Dehidrasi adalah di mana kondisi tubuh seseorang kekurangan cairan dan masalah ini tidaklah boleh dianggap sepele. Apalagi jika tubuh tak terhidrasi dengan baik nyatanya juga bisa menurunkan konsentrasi.
Baca juga: Gogoro Smartscooter, Skuter Listrik Canggih Berbasis Aplikasi Online
Bahkan, tetap terhidrasi juga memainkan peran penting dalam mempertahankan tingkat pencernaan normal dan menurunkan risiko penyakit kronis. Sehingga baiknya sebelum terjadi dehidrasi, Anda harus melepaskan dahaga dengan minum air agar tubuh terhidrasi dengan baik.
Baru-baru ini EQUA menghadirkan sebuah botol air cerdas yang cukup inovatif. Botol air ini merupakan cara baru untuk membantu Anda agar tetap sehat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (1/6/2020), EQUA perusahaan berkelanjutan yang berkomitmen untuk mengubah dunia satu botol air pada satu waktu.
Sebab botol air EQUA memberi cara baru yang revolusioner untuk minum air setiap hari. Uniknya juga botol tersebut dilengkapi dengan sensor yang dipasang untuk melacak gerakan serta mengingatkan Anda untuk minum dengan memancarkan cahaya terang.
Bahkan botol air cerdas juga bisa menghitung berapa banyak air yang harus diminum per harinya dan membuat rekomendasi yang khusus untuk kebutuhan tubuh. Botol air cerdas dibuat dari bahan stainless steel dan benar-benar tidak beracun serta bebas BPA. Botol ganda terisolasi ramah lingkungan ini membuat minuman Anda dingin selama 24 jam dan panas hingga 12 jam.
Desainnya pun ramping dan modern serta dilengkapi dengan pelacak Bluetooth yang didukung oleh baterai yang bisa diisi ulang. Tak hanya itu, aplikasi pelacakan juga bisa merekam pola minum harian penggunanya.
Baca juga: Atasi Risiko Tertabrak Kereta, Inggris Ciptakan Aplikasi “Peringatan” Berbasis LBS
Para pengguna botol air cerdas bahkan memiliki akses ke latihan pernapasan yang ditemukan langsung di aplikasi. Ini bisa membantu meringankan pikiran pengguna ketika membutuhkan istirahat mental. Botol ini bisa dikatakan unik dan membantu hidup pengguna lebih mudah, apa pun gaya hidup pemiliknya. Botol air cerdas EQUA ini seharga US$54,99 atau sekitar Rp795 ribu.
Sejumlah negara sudah mulai melonggarkan kebijakan lockdown. Penerbangan komersial pun juga sudah mulai beroperasi, meskipun dengan berbagai peraturan baru dalam tatanan The New Normal, mulai dari mengosongkan kursi tengah, membatasi ruang gerak penumpang selama di dalam kabin, bahkan menutup fasilitas toilet.
Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat
Sederet peraturan di atas merupakan rekomendasi Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Dalam rekomendasi terbarunya, sebagaimana diberitakan BBC Internasional, lembaga yang berbasis di Montreal, Kanada itu meminta kepada negara-negara di dunia untuk mengikuti pedoman tersebut. Sehingga, meskipun masih dibayang-bayangi keberadaan Covid-19, industri penerbangan mulai dapat kembali beroperasi secara aman.
Di Indonesia sendiri, rekomendasi ICAO terkait membatasi akses atau bahkan menutup fasilitas toilet dalam pesawat pun menjadi heboh. Dalam penerbangan 30-60 menit mungkin toilet bisa saja ditutup. Namun, lebih dari itu, sudah barang tentu tidak semua orang bisa menahan hasrat untuk buang air besar (BAB).
Padahal, sebelum rekomendasi tersebut sampai di Indonesia (atau bahkan dirilis ICAO), India justru sudah sejak pekan keempat di bulan Mei mulai menyiapkan payung hukum untuk melaksanakan aturan baru The New Normal berupa membatasi akses atau bahkan menutup fasilitas toilet dalam pesawat.
Tak hanya itu, seperti yang sudah diberitakan KabarPenumpang.com sebelumnya, India juga menetapkan langkah-langkah lain yang perlu dilakukan maskapai penerbangan, guna meminimalisir potensi penyebaran Covid-19, mulai dari hanya mengizinkan sepertiga dari keseluruhan maskapai, menyarankan bagi wanita hamil dan penumpang dalam kondisi sakit baiknya tidak bepergian, hingga memperbolehkan penumpang hanya membawa satu tas kabin.
