Airbus A330-300 Garuda Indonesia dengan livery klasik (strip merah-oranye di pinggang pesawat) bernomer GA 613 rute Makassar – Jakarta terperosok keluar landasan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (1/7) pukul 18.55 WITA. Beruntung, kejadian itu tak sampai menimbulkan korban jiwa.
Baca juga: Boeing 737-800 dan Bombardier CRJ-1000 Garuda Indonesia Nyaris Tabrakan di Bandara Soekarno-Hatta
Akan tetapi, dari penelusuran redaksi KabarPenumpang.com, kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Sultan Hasanuddin rupanya menjadi yang pertama sepanjang sejarah perusahaan. Flag carrier Indonesia itu bahkan masih jauh tertinggal dibanding pemilik market share industri penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air.
Selain Garuda Indonesia dan Lion Air, bandara yang digunakan bersama oleh TNI AU dan sudah berganti berganti nama sebanyak empat kali sejak 1935 silam ini juga pernah terlibat kecelakaan dengan tiga maskapai lainnya. Tak heran bila bandara yang mempunyai dua runway masing-masing sepanjang 3100 × 45 meter dan 3500 × 45 meter ini sering mengadakan kegiatan latihan Partial Exercise atau simulasi kecelakaan. Agar lebih jelas, berikut 10 daftar kecelakaan pesawat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
1. 31 Oktober 2003, Lion Air Penerbangan 787, MD-82 rute Ambon-Makassar-Denpasar, keluar jalur saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.
2. 3 Februari 2005, Lion Air dengan penerbangan 791, MD-82 rute Ambon-Makassar tergelincir saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.
3. 6 Mei 2005, Lion Air Penerbangan 778, MD-82 rute Jakarta-Makassar pecah ban saat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar. Tidak ada korrban jiwa dalam kasus kecelakaan itu.
4. Lion Air dengan penerbangan 792, MD-82 rute Jakarta-Makassar-Gorontalo pada 24 Desember 2005, roda pesawat tergelincir keluar landasan saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
5. Pada 24 Desember 2006, pesawat boeing 737-400 dengan nomor penerbangan 792, PK-LIJ rute Jakarta-Makassar-Gorontalo tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
6. 18 Januari, pesawat MD-82 milik Lion Air rute rute Ambon-Makassar-Surabaya tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Hasanuddin, Makassar.
7. Pesawat Garuda Indonesia berjenis Airbus A330 dengan nomor penerbangan GA613 dikabarkan tergelincir saat hendak meinggalkan bandara. Pesawat Garuda Indonesia tersebut diketahui melayani rute penerbangan Makassar-Jakarta. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
8. Sejumlah penumpang pesawat Batimurung Air Manado-Makassar kocar-kacir menyelamatkan diri saat pesawat yang ditumpanginya terbakar dalam simulasi penanganan bencana di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Rabu (27/11/2013).
Namun, berbeda dengan tujuh insiden sebelumnya, insiden di atas merupakan simulasi belaka. Simulasi tersebut dilakukan Angkasapura (AP) I untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan tim dalam menangani kecelakaan pesawat termasuk ancaman teroris pada transportasi udara.
9. Mei, 2018, pesawat Celebes Airlines dengan nomor Penerbangan CA 116 rute SUB-UPG dilaporkan mengalami kecelakaan. Insiden pesawat yang mengangkut penumpang sebanyak 120 orang itu terjadi pada pukul 09.33 di area runway 31-13 Bandara Sultan Hasanuddin. Hanya saja, insiden kecelakaan maskapai milik Bosowa Grup rupanya hanya simulasi semata.
Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan
10. Maret 2019, kecelakaan pesawat terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin, pada Rabu (13/3) malam. Pesawat mengalami pecah main wheel kiri sebelum lepas landas, dan akhirnya pilot memutuskan untuk membatalkan lepas landas (abort take off).
Sebelumnya saat akan lepas landas pesawat mengalami swing ke kiri hingga menabrak pagar perimeter bandara dan kemudian terbakar. Sama seperti Celebes Airlines dan Batimurung Air, insiden tersebut sejatinya hanya simulai belaka yang dijalankan Angkasapura I di runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Belum lama ini ada kabar gembira dari PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terkait Transit Oriented Development (TOD) yang tengah dikembangkan. Kabar tersebut yakni sudah adanya pengesahan Peraturan Gubernur DKI Jakarta tentang kawasan transit beroirentasi transit ini.
Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, ada tiga kawasan TOD yang sudah keluar Pergubnya yakni No.55/2020 untuk kawasan Blok M – ASEAN yang akan menjadi Green Creative Hub. Pergub No.56/2020 untuk Kawasan Fatmawati yang akan memiliki tag line Ruang Atas Dinamis.
Sedangkan Pergub No.57/2020 untuk kawasan Lebak Bulus yang nantinya akan menjadi Gerbang Terminus Selatan Jakarta. William mengatakan nantinya TOD ini pelaksanaan kegiatannya akan dibangun dan dikoordinasi oleh anak usaha MRT Jakarta yakni Integrasi Transit Jakarta.
Dia menambahkan untuk dua kawasan TOD lainnya yakni di Dukuh Atas dan Istora Pergubnya tengah dalam proses.
“Nantinya dengan adanya TOD ini dikembangkan dengan jumlah penumpang dan aktivitas yang bertambah. Kami akan bangun vertikal dan adanya TOD sendiri akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Kita akan kembangkan pembangunan TOD juga sampai ke Stasiun Kota di Fase 2,” jelas William yang ditemui di Depo Lebak Bulus, Kamis (2/7/2020).
Tak hanya kawasan TOD, pihaknya bersama dengan PT KAI dalam perusahaan Gabungan yakni PT MITJ yang sudah menyelesaikan empat stasiun yakni tanah Abang, Sudirman, Juanda dan Pasar Senen juga akan melanjutkan ke beberapa stasiun lainnya. William menjelaskan PT MITJ akan mulai mengembangkan lima stasiun berikutnya seperti Stasiun Gondangdia, Manggarai, Palmerah, Tebet dan Kota.
Namun pengerjaannya untuk penambahan lima stasiun tersebut diharapkan William bisa selesai pada tahun ini juga. Bahkan baru-baru ini PT MRT Jakarta, TransJakarta, Jakpro dan MITJ baru menyelesaikan tanda tangan terkait sistem integrasi pembayaran antar moda transportasi.
Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan
“Kami membentuk perusahaan patungan dan MRT jakarta yang memimpin ruang diskusi atau berkomunikasi dengan Bank Indonesia serta instansi terkait sehubungan dengan kewajiban izin-izin serta lisensi. Selain itu juga akan dilakukan kajian skema bisnis integrasi sistem pembayaran antar moda transportasi dan tarif melalui metode electronic face collection (EFC),” tuturnya.
Apakah awak kabin dipecat dari Emirates karena menggunakan ponselnya? Pertanyaan ini muncul setelah ada video yang diunggah YouTuber dan membahas topik menarik bagi awak kabin yang fokus pada operator asal Timur Tengah seperti Emirates. Menurut video tersebut, seorang frequent flyer Emirates melihat seorang awak kabin mengirim pesan singkat di ponselnya selama di pesawat tengah taxi atau pesawat berjalan ke runway.
Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari
Karena hal ini dia menulis surat keluhan kepada Emirates, yang pada dasarnya sedang mencoba memeras maskapai. Dia mengatakan jika mereka tidak memberikan kompensasi kepadanya, dia akan mempublikasi video secara online. Bahkan disebutkan awak kabin tersebut dipecat karena insiden itu.
Bisa dikatakan, penumpang itu orang yang tidak baik jika melaporkan awak kabin demi sebuah kompensasi. Ini hanya dari satu sisi penumpang tersebut sehingga belum jelas dari sisi awak kabin.
“Setiap penerbangan saya harus mendengarkan bahwa Emirates adalah perusahaan terbaik di dunia. Dan sejak acara terakhir saya benar-benar memikirkan ini. Saya anggota platinum yang terbang hampir setiap minggu bersama Anda. Melakukan lepas landas saya melihat seorang wanita SMS di teleponnya seperti jika itu adalah prosedur normal. Jadi ketika kami mendarat saya mengambil ponsel saya dan mendapatkan video-nya saat mengirim pesan. Saya tidak bisa melampirkan video disini, jadi saya hanya mengambil screenshot. Tapi kalau-kalau saya juga dapat mengirim Anda video. Tolong jangan paksa saya untuk menerbitkan ini di Youtube, internet atau 9crew di facebook. Ini akan menjadi iklan yang sangat buruk bagi Anda. Jelaskan pada saya bagaimana mungkin perusahaan TERBAIK di dunia memungkinkan berperilaku seperti itu, ” isi keluhan penumpang yang meminta kompensasi Emirates.
