Ditjen Penerbangan Sipil Minta Maskapai Kosongkan Kursi Tengah Kabin

Direktorat Jenderal (Ditjen) Penerbangan Sipil atau The Directorate General of Civil Aviation (DGCA) meminta maskapai penerbangan untuk membuat kursi tengah agar tetap kosong sehingga membuat jarak sejauh mungkin antar satu penumpang dengan yang lainnya pada Senin (1/6/2020). Namun sebelumnya Menteri Penerbangan Sipil India, Hardeep Singh Puri mengatakan bahwa mempertahankan kursi tengah agar kosong tidak akan memungkinkan bagi maskapai karena tarif akan naik. Baca juga: India Kembali Buka Penerbangan, Pilot yang Lama Tak Terbang Harus “Up To Date” “Jika maskapai penerbangan harus membagikan kursi tengah karena permintaan tinggi, maka ia harus mengatur “peralatan pelindung tambahan” untuk penumpang,” kata DGCA. Untuk itu, regulator meminta maskapai penerbangan untuk menyediakan masker wajah tiga lapis, pelindung wajah dan baju pembungkus atau seperti kostum hazmat dengan standar yang disetujui oleh Departemen Tekstil bagi penumpang yang menempati kursi intervensi dalam kabin pesawat. Diketahui, India mulai kembali membuka penerbangan mereka setelah hampir dua bulan karena penguncian nasional. Penerbangan tersebut untuk domestik dan internasional akan dibuka sebelum Agustus. KabarPenumpang.com melansir livemint.com (1/6/2020), dalam penerbangan yang kini kembali dibuka, tidak akan ada lagi makanan dan minuman yang disediakan dalam kabin kecuali dalam keadaan genting. DGCA mengatakan, penumpang yang masuk dan keluar pada penerbangan harus berurutan atau penumpang tidak lagi diperkenankan untuk buru-buru ketika pesawat mendarat dan pintu dibuka. Pihak regulator juga mengatakan, persediaan di pesawat harus dibersihkan dan disanitasi selama perjalanan. Kemudian ketika penumpang sudah tidak ada di dalam kabin, seluruh bagian pesawat harus disanitasi setiap sudutnya. Bahkan ketika pesawat melakukan penerbangan transit, maskapai juga bisa membersihkan kursi yang dikosongkan. “Sabuk pengaman dan semua titik yang titik kontak lainnya harus dibersihkan secara menyeluruh. Pada akhirnya setiap pesawat harus dibersihkan dengan mendalam,” saran regulator. Selain memperhatikan penumpang, maskapai juga harus melakukan pemeriksaan kesehatan semua kru secara teratur dan ketika bertugas, semua awak kabin harus diberi pakaian pelindung lengkap. Dalam kasus darurat COVID-19 di dalam pesawat, maskapai harus mendisinfeksi semua kursi yang terkena dampak dan bersebelahan. Ditjen Penerbangan Sipil meminta otoritas bandara dan perusahaan penerbangan untuk mengeksplorasi kemungkinan memiliki terowongan desinfeksi untuk memastikan keselamatan penumpang. Tapi implikasi kesehatan dari terowongan desinfeksi harus dievaluasi sebelum implementasi. DGCA menyebutkan, pedoman yang sebelumnya ditentukan oleh regulator dan kementerian penerbangan sipil akan tetap berlaku dengan arahan tambahan ini. Sedangkan regulator penerbangan mengatakan, aturan baru akan mulai berlaku mulai 3 Juni 2020. Setelah wabah virus corona di negara itu, Kementerian penerbangan sipil merilis seperangkat pedoman baru di mana penumpang perlu mencapai bandara setidaknya dua jam sebelum jadwal keberangkatan. Hanya penumpang dengan konfirmasi check in web yang diizinkan untuk memasuki terminal bandara. Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat Kementerian penerbangan sipil menambahkan bahwa tidak akan ada check in fisik di loket. Penumpang harus berjalan kaki melewati zona penyaringan panas sebelum memasuki gedung terminal bandara. Masker dan sarung tangan adalah wajib untuk semua. Hanya asimptomatik yang akan diizinkan bepergian. Semua penumpang harus menginstal aplikasi Aarogya Setu di ponsel mereka kecuali anak-anak di bawah usia 14 tahun dan hanya satu tas check in yang diizinkan.

