Mereka mengumumkan uji coba Blue Carpet tersebut tahun lalu untuk diterapkan di Bandara Curitiba Alfonso Pena di Brasil. Selain itu maskapai tersebut juga meluncurkan sistem proyektor di 17 bandara lain, dengan tujuan menyediakan teknologi tersebut di 100 gerbang keberangkatan, yang mewakili 70 persen lalu lintas domestik Azul. Blue Carpet menggunakan teknologi WaveMaker Pacer Tecnologia, yang memungkinkan penumpang untuk berbaris dalam antrean dengan jarak sosial dan dalam jumlah waktu yang tampaknya berkurang daripada yang akan mereka lakukan dalam situasi boarding normal. Maskapai ini mengklaim bahwa mereka dapat mengurangi waktu naik pesawat hingga 60 persen. Solusi ini secara cerdas mengelompokkan penumpang sedemikian rupa sehingga mereka dapat naik pesawat tanpa bentrok dengan kelompok lain. cara ini menghasilkan proses naik pesawat yang jauh lebih nyaman, dengan penumpang menghabiskan lebih sedikit waktu baik berdiri maupun duduk menunggu lepas landas. Situs tersebut mengklaim bahwa Blue Carpet dapat mengurangi waktu boarding dari 21 menit, di bawah sistem baris pertama datang pertama dilayani, menjadi hanya tujuh menit menggunakan teknologi mereka, yang tentunya terdengar bermanfaat bagi penumpang yang menemukan sifat yang sering kacau dari panggilan di gerbang yang agak membuat stres. Hal ini juga memungkinkan jarak sosial yang aman dari pandemi dalam antrian, dengan penumpang didorong untuk tetap pada proyeksi tempat duduk mereka menjadi perkembangan penting pada saat kontak sosial kemungkinan akan tetap menjadi topik diskusi utama untuk semua industri perjalanan bahkan ketika pandemi Covid-19 saat ini. Dengan semua itu, reaksi terhadap video TikTok sangat beragam, dengan beberapa orang mempertanyakan mengapa Anda menempatkan kelas satu di pesawat terlebih dahulu, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk kontrol lebih lanjut. Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin “Mengapa mereka tidak naik baris terakhir dulu dan seterusnya?” salah satu pengguna TikTok bertanya. Orang lain memiliki kekhawatiran yang berbeda, dengan marah: “Kami tidak bisa mencuri kursi lagi ???”@crosscheck_de Lets Board the Plane. #airline #airport #traveltheworld #fy #avgeek
♬ Originalton – Crosscheck_de
“Blue Carpet,” Solusi Futuristik Atur Antrian dan Jaga Jarak Saat Boarding di Bandara
Garuda Indonesia Dipastikan Beli Empat A330-800neo, Ini Sederet Keunggulannya
Garuda Indonesia dipastikan telah memesan empat pesawat A330-800neo, sebuah varian yang kurang populer dari keluarga A330neo. Sejak diluncurkan pada 2014 silam dan melakoni first flight pada 2018 lalu, sampai saat ini, baru empat maskapai -termasuk Garuda Indonesia– yang memesan pesawat itu; Kuwait Airways, Uganda Airlines, dan Air Greenland.
Baca juga: Dipastikan Pesan 4 Unit A330-800neo, Sinyal Garuda Indonesia Serius Garap Rute Internasional?
Meski demikian, A330-800neo tetap mempunyai sederet keunggulan dibanding varian sejenis dan terlaris dari keluarga A330neo, yaitu A330-900neo.
Dilansir laman resmi Airbus, pesawat yang sudah dioperasikan oleh Kuwait Airways dan Uganda Airlines itu diketahui lebih efisien atau irit bahan bakar berkat penggunaan mesin Rolls-Royce Trent 7000 generasi terbaru, didukung beberapa peningkatan aerodinamis, seperti perangkat ujung sayap komposit Sharklet baru yang memberikan peningkatan rentang sayap empat meter serta meningkatkan gaya angkat atau lift dan mengurangi gaya hambat atau drag pesawat.
Jangkauan maksimum pesawat juga cukup jauh, mencapai 15.094 km, dibanding A330-900neo yang hanya sanggup terbang sejauh 13.334 km. Pesawat juga mampu menampung hingga 406 penumpang dalam konfigurasi satu kelas dan 220-260 penumpang untuk konfigurasi tiga kelas.