KabarPenumpang.com merangkum dari laman onemileatatime.com (27/6/2020), kemudian YouTuber itu mengunggah video permintan maaf karena hal tersebut. Meski begitu insiden ini sebenarnya tidak membuat awak kabin dipecat.
Ternyata diketahui ini merupakan cerita lama dengan penerbangan pada Februari 2018 lalu di mana awak kabin tersebut sudah bekerja di Emirates selama enam tahun dan mengatakan dirinya memiliki catatan yang sempurna hingga saat ini. Kemudian dirinya dipanggil ke kantor dihadapkan oleh manajernya dan mendapat peringatan terakhir.
Baca juga: Empat Bulan Nganggur, Emirates ‘PHK’ Airbus A380 Pertama
Awak kabin tersebut mengaku dirinya kehilangan rasa hormat terhadap perusahaan pada saat itu, dan dia tidak bisa terus bekerja dan bersikap baik pada penumpang. Sehingga dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan pindah bekerja ke maskapai lain yang tidak memperlakukannya seperti angka melainkan seorang manusiawi.
Pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Transisi yang sedang berlangsung saat ini, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terus menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya dengan mengganti termometer tembak dengan thermal scanner yang bisa mengecek suhu tubuh penumpang lebih banyak dalam sekali cakupan.
Baca juga: PT MRT Jakarta Gunakan Thermal Scanner di Lima Stasiun Besar
Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, saat ini empat stasiun besar MRT Jakarta akan dipasang thermal scanner tersebut. Namun saat ini baru ada dua yang terpasang di Stasiun Fatmawati dan Stasiun Dukuh Atas.
Monitor hasil dari pengecekan thermal scanner (KabarPenumpang.com)
“Ada empat stasiun besar yakni Stasiun Bundaran HI, Dukuh Atas, Fatmawati dan Lebak Bulus yang akan di pasang thermal scanner ini. Tapi baru dua karena yang lain masih dalah tahap uji coba,” kata Kamal di Stasiun Fatmawati, Kamis (2/7/2020).
Dia mengatakan uji coba thermal scanner ini untuk menentukan yang terbaik dalam pengecekan suhu tubuh. Ketika berada di Stasiun Fatmawati, ada kamera untuk pengecekan suhu tubuh penumpang.
Kamal menjelaskan, kamera ini nantinya akan mengecek suhu penumpang dan hasilnya akan terpampang dalam layar monitor di depan jalur masuk. Selain itu ada juga alat pembanding suhu yang akurat sehingga bila terlihat tidak pas akan terdeteksi.
“Selain kamera pengukur suhu, ada juga alat pembandingnya. Kalau menggunakan termometer biasa hasil sering tidak akurat. Ini akurat dan di layar monitor tidak hanya suhu, tetapi mendeteksi penumpang menggunakan masker atau tidak, menggunakan kacamata atau tidak,” kata Kamal.
Dia menambahkan, monitor thermal scanner ini pun bisa mendeskripsikan kisaran usia penumpang MRT Jakarta. Selain itu Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengaku dalam PSBB Transisi tahap pertama ini, penumpang mengalami lonjakan pada 30 Juni 2020 sebanyak 20.793.
“Dari data terbaru yang saya dapatkan dari OCC per hari ini, 1 Juli 2020 ada sebanyak 21.478 penumpang dan ini naik. Kami berharap setelah fase transisi dua minggu dan bisa beraktivitas normal maka jumlah penumpang akan naik,” kata William di Depo MRT Jakarta.
William menjelaskan, meski saat ini sudah mencapai angka 21 ribu penumpang perhari, pihaknya tetap optimis bisa mengontrol dan mengakomodir pergerakan penumpang jika sudah mencapai angka 70 ribu per harinya.
“Antrian bisa dikelola dengan baik, lebih dari itu pada jam sibuk bisa kami tambah tiga jam di pagi dan tiga jam di malam,” ujar William. Dia menambahkan, MRT Jakarta sebagai salah satu transportasi umum bukanlah tempat penyebaran Covid-19. Sebab bila protokol kesehatan dengan benar dan berjalan dengan baik maka penyebaran virus tersebut pun tidak akan terjadi.
Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit
Apalagi MRT Jakarta memiliki sirkulasi udara yang baik karena meningkatkan ventilasi udara di dalam kendaraan. MRT Jakarta juga meningkatkan frekuensi layanan untuk mengurangi kepadatan.
“Kami mendesinfeksi kereta secara rutin. Kita lakukan kolaborasi dan pastikan seluruh transportasi publik terapkan protokol aman. Sehingga dengan begini bisa dipastikan siapa pun yang naik transportasi publik dipastikan aman dari paparan virus,” jelas William.
Denyut bisnis dan wisata suatu negara bisa ditandai dengan terbukanya akses penerbangan internasional. Setelah menghentikan penerbangan sementara ke Indonesia, Qatar Airways menyebutkan bahwa telah membuka kembali penerbangan ke Indonesia, persisnya mulai 1 Juli 2020 dengan rute Doha – Denpasar. Layanan penerbangan Doha – Denpasar dilayanu Qatar dengan frekuensi setiap hari. Penerbangan langsung jarak jauh ini menggunakan jenis pesawat Boeing 787-800 Dreamliner dengan konfigurasi 22 kursi flatbed di kelas bisnis dan 232 kursi di kelas ekonomi.
Baca juga: Dengan Dalih Risiko Tertular Covid-19! Qatar Airways Hapuskan Hak Layover Pramugari di Penerbangan Jarak Jauh
Dalam pesan tertulis kepada KabarPenumpang.com, Nurhayati Binti Abdul Ghani Senior Public Relations Assistant Qatar Airways Asia Pacific mengatakan, Qatar Airways juga akan membuka kembali penerbangan langsung Doha – Jakarta mulai 7 Juli 2020 dalam 11 frekuensi penerbangan dalam seminggu.
Qatar Airways telah meningkatkan protokol keselamatan untuk para penumpang dan awak kabin. Maskapai telah menerapkan beberapa perubahan, termasuk pengenalan penggunaaan baju Alat Pelindung Diri (APD) termasuk sarung tangan, masker wajah serta kaca mata keselamatan serta baju proteksi yang sesuai dengan seragam mereka. Modifikasi pelayanan yang mengurangi interaksi antara penumpang dengan awak kabin pada saat terbang juga telah dilakukan.
Awak kabin Qatar Airways gunakan kostum hazmat (Istimewa)
Didalam pesawat, semua penumpang Qatar Airways kini diberikan alat perlindungan secara cuma – cuma. Didalam tas kecil (pouch), mereka akan menemukan masker wajah sekali pakai, sarung tangan powder – free sekali pakai serta gel hand sanitizer yang berbasis alkohol. Maskapai juga memberikan alat pelindung wajah (face shield) untuk dewasa dan anak – anak. Penumpang yang berpergian dari Bandara Internasional Hamad (HIA) akan menerima alat pelindung wajah di konter check – in, dimana di beberapa destinasi, alat pelindung wajah tersebut akan didistribusikan di gerbang boarding.
Baca juga: Krisis Besar, Qatar Airways Tolak Pesawat Airbus dan Boeing Hingga 2022
Untuk memastikan para penumpang dapat merencakan perjalanan mereka dengan tenang, maskapai telah memperbaharui kebijakan pemesanan tiket dengan menawarkan lebih banyak pilihan kepada para penumpang. Maskapai mengijinkan perubahan tanggal secara tak terbatas, dan penumpang dapat merubah destinasi mereka sesering yang mereka butuhkan apabila masih dalam radius 5,000 miles dari destinasi semula. Maskapai tidak akan menagih selisih harga untuk perjalanan yang diselesaikan sebelum 30 Desember 2020, dimana setelahnya ketentuan harga akan berlaku.
