Mengenal Alexei Leonov, Manusia Pertama yang ‘Berjalan’ di Luar Angkasa

Publik sudah hampir pasti mengenal Neil “Alden” Armstrong, astronot ‘misterius’ sekaligus manusia pertama yang berjalan di Bulan pada 20 Juli 1969. Tetapi, belum tentu mengenal kosmonot Alexei Leonov, manusia pertama yang berjalan di luar angkasa (Spacewalk).

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

Perjalanan kosmonot, yang pada tahun 2019 lalu menghembuskan napas terakhirnya di usia 85 tahun tersebut, mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang berjalan di luar angkasa dimulai pada 1960.

Dikutip dari Britannica, ketika itu, Alexei Leonov terpilih sebagai kosmonot Uni Soviet dalam misi Voskhod 2 pada 18 Maret 1965 setelah melalui seleksi panjang mengalahkan 19 kandidat kosmonot lainnya.

Pada misi itu, ia disandingkan dengan kosmonot Pavel Belyayev yang ditunjuk untuk memimpin misi tersebut. Sedangkan Alexei Leonov ditugaskan sebagai pilot.

Setelah hampir 100 menit roket meluncur, Alexei Leonov dan Pavel Belyayev akhirnya sampai di luar angkasa. Hal itu tentu bukan prestasi terbaru, mengingat kosmonot lainnya, Yuri Gagarin, sudah lebih dahulu meluncur ke luar angkasa pada 12 April 1961 dan menjadi manusia pertama yang di luar angkasa, 108 menit setelah meluncur dengan roket Vostok-K 8K72K.

Alexei Leonov akhirnya bisa mencatatkan namanya di tinta emas sejarah sebagai manusia pertama yang berjalan di luar angkasa setelah ia keluar dari wahana Voskhod-2 selama 12 menit.

“Bintang-bintang berada di sebelah kiri dan kanan saya, di atas dan melampaui saya,” kenang Leonov, menggambarkan pemandangan menakjubkan yang terbuka baginya setelah langkah pertamanya menuju ruang hampa udara, dan akan mengikutinya selama sisa hidupnya, seperti dikutip dari id.rbth.com.

Tetapi, itu bukan tanpa resiko. Alexei Leonov bahkan nyaris jadi manusia pertama yang lenyap atau hilang di luar angkasa andai saja ia gagal kembali ke wahana antariksa Soviet yang ditumpanginya. Hal itu disebabkan perbedaan tekanan antara udara di luar pakaian luar angkasa dengan ruang hampa udara.

Akibat dari itu, jari-jarinya menjadi kaku. Sebelum berhasil kembali, ia melayang selama 12 menit di dekat pesawat luar angkasa dengan terkait pada penambat sepanjang 5,3 meter dan melakukan spacewalk. Akhirnya setelah berusaha mengeluarkan udara dari setelan luar angkasanya, ia pun berhasil masuk kembali ke dalam kapsul dan mengakhiri petualangannya.

Usai selamat dari maut, Alexei Leonov dan rekannya sesama kosmonot tidak lantas selesai. Saat kembali pulang, sistem pendaratan otomatis wahana luar angkasanya rusak dan harus menerima kenyataan pahit mendarat sekitar 965 kilometer lebih dari lokasi pendaratan yang seharusnya di Pegunungan Ural.

Karena sistem komunikasi yang rusak (yang kemudian diakui sebagai kegagalan besar), selama dua hari para kosmonot harus bertahan hidup di hutan belantara berjarak ratusan kilometer dari kota terdekat. “Kami duduk di sana dengan pakaian antariksa kami selama dua hari, kami tidak memiliki pakaian lain,” ujar Leonov. Setelah itu, akhirnya mereka diselamatkan dan dibawa ke Moskow.

Leonov mengakui, dalam misi itu, ia dan rekannya mengalami setidaknya tiga sampai empat kejadian yang nyaris meregang nyawanya. Namun, faktanya ia diberi kehidupan yang panjang sampai berusia 85 tahun.

Baca juga: Mau Jadi Astronot Selama Beberapa Jam? Yuk Jajal Wisata Unik Ala Novespace Ini!

Sebagai informasi, Uni Soviet memang berhasil mengeksplorasi ruang angkasa terlebih dahulu dibanding Amerika Serikat. Negara Komunis itu tercatat sudah berhasil menaklukkan luar angkasa pada 1961 dalam misi berawak pertama ke luar angkasa oleh kosmonot Yuri Gagarin.

