Pada hari ini 8 Juni 2020, semua perkantoran mulai kembali beraktivitas dengan normal. Hal ini juga berlaku pada transportasi ojek online (ojol) seperti GoJek yang sudah menghidupkan kembali fitur GoRide dan Grab yang juga menghidupkan kembali GrabBike di menunya. Sehingga bisa dikatakan pengemudi ojol kini bisa kembali mengangkut penumpang seperti sebelum adanya Covid-19.
Baca juga: Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order
Nah, memasuki kehidupan new normal ini, apakah aman jika kembali menggunakan transportasi umum dan ojol yang mulai kembali beroperasi secara penuh? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa hal ini aman jika setiap penumpang melakukannya dengan protokol yang sesuai.
Berikut ini tips untuk para pengguna (penumpang) ojek online.
1. Penumpang harus membersihkan tangan baik dengan handsanitizer atau cuci tangan dengan sabun dan air sebelum maupun sesudah naik motor.
2. Membawa helm pribadi sangat disarankan. Ini untuk mencegah penumpang tertular virus corona karena menggunakan helm yang bergantian dengan yang lainnya. Atau minimal bawalah hair cup untuk melindungi bagian bagian kepada dari interaksi dengan helm pinjaman milik pengemudi ojol.
3. Hindari berbicara dengan pengemudi ojol.
4. Tidak membayar dengan tunai atau baiknya cashless untuk menghindari perpindahan virus dari uang yang diberikan tersebut.
5. Gunakan sarung tangan yang bukan sekali pakai. Ini karena sarung tangan sekali pakai justru bisa memindahkan virus ke tempat lainnya.
6. Jangan lupa pakai masker dan kalau perlu bisa gunakan kacamata.
Sedangkan tips untuk pengguna transportasi umum selain ojol berikut ini.
1. Bersihkan tangan sebelum dan sesudah naik transpotasi umum, kalau bisa bawa handsanitizer berbasis alkohol setiap bepergian. Untuk penumpang tidak perlu sering-sering pakai handsanitizer tapi cukup ketika naik dan turun untuk memastikan tangan dalam kondisi bersih.
2. Jaga jarak minimal 1,5 meter atau jika tidak bisa maka jaga jarak semaksimal mungkin dengan orang lain baik ketika menunggu maupun di dalam transpotasi umum.
3. Hindari memegang tiang yang berbeda selama perjalanan dan baiknya tidak berpinda-pindah posisi ketika duduk atau berdiri.
4. Kurangi atau sebisa mungkin hindari berbicara dengan orang lain dalam transportasi umum.
Baca juga: Sekat Partisi Digunakan Pengemudi Ojol, Efektifkah untuk New Normal?
Dari semua ini, baiknya setiap penumpang yang menggunakan transportasi umum dan ojol ketika kondisi kurang sehat tetaplah dirumah untuk beristirahat dan tidak memaksakan untuk bepergian.
Belum lama ini, investigator keselamatan udara Perancis, Bureau d’Enquetes et d’Analyses, berhasil mendapatkan data penerbangan PK8303 Pakistan International Airlines (PIA) dan rekaman suara kokpit sebelum jatuh. Dari hasil penyeledikan sementara, diduga kuat pilot menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan yang merenggut 97 jiwa dari 91 penumpang dan delapan awak itu.
Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines
Seperti diberitakan fliegerfaust.com , kronologi kecelakaan pesawat Airbus A320 milik PIA bermula saat pesawat yang dipimpin Kapten Sajjad Gull itu lepas landas dari Bandara Lahore sekitar pukul 13,05 waktu setempat. Menurut keterangan salah satu dari dua penumpang selamat, penerbangan tersebut bisa dibilang nyaris sangat mulus, mulai dari awal take off sampai sebelum terjadinya kecelakaan.
Keadaan berubah ketika pesawat mencoba mendarat di Bandara Internasional Jinnah. Laporan dari otoritas penerbangan sipil Pakistan, terungkap, sebelum jatuh, pesawat rupanya mengalami kerusakan atau mungkin kegagalan di kedua mesin. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh percobaan pendaratan pertama.
