Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah?
Belum lama ini beredar video berdurasi dua menit yang disebut sebagai perpisahan berbagai staf British Airways (BA). Beredarnya video tersebut sempat membuat geger karena maskapai asal Britania Raya itu memang sempat ingin mem-PHK puluhan ribu karyawan.
Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut
Dilansir dari indiatoday.in, pada tanggal 2 April, BA dilaporkan sempat memberlakukan kebijakan cuti tanpa dibayar ke 30.000 dari 42.000. Jelang sebulan kemudian, British Airways diketahui mengirimkan sepucuk surat ke karyawan berisi sekitar adanya sesuatu hal yang tak mengenakkan menimpa sebanyak 12 ribu karyawan.
Keputusan tersebut pun mendapat kecaman luas dari berbagai kalangan, baik publik maupun pihak terkait. Bahkan, anggota parlemen Inggris pun sampai harus turun tangan dan menyarankan agar BA meninjau ulang keputusan tersebut.
Video yang diunggah pertama kali oleh akun “Unite the Union Yout” yang notabene menyerupai nama serikat pekerja Inggris, Unite the Union, tersebut belakangan ini sudah diblock oleh developer karena dinilai mengandung unsur hoax.
https://www.facebook.com/100004410547561/videos/1537323789757958/
Akan tetapi, unggahan serupa juga telah beredar luas di Facebook dan masih bisa dilihat hingga saat ini. Dalam video berdurasi dua menit dengan caption “terima kasih dan selamat tinggal dari karyawan British Airways” itu menunjukkan pelepasan berbagai atribut BA oleh karyawan, baik berupa rompi, pin, seragam, dan lain sebagainya. Tentu saja video tersebut memberikan kesan negatif terkait bisnis BA itu sendiri di tengah terpaan isu PHK massal.
Padahal, dalam keterangan resminya, sampai saat ini, mereka sama sekali belum mem-PHK karyawan. Adapun yang dilakukan BA untuk menekan laju finansial di tengah anjloknya industri penerbangan akibat wabah Covid-19, mereka telah melakukan merumahkan sebanyak 80 persen karyawan, mulai dari pramugari, pilot, staf darat, insinyur, dan staf di kantor pusat.
Lagi pula, sebelum mulai melakukan kebijakan tersebut, manajemen BA terlebih dahulu berkonsultasi dengan serikat pekerja BA (Unite the Union) dan berhasil mencapai kesepakatan bersama.
Sebaliknya, alih-alih mem-PHK karyawan, British Airways malah ingin memulai kembali layanan penerbangan penumpang pada 20 Juni lalu. Jika demikian, pastinya mereka akan sangat membutuhkan tenaga kerja, bukan malah sebaliknya, mem-PHK karyawan. Jadi, bisa dapat dipastikan bahwa kabar mengenai PHK massal karyawan British Airways adalah tidak benar. BBC News mengkonfirmasi, British Airways hanya mengajukan PHK massal ke sekitar 12 ribu karyawan.
Namun, sama sekali belum ada implementasi terkait hal itu dan disebut sebagai “aib nasional” oleh beberapa anggota parlemen, mengingat BA menjadi salah satu maskapai dengan karyawan terbesar di dunia dan banyak menyerap tenaga kerja asal Inggris.
Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot
Industri penerbangan di Inggris memang tengah dilanda cobaan hebat akibat pandemi Covid-19. Meskipun maskapai di berbagai dunia juga mengalami kondisi serupa, namun, minimnya keterlibatan pemerintah dalam melindungi industri penerbangan telah membuat satu per satu maskapai asal Britania Raya tumbang.
Awal Maret lalu, maskapai terbesar di Inggris yang mengoperasikan hampir 40 persen dari penerbangan domestik, FlyBe, dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan total modal sebesar Rp3,6 triliun serta memiliki utang sebesar Rp320 miliar. Enam bulan sebelumnya atau pada bulan September lalu, maskapai asal Inggris lainnya, Thomas Cook telah lebih dahulu dinyatakan bangkrut.
Tiga Maskapai Terbesar Cina Terima Pesawat ARJ21 Besutan Pesaing Terberat Boeing dan Airbus
Tiga maskapai penerbangan terbesar di Cina, Air China, China Eastern, dan China Southern dikabarkan telah menerima pesawat ARJ21-700 Minggu lalu. Pesawat besutan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) ini nantinya akan menjadi andalan baru maskapai tersebut dalam melayani penerbangan regional point-to-point, khususnya di Cina daratan.
Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat
Dikutip dari Reuters, ketiga maskapai tersebut masing-masing juga akan mendapat tambahan satu pesawat lagi dari di akhir tahun. Pengiriman dijawalkan akan terus berlangsung hingga 2024 mendatang dengan total target pengiriman sebanyak 35 pesawat. Namun, tak dijelaskan lebih rinci distribusi pesawat berkapasitas 90 kursi ini ke ketiga maskapai tersebut.
Di akhir Mei lalu, menurut laporan Global Times, COMAC juga telah mengirimkan 25 jet regional ARJ21-700 ke tiga maskapai Cina, yaitu dari Chengdu Airlines, Tianjiao Airlines, dan Jiangxi Airlines. Ketiga maskapai itu bahkan telah membuka 50 rute ke 50 kota dan menyelesaikan lebih dari 830.000 penerbangan penumpang.
ARJ21-700 sendiri merupakan pesawat pertama buatan COMAC. Teknologinya memang disebut banyak menyadur pesawat-pesawat yang sudah ada. Meski demikian, pesawat yang sudah empat tahun mengudara ini tetap laris di Cina.
Selain membuat ARJ21-700, COMAC juga membuat narrowbody dan widebody. Bahkan narrowbody COMAC sudah berhasil mendapat pesanan nyaris 1.000 pesawat. Hingga awal Juni lalu, pesawat berkapasitas 160 kursi itu sudah mendapat pesanan dari 28 maskapai, dalam dan luar negeri. Tahun lalu, total enam pesawat C919 sudah memasuki fase uji terbang dan sertifikasi kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil Cina di tahun lalu.
Hasilnya, proses uji coba yang dilakukan di Shanghai, Xi’an, Dongying, dan Nanchang berjalan dengan baik. Bila proses sertifikasi yang sempat tertunda beberapa tahun ini selesai, bukan tak mungkin, jumlah pesanan pesawat akan semakin meningkat dari sekedar 1.000 pesanan serta benar-benar akan menjadi penantang serius duopoli Boeing dan Airbus.
Dengan fakta tersebut, tak ayal bila COMAC digadang-gadang bakal menjadi penantang serius Boeing dan Airbus di pangsa pasar narrowbody. Menyadari hal itu (penantang serius Boeing dan Airbus) telah di depan mata, Menteri Keuangan Perancis, Le Maire belum lama ini mengatakan, Perancis sampai harus melakukan langkah preventif.
Bahkan, salah satu alasan dikucurkannya dana senilai €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725) awal Juni lalu ke Air France –yang pada akhirnya berdampak langsung ke Airbus- untuk melindungi persaingan produsen pesawat global ke arah duopoli antara Boeing dan Comac dari Cina. Padahal, di saat yang bersamaan, Cina justru memandang duopoli itu terjadi antara Airbus dan Boeing.
Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body
Adapun pesawat widebody COMAC prosesnya dianggap masih cukup lama. Wu Guanghui, wakil Kongres Rakyat Nasional (NPC) mengungkap, pesawat CR929 sedang dalam tahap desain awal. Selain itu, widebody yang dikembangkan bersama oleh COMAC dan United Aircraft Corporation milik Rusia ini juga masih dalam tahap pemilihan pemasok dan peralatan.
Pesawat tersebut diklaim akan memiliki jangkauan terbang sejauh 12.000 kilometer, dengan tiga lorong, dan 280 kursi. Namun, keunggulan utamanya adalah harga CR929 disebut akan berada jauh di bawah Airbus dan Boeing.
Viral! Dua Ekor Ayam Ikut Rasakan Fasilitas MRT Setelah Pembatasan Covid-19
Selama masa pandemi Covid-19 yang menginfeksi seluruh dunia, banyak negara yang melakukan lockdown dan transportasi umum seperti kereta api ditutup atau dibatasi sementara untuk mencegah penyebaran virus corona. Hal ini kemudian membuat binatang memasuki beberapa stasiun hanya untuk mencari makan atau ‘melihat-lihat’ stasiun.
Baca juga: Lockdown di Turki, Bikin Beruang Cokelat Cari Makan di Stasiun
Seperti yang baru-baru ini terjadi di stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Singapura di mana ada dua ekor ayam dengan satu jantan dan satu betina masuk melintasi gate. Dua ekor ayam ini diabadikan dalam sebuah foto dan diunggah ke akun Facebook milik Jerry Atan.
