Stasiun kereta Gateway Takanawa yang dibuka pada Maret 2020 menghadirkan berbagai macam teknologi canggih di dalamnya. Salah satunya adalah sebuah toko serba ada tanpa pegawai yang dilengkapi dengan 50 kamera dan fitur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa
Dalam uji coba dengan sistem AI, toko ini berhasil menemukan pencurian barang. Sebab sistem AI ini terpasang pada 50 kamera yang tersebar dalam toko serba ada tersebut. Meski hanya seluas 60 meter persegi, kamera-kamera yang terpasang akan mengidentifikasi setiap item yang diambil oleh para pembeli.
KabarPenumpang.com melansir laman japantimes.co.jp (23/3/2020), bahkan sistem AI di toko tersebut juga bisa mengenali perilaku yang mencurigakan dan terus menerus menyadari apa yang telah diambil dari rak. Pengembang toko Touch To Go Co telah menjalankan tes dan menemukan bahwa ada pengunjung yang menyembunyikan barang-barang di bawah pakaian atau menghindarai kamera sambil menempatkan barang di dalam tas masuk.
“AI kami belajar dengan mengambil gambar dari berbagai sudut. Ini tidak sepenuhnya anti-gagal, tetapi hampir tidak mungkin untuk mengutil,” Presiden Touch To Go, Tomoki Akutsu.
Toko serba ada di Stasiun Gateway Takanawa ini menjual sekitar 600 item termasuk makan siang kotak bento minuman dan makanan ringan. Uniknya lagi, toko serba ada ini juga hanya melayani sistem pembayaran otomatis.
Sehingga pembeli yang membayar barang belanjaan mereka akan bisa keluar dari toko karena pintu terbuka secara otomatis. Sedangkan jika pembeli tidak membayar, maka pintu tidak akan terbuka.
Namun sampai saat ini belum jelas seberapa populer toko serba ada dengan teknologi AI ini. Waktu akan memberi tahu apakah pelanggan akan menemukan toko tanpa awak itu nyaman atau apakah mereka akan dimatikan oleh kurangnya sentuhan manusia.
Baca juga: Takanawa Gateway Menjadi Stasiun Modern dengan Robot Pemandu Penumpang
Namun, untuk saat ini, tampaknya toko tanpa petugas ini adalah jalan masa depan. Mereka menghemat biaya tenaga kerja dan memberikan peningkatan keamanan, membuatnya lebih efisien daripada toko konvensional.
Virgin Atlantic akan kembali membuka lima rute mereka pada 20 dan 21 Juni 2020 setelah penghentian operasional sementara di masa pandemi Covid-19. Lima rute yang akan kembali dibuka adalah dari London Heathrow ke New York, Los Angeles, Hong Kong, Shanghai dan Orlando.
Baca juga: Kembali Beroperasi, AirAsia Indonesia Baru Buka Dua Rute
Meski begitu Virgin Atlantic akan menghilangkan minuman beralkohol di penerbangan sebagai bagian dari perombakan yang lebih luas dari layanan katering dan diharapkan akan mengurangi risiko penyebaran Covid-19 antar penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari thedrinksbusiness.com (15/6/2020), juru bicara maskapai mengatakan, mereka menghapus penjualanan alkohol saat kembali beroperasi di 20 Juni.
“Selain menghapus alkohol dalam penerbangan, kami juga akan menawarkan makanan di dalam kabin dengan cara mereka datang langsung dari lingkungan katering yang terkendali ke kursi pelanggan kami untuk mengurangi interaksi,” kata juru bicara itu.
Meski begitu, penghapusan alkohol dalam penerbangan Virgin Atlantic tiak akan dilakukan selamanya melainkan sementara dan akan terus ditinjau. Selain itu, dalam penerbangan, semua penumpang akan diberikan kit APD mereka sendiri dengan masker medis, lap untuk meja baki atau permukaan dan handsanitizer.
Tak hanya itu, dalam penerbangannya pun Virgin Atlantic akan meminta semua penumpang dan kru kabin untuk menggunakan masker selama penerbangan. Mereka juga menyiapkan area isolasi khusus yang diberlakukan pada setiap penerbangan untuk penumpang atau awak kabin yang mungkin menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19 di dalam pesawat.