Indonesia Pertimbangkan Undang Cina dan Jepang untuk Bahas Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Menteri Ekonomi Airlangga Hartanto setelah pertemuan kabinet dengan Presiden Joko Widodo pada hari Jumat (29/5/2020) mengumumkan bahwa Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengundang perusahaan-perusahaan Jepang dalam integrasi jalur kereta api cepat yang akan mereka bangun dari Jakarta ke Surabaya. Nantinya pembangunan kereta cepat Jakarta ke Surabaya ini akan menggunakan skema milik Cina dengan dana $6 miliar seperti pembangunan dari Jakarta menuju Bandung. Baca juga: Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021 “Agar lebih ekonomis menurut presiden, proyek kereta api Jakarta – Bandung tidak hanya berakhir di Bandung tetapi terus ke Surabaya,” ujar Airlangga yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman globalconstructionreview.com (1/6/2020). Dia menyebutkan tidak akan ada pembatalan proyek kereta cepat Jakarta ke Surabaya melainkan akan diintegrasikan ke dalam proyek kereta api cepat Jakarta – Bandung. Airlangga menambahkan, bahwa presiden juga mengusulkan konsorsium investor Jepang untuk bergabung dengan konsorsium Indonesia-Cina yang membangun jalur ke Bandung. Airlangga mengatakan ide ini sendiri merupakan bagian dari tinjauan strategis yang lebih luas dari 89 proyek infrastruktur senilai sekitar US$100 miliar yang direncanakan selama empat tahun ke depan yang akan dilakukan setelah pandemi Covid-19. Diketahui, Cina dan Jepang merupakan saingan dalam penawaran untuk kontrak kereta api berkecepatan tinggi. Untuk jalur Jakarta menuju ke Bandung dimenangkan oleh Cina pada 2015 lalu dan Jepang mencapai kesepakatan pada proyek kereta Jakarta ke Surabaya pada September 2019 lalu setelah dua tahun negosiasi. Jalur Jakarta ke Surabaya sendiri diharapkan memasuki layanan pada tahun 2025 mendatang. Baca juga: PT KCIC: Akhir 2019 Progres Kereta Cepat Jakarta-Bandung Ditargetkan Tembus 53 Persen Saat ini diketahui proyek kereta cepat Jakarta ke Bandung menghadapi penundaan satu tahun sebagai akibat dari pandemi virus corona yang melanda dunia. Penundaan ini juga terjadi karena sekitar 300 staf Cina pulang untuk merayakan Tahun Baru Imlek di bulan Februari dan tidak dapat kembali setelah Indonesia melarang penerbangan ke dan dari Cina. Tak hanya itu hubungan para pekerja proyek dari direktur, manajer, insinyur dan konsultan Cina pun menjadi terhambat untuk saat ini.

Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

Lion Group yang terdiri dari Lion Air, Batik Air dan Wings Air, memutuskan untuk melakukan penghentian sementara operasional penerbangan penumpang berjadwal domestik dan internasional, mulai 5 Juni 2020 sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut (until further notice/ UFN). Baca juga: Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara Dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com, keputusan tersebut diambil atas dasar evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya. Catatan mereka, banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara akibat kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akan tetapi, atas dasar penelusuran singkat ke beberapa calon penumpang Lion Air yang gagal terbang, mayoritas dari mereka mengaku sudah melengkapi persyaratan yang sudah ditentukan sebelumnya. Hanya saja, di beberapa kasus, justru terdapat perubahan ketentuan dan pada akhirnya membuat penumpang tersebut tidak masuk klasifikasi terbang. Selain itu, muncul dugaan, bahwa keputusan Lion Group untuk kembali batal terbang saat proses recovery (ditandai dengan bergeraknya kembali lini bisnis di bawah tatanan The New Normal) lebih dikarenakan mereka takut rugi besar. Pasalnya, dengan rendahnya minat penerbangan, praktis, tak ada yang bisa diharapkan dari sebuah penerbangan kecuali rugi. Dalam keadaan normal, pasca lebaran penerbangan akan kembali memasuki fase low season. Bila dalam keadaan normal saja, low season pasca lebaran load factor rendah, bagaimana kondisi tersebut ditambah dengan adanya kekhawatiran calon penumpang terhadap ancaman virus corona? Tentu akan semakin membuat penerbangan sepi peminat. Tak hanya itu, menurut seorang pengamat penerbangan yang tak ingin disebutkan namanya, pemberlakuan PSBB di beberapa wilayah juga membuat kargo ikut sepi. Padahal, di banyak kasus, antara kargo dan penumpang, maskapai justru lebih banyak mendapat revenue dari kargo. Jadi, dengan sepinya penumpang dan kargo, praktis, maskapai tak ada pilihan lain kecuali menunggu ekosistem industri penerbangan kembali normal. “Dugaan saya, mereka ‘pintar’ dengan menunggu ekosistem (penerbangan) terbentuk kembali (normal) dan setelah itu barulah kemudian mereka kembali seperti sediakala,” katanya. Sebagai sebuah perusahaan swasta, tentu Lion Group tak punya kewajiban atau paling tidak tanggung jawab untuk tetap menyediakan moda transportasi udara sekalipun secara kalkulasi atau hitungan di atas kertas, penerbangan ke dan dari manapun dan dengan pesawat apapun akan mengalami kerugian. Singkatnya, masih menurut pengamat tersebut, Lion Group cenderung ‘pintar’ untuk menunggu ekosistem industri penerbangan, baik berurusan dengan kargo maupun penumpang, terbentuk kembali; meskipun perusahaan yang berdiri sejak tahun 1999 tersebut memberikan alasan lain. Hal itu dilakukan guna menghindari kerugian besar. Celakanya, sebagai maskapai dengan market share terbesar (pada tahun 2018 mencapai 51 persen) , langkah Lion Group pada akhirnya dinilai oleh sebagian pengamat menjadi acuan maskapai lainnya untuk mengikuti jejak mereka. Di saat yang bersamaan, Garuda Indonesia, sebagai maskapai BUMN yang memiliki tanggung jawab lain untuk tetap menyediakan moda transportasi udara, ‘dibiarkan’ oleh Lion Group untuk ‘menikmati’ pangsa pasar dengan leluasa. Nantinya, setelah ekosistem industri penerbangan kembali terbentuk, barulah Lion Group memulai kembali operasionalnya, tanpa harus mengeluarkan cost besar untuk proses recovery selama diberlakukannya The New Normal. Menurut seorang pengamat penerbangan lainnya, keputusan ‘pintar’ Lion Group dengan membiarkan Garuda Indonesia melayani sepinya penumpang dipandang sebagai keputusan yang sah-sah saja. Perusahaan swasta pada umumnya memang sudah barang tentu fokus hanya pada sisi bisnis saja. Tetapi, pengamat penerbangan yang juga eks kapten pilot tersebut mengungkap, sebetulnya titik permasalah bukan ada pada Lion Group, melainkan ada pada pemerintah. Dengan market share besar, tentu, langkah Lion Group (dengan alasan apapun) akan sangat berpengaruh dalam upaya menyediakan moda transportasi udara untuk masyarakat. Baca juga: Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi “Persoalannya adalah mengapa pemerintah membiarkan mereka menguasai pasar lebih dari 50 persen. Nah, dalam keadaan normal kalau tiba-tiba mereka berhenti (dengan alasan apapun) maka masyarakat yang menderita dan juga berdampak pada perekonomian. Semoga kedepan pemerintah RI lebih hati-hati dalam menata komposisi penerbangan,” katanya melalui pesan singkat kepada KabarPenumpang.com. “

