Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

Rusia mulai kembali mengembangkan kereta api berkecepatan tinggi yang nantinya akan menghubungkan kota-kota besar di negara tersebut. Kereta ini digadang-gadang akan mampu melaju dengan kecepatan hingga 400 km per jam. Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator Untuk mengembangkan kereta berkecepatan tinggi ini, pihak Russian Railways, Pusat Teknik untuk Transportasi Kereta Api dan Knorr-Bremse membentuk kemitraan. Kemitraan ketiganya ini diumumkan pada 25 Juni 2020 yang akan mencakup penyediaan jasa teknik, konsultasi, desain, pengembangan dokumentasi operasional dan perbaikan untuk rolling stok berkecepatan tinggi. Diketahui, pembuatan kereta api berkecepatan tinggi ini akan di produksi di Rusia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (25/6/2020), pusat inovasi rekayasa rolling stock ECRT sendiri baru didirikan pada tahun lalu oleh RZD, Sinara transport dan Siemens Mobility. Tujuannya adalah untuk mengembangkan trainset yang akan mampu melaju dengan kecepatan tinggi hingga 400 km per jam. Dengan adanya kemitraan ini diperkirakan kereta berkecepatan sangat tinggi pertama akan mulai beroperasi pada tahun 2026 mendatang. Dalam pembuatan kereta berkecepatan tinggi tersebut, Knorr-Bremse akan menghadirkan pengalaman mereka tentang subsistem rolling stock untuk membantu menentukan spesifikasi teknis untuk trainset masa depan. Diketahui Knorr-Bremse memasok subsistem untuk 16 traps Sapsan dari Siemens Mobility Velaro yang saat ini mengoperasikan layanan dari Moskow ke St Pertsburg dan Nizhny Novgorod dengan kecepatan hingga 250 km per jam dan 13 trainset lainnya tengah dalam pemesanan. “Kami berharap dapat membantu membuat konsep kereta Rusia berkecepatan sangat tinggi di masa depan, sehingga membantu menyediakan koneksi kereta yang lebih baik kepada orang-orang,” kata Harald Schneider, anggota dewan manajemen Sistem Kendaraan Knorr-Bremse Rail yang bertanggung jawab untuk kegiatan di CIS. Dalam jangka panjang, Schneider mengatakan, pihaknya juga akan bekerja dengan mitra kami untuk mengkomersilkan generasi berikutnya ini dengan menempatkannya untuk area ukuran rel 1520 mm. Baca juga: Hilangkan Kursi Tengah di Kereta Berkecepatan Tinggi, Texas Train Berharap Beroperasi di 2026 Sergey Kobzev, Wakil Direktur Umum & Kepala Insinyur Kereta Api Rusia, mengatakan RZD dan Knorr-Bremse telah berhasil bekerja sama selama bertahun-tahun, dan penandatanganan perjanjian ini tidak diragukan lagi akan berkontribusi pada pengembangan layanan kereta cepat di Federasi Rusia.

