Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi

Banyaknya calon pemumpang yang gagal berangkat lantaran tak memenuhi standar dan syarat protokol Covid-19, menjadi keprihatinan bagi maskapai penerbangan. Lion Air Group dan Citlink lantas sempat memutuskan menghentikan penerbangan karena hal tersebut. Dan ketika layanan penerbangan dari kedua maskapai akhirnya dibuka kembali per 1 Juni 2020, ditekankan kembali beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi calon pemumpang agar dapat lolos terbang di musim pandemi ini. Baca juga: Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara Dalam siaran pers (31/5/2020), Lion Air Group mewajibkan bagi tiap calon pemumpang untuk mempersiapkan beberapal hal selama penerbangan di musim pandemi Covid-19, yaitu: 1. Tiba lebih awal di terminal keberangkatan yakni empat jam sebelum keberangkata. Penerbangan Lion Air Group domestik tetap di Terminial 2E dan internasional di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang belum ada perubahan sesuai dengan sejak diizinkan beroperasi pada 7 Mei 2020. Untuk bandar udara lainnya yang beroperasi tetap di terminal yang sama. 2. Menunjukkan dokumen atau berkas kelengkapan, meliputi a. Tiket pesawat udara valid dan melaporkan rencana perjalanan udara, b. Identitas diri resmi dan masih berlaku (Kartu Tanda Penduduk atau identitas lainnya), c. Surat keterangan atau sertifikat bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan dan        dokumen lain yang harus dipenuhi sesuai Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2020, · Hasil Rapid Test negatif Covid-19 maksimal berlaku 3 hari sejak diterbitkan; atau · Hasil Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) negatif Covid-19 berlaku maksimal 7 hari sejak diterbitkan oleh fasilitas kesehatan; atau · Surat keterangan bebas gejala seperti influenza bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas RT-PCR maupun Rapid Test. d. Menunjukkan surat tugas sesuai instansi, surat keterangan sebagaimana dipersyaratkan, e. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (electronic Health Alert Card/ e-HAC) sebelum berangkat. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui aplikasi e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac atau bentuk lain (cetak) yang disediakan oleh petugas. 3. Mengenakan masker sebelum penerbangan, saat di dalam pesawat hingga mendarat dan keluar dari bandar udara, 4. Mencuci tangan atau menggunakan cairan pembersih kuman pada tangan (hand sanitizer), 5. Mengikuti aturan jarak aman (physical distancing) sebagaimana diberlakukan, 6. Menjaga kebersihan selama berada di dalam pesawat, 7. Agar calon penumpang membawa hand sanitizer sendiri.

MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan

Moda Raya Terpadu Jakarta atau yang dikenal dengan MRT Jakarta telah mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker sebagai upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19. Namun saat ini ada hal terbaru, di mana penumpang tidak diperbolehkan berbicara satu dengan lainnya. Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans Bahkan, penumpang juga tidak dibolehkan untuk menelepon ketika berada dalam kereta MRT Jakarta. Padahal sebenarnya dengan menggunakan masker saja sudah mencegah dalam penularan Covid-19. Ternyata kebijakan ini bukan hanya ada di Indonesia, tetapi Singapura sudah memulainya lebih dahulu. Di mana Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong menyebutkan beberapa langkah yang diambil pemerintah untuk meminimalkan ancaman infeksi silang Covid-19 dalam transportasi umum. Wong yang juga mengetuai satuan tugas multi kementerian yang menangani pandemi, mencatat bahwa jarak aman dapat menjadi tantangan pada beberapa rute selama jam sibuk. “Para penumpang harus menggunakan masker dan tidak berbicara satu sama lain untuk mencegah droplet. Penumpang juga tidak boleh berbicara di ponsel, dengan demikian mereka bisa menghindari penyebaran droplet ketika berada di ruang tertutup,” ujar Wong yang dikutip KabarPenumpang.com dari todayonline.com (2/6/2020). Bahkan hal ini juga sebelumnya sudah diserukan pemerintah oleh Menteri Perhubungan Khaw Boon pada 23 Maret 2020 kemarin. Khaw mengatakan, penumpang berbicara dengan lembut jika perlu tetapi yang terbaik adalah tidak berbicara. Namun ternyata penumpang yang menggunakan transportasi umum mengaku bahwa masih banyak penumpang yang berbicara keras di ponsel mereka atau satu dengan lainnya. Bahkan mereka juga ada yang mengobrol di telepon untuk waktu yang lama. “Jelas mereka belum mengindahkan saran pemerintah,” ujar penumpang tersebut. Dalam hal ini, operator transportasi memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran bagi para penumpang untuk menahan diri berbicara kecuali jika diperlukan. Ada banyak poster dan pengumuman tentang pemakaian masker wajah wajib dan perlunya menjaga jarak dengan aman di stasiun MRT dan di dalam kereta. “Kami juga melihat poster serupa di halte dan di dalam bus. Tapi kami tidak melihat poster atau mendengar pengumuman yang meminta komuter untuk menahan diri dari berbicara, terutama di ponsel mereka,” kata penumpang itu. Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona Sudah waktunya bagi operator transportasi untuk meningkatkan langkah-langkah untuk mengingatkan penumpang tentang hal ini. Warga Singapura pada umumnya taat hukum, dan pengingat semacam itu akan sangat membantu untuk membuat semua orang memainkan peran mereka dalam menjaga sistem transportasi umum tetap aman saat Singapura bergerak ke fase pertama dari dimulainya kembali kegiatan mulai 2 Juni.

Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

Akhirnya Emirates mengikuti jejak maskapai dunia lainnya yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada stafnya. Surat-surat berupa redundansi sudah dikirim lebih dari dua minggu setelah sumber yang bisa dipercaya mengklaim bahwa maskapai yang berbasis di Dubai itu tengah mempersiapkan rencana untuk menghilangkan hingga sepertiga dari tenaga kerjanya untuk mengatasi dampak buruk Covid-19. Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’ Namun kabar tersebut ternyata sempat disangkal Emirates. Melalui juru bicaranya, disebutkan bahwa rencana tersebut belum pernah dibuat. Tapi hanya berselang beberapa hari, pada Minggu (31/5/2020), maskapai asal Uni Emirat Arab itu akhirnya mengonfirmasi bahwa PHK akan dilakukan. “Kami telah berupaya untuk mempertahankan komposisi pekerjaan yang ada saat ini, namun kami akan meninjau semua skenario yang harus dilakukan untuk mempertahankan operasi bisnis kami. Dan akhirnya disimpulkan bahwa kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang luar biasa yang bekerja dengan kami selama ini,” bunyi pernyataan dari Emirates yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (31/5/2020). Pernyataan tersebut juga mengatakan mereka terus menilai kembali situasi dan harus beradaptasi dengan masa transisi ini. Mereka mengatakan bahwa tidak mudah memandang hal ini dan perusahaan melakukan segala hal yang mungkin untuk melindungi para pekerja. “Di mana kita dipaksa untuk mengambil keputusan sulit, kita akan memperlakukan orang lain dengan adil dan hormat. Kami akan bekerja dengan karyawan yang terkena dampak untuk memastikan mereka mendapatkan haknya,” lanjut pernyataan itu. Gelombang PHK pertama akan melibatkan pilot dan awak kabin yang masih dalam pelatihan awal, serta siapa pun yang masih dalam masa percobaan. Meskipun ada rumor tentang redudansi yang akan datang, banyak kru akan merasakan hal tersebut karena pengumuman hari ini setelah tidak menerima peringatan sebelumnya dari perusahaan. Banyak kru percaya cuti yang tidak dibayar, kontrak paruh waktu dan cara kerja alternatif akan ditawarkan terlebih dahulu sebelum PHK diumumkan. Surat redundansi yang dikirim ke staf memberi tahu bahwa mereka tidak akan diminta untuk bekerja selama periode pemberitahuan 14 hari. Baca juga: American dan United Airlines Rugi Rp59 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Menanti Giliran PHK Karena sebagian besar staf dan awak pesawat Emirates adalah ekspatriat asing, maskapai ini telah memberi tahu bahwa mereka dapat tetap berada di negara itu sampai dapat mengatur penerbangan ke negara asal mereka. Emirates melakukan hal tersebut karena pembatasan perjalanan yang berarti banyak negara masih terlarang dan Emirates saat ini hanya melayani sembilan tujuan.  

Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Sutradara kenamaan Hollywood, Christopher Nolan disebut melakukan langkah konyol sekaligus berani. Betapa tidak, belum lama ini, ia dilaporkan gigih memperjuangkan agar salah satu adegan dalam karya terbarunya, Tenet, menggunakan Boeing 747 asli untuk ditabrakkan ke sebuah bangunan mirip hanggar dan seketika hancur berkeping-keping. Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat Sebetulnya, ia tak berencana menggunakan Boeing 747 asli untuk diledakkan. Sebagaimana film-film pada umumnya, awalanya ia hanya berencana untuk menggunakan minatur, set-piece build, kombinasi efek visual, dan berbagai teknologi lainnya (CGI atau computer-generated imagery). “Awalnya aku terpikir untuk membuat miniatur. Tapi setelah melakukan penghitungan, akan lebih efisien bila kami membuat adegan tersebut betulan dengan pesawat yang juga sungguhan,” ungkap Nolan kepada GamesRadar, seperti dikutip dari sea.ign.com. Sementara itu, Robert Pattinson, salah satu aktor utama dalam film Tenet menyebut bahwa ide Christopher Nolan untuk meledakkan Boeing 747 asli sebagai ide konyol. Namun demikian, aktor yang namanya melejit lewat film Twilight ini juga menyebut keputusan itu sebagai langkah berani. “Kamu tidak akan berpikir ada kenyataan di mana kamu akan melakukan adegan di mana mereka hanya memiliki 747 yang sebenarnya untuk diledakkan!” katanya. Dihimpun KabarPenumpang.com, harga pesawat Boeing 747 bekas di pasaran memang tergolong murah sekalipun semuanya tergantung tahun produksi. Jadi, sangat relatif. Misalnya, di situs telstarlogistics.typepad.com Boeing 747-200 keluaran tahun 1970-an dibanderol sekitar $100,000 atau Rp1,4 miliar lebih (kurs 14,6210). Di situs lainnya, Boeing 747-400F keluaran tahun 2013 masih dibanderol dengan harga tinggi, mencapai $29,700,000 atau lebih dari Rp419 miliar (kurs 14,6210). Adapun pesawat yang digunakan Christopher Nolan untuk diledakkan dalam salah satu adegan di film Tenet tidak disebutkan dengan rinci jenis dan tahun pembuatannya. Hanya saja, dari kode registrasi pesawat yang terlihat dalam trailer Tenet tercantum kode registrasi sebagai LN-WTJK. Menurut planespotters.net, pesawat Boeing 747 dengan kode registrasi tersebut adalah Boeing 747-200F berumur 40 tahun 3 bulan atau produksi tahun 1980-an. Dengan harga pasaran yang sudah disebutkan di atas, terbayang bukan nilai investasi untuk meledakkan sebuah pesawat Boeing 747-200F? Aksi Christopher Nolan menggunakan pesawat asli untuk dihancurkan dalam proses produksi sebuah film bukan pertama kalinya. Pada 2016 lalu, sutradara, penulis, dan produser berkebangsaan Inggris ini juga pernah memperjuangkan agar film besutannya dan Emma Thomas menggunakan pesawat asli Spitfires dan HA-1112 Buchón buatan Spanyol (versi lisensi dari Messerschmitt Bf 109). Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit! Namun, entah bagaimana proses pergolakan di dalam tubuh tim, pada akhirnya, adegan yang sudah dirancang Nolan dengan pesawat asli harus berakhir pupus. Disebutkan, adegan di film Dunkirk yang dimaksud hanya menggunakan replika pesawat. Sebagai informasi, Christopher Nolan belum lama ini meluncurkan trailer kedua film terbarunya Tenet. Film yang digadang-gadang dibumbui degan adegan-adegan menarik itu menurut salah satu aktornya, John David Washington, justru memiliki jalan cerita atau plot yang absurd. Pendapat itu pun juga diamini oleh aktor-aktor lainnya dalam film tersebut. Walau penuh dengan ketidakpastian akibat wabah corona, Tenet dijadwalkan akan tetap dirilis pada tanggal 17 Juli 2020 mendatang.

Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter

Baru-baru ini sebuah video menampilkan di mana pihak Uber menghancurkan ribuan sepeda listrik dan skuter mereka setelah menjual bisnis Jump miliknya ke Lime. Video tersebut memperlihatkan sepeda merah Jump dihancurkan di pusat daur ulang Amerika Serikat dan dibagikan di media sosial. Baca juga: Hadirkan Layanan Sepeda Listrik di Negeri Paman Sam, Uber Akuisisi JUMP Awalnya dalam video tersebut, sepeda-sepeda itu tiba di fasilitas daur ulang di North Carolina dan kemudian di hancurkan. Karena hal tersebut, para pembalap dan pengguna sepeda marah. KabarPenumpang.com melansir dari laman bbc.com (28/5/2020), badan amal dan organisasi yang kecewa menyarankan agar sepeda itu disumbangkan ke kelompok masyarakat atau dijual kepada perorangan untuk meningkatkan penggunaan sepeda listrik. “Paling tidak melepas decals atau merek dan menjual sepeda kepada individu?” ujar Orcutt dari Bike New York yang merupakan sebuah kelompok nirlaba. Kemudian pihak Uber mengatakan dalam bahwa mereka memutuskan menghancurkan ribuan sepeda tersebut merupakan model lama dan juga karena masalah perawatan, pertanggung jawaban serta keselamatan. “Kami mengeksplorasi menyumbang sisa, sepeda model lama. Tetapi mengingat banyak masalah signifikan termasuk pemeliharaan, pertanggungjawaban, masalah keselamatan, dan kurangnya peralatan pengisian daya tingkat konsumen sehingga kami memutuskan pendekatan terbaik adalah mendaur ulang secara bertanggung jawab,” ujar Uber dalam sebuah pernyataan. Diketahui tahun 2018 lalu, Uber mengatakan akan lebih fokus pada sepeda listrik dan bisnis skuter dibandingkan dengan mobil. Namun pada 7 Mei 2020, Uber mengumumkan kesepakatan yang melihat Lime mengambil alih bisnis Jump bike. Bahkan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Uber menginvestasikan $170 juta di Lime. Dalam kesepakatan ini juga, Lime memperoleh puluhan ribu sepeda Jump Uber dan kekayaan intelektual yang terkait. Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel! Kepala eksekutif Lime Wayne Ting mengatakan dia lebih suka desain sepeda Uber dan akan menyebarkan lebih banyak dari mereka di masa depan. Namun, ada juga “puluhan ribu” sepeda model lama yang tidak diwariskan Lime sebagai bagian dari kesepakatan.

Sambut The New Normal, Airbus Kembali ‘Putar Otak’ Demi Bertahan Hidup

Salah satu petinggi Airbus yang tak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa produsen pesawat asal Eropa itu akan kembali memutar otak. Salah satu yang akan dipertimbangan dalam waktu dekat adalah pemangkasan produksi pesawat terlaris mereka, seri A320 (beserta turunannya). Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery Dirunut dari beberapa bulan sebelumnya, rencana Airbus untuk memangkas kapasitas produksi merupakan sebuah implementasi dari rancangan besar perusahaan dalam menghadapi anjkloknya inudstri penerbangan. Kala itu, sekira bulan April, Airbus mengumumkan pihaknya akan memangkas kapasitas produksi menjadi sekitar sepertiga. Termasuk di dalamnya mengumumkan hanya akan memproduksi 40 pesawat A320 per bulan. Angka tersebut masih sangat mungkin untuk kembali diturunkan bila keadaan tak kunjung membaik, sekalipun wabah corona sudah mulai mereda dan mulai memasuki periode recovery. Kurva proses recovery akan menjadi acuan perusahaan untuk mengambil langkah besar untuk beberapa bulan mendatang, setidaknya selama kuartal III 2020, apakah (kurva recovery-nya) berbentuk “V-shaped” atau “L-shaped”. Bila kurva berbentuk “V” atau “V-shaped”, dimana industri penerbangan sudah mulai meningkat tajam setelah mencapai titik terdalam (anjlok drastis), maka Airbus mungkin akan kembali meningkatkan kapasitas produksi. Sebaliknya, bila kurva berbentuk “L-shaped” atau kondisi dimana iklim industri penerbangan masih lesu, seperti sekarang ini, saat hampir seluruh maskapai di dunia masih menggrounded armada mereka, sekalipun wabah dinilai sudah mulai menurun dan banyak negara sudah mulai menatap recovery dengan melonggarkan kebijakan lockdown, Airbus besar kemungkinan belum akan meningatkan kapasitas produksi. Bahkan sangat mungkin malah menurunkannya. Belum tersedianya vaksin di pasaran diklaim menjadi salah satu biang keladi mengapa masyarakat tak kunjung mulai bepergian saat wabah mulai menurun. Pemangkasan produksi A320 mungkin akan menjadi salah satu musibah lanjutan Airbus di beberapa bulan mendatang. Sebab, pesawat narrowbody yang pertama kali dilaunching pada 1984 tersebut menyumbang sebagian besar produksi dan perputaran uang perusahaan. Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona Terbukti, ketika produsen pesawat yang berbasis di Toulouse, Perancis, itu hanya mengirimkan sekitar 12 pesawat (A320) di bulan April akibat penghentian operasional (mengikuti kebijakan lockdown) dan pembatalan pesanan besar-besaran oleh maskapai, Airbus mengalami kerugian besar; sekalipun angka tersebut juga ditunjang oleh penjualan pesawat lainnya, seperti A350, A330, A220. Pesanan di bulan Mei juga diprediksi sebagian pengamat juga tak kalah buruk, meskipun angka pastinya baru akan diumumkan pekan ini. “Tujuan kami adalah menyelesaikan stabilitas baru untuk menyesuaikan diri dengan dunia baru (The New Normal) pada Juni. Kami akan memiliki gambaran yang lebih rinci; itu tidak boleh berubah secara signifikan dibandingkan dengan apa yang telah kita lakukan, tetapi itu bisa sedikit berubah,” kata CEO Airbus, Guillaume Faury, pada akhir April lalu, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Kenapa Cuci Tangan Jadi Sedemikian Penting?

