Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

Airbus dan M1 Singapura dikabarkan bakal segera melakukan uji coba keselamatan dan efisiensi teknologi 5G untuk mendukung penggunaan kendaraan udara tanpa awak (UAV) di Singapura dan mungkin juga di dunia. Baca juga: Jaringan 5G Untuk Sistem Transportasi, Dianggap Masih Terlalu Mahal Guna memuluskan proses pengujian, keduanya akan bekerjasama dengan perwakilan otoritas Singapura, dalam hal ini Direktorat Pengembangan Media, Komunikasi, dan Informasi (di bawah IMDA atau Kementerian Komunikasi dan Informasi) serta Direktorat Maritim dan Pelabuhan (di bawah MPA atau KementerianTransportasi). Kepala manajemen lalu lintas kendaraan tanpa awak Airbus, Isabel Del Pozo De Poza, mengatakan uji coba mendatang bertujuan untuk memungkinkan sistem pesawat tanpa awak agar dapat terbang dengan aman karena keberadannya terintegrasi dengan sistem ruang udara nasional. “Uji coba nanti akan menetapkan metrik kinerja dan persyaratan seluler 5G untuk memungkinkan sistem pesawat tak berawak untuk secara aman terbang dan terintegrasi dengan sistem ruang udara nasional,” katanya, sebagaimana dilansir rcrwireless.com. Sementara itu, CEO M1, Manjot Singh Mann menyebut kolaborasi antara keduanya akan berandil besar untuk membetuk ekosistem serta masa depan teknologi mobilitas udara di perkotaan (UAM) dengan memanfaatkan jaringan atau teknologi 5G. “Dengan menyatukan keahlian domain yang kuat dari M1 dan Airbus, kemitraan ini berfungsi sebagai test bed untuk membentuk masa depan teknologi Urban Air Mobility dengan memanfaatkan jaringan 5G SA canggih,” katanya. Selama proses uji coba nanti, teknologi 4G dan 5G akan dievaluasi untuk meningkatkan penentuan lokasi geografis dengan akurat di seluruh tahapan penerbangan sistem pesawat tanpa awak dengan menggunakan data berbasis jaringan. M1 mengklaim, ke depan teknologi seluler akan lebih tepat (menetukan lokasi geografis) daripada teknologi Sistem Navigasi Satelit Global seperti yang saat ini banyak dipalikasikan di dunia. Adapun pembagian tugasnya, disebutkan Airbus akan berkontribusi dalam memastikan ketersediaan pesawat tanpa awak atau drone untuk melakukan uji terbang dengan aman. Selain itu, dengan pengalaman selama puluhan tahun di bidang aeronautika, Airbus juga diberi mandat untuk membuat SOP agar memastikan penerbangan pesawat tanpa awak memenuhi peraturan dan keselamatan terbang. Sedangkan M1, mereka bertugas mengumpulkan data-data selama proses pengujian untuk menilai kinerja dan jangkauan jaringan seluler di area pengujian, serta melakukan optimasi parameter jaringan dan penerapan metode minimisasi interferensi. Baca juga: Birmingham New Street, Stasiun Kereta Pertama di Inggris yang Adopsi Jaringan 5G Sadar kemampuan mereka terbatas, Airbus dan M1 nantinya juga akan menggandeng salah satu perusahaan lokal, Team One Technologies, untuk merancang dan membuat modem 5G bersertifikat aeronautika guna mendukung pengoperasian mobilitas udara di perkotaan. Modem buatan perusahaan tersebut juga akan diuji serta dioptimalisasikan dalam uji coba mendatang. “IMDA senang melihat minat yang luar biasa dari perusahaan untuk mengembangkan angka penggunaan 5G yang inovatif. Sangat menggembirakan melihat perusahaan lokal seperti Tim One berperan dalam inovasi 5G, dan saya ingin mendorong perusahaan lain, besar dan kecil, untuk bergabung dengan kami dalam membangun ekosistem 5G yang terbuka dan inklusif, “kata Tan Kiat How, kepala eksekutif IMDA.

Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR

Sebelum para astronot naik ke pesawat ruang angkasa generasi terbaru milik Boeing, mereka akan mendapatkan beberapa pelatihan. Para anggota astronot tersebut yang bersiap terbang ke luar angkasa dengan kapsul Boeing CST-100 Starliner akan berlatih menggunakan perangkat virtual reality (VR) . Baca juga: Gandeng Boeing, NASA Siap Luncurkan Penerbangan Orbital Nirawak Perdana VR ini disediakan oleh Varjo yang berbasis di Finlandia yang diumumkan kedua perusahaan beberapa hari yang lalu. Perangkat VR-2 Varjo sendiri memungkinkan astronot untuk mensimulasikan setiap aspek dari misi Starliner ke Stasiun Luar Angkasa Internasional ISS dalam resolusi tinggi. “Kami bangga dapat menghadirkan teknologi yang mendorong aplikasi pelatihan industri ke jangkauan terjauh mereka bahkan ke ruang angkasa. Dengan perangkat kami, para astronot dapat melihat dan secara virtual berinteraksi dengan sakelar dan panel kontrol di dalam kapsul Starliner mereka dan membaca data real-time pada layar kru mereka. Kemajuan seperti ini berpotensi mengubah cara pilot dilatih,” kata pendiri dan CEO Varjo Niko Eiden dalam sebuah pernyataan. Dilansir KabarPenumpang.com dari space.com (11/6/2020), dalam mengembangkan Starliner ini, Boeing menggunakan dana dari Commercial Crew Program Nasa yang memiliki kontrak senilai $4,2 miliar yang ditandatangani pada tahun 2014 yang juga mencakup enam misi kru operasional ke dan dari ISS. SpaceX memiliki kesepakatan serupa, yang akan dipenuhi perusahaan Elon Musk dengan kapsul Crew Dragon-nya. SpaceX baru saja meluncurkan misi kru pertamanya, mengirim astronot NASA Bob Behnken dan Doug Hurley ke ISS pada penerbangan uji coba yang disebut Demo-2. Hal ini kemudian membuat Starliner harus segera menyusul di mana Boeing berencana untuk meluncurkan versi Demo-2, yang disebut Crew Flight Test (CFT), awal tahun depan. Para astronot yang akan terbang dengan CFT Boeing, Chris Ferguson, Mike Fincke dan Nicole Mann dari NASA telah berlatih untuk misi mereka saat ini dengan menggunakan maket Starliner di Houston dan alat-alat lainnya. Headset VR akan menambah kerja seperti itu. “Kami tidak mencari untuk menggantikan simulator fisik di Houston. Tapi itu pasti akan meningkatkan pelatihan itu, untuk dapat melakukannya dari lokasi terpencil,” kata Connie Miller, seorang insinyur perangkat lunak Boeing Starliner. Salah satu “lokasi terpencil” tersebut adalah situs peluncuran itu sendiri, Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di Florida. Astronot akan menghabiskan dua minggu sebelum lepas landas di karantina di Kennedy Space Center NASA terdekat, memastikan bahwa mereka diluncurkan dalam kondisi sehat dan tidak membawa kuman penyebab penyakit ke ISS. Miller mengatakan, dengan alat VR baru, anggota kru Starliner dapat melanjutkan pelatihan mendalam untuk misi mereka. Dalam beberapa minggu ke depan, Boeing berencana untuk mengirimkan perangkat keras VR ke Florida, tempat Ferguson, komandan CFT, dapat mulai bekerja dengannya. “Roda untuk langkah ini pertama kali digerakkan beberapa bulan yang lalu, tetapi peluncuran dihentikan oleh langkah-langkah yang diambil untuk memerangi penyebaran virus corona baru. Kemunculan pandemi ini menyoroti perlunya teknologi VR. Kami memiliki visi dan Kami tidak menyadari itu akan menjadi hal wajib secepat itu,” kata Miller. Astronot telah menggunakan alat VR sebelumnya yang mana astronot NASA biasanya menggunakan teknologi semacam itu untuk mempersiapkan perjalanan ruang angkasa. Tetapi pelatihan Starliner akan membuka jalan baru dalam penggunaan yang luas dari peralatan VR, yang akan membantu mempersiapkan astronot untuk setiap aspek misi mereka, dari lepas landas hingga mendarat. Baca juga: SpaceX Sebut Pemilik Situs Belanja Online Terbesar di Jepang Jadi Orang Pertama Kunjungi Bulan di 2023 Eiden menambahkan, Varjo, pada bagiannya, akan menerapkan pelajaran yang dipetik dari pekerjaan Starliner untuk aspek-aspek lain dari bisnisnya, seperti pelatihan pilot. Tetapi perusahaan juga mendapatkan sesuatu yang lain dari kemitraan yang baru diumumkan. “Ini adalah salah satu dari hal-hal yang menarik, kami juga mengalami sedikit demam luar angkasa di Varjo saat ini. Jadi, memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari program Boeing ini sungguh luar biasa kata Eiden.

Tak Kalah Beresiko dengan Pilot, Namun Gaji Masinis Terpaut Jauh, Yuk Simak Rinciannya!