Grab Minta Pengemudi dan Penumpang Isi Form Pernyataan Kesehatan Sebelum Melakukan Perjalanan

Para pengguna ride hailing saat ini tidak akan bisa duduk di kursi depan penumpang ketika naik mobil. Bahkan salah satunya yakni Grab meminta para penumpang juga harus mengisi keterangan kesehatan dan kebersihan sebelum melakukan perjalanan. Baca juga: Di Singapura, Private Hire Car Bila Beroperasi Dianggap Ilegal dan Kena Denda $10 Ribu Hal ini merupakan serangkaian tindakan pencegahan yang diperkenalkan Grab di Singapura pada akhir bulan ini (Juni 2020-red) untuk menghadapi pandemi Covid-19. Grab mengatakan pihaknya juga memberlakukan jarak yang aman di dalam kendaraan sehingga penumpang tidak diperbolehkan duduk di kursi sebelah pengemudi. “Ini artinya mobil dengan empat kursi hanya akan diisi oleh tiga penumpang,” ujar Grab. Selain itu Grab menyebutkan, pengemudi maupun penumpang bisa membatalkan perjalanan jika salah satu dari mereka tampak tidak sehat atau tidak menggunakan masker. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (3/6/2020), nantinya pihak manapun yang membatalkan perjalanan tidak akan bertanggung jawab atas hukuman apa pun. Terkait persyaratan untuk menyatakan status kesehatan dan kebersihan, Grab mengatakan para pengemudi dan penumpang mengirimkan pernyataan kesehatan mereka setiap hari. “Fitur pernyataan kesehatan dan kebersihan online baru akan mengharuskan semua pengemudi dan mitra pengiriman, serta penumpang, untuk mengonfirmasi bahwa mereka tidak menunjukkan gejala Covid-19, dan telah mengadopsi langkah-langkah keselamatan dan kebersihan yang diperlukan, sebelum mereka dapat mulai mengemudi, mengantarkan pesanan atau memesan tumpangan,” kata Grab. Tak hanya itu, pengemudi dan mitra pengiriman juga akan diminta untuk mengambil selfie menggunakan fitur masker selfie setelah menyelesaikan pernyataan tersebut. “Kami telah memperbarui peringkat dan sistem umpan baliknya untuk memungkinkan pengguna melaporkan masalah terkait kesehatan dan kebersihan,” ujar Grab. Pengemudi dan penumpang yang kedapatan melakukan tindakan pencegahan secara tidak memadai dapat membuat akun mereka ditangguhkan. Kepala operasi regional Grab Singapura, Russell Cohen, mengatakan perusahaan sedang mencari cara untuk menetapkan standar yang lebih tinggi untuk standar higiene dalam perjalanan naik. Perusahaan GoJek dan operator taksi, ComfortDelGro, keduanya mengatakan bahwa mereka juga telah melakukan tindakan, ketika ditanya tentang tindakan pencegahan Covid-19 mereka. Manajer umum GokJek, Lien Choong Luen, mengatakan para pengemudi akan mendapatkan layanan fogging dan sanitasi mobil gratis. Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi Kepala komunikasi korporat grup ComfortDelGro, Tammy Tan, mengatakan armada taksinya memiliki sistem SafeEntry untuk pelacakan kontak. Dia menambahkan bahwa 400 taksi ComfortDelGro sedang dilengkapi dengan perisai plastik di sekitar kursi pengemudi sebagai bagian dari persidangan. Jika berhasil, itu akan diperluas ke lebih banyak armadanya sebagai cara untuk meminimalkan kontak dengan penumpang.

Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Thai Airways dikabarkan menunda permintaan pengembalian dana oleh penumpang (refund). Saat ini, flag carrier Thailand tersebut tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Baca juga: Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona “Karena Thai Airways saat ini sedang menjalani proses rehabilitasi melalui Pengadilan Kepailitan Pusat, dengan menyesal perusahaan harus memberi tahu pelanggan bahwa untuk sementara proses permintaan pengembalian uang (refund) ditunda,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari businesstraveller.com. “Informasi lebih lanjut tentang proses pengembalian dana (refund) dan perkembangan mengenai proses restrukturisasi perusahaan akan disampaikan pada waktunya nanti (jangka waktu yang tidak dapat ditentukan),” tambah, perusahaan. Sebelumnya Thai Airways mengatakan perlu dana sekitar 58 miliar baht, atau senilai 1,8 miliar dolar AS, untuk melakukan restrukturisasi. Namun pemerintah Thailand sekarang mengatakan, prosedur itu terlalu lama. Prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan. “Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut. Sebenarnya, Thai Airways telah terganggu sebelum pandemi virus corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan bertarif rendah yang kian ketat. Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online Bila langkah-langkah restrukturasi pada akhirnya gagal, dapat dipastikan bahwa Thai Airways akan menyusul lima maskapai lainnya yang sudah terlebih dahulu mengalami hal serupa akibat virus corona atau Covid-19. Mulai dari Avianca, Virgin Australia, FlyBe, dan Trans State Airlines. Kendati demikian, pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha, menyebut bahwa kecil kemungkinan maskapai di Asia akan mengalami kebangkrutan. Sentimen nasionalisme dinilai menjadi titik krusial atas hal itu. Menurut pengamat penerbangan yang juga konsultan Aviation & Space Law tersebut, kultur negara-negara di Asia masih melihat isu nasionalisme sebagai suatu hal mutlak, dalam hal ini menyangkut keberlangsungan hidup maskapai flag carrier. Berbeda dengan Eropa yang pada umumnya menyerahkan permasalahan maskapai ke market.

Terobos Area Terlarang, Pria Lansia Kemudikan Van ke Apron dan Runway Bandara Narita

Seorang pria yang mengendarai mobil van nyelonong masuk apron pesawat dan area terlarang lainnya di Bandara Internasional Narita. Dia berada di tempat-tempat tersebut selama 20 menit lamanya pada dini hari 1 Juni 2020 kemarin. Baca juga: Saat Pesawat Lepas Landas, Mobil Van Melaju di Landasan Pacu dengan Tenang Menurut Narita International Airport Corp (NAA), sekitar pukul 00.45 waktu setempat, pria 61 tahun tersebut berhasil menyelinap melalui keamanan di pintu masuk ke sekitaran area kargo dan apron pesawat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (2/6/2020), pria itu lantas berkeliling sejauh 5,4 km melalui zona terbatas yang bisa menimbulkan risiko keselamatan pada keamanan pesawat. Pria lansia itu saat mengitari apron pesawat tampak berada sekitar 200 meter dari taxiway dan 500 meter dari runway bandara. Dia juga berada dalam jarak sepuluh meter dari 21 pesawat yang terparkir di apron. NAA mengatakan pelanggaran itu ebagai insiden yang mengkhawatirkan dan berjanji akan menyelidikinya. Sebenarnya jalan menuju ke gerbang selalu tertutup dan penjaga keamanan memeriksa pengemudi sebelum melintas untuk mengecek apakah mereka memiliki izin yang tepat. Tak hanya itu, petugas keamanan juga melakukan pemeriksaan identifikasi setiap penumpang dan memeriksa kendaraan untuk mencari bahan peledak sebelum masuk ke apron. NAA mengatakan, pria tua itu menggunakan jalur taksi dan celah untuk kendaraan keluar melalui titik-titik keamanan. Diketahui, pria itu menghentikan van-nya di pintu masuk ke area pengiriman dan ditangkap oleh petugas keamanan yang kemudian menyerahkannya ke kantor polisi Bandar Internasional Narita di Prefektur Chiba. Petugas menanyainya karena dicurigai pria tersebut melakukan pelanggaran. “Saya tidak tahu saya tidak diizinkan masuk ke tempat-tempat itu. Saya hanya mengikuti kendaraan di depan saya dan masuk,” katanya seperti dikutip polisi. Saat ini, jumlah penumpang di Bandara Narita anjlok karena pandemi virus corona. Bandara telah menutup landasan pacu “B” dan bagian lain dari fasilitas serta juga menyusutkan operasi keamanannya karena berkurangnya kebutuhan. Baca juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita? Sebelumnya juga ada kendaraan yang melanggar batas bandara pada tahun 1996 silam. Sedangkan pada Oktober 2019 lalu, seorang penumpang masuk ke apron parkir pesawat dan berlari sejauh 350 meter sebelum diamankan.