Pada tahun 1963, Soviet berhasil mengirim wanita pertama di luar angkasa Valentina Tereshkova. Setahun setelahnya atau tahun 1964, Soviet berhasil mengirim pesawat luar angkasa berawak pertama yang membawa lebih dari satu orang. Tetapi, semua capaian itu sirna setelah Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan bulan, lima tahun setelahnya.

Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat

Penumpang MRT Jakarta mulai merangkak naik hingga 24 ribu penumpang per hari setelah tahun lalu merosot cukup signifikan karena pandemi Covid-19. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, peningkatan ini merupakan upaya yang patut disyukuri dan berharap ridership meningkat kembali ke 65 ribu penumpang per hari seperti sebelum pandemi terjadi. Baca juga: Rencana MRT Jakarta Akuisisi KCI Ditolak Serikat Pekerja KAI, Pengamat: Barang Sudah Bagus Jadi Rebutan William menyebutkan, meski sempat merosot, tetapi pihaknya menawarkan fitur terbaru di aplikasi MRT Jakarta dalam versi 3.0 yang lebih kreatif. Di mana tampilan baru dengan fitur baru seperti pinjam buku digital, fitur reminder mengingatkan waktu keberangkatan dan join participation yang mana pelanggan bisa memberi bintang satu hingga lima tentang kenyamanan menggunakan MRT Jakarta. “Ada juga kartuku dan promo, ada loyaltu program yang bisa didapatkan di MRT Jakarta. Selain itu kalau kita lihat di aplikasi kita banyak program kerja sama, klaborasi yang tujuannya meningkakan kepercayaan publik, integrasi dengan PPD dengan TJ dengan taksi blue bird dengan tebengan inisiatif bersama. first miles dan last miles lalu ada dengan lazada dengan klik dokter bia dengan pasar polis,” ujar William dalam forum jurnalis, Rabu (17/3/2021). William menambahkan, dengan jejak_in anda bisa mengkonversi jejak karbon karena naik MRT dan bisa dikembangkan ke inisiatif-inisiatif lingkungan yang mulai ramai digunakan. Tak hanya adanya inisiatif baru pada aplikasi, William menjelaskan pihaknya juga melakukan overhaul atau perawatan menyeluruh pada kereta mereka. Yang mana perawatan ini dilakukan empat tahun sekali nantinya dan dimulai pada Agustus 2021. “Perawatan menyeluruh ini kita mulai persiapan dengan melatih SDM yabg akan merawat mulai dari pencucian Boogie, penggantian pelumas, sistem kelistrikan hingga kestabilan dari roda serta perawatan terhadap bodi kereta dan lainnya,” jelas William.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Dalam forum jurnalis, William juga menyebutkan bahwa nantinya tidak hanya sepeda lipat yang bisa masuk ke dalam MRT Jakarta seperti saat ini. Tetapi sepeda biasa juga akan bisa masuk ke dalam kereta. Yang mana nantinya akan ada gerbong khusus untuk pesepeda. Baca juga: Dirut MRT Jakarta Bocorkan Rencana Pembangunan Jalur Fatmawati-TMII Jadi Fase 4 “Sepeda non lipat akan diperbolehkan masuk ke dalam kereta. Lalu nanti akan ada gerbong khusus untuk pesepeda dan jalur di dalam stasiun,” ucap William.

Akhirnya Robot Pembuat Mie Soba Mulai Beroperasi di Stasiun Jepang

Sepertinya Jepang akan benar-benar membuat robot mengambil alih pekerjaan manusia. Apalagi dengan tenaga robot, pekerjaan yang dilakukan dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan manusia. Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba Hal ini terlihat jelas di mana sebuah robot yang memiliki dua lengan membantu menyiapkan mie soba di sebuah restoran di Stasiun JR Kaihimmakuhari di Distrik Mihama prefektur Chiba, Jepang. Robot tersebut bertugas untuk merebus mie yang ada di dalam saringan, membilasnya kemudian mencelupkan mie tersebut ke dalam air es. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (16/3/2021), robot ini digunakan oleh restoran Sobaichi Perie Kaihimmakuhari. Meski restoran ini menggunakan robot, tapi hanya untuk memasak makanan dan karyawan lainnya menambahkan saus celup atau sup dan topping. Bisa dikatakan, ini menjadi pertama kalinya robot memasak diperkenalkan di lingkungan restoran yang sebenarnya. Stand mie soba di stasiun kereta api biasanya harus berurusan dengan arus pelanggan yang konstan dan bekerja di bawah tekanan waktu yang mengakibatkan kekurangan sumber daya manusia yang kronis.; Untuk mengatasi masalah ini, JR East Start Up Company yang berinvestasi dan bekerja sama dengan perusahaan startup, dan Connected Robotics Inc., yang mengembangkan robot memasak untuk bisnis restoran, mulai mengembangkan sistem pada musim gugur 2019. Mereka mendapatkan kerja sama dari JR East Foods Co., yang mengoperasikan gerai soba di stasiun kereta api, dan melakukan eksperimen demonstrasi di salah satu restoran di Tokyo pada tahun 2020. Robot tersebut mengambil mie soba dari sebuah kotak dengan satu tangan, dan meletakkannya di saringan. Kemudian dengan lengan lainnya, ia mengambil saringan dan merebus mie selama satu menit 40 detik, membilas lapisan kental di permukaan dan kemudian mencelupkan mie ke dalam air es untuk mengeluarkan kekencangannya. Robot tersebut dapat memasak 150 porsi dalam satu jam, menggantikan pekerjaan sekitar satu karyawan. Connected Robotics berkomentar, “Tidak hanya dapat mengatasi kekurangan sumber daya manusia, ia juga dapat memasak tanpa kontak manusia dan karena itu berguna dalam mengurangi risiko infeksi virus corona.” Baca juga: Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro JR East Foods, sementara itu, menjelaskan, “Kami bertujuan untuk menerapkannya (robot) di 30 toko pada akhir tahun fiskal 2025.”