Kemudian, otoritas bandara di India juga hanya memperbolehkan penumpang yang check-in melalui website masuk ke bandara. Bahkan, penumpang yang berasal dari zona merah tidak diizinkan masuk bandara apalagi bepergian dengan pesawat.
Kebijakan-kebijakan di atas melengkapi sederet kebijakan sebelumnya yang terlebih dahulu diumumkan otoritas bandara India, mulai dari wajib bermasker, mencuci tangan, memakai face shield, tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan yang dibawa sendiri selama di dalam pesawat, surat keterangan sehat dan bebas Covid-19 dari lembaga kesehatan yang ditunjuk, pengecekan suhu tubuh dan status tempat tinggal melalui aplikasi Aarogya Setu, mengosongkan kursi tengah, hingga menghindari aktivitas berlebih di pesawat selama dalam penerbangan.
Baca juga: Cepirit Saat di Moda Transportasi? Ini Ternyata Penyebabnya!
Selain heboh akibat rekomendasi membatasi akses atau bahkan menutup fasilitas toilet dalam pesawat, publik di Indonesia juga pernah heboh dengan larangan menelepon dan berbicara di Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Padahal, di Singapura, kebijakan tersebut sudah lebih dahulu dimulai sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19 di transportasi umum di bawah tatanan The New Normal.
“Para penumpang harus menggunakan masker dan tidak berbicara satu sama lain untuk mencegah droplet. Penumpang juga tidak boleh berbicara di ponsel, dengan demikian mereka bisa menghindari penyebaran droplet ketika berada di ruang tertutup,” ujar Wong yang dikutip KabarPenumpang.com dari todayonline.com (2/6/2020).
Pesawat penumpang di masa pandemi Covid-19 ini sangat dibatasi dan banyak maskpai yang mengurangi ataupun menutup sementara penerbangan mereka. Meski begitu barang-barang kebutuhan atau logistik tetaplah berjalan dan pengiriman melalui udara pun masih terus berlangsung.
Baca juga: Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik
Seperti PT Angkasa Pura Logistik yang meluncurkan layanan air freight pada Kamis (4/6/2020) kemarin sebagai upaya untuk memperkuat bisnis perusahaan dan konektivitas logistik di Indonesia. Anak perusahaan PT Angkasa Pura I (AP I) ini bekerja sama dengan Pelita Air Service sebagai mitra penyedia penyewa pesawat freighter.
Uniknya seremoni peluncuran perdana layanan ini dilakukan secara virtual di dua tempat yakni oleh Direktur AP I Faik Fahmi di Kemayoran, Jakarta dan Dirut PT AP Logistik Danny P Thaharsyah di Bandara Syamsyudin Noor Banjarmasin dan juga dihadiri oleh Plt Dirut Pelita Air Service Muhammad Priadi. Peluncuran layanan perdana ini lepas landas dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menuju ke Bandara Juanda Surabaya.
“Di tengah pandemi Covid-19 ini, operasional sarana transportasi umum yang mengangkut penumpang, termasuk sarana transportasi udara, cukup dibatasi untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, melalui anak perusahaannya, Angkasa Pura I berupaya mendorong kinerja bisnis kargo yang pada masa pandemi ini penurunannya tidak terlalu dalam seperti trafik penumpang. Hal ini juga merupakan komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap pewujudan penguatan konektivitas logistik di Indonesia,” ujar Faik Fahmi yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (4/6/2020).
Selain itu, dalam jangka panjang, mengutip data Mondor Intelligence Reports 2019, bisnis air freight di Indonesia diproyeksikan mencapai peningkatan sebesar 110 persen sejak 2018-2024 dari US$9,21 miliar menjadi US$19,3 miliar dengan total volume pasar air freight diprediksi untuk terus bertumbuh sebesar 26 persen hingga 2023 dan pengiriman rute domestik mencapai 52 persen dari total pasar air freight.
“Angkasa Pura Logistik berupaya menangkap dan memanfaatkan potensi pertumbuhan bisnis air freight di Indonesia yang cukup tinggi itu melalui peluncuran layanan air freight,” ujar Danny.
Pada tahap awal, lanjut Danny, layanan air freight ini didukung dengan armada 2 pesawat ATR 72-500 yang disewa dari Pelita Air dan kemudian akan terdapat penambahan satu pesawat Boeing 737-300 untuk peningkatan efisiensi pelayanan. Ketiga armada udara ini melayani jenis pengiriman kargo umum dan kargo khusus seperti produk laut, produk berbahaya (dangerous good) dan produk dengan ukuran berlebih (oversized cargo) dengan rute ke sepuluh kota yang terdiri dari sembilan domestik dan satu internasional.