Pada percobaan pendaratan pertama, petugas Air Traffic Controller (ATC) sempat mengingatkan bahwa pesawat berada pada posisi yang keliru ketika melakukan pendekatan pendaratan (approach landing) melalui pendekatan Instrument Landing System (ILS). Saat itu, pesawat tercatat masih melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai lebih dari 200 mil per jam (322 kilometer per jam). Padahal, jarak pesawat sebelum touchdown di runway 25 Bandara Internasional Jinnah, di Kota Karachi, sudah begitu dekat dan dinilai tidak sesuai prosedur pendaratan.
Setelah diperingatkan dua kali untuk tidak meneruskan proses pendekatan pendaratan, alih-alih mengikuti saran dari ATC, pilot yang diketahui telah memiliki jam terbang tinggi tersebut justru melanjutkan pendaratan. Alhasil, ketika touchdown, pesawat mengalami gesekan kuat di lambung dan kedua mesin pesawat akibat roda pendaratan atau landing gear tidak keluar. Menurut laporan, sempat terjadi beberapa benturan sehingga ATC menyarankan untuk pilot agar membawa pesawat kembali ke langit dan melakukan percobaan kedua. Anehnya, pilot tak memberitahu kondisi tersebut (tidak keluarnya landing gear).
Di percobaan pendaratan kedua pada pukul 14.30, sebetulnya ATC yang bertugas kala itu memandu pilot agar berada di ketinggian 3500 kaki. Namun, pilot hanya membawa pesawat pada ketinggian 1300 kaki. Di sinilah pilot memberitahu bahwa pesawat kesulitan untuk mempertahankan ketinggian dan kedua mesin mengalami kerusakan teknis, mengingat, bagian bawah mesin di antaranya terdapat aksesoris gearbox dan pompa hidrolik yang keduanya mungkin saja disfungsi akibat gesekan saat percobaan pendaratan pertama.
Pada proses percobaan pendaratan kedua, tak lama setelah pilot memberitahu keadaan pesawat dan memberi sinyal darurat (mayday) ATC kehilangan kontak, tepatnya pada pukul 14.40 waktu setempat. Pesawat akhirnya diketahui jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah.
Pesawat Airbus A320 milik PIA tercatat telah mempunyai 47.100 jam terbang dan telah lulus uji kelaikan pada 2019. Airbus menerangkan, pesawat mereka itu mulai beroperasi pada 2004, sebelum dibeli PIA di 2014. Meski sudah mendengar rekaman percakapan di kokpit, pihak kementerian perhubungan Pakistan belum mengeluarkan laporan resmi terkait penyebab terjadinya kecelakaan.
Baca juga: Pintu Darurat Dikira Toilet, Penumpang Pakistan Airlines Bikin Penerbangan Delay 7 Jam!
Akan tetapi, kecelakaan A320 milik PIA rupanya bukan kecelakaan pertama dan terburuk sejak setidaknya satu dekade terakhir. Sebelumnya, pada 2010, pesawat yang dioperasikan penerbangan swasta Airblue, jatuh dekat Islamabad, menewaskan 152 orang, kecelakaan terburuk dalam sejarah Pakistan.
Pada 2012, pesawat Boeing 737-200 yang dioperasikan Bhoja Air jatuh dalam cuaca buruk saat akan mendarat di Rawalpindi, menewaskan 121 penumpang dan enam awak. Kemudian, pada 2016, pesawat Pakistan Internasional Airlines jatuh terbakar dalam penerbangan dari Pakistan utara ke Islamabad, menewaskan 47 orang.
Sebagai penumpang pesawat, meja lipat atau baki di depan kursi pesawat menjadi salah satu yang cukup sering digunakan dibandingkan toilet. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah meja nampan ini rutin dibersihkan? Kemudian seberapa sering dibersihkannya?
Baca juga: Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin PesawatKabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (3/6/2020), ternyata meja nampan di pesawat tidak sering dibersihkan. Hal ini diungkapkan oleh awak kabin yang mengatakan bahwa toilet bukanlah area paling kotor di dalam kabin.
Kurang dibersihkannya meja nampan juga karena perputaran singkat antar penerbangan dan pembersihan di pesawat yang dilakukan awak kabin harus dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, berarti beberapa area tertentu di pesawat tidak dibersihkan secara menyeluruh bahkan tidak sama sekali.