10 Meninggal dan 500 Karyawan Delta Airlines Terinfeksi Covid-19

Sepuluh orang karyawan Delta Airlines dilaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi virus Corona (Covid-19) dan ratusan lainnya positif. Ini dikatakan oleh Kepala Eksekutif Delta Ed Bastian. Dia mengatakan 500 karyawan Delta terinfeksi dan sebagian besarnya sudah kembali pulih. Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara “Sebagian besar pulih tetapi kami kehilangan sepuluh karyawan karena penyakit ini. Kami baru-baru ini mengumumkan bahwa akan menguji karyawan kami lagi. Bahkan mulai minggu ini di Minneapolis untuk kedua serologi darah apakah mereka sudah terkena penyakit dan memililki antibodi, serta tes aktif untuk melihat apakah mereka memang membawa virus. Dan tes itu dipimpin oleh Mayo Clinic,” kata Bastian. Dikutip KabarPenumpang.com dari newsweek.com (24/6/2020), Bastian menyebutkan, Delta bekerja sama dengan Quest Diagnostics di mana mereka akan menguji 90 ribu karyawannya. Sehingga jika mendapatkan data yang bagus mereka akan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi semua karyawan Delta. Namun, 500 karyawan Delta yang terinfeksi ini tidak disebutkan apakah mereka staf biasa, awak pesawat ataupun staf darat mereka serta di penerbangan mana mereka beroperasi. Sebab mayoritas karyawan Delta dilaporkan adalah awak kabin, pilot dan petugas bandara. Sedangkan kurang dari sepuluh ribu orang adalah staf administrasi yang sebagian besar bekerja dari rumah. “Mengingat bahwa kami adalah bisnis layanan pelanggan garis depan, sebagian besar karyawan kami harus bekerja untuk menjalankan bisnis,” kata Bastian. Diketahui pada hari Senin, Delta mengumumkan akan mulai melanjutkan penerbangan mereka dari Amerika Serikat dan Cina. Maskapai akan mengoperasikan layanan antara Seattle dan Bandara Internasional Shanghai Pudong China melalui Bandara Internasional Incheon Korea Selatan dua kali seminggu sejak 25 Juni. Nantinya mulai Juli, Delta akan mengoperasikan penerbangan mingguan dari Seattle dan Detroit ke Shanghai yang juga akan melalui bandara Internasional Incheon di Korea Selatan. Bisa dikatakan, Delta saat ini menjadi penerbangan Amerika Serikat pertama yang mulai kembali dari Amerika Serikat ke Cina sejak penagguhan sementara penerbangan sejak bulan Februari setelah Covid-19. “Awal bulan ini, Delta mengumumkan akan menangguhkan penerbangan ke 11 bandara Amerika Serikat mulai 8 Juli sementara volume pelanggan berkurang secara signifikan. Bandara-bandara ini merupakan lima persen dari operasi domestik maskapai. Semua bandara ini akan terus menerima layanan dari setidaknya satu maskapai penerbangan lain setelah Delta menghentikan operasinya,” kata operator dalam sebuah pernyataan. Adapun 11 lokasi bandara termasuk Aspen di Colorado (ASE), Bangor di Maine (BGR), Erie, PA (ERI), Flint di Michigan (FNT), Fort Smith di Arkansas (FSM), Lincoln di Nebraska (LNK), New Bern / Morehead / Beaufort di North Carolina (EWN), Peoria di Illinois (PIA), Santa Barbara, California (SBA), Scranton / Wilkes-Barre, Pennsylvania (AVP) dan Williston di North Dakota (XWA). “Delta telah mengumumkan pengurangan 85 persen dalam jadwal kuartal kedua kami, yang meliputi pengurangan 80 persen dalam kapasitas domestik Amerika Serikat dan 90 persen internasional. Ini termasuk layanan ke Bandara Internasional Ottawa Kanada di provinsi Ontario yang ditangguhkan tanpa batas waktu dari 21 Juni,” kata pernyataan itu. Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat Bulan lalu, Delta juga mengumumkan penangguhan sementara operasi di bandara di lokasi dengan lebih dari satu bandara yang dilayani Delta untuk memungkinkan lebih banyak karyawan garis depan untuk meminimalkan risiko paparan Covid-19 sementara lalu lintas pelanggan rendah. “Delta akan terus memberikan layanan penting kepada masyarakat yang terkena dampak melalui bandara tetangga,” kata pernyataan itu.

IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya

Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) menyarankan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat. Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng! CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK. “Menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang tiba membuat sektor perjalanan dan pariwisata negara-negara di dunia anjlok. Untungnya, ada alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko kasus Covid-19 impor sambil tetap memungkinkan dimulainya kembali perjalanan dan pariwisata yang berkontribusi untuk memulai kembali perekonomian nasional,” jelasnya. “Kami telah mengusulkan sistem perlindungan baru untuk mencegah orang sakit atau dalam keadaan tak sehat bepergian dan mengurangi risiko penularan jika seorang wisatawan terpapar corona sesampainya di bandara (negara) tujuan,” tambahnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi IATA. Sistem perlindungan atau mekanisme baru bagi penumpang yang dimaksud IATA adalah, pertama, saat ini, hampir seluruh maskapai atau negara di dunia telah menerapkan kebijakan rapid test serta test PCR atau uji laboratorium kepada seluruh penumpang. Kebijakan rapid test dan atau PCR juga disarankan IATA agar wajib dilakukan di negara-negara dengan angka kasus corona yang masih tinggi. Dengan begitu, risiko penularan di bandara dan pesawat lebih minim. Bahkan, di beberapa negara seperti Hong Kong dan Dubai, seluruh penumpang internasional yang baru tiba dilakukan rapid test ulang, sekalipun mereka sudah mendapatkan sertifikat sehat berdasarkan hasil rapid test atau PCR di negara asal. Bila pun ada penumpang yang terinfeksi corona, ikut dalam penerbangan, dan baru terdeteksi di bandara atau negara tujuan, tingkat infeksi dari penumpang tersebut diklaim rendah dengan diterapkannya protokol kesehatan yang ketat. Kedua, sistem perlindungan atau mekanisme baru maskapai ialah mendorong penumpang untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, sarung tangan, physical distancing di bandara dan pesawat, face shield, hingga kontak tracing; termasuk di dalamnya inovasi teknologi dari berbagai perusahaan dunia yang disadur maskapai, seperti GermFalcon, inovasi interior pesawat, dan lain sebagainya. Selain itu, maskapai juga mendorong agar penumpang yang merasa kurang sehat agar tak memaksakan diri bepergian kecuali urusan sangat penting. Belum lagi kebijakan kenormalan baru atau new normal, seperti contactless service, berupa memberikan fleksibilitas kepada penumpang untuk melakukan reservasi, check-in, boarding, baggage handling, sampai layanan seluruh tenan restoran, imigrasi, sampai body check tanpa adanya kontak langsung. Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih “Memulai kembali perekonomian dengan aman adalah prioritas. Itu termasuk perjalanan dan pariwisata. Kebijakan karantina mungkin memainkan peran dalam menjaga orang tetap aman, tetapi mereka juga akan membuat banyak pengangguran. Alternatifnya adalah mengurangi risiko melalui serangkaian tindakan. Maskapai sudah menawarkan fleksibilitas sehingga mencegah calon penumpang untuk bepergian,” kata Juniac. “Sertifikat kesehatan, screening, dan pengujian oleh pemerintah akan menambah tingkat keamanan tambahan. Dan jika seseorang bepergian saat terinfeksi, kita dapat mengurangi risiko penularan dengan protokol untuk mencegah penyebaran selama perjalanan atau saat di tempat tujuan. Dan kontak tracing yang efektif dapat mengisolasi mereka yang paling berisiko,” tutupnya.

Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama

Sama seperti maskapai dunia lainnya, Cathay Pacific kini mulai kembali menerbangkan armada mereka untuk mengangkut penumpang. Dengan pesawat yang mereka miliki, Cathay kini membuka lebih banyak rute untuk menghubungkan dengan dunia. Baca juga: Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’ Cathay pada bulan Juli 2020 akan mulai meningkatkan konektivitas mereka ke Cina, Amerika Utara, Asia, Australia dan Eropa. Dilansir KabarPenumpang.com dari economyclassandbeyond.com (24/6/2020), berikut ini adalah jadwal penerbangan Cathay Pacific dari Hong Kong berbagai rute yang ditingkatkan. Cina dan Taiwan Tujuan Beijing, Shanghai dan Taipei (Taiwan) mulai 1-11 Juli akan ada tujuh penerbangan setiap minggunya dan 12-31 akan menjadi 14 penerbangan setiap minggu. Tujuan Chengdu, Fuzhou, Guangzhou dan Hangzhou akan ada tiga penerbangan setiap minggu mulai 12-31 Juli. Tujuan ke Xiamen akan mulai 12-31 Juli dengan empat penerbangan setiap minggunya. India dan Asia Tujuan ke Bangkok mulai 1-11 Juli akan ada lima penerbangan dan 12-31 Juli sebanyak tujuh penerbangan setiap minggu. Tujuan Delhi dan Mumbai akan ada tiga penerbangan setiap minggu. Tujuan Ho Chi Minh akan mulai penerbangan 1-11 Juli sebanyak dua penerbangan serta 12-31 Juli ada tiga penerbangan setiap minggunya. Tujuan Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura dan Tokyo pada 1-11 Juli akan ada tiga penerbangan dan 12-31 Juli sebanyak tujuh penerbangan setiap minggunya. Sedangkan ke Seoul akan mulai pada 12-31 Juli dengan tiga penerbangan setiap minggunya. Amerika Utara dan Amerika Serikat Los Angeles dan Vancouver akan ada lima penerbangan setiap minggu. New York, San Francisco dan Toronto akan ada tiga penerbangan setiap minggunya. Australia Untuk tujuan Melbourne akan mulai 1-11 Juli dengan dua penerbangan dan 12-31 Juli tiga penerbangan setiap minggunya. Sedangkan ke Sydney mulai 1-11 Juli akan ada empat penerbangan dan 12-31 Juli ada lima penerbangan setiap minggunya. Eropa Tujuan ke Amsterdam, Cathay akan mulai 1-11 Juli dengan dua penerbangan dan 12-31 ada tiga penerbangan setiap minggunya. Tujuan ke Franfurt akan mulai 12-31 Juli dengan tiga penerbangan setiap minggu. Tujuan London, Cathay akan terbang sebanyak lima kali setiap minggu. Meski begitu jadwal ini akan dapat berubah karena negara-negara tersebut tengah beradaptasi dengan pencegahan Covid-19 agar tidak meluas. Selain itu, para calon penumpang yang akan menggunakan penerbangan dari Cathay Pacific juga harus memastikan memiliki syarat yang lengkap sebelum ke negara tujuan karena akan berbeda dari sebelum Covid-19 menjadi pandemi seluruh dunia. Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada Bandara Hong Kong juga saat ini terbuka untuk melayani transit, tetapi ada pedoman ketat untuk transit di sana dan pelancong tidak akan dapat memasuki Hong Kong kecuali memenuhi persyaratan tempat tinggal.