Mencuci tangan merupakan hal yang paling mudah untuk dilakukan dan seharusnya sudah menjadi kebiasaan seseorang. Apalagai ketika selesai dari toilet atau akan makan menggunakan tangan sebaiknya mencuci tangan. Sebab Anda tidak tahu apakah tombol flush dan shower di toilet bersih atau ketika dalam perjalanan memegang sesuatu yang kotor ketika akan makan. Baca juga: Kata Ahli Medis: Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik Dibanding Terus-terusan Pakai Masker Bahkan saat virus corona atau Covid-19 tengah menjadi pandemi dunia, mencuci tangan menjadi hal yang paling penting ketika melakukan apapun. Mencuci tangan tak hanya ketika habis dari toilet saja tapi setiap memegang benda apa pun bahkan setiap 20 menit disarankan untuk mencuci tangan. Robert Aunger, seorang ahli kesehatan masyarakat evolusioner di London School of Hygiene dan Tropical Medicine mengatakan, cuci tangan terdengar seperti perilaku yang sederhana. Tetapi dia menyebutkan mereka sudah mengusahakan membuat orang mencuci tangan selama 25 tahun dan itu diperkirakan jumlahnya masih lebih rendah. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (17/4/2020), kebiasaan higienis yang sederhana ini memberikan kemungkinan menarik untuk menghindari masalah dan pandmi. Sebuah tinjauan pada 2006 menemukan bahwa mencuci tangan secara teratur dapat mengurangi risiko infeksi pernapasan antara enam hingga 44 persen. Sejak pandemi Covid-19 muncul, para ilmuwan telah menemukan bahwa budaya mencuci tangan suatu negara adalah prediktor “sangat baik” dari tingkat penyebarannya. Aunger mengatakan, satu masalah dengan mencuci tangan adalah bahwa, terutama di negara-negara maju, Anda dapat menghindari mencuci tangan berkali-kali dan Anda tidak akan jatuh sakit. Ketika hal itu membuat Anda sakit, seringkali berhari-hari kemudian, pada saat itu Anda lupa akan lama hilang dari ingatan. Bahkan dengan virus corona, mereka mengatakan keterlambatan antara terinfeksi dan melihat gejala apa pun seperti lima, enam hari, sehingga koneksi sangat sulit dilihat. Kemudian ada beberapa faktor yang bisa membuat cuci tangan harus dilakukan atau tidak. Pertama setiap orang harus waspada terhadap optimisme, karena melibatkan keyakinan bahwa hal-hal buruk lebih kecil kemungkinannya terjadi pada diri kita daripada orang lain. Pandangan positif yang irasional ini bersifat universal ditemukan dalam beragam budaya manusia dan lintas demografi seperti jenis kelamin dan usia, dan bahkan pada beberapa hewan, seperti jalak dan tikus. “Jika kita melihat orang lain mencuci tangan di kamar mandi, itulah yang kita lakukan -tetapi yang terpenting, ketika tidak ada yang melakukannya, ada tekanan untuk tidak melakukannya. Dan pada kenyataannya, orang dapat dilihat sebagai orang yang tidak biasa atau ‘melebihi diri mereka sendiri’ jika mereka melakukannya,” kata Aunger. Kedua adalah harus bisa mengerti bahwa pemikiran rasional akan berbanding dengan pengalaman. Salah satu alasan para ilmuwan begitu tertarik untuk mengungkap psikologi di balik mencuci tangan adalah karena nyawa bergantung padanya terutama pasien di rumah sakit. Meskipun telah bertahun-tahun pelatihan untuk membuat orang tetap hidup, banyak petugas kesehatan mengabaikan satu kebiasaan dasar yang dapat membantu mencegah penyebaran virus dan bakteri super yang berpotensi mematikan seperti bakteri Clostridium difficile. Seperti yang mungkin Anda harapkan, penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang tidak mudah tersinggung cenderung mencuci tangan, dan ketika melakukannya, mereka tidak menghabiskan selama di bawah keran. Sebuah studi tahun 2008 menemukan bahwa dokter yang melaporkan membuat keputusan secara intuitif lebih mungkin untuk mencuci tangan daripada mereka yang mengatakan mereka berpikir dengan cara yang lebih rasional. Ini mengisyaratkan bahwa memberikan serangkaian argumen untuk mencuci tangan mungkin bukan cara terbaik untuk meyakinkan orang untuk melakukannya. “Ini ‘mengusir kami’ yang merupakan hal yang paling membantu,” kata Dick Stevenson, seorang psikolog dari Macquarie University, Australia. Yang terakhir adalah jaga agar tetap bersih yakni seperti beberapa waktu belakangan di mana banyak lembaga, badan amal, politisi dan gabungan masyarakat yang meluncurkan kampanye mencuci tangan. Selebriti telah melangkah untuk menunjukkan teknik yang tepat, banyak meme cuci tangan telah membanjiri internet, dan bahkan situs-situs porno telah terlibat. Baca juga: Setelah ‘Tulis’ Pesan Cuci Tangan, Kini Pilot Ingatkan Pesan ‘Stay Home’ di Langit “Ini adalah pertanyaan penting, karena pada awalnya Anda harus terus memotivasi orang tersebut untuk mencuci tangan dalam situasi tertentu, seperti melalui iklan dan tanda-tanda. Tapi jika ini terus dipertahankan maka perilakunya menjadi kebiasaan. Apa yang kita tidak tahu adalah berapa lama ini berlangsung,” kata Stevenson.

