Setelah Tiga Dekade Dirahasiakan, Interior “Japanese Air Force One” Diperlihatkan ke Publik

Setelah lebih dari tiga dekade dirahasiakan, interior Japanese Air Force One atau pesawat kenegaraan Jepang akhirnya dipamerkan ke publik mulai tanggal 5 Juni lalu waktu setempat. Rencananya, Boeing BA 747-400 yang sudah berpindah tangan ke swasta itu akan terus dipamerkan hingga beberapa hari ke depan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan selama di area pameran. Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle Dalam pameran tersebut, pengunjung akan disuguhkan dengan ruang VIP pesawat, dimana perdana menteri dan keluarga kekaisaran Jepang banyak menghabiskan waktu di area tersebut selama dalam penerbangan. Ruangan tersebut terletak di bagian hidung pesawat, tepat di bawah kokpit yang berada di lantai atas. Sebagai pesawat kenegaraan, sudah barang tentu pesawat disulap sedemikian rupa untuk mendukung tugas-tugas pemimpin negara. Tak heran bila pesawat yang sudah dioperasikan oleh Jepang sejak tahun 1993 hingga 2019 dilengkapi dengan berbagai fitur, mulai dari meeting room, tempat tidur, sofa panjang, televisi, meja meeting panjang, telepon satelit, hingga kursi premium. Semua fitur-fitur tersebut hanya dapat ditemukan di ruang VIP.
Sayangnya, pengunjung pameran yang digelar di Ishikawa Aviation Plaza, museum dirgantara kebanggaan masyarakat Jepang yang terletak di kota Komatsu, Prefektur Ishikawa ini tidak diperkenankan masuk, melainkan hanya melihat dari luar saja. Panitia penyelenggara telah menyiapkan sebuah dinding kaca besar transparan untuk memfasilitasi pengunjung melihat-lihat sekaligus membatasinya. Jadi, pameran di museum tersebut hanya menyuguhkan ruang VIP saja dari sekian banyak area di pesawat dalam bentuk utuh. Adapun bagian lainnya dipamerkan di Air Park, Hamamatsu, tak jauh dari Tokyo dan Osaka. Atas dasar keselamatan dan keamanan VIP, pesawat kenegaraan yang telah mengantarkan perdana menteri Jepang dan keluarga kekaisaran ke seluruh dunia itu interiornya memang tak pernah diketahui publik; termasuk pada saat pendekorasian ulang, dari standar pabrik ke standar pesawat kenegaraan Jepang. Di beberapa negara, bahkan, lebih ketat lagi. Jangankan interiornya, kapan pesawat tersebut mengudara bahkan tak pernah boleh diketahui publik. Diberitakan Forbes, dari tiga dekade yang dilalui, Japan’s Air Force One tercatat pernah mengalami periode tersibuk pada tahun 2005 dengan 21 misi yang mencakup kunjungan kenegaraan, tugas keluarga Kekaisaran, dan penerbangan untuk mendukung bantuan kemanusiaan pasca gempa bumi Kashmir di Pakistan. Namun, secara keseluruhan, Boeing BA 747 yang tugasnya sudah digantikan oleh Boeing 747-8 ini telah terbang ke lebih dari 250 kota di 100 negara di dunia. Baca juga: Tak Sadar Injak Tisu Saat Naiki Air Force One, Video Donald Trump Menjadi Viral Walaupun tak secara gamblang mengakui, keputusan Jepang untuk mempertahankan interior pesawat kenegaraan dinilai menyadur sekutunya, Amerika Serikat, dimana seluruh pesawat legendaris yang banyak berjasa untuk negeri, termasuk pesawat kenegaraan atau US Air Force One, diabadikan di berbagai museum di seluruh penjuru negeri. Namun, Jepang tidak serta melakukan hal itu. Sebelumnya, pesawat kenegaraan terlebih dahulu dijual dengan harga fantastis sebesar Rp398,8 M atau sebesar USD 28 juta mulai tahun lalu. Dari dua pesawat itu, satu di antaranya dikabarkan sudah laku dan tengah dikonversi menjadi pesawat kargo. Nah, satu pesawat lainnya itulah yang sampai saat ini belum laku dijual dan tengah dipertimbangkan untuk diabadikan di museum.

Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020

Praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, menyebut maskapai-maskapai dalam negeri sudah mulai ‘macet’ membayar tagihan leasing pesawat sejak Maret lalu. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang sudah sejak sebelum Maret menunda kewajiban pebayaran pesawat. Itu berarti, beberapa maskapai dalam negeri sudah ‘susah’ sejak sebelum adanya kasus corona pertama di Indonesia (pada awal Maret). Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor “Bervariasi ya (penundaan pembayaran), ada yang Maret, ada yang dari lebih awal lagi bahkan,” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa, (9/6). Tanpa menyebutkan lebih rinci maskapai mana saja yang mengalami keterlambatan pembayaran ke leasing, partner dari firma hukum Dentons HPRP itu menjelaskan, saat ini posisi lessor dalam menanggapi keterlambatan pembayaran tersebut dengan kooperatif. Pada umumnya, lessor yang diwakilkan olehnya untuk meminta kewajiban pembayaran dari maskapai-maskapai dalam negeri cenderung dingin, dalam artian, masih memberikan keluasan waktu kepada mereka untuk menunda pembayaran. Hanya saja, dalam jangka waktu tertentu, bukan tak mungkin lessor atau kreditur akan bertindak lebih ‘keras’ lagi untuk memaksa maskapai-maskapai menunaikan kewajiban pembayaran. Hal itu dikarenakan, kemampuan keuangan lessor berbeda-beda. Sudah begitu, tak semua lessor adalah pemilik pesawat langsung yang disewa oleh maskapai. Boleh jadi, lessor tersebut juga berhutang kepada financier untuk memberikan modal membeli pesawat yang pada akhirnya disewakan kembali ke maskapai. “Lessor ini bukan hanya lessor sebagai pemilik pesawat, bisa juga mereka sebetulnya finance dari pesawat tersebut. Jadi, semua ya memang ada batas waktunya. Batas waktunya ini memang sebelum mereka melakukan tindakan-tindakan yang lebih keras, seperti direpossesion lagi pesawatnya, saat ini belum mencapai ke sana,” ujarnya. Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun Bagi lessor-lessor kecil seperti di atas, yang mungkin hanya menyewakan pesawat dalam jumlah kecil, mereka bisa dibilang juga akan kesulitan ketika terjadi kredit macet akibat dari kegagalan maskapai menunaikan kewajiban utang. Namun, lain halnya dengan lessor besar semacam SMBC Aviation Capital. Salah satu lessor Garuda Indonesia itu dalam pengamatannya bisa bertahan sampai sekitar sembilan bulan dan tidak kesulitan jika debitur menunda membayar utang. Hal itu sangat dimungkinkan dengan capital reserves sekitar US$6,1 miliar atau Rp85 triliun lebih (kurs 1 dollar = Rp13.853). Dalam perspektif ekosistem bisnis industri penerbangan, lessor juga disebutnya aman. Hanya saja itu berlaku dari segi pesawat baru, mengingat mereka bukanlah produsen dan bukan juga pengguna pesawat, sebagaimana airlines. Bila dilihat dari pesawat-pesawat yang sudah disewakan, tetap saja lessor dibilang sebagai salah satu yang terdampak, selain airlines dan produsen pesawat. Namun, kembali lagi, dengan kekuatan modal, setidaknya, lessor-lessor besar seperti GECAS, Avolon, dan SMBC tidak akan kesulitan menghadapi tantangan liquiditas di tengah wabah corona hingga beberapa bulan ke depan.

Walau Masih Lockdown, Rudal Tak Bertuan Sudah Hantam Bandara International Baghdad

Sebuah rudal tak bertuan mendarat di pinggiran atau perimeter Bandara International Baghdad, Irak, pada hari Senin, (8/6) waktu setempat. Beruntung, bandara terbesar di Irak itu masih memberlakukan lockdown sehingga tak menimbulkan korban jiwa dari pihak sipil. Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik Sejak 22 Maret lalu, Bandara International Baghdad memang sudah ditutup karena kebijakan lockdown di Irak demi mencegah penyebaran corona. Sebab, negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni itu (lawan dari Syi’ah/Iran) berbatasan langsung dengan Iran yang menjadi episenter penyebaran virus corona di Timur Tengah. Terakhir, total kasus positif di Irak saat ini mencapai 13 ribu pasien, di mana 400 pasien di antaranya meninggal dunia. Kantor berita Al Arabiya menyebut, rudal tersebut mendarat di sebelah Selatan bandara dan menghantam pusat markas koalisi pimpinan-AS. Menurut dugaan awal, besar kemungkinan, misil tersebut dikirim juga dari Selatan bandara. Bila benar demikian, tentu serangan tersebut berbeda dengan serangan sebelum-sebelumnya di tahun ini, dimana pada umumnya roket diluncurkan dari sisi utara Baghdad, Irak. Serangan itu disebut sebagai yang pertama menargetkan bandara sejak 6 Mei ketika tiga roket katyusha menghantam dekat sektor militernya. Sebagaimana masyarakat sipil, serangan itu tidak menimbulkan korban dari pihak militer sekalipun misil tersebut menghantam pangkalan AS. Sebelumnya, misil telah menyerang dekat pasukan Irak di bandara militer, satu lagi di dekat Camp Cropper, yang pernah menjadi fasilitas penahanan AS, dan yang terakhir di dekat tempat pasukan AS ditempatkan di pangkalan itu. AS menuduh milisi yang didukung Iran melakukan serangan seperti itu di masa lalu. Beberapa serangan menargetkan kepentingan AS pada awal Maret, termasuk tiga pangkalan militer yang diketahui menampung pasukan AS. Koalisi pimpinan-AS telah menarik diri dari beberapa pangkalan di seluruh Irak. Di awal Januari lalu, serangan misil juga pernah terjadi di area dekat bandara di Baghdad, Irak. Berbeda dari serangan Senin lalu, kala itu seranga justru menimbulkan korban berasal dari paramiliter yang didukung rezim Iran. Pasukan Mobilisasi Populer yang mendapat dukungan Iran berkata salah satu perwira mereka terbunuh serangan. Setidaknya ada delapan korban jiwa yang dinyatakan tewas. Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal Serangan ini terjadi beberapa hari setelah Kedutaan Besar AS di Irak diserang massa. Kejadian disebut akibat serangan AS yang menarget pasukan militer yang didukung Iran. France24 melaporkan roket Katyusha itu menyerang terminal kargo, membakar dua kendaraan, dan membunuh serta melukai beberapa orang. Militer pro-Iran berkata tujuh orang di pihak mereka tewas. Saat itu, paramiliter pro-Iran sedang menyelenggarkan acara di Bandara Baghdad. Identitas perwira Mobilisasi Populer yang tewas adalah direktur hubungan masyarakat mereka. Pihak militer pro-Iran pun menyalahkan AS atas serangan itu. Dalam akun Facebook mereka, Pasukan Mobilisasi Populer berkata serangan itu sebagai tindakan pengecut.

