Menyimpan perahu di dermaga, tentu biasa. Namun, apa jadinya bila perahu disimpan di garasi rumah? Dahulu, butuh usaha lebih untuk mengangkut perahu dari lautan ke daratan, demikian pula sebaliknya. Tetapi, seiring perkebangan teknologi, hal itu mudah dilakukan.
Baca juga: Travelers Penyuka Diving Wajib Tau! U-Boat Worx Luncurkan Kapal Selam Paling Ringan
Di awal bulan ini, perusahaan desain dan pembuatan kapal atau perahu generasi baru, Iguana Yachts, meluncurkan Day Limo, perahu amfibi berkapasitas 12 orang yang handal di darat dan di lautan. Tak hanya itu, pabrikan juga mengklaim perahu amfibi buatannya bisa disimpan di superyachts dan beraktivitas dengan mudah berkat bantuan roda rantai di bagian bawahnya.
Selain itu, perahu amfibi ini juga diproduksi dengan berbagai pilihan mesin, mulai dari diesel, gas atau listrik antara 300 dan 600 horse power (hp). Detailnya, dari spesifikasi yang beredar, di atas daratan, Day Limo hanya sanggup menempuh sekitar 7 km per jam. Sebaliknya, ketika di lautan, perahu amfibi itu bisa melaju sampai 74 km per jam.
Dari segi interior dan eksterior, Day Limo juga cukup menawan. Warna putih kombinasi hitam ditambah kanopi di bagian tengah dan kaca partisi di bagian depan menjadi satu kesatuan utuh dalam membuat tampilan perahu amfibi tampak spesial. Belum lagi roda rantai di bagian bawah dengan ground clearance setinggi kurang lebih satu meter, makin menambah tegas tampilan luar kapal.
Menariknya, dalam laporan New Atlas, perahu amfibi itu memang hanya bisa menampung maksimal 12 orang. Namun bila dibutuhkan, Day Limo bisa menampung tambahan penumpang hingga lima orang. Hal itu dimungkinkan dengan fitur tata letak vis-a-vis sofa, dimana sofa bisa disesuaikan dengan tambahan lima orang tersebut sehingga mampu mengangkut totalnya sampai 17 orang.
Ground clearance Day Limo setinggi hampir satu meter. Foto: Iguana Yacht
Sebagai kendaraan yang kekuatan utamanya ada di laut atau perairan, Day Limo juga dilengkapi dengan fitur yang melindungi penumpang dari cipratan air dan terik panas dengan keberadaan retractable kanopi yang menjulang di tengah kapal. Bila dibutuhkan, kanopi tersebut dapat menjangkau seluas area kapal dan melindungi penumpang di overhead. Kemudian, di bagian samping, kaca partisi akan bertemu dengan kanopi, seperti sedang mengurung penumpang. Dengan begitu, mereka bisa terbebas dari panas terik dan cipratan air sambil tetap menikmati pemandangan dengan sekat kaca partisi.
Baca juga: Singapore Duck Tour, Wisata Amfibi dengan Rantis eks Perang Vietnam
Dalam keadaan sepi penumpang atau low capacity, mungkin berbagai barang bawaan bisa saja diletakkan sembarang di atas perahu. Namun, saat perahu disesaki penumpang, hal itu tentu tak mungkin dilakukan. Namun tenang, jika kondisi itu terjadi, Iguana Yacht yang sudah didirikan sejak 2008 ini sudah menyiapkan bagasi berkapasitas hingga enam koper di bagian depan. Untuk barang-barang kecil, seperti sepatu dan pakaian renang, penyimpanan di bawah sofa juga menyediakan ruang yang cukup luas.
Meskipun sudah dilaunching, Day Limo sampai saat ini belum dirilis harga resminya. Pihak galangan kapal hanya menyebut “price on request”. Meski demikian, beberapa pihak berspekulasi, bahwa Day Limo mungkin akan dibanderol dengan harga mulai €231.000 dan €598.000 atau sekitar Rp9,5 miliar (kurs 1 euro = Rp15.725).
Bandara Internasional Changi saat ini tengah bersiap untuk memulai layanan mereka secara bertahap setelah Singapura membuka kembali pembatasan karena pandemi Covid-19. Salah satunya Bandara Changi menghadirkan Transit Holding Areas (THA) baru di Terminal 1 dan 3.
Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top
Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (11/6/2020), kehadiran THA untuk memastikan kesehatan dan keselamatan penumpang dan staf Changi Airport Group (CAG). Sebab Singapore Airlines (SIA) mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima persetujuan untuk mulai mengoperasikan penerbangan transit.
Dalam situs webnya pada Kamis (11/6/2020), SIA mengatakan bahwa para pelancong akan bisa transit di Changi dari kota di Australia seperti Adelaide, Brisbane, Melbourne, Perth dan Sydney. Selain itu dari Selandia Baru yakni Auckland dan Christchurch.
Selain dari kota-kota yang disebutkan, penumpang SIA lainnya tidak bisa transit di Singapura. Tak hanya penumpang SIA tetapi SilkAir dan Scoot juga bisa transit di Changi dengan kota yang sama.
Selain itu penumpang harus memastikan bahwa mereka memenuhi persyaratan masuk untuk tujuan akhir mereka. Bahkan transfer penumpang ke dan dari penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai lain saat ini belum diizinkan.
“Sejalan dengan persyaratan peraturan, penumpang transit dan non-transit akan dipisahkan di Bandara Changi. Ini untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pelanggan dan staf kami,” kata operator.
CAG mengatakan, pada saat kedatangan, penumpang yang terbang melalui Changi akan dipandu ke terminal transit, yang akan dibuka hanya untuk penumpang transit dan staf bandara resmi. Pengecekan suhu juga akan dilakukan di pintu masuk dan area-area tersebut akan dibersihkan dengan desinfektan secara teratur.
Penumpang transit yang menunggu penerbangan penghubung mereka harus memakai masker wajah dan mengikuti marka atau tanda yang aman sementara staf bandara yang bekerja di area keamanan harus menggunakan masker wajah, pelindung wajah, dan sarung tangan. Penumpang juga akan mendapatkan fasilitas termasuk tempat duduk yang nyaman, area tunda, hiburan ringan dan area bermain.
“Mereka akan dapat membeli makanan ringan, camilan, dan minuman di tempat. Mereka juga dapat melakukan pembelian bebas pajak dengan bantuan layanan pramutamu belanja dan belanja mereka dikirimkan kepada mereka dengan aman,” ujar bandara.
Sebelum pengumuman, penumpang asing hanya diperbolehkan transit melalui Singapura hanya jika mereka berada di penerbangan repatriasi yang diatur oleh pemerintah mereka. Diketahui, lalu lintas udara merosot sejak semua pengunjung jangka pendek dari mana saja di dunia dilarang masuk atau transit melalui Singapura pada 23 Maret.
Menteri Transportasi Khaw Boon Wan mengatakan pada Mei kemarin, bahwa Bandara Changi sekarang hanya menangani sekitar 100 kedatangan dan 700 penumpang keberangkatan per hari. Area Induk Transit akan melalui pembersihan mendalam dan disinfeksi secara teratur.
Sebagai perbandingan, Bandara Changi menangani lebih dari 170 ribu penumpang per hari Mei lalu, sementara penerbangan harian turun dari 7.400 sebelum wabah virus menjadi hanya 80. Namun, ada tanda-tanda pemulihan karena negara-negara mulai melonggarkan kuncian dan sektor perjalanan udara memulai jalan menuju pemulihan.
Singapura juga melihat perjanjian jalur hijau dengan negara-negara tertentu, yang pertama diumumkan adalah jalur cepat antara Singapura dan Cina yang diumumkan pada 29 Mei. Jalur itu akan diluncurkan pada bulan Juni untuk perjalanan penting untuk tujuan bisnis dan resmi antara kedua negara, karena mereka muncul dari pandemi virus corona dengan langkah-langkah kontrol yang berlaku.
Ini pertama kali berlaku untuk Singapura dan enam provinsi atau kota langsung di bawah pemerintah pusat Cina – Shanghai, Tianjin, Chongqing, Guangdong, Jiangsu dan Zhejiang, kata Kementerian Luar Negeri Singapura. Pengaturan ini akan secara bertahap diperluas ke provinsi dan kota di Cina lainnya.
Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya
“Untuk jalur transfer melalui Bandara Changi, Otoritas Penerbangan Sipil Singapura telah mengundang maskapai penerbangan untuk mengajukan proposal mereka yang akan dievaluasi berdasarkan keselamatan penerbangan, pertimbangan kesehatan masyarakat, serta kesehatan penumpang dan awak pesawat,” kata CAG.