Bahkan foto dua ekor ayam ini memicu rasa humor para warganet dan membuat mereka tertawa melihat foto tersebut. Dalam foto tersebut Jerry menuliskan caption pada foto yang diunggahnya sejak 19 Juni lalu, “Saya ingin mengeluhkan ayam ini”.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theindependent.sg (22/6/2020), terlihat dari foto, dua ekor ayam ini tengah digiring petugas MRT keluar dari gate Stasiun Outram Park. Dua ekor ayam itu bahkan tak memiliki arah yang sama ketika digiring untuk keluar.
Foto yang di unggah oleh Jerry ini sudah disukai oleh sekitar 670 warganet dan foto tersebut membuat warganet berbagi permainan kata-kata dan penjelasan atas kejadian tersebut. Komentar warganet juga banyak yang setuju dengan dibukanya kembali stasiun MRT membuat dua pasang ayam ini keluar karena sudah terkurung terlalu lama.
Seorang warganet berkomentar bahwa dua ekor ayam ini seperti mengerti bahwa bisnis dan beberapa kegiatan telah di buka kembali dan mereka ingin bergabung. “Ayam juga ikut di chiong fase 2,” tulis Red Pool.
Bahkan warganet lainnya menyarankan agar sepasang ayam tersebut pergi berbelanja. “Mengapa ayam-ayam itu menyeberang jalan?” tanya Winston Seah. “Untuk mengambil MRT,” tentu saja. Seorang warganet bertanya mengapa mereka harus naik kereta? Seseorang menjawab itu sesuai dengan Fase 2.
Rayne Lee Rui menyarankan akronim baru untu Mass Rapid Transit menjadi Mass Rooster Transit. Ayam-ayam tidak memiliki GPS dan masih berhasil menemukan stasiun, kata Pauline Lee Mei Ling sementara De Leted kecewa mereka tidak memakai masker wajah.
Baca juga: Mother Goose, Angsa Unik Penghuni Stasiun York
Sementara itu, Muhammad Muzammil berkomentar bahwa petugas MRT mengejar ayam karena mereka tidak memiliki tiket kereta api. Foto itu menyenangkan warganet yang senang bisa menemukan posting. “Mereka membuat hari saya,” kata Suria Saad Suria.
Cegah Penularan Covid-19, Kapal Ferry di Teluk Bothnia Dilengkapi Aplikasi Khusus untuk Penumpang
Berada di nun jauh di utara bumi, tepatnya di kawasan Skandinavia, pun tak terbebas dari penyebaran Covid-19. Alih-alih, dalam iklim dingin, virus corona justru lebih mudah menyebar. Untuk itu, langkah antisipasi penyebaran Covid-19 mutlak dilakukan oleh penyedia layanan transportasi. Setelah ramai penerapan antisipasi di angkutan darat dan udara, kini kapal ferry di Laut Baltik mendapat sentuhan teknologi khusus untuk menghadang penyebaran Covid-19.
Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon
Apalagi kapal ferry mengangkut penumpang bukan dalam jumlah yang sedikit. Kemudian, pemilik ferry Wasaline baru-baru ini mengadopsi teknologi digital untuk merampingkan pengalaman perjalanan para penumpang. Bahkan mereka melakukan pengurangan biaya tiket dan jumlah penumpang dalam kapal untuk meminimalisir kontak fisik setiap penumpang.
Dilansir KabarPenumpang.com melansir dari laman rivieramm.com (25/6/2020), tak hanya itu, Wasaline juga memperkenalkan kunci digital ke ponsel penumpang dibandingkan menawarkan kartu kunci fisik. Wasaline sendiri menghadirkan kunci digital ini bekerja sama dengan Carus yang menggunakan aplikasi seluler operator ferry itu sendiri.
Pada kapal barunya, Aurora Bothnia, menjadi kapal ferry pertama di dunia yang memasang kunci digital ASSA Abloy untuk semua kabinnya. Kepala eksekutif Wasaline Peter Ståhlberg mengatakan aplikasi mobile ini cukup aman untuk berbagi kunci dengan keluarga dan teman. Ini adalah bagian dari dorongan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi bagi para penumpang.
