Perusahaan dirgantara pelat merah asal Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) mulai goyang duopoli Boeing dan Airbus. Betapa tidak, dengan pesanan nyaris 1.000 pesawat, COMAC memang benar-benar akan menjadi penantang serius produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) dan Eropa itu.
Baca juga: Yang Menarik dari Air China – Terobsesi Gunakan Pesawat Produksi Dalam NegeriReuters melaporkan, belum lama ini, COMAC dan China Express Airlines atau biasa juga dikenal sebagai Huaxia Airlines meneken perjanjian pembelian total 100 pesawat penumpang ARJ21 dan C919. Tidak disebutkan dengan jelas berapa pembagiannya.
Bahkan, media propaganda Partai Komunis Cina (PKC), Global Times, menyebut COMAC hingga saat ini telah menerima pesanan 815 pesanan untuk C919 dari 28 maskapai domestik dan asing. Tak disebutkan apakah jumlah tersebut termasuk pesanan 100 pesawat oleh China Express Airlines atau berbeda. Bila berbeda, berarti pesanan COMAC sudah mencapai hampir 1.000 pesawat.
Wu Guanghui, wakil Kongres Rakyat Nasional (NPC) sekaligus kepala desainer pesawat mengungkap, saat ini, total enam pesawat C919 sudah memasuki fase uji terbang dan sertifikasi kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil Cina di tahun lalu. Hasilnya, proses uji coba yang dilakukan di Shanghai, Xi’an, Dongying, dan Nanchang berjalan dengan baik. Bila proses sertifikasi yang sempat tertunda beberapa tahun ini selesai, bukan tak mungkin, jumlah pesanan pesawat akan lebih meningkat dari sekedar 1.000 pesanan.
Menariknya, bukan hanya narrowbody, pangsa pasar widebody juga ingin disusupi COMAC. Wu mengungkapkan bahwa pesawat CR929 sekarang dalam tahap desain awal. Pesawat widebody jarak jauh itu dikembangkan bersama oleh COMAC dan United Aircraft Corporation milik Rusia. Pesawat tersebut diklaim akan memiliki jangkauan terbang sejauh 12.000 kilometer, dengan tiga lorong, dan 280 kursi.
Meskipun tak secara gamblang menyebut, langkah perusahaan dirgantara dalam negeri atau BUMN Cina ini memang dilakukan untuk bisa menyaingi dua produsen pesawat yang berkuasa di dunia Airbus dan Boeing.
Menyadari hal itu telah berada di depan mata, Menteri Keuangan Perancis, Le Maire belum lama ini mengatakan, salah satu alasan dikucurkannya dana senilai €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725) untuk melindungi persaingan produsen pesawat global ke arah duopoli antara Boeing dan Comac dari Cina. Padahal, di saat yang bersamaan, Cina justru memandang duopoli itu terjadi antara Airbus dan Boeing.
Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body
Berbeda dengan pesawat narrowbody Cina penantang Airbus dan Boeing, C919, yang masih harus melewati proses sertifikasi, pesawat lainnya yang lebih kecil, ARJ21, telah lebih dahulu mulai merusak pasar ATR, Embraer, atau bahkan Bombardier.
Menurut laporan Global Times, pada akhir Mei, COMAC juga telah mengirimkan 25 jet regional ARJ21-700 ke tiga maskapai di negara itu, yaitu dari Chengdu Airlines, Tianjiao Airlines, dan Jiangxi Airlines. Ketiga maskapai bahkan telah membuka 50 rute ke 50 kota dan menyelesaikan lebih dari 830.000 penerbangan penumpang. Selain itu, tiga maskapai penerbangan negara terbesar di Cina, Air China, China Eastern, dan China Southern, tahun ini sudah mengumumkan kesepakatan untuk setiap pembelian 35 jet ARJ21.
Beragam pembatasan pada transportasi publik mulai dikurangi di Singapura dan pada 2 Juni 2020 kemarin, layanan kereta dan bus reguler bersiap untuk mulai beroperasi secara penuh. Selain itu jam operasional serta interval kereta dan bus akan berjalan seperti sebelum kebijakan pembatasan.