Pesawat yang memiliki panjang 58.82 meter -sama dengan A330-200- juga dibanderol dengan harga lebih murah, sekitar US$259.9 juta atau sekitar Rp3,7 triliun (kurs 14.480) serta mampu lepas landas dan mendarat di landasan yang lebih pendek.
Yang paling menarik dari pesawat dengan luas kabin 5,26 meter, tinggi 17,40 meter, berat lepas landas maksimum (MTOW) mencapai 251 ton itu adalah filosofi desain kabin terbaru dengan konsep Airspace. Sekalipun konsep kabin Airspace juga terdapat di A330-900neo, tetapi, itu tidak mengurangi nilai tambah dari A330-800neo.
Kabin terbaru yang sebelumnya dikembangkan untuk Airbus A350 ini mengusung DNA Airspace, yaitu kenyamanan (ruang relaksasi), suasana (ruang inspirasi), layanan (ruang keluarga), dan desain (ruang keindahan).
Masing-masing dari empat DNA tersebut mempunyai detail tersendiri. Suasana (Ambience), menampilkan kabin yang senyap, kaya pencahayaan, dan sambutan lampu LED yang menakjubkan saat memasuki pesawat. Kenyamanan (comfort), menawarkan ruang kabin dan jendela yang lebih besar, kompartemen bagasi yang terbesar di kelasnya, dan kursi fleksibel untuk jarak jauh.
Lanjut ke layanan (services), Airbus menawarkan smart space solution, kabin bersih (termasuk di toilet sekalipun), seemless connectivity and entertainment, memungkinkan penumpang untuk mengurus bisnis via email dengan dukungan WiFi generasi terbaru. Adapun ke desain (design), Airbus mengusung konsep desain berkelanjutan, desain berkualitas, dan desain ramah keluarga.
Baca juga: Dijamin Betah di Pesawat, Begini Wajah Kabin Baru Airbus Lewat Airspace Program
Di antara berbagai hal baru dalam empat DNA Airspace di atas, mungkin konsep pada layanan jadi salah satu yang menonjol, dalam hal ini terkait toilet. Bagaimana tidak, selain dibuat serba tanpa sentuh, toilet di pesawat keluarga A320 Airbus nantinya akan dilengkapi dengan fitur higienis, seperti blower pengharum ruangan, full musik, full permainan cahaya menawan, dan lapisan anti-mikroba.
Selain itu, pencahayaan di kabin utama juga cukup menarik. Permainan cahaya LED kaya warna di kabin akan memberikan pengalaman terbang baru, baik saat dalam kedaaan redup maupun terang.
Kapal Ferry Cepat Milik Operator Cina Punya Bodi Ramping, Cepat dan Hemat Bahan Bakar
Setelah Setengah Abad, Jepang Baru Ubah Jadwal Keberangkatan dan Kedatangan Kereta Api
Mengenal Lawrence Sperry, Penemu Fitur Autopilot Pertama di Dunia
Pernahkah terlintas di benak Anda apa yang dilakukan oleh pilot dan kopilot di kokpit saat pesawat tengah mengudara? Apakah mereka sama seperti pengemudi mobil, bus, truk, atau sepeda motor yang harus selalu mengemudikan kendaraannya hingga tiba di tujuan? Tentu saja tidak. Hal itu dimungkinkan berkat adanya fitur autopilot.
Baca juga: Auto Pilot – Sistem yang Mudahkan Pilot Atur Navigasi Selama Mengudara
Dikenal sebagai Automatic Flight Control System (AFCS), autopilot merupakan sebuah sistem mekanikal, elektrikal, atau hidraulik yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan dari manusia.
Selain sistem kontrol penerbangan, salah satu dari bagian avionik (peralatan elektronik penerbangan yang mencakup seluruh sistem elektronik di pesawat) ini juga berfungsi dalam komunikasi elektronik, navigasi, dan untuk mengetahui keadaan cuaca pada lintasan penerbangan.
Sistem autopilot pertama kali ditemukan oleh Lawrence Sperry, anak dari seorang penemu kenamaan dunia, Elmer Sperry, pada tahun 1912.
Dilansir Simple Flying, ketika itu, ia sebetulnya tengah membantu sang ayah menghubungkan indikator heading giroskopik ke kemudi dan elevator yang dioperasikan secara hidrolik dan berhasil membuat pesawat lebih stabil. Sadar temuannya akan berdampak besar, ia pun memamerkannya ke Eropa, tepatnya di ajang Paris Air Show pada 18 Juni 1914.