Dear Goweser, Jajal Nih Ban ‘Mati’ Canggih Anti Bocor dan Sekuat Baja Buatan NASA

Geliat publik dalam bersepeda terus meningkat. Setiap akhir pekan, di berbagai kota-kota besar goweser senantiasa berseliweran. Tetapi, karena jalan tak semuanya mulus, kadang kala ban sepeda mereka mengalami bocor atau kurang angin (kempis).

Baca juga: Triggo EV – Sepeda Listrik dengan Empat Roda, Bisa Ditarik Bila Parkir

Bagi Anda yang pernah mengalami pengalaman buruk itu, mungkin sudah saatnya mencoba ban canggih berteknologi tinggi yang anti bocor, anti kempis, dan tahan lama buatan NASA dan startup Smart Tire Company, yaitu ban Melt.

Dilansir New Atlas, tak seperti ban pada umumnya yang menggunakan angin, ban Melt dengan teknologi airless shape memory alloy (SMA) ini tidak menggunakan angin. Kendati demikian, ban tidak pula kempis ketika goweser menaikinya dan tetap rigid di atas permukaan aspal ataupun lainnya. Tetapi, ban tetap elastis ketika melindas batu dan objek padat lainnya.

Ban ini juga diklaim mempunyai daya cengkeram yang sama dan lebih bagus dari ban konvensional yang dipakai kendaraan pada umumnya.

Selain itu, ban sepeda anti bocor, anti kempis, dan tanpa angin buatan NASA ini juga dijamin sangat kokoh. Disebutkan, ban ini mampu berjalan di atas ranjau paku dengan kekuatan setara 30 kali tekanan baja. Itu karena ban mampu menahan deformasi (perubahan bentuk) yang berlebihan tanpa adanya kerusakan.

Inilah ban sepeda canggih anti bocor dan tanpa angin buatan Smart Tire Company dan NASA. Foto: Smart Tire Company

“Pengendara sepeda tidak akan bisa menunggu untuk mendapatkan ban Metl yang tampak sangat keren dan seusia ruang angkasa yang tidak kempes. Kombinasi unik dari bahan-bahan canggih ini, dipadukan dengan desain ramah lingkungan generasi berikutnya menghasilkan produk yang revolusioner,” kata Earl Cole, CEO The Smart Tire Company.

“Ban SMA terlihat sangat menjanjikan dalam merevolusi seluruh industri ban terestrial. Dan itu hanya puncak gunung es,” kata Santo Padula, insinyur materials science NASA yang turut mengembangkan ban canggih ini.

Bila tak ada aral melintang, ban sepeda canggih buatan NASA dan Smart Tire Company ini akan tersedia di pasaran mulai 2022 mendatang. Ban akan tersedia dalam beberapa varian warna, seperti emas, perak, dan biru metalik. Belum ada kabar lebih lanjut berapa biaya ban canggih itu.

Rencananya, perusahaan juga akan bermitra dengan anak perusahaan otomotif Ford, Spin, guna mengembangkan ban serupa untuk skuter listrik, sepeda motor, mobil, bahkan truk sekalipun bila memungkinkan.