“Bukan PHK,” Inilah yang Terjadi Pada Ratusan Pilot Garuda Indonesia

Dalam beberapa jam belakangan santer kabar tentang adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada sejumlah pilot Garuda Indonesia. Disebutkan oleh beberapa media nasional, jumlahnya mencapai 150 pilot yang mulai tidak bekerja per 1 Juni 2020. Sementara Direktur Utara Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam keterangannya di awal Maret 2020 menyebutkan, bahwa tidak ada PHK massal di tengah badai virus corona. Lantas apa yang sebenarnya terjadi di tubuh maskapai plat merah ini? Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona” Dampak covid-19 seperti diketahui telah menghujam cukup dalam di sektor penerbangan global, yang mau tidak mau, suka tidak suka, berujung pada efisiensi besar-besar dan pemangkasan jumlah karyawan. Terkhusus dengan di Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis kepada KabarPenumpang.com menyatakan, bahwa lebih tepat apa yang dilakukan manajemen Garuda Indonesia saat ini sebagai penghentian kontrak lebih dini, dimana pilot yang disebutkan adalah yang berstatus pekerja kontrak. “Supaya tidak salah persepsi, mereka dikontrak dari Januari 2018 hingga Desember 2020. Dan akhir bulan Juni 2020 kontrak sudah diselesaikan dengan pembayaran gaji penuh, termasuk gaji periode Juli sampai Desember 2020,” ujar Irfan Setiaputra. Kebijakan Garuda Indonesia adalah penyelesaian lebih awal atas kontrak kerja pegawai dengan profesi penerbang dalam status hubungan kerja waktu tertentu. Melalui penyelesaian kontrak tersebut, Garuda Indonesia tetap memenuhi kewajibannya atas hak-hak penerbang sesuai masa kontrak yang berlaku. Irfan menambahkan, bahwa langkah ini adalah keputusan berat yang harus diambil. Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak Sebelumnya langkah serupa telah dijalankan oleh maskapai papan atas global, Emirates. Maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut telah mengabarkan secara resmi untuk melakukan PHK gelombang pertama, yakni kepada pilot dan awak kabin yang masih dalam pelatihan awal, serta siapa pun yang masih dalam masa percobaan.