Masalah menjadi pendorong ampuh terciptanya sebuah inovasi, termasuk dalam menekan transmisi wabah corona di pesawat. Beberapa pekan lalu, perusahaan interior Italia sudah lebih dahulu memperkenalkan Glassafe, sebuah sekat partisi di antara tempat duduk. Seolah tak ingin ketinggalan, belum lama ini, perusahaan Inggris ikut mencoba peruntungan dalam bisnis tersebut.
Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan AviointeriorsCNN International melaporkan, perusahaan RAS Completions memperkenalkan The Personal Protection, sebuah airplane shield atau interior tambahan yang dipasang di antara tempat kursi di bagian atas. Partisi pelindung yang terbuat dari bahan polikarbonat transparan itu diklaim melindungi penumpang dari ancaman Covid-19.
Saat ini, produk tersebut tengah berjuang untuk mendapatkan sertifikasi oleh Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA). Bila sesuai rencana, beberapa pekan depan perusahaan menyebut produk anyarnya sudah bisa dipasang maskapai di pesawat untuk menyertai penerbangan mereka di masa New Normal.
Meskipun terlihat sederhana dan mampu melindungi penumpang dari paparan corona di pesawat, namun, beberapa pengamat sempat meragukan produk ini ketika situasi darurat terjadi. Menurutnya, mereka akan mengalami kesulitan untuk menyegerakan diri beranjak dari kursi dan keluar dari pesawat karenanya. Namun, keraguan tersebut dengan segera dibantah oleh perusahaan. Mereka mengklaim bahwa penumpang akan tetap mudah keluar masuk kursi sekalipun dalam situasi darurat.
“Kesederhanaan adalah yang terbaik. Kami mencoba menjadikan produk tersebut sebagai cara paling sederhana dan efektif untuk menjaga orang tetap aman,” kata Manajer Pengembangan Bisnis RAS Completions, Roger Patron.
“Produk kami sangat sederhana untuk dibuat, itu akan murah, itu akan membantu para klien. Semua ini bukan soal tampilan, meskipun kami jelas mengerti bahwa kami ingin orang merasa aman di dalam kabin,” tambahnya.
Patron melanjutkan, produk karya perusahaannya itu dinilai sangat cocok untuk penumpang pesawat di era New Normal ini. Pasalnya, mereka tidak pernah tau penumpang yang duduk bersebelahan dengannya bebas dari corona atau tidak. Oleh karenanya, dengan sekat partisi tambahan itu, selama tidak mengganggu kenyamanan, pemandangan, dan mobilitas keluar masuk kursi, maka tak ada salahnya untuk menyesuaikan penggunaan tersebut untuk sementara waktu.
Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona
Meski demikian, walaupun ia dan perusahaannya tahu bahwa penerbangan sulit untuk kembali ke masa sebelum wabah corona menyerang dalam waktu dekat, ia tetap menekankan bahwa The Personal Protection itu memang dibuat untuk jangka pendek.
“Kami melihat ini sebagai solusi jangka menengah, bukan jangka panjang. Alat ini telah melalui beberapa pengujian yang sangat ketat, jadi jika maskapai membutuhkannya selama enam bulan atau satu tahun maka alat ini memang diciptakan untuk itu,” pungkasnya.
Flag carrier Korea Selatan, Korean Air telah memberlakukan kebijakan cuti tanpa dibayar untuk para pramugari mulai 1 Juli mendatang. Cuti tanpa dibayar itu akan berlaku dengan durasi hingga enam sampai satu tahun ke depan.
Baca juga: Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!
Keputusan itu juga diteken perusahaan berbarengan dengan proposal kebijakan perpanjangan cuti tanpa dibayar hingga 17 Juni mendatang bagi para pramugari yang telah bekerja setidaknya selama dua tahun.
Dilansir pulsenews.co.kr, langkah maskapai terbesar di Korea Selatan ini merupakan pertama kalinya sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi virus corona yang telah membuat industri penerbangan di dunia anjlok.
