Buntut Lisensi Palsu Pilot, Pakistan International Airlines Ditolak Masuk Uni Eropa Enam Bulan

Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) belum lama ini memutuskan untuk melarang maskapai Pakistan International Airlines (PIA) selama enam bulan ke depan. Hal itu merupakan buntut temuan 150 pilot PIA berlisensi palsu. Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu! EASA beralasan, sekalipun PIA mengaku sudah menonaktifkan seluruh pilot bermasalah itu, namun tetap saja tak menutup kemungkinan pilot yang lain aman. Sebab, nyaris sebagian besar pilot di Pakistan diduga memiliki lisensi palsu. “Karena itu EASA tidak lagi memiliki keyakinan bahwa Pakistan, sebagai negara asal maskapai, dapat secara efektif memastikan bahwa pilot yang disertifikasi di Pakistan mematuhi segala peraturan setiap saat dengan segala persyaratan yang berlaku seperti kesepakatan saat proses perekrutan,” tulis EASA dalam surat keterangan resmi, seperti dikutip dari telanganatoday.com. Tak hanya lisensi palsu 150 pilot PIA, dalam daftar alasan penangguhan tersebut, EASA juga mempermasalahkan PIA terkait kepastain manajemen data keselamatan, risk assessment, analisis statistik, serta kemampuan mengidentifikasi bahaya berulang atau serupa dengan kejadian sebelumnya. EASA menemukan, sejak Desember 2019 lalu, PIA belum memproses laporan keamanannya dan juga terbukti bahwa mereka bisa dibilang tidak memadai dalam mengimplementasikan langkah-langkah keselamatan dan keamanan penerbangan. Lebih lanjut, EASA juga menilai PIA telah gagal mengembangkan pedoman tambahan untuk memfasilitasi pemahaman dan penerapan manajemen perubahan dan pelatihan untuk seluruh staf yang terlibat. Dalam surat sebuah dokumen yang pernah diserahkan PIA, EASA justru menemukan sebuah kejanggalan terkait Indikator Kinerja Keselamatan (SPI). Dalam dokumen yang dimaksud, mereka menemukan bahwa beberapa SPI justru dioperasikan oleh departemen yang berbeda. Selain itu, dokumen keluaran tahun 2018 tersebut juga menunjukkan inkonsistensi PIA terkait SPI. Sebagai contoh, input perhitungan Indikator Kinerja Keselamatan oleh PIA variabelnya berbasis jam penerbangan, tetapi formula penghitungannya justru berbasis jumlah pendaratan. Hal itu jelas membuktikan bahwa SPI PIA tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga berpotensi mengancam keselamatan penerbangan. Baca juga: Uni Emirat Arab Tangguhkan Penerbangan dari Pakistan, Buntut 262 Pilot Berlisensi Palsu? “Menyusul peristiwa tragis yang menimpa PIA, termasuk penerbangan PK8303 pada 22 Mei 2020 dan temuan-temuan awal yang tercantum dalam laporan kecelakaan awal yang menunjukkan pelanggaran berturut-turut dari beberapa back-up safety defenses dalam sistem manajemen keselamatan, EASA prihatin bahwa keselamatan sistem manajemen tidak mencapai tujuan utamanya,” tambah EASA dalam surat resminya. Atas penangguhan penerbangan tersebut, dari aspek yuridis, PIA masih mempunyai waktu dua bulan untuk melakukan banding. Pun sebaliknya, EASA juga mempunyai hak untuk mengajukan perpanjangan penangguhan penerbangan PIA ke Eropa selama tiga bulan bila masa penangguhan enam bulan sudah berakhir dan mereka tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari PIA.

Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

Kereta api berkecepatan tinggi dari Beijing menuju Shanghai pada 30 Juni kemarin merayakan ulang tahunnya yang kesembilan. Kereta ini bisa dikatakan sudah berjasa di salah satu jalur kereta berkecepatan tinggi tersibuk di Cina. Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator Di perayaan ulang tahunnya yang kesembilan, kereta ini sudah beroperasi sekitar 1,11 juta kali di jalur tersebut dengan catatan keamanan sangat baik. Dilansir KabarPenumpang.com dari shine.cn (30/6/2020), kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan zona ekonomi utama di Negeri Tirai Bambu ini memiliki nama dalam bahasa mandarin kereta api berkecepatan tinggi Jinghu. Sebelum melintas di zona ekonomi utama Cina, pembangunan jaringan kereta api dimulai pada 18 April 2008 lalu dan dibuka untuk umum pada 30 Juni 2011. Jalur kereta ini memiliki total panjang 1.318 km atau sekitar 819 mil. Ternyata jalur kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan Beijing – Shanghai merupakan yang terpanjang di dunia yang pernah dibangun hanya dalam satu fase. Berada di jalur tersibuk di dunia, kereta berkecepatan tinggi ini pernah mengangkut lebih dari 180 juta penumpang pada tahun 2017. Bahkan bisa dikatakan jumlah penumpang tahunannya paling banyak di seluruh jaringan TGV atau Intercity-Express. Selain itu, menjadi jalur kereta berkecepatan tinggi yang paling menguntungkan di Cina karena laporan laba operasional bersih 6,6 miliar yuan pada 2015. Jalur Beijing – Shanghai merupakan yang pertama dirancang untuk kecepatan maksimum 380 km per jam dalam operasi komersial. Dalam operasionalnya, kereta ini menempuh waktu tiga jam 58 menit dan menjadikannya tercepat di dunia bila dibandingkan dengan kereta api biasa yang menempuh waktu sembilan jam 49 menit Waktu awal beroperasi kecepatan kereta pertama ini terbatas yakni hanya 300 km per jam dan menghabiskan waktu tempuh empat jam 48 menit dari Beijing Selatan ke Shanghai Hongqiao dengan satu pemberhentian tambahan di Nanjing Selatan. Untuk diketahui, proyek ini sendiri diperkirakan menelan biaya 220 miliar yuan atau sekitar $32 miliar. Baca juga: Kereta Cepat ‘Pintar’ Pertama di Dunia untuk Olimpiade Beijing 2022 Telah Mengular Rolling stock yang digunakan di jalur tersebut terdiri dari kereta CRH380 dengan sistem kontrol kereta berbasis CTCS-3 yang digunakan pada saluran yang memungkinkan melaju di kecepatan 380 km per jam berjalan dan interval kereta minimum tiga menit. Kereta berkecepatan tinggi ini mengkonsumsi daya 20 MW dan kapasitas sekitar 1.050 penumpang, konsumsi energi per penumpang dari Beijing ke Shanghai harus kurang dari 80kWh.

Airbus PHK 15 Ribu Karyawan, Perancis Layangkan Protes!

