Banyak inovasi diawali oleh sebuah pengalaman tak memuaskan. Tak terkecuali dengan Jeffrey O’Neill. Pemuda jebolan sekolah manajemen Boston University ini sampai harus mengeluarkan desain kursi kelas ekonomi premium jarak jauh, Zephyr Seat, setelah mengalami pengalaman tak menyenangkan bersama salah satu maskapai terbaik di dunia, Singapore Airlines.
Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?
Dalam pengakuannya kepada CNN International, cerita pengalaman buruknya bersama Singapore Airlines bermula saat ia menumpangi pesawat rute New York-Singapura beberapa tahun yang lalu. Dengan menempuh jarak sejauh 18 jam 45 menit nonstop, kursi kelas ekonomi premium yang ia tumpangi nyatanya tak membuat ia bisa dengan mudah berbaring. Alhasil, selama perjalanan, ia tak bisa tidur.
“Saya mungkin berada di maskapai penerbangan berperingkat terbaik di dunia, dan saya mendapatkan layanan yang luar biasa dan makanannya bisa dimakan, tetapi saya tidak bisa tidur,” kenang founder sekaligus CEO Zephyr Aerospace ini.
“Ini benar-benar tidak nyaman. Mengapa sangat sulit untuk menemukan cara yang terjangkau untuk berbaring di (pesawat) penerbangan selama 19 jam?” lanjutnya.
Zephyr Seat memudahkan penumpang untuk berbaring di kursi ekonomi premium pada penerbangan jarak jauh. Foto: Zephyr Aerospace via CNN International
Menariknya, pengalaman buruk bersama Singapore Airlines itu seolah mendapat antitesa. Kala itu, saat dalam perjalanan di Argentina sekitar dua tahun lalu, ia menumpangi sebuah bus yang menawarkan fasilitas kursi double-decker. Saat mencobanya, ia pun teringat dengan pengalaman buruk bersama Singapore Airlines tadi. Dari situlah ia terpikir untuk menghadirkan desain kursi interior pesawat –nyaris serupa dengan yang ia alami- pada penerbangan ekonomi premium jarak jauh (long haul).
Dilihat dari dimensi dan bentuknya, desain double-decker Zephyr Seat bisa dibilang memanfaatkan celah atau ruang kosong antara kursi (standar) dengan kompartemen kabin (overhead). Karena bentuknya memanjang ke atas, memuat satu orang di bawah dan lainnya di atas, Zephyr Seat juga dibilang lebih menjaga privasi dan bahkan ancaman wabah Covid-19 sekalipun, mengingat, saat ini ICAO telah merekomendasikan untuk menerapkan aturan physical distancing di pesawat.
Tentu, secara tidak langsung, Zephyr Seat telah menerapkan hal tersebut tanpa harus mengkosongkan kursi, sebagaimana desain interior kursi yang ada saat ini.
Dengan begitu, walaupun satu kursi diisi hanya satu orang, maskapai tetap bisa menjaga kapasitas mirip seperti desain ekonomi premium sebelumnya, dengan konfigurasi 2-4-2. Hanya bentuknya saja yang dibuat memanjang ke atas. Penumpang pun bisa dengan mudah berbaring atau duduk berkat adanya kursi retract yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
“Kami pada dasarnya memasang kembali seluruh kursi di atas yang lain. Jadi dibuat dua tingkat dan tidak setinggi seperti yang dibayangkan, hanya empat setengah kaki dari space masuk kursi bawah ke kursi atas,” jelasnya.
Baca juga: Sambut New Normal, Interior Kabin ini Digadang Mampu Cegah Sebaran Corona di Pesawat
Meskipun masih desain tahap awal, O’Neill mengaku telah membuka komunikasi dengan empat maskapai besar di Amerika Serikat (AS), termasuk Delta Air Lines. Pada tahun 2019 lalu, ia juga pernah membawa desain ini ke Airline Interiors Expo di Hamburg, Jerman dan mendapat beberapa masukan untuk menjadikan Zephyr Seat double-decker lebih diterima di pasaran. Selain itu, Zephyr Seat juga digandag-gadang jadi desain kursi masa depan.