“Ketika krisis Covid-19 stabil dan permintaan kembali perlahan, kami berharap dapat menyambut pelanggan kami kembali ke pesawat dan menerbangkan mereka dengan aman ke tujuan favorit mereka. Untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pelanggan kami dan orang-orang kami, kami memperkenalkan langkah-langkah baru di setiap titik dalam perjalanan untuk menawarkan ketenangan pikiran saat membawa ke langit bersama kami,” kata Juha Jarvinen, chief commercial officer, Virgin Atlantic.
Maskapai penerbangan bertarif rendah Easyjet, yang melanjutkan penerbangan pada 15 Juni, juga telah mengurangi alkohol dari katering dalam penerbangannya. Penumpang akan dibatasi untuk segelas air, dengan layanan makanan juga ditangguhkan. Pelanggan, kabin, dan awak darat akan diminta untuk mengenakan masker selama perjalanan mereka.
Seorang juru bicara untuk Easyjet mengatakan langkah-langkah baru telah dilaksanakan dalam konsultasi dengan otoritas penerbangan ICAO dan EASA, dan sejalan dengan otoritas nasional yang relevan dan saran medis melalui penasihat medis kepala maskapai. Sedangkan British Airways tidak akan menangguhkan semua penjualan alkohol, menurut juru bicara, tetapi juga mengerjakan ulang tawaran makanan dan minumannya untuk mengurangi kontak antara penumpang dan kru, dan alkohol tidak akan tersedia bagi mereka yang terbang di kelas anggaran.
Maskapai ini akan menggelar “proposisi katering sementara yang ditingkatkan” mulai 16 Juni. Penumpang yang bepergian ke tujuan jangka panjang akan ditawari kotak makanan yang sudah disiapkan termasuk hidangan seperti salad, hidangan panas atau sandwich, dan pilihan minuman beralkohol dan non-alkohol.
Makanan ringan juga akan tersedia di antara waktu makan. Pelanggan yang bepergian dalam kelas satu atau bisnis juga akan dapat menikmati pilihan minuman beralkohol dan non-alkohol dengan makanan yang disiapkan sebelumnya, dan mereka yang bepergian dalam ekonomi akan menerima makanan ringan gratis dan sebotol air. Layanan handuk panas BA tidak akan tersedia saat tindakan baru dilakukan.
Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan
“Ketika kita menavigasi jalan kita melalui masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kita akan terus mengambil saran dari otoritas terkait dan memasukkan ini ke dalam pengembangan pengalaman kita di papan,” ujar juru bicara British Airways.
Kamandaka merupakan salah satu tokoh legenda asal Banyumas. Raden Kamandaka sendiri kemudian dikenal dengan Lutung Kasarung. Nama ini kemudian diangkat oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menjadi salah satu nama kereta api yang melintas dari Purwokerto ke Semarang Tawang dan sebaliknya.
Baca juga: Beberapa Kali Ganti Nama, Kereta Serayu Kembali Beroperasi
KAI sendiri menggunakan nama Kamandaka untuk kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi. Nama Kamandaka awalnya diresmikan oleh Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada 17 Februari 2014 lalu.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kehadiran KA Kamandaka ini sendiri dalam waktu sekejap telah terasa begitu dekat dengan masyarakat Banyumas dan kawasan pantai utara Jawa seperti Tegal, Pemalang, Batang hingga Semarang. Kereta ini melayani masyarakat Banyumas raya ke Semarang melalui jalur utara.
Namun sayang, pada akhir 2018 KA Kamandaka harus berhenti beroperasi dan namanya berubah menjadi Joglosemarkerto yang melayani relasi Purwokerto-Semarang-Solo-Yogyakarta. Karena penggantian nama ini, banyak masyarakat yang dibuat bingung dan pelanggan setia banyak yang kehilangan karena namanya yang identik dengan cerita masyarakat Banyumas.
Untungnya pada 1 Februari 2019, KA Kamandaka kembali melintas di relasi Semarang – Purwokerto. Beroperasinya kembali ini memanfaatkan jalur kereta api lintas Tegal – Prupuk yang mana jalur tersebut hanya digunakan untuk layanan kereta api ketel dari Maos menuju ke Tegal. Kehadiran kembali KA Kamandaka ini dilakukan untuk membedakan relasi Purwokerto – Semarang dengan rute perpanjangan hingga Solo – Yogyakarta dan beroperasi tiga kali.