Video ini Pastikan Penyebaran Virus Corona Mudah Menjalar Lewat Percakapan

Sebuah video menunjukkan betapa mudahnya virus corona dapat menyebar, bahkan ketika melakukan percakapan dengan orang lain. Video tersebut merupakan simulasi yang menunjukkan orang-orang dalam sebuah gerbong kereta, dimana seseorang digambarkan berwarna merah sebagai ‘penebar’ virus corona. Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan Lalu orang yang berwarna merah tanpa masker tersebut mulai berbicara, yang kemudian menunjukkan bagaimana tetesan kuning (droplet) dilepaskan dari mulut ketika dia berbicara dan ‘menghujani’ orang lain dengan virus. Bisa dikatakan, video simulasi ini menunjukkan betapa mudahnya virus tersebut dapat menyebar karena seseorang tidak perlu bersin atau batuk untuk menularkannya. Saat menggunakan London Underground (kerera komuter) sebagai contoh, tetesan juga bisa mendarat di kursi, tombol, dan gagang kereta. Tetesan yang terinfeksi kemudian dapat dibawa lebih jauh melalui transmisi dari permukaan ke permukaan, seperti memegang pegangan. KabarPenumpang.com merangkum laman express.co.uk (26/5/2020), video simulasi itu juga menunjukkan bagaimana penyebaran virus dapat ditahan dengan menggunakan masker atau penutup wajah. Bahkan jumlah tetesan berkurang secara signifikan saat wajah tertutup masker. Ketika orang terinfeksi virus dan berbicara tanpa masker, sebanyak 109 tetesan berpindah ke wajah dan 495 tetesan mendarat di penumpang lain. Tetapi ketika orang terinfeksi menggunakan masker jumlahnya masing-masing turun menjadi dua dan sembilan tetesan saja. Para peneliti berpendapat bahwa masker yang menutupi wajah menghalangi sebagian besar tetesan terhadap orang lain ketika mereka berbicara, bernafas, batuk maupun bersin. Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini oleh para peneliti di Kanada, menemukan bahwa masker kain sederhana bisa memblokir hingga 99 persen partikel menular. Ini menambah bukti bahwa menggunakan masker di depan umum saat ini sangat baik. Dr Julian Tang, seorang ahli kondisi pernafasan di Universitas Leicester mengatakan, bahwa tetesan yang dihasilkan ketika berbicara tidak menyebar sejauh yang mereka lakukan ketika bersin atau batuk yang dapat menjangkau hingga 22 kaki atau sekitar 6,7 meter. Tapi virusnya masih bisa ditularkan hanya dengan mengobrol terlalu dekat dengan seseorang. “Jika Anda bernapas dan berbicara jelas tetesan tidak melakukan perjalanan sejauh ini, tetapi mereka dapat melakukan perjalanan cukup jauh untuk mempengaruhi teman Anda yang duduk di hadapan Anda, atau seseorang yang mengobrol dengan Anda. Itulah jarak kuncinya. Seberapa jauh tetesan yang terinfeksi harus melakukan perjalanan untuk menginfeksi orang lain?” kata Tang. Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak Berada di luar juga mengurangi risiko infeksi karena virus apa pun yang dilepaskan oleh seseorang yang terinfeksi akan terdilusi oleh angin. Tetapi transmisi masih dapat terjadi di luar ruangan, itulah sebabnya saran resmi otoritas kesehatan di Inggris adalah untuk tetap berjarak dua meter.

Lagi-Lagi Proyek High-Speed Rail Malaysia dan Singapura Ditangguhkan

Lagi, lagi dan lagi, sepertinya kata-kata ini cocok untuk proyek High-Speed Rail (HSR) yang akan dibangun dari Malaysia ke Singapura. Pasalnya pihak Malaysia mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah sepakat dengan Singapura untuk menangguhkan proyek tersebut hingga 31 Desember 2020 mendatang. Baca juga: Proyek High Speed Rail Malaysia-Singapura Ditangguhkan Hingga 31 Mei 2020 “Malaysia telah meminta untuk memperpanjang periode penangguhan untuk memungkinkan kedua belah pihak untuk membahas perubahan yang mereka pikirkan. Kami sedang mempertimbangkan permintaan mereka dengan serius,” Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan mengatakan dalam sebuah posting di halaman Facebook-nya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bangkokpost.com (31/5/2020), Khaw mengatakan bahwa Menteri Senior Malaysia Azmin Ali menulis kepadanya untuk meminta perpanjangan dalam membahas usulan perubahan Malayasia dalam proyek tersebut. Khaw menambahkan, karena setiap perubahan proyek membutuhkan persetujuan pihaknya, maka penangguhan yang diperpanjang akan memungkinkan kedua negara untuk menilai perubahan yang ada dalam pikiran Malaysia. “Dalam semangat kerja sama bilateral, kami telah sepakat untuk perpanjangan akhir dari periode penangguhan hingga 31 Desember 2020. Ini harus menyediakan waktu yang cukup bagi Malaysia untuk mengklarifikasi proposal dan bagi kedua belah pihak untuk menilai implikasi dari perubahan yang diusulkan,” kata Khaw. Dalam pernyataan terpisah, Datuk Seri Azmin, yang juga Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, mengatakan kedua pemerintah telah sepakat untuk melanjutkan diskusi “dalam waktu dekat”. “Diskusi akan mencakup beberapa perubahan yang diusulkan dalam aspek komersial dan teknis proyek,” tambahnya. Azmin mengatakan dia telah diminta oleh kabinet negaranya untuk memimpin tim Malaysia dalam diskusi dengan Pemerintah Singapura mengenai proyek tersebut. Pengumuman datang pada hari yang sama dengan batas waktu untuk memutuskan nasib proyek, setelah kedua negara sepakat untuk menangguhkannya selama sekitar dua tahun pada bulan September 2018. Baca juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail Keputusan tersebut telah mendorong tanggal penyelesaian untuk jalur kereta 350 km dari akhir 2026 hingga Januari 2031. Kementerian Transportasi Singapura mengkonfirmasi bahwa pemerintah Malaysia telah memberi tahu Singapura bahwa ia akan mengusulkan beberapa perubahan pada proyek HSR dan meminta perpanjangan tujuh bulan. Untuk diketahui, sebelumnya penangguhan pembangunan proyek High-Speed Rail (HSR) Kuala Lumpur-Singapura 350 km telah diperpanjang hingga 31 Mei 2020.