Bayangkan saja, dari 110 rute internasional, maskapai yang bermarkas di Seoul ini hanya menerbangakan sebanyak 25 rute saja atau sekitar 20 persen dengan frekuensi penerbangan sebanyak 115 dalam seminggu. Itu baru dari segi frekuensi terbang. Dari segi penumpang dan pergerakan pesawat, Korean Air mengalami penerunan penumpang internasional sampai 96 persen dan 324 pesawat dari 374 tetap mangkrak di bandara.
Sejak April lalu, seluruh karyawan Korean Air telah dirumahkan dengan tetap mendapat bayaran. Belakangan, angka tersebut menurun menjadi hanya 70 persen atau sekitar 20 ribu karyawan untuk tetap cuti tanpa dibayar; termasuk pilot asing.
Korean Air telah mengkonfirmasi bahwa semua eksekutifnya akan melepaskan sebagian dari gaji mereka sebagai tanggapan terhadap ekosistem bisnis yang memburuk karena wabah Covid-19. Gaji wakil presiden eksekutif dan di atasnya akan dikurangi 50 persen, wakil presiden senior sebesar 40 persen, dan wakil presiden 30 persen. Hal ini telah mulai berlaku sejak April 2020.
Beruntung, dengan posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemasok perlengkapan medis di dunia (dalam menghadapi wabah virus corona), Korean Air jadi kebanjiran penerbangan hanya kargo untuk diekspor ke berbagai negara, selain juga impor bahan baku dari sejumlah negara.
Hari Kamis lalu, bahkan maskapai sampai harus memuat 252 kilogram per tiga kursi penumpang untuk memaksimalkan kapasitas di kabin utama yang ditinggal para penumpang. Dengan begitu, setidaknya maskapai masih mempunyai bekal untuk perputaran uang.
Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot
Akan tetapi, hal itu dinilai belum cukup. Oleh karenanya, maskapai yang berdiri sejak tahun 1962 ini sampai harus berencana menjual asset berupa tanah kosong di pusat Kota Seoul, semata untuk mendapatkan uang tunai.
Hanya saja, sepertinya rencana tersebut bakal mandek mengingat otoritas kota dikabarkan berubah pikiran dari semula mengizinkan tanah tersebut untuk dijadikan kawasan komersial menjadi taman kota. Padahal, bila berhasil laku, maskapai diperkirakan akan mampu meraup uang tunai dari hasil penjualan sampai $418,5 juta atau hampir Rp6 triliun (kurs 1 dollar = Rp14.489).
Belakangan, keyword pilot menjadi sensitif pasca gelombang PHK ikut menimpa mereka. Sebetulnya, dari segi hierarki atau struktur organisasi, pilot pun juga karyawan, sama seperti karyawan lainnya. Meski demikian, sudah menjadi rahasia umum bila pilot memiliki kehidupan yang lebih layak dibanding karyawan lainnya di industri penerbangan.
Baca juga: Rindu Terbang, Para Pilot Berharap Agar Orang-orang Kembali Beli Tiket Pesawat
Namun, ketika wabah corona menerjang, hampir seluruh pilot di dunia gigit jari. Dari semula hidup bak ‘dewa’ kini hidup sebatas ala kadarnya, tergantung manajemen keuangan mereka dari hasil yang sudah diraup sebelum pandemi berlangsung. Dari situ, pertanyaan simpel mungkin terlintas, mengapa pilot begitu tertekan ketika banyak pesawat di-grounded?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak mudah. Tetapi, tidak pula terlalu sulit sampai tak bisa mulai menjawabnya. Situs quora.com sebelum pandemi Covid-19 mendunia pernah memuat bahasan tentang pilot, khususnya perihal take home pay mereka yang notabene dibayar per jam.
Disebutkan, bagi pilot-pilot di Amerika Serikat, mereka pada umumnya dibayar per jam dan tidak mempunyai gaji pokok. ‘Argo’ gajinya mual berjalan saat pintu ditutup sampai pintu kembali dibuka. Selebihnya, ketika preflight, flight planning, atau saat masuk ke dalam pesawat, mereka tak mendapat bayaran alias di luar jam kerja (off the clock).
Walaupun begitu, pilot dinilai tetap beruntung dengan pundi-pundi uang yang didapatkannya per jam di setiap penerbangan. Besarannya tentu berbeda-beda di setiap negara atau bahkan di setiap maskapai di dunia, bergantung pada saat proses negosiasi dilakukan. Bagi pilot maskapai penerbangan kelas kakap, jangan tanya bayaran mereka per jam. Sebab, sudah dipastikan jauh lebih tinggi dibanding maskapai lain yang berada di bawahnya, baik dalam penerbangan internasional maupun penerbangan regional.