Adapun sepuluh kota tersebut yaitu Jakarta, Denpasar, Makassar, Kendari, Ambon, Banjarmasin, Balikpapan, Manado, Batam dan Singapura. Dua pesawat ATR 72-500 yang memiliki kapasitas kargo 8.200 kg melayani dua rute, yaitu Jakarta-Batam-Jakarta-Banjarmasin-Balikpapan-Jakarta dan Makassar-Manado-Makassar-Ambon-Kendari-Makassar. Sedangkan pesawat Boeing 737-300 yang memiliki kapasitas katgo 15 ribu kg nantinya akan melayani rute Makassar-Singapura-Denpasar-Jakarta-Makassar.
Baca juga: Update PSBB, ASDP Layani 688.836 Unit Truk Logistik di 7 Cabang Utama
“Diluncurkannya layanan air freight Angkasa Pura Logistik ini melengkapi portofolio bisnis logistik perusahaan di mana sebelumnya portofolio bisnis logistik perusahaan mencakup bisnis forwarder, ekspedisi muatan pesawat udara (EMPU), merchandise distribution center, total baggage solution dan warehouse. Diharapkan dengan makin lengkapnya layanan logistik perusahaan dapat meningkatkan daya saing dan bisnis perusahaan serta dapat berkontribusi terhadap peningkatan konektivitas, aksesibilitas, dan efektifitas logistik nasional,” kata Danny.
Terbang dengan pesawat milik maskapai Singapore Airlines (SIA), Anda akan dilayani oleh para pramugari yang wajahnya tampak segar dan natural meski menggunakan riasan. Apakah Anda penasaran bagaimana kulit mereka terlihat bersih dan segar?
Baca juga: Ini Kata Pramugari Singapore Airlines Tentang Ketatnya Proses Seleksi!
Ternyata banyak hal yang dilakukan oleh pramugari SIA untuk mendukung dalam menjaga kulit mereka agar terlihat prima. Berikut beberapa rahasia kecantikan pramugari SIA yang dirangkum KabarPenumpang.com dari herworld.com (1/6/2020).
#1 Memilih makanan yang tepat
Tidak banyak studi tentang makanan dapat mempengaruhi kulit, tetapi diperkirakan beberapa makanan seperti cabai, coklat atau yang berminyak tidaklah terlalu baik untuk kulit wajah. Sedangkan untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi kulit, pramugari SIA merawat kulit dengan minuman kolagen, pil tabir surya dan makanan dengan antioksidan yang tinggi.
#2 Pakar kecantikan
Tidak hanya mengkonsumsi makanan sehat, pramugari SIA juga sesekali mengunjungi pakar kecantikan untuk memanjakan wajah mereka. Dengan bantuan teknik dan alat yang tepat bisa mengecilkan pori-pori yang membesar dan perawatan hingga ke kulit bagian dalam. Biasanya mereka pergi satu kali dalam sebulan atau satu kali dalam dua bulan.
#3 Makeup berbahan skincare
Pramugari akan memilih makeup seramah mungkin pada kulit bahkan punya kandungan yang seperti skincare dan kebanyakan produk water-based. Sedangkan untuk lipstik mereka lebih suka menggunakan produk dengan kandungan baik seperti argan oil untuk menambah kelembapan bibir. Mereka juga memilih menggunakan lip balm sebagai dasar sebelum lipstik dipoles pada bibir untuk memberikan kelembapan.
#4 Exofiliate secara rutin
Begitu banyak paparan udara kering di kabin, kulit cenderung membentuk lapisan yang bisa menyebabkan tiga masalah, yakni pori-pori tersumbat, permukaan kasar, dan skincare tak menyerap sebagaimana mestinya. Exfoliate kulit setidaknya seminggu sekali untuk mengangat sel kulit mati jadi satu perawatan yang tak bisa ditawar. Anda bisa menggunakan scrub atau produk dengan kandungan AHA maupun BHA.
#5 Skincare sesuai cuaca
Produk skincare yang dibutuhkan selama musim dingin di Eropa bisa sangat berbeda dengan saat musim liburan di Maladewa. Karenanya, memeriksa cuaca sangat penting untuk tahu produk skincare apa yang mesti dibawa. Metode ini tak membuat Anda harus membeli semua produk saat mau berpindah. Beberapa di antaranya masih bisa dipakai lagi dalam cuaca apapun, seperti pelembap.