Ketika pilot memiliki gaji yang fantastis, bagaimana dengan gaji masinis kereta api yang juga sama-sama mengangkut penumpang banyak? Sepertinya tak sama dengan pilot bahkan lebih sedikit meski banyak tunjangan yang didapatkan para masinis. Nah penasaran dengan gaji para masinis kereta api di Indonesia? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kenyataannya gaji masinis bisa mencapai Rp12 juta per bulannya. Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta Angka Rp12 juta ini dikatakan cukup tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Edi Sukmoro ketika masih menjadi Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengatakan, dulunya gaji seorang masinis paling tinggi hanya menyentuh tiga juta rupiah per bulannya. Bahkan dia menyebutkan untuk rincian gajinya tak jauh berbeda dengan rincian gaji pegawai negeri sipil (PNS) pada umumnya. Dimana mereka diberi tunjangan istri dan dua anak yang mencapai sepuluh persen dari gaji pokok. Bila mengikuti PNS, maka dengan pendidikan setingkat SMA akan mendapat tunjangan Rp200 ribu dan Sarjana (S1) sebanyak Rp600 ribu per bulannya. Dengan penghasilan seperti ini, juga diimbangi dengan tanggung jawab yang besar karena bertugas sebagai pengemudi kereta yang membawa banyak penumpang. Selain tunjangan pendidikan, ternyata juga ada tunjangan untuk mencover risiko spesial sebanyak satu juta rupuah setiap bulan. Mereka juga mendapat tunjangan prestasi kerja, uang jaminan premi awak kereta api, tunjangan tempat tinggal hingga transportasi. Meski terbilang lebih kecil dari pilot, para masinis ini akan menerima 15 kali pembayaran untuk setahun yang termasuk juga adanya tunjangan hari raya dan bonus hari ulang tahun sebanyak 100 persen gaji dan penambahan fasilitas uang pensiun. Hal yang paling utama untuk menjadi seorang masinis adalah kesehatan fisik dan mental. Seorang masinis tentunya harus memiliki konsentrasi 100 persen setiap mengemudikan kereta api. Itu sebabnya dibutuhkan kekuatan fisik yang tinggi. Setelah semuanya lolos, Anda akan masuk ke pelatihan masinis selama satu tahun. Setelah itu, Anda belum langsung memegang kendali kereta api. Anda akan diposisikan dulu sebagai masinis muda. Kinerja Anda di posisi tersebut akan dipantau selama 2 tahun masa bakti. Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta Lepas fase tersebut, Anda akan diangkat sebagai asisten masinis. Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan sampai satu tahun Anda menjadi wakil masinis, baru akhirnya Anda akan secara resmi menjadi masinis utama atau masinis senior.

Pesawat Mendarat Tanpa Roda? Mengapa Tidak, Berikut Ulasannya

Pada umumnya, sebelum diputuskan beroperasi, sebuah pesawat pasti telah melalui proses pengecekan panjang dan ketat. Namun, ketika mengudara, siapa sangka, faktanya selalu ada insiden yang terjadi. Salah satunya roda pendaratan atau landing gear yang enggan muncul untuk mendukung proses pendaratan. Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik? Di Indonesia, maskapai dengan market share terbesar, Lion Air pernah merasakannya. Tahun 2009 silam, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 972 mendarat darurat di Bandara Hang Nadim tanpa roda depan. Beruntung, kala itu, Captain Anwar Haryanto berhasil mendaratkan pesawat dengan baik tanpa adanya korban jiwa. Atas keberhasilannya itu, ia pun diapresasi sejumlah pihak. Secara teori pesawat mendarat tanpa roda sangat mungkin terjadi. Sejak pertama kali era pesawat terbang jet komersial mengudara, pendaratan darurat tanpa roda pesawat atau landing gear bukan satu dua kali terjadi. Dari ke semua itu, tak sedikit yang berujung manis dengan mencatat tak ada satu pun korban jiwa hingga sedikit kerusakan. Hal itu setidaknya cukup untuk menjadi bukti betapa sangat dimungkinkan sebuah pesawat mendarat tanpa roda sekalipun. Meski demikian, keberhasilan pendaratan darurat tanpa roda bukan sekonyong-konyong datang begitu saja mengandalkan keberuntungan. Dalam kajian ilmiah, tentu keberuntungan tak masuk dalam salah satu aspek atau objek kajian; tak terkecuali dalam mendaratkan pesawat tanpa roda, bisa dibilang hal itu tak boleh diharapkan untuk datang.
Dilansir The Telegraph, Patrick Smith, seorang pilot AS, dalam bukunya “Cockpit Confidential” coba mengesampingkan faktor keberuntungan ketika mendaratkan pesawat tanpa roda, baik roda depan atau bahkan tanpa roda sama sekali. Secara teknis, proses pendaratan pesawat tanpa roda nyaris sama dengan proses pendaratan pesawat dengan roda, mulai dari landing approach altitude dan landing approach angle yang sesuai, manuver pesawat yang masih masuk kategori stabilize approach, dan turun mengikuti glideslop semua tetap harus dilakukan. Bahkan, saat hendak memasuki zona touchdown atau titik pendaratan pesawat, pendekatan yang dilakukan tetap sama. Pun demikian ketika bagian ekor pesawat mulai menyentuh runway, disusul bagian perut pesawat, dan mesin bagian bawah, semua pendekatan yang dilakukan tetap sama seperti seolah mendaratkan pesawat dengan landing gear. Hanya saja, sebelum semua itu dilakukan, syarat pendaratan tanpa roda harus terlebih dahulu dipenuhi. Mulai dari bobot maksimum atau bobot aman yang sudah ditentukan (bergantung pada jenis pesawat, landasan tempat mendarat, dan berbagai faktor lainnya) sampai panjang runway. Terkait besaran bobot maksimum pesawat saat mendarat tanpa roda, sebetulnya tidak disebutkan secara rinci. Baca juga: Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang Namun, Patrick Smith mengungkap, bila pesawat masih memiliki berat melebihi ambang batas maksimum, tak ada pilihan lain kecuali berputar-putar di udara sampai menyentuh angka di bawah bobot maksimum. Tetapi, hal itu tak perlu dilakukan bila pesawat memiliki fitur pembuangan bahan bakar saat di udara. Setelah itu terpenuhi, tinggal kemudian mencari runway yang agak panjang lebih dari biasanya untuk mencegah overrun atau keluar dari landasan. Bila hal itu dilakukan, didukung dengan kondisi pesawat dalam keadaan prima atau tak terlalu tua untuk melakukan pendaratan tanpa roda hingga cuaca plus pengetahuan dan ketenangan awak kokpit, maka, besar kemungkinan pesawat bisa mendarat dengan selamat sekalipun mengalami kerusakan substansial dan berpotensi kebakaran.