Bagi pilot-pilot regional, mereka mungkin tak mendapat bayaran per jam dengan harga selangit, sebagaimana pilot-pilot di maskapai kelas wahid di Amerika Serikat. Tetapi, mereka mempunyai gaji pokok atau yang biasa disebut guaranteed minimum (dikenal juga sebagai minimumguaranteed hour). Jadi, mereka hanya diminta untuk bersiap kapanpun (tentu bergantung kesepakatan) kapan kemungkinan waktu terbang. Bila pun tak terbang, mereka akan tetap mendapatkan gaji dengan hanya menonton televisi di rumah.
Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua
Akan tetapi, dengan dua kondisi berbeda itu, masih dalam diskusi di situs tersebut, beberapa pilot mengaku lebih memilih untuk terbang per jam di maskapai penerbangan kelas kakap,dibanding terbang bersama maskapai regional dengan bayaran lebih rendah namun mendapat kepastian gaji per bulan. Sebab, jika disandingkan di akhir bulan, pendapatannya cukup jauh berbeda.
Selain mendapatkan gaji dari biaya per jam di setiap penerbangan, dari mulai pintu pesawat ditutup sampai dibuka kembali, disebutkan, pilot umumnya juga mendapatkan bayaran di luar jam terbang dan gaji pokok, sebagaimana disebutkan di atas. Seperti ketika penerbangan extended trip, tarif untuk deadheading, kompensasi untuk re-route, dan berbagai biaya-biaya lainnya.
Setelah lockdown dibuka, Uber di India mulai meluncurkan fitur terbaru untuk memudahkan pelanggan dan pengemudi. Di mana aplikasi ride hailing ini meluncurkan penyewaan per jam untuk kebutuhan yang lebih banyak seperti penghentian dalam perjalanan.
Baca juga: She Taxi di India Kembali Beroperasi Setelah Diberhentikan Tahun 2018
Dilansir KabarPenumpang.com dari uber.com (8/6/20200, Uber mengatakan, mereka meluncurkan Hourly Rentals ini dengan mempertimbangkan berbagai kebutuhan perjalanan penumpangnya. Uber menyebutkan, ini merupakan layanan berdasarkan permintaan 24 jam untuk membantu transportasi yang tidak terbatas.
“Penyewaan dengan jam ini memberi nilai besar bagi mereka yang membutuhkan waktu ekstra untuk menyelesaikan beberapa tugas dalam satu perjalanan dan Anda dapat menambah beberapa perhentian tanpa memesan perjalanan berulang-ulang,” kata Uber.
Biaya layanan Hourly Rentals ini dibanderol sekitar Rs189 atau sekitar Rp35 ribu untuk paket satu jam atau per sepuluh kilometer. Pemesanan ini dapat dipesan oleh pengguna dengan maksimal waktu selama 12 jam.
Tak hanya di satu kota, Uber menghadirkan layanan Hourly Rentals di 17 kota di India seperti Delhi, Bangalore, Hyderabad, Kolkata, Chennai, Jaipur, Pune, Ahmedabad, Bhubaneswar, Coimbatore, Ludhiana, Chandigarh, Kochi, Lucknow, Guwahati, dan Kanpur, dan Bhopal. Bisa dikatakan ini menjadi solusi bagi penumpang maupun pengemudi yang saat ini bisa mengunci kerangka waktu di awal untuk layanan yang disediakan serta menambah penghasilan pengemudi dengan opsi mobilitas tambahan.
“Keselamatan selalu dan selalu menjadi perhatian utama kami dalam layanan ini. Selama beberapa minggu terakhir, kami telah meluncurkan serangkaian langkah-langkah keamanan yang komprehensif, seperti Go Online Checklist, kebijakan masker wajib untuk penumpang dan pengemudi, self-mask verifikasi self trip untuk pengemudi, pendidikan pengemudi wajib dan kebijakan pembatalan yang diperbarui memungkinkan pengendara dan pengemudi untuk membatalkan perjalanan jika mereka merasa tidak aman,” kata Uber.
