Maskapai penerbangan kini mulai kembali menerbangkan armadanya untuk mengangkut penumpang. Namun bagaimana agar penumpang yang satu dan lainnya tidak berdesakan ketika akan masuk ke kabin dan duduk di kursi mereka?
Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini
Dirangkum KabarPenumpang.com dari bbc.com (15/6/2020), banyak solusi yang sudah dilakukan agar penumpang tidak berhimpitan ketika akan masuk ke kabin menuju kursi mereka. Bila dalam keadaan normal penumpang akan masuk sesuai kelas mereka dari yang paling mahal seperti kelas satu, kemudian bisnis dan terakhir kelas ekonomi yang paling sering berdesakan.
Dengan adanya Covid-19 saat ini, nantinya lalu lintas penumpang masuk ke kabin dan kursi mereka tidak akan lagi seperti itu. Penumpang menggunakan masker dan berdiri diberi jarak. Seorang insinyur di Institut Logistik dan Penerbangan Universitas Dresden Jerman, Michael Schultz mengerjakan sebuah makalah terkait hal ini dengan memperkenalkan langkah-langkah jarak sosial penumpang yang satu dengan lainnya sekitar lima kaki.
Ini akan mengurangi jumlah penumpang yang berdekatan satu hingga dua orang meski masih terlalu banyak. Kemudian mengubah prosedur naik ke pesawat dengan duduk di kursi jendela bagian belakang menjadi penumpang yang pertama kali naik dan ini mengurangi jumlah kontak kritis lebih jauh.
Selain itu juga dengan cara membuka pintu depan dan belakang yang akan memisahkan aliran masuk penumpang menjadi dua. Schultz mengatakan, jika ada yang memiliki risiko infeksi, setidaknya satu setengah bagian depan atau belakang tidak akan pernah melakukan kontak dengan orang itu.
Selain itu ada juga metode Steffen yang ditemukan oleh Jason Steffen seorang ahli astrofisika di Universitas Nevada, Las Vegas. Di mana penumpang yang duduk dekat kursi jendela satu sisi pesawat seperti 30A, 28A, 26A dan seterusnya untuk naik pertama.
Kemudian baris berikutnya di sisi lain 30F, 28F, 26F dan selanjutnya diikuti dengan kursi tengah bernomor ganjil kemudian genap yang akhirnya kursi lorong. Dengan solusi ini, Steffen mengatakan akan menggerakkan penumpang melalui sistem dengan sangat cepat.
“Ketika penumpang berhenti, mereka tidak berhenti di sebelah seseorang dan garis di dalam jetway akan lebih cepat hilang,” kata Steffen.
Meski dalam tes lapangan metode Steffen terbukti hampir dua kali lebih cepat dari boarding biasa, tetapi dengan cara ini masih merupakan tantangan. Seperti maskapai bertarif murah Amerika Serikat yakni Southwest telah berhasil memilah penumpang menjadi beberapa kelompok di gerbang, tetapi tentu membutuhkan kerja sama dari penumpang.
“Anda perlu banyak persiapan untuk proses itu. Karena semua orang harus berbaris dan Anda tidak naik dengan orang yang duduk di sebelahmu, jika sebuah keluarga bepergian bersama, itu agak sulit,” kata Michael Schmidt, seorang insinyur yang bekerja di Bandara Munich. “Ini menantang karena kami tidak benar-benar memiliki data, karena jumlah penumpang sangat terbatas,” katanya.
Dari sudut pandang bandara, ada beberapa solusi yang tidak memerlukan perombakan keseluruhan sistem, tidak efisien seperti apa adanya. Lufthansa saat ini sedang menguji boarding biometrik, di mana pemindai “mencocokkan identitas Anda dengan wajah Anda”.
Sementara saran Schultz memungkinkan penumpang untuk memiliki jumlah tas bawaan yang normal, memberi insentif kepada penumpang untuk pergi tanpa dapat mengakibatkan lebih sedikit check in di pintu gerbang, lebih sedikit pertengkaran mengenai ruang loker kabin atas dan proses yang lebih cepat secara keseluruhan.
Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat
Schmidt mengatakan, beberapa bandara Jerman termasuk Munich dan Frankfurt telah mengambil langkah untuk mendorong penumpang untuk berhemat. Sementara itu, pemerintah India dilaporkan mempertimbangkan untuk melarang sama sekali masuknya koper ke dalam kabin.
Skuter listrik atau sepeda listrik saat ini sudah beredar di hampir semua negara dunia dan mungkin Anda juga sudah menggunakannya. Namun bagaimana kalau ada skateboard listrik dan bisa dijinjing serta masuk ke dalam tas?
Baca juga: Kiwano 01, Moda Beroda Tunggal yang Dilengkapi Teknologi Self-Balancing
Ya, sebuah Walkcar listrik yang bentuknya mirip skateboard dengan ukuran sebesar laptop 13 inci ini dibuat oleh Cocoa Motors. Perusahaan tersebut sudah lima tahun membuat Walkcar ini dan mereka akhirnya siap untuk pra penjualan di Jepang.