Orang Gunakan Kostum Unicorn Terlihat di Google Street View, Dikira Makhluk Mitos

Ketika masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penguncian terjadi di banyak negara, sulit untuk orang-orang bepergian dan mau tak mau harus di rumah saja untuk mencegah penyebarluasan virus corona (Covid-19). Meski begitu banyak pelancong yang tak kehabisan akal, mereka berkeliling dunia atau pun jalan-jalan lainnya dengan menggunakan Google Maps Street View. Baca juga: Melihat Pemetaan Street View Google Maps dari Kursi Penumpang Dengan menggunakanGoogle Maps Street View ini, tak hanya tempat-tempat indah, tetapi berbagai kejadian unik hingga yang tak terbayangkan bisa terlihat. Bahkan dengan mengklik di sekitaran peta interaktif akan ada hal-hal yang mungkin tidak pernah terlihat.
Penampakan orang di belakang pohon dari Google Maps Street View (express.co.uk)
KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (14/6/2020), seperti belum lama seorang pengguna Google Maps menemukan pemandangan yang ajaib terjadi di Salem, Massachusetts di Amerika Serikat. Salem sendiri sebenarnya sudah lama dikenal karena hubungannnya denga dunia lain terutama dengan penyihir. Bahkan tahun 1692 silam, Salem merupakan rumah bagi pengadilan penyihir dan itu menarik pelancong yang ingin menjelajahi jalan-jalan yang menyeramkan. Namun ternyata penyihir bukanlah satu-satunya makhluk mistis yang menghuni wilayah tersebut. Sebab seorang pengguna Google Maps membagikan temuan tak terduganya di Reddit. Dia melihat pemandangan pantai yang terbentang di daerah itu dan langitnya tengah mendung dan kelabu. Di tepi pantai terlihat ada tiga orang tidak terlihat terlalu aneh. Dua diantaranya orang dewasa dengan menggunakan jaket hitam serta celana jeans biru dan yang lainnya menggunakan pakaian pelangi. Sedangkan gadis kecil yang bersama mereka menggunakan rok tutu pelangi. Bila dari jauh dekat dengan gadis kecil itu tampak seperti unicorn berwarna putih lengkap dengan tanduk khas dan surai berwarna pelangi. Di Reddit, pengguna Google Maps tersebut memposting dan menulis keterangan, “Wild unicorn terlihat di Salem, MA.” Seperti tidak terganggu dua orang tersebut berlaku seperti biasa dan gadis kecil mengambil foto samudera yang keruh bukan kuda mitos yang ada di sampingnya. Seorang warganet yang melihat foto tersebut mengatakan bahwa mungkin unicorn tersebut berkorelasi dengan fakta bahwa itu berada di kota yang penuh dengan sejarah magis. “Mungkin para penyihir memanggilnya,” komentar seorang warganet. Namun setelah dilihat lebih jelas lagi, unicorn tersebut merupakan kostum yang digunakan oleh seseorang. Di mana terlihat sepasang lengan manusia yang keluar dari kostum dan ada ritsleting dibagian depan kostum tersebut. Meskipun penampakan ini memiliki logika yang jelas di baliknya, pengguna Google Maps lain telah melihat kejadian aneh yang masih kurang jelas. Baca juga: Google Maps Hadirkan Fitur Info ‘Kepadatan Penumpang’ di Moda Transportasi Umum Salah satu kejadian seperti itu terjadi di kuburan di Texas ketika seorang tokoh berwajah hantu terlihat mengintip dari balik pohon. Meskipun ada kemungkinan penjelasan, seperti kesalahan atau resolusi rendah kamera, penampakan seram seperti ini menyebabkan banyak kesenangan dan spekulasi di antara pengguna.

