Lakukan Pelecehan Seksual, Pengemudi Grab Dipenjara dan Dikeluarkan dari Platform

Seorang pengemudi Grab di Singapura melakukan pelecehan seksual pada seorang penumpangnya. Pengemudi pria ini berumur 69 tahun dan karena perbuatanya tersebut, dia dipenjara selama satu minggu dan mengakui perbuatannya di pengadilan. Baca juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (12/3/2021), insiden pelecehan seksual ini sejatinya sudah lama terjadi, yaitu pada September 2018 sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Di pengadilan, dia mengatakan saat itu korban seorang wanita berusia 38 tahun melakukan pemesanan GrabShare melalui ponselnya dengan perjalanan dari East Coast Park ke Blok 896A, Tampines Street 81. Dalam penggunaan GrabShare hanya perempuan itu dan tidak ada penumpang lain. Hashim mengatakan, penumpang wanita itu duduk di kursi belakang sebelah kiri saat dirinya mengemudi. Kemudian ketika perjalanan menyusuri Pan Island Expressway menuju Bandara Changi, dia mengulurkan tangan kiri ke arah kursi penumpang belakang dan mengelus pergelangan kaki kanan korban. Jaksa penuntut mengatakan, setelah itu Hashim berbalik dan menatap kaki korban. Dia juga meletakkan tangan kirinya di antara pergelangan kaki korban dan menggunakan telapak tangannya membelai betis bagian dalam dengan gerakan ke atas beberapa kaki serta bergerak dari pergelangan kaki ke lutut. Korban dikejutkan dengan tindakan Hasyim dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Kemudian Hashim menarik tangannya dan meminta maaf. Karena merasa dilecehkan, korban mengajukan laporan polisi keesokan harinya. Penuntut meminta hukuman penjara singkat, mengacu pada keputusan pedoman kasus lain, mencatat bahwa pelanggaran dilakukan di dalam kendaraan sewaan pribadi dan ada kontak kulit-ke-kulit. Saat dipengadilan, keluarga Hashim ikut dalam persidangan. Bila ada penganiayaan dia bisa dipenjara hingga dua tahun, didenda, dicambuk, atau diberikan kombinasi hukuman ini. Karena tidak ada, maka penuntut hanya ingin Hashim dihukum singkat. Adanya permasalahan ini, seorang juru bicara Grab mengatakan pada hari Sabtu bahwa Hashim telah dilarang dari platformnya. Baca juga: Antisipasi Tindakan Negatif, Kota Cambridge Pasang CCTV di Taksi Online “Keamanan pengguna kami penting bagi kami dan kami sama sekali tidak menoleransi perilaku tidak senonoh, pelecehan, atau penyalahgunaan dalam bentuk apa pun. Pengguna yang menampilkan perilaku tidak senonoh akan dilarang dari platform,” kata perusahaan itu.

Fase 2B MRT Jakarta dari Kota Menuju Ancol Barat Sudah Direstui Gubernur DKI

Tak hanya kabar meningkatnya ridership atau penumpang MRT Jakarta, tetapi dari pembangunan fase 2 juga ada beberapa hal menarik. Salah satunya adalah penetapan formal fase 2B dari Kota menuju Ancol Barat. Baca juga: Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat “Kemajuan bagus karena kita pastikan fase 2B yang sudah kita sampaikan sebelumnya sudah dapat ketetapan formal dan akan berakhir di Ancol Barat dari Kota dari rekomendasi Trase dan diikuti dengan penlok (penetapan lokasi) oleh Pemprov dengan keputusan Gubernur,” kata Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar. Dia menjelaskan akan ada penambahan tiga stasiun dari Kota menuju ke Ancol Barat. Adapun lintasannya yakni dari Mangga Dua, jalur akan dibelokkan ke kiri masuk ke atas Ancol baru dan stasiun terakhir di depo Ancol Barat. William menjelaskan, pihaknya saat ini tengah upayakan pendekatan untuk pembangunan depo di Ancol Barat sehingga desainnya di platform dengan luas lahan 19 Ha bisa di mix untuk kepentingan komersial. Dia menyebutkan, di lahan 19 Ha untuk depo Ancol Barat bisa menampung 31 trainset. “Lahan 19 Ha itu akan mengakomodir 31 trainset dan yang sekarang kita adakan 14 trainset. Ini untuk jangka panjang kalau jalur Barat ke Timur dan Utara ke Selatan akan berkembang lagi. Selain itu, ini lahan untuk berbagai pengetesan yang dipersyaratkan Ditjen AK,” jelas William. Nantinya dalam pembangunan fase 2B, William menyebutkan pendanaannya masih proses formal untuk penambahan pinjaman dari JICA. Kemudian pihak JICA akan datang untuk assessment perkiraan kebutuhan pinjaman akan butuh berapa banyak. Sehingga setelah fact dinding akan diketahui berapa penambahannya antara pemerintah Jepang dan Indonesia bisa ditanda tangani untuk pinjaman. Untuk diketahui fase 2B sudah masuk blue bikk di Bappenas agar bisa masuk pinjamkan dengan JICA. Terkait masalah korosi karena letak depo di Ancol Barat yang bisa dikatakan bersebelahan langsung dengan laut, William menjelaskan, ini bukanlah hal baru. Baca juga: Rencana MRT Jakarta Akuisisi KCI Ditolak Serikat Pekerja KAI, Pengamat: Barang Sudah Bagus Jadi Rebutan “Teknologi di Jepang dan Eropa yang memiliki terowongan di bawah laut sudah memiliki teknologi. Studi UI juga sudah ada untuk lihat penting bangun infrastruktur bawah tanah,” jelasnya.