Sambut New Normal, Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penumpang 70 Persen dan Lion Air Kembali Beroperasi

Menyambut era New Normal, ada beberapa gebrakan penting terkait dunia penerbangan nasional, seperti Garuda Indonesia per 9 Juni ini telah memberlakukan peningkatan kapasitas penumpang di setiap pesawat menjadi 70 persen, dimana sebelumnya kapasitas per pesawat dibatasi hanya 50 persen saja. Bahkan untuk penerbangan rute domestik, penumpang pun cukup membawa hasil rapid test atau hasil swab test, maka sudah bisa melakukan perjalanan. Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Penumpang ‘Cukup’ Kenakan Face Shield Kabar gembira juga datang dari Lion Air Group, setelah sempat menghentikan penerbangan akibat sepinya jumlah penumpang, Lion Air lewat siaran pers (9/6/2020), telah memastikan akan mulai membuka penerbangan domestik pada 10 Juni 2020. Sebagai informasi, sesuai perkembangan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), maka telah diterbitkan dan diedarkan Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), yang mengatur kembali syarat yang harus dipenuhi oleh setiap calon penumpang bila akan melakukan bepergian dengan menggunakan pesawat udara, dimana lebih sederhana. Menurut surat edaran tersebut, calon penumpang hanya membutuhkan bukti tes kesehatan seperti PCR atau Rapid Test dan atau surat keterangan kesehatan. Bagi calon penumpang yang akan mulai bepergian di era New Norma agar memperhatikan hal-hal berikut: 1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Test, maka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau 2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.

Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

Demam PHK telah menjalar ke seantoro maskapai global, lanatan sepi penumpang akibat Covid-19, menjadi pendapatan sejumlah maskapai anjlok drastis. Begitu pun dengan maskapai asal Tanah Britania, British Airways (BA) yang saat ini berbicara terkait cara ‘kejam’ perusahaan untuk bernegosiasi dengan karyawan. Sebab maskapai ini bermaksud menghentikan total sekitar 12 ribu staf dan target baru manajemen adalah mem-PHK pilot. Baca juga: “Bukan PHK,” Inilah yang Terjadi Pada Ratusan Pilot Garuda Indonesia Bahkan maskapai yang berbasis di London ini mengancam akan memecat semua pilotnya. Mereka memiliki sekitar 4.300 pilot dan perusahaan ini berencana memberhentikan sekitar seperempat pilot mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari godsavethepoints.com (7/6/2020), awalnya maskapai ini akan memberhentikan 955 pilot, namun dengan jumlah yang ada saat ini justru meningkat sebanyak 125 dan menjadi 1080 yang ditentang oleh serikat pekerja. Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Inggris atau The British Airline Pilots’ Association (BALPA) sudah mengirimkan surat kepada anggota yang menguraikan sikap British Airways yang ingin mengubah ketentuan kontraknya dengan pilot. Anggota serikat pilot diberitahu bahwa jika grup tersebut tidak menerima 100 persen dari persyaratan yang ditawarkan oleh British Airways, maskapai berencana untuk memecat seluruh tenaga kerja, menggunakan kembali jumlah pilot yang dibutuhkan pada upah yang lebih rendah dan kontrak yang lebih rendah, sama seperti itu berencana untuk dilakukan dengan awak kabin. Beberapa anggota kru akan mengalami pengurangan gaji hingga 60 persen, sementara dituntut untuk melakukan lebih banyak pekerjaan. Niat BA untuk mencari perubahan pada syarat dan ketentuan dinyatakan kembali dalam S188 yang diperbarui. “Yang terpenting menyatakan bahwa jika BA dan BALPA tidak dapat mencapai kesepakatan, perusahaan akan berusaha untuk memaksakan perubahan dengan menghentikan pekerjaan semua pilot dan menawarkan individu kontrak baru dengan syarat dan ketentuan baru yang terkait. Kita tidak bisa mulai menggambarkan tingkat kekecewaan dan gangguan yang disebabkannya. Ini mempertanyakan apakah BA bahkan mampu melakukan hubungan industri dengan benar dan apakah apa pun yang mereka katakan dapat dipercaya,” isi surat tersebut. Negosiasi ‘kejam’ British Airways dengan pilot dilakukan hanya beberapa minggu setelah British Airways menguraikan rencana untuk menghancurkan karier begitu banyak awak kabin. Sebelumnya maskapai memiliki beberapa kontrak pramugari yang berbeda, dan maskapai berupaya menyederhanakannya. Sementara penyederhanaan kontrak masuk akal, pada dasarnya ini berarti bahwa banyak pramugari senior akan mendapatkan potongan gaji permanen di kisaran 30-50 persen, atau dalam beberapa kasus bahkan lebih. Ini terlihat tidak etis apalagi untuk awak kabin yang berada di perusahaan selama 20 tahun lebih. British Airways telah lama berjuang dengan hubungan kerja. Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online Bisa dikatakan, perusahaan tampaknya menggunakan pandemi saat ini sebagai kesempatan untuk menegosiasikan ulang beberapa kontrak dengan cara yang tidak adil. Bahkan sepertinya British Airways telah menunggu kesempatan seperti ini untuk menghancurkan kehidupan begitu banyak karyawan.

Bandara Pudong Gunakan Glide Blanket untuk Loading Barang ke Kabin Pesawat Penumpang

Pesawat penumpang saat pendmi Covid-19 banyak digunakan untuk mengangkut barang atau kargo. Selain untuk membuat pesawat beroperasi, pengakutan ini juga bertujuan agar perekonomian maskapai berjalan meski tak mengangkut penumpang di dalamnya. Bahkan Bandara Internasional Pudong di Shanghai, Cina menggunakan inovasi baru untuk membantu pemuatan kargo yang efisien di dalam pesawat penumpang. Baca juga: Zipair Tokyo Akhirnya Resmi Mengudara Saat Maskapai Lain Bangkrut, Tapi Hanya Penerbangan Kargo Wakil manajer Bandara Pudong, Cao Guilong dan timnya bulan lalu berhasil memuat kargo ke penerbangan Air Canada dalam waktu dua jam atau separuh dari waktu biasanya karena ada inovasi lapisan luncuran atau glide blanket. Dalam waktu tersebut sebanyak lebih dari 700 barang yakni salah satunya persediaan pencegahan virus corona diangkut ke kabin Boeing 777-300 melalui glinde blanket yang dilengkapi roda berjalan.
kabin pesawat penumpang dibuat untuk kargo (shine.cn)
Dilansir KabarPenumpang.com dari shine.cn (9/5/2020), Cao mengatakan, glinde blanket ini dirancang untuk digunakan pada pesawat penumpang yang dialihkan ke layanan kargo. “Glinde blanket telah menjadi bantuan penting untuk melayani peningkatan jumlah penerbangan kargo yang dilakukan oleh penerbangan penumpang di bandara,” kata Cao. Dia mengatakan, ini merupakan salah satu dari sejumlah penemuan cerdas di landasan pacu di Bandara Pudong untuk melayani peningkatan jumlah penerbangan kargo. Menurut Cao, saat ini maskapai global telah menggeser layanan penerbangan penumpang ke kargo untuk mengangkut persediaan pencegahan Covid-19 di tengah penurunan tajam dalam pariwisata internasional. Cao menyebutkan, bandara ini menangani lusinan penerbangan kargo pada masa pandemi dan meningkat sekitar dua penerbangan setiap hari sejak awal Maret. Otoritas Bandara Shanghai mengatakan, pesawat penumpang memiliki kelebihan dari kru dan jadwal yang telah ditetapkan, tetapi juga memberikan tantangan untuk memuat dan menurunkan muatan kargo. Cao menyebutkan, sebelum adanya glide blanket, semua kargo harus diangkat secara manual karena peralatan yang ada dirancang untuk pesawat kargo dan tidak dapat digunakan pada pesawat penumpang. Ini mengakibatkan bandara tidak lagi melipatgandakan tetapi melipattigakan personel untuk memuat atau menurnkan kargo dari pesawat penumpang. Bandara Pudong diketahui memiliki lebih dari seratus orang tenaga pemuat (loader), tetapi masih sulit memenuhi permintaan dengan metode tradisional. Di tengah pandemi, loader juga harus mengenakan alat pelindung seperti masker, kacamata dan jas hazmat yang membuat pekerjaan lebih sulit. Tim melayani penerbangan dari Alitalia dan Garuda Indonesia, di antara angkatan pertama pesawat penumpang dengan tugas transportasi kargo, pada awal Maret. Semua pemuat kelelahan pada akhir giliran kerja mereka. Jika bongkar muat telah ditunda, pesawat dan kru asing harus menunggu dan jadwal mereka yang ketat akan terpengaruh. Untuk memastikan keamanan penerbangan pesawat penumpang yang mengangkut kargo, otoritas bandara memiliki tim yang mengevaluasi keseimbangan pemuatan setiap penerbangan. Banyak peralatan pencegahan coronavirus seperti masker dan jas hazmat ringan namun besar. Mereka harus seimbang di kabin untuk memastikan keamanan penerbangan. Terlepas dari ide-ide inovatif ini, pekerja layanan darat (ground crew) masih harus bekerja lembur dengan setelan jas hujan untuk menyelesaikan tugas-tugas berat. Suhu di landasan dapat mencapai 60 derajat Celcius dalam cuaca panas. Baca juga: Gandeng Pelita Air Service, Anak Usaha Angkasa Pura I Luncurkan Layanan Angkutan Kargo Lebih dari 200 penerbangan kargo dari seluruh dunia telah lepas landas dan mendarat di Bandara Pudong dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu lebih dari 10 ribu ton bahan pencegahan Covid-19 telah diangkut melalui bandara Pudong sejak pecahnya pandemi.

Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Film James Bond memang selalu menarik ditonton. Hal itu setidaknya terbukti dengan 26 sekuel yang sudah laris di pasaran sejak pertama kali diluncurkan pada 1962. Dari 26 tersebut, nyaris seluruhnya menyuguhkan cerita dan teknologi canggih. Salah satu yang menarik adalah kereta lapis baja pembawa rudal balistik nuklir mematikan yang muncul dalam film James Bond sekuel “Golden Eye” yang dirilis tahun 1995. Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir Tak seperti kereta penumpang pada umumnya, kereta lapis baja di film Golden Eye, mengesankan sebuah kendaraan tempur lapis baja yang kokoh dengan tampilan sangar. Bahkan saking kuatnya, lokomotif kereta ini sanggup membelah tank yang menghalangi jalur relnya. Dalam scene saat di kereta sampai scene keluar kereta film saduran dari novel karya Ian Fleming itu, dimana aktor Pierce Brosnan tengah berusaha menyelamatkan Izabella Scorupco, interior dan eksterior kereta nuklir lapis baja Soviet tersebut memang tampak begitu mirip dengan aslinya, dengan ujung kereta lancip bak kereta peluru shinkansen versi garang, cat hitam di sekujur rubuh kereta, lambang Soviet, hingga interior mewah serta helikopter dan peluncur nuklir dengan hulu ledak yang mampu menghancurkan satu kota. Hanya saja, ke-otentikan kereta lapis baja pembawa rudal dengan hulu ledak tinggi itu sempat dipertanyakan. Sebab, dari 12 kereta itu, 10 di antaranya sudah dihancurkan tak lama setelah Uni Soviet bubar pada 26 Desember 1991. Adapun dua sisanya telah diabadikan di museum di wilayah Rusia. Lantas, kereta apakah yang digunakan saat syuting James Bond pada sekuel “Golden Eye”, mengingat film tersebut lahir empat tahun setelah Soviet bubar? Sebetulnya, apakah kereta tersebut memang benar-benar ada?
Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) RS-24, rudal balistik antar benua Rusia yang tersembunyi di kereta lapis baja. Foto: dailystar.co.uk
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, rupanya, kereta lapis baja pembawa rudal balistik dengan kemampuan tak terdeteksi oleh satelit itu hanyalah sebuah tiruan. Aslinya, kereta tersebut merupakan kereta lokomotif diesel-listrik British Rail Class 20 dan sepasang BR Mk 1 coaches atau British Railways Mark 1, sebuah kereta api standar pertama buatan Inggris yang beroperasi pada medio 50-70an. Dengan berbagai penyesuaian, kombinasi dari keduanya memang berhasil ‘menipu’ mata penonton seolah kereta tersebut adalah kereta lapis baja pembawa rudal asli buatan Soviet. Selain tampilan eksterior dan interior, suara kereta juga dibuat semirip mungkin menyerupai aslinya berkat bantuan mesin EMD 16-567 karya General Motors pada 1938. Akan tetapi, kereta lapis baja pembawa rudal asli karya Soviet pasca runtuhnya negara komunis tersebut sepertinya bukan hisapan jempol belaka. Sebab, beberapa tahun belakangan, Rusia tengah berambisi untuk melahirkan kembali kereta yang tak terdeteksi oleh satelit itu. Radio Echo Moskvy Rusia, mengutip sebuah tsar pemerintah, menyebut Rusia tengah menyiapkan tenaga-tenaga andal untuk mensukseskan proyek rudal balistik dengan hulu ledak tinggi, di bawah pengawasan komite pendidikan militer Rudal Strategis Rusia yang dipimpin Viktor Nesterov. “Menyadari sepenuhnya bahwa kita akan membutuhkan spesialis untuk mengoperasikan kompleks rudal baru ini, kami memutuskan untuk meluncurkan kursus khusus untuk melatih spesialis seperti itu,” ujar Viktor. Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara Kombinasi rudal balistik antar benua atau Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) RS-24 dengan kereta lapis baja setebal 1 inch pengangkut rudal memang sangat mematikan. Dengan jangkauan sejauh 3.400 mil atau 5471 kilometer dan hulu ledak tinggi, rudal tersebut diklaim mampu melenyapkan sebuah kota dalam hitungan detik. Proses peluncurannya pun diklaim tak dapat terdeteksi satelit karena bentuk kereta yang disamarkan kereta barang. Jadi, kereta tersebut bisa meluncur dengan bebas ke sebuah wilayah peluncuran dan sistem pembangkit rudal dapat dengan mudah membantu proses peluncuran tanpa ada gangguan keamanan.

