Pilah Pilih Jam Tangan Pilot, Pertimbangkan Hal ini Sebelum Membeli

Apa yang dicari ketika Anda mendambakan sebuah jam tangan? Tentu setiap orang punya perspektif tersendiri. Bagi kaum adam yang macho, sosok jam tangan pilot adalah salah satu yang dicari. Dengan kelengkapan fitur, kualitas tahana banting dan berstandar ‘army,’ menjadikan jam tangan khas pilot punya peminat tersendiri. Baca juga: 10 Barang Bawaan Penting Bagi Pilot, Nomor 7 Tak Dibawa, Gagal Terbang! Nah, bagaimana cara menentukan jam tangan pilot yang ideal untuk Anda. Berikut KabarPenumpang.com melansir dari gearpatrol.com (9/6/2020), ternyata ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya dicermati sebelum membeli jam tangan pilot ini. 1. Apakah Anda benar-benar menerbangkan pesawat? Bila jawabannya iya, maka seharusnya Anda tahu bahwa seorang pilot sebenarnya tidak memerlukan jam atau arloji. Memang di masa lalu jam tangan adalah alat yang penting bagi para pilot, tetapi setelah munculnya instrumen digital dan komputasi, penggunaan jam tangan pun perlahan menghilang. Namun, itu tidak berarti Anda tidak bisa menggunakannya, sebab ini bisa meningkatkan apresiasi Anda terhadap jam tangan dan kecanggihan pesawat modern. Tapi jika Anda bukan seorang pilot dan hanya penggemar penerbangan serta ingin menggunakan jam tangan pilot rasanya tak masalah. 2. Fitur dan fungsi apa yang dicari? Sebenarnya ini pertanyaan untuk kebutuhan pribadi dengan jam tangan pilot. Beberapa fitur yang umum dikaitkan dengan jam tangan pilot dapat bermanfaat dan diinginkan untuk pemakaian biasa. Misalnya, bezel aturan slide dapat digunakan untuk membuat berbagai perhitungan praktis, dan kronograf dapat digunakan untuk mengatur waktu semua jenis kegiatan. Komplikasi GMT dan bezel 24 jam adalah komplikasi praktis juga awalnya ditujukan untuk pilot komersial, ini sangat berguna untuk pelancong modern atau mereka yang memiliki kontak di zona waktu lainnya. Masing-masing fitur ini berguna dan layak dipertimbangkan dalam jam tangan pilot ini hanyalah bonus karena mereka memiliki sejarah keren dan cenderung menambah tampilan yang menarik. 3. Apakah gerakan mekanis itu penting? Pertanyaan ini berlaku untuk semua jenis jam tangan. Gerakan mekanis lebih mahal dan kurang akurat daripada bagian kuarsa mereka, tetapi mereka menambahkan rasa “kekhasan” pada jam tangan, dan ini mungkin lebih penting bagi pembeli yang tertarik pada jam tangan pilot khusus untuk sejarah dan tradisi mereka. Berhati-hatilah karena banyak jam tangan pilot adalah kronograf, dan itu bisa berarti harga yang jauh lebih tinggi ketika mekanis. Jam tangan Quartz dapat menawarkan opsi yang murah dalam gaya arloji pilot klasik, tetapi mereka juga dapat menggabungkan semua jenis fitur dan teknologi digital yang mungkin berguna untuk pilot hari ini. Ada yang menggunakan sinyal GPS dan radio untuk secara otomatis menyesuaikan dengan perubahan zona waktu, dan beberapa dirancang khusus untuk merekam waktu penerbangan dan data penting lainnya. Baca juga: Rindu Terbang, Para Pilot Berharap Agar Orang-orang Kembali Beli Tiket Pesawat 4. Jam tangan pilot seperti apa yang Anda inginkan? Jam tangan pilot mewakili suatu genre dengan variasi jenis, model dan lainnya. Tetapi jika memiliki gambaran tertentu dalam benak Anda seperti apa jam tangan pilot akan terlihat, itu awal yang baik. Mengetahui berbagai jenis jam tangan pilot yang tersedia akan membantu Anda menjelajahi pilihan Anda dengan lebih baik, karena ada banyak interpretasi dari masing-masing merek yang berbeda. Ada yang sederhana dan klasik seperti W10 dan flieger atau serumit kronograf flyback. Lalu, ada yang tidak sentimental yang terasa teknis dan serius seperti pesawat tempur modern atau pesawat komersial. Anda bahkan dapat menemukan jam tangan yang merangkul fakta bahwa pilot tidak memerlukan jam tangan ini, dan alih-alih mendekati penerbangan sebagai tema desain – beberapa mungkin memiliki jarum detik berbentuk pesawat, rotor berbentuk turbin, atau memasukkan bahan dari sejarah Pesawat dalam konstruksi mereka.

Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

Face shield atau pelindung wajah belakang ini menjadi booming saat pandemi virus corona atau Covid-19. Sebab dengan menggunakan face shield membantu untuk mencegah tertular Covid-19 yang dihasilkan dari droplet orang lain yang berbicara dengan Anda apalagi ketika naik kendaraan umum atau di tempat lainnya. Baca juga: Video ini Pastikan Penyebaran Virus Corona Mudah Menjalar Lewat Percakapan Saking boomingnya face shield ini, banyak orang yang kemudian akhirnya membeli dan bahkan mereka menggunakan hampir setiap hari ketika berada di luar rumah. Namun, ternyata beberapa orang juga membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang lebih hemat seperti menggunakan plastik bekas dari bungkus makanan. KabarPenumpang.com melansir dari designboom.com, studio desain “mmm” di Korea Selatan memberikan solusi mereka dengan menggunakan berbagai bungkus makanan untuk dibuat face shield. Pak Kitae merupakan desainer yang membuat bingkai face shield 3D dan bahan bekas pasta atau snack sebagai pelindung depannya.  Pak Kitae menggunakan bingkai pelindung wajah yang berbentuk seperti sepasang kacamata dengan klip besar terdapat di bagian atas dan bawah. Nantinya plastik atau bahan bekas transparan seperti bungkus pasta dan snack masuk menutupi kerangkan akan dijepit dengan klip besar tersebut. Menurutnya dengan inovasi ini, setiap orang bisa dengan mudah memiliki pelindung wajah dengan kreasi yang mereka inginkan. Sayangnya karya face shield ini tidak diproduksi secara massal. Namun jika ada yang berminat, Pak Kitae mengatakan, mereka bisa menghubungi perusahaan untuk meminta file 3Dnya. Sehingga jika sudah mendapat file, bisa langsung mencetak bingkai face shield tersebut menggunakan printer 3D dan dipotong serta dikencangkan untuk penggunaan. Nah, untuk Anda yang ada di Indonesia atau negara manapun mungkin bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Di mana bahan-bahannya dengan menggunakan bando plastik, karet gelang atau ikat rambut, plastik mika, lem tembak, gunting dan selotip. Anda bisa merekatkan dua bando plastik dengan selotip dan buat jarak antara bando satu dengan yang lainnya karena digunakan sebagai penyangga face shield. Jarak ini dibuat agar pengguna memiliki ruang untuk bernapas ketika face shield digunakan. Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak Kemudian gunting karet atau ikat rambut dan rekatkan di ujung-ujung bando agar bisa menahan face shield ketika digunakan. Rekatkan plastik mika di bagian depan bando dengan lem tembak dan face shiel siap digunakan. Nah, dengan membuat sendiri, Anda bisa memiliki face shield unik sesuai selera dan lebih hemat jika menggunakan bahan daur ulang yang ada di rumah.

Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

Saat comeback Boeing 737 MAX masih terus tertunda karena berbagai masalah yang terus-menerus muncul, penantang lain di pangsa pasar pesawat narrow body (untuk membendung Airbus A320neo) pun muncul. Mereka adalah Irkut Corporation. Baca juga: Irkut MC-21 300, Burung Besi Asli Rusia yang Siap Goyang Pasar Narrow Body Airbus dan Boeing Meskipun proses pengembangan dan produksi sempat tertunda akibat sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat (AS) yang mempengaruhi pasokan sayap komposit karbon buatan AS dan mesin oleh Pratt & Whitney sejak tahun 2014, Irkut dikabarkan tengah memperoleh kemajuan signifikan dalam pengembangan MC-21. Perusahaan yang telah berpengalaman lebih dari 88 tahun di industri penerbangan Rusia ini menawarkan MC-21 dalam dua varian model, tipe standar MC-21-300 dengan jangkauan terbang hingga 6.000 km dan dapat memuat antara 163-211 kursi serta versi mininya, MC-21-200 dengan jangkauan hingga 6.400 km dan dapat memuat antara 132-165 penumpang. Varian tersebut memang dimaksudkan untuk membawa MC-21 masuk dalam segmen narrowbody jarak pendek dan menengah. Sedangkan untuk dapur pacunya, MC-21 akan ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney dan varian dengan mesin PD-14 yang diproduksi oleh produsen mesin Rusia, Aviadvigatel. Simple Flying menyebut, belakangan United Aircraft Corporation (UAC) Rusia (induk dari Irkut) tengah berjuang keras mengejar keterlambatan target akibat sanksi ekonomi oleh AS. Defense World melaporkan, UAC sampai mengerahkan empat pesawat uji coba sekaligus, dimana dua di antaranya diproyeksikan sebagai prototipe pesawat komersial dengan kapasitas penumpang 163-211 kursi. Saat ini, setidaknya ada enam maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang telah memesan sebanyak 95 unit MC-21. Namun pesanan itu tidak disebutkan dengan rinci, entah MC-21-300 atau MC-21-200. Enam maskapai tersebut mulai dari flag carrier Rusia, Aeroflot yang memesan 50 unit, Azerbaijan Airlines, Cairo Aviation, Peruvian Airline, dan maskapai penerbangan Indonesia, Merpati Nusantara Airlines masing-masing memesan 10 unit, serta maskapai asal Kazakhtan, Bek Air dengan pesanan sebanyak lima unit. Guna mengurangi backlog atau pesanan, UAC telah berikrar untuk menggenjot produksi di setiap tahunnya, mulai dari enam unit di tahun 2021, 12 unit di tahun 2022, 25 unit di tahun 2023, bahkan hingga 72 unit per tahun pada 2025. Bila segalanya berjalan lancar, bukan tak mungkin, MC-21 akan benar-benar bisa jadi alternatif maskapai di seluruh dunia agar mempunyai alternatif lain di luar Boeing dan Airbus mulai tahun 2021 mendatang. Lagi pula, dari segi spesifikasi, MC-21 juga dibekali sejumlah keunggulan. Selain akan dipatok dengan harga di bawah Boeing 737 MAX dan Airbus A320neo, MC-21 juga memiliki kabin dan gangway terluas di kelasnya. Hal itu memungkinkan gangway MC-21 cukup untuk dilewati oleh troli katering dan oleh satu orang lainnya tanpa perlu bergantian atau saling salip. Sebuah keunggulan yang dirasa lumayan cukup berpengaruh. Baca juga: Mengenal Irkut MC-21, Pesawat Produksi Rusia yang Jadi Calon Armada Merpati Airlines Sejarah mencatat, dimensi pesawat terbukti membuat Boeing 707 menuai sukses -sekaligus awal dari kesuksesan divisi komersial Boeing- setelah Presiden Boeing, Bill Allen,menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing untuk membuatnya menjadi beberapa inci lebih lebar dari McDonnell Douglas DC-8. Tak lupa, in flight entertainment pesawat berupa sistem pencahayaan LED di dalam kabin, layar hiburan, serta port USB type A juga tersemat untuk memanjakan penumpang. Bahkan, konon kabarnya, penumpang juga dapat mengakses fasilitas wi-fi gratis selama penerbangan – kendati pihak Irkut masih enggan menyebutkan siapa yang menjadi vendor untuk urusan ini.