#6 Memanjakan kulit
Terpapar udara kabin yang kering, kelelahan hingga jet lag nyatanya berdampak buruk pada kulit. Nah untuk mengatasi ini, pramugari ISA bisa memanjakan kulit mereka dengan masker wajah yang diformulasikan agar sesuai untuk penggunaan sehari-hari. Penggunaannya minimal satu kali dalam seminggu.
#7 Kulit terhidrasi dengan baik
Udara kabin biasanya didehididifikasi yang artinya pengeringan untuk kulit. Memastikan bahwa ada cukup banyak kelembaban di kulit, dan bahwa itu dilindungi dari kehilangan air trans-epidermal (berarti air yang hilang melalui kulit) akan sangat membantu dalam mencegah kulit dehidrasi.
#8 Tabir surya adalah suatu keharusan
Tergantung pada penerbangan, beberapa penerbangan mungkin mengalami lebih dari 12 jam siang hari dan dengan banyak paparan sinar matahari, perlindungan terhadap kerusakan UV sangat penting.
Baca juga: Ini Dia! Tips Cantik ala Pramugari#9 Hapus makeup
Tidak masalah apakah itu jam 02.00 pagi di New York atau jam 06.00 sore di London, selama pramugari SIA berencana untuk pergi tidur, makeup harus dihapus sepenuhnya. Tergantung pada waktu penerbangan, pramugari SIA mungkin telah memakai riasan hingga 16 jam sebelum mereka mencapai hotel dan tidak peduli seberapa lelah mereka, mereka selalu membuat titik untuk menghapus riasan mereka sehingga kulit dapat bebas dari kotoran.
Insiden di pesawat memang tak pernah diinginkan siapapun, baik penumpang, kru, maskapai, atau bahkan regulator. Namun, ketika itu terjadi perlengkapan atau peralatan pendukung harus sudah tersedia, termasuk saat terjadi sebuah kebakaran. Bila penumpang dilengkapai masker oksigen, maka, awak kabin dan kru kokpit dilengkapai oleh Protective Breathing Equipment (PBE).
Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran
PBE sendiri adalah alat pelindung diri berupa stadiumpod pribadi yang dirancang untuk melindungi awak pesawat dari asap, karbon dioksida, gas berbahaya, dan kurangnya oksigen akibat adanya kebakaran di pesawat, sambil melakukan upaya memadamkan api.
Secara fungsi, sebetulnya PBE dan masker oksigen penumpang sama saja. Keduanya sama-sama menyuplai oksigen untuk pengguna. Dari segi durasi, keduany juga memiliki sama-sama hanya mampu menyuplai oksigen selama 15 menit. Tetapi, dari segi desain dan perlindungan, keduanya memiliki perbedaan drastis.
Dikutip dari essexindustries.com, masker oksigen penumpang umumnya hanya melindungi mulut dan hidung (pernapasan). Adapun PBE lebih dari itu. Selain dapat melindungi pernapasan, PBE juga dapat melindungi mata dan wajah secara keseluruhan. Hal itu dimungkinkan berkat desain PBE yang menyerupai helm astronot, dimana PBE menutup semua bagian atas, mulai dari kepala sampai ujung leher. Visibiliti pengguna juga cukup memadai, mencapai 270 derajat.
Sebelum digunakan, awak pesawat harus memastikan terlebih dahulu alat tersebut berfungsi atau tidak. Caranya, mudah, cukup melihat tanda berupa lampu indikator yang terletak di tak jauh dari posisi mata di sebelah kiri. Bila lampu indikator berwarna hijau, berarti alat tersebut berfungsi. Selain itu, lampu indikator berwarna hijau juga menandakan bahwa stok oksigen masih aman.
Sebaliknya, ketika lampu indikator berwarna merah, berarti stok oksigen di PBE sudah menipis dan harus segera keluar dari tempat berbahaya. Pasalnya, PBE akan mengalami disfungsi dalam beberapa kondisi tertentu, seperti disimpan di tempat yang kering dan umur penggunaan yang sudah bertahun-tahun.
Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan
Mengingat fungsi dan kegunaannya sebagai bagian dari prosedur kesalamatan dan keamanan penerbangan, PBE digunakan hampir 90 persen oleh maskapai di AS. Letaknya pun juga harus se-strategis mungkin, bersama dengan perlengkapan pendukung lainnya, seperti portable oxygen, oxygen mask, alat pemadam portable, serta survival kit. Tak hanya digunakan maskapai penerbangan, berbagai perusahaan bertaraf internasional pun juga selalu menyediakan PBE sebagai salah satu prosedur evakuasi.
