Selain masker dan face shield, di masa pandemi Covid-19, termometer menjadi item atau barang yang wajib di bawa oleh masing-masing awak kabin. Hal ini karena mereka akan menggunakannya bukan kepada penumpang atau orang lain, akan tetapi pada diri mereka sendiri.
Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin PesawatKabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (24/6/2020), seperti awak kabin United Airlines yang wajib membawa termometer setiap kali mereka bertugas selain masker. Bahkan pihak maskapai sudah menghadirkan ribuan perangkat termometer pribadi untuk para anggota kru mereka.
Sehingga awak pesawat United Airlines bisa melakukan pengecekan suhu tubuh mereka dua kali sehari dalam upaya mengidentifikasi kemungkinan gejala Covid-19 sedini mungkin. Pada 30 Mei 2020 kemarin, lembaga regulator penerbangan sipil di AS (FAA) memberikan mandat agar operator penerbangan menerapkan persyaratan pemeriksaan kesehatan mandiri untuk awak kabin dan para pilot mereka.
Bahkan sejak awal Juni setiap awak kabin di seluruh Amerika Serikat telah mendapatkan mandat dari FAA yang memerintahkan mereka untuk melakukan pengecekan kesehatan pribadi tersebut. Panduan yang FAA berikan adalah menyarankan para awak kabin untuk mengukur suhu tubuh mereka sendiri, tetapi United Airlines telah menjadi lebih baik dan memastikan awak kabinnya tidak memiliki alasan untuk tidak dapat mengikuti panduan.
Meski para awak kabin ini sudah melakukan pengecekan tubuh secara mandiri sejak awal Juni, namun maskapai United memberikan persyaratan agar awak kabin membawa termometer pribadi dan berlaku pada Rabu (24/6/2020). Sebelum melapor untuk bertugas, awak kabin harus mengecek kesehatan tubuh mereka selama 48 jam terakhir.
Jika awak kabin merasa sakit ringan atau memiliki suhu tubuh lebih dari 37,7 derajat Celcius atau 100 derajat Fahrenheit, maka mereka harus tinggal di rumah dan melaporkan bahwa sedang sakit. Pada hari bertugas mereka juga perlu mengukur suhu tubuh mereka dua kali sehari dan jika merasa demam harus menghubungi manajer tugas dalam penerbangan mereka sesegera mungkin.
Baca juga: Ketimbang Lepas Masker, Pramugari Garuda Kenapa Tak Pakai Masker Transparan Saja?
Meskipun demikian, disarankan agar Petugas Penerbangan menyediakan termometer non-merkuri sendiri dari rumah siapa pun sedangkan bagi yang tidak bawa dan membutuhkan termometer oral pribadi dapat memperolehnya dari pangkalan berikut BOS, CLE, DEN, EWR, GUM, HNL, IAD, IAH, LAS, LAX , ORD, SFO.
Sebuah pesawat Airbus A320 milik Loong Airlines dengan nomor penerbangan 8528 harus mendarat darurat di Bandara Internasional Zhengzhou Xinzheng di ibukota Provinsi Henan, Cina Tengah. Return to base terpaksa dilakukan sang pilot karena seorang penumpang wanita berusia sekitar 29 tahun diduga mabuk dan mengamuk, serta berusaha memecahkan jendela pesawat di ketinggian 30 ribu kaki.
Baca juga: Gara-Gara Vodka, Penumpang Mabuk Hina Awak Kabin dengan Sebutan “Pedofil”
Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (15/6/2020), wanita bermarga Li tersebut diduga telah menghabiskan dua botol beralkohol tinggi sebelum naik pesawat karena tekanan emosional. Dia diduga mabuk untuk menenangkan diri dari masalah percintaannya setelah sang kekasih memutuskan hubungan.
Kaca pesawat yang retak di pukul Li (thesun.co.uk)
Dalam foto yang beredar, Li terlihat menangis dan dalam rekaman video seorang pramugari mencoba menghiburnya serta memindahkan ke kursi yang mulai memukul jendela pesawat sehingga menyebabkan keretakan di lapisan pertama. Karena adanya retakan pada kaca jendela, pilot mau tak mau harus mendarat darurat setelah lima jam terbang.
Setelah mendarat dengan aman, untungnya tidak ada yang terluka pada insiden yang terjadi pada 12 Juni 2020 itu. Namun sebuah foto yang beredar memperlihatkan jendela yang rusak dengan banyak celah.
Li saat mengamuk di pesawat(thesun.co.uk)
Tak lama pesawat mendarat, kemudian Li diamankan pihak kepolisian bandara dan mereka mengatakan, Li telah minum setengah liter alkohol yang terbuat dari biji-bijian di Cina yang dikenal sebagai baiju. Polisi menyebutkan, bahwa minuman keras ini mengandung alkohol hingga 60 persen.
“Li minum 500 ml Baijiu sebelum naik pesawat dari Xining ke kota pantai Yancheng di Provinsi Jiangsu di China Timur,” kata pihak kepolisian.