KabarPenumpang.com melansir dari newatlas.com (12/6/2020), tampilan Walkcar ini sendiri keseluruhannya tidak banyak berubah sejak 2015 lalu dan perubahan yang terjadi adalah untuk pengembangan dan mengubah motor penggeraknya. Sebab Walkcar listrik terbaru ini ada dua mode penggerak yakni sport yang memiliki kecepatan tertinggi 16 km per jam untuk kisaran jarak lima kilometer.
Sedangkan mode normal akan mampu bergerak dalam kecepatan sepuluh kilometer perjam untuk jarak tujuh kilometer dan juga bisa melaju di kemiringan sepuluh derajat. Walkcar ini sendiri terbuat dari serat karbon dan aluminium tingkat pesawat dengan panjang 8,5 inci dan lebar 13,6 inci, bahkan dikatakan memiliki lapisan cat yang bisa kembali normal ketika ada goresan.
Walkcar ini memiliki berat sekitar 2,9 kg dan bisa masuk ke dalam tas untuk dibawa-bawa. Walkcar tersebut dilengkapi dengan dua roda depan terkunci dan digerakkan oleh motor listrik. Dua roda lainnya bisa bergerak berada di bagian belakang yang memungkinkan untuk berputar.
Uniknya lagi skateboard listrik ini memiliki empat sensor yang tertanam di bagian atas platform sehingga pengendara bisa mengontrolnya dengan menggerakkan tubuh. Seperti dengan mencondongkan badan ke depan maka akan mempercepat laju Walkcar dan jika tubuh kembali ke posisi semula maka gerakan akan diperlambat.
Untuk merubah gerakan, Anda bisa menggerakkan badan ke samping. Meski begitu Walkcar juga bisa berhenti otomatis ketika sensor pada platform mendeteksi pengendara turun. Walkcar terlihat lebih mudah dikuasai daripada Solowheel, dan tidak rumit untuk dibawa sebagai kickscooter listrik.
Baca juga: Poimo, Skuter Listrik Tiup dari Jepang
Tak hanya itu, Walkcar terbukti lebih baik dalam mengatasi batu kecil atau ranting daripada rollerskates. Ini untuk pra-penjualan sekarang seharga ¥198 ribu atau sekitar US$1.840. Sayangnya Walkcar sendiri saat ini hanya tersedia di Jepang.
Persaingan Airbus dan Boeing seperti tak pernah berakhir. Airbus mungkin bisa saja patut berbangga di pangsa narrowbody dengan grounded berkepanjangan Boeing 737 MAX dan membuatnya di atas angin. Namun, di pangsa pesawat widebody, kondisinya bisa dibilang berbalik 180 derajat.
Baca juga: 26 Menit Mengudara, Airbus A380 Tanpa Penumpang dan Kargo Milik ANA Balik Kandang
Juru bicara Airbus menyebut, saat ini, tak ada satupun pesawat superjumbo mereka yang terbang, baik sebagai pesawat penumpang maupun kargo. Hal itupun diperkuat dengan informasi di situs IflyA380.com, dimana tak satupun A380 tercatat aktif beroperasi.
Emirates misalnya, maskapai dengan kepemilikan A380 terbesar di dunia –nyaris setengah dari populasi- bahkan sudah empat bulan lamanya terpaksa menggrounded pesawat. Meskipun demikian, maskapai masih memiliki rencana jangka panjang dengan pesawat yang terbang perdana pada 27 April 2005 ini.
Begitu juga dengan Qatar Airways. Maskapai yang diketahui mengoperasikan 10 pesawat komersial terbesar itu juga telah lama menggrounded A380. Tak hanya itu, maskapai yang berbasis di Doha ini malah dikabarkan ingin menyegerakan pesawat tersebut pensiun dan menggantinya dengan Boeing 777 serta Boeing 787 untuk penerbangan long haul.
Belum lama ini, maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA) memang kedapatan menerbangkan Airbus A380. Namun, alih-alih mengoperasikan pesawat sebagai penerbangan penumpang atau kargo, maskapai ANA dilaporkan hanya menerbangkannya untuk tujuan pemeliharaan saja, tidak lebih.
Tak heran, maskapai tersebut hanya menerbangkan pesawat selama kurang lebih 26 menit saja. Proyeksi ke depan juga bisa dibilang suram. Nyaris seluruh maskapai yang mengoperasikan A380 bisa dibilang pesimis mengoperasikannya dalam beberapa bulan mendatang.
Bandingkan dengan Boeing 747 ‘Queen Of The Skies’ yang belakangan –sekalipun di masa pandemi corona seperti sekarang ini- banyak diandalkan, baik sebagai penerbangan penumpang maupun kargo.