Seseorang dari maskapai mengungkapkan bahwa mungkin bukan ide yang baik untuk makan langsung dari meja nampan dan baiknya penumpang harus membawa produk pembersih sendiri ketika di dalam pesawat. Mantan pramugari American Airlines menjelaskan bahwa setiap penumpang harus selalu membawa tisu basah atau tisu antibakteri dan menyeka meja nampan sebelum digunakan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Auburn University menemukan bahwa meja nampan adalah pembawa E.coli tertinggi kedua di kabin pesawat, dengan penyakit bernanah selama 72 jam. Sehingga hal terbaik yang harus dilakukan ketika meninggalkan pesawat terbang adalah mencuci tangan Anda untuk menghilangkan kuman apa pun karena E.coli dapat hidup di permukaan selama berjam-jam.
“Saya akan selalu mendorong penumpang untuk membersihkan meja nampan dan permukaan lainnya sebelum berangkat. Saya telah melihat penumpang mengganti popok bayi mereka di atas meja nampan, dan memotong kuku mereka di papan tulis,” ujar seorang awak kabin.
Studi lain menemukan meja nampan di berbagai pesawat memiliki tingkat bakteri yang tinggi. Bahkan beberapa nampan meja adalah area terburuk di pesawat untuk masalah, bahkan lebih buruk daripada toilet. Dengan kenyataan ini, baiknya sebagai penumpang yang cermat tidak langsung meletakkan makanan di meja nampan dan memilih untuk membersihkannya terlebih dahulu sebelum digunakan.
Sementara staf maskapai membersihkan kabin di antara penerbangan, ini terutama membersihkan sampah. Tetapi mereka tidak punya waktu untuk membersihkan dan menyapu setiap nampan di pesawat di antara penerbangan.
Sebagian besar maskapai penerbangan tidak berbagi seberapa sering mereka membersihkan bagian dalam pesawat sehingga Anda harus selalu membawa beberapa tisu di tas tangan Anda. Anda mungkin juga ingin ketinggalan meletakkan barang-barang di saku kursi di depan karena penelitian telah mengungkapkan bahwa mereka juga merupakan salah satu daerah yang terinfeksi kuman di pesawat dengan satu studi membuktikan itu adalah area paling kotor di pesawat.
Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri
Pramugari lain juga mendesak penumpang untuk membawa bantal dan selimut mereka sendiri. Rupanya satu-satunya deep-clean di pesawat terjadi semalam dan beberapa maskapai penerbangan bahkan menggunakan kembali selimut mereka tanpa mencuci mereka.
Ramadan memang telah usai. Lebaran juga telah lebih dari sepekan lebih dirayakan oleh umat muslim seluruh dunia. Namun, cerita-cerita unik atau serba-serbi Ramadan mungkin tak pernah luput untuk terus dikenang. Terlebih, hal tersebut melibatkan bukan hanya umat muslim saja, melainkan juga umat non muslim; seperti yang terjadi di Singapura.
Baca juga: Berniat Habiskan Ramadhan di Luar Negeri, Perhatikan Dulu Durasi Puasanya!
Dilansir mothership.sg, seorang driver non muslim S’pore di Singapura mendadak jadi pembicaraan netizen karena perlakuan terpujinya dalam melayani penumpang muslim. Peristiwa itu bermula, saat penumpang muslim yang tak disebutkan namanya menumpangi sebuah taksi yang dikemudikan oleh driver non muslim yang juga tak diketahui namanya. Kala itu, puasa tengah memasuki hari ke-18.
Saat penumpang masuk, diketahui, azan Magrib akan berkumandang sekitar 10 menit berselang. Sang pengemudi yang sudah menyimpan jadwal azan selama bulan Ramadan, kemudian berinisiatif untuk mempercepat laju kendaraan, semata agar penumpang muslimnya bisa sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat.
Selain itu, driver non muslim juga memutar radio untuk mengetahui waktu berbuka. Menariknya, saat kendaraan tengah melaju cepat dan kumandang azan terdengar, tanpa diminta, driver pun perlahan memperlambat laju guna memastikan penumpang dapat menikmati waktu berbuka puasa dengan khidmat dan nyaman.
Atas perlakuannya tersebut, driver pun banjir pujian. Pada umumnya netizen memuji sikap dan keharmonisan antar umat beragama. Pasalnya tak sedikit perbedaan kebutuhan dan posisi, satu muslim dan satu non muslim, satu puasa dan lainnya tak puasa, satu ingin berbuka puasa terlebih dahulu dengan nyaman dan lainnya tidak, baik saat posisi pengemudi dikendarai oleh non muslim dan penumpang muslim atau sebaliknya, justru membuat ketidaknyamanan antara satu dengan lainnya karena perbedaan itu sendiri.