Baca juga: Sambil Gowes, Iwind Bikin Pesepeda Mampu Menghirup Udara Murni

Ban sepeda canggih itu sebetulnya adalah pengembangan dari teknologi NASA pada tahun 2017 lalu. Ketika itu, NASA dan Goodyear bekerjasama untuk mengembangkan Superelastic Tire atau Ban Superelastis yang mampu menahan deformasi (perubahan bentuk) yang berlebihan tanpa kerusakan. Ban ini dikhususkan untuk dipakai wahana NASA di Planet Mars.

Desain ban ini juga tidak perlu menggunakan pelek sehingga ban lebih ringan. Keunggulan lainnya, bisa menghilangkan risiko ban bocor, bisa diatur di berbagai medan dan tidak perlu diisi angin. Ban canggih ini bisa digunakan pada kendaraan all-terrain, militer, konstruksi, mobil, alat berat, kendaraan pertania dan pesawat.

Kena ‘Serangan’ Laser, Pesawat Boeing 787 Virgin Atlantic Mendarat Darurat

Pesawat Boeing 787 Dreamliner Virgin Atlantic dilaporkan mendarat darurat gegara terkena ‘serangan’ laser. Sekalipun tak sampai mengalami cedera serius karena ‘serangan’ tersebut, pilot tetap tak memberanikan diri untuk melanjutkan penerbangan walaupun telah mengudara selama satu jam 15 menit.

Baca juga: Lagi, Dunia Aviasi Meradang Gegara Teror Sinar Laser!

Laporan The Aviation Herald, sebagaimana dikutip Simple Flying, dalam penerbangan VS453 dari London Heathrow ke Tel Aviv, Israel, pesawat lepas landas dengan mulus tanpa gangguan apapun pada pukul 21.30 waktu setempat.

Selama di udara, penerbangan juga relatif aman dan tanpa gangguan. Setelah satu jam 15 menit mengudara, tepatnya saat berada di langit Kota Paris, Perancis, tiba-tiba kokpit mendapat serangan laser berwarna hijau.

Setelah koordinasi dengan ATC setempat dan mengaku adrenalinnya meningkat atau bisa dibilang deg-degan, suatu keadaan yang tak cukup bagus secara psikologis untuk menerbangkan pesawat, pilot akhirnya diizinkan untuk kembali ke London dan mendarat dengan selamat di Bandara Heathrow pada pukul 22.45.

“Pada 15 Maret 2021, penerbangan VS453, yang beroperasi dari London Heathrow ke Bandara Tel Aviv Ben Gurion, kembali ke Heathrow setelah lepas landas karena insiden sinar laser pada saat keberangkatan. Keselamatan dan keamanan orang-orang kami dan pelanggan kami adalah yang terpenting, dan ini adalah langkah pencegahan yang diambil oleh kru yang bertugas,” kata juru bicara Virgin Atlantic.

“Kami ingin berterima kasih kepada pelanggan kami atas kesabaran mereka dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Semua pelanggan ditawari akomodasi semalam, dan kami bekerja keras untuk memastikan mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka secepat mungkin. Seperti prosedur standar untuk insiden laser, kami dengan cepat memberi tahu polisi dan tetap berhubungan dekat dengan mereka dan Otoritas Penerbangan Sipil (CAA),” tambahnya.

Serangan laser di Inggris terhadap pesawat yang tengah mengudara sebetulnya sudah sangat menurun sejak tahun 2018 lalu.

Kendati demikian, itu tidak bisa dijadikan dasar untuk melegalkan tindakan oknum tak bertanggung jawab dalam menggunakan laser bukan pada tempatnya. Sebab, itu sangat membahayakan penerbangan bila sampai terkena mata.

Evening Standard melaporkan bahwa seorang pilot pria yang menerbangkan pesawat sipil di langit Oxfordshire pernah mengalami luka bakar di matanya setelah terkena serangan laser.

Asosiasi Pilot Maskapai Komersial Inggris (BALPA) mengatakan bahwa 42 persen anggotanya pernah mengalami serangan laser dalam 12 bulan terakhir sekalipun tidak berujung pada kecelakaan fatal.

Baca juga: Ilmuwan AS Temukan Teknologi Penangkal Teror Sinar Laser pada Kaca Kokpit

Di Indonesia sendiri, maraknya penjual laser mainan berwarna hijau beberapa tahun lalu membuat sebagian kalangan ketar-ketir karena bisa mengganggu aktifitas mereka, seperti para pilot. Dalam sebagian kasus yang terjadi dewasa ini, para pilot ini mengeluhkan ‘tembakan’ sinar laser yang mengganggu visual saat mereka terbang rendah, terutama jika hendak landing, seperti yang pernah terjadi di Makassar.