“Tujuan kami di Wasaline adalah menjadi operator ferry paling modern, inovatif, aman dan ramah lingkungan di dunia. Kami mencari solusi yang paling hemat biaya dan ini adalah satu bagian penting dari strategi kami,” kata Mr Ståhlberg.
Pada versi yang dikembangkan Carus mereka memberikan label putih dari aplikasi kunci digital tersebut dan Wasaline memberi merek sendiri pada apalikasi tersebut untuk platform layanan penumpangnya. Kepala eksekutif Carus Anders Rundberg mengatakan aplikasi ini nantinya akan tersedia untuk operator lain di seluruh dunia.
“Ini adalah langkah alami dalam evolusi industri ferry. Dengan sistem ini kami dapat membantu operator memangkas biaya dan mengurangi jejak lingkungan mereka,” kata Rundberg.
Ini adalah teknologi tanpa kontak yang dapat mencegah risiko infeksi dari kunci kabin fisik dan interaksi antara awak dan penumpang.
Baca juga: Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan
“Dengan pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, inilah yang dibutuhkan industri,” kata Rundberg.
Wasaline mengoperasikan ferry melintasi Selat Kvarken di Teluk Bothnia, yaitu di perbatasan antara Finlandia dan Swedia . Ini menghubungkan orang-orang di sepanjang pantai Västerbotten di Swedia dan pantai Ostrobothnian di Finlandia yang juga dimiliki oleh kota Vasa dan kotamadya Umeå.
Setelah Lebih dari Setahun Grounded, Boeing 737 MAX ‘Akhirnya’ Kembali Terbang
Boeing 737 MAX dilaporkan akan kembali terbang. Pesawat yang sudah di-grounded sejak setahun lebih itu kembali ke udara paling cepat Senin ini untuk menjalani sertifikasi ulang oleh Federal Aviation Administration (FAA).
Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21
Reuters mengabarkan, pihak perwakilan dari Kongres Amerika Serikat juga sudah menyetujui uji sertifikasi ulang Boeing 737 MAX setelah mengecek form penilaian sistem keselamatan MAX. “(kongres AS) telah pengizinkan uji sertifikasi ulang. Penerbangan dengan pilot uji FAA dapat dimulai paling cepat besok (Senin), dengan agenda utama mengevaluasi fitur automated flight control system pada 737 MAX,” tulis Reuters.
Teknis pengujian disebut akan menggunakan sebuah unit B737 MAX 7, yang di dalamnya telah dipasangi peralatan pengujian. Selama tiga hari, pesawat akan menjalani pengujian di Boeing Field di Seattle, AS.
Selain menguji fitur automated flight control system yang baru disematkan ke Boeing 737 MAX, beberapa poin lainnya yang juga diuji antara lain, steep-banking turn dan manuver-manuver ekstrem di atas langit Washington. Pesawat juga akan melakukan touch-and-go landings di bandara di wilayah Moses Lake, timur Washington, lalu melanjutkan rute penerbangan ke pesisir Samudera Pasifik.
Tak hanya itu, nantinya pilot uji juga akan melakukan pengujian terhadap software pencegah stall, atau yang selama ini dikenal dengan fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), sumber utama kecelakaan dua pesawat B737 MAX Lion Air dan Ethiopian, yang total menewaskan 346 penumpang dan awak.
Meski nantinya jadi menjalani uji sertifikasi ulang hari ini, Boeing 737 MAX dipastikan tetap tak akan kembali melayani penumpang hingga Septermber mendatang. Pasca menjalani uji sertifikasi, data-data terlebih dahulu akan mulai dikaji oleh tim FAA di Washington dan Seattle untuk menilai tingkat kelaikan udara.
Beberapa pekan setelah itu, Boeing 737 MAX masih harus menjalani uji terbang langsung oleh Administrator FAA, Steve Dickson. Mantan pilot pesawat tempur F-15 ini nantinya akan menerbangkan langsung Boeing 737 MAX serta mengujinya, persis sesuai dengan agenda uji sertifikasi seperti yang sudah dijalani.
Bila proses ini berhasil, MAX tak lantas dapat sekonyong-konyong kembali terbang sebelum semua pilot maskapai di berbagai dunia yang akan menerbangkan 737 MAX mengikuti training pilot. Diperkirakan seluruh rangkaian proses tersebut setidaknya akan memakan waktu hingga akhir tahun.
