Cegah Covid-19, Bandara Internasional Saipan Larang Pengantar Penumpang Masuk ke Terminal

Sampai saat ini para pengantar penumpang yang akan berangkat dari beberapa bandara masih diperbolehkan masuk ke dalam terminal. Namun para pengantar akan dilarang masuk ke terminal Bandara Internasional Saipan atau Bandara Internasional Francisco C. Ada/Saipan di Kepulauan Mariana, Amerika Serikat. Baca juga: Di India, Para Pengantar Penumpang Masih Diperbolehkan Masuk ke Peron Lho! Bandara Internasional Saipan memberlakukan ini sebagai salah satu dari aturan “normal baru” yang merupakan bagian dari rencana aksi Commonwealth Ports Authorithy (CPA) bersama-sama untuk mempersiapkan tanggal 15 Juli 2020, target tanggal pembukaan kembali Commonwealth of the Northern Mariana Islands (CNMI) kepada pelancong. Peraturan ini diberlakukan sejak Kamis (18/6/2020) kemarin yang membuat pengantar dan penumpang harus berpisah di tempat parkir. Dilansir KabarPenumpang.com dari saipantribune.com (22/6/2020), direktur eksekutif CPA Christopher S Tenorio mengatakan, bagi para pengantar penumpang di bandara hanya akan diizinkan untuk memasuki terminal jika mengawal anak di bawah umur tanpa pendamping atau penumpang berkebutuhan khusus. Selain itu Tenorio juga menambahkan, mereka akan menunjuk lokasi bagi operator taksi untuk menjemput penumpang sehingga taksi maupun para pengantar-penjemput tidak menunggu di titik keluar pintu kedatangan. “Tujuan kami adalah untuk menyelesaikan rencana aksi pada 15 Juli dan melakukan pengujian pada Kamis pagi dan Sabtu lalu. CPA bertujuan untuk meminimalkan potensi dampak kesehatan yang merugikan dari Covid-19 dengan memperlambat penyebaran penyakit di CNMI dan di pelabuhannya,” kata dia. Tenorio mengatakan CPA juga berusaha untuk meminimalkan dampak Covid-19 pada ekonomi CNMI dengan mempertahankan kepercayaan di antara mitra bandara dan masyarakat yang bepergian. Dia mengatakan tujuan ini CPA didedikasikan untuk menghadirkan bandara yang aman, bersih dan nyaman bagi para penumpang, karyawan maupun para penyewa dengan menerapkan praktik terbaik untuk keselamatan dan pemulihan ekonomi. Tenorio menambahkan beberapa langkah yang sebenarnya mereka lakukan sekarang di terminal juga akan berlaku untuk bandara di Tinian dan Rota. Sedangkan untuk pembersihan dan sanitasi, CPA akan terus meningkatkannya agar bisa mengurangi penyebaran Covid-19. Dia menyebutkan ini termasuk sanitasi di semua permukaan dan peningkatan kebersihan juga di lakukan di toilet serta area umum lainnya. Tenorio mengatakan pemeliharaan atau penjaga CPA mereka yang melakukan pembersihan sekarang, tetapi juga berpotensi mempekerjakan pembersih profesional untuk datang setidaknya sebulan sekali untuk mendisinfeksi seluruh terminal. Selain itu CPA juga melakukan pembatasan jarak sosial dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan di seluruh bandara dengan memasang hambatan perlindungan kaca plexiglass di administrasi dan akuntansi CPA. Dia mengatakan tanda akan ditempatkan setiap enam kaki atau sekitar 1,8 meter di daerah antrian penumpang dan pembagi plexiglass akan dipasang di pemeriksaan TSA. Tenorio mengatakan karyawan bandara, penyewa bandara, vendor dan pengunjung diharuskan mengenakan masker di area publik dan non-publik. Dia menyebutkan, di klaim bagasi juga akan ditempatkan tanda setiap enam kaki bagi pengunjung untuk jarak sosial. Baca juga: Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19 Untuk penumpang yang tiba, kata Tenorio, tanda atau marka akan ditempatkan untuk menginformasikan penumpang yang datang untuk menjaga jarak sosial. Dia mengatakan penyaringan termal atau pembacaan suhu penumpang yang tiba akan dilakukan pada saat kedatangan.

Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

Belum lama ini konsep kabin VIP Airbus A220-300 telah dilaunching oleh Camber Aviation Management dan Kestrel Aviation Management. Hal itu dilakukan dalam upaya untuk menawarkan pesawat regional sebagai alternatif favorit dari pesawat dengan kabin besar monoton (tradisional), jet bisnis jarak jauh, atau bahkan kabin VIP pesawat narrowbody kenamaan sekalipun. Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir Dengan menggandeng perusahaan desain asal Perancis, Pierrejean Vision dan perusahaan rekayasa engineering, F/List dan Flying Colours, dua perusahaan layanan penerbangan bisnis di Amerika Utara itu berhasil menciptakan perubahan besar (interior) pada pesawat yang sebelumnya dikenal sebagai Bombardier Cseries tersebut. “Sangat berbeda dari apa yang saat ini terlihat di pesawat-pesawat dengan kabin besar lainnya. Pesawat kami ini memiliki kabin yang inovatif, nyaman, dan dirancang dengan mendetail, baik dari segi sistem, fitur, hingga penggunaan komponen canggih,” kata juru bicara perusahaan, sebagaimana dilansir Flight Global. “Kabin dirancang untuk memungkinkan setiap pengguna memilih konfigurasi yang berbeda di beberapa zona fleksibel. Lounge, misalnya, dapat diubah menjadi ruang makan dengan desain meja convertible yang unik, kabin depan yang nyaman untuk bersantai, ruang hiburan dengan layar 75in dan Dolby sound, ruang kerja pribadi yang luas, serta kamar tidur anak-anak,” tambahnya.
Secara spesifik, kabin yang didesain nyaris 2 tahun tersebut terdiri dari kabin modular tujuh zona, dengan rincian tiga zona, yakni area depan, tengah, dan belakang serta empat variabel. Maksudnya, dari tiga zona itu, nantinya bisa dikembangkan menjadi empat variabel berbeda, seperti dapur, kamar kecil dan lemari, serta kamar utama dengan kamar mandi dan shower uap. Desain modular atau modularitas dalam desain sendiri adalah teori dan praktik desain yang membagi sistem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut modul, yang dapat dibuat, dimodifikasi, diganti atau ditukar secara independen di antara sistem yang berbeda. Konsep modular ini sengaja dikembangkan untuk menyederhanakan desain kabin, mempercepat proses pengerjaan, dan menekan biaya produksi serta “biaya tidak terduga” di sejumlah pesawat. “Bersama-sama, tujuan desain ini secara signifikan mengurangi biaya produksi dan penting untuk mencapai titik harga yang tepat di pasar sambil menyediakan keinginan pelanggan atas pesawat dengan lebih cepat dan berkualitas tinggi,” ujar juru bicara perusahaan. Selain lebih elegan dengan sentuhan desain modular, konsep interior A220 ini juga dilengkapi berbagai fitur normatif yang biasa ditemukan di kabin VIP serta permainan cahaya yang berbeda-beda di setiap zona. Tak hanya itu, penumpang juga dapat menggunakan tablet untuk mengontrol tingkat pencahayaan, hiburan dan nuansa jendela, serta untuk memanggil pramugari. Baca juga: Boeing Setujui ‘Banding’ yang Diajukan Embraer Terkait Akuisisi Fitur-fitur lainnya yang juga ditawarkan perusahaan pada A220 ini adalah global data dan suara Ku band atau Ka band berbasis satelit, hiburan baik berupa audio maupun video sesuai permintaan, streaming nirkabel ke monitor dan perangkat pribadi, bioskop on-board opsional, dapur mini lengkap dengan oven, pembuat espresso dan anggur chiller, serta kamar tidur utama dengan tempat tidur queen-size, kamar kecil dengan toilet, dan steam shower. Dari segi efisiensi, biaya operasional ACJ220 juga diklaim lebih murah dibanding pesawat lainnya seperti ACJ319neos dan Boeing BBJ Max 7s, sekalipun dari segi kapasitas dan dimensi keduanya nyaris sama. Meski demikian, Airbus belum secara resmi meluncurkan salah satu andalan terbarunya itu. Sebab, hingga kini, proses akuisisi Bombardier oleh Airbus –untuk menandingi Boeing yang tadinya juga berencana mengakuisisi Embraer sekalipun pada akhirnya batal terlaksana- masih terus berjalan.

Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat

Berbagai inovasi dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona di pesawat. Umumnya masih dengan cara konservatif –sekalipun tetap inovatif- seperti membuat sekat partisi di kursi dengan beragam bentuk hingga memutar kursi dengan menghadap ke belakang. Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir Namun, lain halnya dengan Teague. Perusahaan teknologi yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat (AS) ini membuat inovasi yang bisa dibilang out the box; atau mungkin without box, setelah menciptakan Invisible AirShield atau sekat udara tak kasat mata. Sebagaimana namanya, Invisible AirShield berfungsi untuk melindungi penumpang yang satu dari penumpang lainnya melalui sekat udara –layaknya sekat partisi pada produk dari perusahaan lainnya- serta meningkatkan aliran udara dan membantu menekan penyebaran kuman di dalam kabin. Cara kerja AirShield sebetulnya nyaris sama dengan AC atau lampu overhead di dalam kabin. Bila lampu memberikan cahaya dan AC memberikan udara sejuk ke setiap penumpang, maka, fitur Invisible AirShield yang ditempel di overhead cabin juga menyemburkan udara. Bedanya, AirShield memberikan udara seolah ‘mengurung’ setiap penumpang. Dengan begitu, setiap tetesan atau percikan dari penumpang dapat terisolir dan tak tersebar ke bagian lain kabin. Selain itu, cara kerja AirShield, bila ditelisik lebih dalam, nyaris mempunyai kesamaan konsep dengan air curtain –menyekat antara udara di luar dengan udara di dalam sekalipun dengan pintu terbuka- yang biasa ditemukan di pintu masuk mall, perkantoran, atau gedung lainnya.
Posisi Invisible AirShield berada tepat di atas kepala setiap penumpang. Foto: CNN International
“Ada begitu banyak support, desain, dan dukungan teknik, untuk menyelesaikan beberapa masalah ini. Kita semua berusaha membuat masyarakat bisa terbang lagi, saya pikir semakin cepat kita bisa membuat orang nyaman dengan penerbangan, semakin baik industri dan dunia akan bergairah kembali,” kata Anthony Harcup, direktur senior airline experience Teague, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari CNN International. Konsep invisble yang dikembangkan, lanjut Harcup, dinilai lebih efisien dan efektif dibanding produk lainnya yang juga menawarkan pelanggan terbebas dari Covid-19 dengan membatasi udara mereka dengan sekat partisi. Bahkan, Harcup mengklaim inovasi AirShield bisa lebih efektif ketimbang mengosongkan kursi tengah untuk menjaga jarak aman atau physical distancing. Sebab, physical distancing tanpa adanya fitur sejenis AirShield atau sekat partisi akan terbuang percuma. Terlebih bila penumpang tak memakai masker dan atau face shield atau menggunakan keduanya dengan cara yang kurang benar. Dari sisi keamanan saat terjadi keadaan darurat, konsep invisible pada AirShield juga membuat penumpang seperti merasa dalam keadaan normal saj. Sebab, sama sekali tak merubah interior pesawat di sekitar kursi. Jadi, tak ada halangan apapun yang dapat memperlambat mobilitas penumpang untuk keluar masuk kursi. Oleh karenanya, dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, Invisible AirShield diharapkan dapat meyakinkan penumpang untuk berani naik pesawat lagi dan membantu membawa angin perubahan di industri penerbangan global yang tengah anjlok. Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors “Saya pikir produk seperti ini, hal-hal yang tidak berubah secara mendasar mengubah tata letak, model komersial densifikasi, sesuatu yang terlihat, saya pikir itu akan sangat membantu membawa orang kembali berpergian menggunakan pesawat,” tambah Harcup. Saat ini, Invisible AirShield baru saja menyelesaikan izin hak paten dan juga telah mendapatkan lampu hijau untuk digunakan di pesawat. Belum ada laporan maskapai mana saja yang sudah tertarik. Begitu juga dari segi harga, belum ada kejelasan. Namum, Harcup meyakini, Teague akan memberikan harga terbaik atas produk tersebut. Proses produksinya juga tak sulit karena perusahaan menggunakan printer 3D.

Tiga Kelas Ekonomi Baru Jadi Pilihan Penumpang Malaysia Airlines

Seluruh pelanggan Malaysia Airlines saat ini bisa menikmati pilihan kursi baru di kelas ekonomi, pasalnya, maskapai plat merah asal Negeri Jiran ini baru saja memperkenalkan opsi tarif fleksibelnya di kelas ekonomi yang disempurnakan di seluruh jaringan. Baca juga: Setelah Gaji Senior Manajemen Dipotong, Kini Malaysia Airlines Minta 13 Ribu Karyawan Cuti Tak Dibayar Tiga pilihan kelas ekonomi tersebut yakni Lite, Basic dan Flex yang bisa mulai dipilih sejak 22 Juni 2020. Awalnya pilihan tiga kursi ekonomi ini hanya terbatas di tujuan domestik, ASEAN dan Asia Selatan, tetapi kini bisa ke semua tujuan kecuali dari Malaysia ke Jepang atau sebaliknya serta tujuan ke Jeddah dan Madinah. “Dengan pulihnya dunia penerbangan secara perlahan dari pandemi Covid-19 dan ketika penumpang mulai melakukan perjalanan lagi, Malaysia Airlines berupaya membawa mereka ke langit tanpa beban ke khawatiran dengan pengalaman yang benar-benar tidak merepotkan,” kata Kepala Eksekutif Grup Malaysia Airlines, Kapten Izham Ismail. Dia mengatakan, dengan menempatkan kebutuhan penumpang sebagai prioritas, Malaysia Airlines meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mendapatkan wawasan yang tak ternilai bagi mereka. Kemudian maskapai mendesain, mendefinisikan ulang dan kemudian memperkenalkan tiga kelas ekonomi ini. Dengan kehadiran tiga pilihan tersebut, membuat pelancong mendapatkan pilihan ekstra di masa pandemi, karena mereka akan mendapat bagasi 35 kg ketika check in. Bahkan jika datang lebih awal di bandara, penumpang bisa mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan lebih awal dari hari itu. Tak hanya itu, penumpang kelas ekonomi Flex juga memiliki prioritas check in yakni tidak perlu mengantri. Mereka juga akan mendapat diskon sepuluh persen ketika memesan kelas Flex berikutnya. Maskapai ini juga memiliki produk yang disebut dengan Neighbor Free Seat (NFS) yang akan tersedia secara ekslusif untuk penumpang Flex di semua penerbangan dengan setengah harga. Layanan ini sangat baik bagi penumpang yang khawatir akan terlalu dekat dengan penumpang lain di pesawat. Sedangkan untuk pelanggan dengan tarif Basic mendapatkan bagasi gratis 20 kg dan penumpang akan memiliki kesempatan untuk menikmati manfaat program loyalitas seperti peningkatan Enrich Miles yang memungkinkan mereka untuk mencoba pengalaman kelas bisnis operator. Baca juga: Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg Sedangkan untuk kelas tarif Lite tidak ada keuntungan dari opsi lain dan ini pilihan yang cocok untuk pelancong biasa atau bisnis tertentu. Selain itu, apa pun kondisinya semua pelanggan maskapai akan mendapat manfaat dari keistimewaan dan layanan dari model full service. Bagasi kabin tujuh kilogram, makanan ringan gratis, makanan berat dan minuman akan tersedia. Semua penumpang juga akan memiliki akses ke sistem IFE (In-Flight Entertainment) Malaysia Airlines yang dikuratori secara khusus.

Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker

Perekonomian di Singapura mulai dibuka kembali dan kegiatan dengan banyak orang serta kontak langsung akan semakin sering termasuk dalam angkutan umum. Bahkan sejak tanggal 2 Juni 2020, Singapura mengharuskan semua orang yang keluar rumah harus menggunakan masker. Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri Dilansir KabarPenumpang.com dari gov.sg (1/6/2020), di waktu yang sama juga, Singapura memberlakukan perbedaan penggunaan face shield atau pelindung wajah dengan masker. Di mana penggunaan face shiled hanya akan diizinkan untuk kelompok atau pengaturan tertentu yang dikecualikan. Adapun kelompok yang diperbolehkan hanya menggunakan face shield yakni anak-anak berusia di bawah 12 tahun karena mereka mungkin mengalami kesulitan mengenakan dan menjaga masker wajah untuk jangka waktu yang lama. Kemudian orang-orang dengan kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan sulit pernapasan atau masalah medis lainnya ketika masker wajah digunakan untuk jangka waktu yang lama. Tak hanya itu, bagi para pembicara suatu kelompk dalam ruangan atau lingkungan pendidikan, di mana mereka sebagian besar tetap berada di tempat mereka berbicara dan mampu menjaga jarak yang aman dari orang lain. Tak hanya itu, untuk situasi seperti melakukan siaran televisi akan dibebaskan dari keharusan menggunakan masker atau face shield. Pembebasan ini akan terus berlanjut asalkan kegiatan tersebut dilakukan di lingkungan yang aman dan terkendali. Pemerintah Singapura juga mengatakan, dalam pengaturan tertentu face shield bisa digunakan diluar masker untuk perlindungan tambahan. Dengan menggunakan face shield tambahan ini sebenarnya bisa membantu melindungi mata seseorang dari tetesan yang mungkin mengandung partikel virus dan juga mencegah masker agar tidak basah. Sebenarnya penggunaan face shield juga agar orang tidak menyentuh wajah mereka. Sampai saat ini pun, pemerintah Singapura masih menyarankan untuk masyarakat tinggal dirumah dan menghindari keluar jika memungkinkan. Baca juga: Mulai Fase New Normal, Inilah Beragam Kebijakan dari Otoritas Darat Singapura Pihak pemerintah mengatakan, bagi masyarakat yang perlu keluar rumah dan menggunakan transportasi umum selain memakai masker juga ditambah face shield dan mengambil langkah seperti menjaga kebersihan tangan, menjaga jarak aman untuk membantu pengurangi penyebaran Covid-19. Pemerintah Singapura menambahkan, anak-anak di bawah berusia dua tahun tidak dianjurkan menggunakan masker demi keamanan.

Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’