KA Kamandaka sendiri dalam satu rangkaian menarik satu kereta pembangkit, tiga kereta kelas eksekutif, satu kereta makan dan enam kereta ekonomi plus. Susunan rangkaian kereta ini dapat berubah sewaktu-waktu dan beberapa kelas ekonomi plus memiliki ruang kosong untuk penyandang disabilitas sehingga jumlah kursi per kereta sebanyak 64 kursi.
Pada masa pandemi tepatnya 20 April 2020, PT KAI mau tak mau harus menghentikan sementara layanan kereta jarak jauhnya dan belum lama ini berangsur mulai kembali mengoperasikannya. Dari Daerah Operasional (Daop) 5 Purwokerto, KA Kamandaka akan mulai beroperasi pada Jumat (19/6/2020).
Untuk tiket KA Kamandaka sendiri akan bisa kembali dibeli melalui aplikasi KAI Access atau channel penjualan tiket KA lainnya mulai H-7 hingga satu jam sebelum keberangkatan. Sedangkan untuk membeli go show yakni tiga jam sebelum keberangkatan kereta dan penjualannya pun hanya 70 persen dari kapasitas kursi yang tersedia.
Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya
KA Kamandaka akan berangkat dari Purwokerto menuju ke Semarang pukul 05.00 WIB sedangkan keberangkatan dari Semarang Tawang pukul 11.00 WIB. Tarifnya pun untuk kelas ekonomi plus berkisar antara Rp35 ribu sampai Rp80 ribu, sedangkan kelas eksekutif Rp60 ribu hingga Rp140 ribu.
Data penumpang merupakan hal yang paling penting bagi maskapai sehingga tidak bisa sembarang untuk disebarkan. Namun bagaimana jika data penumpang bocor dan yang menjualnya adalah orang dalam maskapai untuk kepentingan pribadi? Pastinya akan ada sanksi dari maskapai dan juga dari pihak petugas keamanan jika maskapai melaporkan hal tersebut.
Baca juga: Data Manifes Penumpang Bocor, Begini Penjelasan Lion Air Group
Seperti yang terjadi pada maskapai Israel yang mana awak kabin seniornya menghadapi kemungkinan dipenjara hingga lima tahun. Hal ini karena awak kabin yang sudah lama melayani di maskapai yang tidak disebutkan namanya tersebut dituduh membocorkan data penumpang yang sensitif dan menjual akses ke sistem komputer penerbangan rahasia.
KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (7/6/2020), masalah ini kemudian ditangani oleh pasukan pertahanan Israel atau The Israeli Defence Forces (IDF) dan Badan Perlindungan Privasi Israel. Mereka mengumumkan rincian penyelidikan pada Minggu (7/6/2020) setelah kekhawatiran pertama kali dilaporkan ke pihak berwenang oleh maskapai tempat awak kabin tersebut bekerja.
IDF mengatakan, awak kabin tersebut membocorkan data pribadi penumpang bukan hanya sekali tetapi sudah bertahun-tahun. Data penumpang tersebut yang disebarkan mencakup informasi medis, status keanggotaan penumpang, detail paspor, alamat rumah dan penumpang VIP yang sangat dihormati maskapai.
Pertama kali tuduhan dilaporkan, tidak disebutkan nama maskapai yang terlibat. Namun IDF mengkonfirmasi bahwa maskapai yang melaporkan tindakan awak kabinnya itu adalah milik Israel. Maskapai nasional Israel yakni El Al menjadi maskapai terbesar di Israel, tetapi negara itu juga memiliki maskapai kecil yang termasuk Israir dan Arkia.
Setelah dilakukan penyelidikan, Badan Perlindungan Privasi menemukan bahwa awak kabin menjual rincian login mereka ke sistem komputer maskapai penerbangan jarak jauh. Awak kabin tersebut memberikan kebebasan kepada penjahat yang terlibat untuk mengakses informasi apa pun yang ingin mereka lihat atau ketahui.
“Basis data yang dikelola oleh entitas swasta seperti bisnis dan perusahaan juga mengandung informasi yang paling sensitif dan pribadi,” jelas juru bicara Badan Perlindungan Privasi.
Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo
Juru bicara itu mengatakan memberikan akses ke informasi ini kepada orang yang tidak berwenang dapat dihukum hingga lima tahun penjara. Kasus ini telah diserahkan ke Departemen Cyber Kantor Kejaksaan Negeri untuk ditinjau dan kemungkinan penuntutan.