Khawatir Pilot Grogi, Malaysia Airlines Intensifkan Latihan Simulator dengan Kacamata 3D

Malaysia Airlines mulai mengintensifkan pelatihan pilot berbasis simulator. Hal itu untuk mencegah pilot grogi ketika kembali menerbangkan pesawat. Selain itu, memperbanyak pelatihan berbasis simulator dengan kacatama 3D juga membuat kemampuan teknis pilot lebih terjaga.

Baca juga: Curhat Pilot Senior Akibat Pandemi, Jam Terbang Rendah, Serba Lupa, dan Seperti Pertama Kali Terbang

Sebab begitu krusialnya posisi pilot sebagai salah satu penentu keselamatan dan keamanan penerbangan, pilot harus tetap terus ‘terbang’ sekalipun pada kenyataannya mereka berada di rumah atau mungkin sudah di PHK dan masih ingin melajutkan karir sebagai pilot.

Selain itu, pilot pesawat komersial juga perlu melakukan tiga kali take-off dan pendaratan di malam hari dalam 90 hari terakhir yang juga harus terus di-upgrade sebelu mulai mengangkut penumpang.

Di samping itu, pilot juga harus mengupgrade berbagai lisensinya, seperti lisensi kecakapan berkomunikasi, kemampuan evakuasi saat terjadi kebakaran, kemampuan bekerja secara tim antara pilot dan co-pilot, dan berbagai kemampuan lainnya, termasuk kemampuan untuk terbang baik di siang hari dan malam hari,

Karlene Petitt, seorang pilot Boeing 777 mengatakan bahwa di masa pandemi ini, pilot tak punya pilihan lain kecuali terus mengupgrade skill mereka. Bila tidak, pilot bisa saja lupa atau kehilangan ‘sentuhan’ mereka ketika mulai kembali mengudara.

Sentuhan secara teknis mungkin bisa disikapi dengan banyak membaca buku-buku teknis. Tetapi, kehilangan sentuhan non teknis atau mental, itu tidak bisa disikapi dengan hanya duduk membaca buku ataupun menonton rekamanan menerbangkan pesawat. Melainkan harus dilatih sekalipun lewat simulator. Hal itulah yang dikhawatirkan Malaysia Airlines terhadap para pilotnya.

Bukan hanya pilot, pramugari dan pramugara juga mengikuti program pelatihan berbasis simulator atau mock up pesawat untuk menjaga kemampuan mereka bekerja. Foto: SAMUEL ONG/The Star

“Keyakinan (untuk terbang) adalah masalah yang saat ini mempengaruhi penerbangan secara global. Itu keprihatinan yang telah disoroti dan dibahas di antara berbagai organisasi penerbangan,” kata kepala pelatihan pilot Malaysia Airlines Berhad (MAB), Kapten Andrew Poh, seperti dikutip dari The Star.

“Kami memastikan bahwa kami memiliki keterlibatan berkelanjutan dengan kru (kokpit) secara keseluruhan. Dan kami memastikan bahwa kami memperkuat prosedur rutin dengan menangani keterkinian melalui pelatihan simulator. Semua hal ini semakin menambah kepercayaan para awak pesawat untuk menjalankan tugasnya,” tambahnya.