Dikutip dari Forbes, sebagai pesawat penumpang, saat ini setidaknya Boeing 747 dioperasikan oleh delapan maskapai, mulai dari Korean Airlines, Air Atlanta Icelandic, Air China, Air India, British Airways, Lufthansa, Rossiya Airlines (St. Petersberg, Rusia), dan Wamos Air (Madrid, Spanyol).
Di luar itu, belakangan, dua maskapai kenamaan dunia, Lufthansa dan Virgin Atlantic juga telah menerbangkan Boeing 747. Lufthansa kedapatan menerbangkan pesawat jumbo ikonik itu pada penerbangan dari Frankfurt-Mexico City, Frankurt-Chicago, dan Frankurt-São Paulo.
Adapun Virgin Atlantic, maskapai milik Sir Richard Branson ini sebelumnya sudah berencana untuk mempensiunkan armada 747nya pada 2021, namun, entah apa yang merasukinya, tiba-tiba memasukkannya kembali ke dalam layanan mulai 5 Mei lalu.
Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien
Sebagai penerbangan kargo, Boeing 747 memang sudah hampir setengah abad mengudara itu menjadi andalan angkutan kargo bagi berbagai raksasa jasa kargo udara dunia. Seperti AirBridge Cargo, UPS, Atlas Air, Silk Way Airlines, Cargolux, Nippon Cargo Airlines, dan berbagai perusahaan lainnya.
Dengan berbagai fakta di atas, dimana tak ada satupun Airbus A380 yang beroperasi dan sebaliknya, Boeing 747 ‘Queen Of The Skies’ justru diandalkan banyak pihak, baik sebagai penerbangan penumpang maupun penerbangan kargo, maka, tak berlebihan bila untuk liburan musim panas ini, Airbus A380 keok dari Boeing 747.
Setiap orang saat ini harus menggunakan masker kemana pun mereka pergi untuk meminimalisir penularan Covid-19. Baik hanya untuk keluar sebentar ataupun bepergian menggunakan transportasi umum. Karena hal ini kemudian berbagai masker pun banyak beredar dengan gambar dan motif yang beragam untuk berbahan kain.
Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker
Salah satu yang juga akhirnya ikut mengeluarkan masker berbahan kain yang nyaman adalah merek ternama Adidas. Perusahaan pakaian olahraga ini telah merilis Face Cover atau masker wajah yang bisa digunakan berulang. Uniknya bahan pembuatannya adalah dari bahan daur ulang.
KabarPenumpang.com melansir laman dezeen.com (25/5/2020), Adidas mengatakan, saat ini penguncian mulai diangkat dan orang-orang perlahan mulai kembali ke aktivitas baik untuk bekerja atau terhubung dengan orang lainnya.
“Kami ingin membantu ketika mereka berhubungan kembali dengan dunia luar. Meski tidak dinilai secara medis, masker kami dirancang untuk mencegah penyebaran virus dan kuman yang dapat menular sehingga membantu melindungi orang-orang disekitar Anda,” kata Adidas.
Adidas menyebutkan, saat ini masker buatan mereka sudah ada di Eropa, Amerika Utara dan Cina. Tak hanya itu, hasil penjualannya pun sebagian akan disumbangkan ke Save The Children’s Global Coronavirus Respons Fund.
“Bulan lalu kami mulai merealokasi sumber daya desain dan rantai pasokan untuk membuat Face Cover yang dapat digunakan kembali. Kami menambahkannya ke jangkauan kami mulai minggu ini dan di Inggris, £2 dari setiap paket yang dibeli disumbangkan untuk Save The Children’s Global Coronavirus Dana Respons,” kata Adidas.
Setiap Penutup Wajah terbuat dari bahan Primegreen Adidas, yang digambarkan sebagai kain daur ulang berperforma tinggi yang bebas dari plastik perawan. Dengan desain sederhana memiliki loop derek untuk menghubungkan telinga pemakai. Mereka dirancang untuk digunakan kembali dan memiliki tulisan “Cuci. Kering. Gunakan kembali” dicetak pada masker wajah ini.
Masker wajah merupakan bagian dari respons Adidas terhadap Covid-19, yang diberi merek #hometeam. Inisiatif yang termasuk dalam respons adalah membuat pelindung wajah untuk petugas kesehatan Amerika Serikat dan tantangan #hometeamheroes-nya, yang menyumbangkan $1 untuk setiap mil yang dihitung menggunakan pelatihan Adidas dan menjalankan aplikasi.
Baca juga: Ketimbang Lepas Masker, Pramugari Garuda Kenapa Tak Pakai Masker Transparan Saja?
Mengenakan masker wajah dianggap sebagai cara penting bagi orang untuk membatasi penyebaran virus corona. Di Inggris, selebritas termasuk Stephen Fry dan Elizabeth Hurley menjadi model masker wajah yang dirancang oleh Ron Arad yang sedang dijual untuk mengumpulkan uang untuk Layanan Kesehatan Nasional Inggris, sementara Standard Issue telah menciptakan desain open-source untuk masker wajah yang bisa berupa CNC.