Jadwal Penerbangan:
Denpasar, Bali, 7 kali seminggu mulai dari 1 Juli 2020
Doha (DOH) ke Denpasar (DPS) QR962 berangkat: 00:45 tiba: 15:45
Denpasar (DPS) ke Doha (DOH) QR961 berangkat: 22:00 tiba: 02:35+1 Hari
Jakarta, 11 kali seminggu mulai 7 Juli 2020
Doha (DOH) ke Jakarta (CGK) QR956 berangkat: 02:20 tiba: 15:20
Doha (DOH) ke Jakarta (CGK) QR958 berangkat: 19:45 tiba: 08:45+1 Hari
Jakarta (CGK) ke Doha (DOH) QR955 berangkat: 00:40 tiba: 05:10
Jakarta (CGK) ke Doha (DOH) QR957 berangkat: 18:25 tiba: 22:55
Soerang penumpang Garuda Indonesia asal warga negara negara Fiji, diwartakan meninggal dalam perjalanan pada hari Selasa (30/6/2020), setelah sebelumnya korban mengalami sesak nafas dan mendapatkan pertolongan pertama dari awak kabin dengan pemberian oksigen. Pesawat yang dimaksud bernomer penerbangan GA8820 dengan rute New Delhi – Batam – Merauke – Fiji.
Baca juga: Saat Ada Penumpang Meninggal di Kabin Pesawat? Inilah Prosedur Penanganannya
Garuda Indonesia, seperti diketahui tidak mempunyai rute penerbangan reguler ke India, sementara penerbangan GA8820 disebutkan merupakan jenis penerbangan charter. Diretur Utara Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam keterangan tertulis kepada KabarPenumpang.com (2/7/2020), menyebutkan bahwa penerbangan GA8820 yang diberangkatkan dari New Delhi pada pukul 21.45 LT pada hari Selasa (30/6) merupakan penerbangan charter dalam rangka repatriasi 112 orang warga Negara Fiji dari New Delhi. “Kami memastikan, Garuda Indonesia telah menjalankan prosedur penanganan penumpang yang meninggal di dalam pesawat sesuai aturan yang berlaku,” ujar Irfan.
Adapun sebelum melaksanakan penerbangan, penumpang dimaksud telah menjalankan prosedur pemeriksaan SWAB Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan hasil negatif Covid-19.Lebih lanjut jenazah penumpang tersebut dievakuasi ketika pesawat transit di Bandara Hang Nadim Batam. Proses evakuasi dilakukan dengan mengacu pada prosedur protokol kesehatan yang dijalankan secara menyeluruh dengan koordinasi intensif bersama otoritas kesehatan di Bandara Hang Nadim Batam.
Adapun sesuai dengan prosedur protokol kesehatan penerbangan, Garuda Indonesia juga telah melaksanakan proses disinfeksi di kabin pesawat sesuai ketentuan yang berlaku.
Disamping itu, sebagai bentuk upaya preventif serta merujuk pada rekomendasi gugus tugas Covid-19 Batam guna memastikan kondisi kesehatan awak pesawat pada penerbangan tersebut, maka seluruh awak pesawat yang bertugas telah melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk menjalankan prosedur pemeriksaan SWAB Polymerase Chain Reaction (PCR) di RSKI Pulau Galang dengan hasil negatif Covid-19.
Selanjutnya seluruh awak pesawat yang bertugas pada penerbangan tersebut akan diterbangkan kembali ke Jakarta dan menjalani protokol kesehatan yang diperlukan. Penerbangan GA 8820 kemudian melanjutkan perjalanan dari Batam pada pukul 02.54, Rabu (1/7) dengan pergantian awak pesawat.
Bandara Changi, Singapura belum lama ini tengah sibuk mengujicoba langkah-langkah terbaru menghadapi pembukaan kembali penerbangan secara bertahap. Saat ini, Singapura memang masih menerapkan pembatasan perjalanan, utamanya internasional, untuk mencegah kasus impor corona.
Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines
Dilansir Bloomberg, langkah-langkah yang dimaksud terkait banyak hal, mulai dari check-in kiosks berlapis cairan disinfektan anti-mikroba, sekat akrilik di check-in counter, robot pembersih yang menyemprotkan disinfektan secara otomatis, hingga toilet tanpa sentuhan. Disebutkan, semua itu hanyalah beberapa langkah terbaru otoritas bandara dalam menghadapi new normal selama pandemic Covid-19.
Selain mempersiapkan diri menghadapi pembukaan kembali perjalanan udara dalam dan luar negeri seperti sediakala, Bandara Changi Singapura beberapa waktu lalu juga dikabarkan telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan enam kota dan provinsi di Cina. Utamanya, kerjasama tersebut terkait dengan perjalanan bisnis.
Tak hanya Cina, Bandara Changi Singapura juga bergerak cepat dengan menggandeng beberapa negara, seperti Malaysia, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Posisi tawar, nama besar, dan status Singapura sebagai hub penerbangan internasional di Asia Tenggara menjadikan mudah bagi bandara tersebut untuk menjajaki kerjasama perjalanan bisnis oleh berbagai negara.