BlueFilter, Teknologi Penyaring Virus dan Bakteri di Gerbong Kereta Api

Masa pandemi Covid-19 yang kini masih berlangsung, sepertinya membuat banyak orang masih berpikir panjang untuk menggunakan transportasi umum. Ini juga terkait sirkulasi udara di dalam transportasi umum itu sendiri apakah baik atau tidak. Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat Karena hal tersebut, baru-baru ini Wabtec Corporation dari Pittsburg, Amerika Serikat,  menghadirkan inovasi penyaring udara yang disebut dengan BlueFilter. BlueFilter sendiri akan membuat lingkungan yang bersih dan sehat bagi penumpang yang ada di gerbong kereta api. Sebelum diluncurkan filter ini diuji TUV yang terus menerus membuat metro dan kereta api memiliki udara segar dan bersih dengan menghilangkan lebih dari 90 persen kontaminan per sikklus udara. KabarPenumpang.com melansir dari laman alankandel.scienceblog.com (4/6/2020), Presiden Bisnis Transit Wabtec, Lilian Leroux mengatakan, otoritas transit di seluruh dunia menghadapi tantangan yang luar biasa ketika pandemi menghilang dan kehidupan mulai kembali normal. “Mereka mencari solusi yang meningkatkan keselamatan, meningkatkan kualitas udara, dan meyakinkan penumpang mereka akan lingkungan yang bersih di gerbong kereta. BlueFilter memberikan operator transit yang percaya diri dengan secara dramatis mengurangi kontaminan dalam gerbong dibandingkan dengan filter standar saat ini,” ujar Lilian. Dia mengatakan, desain BlueFilter ini menghilangkan kontaminan yang berukuran 0,1 hingga seribu mikrometer yang termasuk dengan alergen, bakteri, berbagai debu dan virus. Bila dibandingkan dengan filter standar yang ada saat ini, biasanya hanya mampu menghilangkan partikel yang berukuran antara sepuluh hingga seribu mikrometer. Filter standar hanya mencakup kontaminan seperti serbuk sari, sebagian besar debu dan beberapa bakteri atau bisa dikatakan tidak sama yang bisa dicakup oleh BlueFilter. Lilian menambahkan, fitur ini memungkinkan operator untuk segera meningkatkan kualitas udara bagi penumpang dan karyawan mereka. “BlueFilter dirancang untuk instalasi dan aplikasi yang mudah pada sistem HVAC saat ini, yang meminimalkan waktu yang dibutuhkan untuk menambahkan inovasi keselamatan penting ini ke armada operator,” jelasnya. Baca juga: Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat BlueFilter telah diuji oleh dua laboratorium independen, termasuk TÜV North Group. Selain itu, Wabtec bermitra dengan operator transit untuk menguji produk di lapangan. Pengujian menunjukkan bahwa BlueFilter memberikan operator transit lingkungan yang sehat dan aman untuk armada mereka tanpa memengaruhi kinerja HVAC. Ini adalah terobosan kualitas udara untuk industri kereta api saat pengendara kembali ke kereta komuter.

Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Awal Mei lalu, publik Indonesia sempat dihebohkan dengan insiden pelarungan jenazah tiga ABK WNI ke laut oleh kapal nelayan berbendera Cina, Long Xing 629 dan Long Xing 604 pada Desember 2019 dan Maret 2020. Dalam perpesktif hukum, sebetulnya, tindakan tersebut tergolong legal dan tertuang jelas dalam peraturan Organisasi Buruh Internasional (ILO) “Seafarer’s Service Regulations”, pelarungan jenazah di laut diatur praktiknya dalam pasal 30. Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956 Disebutkan, jika ada pelaut yang meninggal saat berlayar, maka kapten kapal harus segera melaporkannya ke pemilik kapal dan keluarga korban. Dalam aturan itu, pelarungan di laut boleh dilakukan setelah memenuhi beberapa syarat, yaitu: 1. Kapal berlayar di perairan internasional 2. ABK telah meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan penyakit menular dan jasad telah disterilkan. 3. Kapal tak mampu menyimpan jenazah karena alasan higienitas atau pelabuhan melarang kapal menyimpan jenazah, atau alasan sah lainnya. 4. Sertifikat kematian telah dikeluarkan oleh dokter kapal (jika ada). Selain legal dari perspektif hukum, dalam perspektif sosial, sebetulnya, tindakan melarung jenazah di laut juga telah terjadi sejak lama, salah satunya terjadi oleh jemaah haji tempo dulu. Sebagaimana yang diketahui, sebelum muncul era pesawat terbang komersial pasca perang dunia II, dahulu, sekitar tahun 1920-an, masyarakat menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal laut dan butuh waktu berminggu-minggu untuk sampai ke Mekkah-Madinah. Dalam berbagai literatur, perjalanan haji via laut setidaknya membutuhkan waktu sekitar 25-30 hari pulang-pergi. Bahkan, setelah era pesawat terbang muncul, proses pemberangkatan jemaah haji juga masih didominasi via laut. Pada tahun 1956, misalnya, saat Indonesia sudah mulai menyediakan pemberangkatan haji via udara, namun, karena harga mencapai dua kali lipat dibanding menggunakan jalur laut, hanya sedikit jemaah yang memutuskan berangkat menggunakan pesawat. Waktu itu, menurut catatan Kompas ongkos naik haji dengan menggunakan kapal laut adalah Rp7.500 sementara pewawat terbang Rp16.691. Oleh karena itu, pebedaan jumlah antara yang menggunakan kapal laut dan pesawat terbang sangat jauh, yaitu 14.031 banding dengan 293 orang. Berkaitan dengan jenazah jemaah haji tempo dulu dilarung ke laut, sekalipun ILO sudah didirikan (1919), namun, prosedur pelarungan jenazah jemaah haji dilarung ke laut bukan bersandar pada “Seafarer’s Service Regulations” melainkan bersandar pada Ordonansi tahun 1922 tentang Peraturan Pelayaran Haji Bab VII. Prosedur yang dibuat pada masa Gubernur Jenderal Dirk Fock dan Sekretaris Umum CH Welter pada 10 November di Bogor ini, di pasal 48, termaktub, “Jenazah penumpang kapal yang meninggal di laut, karena tertular penyakit, dicuci dengan air keras, dikafani, ditali, dan selanjutnya ditenggelamkan ke dasar laut.” Pada pasal lain: “Apabila seorang penumpang di kapal meninggal, nakhoda harus memberitakan dalam jurnal kapal: nama, usia, tempat lahir, dan tanggal meninggal, bahkan mungkin juga sebab-sebab kematian sesuai penjelasan dokter kapal.” Baca juga: Bus Shalawat, Angkutan Gratis Istimewa Untuk Jamaah Haji Indonesia Detailnya, mula-mula, jenazah dimandikan dan dikafankan sesuai syariat Islam. Lalu, jenazah disalatkan, sebagaimana jenzahah yang disalatkan di daratan. Dalam catatan perjalanan Kyai Haji Abdussamad dalam Melawat ke Mekkah (1948), sebelum ditempatkan di sebuah wadah, seperti sekoci, pada bagian ujung kepada dan kaki (di kain kafannya) diikat sebuah pemberat berupa timah atau beberapa kepingan baja seberat 30-50 kg. Fungsinya, untuk mengantar jenazah ke dasar laut. Selanjutnya, kapal kemudian berhentik sejenak, untuk menurunkan jenazah dari sekoci ke lautan. Sekoci kemudian dimiringkan dan jenazah pun terombang-ambing di lautan, sebelum akhirnya tenggelam di sana. Tercatat, proses ini (melarung jenazah ke laut) terus dilakukan sampai pada akhirnya, di tahun 1978, pemerintah menghentikan perjalanan haji dengan trasportasi laut.

Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Setelah anjlok akibat pandemi Covid-19, Singapore Airlines (SIA) kembali bangkit. Dalam rilis terbarunya, maskapai terbaik ke-dua pada 2019 versi Skytrax itu justru mengeluarkan fitur companion app pertama di dunia, melengkapi berbagai kebijakan lainnya, sebagai bagian dari prosedur The New Normal untuk mengurangi potensi penyebaran virus Cina di dalam pesawat. Baca juga: Sapa Pelanggan di Masa Pandemi, Singapore Airlines Hadirkan e-Library di Aplikasi Seluler Dengan companion app pertama di dunia itu, nantinya pelanggan tak perlu lagi mengakses atau mengendalikan KrisWorld, sistem hiburan dalam penerbangan (IFE) SIA, dengan berbagai sentuhan dilayar IFE secara langsung, melainkan dapat dengan mudah mengaturnya melalui perangkat seluler pribadi. Jadi, mengurangi sentuhan di berbagai benda di pesawat selama penerbangan. Berbagai terobosan SIA dilakukan guna mendukung proses recovery perusahaan dengan meningkatkan volume penerbangan menjadi sebesar 75 persen dari posisi terendah April dan Mei 2020. Peningkatan tersebut termasuk penambahan 10 rute menjadi total 24 rute, mencakup kota-kota besar di Asia, Eropa, dan Amerika, seperti Jakarta, Sydney,Tokyo, Seoul, Shanghai, Hong Kong, London, Amsterdan, Barcelona, dan Los Angeles. “Inisiatif ini membantu memastikan bahwa di tengah wabah Covid-19, standar kesehatan dan keselamatan kami tetap menjadi bagian integral dari janji layanan kelas dunia SIA. Hal ini memungkinkan pelanggan kami untuk bepergian bersama kami dengan penuh keyakinan, mengetahui bahwa kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kem mereka sepanjang perjalanan mereka,” kata CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, seperti dikutip dari situs resmi SIA. “Kami juga bekerja pada berbagai solusi digital baru yang akan lebih meningkatkan pengalaman pelanggan, serta mendukung inisiatif kesehatan dan keselamatan kami. Ini akan memungkinkan SIA untuk lebih memenuhi harapan yang berkembang dari pelanggan kami selama masa-masa ini,” tambahnya. Meski demikian, maskapai mengaku tetap menjalankan prosedur disinfeksi ke berbagai benda atau titik rawan penyebaran corona, mulai dari jendela, meja baki, handset, layar hiburan dalam penerbangan, toilet, serta dapur. Headset, headrest covers, sarung bantal, seprei, dan selimut juga dicuci serta diganti setelah setiap penerbangan. Bahkan, toilet, sebagai salah satu tempat paling rawan penyebaran virus corona di pesawat juga rutin dicek dengan ultra-violet (UVC) setiap sebelum penerbangan. Prosedur The New Normal, yang mulai menjadi istilah lumrah sebagai gambaran prosedur dan layanan baru di industri penerbangan sejak awal Mei kemarin, juga mengubah berbagai layanan SIA, baik selama di dalam pesawat maupun di kounge. Di lounge, SIA hanya menyediakan makanan a la carte, sebagai pengganti sajian prasmanan. Sedangkan di pesawat, untuk penerbangan di Asia Tenggara dan layanan ke Cina Daratan, atas alasan keamanan, layanan makanan dan minuman masih belum tersedia. Sebagai gantinya, penumpang diberikan snack bags yang berisi beberapa sajian. Tak disebutkan dengan jelas apa saja isinya. Bagi penumpang di first class dan business class, layanan santapan di meja makan juga ditiadakan dan diganti dengan layanan single tray service atau makanan dan minuman orang per orang. Baca juga: Bandara Anchorage Alaska Minta Singapore Airlines Terbang Non-Stop Gegara Suhu Layanan digital dan lainnya juga menyesuaikan diri dengan prosedur The New Normal. Mulai 8 Juni, semua maskapai di SIA Group akan menyediakan care kit yang akan dibagikan ke setiap penumpang, berisi masker, tisu anti bakteri, dan hand sanitizer. E-library juga diperkenalkan sebagai pengganti koran dan majalah, dengan akses ke lebih dari 150 surat kabar internasional, majalah, dan bahan bacaan lainnya yang dapat diakses melalui aplikasi SIA di smartphone masing-masing. Tak hanya itu, awak kabin juga akan dilengkapi dengan masker dan kacamata. Yang paling ditunggu-tunggu adalah layanan pesan makanan dan digital serta Print-n-Go solution, dimana penumpang dapat memesan makanan via aplikasi dan memungkinkan untuk mencetak boarding pass serta baggage tags di self-service kiosks di bandara, melalui Singapore Air Mobile App atau kode QR. Namun, penumpang harus menunggu waktu peluncuran layanan tersebut.