Masa Pandemi Covid-19 Jadi Kesempatan ASEAN Tingkatkan Kualitas Transportasi Umum

Hingga saat ini tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir dan ini memberi kesempatan negara di Asia Tenggara atau ASEAN untuk meningkatkan transportasi umum. Karena nantinya pasca Covid-19, sistem transportasi publik yang ditingkatkan akan lebih baik melayani kebutuhan negara. Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi Saat ini dalam menghadapi Covid-19 masyarakat yang menggunakan transportasi umum mencapai titik terendah sepanjang masa. Pasalnya banyak orang yang tinggal dirumah demi mengurangi risiko penularan Covid-19. Bahkan aplikasi Moovit melacak data angkutan umum untuk sejumlah kota di ASEAN seperti Bangkok, Singapura, Jakarta dan Kuala Lumpur di mana kereta api dan bus sudah mulai kembali beroperasi namun jumlah penumpangnya belum kembali ke angka sebelum pandemi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman aseantoday.com (15/6/2020), penurunan jumlah penumpang ini karena pemerintah mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah bila memungkinkan dan pertemuan besar masih belum dianjurkan. Seperti negara Malaysia layanan transportasi umum membatasi jumlah penumpang di peron atau di atas kereta. Praktik-praktik ini telah secara efektif menurunkan jumlah penumpang pada waktu tertentu. Namun ternyata negara-negara ASEAN memiliki berbagai tingkat ketergantungan dan investasi dalam transportasi umum untuk memanfaatkan posisi terendah saat ini dalam perjalanan dapat memulai dengan pemeliharaan fasilitas sederhana. Selain itu Singapura menawarkan beberapa pelajaran penting dalam hal ini seperti mempersingkat jam operasional Mass Rapid Transit (MRT) pada Mei. Itu mengakui jeda permintaan selama periode penutupan “pemutus sirkuit” nasional dan proyek pemeliharaan dan pembaruan terjadwal. Sistem kereta kota dibangun pada 1980-an dan 1990-an dan membutuhkan pemeliharaan yang signifikan. Dengan menyelesaikan perbaikan selama periode rendah penumpang ini, Singapura membebaskan penumpang dari gangguan layanan pasca Covid-19. Padahal saat ini pengeluaran biaya bisa dikatakan tidak bijaksana karena masa pandemi, tetapi Singapura justru bida mulai memperbaiki model bisnis kereta mereka. Banyak sistem transportasi umum di wilayah ini menghadapi tantangan anggaran karena pandemi, tetapi untuk saat ini, kota-kota harus menghindari kenaikan tarif karena mereka tidak akan diterima dengan baik oleh para pencari nafkah rata-rata yang bergantung pada transportasi umum. Demografis ini mungkin sulit karena pengangguran atau hilangnya pendapatan. Sebelum pandemi, para penumpang di Singapura menanggung 50 persen dari biaya operasi sistem kereta api mereka, dengan keseimbangan berasal dari negara dan pendapatan non-tarif. Apalagi penurunan penumpang baru-baru ini berarti bahwa proporsi biaya yang ditanggung oleh penjualan tiket bahkan lebih rendah. Seperti banyak sistem transportasi di kawasan ini, operator kereta api Singapura membutuhkan solusi. Menurut Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan, biaya tambahan yang dikeluarkan oleh operator angkutan umum karena wabah Covid-19 tidak “tercakup secara memadai” oleh tarif saat ini dan “pada akhirnya harus ditanggung oleh operator dan pembayar pajak.” Operator angkutan umum di Singapura sudah kehilangan uang, dengan Kereta Api SMRT melaporkan kerugian bersih sebesar S$155 juta (US$110 juta) pada tahun 2019. Ini meneruskan biaya kepada operator dan pembayar pajak lebih baik daripada menaruhnya di komuter, tetapi itu masih belum ideal. Di masa depan, kenaikan tarif dapat dibenarkan dengan peningkatan kinerja operator transportasi yang dapat menawarkan layanan pelanggan yang lebih baik atau kereta yang lebih sering. Sampai sekarang, kenaikan tarif mungkin juga disukai karena Singapura telah frustrasi oleh gangguan layanan kereta baru-baru ini pada Maret 2020. Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit Untuk saat ini, Dewan Transportasi Umum (PTC) nasional dapat melakukan penyelaman mendalam ke dalam pembenahan model keuangan dan operasi operator. Rendahnya jumlah penumpang memberikan peluang untuk mencoba berbagai strategi operasi dan memberikan ruang bagi kesalahan seperti dapat meninjau kembali uji coba Bus Publik Berdasarkan Permintaan yang berakhir pada Mei 2019. Dalam skala yang lebih luas, Singapura juga dapat belajar dari Hong Kong, yang menghadapi tantangan serupa. Model pengoperasian “kereta plus properti” Hong Kong.