Senada dengan Bandara Changi, flag carrier negara itu, Singapore Airlines (SIA) juga telah mempersiapkan diri selama fase pembukaan penerbangan secara bertahap. SIA belum lama merilis fitur companion app pertama di dunia.
Dengan companion app pertama di dunia itu, nantinya pelanggan tak perlu lagi mengakses atau mengendalikan KrisWorld, sistem hiburan dalam penerbangan (IFE) SIA, dengan berbagai sentuhan dilayar IFE secara langsung, melainkan dapat dengan mudah mengaturnya melalui perangkat seluler pribadi. Jadi, mengurangi sentuhan di berbagai benda di pesawat selama penerbangan.
Sejak Singapura mulai kembali membuka diri pada 2 Juni lalu, perlahan sederet aturan new normal memang telah menerapkan sederet peraturan ketat. Dari banyak negara yang telah mengeluarkan berbagai kebijakan new normal, sejauh ini, Singapura menjadi negara pertama yang membedakan pemakaian face shield dan masker.
Di Singapura, face shield umumnya hanya digunakan oleh anak-anak berusia balita atau maksimal 12 tahun, pengidap gangguan pernapasan, penyakit kulit di sekitar wajar atau alergi, guru di sekolah, hingga penyandang disabilitas yang mengandalkan mimik wajah untuk berkomunikasi. Selebihnya, mereka tetap harus menggunakan masker tanpa terkecuali.
Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya
Guna menertibkan aturan tersebut, otoritas Singapura juga telah mengerahkan robot anjing. Robot-robot umumnya disiagakan di pusat-pusat keramaian, salah satunya seperti taman.
Robot anjing Singapura ini dibekali dengan teknologi AI dan kamera canggih untuk mendeteksi kerumunan masyarakat dan mengingatkannya bila mereka tidak menerapkan physical distancing; termasuk di dalamnya mendeteksi atau mengingatkan bila warga kedapatan tidak menggunakan masker atau face shield.
Pengamat penerbangan, Capt. Shadrach Nababan menyebut kecelakaan pesawat Pakistan International Airlines (PIA) PK8303 bukan hanya disumbang oleh pilot dan kopilot yang diberitakan karena ngobrol, melainkan juga disumbang oleh petugas ATC (Air Traffic Control) dan pesawat itu sendiri.
Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan
Dalam penelusurannya, pesawat diketahui telah lama tidak terbang. Pesawat Airbus A320 milik PIA tercatat telah mempunyai 47.100 jam terbang dan telah lulus uji kelaikan pada 2019. Airbus sendiri menerangkan, pesawat mereka itu mulai beroperasi pada 2004, sebelum dibeli PIA di 2014.
Selain itu, dari hasil investigasi awal, pesawat diketahui mengalami beberapa masalah, mulai dari malfungsi landing gear, disfungsi sistem alarm di dalam kokpit, hingga kerusakan pada kedua mesin pesawat.
Kondisi pesawat yang kurang prima pun juga didukung dengan perilaku in-action pilot. Sebelum jatuh, pilot tercatat melakukan beberapa hal aneh, seperti tidak melaporkan emergency, malfungsi landing gear, kegagalan mesin, tidak mengikuti anjuran petugas ATC, tidak melakukan prosedur pendaratan dengan baik, serta melanggar aturan sterile cockpit rule.
Celakanya, dalam kondisi tersebut, petugas ATC tidak mengecek kondisi pesawat yang sebetulnya sudah berada pada jarak pantau menara pengawas. Prosedur standar, seharusnya petugas ATC menggunakan binocular yang tergantung di atas meja untuk memantau langsung kondisi pesawat.
Di situlah letak kontribusi ATC dalam terjadinya kecelakaan pesawat PIA. Di saat yang bersamaan, pilot juga tidak menyadari kerusakan itu karena sistem peringatan dini di dalam kokpit tidak berfungsi sehingga pendaratan belly landing atau pendaratan tanpa roda terjadi tanpa diketahui oleh ATC dan pilot. Andai saja petugas ATC menggunakan binocular dan memberitahu pilot bahwa landing gear tak muncul, pesawat bisa saja tak jadi mendarat. Jika demikian, tentu di akhir ceritanya akan lain.