(2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Masih berbicara tetang pilot. Sebagaimana yang telah disebutkan pada artikel sebelumnya, salah satu jenis pekerjaan pada pilot adalah airline pilot pay. Airline pilot pay normalnya dihitung berdasarkan per jam. Tetapi, turunan dari itu bergantung pada setidaknya sembilan kondisi. Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta Sembilan kondisi tersebut mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day. Di artikel sebelumnya, KabarPenumpang.com telah tuntas membahas hingga determining pay earned based on pilot pay rigs, yakni rules yang dinilai sangat menguntungkan pilot. Namun, skema lainnya juga memiliki posisi krusial untuk kesejahteraan pilot. Skema work rules effect on pay, misalnya, dinilai juga tak kalah penting bagi pilot dibanding yang lain. Sebab, dengan skema ini, jika pilot memiliki perjanjian tertulis dan berkekuatan hukum, maka, ketika penerbangan dibatalkan, mereka akan tetap dibayar. Kemudian, hal lainnya yang spesial, skema ini memungkin pilot dibayar 150-300 persen dari bayaran normal di hari, momen, atau waktu tertentu. Jika dalam sebulan waktu kerjanya melebihi ambang batas, maka pilot dimungkinkan untuk mendapat kenaikan gaji 10-30 persen per jam. Lain lagi dengan pilot employer operations and quality of life. System rig ini, intinya pilot akan disesuaikan dengan perjalanan domestik dan internasional. Bila pilot memilih rata jarak atau perjalanan internasional, otomatis, mereka akan terbang dalam waktu berhari-hari tanpa pulang dan juga diberikan waktu berhari-hari untuk libur. Sebaliknya, bila pilot mengambil perjalanan domestik, maka mereka akan diberikan jam terbang lebih banyak namun dengan rute pendek dan akan dibayar berdasarkan away from base atau duty time. Baik perjalanan internasional ataupun domestik, akomodasi dan transportasi keduanya tentu saja sama-sama ditanggung maskapai. Tak hanya itu, biaya tambahan lain untuk makan, minum, dan sebagainya juga tak luput dari perhatian. Skema biaya dari itu disebut pilot per diem day atau per diem. Per diem biasanya dibayar berdasarkan waktu away from base dengan rasio 1:1. Misalnya, pilot menghabiskan waktu dua jam, maka per diem yang akan didapatkan pilot senilai dua jam perjalanan. Terkait tarif per diem, biasanya berkisar US$1,50 per jam hingga US$3 per jam. Tentu saja per diem untuk perjalanan internasional biasanya lebih tinggi dari angka tersebut. Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar Selain itu, pilot juga mempunyai jaminan minumum terbang per jam atau guaranteed minimum hours yang akan dibayar per bulan. Biasanya, guaranteed minimum atau biasa juga disebut minimum guaranteed hours (MGH) tersebut berkisar 60-80 jam. Jadi, terbang tidak terbang, pilot akan mendapat bayaran minimum atau bisa dibilang gaji pokok per bulan. Adapun corporate pilot pay, cargo pilot pay, charter pilot pay, flight instructor pay, law enforcement pilot pay, aerial firefighter pilot pay, dan crop duster pilot pay, pada intinya, pilot dimungkinkan untuk mendapat pundi-pundi uang per jam, per bulan, enam bulan, atau per tahun di luar airline pilot pay. Namun, tak semua pundi-pundi uang tersebut datang dari maskapai, bisa saja pilot mendapatkannya dari luar (yang menyewa jasa mereka), seperti crop duster (dibayar per jam atau sistem gaji) dan charter pilot pay (dibayar per jam atau sistem gaji tanpa adanya MGH).