Senada dengan Kapten Poh, Kapten Rohaizan Mohd Rashid dari tim kepelatihan MAB mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mengembangkan virtual reality training bukan hanya untuk pilot, melainkan juga pramugari.

Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

“Dengan peralatan yang sesuai termasuk kacamata 3D, mereka bisa membayangkan diri mereka di dalam pesawat, menyalakan tombol yang bereaksi secara interaktif terhadap apa yang mereka tekan,” katanya.

Malaysia tak lama lagi akan memulai program vaksinasi. Bila itu berjalan, industri penerbangan diprediksi akan lekas pulih. Hal itu tentu menjadi sebuah angin segar untuk maskapai penerbangan Negeri Jiran, termasuk Malaysia Airlines. Guna menyambut datangnya momentum itu, tak heran bila maskapai penerbangan nasional Malaysia tersebut mulai mempersiapkan diri.

Tes GeNose C19 Berlaku Penyesuaian Tarif, Kini Menjadi Rp30 Ribu

Setelah satu bulan memberlakukan tarif khusus Rp20 ribu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai besok 20 Maret 2021 mulai melakukan penyesuaian tarif untuk tes tes Covid-19. KAI menyebutkan tarif tes GeNose akan naik Rp10 ribu sehingga penumpang akan dikenakan Rp30 ribu setiap melakukan tes GeNose di stasiun sebelum keberangkatan dengan kereta jarak jauh. Baca juga: Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara “Setelah 1 bulan lebih diterapkan tarif khusus atau pre-launching sebesar Rp20 ribu, maka mulai 20 Maret 2021, tarif pemeriksaan GeNose C19 di stasiun adalah Rp30 ribu,” ujar pernyataan PT KAI melalui akun Instagramnya @kai121_. Nantinya bukan hanya kenaikan tarif tes GeNose, KAI juga meningkatkannya dengan menambah lokasi pemeriksaan GeNose C19 secara bertahap. Mulai 20 Maret 2021 juga, layanan pemeriksaan GeNose C19 akan ditambahkan di sembilan stasiun lagi. “Sembilan stasiun yakni Bekasi, Kiaracondong, Cirebon Prujakan, Tegal, Kutoarjo, Lempuyangan, Semarang Poncol, Jombang dan Sidoarjo,“ ujar pernyataan tersebut. Adanya penambahan sembilan lokasi pemeriksaan tes GeNose ini, total keseluruhan kini sudah ada 23 stasiun dari Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta Hingga Daop 9 Jember. Salah satu bentuk peningkatan lainnya adalah pemeriksaan GeNose C19 di stasiun nantinya akan terintegrasi dengan ticketing system PT KAI. “Sehingga, hasil pemeriksaan GeNose C19 pelanggan tersebut akan otomatis muncul pada layar boarding petugas. Saat ini, fitur tersebut sedang dalam tahap finalisasi,” ujar pihak PT KAI. Sementara itu, untuk dapat melakukan pemeriksaan GeNose C19 di stasiun, calon penumpang harus memiliki tiket atau kode booking Kereta Api jarak jauh yang sudah lunas. Kemudian calon penumpang tidak boleh merokok, makan, minum (kecuali air putih), selama 30 menit sebelum melakukan tes GeNose C19. Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI Khusus untuk keberangkatan pada hari libur keagamaan dan libur panjang, diwajibkan menunjukkan surat keterangan negatif screening Covid-19 yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1X24 jam sebelum keberangkatan. Untuk diketahui, 14 stasiun yang sudah memiliki layanan GeNose sebelumnya adalah Pasar Senen, Gambir, Bandung, Cirebon, Semarang, Tawang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Malang, Jember dan Ketapang.

(Video) Airbus A380 Terakhir Sukses Terbang Perdana

Airbus A380 terakhir belum lama ini sukses terbang perdana. Pesawat itu berangkat dari pabrik Airbus Jean-Luc Lagardere di Bandara Toulouse-Blagnac di Perancis selatan, pukul 9 pagi waktu setempat. Penerbangan itu dilakukan bukan untuk melakukan uji terbang resmi melainkan menuju ke pabrik Airbus lainnya di Bandara Hamburg-Finkenwerder di Jerman untuk menyelesaikan tahapan akhir pembuatan pesawat.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Laporan CNN International, sebelum terbang menuju Hamburg, Airbus A380 yang masih ‘telanjang’ alias belum mengenakan livery maskapai ini, sempat melakukan apa yang disebut a low-pass and wing wave atau terbang rendah dengan kecepatan rendah sambil melakukan manuver ringan ke kanan dan ke kiri untuk menjajal sayap.