Melindungi diri dari virus yang saat ini tengah menjadi pandemi rasanya sah-sah saja dengan membawa perlengkapan kebersihan diri pribadi dan tetap menggunakan masker plus face shield. Bahkan beberapa orang ada juga yang menggunakan kalung yang mampu mencegah virus dan sudah banyak dijual.
Baca juga: Cegah Covid-19, Bandara Internasional Saipan Larang Pengantar Penumpang Masuk ke Terminal
Karena pandemi Covid-19 ini juga membuat beberapa perusahaan meluncurkan serangkaian produk sanitasi yang bisa melindungi dari virus. Seperti Aeroexecutives.com yang menghadirkan pembersih tangan mewah, masker wajah bermerek dan beberapa barang baru yang inovatif untuk perlindungan diri.
Selain itu juga mereka menghadirkan sebuah patch sanitasi yang menciptakan zona aman untuk penumpang dan kru mereka yang memakainya. Patch sanitasi ini dapat di letakkan di ponsel pintar, di kalungkan dengan tali di leher dan di jepit pada tas atau pakaian.
Karena ponsel dikenal sebagai tempat paling banyak kuman, bakteri dan virus hinggap, maka patch sanitasi tersebut memastikan ponsel Anda bersih dan bebas kuman. KabarPenumpang.com melansir dari laman airlineratings.com (18/6/2020), selain itu, penggunanya baik penumpang atau kru pesawat juga dapat terlindungi.
Aeroexecutive.com mengatakan, patch ini terkontrol Caolion EcoBio yang dikatakan benar-benar aman dan disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), FDA, EPA, UE, NASA, dan Kementerian Lingkungan Hidup Korea. Ketikapatch diaktifkan untuk menghilangkan virus, jamur dan bakteri maka akan efektif atau bekerja hingga 28 hari bahkan lebih lama.
Sedangkan bila tidak diaktifkan, akan memiliki masa simpan hingga 12 bulan lamanya. Patch dapat menawarkan perlindungan bagi pemakainya dalam radius hingga satu meter. Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan, bahwa pembersihan tangan adalah salah satu bentuk perlindungan paling efektif terhadap Covid-19.
“Hampir tidak mungkin untuk menjaga jarak sosial dengan batas-batas bandara dan kabin pesawat terbang, terutama selama naik dan turun. Patch sanitasi menawarkan tingkat perlindungan yang meningkat dan meningkatkan keselamatan penumpang dalam format yang mudah dan nyaman. Rangkaian pembersih tangan dan masker mewah ini dapat membantu meningkatkan tingkat perlindungan ke standar tertinggi,” kata Peter Bradfield dari Aeroexecutives.com.
Baca juga: Ditjen Penerbangan Sipil Minta Maskapai Kosongkan Kursi Tengah Kabin
Aeroexecutives.com telah diciptakan untuk menawarkan portofolio produk untuk melindungi orang dari virus dan bakteri berbahaya. Dari pembersih tangan, masker, desinfektan, dan tambalan sanitasi produk ini bisa menjadi senjata yang efektif dalam memerangi virus dan mengurangi penyebaran kuman.
Bus listrik yang digunakan untuk angkutan umum dapat membantu menggerakkan massa kota yang terdistribusi secara padat tanpa asap knalpot yang memicu polusi udara. Namun saat pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, semua angkutan umum massal seperti musuh untuk manusia saat ini.
Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung
Namun Arrival yang merupakan kendaraan listrik telah menghadirkan bus nol emisi yang bertujuan menjadikan transportasi umum layak di masa pandemi ini. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (17/6/2020), bus ini memiliki sejumlah fitur yang memastikan perjalanan penumpang yang aman termasuk bel tanpa sentuhan dan kursi yang dapat dilepas untuk memfasilitasi jarak sosial.
Dengan tempat duduk katliver dan permukaan interior yang halus tanpa lapisan antara dinding dan lantai membuat kendaraan mudah di bersihkan. Juru bicara Arrival Victoria Tomlinson mengatakan, kursi yang dapat dikonfigurasi berarti bahwa operator dapat mengubah konfigurasi di depo untuk menambah atau mengurangi jumlah memenuhi permintaan atau arahan pemerintah pada tingkat kapasitas.
Dia mengatakan, seperti selama masa pandemi saat ini. Arrival Bus menghasilkan atap panorama dan jendela besar untuk meningkatkan cahaya alami. Adapula layar informasi di bagian dalam dan luar bus untuk memberikan informasi tentang seberapa sibuk rute dan kursi yang tersedia.
Penumpang dapat mengakses informasi ini dari jarak jauh dan meminta bus untuk berhenti melalui smartphone mereka sebelum mereka meninggalkan rumah. Kendaraan listrik, yang siap untuk diproduksi, mengikuti van listrik merek yang berbasis di London, yang diresmikan awal tahun ini dan merupakan salah satu dari sejumlah kendaraan yang ingin diluncurkan oleh startup dalam beberapa bulan mendatang.
