000 (Rp183,3 juta).
“Untuk para awak kabin yang memiliki ‘pangkat tinggi’, biasanya komposisi wanitanya akan lebih sedikit, dimana tidak sedikit dari mereka yang sudah menikah dan pensiun dari pekerjaannya – mereka tidak perlu khawatir lagi jika berat badan mereka naik,” tutur salah satu awak kabin Singapore Airlines, dikutip KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (20/12/2018).
“Sementara bagi para awak kabin yang baru saja mengambil cuti hamil, dimana kami menyebutnya sebagai returning mother scene, mereka harus bisa memastikan bahwa ukuran tubuh mereka masih cukup untuk mengenakan seragam Singapore Airlines,” imbuh pramugari yang ingin tetap anonim.
Ini bukan satu-satunya cara mereka harus tampil untuk menjadi bagian dari awak kabin Singapore Airlines. Banyak dari wanita-wanita tersebut dititah untuk memanjangkan atau memotong rambut mereka untuk mendapatkan penampilan yang maksimal.
Seorang konsultan grooming, Amy Lin mengungkapkan bahwa ia mengajari para awak kabin Singapore Airlines untuk menata rias diri mereka sendiri, termasuk pemasangan sanggul jikalau dibutuhkan. Selain itu, para awak kabin juga diberikan pelatihan sommelier selama kurang lebih 14 minggu. Mereka diajarkan untuk memahami anggur yang dibeli oleh perusahaan senilai £10 juta. Pun dengan pelajaran tentang cara berjalan dan melayani penumpang yang baik dan benar.
Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop
Diketahui, standar untuk awak kabin Singapore Airlines sudah tinggi sejak tahun 1970-an, ketika iklan “Singapore Girl” ditayangkan. Bagaimana, apakah Anda siap digembleng untuk menjadi awak kabin dari Singapore Airlines?
Kendati keberadaannya mulai tergusur oleh moda transportasi berbasis aplikasi belakangan ini, namun eksistensi dari taksi tidak pernah pudar begitu saja. Ya, moda transportasi berbasis argo ini memang masih diminati oleh sebagian kalangan – sebut saja bagi para penumpang yang baru landing di bandara, tidak sedikit dari mereka yang memilih taksi sebagai moda last mile. Jika selama ini tarif taksi dilandaskan pada argo, bagaimana jadinya jika Anda yang menentukan sendiri tarif tersebut?
Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing
Adalah inDriver, sebuah layanan ride-hailing internasional yang memiliki 14 juta pengguna aktif yang tersebar di 160 kota-kota besar di seluruh dunia. Layanan ini sendiri diketahui baru masuk ke Benua Hitam dengan Arusha, Tanzania menjadi target pasar perdana dari inDriver. Sebagai informasi tambahan, inDriver Real Time Deals (RTD) memungkinkan para penumpangnya untuk menentukan besaran tarif yang akan mereka bayar.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessdailyafrica.com (26/11/2018), layaknya aplikasi ride-hailing yang lain, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada driver apabila ada penumpang yang melakukan order. Bedanya, driver di inDriver mampu menegosiasi tawaran penumpang yang telah diajukan sebelumnya.
Pun dari segi penumpang, dimana mereka akan mendapatkan beberapa penawaran sebelum memesan armadanya. Adapun penawaran tersebut berkorelasi dengan jumlah tarif yang dikenakan, keandalan pengemudi (rating pengemudi), perkiraan waktu penjemputan, hingga jenis kendaraan yang akan digunakan.
InDriver dinilai sebagai platform yang terjangkau, aman, dan fleksibel bagi penumpang. Selain itu, kompensasi yang adil antara perusahaan dan driver hingga transparansi yang diberlakukan oleh perusahaan berimplikasi pada pertumbuhan dan adaptasi global yang sangat pesat.
Kembali ke tahun 2013, dimana inDriver ‘lahir’ di Yakutsk, Siberia. Ditemukan oleh Arsen Tomsky, model bisnis dari inDriver ini sendiri terbukti menguntungkan dan sekarang sudah digunakan oleh lebih dari 14 juta pengguna di 160 kota di 10 negara – Meksiko, Kolombia, Peru, Chili, Guatemala, El Salvador, Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan dan sekarang Tanzania.
Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?
Tidak membutuhkan waktu lama bagi inDriver untuk mencuri perhatian dan hati para penumpang – Februari 2017, mereka berhasil mencapai perjalanan ke 100 juta. Setahun berselang, tepatnya pada November 2018 kemarin, aplikasi inDriver sudah diunduh lebih 10 juta kali di Google Play.
Disediakannya bagasi kabin di dalam sebuah maskapai adalah merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh pihak maskapai agar meningkatkan kenyamanan pada para penumpang – penumpang tidak perlu memangku hand-luggage dan bisa menyimpannya di bagasi kabin. Namun apa jadinya jika barang yang hendak dimasukkan ke dalam bagasi kabin terlalu besar dan malah mengundang tawa ketika tahu bentuk dari barang tersebut.
Baca Juga: Masker Oksigen, “Penyambung Nyawa” Saat Kabin Kehilangan Tekanan
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (12/12/2018), dalam sebuah video berdurasi 22 detik yang tersebar luas di jejaring sosial Instagram ini menunjukkan ada dua orang wanita yang berdiri di lorong kabin (aisle) dan tengah berusaha untuk memasukkan sesuatu ke dalam kompartemen atas. Hanya terlihat warna kuning mencolok dari benda yang hendak dimasukkan tersebut, tanpa diketahui jenis bendanya.
Sudah barang tentu, dua wanita ini menghalangi penumpang lain yang hendak boarding – diketahui, kejadian ini terjadi di McCarran International Airport di Nevada. Dua wanita ini terus berusaha untuk memasukkan benda kuning besar tersebut ke dalam bagasi kabin dengan cara mendorong hingga memukulnya.
Dalam salah satu scene di video tersebut, tampak benda kuning besar tersebut sempat mau jatuh dan terjawablah sudah benda apakah itu – sebuah boneka Pikachu berukuran besar. Ya, salah satu karakter utama di film kartun Pokemon ini digambarkan sebagai seekor tikus berwarna kuning dengan dua lingkaran merah di pipinya dan Pikachu memiliki kemampuan untuk menyengat lawannya dengan menggunakan listrik.
Sumber: express.co.uk
Ketika boneka Pikachu berukuran gaban ini hendak jatuh, terdengar si perekam tertawa melihat aksi dari dua wanita ini. Video ini diunggah ke jejaring sosial Instagram dengan caption, “Big Boi” dan hashtag #passengershaming.
Sontak, video ini mengundang deru tawa dari para netizen yang melihatnya.
“Ini adalah salah satu momen terbaik yang pernah saya lihat,” tutur seorang netizen di kolomg komentar.
Baca Juga: Inilah Yang Harus Dilakukan Pria Sejati di Dalam Kabin
Sementara netizen lainnya bergumam, “mungkin mereka berdua kehabisan poke ball.”
Di dalam film Pokemon sendiri, poke ball merupakan alat yang digunakan untuk menangkap berbagai macam pokemon – tidak memandang ukuran.
Setelah sekian lama berkutat dengan boneka raksasa tersebut, akhirnya mereka menyerah dan memangku boneka Pikachu ini sepanjang perjalanan.