Salah satu startup yang berkantor di Silicon Valley, Archer belum lama ini muncul ke publik dengan membawa desain taksi udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) dengan desain unik. Saat lanching beberapa waktu lalu, pihak Archer menyebut taksi udara besutan mereka bakal memiliki 12 baling-baling. Padahal, desain yang dirilis perusahaan menunjukkan hanya ada enam baling-baling (rotor). Baca juga: Jaunt’s ROSA Gyrodyne – Rancangan Taksi Udara eVTOL Paling Aman di Dunia Terkait hal ini, evtol.news melaporkan, Archer sengaja merahasiakan posisi enam rotor lainnya untuk mendukung taksi udara Archer (belum ada nama) melakukan pendaratan atau lepas landas secara vertikal. Adapun yang sudah ditampilkan hanya enam rotor, tiga di sayap kanan dan kiri bertugas menghasilkan daya dorong saat di udara. Dalam pemaparannya, Brett Adcock dan Adam Goldstein, founder dan co-founder Archer menyebut, enam rotor dengan lima bilah di masing-masing rotornya itu nantinya akan mengantar taksi udara eVTOL Archer melaju hingga 241 km per jam, dengan kapasitas satu pilot dan empat penumpang. Kemampuan tersebut juga tak lepas dari desainnya yang ramping serta ekor berbentuk V-tail yang dinilai mampu membuat taksi udara lebih berkarakter aerodinamik. Soal spesifikasi, taksi udara eVTOL dibekali dengan tiga paket baterai dengan kapasitas 143-kWh, termasuk di dalamnya 37 kWh untuk cadangan. Paket baterai seberat 3.000 kg itu disebut mampu membawa taksi udara sejauh sekitar 100 km. Berat lepas landas maksimum (MTOW) taksi udara Archer juga tergolong mumpuni, mencapai 3,175 kg. Yang menarik dari taksi udara ini adalah, faktor safety dan desain pesawat. Desain pesawat yang ramping, selain menambah aerodinamika pesawat, rupanya juga berkontribusi dalam meningkatkan keselamatan penumpang. Tak hanya itu, dengan teknologi Distributed Electric Propulsion (DEP), taksi udara Archer dimungkinkan untuk tetap terus terbang sejauh puluhan kilometer sekalipun beberapa rotor mati. Sebab, masing-masing rotor mempunyai sumber tenaga sendiri, tak seperti rotor pada umumnya dengan sistem sentral, jika sistem rotor utama mati, maka pesawat atau taksi udara hanya menunggu waktu untuk terjun ke daratan. Dengan spesifikasi di atas, taksi udara Archer diharapkan mampu membentuk kembali ekosistem mobilitas udara perkotaan (UAM), dengan fokus utama pada mengantar penumpang dengan cepat dan efisien di wilayah perkotaan yang padat. Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun Guna mengejar target tersebut, perusahaan akan menggelontorkan dana besar untuk pengembangan. Sejauh ini, Archer mungkin dapat dipastikan tak khawatir soal pendanaan, sebab, mereka seperti sudah mendapat jaminan pendanaan dengan masuknya Walmart, perusahaan publik terbesar di dunia asal AS berdasarkan pendapatan, sebagai investor. Dengan dana besar itu pula, selain melakukan pengembang, Archer juga membajak tokoh-tokoh intelektual dari perusahaan taksi udara eVTOL ternama di dunia yang sudah lebih dahulu ada, seperti Tom Muniz dan Alan Chen dari Wisk, Geoff Bower dari Airbus Vahana, hingga Ben Goldman dari Joby.

Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

Bila di negara-negara maju trem masih menjadi sokusi transportasi di wilayah urban, maka di Indonesia trem adalah cerita masa lalu. Eksistensi trem di Indonesia tidak lepas dari masa kolonial Belanda. Pada masa itu, trem sangat terkenal karena banyak digunakan masyarakat sebagai alat transportasi yang bersifat massal. Sayangnya trem hanya terdapat di Jakarta dan Surabaya. Merujuk ke sejarahnya, trem di Tanah Air sudah ada sejak tahun 1800-an dan masuk ke Jakarta sejak tahun 1860-an. Baca juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda Model trem yang pertama dikenalkan di Indonesia adalah jenis trem kuda pada tahun 1869. Trem ini, berbentuk gerbong kereta yang cukup panjang dan mampu memuat 40 orang penumpang. Sesuai namanya ttem ini ditarik oleh tiga samai empat ekor kuda. Kusir yang menjalankan trem ini menggunakan terompet sebagai klaksonnya. Trem kuda biasa beroperasi dari pukul 05.00 pagi sampai 20.00 malam dengan tarif 20 sen dan melintas lima menit sekali. imagesPada masa trem kuda, jalur yang ditempuh cukup panjang, salah satunya dari Kwitang ke Pasar Ikan pulang pergi. Sayangnya masa trem kuda hanya bertahan 12 tahun dikarenakan banyak kuda yang sakit dan mati akibat kelelahan. Jalanan pada masa trem kuda pun lebih kotor akibat kotoran kuda yang berceceran di jalan. Setelah lengsernya trem kuda pada tahun 1881, muncul trem uap. Berbentuk lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap dan di bagian depannya terdapat tempat bahan bakar batubaranya. Konon, trem ini beroperasi dari pukul 06.00 pagi hingga 19.00 malam. Untuk biaya yang harus dibayarkan penumpang pun bergam tergantung dengan kelas yang dinaiki. Kelas 1 dinaiki orang-orang Eropa dengan ongkos 20 sen. Kelas 2 diperuntukkan untuk keturunan Arab, Tionghoa dan Pribumi keturunan bangsawan. Dengan ongkos 10 sen. Di kelas 3 biasanya dinaiki oleh Pribumi biasa, dan tidak hanya di isi manusia melainkan sayuran untuk jualan dan hewan-hewan piaraan penumpang. Makanya, dulu kelas 3 ini sering dikatakan kelas “Kambing”. Tak hanyaa itu, rute trem uap ini pun lumayan panjang dari Jatinegara hingga Pasar Ikan atau sebaliknya. Trem uap ini sangat bising dibanding dengan trem kuda terdahulu, tak hanya itu, bila musim hujan, trem ini sering sekali mogok. Kemudian pada tahun 1901 atau 20 tahun kemudian, seiring berkembangnya teknologi, trem uap mulai digantikan dengan trem listrik. Namun, trem uap masih mendamping perjalanan trem uap hingga akhirnya dihapus tahun 1933 dan trem listrik merajai. Trem-Listrik-jurusan-Menteng-Jakarta-1950-_-Rob-Nieuwenhuys-media.kitlv_.nl_ (1) Tak ayal dengan hilangnya trem uap, trem listrik ini tambah diminati masyarakat karena lonjakan penduduk yang juga ikut meningkat. Trem ini, dari sejak ada terus penuh oleh penumpang. Tak hanya itu, setelah kemerdekaan diproklamirkan, trem tertus bertahan sebagai transportasi utama di Jakarta. Trem listrik ini beroperasi di lima rute yakni Menteng-Kramat-Jakarta Kota, Senen-Gunung Sahari, Menteng-Merdeka Timur-Harmoni dan Menteng-tanah Abang-Harmoni. Ongkos yang ditawrkan trem listrik ini pun bisa dikatakan murah yakni hanya sepicis alias 10 sen. Uniknya trem bisa menjelajahi seluruh wilayah Jakarta tak seperti Kereta Rel Listrik (KRL) sekarang ini. Sayangnya, trem listrik hanya mampu bertahan 27 tahun, pada tahun 1960 saat Jakarta dipimpin Gubernur bernama Sudiro, trem dihapuskan. Tak hanya itu, Soekarno yang masih menjabat sebagai presiden pun mengatakan trem tidak cocok untuk kota Jakarta yang sempit dan mengusulkan metro atau kereta bawah tanah. Baca juga: Serba-Serbi Trem San Francisco yang Melegenda bin Ikonik Semenjak trem dihapuskan, muncullah bus PPD yang merajai jalanan dan menghilangkan sistem transportasi massalnya. Sedangkan untuk metro dan kereta bawah tanah juga tak terwujud di zaman Soekarno. Dihapuskannya trem cukup disayangkan, karena daya angkut yang besar dan mampu menjadi angkutan massal yang layak digunakan.

Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Atas perintah presiden pertama RI, Soekarno kepada Gubernur Jakarta Sudiro, pada awal tahun 1960 dilakukan pembongkaran pada jalur trem yang membentang 40 km di Jakarta. Pembongkaran jalur trem menjadikan berakhirnya masa kejayaan trem di Ibu Kota, yang jika ditilik dari aspek historis merupakan ‘nilai’ yang tak tergantingkan, mengingat debut jalur trem sudah ada sejak 1869 (era trem kuda). Menurut Soekarno, trem sebagai moda angkutan massa di Jakarta tidak cocok, ia lebih setuju pembangunan jaringan kereta bawah tanah untuk Jakarta. Baca juga: Trem Kuda Riwayatmu “Doeloe” Meski keberadaan trem tinggal sejarah, tapi bila sejenak kita luangkan waktu melihat foto-foto di masa lalu, maka alam pikiran justru terbawa ke suasana aktivitas trem listrik yang kini masih setia melayani warga kota-kota modern di Eropa. Indonesia kala itu berstatus wilayah jajahan Belanda, namun ada keunikan dalam implementasi trem, khususnya trem listrik, yakni peluncuran trem listrik di Indonesia (Batavia – sekarang Jakarta) ternyata lebih duluan ketimbang di Belanda.
Trem listrik dengan latar Stasiun Beos (sekarang Stasiun Kota).
Jalur Trem di Jakarta pada tahun 1940.
Trem listrik di Batavia dioperasikan oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM), dan mulai mengoperasikan trem dengan lokomotif listrik pada April 1899. Sementara Belanda baru mengoperasikan lokomotif trem listrik pada Juli 1899 yang menghubungkan jalur Haarlem-Zandvoort. Bila mengulik ke sejarah masa silam, hadirnya trem listrik adalah untuk menggantikan keberadaan trem berlokomotif uap. Karena membutuhkan instalasi jalur tiang listrik diatas rel, maka pembangunan jalur trem listrik dilakukan secara bertahap. Setidaknya butuh waktu 18 tahun bagi BETM untuk mempersiapkan jalur rel listrik. Jalur trem listrik BETM berawal dari Stasiun trem di selatan Stasiun Beos Lama langsung menuju Goenoeng Saharie Weg melalui Jacatra Weg (Jl. P. Jayakarta), kemudian melintasi Kemayoran, Pasar Senen, belok kanan di daerah Kramat menuju Gondangdia, memutari Tanah Abang, lewat di belakang Museum Gajah (Jl. Abdul Muis), dan berakhir di depan tempat hiburan kelas wahid, Societeit de Harmonie.
Trem listrik di Stasiun Tanah Abang pada tahun 1899. Foto: tdu.to
Baca juga: Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi
Trem listrik di kawasan Harmoni. Foto: tdu.to
Trem listrik di Jakarta dalam masa agresi militer di dekade 40-an. Foto: tdu.to
Sedangkan jalur trem uap Nederlandsch-Indische Tramweg Maatchappij (NITM) membentang utara-selatan mulai dari kawasan kota lama Batavia, melewati Gambir, Matraman Raya sampai berakhir di Kampung Melayu. Perusahaan trem listrik Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) melebur dengan NITM pada 1930 dengan membuat nama baru yaitu Bataviaasche Verkeermaatschappij (BVM). Lintas NITM yang masih berupa jalur trem uap diganti dengan trem listrik secara bertahap. Elektrifikasi bekas jaringan trem NITM akhirnya selesai seluruhnya pada 1934.
Trem listrik melintas di kawasan Kramat.
Total panjang jalur trem yang ada 40 kilometer yang terbagi menjadi 6 lajur.Jalur utama yang melayani Oud Batavia (Jakarta Kota – Jln Cengkeh) hingga Meester Cornelis (Mester – sekarang Jatinegara) menempuh jarak 14 kilometer Baca juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya? Pada masa Belanda, nama tokoh yang mendiami daerah setempat banyak dijadikan nama jalan. Nama Kwitang, Jakarta Pusat, berasal dari nama seorang Tionghoa, Kwik Tamg Kiam. Di sini terdapat Gang Adjudant (kini Kramat Kwitang II, tempat majelis taklim Kwitang). Adjudant nama salah satu jabatan struktural pemerintahan di Batavia masa kolonial. Rupanya di jalan ini dulu tinggal seorang ajudan.