Kendaraan penumpang yang baru menggunakan platform “skateboard” yang sama dengan van, yang memiliki sasis aluminium linier yang memiliki komponen modular termasuk baterai, motor dan drivetrain. Semua bagian mekanis yang terdapat dalam sasis, kendaraan ini memiliki ruang yang lebih bermanfaat daripada bus tradisional.
Adanya konstruksi modular memungkinkan sasis diperpanjang dengan peningkatan 1,5 meter, dengan model terkecil berukuran 10,5 meter dan terpanjang berukuran 15 meter dan memiliki kapasitas maksimum 125 penumpang. Alih-alih mengandalkan rantai pasokan kendaraan tradisional yang terdiri dari puluhan subkontraktor yang berlokasi di berbagai belahan dunia, Arrival mengembangkan serangkaian “pabrik mikro” lokal di mana komponen-komponen dirakit untuk membuat kendaraan yang dekat dengan tempat mereka akan dibutuhkan.
Chassis dan bodywork terbuat dari komponen ringan yang tidak memerlukan perkakas mahal, yang mengarah pada penghematan yang diklaim Arrival memungkinkannya untuk menjual kendaraan dengan harga yang sama dengan model yang menggunakan mesin pembakaran internal. Seperti kendaraan lain dalam keluarga Arrival, bus-bus itu dimaksudkan untuk dibangun di pabrik mikro setempat di mana mereka akan dikerahkan.
Arrival berencana untuk membangun seribu pabrik mikro ini di seluruh dunia pada tahun 2026 dan mengatakan telah mengembangkan teknologi manufaktur yang unik untuk mendukung mereka. Pabrik-pabrik akan menyuntikkan pekerjaan, rantai pasokan dan pendapatan pajak ke dalam ekonomi lokal, daripada hanya membawa kendaraan yang dibangun di tempat lain.
Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya
Arrival mengatakan bus akan dikenakan biaya yang sama kepada pelanggan sebagai bahan bakar fosil yang setara, menghemat uang dalam jangka panjang berdasarkan pada penurunan biaya operasi. Semua itu mungkin terdengar seperti kue kecil di langit untuk saat ini, tetapi Arrival telah bekerja dengan beberapa perusahaan yang sangat terkenal. Pada bulan Januari, perusahaan itu menerima investasi €100 juta dari Hyundai dan Kia sambil juga menandatangani kesepakatan untuk mengirimkan 10 ribu van listrik ke UPS.
Dunia dirgantara memang sangat mengenal Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright bersaudara karena berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil, dekat Kitty Hawk, North Carolina. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.
Baca juga: Hari Ini! 111 Tahun Lalu Penerbangan Perdana Pesawat Penumpang Rakitan Wright Bersaudara
Akan tetapi, seringkali sebagian kalangan melupakan hal penting lainnya yang juga menjadi bagian kesuksesan Wright bersaudara; Wright Flyer atau biasa juga disebut Flyer 1, sebuah pesawat berbobot lebih berat dibanding udara pertama di dunia yang bisa terbang.
Dilansir Simple Flying, pertemuan Wright bersaudara dengan mesin terbang pertama kali pada tahun 1878. Ketika itu, ia bersama ayahnya Milton Wright dan ibunya Susan Catherine Koerner tengah tinggal di Cedar Rapids, Lowa, Amerika Serikat (AS).
Suatu hari, sang ayah pulang dengan membawa sebuah helikopter besutan perintis penerbangan asal Perancis, Alphonse Pénaud. Helikopter tersebut dibuat dari bambu, kertas, gabus, dan karet gelang untuk memberi daya pada rotor. Wright bersaudara kemudian memainkan helikopter itu sampai akhirnya rusak dan coba membuat helikopter serupa versi Wright bersaudara.
Senang helikopter buatannya digemari orang lain (Wright bersaudara) Alphonse Pénaud pun tak segan melanjutkan mimpinya membuat pesawat yang cukup besar bagi seorang pria untuk terbang di udara. Sayangnya, akibat tak mendapat banyak dukungan, ia pun memilih untuk mengakhiri hidup.
Sebelum mulai membuat pesawat, Wright bersaudara banyak belajar pada makalah-makalah ilmuan ternama Italia, Leonardo da Vinci. Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari Leonardo da Vinci, Wright bersaudara pun memutuskan mulai melakukan penerbangan glider, di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina.
Orville Wright tengah melakukan penerbangan glider di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina. Foto: Library of Congress via Wikimedia
Pantai dipilih karena dinilai memiliki angin yang cukup untuk membantu gaya lift pada pesawat buatannya. Maklum, pada tahun 1902, Wright bersaudara belum mendapat sokongan mesin dari pabrikan besar di dunia untuk menerbangankan pesawat. Jadi, masih mengandalkan angin untuk terbang. Terbukti, angin di pantai Kitty Hawk mampu membawa Wright bersaudara melakukan penerbangan glider sebayak 700 kali.