Tetapi, dari vertical stabilizer pesawat dengan kode registrasi MSN 272, sudah dipastikan bahwa pesawat ini bakal menggunakan livery maskapai Emirates. Ini adalah satu dari lima A380 Emirates lainnya yang masih dalam proses perakitan.

MSN 272 atau pesawat Airbus A380 terakhir diketahui melakukan konvoi terakhir ke Final Assembly Line (FAL) pada Juni tahun lalu. Ketika itu, warga pun berduyun-duyun datang memenuhi rute yang dilintasi konvoi kendaraan sambil tepuk tangan dan berteriak dengan meriah (saat iring-iringan melintas), bahkan saat malam hari sekalipun.

https://twitter.com/AeronewsGlobal/status/1372222367364231169?s=20

Kemeriahan dan keharuan tersebut bermula saat bagian pesawat Airbus A380 terakhir -dengan kode registrasi MSN 272 tersebut- keluar dari pabrik Saint-Nazaire dengan dibawa oleh tiga truk besar, melewati pedesaan Perancis seperti Gers, Haute-Garonne, Gimont, dan Leignac menuju fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis.

Proses perakitan A380 memang tidak mudah dan cukup panjang. Disebutkan komponen pesawat raksasa ini tidak berasal dari satu tempat saja, melainkan dari berbagai negara di dunia, walaupun Final Assembly Line (FAL) pesawat double deck ini dilakukan di pabrik Jean-Luc Lagardere, Toulouse, Perancis.

Sayap jet superjumbo ini dibuat di Broughton, Wales; Bagian badan pesawat (Fuselage Section) berasal dari Hamburg, Jerman dan Saint-Nazaire, Perancis; Horizontal Tail Plane dibuat di Cadiz, Spanyol; Dan Vertical Tail Fin juga diproduksi di Hamburg.

Setelah semua bagian selesai dibuat dan siap disatukan, partikel-partikel tersebut akan dikirimkan melalui tiga jalur, darat, laut, dan udara. Untuk menghindari kecurangan dan kerusakan yang terjadi selama masa pengiriman, proses loading menuju pabrik di Jean-Luc Lagardere diawasi dengan sangat ketat oleh Arnaud Cazeneuve, Oversize Surface Transportation Manager untuk Airbus.

https://twitter.com/AeronewsGlobal/status/1372222367364231169?s=20

Dari mulai komponen terkecil seperti baut, hingga bangku pesawat dan mesin, diperkirakan Airbus A380 terdiri dari empat juta komponen yang diproduksi oleh 1.500 perusahaan dari 30 negara di seluruh dunia. “Menurut saya, satu keseluruhan Airbus A380 terdiri dari enam komponen. Tiga bagian fuselage, dua bagian sayap, dan satu bagian Horizontal Tail Plane,” ungkap Arnaud.

Sampai saat ini, pesawat wide-body yang mampu melesat hingga kecepatan maksimum 1.020 km per jam masih didaulat sebagai pesawat penumpang terbesar di dunia.

Kendati tercatat sejarah sebagai pesawat komersial terbesar di dunia, namun, sepak terjang A380 tak cukup panjang. Hanya sekitar 16 tahun, setelah pertama kali terbang perdana pada 27 April 2005.

Baca juga: Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

Sejumlah analisis terkait penyebab kegagalan pesawat yang memakan biaya pengembangan sekitar US$25 miliar atau Rp352 triliun ini pun menyeruak. Salah satunya datang dari pensiunan sales Airbus, John Leahy.

Pria 70an tahun yang digadang sebagai sales pesawat terbaik Airbus dan dunia tersebut mengungkapkan penyebab A380 tidak mampu bersaing dengan pesawat lain adalah karena dibohongi Rolls-Royce dan General Electric soal mesin, bukan soal ukuran yang terlalu besar.

Kabar Baik, Maskapai Buka Lowongan dan Butuh Banyak Pilot! Segini Jumlahnya

Di tengah keterpurukan akibat pandemi Covid-19, kabar baik datang untuk para pilot. Menurut analisis dari Oliver Wyman, industri dan maskapai penerbangan akan membutuhkan banyak pilot seperti di tahun-tahun sebelum wabah menerjang.