Kata “Check Point” Kondang Setelah PSBB, Ternyata Sebelumnya Justru Terkenal di Jerman

Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta membuat Polda Metro Jaya membuat beberapa titik pos pemeriksaan atau bisa dikenal dengan check point. Bahkan tidak hanya di Jakarta melainkan di seluruh Indonesia ada check point yang dibuat oleh Polisi Republik Indonesia. Kehadiran check point ini guna untuk meminimalisir kendaraan dari luar daerah masuk ke kota agar bisa mencegah penyebar luasan pandemi virus corona. Baca juga: Intip Yuk 10 Destinasi Favorit Versi Awak Kabin Nah, ternyata nama check point sudah ada sejak lama dan begitu terkenal di Jerman. Penasaran kenapa check point justru terkenal di Jerman? Ya, ternyata di Jerman ada yang namanya Checkpoint Charlie, yang pada era Perang Dingin merupakan titik di sepanjang Tembok Berlin. Nama Checkpoint Charlie sendiri diberikan oleh Sekutu Barat ke titik persimpangan Tembok Berlin. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kala Perang Dingin terjadi di Jerman, sepanjang area tersebut bayak warga Berlin Timur yang meninggal karena berusaha melarikan diri ke Jerman Barat. Tembok Berlin sendiri dibangun tahun 1961 silam dan runtuh pada 1989. Kemudian ketika tembok runtuh di tahun 1989 maka pos pemeriksaan tersebut menjadi tempat wisata yang populer dan menjadi salah satu wisata utama di Berlin. Checkpoint Charlie adalah titik persimpangan di Tembok Berlin yang terletak di persimpangan Friedrichstraße dengan Zimmerstraße dan Mauerstraße serta berada di lingkungan Friedrichstadt. Pos pemeriksaan Charlie ditunjuk sebagai titik persimpangan tunggal (berjalan kaki atau dengan mobil) untuk orang asing dan anggota pasukan Sekutu. Kala itu, anggota pasukan Sekutu tidak diizinkan untuk menggunakan titik persimpangan sektor lain yang dirancang untuk digunakan oleh orang asing, stasiun kereta api Friedrichstraße. Sayangnya saat ini, Checkpoint Charlie menjadi campuran yang memalukan dari memorial, museum publik dan kepentingan pribadi untuk mengambil keuntungan dari ribuan pelancong setiap harinya. Di mana warga mengorganisir aktor yang berpakaian seolah tentara Amerika untuk berfoto dengan pelancong. Mereka pun mengutip sekitar tiga Euro untuk sekali foto. Adanya praktik tersebut kemudian dilarang oleh otoritas Berlin pada November 2019 yang menyatakan bahwa para aktor tersebut telah mengeksploitasi pelancong dengan meminta uang untuk foto. Karena hal ini kemudian pemerintah kota Berlin membangun kembali titik tersebut dan diubah menjadi alun-alun yang dilengkapi dengan Museum Perang Dingin. Nama Charlie ini sendiri diambil dari huruf C dalam alfabet fonetik NATO. Sedangkan Soviet secara sederhana menyebutnya Friedrichstraße Crossing Point. Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram Jerman Timur secara resmi menyebut Checkpoint Charlie sebagai Grenzübergangsstelle (“Border Crossing Point”) Friedrich- / Zimmerstraße. Sebagai pos pemeriksaan Tembok Berlin yang paling terlihat, Checkpoint Charlie ditampilkan dalam film dan buku. Sebuah kafe dan tempat pengamatan terkenal bagi para pejabat Sekutu, angkatan bersenjata dan pengunjung, Cafe Adler (“Eagle Café”), terletak tepat di pos pemeriksaan. Itu adalah titik pandang yang sangat baik untuk melihat ke Berlin Timur sambil makan dan minum.