Intip Restoran Anti Covid-19 di Turki, Pengunjung Tak Perlu Kenakan Masker!

Covid-19 memaksa masyarakat di dunia memulai era kenormalan baru atau New Normal. Pakai masker, hand sanitizer, cuci tangan, sarung tangan, hingga physical distancing mungkin menjadi beberapa hal baru yang mesti dibiasakan. Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing Demikian juga dengan dunia usaha, berbagai inovasi pun dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Di antara inovasi unik dunia usaha di berbagai dunia, restoran di Turki mungkin menjadi salah satu yang menarik. Restoran Turkce Meze, yang terletak di Sutluce, distrik Beyoğlu, Istanbul ini, alih-alih menawarkan jasa hanya take away atau tak menerima layanan makan di tempat, sebagaimana banyak restoran lainnya di dunia, justru membebaskan pelanggan datang dan makan minum di tempat. Bahkan, restoran juga membebaskan pelanggan untuk tak mengenakan masker. Hal itu dimungkinkan (untuk tak mengenakan masker) karena pihak pengelola restoran menghadirkan lapisan atau pembatas khusus yang menyerupai balon yang bisa ditiup. Di dalamnya kemudian dapat dijumpai meja dan kursi. Suasana pun tampak lebih eksklusif dan pastinya menjamin rasa aman dari Covid-19. “Klien kami terlindungi dan aman dari virus Corona,” ujar pemilik restoran Turkce Meze, Cevdet Aysas, sebagaimana dikutip dari Global Times.
Wujud restoran bebas Covid-19. Foto: Global Times
Aysas bercerita, ide untuk menciptakan sejumlah zona berbeda (zona private) di mana pengunjung dapat menikmati makanan tanpa perlu merasa takut virus tersebut datang setelah wabah Covid-19 menyerang Turki pada bulan Maret lalu. Saat ini, Aysas setidaknya telah membuat delapan zona private yang terbuat dari material polycarbonate menyerupai balon. Lebih lanjut, Aysas juga menegaskan, timnya pun rutin membersihkan area tersebut dengan generator ozone dan sinar ultraviolet. Agar lebih aman, pihak restoran Turkce Meze juga menyediakan hand sanitizers dan pembersih lainnya di tiap meja. Jadi selain menghadirkan jaminan keamanan dari Covid-19, pengunjung juga diberi cairan pembersih. Tak sampai situ, pihak pengelola restoran juga membatasi interaksi antara tamu dan pelayan dengan seminimal mungkin. Pengunjung pun bisa memanggil pelayan dengan menekan tombol yang tersedia, di mana nantinya pihak pelayan akan datang menggunakan masker, face shields and sarung tangan. Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih “Tamu kami diwajibkan memakai masker di lingkungan publik, tapi bebas di area dalam zona tersebut,” ujar Aysas. Lebih lagi, pengunjung restoran juga diwajibkan melakukan reservasi lebih dulu. Setiap kunjungan pun dibatasi sekitar tiga jam saja. Dengan berbagai peraturan tersebut, tak mengherankan bila restoran merasa yakin untuk mengizinkan pelanggan melepas masker. Hanya saja, aturan boleh melepas masker di restoran Turkce Meze hanya saat berada di dalam zona saja, di luar itu tetap harus pakai masker sekalipun masih di area restoran.

Tak Semua Kabin Pesawat Dilengkapi Filter HEPA, Apakah Aman dari Covid-19?