Sebelumnya, sejak awal April lalu, meskipun dihantui wabah corona, Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA). Kala itu, Boeing mengklaim 737 MAX mengalami peningkatan cepat dalam upaya kembali ke udara.
Baca juga: Boeing Akui Kembali Temukan Masalah Baru Pada Software 737 MAX
“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.
“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tutupnya.
Tiba di Bandara Sorong dengan Menumpang Pesawat Garuda Indonesia, Siswa ini Ternyata Positif Covid-19
Bayangkan bila Anda naik ke pesawat yang sama dengan seorang penumpang lain yang dinyatakan positif Covid-19 dan tiba di tujuan baru ketahuan? Mungkin hal pertama Anda akan panik, ketakutan dan pastinya menjadi Orang Dalam Pantauan (ODP) karena berada satu pesawat dengan penumpang yang positif terinfeksi Covid-19.
Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara
Seperti baru-baru ini, di mana seorang penumpang terinfeksi Covid-19 diizinkan naik ke pesawat Garuda Indonesia dengan tujuan penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju ke Sorong di Papua. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (28/6/2020), penumpang berusia 20 tahun yang dinyatakan positif Covid-19 ini ditemukan oleh koordinator Dinas Kesehatan Bandara Sorong Farida Tariq.
Farida menyebutkan bahwa mereka mendapatkan bukti penumpang yang merupakan seorang siswa tersebut positif Covid-19 dari dokumen kesehatan yang dibawa dan dicek setelah mereka tiba di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong pada Sabtu (27/6/2020). Padahal menurut peraturan pemerintah terbaru tentang perjalanan udara, di mana semua calon penumpang harus memberikan dokumen yang menunjukkan reaksi berantai Covid-19 polimerase negatif (PCR) atau hasil tes cepat (Rapid Test) sebelum diizinkan untuk terbang.
Farida mengatakan, pelajar tersebut merupakan warga kabupaten Sorong Selatan yang tengah melakukan perjalanan ke Sorong bersama dengan 42 siswa lainnya.
“Kami melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa ke 43 siswa memiliki dokumen yang diperlukan dan salah satu dari mereka memiliki dokumen yang menunjukkan hasil tes PCR dan positif,” kata Farida.
Dia menyebutkan bahwa dokumen tersebut dikeluarkan oleh laboratorium Dinas Kesehatan Jawa Barat pada 21 Juni kemarin. Namun dia tidak yakin bagaimana siswa tersebut bisa diizinkan naik ke pesawat. Sehingga Farida berspekulasi bahwa para petugas kesehatan Bandara Soetta mungkin kewalahan oleh banyaknya penumpang pada hari itu.
Farida mengatakan pada penerbangan tersebut ada 90 orang yang berangkat dari Jakarta menuju Sorong. Dia menambahkan, semua penumpang sudah diinstruksikan untuk menjalani karantina mandiri selama dua minggu ke depan.
Baca juga: 10 Meninggal dan 500 Karyawan Delta Airlines Terinfeksi Covid-19
“Sementara itu, 43 siswa akan menjalani tes swab di Rumah Sakit Sorong Pertamina,” katanya.
Dari data hingga 28 Juni 2020, jumlah pasien positif Covid-19 sebanyak 1696 orang dan tujuh orang meninggal.
Uni Emirat Arab Tangguhkan Penerbangan dari Pakistan, Buntut 262 Pilot Berlisensi Palsu?
Otoritas Penerbangan Sipil Uni Emirat Arab (GCCA) kemarin mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan untuk sementara waktu penerbangan dari Pakistan. Penangguhan penerbangan tersebut sudah mulai efektif pada Senin hari ini dan akan terus berlaku sampai batas waktu yang tak ditentukan.
Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!
Atas keputusan tersebut, GCCA menghimbau kepada seluruh calon penumpang agar sesegera mungkin menghubungi pihak maskapai atau agen travel untuk mencari alternatif terbaik. Termasuk juga bagi calon para penumpang yang transit di Uni Emirat Arab (UEA).
Hanya saja, hasil penelusuran Simple Flying melalui Flight Radar, hingga hari ini dan besok, penerbangan dari berbagai kota besar di Pakistan, Lahore, Karachi, dan Islamabad, masih aktif dan belum dibatalkan. Lahore, misalnya, masih akan menerbangkan beberapa maskapai dalam dan luar negeri, mulai dari flyDubai, Emirates, AirBlue, hingga Air Arabia.