General Manager Makassar Air Trafic Service Center (MATC) Perum Lembaga Navigasi Penerbangan Indonesia, Novy Pantaryanto, mengungkapkan ada kurang lebih sekitar 50 serangan laser yang terjadi sejak tahun 2017, 15 kasus diantaranya terjadi secara dalam waktu tak begitu jauh.

Operator Kereta di Inggris Gandeng Sukarelawan Hadirkan Air Ramah Lingkungan di Stasiun

Belum lama ini, The Essex, South Suffolk Community Rail Partnership, Community Rail Network bekerja sama dengan operator kereta Greater Anglia untuk menghadirkan solusi air ramah lingkungan. Di mana pada beberapa stasiun di Essex ini akan ada keran baru di delapan taman stasiun untuk menjaga tanaman tetap tersiram dan mengatasi masalah kekeringan. Baca juga: Inggris Mulai Debut Perdana Kereta Berbahan Bakar Hidrogen Dilansir KabarPenumpang.com dari harwichandmanningtreestandard.co.uk (10/3/2021), nantinya delapan keran air ini hadir di Clacton, Cressing, Hythe, Manningtree, Rayleigh, Sudbury, Weeley dan Wivenhoe. Pada tujuh stasiun, air hujan akan ditampung di selokan penampungan dan menciptakan alternatif yang ramah lingkungan untuk menggunakan pasokan listrik, menghemat air dan menyediakan pasokan di lokasi sepajang tahun. Satu selokan penampungan air cukup untuk mengisi kaleng penyiram sebangak 25 kali. Jayne Sumner, manajer hubungan kereta api untuk Essex dan South Suffolk Community Rail Partnership mengatakan, pihaknya sangat beruntung karena Essex memiliki beberapa taman stasiun yang sangat indah. “Tapi menjadi daerah kering, menjaganya tetap disiram selama bulan-bulan musim panas tanpa persediaan di tempat adalah masalah. Kami sangat senang untuk mengembangkan skema ini dan berterima kasih atas pendanaan dari Community Rail Network yang berarti kami sekarang memiliki solusi yang efektif dan ramah lingkungan,“ kata Sumner. Alan Neville, Manajer keterlibatan masyarakat dan pelanggan Greater Anglia, berkata, “Terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam proyek kemitraan ini. Ini akan membantu membuat hidup sedikit lebih mudah bagi pengadopsi stasiun sukarelawan kami yang melakukan pekerjaan luar biasa yang dihargai oleh semua orang yang tinggal di dekat atau menggunakan stasiun.” Selain itu, tim pengadopsi stasiun di Greater Anglia juga membantu menjaga stasiun demi kepentingan komunitas mereka. Tak hanya itu, mereka juga meningkatkan total luas taman stasiun di seluruh jaringan sebesar 14 persen pada tahun lalu. Baca juga: Atasi Limbah, Stasiun Kereta di India Hadirkan Mesin Penghancur Botol Bekas Mereka juga mencurahkan sebagaian besar untuk menciptakan kawasan ramah satwa liar. Untuk diketahui, di seluruh jaringan Greater Anglia, para sukarelawan telah mengubah lahan yang setara dengan lima kolam renang berukuran olimpiade menjadi taman yang subur.

Inilah Celera 500L, Pesawat Mewah Paling Irit Sedunia atau Seirit Mobil dan Secepat Jet

Selain ramah lingkungan, efisiensi belakangan menjadi agenda utama produsen pesawat di seluruh dunia. Sebab, dua itu sangat diminati maskapai atau operator hingga masyarakat global. Di antara deretan pesawat irit atau mungkin paling irit sedunia, Celera 500L adalah salah satunya.

Baca juga: BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!

Bagaimana tidak, desain atau bentuk pesawat yang mengingatkan avgeek pada pesawat legendaris Zeppelin ini mampu melaju sejauh 28-40 km per galon, setara dengan konsumsi bahan bakar beberapa mobil, serta jauh lebih irit dari pesawat jet sejenis yang hanya melaju sampai 5 km per galon.

Biaya operasionalnya sudah pasti jauh berbeda, dimana Celera 500L hanya memerlukan cost US$328 atau sekitar Rp4,7 juta (kurs 14.480) per jam, dibandingkan US$2.100 atau sekitar Rp30,2 juta per jam (kurs 14.480) untuk pesawat jet sejenis.

Tak heran, pesawat ini diklaim sebagai pesawat teririt atau paling hemat bahan bakar di dunia dan diklaim cocok untuk dijadikan pesawat bisnis atau pesawat pribadi yang lebih mengutamakan mobilitas ketimbang ukuran besar.