Walau Langganan Perang, Suriah Investasi Besar-besaran di Sekitar Stasiun Bersejarah Abad 19

Arab Spring atau Musim Semi Arab (sering disebut juga Kebangkitan Arab) mendorong terjadinya perang saudara di berbagai negara di Timur Tengah, tak terkecuali Suriah. Sejak tahun 2011 lalu, perang tiada henti terus berkecamuk hingga menewaskan 465.000 jiwa, satu juta orang terluka, serta 12 juta lainnya mengungsi. Baca juga: Hejaz Railway – Jaringan Kereta Abad 19 yang Mampu Reduksi Waktu Perjalanan Jamaah Haji Akan tetapi, meskipun sampai saat ini perang terus berkecamuk, ternyata, penguasa sah Suriah tetap menatap masa depan. Setidaknya hal itu terlihat dari kejelasan proyek prestisius kompleks “Nirvana”. Belum lama ini, Direktur Jenderal General Foundation for the al-Hejaz Railway Station, Hassanein Muhammad Ali, mengumumkan bahwa proses tender proyek tersebut telah usai dan dimenangkan oleh Syrian Private Company al-Hejaz for Investment. Pernyataan tersebut juga bukan hanya menjadi pertanda bahwa proyek tersebut serius digarap, melainkan juga menjadi jawaban dari kontroversi pemenang tender yang sempat terkatung-katung selama beberapa lamanya. Bukan karena terganggu aktivitas perang saudara, melainkan pertarungan sengit sekitar empat perusahaan yang ngotot untuk menggarap proyek itu. Kantor berita enabbaladi.net menyebut, proyek berdurasi selama tiga tahun ini nantinya akan mencakup hotel bintang lima dengan 12 lantai, kawasan komersial, restoran, dan ruang bawah tanah empat lantai, dengan kompensasi ke al-Hejaz Foundation sebesar $640 ribu sebagai pemilik lahan. Adapun nilai total investasinya masih dirahasiakan. Proyek kompleks Nirvana akan dibangun di atas tanah seluas 5.000 meter persegi (m2) yang dikuasai oleh al-Hejaz Foundation, di sebelah stasiun di salah satu situs paling vital di pusat Kota Damaskus, dekat Al-Marjeh Square, al-Hamidiyah Souq, Benteng Damaskus, dan Masjid Umayyah, menghadap jalan al-Nasr dan Khalid Ibn al-Walid yang populer di Suriah. Bila proyek sudah selesai, pengelolaan kompleks Nirvana akan dikuasai oleh pihak investor. Setelah 45 tahun, barulah al-Hejaz Foundation, kompleks Nirvana sepenuhnya dimiliki oleh yayasan tersebut. Meskipun proyek prestisius tersebut digadang-gadang mampu menghidupkan kembali ekonomi Suriah, khususnya Kota Damaskus, pada umumnya banyak masyarakat yang menolak. Hal itu dikarenakan, bangunan tinggi 12 lantai dalam proyek tersebut akan menutupi bangunan bersejarah Stasiun al-Hejaz. Selain itu, bangunan nan megah dan tinggi terlalu mencolok untuk mendistorsi arsitektur di sekitarnya yang notabene kebanggaan masyarakat Suriah. Baca juga: Canangkan Pembangunan ‘Kereta Perdamaian,’ Israel Nantinya Akan Terhubung dengan Sejumlah Negara Teluk Tak hanya itu, proyek kompleks Nirvana juga akan mengorbankan salah satu café paling legendaris dan populer di Suriah, Cafe al-Hejaz. Café yang dibuka pada awal 1950-an di atas lahan seluas 1.600 m2 ini terpaksa dirobohkan karena masuk dalam kawasan kompleks Nirvana. Padahal, café yang memiliki ruang dua musim ini, satu musim panas dan lainnya musim dengan dengan menampung hingga 600 orang, kerap menjadi tempat bersosialiasi, berkumpul, bergaul warga kota. Terang saja masyarakat tak rela begitu saja bila proyek prestisius pada akhirnya mengorbankan bangunan prestisius.

Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’

Menyambut new normal, beberapa negara sudah mulai membuka lockdown, bahkan tak sedikit yang sudah mulai membuka penerbangan internasional. Tapi pastinya pengalaman penerbangan internasional saat ini akan berbeda dari sebelum pandemi Covid-19. Dengan semakin banyaknya tujuan yang dibuka maka banyak juga maskapai yang mulai mengoperasikan rute ini. Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan Adanya rute ini gambaran yang lebih jelas muncul dari pengalam baru dalam penerbangan seperti penggunaan masker, pelindung wajah, sarung tangan dan kostum hazmat. KabarPenumpang.com melansir dari cntraveller.in (17/6/2020), selain itu kursi tengah akan menjadi bagian dari masa lalu dan berlaku juga pada hiburan dan majalah dalam penerbangan.
Berbagai makanan bento ala maskapai penerbangan (cntraveller.in)
Tak hanya itu, maskapai juga mengurangi bahkan ada yang menghilangkan makanan dalam penerbangan mereka. Namun dengan begini pasti akan ada perbedaan meski tidak menghilangkan troli makanan sepenuhnya. Seperti KLM, Delta, American Airlines, dan EasyJet yang menyingkirkan troli minuman sebagai bagian dari langkah-langkah untuk membuat terbang lebih aman selama pandemi. Alasan lainnya menghilangkan troli minuman adalah agar penumpang lebih sedikit melakukan perjalanan ke toilet. Sebagai maskapai yang menerbangkan rute internasional, KLM akan berhenti menyajikan alkohol tetapi menawarkan botol air dan jus sesuai permintaan. American Airlines pun tidak menjual minuman alkohol di kelas ekonomi tetapi terus melayani di kelas satu. Maskapai ini juga akan menyediakan minuman untuk semua penumpang di penerbangan internasional jarak jauh mereka. Sedangkan Delta hanya menghentikan troli di penerbangan domestik dan untuk internasional tetap ada. EasyJet yang beroperasi dengan rute jarak pendek di sekitar Eropa tidak melayani air minum kecuali penumpang secara eksplisit memintanya. Meski begitu British Airways (BA) tetap menyajikan alkohol dalam penerbangan mereka dan tengah memikirkan ulang katering dalam penerbangan. BA akan menyajikan makanan dalam kotak bergaya bento sekali pakai dengan peralatan makan plastik. Ini tak hanya ada di kelas ekonomi tapi bisnis dan kelas satu juga. Kotak bento dalam katering BA hadir untuk meminimalkan risiko kontaminasi dan mulai bulan ini, jika penumpang memilih kelas satu jarak jauh akan mendapat hidangan pembuka, hidangan utama serta penutup dalam satu kotak. Di sela waktu makan, Anda juga bisa mengharapkan layanan teh sore yang dikenal maskapai untuk dikemas ke dalam kotak kecil. Makanan kelas bisnis akan dikemas dalam satu kotak, dan demikian pula makanan yang disajikan dalam ekonomi dan ekonomi premium. Baik penumpang ekonomi premium maupun ekonomi akan dilayani makanan yang sama yang terdiri dari hidangan utama atau sandwich dan sedikit makanan penutup. Semua penumpang akan dilayani minuman beralkohol dan non-alkohol di samping makanan mereka. Emirates juga akan menyajikan hidangan sandwich, camilan, dan makanan penutup yang dikemas dengan rapi ke dalam kotak-kotak pra-paket. Maskapai akan terus menyajikan alkohol. Turkish Airlines hanya akan menawarkan makanan ringan dingin dalam kotak dan tidak ada minuman panas untuk penumpang di kelas mana pun. Tidak akan ada menu dan tidak ada minuman yang disajikan dalam gelas serta semua minuman akan disajikan dalam kaleng dan wadah sekali pakai. Turkish Airlines juga menghilangkan minuman selamat datang serta handuk panas. Sedangkan Lufthansa akan terus menawarkan layanan reguler di Kelas Satu. Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya Sebagian besar pengurangan ini seharusnya bersifat sementara, tetapi di saat-saat di mana semua orang khawatir tentang infeksi dan perusahaan penerbangan berjuang untuk tetap bertahan, ini mungkin merupakan perkembangan yang ada di sini untuk tinggal sebentar. Dampak negatif lain dari makanan pra-paket ini adalah ketergantungan baru pada plastik sekali pakai, sesuatu maskapai penerbangan di seluruh dunia telah bekerja keras untuk menghapus dari penerbangan mereka sebelum pandemi membalikkan semua keuntungan itu.