Meskipun banjir pujian, tak sedikit dari netizen yang tetap mengkritik driver tersebut dengan berbagai alasan, termasuk mempertanyakan inisiatifnya untuk mempercepat laju. Sebab, hal itu bisa saja dapat membahayakan penumpang dan juga pengendara lainnya.
Kejadian viral yang melibatkan driver non muslim terhadap penumpang muslim juga pernah terjadi di Negeri Jiran Malaysia. Kala itu, Nur Aqilah Syazwina Mustaffa, seorang gadis muslim asal Malaysia ini menumpangi sebuah taksi online yang dikemudikan oleh Wong Zhon Wei, seorang non muslim keturunan Cina.
“Dalam perjalanan pulang, saya kebetulan melihat pasar di jalan dan saya bertanya-tanya apakah dia pernah pergi ke pasar Ramadan atau tidak,” terang Wina.
Driver yang dipanggil Ah Wei itu pun mengaku belum pernah pergi ke Pasar Ramadan. Ia pun tiba-tiba memarkirkan mobil dan mengajak Wina untuk membeli makanan berbuka di Pasar Ramadan. Alasan Ah Wei membawa Wina ke Pasar Ramadan karena saat itu sudah mendekati waktu berbuka puasa.
“Mula-mula saya hendak beli Ayam Percik dan kue-kuean dengan uang saya sendiri tapi dia terus menjulurkan uang untuk membayarkan makanan yang saya beli tanpa ragu,” ujar Wina.
Wina mengaku dibelanjakan makanan oleh Ah Wei sebesar Rp75 ribu sementara, ongkos taksi online yang digunakannya sebesar Rp82 ribu. Wina mengatakan bahwa Ah Wei tak mau uangnya diganti, ia hanya menerima uang bayaran sebagai driver taksi online.
Baca juga: Selama Ramadhan, Emirates dan Qatar Suguhkan Sajian Istimewa di Lounge dan Kabin
“Saya telah mencoba membayar kembali uang yang telah dia bayarkan untuk makanan yang dibeli tetapi ditolak karena dia mengatakan ‘itu adalah niat saya untuk membelanjakan’,” katanya.
Setelah diturunkan, Wina mengundang Ah Wei untuk makan malam bersama keluarganya, tetapi ia menolak dengan sopan, karena harus melayani penumpang lain. Wina menilai sikap toleransi yang ditunjukkan Ah Wei adalah sesuai yang sangat bernilai, murni, dan tak dapat diukur dengan uang.
Retrofit atau peningkatan kemampuan pesawat Cessna berhasil mencatat sejarah sebagai pesawat listrik terbesar di dunia. Kepastian itu didapat setelah uji coba pesawat retrofit Cessna 208B Grand Caravan sembilan kursi berbahan bakar cair menjadi Cessna eCaravan bertenaga listrik, tanpa emisi langsung, dan berbiaya rendah berhasil mengudara selama 30 menit di langit Washington, Kamis lalu.
Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana
Seperti dilansir sea.mashable.com, ke depan, pesawat listrik terbesar hasil kolaborasi antara perusahaan angkasa AeroTEC dan perusahaan propulsi listrik magniX ini diproyeksikan bakal mampu melahap rute sejauh 300 mil atau 482 kilometer, lebih kurang setara Jakarta-Semarang.
Hal itu dimungkinkan berkat kemampuan sistem propulsi magni500 berkekuatan 750 tenaga kuda (560 kW) sehingga dapat menggerakan pesawat amfibi enam kursi yang dimodifikasi melalui penerbangan pertamanya pada Desember lalu. Ini menandai keberhasilan dari penerbangan pesawat komersial listrik, sebelum akhirnya magniX mendorong untuk meretrofit pesawat tersebut.
“Penerbangan perdana eCaravan ini merupakan langkah lain untuk mengoperasikan pesawat bermesin menengah dengan biaya sangat murah, dan dengan nol emisi. Pesawat komersial ini akan memungkinkan penawaran layanan penerbangan orang dan paket dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan,” kata CEO magniX, Roei Ganzarski.
Walaupun hanya dalam rute-rute pendek, namun, buah dari penerbangan tersebut cukup signifikan dalam upaya menekan angka emisi gas buang atau pemanasan global. Sebab, pada umumnya, pesawat konvensional membakar lebih banyak bahan bakar ketika hendak lepas landas dan mendarat. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan ketika di udara serta dalam jarak yang beragam, baik pendek maupun jauh.