Pesawat Celera 500L sendiri diproduksi oleh Otto Aviation. Pesawat ini ditenagai oleh baling-baling dengan kapasitas enam penumpang, cukup kecil memang untuk digunakan sebagai pesawat komuter. Meski menggunakan mesin turboprop, pesawat ini bisa mencapai kecepatan 724 km per jam dengan jangkauan sejauh 7.242 km, cukup untuk membawa bepergian antar benua. Pesawat juga cukup irit berkat mesin piston efisiensi tinggi terbaru.

Sebagai perbandingan, Bombardier Learjet 60 mampu menghabiskan 2,5 galon per mil saat terbang dengan kecepatan 500 mph serta memberikan jangkauan sekitar 2.700 mil.

“Tujuan kami adalah untuk membuat pesawat pribadi yang memungkinkan penerbangan langsung antara kota mana pun di Amerika dengan kecepatan dan biaya yang sebanding dengan perjalanan udara komersial,” kata pendiri sekaligus ketua dan kepala ilmuwan perusahaan, William Otto seperti dikutip dari Simple Flying.

Otto Aviation mengatakan di laman resminya bahwa mereka sudah melakukan 31 penerbangan uji coba yang sudah berhasil sejauh ini. Efisiensi aerodinamisnya diklaim terbukti pada tahun 2019.

Celera memiliki badan pesawat ramping dan sayap aliran laminar dengan rasio aspek tinggi yang panjang dan sempit yang berakhir di bagian sayap yang besar. Pesawat memiliki ekor berbentuk salib dengan sirip perut yang besar.

Rahasia penghematan bahan bakar yang luar biasa adalah efisiensi tinggi Raikhlin Aircraft Engine Developments A03 V12 , dipasang di bagian belakang dan menggerakkan baling-baling pendorong empat bilah, yang menghasilkan antara 500 dan 600 tenaga kuda.

Baca juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?

Sayangnya, Otto Aviation mengkonfirmasi tidak akan ada pesawat dengan kapasitas lebih besar menyerupai pesawat Zeppelin atau pesawat lainnya jet pada umumnya. Padahal, bila teknologi serupa bisa diterapkan di pesawat yang lebih besar dan dioperasikan maskapai dunia, mungkin harga tiket di setiap penerbangan akan sangat murah dibanding yang ada saat ini.

Bila sertifikasi FAA dan pencarian fasilitas manufaktur berjalan sesuai rencana, pengiriman komersial pertama Celera 500L bisa diwujudkan pada tahun 2025. Untuk detail harga, spesifikasi pesawat, dan berapa serta siapa saja yang sudah memesan masih harus menunggu kabar lebih lanjut.

Inilah Autorotation, Fitur yang Wajib Dikuasai Pilot untuk Keadaan Darurat

Helikopter bisa dibilang lebih rentan terlibat kecelakaan fatal ketimbang pesawat dengan sayap tetap atau fixed wing. Itu karena, ketika main rotor atau tail rotor mengalami kegagalan mesin atau engine failure, pesawat akan kehilangan tenaga serta keseimbangan dan mengalami rate of descent ekstrem sehingga berpotensi jatuh ke daratan dengan cepat dan keras.

Baca juga: Insinyur NASA: Helikopter Akan Gantikan Manusia Jelajahi Planet Mars

Pada tahun 2009 lalu, misalnya, helikopter Sikorsky S-76 mengalami bird strike dan membuat kehilangan daya akibat rotor utama mati. Akibatnya, helikopter jatuh dan menewaskan delapan dari sembilan penumpang.

21 Maret 2015, di Lanumad Ahmad Yani Semarang, Bell 205 Puspenerbad jatuh dari ketinggian 300 meter saat sedang berlatih pendaratan autorotation. Bell 205 A-1 yang digunakan untuk latihan rutin ini mengalami engine failure. Beruntung tidak sampai menyebabkan korban jiwa.

Engine failure juga dialami helikopter angkut berat Mil Mi-17-V5 yang jatuh di Malinau, Kalimantan Utara pada 9 November 2013. Helikopter yang juga diandalkan dalam misi Pasukan Garuda ini crash sesaat sebelum mendarat di helipad. Dalam musibah ini 13 orang tewas dan enam orang luka-luka.

http://https://www.youtube.com/watch?v=oa80FADAmUI

Sebelum pesawat kehilangan daya dan jatuh dengan keras ke daratan, sebetulnya, ada fitur autorotation yang bisa dimanfaatkan pilot untuk mendaratkan helikopter dengan aman. Dikarenakan pentingnya fitur ini dalam kondisi darurat, taruna pilot diwajibkan untuk menguasai pendaratan dengan autorotation sebagai salah satu syarat mendapatkan izin terbang.