“Harga untuk kelas bisnis dan first class akan meningkat tajam jauh dari biasanya, mungkin sekitar 85 persen. Itu berarti pilihan traveler yang paling terjangkau namun nyaman –di luar kelas bisnis dan first class- kini menjadi kenyataan,” tutupnya.
Mungkin bagi sebagian orang di Indonesia, Australia bakal terasa begitu ‘jauh,’ pasalnya Negara Benua tersebut telah menutup rapat-rapat bagi hadirnya wisatawan, setidaknya hingga tahun 2021 mendatang. Konkritnya, bagi Anda yang ingin berwisata atau ada niatan menengok sanak saudara yang menetap di Australia, maka harus gigit jari. Kebijakan lockdown bagi turisme ini terkait pandemi Covid-19, dimana Pemerintah Australia berusaha memproteksi kesehatan warganya dari potensi masuknya virus yang kemungkinan dibawa oleh pelancong.
Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines
Meski hal tersebut merupakan kabar yang membuat sedih, namun, negara asal Koala ini tetap berusaha untuk melonggarkan aturan masuk bagi pelajar dan pengunjung yang sudah atau berencana tinggal dalam jangka panjang di Australia, seperti halnya warna negara asing yang telah mendapatkan hak sebagai permanent resident. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Perdagangan Simon Brimingham pada Rabu (17/6/2020).
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mothership.sg (17/6/2020), Simon mengatakan, meski begitu aturan karantina selama 14 hari untuk warga negara yang kembali tetap diterapkan kepada para pelajar internasional dan pelancong yang akan tinggal dalam jangka panjang. Kewajiban karantina selama 14 hari menjadi pertanda tak memungkinkan bagi terbukanya sektor pariwisata, pasalnya setiap turis yang tiba di Australia, sudah akan kehabisan waktu 14 hari di karantina, sebelum nantinya dibebaskan bila dinyatakan tak terkangkit Covid-19.
Simon menambahkan, kembalinya pelajar internasional akan menjadi pendorong bagi universitas yang menghadapi kerugian finansial karena pembatasan selama ini. Apalagi pelajar internasional adalah penghasil devisa terbesar keempat Australia yang menghasilkan sebesar Aus$38 miliar setahunnya.
Saat ini Australia punya lebih dari 7300 kasus Covid-19 dan 102 orang meninggal. Ini mencatat kenaikan harian terbesar dalam infeksi baru lebih dari sebulan dan sebagian besar kasus Covid-19 terjadi di Negara Bagian Victoria. Victoria sendiri merupakan negara bagian kedua terpadat dan mencatatkan 21 kasus baru dalam semalam dengan 15 diantaranya adalah pelancong yang kini dalam karantina.
Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!
Terkait hal tersebut, KabarPenumpang.com telah mencoba mendapatkan tanggapan dari Wakil Duta Besar Australia di Indonesia Allaster Cox, namun belum ada jawaban sampai tulisan ini diturunkan.
Saat calon penumpang masuk ke area bandara, sesuai standar dan protokol pencegahan Covid-19, maka semua diwajbkan mengenakan masker, dan itu telah berlaku di seluruh dunia. Namun, saat penumpang sudah berada di dalam kabin pesawat, rupanya banyak yang justru melepas masker, mungkin karena jengah terus-terusan mengenakan masker dalam perjalanan, apalagi jika yang dilakoni adalah long flight.
Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker
Nah, guna menrapkan kepatuhan pada penumpang, selain himbauan, maka maskapai seperti American Airlines rupanya punya cara tersendiri untuk menangani penumpang yang menolak mengenakan masker saat di kabin.
American Airlines dengan cepat menerapkan kebijakan baru pada penumpang yang tidak mau menggunakan masker saat di dalam kabin. Bahkan penolakan tersebut bisa berujung kepada penumpang itu kemungkinan di masa depan tak lagi boleh terbang bersama maskapai American Airlines.
Pemberitahuan ini dibagikan pada hari Selasa (16/6/2020) kepada awak kabin yang mana American Airlines meminta mereka untuk meningkatkan situasi yang melibatkan penumpang bandel. Awak kabin dalam pemberitahuan tersebut hanya cukup melaporkan nama-nama para penumpang bandel yang tak mengenakan masker.
Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (16/6/2020), seorang awak kabin American Airlines yang baru-baru ini melakukan perjalanan selama seminggu mengatakan, banyak penumpang yang menggunakan masker, tetapi semakin banyak yang tidak menggunakan. Awak kabin yang tidak mau disebutkan namanya itu menambahkan, pernah mendapati seorang penumpang tidak menggunakan masker padahal sudah diminta.
Dalam kasus seperti ini, pemberitahuan tersebut mengatakan awak kabin harus memberikan nama penumpang kepada departemen keamanan maskapai. Nantinya pihak departemen akan menentukan apakah penumpang tersebut bisa terbang dengan mereka lagi atau tidak.
Sayangnya pihak maskapai belum secara terbuka menyebutkan prosedur untuk penumpang yang tidak menggunakan masker. Dalam siaran pers yang dikeluarkan American Airlines, pada (15/6/2020), mereka mengatakan akan memberlakukan kebijakan yang sudah diumumkan pada 4 Mei lalu di mana setiap penumpang wajib menggunakan masker.
Otoritas penerbangan mengatakan dalam pengumuman publik sebelum berangkat, awak kabin harus mengingatkan penumpang bahwa masker harus dikenakan. Namun, persyaratan penggunaan masker tidak berlaku jika ada pengecualian medis. Meski begitu awak kabin juga akan membagikan masker kepada penumpang yang tidak memilikinya.
Dalam pengumuman pra-penerbangan, penumpang akan diberitahu, maskapai sekarang meminta semua pelanggan untuk mengenakan penutup wajah selama penerbangan. Mengenakan penutup wajah membantu melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dan menunjukkan pertimbangan kepada orang lain yang bepergian.
“Meskipun diperbolehkan untuk melepas penutup wajah saat makan atau minum, Anda harus mengenakan penutup wajah Anda sepanjang waktu selama penerbangan kami. Jika Anda tidak mau mengikuti persyaratan ini, Anda mungkin tidak diizinkan terbang bersama kami di masa depan,” kata American Airlines.
Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Penumpang ‘Cukup’ Kenakan Face Shield
United Airlines juga membuat kebijakan yang sama dengan mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker selama penerbangan.
Garuda Indonesia memutuskan untuk menanggalkan penggunaan masker pada pramugari akibat banyak dikomplain penumpang dewasa. Rata-rata, mereka komplain karena tak bisa melihat ekspresi pramugari saat melayani mereka, entah sambil tersenyum atau sebaliknya.
Baca juga: Bak Tanpa Riasan Penuh, Inilah Rahasia Cantik ala Pramugari Singapore Airlines
“Banyak penumpang dewasa komplain tentang pramugari kami yang menggunakan masker,” kata Irfan belum lama ini dalam webinar Stadium Generate Binus Univesity.
Sinyal keputusan Garuda Indonesia untuk melepas pemakaian masker dan menggantinya dengan face shield, agar penumpang bisa melihat senyum (wajah) pramugari, sebetulnya sudah sejak awal Januari lalu disinggung bos maskapai pelat merah ini.
“Kalau pakai masker kan tidak ketahuan apa dia itu senyum atau bagaimana. Jadi (masker) bisa dibuka dan sebagai gantinya pakai face shield,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada wartawan dalam konferensi pers virtual melalui Zoom, Jumat (5/6).
Meskipun Irfan tak menyebut jenis kelamin penumpang dewasa yang mengkomplain pramugari Garuda, namun, patut digarisbawahi bahwa pramugari memang tak bisa dilepaskan dari paras cantik atau paling tidak sedap dipandang mata.
Demikian juga sebaliknya, penumpang yang memutuskan untuk menggunakan jasa sebuah maskapai, besar kemungkinan salah satunya berkat konsistensi maskapai menjaga penampilan awak kabinnya, baik dari segi usia, wajah, postur, hingga penampilan, dengan sederet SOP terkait make up (agar tak terlalu menor) dan seragam pramugari itu sendiri agar terlihat anggun dan tak seronok.
Tak heran bila konsistensi maskapai untuk menjaga penampilan pramugari, beberapa di antaranya sampai berujung PHK. Salah satu maskapai yang pernah melakukan ini adalah Malaysia Airlines. Pada akhir Februari lalu, maskapai nasional Malaysia ini pernah memecat pramugari hanya karena kelebihan berat badan kurang lebih sebesar1 kg, yakni 61,7 kg, dari berat maksimum yang diizinkan sebesar 61 kg. Meskipun terdengar tak elok, namun, maskapai terpaksa melakukannya semata untuk menjaga kualitas pelayanan ke para pelanggan.