Baca juga: Diduga Mabuk, Polisi Tembaki Pesawat Air France A330
Atas insiden ini, Li ditahan pihak kepolisian Zhengzhou dengan tuduhan merusak transportasi umum. Tak hanya itu, ketika di periksa, kadar alkohol wanita ini di dalam darahnya 160 ml per 100 ml. Namun tidak jelas hukuman apa yang akan diterima oleh Li.
Bahkan tidak diketahui, apakah dia akan didenda karena kerusakan pada pesawat atau masuk dalam daftar hitam oleh otoritas penerbangan sipil Cina sebagai hukumannya.
Maskapai terbesar di Australia, Qantas, mengaku akan meng-grounded 100 pesawat hingga setahun ke depan dalam persiapan recovery menyambut era the new normal. Rencana tersebut adalah bagian dari strategi perusahaan setidaknya selama tiga tahun mendatang, dalam balutan konsep 3R; rightsizing, restrukturisasi, dan rekapitalisasi.
Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380
Selain menggrounded pesawat atau dua pertiga dari total armada, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut juga telah mem-PHK sebanyak 6 ribu karyawan. Bahkan, total 11 ribu karyawan lainnya juga dipastikan menunggu diliran PHK.
Dari berbagai kebijakan tersebut, perusahaan diharapkan dapat menghemat hingga sekitar $10,5 miliar atau sekitar Rp149 triliun (kurs 14.300). Adapun untuk menjalankan konsep 3R itu, Qantas butuh dana sekitar $700 juta atau Rp10 triliun (kurs 14.300).
“Beradaptasi dengan realitas baru ini berarti beberapa keputusan yang sangat menyakitkan. Kehilangan pekerjaan yang kami umumkan hari ini juga sedang kami hadapi. Begitu juga dengan fakta bahwa ribuan lebih dari orang-orang kita yang sedang menghadapi kenyataan pahit kehilangan pekerjaan atau karir mereka sampai waktu yang tak ditentukan,” kata CEO Qantas, Alan Joyce dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.
“Kami harus memposisikan diri selama beberapa tahun di mana pendapatan akan jauh lebih rendah (dibanding masa sebelum pandemi corona). Hal itu berarti menjadikan maskapai lebih kecil (dari segi ekspansi dan jumlah karyawan) dalam jangka pendek,” tambahnya.
Keputusan Qantas mem-PHK 6 ribu karyawan serta 11 ribu lainnya pun menuai protes dari Serikat Pekerja Transportasi Australia (ATWU). Mereka mengecam keputusan tersebut dan meminta pemerintah untuk turun tangan.
“Sebelum Qantas memangkas ribuan karyawan dan membawa lebih banyak pesawatnya ke pihak lessor, mereka harus melobi Pemerintah Federal agar memberikan dukungan finansial guna menghindari karyawan dari jurang PHK dan membantu perusahaan mempertahankan bisnis saat krisis seperti sekarang ini akibat wabah corona,” kata Sekretaris Jenderal ATWU, Michael Kaine.
Namun, tuntutan tersebut langsung dibantah Joyce. “Seperti yang telah kami lakukan sepanjang krisis ini, keputusan kami didasarkan pada fakta yang kami miliki sekarang dan jalan yang kami lihat di depan kami. Rencana tersebut memberi kami fleksibilitas dalam berbagai skenario, termasuk rebound lebih cepat atau pemulihan lebih lambat,” tegasnya.
Meskipun demikian, saat ini, Qantas dilaporkan masih berada pada posisi aman, mengingat stok uang tunai untuk operasional perusahaan masih mumpuni. Namun, perusahaan disebut tetap akan mencari pendaaan jangka pendek untuk memperkuat likuiditas perusahaan dengan berbagai cara.
Baca juga: Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang
“Grup Qantas memasuki krisis ini dalam posisi yang lebih baik daripada kebanyakan maskapai penerbangan dan kami memiliki beberapa prospek terbaik untuk pemulihan, terutama di pasar domestik, tetapi akan butuh bertahun-tahun sebelum penerbangan internasional kembali seperti semula,” ujar Alan Joyce.
Sebagai informasi, Australia memang dikenal sangat liberal dalam mencermati kondisi industri penerbangan dalam negeri. Alih-alih memberikan suntikan dana –sebagaimana negara lain- Australia justru memberikan kesempatan lebih ke pasar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Jadi, jangan heran bila terkait kondisi Qantas saat ini, yang notabene maskapai nasional, mereka belum juga sampai turun tangan, sekalipun mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk ATWU.
Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com telah tuntas mengungkap delapan inovasi interior untuk mencegah transmisi paparan corona di pesawat. Namun, tak berhenti sampai di situ, masih ada tujuh inovasi lainnya yang juga akan kami bahas.
Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih9. A Headrest with Adjustable BenefitsFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Reinhold Industries, perusahaan asal AS yang telah berpengalaman memproduksi headrest kursi pesawat selama 20 tahun, juga ikut mengeluarkan inovasi guna mencegah transmisi virus corona di kabin. Cara kerjanya mirip dengan produk lain, menyekat antar penumpang dengan swing headrest yang membatasi samping kanan dan kiri sejajar dengan kepala. Namun, karena tidak transparan, headrest ini berpotensi membuat pengidap claustrophobia atau fobia ruang sempit merasa tak nyaman.