Garuda Indonesia kembali menuai polemik. Setelah permasalahan terkait utang jatuh tempo tuntas, kini maskapai pelat merah itu lagi-lagi jadi sorotan pasca kabar mengenai kebijakan mengganti penggunaan masker dengan face shield muncul ke permukaan. Bahkan, hingga berita ini ditulis, trending Twitter dengan keyword Garuda sudah dicuitkan lebih dari 4 ribu kali.
Baca juga: Pramugari Garuda Indonesia Dikomplain Gegara Masker, Sinyal Kuat Penumpang Ingin Cuci Mata?
Sebagaimana ramai diberitakan, hal itu diakibatkan dari banyak dikomplain penumpang dewasa. Rata-rata, mereka komplain karena tak bisa melihat ekspresi pramugari saat melayani mereka, entah sambil tersenyum atau sebaliknya. “Banyak penumpang dewasa komplain tentang pramugari kami yang menggunakan masker,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra belum lama ini dalam webinar Stadium Generate Binus Univesity.
Dirunut ke belakang, sinyal keputusan Garuda Indonesia untuk melepas pemakaian masker dan menggantinya dengan face shield, agar penumpang bisa melihat senyum (wajah) pramugari, sebetulnya sudah sejak awal Januari lalu disinggung bos maskapai pelat merah ini.
“Kalau pakai masker kan tidak ketahuan apa dia itu senyum atau bagaimana. Jadi (masker) bisa dibuka dan sebagai gantinya pakai face shield,” jelas Irfan kepada wartawan dalam konferensi pers virtual melalui Zoom, Jumat (5/6).
Seperti biasa, dalam menyikapi sebuah polemik, netizen selalu terbelah. Di antara mereka ada yang pro dan kontra. Dilihat KabarPenumpang.com, bagi mereka yang kontra, setidaknya alasan keamanan dan ketidakjelasan atau konsistensi maskapai mengikuti protokol kesehatan menjadi titik sorotan.
Sebab, di saat moda transportasi lain mewajibkan petugas memakai masker, Garuda Indonesia justru sebaliknya, melepas masker dengan dalih komplain dari penumpang. Padahal, dari segi keamanan, menanggalkan masker dan menggantinya dengan face shield dinilai membahayakan awak kabin dan penumpang. Bahkan, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio menyebut taruhannya nyawa.
Lagi pula, dari sisi regulasi, memakai masker adalah protokol kesehatan dari WHO yang diadaptasi oleh ICAO. Di samping itu, aturan soal kapasitas kursi maksimal 70 persen juga bermasalah dan mengancam keselamatan. Kolaborasi dari keduanya tentu akan membahayakan. Tak ayal, dengan kebijakan yang sudah tersiar luas di masyarakat ini pun sampai mendapat sorotan dari media Malaysia, Astro Awani.
Padahal, ketimbang menuruti penumpang dan pada akhirnya menggadai keselamatan bersama dari ancaman wabah Covid-19 atau sebaliknya, tidak mendengarkan penumpang hingga mereka pun beralih ke maskapai lain, Garuda Indonesia dinilai beberapa kalangan masih mempunyai alternatif lain. Salah satunya, menggunakan masker transparan.
Masker transparan belakangan pamornya mulai naik setelah istri KASAD Jenderal TNI AD Andhika Perkasa, Diah Erwiany atau biasa juga disebut Diah Perkasa, menggunakannya akhir April lalu. Kala itu, ia disorot (publik) karena terharu saat mengetahui perjuangan tenaga medis di RSPAD Gatot Subroto. Di samping itu, netizen juga menyoroti penggunaan masker transparan yang dinilai tak menghalangi orang lain untuk melihat ekspresi wajah penggunanya.
Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menyebut alasan Garuda Indonesia mengakomodir aspirasi penumpang karena tak bisa melihat wajah pramugari absurd. Ia menekankan untuk jangan biarkan pramugari melepas masker. Seharusnya, manajemen tetap mewajibkan pramugari memakai masker sampai kondisi aman agar bisa melilndungi diri sendiri dan orang lain.
Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Pramugari ‘Cukup’ Kenakan Face Shield
Meskipun demikian, sampai saat ini, Irfan mengaku pramugari Garuda Indonesia masih dan akan terus menggunakan masker dalam pelayanan. Ia pun menyebut bahwa ada pihak-pihak yang telah mempelintir kabar tersebut sehingga menuai polemik di masyarakat. “Dipelintir (pramugari Garuda lepas masker). Masker masih kita gunakan,” tegasnya kepada KabarPenumpang.com via pesan singkat.