Baca juga: Pastikan Social Distancing, Robot Anjing Tanpa Kepala Berkeliaran di Singapura
Dilansir KabarPenumpang.com dari todayonline.com (1/6/2020), otoritas Transportasi Darat Singapura atau LTA (Land Transport Authority) mengatakan, layanan yang akan beroperasi normal ini tidak termasuk yang melayani wilayah diskresioner atau rekreasi karena masih akan terus di tangguhkan untuk sementara waktu
“Ini termasuk layanan bus malam; Layanan Chinatown Direct; Layanan 926, yang pergi ke kebun binatang; Layanan 401, yang melayani East Coast Park; dan Layanan 188R dan 963R, yang melayani Resorts World Sentosa,” kata LTA.
Meski begitu tantangan akan tetap ada dalam memastikan jarak yang aman antara penumpang. Jika jumlahnya rendah, jarak sosial sejauh ini dapat dicapai antar penumpang. Namun Menteri Perhubungan Singapura, Khaw Boon Wan menuliskan dalam postingan Facebooknya, bila jumlah pengguna angkutan umum meningkat akan lebih sulit menegakkan langkah-langkah jarak sosial yang aman.
Tak hanya itu LTA Singapura juga mulai mencopot semua stiker penanda jarak sosial berwarna hijau dan oranye yang ditempel di atas kursi dalam kereta maupun bus. Selain itu penanda antrian naik di persimpangan bus dan penanda kursi di platform kereta juga akan bersihkan.
Pada masa pandemi ini, operator angkutan umum akan melanjutkan dengan rezim pembersihan yang ditingkatkan dan pelapisan anti-mikroba baru yang disinfeksi sendiri juga akan diterapkan pada titik-titik kontak tinggi pada bus dan kereta api seperti pegangan tangan, kancing, tiang pancang dan kursi. Langkah-langkah ini mirip dengan yang diambil untuk transportasi umum di kota-kota besar lainnya.
“Kami masih mendesak warga Singapura untuk bekerja dari rumah dan bagi mereka yang perlu meninggalkan rumah, untuk mengacaukan waktu mereka dan menghindari jam sibuk tradisional. Bahkan kemudian, akan ada saat-saat ketika jarak yang aman tidak akan mungkin,” kata Khaw.
Dia juga mendorong para penumpang untuk check in dan keluar dengan aplikasi SafeEntry di stasiun kereta api dan persimpangan bus, menghindari berbicara satu sama lain atau melalui telepon di transportasi umum, dan menjaga kebersihan pribadi yang baik seperti sering mencuci dan membersihkan tangan.
“Bekerjalah dengan Duta Transportasi dan pekerja angkutan umum kami agar kami dapat menjaga transportasi umum tetap aman untuk semua,” tambah Khaw.
Baca juga: Lagi-Lagi Proyek High-Speed Rail Malaysia dan Singapura Ditangguhkan
Selain bus dan kereta api, kode QR SafeEntry juga secara progresif diluncurkan ke semua taksi di Singapura, dan penumpang harus memindai kode sebelum naik. Penumpang yang memesan kendaraan mereka melalui aplikasi taksi atau platform naik-memanggil seperti Grab atau Gojek tidak perlu melakukan hal yang sama karena sudah ada data lain yang tersedia untuk membantu upaya pelacakan kontak jika diperlukan.
Untuk sementara ini, Garuda Indonesia akhirnya bisa bernapas lega. Kepastian itu didapat setelah maskapai pelat merah itu mendapat keringanan dalam kewajiban membayar utang yang semestinya telah jatuh tempo pada 3 Juni 2020 lalu.
Baca juga: Sambut New Normal, Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penumpang 70 Persen dan Lion Air Kembali Beroperasi
“Maskapai nasional Garuda Indonesia berhasil memperoleh persetujuan sukukholders atas Consent Solicitation perpanjangan masa pelunasan global sukuk limited senilai US$500 juta selama tiga tahun dari waktu jatuh tempo yang semula pada 3 Juni 2020,” bunyi keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com.
Dengan diperolehnya persetujuan atas Consent Solicitation perpanjangan masa pelunasan global sukuk ini, Garuda Indonesia mengaku optimis dalam mengawali langkah seribu menuju pemulihan kinerja finansial perusahaan akibat pandemi Covid-19 yang mengacaukan bisnis mereka.
Selain itu, keringanan atau relaksasi yang didapatkan perusahaan dengan kode saham GIAA ini juga sekaligus melengkapi pinjaman modal kerja oleh pemerintah senilai Rp8,5 triliun. Meskipun dana tersebut sempat digadang-gadang akan digunakan untuk membayar utang, Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dengan tegas menampik seolah hal itu tidak akan terjadi.