Dikutip dari Indomiliter.com, autorotation adalah keadaan pada waktu terbang dimana main rotor atau baling-baling utama dari sebuah helikopter diputar oleh aksi dari udara, bukan diputar oleh tenaga mesin.

Pada normal powered flight, udara dihisap ke main rotor system dari atas dan dihembuskan ke bagian bawah rotor. Pada autorotation, udara masuk ke main rotor system dari bawah sebagai akibat helikopter turun dari ketinggian.

Baca juga: Sadar Hidupnya Tak Lama Lagi, Nenek 104 Tahun Maksa Ingin Terbang dengan Helikopter

Berbeda dengan fixed wing, pada rotary wing (helicopter, gyrocopter, dsb) selama rotor berputar di atas batas putaran minimum maka akan menghasilkan gaya aerodinamik lift (gaya angkat) dan thrust (gaya dorong) walaupun pada low airspeed bahkan zero airspeed.

Tujuan utama dari autorotation sebetulnya adalah kita mendapat energi inersia rotor/ROTOR RPM yang cukup sehingga bisa manfaatkan seluruhnya untuk memperlambat rate of descent ketika touch down, sehingga helikopter dapat mendarat dengan selamat tanpa ada kerusakan ataupun luka-luka pada kru maupun penumpang.

Mengenal Wiley Post, Pilot Pertama yang Terbang Solo Keliling Dunia! Ada Peran Autopilot

Sabtu, 15 Juli 1933 menjadi momen spesial bagi Wiley Hardeman Post. Betapa tidak, di tanggal itu, pria kelahiran Corinth, Texas, Amerika Serikat (AS) tersebut memulai penerbangan solo keliling dunia. Setelah hampir delapan hari, ia pun berhasil mendarat kembali di New York dan mengukuhkan dirinya sebagai pilot pertama yang terbang solo keliling dunia, didukung teknologi autopilot generasi awal temuan Lawrence Sperry.

Baca juga: Hari Ini, Bocah SD Berusia 9 Tahun Jadi Pilot Termuda dalam Sejarah yang Terbang Solo

Dua tahun sebelum itu, tepatnya pada bulan Juli 1931, Wiley Post, bersama navigator dari Australia, Harold Gatty, sebetulnya sudah berhasil mengukir rekor penerbangan tercepat keliling dunia yang sebelumnya dipegang kapal udara hidrogen Zeppelin Jerman.

Hanya saja, rekor tersebut sedikit ternoda karena sang navigator lebih diuntungkan dan terus disorot media serta publik internasional. Sedangkan dirinya tidak mendapatkan keuntungan finansial dan popularitas kecuali sedikit saja.

Padahal, rekor penerbangan keliling dunia tercepat selama 8 hari, 15 jam dan 51 menit, mengalahkan rekor sebelumnya selama 20 hari dan empat jam milik Zeppelin, dijalankan bersama-sama secara tim tanpa persaingan untuk saling menonjol satu sama lain.

Wiley Post bersama Will Rogers sebelum terlibat kecelakaan yang menelan nyawa keduanya. Foto: todayinaviation.com

Disarikan dari todayinaviation.com, tak puas dengan keadaan tersebut, ia pun memutuskan untuk terbang solo keliling dunia. Pada 15 Juli 1933, Lockheed Vega berjuluk “Winnie Mae” lepas landas dari Floyd Bennett Field, New York, AS, setelah mendapat izin dari US Army Air Service untuk melengkapi Winnie Mae dengan sistem avionik terbaru; sistem navigasi dengan radio direction finder (RDF) dan autopilot versi awal.

Sistem ini, terutama autopilot, menjadi kunci keberhasilan Wiley Post mengukir rekor menjadi pilot solo pertama yang berhasil terbang keliling dunia. Sebab, autopilot ini menjadi andalan pria yang hanya memiliki satu mata ini karena mata sebelah kirinya buta ketika ia beristriahat sejenak melepas lelah agar pesawat tetap di jalur dan terbang sesuai rencana.

Terbukti, ketika sistem autopilotnya rusak pasca terbang non stop selama 26 jam dan mendarat di Berlin, Jerman, untuk kemudian berlanjut ke Uni Soviet, Wiley Post harus melakukan pendaratan darurat.

Jalur atau rute penerbangan solo keliling dunia Wiley Post. Foto: elderaviatorelderaviator

Selain karena sistem autopilot, Wiley Post juga pernah terpaksa mendarat darurat karena sistem RDF rusak dan menyebabkannya tersesat di atas hutan belantara Alaska. Beruntung, Tuhan masih menyertainya hingga berhasil melakukan pendaratan darurat di Edmonton, Kanada, sekalipun merusak pesawatnya.