Anehnya, satu-satunya maskapai yang telah membatalkan seluruh penerbangan dari dan ke Pakistan justru datang dari Qatar Airways, yang jelas-jelas sama sekali tak memiliki penerbangan langsung maupun transit ke UEA.
Menanggapi keputusan tersebut, berbagai pihak berspekulasi bahwa UEA mengambil langkah preventif untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang melibatkannya, mengingat belum lama ini, sebanyak 262 dari 860 pilot aktif di Pakistan kedapatan memakai lisensi palsu. Dari jumlah tersebut (262), 150 pilot di antaranya tercatat sebagai pilot maskapai Pakistan International Airlines (PIA), yang belum lama ini mengalami crash di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah, Pakistan.
Namun, dari laporan Gulf News, GCCA menangguhkan penerbangan langsung dan transit dari Pakistan bukan karena skandal pilot Pakistan berlisensi palsu, melainkan karena wabah Covid-19. Saat ini, perkembangan terakhir pandemi corona di negara tersebut memang dianggap semakin mengkhawatirkan dengan lebih dari 200.000 kasus positif dan merenggut 4.100 jiwa.
Tetapi, tetap saja, bila wabah Covid-19 menjadi dasar penangguhan penerbangan dari Pakistan, seharusnya negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan berbagai negara lainnya di Asia harusnya juga dilakukan tindakan serupa. Faktanya, jelang pembukaan kembali penerbangan internasional pada 7 Juli mendatang, UEA belum mengeluarkan keputusan penangguhan lain kecuali penerbangan dari Pakistan.
Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan
Alih-alih menangguhkan penerbangan dari berbagai negara dengan perkembangan kasus Covid-19 terbaru, seperti Pakistan, UEA cenderung melakukan tindakan preventif lainnya dengan berbagai cara.
Mulai dari mengunduh aplikasi COVID-19 DXB (yang memungkinkan penumpang berkomunikasi langsung dengan Tim Gugus Tugas Covid-19 UEA bila mengalami gejala-gejala mirip Covid-19), mengisi surat keterangan sehat, memiliki asuransi kesehatan yang masih berlaku, hingga mewajibkan ke seluruh penumpang menunjukkan hasil test PCR dengan validitas maksimum empat hari sebelum tanggal keberangkatan.
Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100
Bagi pecinta aviasi, sebagian besar mungkin sudah mengetahui bahwa Boeing 777 atau triple seven pertama ialah 777-200. Padahal, model lainnya, Boeing selalu memulai dengan seri 100, seperti Boeing 737-100, 747-100, hingga 707-100.
Baca juga: Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet”
Dirunut dari sejarah, Boeing sebetulnya tidak benar-benar melewatkan angka -100 pada 777. Sebelum Boeing 777-200 melakukan first flight pada 1994, seri 777-100 sudah terlebih dahulu dirilis Boeing pada tahun 1978. Kala itu, mereka merilis bersamaan dengan dua pesawat lainnya; 757 dan 767.
Boeing 777-100 merupakan pesawat trijet yang sangat mirip dengan model trijet lainnya keluaran McDonnell Douglas, DC-10. Hanya saja, Boeing bisa dibilang telat untuk memproduksi trijet yang mulai populer sejak pertama kali diperkenalkan raksasa dirgantara asal Inggris, Hawker Siddeley pada 1960-an.
Bahkan, bisa dibilang, jikapun Boeing tetap memaksakan model trijet 777-100, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan mengalami kerugian. Sebab, dipenghujung tahun 70-an adalah fase menurunnya trijet setelah memperoleh hasil gemilang selama satu dekade antara tahun 60an sampai 70an. Kala itu, trijet mengalami mimpi buruk akibat relaksasi aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).
ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.
Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.
Dengan aturan tersebut, praktis, pergerakan pesawat-pesawat twin-jet sangat terbatas. Tak lebih dari rute domestik dengan jangkauan berkisar 60 menit perjalanan. Di saat itulah era tri-jet atau pesawat dengan tiga mesin dimulai. Saat itu, pesawat McDonnell Douglas DC-10 dan Lockheed L-1011 Tristar yang notabene memiliki tiga mesin menjadi primadona maskapai untuk mengantarkan penumpang ke belahan bumi lain atau jarak jauh.