Tak juga kunjung mendapat dukungan mesin dari pabrikan otomotif dunia, Wright bersaudara pun memberanikan diri untuk membuat mesin sendiri. Dengan dibantu Charlie Taylor, keduanya mampu membuat mesin berpendingin air empat silinder segaris yang mampu menghasilkan 12 tenaga kuda. Menariknya, dudukan mesin tersebut terbuat dari alumunium untuk mengurangi beban yang membuatnya sebagai yang pertama kali dalam sejarah.
Mesin sudah, Wright bersaudara pun mulai menyempurnakan pesawat yang kemudian diberi nama Wright Flyer. Pesawat tersebut dibuat dengan menggunakan konstruksi desain sayap canard biplane. Canard adalah istilah aeronautika -berasal dari bahasa Perancis- yang menggambarkan sayap depan kecil yang ditempatkan di depan sayap utama pada pesawat sayap tetap. Nama canard berasal dari pesawat Santos-Dumont 14-bis yang konon mirip bebek terbang.
Dua stabilisator kecil di bagian depan pesawat mengendalikan pitch di Wright Flyer. Pengaturan ini digunakan daripada di ekor seperti yang digunakan oleh pesawat saat ini. Kemudi berada di bagian belakang pesawat seperti halnya di pesawat modern.
Guna menciptakan daya dorong, Wright bersaudara membuat dua baling-baling kayu. Baling-baling dihubungkan dengan mesin menggunakan sproket dan sistem rantai yang mirip dengan sepeda. Setelah memasang mesin bensin gravitasi ke kanan cradle pilot, mereka harus memperluas sayap dengan empat inci, membuatnya menjadi 40 kaki, panjang 4 inci. Bingkai Wright Flyers terbuat dari ash dan spruce, dua jenis kayu yang ringan namun tahan lama. Penutup aerodinamis untuk sayap adalah kain muslin murni yang tidak dirawat.
Baca juga: Haerul Montir Pembuat Pesawat dari Pinrang, Kisahnya Bikin Geleng-geleng Kepala
Persyaratan penerbangan pertama pada 17 Desember 1903 hampir sempurna dengan hembusan angin hingga 27 mil per jam. Sekitar pukul 10.30 pagi itu, Orville Wright berbaring di sayap pesawat dan menghidupkan mesinnya. Menggunakan sistem rel yang membentang sejauh 60 kaki, pesawat lepas landas dan terbang selama 12 detik di ketinggian delapan kaki dengan kecepatan 6,8 mph. Uji coba penerbangan kedua malah lebih jauh, mencapai jarak 200 kaki. Tanpa roda pendaratan, Wright Flyer dirancang untuk mendarat di pasir lembut Outer Banks.
Sayangnya, Wright Flyer yang berbobot sekitar 274 kg harus rusak karena hembusan angin kencang yang membuatnya terpontang-panting. Pesawat rusak dan harus direparasi terlebih dahulu hingga pada akhirnya saat ini pesawat diabadikan di Museum Smithsonian di Washington DC, AS.
Sebagian kecil pramugari Qatar Airways dilaporkan mulai menjalani penerbangan jarak jauh tanpa layover atau singgah di suatu negara beberapa waktu (untuk memulihkan stamina). Selain tanpa istirahat, pramugari Qatar Airways belakangan juga dipaksa untuk menjalani penerbangan jarak jauh tanpa pergantian kru kabin. Singkatnya, mereka bekerja untuk penerbangan pergi pulang (pp). .
Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang
Normalnya, pada penerbangan jarak jauh, maskapai memang diwajibkan menjalani aturan ‘Flight Time Limitations’ (FTL) atau memberi pramugari waktu untuk rehat sejenak di negara tujuan. Adapun penerbangan dari negara tujuan kembali ke negara asal, awak kabin lainnya yang akan menghandle.
Begitu maskapai melakukan penerbangan kembali ke negara yang dimaksud, dimana pramugari telah rehat selama beberapa hari, pramugari yang baru tiba akan menjalani layover dan penerbangan balik akan di-handle oleh pramugari lain. Jadi, selalu ada pergantian di setiap penerbangan jarak jauh; termasuk di dalamnya awak kokpit.
Akan tetapi, di era New Normal akibat wabah Covid-19 ini, Qatar Airways telah diizinkan untuk tak menaati peraturan FTL oleh otoritas penerbangan sipil Qatar. Dalihnya adalah, maskapai mengaku tak nyaman meninggalkan pramugari di negara tujuan, khawatir mereka terpapar virus corona.
Dikutip dari paddleyourownkanoo.com, menurut sebuah sumber, pramugari Qatar Airways mulai menjalani penerbangan tanpa layover dan tanpa pergantian kru alias melakukan penerbangan PP non-stop pada penerbangan 18 jam dari Doha-Manila-Doha.