Swiss Uji Coba Aplikasi Pendeteksi Covid-19

Aplikasi pelacakan pasien terinfeksi virus corona untuk suatu daerah yang termasuk dalam zona merah sudah dibuat berbagai negara. Kini Swiss juga mulai melakukan hal yang sama dan tengah dalam uji coba pelacakan pada kontak orang terinfeksi virus corona atau Covid-19 ini. Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona Dilansir KabarPenumpang.com dari engadget.com (26/5/2020), Swiss menguji coba aplikasi ini dengan menggunakan kerangka Apple-Google. Menurut EPFL Universitas Swiss, aplikasi yang bernama SwissCovid ini adalah yang pertama menggunakan kerangka Apple-Google. Nantinya aplikasi ini akan bekerja menggunakan Bluetooth untuk bertukar data Covid-19. Jika pengguna ternyata positif Covid-19, aplikasi akan mengingatkan pengguna jika mereka berada dekat atau kurang dari dua meter dari orang terinfeksi tersebut dalam jangka waktu yang lama atau lebih dari 15 menit. Aplikasi ini akan diuji coba pertama kali oleh karyawan di EPFL, ETH Zurich, Angkatan darat, rumah sakit terpilih dan lembaga pemerintahan. Fase uji coba ini diharapkan berlangsung beberapa minggu. “Sampai hari ini, karyawan di @EPFL, @ETH_en, @vbs_ddps, dan beberapa rumah sakit dan administrasi canton dapat mengunduh aplikasi penelusuran kedekatan digital #SwissCovid. Proyek skala besar ini membuka jalan bagi ketersediaan publik pada pertengahan Juni,” tulis akun EPFL di laman Twitternya. Selain itu parlemen Swiss harus merevisi undang-undang tentang pandemi untuk memungkinkan aplikasi di luncurkan di seleuruh Swiss pada pertengahan Juni ini. Diketahui, Apple dan Google membuat teknologi pelacakan kontak mereka dan sudah tersedia untuk lembaga kesehatan masyarakat minggu lalu. Saat ini teknologi tersebut bisa digunakan pada iOS 13.5 dan perangkat Androi 6.0 ke atas. Model ini menggunakan pendekatan “desentralisasi”, di mana operasi utama dilakukan pada ponsel pengguna, bukan di server terpusat. Pendekatan itu dimaksudkan untuk melindungi privasi pengguna dengan lebih baik, dan menurut EPHL, protokol “DP3T” yang didesentralisasi dipimpin oleh dua Institut Teknologi Federal Swiss. “Ini memberikan tanggung jawab besar kepada penguji Swiss, karena banyak negara lain berniat untuk mengadopsi protokol yang sama di kemudian hari. Kita tahu bahwa sebanyak 22 lembaga kesehatan masyarakat telah meminta API, tetapi tidak jelas berapa banyak dari mereka yang akan menggunakannya. Beberapa negara, seperti Australia, telah meluncurkan aplikasi mereka sendiri,” kata manajer proyek Alfredo Sanchez. Tak hanya itu, Inggris mengatakan akan menggunakan pendekatan terpusat dan mulai menguji aplikasi sendiri, tetapi dilaporkan mempertimbangkan untuk beralih ke kerangka Apple-Google. Baca juga: “PeduliLindungi,” Andalkan Bluetooth untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19 “Jejak digital ini tidak akan menggantikan langkah-langkah perlindungan, tetapi ini adalah cara terbaik untuk mengendalikan evolusi epidemi,” kata Alain Berset, Dewan Federal di Departemen Dalam Negeri Swiss.