Kembali ke masalah pramugari Garuda Indonesia yang dikomplain karena masker, reputasi pramugari maskapai pelat merah ini memang patut diacungi jempol. Sejak tahun 2014 lalu, Garuda Indonesia berhasil menyabet gelar The World’s Best Cabin Crew versi Skytrax hingga tahun 2018.
Baca juga: Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg
Setahun berikutnya, predikat itu juga hampir kembali direbut setelah menempati posisi kedua di bawah Singapore Airlines. Penghargaan tersebut -dari segi layanan- dirasa sangat prestisius karena setidaknya ada sekitar 41 penilaian yang harus dilewati, mencakup postur, penampilan, pelayanan, hingga paras cantik pramugari.
Dari rekam jejak tersebut, wajar saja bila penumpang Garuda Indonesia komplain pramugari karena tak bisa melihat senyum mereka saat melakukan pelayanan, baik kepada penumpang pria maupun wanita. Hal itu juga menjadi indikasi kuat bahwa penumpang pun juga butuh dibuat senang sekalipun dengan sebuah senyum, mulai dari pertama kali masuk hingga keluar pesawat.
Ketika maskapai mulai menerbangkan pesawat mereka dengan mengangkut penumpang, banyak pertanyaan yang muncul bagaimana dengan jarak aman atau physical distancing dalam kabin. Lion Air Group salah satu maskapai Indonesia melakukan pengaturan jarak aman sesuai dengan jumlah kursi berdasarkan tipe pesawat yang dioperasikan.
Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi?
Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, mereka memiliki banyak jenis pesawat yakni narrow body dengan konfigurasi 3-3 pada Boeing 737-800NG, Boeing 737-900ER, Airbus 320-200CEO dan Airbus 320-200NEO. Sedqangkan wide body tata letak kursi 3-3-3 yakni Airbus 330-300CEO dan Airbus 330-900NEO serta pesawat ATR 72-500 dan 72-600 dengan letak kursi 2-2.
Danang menjelaskan untuk prioritas pengaturan penumpang sesuai protokol, Lion Air Group mengatur barus kursi bagian depan adalah penumpang grup dan penumpang yang memiliki hasil uji kesehatan PCR atau Swab Covid-19 dengan hasil negatif. Untuk kursi berikutnya akan disesuaikan di mana penumpang akan duduk dekat jendela dan lorong.
“Kami menyediakan kursi baris paling belakang sebagai area karantina bagi penumpang yang membutuhkan penanganan khusus. Misalnya seperti terindikasi atau memiliki gejala Covid-19,” ujar Danang melalui siaran pers, Rabu (17/6/2020).
Dia mengatakan, adanya pengaturan ini membuat adanya jarak aman antar penumpang saat duduk di dalam pesawat. Tak hanya saat check in, awak kabin dan petugas layanan darat juga membantu teknis pengaturan jarak ketika berada di kabin pesawat.
Danang mengatakan, untuk alasan keselamatan dan keseimbangan pesawat udara saat lepas landas dan mendarat, penumpang bisa dipindah sesuai dengan instruksi awak darat atau awak kabin. Meski begitu, Danang menambahkan, bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sistem pengaturan tempat duduk bagi penumpang dalam kabin.
“Kursi di baris pintu dan jendela darurat harus terisi sesuai ketentuan tersebut dengan kriteria dewasa dan diutamakan penumpang yang tidak bepergian dengan keluarga. Mereka juga harus memenuhi ketentuan fisik dan memahami instruksi dari awak kabin dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris,” jelas Danang.
Baca juga: Begini Cara Maskapai Dunia Terapkan Physical Distancing di Pesawat
Sedangkan untuk penumpang yang membutuhkan penangan khusus tetap harus mengikuti arahan dan instruksi awak kabin. Selain dalam kabin, penumpang juga harus mematuhi ketentuan wajib sesuai protokol kesehatan dalam perjalanan udara bagi setiap penumpang saat berada di bandara.