Di sela-sela gelaran tersebut, terdapat ajang Concours de la Securité en Aéroplane (Kompetisi Keselamatan Pesawat) di tepi sungai Seine. Ada 57 pesawat yang bersaing untuk memenangkan kompetisi tersebut, salah satunya pesawat biplane Curtiss C-2 yang digunakan Lawrence Sperry dan tim.
Sejak awal, pesawat biplane itu memang sudah menarik perhatian pengunjung. Sebab, pada kompetisi kali itu, Curtiss C-2 menjadi satu-satunya pesawat yang dilengkapi dengan gyroscopic stabilizer untuk meningkatkan stabilitas dan kontrol.
Benar saja, ketika giliran Lawrence Sperry dan tim tiba untuk beraksi bersama Curtiss C-2, penumpang dibuat kagum dan bersorak-sorai kegirangan atas apa yang mereka lihat, terutama, ketika Sperry mulai mengaktifkan fitur stabilisator dan melepaskan tangan dari kemudi.
Tak cukup sampai di situ, fitur autopilot temuan Lawrence Sperry juga mengundang decak kagum penumpang ketika salah satu dari tim merangkak ke atas sayap pesawat. Pesawat kemudian dibuat bergoyang dengan beberapa hentakan. Saat itu, Sperry tidak sedang mengontrol penuh pesawat. Menariknya, pesawat mampu kembali ke sikap semula secara otomatis berkat stabilisator yang dilengkapi giroskop.
Aksi Lawrence Sperry dan tim bersama Curtiss C-2 kemudian ditutup dengan adegan dimana Sperry dan salah satu dari tim, Cachin, berdiri di sayap. Tentu saja tidak ada kru yang mengemudikan pesawat. Namun, pesawat mampu melaju dengan stabil di udara dan tentu saja diiringi decak kagum penonton dan para juri. Saat itu, hampir mustahil pesawat bisa terus melaju tanpa dikontrol oleh pilot. Pemenangnya, sudah pasti diberikan kepada Lawrence Sperry.
Pasca aksi pamer inovasi cikal-bakal teknologi autopilot, Lawrence Sperry terus berinovasi. Ketika itu, autopilot gyroscopic pesawat Sperry ukurannya lebih kecil dibanding gyro stabilizer.
Sperry corporation, perusahaan yang didirikan Sperry, kemudian mengembangkan instrumen giroskopik lainnya, termasuk horizon buatan dan indikator heading. Sistem temuan ini masih dipasang di banyak pesawat saat ini, melengkapi 23 hak paten atau inovasi Sperry.
Seiring waktu berjalan, teknologi autopilot yang digunakan oleh kebanyakan pesawat dan dioperasikan maskapai penerbangan perlahan-lahan mulai disandingkan dengan otomatisasi lainnya yaitu Flight Management Sytstem (FMS). Begitu pilot memasuki rencana penerbangan, FMS menentukan cara paling efisien untuk mengikutinya.
Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?
Sistem komputerisasi mengandalkan jaringan sensor yang canggih di seluruh pesawat terbang untuk terus memantau dan menyesuaikan kecepatan, ketinggian saat mengudara, dan faktor lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya pilot bisa bersantai dengan diaplikasikannya sistem semacam ini.
Selain itu, teknologi autopilot saat ini juga dikembangkan menjadi auto landing dan auto take off, yang di masa mendatang mungkin saja seluruh pesawat akan dilengkapi fitur tersebut.
Mudahkan Transportasi di Aceh Singkil, ASDP Operasikan KMP Aceh Hebat 1 dan KMP Aceh Hebat 3


Di Tengah Pandemi dan Sepinya Penumpang, PT LRT Jakarta Justru Buka Lowongan
Hari Ini, Fokker Resmi Bangkrut Gegara Sederet Masalah, Salah Satunya Kebanyakan Pesanan
Pada hari ini, 25 tahun lalu, bertepatan dengan 15 Maret 1996, produsen pesawat legendaris asal Belanda, Fokker, akhirnya resmi bangkrut. Banyak masalah yang melatarbelakangi mengapa Fokker bangkrut. Salah satunya ialah perusahaan mendapat banyak pesanan pesawat dari seluruh dunia. Kenapa bisa mendapat banyak pesanan pesawat malah bikin bangkrut?
Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara
Disarikan dari Flight Global dan Aerotime Aero, sebelum era duopoli Airbus dan Boeing berlangsung, Fokker sempat muncul menjadi salah satu produsen pesawat terbesar di dunia. Salah satu pesawat terlaris ialah Fokker F27 Friendship dengan penjualan 592 unit, sampai produksi pesawat ini akhirnya dihentikan pada tahun 1986.