Belum lama ini Wings Air memberikan penjelasan terkait kinerja sirkulasi dan kualitas udara di dalam pesawat turboprop ATR-72. Pasalnya, menurut salah satu paper yang dikeluarkan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), tak semua pesawat dilengkapi filter High Efficiency Particulate Air (HEPA). Baca juga: Jadi ‘Kebanggaan’ Maskapai di Masa Pandemi, HEPA Ternyata Tidak Membuat Kabin Pesawat Bebas Corona! Padahal, di masa pandemi corona seperti sekarang ini, filter HEPA kerap menjadi andalan maskapai untuk meyakinkan penumpang bahwa penerbangan aman. Lantas, pesawat apa saja yang dilengkapi filter HEPA? IATA mungkin tak menyebutkan secara rinci. Dalam paper keluaran awal Januari 2018, IATA hanya menyebut bahwa hanya pesawat komersial modern dan besar yang memafaatkan filter HEPA sebagai resirkulasi sistem udara kabin. Sebaliknya, pesawat yang lebih tua disebut memiliki filter dengan tingkat efisiensi atau kemampuan menyerap partikel berukuran kecil cenderung rendah. Namun demikian, dari keterangan IATA, hampir dapat dipastikan bahwa ATR-72 tidak dilengkapi dengan filter HEPA. Hal itu pun juga telah diakui oleh Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro. Menurutnya, sistem kinerja sirkulasi udara di setiap pesawat berbeda-beda. ATR-72, misalnya, pesawat tersebut memang tak dilengkapi dengan filter HEPA, yang diklaim mampu membunuh 99, 95 persen bakteriologis, menyerap, dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 0,2,5-0,3 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Namun, bukan berarti pesawat tersebut tak aman digunakan. Dari rilis yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan, pada pesawat yang tak ada filter HEPA, seperti ATR-72, volume udara kurang lebih 95 meter kubik di kabin akan selalu diperbaharui dalam waktu lima sampai dengan tujuh menit dengan mengunakan dua buah mekanisme Environment Control System (ECS) packs Operative, dua buah Recirculation dan Extraction System (by ECS) yang menjamin udara dalam kabin tetap segar (fresh). Udara yang berasal dari luar pesawat akan terkumpul di area bawah lantai, kemudian didistribusikan ke jalur udara utama dan pendingin udara pada kompartemen di atas tempat duduk (personal overhead ventilation) di sepanjang kabin dan ruang kemudi (kokpit). Aliran udara dari atas (langit-langit kabin) bergerak satu arah ke bawah (lantai), yang meminimalkan pergerakan udara ke depan dan arah belakang pada kabin (blown transversally and vertically). Udara akan tersedot ke area lantai melalui panel (floor panel level) sesuai proses pada katup aliran tekanan udara (pressurization outflow valves operation). Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat Selain itu, rangkaian pembersihan rutin dan sterilisasi menyeluruh pada setiap detail bagian pesawat, meliputi ruang kemudi, dapur, bagasi kabin (compartement), dinding kabin, kursi awak pesawat dan penumpang, penggantian penutup sandaran kepala (head cover) di kursi, area kargo (bagian depan dan belakang), pintu dan jendela pesawat, karpet lantai, eksterior pesawat menyeluruh, tangga menuju pesawat dan lainnya, juga dapat mengurangi paparan corona di kabin. Upaya pencegahan virus corona di kabin juga dapat dimaksimalkan dengan penyemperotan berkala cairan multiguna pembunuh kuman (disinfectant spray) sesuai prosedur yang berlaku, sebelum proses penumpang masuk ke pesawat (boarding) dan ketika pesawat selesai menjalani rotasi (pergerakan). Dengan begitu, meskipun pesawat ATR-72 tak dilengkapi filter HEPA, transmisi penyebaran corona di kabin pesawat tersebut tetap bisa dikendalikan.

Diminati Penumpang Tua, Deutsche Bahn Hadirkan Mesin Tiket Kereta Otomatis Berpemandu Video

Operator kereta api Deutsche Bahn di Jerman sudah mulai melengkapi stasiun kereta api kecil dan menengahnya dengan mesin tiket berpemandu video. Mesin-mesin ini berjumlah sekitar seratus yang berada di sepuluh negara bagian. Baca juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia? Bahkan mesin tiket video terbaru diluncurkan pada bulan Juni 2020 di Stasiun Munich Moosach, tepatnya di jaringan Munich S-Bhan. KabarPenumpang.com melansir dari laman railtech.com (23/6/2020), kehadiran mesin tiket video ini dikatakan pemerintah Jerman menjadi salah satu hal baik untuk mengurangi kontak langsung di masa pandemi Covid-19. Mesin tiket video tersebut berbeda dengan mesin tiket konvensional. Sebab mesin otomatis yang satu ini dilengkapi dengan mikrofon, pengeras suara dan dua layar di mana satu untuk mencari koneksi kereta yang akan dinaiki penumpang, dan satu lagi untuk komunikasi video langsung dengan penasihat kereta (petugas). Kehadiran video percakapan dengan penasihat kereta ini untuk memudahkan penumpang perlu mengklarifikasi beberapa informasi atau ketika membutuhkan bantuan membeli tiket kereta melalu mesin. Secara fisik, penasihat tersebut berbasis di pusat layanan Deutsche Bahn dan berbicara dengan pelanggan melalui panggilan video call. Saat ini Deutsche Bahn memiliki tujuh pusat layanan bantuan video. Mereka berlokasi Braunschweig, Kempten, Ludwigsburg, Saarbrücken, Schweinfurt, Schwerin dan Villingen. Nantinya pada akhir tahun perusahaan kereta tersebut akan menambah pemasangan 20 mesin jenis seperti ini. Ternyata sejak April 2013 lalu saat mesin tiket berpemandu video ini pertama kali diluncurkan sudah lebih dari 646 ribu pelanggan menggunakan layanan tersebut. Popularitasnya bahkan meningkat setelah adanya pemasangan peralatan baru di seluruh Jerman. Menurut data dari Deutsche Bahn layanan ini paling populer digunakan oleh penumpang di antara usia 30 hingga 59 tahun dengan presentase 48 persen. Sedangkan pengguna usia lebih dari 60 tahun sebanyak 32 persen. Namun pelanggan yang lebih muda atau di bawah 30 tahun hanya sekitar 20 persen. Baca juga: S-Bahn, Jaringan Kereta Komuter Tulang Punggung Transportasi di Negeri Bavaria Hal ini dikarenakan penumpang muda lebih suka menggunakan saluran distribusi lain seperti aplikasi seluler. Sementara tingkat kepuasan pengguna atas layanan ini mencapai 90 persen.

Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!

Kecelakaan pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 memberi jalan terbukanya tabir lain. Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan, menyebut satu dari tiga pilot di negaranya memiliki lisensi palsu. Baca juga: Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya! Dihadapan DPR Pakistan, ia menbeberkan, dari 860 pilot aktif yang bekerja di maskapai domestik dan maskapai asing, 262 di antaranya memiliki lisensi palsu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan jasa joki untuk melewati ujian. “Mereka tak memiliki pengalaman terbang,” katanya, seperti dilansir CNN International. Dalam insiden jatuhnya pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) PK8303, Khan memang tak mengungkap dengan jelas apakah pilot tersebut termasuk di dalamnya (menggunakan lisensi palsu). Namun, yang pasti, saat ini, PIA dikabarkan telah menonaktifkan 150 pilot. Juru bicara PIA, Abdullah Hafeez Khan mengatakan bahwa penyelidikan pemerintah tahun lalu telah menemukan sekitar 150 dari 434 pilotnya mengantongi baik itu lisensi palsu atau mencurigakan. “Kami telah memutuskan untuk melarang terbang 150 pilot itu yang memegang lisensi palsu dengan efek langsung,” jelasnya. Fakta dari penyelidikan tersebut memang telah menimbulkan misteri baru di balik kecelakaan pesawat PIA belum lama ini. Menteri Penerbangan Federal Pakistan, Ghulam Sarwar Khan mengungkap, kapten pilot dan kopilot sibuk ngobrol membahas Covid-19 sambil melakukan upaya pendaratan awal yang gagal. Padahal, pilot dan kopilot tidak seharusnya berdiskusi soal apapun di kokpit di bawah aturan sterile cockpit rule. Dari segi kronologi, semua yang pilot lakukan sebelum kecelakaan pesawat terjadi juga terkesan mencurigakan. Diketahui, pesawat PIA K8303 jatuh akibat mengalami kerusakan mesin. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh percobaan pendaratan pertama. Pada percobaan pendaratan pertama, petugas Air Traffic Controller (ATC) sempat mengingatkan bahwa pesawat berada pada posisi yang keliru ketika melakukan pendekatan pendaratan (approach landing) melalui pendekatan Instrument Landing System (ILS). Saat itu, pesawat tercatat masih melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai lebih dari 200 mil per jam (322 kilometer per jam). Padahal, jarak pesawat sebelum touchdown di runway 25 Bandara Internasional Jinnah, di Kota Karachi, sudah begitu dekat dan dinilai tidak sesuai prosedur pendaratan. Setelah diperingatkan dua kali untuk tidak meneruskan proses pendekatan pendaratan, alih-alih mengikuti saran dari ATC, pilot yang diketahui telah memiliki jam terbang tinggi tersebut justru melanjutkan pendaratan. Alhasil, ketika touchdown, pesawat mengalami gesekan kuat di lambung dan kedua mesin pesawat akibat roda pendaratan atau landing gear tidak keluar. Menurut laporan, sempat terjadi beberapa benturan sehingga ATC menyarankan untuk pilot agar membawa pesawat kembali ke langit dan melakukan percobaan kedua. Anehnya, pilot tak memberitahu kondisi tersebut (tidak keluarnya landing gear). Di percobaan pendaratan kedua pada pukul 14.30, sebetulnya ATC yang bertugas kala itu memandu pilot agar berada di ketinggian 3500 kaki. Namun, pilot hanya membawa pesawat pada ketinggian 1300 kaki. Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan Di sinilah pilot memberitahu bahwa pesawat kesulitan untuk mempertahankan ketinggian dan kedua mesin mengalami kerusakan teknis, mengingat, bagian bawah mesin di antaranya terdapat aksesoris gearbox dan pompa hidrolik yang keduanya mungkin saja disfungsi akibat gesekan saat percobaan pendaratan pertama. Pada proses percobaan pendaratan kedua, tak lama setelah pilot memberitahu keadaan pesawat dan memberi sinyal darurat (mayday) ATC kehilangan kontak, tepatnya pada pukul 14.40 waktu setempat. Pesawat akhirnya diketahui jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah.

Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

Otoritas Bandara Hong Kong (AAHK) belum lama ini mengaku telah mendapat suntikan dana sebesar HK$35 miliar atau Rp64 triliun (kurs 1 dollar HK – Rp1.825). Pengelola Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) mendapat dana tersebut dari 21 bank lokal dan internasional. Padahal, sebelumnya, AAHK hanya merencanakan dana sebesar 75 persen saja atau HK$20 miliar. Namun, karena tingginya minat dari bank, mereka pun menambah jumlah pembiayaan. Baca juga: Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona AAHK menyebut, pinjaman tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan pasar –baik lokal maupun internasional- terhadap sektor penerbangan Hong Kong masih tinggi. Padahal, sektor penerbangan di negara tersebut tengah anjlok sejak beberapa tahun terakhir akibat krisis politik berkepanjangan serta wabah Covid-19. “Dukungan ini menunjukkan kepercayaan mereka pada AAHK dan prospek pengembangan jangka panjang Bandara Internasional Hong Kong. Jauh lebih dari sekadar instrumen keuangan, fasilitas ini mewakili kepercayaan komunitas perbankan global terhadap masa depan Hong Kong,” kata Jack So, CEO AAHK dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bangkokpost.com. Nantinya, lanjut Jack So, dana tersebut akan digunakan untuk operasional dan pengembangan Bandara Internasional Hong Kong (HKIA), salah satunya ialah konsep Three-runway System yang telah dicanangkan sejak 26 April 2016. Hal ini diharapkan bisa menjadi sebab pertumbuhan HKIA di masa mendatang. Sejauh ini, HKIA diketahui telah terhubung ke sekitar 180 tujuan, melalui lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari oleh lebih dari 100 maskapai. Profesor di Institut Manajemen Penerbangan Sipil Cina, Diao Weimin, menyebut konsep Three-runway System akan berdampak besar pada pengembangan HKIA di masa mendatang. Sebab, maskapai global besar kemungkinan akan meningkatkan frekuensi penerbangan mereka, seiring minat bepergian masyarakat dunia yang juga meningkat. Meskipun demikian, hal itu tak lantas membuatnya menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan pertumbuhan pesat industri penerbangan global (di luar wabah corona). Sebab, berbagai bandara lainnya juga telah bersiap menyambut era itu, seperti kota-kota Greater Bay Area (Guangdong dan Macau), Singapura, serta Korea Selatan. Volume penumpang di Bandara Internasional Hong Kong sejauh ini dilaporkan turun 99,4 persen YoY (year on year) di bulan Mei. Sementara itu, jumlah penerbangan turun 68,7 persen. Namun, penerbangan kargo justru selama wabah corona meningkat di angka 29,3 persen YoY. Bandara Hong Kong memang sudah lama mendapat suntikan dana dari berbagai pihak. Di akhir Februari lalu saja, total kucuran dana yang telah disalurkan ke bandara tersebut angkanya mencapai HK$1,6 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun sejak pertama kali dikucurkan pada tahun lalu. Kucuran dana tersebut digunakan untuk mempertahankan ekosistem bisnis yang ada di bandara tersebut, mencakup pemberian konsesi sewa (lahan atau space di bandara) keringanan atau pengurangan biaya dan berbagai bantuan lainnya untuk mengurangi tekanan pada mitra bisnis di HKIA. Lebih spesifik lagi, sasaran penerima bantuan tersebut meliputi gerai ritel, katering bandara, maskapai penerbangan, dan travel agent, baik online maupun offline. Kucuran dana segar ke sektor industri penerbangan di masa pandemi corona memang massif dilakukan sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Namun, nominalnya berbeda-beda. Perbedaan itu pulalah yang pada akhirnya membuat iri berbagai pelaku industri. Baca juga: Walau Miliki Utang Segunung, Dua Kombinasi Finansial Bikin Garuda Indonesia ‘Bernapas’ Lega Sementara Waktu Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra, misalnya, mengaku iri terhadap dana talangan yang didapat Singapore Airlines (SIA) dari pemerintah, sebesar US$ 11,5 miliar. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya mendapat US$500 juta. Namun mereka masih patut bersyukur mendapat dana talangan. Dari suntikan modal kerja percepatan pembayaran kompensasi dan penugasan untuk BUMN sebesar Rp94,23 triliun, modal negara (PMN) sebanyak Rp 25,27 triliun untuk lima BUMN, serta dana talangan modal kerja BUMN sebanyak Rp32,65 triliun, tak satupun tersebut nama pengelola bandara di Tanah Air, PT Angkasa Pura 1 dan PT Angkasa Pura 2. Padahal, sebagaimana bandara HKIA dan berbagai bandara lainnya, mereka juga patut didukung, layaknya airlines (dalam hal ini Garuda Indonesia) untuk menghadapi dampak Covid-19.