Pertama dan terbesar sepanjang sejarah perusahaan, Airbus mengumumkan akan mem-PHK sebanyak 10 persen atau 15 ribu karyawan di seluruh dunia. Hal itu dilakukan guna mendukung kelangsungan bisnis perusahaan ke depang, mengingat dalam pandangan mereka, kondisi industri penerbangan global masih akan anjlok sampai setidaknya di tahun 2025 mendatang. Baca juga: Perancis Kucurkan Rp239 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Industri Penerbangan Batal PHK Laporan The New York Times menyebut, saat ini Airbus telah kehilangan 40 persen pendapatan di sektor pesawat komersial. Tak ayal bila CEO Airbus, Guillaume Faury, belum lama ini telah mengingatkan karyawan dalam serangkaian memo untuk menghadapi kenyataan terburuk selama beberapa tahun mendatang. “Airbus menghadapi krisis paling parah yang pernah dialami industri ini. Kita harus memastikan bahwa kita dapat mempertahankan perusahaan kita dan keluar dari krisis sebagai pemimpin kedirgantaraan global yang sehat, menyesuaikan diri dengan tantangan luar biasa dari para pelanggan kita,” jelas Faury. Jerman menjadi negara dengan jumlah PHK karyawan Airbus terbanyak mencapai 5.100 dari 45.500 karyawan, diikuti Perancis 5.000 dari 49.000 karyawan, Inggris 1.700 dari 11.000, Spanyol 900 dari 12.500, dan 2.100 lainnya di seluruh dunia. Airbus sendiri mengaku sudah membuka komunikasi dengan serikat pekerja terkait hal ini. Diharapkan, proses tersebut akan selesai paling lambat musim panas mendatang. Adapun skema PHK cukup beragam, mulai dari mendorong karyawan untuk mengundurkan diri, pensiun dini, hingga merumahkan karyawan atau cuti tanpa dibayar hingga waktu yang tak ditentukan. Merasa sudah mengucurkan dana segar sebesar €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725) untuk mempertahankan industri penerbangan dalam negeri, Perancsi pun protes. Juru bicara Menteri Keuangan menyebut keputusan Airbus mem-PHK sebanyak 15 ribu itu berlebihan dan tidak seharusnya dilakukan setelah pemerintah mengucurkan dana besar. Paket stimulus itu memang tidak diberikan langsung untuk Airbus, namun, rencana Air France untuk membeli pesawat Airbus –dengan menggunakan uang dari paket stimulus tersebut- dalam waktu dekat tentu saja akan memberikan angin segar ke Airbus. Protes dari pemerintah pun ditanggapi dingin oleh Airbus. Secara terpisah, mereka sangat mengapresiasi dukungan tersebut. Hanya saja, paket stimulus itu tak mungkin bisa bertahan selama beberapa tahun ke depan dan tak bisa menghindari Airbus dari PHK karyawan, melainkan hanya memperlambat saja. Terlebih jika kondisi seperti ini tak cepat berlalu. “Airbus berterima kasih atas dukungan pemerintah yang memungkinkan perusahaan untuk membatasi langkah-langkah adaptasi yang diperlukan ini,” kata juru bicara Airbus. Baca juga: Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan “Namun, dengan lalu lintas udara yang masih terus anjlok seperti sekarang ini dan diperkirakan akan terus berlangsung sampai benar-benar pulih hingga 2025 mendatang, Airbus perlu mengambil langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan prospek bisnis pasca wabah Covid-19 berakhir,” tambahnya. Airbus tidak sendiri. Kompetitor abadi dari AS, Boeing, juga telah melakukan hal serupa. Bahkan, secara jumlah, Boeing telah mem-PHK lebih banyak karyawan. Dari segi waktu, Boeing juga lebih cepat mem-PHK karyawan dibanding Airbus. Hingga akhir April lalu, Boeing setidaknya telah mem-PHK sebanyak 16 ribu karyawan. Angka tersebut masih sangat mungkin bertambah mengingat prospek bisnis divisi pesawat komersial mereka bisa dibilang selangkah di belakang Airbus.

Pernah Dengar “Rain Gutter” di Pesawat? Jika Belum Simak di Sini

Sebagian orang mungkin mengenal pesawat komersial berkat berbagai teknologi canggih, seperti autopilot, fly by wire, sistem hiburan dalam kabin, filter udara HEPA, teknologi pencegah turbulensi, teknologi radar, efisiensi bahan bakar, teknologi pengganti bahan bakar fosil, mesin, evacuation slide, dan berbagai teknologi lainnya. Baca juga: Pernah Dengar “Evacuation Slide” di Pesawat? Jika Belum Simak Penjelasan Berikut Namun, di balik semua itu, pesawat rupanya mempunyai fitur-fitur lain yang juga cukup bermanfaat melindungi penumpang, sekalipun fungsinya tak se-vital berbagai fitur yang disebutkan di atas. Di antaranya ialah rain gutter. Rain gutter atau talang air pada pesawat sebetulnya memiliki fungsi yang sama dengan rain gutter di mobil dan kendaraan lain; sama-sama mencegah air agar tak masuk ke dalam kabin. Hanya saja, mungkin perbedaanya terletak pada bentuk dari rain gutter itu sendiri selain rain gutter di mobil masih berpotensi menjatuhkan sisa-sisa air yang bergelayut hingga mengenai seseorang. Bila talang air di mobil bentuknya cukup kentara dan berbeda dengan komponen lain di sekitarnya, maka tidak demikian dengan pesawat. Rain gutter di pesawat bisa dibilang cukup samar. Bahkan, bila tak cukup teliti, bisa jadi seseorang akan mengira bahwa rain gutter tak lebih dari sekedar list atau stripping di mobil yang berfungsi di tataran art atau seni. Dilansir dari airliners.net, talang air pesawat terletak di atas pintu, berbentuk garis lurus dengan kemiringan sekitar lima derajat. Selain memiliki fungsi mencegah air masuk langsung ke dalam kabin, mengingat pintu sedikit lebih ke dalam dibanding permukaan badan pesawat, rain gutter juga berfungsi untuk mencegah sisa air hujan yang masih tertinggal di badan pesawat agar tak jatuh langsung ke arah pintu dan mengenai penumpang. Dengan adanya rain gutter, penumpang dapat terhindar dari tetesan air yang meluncur dari atas punggung pesawat. Sebab, air yang meluncur dari punggung pesawat akan tertahan dan mengalir ke bagian terendah rain gutter sebelum jatuh ke daratan. Itu juga alasan mengapa rain gutter dibuat miring lima derajat, agar air tak menggenang di sana sekaligus langsung disalurkan ke bawah. Namun demikian, meskipun rain gutter bisa mencegah agar penumpang tak kebasahan sekalipun setetes air serta melindungi kabin dari hujan, di beberapa kasus, semua itu rasanya terbuang percuma. Di bandara-bandara kecil, misalnya, rain gutter seolah tak berfungsi ketika garbarata tidak tersedia. Baca juga: Pernah Dengar PBE? Inilah Andalan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Pesawat Jadi, ketika pesawat sampai di bandara dan di saat yang bersamaan terjadi hujan, maka, mau tak mau pintu pesawat dibuka dan penumpang kebasahan. Begitupun juga dengan area di sekitar pintu, mau tak mau hujan akan merangsek masuk ke dalam kabin dan bukan tak mungkin kabin akan becek dibuatnya. Atas dasar itu, maka tak heran bila beberapa kalangan menilai rain gutter hampir tak berfungsi apapun kecuali sedikit saja. Namun, sejauh fungsi tak lebih besar dari keburukan atau dampak buruk yang ditimbulkan, maka, tak ada salahnya bila adanya rain gutter tetap patut diapresiasi sebagai salah satu karya sebagai satu kesatuan utuh dari para ahli aeronautika dunia.