Usai pesawat diperbaiki, Post melanjutkan perjalanan sejauh 2.000 mil pada 22 Juli dan mendarat di New York tak lama sebelum tengah malam. Ia mencatatkan rekor terbang solo keliling dunia selama 7 hari, 18 jam, dan 49 menit, dengan 11 kali transit.

Adapun rute yang ditempuh yakni New York-Harbor Grace (Kanada)-Berlin-Moskow (Uni Soviet/Rusia)-Novosibirsk (Uni Soviet/Rusia)-Irkutsk (Uni Soviet/Rusia)- Khabarovsk (Uni Soviet/Rusia)- Nome (Alaska, AS)- Fairbanks (Alaska, AS)- Edmonton (Kanada)-New York.

Baca juga: Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara

Selain menjadi pelopor penerbangan solo keliling dunia, Wile Post juga diketahui berkontribusi dalam pengembangan pakaian udara bertekanan atau pressure suit pada 1934.

Pakaian ini dikenakan pilot yang terbang pada ketinggian di atas 12 kilometer yang tekanan udaranya sangat rendah. Saat menguji coba pakaian tersebut, Post mampu terbang mendaki di ketinggian 14 kilometer. Wiley Post sang penyuka sains dan matematika itu juga diketahui turut berkontribusi dalam pengembangan pesawat supersonik dan wahana ruang angkasa.

Lakukan Studi Kelayakan, Qatar Akan Hadirkan Eco FLoating Hotel Berputar di Tahun 2025

Salah satu negara di Timur Tengah yakni Qatar sepertinya tidak pernah kekurangan arsitektur yang terkenal. Hal ini dibuktikan dengan studi untuk menghadirkan floating hotel atau hotel terapung yang berbeda dengan negara lainnya. Baca juga: Taman Hiburan di Jepang Tawarkan Sensasi Bermalam di Dalam Sebuah Polong yang Mengambang! Di mana nantinya eco floating hotel yang dibuat akan berputar seperti restoran berputar dan menawarkan berbagai fitur berkelanjutan seperti turbin angin, tenaga surya dan arus air. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (15/3/2021), eco floating hotel tersebut dirancang oleh Hayri Atak Architectural Design Studio (HAADS). Nantinya eco floating hotel ini akan memiliki ukuran 35 ribu meter persegi dengan total kamar sebanyak 152. Bentuk eco floating hotel akan bulat seperti donat karena bagian tengahnya bolong. Selain itu, dilengkapi kaca besar dibagian atasnya yang terlihat seperti pusaran air dan tanam hijau yang menyatu dengan bagian luarnya sehingga terlihat menyerupai air terjun dalam ruangan Moshe Safdie. Hotel ini akan terletak di lepas pantai dan didukung pada serangkaian platform terapung. Karena akan berputar, maka gerakan rotasi akan bergerak sangat lambat sehingga tidak membuat tamu pusing dan membutuhkan waktu 24 jam untuk menyelesaikan sebuah revolusi. Pergerakan ini akan dikendalikan oleh sistem penentuan posisi dinamis, seperti yang digunakan untuk membantu kapal tetap berada di jalur yang benar yang akan terdiri dari serangkaian pendorong dan baling-baling. Akses ke hotel itu sendiri akan melalui dermaga yang terhubung ke pantai, helikopter atau perahu. Interiornya akan berpusat di sekitar lobi, dengan 152 kamar hotel yang menawarkan fasilitas mewah seperti balkon pribadi, kolam renang dalam dan luar ruangan, sauna, spa dan gym. Uniknya bentuk pusaran di bagian atap akan digunakan menampung air hujan untuk mengairi tanaman hijau dan keperluan lainnya. Sedangkan panel surya dan turbin angin akan digunakan untuk menyediakan tenaga bagi eco floating hotel tersebut. Baca juga: Mangaluru di India Punya Restoran yang Terbuat dari Kereta Kuno Selain itu, arus air akan dimanfaatkan dengan semacam sistem energi pasang surut saat hotel berputar dan menghasilkan tenaga dengan cara yang mirip dinamo. HAADS mengatakan bahwa studi kelayakan dan teknis saat ini sedang berlangsung untuk mencoba dan merealisasikan desain tersebut pada tahun 2025. HAADS juga berpesan agar pelancong tidak terburu-buru untuk hal ini. Sebab masih dalam studi kelayakan dan apakah eco floating hotel bisa terealisasi dengan baik.