MagniX dilaporkan memang memiliki rencana besar untuk sistem propulsi magni500. Sebagai yang terbaru dari motor listriknya, perusahaan ini telah berurusan dengan sejumlah pamain utama di kancah penerbangan listrik. Ini termasuk menjadi pemasok mesin startup asal Israel Eviation, untuk maskapai regional independen terbesar Amerika Serikat di Cape Air, dan perjanjian untuk menyediakan mesin listrik lebih lanjut untuk Harbor Air.
Meski demikian, inovasi serta ambisi tinggi perusahaan teknologi seperti MagniX diperkirakan belum akan mengubah masa depan penerbangan jet komersial untuk mengoperasikan pesawat listrik sepenuhnya. Alasannya klasik, terkait dana dan efisiensi.
Seorang peneliti energi dan transportasi di University College London, Andreas Schafer, mengatakan, untuk mewujudkan penggunaan pesawat listrik di masa mendatang butuh investasi yang tak sedikit. Misalnya, untuk biaya pengembangan baterai saja, setidaknya butuh sekitar US$23 miliar atau Rp353 triliun.
Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?
Prinsipnya, bagaimana caranya membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini (baterai pesawat) namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada
Selain itu, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional ke era pesawat listrik.
Masih ingat dengan kereta lawas Djoko Kendil? Kereta yang sempat menjadi idola dimasa kejayaannya dulu kini hadir kembali. PT Kereta Api Indonesia menghadirkan Djoko Kendil di Solo bulan Februari 2020 lalu.
Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia
Kereta Api Djoko Kendil yang hadir kali ini justru menggunakan kereta uap lawas D1410 yang diperkenalkan dan melintasi rel ditengah kota. Kereta uap ini menarik dua gerbong berwarna hijau dan setelah diserahkan oleh PT KAI ke Wakil Walikota Surakarta, Achmad Purnomo langsung melanjutkan perjalanan dengan membawa rombongan ke Stasiun Kota di Sangkrah.
Melaju dengan kecepatan rendah, gerbong kereta ini didesain istimewa dengan kayu jati menjadi interior utama pada gerbong berkapasitas 50 orang. Kereta ini juga dilengkapi dengan meja panjang yang dilengkapi dengan kursi melingkar sehingga cocok untuk dijadikan tempat rapat.
Tak hanya itu juga ada lokomotif di bagian belakang gerbongnya. Direktur PT KAI yang lalu, Edi Sukmoro mengatakan, KA Djoko Kendil ini berusia 99 tahun dan sudah langka.
Dia mengatakan meski tua dan langka, kereta uap dengan panjang 20 meter ini bisa dihidupkan kembali karena para pensiunan PT KAI yang konsen dengan kereta lama. Achmad Purnomo mengatakan, kereta ini akan menambah pariwisata di Kota Bengawan.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kereta ini melaju dengan kecepatan 45 km per jam dan akan beroperasi dari Solo menuju ke Wonogiri. Kereta uap ini buatan Hanomag Hannover, Linden, Jerman 1921.
Nah, ternyata KA Djoko Kendil saat ini dan yang dulu berbeda. Pada masa kejayaan, awalnya Djoko Kendil atau gerbong SS9000 ini terdiri dari dua gerbong yang melengkapi Java Nacht Express.
KA Djoko Kendil merupakan kereta yang dibeli oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1938 dari pabrik Beynes (Belanda). Gerbong ini mewah dengan fasilitas tempat tidur yang dilengkapi dengan sistem penyejuk udara.
Panjang kereta seri SS9000 memiliki panjang 20 meter dengan bogie yang dilengkapi dengan roller bearing yang mulus dan handal serta dirancang untuk melaju pada kecepatan tinggi. Pada kejayaannya, Djoko Kendil masa lalu melintasi relasi jakarta – Bandung, Jakarta- Surabaya dan Surabaya – Jakarta.
Baca juga: Parade Kereta Tanpa Awak Siap Sambangi Indonesia
Sayangnya karena usia kereta yang semakin senja, seri SS9000 ini tersingkir dan turun kelas menjadi kereta penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong. Pada 28 April 2009, Kereta Djoko Kendil mendapat kehormatan untuk membawa Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa menteri, dari Stasiun Tanjung Priok ke Stasiun Pasar Senen.