Setelahnya, Fokker tak bisa membuat pesawat-pesawat lain yang juga laku keras di pasaran. Imbas dari itu, keuangan perusahaan pun mulai bergejolak.
Terlebih, sejak tahun 1967an, penjualan pesawat komersial Fokker mulai menurun, dimulai dari pesawat gagal F28 Fellowship dan VFW 614, pesawat produksi perusahaan patungan Fokker dengan Vereinigte Flugtechnische Werke (VFW), pabrikan yang berbasis di Jerman, pada tahun 1977.
Meskipun pada tahun 1979 dan 1980 Fokker masih bisa membukukan keuntungan, namun, penjualan terus menyusut dan perlu dilakukan suatu terobosan untuk mendongkrak penjualan.
Kebutuhan akan inovasi pun direspon Fokker dengan menggandeng McDonnell Douglas. Keduanya sepakat untuk mengembangkan MDF100, turunan dari F29, pada Mei 1981. Tetapi, proyek tersebut tidak pernah terwujud.
Sebagai gantinya, setahun berselang, Fokker pun mengembangkan sendiri dua pesawat baru, F100 dengan kapasitas 100 penumpang serta ditenagai mesin jet dan F50 turboprop. Keduanya berhasil mejalani penerbangan perdana masing-masing pada 1986 dan 1985.
Akan tetapi, biaya pengembangan kedua pesawat itu sangat besar dan harus disuntik pemerintah Belanda sebesar US$750 juta dengan melepas kepemilikan 32 persen saham.
Sudah begitu, estimasi awal biaya pengembangannya juga meleset hampir dua kali lipat, ditambah banyak pesanan pesawat dari maskapai diikuti dengan permintaan aneh sehingga membutuhkan pengembangan lebih lanjut dan tentu saja membutuhkan biaya lebih untuk riset.
Lebih parahnya lagi, persaingan pesawat komersial juga semakin ketat, dimana saat itu Boeing merilis versi klasik 737, Airbus mengumumkan program A320, dan McDonnell Douglas meluncurkan MD-80. Alhasil, F100 hanya laku sebanyak 283 unit. Angka tersebut tentu tak sejalan dengan biaya pengembangannya yang sangat besar.
Keadaan kemudian diperparah dengan adanya krisis minyak global pada tahun 1990an. Fokker sebetulnya sudah nyaris bangkrut pada tahun 1993 sebelum diakuisisi oleh Daimler-Benz, melalui divisi aerospace-nya, Daimler-Benz Aerospace (DASA) di tahun yang sama. Aksi korporasi itu mengantarkan DASA menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51 persen dan sisanya milik pemerinah Belanda.
Baca juga: Deretan Maskapai Dunia yang Masih Operasikan Fokker 100, Ada Maskapai Papua
Setelah menggelontorkan US$2 miliar semata agar produksi terus berlanjut, DASA akhirnya menarik diri pada tahun 1996 dan mengantarkan Fokker ke jurang kematian. Sebelum resmi bangkrut pada 15 Maret 1996, Fokker sebetulnya mempunyai kans untuk terus bertahan seiring masuknya proposal akuisisi dari Samsung, Daewoo, Hyundai, Hanjin, Yakovlev, dan lain sebagainya.
Tetapi, semuanya menemui jalan buntu dan akhirnya Fokker bangkrut, sekalipun akhirnya dilanjutkan dengan perusahaan baru Fokker Aviation. Perusahaan itu hanya memasok suku cadang untuk pesawat yang sudah ada, maintenance, dan produksi teknologi untuk pesawat dan tidak memproduksi pesawat.
Dipastikan Pesan 4 Unit A330-800neo, Sinyal Garuda Indonesia Serius Garap Rute Internasional?
Airbus akhirnya memastikan bahwa Garuda Indonesia telah memesan empat pesawat A330-800neo, sebuah varian yang kurang populer. Betapa tidak, sampai saat ini, varian tersebut baru dipesan oleh tiga maskapai lain -itupun bukan maskapai besar- yaitu Kuwait Airways, Uganda Airlines, dan Air Greenland.