Lounge Kembali Buka, Qantas Hilangkan Prasmanan, Pemanggang Roti dan Pembuat Pancake

Bandara Australia yang mulai kembali beroperasi akan membuka sebelas lounge baik milik bandara maupun maskapai pada 1 Juli 2020. Nantinya lounge milik Qantas tidak akan menyediakan makanan secara prasmanan, pemanggang roti ataupun pembuat pancake. Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi Solusi inovatif ini dilakukan agar penumpang yang menggunakan lounge aman dari penyebaran Covid-19. Meski begitu booth cemilan akan ada sepanjang hari menggantikan prasmanan tradisional seperti kue tar kale dan keju, jamur panggang dengan wortel serta kue pecan yang bisa dipilih oleh para pelanggan. Meski makanan prasmanan hilang, pelanggan akan bisa mendapatkan baki berisi makanan mereka dengan memesan terlebih dahulu. Selain itu juga mereka bisa memesan kopi, jus segar, bir dan wine dari petugas bar atau barista di lounge. Qantas sendiri pertama kali menutup lounge domestik dan internasionalnya pada 23 Maret lalu karena penguncian dan pembatasan yang diberlakukan secara nasional. KabarPenumpang.com merangkum laman australianaviation.com.au (30/6/2020), semua lounge yang dibuka pada 1 Juli termasuk lounge Alice Spring yang baru di perbaharui dan memiliki perabot serta wallpaper segar yang dirancang oleh seniman Jimmy Pike akan dibatasi jumlah tamu yang bisa masuk. Ini dilakukan untuk mematuhi batasan berdasarakan negara dan bahkan lounge menyediakan cangkir dan station sabun sekali pakai. Chief customer officer Qantas Stephanie Tully mengatakan, beberapa inisiatif akan menjadi norma, sedangkan yang lain seperti pembatasan kapasitas akan berkurang seiring berjalannya waktu. “Kami tidak mengesampingkan kembalinya prasmanan, roti panggang, dan pembuat pancake di masa depan atau pengenalan kembali stasiun minuman swalayan ketika pembatasan mereda, sementara itu, kami berharap pelanggan Qantas akan menikmati penawaran ekstra yang dipersonalisasi,” kata Tully. Untuk diketahui beberapa lounge yang akan dibuka pada 1 Juli ada dua bagian yakni Capital city lounges dan Regional lounges. Capital city lounges yakni Sydney Domestic Business Lounge, Perth Domestic Business Lounge, Adelaide Qantas Club dan Canberra Business Lounge. Sedangkan Regional lounge yakni Alice Springs Regional Lounge, Kalgoorlie Regional Lounge, Tamworth Regional Lounge, Coffs Harbour Regional Lounge, Broome Regional Lounge, Karratha Regional Lounge dan Launceston Regional Lounge. Qantas menambahkan untuk lounge yang ada di Quensland dan Victoria dijadwalkan dibuka kembali secara progresif padaa 10 Juli mendatang. Meski begitu beberapa lounge Qantas di Australia dan luar negeri sampai saat ini tetap ditutup. Baca juga: Qantas Akan Hadirkan Lounge Kelas Satu di Bandara Changi Qantas secara otomatis memperpanjang keanggotaan Qantas Club selama enam bulan untuk anggota Qantas Club berbayar yang memenuhi syarat dengan ulang tahun keanggotaan antara 23 Maret 2020 dan Februari 2024. Qantas Frequent Flyer juga memperpanjang status tingkat anggota selama 12 bulan.

PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19

Sampai saat ini masih banyak yang takut bepergian dengan menggunakan transportasi umum meskipun sudah ada jarak antar penumpang yang satu dengan yang lainnya. Karena hal ini, banyak sekali operator yang mencari cara agar para penumpang bisa merasa aman, nyaman serta tidak cemas terinfeksi virus corona atau Covid-19. Baca juga: Arrival Hadirkan Konsep Bus Listrik Publik dengan Beragam Fitur Khas Pandemi Covid-19 Seperti operator bus di Myanmar yang kemudian mengambil inisiatif untuk memodifikasi bus mereka agar bisa digunakan penumpang dan juga mencegah penyebaran Covid-19. JJ Express memberikan sekat plastik sehingga setiap kursi menjadi seperti bilik yang muat untuk satu orang. Dalam hal modifikasi ini JJ Express sudah mengubah selusin armada mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari reuters.com (19/6/2020), JJ Express membangun kabin mini dengan panel aluminium dan pintu di sekitar kursi tunggal dan satu kabin di dekat jendela pada kursi dua. Selain itu, mereka juga merombak sistem pendingin udara dan memasang filter desinfeksi. “Kami menyadari bahwa perubahan norma perjalanan tidak bisa dihindari. Sebagai hasilnya, kami percaya bahwa kami akan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan dan kami akan dapat mempertahankannya dengan baik di masa depan,” kata manajer perusahaan Kyawt Kyawt Thet. Thet mengatakan mereka telah memasang modifikasi tersebut di 12 bus dari 50 bus yang dimiliki di negara bagiannya. Setelah dimodifikasi penumpang akan membayar $20 atau sekitar Rp287 ribu dan naik sekitar 20 persen dari harga standar biasanya. “Kami tidak berani bepergian selama Covid-19. Kami tidak merasa aman ketika dua orang duduk berdekatan satu sama lain di kursi kembar,” kata seorang penumpang bernama Ko Kai. Dia diketahui bepergian secara teratur dalam perjalanan yang menghabiskan waktu selama sepuluh jam dengan jarak 650 km antara Yangon dan Negara Bagian Shan. Baca juga: Imbas Covid-19, PO Bus Sepi Penumpang dan Tengah Cari Solusi “Sekarang, kita merasa lebih aman duduk di kamar pribadi ini, jauh lebih nyaman,” tambahnya. Myanmar telah mengkonfirmasi 286 kasus virus corona dan enam kematian. Pada hari Jumat melaporkan 23 infeksi baru, semua ditemukan di karantina di antara orang yang dideportasi dari Thailand.

Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

Rapid test atau pengujian cepat untuk mengetahui reaktif atau non reaktif Covid-19 menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam penerbangan di masa pandemi ini. Sehingga kemudian Bandara Frankfurt membuka walk-in testing center Covid-19 pada hari Senin (29/6/2020) kemarin. Baca juga: Tiba di Bandara Sorong dengan Menumpang Pesawat Garuda Indonesia, Siswa ini Ternyata Positif Covid-19 Pusat pengujian Covid-19 ini bekerja sama dengan operator bandara Fraport, maskapai Lufthansa dan perusahaan bioteknologi Centogene. KabarPenumpang.com melansir laman dw.com (29/6/2020), kerja sama ini diharapkan akan berfungsi sebagai cetak biru untuk membuka perbatasan internasional dan skema tersebut diperkirakan akan terus dilakukan hingga 31 Juli tahun depan. “Penumpang yang terbang ke atau dari Bandara Frankfurt dengan Lufthansa dapat melakukan tes Covid-19 di pusat pengambilan sampel yang terletak di dekat terminal utama,” kata pernyataan Centogene. Tes ini bisa dilakukan dan hasilnya bisa langsung didapatkan satu hari sebelum bepergian. Di mana hasil tesnya akan dikirim ke penumpang melalui platform digital yang aman dan terhubung ke tiket mereka, sehingga penumpang bisa mendapatkan izin aman untuk terbang ke negara-negara dengan pembatasan. Bandara Frankfurt sendiri memiliki kapasitas untuk melakukan tes dalam sehari sebanyak 5000 kali. “Melalui kemitraan kami dengan Lufthansa dan mitra medis Dr. Bauer Laboratoriums GmbH, kami dapat memastikan solusi end to end yang cepat, akurat, dan aman bagi penumpang,” kata Volkmar Weckesser, Kepala Informasi Centogene. “Dengan membuka pusat pengujian, kami menawarkan tamu kami kesempatan yang nyaman untuk menguji diri mereka sendiri untuk penerbangan ke luar negeri atau tinggal di Jerman untuk menghindari karantina,” kata Dr. Björn Becker, Direktur Senior Layanan Ground & Digital Services Management di Lufthansa Group. Bisa dikatakan, Bandara Frankfurt menjadi yang pertama di Jerman dengan menghadirkan hal seperti ini. Untuk tesnya penumpang akan merogoh kocek €59 atau Rp951 ribu untuk hasil dalam waktu enam hingga delapan jam. Serupa tapi tidak sama, dari Indonesia, Lion Air Group juga menghadirkan layanan uji rapid test Covid-19 khusus kepada penumpangnya. Biayanya hanya Rp95 ribu dan sudah termasuk surat keterangan sesuai hasil yang berlaku selama 14 hari. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pelaksanaan rapid test ini sendiri mereka bekerja sama dengan Klinik Lion Air Medika. Layanan ini dimulai sejak 29 Juni 2020 dan pada tahap awal akan tersedia di empat lokasi yakni kantor pusat Lion Air Tower, kantor Lion Air Group, kantor pusat Lion Parcel dan kantor Lion Operator Center (LOC). Baca juga: Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi “Pada tahap selanjutanya akan dikembangkan dan dilaksanakan di kota-kota lain, baik di kantor penjualan atau bandara-bandara di wilayah Indonesia. Kehadiran layanan ini memberikan nilai lebih yakni praktis dan memudahkan penumpang dalam merencanakan perjalanan,” kata Danang yang dikutip dari siaran pers.

Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Setelah berhasil melakukan uji penerbangan lepas landas otomatis pertengahan Desember lalu, Airbus kembali membuat ‘resah’ pilot. Belum lama ini, raksasa produsen pesawat asal Eropa itu berhasil melakukan langkah strategis lainnya dalam upaya mengurangi peran pilot (bahkan meniadakannya di masa mendatang); landing dan taxi secara otomatis. Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh! Chief Technology Officer Airbus, Grazia Vittadini, kepastian itu didapat pasca keberhasilan pesawat A350-1000 lepas landas, landing, dan taxi otomatis dalam proyek kemanusiaan, mengangkut peratalan medis dari Beijing ke berbagai rumah sakit di Eropa. “Kami baru-baru ini mencapai tonggak baru, setelah landing based vision takeoff otomatis pertama di dunia, kami baru saja berhasil melakukan taxi dan vision-based taxi and landing otomatis pertama di dunia,” katanya dalam sebuah acara oleh American Institute of Aeronautics and Astronautics, sebagaimana dilansir aviationtoday.com. “Ini adalah pertama kalinya sebuah pesawat mampu lepas landas dan mendarat sepenuhnya otomatis. Kesulitan terbesar dalam hal ini adalah meyakinkan para pilot untuk tidak melakukan apa pun dan menjauhkan tangan mereka dari throttle,” tambahnya. Sejak proyek Autonomous Taxi, Take-Off and Landing (ATTOL) pertama kali dimulai pada Juni 2018, Airbus setidaknya telah melakukan total 500 uji terbang. Dari jumlah tersebut, umumnya agenda pengujian masih berupa mengumpulkan data berupa video dan mendukung penyempurnaan algoritma, dengan melibatkan banyak tim teknik dan teknologi Airbus, seperti Airbus Defense and Space, Airbus A³, dan berbagai divisi lainnya. Selain itu, dari 500 uji terbang, lima di antaranya juga telah dilakukan take off and landing per run untuk mengevaluasi kemampuan modifikasi A350-1000 dalam melakukan take off dan landing otomatis. Terkait modifikasi A350-1000, Airbus setidaknya telah menyematkan beberapa fitur baru untuk mendukung tes ATTOL, upgrade flight control computer, memasang kamera di segala sudut dan perangkat elektronik pendukung yang terhubung dengan kamera tersebut. Tak lupa, modifikasi A350-1000 juga mencakup algoritma. “Pembelajaran dari program khusus itu (algoritma) akan mempengaruhi seluruh proyek Airbus lainnya. Sebab, algoritma yang sama pada ATTOL memungkinkan kami untuk mengeksekusi taxi, take off, dan landing otomatis,” kata Sebastien Giuliano, pimpinan proyek ATTOL. “Banyak yang kami lakukan sudah didorong oleh otomatisasi. Lihat saja berbagai fitur-fitur yang ada di produk-produk kami, auto pilot, fly by wire, autopilot, autoland, termasuk juga satelit yang kami gunakan selama 15 tahun. Jadi kami tidak ingin menjadikan otomatisasi sebagai tujuan, melainkan alat untuk mengeksplorasi seluruh teknologi terkait,” tutupnya. Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar Akan tetapi, sebagian kalangan menilai, keberhasilan Airbus melakukan taxi, take off, dan landing otomatis di masa mendatang mungkin akan menjadi momok bagi pilot. Capt. Shadrach Nababan, mantan pilot senior Garuda Indonesia, pernah mengatakan kepada KabarPenumpang.com bahwa sejauh ini sekedar hanya taxi, take off, dan landing bisa dibilang tak terlalu berdampak pada profesi pilot. Tetapi, di antara berbagai syarat untuk memungkinkan pesawat mengudara tanpa adanya pilot di kokpit, salah satu yang terpenting adalah insting atau naluri. Bila teknologi sudah mampu membuat pesawat mempunyai naluri atau insting, maka besar kemungkinan pesawat dapat melenggang sendirian tanpa adanya pilot.