“Masih terus dong (pramugari menggunakan masker). Komplain itu kan bagian dari feedback (dari penumpang),” tutupnya.
Konvoi kendaraan yang membawa badan pesawat A380 terakhir belum lama ini melewati pedesaan Perancis. Mengetahui hal itu, warga pun berduyun-duyun datang memenuhi rute yang dilintasi konvoi kendaraan sambil tepuk tangan dan berteriak dengan meriah (saat iring-iringan melintas), bahkan saat malam hari sekalipun. Padahal, saat malam hari, desa-desa di Perancis biasanya sudah sunyi dimulai sejak matahari tenggelam.
Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat
Laporan Simple Flying, kemeriahan dan keharuan tersebut bermula saat bagian pesawat Airbus A380 terakhir -dengan kode registrasi MSN 272 tersebut- keluar dari pabrik Saint-Nazaire dengan dibawa oleh tiga truk besar, melewati pedesaan Perancis seperti Gers, Haute-Garonne, Gimont, dan Leignac menuju fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis.
Tak seperti biasanya, sekalipun rute menuju fasilitas perakitan akhir di Toulouse sudah dilalui sejak 14 tahun lalu, namun, baru kali ini warga memenuhi nyaris sepanjang jalan di pedesaan yang dilalui. Hal itu tentu maklum, mengingat kendaraan yang melintas pada Rabu malam itu membawa bagian terakhir A380 yang akan dirakit.
Saking padat serta tingginya antusiasme warga yang melihat momen bersejarah itu, di beberapa titik, jalan-jalan menjadi sangat sempit –bahkan disebut nyaris tak ada jarak antara garis kerumunan warga dengan truk- sehingga memaksa iring-iringan truk memperlambat lajur. Selama truk-truk tersebut melitas, jutaan tepuk tangan tak henti-hentinya mengiringi sambil terus mengikut kendaraan keluar dari desa.
Selain dihadiri warga desa, CEO Airbus, Guillaume Faury juga ikut mengiringi konvoi truk pembawa bagian Airbus A380 terakhir. Malam itu, dari berbagai titik kerumunan, Faury lebih memilih untuk menepi di Levignac, salah satu wilayah di distrik Haute-Garonne, untuk menyambut karyawan muda Airbus, sambil melihat iring-iringan truk berlalu.
Karyawan yang ikut andil dalam memproduksi A380 terakhir dipajang di badan pesawat. Foto: Getty Images via Simple Flying
Melengkapi momen mengharukan di malam bersejarah itu, bila sebelumnya bagian-bagian badan pesawat A380 itu hanya ditutupi kain merah atau putih bertuliskan logo perusahaan, kini, Airbus menambahkan tulisan yang menandakan malam terakhir jalur tersebut dilewati bagian A380, “Goodbye Saint-Nazaire.”
Tak hanya itu, sebagai tanda penghargaan tertinggi kepada para karyawan yang tetap bekerja di masa pandemi corona ini, Airbus juga menyertakan mereka yang ikut memproduksi tiga bagian besar A380 ini juga dipajang di masing-masing jendela.
Belum jelas MSN 272 diperuntukkan untuk siapa. Yang jelas, saat ini, Airbus masih berhutang sembilan pesawat A380, dimana delapan di antaranya pesanan Emirates dan satu sisanya ANA. Namun, Emirates sejauh ini dikabarkan telah menegosiasi Airbus untuk mengambil tiga pesawat saja dan membatalkan lima lainnya; meskipun dengan dikenakan denda. Adapun ANA dikabarkan tetap akan mengambil pesawat komersial terbesar di dunia itu.
Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal
Sebagai informasi, proses perakitan Airbus A380 memang tidaklah mudah. Setidaknya ada 4 juta bagian pesawat Airbus A380 yang mesti disatukan sebelum bisa terbang. Misalnya, sayapnya dibangun di Broughton, Wales, bagian badan pesawat berasal dari Hamburg, Jerman, dan Saint-Nazaire, Perancis, sirip ekor horisontal diproduksi di Cadiz, Spanyol, dan sirip ekor vertikal di Hamburg.