Dilihat dari bentuk dan fungsinya, sebetulnya, PBE bisa saja difungsikan sebagai penangkal virus corona. Selain menyediakan oksigen mandiri, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi Essex Industries tersebut juga mampu melindungi pengguna dari droplet atau bahkan airborne virus corona yang notabene dapat menular lewat percikan yang terhirup oleh hidung atau percikan yang Covid-19 ke mata.
Ingin pergi berlibur tapi masih dalam kuncian karena pandemi virus corona atau Covid-19? Sepertinya untuk secara nyata saat ini belum bisa dilakukan untuk semua orang. Bahkan beberapa taman bermain di beberapa negara pun mengajak pengunjungnya berwisata secara virtual yakni dengan melihat video yang di tampilkan di berbagai lini media sosial.
Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan
Namun ternyata tak hanya itu, Museum Kereta Api Nasional York atau York’s National Railway Museum (NRM) di York, Inggris justru membagikan sepuluh gambar poster yang mempromosikan tujuan-tujuan indah termasuk Cornwall, pantai Yorkshire dan Irlandia Utara. Serangkaian poster dengan tema vintage bahkan di desain dengan slogan yang mendorong pelancong untuk menahan diri dari mengunjungi tempat wisata sampai Covid-19 benar-benar lenyap.
National Railway Museum and Science and Society Picture Library/PA WireKabarPenumpang.com melansir laman independent.co.uk (8/5/2020), rangkaian poster vintage ini awalnya dibuat hanya untuk mendorong masyarakat melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi tersebut menggunakan kereta api. Sayangnya ketika pandemi terjadi, akhirnya pihak museum mendesain ulang poster dengan tambahan slogan seperti “Kunjungi saat semua ini berakhir”, “Tidak berenang hari ini” dan “Suatu hari segera, tetapi tidak hari ini”.
“Pada saat pembatasan perjalanan yang meluas, kami berharap bahwa menciptakan kembali pilihan poster perjalanan paling populer akan memungkinkan orang untuk menikmati beberapa tujuan liburan favorit mereka sambil merayakan gaya dan keunikan dari karya seni ini,” kata Judith McNicol, direktur NRM.
National Railway Museum and Science and Society Picture Library/PA Wire
McNicol mengatakan, ini juga merupakan cara mereka untuk menunjukkan dukungan kepada para pekerja utama bangsa termasuk lebih dari 115 ribu pekerja kereta api yang terus menjaga (infrastruktur) semuanya selama masa pandemi ini. Dia menambahkan bahwa sementara orang tidak dapat mengunjungi lokasi-lokasi indah di akhir pekan libur kali ini.
“Kami berharap, poster-poster yang ditata ulang ini dapat mengangkat senyum dan memberi orang sesuatu untuk dinanti-nantikan ketika lockdown dibuka,” tambah McNicol.
Baca juga: “1940s Weekend Railway at War,” Cara Edukasi dan Nostalgia Sejarah Kereta ala Britania Raya
Saat ini, industri perkeretaapian menyatakan yang boleh bepergian hanya para pekerja atau hanya pada orang yang berkebutuhan penting. Selain itu, juga harus tetap menjaga jarak sosial. NRM sendiri telah ditutup untuk umum sejak 17 Maret 2020 lalu. Diketahui ada 10.700 poster dan karya seni kereta api lainnya berasal dari tahun 1804 hingga hari ini yang menjadi koleksi NRM.
Presiden Emirates Sir Tim Clark memprediksi akan ada lebih banyak maskapai bangkrut di akhir tahun mendatang. Hal itu dikarenakan industri penerbangan global masih belum akan kembali ke kondisi normal, seperti sebelum adanya wabah Covid-19.
Baca juga:Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak
“Saya harus memberitahu bahwa akan ada korban (maskapai bangkrut). Kami (maskapai) tidak bebas dari ini (ancaman kebangkrutan). Pada akhir tahun, akan ada lebih banyak korban. Orang-orang tidak akan bisa bertahan, bahkan dengan suntikan ekuitas, dana talangan, dan lain sebagainya mereka masih akan tetap dalam kesulitan, masih jauh dari harapan (untuk menghindari kebangkrutan),” katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Aviation Week belum lama ini, sebagaimana dilaporkan Simple Flying.
“Jika (krisis) terus berlanjut, semua dana talangan yang diterima semua orang (maskapai) akan lenyap. Jika (anjloknya industri penerbangan) berlangsung selama dua atau tiga bulan lagi, mereka bisa memerlukan paket dana talangan lain,” tambahnya.