Empat Bulan Nganggur, Emirates ‘PHK’ Airbus A380 Pertama

Setelah empat bulan tak menghasilkan pundi-pundi uang, Airbus A380 A6-EDB akhirnya dipensiunkan dini oleh Emirates. Pesawat A380 pertama Emirates yang mulai masuk tahun layanan pada 24 Oktober 2008 tersebut terakhir kali terbang pada 3 Februari, dari Bandara Internasional Muscat, Oman, ke Dubai sebelum akhirnya digrounded di hanggar Bandara Internasional World Central Dubai (DWC) pada 28 Februari. Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun Selain A6-EDB, Emirates dikabarkan juga akan mempensiunkan dua A380 lainnya, yakni A6-EDA dan A6-EDC yang saat ini juga tengah digrounded di DWC. Meskipun secara umur tiga pesawat tersebut sudah berusia lebih dari 10 tahun, namun, alasan Emirates mempensiunkan tiga A380-nya bukan karena mereka terlalu tua untuk terus bekerja, melainkan memang sudah menjadi bagian dari strategi maskapai. Hal ini juga sekaligus menepis sejumlah rumor yang mengabarkan salah satu maskapai terbesar di Timur Tengah itu mempensiunkan A380 akibat pandemi corona. “Kami mengurangi pesawat karena sewanya berakhir, atau saat pembiayaan sewa mereka berakhir jika pesawatnya adalah milik kami,” ujar Presiden Emirates Airlines, Tim Clark, seperti dikutip dari airlinegeeks.com. “Kami dalam proses memensiunkan A380, dua di antaranya sudah dinonaktifkan karena kami akan melakukan perombakan besar-besaran, dan langkah terbaiknya adalah mengurangi pesawat tua, lebih baik melepas rodanya ketimbang membeli main landing gear baru senilai $25 juta, saya butuh mungkin hanya dua atau tiga pesawat untuk memenuhi syarat (overhaul),” lanjutnya. Sebagaimana umum diketahui, Emirates merupakan operator Airbus A380 terbesar di dunia, maskapai ini memiliki 115 A380 plus tambahan delapan A380 yang masih dalam backlog Airbus. Namun, belakangan Emirates dikabarkan telah melakukan pembicaraan untuk membatalkan lima pesanan A380. Adapun tiga sisanya tetap akan dikirim meskipun telat, dari semula Maret 2020 menjadi tahun 2021 dengan bulan yang masih belum dapat dipastikan. Dari 114 A380, Emirates menargetkan hanya akan menyisakan sekitar 90-100 pada pertengahan tahun 2020. Selanjutnya, hal itu akan dilakukan terus-menerus secara bertahap hingga benar-benar tak menyisakan satupun pesawat A380 pada tahun 2035 mendatang. Sebagai gantinya, Clark telah memberikan sinyal bahwa maskapai yang dipimpinnya itu mungkin akan beralih ke Airbus A350 XWB dan Boeing 787 Dreamliner di masa mendatang, selain tetap mengandalkan 155 Boeing 777 dan 126 Boeing 777X yang masih menunggu pengiriman. Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua “Kami tahu A380 telah berakhir, 747 sudah berakhir, tetapi (Airbus) A350 (XWB) dan (Boeing) 787 (Dreamliner) akan selalu mendapat tempat. Mereka mungkin tidak segera dipesan (oleh maskapai saat ini) tetapi pada akhirnya, mereka (tetap) akan kembali dan mereka mungkin akan lebih cocok untuk permintaan global pada tahun-tahun mendatang setelah pandemi (Covid-19) berakhir,” jelas CEO yang telah memimpin Emirates sejak 2003 silam itu. Keputusan Emirates mempensiunkan tiga pesawat A380 tentu menjadi kabar buruk bagi pecinta layanan A380 yang ditawarkan Emirates. Namun, mereka bukan satu-satunya maskapai yang mengurangi jumlah keterlibatan A380 dalam bisnis mereka. Tercatat, maskapai-maskapai lainnya, seperti Air France, Qatar Airways, dan Singapore Airlines juga melakukan hal serupa.

Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Robot Ugo Hadir Saat Ancaman Corona Berlanjut

Robot Ugo yang dikembangkan oleh Mira Robotics digadang-gadang hadir untuk memperkuat tenaga kerja Jepang yang semakin sedikit, apalagi jika ancaman virus corona berlanjut. CEO Mira Robotics mengatakan, menawarkan mesinnya sebagai alat dalam perang melawan wabah. Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun “Virus corona telah menciptakan kebutuhan akan robot karena mereka dapat mengurangi kontak langsung antara manusia,” kata Ken Matsui CEO Mira Robotics yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (9/6/2020). Dia menambahkan pihaknya sudah mendapatkan pernyataan dari luar negeri termasuk dari Singapura dan Perancis. Ken menyebutkan fitur terbaru dari robot avatar yang dikendalikan dari jarak jauh atau yang disebut dengan remote control merupakan lampiran tangan yang menggunakan sinar ultraviolet untuk membunuh virus pada gagang pintu. Ken mengatakan, pandemi virus corona ini membuat penurunan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pandemi ini menyusutkan tenaga kerja Jepang lebih dari setengah juta orang per tahun serta keengganan untuk membawa tenaga kerja asing agar mengisi posisi kosong telah memacu perkembangan robot di Jepang. Dia menambahkan, adanya permintaan terkait virus corona dapat memajukan pekerjaan tersebut. Diketahui, Mira Robotics Ugo adalah sepasang lengan robot yang dapat disesuaikan tingginya dan terpasang pada roda. Robot ini dioperasikan dari jarak jauh melalui koneksi nirkabel dengan laptop dan pengontrol mainan. Pada robot ini sebuah laser pengukur jarak yang dipasang di pangkalan membantu navigasi sedangkan panel di bagian atas menampilkan mata untuk memberikan penampilan yang lebih ramah. Untuk mempelajari cara menggunakan robot ini, Ken mengatakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan setiap operator mengendalikan sebanyak empat mesin. Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa Robot ugo ini disewakan per bulan dengan harga $1000 dan dapat dijadikan sebagai penjaga keamanan, melakukan inspeksi peralatan dan membersihkan toilet serta area lain di gedung-gedung perkantoran. Saat ini diketahui, Mira Robotics memiliki satu robot ugo yang beroperasi di gedung perkantoran di Tokyo.