Maskapai Kembali Terbangkan Pesawat Penumpang, Bagaimana Tarif Batas Atas dan Bawah Tiketnya?

Maskapai penerbangan di Indonesia kini mulai kembali menerbangkan pesawat mereka setelah hampir lebih dua bulan tak mengangkut penumpang karena adanya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Namun ketika para operator mulai menerbangkan kembali armada mereka, muncul pertanyaan bagaimana dengan tarifnya? Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat Pertanyaan ini muncul karena di dalam pesawat pun penumpang tak akan lagi penuh akibat Covid-19 dan kursi tengah harus dikosongkan. Sebagai salah satu operator yang sudah mulai kembali menerbangkan pesawatnya, Lion Air Group mengaku masih tetap menjual harga tiket pesawat mereka sesuai dengan aturan regulator yang berlaku yakni Keputusan Menteri Perhubungan No.106/2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, dalam hal ini tidak melebihi ketentuan Tarif Batas Atas (TBA) dan tidak melebihi Tarif Batas bawah (TBB). “Formulasi perhitungan yang digunakan adalah wajar dan sesuai keterjangkauan kemampuan calon penumpang membayar berdasarkan kategori layanan maskapai. Lion Air Group telah menghitung dan memberlakukan harga jual tiket secara bijak, penerapan berdasarkan kategori layanan yang diberikan sebagaimana Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No.20/2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri,” kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro yang dikutip dari siaran pers, Rabu (24/6/2020). Danang menyebutkan untuk harga jual tiket pesawat udara saat ini merupakan implementasi penggabungan beberapa komponen menjadi kesatuan. Komponen harga jual tiket sekali jalan atau one way untuk penerbangan langsung atau non-stop yakni tarif angkutan udara, pajak sepuluh persen dari tarif angkutan udara, Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR), Passanger Service Charge (PSC) atau airport tax dan biasa tambahan jika ada. Dia mengatakan, Lion Air Group berupaya memberikan layanan terbaik mereka dengan tetap mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan serta tetap patuh pada kebijakan regulator serta standar prosedur operasi perusahaan dan internasional. Masalah tarif juga kemudian membuat pihak Kementerian Perhubungan mengevaluasi kebijakan TBA dan TBB penumpang pesawat ekonomi niaga berjadwal. Sebab Kemenhub memiliki amanah untuk menentukan TBA dan TBB sebagai pertimbangan pemenuhan aspek keselamatan, perlindungan konsumen dan menghindari persaingan tidak sehat antar badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri untuk kelas ekonomi. “Terkait putusan KPPU untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Kemenhub, kami sangat terbuka terhadap semua masukan dan saran dari berbagai pihak termasuk KPPU sebagai upaya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen dan pelaku usaha dalam industri serta efisiensi nasional,” kata Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati yang dikutip KabarPenumpang.com dari investor.id (24/6/2020). Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi? Selain itu, Adita juga menyampaikan, di tengah kondisi pandemi Covid -19 saat ini, stakeholders penerbangan, termasuk maskapai, menunjukkan dukungan yang luar biasa untuk melayani kebutuhan transportasi udara. Meskipun penerbangan dilakukan dengan keharusan untuk menerapkan protokol kesehatan dan jaga jarak, yang tentu berdampak kepada okupansi, namun pelayanan penerbangan tetap dilakukan dengan tarif yang sama seperti sebelumnya, sesuai dengan KM 106/2019. “Langkah ini kami apresiasi, sebab kami tahu stakeholder penerbangan termasuk sektor yang sangat terdampak di masa pandemi ini,” jelasnya Adita.