10. PlanBay PanelsFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Produk besutan desainer interior pesawat asal Perancis, Florian Barjot, ini bisa dibilang serupa tapi tak sama dengan Isolate Screen, berupa sekat partisi yang memanfaatkan kursi kosong (konfigurasi tiga seat). Bedanya, mungkin terletak pada increased height between rows atau kaca partisi tambahan tepat di belakang kepala penumpang.
11. GlassafeScreen pelindung bisa dipasang di kursi yang sudah ada. Foto: Aviointeriors via thesun.co.uk
Sebuah perusahaan yang fokus memproduksi produk-produk interior pesawat dan kursi penumpang, Aviointeriors, meluncurkan desain sebuah kursi penumpang ‘anti’ corona. Cara kerjanya (dalam menghindari penumpang dari risiko terpapar corona) yakni dengan menambahkan semacam akrilik ke setiap kursi yang mengapit penumpang.
Desain yang disebut Glassafe tersebut diklaim mampu membatasi kontak langsung dengan penumpang yang disebelahnya (kiri dan kanan untuk kursi di bagian tengah). Selain itu, Aviointeriors juga meluncurkan inovasi kursi berbentuk ‘S’. Kursi tersebut mengubah posisi duduk kursi tengah dari semula menghadap ke depan menjadi menghadap ke belakang. Sejalan dengan Glassafe, poinnya, desain kursi berbentuk ‘S’ juga untuk menekan kemungkinan penumpang terpapar virus Cina dari penumpang di sebelahnya.
Baca juga: Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat12. Cocoon ConceptInovasi interior untuk menekan transmisi penyebaran corona di pesawat. Foto: aircraftinteriorsinternational.com
Seorang siswa di Florida Institute of Technology, Golnoosh Torkashvand, berhasil mengembangkan konsep desain interior Priva. Priva dinilai ampun untuk membatasi transmisi penyebaran virus corona agar tak meluas antar penumpang yang duduk berdampingan. Bentuknya nyaris menyerupai tabung yang menutupi sebagian tubuh bagian atas penumpang.
Menariknya, sekat partisi Priva dapat berubah warna sesuai permintaan. Begitupun juga dengan tingkat pencahayaannya. Tak lupa, inovator juga menyisipkan fitur yang dapat membuat sistem messenger antara pengguna di setiap kursi dengan pramugari.
13. A Barrier SolutionFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Vision Systems, sebuah perusahaan spesialis sistem naungan kokpit, telah mengadaptasi desainnya untuk menciptakan sekat penghalang yang ringan, kuat, dan transparan sebagai tameng mencegah transmisi virus corona antar penumpang. Produk dari perusahaan asal Amerika Serikat itu juga efektif memisahkan penumpang tanpa perlu mengosongkan kursi di pesawat.
14. The Travel SafeFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Safran Seats telah mengembangkan serangkaian produk yang dinamai Travel Safe. Produk ini setidaknya memiliki tiga tujuan,mulai dari memaksimalkan physical distancing tanpa mengosongkan kursi tengah, interaksi tanpa sentuhan, dan permukaan sekat partisi bebas virus. Selain itu, Safran Seats juga meluncurkan layanan Create with Safran Seats, sebuah terobosan layanan kreasi bersama. Layanan ini dirancang penumpang untuk merangsan, membayangkan, membuat, menilai, dan mencari solusi baru bersama untuk maskapai dalam waktu singkat.
Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang15. The Interspace Seat DesignFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Selain mengembangkan secara mandiri, Safran Seats bermitra dengan Interspace Lite untuk mengadaptasi teknologi kursi Interspace dalam mencegah transmisi virus corona antar penumpang pesawat. Cara kerjanya, sandaran kursi tengah pesawat dapat dengan mudah dikonfigurasi ulang dan menjadikannya sebagai sekat antar penumpang. Jadi, tak perlu memasang interior tambahan atau pun mencopotnya saat tak ingin digunakan, seperti produk dari perusahaan lain
Selain tersedia untuk kelas ekonomi, sebagaimana produk-produk sejenis yang telah disebutkan sebelumnya, Interspace Seat Design juga tersedia untuk kelas kursi ekonomi premium. Tentu saja dengan sedikit pengembangan agar membedakan dengan kelas ekonomi.
Berbagai inovasi dilakukan berbagai perusahaan global guna mencegah penyebaran virus corona di pesawat. Umumnya masih dengan cara konservatif –sekalipun tetap inovatif- seperti membuat sekat partisi di kursi dengan beragam bentuk hingga memutar kursi dengan menghadap ke belakang.
Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman
Meskipun demikian, tak sedikit inovasi dari berbagai perusahaan di dunia yang menembus batas-batas normal, seperti membuat sekat udara antar penumpang. Dikutip KabarPenumpang.com dari aircraftinteriorsinternational.com, untuk lebih lengkapnya, berikut daftar 15 inovasi interior guna mencegah paparan virus corona di pesawat.
1. HeadZoneFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Produk besutan Factorydesign bisa dibilang inovatif, bukan hanya untuk mencegah paparan corona antar penumpang, melainkan juga ramah lingkungan. Sebab, HeadZone terbuat dari kardus bekas daur ulang. Karena terbuat dari kardus, produk besutan perusahaan asal Inggris ini bisa dengan mudah dilipat dan dibongkar pasang di kursi. Menariknya, produk ini juga bisa dipasangi iklan. Jadi, sangat multifungsi guna menyokong pendapatan maskapai.
2. Isolate ScreenFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Tak hanya membuat HeadZone, Factorydesign juga membuat Isolate Screen. Isolate Screen berupa sekat termoplastik transparan. Selain itu, Isolatet Screen juga dilengkapi dengan armrest. Jadi bisa lebih nyaman. Hal itu dimungkinkan dengan memanfaatkan kursi tengah yang dikosongkan maskapai. Dengan begitu, upaya physical distancing bisa lebih maksimal.
3. Soft Cabin DividerFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Soft Cabin Divider berfungsi untuk menyekat udara antara satu row dengan row lainnya, bukan menyekat antar kursi penumpang, sebagaimana produk inovasi interior anti Covid-19. Selain itu, produk ini juga mengganggu pemandangan penumpang lain yang berada di belakang. Jadi, disebut kurang maksimal. Meskipun demikian, produk besutan Jamco America tetap memiliki beberapa kelebihan, seperti fleksibel dan mudah dipasang mengikuti lekukan kursi.
4. Disposable Seat CoversFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Disposable Seat Covers mungkin salah satu produk paling boros. Sebab, produk sejenis sarung jok besutan AviationRFI ini memang didesain hanya untuk sekali pakai. Namun, esensinya tetap sama dengan produk inovatif lainnya, mencegah paparan corona di pesawat, khususnya partikel corona yang tertinggal di kursi pesawat. Produk ini terbuat dari kain PPE berstandar medis, jadi dapat di daur ulang.
5. Glass ShieldsFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Perusahaan asal Belanda, Aviation Glass, merilis produk AeroGlassShield untuk mencegah paparan virus corona antar penumpang dengan sekat kaca transparan. Produk ini diklaim sudah melewati sertifikasi badan keamanan dan keselamatan penerbangan Eropa atau EASA. AeroGlassShield disebut tahan gores, tahan api, dan mudah dibersihkan, serta bobotnya lebih ringan daripada plexiglass.
6. Removable Divider SystemFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Removable Divider System (RDS) Shield keluaran Aerofoam Industries secara prinsip nyaris sama dengan produk lainnya, berupa sekat partisi transparan yang mudah dibersihkan. Produk ini juga mudah dibongkar pasang serta disesuaikan dengan kebutuhan. Kelebihannya, mungkin terletak pada cup holders and recessed stowage sebagai fitur tambahan untuk penumpang. Selebihnya, sama saja.
Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan7. Passenger Protection ScreensFoto: aircraftinteriorsinternational.com
Autostop Aviation biasanya hanya memproduksi sarung jok, namun belakangan perusahan asal Serbia itu diminta untuk membuat sekat partisi transparan oleh maskapai penerbangan di negara tersebut. Produk ini dikabarkan telah melewati sertifikasi dari EASA.
8. Invisibel AirShieldInvisible AirShield yang diklaim mampu mencegah penyebaran virus corona di kabin pesawat. Foto: CNN International
Invisible AirShield berfungsi untuk melindungi penumpang yang satu dari penumpang lainnya melalui sekat udara –layaknya sekat partisi pada produk dari perusahaan lainnya- serta meningkatkan aliran udara dan membantu menekan penyebaran kuman di dalam kabin. Produk besutan perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Teague, ini ditempel di overhead cabin dan menyemburkan udara yang mengurung penumpang, sehingga transmisi partikel antar penumpang bisa terisolir.
Penyebab pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 yang jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah akhirnya terungkap.
Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!
Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan membeberkan, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol mengenai Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari CNN International dan The Telegraph, sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.
Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.
Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.
Catatan The Telegraph, aturan sterile cockpit rule mulai digaungkan oleh Amerika Serikat (AS) sebagai respon atas jatuhnya pesawat Eastern Airlines 212 pada tahun 1974. Pesawat tersebut jatuh di runway Bandara International Charlotte Douglas di tengah terjangan kabut tebal yang membatasi visibilitas. 72 nyawa dilaporkan tewas karenanya.
Meskipun visibilitas buruk akibat kabut tebal, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS menyimpulkan kecelakaan terjadi akibat pilot lack of altitude awareness atau pilot kurang peka terhadap ketinggian pesawat di fase kritis -seperti menjelang pendaratan atau lepas landas- saat melakukan approach karena pilot ngobrol.
Pilot diketahui ngobrol berbagai hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan operasional penerbangan yang sedang mereka jalani dan pada akhirnya membuat fokus mereka terpecah sehingga berujung kecelakaan fatal. Setelah menjalani proses panjang, tujuh tahun kemudian barulah aturan sterile cockpit rule mulai diberlakukan.
Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350
Hanya saja, seiring berjalannya waktu, regulator penerbangan sipil AS (FAA) menyebut pemahaman sterile cockpit rule yang kurang menyeluruh pada akhirnya hanya mengakibatkan kebingungan oleh awak kabin. Hal ini justru lebih membahayakan dibanding pelanggaran terkait sterile cockpit rule itu sendiri. Di beberapa kasus, awak kabin dilaporkan tak berani berkomunikasi dengan awak kokpit akibat dibayang-bayangi aturan ini.
Oleh karenanya, berbagai maskapai pun menspesifikasi turunan dari aturan sterile cockpit rule. Japan Airlines, misalnya, mengatur bahwa awak kabin boleh melanggar aturan tersebut (menghubungi pilot dan kopilot) saat terjadi kebakaran, asap di kabin, abnormality atau hal-hal tidak biasa pada pesawat selama lepas landas ataupun mendarat, adanya kebisingan dan getarangan tidak normal, serta terjadinya kebocoran bahan bakar atau kebocoran lainnya.
Airbus dan Boeing sudah lama menjadi duopoli produsen pesawat komersial di dunia. Boeing mungkin jauh lebih berpengalaman dibanding Airbus. Namun, berkat kombinasi pengetahuan Aerospatiale (Perancis), Deutsche Aerospace (Jerman), dan CASA (Spanyol) pada tahun 1971, Airbus dianggap mampu merusak hegemoni Boeing kala itu.
Baca juga: Kendati Ditimpa Sejumlah Masalah, Mengapa Boeing dan Airbus Tak Kunjung Lengser?
Meskipun Airbus sudah berusaha menyaingi Boeing sejak pesawat pertama, A300, diproduksi pada 1972, namun, genderang perang duopoli Airbus dan Boeing baru dimulai sejak 1997, saat McDonnell Douglas dicaplok Boeing. Dengan kekuatan politik, investasi, dan pengetahuan yang dimiliki, praktis tak ada perusahaan dirgantara manapun yang mampu menyaingi keduanya hingga hari ini.
Kekuatan Airbus dan Boeing, saat ini, mungkin sekilas terlihat sama. Sama-sama memiliki modal besar, dukungan politik, dan pengembangan luar biasa. Tetapi, bila dikerucutkan menjadi empat hal, salah satu dari kedua itu mungkin bisa dibilang sedikit lebih baik. Dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying, berikut rangkuman empat head to head Boeing vs Airbus.
1. Pasar Narrowbody
Pangsa pasar narrowbody, Boeing jelas disebut merajai sektor ini, baik dari segi penjualan maupun hegemoni di pasar. Hal itu mungkin bisa disebut wajar, mengingat, Boeing 737 -lambang kesuksesan narrowbody Boeing- sudah menjalani first flight pada 1967 atau 20 tahun sebelum A320 menjalani first flight. Jadi, pada pertempuran Boeing 737 vs A320dimenangi Boeing.
Namun, seiring perkembangan teknologi dan kemampuan produsen dalam melihat peluang ke depan serta arah keinginan maskapai –termasuk di dalamnya kecenderungan penumpang untuk bepergian- membuat peta persaingan di pangsa pasar narrowbody menjadi lebih seru.
Airbus bisa dibilang lebih unggul di masa mendatang. Lihat saja, setelah lebih dari satu tahun digrounded, sampai saat ini, Boeing 737 MAX masih belum juga menemukan titik terang. Selalu saja ada masalah dalam proses comeback-nya. Bahkan, dengan kehadiran A321XLR, pengembangan dari A32 neo dan LR, serta di saat yang bersamaan 737 MAX masih tak kunjung terbang, tak berlebihan bila memprediksi Airbus akan memimpin pasar ini di masa mendatang. Terbukti, dari segi penjualan, tahun lalu, Airbus berhasil melampaui Boeing.
2. Pasar Widebody
Pasar widebody mungkin lebih ketat dibanding narrowbody. Sebab, di sini salip-salipan teknologi terbaru membuat pesawat dari keduanya saling mengalahkan. Head to head di pasar ini setidaknya ada tiga, Boeing 787 vs Airbus A330, Boeing 777 vs Airbus A350, dan Boeing 747 vs Airbus A380.
A330 mungkin lebih kuno dibanding 787. Namun, ketika A330neo diproduksi –harga lebih murah dan performa lebih oke- Airbus sempat diunggulkan. Tetapi, fakta penjualan berkata lain, A330neo belum bisa menyalip 787 Dreamliner.
Pertempuran Boeing 777 vs Airbus A350 mungkin kebalikan dari Boeing 787 vs Airbus A330. Dihadapan A350, Boeing 777 sepertinya ketinggalan jauh dari segi teknologi dan daya tarik ke maskapai.