Xian MA60, Pesawat Cina Jiplakan Antonov An-24 yang Bikin Merpati Airlines Bangkrut

Musibah memang tak pernah ada yang mengetahui waktu dan tempatnya. Termasuk kecelakaan yang menimpa pesawat buatan Cina, Xian MA60 yang dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Kala itu, Sabtu, 7 Mei 2011, pesawat yang mengangkut 27 orang kru dan penumpang itu jatuh ke laut saat akan mendarat di Bandara Utarom, Kaimana, Papua Barat. Seluruh penumpang dinyatakan tewas. Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, diketahui, maskapai yang sudah stop operasi sejak 2014 itu memiliki 14 buah pesawat bermesin turboprop ini. Dari 14 unit tersebut, mayoritas pesawat beroperasi di wilayah Indonesia Timur. Sebelum Garuda Indonesia mendatangkan ATR, demikian juga dengan Lion Air yang mulai lahir pada medio 90an, Merpati Airlines bersama MA60 memang sempat merajai pasar rute satelit atau jarak pendek, khususnya di wilayah Timur. Akan tetapi, setelah Garuda Indonesia dan Lion Air mendatangkan ATR, kedigdayaan pun runtuh. Sebab, dari segi efisiensi, Xinzhou 60 (MA-60) masih kalah dibanding ATR. Selain itu, dari segi suplai chain, ATR juga lebih kuat serta memiliki harga jual yang lebih stabil di pasaran ketimbang MA60. Dengan fakta tersebut, Merpati Airlines pun mulai tertekan. Sebab, pembelian pesawat tersebut dinilai cenderung dipaksakan, dengan kajian yang rendah dan pada akhirnya justru malah mempersulit maskapai hingga bangkrut pada 2014. Terlepas dari sebutan airlines killer yang melekat di tubuh Xian MA60 dengan Merpati Airlines menjadi salah satu ‘korbannya’, MA60 sebetulnya punya spesifikasi yang oke. Dari catatan airlines-inform.com, pesawat dengan panjang 24.7 meter, bentang sayap 29.2, dan tinggi 8.8 meter ini terbang sampai ketinggian 7.600 meter dari permukaan laut dengan jangkauan terbang mencapai 1.600 km. Kemudian, pesawat yang mulai beroperasi pada tahun 2004 ini tercatat memiliki kemampuan maximum take-off weight (MTOW) seberat 21,8 ton dan kapasitas tangki bensin sebanyak 4 030 liter. Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines? Pesawat yang dijiplak dari Antonov-24 ini memiliki berat maksimal saat pesawat take off adalah 21,800 kg dan memiliki kecepatan maksimal 514 km per jam. Dengan kemampuan tersebut, tak ayal bila pesawat yang mulai pertama kali terbang pada tahun 2.000 ini mampu mengangkut hingga total 60 penumpang plus dua kru, lebih banyak belasan penumpang dibanding kompetitornya ATR 42-300. Mesin PW 127J juga berkontribusi atas hal ini. Padahal, dari segi harga, Xian MA60 dibanderol seharga USD11 juta per unit, jauh lebih murah dibanding ATR 42-300 yang dibanderol lebih dari itu. Sejak pertama kali beroperasi, hingga 2016, pesawat buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation di bawah China Aviation Industry Corporation I (AVIC I) ini sudah terjual hampir 200 unit. Sebarannya rata-rata berada di negara-negara berkembang, mulai dari Indonesia, Bolivia, Ekuador, Bolivia, Laos, Myanmar, Nepal, Filipina, Kongo, Sri Lanka, Zambia, hingga Zimbabwe. Dari sejumlah negara yang mengoperasikan itu, tercatat, empat di antaranya terlibat kecelakaan, tiga terjadi di Zimbabwe dan satu lainnya di Indonesia.