Banyak pilot maskapai penerbangan di hampir semua negara harus dirumahkan pada masa pandemi Covid-19. Hal ini karena banyaknya lockdown yang terjadi di berbagai negara demi pencegahan penyebarluasan virus ini sendiri. Namun ketika tidak terbang, bagaimana nasib para pilot ini dan apa yang dilakukan mereka?
Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari
Ternyata banyak pilot yang melakukan berbagai hal demi mengurangi kebosanan karena di rumahkan. Beberapa diantaranya bahkan membuat video singkat dengan menerbangkan pesawat mainan dengan jalur landasan. Untungnya saat ini bisnis sektor penerbangan perlahan mulai kembali membuka rutenya meski belum sepenuhnya.
(Instagram @pilotcharlotte)KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, para pilot ini melakukan berbagai macam cara agar orang-orang kembali terbang. Seorang pilot bernama Charlotte Dielman mengunggah fotonya yang mengajak penumpang kembali naik pesawat.
Pilot easyJet ini menuliskan ajakan naik pesawat tersebut di selembar kardus bekas dan di unggah di akun Instagram pribadinya @pilotcharlotte. Hal ini kemudian diikuti oleh seorang pilot asal Amerika Serikat Chris Pohl.
Chris yang merupakan pilot maskapai Virgin Atlantic ini, ikut mengunggah ajakan terbang tersebut di akun pribadinya. Dalam foto tersebut dirinya menuliskan caption “Buy airline tickets like you bought toilet paper atau yang berarti beli tiket pesawat seperti Anda membeli tisu toilet.”
Tak hanya sebuah caption seperti @pilotcharlotte, Chris melalui akun pribadinya @captainchris, juga meminta agar orang-orang menyebarkan pesan yang disampaikannya kepada orang lain.
Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong
“Saya mengumpulkan mereka untuk membuat versi saya sendiri. Silakan RE-POST dan sampaikan pesan ini kepada semua orang yang Anda kenal, karena itu NYATA. Kita membutuhkan dunia untuk mulai memesan tiket, yang akan memungkinkan maskapai penerbangan untuk mengisi pesawat dan membuat kita semua terbang lagi. Satu-satunya hal yang menahan kami, adalah Anda; pelanggan / penumpang setia kami, tanpa Anda, kami akan mendarat. Ayo dunia terbang lagi,” tulisnya di akun Instagramnya.
Sampai saat ini para pengemudi ojek online atau ojol masih belum bisa mengangkut penumpang. Mereka hanya bisa mengangkut barang ataupun makanan yang dipesan oleh para pengguna aplikasi. Namun bagaimana jika nantinya kehidupan baru atau new normal sudah mulai dijalankan dan para ojol bisa kembali mengangkut penumpang?
Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra PengemudiKabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, beragam ide kemudian hadir agar ojol bisa mengangkut penumpang dan beradaptasi dengan kehidupan baru. Ide-ide ini sendiri hadir agar para pengemudi ojol bisa beroperasi secara normal dan menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditentukan.
Salah satu ide yang muncul adalah dengan sebuah sekat partisi yang disematkan antara pengemudi dan penumpang ojol. Sekat ini berbahan akrilik dan kehadirannya diharapkan bisa mengurangi kontak langsung dengan pengemudi.
Bahkan salah satu ride hailing di Indonesia yakni Grab mulai membuat partisi akrilik ini. Ketua Presidium Nasional Garda (Gabungan Aksi Roda Dua) Indonesia Igun Wicaksono mengatakan, adanya sekat partisi sendiri merupakan satu protokol agar ojol bisa kembali angkut penumpang.
Dia mengatakan hal ini menambah protokol yang sudah ada dengan himbauan penumpang membawa helm sendiri dan pengemudi membawa basic hygiene pribadi yakni sabun cuci tangan atu handsanitizer serta menjaga kebersihan atribut dan diri pribadi. Namun, sayangnya sekat partisi ini tidak dihadirkan oleh pengusaha melainkan para pengemudi harus membelinya sendiri dan harga akan disesuaikan dengan kemampuan mereka.
“Kita belum bicara cara dapetin sekat, produksi butuh anggaran karena masih mandiri. Kita gandeng perusahaan swasta itu kan butuh biaya, nah si driver beli,” ujar Igun yang dikutip dari okezone.com.