Sejarah dunia penerbangan Indonesia mungkin tak se-kaya negara lainnya yang pernah dihiasi oleh pesawat-pesawat legend macam Concorde dan Tupolev Tu-144 serta pesawat lainnya dari pabrikan kawakan macam de Havilland Comet dan Hawker Siddeley.
Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia
Meski demikian, dunia penerbangan Indonesia –dalam hal ini maskapai Indonesia- masih cukup beruntung karena sempat mengoperasikan berbagai jenis pesawat, mulai dari Convair 990, Lockheed L-118 Electra, DC-9, Fokker F28, Airbus A300, Boeing 747-400, Boeing 737, dan McDonnell Douglas MD-11.
Terkait MD-11, pesawat yang terbang perdana pada awal Januari 1990 menjadi salah satu dari tiga pesawat trijet yang pernah menghiasi langit Indonesia selama beberapa waktu. Sekalipun keberadannya kini hanya berupa tinta emas saja di buku sejarah penerbangan Indonesia, bersama dua sejawatnya, DC-10-30 dan Boeing 727, maskapai pelat merah, Garuda Indonesia, punya cerita kenangan manis bersama ketiganya.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, era pesawat trijet mulai hadir di Indonesia berkat ambisi Garuda Indonesia pada tahun 1973. Kala itu, guna memenuhi penerbangan internasional, seperti tujuan Eropa, Asia, dan Australia, Garuda mendatangkan pesawat McDonnell Douglas DC-10-30.
Dengan jumlah kepemilikan DC-10-30 sebanyak 28 unit, Garuda Indonesia menjadi operator DC-10 terbanyak di kawasan Asia Tenggara. Menariknya, dimasa pemerintahan Presiden Soeharto, DC-10 Garuda kerap ‘disulap’ sebagai pesawat kepresidenan. Usai mengabdi selama belasan tahun, pesawat ini pun harus mengakhiri ‘karirnya’ di Indonesia sampai pertengahan tahun 90-an.
Patuh tumbuh, hilang berganti, mati satu tumbuh seribu, kepergian DC-10-30 pun digantikan oleh MD-11, sebagai suksesor trijet di Indonesia. Lagi pula, secara fisik, sekilas wujud MD-11 ini memang hampir mirip dengan DC-10, hanya panjangnya saja yang beda 18 kaki 6 inchi, serta ada winglet pada sayapnya.
Walaupun proses pesanannya sempat kontroversial dan sepak terjangnya sempat terganggu akibat performa kurang memuaskan dari segi konsumsi bahan bakar, namun, posisinya sebagai pengganti armada DC-10 yang sudah mulai termakan usia untuk melayani rute penerbangan Denpasar – Jakarta – Hong Kong PP tetap harum untuk terus dikenang.
Baca juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43
Ada pertemuan ada pula perpisahan, tak terkecuali dengan MD-11. Seperti tidak diijinkan untuk mengoperasikan MD-11, krisis finansial di negara-negara Asia Pasifik pada waktu itu berimbas kepada industri penerbangan. Hasilnya, rasionalisasi terhadap keenam unit MD-11 pun dilakukan dan berbuntut pada dikembalikannya semua armada MD-11 Garuda Indonesia ke sebuah perusahaan leasing bernama Boeing Capital Corporation pada bulan Juni dan Juli 1998. Dengan begitu, padam pula karir MD-11 di industri kedirgantaraan Tanah Air.
Pesawat trijet atau dibekali tiga mesin lainnya yang juga pernah menghiasi langit Indonesia selama beberapa waktu adalah Boeing 727. Tak seperti MD-11 dan DC-10-30 yang hanya dioperasikan maskapai Garuda Indonesia, Boeing 727 pernah dioperasikan oleh beberapa maskapai, mulai dari Jatayu Airlines, Indonesian Airlines, Merpati Nusantara Airlines, hingga Mandala Airlines atau biasa juga disebut Tigerair Mandala. Selain bermesin tiga, ciri khas Boeing 727 yakni tersedianya fasilitas tangga di bagian ekor pesawat, mengingatkan pada tangga di ekor yang ada di pesawat Douglas DC-9.
Kementerian Perhubungan (RTA) Dubai mengumumkan pihaknya mulai melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menekan penyebaran Covid-19 di taksi. Nantinya teknologi tersebut akan mendeteksi pengemudi dan penumpang apakah sudah menggunakan masker atau tidak.
Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing
Dilansir taxi-point.co.uk, teknologi AI yang dimaksud dalam pelaksanaannya diwakili oleh sistem hardware (komputer) yang dilengkapi kamera pengenal wajah berteknologi AI. Bila terdeteksi tidak menggunakan masker atau tidak menjalankan physical distancing, maka sistem akan memperingatkan sekaligus memberikan warning ke pusat data yang dikelola otoritas untuk ditindak sesuai prosedur.
“Teknik kecerdasan buatan telah digunakan untuk memantau sejauh mana kepatuhan terhadap berbagai prosedur untuk mencegah penyebaran virus Corona sekaligus memonitor pelanggaran, selain jumlah penumpang yang diizinkan di setiap perjalanan, dimana teknologi ini diterapkan,” kata Ahmed Mahboub, Direktur Departemen Smart Services Executive Otoritas Perhubungan Dubai.
“Eksperimen menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan mampu menangani dan memproses file video (di seluruh taksi) yang isinya sekitar 200 ribu jam per hari. Ini mengurangi kebutuhan untuk petugas secara langsung (mengecek) dan menghemat waktu serta upaya untuk menganalisis video ini,” lanjutnya.
“Dua model kecerdasan buatan telah diprogram untuk mengidentifikasi dan mendeteksi wajah dalam tayangan video dan mendeteksi penggunaan masker dengan benar, di samping model matematika untuk menghitung jarak antara penumpang dan pengemudi,” tambahnya.
Akan tetapi, terlepas dari dari upaya-upaya untuk menekan penyebaran virus corona, penerapan teknologi AI di taksi sebetulnya merupakan bagian dari visi besar pemerintah dalam mendukung upaya inovasi dan penggunaan teknologi terkini di era revolusi industri 4.0. Adapun manfaat dari penggunaan teknologi itu pada akhirnya akan dapat dirasakan langsung untuk melayani masyarakat.
Selain itu, diterapkannya teknologi AI di taksi untuk memastikan seluruh pengemudi dan penumpang menggunakan masker dan patuh menerapkan aturan physical distancing juga melengkapi aturan lainnya yang telah lebih dahulu diterapkan.
Sebelumnya, salah satu dari tujuh emirat dan kota terpadat di Uni Emirat Arab itu disebut akan memasang kamera CCTV canggih di seluruh sudut kota untuk mendeteksi suhu warga sekaligus membantu otoritas keamanan setempat menemukan titik-titik pelanggaran physical distancing.
Penggunaan kamera CCTV canggih berteknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut saat ini prosesnya sudah memasuki tahap uji coba di beberapa titik. Bila berhasil dan tak ada kendala teknologi apapun, maka penggunaan kamera canggih dalam proyek ‘Oyoon’ ini akan bisa segera terlaksana setelah proses evaluasi (pasca masa ujicoba berhasil) selesai.
Baca juga: [Video] Detik-detik “Motor Terbang” Kepolisian Dubai Jatuh dari Ketinggian 30 Meter
“Polisi Dubai menggunakan AI melalui proyek ‘Oyoon’ (yang berarti ‘mata’ dalam bahasa Arab) untuk memantau suhu orang selama wabah,” kata Brigaider Al Razooqi dalam sebuah konferensi virtual yang diadakan oleh Polisi Dubai beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari laman gulfnews.com.
“Proyek ini awalnya digunakan untuk mendeteksi seseorang yang tengah kami cari melalui pengenalan wajah dan analisis perilaku, tetapi karena penyebaran virus, kami memperbarui sistem kamera untuk memantau suhu juga,” tambahnya.
Seorang wanita berusia 24 tahun di Newark hilang dan polisi pada hari Selasa (16/6/2020) meminta bantuan publik untuk mencarinya. Wanita tersebut diketahui bernama Breyah Pruden dan pihak keluarga mengatakan bahwa dia seorang pramugari.
Baca juga: American dan United Airlines Rugi Rp59 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Menanti Giliran PHK
Pruden merupakan pramugari United Airlines dan tidak pernah hilang sebelumnya. Ini terlihat dari foto-fotonya yang dibagikan di media sosial yang menunjukkan Pruden menggunakan seragam serta identitas United Airlines.