Bus Antar Jemput Ford E-Series ‘Disulap’ Jadi Rumah Mewah

Bus antar jemput (shuttle bus) yang biasa digunakan untuk membawa penumpang dari dan ke tempat-tempat seperti  acara olahraga, bandara atau berbagai tempat lainnya dapat berubah menjadi sebuah rumah mewah? Ini bisa saja terjadi, jika memang bus tak lagi digunakan sebagai bus antar jemput. Baca juga: Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan Ya seperti bus antar jemput Ford E-Series yang diubah menjadi rumah mewah. Bus ini bahkan menggunakan tenaga listrik dari satu set baterai EV. Namun Ford Ecoline khusus tersebut tak hanya memiliki hal itu sehingga di sebut mewah tetapi ada hal lain yang menakjubkan ketika mengintip bagian dalamnya.
Steph dan Sara pemilik bus yang diubah jadi rumah mewah (fordauthority.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari fordauthority.com (19/5/2020), bus seperti rumah mewah tersebut milik Steph dan Sara. Mereka mendapatkan ide mengubah bus Ford E-Series tersebut setelah menganggur dan tidak lagi bekerja. Karena memiliki kebebasan untuk pergi kemana pun mereka inginkan, Step dan Sara menyadari bahwa mengendarai sebuah kendaraan adalah hal yang harus di tempuh. Alih-alih membeli yang baru, mereka justru mengubah bus antar jemput Ford E-550 yang sebelumnya digunakan di bandara menjadi sebuah rumah impian bagi mereka. Tak sebentar untuk mengubah bus ini, keduanya membutuhkan waktu sebelas bulan untuk menyelesaikannya dan setelah melakukan tur keliling bus, sehingga mudah untuk mengetahui alasannya. Penasaran dengan perubahan yang Steph dan Sara lakukan? Dibagian dalam terdapat kamar mandi dan dapur yang lengkap hingga ada fitur unik seperti kompor pembakaran kayu. Daya untuk menghidupkan semua fasilitas ini dihasilkan oleh listrik dari panel surya di atap yang mengisi total enam baterai yang ditarik dari Nissan Leaf. Mungkin hal ini sudah biasa, namun yang menakjubkan adalah ada banyak kayu indah yang terlihat di dalam kabin bus tersebut termasuk kayu jati. Selain itu ada kayu reklamasi, perlengkapan tembaga dan aksen kulit sehingga menambah kesan nyaman di seluruh bagiannya. setelah semua bagian dalam selesai, Steph dan Sara telah melakukan perjalanan di seluruh Amerika Serikat di kemping Ford E-Series mereka. Baca juga: Nyeleneh, Orang-Orang ini Sulap Kendaraan Jadi Kolam Renang! Ketika berkeliling pun mereka mempromosikan Project Blue yang merupakan sebuah inisiatif kesehatan mental yang telah dibuat dua orang ini. Sayangnya tidak ada penjelasan berapa besar dana yang dikeluarkan Steph dan Sara untuk menyelesaikan bus mewah mereka dan bisa dikatakan ini tidaklah murah.

Polisi Manila Uji Coba Jarak Sosial di LRT

Beberapa negara yang sudah membuka lockdown atau melonggarkan sedikit pembatasan terhadap masyarakat akan mulai kembali mengoperasikan transportasi umum mereka secara penuh. Salah satunya adalah Filipina yang mulai melakukan langkah-langkah untuk menegakkan jarak sosial pada angkutan umum. Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan Hal ini dilakukan juga untuk mengendalikan penyebaran virus corona, apalagi di Manila kota dengan penduduk padat yang dikenal dengan kekacauan penumpangnya. Untuk itu sebanyak 500 polisi di Manila berperan sebagai penumpang kereta api dalam latihan mengelola ratusan ribu orang saat transportasi umum akhirnya dibuka kembali setelah hampir 11 minggu ditutup. KabarPenumpang.com melansir laman reuters.com (26/5/2020) para anggota polisi ini menggunakan celana jins, kaus putih dan masker atau pelindung wajah. Mereka berbaris menaiki tangga stasiun light rail transit (LRT) sebelum bergabung dengan antrian tertib ke dalam peron. Dengan jarak yang sudah ditentukan, mereka perlahan-lahan masuk ke gerbong kereta yang luas. “Dari pagi hingga larut malam selalu ada barisan penumpang yang menunggu untuk naik kereta. Kami melakukan simulasi ini untuk lebih mempersiapkan operasi LRT yang lebih lancar,” kata kepala kepolisian Metropolitan Manila Debold Sinas. Debold mengatakan, jika semua kembali normal, jutaan orang bergerak di dan sekitar Manila mendorong jaringan transportasi ke batas mereka. Diketahui, masyarakat biasanya menggunakan beberapa moda transportasi yang berbeda untuk mulai bekerja. Mereka akan bergabung dengan antrian panjang yang berliku-liku dan sebelum masuk dengan ketat ke dalam bus, jip penumpang dan kereta api. Juru bicara LRT Hernando Cabrera mengatakan jarak sosial berarti setiap kereta hanya akan mengangkut sepuluh persen dari jumlah penumpang maksimum, membuatnya sulit untuk mengelola aliran orang di stasiun. “Hanya 160 penumpang yang akan diizinkan. Ini adalah tantangan yang sangat besar bagi kami untuk mempertahankan dan mengendalikan kerumunan begitu operasi dimulai,” katanya. Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit Manila telah berada di bawah karantina masyarakat sejak 16 Maret di salah satu penguncian virus korona terpanjang di dunia. Itu dimodifikasi sepuluh hari yang lalu untuk meringankan beberapa pembatasan dan pemerintah akan bertemu pada hari Rabu untuk memutuskan apakah akan melonggarkan mereka lebih lanjut. Filipina telah melaporkan 14.669 kasus virus corona dan 886 kematian.