Dari baut hingga mesin A380 terdiri dari sekitar 4 juta bagian yang diproduksi oleh 1.500 perusahaan dari 30 negara di seluruh dunia. Maka dari itu, tak heran bila konvoi di malam bersejarah Rabu lalu, truk-truk hanya membawa tiga badan Airbus karena bagian lainnya diproduksi di tempat lain.
Kapal pesair Asuka II yang tengah merapat di Pelabuhan Yokohama dekat Tokyo terbakar dibagian atasnya. Insiden ini terjadi pada Selasa (16/6/2020) kemarin dan langsung dilakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.
Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kyodonews.net (16/6/2020), markas penjaga pantai regional ke-3 yang berbasis di Yokohama mengatakan menerima laporan melalui radio dari seorang anggota kru sekitar pukul 01.00 malam waktu setempat. Kemudian awak kapal berusaha memadamkan api tersebut bersama penjaga pantai.
Namun penyebab kebakaran tersebut tidak diketahui dengan segera dan penjaga pantai melaporkan tidak ada yang terluka kerena penumpang tidak ada di dalam kapal. Api tersebut akhirnya berhasil padam setelah tiga jam dilakukan pemadaman yakni sekitar pukul 04.15 malam waktu setempat.
Penjaga pantai mengatakan, api mulai terlihat di area penyimpanan di dek atas Asuka II. Operator perusahaan induk kapal pesiar Nippon Yusen K.K mengatakan, sebanyak 153 awak berada di kapal untuk tugas penting dan membantu memadamkan api.
Kapal pesiar Asuka II telah merapat di Pelabuhan Yokohama sejak awal April setelah kembali dari Singapura tempat kapal pesiar ini menjalani perawatan. Untuk diketahui, kapal pesiar Asuka II awalnya dibangun oleh galangan kapal Mitsubishi Heavy Industries di Nagasaki, Jepang, sebagai Crystal Harmony untuk Crystal Cruises.
Pada tahun 2006, Crystal Harmony dipindahkan dari armada Crystal Cruises ke perusahaan induk Crystal, Nippon Yusen Kaisha, dan memasuki layanan dengan nama saat ini yaitu Asuka II. Kemudian Asuka II pada Februari 2009 menjadi kapal pesiar terbesar di Jepang.
Kapal pesiar Crystal Harmony melakukan pelayaran perdananya di perairan Amerika Selatan dan Karibia dan sempat terbakar karena kebocoran bahan bakar di ruang mesin bantu sekitar 320 km dari Christobal. Kemudian melayang tanpa daya selama 16 jam dan setelah perbaikan berhasil berhasil mencapai pelabuhan dengan uapnya sendiri dan menurunkan penumpangnya di Panama.
Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”
Crystal Harmony berlayar ke pulau Curaçao, dikawal oleh sebuah kapal tunda, untuk diperbaiki. Setelah 15 tahun pelayanan, Crystal Harmony pensiun dari armada Crystal pada tahun 2005. Kapal ini dipindahkan ke perusahaan induk Nippon Yusen Kaisha untuk menggantikan Asuka dan kemudian menjalani renovasi dan memasuki kembali layanan sebagai Asuka II.
Asuka II, yang telah beroperasi sejak Februari 2006, memiliki panjang 241 meter dan berat sekitar 50 ribu ton. Ini memiliki kapasitas penumpang 872 dan 150 awak.
Qatar Airways memutuskan untuk menolak kedatangan pesawat Airbus dan Boeing setidaknya hingga tahun 2022 mendatang. Hal itu dikarenakan anjloknya permintaan perjalanan penumpang serta krisis uang tunai yang tengah dihadapi perusahaan. Bahkan, saking krisinya, pesanan Boeing 777X, besar kemungkinan akan ditunda hingga 2030 mendatang.
Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang
“Kami telah memberi tahu Boeing dan Airbus bahwa kami tidak akan ambil pesawat baru tahun ini dan tahun depan,” kata CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker kepada Sky News, sebagaimana dilansir executivetraveller.com.
“Semua pesawat pesanan kami yang seharusnya dikirim dalam dua atau tiga tahun ke depan, sekarang akan molor sampai setidaknya delapan hingga sepuluh tahun mendatang. Kami akan mulai menerima pesawat pesanan kami seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan permintaan perjalanan,” tambahnya.