Dalam catatan presiden yang juga lulusan ekonomi dari University of London tersebut, maskapai penerbangan Eropa sejauh ini sudah maupun akan menerima paket stimulus dari pemerintah masing-masing dengan total sebesar US$33,7 miliar atau sekitar Rp477 triliun (kurs 1 dollar – Rp14.150). Maskapai penerbangan di AS juga demikian. Setidaknya sebanyak US$25 miliar atau Rp354 triliun telah dikucurkan pemerintah sebagai bentuk pelaksanaan dari UU CARES. Namun, tetap saja itu tidak akan cukup.
Kembali lagi, bila industri penerbangan masih tak juga bergerak naik, lanjut Clark, hanya sedikit pemerintah mana pun di dunia yang sanggup untuk merogoh kocek lebih dalam lagi (per dua atau tiga bulan) untuk mencegah maskapai nasional mereka bangkrut. Bila kondisi seperti ini bertahan setidaknya tiga tahun, sebagaimana prediksi banyak pengamat penerbangan global, artinya pemerintah harus menggelontorkan uang hingga jilid ke-12 (asumsi tiga bulan sekali maskapai butuh paket stimulus dan berlangsung selama tiga tahun).
Tak hanya maskapai, dalam pandangan pria 70 tahun yang telah menjabat Presiden Emirates Airlines sejak 2003 lalu itu, unit bisnis lain di industri penerbangan global juga akan terkena imbasnya, mulai dari produsen seperti Airbus dan Boeing sampai lessor.
Terbukti, Airbus dan Boeing, selain telah mengurangi kapasitas produksi, mereka juga telah mem-PHK ribuan karyawan di berbagai pabrik di seluruh dunia. Lessor pun demikian, dengan ketidakmampuan maskapai dalam membayar kredit akibat bangkrut atau manajemen keuangan yang mengharuskan mereka menahan cadangan uang cash, membuat perputaran uang di tubuh lessor kacau. Pada akhirnya mereka juga akan terkena imbas dari musibah ini.
Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi
Senada dengan Clark, CEO Wizz Air, Jozsef Varadi justru memandang persoalan industri penerbangan global lebih rinci lagi. Menurutnya, maskapai akan terkategorisasi menjadi tiga bagian akibat wabah virus corona ini.
“Saya juga berpikir bahwa, mengingat situasi saat ini, Anda mungkin akan melihat maskapai penerbangan terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, maskapai penerbangan yang akan diakuisisi oleh pemerintah. Kedua, maskapai yang dapat menyortir diri mereka sendiri seperti kita (Wizz Air) dan dapat bertahan serta bergerak maju. Ketiga, akan ada maskapai yang terjebak dan kemudian akan bangkrut,” kata bos maskapai Hungaria tersebut.
Presiden Amerika Donald Trump resmi melarang maskapai Cina masuk ke Amerika Serikat (AS) mulai 16 Juni mendatang. Bila perang dagang antara AS-Cina pada umumnya dimulai lebih dahulu oleh AS, kali ini kronologinya berbeda. Larangan maskapai Cina masuk AS disebut sebagai langkah balasan dari larangan serupa yang dialami oleh dua maskapai AS oleh Cina.
Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker
“Departemen Transportasi Amerika Serikat menanggapi lambannya Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (Cina) untuk mengizinkan maskapai penerbangan AS dalam melaksanakan sepenuhnya hak bilateral mereka, yakni melakukan layanan penerbangan berjadwal dari dan ke Cina,” kata Kementerian Perhubungan (Kemenhub) AS, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Simple Flying.
“(AS) menangguhkan operasional penumpang berjadwal dari semua maskapai penerbangan Cina dari dan ke Amerika Serikat. Kebijakan ini akan berlaku efektif mulai tanggal 16 Juni 2020,” tambah, bunyi keterangan dalam pernyataan tersebut.
Dengan kebijakan tersebut, praktis, empat maskapai Cina, yang notabene mempunyai rute berjadwal ke AS akan terdampak, mulai dari Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Xiamen Airlines.
Air China saat ini mengoperasikan rute segitiga yang membentang dari Beijing-Los Angeles-Tianjin-Beijing. Rute ini hanya beroperasi seminggu sekali. Demikian juga dengan China Eastern Airlines di rute Shanghai-New York (JFK), China Southern rute Guanzhou-Los Angeles dengan Airbus A380nya, dan Xiamen Airlines di rute Xiamen (XMN)-Los Angeles yang kesemuanya memiliki penerbangan berjadwal sebanyak sepekan sekali.