Namun, dengan kehadiran 777X, A350 XWB sekalipun diprediksi akan sedikit tertinggal. Begitu juga pada pertempuran kelas jumbo Boeing 747 vs Airbus A380. Berbicara fakta saat ini, dimana A380 tidak lagi diproduksi mulai tahun depan dan sebaliknya Boeing 747 masih terus diproduksi untuk penerbangan kargo, semua pasti setuju 747 lebih unggul dibanding A380.
Akan tetapi, A380, seperti kata banyak pecinta aviasi, adalah pesawat fenomenal yang diproduksi pada waktu yang kurang tepat. Bayangkan, bila A380 diproduksi bersamaan dengan 747, mungkin hasil akhirnya akan berbeda.
Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat3. Angkutan Kargo
Angkutan kargo mungkin bisa dibilang dikuasai Boeing, dengan sedikit tempat untuk Airbus. Boeing memproduksi beberapa varian pesawat kargo, seperti Boeing 767, 747-8F, dan 777F. Sedangkan Airbus hanya memproduksi A330F. Dari segi penjualan, Airbus jauh berada di belakang Boeing dan perlu waktu lama untuk mengejar ketertinggalan.
4. Penjualan dan Pengiriman
Di tahun 2019, Boeing mencatat pengiriman pesawat sebanyak 19.913 unit. Sedangkan Airbus hanya 12.626 unit. Jauh tertinggal, bukan? Namun, dari segi pesanan atau backlog, Airbus masih memiliki backlog sebanyak 7.621 pesawat dan hanya 4.744. Bila sudah begini, kami menyimpulkan, tak ada pemenang di antara keduanya. Yang ada ialah pesawat terbaru dari keduanya saling mengalahkan. Begitu Airbus mengeluarkan pesawat generasi terbaru, baik di narrowbody atau widebody, praktis pesawat sejenis dari Boeing akan tertinggal. Demikian pula sebaliknya.
Masa pandemi Covid-19 membuat pemerintah DKI Jakarta dan beberapa kota lainnya mengambil sikap untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal ini membuat para pengemudi ojek online (ojol) dari dua perusahaan ride hailing GoJek dan Grab tak lagi mengangkut penumpang selama hampir tiga bulan.
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi
Meski begitu dua perusahaan besar ride hailing ini menghasilkan untung dari beberapa fiturnya seperti makanan dan pengantaran barang. Namun ternyata dua perusahaan decacorn ini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ratusan karyawan mereka. CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan melalui pesan kepada karyawannya, mengatakan langkah ini terpaksa diambil sebagai langkah menavigasi bisnis Grab dalam menghadapi krisis kesehatan global.
“Kami mengerti berita ini akan menimbulkan kecemasan pada diri Anda tetapi perlu diketahui bahwa keputusan ini bukan merupakan keputusan yang mudah. Kami telah mencoba segala kemungkinan untuk menghindari hal ini terjadi tetapi kami harus menerima kenyataan bahwa keputusan hari ini kami ambil demi jutaan mata pencaharian orang yang bergantung pada kita di masa ‘new normal’,” tulis Anthony dalam pesannya, Selasa (16/06/2020) yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com.
Kemudian GoJek mengikuti jejak Grab yang melakukan PHK pada 430 karyawan atau sembilan persen dari total karyawannya. Para pekerja yang di PHK sebagian besar merupakan karyawan di divisi GoLife dan GoFood Festival.
Karena dua layanan tersebut distop lantaran dinilai tak relevan dengan kebiasaan baru masyarakat. Aplikasi GoLife sendiri akan mulai berhenti beroperasi pada 27 Juli dan GoFood Festival belum jelas kapan akan dihentikan.
“Perjalanan menjadi semakin sulit karena kami harus berpisah dengan 430 karyawan. Lalu juga adanya penutupan GoLife dan GoFood Festival, bisnis yang memiliki peran penting dalam sejarah GoJek,” kata Co-CEO Gojek Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi dalam pernyataan resminya.
Selain karyawan GoJek, yang terdampak keputusan ini adalah para mitra GoLife, yang mencakup mitra GoMassage dan GoClean. Para mitra merchant di GoFood Festival juga akan terdampak langsung keputusan ini.
Sementara mitra driver ojek online (ojol) Gojek tidak terdampak secara langsung akibat keputusan ini. Sebab, GojJk masih akan fokus pada tiga bisnis inti, yakni transportasi (GoRide), layanan pesan antar makanan (GoFood), dan uang elektronik (GoPay).
“Di samping juga layanan yang menunjukkan hasil pertumbuhan yang menjanjikan di tengah pandemi seperti bisnis logistik, yang tumbuh 80 persen sejak awal pandemi atau layanan belanja kebutuhan sehari-hari (grocery) yang telah naik dua kali lipat,” kata pihak Gojek.
Bagi mitra GoClean dan GoMassage yang terdampak langsung keputusan ini, GoJek telah menyiapkan program khusus, yakni Program Solidaritas Mitra Covid-19. Program tersebut adalah peningkatan ketrampilan melalui pelatihan online dengan tujuan bisa menjadi bekal para mitra terdampak.