Layanan baru telah diintegrasikan dengan aplikasi Uber Anda dengan mulus, dan pemesanan Penyewaan Per Jam atau Hourly Rentals semudah memesan perjalanan reguler. Pengguna hanya perlu memperbarui aplikasi Uber ke versi terbaru jika tidak dapat melihat Rentals Sewa Jam Setiap.
Baca juga: Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter
Cara untuk memesannya pun mudah, pengguna setelah masuk ke aplikasi bisa memilih Sewa Harian, kemudian pilih paket per jam yang diinginkan seperti menyewa selama satu jam atau 12 jam. Kemudian pilih konfirmasi penyewaan setiap jam untuk mendapatkan perjalanan dan Anda bisa menambah atau mengapus tujuan selama perjalanan sesuai rencana.
Kereta Api Serayu yang melayani relasi Stasiun Pasar Senen – Stasiun Purwokerto mulai kembali diberangkatkan pada Jumat (12/6/2020) dari Pasar Senen pukul 09.15 WIB. KA Serayu menjadi kereta jarak jauh yang kembali dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1 untuk melayani masyarakat yang ingin bepergian keluar kota.
Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya
“Perjalanan kembali KA reguler ini mengacu pada Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 No 7 Tahun 2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 dan Surat Edaran Ditjenka Kemenhub No 14 Tahun 2020 Tanggal 8 Juni 2020 tentang Pedoman dan Petunjuk Teknis Pengendalian Transportasi Perkeretaapian dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Mencegah Penyebaran Covid-19,” kata Kahumas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa dari siaran pers, Kamis (12/6/2020).
Eva mengatakan, pengoperasian kembali KA Reguler ini tentunya akan tetap diikuti dengan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 yang diterapkan pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Masa Adaptasi Kebiasaan Baru ditengah pandemi Covid-19 akan diterapkan diberbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pada layanan jasa transportasi.
Setelah kembali beroperasi, KabarPenumpang.com juga akan membahas sejarah KA Serayu ini. Dirangkum dari berbagai laman sumber, KA Serayu merupakan kereta api penumpang kelas ekonomi dari Pasar Senen – Purwokerto dan satu-satunya kereta api yang melintasi Kroya dan Kiaracondong.
Nama Serayu ini sendiri berasal dari nama salah satu sungai di Jawa tengah yakni Kali Serayu. Kereta ini pertama kali beroperasi pada 15 November 1985 dan awalnya bernama Galuh yang melayani relasi dari Banjar ke Sidareja.
Kemudian berubah nama menjadi KA Citrjaya yang melayani relasi Cilacap – Jakarta Raya. Tahun 1992, relasinya diperpendek dari Jakarta hanya sampai di Kroya dan berganti nama menjadi KA Cipuja yakni Cilacap-Purwakarta-Jakarta.
Baca juga: Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel
Namun akhirnya pada tahun 1997, KA ini berganti nama menjadi KA Serayu dan digunakan hingga saat ini. Relasinya pun pada tahun 2013, kereta ini diperpanjang sampai Stasiun Purwokerto.
Untuk diketahui, sebelum pandemi virus corona melumpuhkan berbagai moda transportasi salah satunya termasuk kereta api, KA Serayu ini beroperasi dua kali yakni KA Serayu Pagi yang berangkat dari Pasar Senen pukul 09.15 dan KA Serayu Malam yang berangkat pukul 21.25.
Meski mejalankan protokol Bangkit, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta juga tak melupakan protokol kesehatan yakni pengecekan tubuh penumpang sebelum masuk ke dalam stasiun. Saat ini hampir semua stasiun MRT Jakarta masih melakukan pengecekan suhu tubuh secara manual yakni menggunakan termometer tembak.
Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit
Nantinya jika penumpang memiliki suhu tubuh di atas 37,5 derajat maka mereka tidak diperbolehkan menumpang pada kereta MRT Jakarta. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan akan menghadirkan thermal scanner di pintu masuk stasiun.
Kehadiran thermal scanner ini dikatakan William untuk memudahkan pengecekan suhu tubuh penumpang yang lebih banyak.
“Dengan thermal scanner ini, kita tak lagi satu-satu mengecek suhu tubuh tapi sekali banyak jadi lebih mudah,” ujar William.