Baca juga: Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Pandemi Covid-19 bikin industri penerbangan luntang-lantung. Catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Dampaknya, sudah pasti, PHK massal dirasakan oleh maskapai serta industri penerbangan di seluruh dunia. IATA menyebut, sektor penerbangan, yang notabene menopang 65 juta pekerjaan (sebelum dihantam corona) kehilangan 25 juta pekerja, mulai dari karyawan pusat, staf darat, awak kabin, teknisi, hingga pilot.

Akan tetapi, ketika industri penerbangan mulai kembali pulih, sudah pasti kebutuhan pilot ikut meningkat. Sebagian pengamat mungkin terkecoh dengan adanya perjanjian PHK massal antara pilot dengan maskapai, seperti yang dilakukan British Airways, tahun lalu.

Ketika itu, di antara kesepakatan maskapai tersebut terhadap pilot adalah suatu hari nanti, bila kondisi berangsur normal dan mereka membutuhkan pilot, maka eks pilot merekalah yang diutamakan terlebih dahulu, bahkan sekalipun dengan gaji yang lebih rendah.

Padahal, di tengah gelombang PHK massal, tidak sedikit dari pilot yang memutuskan untuk pensiun dini dan memulai kehidupan baru dengan pesangon yang diterima. Belum lagi, jumlah taruna pilot juga jauh berkurang. Alhasil, bisa dibilang, stok tenaga pilot saat ini dan beberapa tahun mendatang sangat mengalami kekurang.

Dilansir Simple Flying, dalam sebuah analisis, kekurangan pilot global bisa berkisar antara 34.000 hingga 50.000 pilot pada awal 2025 seiring kembalinya industri penerbangan, dimana 4,5 miliar penumpang diprediksi akan hilir mudik.

Angka kebutuhan pilot menurut analisis Boeing bahkan jauh lebih tinggi lagi. Menurut Pilot And Technician Outlook tahunan Boeing untuk 20 tahun ke depan, diperkirakan industri penerbangan global membutuhkan 763.000 pilot baru.

Baca juga: Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Jumlah tersebut turun lima persen dari perkiraan tahun lalu. Hal itu tentu saja akibat pandemi virus Corona yang membuat banyak maskapai menggrounded armada mereka. Seharunsya, grounded besar-besaran membuat jumlah kebutuhan pilot ke depan jauh lebih merosot dari sekedar turun lima persen.

Namun, dengan adanya pilot-pilot yang pensiun, ditambah proyeksi pertumbuhan armada global di masa mendatang, persentase penurunan kebutuhan pilot di masa mendatang tak terlalu anjlok ke titik terdalam.

Anjing di Drive-Thru Starbucks Viral di Instagram

Saat di Starbucks biasanya pelanggan akan memesan minuman serta panganan dan mencari tempat duduk untuk menikmatinya. Namun di masa pandemi ini, lebih banyak yang memilih untuk drive-thru. Pasalnya, selain mengurangi jarak dengan pelanggan lainnya, para pemilik hewan bisa membawa peliharaan mereka di dalam mobil sembari menunggu pesanan mereka. Baca juga: Viral Video Anjing Pintar di India, Tunggu Kereta Hingga Berhenti Baru Turun Seperti drive-thru Starbucks di Ottawa, Kanada yang mana para pelanggan drive-thru Starbuck membawa hewan peliharaan mereka. Keara McDonnell memiliki akun bernama Dogs of Haseldean Starbucks dan dia juga disebut “pup-arazzi” karena hampir setiap hari memposting anjing peliharaan pelanggan yang memesan dari drive-thru. “Suatu hari saya mendapati diri saya mengambil foto seekor anjing yang terlalu imut untuk tidak dibagikan. Kemudian saya memposting satu anjing setiap hari. Ini adalah anjing yang saya temukan di drive-thru. Mereka menyukai puppuccino mereka. Pemiliknya senang melihat mereka memiliki puppuccino,” kata McDonnell yang dikutip KabarPenumpang.com dari ottawa.ctvnews.ca (16/3/2021).
Puppucino merupakan krim kocok yang diletakkan oleh Keara di dalam sebuah gelas. Yang mana anjing-anjing tidak pernah puas dengan suguhan manis ini dan semua orang tidak bisa cukup puas dengan foto-foto Instagram. “Saya suka anjing. Saya merasa kebanyakan orang menyukai anjing. Jadi saya pikir itu sangat bagus. Sekali sehari Anda memasukkan anjing itu ke dalam makanan Anda. Itu membuatmu tersenyum,” kata McDonnell. Sam Yocum mengelola Starbucks di Hazeldean Road dan mengatakan dia menyukai apa yang telah dibuat Keara. Baca juga: Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19 “Saya sangat menyukainya. Itu adalah sesuatu yang sangat positif untuk dinantikan setiap hari. Pelanggan sangat menerima itu dan segalanya. Jadi, ini pasti menyenangkan bagi kami dan pelanggan kami,” kata Yocum.    