Beruntung, otoritas Qatar masih mengizinkan pramugari untuk mendapatkan haknya berupa periode ‘horisontal’ dimana mereka diperbolehkan istirahat di pesawat lengkap dengan kasur dan selimut –biasanya hanya ada di pesawat widebody seperti Boeing 777, A350, A380, B747- sekitar lima jam. Dengan begitu, pramugari diharapkan tetap bisa mencapai kondisi prima sekalipun hanya istirahat selama lima jam di dalam pesawat. Bila ditotal, dalam kasus tersebut, pramugari bekerja selama 23 jam.
Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?
Kebijakan FTL yang diberlakukan oleh negara-negara teluk seperti Qatar bisa dibilang cenderung berbeda dengan negara-negara Eropa. Pada umumnya, mereka (negara-negara Eropa) lebih memilih menerbangkan ‘paket’ lengkap berupa pilot dan awak kabin untuk bertugas pada penerbangan kembali ke negara asal ketimbang menjalani kebijakan FTL ala Qatar.
Terlepas dari penyesuaian kebijakan FTL yang dinilai kontroversial, Qatar, dibandingkan maskapai lain di dunia, memang dikenal menerapkan kebijakan ketat untuk menangkal paparan corona di pesawat. Sejak akhir Mei lalu, Qatar Airways diketahui mulai mengikuti jejak maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Malaysia, AirAsia, yang mana semua awak kabinnya menggunakan hazmat untuk melindungi awak kabin dan penumpang. Selain hazmat, awak kabin juga dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) lainnya seperti kacamata, sarung tangan, dan masker.
Setelah anjlok akibat wabah Covid-19 sejak Februari lalu, industri penerbangan global mulai bergairah. Pantauan KabarPenumpang.com dari Flight Radar AirNav, lalu lintas udara di dunia –kecuali Afrika dan Amerika Latin- memang sudah tampak ramai, meskipun sekilas masih didominasi penerbangan kargo tanpa penumpang.
Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis
Di artikel sebelumnya, redaksi juga telah membahas mengenai strategi maskapai dalam memanfaatkan momentum memuat kargo di kabin penumpang dalam penerbangan khusus kargo, khususnya bagi maskapai pemilik pesawat komersial terbesar di sejagat.
Logika yang dibangun adalah, dengan dimensi besarnya, bila pesawat dimaksimalkan dalam penerbangan khusus kargo besar kemungkinan akan sangat menguntungkan. Namun, nyatanya tidak demikian.
Memuat kargo di kabin penumpang yang kosong melompong ditinggal pelanggan bukanlah opsi terbaik untuk memaksimalkan A380 sebagai armada khusus kargo. Dengan begitu, otomatis tak ada pilihan lain bagi maskapai terhadap koleksi A380nya kecuali terus digrounded.
Akan tetapi, bagi pecinta A380, belakangan memang telah beredar kabar bahwa pesawat komersial terbesar milik maskapai Jepang, All Nippon Airways (ANA) sempat kembali mengudara. Situs FlightRadar24.com membuktikannya.
Simple Flying melaporkan, pesawat dengan nomor registrasi JA382A itu tertangkap radar sempat kembali mengudara dengan membentuk persegi panjang tak sempurna dari rute yang dilalui. Pesawat diketahui lepas landas dari Bandara Internasional Tokyo Narita pukul 13:40 waktu setempat tanpa penumpang serta kargo dan mendarat 26 menit kemudian.
Sayangnya, pesawat yang terakhir kali terbang 89 hari yang lalu itu terbang bukan untuk menjalani misi komersial dari maskapai, melainkan menjalani misi pemeliharaan. Meskipun tidak terbang, pesawat memang tetap harus melakukan penerbangan tanpa penumpang dan kargo untuk menjaga performa beberapa komponen pesawat, seperti landing gear, mesin, panel kokpit, dan lain sebagainya.
Sebetulnya, tanpa harus terbang sekalipun maskapai bisa menguji beberapa komponen pesawat semacam landing gear dan mesin tanpa harus terbang, seperti yang dilakukan oleh Qantas terhadap beberapa armadanya. Namun, fasilitas yang belum mumpuni membuat ANA terpaksa menerbangkan A380nya untuk pemeliharaan.
Baca juga: Mei 2019, ANA Hadirkan Airbus A380 dengan Motif Unik Kura-Kura
Sejauh ini, ANA diketahui memiliki tiga pesawat A380. Seharusnya, armada A380 keempat sudah mulai bergabung tahun ini. Namun, wabah virus corona membuatnya tertunda setidaknya hingga beberapa tahun ke depan. Jangankan menambah armada pesawat terbesar itu, pesawat (A380) yang ada saja sudah sejak 25 Maret lalu digrounded tanpa kejelasan waktu kapan akan kembali melayani penerbangan komersial.