Namun, thermal scanner ini tidak di semua stasiun melainkan hanya di lima stasiun besar MRT Jakarta. William menjelaskan lima stasiun tersebut yakni Bundaran HI, Dukuh Atas, Blok M, Fatmawati dan Lebak Bulus.
Dikatakan William, karena penumpang di lima stasiun ini lebih banyak dibandingkan dengan stasiun lainnya. Dia menyebutkan pihaknya juga akan menghadirkan stasiun lainnya secara bertahap.
“Kita sudah uji coba thermal scanner ini dan sampai sekarang belum ada masalah dan semua terpantau suhu tubuhnya,” kata William.
Tak hanya thermal scanner, MRT Jakarta juga menghadirkan ruang isolasi dan evakuasi yang aman jika terjadi insiden dan ditemukan gejala pada penumpang. MRT Jakarta juga menghadirkan tim medis dengan kelengkapan khusus di ruang P3K yang mereka miliki di setiap stasiun.
Selain protokol-protokol ini, MRT Jakarta yang melakukan pembatasan penumpang dengan berbagai marka pun masih terus dilakukan. Kemudian William menjelaskan, bahwa mereka juga melakukan pembatasan kuota penumpang di setiap stasiunnya dan ini berbeda satu dengan lainnya.
“Jika satu kereta hanya bisa mengangkut 390 penumpang, kita punya kuota maksimum seperti Lebak Bulus sekitar 147 penumpang untuk menunggu di platform. Jika lebih maka harus menunggu di concourse dan mennggu kereta berikutnya,” jelasnya.
Baca juga: Hadapi Dampak Covid-19, MRT Jakarta Siapkan Empat Skenario, Dari Moderat Hingga Buruk
Menurutnya pembatasan ini karena tidak semua penumpang naik dari Lebak Bulus sehingga pembagian bisa terjadi dengan baik. Dia menyebutkan saat ini MRT Jakarta masih mampu mengelola antrean penumpang.
Bagaimana Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB transisi ke kehidupan baru atau new normal? Ternyata MRT Jakarta punya protokol baru yang disebut Bangkit dan merupakan singkatan dari Bersih, Aman, Nyaman, Go-Green, Kolaborasi, Inovasi serta Tata kelola.
Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan dalam menjalankan protokol ini tujuannya untuk menjadikan MRT sebagai sarana transportasi aman, nyaman dan bebas dari Covid-19 atau penyakit lainnya. Sehingga yang bersih tidak hanya seluruh penumpang tetapi para pekerja dan kereta pun harus bersih.
“Kita mau semua personal baik penumpang maupun pekerja higienis dan kebersihan menjadi spirit MRT Jakarta saat ini,” ujar William melalui zoom meeting Forum Jurnalis, Kamis (11/6/2020).
Dengan protokol Bangkit ini, William menambahkan, pihaknya bersama dengan Institute for Transportation and Development Policy atau ITDP melakukan integrasi dengan pejalan kaki atau pengguna sepeda. Selain protokol Bangkit, William mengatakan, di masa transisi sebelum new normal saat ini pun penumpang MRT Jakarta mengalami peningkatan meski masih ada pembatasan.
William menjelaskan, jumlah penumpang setelah 8 Juni 2020 ada sekitar 13 ribu penumpang per harinya dan bila perekonomian buka di pekan depan prediksi penumpang pun naik 16 ribu hingga 20 ribu per hari. William mengatakan, jika psbb transisi ini berhasil, maka semua kegiatan akan mulai kembali beroperasi dan akan ada prediksi penumpang per hari sekitar 60 ribu. Menurutnya untuk kembali ke angka 100 ribu per hari akan sulit sepanjang pembatasan penumpang berlaku.
“Kita tidak bisa mencapai 100 ribu, kereta MRT tidak akan menampung jumlah yang sama sebelum Covid-19,” kata William.
Tak hanya kebersihan, dalam protokol bangkit ini, seluruh penumpang dan petugas MRT Jakarta wajib menggunakan masker. Para penumpang juga harus berdiri di garis antrian yang sudah disediakan dan penumpang tak bisa menggunakan kartu Single Trip untuk sementara waktu.
“Kita siapkan jarak antrian tiap penumpang baik masuk ke gate maupun di peron. Jika ada penumpang yang tidak mematuhi, petugas akan memberitahu bahwa harus berada di jarak aman yang sudah dibuat,” jelas william.