Ditelantarkan Setahun di Bandara Soekarno-Hatta, Pengungsi Suriah ini Telah Sukses di Selandia Baru

Mhmad Motawa mungkin tak pernah berpikir bahwa ia harus mendapatkan perlakuan tak semestinya dari Indonesia. Usai dideportasi dari Arab Saudi dan Malaysia, ia menjalani hidup sangat sulit di tempat penampungan di Bandara Soekarno-Hatta selama setahun.

Baca juga: Lagi, Imigran Cilik Asal Guatemala Meninggal di Perbatasan El Paso

Bahkan, berat badannya harus turun 30 kg, saking sulitnya makan. Namun, garis tangan menuntunnya untuk terus bertahan hidup hingga akhirnya ia hidup bahagia di negara makmur sejahtera nan jauh dari Indonesia, Selandia Baru.

Sambil menahan haru, ia pun mengulang kisahnya dihadapan jurnalis stuff.co.nz. Awalnya, Motawa hidup sulit di Suriah yang terus dilanda perang saudara. Pada tahun 2009, ia migrasi ke Arab Saudi dan sukses. Dua tahun berselang, ia pun menikah di Suriah dan kembali ke Arab Saudi. Dua tahun berikutnya, istrinya menyusul dan hidup bahagia di sana bersama istri dan dikaruniai dua anak.

Setelah 10 tahun, kebahagiaannya mulai terusik lantaran aturan perundang-undangan baru tentang imigran. Alhasil, ia kehilangan pekerjaan dan visanya dicabut. Istrinya kembali ke Suriah sedangkan Motawa berusaha mencari tempat baru untuk berlabuh. Ia pun terbang ke Indonesia untuk lanjut ke Malaysia.

Sayangnya, Negeri Jiran itu menolak dan ia dideportasi ke Jakarta pada Desember 2019. Sejak saat itulah, kehidupan suram mulai menderanya. Ketika itu, ia ditempatkan di ruang penampungan di terminal dua Bandara Soekarno-Hatta. Tempatnya sempit dengan tempat tidur tingkat, tanpa internet, dan tanpa jendela. Makan pun juga seadanya.

Mhmad Motawa kini sudah hidup bahagia di negara makmur Selandia Baru sejak Desember 2020 lalu. Foto: stuff.co.nz

Akan tetapi, itu belum seberapa ketika Covid-19 menerjang Indonesia. Terminal dua ditutup dan ia dipindahkan ke ruang serupa di terminal tiga. Tempat penampungannya bahkan jauh lebih parah dan tanpa toilet. Makan juga seadanya. Bahkan, ia pernah nyaris dua hari tidak mendapat makanan. Ketika itu, ia hanya bisa berteriak minta makan dalam bahasa Indonesia.

Merasa iba, petugas pun datang dan hanya diberikan setengah potong jagung. Makanan enak justru kerap ia dapatkan dari wisawatan lain yang sempat mendekam di sana. Bedanya, mereka hanya mendekam beberapa saat karena negara mereka langsung turun tangan dan menerbangkannya kembali ke negaranya. Jauh berbeda dengan Motawa.

Di antara mereka, salah satunya sempat memberikan paket internet kepadanya. Kendati kecil, namun diakuinya cukup berharga. Sebab, dengan kuota internet, ia bisa menonton tutorial belajar bahasa Inggris di YouTube sampai ia bisa dibilang mahir karenanya. Meski demikian, hal itu tidak lantas mengubahnya dari keadaan sulit, dimana ia masih kesulitan mandi karena tak ada toilet dan tentu saja sulit makan.