“Sinyal utama yang sudah disampaikan Kementerian Keuangan, tidak boleh diperuntukkan buat bayar sukuk. Dana talangan harus disesuaikan dengan instrumen yang dipersyaratan oleh pemerintah. Karena dana talangan tersebut merupakan dana pinjaman alias bantuan berbentuk loan sehingga penggunaannya mesti dirundingkan bersama antara perusahaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” katanya saat konferensi pers virtual, beberapa waktu lalu.
“Kami sedang menjajaki instrumen penggunaannya untuk apa saja. Secara implisit, instrumen itu mesti yang bisa diterima oleh Kementerian Keuangan,” lanjutnya.
Meskipun tak menjelaskan dengan rinci, dalam kesempatan itu, ia mengungkap pada intinya dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja dan efisiensi perusahaan. “Bagaimana itu kita memberikan mereka program rencana ke depan dari sisi penjualan dan pendapatan maupun efisien perusahaan,” kata pria eks Dirut PT Industri Telekomunikasi Indonesia atau PT INTI ini.
Hanya saja, karena dana yang dimaksud belum kunjung diterima karena satu dan lain hal, Irfan berharap dana talangan ini bisa segera cair, untuk memaksimalkan kinerja Garuda Indonesia ke depan. Selain itu, ia juga berharap pandemik virus corona bisa mereda.
Kemudian, karena proses pinjaman dari pemerintah untuk Garuda Indonesia masih berjalan dan masih dikaji berbagai instrumen mulai dari kesanggupan membayar utang hingga pengelolaan uang dari utang tersebut, Irfan masih cukup sadar angkanya bisa saja akan berubah. Boleh jadi lebih kecil atau sebaliknya.
Baca juga: Perancis Kucurkan Rp239 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Industri Penerbangan Batal PHK
“Yang sudah disepakati, tapi belum ditandatangani, baru ‘oh ini sepakat-sepakat, oke-oke’, udah tos. Kalau pinjam-meminjam gak bisa tos, perlu tanda tangan. Nanti kita lihat detailnya apa ada tambahan, selipan, apakah Rp8,5 triliun, atau Rp8,9 triliun, Rp10 triliun atau jadi Rp5 triliun, saya juga belum tahu. Tapi kelihatan akan bertahap, doakan saja bahwa ini bisa cepat,” ujarnya.
Padahal, jangan lupa, utang Garuda Indonesia bukan sekedar US$500 juta saja. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per September 2019, Garuda mencatat liabilitas jangka pendek sebesar US$2,87 miliar atau sekitar Rp40 triliun. Jumlah ini terdiri dari pinjaman jangka pendek sebesar US$837,73 juta, utang obligasi sebanyak US$498,44 juta, dan pos liabilitas lainnya.
Lockdown di India telah dibuka, dan sebagai antisipasi munculnya second wave serangan wabah Covid-19, berbagai teknologi untuk dipersiapkan untuk mencegah perluasan penyebaran virus tersebut. Seperti yang dilakukan South Central Railway (SCR) yang memasang kamera penyaring gambar thermal (panas suhu tubuh) di Stasiun Secunderabad dan Stasiun Hyderabad.
Baca juga: Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara
Kamera-kamera dengan penyaringan gambar thermal sejatinya sudah biasa diterapkan di bandara, namun masih jarang diterapkan di stasiun kereta api. Solusi kamera thermal ini terdiri dari perekam audio jaringan, monitor LED dan mekanisme alarm. Kehadiran teknologi ini membantu pekerjaan petugas yang mana tak lagi perlu memeriksa suhu tubuh masing-masing penumpang.
Stasiun India pindai suhu tubuh penumpang dengan kamera (thehansindia.com)
Sebab perangkat ini mampu menyaring panas atau suhu tubuh dari masing-masing penumpang. Bahkan secara simultan, sensor panas ini bisa mengecek suhu tubuh 30 penumpang dalam coverage pemindaian. Sehingga ketika penumpang mulai masuk ke daerah yang terjangkau kamera atau sekitar enam meter dari pintu masuk, kamera ini akan mulai mengecek suhu tubuh para penumpang.
KabarPenumpang.com melansir laman thehansindia.com (8/6/2020), kemudian hasil akan ditampilkan di layar monitor LED sebagai fokus gambar nyata bersama dengan 30 gambar termal penumpang lainnya yang berada dalam jangkauan. Suhu tubuh penumpang yang ditampilkan di monitor akan diikuti dengan pesan teks serta bunyi alarm peringatan bila suhu tubuh melebihi batas yang ditentukan.