Tujuh Maskapai Amerika Deklarasi Tiga Aturan Kesehatan Baru, Apa Saja?

Wabah Covid-19 masih melanda dunia. Berbagai maskapai penerbangan ramai-ramai menerapkan standar kenormalan baru atau new normal untuk membuat penerbangan tetap aman; tak terkecuali dengan Airlines for America (A4A). Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya Belum lama ini, Asosiasi Maskapai Penerbangan Amerika Serikat (AS) ini memperkenalkan tiga aturan baru guna menekan penyebaran virus corona sekaligus membuat penerbangan tetap aman. Bila diperhatikan dengan detail, sebetulnya, tiga aturan tersebut bisa dibilang tak ada yang baru dibanding negara lain semisal Dubai (UAE), Hong Kong, Singapura, bahkan Indonesia sekalipun. Simple Flying mencatat, aturan tersebut, pertama, A4A meminta kepada seluruh penumpang untuk membawa masker dan senantiasa memakainya, baik saat di bandara, garbarata, dan saat dalam penerbangan. Kedua, maskapai-maskapai di bawah naungan A4A akan mewajibkan kepada seluruh penumpang untuk mengisi surat keterangan sehat (form deklarasi yang berisi pernyataan). Lengkapnya, form tersebut berisi kepastian setiap penumpang tidak sedang mengidap demam di atas suhu 38C, batuk, sesak napas, kesulitan bernapas, kehilangan daya penciuman (pilek atau hidung mampet), kedinginan, pegal-pegal, dan atau sakit tenggorokan. Adapun yang terakhir, sebelum ikut dalam penerbangan, seluruh penumpang akan ditanyai tentang risiko terpapar Covid-19. Intinya, mereka akan diwawancara soal kegiatan selama 14 hari terakhir dan diminta untuk berikrar bahwa mereka tidak pernah melakukan kontak dengan pasien positif corona ataupun pasien dengan gejala mirip corona. Ketiga aturan tersebut akan diterapkan oleh tujuh maskapai terbesar di AS, Alaska Airlines, American Airlines, Delta Air Lines, Hawaiian Airlines, JetBlue Airways, Southwest Airlines, dan United Airlines. Mereka akan terus memberlakukan aturan ini sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan; melengkapi berbagai aturan lainnya, seperti physical distancing dan mengecek suhu tubuh sebelum mulai terbang. Dilihat dari cara kerja aturan tersebut, yang notabene mengandalkan kejujuran setiap penumpang, sebagian kalangan menilai hal itu tak akan berhasil. Sudah banyak kasus penumpang mengaku menjawab ala kadarnya semata agar bisa tetap ikut dalam penerbangan. Celakanya, petugas juga tak melakukan upaya lain untuk mencari tahu apakah setiap penumpang mengisi form dan menjawab pertanyaan dengan jujur atau tidak. Baca juga: Virus Corona Bikin Penerbangan Jadi Mahal? Padahal, dilihat KabarPenumpang.com dari FlightRadar24, lalu lintas udara di AS bisa dikatakan tengah bangkit dan mulai ramai. Bahkan, kesibukan lalu lintas udara di sana bisa dikatakan yang terbesar sekalipun pandemi Covid-19 masih terus menghantui. Begitu juga dengan Cina yang telah terlihat merangkak pulih. Namun, berbeda dengan AS yang masih terus mengalami lonjakan kasus, di Cina corona bisa dibilang sudah terkendali sehingga wajar saja bila lalu lintas udara sibuk kembali. Jika sudah begini, patut ditunggu, apakah penerbangan akan menjadi klaster baru penyebaran corona di AS?