Hyundai Rotem Mulai Masuki Sektor Kereta Api Hidrogen

Beberapa tahun belakangan, rencana penggunaan hidrogen untuk menjadi bahan bakar kereta api terus dicanangkan. Hal tersebut kemudian diikuti oleh Hyundai Rotem yang baru-baru ini mengumumkan rencana untuk memasuki sektor infrastruktur hidrogen. Baca juga: Dirut PT KAI Jajal Kereta Hidrogen di Jerman dan Siap Bawa ke Indonesia Bahkan mereka juga akan memasok kereta api bertenaga hidrogen melalui pengembangan LRV (Light Rail Vehicle) bertenaga hidrogen yang saat ini tengah berlangsung. KabarPenumpang.com melansir laman railjournal.com (10/6/2020), pabrikan Korea itu membentuk tim Pengembangan Energi Hidrogen tahun lalu untuk memulai pengembangan divisi pasokan bahan bakar hidrogen. Hyundai Rotem mengatakan pihaknya menandatangani kontrak sub-lisensi dengan Hyundai Motor pada bulan Februari untuk mengamankan teknologi produksi hidrogen asli, yang bersama-sama dengan keahlian dari divisi internasional perusahaan. Teknologi yang diusulkan dapat mengekstraksi 640 kg hidrogen per hari dari gas alam. Perusahaan berharap dapat mengurangi biaya saat ini untuk metode ekstraksi di lokasi sebesar 15 persen dibandingkan dengan metode yang ada, dan berencana untuk membangun model standar untuk stasiun pengisian hidrogen akhir tahun ini. Hyundai Rotem juga akan mengembangkan dispenser dan perangkat pengisian hidrogen untuk kendaraan. Selain itu mereka juga berencana mengamankan teknologi tambahan yang diperlukan untuk mengembangkan stasiun pengisian kendaraan hidrogen untuk produksi dan penyimpanan hidrogen. Bisa dikatakan ini merupakan sebuah metode yang menurut perusahaan akan mengurangi biaya produksi dibandingkan dengan mengekstraksi bahan bakar sebagai produk sampingan dari produksi petrokimia. Sebuah proyek percontohan di Changwon untuk membangun stasiun pengisian mobilitas hidrogen mobilitas besar sedang berlangsung dan Hyundai Rotem mengatakan ini akan membuktikan dasar untuk stasiun pengisian bahan bakar masa depan untuk kendaraan kereta api. Hyundai Rotem juga mengungkapkan bahwa mereka telah mengembangkan kendaraan kereta api hidrogen-listrik dalam kemitraan dengan Hyundai Motor sejak 2019 dan berencana untuk memproduksi LRV uji pertama pada tahun 2021. Baca juga: Dubes RI untuk Jerman Jajal Langsung Kereta Bertenaga Hidrogen Kendaraan hidrogen-listrik akan menjadi modular dengan sel bahan bakar hidrogen, tangki hidrogen, dan sistem pendingin yang dipasang di atap kendaraan. Desain lantai rendah kendaraan akan mengoptimalkan ruang bagi penumpang sambil menawarkan kenyamanan tambahan untuk naik dan turun kendaraan. Hyundai Rotem mengatakan pasar kendaraan kereta hidrogen global saat ini bernilai sekitar Won 600 miliar (US$500 juta) dan mengharapkan permintaan meningkat ketika pasar tumbuh.