Tak Berikan Struk Pembayaran, Pengemudi Taksi Singapura Kena Denda 50 Dollar

Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura pada 11 Juni 2020 mengeluarkan aturan yang bertujuan untuk memfasilitasi upaya pelacakan kontak. Aturan ini dimana semua pengemudi taksi harus memberikan struk pembayaran kepada semua penumpang mereka terlepas dari diminta atau tidaknya. Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi Nantinya jika para pengemudi tidak memberikan struk tersebut maka mereka akan di denda sebesar S$50 atau sekitar Rp509 ribu. Selain itu juga para penumpang sangat dianjurkan untuk menyimpan tanda terima setidaknya selama 14 hari. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (13/6/2020), karena aturan ini kemudian membuat para pemangku kepentingan bergerak dan mendesak LTA untuk mempertimbangkan kembali keefektifan aturan ini. Anggota parlemen GRC Ang Hin Kee yang merupakan penasihat eksekutif untuk Asosiasi Taksi Nasional mengatakan, ia berharap LTA tidak akan menjadikan hal tersebut sebagai tindakan hukuman. “Saat ini supir taksi dapat memperoleh S$50 hanya jika itu adalah hari yang baik (dengan situasi Covid-19). Denda S$50 akan menghapus pendapatan sepanjang hari mereka,” kata Ang. Adanya hal tersebut kemudian berbagai operator taksi mengatakan kepada pengemudi minggu ini bahwa mereka yang tidak bisa mengeluarkan struk atau tanda terima kepada penumpang akan dikenakan denda komposisi S$50. LTA mengatakan bahwa aturan tersebut melengkapi pemasangan kode QR SafeEntry di taksi terutama untuk penumpang yang tidak dapat memindai kode. Pengemudi juga tak perlu mencetak struk jika penumpang memesan taksi melalui aplikasi seluler karena akan mendapat tanda terima elektronik. Nantinya jika tidak mengeluarkan struk pembayaran, LTA tidak akan langsung menindak pengemudi. “Jika ada umpan balik pada pengemudi yang tidak mematuhi, LTA akan menyelidiki berdasarkan keadaan masing-masing kasus,” ujar juru bicara LTA. Diketahui, LTA telah bekerja dengan operator taksi untuk menginstruksikan pengemudi untuk mengeluarkan tanda terima sejak April. William Lim, administrator grup Facebook Pengemudi Taksi Singapura, mengatakan sementara memahami bahwa LTA berusaha meningkatkan upaya pelacakan kontak, dia ragu mengeluarkan tanda terima akan menjadi langkah yang efektif. “Sangat tidak praktis dengan semua taksi sekarang memiliki kode QR SafeEntry. Orang-orang yang pergi ke mal dan supermarket menggunakan kode yang sama, jadi mengapa kita harus kembali ke dasar-dasar dan menggunakan tanda terima. Jika kamu seorang penumpang, kamu juga kemungkinan akan membuang tanda terima setelah mendapatkannya, sehingga tidak memenuhi tujuan yang dimaksudkan,” ujar Lim. Ang mengatakan Asosiasi Taksi Nasional telah berbagi reservasi dan masalah dengan LTA. “Saya tahu mereka berusaha meningkatkan pelacakan kontak untuk orang-orang tanpa ponsel, tetapi selama periode ini saya tidak tahu siapa yang akan keluar tanpa ponsel mereka … untuk warga lanjut usia tanpa ponsel, mereka seharusnya kebanyakan tinggal di rumah selama ini waktu.” Dia mengatakan seharusnya tidak ada kebutuhan untuk tanda terima bagi mereka yang sudah memiliki ponsel dan dapat melakukan check in SafeEntry. Ang menambahkan, sebaliknya upaya harus difokuskan pada membuat orang untuk check in melalui sistem check in digital SafeEntry. Baca juga: Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker Jika struk atau tanda terima harus dikeluarkan, Ang mengatakan, tanggung jawab tidak boleh berada pada pengemudi saja, menambahkan bahwa pemberitahuan dapat ditempatkan di taksi untuk mengingatkan penumpang untuk meminta struk pembayaran.

Setelah Lebih dari Satu Abad, Gunung Es yang Bikin Kapal Titanic Tenggelam Akhirnya Terungkap!