Di antara maskapai yang mengoperasikan A380, seperti Emirates, Qatar, British Airways, dan Lufthansa, ANA merupakan satu-satunya maskapai komersial berjadwal yang ‘memoles’ pesawat dengan livery yang indah berupa kura-kura berwarna hijau, oranye, dan biru. Sebetulnya Hi Fly juga melakukan hal serupa. Perusahaan penerbangan asal Portugal itu menyuguhkan livery A380 berupa terumbu karang, lengkap dengan ornamen lainnya. Namun, mereka adalah maskapai penerbangan carter, bukan maskapai penerbangan berjadwal seperti ANA.
Teknologi merubah segalanya. Tak terkecuali dengan Kendaraan Udara Tak Berawak (UAV) atau Remotely Piloted Aerial Systems (RPAs) atau biasa juga disebut drone. Bila semua videografer dan fotografer hanya membuat video dan foto via kamera DSLR, Go Pro, mirrorless, kini mereka juga dituntut untuk dapat melakukannya dengan drone sebagai keahlian tambahan.
Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone
Selain itu, dari sisi bisnis, drone juga mulai digunakan di berbagai sektor, mulai dari memetakan jalan, mengantar paket dan manusia, membuat seni UAV atau hiasan di langit, mencari orang hilang di lokasi terpencil atau lokasi bencana, dan segudang kegunaan lainnya.
Namun, sebelum sampai pada level itu, seseorang terlebih dahulu harus mengetahui syarat dan cara menerbangkan drone agar lebih aman dan bermanfaat. Menerbangkan drone mungkin jadi suatu hal mudah tetapi menerbangkannya dengan aman tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Dilansir dari digit.in, untuk menjadi pilot drone, setidaknya butuh keterampilan, kualifikasi, dan pendidikan (dasar) demi tercapainya tujuan keamanan. Syarat menjadi pilot drone sendiri berbeda-beda di setiap negara.
Di Indonesia, menurut Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan setidaknya ada lima syarat menjadi pilot drone, mulai dari berusia minimal 17 tahun, WNI, mampu membaca, menulis, berbicara serta memahami Bahasa Inggris, sehat jasmani dan rohani, serta menguasai teori menerbangkan drone pilot. Setidaknya, lima itulah syarat awal untuk mengikuti sertifikasi kementerian perhubungan.
Di luar itu, syarat tak resmi menjadi pilot drone ada beberapa tambahan lainnya, seperti mampu mengoperasikan drone dengan baik sesuai SOP, menguasai cara menggunakan aplikasi software untuk pengoperasian drone, memiliki minimal tujuh jam terbang menerbangkan drone, memiliki Sertifikat Drone, serta mengetahui peraturan pemerintah dalam menerbangkan drone.
Di beberapa negara, bahkan, standarisasi untuk menjadi pilot drone cukup ketat, seperti harus mampu menilai kondisi cuaca, kecepatan angin, dan hal-hal berbau mekanik lainnya. Tak hanya itu, pengetahuan tentang aerodinamika, kecakapan berkomunikasi dengan standar basic radio telephony serta manajemen perencanaan penerbangan bahkan juga harus dipahami sebagai syarat tak resmi menjadi pilot drone.
Terkait syarat tak resmi menjadi pilot drone, khususnya pada poin mengetahui peraturan pemerintah dalam menerbangkan drone, Kementerian Perhubungan memang telah mengaturnya. Izin menerbangkan drone sudah tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 90 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak.
Dalam UU No 1 Tahun 2009 terdapat larangan dan sanksi pidana yang melarang orang melakukan aktivitas lain yang mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan. Salah satu aktivitasnya adalah menerbangkan drone yang bisa terkena sanksi pidana penjara maksimal tiga tahun dan atau denda maksimal satu miliar.
Baca juga: Tiga Manfaat Drone di Bandara, Nomor Dua Taruhannya Nyawa
Di beberapa negara, bahkan, pasca mendapatkan sertifikat menjadi pilot drone, hal itu tak lantas membuat seseorang dapat menerbangkan drone. Drone terlebih dahulu harus didaftarkan menurut klasifikasi yang telah ditentukan, seperti drone nano (hingga 250 gram), drone mikro (250 gram – 2 kg), drone kecil (2 kg – 25 kg), drone menengah (25 kg – 150 kg) dan terakhir, drone besar (lebih dari 150 kg). Jadi, tak serta-merta membeli drone, ikut sertifikasi, dan menerbangkannya.
Agar mempermudah pemilik drone mengetahui tempat yang aman, pemerintah sudah membuat aplikasi OK Drone sebuah aplikasi pemetaan ruang udara untuk drone atau pesawat udara tanpa awak. Lewat aplikasi ini nantinya kita bisa tahu apakah lokasi boleh atau tidak sesuai peraturan pemerintah. Jadi bisa lebih aman dan tenang saat menerbangkan drone. Semoga aja aplikasinya bisa segera diunduh dan dipakai masyarakat umum.