Garuda Indonesia Luncurkan “KirimAja,” Jasa Pengiriman Barang Berbasis Aplikasi Mobile

Garuda Indonesia Group melalui anak usahanya, PT Aerojasa Cargo secara resmi meluncurkan “KirimAja” yang merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital dengan jangkauan pengiriman barang ke sejumlah destinasi penerbangan yang dilayani oleh seluruh armada Garuda Indonesia, Citilink Indonesia maupun pengiriman untuk wilayah Jabodetabek dan wilayah antarkota lainnya yang didukung oleh layanan dari Aerojasa Cargo. Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’ Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Pandemi Covid-19 menuntut kami untuk semakin adaptif dan kreatif berakselerasi mengembangkan opportunity bisnis di era new normal, yang salah satunya kami kembangkan melalui bisnis layanan logistik dengan memperkenalkan “KirimAja” yang merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital” Perkembangan pesat industri e-commerce di Indonesia serta munculnya tren baru pada era new normal, menjadikan sektor layanan logistik memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat akan layanan pengiriman barang secara cepat, tepat, dan efisien.” “KirimAja” kami harapkan dapat menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat maupun sektor UMKM yang membutuhkan layanan pengiriman barang secara online yang didukung oleh layanan kargo udara yang terpercaya, baik dari sisi akurasi waktu pengiriman, keamanan paket, hingga tarif yang kompetitif,” ungkap Irfan. KirimAja juga turut didukung oleh business model berbasis komunitas (“community based”) yang tidak hanya semakin mendekatkan layanan kepada masyarakat, namun juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat yang bergabung sebagai agen pengiriman melalui program Sohib KirimAja”. Adapun saat ini telah terdapat agen “Sohib KirimAja” yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia yang dapat melayani pengiriman barang sampai dengan alamat tujuan pengiriman. Dengan dilengkapi berbagai fitur yang dapat diakses dengan mudah seperti reservasi, booking management, real time tracking, tracing, pengecekan tarif pengiriman, hingga pembayaran yang dapat dilakukan dengan virtual account, aplikasi pendukung layanan “Kirim Aja” menawarkan konsep layanan “one-stop-service” untuk kebutuhan pengiriman paket ke seluruh Indonesia. Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran Saat ini “KirimAja” dapat melayani pengiriman barang umum, mulai dari produk fashion, barang elektronik, perlengkapan rumah tangga, makanan kering, hingga produk non-perishable lainnya. Kedepannya, “KirimAja” akan turut mengembangkan kapasitas layanan lainnya, khususnya untuk segmentasi pengiriman makanan dengan durasi pengiriman yang lebih singkat. Aplikasi “KirimAja” saat ini telah tersedia diseluruh platform mobile device, dapat digunakan baik iOS maupun Android.