Perlahan tapi pasti, seiring perkembangan teknologi, ICAO mulai meningkatkan ambang batas ETOPS pada pesawat bermesin ganda menjadi 120 menit mulai tahun 1980-an hingga 180 menit di akhir dekade tersebut.
Hal itupun mendorong pengembangan pesawat twin-jet jarak jauh untuk mendapatkan efisiensi lebih dari yang ditawarkan tri-jet, baik efisiensi dalam segi operasional maupun perawatan dan produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga. Pada akhirnya, Boeing 777-100 pun batal meluncur.
Meski demikian, dikutip dari Simple Flying, Boeing menilai tetap harus menutup celah antara 767 dan 747. Bila tidak, mereka hanya akan menjadi penonton di kelas tersebut, dimana mayoritas maskapai lebih tertarik pada A330 dan A340 yang dinilai lebih lebar. Atas dasar itu, mereka pun akhirnya merilis 777-200, bukan 777-100, mengingat model tersebut sudah pernah dirilis pada 1970-an sehingga tidak membingungkan pelanggan di kemudian hari.
Belum puas, Boeing ingin mengembangkan 777-200 agar tetap bisa terus bersaing. Setidaknya mereka punya dua pilihan, mempendek dimensi 777-200 atau meningkatkan berat lepas landas maksimum (MTOW).
Pada September 1996, Boeing memulai gebrakan dengan memperkenalkan dua model baru hasil pengembangan 777-200, yakni Boeing 777-100X dan Boeing 777-200X. Keduanya masing-masing akan membendung Airbus A340-800 dan A330-200.
Baca juga: Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya
Boeing 777-100X sendiri adalah pesawat Boeing 777-200 berkapasitas 250 tempat duduk yang dapat terbang sejauh 15.725 km. Dari segi dimensi, pesawat berukuran 6,4 meter lebih pendek dari 777-200 dan memiliki MTOW sebesar 300 ton. Adapun dapur pacu masih sama dengan 777-200.
Dalam perkembangannya, model 777-200X lah yang lebih diminati maskapai di Amerika dan Asia. Selain menawarkan kursi 8-9 persen cost per kilometer lebih rendah dibanding 777-100X, 777-200X juga diminati maskapai karena kemampuan MTOW yang lebih tinggi dari -100X.
Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia
Teknologi kereta api di Polandia sepertinya mulai berkembang pesat, karena setelah menguji trem otonomnya, di jalur Kraków juga diperkenalkan inovasi baru lainnya di jaringan transportasi publik. Trem Stadler Tango adalah inovasi baru yang dapat dijalankan dengan menyalakan kabel overhead dan baterai onboard.
Baca juga: Unik! Di Polandia Ada Kapal Laut ‘Berjalan’ Di Atas Daratan
Bahkan trem yang disebut trem hybrid ini sudah melayani salah satu rute kota secara teratur. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railtech.com (19/6/2020), pada kamis (18/6/2020) kemarin, MPK Kraków yang merupakan salah satu operator transportasi di Polandia secara resmi memperkenalkan jenis trem baru di jaringannya.
Dua dari trem baru Tango ini memulai operasionalnya secara reguler di jaringan kota. Sedangkan dua lainnya tengah dipersiapkan untuk masuk ke layanan. Sedangkan kendaraan ketiga akan mulai mengangkut penumpang pada akhir pekan ini sementara yang keempat akan diperkenalkan di rute Kraków dalam beberapa minggu mendatang.
Satu diantara trem Tango dengan nomor seri RY825 dilengkapi dengan baterai sehingga ketika beroperasi bisa melaju tanpa kabel dalam jarak tiga kilometer. Selama peresmian, trem ini melakukan perjalanan bebas catenary di lingkaran Stasiun Czerwone Maki di bagian barat daya kota.
Trem tersebut berjalan di Jalur 52 yang menghubungkan Piastów dengan Stasiun Czerwone Maki. Trem kedua dengan nomor seri RY826 tidak memiliki baterai tetapi memiliki temapt khusus untuk memasangnya di masa depan. Trem ini melayani Jalur 3 antara Nowy Bieżanów dan Krowodrza Górka.
Jenis trem terbaru ini dijuluki Lajkonik yang merupakan simbol tidak resmi dari Kraków. Semua trem ini memiliki panjang 33,4 meter dan lebar 2,4 meter. Setiap trem bisa mengangkut sebanyak 225 penumpang dengan 82 penumpangnya duduk serta sisanya berdiri. Trem ini dilengkapi dengan pendingin udara, kamera video, pencahayaan LED interior dan sistem informasi penumpang modern.