Dari catatan jam terbang pilot, mantan pilot senior Garuda Indonesia itu menilai Kapten Sajjad Gull tidak seharusnya melakukan hal itu, mengingat ia sangat berpengalaman. Namun, sepak terjang kapten pilot Sajjad tak diikuti dengan co-pilotnya yang masih notabene masih tergolong junior dengan minim jam terbang.
“Kontribusi kecelakaan datang dari ATC dan kru kokpit,” katanya dalam sebuah webinar yang diinisiasi Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Rabu (1/7).
Guna mengungkap berbagai misteri yang masih menggelayut dibalik kecelakaan tersebut, Capt. Nababan menyoroti berbagai hal terkait kemampuan pilot khususnya perilaku anehnya, sebagaimana yang telah dibeberkan di atas. Ia menyarankan agar investigator mengotopsi jenazah pilot dan co-pilot untuk mengetahui kondisi mereka yang sebenarnya saat kecelakaan terjadi.
Sebelumnya, diketahui pesawat Airbus A320 Pakistan International Airlines (PIA) dengan nomor penerabangan PK8303 jatuh di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah. Kecelakaan itu sedikitnya menewaskan 97 jiwa dari 91 penumpang dan delapan awak itu.
Baca juga: Gawat, 1 dari 3 Pilot di Pakistan Pakai Lisensi Palsu!
Di antara hasil investigasi atas kecelakaan tersebut, yang paling mengejutkan adalah temuan dari otoritas Pakistan soal adanya lisensi palsu pilot. Diketahui, dari 860 pilot aktif yang bekerja di maskapai domestik dan maskapai asing, 262 di antaranya memiliki lisensi palsu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan jasa joki untuk melewati ujian.
Atas temuan tersebut, Pakistan pun harus membayar mahal dengan penangguhan penerbangan ke beberapa negara, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Uni Eropa. Seiring berjalannya waktu, bukan tak mungkin negara-negara lain juga akan melakukan hal serupa.
Air Canada akan kembali melayani makanan inflightnya pada penerbangan akhir Juli 2020. Maskapai asal Amerika Utara ini juga mengatakan katering mereka akan dirancang oleh koki terkenal untuk kelas bisnis dan kelas ekonomi penerbangan internasional akan mendapatkan makanan yang ditingkatkan.
Baca juga: Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’KabarPenumpang.com merangkum laman simpleflying.com (30/6/2020), pada penerbangan internasional jarak jauh yang berangkat dari Kanada, maskapai menawarkan kotak makanan pra paket. Kotak makanan ini akan berisi hidangan utama, salad, hidangan penutup dan roti kemasan.
Dalam penerbangan ke Eropa dan Israel makanan dalam kotak dibuat oleh David Hawksworth sedangkan Chef Antonio Park akan membuat makanan pada penerbangan ke Asia dan Chef Vikram Vij akan melakukan hal yang sama pada penerbangan ke India. Sedangkan sandwich dan makanan ringan pada Midflight akan didistribusikan dalam kemasan sekali pakai pada penerbangan ke Asia, Tel Aviv ke Toronto, Athena ke Toronto dan Athena ke Montreal.
Dalam layanan penerbangan ini, penumpang akan bisa mengakses layanan bar yang mencakup air kemasan, kopi, Lavazza, teh hitam, minuman ringan, bir dan wine merah atau putih serta Bottega untuk perorangan. Bahkan sebelum mendarat penumpang akan mendapatkan makanan ringan pra paket untuk mereka yang di kelas ekonomi premium.
Selain itu pada semua kelas penerebangan, penumpang akan mendapatkan fasilitas kit layanan pelanggan, batal dan selimut di setiap kursi. Sedangkan penerbangan untuk sekitaran Amerika Utara, makanan yang dibuat oleh Chef Antonio Park akan didistribusikan pada penumpang dalam penerbangan selama dua jam.
Bahkan mereka juga akan diberikan pilihan makanan ringan sebelum mendarat. Sedangkan untuk penerbangan lebih dari dua jam, penumpang akan menerima kotak makanan yang berisi makanan utama dan ringan dan menu tersebut bisa dipesan secara online di situs web maskapai melalui aplikasi seluler.