Bahkan kamera yang dipasang di kedua stasiun ini mampu memindai dan merekam suhu penumpang yang berdiri di dua jalur berbeda secara bersamaan. Data yang didapat juga akan disimpan jika memang diperlukan. Diketahui saat ini satu kamera termal dipasang di gerbang Stasiun Secunderabad no.3 pada platform no.1 dekat area pemesanan umum dan kamera lainnya di pintu utama Stasiun Hyderabad.
Baca juga: Metro Beijing Hadirkan Kamera yang Mampu Identifikasi Penumpang Tanpa Masker
SCR juga rencananya akan menginstal dua kamera lain di Stasiun Secunderabad dalam minggu ini. Pemutaran penumpang dan pengoperasian peralatan penyaringan gambar termal peluru di pintu masuk stasiun sedang dilakukan oleh sayap keamanan dan kesehatan perkeretaapian.
Di era new normal, aktivitas kerja dan perkantoran sudah mulai dibuka secara bertahap. Pun dampaknya kepadatan kembali melanda pra saranan transpotasi, misalnya seperti stasiun kereta komuter. Nah, kepadatan calon penumpang, baik yang terjadi di dalam dan di luar stasiun, sudah barang tentu social distancing menjadi bermasalah, dan risiko penyebaran Covid-19 bakal meningkat.
Berangkat dari kasus di atas, National Rail, operator jaringan kereta di Inggris, menawarkan peringatan kepada penumpang jika stasiun atau kereta sibuk atau dalam keadaan penuh. Dalam hal ini segitiga peringatan akan muncul di aplikasi dan situs web National Rail untuk memberitahu pelanggan yang membeli tiket bahwa layanan kereta saat sibuk di jam tersebut.
Baca juga: BlueFilter, Teknologi Penyaring Virus dan Bakteri di Gerbong Kereta Api
National Rail mengatakan, pihaknya akan menggunakan tren perencanaan perjalanan dan pembaruan langsung dari staf kereta api untuk menjalankan sistem. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (5/6/2020), kepadatan telah menjadi masalah pada beberapa kereta selama pandemi virus corona ini.
Bahkan karena kepadatan ini, serikat transportasi RTM (The National Union of Rail, Maritime and Transport Workers) telah mengecam akan membagi dua layanan untuk melindungi staf dan penumpang. Diketahui sistem baru yang dihadirkan oleh National Rail ini dikembangkan oleh Zipabout start-up teknologi.
Melalui sistem ini, penumpang akan dapat mendaftar untuk peringatan di Facebook Messenger dan National Rail berharap untuk menawarkan pesan teks dan peringatan WhatsApp di masa depan. Selain itu, sistem ini juga akan menyarankan opsi perjalanan alternatif untuk membantu orang terhuyung-huyung dalam perjalanan mereka.
Adanya hal ini, pemerintah mengatakan, mereka menyambut pembaruan National Rail, tetapi menyarankan siapa pun yang dapat menghindari perjalanan kereta api harus terus melakukannya.
“Dengan kapasitas berkurang menjadi sekitar seperlima dari yang sebelumnya terlihat di jalur kereta api kami, penting bahwa orang-orang bekerja dari rumah jika mereka bisa, mengatur waktu perjalanan mereka untuk menghindari keramaian, dan menggunakan bentuk transportasi lain sedapat mungkin,” kata Sekretaris Transportasi Grant Schapps.
Memanfaatkan data dan teknologi baru akan sangat penting untuk memungkinkan jarak sosial sekarang, dan memodernisasi jaringan untuk masa depan. Menurut Office of Rail and Road (ORR), 51 juta lebih sedikit perjalanan dilakukan di kereta api Inggris dalam tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.
Layanan berkurang secara substansial ketika kuncian dimulai pada bulan Maret, meskipun sudah mulai meningkat lagi setelah Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan orang-orang yang tidak dapat bekerja dari rumah dapat pergi ke tempat kerja mereka. Pada hari Kamis (4/6/2020), pemerintah mengumumkan bahwa penumpang yang menggunakan angkutan umum di Inggris akan diharuskan memakai penutup wajah atau masker mulai 15 Juni.
Masker tersebut harus dikenakan di bus, trem, kereta api, gerbong, pesawat terbang dan ferry. Shcapps mengatakan, anak-anak dan orang yang memiliki kekurangan serta kesulitan bernafas akan merasa kesulitan bernapas akan dibebaskan.