Breyah Pruden ketika menggunakan seragam pramugari United Airlines (nj.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc7ny.com (17/6/2020), Pruden terakhir terlihat di 300 blok Chestnus Street di bagaian Ironbound kota sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Pihak kepolisian yang menangani kasus ini mengatakan, Pruden terakhir kali terlihat mengenakan tank top burgundy dengan celana pendek jeans.
Dia juga membawa sebuah tas koper Tumi berwarna hitam. Kakak dari Pruden mengaku bahwa adiknya untuk sementara istirahat dari dunia media sosial. Namun, dirinya memberitahu keluarga sebelumnya dan mereka khawatir karena teleponnya mati.
Pruden memiliki tinggi sekitar 167 cm dan berat badan sekitar 54 kg dengan mata berwarna coklat dan rambut berwarna hitam. Seorang juru bicara kepolisian Newark mengatakan Pruden dilaporkan hilang sejak 10 Juni 2020.
Baca juga: United Airlines Larang Awak Kabinnya ikut #OverheadBinChallenge
Namun pihak kepolisian tidak memiliki rincian lebih lanjut untuk dirilis dan tidak jelas apakah simpatisan mencurigai adanya pelanggaran. Pihak kepolisian mengatakan, jika memiliki informasi tentang Pruden bisa menghubungi saluran tip 24 jam Crime Stopper Divisi Newark di 1-877-NWK-TIPS (1-877-695-8477) atau 973-733-6000.
Hilangnya Pruden pun di sebar di Instagram dengan kata kunci pencarian #breyahpruden dan ada sekitar 100 postingan poster kehilangan pramugari United Airlines tersebut.
Setelah sempat tertunda akibat wabah Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya meresmikan stasiun Tanah Abang dan Stasiun Sudirman sebagai stasiun terpadu. Tak hanya itu, Anies juga menyebut bahwa lima stasiun lainnya akan segera menyusul untuk dijadikan stasiun terpadu atau transit oriented development (TOD).
Baca juga: PT MRT Jakarta Siap Lakukan Groundbreaking Kawasan Transit Terpadu di Dukuh Atas
“Saat ini, sudah empat stasiun (yang terintegrasi), (stasiun) Tanah Abang, Senen, Sudirman, dan Juanda. Ke depan akan ada 4 lagi (stasiun terpadu). Tambahannya (stasiun) Manggarai, Tebet, Gondangdia, dan Palmerah. Kalau boleh usul tambah lagi Kota Tua. Jadi lima (lagi stasiun terpadu),” katanya dalam Peresmian Stasiun Terpadu di kawasan TOD Stasiun Sudriman, Jakarta Pusat, Rabu (17/6).
Dalam peresmian yang juga dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi tersebut, Anies menyebut, kawasan TOD di Jakarta ini nantinya bukan terintegrasi dengan satu, dua, atau tiga moda transportasi saja, melainkan ada tujuh moda.
“Di kawasan TOD, akan ada KRL, Kereta Bandara, MRT, TransJakarta, LRT Bodebek, bus umum, dan LRT Jakarta,” tambahnya. Di luar itu, empat stasiun terpadu di Jakarta ini juga akan terintegrasi dengan ojek daring, seperti Gojek (Goride Instan) dan ojek daring lainnya.
Selain menjadi kawasan terpadu atau terintegrasi di Jakarta, stasiun-stasiun tersebut juga akan dilengkapi dengan prasarana berstandar internasional, seperti way finding dan signage. Anies mengungkap, selama ini penumpang diasumsikan tahu segalanya.
“Selama ini kendaraan umum selalu mengasumsikan penggunanya sudah hafal jalan. Makanya tidak ada way finding dan signage,” terangnya. Padahal, menurut Anies, Jakarta adalah gerbangnya dunia. Banyak orang dari luar Jakarta bahkan luar negeri berlalu-lalang, sehingga dibutuhkan informasi semacam itu. Dengan begitu, menurutnya, Jakarta akan lebih siap jadi bagian perekonomian global.
Agar memudahkan proses pengelolaan yang berujung pada kenyamanan penumpang, nantinya, kawasan tersebut akan dikelola oleh perusahaan patungan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT MRT Jakarta (Perseroan), dan PT Kereta Api Indonesia (Persero), yakni PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ).