Tak hanya itu, dua maskapai Cina lainnya yang tengah mengajukan penerbangan berjadwal ke Kemenhub AS otomatis juga gagal terbang. Dua maskapai tersebut, Hainan Airlines dan Sichuan Airlines, diketahui akan mulai membuka penerbangan, masing-masing dari dan ke Hainan-Boston dan Hainan-Seattle serta rute Sichuan-Los Angeles mulai 1 Juli mendatang.
Baca juga: China Eastern Klaim Jadi Maskapai Terbesar di Dunia
Kronologi kebijakan larangan terbang yang diberlakukan AS untuk maskapai Cina sebetulnya masih belum begitu jelas. Namun, diketahui, sejak 22 Mei lalu, pemerintah AS memang telah mulai mewajibkan empat maskapai penerbangan asal Cina (Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Xiamen Airlines) untuk mengajukan jadwal penerbangan ke Kemenhub AS. Langkah itu dilakukan sebagai balasan atas upaya Cina menghalangi masuknya dua maskapai AS, United Airlines dan Delta Air Lines. Namun, belum jelas sejak kapan dua maskapai besar AS itu mulai dipersulit masuk ke Cina.
Dengan diberlakukannya larangan terhadap maskapai Cina dan AS, pengamat penerbangan global memang masih menghitung siapa yang paling dirugikan atas kebijakan tersebut. Namun, yang pasti, dengan masih maraknya wabah corona di AS dan sudah mulai menurunnya wabah corona di Cina, besar kemungkinan, maskapai AS akan lebih dirugikan. Selain itu, dalam upaya recovery, pekan lalu, diketahui frekuensi penerbangan penumpang maskapai Cina melebih jumlah penerbangan penumpang maskapai AS.
Bandara-bandara dunia kini mulai kembali membuka penerbangan domestik maupun internasional. Namun, bagaimana kesiapan bandara-bandara dalam menghadapi penumpang? Sementara pandemi Covid-19 belum juga berakhir.
Baca juga: “The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly
Mengikuti standar yang ditetapkan oleh WHO, semua bandara kini menerapkan langkah-langkah khusus untuk penumpang yang akan bepergian, salah satunya adalah Bandara Zurich di Swiss yang menerapkan langkah unik untuk keselamatan calon penumpang.
Persisnya Bandara Zurich bekerja sama dengan Selecta untuk mengadirkan mesin penjual masker otomatis. Kehadiran mesin ini untuk memudahkan penumpang yang lupa atau tidak membawa masker dari rumah, sehingga bisa membelinya dari mesin penjual otomatis tersebut.
Selain itu juga, bandara menghadirkan robot pembersih ruang ekstra untuk pelancong ketika mengantri di keamanan, konter check in dan gerbang keberangkatan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (29/5/2020), tak hanya bandara yang bersiap, melainkan Lufthansa unit Swiss Internasional dan Edelwiss Air berencana meningkatkan layanan mereka dalam beberapa minggu ke depan ketika pembatasan mulai dibuka kembali bulan depan.
Maskapai-maskapai ini telah bekerja sama dengan Flughafen Zuerich, layanan darat pakaian Swissport dan polisi bandara tentang langkah-langkah keselamatan untuk mematuhi pedoman otoritas kesehatan federal. Operator bandara mengatakan, langkah-langkah lainnya adalah membersihkan pegangan tangan, troli barang, menghadirkan ratusan pembersih tangan dan panel Plexiglas di semua meja.
Bandara Zurich juga menghadirkan ruang ekstra yang lebih luas untuk menghindari terbentuknya keramaian di pos pemeriksaan keamanan bahkan konter pengecekan paspor akan beroperasi sebanyak mungkin. Hal ini dilakukan untuk membantu memastikan jarak fisik atau physical distancing terlaksana dengan baik.
Sementara dari pihak maskapai, yaitu Swiss International Air Lines mendesak para penumpang untuk menutupi hidung dan mulut mereka di penerbangan. Selain meningkatkan pembersihan kabin, maskapai plat merah ini akan memberikan tisu disinfektan kepada penumpang dan menangguhkan layanan dalam pesawat seperti handuk panas dan penjualan bebas bea. Mereka juga tidak berencana untuk membiarkan kursi tengah kosong.