Pada penerbangan ini, layanan bar juga ada sama seperti di kelas bisnis penerbangan internasional. Sedangkan untuk penerbangan dibawah dua jam hanya akan mendapat layanan botol air minum. Para penumpang Air Canada tujuan kota-kota di Amerika Utara akan disediakan juga kit layanan pelanggan yang berisi masker, tisu antiseptik, pembersih tangan, sarung tangan, botol air, headset dan camilan.
Layanan ini kembali setelah pada Maret Air Canada mengurangi penerbangan mereka karena pandemi Covid-19. Dengan kembalinya layanan makanan, menjadi langkah maju yang positif. Selain itu, dengan berakhirnya langkah-langkah jarak sosial, Air Canada akan mulai memberi tahu penumpang melalui email dan di pintu gerbang tentang penerbangan yang mendekati kapasitas penuh di kelas ekonomi.
Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan
Air Canada akan memungkinkan Anda untuk memilih penerbangan lain dalam waktu tiga hari dari jadwal asli tanpa biaya, atau Anda dapat memilih penerbangan berikutnya yang tersedia jika tidak ada yang tersedia saat itu.
Pengamat penerbangan, Capt. Jhon Brata, mengkritisi kebijakan physical distancing di pesawat. Menurutnya, saat ini, prosedur penumpang untuk bisa terbang menggunakan pesawat cukup ketat, mulai dari memakai masker, hand sanitizer, rapid test, bahkan PCR.
Baca juga: Tujuh Maskapai Amerika Deklarasi Tiga Aturan Kesehatan Baru, Apa Saja?
Di samping itu, dari berbagai literatur, umumnya cara penularan Covid-19 ialah droplet. Atas dasar itu, kemudian semua orang diwajibkan memakai masker. Bila semua orang sudah memakai masker, ia pun bertanya-tanya fungsi physical distancing dalam menekan penyebaran corona.
“Covid-19 itu kan penularannya droplet. Jadi airlines harus punya standar juga. Jadi kalau kita sudah pakai masker semua, buat apa jaga jarak? Kalau sudah pakai face shield kan tidak ada droplet,” tegasnya dalam sebuah webinar yang diinisiasi Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Rabu (1/7).
Airlines, lanjut pengamat yang juga mantan pilot senior itu, seharusnya bisa duduk bersama dengan regulator guna mencari jalan keluar terbaik mengenai physical distancing. Hasil dari itu diharapkan mereka bisa sama-sama menemukan formula yang tepat terkait protokol kesehatan baru di industri penerbangan tanpa merugikan pihak lain.
Dengan demikian, airlines diharapkan bisa terbang paling tidak sesuai break-even point (BEP) atau break-even load factor di setiap penerbangan jika tidak ingin dilepas begitu saja (tanpa physical distancing).
Bila tidak demikian, ia mengaku khawatir soal keberlangsungan masa depan airlines, terlebih dalam pengamatannya, maskapai-maskapai dalam negeri sudah sekitar tiga bulan tidak terbang, minus revenue, dan kesulitan keuangan untuk operasional serta membayar gaji karyawan.
Senada dengan Capt. Jhon, mantan pilot senior, Capt. Noor Wahjudie, juga beranggapan bahwa kebijakan physical distancing terbuang percuma. Sebab, dengan berbagai aturan sebelum terbang, besar kemungkinan hanya orang sehat yang bisa ikut dalam penerbangan. “Kalau semua yang ikut penerbangan sehat, buat apa jaga jarak? Jadi, apa yang dijagain?” jelasnya masih di webinar PSAPI.
Sebagai informasi, saat ini, berdasarkan Permenhub Nomor 41 Tahun 2020, kapasitas penumpang pesawat sudah diizinkan maksimal 70 persen dari total jumlah kursi untuk jenis pesawat tertentu (widebody). Namun, di luar itu, aturannya masih maksimal 50 persen. Break-even point (BEP) atau break-even load factor sendiri berbeda-beda, tergantung pesawat, rute, dan lain sebagainya.
Pendapat dari dua pengamat tersebut sebetulnya bukan usulan semu. Belum lama ini, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) juga menyarankan hal serupa. IATA mengusulkan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.
Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya
CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.
“Menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang tiba membuat sektor perjalanan dan pariwisata negara-negara di dunia anjlok. Untungnya, ada alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko kasus Covid-19 impor sambil tetap memungkinkan dimulainya kembali perjalanan dan pariwisata yang berkontribusi untuk memulai kembali perekonomian nasional,” tegasnya.