Sebetulnya, sempat ada opsi untuk kembali diterbangkan ke Suriah, namun, karena pandemi virus Corona dan perang, tidak ada penerbangan ke sana. Niat itu pun urung dilakukan.

Setahun terlantar di bandara, secercah harapan kemudian muncul setelah perwakilan PBB datang membantunya dan diserahkan ke Selandia Baru setelah melewati wawancara dan pemeriksaan kesehatan oleh pihak kepolisian.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Pada 29 Desember 2020, ia akhirnya tiba di Auckland, ibu kota Selandia Baru, setelah menjalani isolasi mandiri selama 20 hari dan menjalani kehidupan baru di Christchurch. Tak hanya itu, ia juga disekolahkan untuk memperlancar bahasa Inggrisnya di politeknik Ara dan dipekerjakan sebagai tukang ledeng.

Meski hanya menjadi tukang ledeng, namun, hidupnya jauh lebih sejahtera dibanding di Suriah, Arab Saudi, apalagi Indonesia. Istrinya pun kaget bukan kepalang saat diberitahu Selandia Baru sebagai tempat bertualang selanjutnya. Bila tak ada aral melintang, istri dan anak-anaknya akan turut didatangkan untuk memulai lembaran hidup baru bersama keluarga kecilnya.

Ini Maskapai Penerbangan yang Bikin Tim Bulu Tangkis Indonesia Dipaksa Mundur dari All England

Tim bulu tangkis Indonesia terpaksa mundur dari ajang All England 2021. Penyebabnya, pesawat yang mereka tumpangi dalam perjalanan menuju Inggris terdapat satu penumpang positif Covid-19. Akibatnya, mereka harus menjalani kewajiban karantina mandiri selama 10 hari yang telah ditetapkan oleh pemerintah Negeri Ratu Elizabeth itu.

Baca juga: Inggris Berlakukan Karantina Mandiri di Hotel Bagi Wisatawan Selama 10 Hari, Biayanya Rp124 Juta!

Meskipun tak disebutkan dengan jelas penumpang yang mana dan duduk kursi mana, yang pasti, dari laman resmi PBSI dan beberapa sumber lainnya yang dihimpun, disebutkan, kronologi kejadian itu bermula saat tim bulu tangkis Indonesia bertolak menuju Birmingham pada Jumat 12 Maret pukul 21.40 WIB dengan menggunakan pesawat Boeing 787 Turkish Airlines dengan nomor penerbangan TK57.

Pesawat kemudian transit di Bandara Istanbul pada pukul 6 waktu setempat dan melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat lain sejenis pada pukul 8.30 sampai akhirnya mendarat di London, Sabtu siang pukul 9.40 waktu setempat.

Selama perjalanan, baik ketika hendak masuk ke bandara, check-in, sampai boarding, sudah pasti seluruh penumpang, termasuk tim bulu tangkis Indonesia, harus menunjukkan surat bebas virus Corona dengan masa berlaku maksimal tiga hari. Jadi, bisa dibilang, hanya orang sehat yang ikut dalam penerbangan. Sudah begitu, suhu tubuh juga pasti dicek dan seluruh penumpang menggunakan masker serta tidak saling bersentuhan.

Rombongan Indonesia kemudian langsung melakukan swab tes PCR setiba di Hotel Crowne Plaza Birmingham City Centre. Setelah menunggu hasil keluar selama sekitar 12 jam, semua dinyatakan negatif dari Covid-19, namun tidak demikian dengan salah satu penumpang Turkish Airlines dalam penerbangan yang sama dengan tim.

Laporan Pemerintah Inggris, salah satu penumpang pesawat dalam perjalanan dari Istanbul ke Birmingham dinyatakan positif Covid-19. Alhasil, dari 24 tim yang berangkat ke Birmingham, 20 di antaranya harus isolasi selama 10 hari setelah mendapatkan email dari otoritas.

Yang menarik, seperti dikatakan Humas dan Media PBSI Fellya Hartono yang mendampingi tim di Birmingham, ada perbedaan penyelenggaraan tes dan sistem tracing dari yang dialami oleh Indonesia dibandingkan dengan tim Denmark, Thailand, dan India.