Baca juga: East Japan Railway Hadirkan Aplikasi “Train’ing,” Mudahkan Penumpang Berolahraga Dalam Kereta
National Rail juga mengungkapkan waktu tersibuk di beberapa stasiun besar Inggris yakni Birmingham New Street 06.00 hingga 06.30, Bristol Temple Meads 08.30 hingga 09.00, Cardiff Central 8.30 hingga 9.00, Edinburgh Waverly 07.00 hingga 08.00, Glasgow Queen Street 07.00 hingga 08.30, Leeds 08.00 hingga 08.30, Liverpool Lime Street 08.00 hingga 08.30, London Victoria 07.00 hingga 07.30, London Waterloo 06.30 hingga 07.30 dan Manchester Piccadilly 07.00 hingga 7.30.
Sebuah hoverbike buatan perusahaan asal Rusia, Hoversurf, jatuh dari ketinggian setara tujuh lantai atau sekitar 30 meter di Dubai. Beruntung, sang pilot tak mengalami cedera serius, mengingat baling-baling berada cukup dengan dengan kaki. Namun, sebetulnya, kejadian tersebut sudah terjadi sejak 2017 lalu dan baru dirilis videonya (kecelakaan) oleh perusahaan.
Baca juga: Jadi Subjek Kampanye Indiegogo, Aero Hover-1 Rilis Dua Moda Andalannya
Dalam tayangan video yang diunggah di channel HOVERSURF OFFICIAL dari laman New Atlas, hoverbike yang diterbangkan di sebuah lapangan luas itu awalnya mengudara dengan mulus. Bahkan, sang pilot dengan setelan serba hitam (termasuk helm) sempat melambaikan tangan kanannya saat Hoversurf Scorpion tengah berada di udara.
Tak lama setelah itu, hoverbike yang sedang didemonstrasikan tersebut sebetulnya sempat berakselerasi sebelum sebelum akhirnya kehilangan ketinggian, kehilangan kendali, jatuh dan hancur. Sang pilot yang sempat terguling juga nyaris terkena bilah kipas baling-baling yang masih terus berputar sekalipun sudah jatuh ke daratan. Namun demikian, kalaupun terkena bagian kaki, tampak sang pilot sudah mempersiapkannya dengan memakai pengaman di kakinya, di bagian lutut ke bawah.
https://www.youtube.com/watch?time_continue=52&v=sBiYM8gqQ3Y&feature=emb_logo
Dari deskripsi di kanal resminya, perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat ini beralasan bahwa kecelakaan dalam demonstrasi pasca penandatanganan perjanjian pembelian antara perusahaan dan pemerintah Dubai itu disebabkan oleh disfungsi barometer. Tak dijelaskan lebih detail maskud fungsi barometer di Hoversurf Scorpion.
Namun, dari beberapa literatur, barometer pada hoverbike setara dengan fungsi keseimbangan atau mempertahankan ketinggian saat di udara. Bila dihubungkan dengan video detik-detik hoverbike jatuh di Dubai dari ketinggian 100 meter memang ada benarnya. Sebelum jatuh, tampak hoverbike kehilangan ketinggian dan lepas kendali hingga berujung jatuh.
Selain itu, fitur keamanan yang diklaim perusahaan berfungsi dengan baik saat terjadinya kecelakaan dan berhasil membuat pilot selamat tanpa cedera juga diragukan beberapa pihak. Sebagaimana fungsi barometer, fitur kemanan yang dimaksud Hoversurf juga tak dijelaskan lebih lanjut.
Pasca kejadian itu, hoverbike atau motor terbang yang kelak digunakan kepolisian Dubai mulai tahun 2020 itu diisukan batal dilaksanakan karena alasan keamanan. Namun, hingga kini belum ada kejelasan apapun terkait kelanjutan penggunaan sepeda motor bersumber tenaga listrik atau disebut electric vertical take-off and landing (eVTOL) tersebut.
Akan tetapi, terlepas dari kelanjutan kontrak Hoversurf dengan Dubai, kecelakaan tersebut setidaknya telah membuat miliaran rupiah terbuang sia-sia. Maklum, hooverbike tersebut dibanderol seharga US$150.000 atau setara Rp 2,2 miliaran.
Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing
Sebagai kendaraan yang kelak akan membantu tugas kepolisian Dubai, tentu saja spesifikasinya harus mumpuni. Paling tidak, dari segi ketinggian dan durasi terbang dalam sekali cas. Agar lebih jelas, berikut spesifikasinya.
Hoversurf Scorpion Hoverbike
Berat: 104 kg
Kecepatan maksimum: 69 km/jam
Ketinggian aman terbang: 4,8 meter
Waktu terbang dengan pilot: 10-25 menit
Waktu terbang dengan menggunakan drone: sampai 40 menit
Waktu pengecasan: 2.5 jam
Harga: $150.000 atau setara Rp 2,2 miliar.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) gelombang kedua kembali dilakukan Emirates pada hari Selasa (9/6/2020). Mereka melakukan perubahan pada tenaga kerjanya untuk mengurangi biaya dalam menanggapi kesulitan ekonomi karena pandemi Covid-19.
Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak
Meski begitu, pada PHK gelombang kedua ini, Emirates tidak menyebutkan secara rinci berapa banyak yang akan diberhentikan. Namun sumber yang tidak disebutkan mengatakan ada 400 pilot Airbus A380 dan A200, Boeing 777, serta 6.500 awak kabin dan beberapa teknisi telah diberhentikan.
KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (9/6/2020), maskapai ini juga telah memperpanjang pemotongan pembayaran 50 persen hingga September untuk menghemat keuangan karena mayoritas armada A380 dan Boeing 777 milik Emirates tetap beroperasi.
“Mengingat dampak signifikan pandemi terhadap bisnis kami, maka kami tidak dapat mempertahankan sumber daya berlebih dan harus mengukur jumlah tenaga kerja kami sesuai dengan pengurangan operasional. Setelah meninjau semua skenario dan opsi, kami sangat menyesal bahwa kami harus membiarkan beberapa orang kami pergi,” kata juru bicara Emirates.
Diketahui, pada Selasa (9/6/2020), ratusan pilot dan awak kabin Emirates telah dipanggil ke sebuah perguruan tinggi pelatihan in-house di kota untuk pertemuan individu. Selama pertemuan tatap muka satu-satu tersebut banyak dari mereka yang hadir mengatakan diberitahu akan menjadi mubazir karena maskapai memulai gelombang kedua PHK massal.
PHK gelombang kedua ini menargetkan karyawan dengan kasus-kasus disiplin aktif dan juga mereka yang telah menderita penyakit jangka panjang menurut sumber yang memahami masalah tersebut. Karyawan yang dipilih untuk pemberhentian, mereka menerima email sebelum tengah malam di hari Senin yang berisi undangan rapat.
Salah satu awak kabin yang di PHK mengatakan petugas keamanan ditempatkan di sekitar kampus pelatihan ketika para manajer memproses jajaran karyawan yang menghadiri pertemuan mereka. Para karyawan kemudian dikawal keluar dari pintu belakang tanpa terlihat orang lain di akhir pertemuan.
Bulan lalu, Emirates awalnya membantah laporan bahwa mereka telah membuat keputusan untuk memberhentikan hingga sepertiga dari tenaga kerjanya tetapi kemudian mengkonfirmasi bahwa kehilangan pekerjaan akan terjadi di seluruh bisnis. Maskapai menolak untuk mengatakan berapa banyak karyawan yang akan menjadi mubazir.
Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun
“Kami telah berupaya untuk mempertahankan keluarga saat ini sebagaimana adanya, kami meninjau semua skenario yang mungkin untuk mempertahankan operasi bisnis kami, tetapi sampai pada kesimpulan bahwa kami, sayangnya, harus mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang luar biasa yang bekerja dengan kami,” kata juru bicara Emirates pada 31 Mei.
Perancis dikabarkan telah merampungkan paket penyelamatan industri penerbangan senilai €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725). Paket bantuan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan ratusan ribu karyawan di industri tersebut dari ancaman PHK, khususnya di dua perusahaan besar di negara itu, yakni Airbus dan Air France.
Baca juga: Aneh, Meski ‘Berdarah-darah’, Airbus Tak Butuh Bantuan Pemerintah Perancis
“Pemerintah akan melakukan segalanya untuk mendukung industri Perancis ini (industri penerbangan) yang sangat penting bagi kedaulatan, lapangan pekerjaan, dan ekonomi kita,” kata Menteri keuangan, Bruno Le Maire, seperti dilaporkan The Guardian.