Baca juga: Media Asing ‘Tertawakan’ Rencana Garuda Indonesia Buka Penerbangan (Rugi) Langsung ke Amerika, Paris, dan India
Meski menjadi varian yang kurang populer dibanding A330-900neo, tentu A330-800neo memiliki beberapa keunggulan yang sejalan dengan rencana Garuda. Salah satunya ialah jangkauan maksimum pesawat yang mencapai 15.094 km, dibanding A330-900neo yang hanya sanggup terbang sejauh 13.334 km.
Kendati Garuda Indonesia belum buka suara terkait rencana pemanfaatan pesawat tersebut, namun, bila mundur ke awal tahun 2020 lalu, pembelian pesawat itu menjadi pertanda keseriusan maskapai nasional Indonesia itu untuk menggarap rute internasional terbang ke seluruh kota di dunia.
Dilansir Simple Flying, sebelum dipastikan oleh Airbus terkait empat pesanan A330-800neo, pesanan Airbus A330-800 Garuda Indonesia masih simpang siur dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juni 2019, maskapai tersebut mengungkapkan telah menandatangani Letter of Intent (LOI) untuk empat pesawat.
Pada akhir 2019, Airbus mengumumkan telah mendapatkan pesanan empat A330-800, namun saat itu belum diumumkan nama maskapai pemesannya.
Berdasarkan data pesanan dan pengiriman pesawat terbaru lansiran AirwaysMag, Airbus akhirnya mengungkapkan bahwa Garuda Indonesia sebagai pemesan empat A330-800. Bila tak ada halangan, dua pesawat diperkirakan bakal dikirim pada akhir 2021 dan dua lainnya pada awal 2022. Jika sudah dikirim, lantas, mau dioperasikan untuk rute manakah pesawat tersebut?
http://https://www.youtube.com/watch?v=-3JLw3V_wrk
Dibandingkan pesawat sejenis, yaitu A330-900neo, A330-800neo setidakya memiliki tiga keunggulan, mulai dari jangkauan maksimum mencapai 15.094 km, harga lebih murah, hingga dapat mendarat di runway yang lebih pendek.
Lebih murah dan mendarat di runway yang lebih pendek tentu sebuah keunggulan menarik. Tetapi, bila disandingkan dengan strategi bisnis perusahaan, jangkauan maksimum dengan tingkat efisiensi lebih tinggi dari pesawat sejenis lainnya, tentu menjadi tawaran sangat menarik.
Pada Maret tahun lalu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyebut pihaknya kini sudah bisa mengantarkan seluruh pelanggannya, khususnya masyarakat Indonesia, ke berbagai kota di dunia lewat dua hub-nya di Eropa dan Asia Pasifik, yakni Amsterdam, Belanda, dan Tokyo, Jepang.
“Nah khusus untuk orang indonesia yang ingin terbang ke tempat-tempat yang telah disebutkan (Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, Moskow) ataupun kota-kota lain, kita sekarang memperkenalkan sesuatu yang baru. Jadi Anda bisa ke sana lewat dua kota hub kita, yaitu Amsterdam dan Tokyo,” kata Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, saat ditemui KabarPenumpang.com di kantornya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3/2020).
Direktur yang mengaku malang melintang di dunia penerbangan (sekitar 50 tahun) sebagai customer tersebut mengatakan bahwa penerbangan ke seluruh dunia bersama Garuda akan membuat pelanggannya mempunyai pengalaman terbang lebih variatif, dibandingkan rute (dengan hub) lainnya yang berbeda.
Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo
Ia pun kemudian mengambil contoh penerbangan ke Barcelona. Saat ini, masyarakat yang ingin pergi ke Barcelona, Spanyol, khususnya di Jakarta, setidaknya mempunyai dua pilihan untuk terbang ke sana. Pertama, naik Garuda Indonesia dan KLM lewat rute Jakarta-Amsterdam-Barcelona. Kedua, Jakarta-Singapura-Barcelona lewat Singapore Airlines atau maskapai lainnya. Keduanya tentu saja memiliki kelebihan masing-masing.
“Pilihan Anda kalau di Singapura cuma dua, Anda ke kota atau Anda ke Changi. Kalau ke Amsterdam, Anda punya pilihan empat. Anda di airport-nya atau Anda sehari ke Amsterdam, jalan-jalan, nonton, terus balik lagi ke airport dan ke Barcelona, atau Anda berhenti Anda ke Volendam, foto-foto Melayu berpakaian Londo Atau Anda ke Roermond, belanja factory outlet. So, pilihannya kan jelas,” tambahnya.
Canggih! Airbus Kembangkan Sensor ‘Ubur-ubur’ untuk Deteksi Virus Corona dan Bahan Peledak