Salah satu dari tiga maskapai terbesar di Timur Tengah itu diketahui sudah memesan sekitar 160-200 pesawat kepada duopoli produsen pesawat dunia, Airbus dan Boeing, dengan total investasi mencapai puluhan miliar dolar.
Adapun rinciannya, 50 A321neo dan A321neo LR, 12 Airbus A350-1000, 23 Boeing 787-9, 110 dari Boeing 777X (60 tipe 777-9 dan 50 tipe 777-8), serta pesawat pesakitan yang saat ini tengah di-grounded di seluruh dunia 60, Boeing 737 MAX 8.
Terkait Boeing 737 MAX 8 ini, bahkan, pimpinan tertinggi Qatar Airways itu dengan tegas menyebut pihaknya tak lagi butuh MAX. “Kami telah memberi tahu Boeing bahwa kami harus menggantinya dengan pesawat jenis lain. Kami tidak akan membutuhkan lagi 737 MAX,” jelasnya.
Dalam sesi wawancara bersama Sky News UK, Al Baker juga menyinggung soal kebijakan Qatar Airways terhadap pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380. Ia menyebut, A380 besar kemungkinan akan terus di-grounded sampai pertengahan 2021 atau bahkan tidak terbang sama sekali sebagai kemungkinan terburuk.
Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21
“Qatar Airways saat ini menggrounded 10 A380 dan pesawat tersebut tidak akan kembali selama setidaknya satu tahun atau mungkin tidak akan pernah (terbang),” ucapnya.
Skenario tersebut bukannya tanpa alasan. Dalam pengamatan Al Baker, dampak dari wabah Covid-19 terhadap industri penerbangan global setidaknya telah membuat pihaknya menggrounded sekitar 50an pesawat. Itupun masih mungkin bertambah mengingat krisis akibat corona seperti sekarang ini masih akan terus berlangsung sampai dua hingga tahun mendatang. “Saya pikir saya akan sangat terkejut jika sesuatu (industri kembali normal) akan terjadi sebelum 2023/2024,” pungkasnya.
AirAsia Indonesia mulai kembali beroperasi pada hari ini (19/6/2020) dan akan menyesuaikan rencana penerbangan berjadwal mereka secara bertahap di rute tertentu. Selain itu dengan membuka kembali penerbangan AirAsia Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi.
Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat
Mereka juga akan melakukan langkah antisipasi yang diperlukan untuk memulai kembali layanan penerbangan berjadwalnya. Dikutip KabarPenumpang.com dari newsroom.airasia.com, nantinya calon penumpang yang terdampak karena perubahan ini akan menerima pemberitahuan pembatalan beserta informasi pilihan kompensasi melalui email dan SMS ke nomor yang terdaftar saat pembelian tiket.
Dalam pengoperasiannya kembali, AirAsia mengimbau seluruh calon penumpang yang akan melakukan penerbangan nantinya selalu memerhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan otoritas wilayah maupun pemerintah setempat. Rute penerbangan domestik yang dioperasikan kembali oleh AirAsia Indonesia yakni Jakarta – Denpasar (PP) dan Jakarta – Medan (PP) dengan jadwal hari Senin, Rabu Jumat dan Minggu.
Adapun jam keberangkatan dari Jakarta pukul 09.25 WIB dan tiba di Denpasar 12.25 WITA, sedangkan berangkat dari Denpasar pukl 12.10 WITA dan tiba di jakarta 13.35 WIB. Sedangkan keberangkatan Jakarta – Medan berangkat pukul 12.10, tiba 14.40 WIB dan kembali dari Medan – Jakarta pukul 15.05, tiba 17.25 WIB.
Semua penumpang AirAsia yang melakukan penerbangan domestik maupun internasional wajib mematuhi ketentuan berikut sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 No.7/2020. Di mana setiap penumpang memastikan dirinya memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan.
AirAsia Indonesia melakukan protokol kesehatan seperti pemeriksaan suhu tubuh penumpang, memberikan jarak antrean dengan tanda baik di kios check in maupun konter ketika di bandara. Bahkan penumpang juga disarankan untuk check in melalui website atau aplikasi AirAsia untuk mengurangi kontak fisik.
Selain itu, AirAsia selama masa pandemi tak menjual makanan berat sehingga calon penumpang diminta untuk memesan makanan terlebih dahulu 24 jam sebelum mereka terbang baik dari situs AirAsia maupun aplikasi. Meski begitu, awak kabin tetap melakukan penjualan camilan dalam kemasan dan minuman dalam botol atau kaleng.