Bahkan trem ini dilengkapi sistem pemulihan untuk menggunakan energi pengereman. Untuk diketahui, perusahaan transportasi kedua terbesar di Polandia ini menyelesaikan dua pesanan dengan Stadler untuk trem Tango dan menurut kesepakatan pertama, 50 kendaraan harus dikirimkan pada akhir tahun. Dua trem dari pesanan pertama akan dilengkapi dengan baterai dan yang lainnya hanya memiliki tempat khusus untuk meletakkan baterai itu.
Baca juga: Perkeretaapian Polandia Gandeng Nokia Dalam Luncurkan Jaringan GSM-R
Kesepakatan kedua termasuk 60 trem di mana dari jumlah tersebut, perusahaan angkutan umum awalnya memesan sepuluh unit. Setelah itu, pesanan perusahaan ditingkatkan hingga 35 unit. Sedangkan 25 kendaraan lainnya masih merupakan opsi yang dapat dilakukan di tahun-tahun mendatang dan 35 trem dari pesanan kedua dijadwalkan untuk pengiriman pada 2022-2023. Semua kendaraan akan diproduksi di fasilitas Stadler di Polandia, di Środa Wielkopolska dan Siedlce.
Sky Bus Tokyo Alami Lonjakan Penumpang Setelah Pembatasan Dicabut
Sejak 28 Maret 2020 operator tur Sky Bus Tokyo harus memberhentikan sementara operasional mereka karena wabah Covid-19. Tetapi pada Jumat (19/6/2020), perusahan ini melanjutkan tur mereka dengan menerapkan langkah-langkah keamanan dan kesehatan untuk penyebaran virus corona.
Baca juga: Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo
Bahkan satu hari setelah dibuka yakni Sabtu (20/6/2020), operator tur Sky Bus Tokyo mengalami lonjakan penumpang pada bus tingkat terbuka mereka. Lonjakan ini pun tepat sejak pertama pembatasan perjalanan di cabut secara nasional.
KabarPenumpang.com melansir laman the-japan-news.com (21/6/2020), pada perjalanan perdana setelah pembatasan dicabut, penumpang yang naik bus tampak menikmati cuaca sejuk di dek atas untuk melihat pemandangan di pusat kota Tokyo termasuk jalan-jalan Ginza dan Tsukiji dimana orang mulai banyak beraktivitas kembali.
“Kursi di antara penumpang dibiarkan kosong sebagai bagian dari langkah-langkah keamanan virus,” kata petugas yang mengenakan masker kepada penumpang di lantai dua bus.
Petugas berusia 22 tahun itu mengumumkan nama-nama semua situs yang dilalui oleh bus wisata seperti di Menara Tokyo, Rainbow Bridge, Istana Kekaisaran dan distrik Ginza dan Marunouchi.
“Bus terbuka memungkinkan kami menghindari ‘Tiga C’ (closed spaces, crowded places, and close-contact settings atau ruang tertutup, tempat ramai, dan pengaturan kontak dekat) dan kami harus menikmati pemandangan populer Tokyo yang biasanya tidak kita lihat,” kata seorang penumpang berusia 35 tahun.
Penumpang tersebut bepergian dengan anaknya yang berusia empat tahun dan enam tahun. Dia mengaku anak-anaknya senang berfoto dan mencari mobil sport di sepanjang jalan raya.
Perusahaan yang beroperasi di Sky Bus Tokyo Hinomaru Jidousya Kougyo Co. telah mengurangi separuh kapasitas standar bus dari 46 penumpang untuk menjaga jarak antar penumpang. Sebelum naik, operator meminta penumpang untuk memeriksakan suhu mereka dan mendisinfeksi tangan mereka dengan alkohol. Anggota kru juga mendesinfeksi tangan dan tempat duduk selama pergantian penumpang.
Baca juga: Werkudara, Bus Tingkat di Solo Besutan Karoseri Indonesia
Perusahaan telah memasang penghalang akrilik di konter tiket untuk meminimalkan risiko infeksi dari tetesan pernapasan dan juga secara ketat memeriksa suhu karyawannya. Selain itu tanggal 26 Juni mereka juga akan membuka kembali sebagian dari program layanan wisata bus amfibi Sky Duck.