“Kalau yang tujuh orang kemarin [Denmark, Thailand, dan India], hasil swab mereka positif itu saat dites di hotel dan dilakukan tes oleh panitia BWF/All England. Sementara kami dipaksa mundur karena mendapat email dari pemerintah Inggris yang mengatakan kalau kami satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19,” katanya seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Lebih parah lagi, pebulutangkis Turki, Neslihan Yigit, ramai disebut tetap bisa tampil di All England walaupun dirinya juga satu pesawat dengan tim bulu tangkis Indonesia.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Terlepas dari polemik itu, yang pasti, keputusan saat ini sudah final dan tim bulu tangkis Indonesia harus merelakan medali di ajang All England 2021. Selain itu, tim juga harus merogoh kocek mahal untuk karantina mandiri.

Disebutkan, Harga untuk karantina mandiri selama 10 hari hanya dipatok sebesar 1.750 pound atau sekitar Rp34 juta (kurs 19.360). Biaya sebesar itu termasuk akomodasi, transportasi, kamar, tes Covid-19 (hari kedua dan ke-10), serta makanan dan minuman. Harga bisa berubah jika wisatawan membawa orang dewasa untuk berbagi kamar dengan tambahan sebesar £650 dan £325 untuk anak-anak.

Tak Percaya Boeing, FAA Inspeksi Langsung Pesawat Boeing 787 Dreamliner Soal Cacat Produksi

Biro Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat, menegaskan turun langsung untuk menginspeksi cacat produksi pada Boeing 787 Dreamliner. Langkah tersebut berarti memupuskan harapan Boeing untuk menginspeksi sendiri adanya catat produksi di Dreamliner agar masalah tak berlarut-larut dan target pengiriman pesawat bisa tercapai, mengingat Boeing sudah sejak Oktober lalu tak mengirim satu pun Dreamliner.

Baca juga: FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

“FAA mengambil sejumlah tindakan korektif untuk mengatasi cacat produksi Boeing 787. Salah satu tindakannya adalah menahan sertifikat kelaikan udara untuk empat unit pesawat 787. Selain itu, FAA juga dapat menahan otoritas untuk mengeluarkan sertifikat kelaikan udara untuk tambahan 787 pesawat jika dibutuhkan,” kata FAA dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari CNBC International.

Menurut beberapa sumber Bloomberg, masalah diawali dengan keterburu-buruan perusahaan dalam mengejar target pengiriman pesawat. Hal itu membuat para pekerja berada dalam tekanan hebat dan membuat kualitas produksi menurun atau bahkan cacat produksi.

Setidaknya, ada dua cacat produksi yang diduga terjadi di pesawat Boeing 787 Dreamliner. Pertama terkait lapisan dalam serat karbon di kerangka pesawat tersebut. Kedua adalah jendela kokpit dikarenakan supplier mengubah proses produksi dari biasanya, sehingga harus dilakukan pengecekan ulang.

Terkait masalah kedua, sebetulnya hal ini tidak menjadi persoalan besar dan bisa dibilang pernah beberapa kali dilakukan. Tetapi, sekarang kondisinya berbeda. Boeing sedang dalam sorotan hebat pasca kembalinya Boeing 737 MAX dan berbagai masalah pada proses produksi, alhasil para pejabat berwenang semisal FAA harus memastikan semua aman dan sesuai persyaratan.

Wall Street Journal sebelumnya melaporkan alasan spesifik dibalik pemeriksaan kontrol kualitas yang lebih luas, beserta fakta bahwa pemeriksaan tersebut sekarang mencakup area sebagian besar badan pesawat bersatu, bukan hanya bagian tertentu di sekitar ekor jet.

Pada hari yang sama, FAA mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “Terus terlibat dengan Boeing melalui proses Keselamatan Operasional Berkelanjutan dan pengawasan manufaktur yang mapan untuk menangani masalah apa pun yang mungkin timbul dengan tepat”.

Baca juga: Duh! Ternyata Boeing Pernah ‘Palsukan’ Dokumen Pembelian Varian 787 Dreamliner Air Canada

Awal Desember lalu, Boeing mengatakan bahwa inspeksi untuk cacat produksi pesawat 787 memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan, menghambat kemampuan pembuat pesawat berbasis Amerika Serikat untuk mengirimkan jet ke pelanggan pada bulan itu.

Saat ini, sumber Bloomberg mengkonfirmasi, pengujian jendela kokpit masih terus berlangsung dan akan terus dikebut untuk mengejar target pengiriman pesawat pada Maret ini. Akibat dua masalah itu, Boeing terpaksa harus menggrounded sekitar 80 pesawat 787 Dreamliner di sekitar pabrik dan di Gurun Mojave.