Sementara bagi karyawan GoJek yang di-PHK, Gojek menyiapkan beberapa benefit, mulai dari pesangon yang disebut di atas standar yang ditetapkan pemerintah dan perpanjangan asuransi kesehatan hingga 31 Desember 2020. Karyawan juga diperkenankan memiliki laptop yang diberikan perusahaan saat masuk bekerja untuk mencari peluang baru.
“Kami tahu bahwa apa pun yang kami lakukan mungkin tidak cukup untuk mengurangi kekecewaan kalian, namun kami berupaya yang terbaik untuk dapat mendukung kalian,” kata Andre.
Baca juga: Meski Jauh dari Kesepakatan, GoJek dan Grab Diskusikan Potensi Merger
Hal senada juga diucapkan Kevin kepada karyawan dan mitra yang terdampak keputusan ini.
“Secara pribadi, saya ingin meminta maaf untuk keputusan yang harus kita ambil. Kami sangat berterima kasih bahwa kalian telah memberikan kontribusi berarti bagi kesuksesan GoJek selama bertahun-tahun,” ucapnya.
Bagi mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, sudah barang tentu mereka akrab dengan boarding pass, handling luggage, overhead baggage, safety induction, garbarata, hingga emergency exit door.
Baca juga: Pernah Baca “Remove Before Flight” Sebagai Standar Keamanan Penerbangan? Jika Belum, Simak di Sini
Sebaliknya, sekalipun mereka sering bepergian naik pesawat, belum tentu Anda pernah mendengar salah satu fitur ‘terlarang’ di pesawat; evacuation slide. Dibilang terlarang, biasanya evacuation slide bekerja hanya untuk keadaan darurat atau emergency. Maka dari itu, sudah pasti, tak banyak penumpang yang sempat merasakannya.
Dikutip KabarPenumpang.com dari airspacemag.com, cara kerja fitur ini bisa dibilang mudah, begitu juga saat mengaktifkan dan menggunakannya. Hal itu –mudah mengoperasikan- sepertinya sudah menjadi sebuah kewajiban mengingat fitur tersebut dipersiapkan memang untuk keadaan darurat.
Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) sendiri, sudah sejak 1960-an mengatur agar evacuation slide siap digunakan setelah 25 detik dalam keadaan normal. Seiring perkembangan teknologi, saat ini, rekomendasi dari berbagai regulator penerbangan sipil dunia, evacuation slide sudah harus siap digunakan dalam hitungan enam detik.
Mula-mula, saat terjadi keadaan darurat, awak kabin akan memutar tuas slide posisi armed. Letaknya ada di pintu pesawat. Setelah itu pintu dibuka dan evacuation slide siap digunakan. Biasanya –sebagaimana rekomendasi FAA- evacuation slide akan siap digunakan setelah enam detik. Penumpang cukup menjatuhkan diri ke evacuation slide dengan posisi berbaring menghadap ke langit untuk membantunya meluncur ke permukaan.
Evacuation slide dapat mengembang berkat boosting dari tabung karbon dioksida dan nitrogen terkompresi. Kedua tabung tersebut hanya menyediakan sekitar sepertiga volume yang dibutuhkan untuk mengembang evacuation slide adapun sisanya disuplai oleh udara di sekitar yang disalurkan ke slide melalui aspirator.
Prosedur evakuasinya pun juga tak kalah cepat dengan prosuder mengaktifkan fitur tersebut. Peraturan penerbangan mewajibkan, setidaknya pesawat dengan kategori kapasitas di atas 44 kursi harus mampu mengeluarkan seluruh penumpang dan awak pesawat dalam tempo 90 detik. Tak terkecuali pesawat superjumbo seperti A380 sekalipun, yang notabene pada konfigurasi full kelas ekonomi bisa mengangkut hingga 800 penumpang. Semuanya harus bisa dievakuasi dalam tempo 90 detik.
Hanya saja, karena jumlah penumpangnya lebih banyak dibanding pesawat lainnya, tentu cara kerja evacuation slide mengembang dan siap digunakan berbeda. Salah satu produsen evacuation slide dari Amerika Serikat (AS), Goodrich, punya teknologi khusus untuk itu.
Di pabrik Phoenix, Arizona, Goodrich memproduksi evacuation slide khusus untuk A380. Di setiap pesawat, setidaknya ada 16 evacuation slide yang siap melayani 800 orang lebih, terdiri dari penumpang dan awak pesawat. Masing-masing evacuation slide didesain untuk mampu melayani 70 penumpang dengan berbagai varian berat badan dalam satu menit.
Bila A380 menyediakan 12 slide, berarti dalam satu menit, slide mampu melayani 1120 penumpang. Dalam tempo 90 detik, 16 evacuation slide harusnya sudah lebih dari cukup untuk mengeluarkan mereka. Jadi, kemampuan evacuation slide jauh di atas jumlah penumpang itu sendiri.
Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya
Guna membuat evacuation slide A380 bisa difungsikan setelah enam detik, Goodrich mengembangkan inflator menggunakan generator gas seukuran kaleng soda. Meskipun ukurannya kecil, volume gas yang dihasilkan ke evacuation slide justru lebih banyak dibanding generator biasa. Sudah begitu, generator khusus tersebut juga ringan.