Baca juga: Bandara Tribhuvan Punya Dua Robot yang Bisa Memandu dan Menghibur Penumpang
“Secara komersial tidak ada maskapai yang mampu membiarkan 40 persen kursi di atas kapal kosong. Selain itu, membiarkan kursi tengah kosong tidak menjamin jarak sosial berdasarkan aturan saat ini,” Chief Operating Officer Swiss Thomas Frick.
Di awal kemunculan penerbangan jet komersial di tahun 50-an, maskapai penerbangan, seperti Pan Am, United Airlines, dan Qantas, umumnya diisi oleh orang-orang berduit, dengan setelan berupa jas. Sebab, kala itu, tiket pesawat masih mahal. Jelang tahun 80an, barulah era pesawat komersial dengan harga murah dimulai. Bila sebelumnya kabin pesawat dihiasi oleh penumpang dengan setelan berkelas, kini, pemandangan tersebut nyaris 180 derajat berubah.
Baca juga:Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund
Akan tetapi, kekhawatiran kembalinya era seperti itu pun kembali muncul di kalangan pengamat dan pelaku bisnis penerbangan. Faktor-fator pendorongnya (penerbangan kembali mahal karena tiket menjadi mahal) pun banyak, beberapa di antaranya seperti kebangkrutan maskapai yang menyebabkan berkurangnya kompetisi (ogiopoli atau duopoli) hingga keterbatasan armada akibat banyaknya pesawat yang terpaksa pensiun dini.
Selain itu, pada umumnya, maskapai menetapkan harga dan strategi bisnis ke depan (yang pada akhirnya juga mempengaruhi harga) lewat dua hal, by sistem atau manual, sama saat seperti maskapai hendak membuka rute baru.
By sistem, berarti maskapai dibantu menetapkan harga oleh software khusus dengan cara menganalisis waktu keberangkatan , waktu kedatangan, durasi perjalanan favorit penumpang dan mengkombinasikannya dengan data historis, musim, dan indikator atau kecenderungan pasar seperti event, kompetisi pada rute yang sama, dan sebagainya. Celakanya, data dari semua itu kacau dan besar kemungkinan hasil akhir atau rekomendasi harga tiket dari software tersebut juga tak bisa diandalkan.
By sistem tak maksimal, maskapai bisa saja menetapkan harga tanpa bantuan software atau by manual. Biasanya, pakar manajemen harga juga mengkombinasikan berbagai data di atas untuk menetukan harga. Hanya saja, by manual memiliki satu keunggulan, yakni feeling dalam menetapkan harga sesuai kemampuan atau harapan pasar yang tentu saja tak dimiliki oleh software. Namun, tetap saja problem terbesar penumpang saat ini tak melulu terkait harga mahal, melainkan masalah keselamatan (ancaman dari Covid-19).
Dikutip dari BBC Internasional, dengan kondisi tersebut, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi maskapai. Selain harus tetap beroperasi, maskapai juga tak boleh sekedar beroperasi alias harus untung dalam setiap penerbangan. Normalnya, harga tiket mahal akan menekan jumlah penumpang. Begitupun sebaliknya. Tetapi, virus corona telah mengubahnya akibat kekhawatiran penumpang dalam bepergian. Belum lagi berbagai pendapat yang menyebut industri penerbangan akan kembali normal setelah tiga tahun mendatang.
Oleh sebab itu, bila dengan menurunkan harga tiket jumlah penumpang tak juga kunjung meningkat, sebagaimana ketika maskapai menaikkan harga tiket, tentu maskapai akan lebih memilih menaikkan harga tiket. Terlebih, likuiditas juga menuntun mereka untuk menunda ketersediaan tiket murah selama beberapa tahun mendatang.
Baca juga: Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru
Paul Simmons, seorang eksekutif senior maskapai penerbangan yang berpengalaman di berbagai maskapai di seluruh dunia, seperti EasyJet dan Malaysia Airlines, menyebut bahwa kekhawatiran bangkrutnya banyak maskapai di seluruh dunia akan menimbulkan ogiopoli atau duopoli yang pada akhirnya mendorong harga tiket menjadi mahal kemungkinannya kecil. Sebab, menurutnya, saat maskapai bangkrut, maskapai baru akan muncul. Namun, ketika penerbangan tak kunjung kembali normal, maka besar kemungkinan harga tiket akan menjadi mahal.
“Meskipun beberapa maskapai penerbangan pasti akan gulung tikar, yang lain pasti akan meningkatkan untuk mengisi kekosongan. ‘Diskon’ penawaran dan permintaan mungkin membutuhkan waktu, namun, mengarah pada penetapan harga yang lebih tinggi dalam jangka menengah,” katanya.