Kapal pesiar super mewah asal Inggris Titanic memang sudah tenggelam sejak lebih dari seabad yang lalu. Penyebabnya pun juga sudah umum diketahui, yakni karena menabrak gunung es. Namun, gunung es tersebut masih simpang siur bagaimana wujudnya. Sebab, di sekitaran lokasi tenggelamnya kapal Titanic, ada begitu banyak gunung es. Baca juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar Akan tetapi, selalu ada cara lain untuk mengungkap wujud gunung es yang dimaksud sekalipun tidak diabadikan berbarengan dengan peristiwa kelam tenggelamnya kapal Titanic yang menewaskan sekitar 1.500 orang itu. Belum lama ini, kantor berita yang berbasis di Toronto, Kanada, torontosun.com melaporkan bahwa seorang pelaut ulung, Kapten W. Wood, yang bertugas di atas kapal SS Etonian diklaim mempunyai foto gunung es yang menyebabkan kapal laut Inggris Titanic tenggelam. Kapten Wood yang juga seorang penggemar fotografi, tepat dua hari sebelum Titanic tenggelam juga melintasi Atlantic. Sadar ia telah melewati objek foto menarik dan langka, ia pun menyempatkan diri untuk mengabadikan gunung es dengan ukuran cukup besar tersebut. Tak hanya itu, seolah memang sudah menjadi cara Tuhan untuk membantu manusia mengungkap masalah, Wood, kala itu juga tergerak untuk membuat titik koordinat untuk memetakan gunung es yang dimaksud.
Kapal laut Inggris Titanic mulai berlayar dari Southampton, Inggris, pada tanggal 10 April 1912. Foto: The Canadian Press
Namun, Wood tak mengungkap dengan jelas untuk apa ia memetakannya. Entah untuk kembali lagi suatu saat nanti dan memotretnya dengan kamera yang lebih canggih atau sekedar menjalankan kebiasaan sebagai seorang pelaut untuk memetakan setiap temuan atau objek menakjubkan. Entahlah. Yang jelas, 40 jam kemudian, kapal laut Inggris Titanic dilaporkan tenggelam dan menewaskan sedikitnya 1.522 orang. Tak lama setelah sampai di daratan, tepatnya di New York, Wood pun mengirimkan foto tersebut ke kakek buyutnya, bersamaan dengan sebuah surat yang berisi keterangan bahwa gambar itu adalah gunung es yang telah membuat Titanic tenggelam. “Aku mengirimimu gambar lautan, kapal SS Etonian melintas saat badai menerjang dan melewati gunung es yang menenggelamkan Titanic. Kami melintasi lintasan es 40 jam sebelum dia (Titanic) dan di siang hari, jadi lihat gunung es dengan mudah terlihat dan aku memotretnya,” kata Wood salam suratnya. Di masa lalu, foto gunung es di sekitaran lokasi tenggelamnya Titanic memang kerap dipotret pemburu objek menarik dari seluruh dunia, baik sebelum maupun sesudah kejadian. Namun, dari begitu banyak foto yang beredar, tampaknya, foto dari Wood inilah yang paling mendekati sketsa foto hasil dari pengakuan saksi mata yang selamat dalam kejadian tersebut. Pada 15 April 1912 tepatnya pukul 02.20, kapal laut Inggris Titanic mulai tenggelam di Samudra Atlantik Utara sekitar 400 mil selatan Newfoundland, Kanada. Kapal besar nan mewah itu mengangkut 2.200 penumpang dan awak kapal. Baca juga: Langkah-Langkah Ini Akan Mudahkan Proses Evakuasi Saat Kapal Mengalami Kecelakaan! Dua setengah jam sebelumnya, kapal menabrak gunung es. Dilansir History, pada 10 April kapal termewah dalam sejarah pembuatannya itu berangkat dari Southampton, Inggris pada perjalanan perdananya melintasi Samudra Atlantik. Titanic dirancang oleh pembuat kapal asal Irlandia William Pirrie. Kapal dibuat di Belfast yang mengklaim sebagai kapal tercepat di dunia. Kapal membentang 883 kaki. Lambung kaki dibagi menjadi 16 kompartemen kedap air. Sebab empat kompartemen ini dapat dibanjiri tanpa menyebabkan hilangnya daya apung yang kritis. Sangat jelas, Titanic dianggap tidak dapat tenggelam.

Gegara Postingan Rasis di Twitter, Pramugari Senior ini Tak Lagi Bekerja di Delta Air Lines

Topik seputar rasisme kini tengah menjadi pembicaraan utama di Negeri Paman Sam, terlebih pasca tewasnya George Floyd yang memicu kerusuhan dalam skala besar-besaran. Dunia dirgantara AS, rupanya turut terseret soal rasisme, setelah seorang pramugari senior dari masapai Delta Air Lines, telah terbukti mengumbar postingan berbau rasisme di Twitter. Baca juga: Imbas Corona, Wanita Asia Jadi Bahan Omelan Rasis di Kereta Bawah Tanah New York Kevin Jennings, pramugari yang menggunakan akun Twitter @kevintheflygirl ternyata telah memposting beberapa tweet yang dipertanyakan seputar hubungan ras yang dilakukannya setidaknya sejak 2017 lalu. Hal ini kemudian ditanggapi oleh pihak Delta yang melakukan pemeriksaan cermat terhadap postingan media sosial Jennings terkait masalah ras. “Kami tidak memiliki toleransi terhadap rasisme, kefanatikan, dan tindakan kebencian. Karyawan itu tidak lagi bekerja di Delta, ”juru bicara Delta Anthony Black yang dikutip KabarPenumpang.com dari travelpulse.com (14/6/2020). Maskapai yang berbasis di Atlanta ini tidak akan mengatakan jika pramugari, Kevin Jennings, telah berhenti, dipecat atau mengikuti program pensiun dini perusahaan. Namun Delta mengatakan kepergiannya mengikuti penyelidikan penuh ke dalam posnya. Kepergiannya terjadi di tengah meningkatnya kepekaan di antara perusahaan-perusahaan terhadap posting online setelah beberapa hari protes di seluruh negeri terhadap ketidaksetaraan rasial dan perlakuan polisi terhadap orang Amerika-Afrika. Banyak perusahaan, termasuk Delta, telah berbicara di depan umum menentang rasisme. Jennings sering dipilih oleh manajemen dalam beberapa tahun terakhir untuk mewakili Delta di acara-acara perusahaan. Tahun lalu dia memenangkan penghargaan Chairman’s Club yang bergengsi dari maskapai itu, diberikan kepada karyawan top yang disebut panutan bagi rekan-rekan mereka dan mewujudkan nilai-nilai Delta. Dalam beberapa hari terakhir menuai kritik dari konsumen dan karyawan. Jumat lalu, CEO Delta Ed Bastian mengirim memo yang meminta karyawan untuk melaporkan rasisme atau diskriminasi apa pun terhadap karyawan Delta. “Itu menghancurkan hati saya untuk membaca komentar tentang rasisme yang dialami orang. Di atas semua itu, kita perlu memastikan tempat kerja di mana semua karyawan dapat merasa aman – baik secara fisik dan psikologis,” tulis Bastian dalam memo itu. Dalam satu posting 7 Juni, Kevin Jennings di bawah gagang Twitter @kevintheflygirl menanggapi posting tentang seorang kepala polisi yang bergabung dengan pengunjuk rasa berbaring di tanah dalam solidaritas. Karyawan pro-serikat pekerja di Delta adalah di antara mereka yang telah menyampaikan kekhawatiran tentang jabatan Jennings dalam beberapa hari terakhir. Blog perjalanan Jetiquette minggu ini mengkritik komentar Jennings, termasuk komentar yang berasal dari tahun lalu dan sebelumnya yakni masalah politik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kesetaraan pernikahan dan kekerasan senjata, bahkan di tengah kritik dari pelanggan dan pemimpin politik. Baca juga: Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona Delta mendukung undang-undang kejahatan rasial di Georgia dan juga telah bergabung dengan bisnis di Minnesota menyerukan anggota parlemen di sana untuk mengesahkan undang-undang untuk reformasi kepolisian “berfokus pada pencegahan perilaku polisi yang tidak dapat diterima dan memastikan bahwa pelaku tindakan rasis dimintai pertanggungjawaban.” Delta mengatakan upayanya di negara bagian asalnya saat ini difokuskan pada RUU kejahatan rasial.