“Kami menyatakan keadaan darurat untuk menyelamatkan industri penerbangan sehingga bisa lebih kompetitif,” tambahnya.
Selain itu, Le Maire juga menekankan, dikucurkannya dana sebesar itu juga dimaksudkan untuk melindungi persaingan produsen pesawat global ke arah duopoli antara Boeing dan Comac dari Cina, sekalipun hal itu dinilai oleh beberapa pengamat jauh dari kenyataan.
Dari total €15 miliar, disebutkan €7miliar di antaranya akan disalurkan ke Air France, yang notabene sangat terpukul akibat anjloknya industri penerbangan global. Betapa tidak, seluruh armada maskapai yang telah didirikan sejak tahun 1933 dikabarkan nyaris seluruhnya digrounded dalam beberapa bulan terakhir. Dana tersebut diproyeksikan oleh perusahaan yang merugi 1,8 miliar euro pada kuartal I 2020 untuk membeli 60 pesawat Airbus A220 dan 38 jet A350. Dengan begitu, Airbus secara tak langsung akan terkena dampak positif dari paket bantuan ini, sekalipun mereka tak benar-benar menerimanya.
Tak hanya itu, dana 1,5 miliar euro dari total 15 miliar euro yang akan dikucurkan bakal dipergunakan untuk penelitian mengenai pesawat netral karbon selama tiga tahun ke depan. Pesawat netral karbon itu direncanakan bisa beroperasi pada 2035 mendatang. Dalam hal ini, Pemerintah Prancis, Airbus, dan perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, dan Safran juga akan berkontribusi dengan memberikan dana masing-masing sebesar 200 juta euro.
Baca juga: Sambut The New Normal, Airbus Kembali ‘Putar Otak’ Demi Bertahan Hidup
Sebelumnya, pada akhir Mei lalu, pemerintah Perancis mengucurkan delapan miliar euro atau setara Rp125,7 triliun untuk menyelamatkan industri otomotif. Paket stimulus itu diluncurkan guna menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri dan pengembangan pasar mobil listrik.
Di tempat terpisah, pada Selasa lalu, asosiasi penerbangan global, IATA, dalam rilisnya menyebut bahwa dana talangan yang dikucurkan oleh pemerintah, bank, lessor, financier di seluruh dunia setidaknya telah berkontribusi pada utang maskapai yang terkoreksi naik $120 miliar atau Rp1,6 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847) selama pandemi menjadi total $550 miliar atau Rp7,766 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847). IATA juga memperingatkan bahwa maskapai penerbangan global menuju kerugian kolektif $84,3 miliar atau Rp1,172 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847) pada tahun 2020, terbesar dalam sejarah di industri penerbangan global.
Pembagian zona seperti zona hijau, zona kuning, zona merah dan zona hitam ada setelah banyaknya warga indonesia yang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Bahkan sebagian besar wilayah Indonesia masih masuk dalam zona merah.
Baca juga: Pengguna GoJek Kini Bisa Cek Suhu Tubuh Pengemudi Lewat Aplikasi
Nah sebenarnya apa sih arti dari pembagian zona ini? Zona hijau artinya wilayah atau daerah tersebut sudah tidak ada yang terinfeksi Covid-19, sehingga aktivitas berjalan seperti biasanya. Zona kuning berarti masih ada beberapa kasus penularan dan dilakukan pembatasan sosial secara parsia.
Zona merah artinya masih ada kasus Covid-19 pada satu atau lebih klaster dengan peningkatan kasus yang tinggi. Dalam kasus ini diperlukan protokol kesehatan yang serius seperti menutup sekolah, tempat ibadah dan bisnis.
Sedangkan zona hitam mengartikan suatu daerah sudah parah dan sangat darurat. Tapi, saat ini, KabarPenumpang.com akan membahas zona merah dan dampaknya pada layanan transportasi online.
Sebanyak 66 rukun warga atau RW di seluruh ibukota Jakarta masih masuk dalam kategori zona merah Covid-19. Pada 66 RW ini ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat Covid-19 karena jumlah orang positif Covid-19 masih sangat tinggi.
Meski pembatasan sosial berskala besar atau PSBB sudah dalam masa tahap transisi, ternyata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengeluarkan Surat Keputusan No.105/2020 tentang Pengendalian Sektor Transportasi Untuk Pencegahan Covid-19 pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat, Aman, dan Produktif, disebutkan pada poin ketiga bahwa ojol tidak diizinkan beroperasi pada wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat berskala besar. Kemudian di poin keempat, Dishub menegaskan dan meminta pihak aplikator untuk membatasi peta operasional baik untuk GoJek maupun Grab agar tidak beroperasi di wilayah yang memiliki risiko penyebaran tinggi Covid-19.