Tokyo, Beijing dan Singapura Mendapat Peringkat Tertinggi di Dunia Menjadi Kota Ramah Penumpang

Ketika mengunjungi suatu tempat dan melihatnya bersih, cukup menyenangkan hati dan membuat nyaman ketika bepergian menggunakan transportasi umumnya. Ternyata di dunia ini ada tiga kota metropolitan ramah lingkungan dan menjadi yang terhijau di dunia dan ketiganya ada di Asia. Baca juga: Berdasarkan Indeks Keamanan, Inilah 10 Negara Teraman Untuk Dikunjungi Ketiga kota itu yakni Benua Asia yakni Tokyo, Beijing dan Singapura mendapatkan peringkat sebagai kota komuter paling ramah lingkungan dalam sebuah studi baru oleh perusahaan data insight, Kantar. Ketiganya mendapat peringkat sangat tinggi karena populasi masyarakat mereka yang sebagian besar berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum untuk bekerja. Selain itu juga penggunaan kendaraan pribadi relatif sangat sedikit. “Setiap detik orang menggunakan transportasi umum untuk bekerja,” Rolf Kullen, Direktur Senior Mobilitas di Kantar. KabarPenumpang.com melansir dari laman cnbc.com (16/10/2019), studi ini dilakukan dengan bertanya pada 20 ribu penumpang di 31 kota di seluruh dunia tentang kebiasaan perjalanan mereka. Sedangkan Seoul berada di peringkat ketujuh dan menjadi kota di Asia keempat yang masuk sepuluh besar. Sedangkan empat posisi lainnya yang masuk dalam sepuluh besar ada di Eropa yakni London, Kopenhagen, Amsterdam dan Moskow. Mereka masuk bersama Nairobi dan Sao Paulo. Sedangkan kota di Amerika Serikat tidak ada yang berhasil mencapai peringkat teratas. Sebab pada studi terpisah pada 2017 lalu, ditemukan bahwa rata-rata orang Amerika mengabiskan total 52 menit per hari dalam perjalannnya dengan sekitar 85 persen menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan lima persen menggunakan transportasi umum, 2,8 persen berjalan kaki dan 0,6 persen sisanya menggunakan sepeda. Temuan Kantar ini berbicara tentang perkembangan infrastruktur baru-baru ini di beberapa kota besar Asia. Di mana mereka menjadikan transportasi umum menjadi sarana transportasi yang layak dan lebih disukai para penumpang karena menghindari mengemudi di jalanan yang macet. Tetapi mereka juga menyoroti pekerjaan yang masih harus dilakukan di kota-kota yang secara tradisional dirancang untuk mobil jika ada kemajuan dalam mengurangi polusi udara dan memperbaiki lingkungan. “Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kota-kota global saat ini adalah memindahkan penumpang dari kenyamanan dan kenyamanan mobil mereka ke pilihan transportasi yang lebih berkelanjutan,” kata Guillaume Saint, pemimpin otomotif & mobilitas global di Kantar. Baca juga: Gegara Corona, 21 Wilayah di Rusia Meminta Izin Akses Travell Pass Digital ala Moskow Menurut PBB, polusi udara menyebabkan tujuh juta kematian prematur per tahun. Sementara itu, pada 29 persen dari seluruh emisi global, transportasi dipandang sebagai salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca global.