Penumpang Pesawat Hangatkan Pizza Pakai Lampu Kabin, Tertarik Coba?

Kelakuan penumpang saat di kabin pesawat memang tak pernah bisa diseragamkan. Keragaman sosial dan budaya mungkin jadi salah satu penyebab utamanya. Terlebih dalam perjalanan long haul atau jarak jauh yang notabene banyak diisi penumpang lintas negara. Pasti ada saja tingkah aneh yang dilakukan penumpang. Baca juga: Dari Pada Bosan, Penumpang Pesawat Ini Menata Keju di Atas Papan Charcuterie Di artikel sebelumnya, redaksi sudah mengungkap beberapa kelakuan tak biasa penumpang saat di pesawat, mulai dari menata keju di atas papan charcuterie atau talenan kayu untuk mengisi kekosongan saat di pesawat hiingga sampai pipis di plastik dan kemudian digantung di seatback atau kursi bagian belakang yang ada di depannya. Nah, belum lama ini, sebuah akun Instagram yang sudah cukup populer mengunggah kelakuan-kelakuan aneh penumpang selama di pesawat, @passengershaming kembali mengundang reaksi netizen. Betapa tidak, seorang penumpang yang tak disebutkan namanya ini justru menggunakan lampu kabin atau overhead light untuk menghangatkan pizza. Aneh bukan? Meskipun tak disebutkan dengan jelas waktu dan tempat serta keterangan lainnya, namun satu hal yang pasti, postingan ini pertama kali dibagikan di media sosial pada tahun 2016 silam. Tetapi, karena beberapa akun mempostingnya kembali –tak terkecuali dengan akun Instagram @passengershaming- netizen pun kembali membanjiri kolom komentar. “Aku suka pizza tetapi bukankah pizza yang dihangatkan dari lampu-lampu LED itu? Apakah mereka menghilangkan panas? Aku hanya bertanya karena kita memiliki stop lights LED di sini di Colorado dan jika kita mendapatkan badai salju dan mereka ditutupi cahaya tidak mencairkan salju. Konyol,” kata salah seorang netizen. Namun, netizen memang tak selalu menilai dengan sudut pandang yang sama. Ada yang menghujat, ada pula yang mendukung atau berkomentar positif atas kelakuan penumpang yang satu ini. Bahkan, seorang netizen menyebut tindakan tersebut sebagai sebuah inovasi unik. “Saya merasa ini inovatif dan bukannya menjijikkan,” kata seseorang. Baca juga: Jijay! Ada Penumpang Pesawat Tinggalkan Urin di Kantung Plastik “Ini seperti cara membuat makanan panggang dengan mudah untuk pelancong dunia. Jika lampu kabin cukup bagus untuk membuat brownies, berarti itu juga cukup baik untuk pizza,” tulis seorang netizen. “Aku tidak benci ini, pizza setiap hari tidak masalah bagiku,” tambah netizen lain. Hingga kini, postingan tersebut sudah mendapat lebih dari 8 ribu likes dan ratusan komentar. Di video lainnya dalam akun Instagram @passengershaming, seorang penumpang yang tak melakukan aktivitas di pesawat sebagaimana mestinya. Dalam sebuah tayangan video di akun tersebut, seorang penumpang tampak menggunting kuku di pesawat. Jangankan menggunting kuku, membawanya saja sebetulnya sudah tidak boleh dan akan disita petugas body checking.