Untuk diketahui, AirAsia Indonesia dengak kode penerbangan QZ menghentikan sementara seluruh layanan penerbangan mereka mulai 1 April 2020. Hal ini dilakukan karena AirAsia mempertimbangkan situasi risiko wabah Covid-19 dan untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi penyebarannya.
Baca juga: Tiga Maskapai Besar Ini Kompak Bebaskan “Change Fees” di Tengah Wabah Covid-19
Meski menghentikan perjalanan berjadwal saat itu, AirAsia Indonesia juga tetap menawarkan layanan penerbangan dalam repatriasi Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing. Selain itu juga menjadi pesawat kargo yang mengirim bantuan ke lokasi-lokasi yang terdampak karena pembatasan perjalanan.
Pesawat FlyBe dilaporkan menabrak pesawat lainnya milik Loganair yang tengah parkir di Bandara Aberdeen, Belanda. Dari gambar yang beredar, pesawat Bombardier Q400 tampak menghantam bagian sisi kanan belakang Embraer 145 dan membuatnya terjepit di bawah mesin pesawat.
Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”Daily Mail melaporkan, kejadian tersebut bermula saat pesawat dari maskapai yang telah bangkrut itu tengah melakukan Elephant Walk di bandara. Namun, entah apa yang merasuki pilot, alih-alih masuk ke runway, pesawat malah nyasar ke apron dan menabrak pesawat Loganair.
“Tepat sebelum jam 6 sore kemarin, jet regional Loganair Embraer 145, yang tengah parkir tanpa penumpang atau awak pesawat, ditabrak oleh pesawat Flybe Bombardier Q400, yang kami pahami saat itu sedang melakukan persiapan untuk take off setelah sekian lama di-grounded di Bandara Aberdeen,” kata juru bicara Loganair.
Dari pengakuan awak kabin FlyBe, insiden pesawat menabrak pesawat lainnya itu tidak terlalu kencang. Namun demikian, pesawat memang sempat terguncang sebelum akhirnya sedikit mendorong Embraer 145 dan bersarang di bawah mesin. Beruntung, baik dari pihak Loganair maupun FlyBe tidak ada korban jiwa maupun korban luka.
“Yang paling penting adalah tidak ada yang terluka dalam insiden itu, dengan para kru yang bekerja di pesawat eks-Flybe (yang telah bangkrut) aman, dan selamat, walaupun pesawat sempat terguncang akibat kejadian itu,” juru bicara Loganair melanjutkan.
“Kami tidak berharap bahwa kejadian malang ini akan menyebabkan gangguan (delay) kepada pelanggan pada penerbangan Loganair lainnya dari Aberdeen, sebab kami memiliki pesawat cadangan yang selalu siaga dan tersedia untuk memenuhi jadwal kami,” tambahnya.
Insiden seperti itu sejak lama memang kerap terjadi. Penyebabnya bisa karena kesalahan teknis oleh pilot atau gangguan eksternal seperti cuaca, atau bisa juga disebabkan karena terlalu banyak pesawat yang parkir di bandara; seperti apa yang menimpa dua pesawat Cathay.
Sebelumnya, pada pertengahan April lalu, menurut Travel Radar dua pesawat milik Cathay Pacific, A350 AND B777 dilaporkan bersenggolan di Bandara Hong Kong. Belum jelas waktu persis kejadian tersebut, entah kemarin atau lusa.
Namun, petugas ground control bandara mengaku, pihaknya menerima informasi adanya insiden senggolan dua pesawat pada pukul 12:30 (waktu setempat) di Taxiway J. Taxiway J belakangan memang terungkap sudah dimanfaatkan otoritas bandara untuk memarkirkan pesawat karena space yang ada sudah tak lagi menampung.
Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu
Akibat dari insiden tersebut, baik Airbus A350 ataupun Boeing 777 keduanya mengalami sedikit kerusakan. Airbus A350 mengalami kerusakan pada winglet sebelah kanan sedangkan Boeing 777 rusak pada stabilizer horizontal sebelah kiri.
Senggolan antar dua pesawat Cathay Pacific pun seperti mengulang insiden serupa. Pesawat terbaru A350-1000 milik British Airways dilaporkan bersenggolan dengan pesawat Boeing 777-300ER milik Emirates di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa (14/4).