Pertama di Dunia, Taksi Udara EHang 216 Mulai Layani Kargo Udara

Setelah berhasil merealisasikan konsep passenger drone hotel atau hotel drone penumpang pertama di dunia, EHang terus tancap gas. Kali ini, taksi udara otonom pertama di dunia ini dilaporkan telah mengantongi izin untuk melayani kargo udara atau logistik angkutan berat oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CCAC). Dengan begitu, praktis, EHang menjadi kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV) pertama di dunia yang berhasil mendapatkan izin masuki layanan kargo udara. Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel New Atlas melaporkan berdasarkan peraturan yang diperkenalkan pada Februari 2019 oleh CAAC, EHang menjadi perusahaan pertama yang diberikan sertifikasi kelaikan udara untuk kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV). Uji coba logistik udara saat ini sedang dilakukan di Taizhou, Provinsi Zhejiang Cina, mengangkut kargo dengan muatan sedang hingga berat serta jarak dan medan yang beravariasi, antara permukaan tanah dan lokasi di puncak bukit, serta antara pantai dan pulau. “Kami sangat senang bahwa CAAC dan EHang memimpin operasional pilot komersial pertama di dunia untuk AAV kelas penumpang untuk keperluan logistik udara. Persetujuan ini sangat penting. Bagi EHang, ini memungkinkan kami untuk meningkatkan keunggulan inovasi kami dan mempercepat komersialisasi teknologi AAV serta solusi mobilitas udara untuk logistik,” kata pendiri, ketua, dan CEO EHang, Hu Huazhi.
“Ini juga meletakkan dasar bagi para regulator di seluruh dunia untuk bersama-sama mengeksplorasi, mendukung, dan membangun ekosistem regulasi berjelanjutan yang terkoordinir dengan baik. Ini akan menguntungkan proses pengembangan jangka panjang dalam pengaplikasian urban air mobility (UAM) yang lebih menjanjikan,” tambahnya. Berbeda dengan EHang 184 yang melayani penumpang, AAV atau taksi drone EHang yang sekarang diizinkan memasuki layanan kargo udara untuk mengangkut lebih dari 150 kg (330 lb) kargo per penerbangan adalah EHang 216, taksi udara listrik berkapasitas dua orang yang dilaporkan mampu mencapai kecepatan maksimum 130 km per jam dan penerbangan maksimum selama 21 menit per sekali charge. Sebelumnya, pada pertengahan Mei lalu, taksi terbang drone pertama di dunia, EHang, dilaporkan telah bermitra dengan LN Holdings, platform pariwisata dan grup pengembangan hotel, untuk merealisasikan konsep passenger drone hotel atau hotel drone penumpang pertama di dunia. Dengan konsep tersebut, nantinya para tamu hotel dapat memiliki kesempatan untuk bepergian dengan drone penumpang ikonik EHang sebagai transportasi dan wisata udara di dunia perhotelan. Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Dronelife.com menulis, hotel drone penumpang dinilai sebagai cara yang brilian untuk memamerkan teknologi wahana terbang otomatis (AAV) dan urban air mobility (UAM). Wisatawan yang mengunjungi Guangzhou akan dapat berkeliling di sekitar landmark kota seperti Menara Canton, Beijing Road, dan Sungai Pearl dari udara. Kemitraan ini berencana untuk menawarkan bukan hanya peluang baru menikmati Kota Guangzhou yang indah, tetapi juga untuk menyisipkan peluang pendidikan dan hiburan seperti pertunjukan lampu drone. “Program ini akan mempromosikan integrasi inovatif mulai dari tamasya udara (UAM), transportasi wisatawan, logistik udara, pertunjukan cahaya dengan drone, pameran cerdas, hingga pendidikan. Ini juga akan mempromosikan pengalaman baru wisata udara dan mengeksplorasi kasus penggunaan komersial lainnya untuk EHang AAV,” tulis EHang dalam sebuah rilis.