Dari segi bahan, evacuation slide bisa pada umumnya didesain untuk tahan api, sekalipun hanya bertahan selama 90 detik. Itu sebabnyak proses evakuasi harus selesai dalam tempo 90 detik, mengingat ketahanan evacuation slide terhadap api hanya bisa bertahan selama itu. Sebetulnya, bahan evacuation slide itu sendiri terbuat dari nilon berlapis urethane. Namun, cat khusus yang disemprotkan membuatnya tahan api. Selain itu evacuation slide juga dirancang tahan sobek.
SpaceX, Virgin Galactic, dan Blue Origin serta tentu saja, NASA pasti sudah lumrah dikenal sebagai perusahaan dan lembaga antariksa yang bisa mengantarkan siapapun yang berminat dan berduit untuk pergi berwisata ke luar angkasa.
Baca juga: Pratiwi Pujilestari Sudarmono – Calon Astronot Pertama Indonesia yang Terpaksa Mengubur Asanya Ke Luar Angkasa
Wisata ke luar angkasa atau wisata antariksa sejak 2011 lalu memang mulai banyak digandrungi masyarakat dunia. Kala itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika atau biasa dikenal dengan sebutan NASA sering mengirimkan orang sipil ke luar angkasa dalam rangka penelitian.
Hal itu pun kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha untuk menjadikannya sebagai bisnis. Namun, sayang beribu sayang, biayanya bukan main. NASA misalnya, mematok harga mencapai Rp711 miliar untuk mengakomodir wisata antariksa.
Tetapi, belum lama ini, sebuar startup asal Amerika Serikat (AS), Space Perspective menawarkan alternatif lain bagi Anda yang ingin menjajal wisata antariksa tanpa merogoh kocek sebanyak Rp711 miliar, sebagaimana tarif yang dipatok NASA. Lewat sebuah ‘balon udara’ bernama Spaceship Neptune, wisata antariksa ala Space Perspective hanya dipatok sebesar US$125 ribu atau setara dengan Rp1,7 miliar (kurs USD 1 = Rp14.247). Jauh lebih murah, bukan?
Pertanyaan yang mungkin terbesit ketika pertama kali mendengar wisata antariksa dengan balon udara, mungkin, apakah balon udara tersebut benar-benar bisa mengantarkan penumpang ke luar angkasa?
Dari segi keamanan, pesawat ruang angkasa atau ‘balon udara’ Neptune dikembangkan secara detail dari ujung bawah ke ujung atas dengan tujuan keselamatan, aksesibilitas, mendekati nol emisi, dan operasional rutin di seluruh dunia. Balon udara itu tentu saja juga bertekanan, nyaman, dan luas. Selain itu, perusahaan ini juga telah menyelesaikan riset pasar internasional yang luas dan desain baru yang dibuat berdasarkan ramuan 50 tahun teknologi terkait luar angkasa.
Akan tetapi, untuk benar-benar membawa penumpang sampai ke luar angkasa, Spaceship Neptune belum teruji ketangguhan dan keamanannya. Rencananya, Space Perspective baru akan meluncurkan Neptune dari falisitas peluncuran di Kennedy Space Center (KSC), NASA di Florida. Percobaan penerbangan tanpa awak direncanakan akan dilakukan pada awal 2021 yang akan mencakup serangkaian muatan penelitian. Dari situlah kemudian bisa ketahui, apakah ‘balon udara’ Spaceship Neptune bisa benar-benar mengantarkan penumpang atau tidak.
Neptune diterbangkan oleh seorang pilot dan dapat membawa hingga delapan penumpang dalam perjalanan enam jam ke tepi ruang angkasa. Balon udara Neptune akan mengantarkan mereka mencapai level 99 persen atmosfer bumi yakni hingga 100 ribu kaki atau sekitar 30 kilometer, batas antara stratosfer dengan mesosfer.
Jadi, hanya mencapai tepi luar angkasa, tak benar-benar sampai pada level orbit, yakni mulai di ketinggian 122 km. Itu juga sebabnya, wisata luar angkasa ala NASA bisa jauh lebih mahal karena bisa mengantarkan penumpang mencapai ketinggian 408 km.
Baca juga: Sebuah Perusahaan Teknologi Tengah Kembangkan Hotel di Luar Angkasa!
Neptune akan melakukan penjelajahan selama dua jam yang memungkinkan penumpang untuk berbagi pengalaman melalui media sosial. Neptune kemudian turun kembali ke bumi juga dalam waktu dua jam dan mendarat di lautan. Setelah itu, perusahaan akan mengerahkan sebuah kapal untuk menjemput penumpang dan ‘balon udara’.
“Kami berkomitmen untuk secara mendasar mengubah cara orang memiliki akses ke luar angkasa, baik untuk melakukan penelitian yang dibutuhkan untuk memberi manfaat bagi kehidupan di Bumi dan untuk mempengaruhi cara memandang dan terhubung dengan planet kini,” ujar Pendiri dan Co-CEO Space Perspective, Jane Poynter dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari New Atlas, Rabu (24/6).