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi
Bisa dikatakan dengan adanya pembatasan di 66 RW tersebut bisa saja membuat pendapatan mitra pengemudi ojek online berkurang. KabarPenumpang.com mencoba menghubungi salah satu aplikator yakni GoJek dan sampai berita ini diangkat belum ada konfirmasi apakah pihak para mitra pengemudi terkena dampak serius atau tidak.
Prosedur The New Normal mulai dijalankan oleh berbagai maskapai di seluruh dunia. Selain menggunakan masker, face shield, dan alat pelindung diri (APD), maskapai pada umumnya juga mengklaim penerbangan aman salah satunya juga berkat fitur HEPA pada pesawat.
Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya
HEPA atau High Efficiency Particulate Arresting sendiri merupakan filter khusus yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 0,2,5-0,3 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. HEPA juga diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis yang terkandung di udara.
Cara kerja HEPA tak terlalu rumit. Agar lebih mudah, bayangkan saja sebuah saringan udara yang biasanya terdapat di berbagai tempat, mulai dari kendaraan bermotor hingga ventilasi. Hanya saja, filter tersebut berukuran jauh lebih kecil mencapai 0,2,5-0,3 mikrometer. Udara masuk melewati filter tersebut. Bila ukuran terlalu besar, maka partikel akan tertahan di filter. Begitu pula sebaliknya.
Adapun di pesawat, HEPA tak bekerja sendirian. Dilihat KabarPenumpang.com dari Instagram resmi Airbus, udara bersih dari luar pesawat mula-mula udara bersih masuk ke air conditioning pack, kemudian melewati mixing unit dan disalurkan ke HEPA. Dari situ, kemudian udara di suplai ke ruangan dengan model penyebaran membentuk ‘O’ dan berakhir di bawah kursi penumapang. Udara tersebut kemudian per 2-3 menit sebagiannya kembali ke jalur semula, melewati filter HEPA dan sebagian lainnya dibuang keluar.
Sayangnya, karena memiliki batasan, HEPA pada akhirnya tetap saja tak bisa dijadikan ‘barang dagangan’ oleh maskapai, demi membuat industri penerbangan kembali seperti sediakala. Singkatnya, bila terdapat patogen di bawah 2,5-3 mikrometer, sudah pasti HEPA tak mampu menahannya.
Dikutip dari molekule.science, HEPA diakui memang ampuh untuk menyaring berbagai partikel agak besar seperti tungau debu, bulu hewan, dan serbuk sari (pollen). Namun, tidak untuk partikel di bawah itu, semisal jamur, Volatile Organic Compounds (VOCs) sejenis bahan kimia yang terbawa melalui udara (biasanya terdapat di produk kosmetik), virus, bakteri, dan berbagai partikel lainnya di bawah 2,5-3 mikrometer.
Dengan data tersebut, tak heran bila Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) sejak 2017 lalu sudah mengatur sekaligus mematahkan klaim bahwa produk-produk berbasis filter HEPA dapat membebaskan objek atau lingkungan dari virus atau patogen tak kasat mata.
Parahnya lagi, berbagai bakteri tertentu yang tersangkut di filter HEPA, justru disebut tidak mati dan malah berkembang biak dengan suplai patogen lainnya yang juga tersangkut di filter tersebut. Dengan asupan ‘gizi’ itu, sejumlah bakteri tertentu kemudian akan semakin kuat atau membesar dan bila tak dibersihkan akan kembali terlepas di udara dan terhirup manusia.
Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak
Bagi bakteri tertentu, sebelum mati tersangkut di filter HEPA, mereka sebetulnya mempunyai ‘senjata’ untuk mempertahankan diri dan akan dikeluarkan secara alamiah saat sedang ‘sekarat’ berupa endotoksin ke dalam aliran udara. Studi telah menunjukkan bahwa endotoksin menyebabkan respons inflamasi (peradangan) dan atopik (peradangan kulit) pada sampel uji non-asma dan asma. Jika sudah demikian, tentu sangat kelilru dan menyesatkan bila maskapai mengklaim udara di dalam pesawat terbebas dari berbagai partikel; dalam hal ini virus corona atau Covid-19.
Sebagai informasi, HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.