Ke depan, PT MITJ ini juga akan mengelola 72 stasiun lainnya di Jabodetabek. Tak hanya itu, MITJ juga akan membuat sistem kartu perjalanan yang mengintegrasikan KRL, MRT, LRT, dan Transjakarta. Dengan begitu, calon penumpang cukup menggunakan satu kartu saja untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi tersebut.
Sementara itu Menteri BUMN, Erick Thohir, menyampaikan penataan kawasan stasiun terpadu ini merupakan kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) dan PT MRT Jakarta (Perseroda).
Baca juga: Indonesia Ferry Property Langsungkan Penyelesaian Konstruksi Area Komersial Tahap I Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo
“Saya gembira kita bisa memberi inspirasi dan bisa membuktikan bahwa sebagai bangsa itu kita bisa, yang selama ini bangsa Indonesia dibilang hanya bangsa wacana hari ini terbukti (berjalan rencananya),” ujarnya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan TOD harus diterapkan agar masyarakat bisa memanfaatkan moda transportasi umum secara maksimal. “Saya apresiasi, apa yang sudah kita bicarakan jadi suatu kenyataan. Presiden selalu mengimbau untuk merapatkan semua agar TOD ini menjadi keniscayaan, keharusan, karena itulah cermin antar moda yang baik. Ini selama ini belum maksimal,” jelasnya.
Kereta api jarak jauh saat ini sudah mulai kembali dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dari Pasar Senen saat ini sudah ada tiga kereta jarak jauh yakni KA Serayu, KA Bengawan dan KA Tegal Ekspress yang sudah mulai beroperasi. Selain itu dari Stasiun Gambir saat ini kereta luar biasa (KLB) juga sudah dioperasikan untuk masyarakat umum.
Baca juga: PT KAI Operasikan “Kereta Luar Biasa,” Ini Dia Aturannya
Meski sudah beroperasi, kereta api jarak jauh ini hanya bisa mengangkut penumpang maksimal 70 persen dari total ketersediaan kursi. Hal ini kemudian membuat PT KAI menyatakan menaikkan harga tiket kereta api jarak jauh sebesar 30 sampai 40 persen sejak Jumat (12/6/2020).
“Ada kenaikan 30-40 persen untuk penyesuaian tarif yang berlaku pada kereta api jarak jauh komersial,” kata VP Public Relation PT KAI Joni Martik kepada KabarPenumpang.com, Rabu (17/6/2020).
Joni menyebutkan, kenaikan ini tidak untuk semua kereta api, sebab untuk KA PSO tarif tetap atau tidak ada kenaikan. Dia mengatakan tarif KA dengan PSO (Public Service Obligation) sendiri sesuai kontrak dengan Kementerian Perhubungan.
Joni menambahkan, untuk KA Komersial mengikuti tarif batas bawah dan tarif batas atas yang berlaku di mana penyesuaian tarif dilakukan dengan mengakomodir pembatasan kapasitas angkut maksimal 70 persen tersebut. Namun dia mengatakan harga tiket ini akan bersifat dinamis.
Di mana perusahaan akan menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah terkait kapasitas penumpang kereta api. Dengan kenaikan ini juga, pihak KAI dikatakan Joni akan terus mengevaluasi dampak kenaikan harga tiket terhadap penjualan secara berkala.
Karena, jika aturan pemerintah berubah, maka pihak KAI akan kembali menyesuaikan kebijakan itu. Selain itu Joni juga mengatakan, akan mengkaji evaluasi ulang untuk tahap berikutnya.
“Jika berubah tentu akan evaluasi lagi , kaji ulang lagi,” kata Joni.
Joni menambahkan, dengan kenaikan harga, KAI berharap keuangan perusahaan tetap terjaga meski kapasitas tak bisa diisi 100 persen. Diketahui sebelumnya, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan pemerintah akan menaikkan kapasitas penumpang secara bertahap.
Baca juga: Beberapa Kali Ganti Nama, Kereta Serayu Kembali Beroperasi
Pada tahap awal, pemerintah mengerek kapasitas menjadi 70 persen. Zulfikri mengatakan kenaikan kapasitas akan dievaluasi secara berkala. Jika efektif, pemerintah akan kembali menaikkan kapasitas maksimal menjadi 80 persen.