Dia menambahkan, bila Pemerintah menyetujui penggunaan sekat partisi dan dianggap sebagai protokol kesehatan ketika new normal, maka para pengemudi harus memilikinya.
Tapi, apakah sekat partisi ini aman ketika digunakan para pengemudi ojol? Ternyata sekat partisi dari akrilik tersebut bisa menghambat laju sepeda motor dan bisa berefek negatif saat dipakai di jalanan.
“Menurut saya penggunaan partisi akan menambah tahanan angin, keseimbangan motor bisa lebih berat,” ujar Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), yang dikutip dari kompas.com.
Baca juga: DPR Minta Aplikator Tak Potong Ongkos Kirim Ojol 20 Persen di Masa Pandemi
Dia menambahkan, masker, helm dan jaket sebenarnya sudah membatasi penyebaran virus. Sony mengatakan, menjaga kebersihan helm, jaket, dan masker jadi cara yang lebih efektif untuk menghindari penyebaran virus corona di kalangan ojek online.
“Bicara physical distancing itu benar, tapi kurang smart. Jadi dari sisi safety akan mengganggu walaupun dari sisi kesehatan terlihat baik,” tambahnya.
Setelah menanti selama tiga pekan dari jadwal semula pada tanggal 14 Mei 2020, maskapai pendatang baru di kelas Low Cost Carrier (LCC) atau berbiaya rendah, Zipair Tokyo akhirnya resmi mengudara. Kepastian itu didapat pasca Boeing 787-8 lepas landas dari Bandara Narita menuju Bandara Suvarnabhumi, Bangkok pada Kamis, (4/6) waktu setempat.
Baca juga: Zipair Tokyo, Maskapai Berbiaya Murah Terbaru dari Jepang, Mengudara 14 Juli 2020!
“Sejak pengumuman bisnis kami pada Mei 2018, karyawan kami telah bahu-membahu untuk mempersiapkan lauching layanan LCC menengah dan jarak jauh. Sayangnya, mengingat situasi saat ini, kami tidak dapat melayani penerbangan penumpang ke Bangkok,” kata Presiden Zipair Tokyo, Shingo Nishida, sebagaimana diberitakan Simple Flying.
“Ketika orang-orang di seluruh dunia menemukan cara baru untuk mempromosikan bisnis mereka, kami memutuskan untuk mengambil langkah maju dengan meluncurkan sementara hanya penerbangan kargo antara Jepang dan Thailand,” tambahnya.
Setelah terbang perdana, maskapai yang lahir pada Februari 2019 silam ini akan tetap melayani penerbangan hanya kargo selama empat kali dalam sepekan, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu, sampai waktu yang tak ditentukan, mengikuti perkembangan wabah Covid-19 di dunia. Sejauh ini, sebagai maskapai baru, anak perusahaan Japan Airlines itu hanya mengoperasikan dua armada Boeing 787-8 hibah dari induk perusahaan mereka.
Sambutan karyawan atas penerbangan perdana Zipair Tokyo. Foto: @AirportWebcams
Pemilihan rute ke Bangkok dinilai sebagai satu keputusan tepat, mengingat antara Jepang dan Thailand memiliki interaksi bisnis cukup kuat di berbagai sektor, mulai dari industri otomotif, dimana komponen mobil atau sparepart banyak dipasok dari Thailand, hingga ekspor hasil laut Jepang yang sangat diminati di Thailand. Tak hanya itu, dalam segmen LCC, Zipair Tokyo juga digadang-gadang sebagai satu-satunya maskapai berbiaya rendah yang mengoperasikan rute penerbangan menuju Bangkok, Thailand.
Berbanding terbalik dengan rute ke Thailand, rute ke Korea (Seoul) persaingan diprediksi akan lebih ketat, mengingat di sana terdapat lima maskapai berbiaya rendah yang sudah terlebih dahulu ada, mulai dari Air Seoul, Eastar Jet, Jeju Air, Jin Air, hingga T’way Air. Rute ‘neraka’ tersebut rencananya akan mulai dijajaki Zipair Tokyo mulai 1 Juli 2020.
Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun
Selain pangsa pasar Asia, Zipair Tokyo juga sudah mempersiapkan diri untuk bermain di ceruk pasar besar di Amerika Utara, salah satunya rute Tokyo-Las Vegas. Saat ini, pihak maskapai tengah mempersiapkan amunisi sebelum mulai berjuang di rute tersebut dengan memberi para pilot kesempatan lebih terkait jam terbang. Singkatnya, pilot tengah dipersiapkan untuk penerbangan jarak jauh. Belum jelas kapan rencana tersebut akan terealisasi.
Meskipun hanya berhasil menerbangkan penerbangan hanya kargo dan sempat molor selama tiga pekan dari rencana semula, keberhasilan Zipair Tokyo sebagai maskapai LCC pendatang baru tentu menarik perhatian banyak pihak. Sebab, hal itu dilakukan saat maskapai lain tengah mengalami kesulitan keuangan dan mengurangi banyak penerbangan akibat wabah corona. Bahkan, beberapa dari mereka tak sedikit berujung bangkrut, seperti Avianca, FlyBe, Thai Airways, hingga LATAM Airlines.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut pihaknya tengah menggodok mekanisme penghapusan aturan mengenakan masker saat di pesawat. Sebagai gantinya, eks Country Manager Cisco Indonesia itu menyebut Garuda Indonesia akan menyiapkan face shield (pelindung wajah) selama di dalam pesawat.
Baca juga: “Bukan PHK,” Inilah yang Terjadi Pada Ratusan Pilot Garuda Indonesia
“Kalau pakai masker kan tidak ketahuan apa dia itu senyum atau bagaimana. Jadi (masker) bisa dibuka dan sebagai gantinya pakai face shield,” katanya kepada wartawan dalam konferensi pers virtual melalui Zoom, Jumat (5/6).
Dalam kesempatan tersebut, pria yang mulai menjabat Dirut Garuda Indonesia pada 22 Januari itu juga mengungkapkan pihaknya juga akan menyediakan safety kit, seperti masker dan lainnya, sebagai buah tangan untuk diberikan ke penumpang.
Tak hanya itu, Irfan juga menyinggung masalah rapid test. Menurutnya, rapid test yang diwajibkan oleh tim gugus tugas percepatan penangan Covid-19 Indonesia kepada seluruh penumpang tentu sejalan dengan keinginan maskapai untuk memastikan hanya orang sehat yang ikut dalam setiap penerbangan flag carrier Indonesia itu.
Hanya saja, lanjut Irfan, tak semua wilayah menyediakan fasilitas tersebut. Oleh karenanya, Garuda Indonesia berinisiatif akan mulai memfasilitasi layanan rapid test ke seluruh penumpang, khususnya di wilayah-wilayah yang tak tersedia fasilitas tersebut.
Akan tetapi, implementasi keduanya, baik rapid test maupun penggunaan face shield sebagai pengganti masker selama di dalam penerbangan, masih harus menunggu waktu implementasinya. Perihal mekanismenya atau SOP-nya, ia juga belum bisa membeberkan lebih jelas. “Tunggu tanggal mainnya. Sedang digodok,” singkat Irfan, saat dikonfirmasi KabarPenumpang.com.
Selain menyinggung masalah rapid test, eks Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia atau PT INTI itu juga menyinggung masalah test polymerase chain reaction (PCR). Menurutnya, tes PCR yang ada saat ini dinilai cukup mahal, berkisar lebih kurang Rp2 juta. Harga tersebut bahkan melebihi harga tiket itu sendiri.
Maka dari itu, tak heran bila ia kemudian mengusulkan agar harga tes PCR bisa diturunkan dan tak lebih mahal dari tarif tiket pesawat. “Kami berharap harganya nanti jangan sampai lebih mahal daripada tiket pesawat,” tutur Irfan.
Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”
Sebagai informasi, Tes PCR merupakan salah satu syarat yang harus dilengkapi penumpang sebelum mereka melakukan perjalanan menggunakan transportasi umum, seperti pesawat, kereta api, bus, maupun kapal guna mencegah penularan virus corona. Syarat ini tercantum dalam Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 Tahun 2020 yang selanjutnya dimutakhirkan dalam Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 5 Tahun 2020 tentang penanganan Covid-19.
Meski dalam aturan itu disebutkan bahwa penumpang bisa memilih alternatif untuk membawa bukti rapid test sebagai pengganti tes PCR, beberapa aturan di daerah berbunyi lain. Ada sejumlah Pemerintah Daerah yang mewajibkan penumpang mengantongi bukti PCR saat akan masuk maupun keluar dari wilayahnya.