Untuk memudahkan penumpang mengatur jarak sosial mereka, MRT Jakarta sudah membuatkan marka baik di stasiun maupun di dalam kereta sehingga ini bisa ditaati semua penumpang. William menambahkan, pihaknya juga menghimbau untuk semua penumpang tidak melakukan percakapan di dalam kereta baik telepon maupun langsung.
“Kita himbau penumpang tidak berbicara dalam kereta karena mereka hanya menggunakan masker kain sehingga percikan droplet ada kemungkinan masih bisa terkena penumpang lainnya. Untuk menghindari percakapan antar penumpang, maka ada jarak duduk antar penumpang dan yang berdiri akan menghadap ke arah tujuan kereta sehingga meminimalisir percakapan di dalam kereta,” jelasnya.
Dia menyebutkan, saat ini belum ada sanksi yang diterapkan bila ada penumpang yang berbicara satu dengan lainnya. William menambahkan, pihak MRT Jakarta sudah melakukan simulasi dengan marka-marka yang sudah ada baik di stasiun maupun di dalam kereta.
Untuk diketahui, saat ini MRT Jakarta sudah kembali mengoperasikan 14 rangkaian keretanya. Jam operasional pun berangsur normal dengan hari biasa atau weekday dari pukul 05.00 hingga 21.00 dengan headway lima menit di jam sibuk dan sepuluh menit di jam biasa. Sedangkan di hari libur atau weekend MRT Jakarta beroperasi pukul 06.00 sampai 20.00 dengan headway 20 menit.
Baca juga: Hadapi Dampak Covid-19, MRT Jakarta Siapkan Empat Skenario, Dari Moderat Hingga Buruk
“Karena weekend penumpang MRT Jakarta tidak penuh, maka kami buat headway lebih lama dibandingkan hari biasa. Mulai 8 Juni 2020, kebijakan kereta khusus wanita untuk sementara ditiadakan,” kata William.
Pesawat Hainan Airlines yang akan berangkat menuju ke Bandara Internasional Beijing harus kembali lagi ke Sanya di Provinsi Hainan 40 menit setelah keberangkatan. Hal ini karena kaca depan pesawat Boeing 737-800 tersebut pecah saat lepas pada Selasa (9/6/2020).
Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi
Peristiwa ini awalnya berangkat dari Sanya yang mulai lepas landas dan mencapai ketinggian 8000 kaki. Kemudian pilot melihat celah yang tiba-tiba meluas di kaca depan kokpit sebelah kanan yang membuat mereka memutukan return to base di ketinggian 8.100 kaki.
Pilot kemudian memutar kembali pesawat menuju ke Sanya tanpa cedera atau kerusakan yang lebih lanjut pada pesawat tersebut. Diketahui, kaca kokpit pesawat dibuat untuk menahan tekanan dan stres tingkat tinggi yang disebabkan oleh ratusan jam terbang.
Untuk membuat kaca depan ini aman, pabrik pesawat memasang dua lapisan kaca tebal sebagai pengaman jika ada lapisan yang lain retak. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (10/6/2020), kaca depan yang benar-benar hancur dapat mengakibatkan depressurisasi kabin yang cepat dan mengharuskan awak pesawat secepatnya mendarat untuk memastikan penumpang dapat terus bernapas.
Pakar keselamatan penerbangan Kapten John Cox mengatakan, bahwa retakan pada panel luar kaca depan ternyata dapat terjadi selama lepas landas dan biasanya disebabkan oleh masalah pemanasan. Retakan ini adalah seperti sarang laba-laba dan terus retak sehingga penting untuk mengurangi ketinggian serta secepatnya melakukan pendaratan.
“Kita harus menunggu penyelidikan resmi mengenai penyebab insiden tersebut. Tampaknya pilot memang bertindak sesuai dengan prosedur, dengan mendaratkan pesawat dengan aman. Ketinggian yang lebih rendah dari pesawat juga berarti risiko yang lebih rendah untuk pesawat,” ujar John.
Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara
Hainan Airlines sudah mengalami beberapa masalah dalam beberapa tahun belakangan, pemiliknya adalah Grup HNA yang juga pemilik Hong Kong Airlines. Maskapai penerbangan telah menghadapi kesulitan keuangan dalam dua tahun terakhir, memaksanya untuk mengurangi armada dan memotong layanan penerbangan.